Anda di halaman 1dari 14

BIOGRAFI AS-SYAIKH AL-MUHADITS

YAHYA BIN ALI AL-HAJUURI

NAMA, NASAB, MASA PERTUMBUHAN SERTA RIHLAH BELIAU DALAM


MENUNTUT ILMU.
Ditulis: Syaikh Yahya bin Ali-Al-Hajuuri
Diterjemahkan: Abu Nua’im Fandy

Telah di minta dariku untuk menulis sedikit tentang kelahiran, nama, negeriku,
masa pertumbuhanku dan beberapa yang berkaitan dengannya . Dan setelah
aku di minta secara berulangkali ,maka aku pun memenuhi permintaan mereka
(yang aku cintai dan muliakan) dengan menulis beberapa paragraf ini.
Maka aku katakan : “Dengan mengharap taufik dari allah”

Adapun namaku : Yahya bin Ali bin Ahmad bin Ali bin Ya’qub Al-Hajuuri , berasal
dari Kabilah bani wahan , dari desa Hanjaroh yang berada di bawah gunung
Hanjaroh , mudah mudahan Allah muliakan mereka dengan menuntut ilmu
Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Sholallahu alaihi wassallam .
Kemudian kakekku Ahmad bin Ali bin Ya’qub pindah dari desanya ke desa lain
yang desa itu terpisah jauh dengan desa sekitarnya serta memiliki jarak yang
cukup jauh dari desa asalnya , nama desa tersebut jabar qobilah az zaghobiyah.
Kemudian beliau menikah dengan salah satu wanita dari penduduk daerah itu,
jadilah mereka tersebut sebagai kerabatku dari pihak nenek . Ayahku tumbuh di
antara sebagian keluarga mereka dan kemudian menikah dengan salah putri
mereka yaitu dengan ibuku yang beliau berasal dari keluarga ‘iqol dari desa
az-zaghobiyah (semoga Allah merahmati diantara mereka yang sudah
meninggal serta memperbaiki keadaan mereka yang masih hidup) dan di
sanalah aku di lahirkan sekitar 40 tahun yang silam, di hari yang terkenal
dengan hari Revolusi Republik Yaman.
Ayahku yang (semoga Allah selalu menjaganya), sepanjang umurnya digunakan
dalam ragka ketaatan kepada Allah. Beliau gemar berkebun dan beliau dahulu
berkebun di ladang yang cukup luas. Dari kebun itu menghasilkan hasil yang
cukup banyak dari gandum, jinten dan yang lainnya. Sampai-sampai sebagian
dari orang berhutang gadum dan pakan sapi kepada ayahku ketika musim
kemarau. Selain dari itu telah Allah memberikan kepadanya binatang ternak dari
kambing dan sapi. Dan Alhamdulillah, kehidupan orang tuaku dalam keadaan
yang sangat baik.

Kedua orang tuaku mendidik diriku dan saudara-saudaraku dengan pendidikan


yang bagus , mereka berdua jauh dari perkara-perkara yag jelek seperti kot
(tumbuhan khas yaman untuk dikonsumsi denga cara dikunyah utuk
mendapatkah ketenangan), rokok, syamah (tembakau bubuk memiliki fungsi
yang sama dengan kot), dan perkara-perkara mungkar lainya. Beliau sangat
benci dan tidak suka apabila melihat salah satu di antara kami kurang peduli
dalam Sholat jama’ah ataupun sholat Sunnah Rawatib . Dan yang paling beliau
impikan adalah kelak ada di antara kami anak-anaknya yang akan menjadi alim
ulama . Dalam keadaan tidak ada di daerahku tempat belajar kecuali kepada
katatib (orang yang pintar dalam masalah agama) . Maka beliau menaruhku di
tempat belajar yang dinamakan ma’lamatu syaikh yang pengajarnya adalah
orang yang terpercaya dan fakih di desa kami. Beliau juga merangkap sebagai
khatib desa kami, nama beliau yahya al ‘atabi rahimahullah . Metode belajar di
tempat tersebut adalah sebagaimana metode pendidikan tempo dulu , belajar
membaca Al-Qur’an dengan melihat mushaf dan belajar menulis. Bagi yang
selesai ataupun lulus dari tempat tersebut biasanya akan menjadi orang yang di
faqihkan di desanya serta akan dijadikan imam dan khatib. Dan dia berkhutbah
dengan membaca teks-teks khutbah yang sudah tertulis ataupun di bukukan
serta tulisan-tulisan tentang akad-akad dan semisalnya.

