Anda di halaman 1dari 82

1.

Landasan Historis
2. Landasan Kultural
3. Landasan Yuridis
4. Landasan Filosofis

Ad 1.
- Suatu bangsa memiliki ideologi dan pandangan
hidupnya sendiri, yang diambil dari nilai-nilai yang
hidup dan berkembang dalam bangsa itu sendiri.
- Pancasila digali dari nilai-nilai yang tumbuh dan
berkembang sejak lahirnya bangsa Indonesia.
- Nilai-nilai Pancasila telah melalui pematangan
sehingga tokoh-tokoh bangsa Indonesia saat akan
mendirikan negara RI menjadikan Pancasila sebagai
dasar negara.
- Dalam pembukaan UUD telah tercantum nilai-nilai
Pancasila Pancasila disepakati sebagai nilai yang
dianggap paling tinggi kedudukannya historis
kehidupan bangsa Indonesia tidak dapat dilepaskan
dengan nilai-nilai Pancasila.
Ad 2
- Pandangan hidup bagi suatu bangsa adalah suatu hal
yang tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan
bangsa.
- Bangsa yang tidak memiliki pandangan hidup tidak
memiliki kepribadiaan dan jati diri
- Kepribadian yang lahir dari dalam dirinya sendiri akan
lebih mudah menyaring nilai-nilai yang masuk /
datang dari luar memperkokoh nilai-nilai yang
sudah tertanam.

- Pancasila sebagai kepribadian dan jati diri bangsa
Indonesia merupakan pencerminan nilai-nilai yang
telah lama tumbuh dalam kehidupan bangsa
Indonesia.
- Nilai-nilai yang dirumuskan sebagai hasil pemikiran
tokoh-tokoh bangsa Indonesia yang digali dari budaya
bangsa sendiri.
- Pancasila tidak mengandung nilai yang kaku dan
tertutup terbuka bagi masuknya nilai-nilai baru
yang positif dari dalam maupun luar negeri.
Ad 3.
- UU No. 2 th 1989 tentang sisdiknas dipakai sebagai
dasar penyelenggaraan pendidikan tinggi.
- Pasal 39 ayat (2) isi kurikulum setiap jenis, alur dan
jenjang pendidikan wajib memuat :
a). Pendidikan pancasila
b). Pendidikan Agama
c). Pendidikan Kewarganegaraan
- Dalam operasionalnya ke 3 mata kuliah wajib dari
kurikulum tersebut dijadikan bagian dari kurikulum
yang berlaku secara nasional.
- Keputusan Mendikbud No. 30 th 1990 status
pendidikan Pancasila dalam kurikulum pendidikan
tinggi mata kuliah wajib untuk setiap program studi
dan bersifat nasional.
- Keputusan Dirjen P.T. No. 265/Dikti/ Kep/2000:
penyampurnaan kurikulum inti mata kuliah
pengembangan kepribadian pendidikan Pancasila.
- Mata kuliah pendidikan Pancasila yang mencakup
unsur filsafat Pancasila merupakan salah satu
komponen yang tidak dapat dipisahkan dari MKPK
(mata kuliah pengembangan kepribadian) dalam
susunan kurikulum inti PT. di Indonesia.
- Pendidikan Pancasila dirancang dengan maksud
untuk memberikan pengertian kepada mahasiswa
tentang : Pancasila sekarang :
. Filsafat/tata nilai bangsa
. Dasar negara
. Ideologi nasional dengan segala
implikasinya.

Ad 4
- Secara filosofis dan obyektif nilai-nilai yang
tertuang dalam sila-sila pancasila merupakan filosofi
bangsa Indonesia sebelum mendirikan negara RI.
- Sebelum berdirinya negara RI, bangsa Indonesia
adalah : bangsa yang berketuhanan, bangsa yang
berkemanusiaan dan bangsa yang selalu berusaha
mempertahankan persatuan bagi seluruh rakyat untuk
mewujudkan keadilan kewajiban moral
merealisasikan nilai-nilainya.
- Pancasila sekarang sumber nilai dalam pelaksanaan
kenegaraan yang menjiwai pembangunan nasional
dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan hankam.
TUJUAN PENDIDIKAN PANCASILA
- Mencakup unsur filsafat Pancasila di PT bertujuan
untuk hal-hal berikut.
1. Dapat memahami dan mampu melaksanakan jiwa
Pancasila dan UUD 45 dalam kehidupannya sebagai
warga neraga RI.
2. Menguasi pengetahuan dan pemahaman terutama
beragam masalah dasar kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan dengan penerapan pemikiran yang
berlandasan Pancasila dan UUD 45.
3. Memupuk sikap dan perilaku yang sesuai dengan
nilai-nilai dan norma Pancasila, sehingga mampu
menanggapi perubahan yang terjadi dalam rangka
keterpaduan iptek dan pembangunan.
4. Membantu mahasiswa dalam proses belajar, proses
berpikir, memecahkan masalah dan mengambil
keputusan dengan menerapkan strategi teoritis
terhadap nilai-nilai Pancasila.
- Pendidikan Pancasila yang berhasil akan
menghasilkan sikap mental yang bersifat cerdas dan
penuh tanggung jawab dari peserta didik yang
berperilaku yang :
1. beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan YME.
2. Berperikemanusiaan yang adil dan beradab
3. Mendukung persatuan bangsa
4. Mendukung kerakyatan yang mengutamakan
kepentingan bersama diatas kepentingan
perorangan.
5. Mendukung upaya untuk mewujudkan keadilan
sosial.
- Melalui pendidikan Pancasila
warga negara RI diharapkan mampu :
memahami masalah-masalah yang
menganalisis dihadapi oleh masyarakat
menjawab bangsa yang secara
berkesinambungan dan
konsisten dengan cita-cita
dan tujuan nasional
seperti yang digariskan
dalam pembukaan UUD 45
Akan dapat menghayati filsafat dan ideologi
Pancasila menjiwai tingkah lakunya selaku warga
neraga RI dalam melaksanakan profesinya.
PANCASILA SEBAGAI SISTEM
FILSAFAT
Tujuan memahami Pancasila sebagai sistem
filsafat.
Pembahasannya meliputi :
A. Cara berpikir filsafat :
- pengertian filsafat
- sistem filsafat
- aliran aliran filsafat
- nilai-nilai Pancasila berwujud dan bersifat
filosofis

B. Pengertian Pancasila secara Filsafat :
- Aspek ontologi
- Aspek epistemologi
- Aspek axiologi
C. Nilai-nilai Pancasila menjadi dasar dan arah
keseimbangan antara hak dan kewajiban asasi
manusia.
A. CARA BERPIKIR FILSAFAT
1. Pengertian Filsafat
- Secara etimologi (bahasa Yunani) philosophia
: philo/philos/philein artinya : cinta /
pencinta/mencintai dan sophia artinya : kebijakan /
wisdom / kearifan / hikmah / hakekat kebenaran.
Jadi filsafat artinya cinta akan kebijakan atau hakekat
kebenaran.

- Berfilsafat : berpikir sedalam-dalamnya (merenung)
terhadap sesuatu secara : metodik, sistematis,
menyeluruh dan universal untuk mencari hakekat
sesuatu.
- Menurut D. Runes, filsafat : ilmu yang paling umum
yang mengandung usaha mencari kebijakan dan cinta
akan kebijakan.
- 2 pengertian filsafat : filsafat dalam arti
proses
filsafat dalam arti produk
Pengertian lain : filsafat sebagai ilmu
filsafat sebagai pandangan
hidup

yang lain : filsafat dalam arti teoris
filsafat dalam arti praktis

Pansacila : dapat digolongkan :
- filsafat dalam arti produk
- filsafat sebagai pandangan hidup
- filsafat dalam arti praktis

Berarti : Pancasila mempunyai fungsi
dan peranan sebagai pedoman dan
pegangan dalam sikap, tingkah laku dan
perbuatan berbangsa dan bernegara
bangsa Indonesia.
Sebelum seseorang bersikap
bertingkah laku
berbuat




Terlebih dahulu akan berpikir tentang sikap,
tingkah laku dan perbuatan mana yang
sebaiknya dilakukan.
Hasil pemikirannya suatu
putusan :
Putusan ini disebut : nilai
Nilai : sifat, keadaan atau kualitas dari sesuatu
yang bermanfaat bagi kehidupan manusia, baik
lahir maupun batin.
- Setiap orang, sadar / tidak sadar memiliki filsafat
hidup / pandangan hidup.
Pandangan hidup / filsafat hidup seseorang :
Kristatisasi nilai-nilai yang diyakini
kebenarannya, ketepatan dan manfaatnya.
Menimbulkan tekad untuk mewujudkan
dalam bentuk sikap, tingkah laku dan
perbuatan.
- Nilai-nilai sebagai hasil pemikiran yang sedalam-
dalamnya tentang kehidupan yang diangga paling
baik bagi bangsa Indonesia : adalah PANCASILA, baik
sebagai filsafat, dalam arti produk maupun sebagai
pandangan hidup.
- Filsafat kegiatan pemikiran yang tinggi dan murni
(tidak terikat langsung dengan suatu objek), yang
mendalam dan daya pikir subjek manusia dalam
memahami segala sesuatu untuk mencari kebenaran.
- Berpikir aktif dalam mencari kebenaran adalah
potensi dan fungsi kepribadian manusia.
- Ajaran filsafat merupakan hasil pemikiran yang
sedalam-dalamnya tentang kesemestaan, secara
mendasar (fundamental dan hakiki).