Dan Al- faqih Al-Atabi sangat mencintaiku di bandingkan dengan murid-murid


yang lainnya . Tatkala aku lulus dari tempat belajar membaca Al-Qur’an tersebut
serta telah mengetahui sedikit ilmu menulis maka ayahku berkeinginan keras
agar aku pergi belajar ke kota Az-Zaidiyah yang kota ini terkenal dengan kota
ilmu. Mereka terkenal dengan ahli fatwa dalam masalah Thalaq , warisan dan
perkara yang lainnya.
Ayahku (semoga Allah menjaganya) adalah orang yang mencintai ilmu dan
agama (ibadah) seperti puasa dan sholat malam . Aku tidak pernah mengetahui
beliau memakan harta haram, akan tetapi beliau tidak pernah tahu tentang apa
itu sufiyah, syi’ah dan tidak pula yang lainnya dari firqoh-firqoh sesat. Beliau
sangat memuliakan mereka dan mereka pun sering berkunjung kepada ayahku
dan siapapun yang mengunjugi beliau dari mereka (Firqoh-firqoh sesat) maka
beliau sangat memuliakanya.
Allah pun menyelamatkanku dari belajar dengan mereka orang-orang sufiyah
dengan perantara ibuku (semoga Allah selalu menjaganya dan semoga Allah
memberikan kepadaya khusnul khotimah) , tatkala beliau menangis menahanku
untuk tidak pergi atau tinggal di negeri orang seorang diri tanpa adanya yang
akan mencurahkan kasih sayang di negeri tersebut dan saat itu aku masih kecil .
Akhirnya ayahku pun memintaku untuk mengembala kambing. Beliau adalah
orang yang pertama kali membangun masjid di desa kami yang terbuat dari
kayu dan jerami , Mesjid itu sendiri tergolong kecil dan hanya mampu
menampung 40 orang ketika sholat . Ketika itu mesjid kami sudah di anggap
sebagai masjid jami’ (besar) untuk beberapa desa di sekitarnya , tatkala mesjid
tersbut roboh , maka dibangunlah mesjid tersebut dari batu yang luasnya masih
seperti yang dulu . Saat itu aku adalah Imam di Mesjid tersebut ketika
dilaksanakannya sholat Jum’at dan ada yang menggantikanku dari tugasku
menggembala kambing disebabkan aku harus berkhutbah untuk mereka
dengan membaca buku yang isinya adalah khutbah-khutbah tertulis. Aku paling
sering menggunakan buku Al-futuhat Ar-Robaniyah yang di tulis oleh Al-Baihani
rahimahullah, sampai hampir-hampir aku menghafalnya karena terlalu
seringnya aku mengulanginya .

Kemudian aku berangkat ke Saudi , di sana aku menghadiri Halaqoh iqro’


(membaca) yang dilaksanakan setelah sholat fajar bersama seorang guru
bernama Syaikh Ubaidilah Al-Afghoni hafidhohullah tepatnya di kota Abha , aku
pun sedikit belajar darinya kitab shohih muslim , dan pelajaran ini (shohih
muslim) di mulai sebelum menyimak hapalan kami , Kemudian beliau safar dan
setelah itu aku pindah ke tempat syaikh Muhamad A’dhom yang mengajarkan
Al-Qur’an di masjid Al-Yahya. Aku membaca di sisi mereka berdua sampai pada
surat Al-A‘rof , Kemudian beliau pun safar juga . Dan aku menyelesailkan
hapalan Al-Qur’an dengan riwayat khafs dari Ashim di tempat Syaikh Muhamad
Basyir , Alhamdulillah.
Bersamaan dengan cintaku yang sangat dalam terhadap ilmu , tidak ada yang
menasehatiku untuk duduk belajar dengan di depan Syaikh Al-Imam ibnu baaz
atau yang lainnya dari kalangan ulama-ulama kerajaan Saudi Arabia .
Kemudian aku mendengar tentang seorang ulama yang bernama Syaikh Muqbil
bin Hadi Al-Wadi’i , beliau adalah seorang ulama salafi yang mengajarkan ilmu
Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Sholallahu alaihi wassallam di daerah
Dammaj, (Semoga Allah menjaganya dan memberi taufiq kepada penduduknya
dengan menganugerahi kebaikan- kebaikan yang banyak). Dammaj adalah
salah satu desa di Provinsi Sa’ada ,Yaman. Aku pun menemui beliau di
rumahnya tepatnya pada tahun 1405 H bersama ayahku , Syaikh rahimahullah
menasehatiku dengan nasehat yang bagus kemudian beliau pun pergi , setelah
itu beliau terus-menerus membantuku dalam menuntut ilmu dari segi harta .
Semenjak itulah aku menuntut ilmu , aku tidak suka bepergian dan tidak pula
membuang-buang waktuku sampai akhirnya Allah dengan keutamaannya
memudahkanku untuk mengambil faedah-faedah dan ilmu yang banyak. Itu
semua berkat bimbingan Syaikh Muqbil Al-Muhadist As-Salafi Al-Maimun muqbil
bin Hadi Al-Wadi’i Rahimahullah.
Sebagaimana keadaan Darul Hadits yang penuh barokah, : aku menyandarkan
semua da’i-da’i Salafiyah di yaman kepada Imam Wadi’I (syaikh Muqbil bin
Hady) Rahimahullah . Dan aku mengambil beberapa pelajaran dari pelajaran
nahwu, aqidah ,fiqih dengan beberapa masyaikh yang kami muliakan. Mereka
adalah murid-murid senior Syaikh Muqbil bin Hady Al-Wadi’i di pondoknya
seperti Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Al-Wushobi Al-Abdali, Syaikh
Abdul Mushowir Al-Ba’dani dan yang selain dari mereka (semoga Allah memberi
pahala untuk amalan mereka semua) .
Dahulu Syaikh Muqbil bin Hady Al-Wadi’i (semoga Allah menempatkannya di
dalam surganya Al-Firdaus yang paling tinggi) memintaku untuk meggantikan
beliau mengajar ketika beliau sedang sakit atau bepergian kemudian tatkala
beliau telah merasa sudah dekat ajalnya, beliau mewasiatkan kepadaku untuk
menggantikan beliau (sebagai mudir Darul Hadits Dammaj).
Dalam keadaan musuh-musuh Ma’had Darul Hadits Dammaj meyangka dengan
prasangkaan yang buruk , yaitu setelah meninggalnya beliau , dakwah ini akan
hilang dan bangunannya akan dijadikan sebagai tempat makanan hewan ternak
atau dijadikan tempat untuk menikmati kot (Tanaman khas Yaman yang
dikonsumsi untuk mendapatkan ketenangan dengan cara dikunyah)
sebagaimana perkara tersebut kami dengar juga selain kami di saat sakitnya
beliau dan juga pada waktu-waktu yang sebelumnya. Dan tatkala Allah berikan
di hati hamba-hambanya rasa penerimaan terhadap kebaikan-kebaikan ini
setelah meninggalnya Syaikh rahimahullah , ternyata dakwah ini semakin
meluas dan menyebar dan penuntut ilmu pun lebih banyak di banding zaman
beliau rahimahullah masih hidup.
Maka menjadi jengkellah orang-orang yang hatinya tekena penyakit hasad dari
kalangan murid-murid beliau rahimahullah dan juga yang lainnya dari
orang-orang yang terfinah dunia dan hizbiyyah. Maka Allah membuat kejelekan
mereka tak berarti (bagi dakwah) dan hancurlah makar-makar mereka.
Dan terus menerus dakwah ini berada di atas kebaikan , semua itu sebelum dan
sesudahnya adalah keutamaan dari Allah subhana wa ta’ala Allah berfirman :