- Filsafat sebagai hasil pemikiran pemikir (filosof)
suatu ajaran / sistem nilai berwujud pandangan
hidup (filsafat hidup) maupun sebagai ideologi yang
dianut suatu masyarakat atau bangsa dan negara.
Filsafat yang demikian selalu berkembang sebagai
suatu paham (issue), seperti : kapitalisme,
komunisme, sosialisme, nasisme, fasisme,
theokratisme dan sebagainya, yang cukup
mempengaruhi kehidupan bangsa dan neraga
modern.
2. Sistem Filsafat
- Pemikiran filsafat berasal dari berbagai tokoh yang
menjadikan manusia sebagai subjek.
- Perbedaan latar belakang tata nilai dan alam
kehidupan citc-cita dan keyakinan yang mendasari
tokoh-tokoh tersebut melahirkan perbedaan-
perbedaan mendasar antar ajaran filsafat.
- Meskipun demikian mempunyai persamaan dapat
digolongkan dalam aliran berdasarkan watak dan inti
ajaran
- Bukan oleh tempat dan waktu lahirnya, melainkan
oleh watak isi dan nilai ajaran.
- Suatu ajaran filsafat yang bulat mengajarkan
tentang berbagai segi kehidupan yang mendasar.
Suatu sistem filsafat sedikitnya mengajarkan tentang :
. Filsafat yang mengajarkan hanya sekalian kehidupan
(sektoral fragmentaris) tak dapat disebut sebagai
filosofi, hanya ajaran filosofi seorang ahli filsafat.

3. Aliran-aliran Filsafat
a). Aliran materialisme : hakikat realitas kesemestaan,
termasuk mahluk hidup dan manusia ialah materi. Semua
realita ditentukan oleh materi (mis ; benda, ekonomi,
makanan) dan terikat pada hukum alam yaitu hukum
sebab akibat yang bersifat obyek.
b). Aliran Idealisme /spritualisme :
ide atau spirit manusia memantau hidup dan
pengertian manusia, subjek manusia sadar atas realitas
dirinya dan kesemestaan, berupa akal budi kesadaran
rohani,
hidup dan pengertian manusia
Kesadaran rohani atau mati semua menusia tetap
sadar atau mati sama sekali tetap menjadi dirinya,
apalagi realitas tak menyadari dirinya, apa nilai realitas
kesemestaan : hakiki diri dan kenyataan kesombongan
adalah akal budi (ide dan spirit)
c). Aliran Realisme
- menggambarkan : kedua aliran diatas materialisme
dan idealisme yang bertentangan tidak sesuai
dengan kenyataan (tidak realistis)
- kehidupan seperti pada tumbuh-tumbuhan, hewan
dan manusia hidup berkembang biak tua
mati : menolak realitas demikian lebih dari pada
materi.
- karenanya realitas :
paduan benda (materi dan jasmaniah) dengan yang non
materi (spiritual dalam gejala : daya pikir, cipta dan budi.
: menurut aliran realisme : realitas merupakan sintesis
antara jasmaniah rohaniah, materi non materi.
4. Nilai-nilai Pancasila Berwujudkan dan Bersifat
Filosofis
- Pendekatan filsafat Pancasila : ilmu pengetahuan
yang mendalam tentang Pancasila.
- Untuk mendapatkan pengertian yang mendalam
kita harus mengetahui sila-sila Pancasila sebagai
berikut dari setiap sila kita cari intinya setelah
kita tahu hakikat dan intinya cari hakikat dan
pokok-pokok yang terkandung didalamnya yaitu :

1. Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa :
nilai-nilai yang terkandung dijadikan tuntutan
dan pengangan dalam mengatur sikap dan tingkah
laku manusia Indonesia, dalam hubungan dengan
Tuhan, masyarakat dan alam semesta.
2. Pancasila sebagai dasar negara :
nilai-nilai yang terkandung dijadikan dasar dan
pedoman dalam mengatur tata kehidupan
bernegara, seperti diatur oleh UUD45 untuk
kepentingan kegiatan praktis operasional diatur
dalam TAP MPR No. III/MPR?2010 tentang Sumber
Hukum dan Tata Urutan perundang-undangan, yaitu
:
a). UUD 1945
b). Ketetapan MPR
c). Undang-undang
d). Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-
undang (PERPU)
e). Peraturan Pemerintah
f ). Keputusan Presiden
g). Peraturan Daerah
3. Filsafat Pancasila yang abstrak tercermin
dalam Pembukaan UUD45 yang merupakan
uraian terinci dari Proklamasi 17-8-1945
yang di jiwai oleh Pancasila.
4. Pancasila yang dirumuskan dalam
pembukaan UUD45 merupakan suatu
kebulatan yang utuh.
5. Jiwa Pancasila yang abstrak setelah tercetus
menjadi Proklamasi kemerdekaan 17-8-1945,
tercermin dalam pokok-pokok yang terkandung
dalam Pembukaan UUD45.
6. Berdasarkan penjelasan otentik UUD 1945
UUD45 menciptakan pokok-pokok
pikiran yang terkandung dalam Pembukaan
UUD45 pada pasal-pasalnya.
Berarti pasal-pasal dalam batang tubuh
UUD45 menjelaskan pokok-pokok pikiran yang
terkandung dalam pembukaan UUD45 sebagai
perwujudan dari jiwa Pancasila.
7. Kesatuan tafsir Pancasila harus bersumber dan
berdasarkan Pembukaan dan batang tubuh
UUD45.
8. Nilai-nilai yang hidup berkembang dalam
masyarakat Indonesia yang belum terkandung dalam
Pembukaan UUD45 perlu diselediki untuk
memperkuat dan memperkaya nilai-nilai yang
terkandung dalam Pembukaan dan Batang Tubuh
UUD45, dengan ketentuan sebagai berikut :
a). Nilai-nilai yang menunjang dan memperkuat
kehidupan bermasyarakat dan bernegara dapat kita
terima asal tidak bertentangan dengan kepribadian
bangsa dan nilai-nilai yang terkandung dalam
Pancasila.
mis : referendum atau pemilihan Presiden secara
langsung.
b). Nilai-nilai yang bertentangan dengan nilai-nilai
yang terkandung dalam Pembukaan dan Batang
Tubuh UUD45 tidak dimasukkan sebagai nilai-nilai
pancasila diusahkan tidak hidup dan berkembang lagi
dalam masyarakat.
mis : demonstrasi dengan merusak bangunan/kantor,
penjahat di hukum massa, penjarahan.
c). Nilai-nilai yang terkandung dalam Pembukaan dan
Batang Tubuh UUD45 digunakan sebagai batu
ujian dari nilai-nilai yang lain agar dapat diterima
sebagai nilai-nilai Pancasila.
Oleh sebab itu :
Dalam kehidupan bangsa Indonesia diakui bahwa nilai
Pancasila adalah pandangan hidup. Pancasila
dijadikan sebagai pedoman dalam bertingkah laku
dan berbuat dalam segala bidang kehidupan meliputi :
bidang ekonomi, politik, sosial budaya dan hankam.
sebagai ajaran filsafat, Pancasila mencerminkan nilai
dan pandangan dasar dan hakiki rakyat Indonesia
dalam hubungan dengan sumber kesemestaan, yakni
Tuhan Yang Maha Pencipta.
B. PENGERTIAN PANCASILA SECARA FILSAFAT
filsafat sebagai metode
- Filsafat
filsafat sebagai suatu pandangan
berguna bagi ideologi Pancasila
- Filsafat sebagai metode : menunjukkan cara berpikir
dan cara mengadakan analisis yang dapat
dipertanggung Jawabkan untuk dapat menjabarkan
ideologi Pancasila.
- Filsafat sebagai suatu Pandangan : menunjukkan nilai
dan pemikiran yang dapat menjadi substansi dan isi
pembentukkan ideologi Pancasila.
a). deduktif
- Pembahasan filsafat secara
b). Induktif
a). Deduktif:
Mencari hakikat Pancasila serta menganalisis
dan menyusunnya secara sistematis menjadi
keutuhan pandangan yang komprehensif.
b). Induktif
Mengamati gejala-gejala sosial budaya
masyarakat, merefleksikannya dan menarik arti
dan makna yang hakiki dari gejala-gejala itu.
- Dengan demikian, kedua cara tersebut memberikan
hasil yang dapat disajikan sebagai bahan-bahan yang
sangat penting bagi penjabaran ideologi Pancasila.
- Wawasan filsafat meliputi bidang penyelidikan
ontologi, epistemologi dan axiologi. Ketiga bidang ini