َ‫ َِْ ٍ ِ ْ
ُِْ َو‬
َ َِ ِ‫ن ََِِْ ا  َُ ُ ِإذَا ُ  ا‬
َ ‫َْ"رُو‬#َ$

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, Maka dari Allah-lah (datangnya),
dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, Maka Hanya kepada-Nya-lah kamu
meminta pertolongan.” (QS. An-Nahl : 53)
Kita memohon kepada Allah untuk menjaga agama dan dakwah kita dan
menjaga kita, negeri kita dan seluruh negeri-negeri kaum muslimin dari fitnah
yang ada, baik yang nampak ataupun yang tidak , Alhamdulillahi Robbil Alamin

Ditulis oleh :
Abu Abdirahhman, Yahya bin Ali bin Ahmad bin Ali bin Ya’qub Al-Hajuuri
19 Jumadi Awal 1428

KELUARGA BELIAU
Oleh : Abu Dzulkifli Al-Banjari

Beliau memiliki 4 orang Istri dan belasan anak. Salah satu istri beliau adalah
Ummu Syu’aib Al-Wadi’iyah janda mendiang Syaikh Muqbil bin Hady yang
beliau nikahi sepeninggal Syaikh Muqbil. Anak laki-laki tertua beliau bernama
Abdurrahman umurnya sekitar 11 atau 12 tahun, mungkin dengan sebab itulah
beliau berkunyah Abu Abdirrahman. Saat ini, anak laki-laki beliau tersebut
bersama beberapa anak-anak lainnya memperdengarkan hapalan mereka
sebelum dimulainya pelajaran antara Maghrib dan Isya. Adapun yang anak
beliau (Abdurrahman) perdengarkan adalah hapalan dari kitab Umdatul Ahkam,
karya Al-Imam Al-Maqdasi.

AKTIVITAS BELIAU SEHARI-HARI


Oleh : Abu Dzulkifli Al-Banjari

Aktivitas beliau setiap harinya dimulai dengan menjadi Imam Sholat Shubuh di
Mesjid Darul Hadits Dam maj kemudian masih di tempat yang sama, setelah
sholat shubuh beliau mengecek hapalan Al-Qur’an beliau, yang menyimak
hapalan biasanya adalah ikhwan yang bertugas mengawal beliau saat itu.
Menurut kabar yang pernah kami terima, setiap harinya beliau mengecek
hapalannya kurang lebih 4 Juz Wallahu a’lam. Di sela-sela kegiatan tersebut
biasanya ada beberapa santri ataupun tamu yang berpamitan hendak
melakukan safar atau kembali ke daerah asalnya. Dan kegiatan ini biasanya
berlangsung sampai terbitnya matahari.
Setelah itu beliau berpindah ke ruang tamu untuk mengajar 2 pelajaran, yang
pertama adalah kitab Shohihul Adzkar dan yang kedua adalah kitab Subulus
Salam. Dan kedua pelajaran ini tidak diwajibkan bagi seluruh santri, bagi yang
ingin mengikutinya dipersilahkan dan bagi yang tidak ingin mengikutinya maka
tidak mengapa. Setelah itu beliau memasuki rumahnya.. Wallau a’lam apa
kegiatan beliau saat itu, ada kabar yang kami dengar, pada saat-saat itulah
beliau memuroja’ah karya tulis para santri Darul Hadits Dammaj serta pada saat
itu beliau juga menulis karya tulis mereka selain waktu di waktu-waktu yang lain,
yang jelas pada saat-sat itu beliau tetap menerima tamu yang memiliki
kepentingan baik dari santri Darul Hadits Dammaj ataupun tamu dari luar.
Pada saat waktu Sholat Dzhuhur beliau kembali keluar dari rumah dan
kemudian memberikan pelajaran umum ba’da sholat Dzhuhur, kemudian beliau
biasanya menerima sebagian tamu atau santri yang baru datang dan kemudian
kembali masuk rumah beliau terkadang beliau juga menjamu makan siang para
tamu atau santri yang baru datang.
Kemudian beliau kembali keluar ba’da Sholat Ashar dan memberikan pelajaran,
setelah pelajaran ba’da ashar beliau meluangkan waktunya menerima tamu dan
satri-santri yang memiliki keperluan.
Kemudian antara Maghrib dan Isya beliau kembali memberikan pelajaran dan
terkadang meberikan Muhadharoh via telepon dan pemberian fatwa atas
pertanyaan dari berbagai daerah dan Negara.
Inilah kurang lebih kegiatan beliau sehari-hari dan bisa dikatakan kegiatan
seperti ini tidak pernah berubah kecuali pada-pada waktu tertentu dan itu jarang
sekali. Beliau keluar dari rumah beliau selain ke mesjid hanya pada saat
memberikan Khutbah Ied serta apabila ada keperluan syar’I seperti sholat
jenazah, menjenguk orang sakit, memenuhi undangan, melihat keadaan ma’had
apabila ada sesuatu yang berubah serta kegiatan penting lainnya.
Seingat kami, selama dua tahun terakhir beliau hanya melakukan safar selama
5 kali :
1. Safar untuk melakukan dakwah ke daerah Shon’a dan sekitarnya selama 3
atau 4 hari
2. Safar ke Shon’a untuk sebuah keperluan, menurut kabar yang kami dengar
dalam rangka pengurusan surat- menyurat dalam rangka menunaikan ibadah
haji
3. Dakwah ke perbatasan Saudi Arabia – Yaman
4. Dakwah ke daerah Sho’da
5. Melakukan ibadah haji

Inilah bukti keseriusan dalam menempa para murid-muridnya, beliau sangat


menghindari keluar dalam waktu yang terlalu lama dari Darul Hadits Dammaj
karena beliau sangat memuliakan para penuntut ilmu yang datang dari berbagai
Negara untuk menimba ilmu dari beliau. Dan di tengah segala aktivitasnya yang
padat seperti ini, denga keutamaan dari Allah beliau terus mengeluarkan hasil
karya yang saat ini telah mencapai lebih dari 70 karya tulis.

PUJIAN PARA ULAMA TERHADAP SYAIKH YAHYA BIN ALI AL-HAJUURI


Dikumpulkan dan diterjemahkan oleh : Abu Abdirrahman Al-Harits

Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i :

1. Beliau berkata dalam muqoddimah kitab “Dhiya’us salikin” : ” telah dibacakan


kepada saya sebagian dari risalah safar yang telah ditulis oleh saudara kita Asy
Syaikh Al Faadhil Az Zaahid ( yang zuhud) Al Muhadits (Ahlul Hadits) Al faqih
(Ahlul Fiqh)…… dan Al Akh Asy Syaikh Yahya,dia adalah sosok seseorang
yang dicintai di kalangan saudaranya ahlus sunnah, karena mereka melihat
pada dirinya berupa aqidah yang baik dan kecintaannya kepada as sunnah dan
kebenciannya terhadap bid’ah dan hizbiyyah yang sangat mudah merubah
kepribadian seseorang.dan dia memberikan manfaat kepada saudaranya dari
kalangan kaum muslimin dengan fatwa-fatwa yang bersandarkan diatas dalil”

2. Dan beliau (Syaikh Muqbil) berkata dalam muqoddimah kitab “ahkamuh


jum’ah”: “Dan asy syaikh yahya (semoga Allah menjaganya) diatas puncak
kehati-hatian,ketaqwaan,zuhud,waro’ dan puncak takut kepada Allah.Dan dia
adalah orang yang selalu mengatakan (menyuarakan) Al Haq yang dia tidak
takut (karena sebab Allah)., celaan orang yang mencela. Dan dia adalah yang
menggantikan saya dalam memberikan pelajaran-pelajaran (Durus) di Darul
Hadits di Dammaj, yang dia menyampaikannya dengan sebaik-baik yang
diharapkan.”

3.Dan beliau (Syaikh Muqbil) berkata dalam muqoddimah kitab “Islahul


Mujtama’” :.”…….dan Al akh syaikh Yahya bin Ali Alhajuuri , Alhamdulillah
(berkat keutamaan dari Allah) sungguh telah menjadi rujukan dalam pelajaran
dan fatwa-fatwa. Saya memohon kepada Allah agar membalasnya dengan
kebaikan dan agar memberikan berkah dalam ilmunya, hartanya dan
keluarganya….”