dapat di anggap mencakup kesemestaan.
1. Aspek Ontologi :
- Tunes ; ontologi : teori tentang adanya keberadaan
atau eksistensi.
- Aristoteles : ontologi : ilmu yang menyelidiki
hakikat sesuatu dan disamakan artinya dengan
metafisika.
- Bidang ontologi ini meliputi penyelidikan tentang
makna keberadaan (ada eksistensi) manusia, benda,
ada alam semesta (kosmologi), juga tidak terbatas
sebagai sumber alam semesta.
Artinya : ontologi menjangkau adanya Tuhan dan
alam, seperti rohani dan kehidupan sesudah kematian
(alam di balik dunia, alam metafisika)
: Ontologi adalah bidang filsafat yang menyelidiki
makna yang ada (eksistensi dalam keberadaan),
sumber , jenis, hakikat, termasuk, alam, manusia,
metafisika dan kesemestaan atau kosmologi.
2. Aspek Epistemologi
Bidang filsafat yang menyelidiki makna dan nilai ilmu
pengetahuan, sumbernya, syarat-syarat dan proses
terjadinya ilmu, termasuk semantik, logika,
matematika dan teori ilmu.
3. Aspek Aiobogi
Bidang yang menyelidiki makna nilai, sumber nilai,
jenis nilai dan hakikat nilai, termasuk estetika, etika,
ketuhanan dan agama.
C. Nilai-nilai Pancasila menjadi dasar dan arah
keseimbangan antara hak dan kewajiban asasi
manusia.
- Pancasila memandang bahwa kebahagian manusia
akan tercapai jika dikembangkan hubungan yang
serasi antara manusia dengan masyarakat serta
hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Kuasa.
- Apabila memahami nilai-nilai dari sila-sila Pancasila
akan terkandung beberapa hubungan manusia yang
melahirkan keseimbangan antara hak dan kewajiban
antara hubungan tersebut, yaitu sebagai berikut :
a). Hubungan vertikal : hubungan manusia dengan
Tuhan YME, sebagai penjelmaan dari nilai-nilai
Ketuhanan YME.
Dengan hubungan ini manusia memiliki
kewajiban-kewajiban untuk melaksanakan perintah
Tuhan dan menghentikan segala larangannya,
sedangkan hak yang diterima manusia adalah rahmat
yang tak terhingga dan amal baik di akhirat nanti.
b). Hubungan horizontal : manusia dengan sesamanya
baik dalam fungsional sebagai warga masyarakat,
negara bangsa maupun warga negara.
Hubungan tersebut melahirkan hak dan
kewajiban seimbang seperti pajak yang dibayar
kepada negara sebagai kewajiban warga negara,
sedangkan hak yang diterima
adalah pembangunan mitra, struktur (jalan
raya, pengairan dll) dari negara.
c). Hubungan alamiah : Hubungan manusia
dengan alam sekitar dengan meliputi hewan,
tumbuh-tumbuhan dan alam segala
kekayaannya.
Seluruh alam dengan isinya adalah untuk kebutuhan
manusia manusia wajib melestarikan alam dan
kekayaannya.
- Pancasila adalah suatu pandangan hidup atau ideologi
yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan,
manusia dan masyarakat atau bangsanya dan manusia
dengan alam lingkungannya.
- Alasan yang prinsipiel Pancasila sebagai pandangan
hidup dengan fungsinya tersebut diatas adalah sebagai
berikut :
1. Pancasila, mengakui adanya kekuatan gaib yang
diluar diri manusia menjadi pencipta, pengatur, serta
penguasa alam semesta.
2. Pancasila, megatur keseimbangan dalam
hubungan dan keserasian dimana untuk
menciptakannya perlu pengendalian diri.
3. Dalam mengatur hubungan - peranan dan
kedudukan bangsa sangat penting
persatuan dan kesatuan bangsa merupakan nilai
sentral.
4. Kekeluargaan, gotong royong, kebersamaan
serta masyarakat untuk mufakat dijadikan
sendi kehidupan bersama.
5. Kesejahteraan bersama menjadi tujuan hidup
bersama.
Isi Pemikiran filsafat Pancasila sebagai suatu
pemikiran filsafat tentang negara, adalah
bahwa : pancasila memberi jawaban mendasar
dan menyeluruh atas masalah asasi filsafat
tentang negara yang terpesat pada 5 masalah
keadilan :
1. Masalah pertama : apa negara itu ? Masalah ini dijawab
dengan prinsip kebangsaan Indonesia
2. Masalah kedua : bagaimana hubungan antar bangsa negara ?
perikemanusiaan
3. Masalah ketiga : siapakah sumber dan pemegang kekuasaan
negara ? demokrasi
4. Masalah keempat : apa tujuan negara ? kesejahteraan
negara
5. Masalah kelima : bagaimana hubungan antara agama dan
negara > ketuhanan YME.