4.Dan beliau (Syaikh Muqbil) berkata dalam muqodimmah kitab “ahkamut


tayammum” : “Dan saya telah melihat apa yang ditulis oleh Asy Syaikh Al faadhil
yahya bin Ali Al hajuuri dalam permasalahan tayammum, maka saya
mendapatinya telah meletakkan di dalamnnya faidah faidah yang pantas bagi
seseorang untuk rihlah (menempuh pejalanan) untuk mendapatkan
faedah-faedah tersebut, yaitu berupa ucapan beliau tentang hadits, rijal sanad
(orang-orang yang meriwayatkan hadits)dan istimbat (pengeluaran/penarikan
hukum) dalam permasalahn fiqih, yang hal tersebut menunjukkan dalamnya
ilmu beliau di dalam ilmu hadits dan fiqih.
Dan tidaklah berlebihan apabila saya katakan bahwa apa yang dia kerjakan
dalam kitab ini lebih dari apa yang di kerjakan oleh Al hafidz Ibnu hajar dalam
kitabnya “fathul Bari” dalam bab ini (tayammum)berupa penjelasan tentang
kedudukan hadits dan penjelasan tentang kedudukan hadits dan tentang derjat
(tingkatan) hadits. dan bukan maksud saya bahwa Al Akh faadhil Yahya ilmunya
melebihi Al Hafidz (ibnu hajar) dalam ilmu hadits, akan tetapi Al Akh yahya lebih
mutqin tentang apa yang dia tulis di dalam kitab syarah yang barokah
ini,maksud saya “Syarah Al Muntaqa’ karya Ibnu Al Jaruud, dan barokah dari
Allah dan semoga Allah membalas semuanya dengan kebaikan”.

5. Dan beliau (Syaikh Muqbil) berkata dalam muqoddimah kitab “Fathul


Wahab” :…. dan di zaman ini kita sekarang, para ulama yang mereka berdiri di
hadapan bid’ah-bid’ah ini, diantara mereka adalah Asy Syaikh Abdul Azis bin
baaz, da ayah kita Asy Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani….
Dan di yaman sejumlah ulama yang diberkahi oleh Allah, Asy Syaikh Abdul Azis
Al Buro’i,…..(lalu beliau menyebutkan sejumlah ulama yaman)…..dan diantara
mereka adalah Asy Syaikh Al Faadhil As Sunni As Salafi yang terus menerus
dars-dars (pelajaran-pelajaran) dan kitab-kitab beliau memerangi kebid’ahan,
dan sesungguhnnya tulisan (kitabnya) ini berupa penjelasan tentang bid’ahnya
mihrab adalah bukti terbesar atas hal itu. Dia adalah Asy syaikh Yahya bin Ali Al
hajuuri, semoga Allah memberkahinya dan usahanya dalam memerangi
kesyirikan dan kebid’ahan. Dan semoga Allah menolak/mencegah teradap diri
kita dan dirinya segala kejahatan dan segala yang dibenci.”

6. Dan beliau (Syaikh Muqbil) berkata dalam tarjamah beliau, tatkala beliau
menyebutkan murid-murid beliau, dan diantara mereka adalah “Asy Syaikh
Yahya bin Ali Al Hajuuri, Abu Abdirrahman termasuk diantara yang hafidz Al
Qur’an dan mustafied dalam berbagai cabang ilmu, dan saya telah mendengar
sebagian pelajaran-pelajarannya yang menunjukkan istifadhahnya dan dia kuat
dalam tauhid.”

7. Dan beliau (Syaikh Muqbil) berkata dalam muqoddimah kitab “Ash shuhu Asy
Syariq”: “Saya kagum dengan dia, seorang bahits (orang yang mempunyai
kemampuan dan kesehariannya membahas pemasalahan dari kitab-kitab para
ulama) yang mengumpulkan catatan-catatan faedah,baik dalam fiqih,hadits dan
tafsir.”
Dan maha benar Allah tatkala berfirman :
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian bertakwa kepada Allah, maka
Allah akan menjadikan bagi kalian furqon (Untuk membedakan antara yang haq
dan yang bathil)”
Dan Allah juga berfirman :
“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Alllah dan berimanlah
kepada RasulNya, maka Allah akan memberikan kepada kalian dua bagian dari
rahmatNya dan menjadikan bagi kalian nur yang kalian berjalan diatasnya”.
Dan Asy Syaikh Yahya, Allah bukakan bagi dia karena sebab berpegang
teguhnya dia dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah.”

8. Wasiat Syaikh Al Imam Al Allamah Al Mujahid Muqbil bin Hadi Al Wadi’i : “Dan
saya wasiatkan kepada mereka (kerabat beliau dari penduduk dammaj)
terhadap asy syaikh Yahya bin Ali Alhajuuri untuk berbuat baik dan agar jangan
ridho dengan diturunkanya beliau dari kursi karena beliau adalah nashih amin
(penasehat yang terpercaya)”

9. Dan berkata al akh Abdullah al maathir : “Dan sungguh saya pernah bertanya
kepada asy syaikh Muqbil, dan kami demi Allah, tidak ada antara saya dengan
beliau kecuali Allah, dan kami berada di kamar beliau diatas tempat tidur beliau
yang beliau tidur diatasnya, kemudian saya katakan kepada beliau: “wahai
syaikh, kepada siapa ikhwan ahlus sunnah di yaman merujukkan urusan-urusan
mereka dan siapakah dia yang paling berilmu di yaman ?” maka syaikh muqbil
terdiam sebentar dan berkata :”asy syaikh Yahya”
Ini yang saya dengar dari syaikh muqbil, dan bukanlah maksud disini bahwa
kami menjatuhkanulama-ulama yaman,karena sesungguhnya kami memuliakan
dan mencintai mereka karena Allah”
(dinukil dari “asy syaikh yahya fi suthur wa makanitihi inda imam wadi’i” hal 4″)

Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkholi

Berkata syaikh Rabi bin hadi yang dinukilkan oleh asy syaikh Abu Hamam Al
Baydoni :”dan saya yakini (yang saya beragama kepada Alllah Azza wa jalla
dengannya) bahwa, asy syaikh yahya adalah seorang ahu taqwa dan waro’ dan
zuhud (dan beliau memuji asy syaikh Yahya) kemudian beliau
mengatakan :”dan beliau telah memegang dakwah salafiyah dengan tangan
besi dan tidaklah pantas (untuk memegangnya) kecuali dia dan orang-orang
semisalnya. sampaikan salamku kepada Al Wushobi (Syaikh Muhammad bin
Abdul Wahab Al Wushobi) dan Al Hajuri (Asy Syaikh Yahya) dan
saudara-saudaranya (Ahlus sunnah) dan katakan kepada mereka bahwa walau
datang kepadaku siapapun dia, saya tidak akan mendengar kalam tentang
mereka, (yang) menjelekkan mereka , sampai-sampai kalaupun mereka datang
kepadaku dengan kalam sebesar gunung makkah, maka saya tidak akan
membuka telinga saya untuk itu.. Bagaimana bisa saya berbicara terhadap
orang yang menginjak dunia dengan kaki-kaki mereka sementara manusia
berkumpul pada dunia tersebut, bahkan mereka mengusir jam’iyah hizbiyyah
yang memecah belah umat dan mengusir bid’ah dan kemudian saya berbicara
(menyudutkan mereka), ini tidak masuk akal.”
(ucapan ini disampaikan oleh syaikh Abu hammam Al Baydoni kepada Al Akh
Abu Bilal Al hadromi melalui telepon. dan kasetnya ada di maktabah as
salafiyyah di Al Hamy.dan jawaban syaikh Rabi’ ini terjadi beberapa bulan lalu
pada tahun ini (1428H))

Mengabarkan kepada kami asy syaikh Abu hamam, berkata asy syaikh Al
Allamah Rabi’ bin Hady: “saya tidak mengetahui satu tempat pun untuk ilmu
seperti dammaj, hal itu dikarenakan seorang yang sholeh pergi ke dammaj dan
tinggal dalam waktu yang singkat kemudian datang kepada kita dengan ilmu
yang banyak”.)
Kemudian As Syaikh abu hammam berkata : “dan sekarang 17 sya’ban 1428 H
beliau syaikh Rabi’ menulis sebuah kitab tentang para ulama besar yang telah
terdahulu, bagaimana mereka dahulu menjaga sunnah dan beliau
memperlihatkannya kepadaku, kemudian berkata :”ini saya tulis untuk
orang-orang semisal tholibul ilmi di dammaj, karena sesungguhnya saya tidak
mengetahui ada yang seperti mereka dalam menjaga sunnah”
Ini beliau (Abu Hammam) sampaikan lewat tulisan yang dia tulis di tempat
pertama dari kitab majmu’ rasail tulisan asy syaikh Ahmad An najmi yang beliau
kumpulkan dan bagi-bagikan

Berkata Al-Akh Samir sebagaimana dalam Risalah “Ahlu Jaddah” yang


disampaikannya kepada Syaikh Yahya bin Ali : “Aku berkata kepada Syaikh
Rabi’ bahwa pengikut Abul Hasan Al Mishri mengatakan bahwa di Yaman tidak
ada ulama, maka Syaikh Rabi’ mengatakan :” Syaikh Muhammad, siapa dia ???
Syaikh Yahya , siapa Dia ??? dan selain dari keduanya dari saudara-saudara
mereka”" (Nukilan dari Ibna’il Fadla, Sa’id bin Da’as Al Yafi’i)

Syaikh Muhammad bi Abdul Wahab Al Wushobi

Berkata asy syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Al Wushobi, sebagaimana hal
ini dinukilkan oleh syaikh yahya dalam dars beliau, tatkala asy syaikh
Muhammad berkata kepada beliau : “Dakwah salafiyah selalu diincar dan
engkau wahai aba abdirrahman (Syaikh yahya) adalah orang yang pertama
diincar.”
Dan beliau (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab) juga berkata: “….maka
semoga Allah membalas asy syaikh Al Faadhil, Al Muhadits, Al faqih pengganti
syaikh mjuqbil di markiznya dengan kebaikan atas yang dia berikan untuk
dakwah.”

Syaikh Muhammad Al Imam

Syaikh Muhammad Al Imam berkata : “Tidak seorangpun yang mencela syaikh


al allamah yahya bin ali Alhajuuri kecuali dia seorang yang jahil atau pengikut
hawa nafsu” (dinuki dari risalah, “madza yanqimuuna yahya” hal 6″)
Syaikh Muhammad Al Imam berkata : “Tidaklah pantas untuk melakukan Jarh
wa Ta’dil di zaman ini kecuali Syaikh Robi’ dan Syaikh Yahya”
(dinukil dari “asy syaikh yahya fi suthur wa makanitihi inda imam wadi’i” hal 5″)