PANCASILA SEBAGAI
SISTEM ETIKA

Dr. Hardy Senjaya, SE,MSi,PA(K)
A. Pengertian :
Nilai
Moral
Etika
B. Nilai Dasar
Nilai Instrumental
Nilai Praksis
C. Pancasila sebagai :
Nilai Dasar Fundamental bagi bangsa dan negara RI
D. Makna Nilai-nilai setiap sila-sila Pancasila
. Ketuhanan Yang Maha Esa
. Kemanusiaan yang adil dan beradab
. Persatuan Indonesia
. Kerakyatan yang di pimpin oleh hikmat kebijaksanaan
dalam permusyawaratan dan perwakilan
. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

A. Pengertian Nilai , Moral dan Norma
- Untuk memahami Pancasila sebagai sistem etika kita
harus mengerti mengenai 3 konsep terkait yaitu :
- 1. Nilai
pribadi
Kehidupan
manusia
kolektivitas

berhubungan

Nilai-nilai
Norma
moral




Kehidupan masyarakat : tumbuh dan berkembang
dalam ruang lingkup interaksi nilai, norma dan moral
memberi motivasi dan arah kepada seluruh anggota
masyarakat untuk berbuat.
bertingkah dan
bersikap.
jadi nilai adalah :
Sesuatu yang berharga, berguna, indah dan
memperkaya batin dan menyadarkan manusia akan
harkat dan martabatnya.

Nilai bersumber pada budi yang berfungsi
mendorong dan mengarahkan sikap dan perilaku
manusia.
- Nilai sebagai suatu sistem /sistem nilai merupakan
salah satu wujud kebudayaan, disamping sistem sosial.
- Cita-cita
- Gagasan tentang sesuatu adalah
- Konsep
- Ide
Wujud kebudayaan sebagai sistem nilai
. Alport mengidentifikasi nilai-nilai yang
terdapat dalam kehidupan masyarakat, ada 6
macam :
1. Nilai teori : bila tujuan penilaian itu untuk
mengetahui identitas benda serta kejadian
yang terdapat disekitarnya, terlihat proses
penilaian yang menghasilkan pengetahuan
disebut nilai teori.
2. nilai ekonomi : jika tujuannya untuk
menggunakan benda-benda atau kejadian,
manusia dihadapkan kepada proses penilaian
ekonomi yang mengikuti nalar effisiensi untuk
memenuhi kebutuhan hidup.
- Perpaduan antara nilai teori dan nilai ekonomi
merupakan aspek progresif dari kebudayaan manusia.
3. Nilai religi : Manusia menilai alam sekitar sebagai
wujud rahasia kehidupan dan alam semesta tampak
nilai religi, yang dipersepsikan sebagai suatu yang
suci.
4. Nilai estetika : jika manusia mencoba memahami
yang indah berhadapan dengan proses penilaian
estetika.

- Perpaduan antara nilai religi dan nilai estetika yang lebih
menekankan kepada inti isi, rasa dan imajinasi
merupakan aspek ekstetika mempunyai kedudukan yang
khusus, bukan hanya menyangkut keindahan yang dapat
memperkaya batin melainkan juga berfungsi sebagai
media yang memperhalus budi pekerti.
5. Nilai sosial : berorientasi kepada hubungan antar manusia
dan menekankan pada segi-segi kemanusiaan yang luhur.
6. Nilai politik : berpusat kepada kekuasaan serta pengaruh
yang terdapat dalam kehidupan masyarakat maupun
politik.
- Teori nilai-nilai Prof. Notonogoro
membagi nilai 3 kategori :
1. Nilai material segala sesuatu yang berguna bagi
unsur manusia.
2. Nilai vital segala sesuatu yang berguna bagi
manusia untuk melakukan aktifitas.
3. Nilai kerohanian segala sesuatu yang berguna
bagi rohani manusia.


Nilai kerohanian ada 4 macam :
1. Nilai kebenaran bersumber kepada unsur
rasio manusia, budi dan cipta.
2. Nilai keindahan bersumber pada unsur rasa
atau intuisi.
3. Nilai moral bersumber pada unsur kehendak
manusia (korsa, etika)
4. Nilai religi yang merupakan nilai Ketuhanan
merupakan nilai kerohaniaan yang bertujuan
dan mutlak. Nilai ini bersumber kepada
keyakinan dan keimanan manusia terhadap
Tuhan.
Nilai religi berhubungan dengan nilai
penghayatan yang bersifat transedental dalam
usaha manusia untuk memahami arti dan
makna kehadirannya di dunia.
Nilai ini berfungsi sebagai sumber moral yang
dipercayai sebagai rahmat dan rihdo Tuhan.
Nilai berperan sebagai dasar pedoman yang
menentukan kehidupan setiap manusia.
Nilai berada dalam hati nurani, dan pikiran
sebagai suatu keyakinan dan kepercayaan yang
bersumber dari berbagai sistem nilai.
2. Moral
- Dari kata mos (moras), sinonim dengan
kesusilaan, niat atau kelakuan.
- Moral adalah : ajaran tentang hal yang baik dan
buruk yang menyangkut tingkah laku dan
perbuatan manusia.
- Moral dalam perwujudan-nya dapat berupa
peraturan dan atau prinsip-prinsip yang benar,
baik, terpuji dan mulia.
- Moral dapat berupa kesetiaan, kepatuhan,
terhadap nilai dan norma yang mengikat
kehidupan masyarakat, negara dan bangsa.
- Moral dapat dibedakan :
Moral Ketuhanan / agama
Moral filsafat
Moral etika
Moral hukum
Moral ilmu

3. Norma
- Manusia cenderung untuk memelihara hubungan
dengan Tuhan, masyarakat dan alam sekitarnya.

- Hubungan dengan Tuhan vertikal hubungan
dengan masyarakat horizontal hubungan
dengan alamiah / alam., lingkungan alam)
seimbang, serasi, selaras.
- Oleh sebab itu manusia memerlukan
pengendalian diri, terhadap sesamannya,
lingkungan.
- Kesadaran akan hubungan yang ideal
menumbuhkan kepatuhan terhadap peraturan
atau norma.
- Norma : petunjuk tingkah laku yang harus
dijalankan dalam kehidupan sehari-hari
berdasarkan motivasi tertentu.
- Norma perwujudan martabat manusia sebagasi
mahluk budaya, sosial, moral dan religi.
- Norma suatu kesadaran dan sikap luhur yang
dikehendaki oleh tata nilai untuk dipatuhi.
- Oleh sebab itu, norma dalam perwujudannya dapat
berupa, norma agama, filsafat, kesusilan, hukum dan
sosial.
- Norma memilki kekuatan untuk dapat dipatuhi dan
dikenal dengan sangsinya.
1. Norma agama sangsinya dari Tuhan
2. Norma kesusilaan sangsinya rasa malu dan
menyesal terhadap diri sendiri.
3. Norma kesopanan sangsinya berupa pengucilan
dalam pergaulan masyarakat.
4. Norma hukum sangsinya penjara atau kurungan
atau denda.
B. NILAI DASAR, NILAI INSTRUMENTAL DAN
NILAI PRAKSIS.

- Dalam kaitannya dengan penjabarannya nilai
dikelompokkan 3 macam.

1. Nilai Dasar :
hakikat, esensi, intisari atau makna yang dalam
dari nilai-nilai tersebut.
- Nilai dasar bersifat universal menyangkut
kenyataan obyektif dari segala sesuatu.
- Contohnya : hakikat Tuhan, manusia atau
mahluk lain.
Apabila nilai dasar berkaitan dengan hakikat Tuhan
maka nilai dasar itu bersifat mutlak, Tuhan adalah
kausa prima (penyebab pertama)
Apabila nilai dasar berkaitan dengan hakikat manusia
maka nilai-nilai tersebut harus bersumber pada
hakikat manusia sendiri dijabarkan dalam norma
hukum.
Yang dapat diistilahkan dengan hak dasar (hak asasi
manusia)
Apabila nilai daar berdasarkan kepada hakikat suatu
benda (kuantitas, aksi , ruang dan waktu) maka
nilai dasar itu dapat juga disebut sebagai norma yang
direalisasikan dalam kehidupan yang praktis.

. Nilai dasar yang menjadi sumber etika bagi bangsa
Indonesia adalah nilai-nilai yang terkandung dalam
Pancasila.
2. Nilai Instrumental ;
nilai yang menjadi pedoman pelaksanaan
dari nilai dasar
Bermakna sepenuhnya bila menyelidiki
formulasi serta pada meter atau ukuran yang
jelas dan konkret.
Bila berkaitan dengan tingkah laku manusia
dalam kehidupan sehari-hari akan menjadi
norma moral.
Jika berkaitan dengan suatu organisasi
instrumental itu merupakan suatu arahan,
kebijakan atau strategi yang bersumber pada
pada nilai dasar.
Dapat ditemukan dalam pasal UUD45.
3. Nilai Praksis
Merupakan penjabaran lebih lanjut dari nilai
instrumental dalam kehidupan yang lebih .
Jadi nilai praksis pelaksanaan secara nyata dari nilai
dasar dan instrumental sebagai penjabaran dari
nilai dasar dan instrumental maka nilai praksis
dijiwai oleh nilai dasar dan instrumental dapat di
temukan di UUD organik, yaitu semua perundangan
yang layak dibuat UUD45 seperti beberapa peraturan
pelkasanaan yang dibuat oleh pemerintah.

Jadi :
Nilai dasar = terdapat dalam UUD45 yaitu dalam
pembukaan
Nilai Instrumental = terdapat dalam pasa-pasal
UUD45 dan dalam ketetapan MPR
Nilai praksis = dalam peraturan perundang-undangan
berikutnya yaitu undang-undang seperti peraturan
dibawahnya (perpu, peraturan pemerintah, keppres
dan perda).