Syaikh Abdul Azis Al Bura’i


Berkata asy syaikh Abdul Azis Al Bura’i : “Dan syaikh yahya adalah salah
seorang pahlawan (singa) dari pahlawan-pahlawan (singa) sunnah, mahkota
diatas kepala ahlus sunnah”
(dinukil dari kaset “jilsal ashabul qushai’ar” dan kasetnya ada di tasjilat darul
atsar dammaj Yaman)
Berkata asy syaikh Abdul Azis Al Bura’i : “Dan kami menganggap bahwa
barangsiapa yang berbicara terhadap Syaikh Yahya, maka dia telah berbicara
terhadap kami (Para ulama Yaman) Dan barangsiapa yang berbicara terhadap
Dammaj, maka dia telah berbicara terhadap kami semua”
(dinukil dari kaset “jilsal ashabul qushai’ar” dan kasetnya ada di tasjilat darul
atsar dammaj Yaman)

Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmi


Syaikh Ahmad An Najmi ditanya : “apa pendapat syaikh tentang orang yang
berbicara terhadap para masyaikh (para ulama) berikut ini : Syaikh Rabi’
almadkholi, syaikh Muhammad bin abdul wahab al wushobi, Syaikh Yahya bin
ali Al hajuuri ?”
Beliau menjawab : “Barangsiapa yang berbicara terhadap ahlus sunah dan para
pembawa manhaj salafy, maka hal itu adalah dalil/bukti yang menunjukkan
bahwa dia adalah seorang ahlul bid’ah. Dan para ulama tersebut, kita meyakini
bahwa mereka adalah ahlus sunnah dan bermanhaj salafy, dan tidaklah kita
mentazkiah mereka atas Allah azza wa jalla.Bahkan kita meminta kepada Allah
kekokohan dan pemantapan bagi semua untuk setiap kebaikan. Dan kita bedoa
kepada Allahyang maha agung untuk menjaga mereka dari setiap kejelekan dan
dari hal-hal yang dibenci”
(sebagaimana dalam kitab “Al fatawa Al jaliyah anil manahij ad da’a.)

KARYA TULIS BELIAU

1-‫وا 
ة وا  ا 
 ا 
ة ادئ‬.
2-‫ 

"! ت  اد  ارق ا‬#‫ ا‬$‫
ا‬$%‫ا*) ( 
آ&  ا‬.
3-+#,‫ ا‬-.‫ أن  ا‬1‫!م "
اوا‬45‫  ا‬6 ‫ &! ا
هر‬-‫
ا‬6.
4-‫م‬8‫ أ‬-#‫ ا‬9
&‫و‬.
‫‪.‬وا=ال ا<‪ -‬أ‪8‬م  ا‪8;5‬ل (" ‪5-‬‬
‫‪.‬ا‪ @AB‬و?داب أ‪8‬م‪6-‬‬
‫‪.‬ا ‪ C‬أ‪8‬م‪7-‬‬
‫‪.‬ا=‪ -‬ا @ ‪ @6‬و(‪
 I#‬ه@ &‪BI‬ء ا‪G‬ل ا‪!F‬ط أن  ا‪D‬د‪8-
 -‬‬
‫‪.‬ا‪,‬اب و‪ C8‬ا‪  -‬اق ‪8‬م  اهب ‪9-‬‬
‫‪ K$D&.‬ا‪M‬آ ‪B6‬واة إ ا
ا @ ا*‪K‬ء &‪ G%‬ا‪K‬ء آ‪10-J‬‬
‫ا‪ -A‬ا‪11--N4D‬‬
‫‪.‬وا م وا‪ +,‬ا‪%‬آة &‪ -&GP‬ا‪8‬ام إ(‪,‬ف‪12-‬‬
‫‪.‬ا ‪ - .!F‬ا
را‪ -4‬ل ى‪13-‬‬
‫‪.‬ا ‪ -‬أ&‪ 1& R .‬آ‪  J‬ا‪ - IB‬ا‪14--&GD‬‬
‫‪.‬ا‪"D‬ار ‪#
& @ $‬ر ‪15--, $‬‬
‫‪.‬ا‪ 6 -&,‬ر‪ 
A‬ا‪ -&<B‬ا‪A‬ض‪16-‬‬
‫‪.‬ا‪ -68,‬وء ا‪B‬ء =ة ا‪ -6,‬ا‪17--, I‬‬
‫‪.‬ا‪ T#‬إ‪!W‬ح آب  اُ‪18-T‬‬
‫ا ‪Y -‬ل  وا‪M8‬ب ا ‪ X‬آ‪19-J‬‬ ‫‪.‬اب ‪A%G‬ة  ;ك ‪
GA‬‬
‫‪.‬ا‪ @ 9‬ا"وي  واد ا‪  @A8‬ا
ء ; ‪20--‬‬
‫‪.‬ا @ ‪ @6‬ا‪ 6#‬ا ‪!F‬ط   ا <@ ذوي إر;د‪21-‬‬
‫‪BI&.‬ء ا ‪ @6‬ا‪!I‬ء (‪22-AM,‬‬
‫‪.‬ا‪23-- &( @ I‬‬
‫ا‪6  ]A& $‬ه
ا( ‪24-‬‬
‫‪.‬ا‪ %^I#‬أ‪8‬م‪25-‬‬
‫‪.‬وا‪ "D‬ا‪
9‬ي أ‪8‬م‪26-‬‬
‫‪.‬ا_‪ A‬دة ‪ A @6‬وا‪ M,‬ا‪27-- ; I‬‬
‫‪.‬ا‪ ,‬ت ‪ @6‬ااد ‪6‬ت &
‪  R‬ا<ت‪28-‬‬
‫‪.‬ا @ ‪ @6‬ا‪ 6#‬ا ‪!F‬ط   ا <@ ذوي إر;د‪29-‬‬
‫‪.‬ا‪ - B‬ا
ة =ب ا* ‪ -‬ا‪30-R^4‬‬
‫‪.‬ا‪  #9I‬ا‪K‬ا&`‪31-‬‬
‫‪.‬ا‪5‬ذا‪   6 -‬اد  ‪ -4‬ة‪32-XG‬‬
‫‪.‬اآ ‪ -‬ا‪ #‬ي أ‪Y‬ال & ن  ا‪%‬آ ‪ -‬ا‪D‬د‪33--‬‬
‫‪  @& a .‬ا "!ل ‪ 1‬ا‪#‬رف ا‪ 1A‬ا‪34-R B‬‬
‫‪.‬و‪ -G‬ا‪ .  e  d‬ا‪ d‬ر ااد هدي &@ ‪ R6‬ا‪!45‬م ; ‪ c‬ر‪b‬ء  ام ا
ر‪35-‬‬
‫‪1A6.‬ال أ‪8‬م (‪  C‬وا‪ 1A,‬ا‪36-f,‬‬
‫‪).‬اردي اف( ا‪ B‬ا
ار‪37-) ,( (-6
6 @I4 6‬‬
‫‪Gg.‬ي اء أ‪!F‬ق( (‪38-) ,‬‬
‫‪ . B.‬ا‪WP& $9‬ل ا‪ $6D‬و‪W‬ل( (‪39-) ,‬‬
‫‪.‬ا<م  ا ‪G‬ع  ا‪B,‬ن ا‪D‬ر&ن‪40-‬‬
‫‪.‬ا‪ I‬آب ;ح‪41-‬‬
‫‪.‬ا* ات @ اارف أه‪ @6 C‬ا‪42-AM,‬‬
‫‪.‬ا‪ #,‬إ‪B‬ن و( ) ‪. TG‬ا د‪ @A‬وى &‪ GP&-‬ا ‪Y @ I‬ة‪43-‬‬
‫‪.‬ا<‪,‬ت ‪ 6   @6‬و& ن ا‪ d‬ر ‪ . B‬ا‪,‬وي &* ‪ i‬ا‪,(5‬ت‪44-‬‬
‫‪.‬اردي ا&@ ‪; - 6‬ح‪45-‬‬
‫‪.‬ا‪ -,B‬اات وى‪46-‬‬
‫‪ .‬ا‪ d‬إ 
ة اأة ‪F‬وج  ى‪47-‬‬
‫‪.‬وا<‪ k‬ا‪.D‬ء وى‪48-‬‬
‫‪ ;.‬دول نم ااردة ‪ -N4l‬ا‪5‬ء‪49-‬‬
‫‪ 9 .‬ا‪8‬ى ا‪ @6 @IB‬ا‪ -‬ا‪D‬د‪ fA‬ا‪*4‬اج‪50-‬‬
‫‪.‬ا‪
IB‬ا‪  ,‬آب  ا‪$‬دا(  ‪ ,‬ا‪ @& $ d‬أ
 اد‪51-‬‬
‫‪.‬ا
ار‪52--49 R I<Y‬‬
‫‪.‬وا‪ -A9I‬ا
ا‪ -A‬ا‪F‬ر‪53-‬‬
‫‪.‬ا ن ا‪8‬ي ‪54-W‬‬
‫‪.‬ا<!ب ‪m T6 -#6 @6‬ا‪.  e  R‬ا*ري ‪;  ,W‬ح اري  (‪55-) ,‬‬
‫‪ 6‬ر‪56-) ,( -4‬‬ ‫‪ .‬وز?&دي ‪`KA   fA
،‬‬
‫‪.‬ا_ى ا ‪57-) ,( @I4 9‬‬
‫‪.‬ا‪ -b!K‬ا‪WD‬ل ;ح‪58-‬‬
‫‪.‬اا‪ - <4‬ا 
ة ;ح‪59-‬‬
‫‪.‬ا ‪; - $‬ح‪60-‬‬
‫‪.‬ا‪ AMI‬ا  ‪ - @I4‬وا ‪  B‬ا‪; kA‬ح‪61-‬‬
‫‪.‬ا<‪,‬و‪ -A‬ا 
ة ;ح‪62-‬‬
‫‪.‬اا ‪ -‬ةا‪4‬ل ;ح‪63-‬‬
‫‪.‬ا 
آب ;ح‪64-‬‬
‫‪.‬ا‪5‬اب ‪; -,6‬ح‪65-‬‬
‫‪.‬ا
ار‪ -6
6 @I4 6‬و(‪; ) ,‬ح‪66-‬‬
‫‪.‬ا‪!45‬م ; ‪67-- 6 c‬‬
‫‪.‬ا وا‪; - $‬ح‪68-‬‬
‫‪.‬ا‪ B‬ر‪; - IA‬ح‪69-‬‬
‫ا‪I‬و‪ -A‬ا‪D‬ر& @ ;ح‪70-‬‬
‫ا‪ $ d‬ا
&@ ا
آر ت ‪ 9#‬ا @‪71-‬‬

‫‪Dinukil dari my.opera.com/infodammaj‬‬