C. Pancasila sebagai : Nilai dasar fundamental bagi
bangsa dan negara RI
- Nilai-nilai pancasila bersifat universal yang
memperlihatkan humanisme.
- Pancasila adalah milik khas bangsa Indonesia dan
sekaligus menjadi identitas bangsa berkat legitimasi
moral dan budaya bangsa Indonesia.
- Nilai-nilai khusus yang bermakna dalam Pancasila
dapat ditemukan dalam sila-silanya :
1. Sila Pertama : Ketuhanan Yang Maha Esa pada
dasarnya memuat pengakuan eksplisit akan
eksistensi Tuhan sebagai sumber dan pencipta
universal.
2. Sila kedua : kemanusian yang adil dan beradab.
merupakan refleksi lebih lanjut dari sila pertama.
memperlihatkan secara mendasar dari negara atas
mufakat manusia dan sekaligus komitmen untuk
melindunginya.
3. Sila ketiga : persatuan Indonesia meminta
perhatian setiap warga negara akan hak dan kewajiban
dan tanggung jawabnya pada negara, khususnya
dalam menjaga eksistensi negara dan budaya.
4. Sila keempat : demokrasi yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawarahan dan
perwakilan.
--> terhadap kedaulatan rakyat yang dilaksanakan
dalam iklim musyawarah dan mufakat.

5. Sila ke lima : Keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia.
Setiap warga negara harus menikmati keadilan.

. Pokok-pokok pikiran yang terkandung dalam
pembukaan UUD45 pada hakikatnya adalah nilai-
nilai Pancasila :
1. Pokok pikiran pertama :
Indonesia adalah negara persatuan.

Negara yang melindungi segenap bangsa Indonesia
dan seluruh tumpah darah Indonesia.
Negara mengatasi segala paham golongan dan
perseorangan.
Merupakan penjabaran sila III.
2. Pokok pikiran kedua :
Negara hendak mewujudkan keadilan sosial bagi
seluruh rakyat Indonesia.
Pokok pikiran ini penjabaran sila V.
3. Pokok pikiran ketiga :
Negara kekedaulatan rakyat, berdasarkan
atas kerakyatan dan permusyawarahan/
perwakilan.
Negara Indonesia demokrasi, yaitu
kedaultan di tangan rakyat. Sesuai
dengan sila ke empat.
4. Pokok pikiran keempat :
Negara berdasarkan atas ketuhahan yang
Maha Esa menurut dasar kemanusiaan
yang adil dan beradab.
Pancasila dan pembukaan UUD 45 sebagai
pokok-pokok kaidah negara yang
fundamental karena di dalamnya terkandung
konesp-konsep :
1. Dasar pembentukan negara tujuan negara,
asas yaitu politik negara (negara RI dan
kekedaulatan rakyat) dan asas kerohanian
negara (Pancasila)
2. Ketentuan diadakannya UUD 45 yaitu
kemerdekaan kebangsaan Indonesia dalam
suatu UUD negara Indonesia
Hal ini menunjukkan adanya sumber
hukum.
- Nilai dasar yaitu fundamental suatu negara dalam
hukum mempunyai hakekat dan kedaulatan yang
tetap, kuat dan tidak berubah dalam arti dengan
jalan hukum apapun tidak mungkin lagi di ubah.
- Berhubung pembukaan UUD45 memuat nilai-nilai
dasar yang fundamental maka pembukaan UUD45
yang didalamnya memuat Pancasila tidak dapat
diubah secara hukum kalau terjadi perubahan
pembubaran negara RI.
D. Makna nilai-nilai setiap sila Pancasila
- Pancasila sebagai dasar falsafah bangsa dan
negara menerapkan satu kesatuan nilai yang
tidak dapat dipisah-pisahkan dengan masing-
masing sila-silanya.
Maknanya terletak pada nilai-nila dari masing-
masing sila sebagai satu kesatuan yang tidak
dapat ditukar balikkan letak dan susunannya.
- Kelima sila Pancasila menerapakan satu
kesatuan.
- Pancasila susunannya adalah majemuk tunggal
(menerapkan satu kesatuan yang bersifat
organis) yaitu sebagai berikut :
1. Terdiri atas bagian-bagian yang tidak
terpisahkan
2. Masing-masing bagian mempunyai fungsi
dan kedudukan sendiri.
3. Meskipun masing-masing bagian berbeda,
tetapi tidak saling bertentangan. Akan tetapi
saling melindungi.
4. Bersatu untuk mewujudkannya secara
keseluruhan
5. Keseluruhan sila membina bagian-bagian
6. Tidak mungkin satu silapun ditiadakan,
melainkan merupakan satu kesatuan.
- Bentuk susunan Pancasila adalah hierarkis
piramidal (kesatuan bertingkat dimana tiap sila
merupakan basis sila lainnya).
Bentuk susunan hierarkis piramidal Pancasila
adalah sebagai berikut :
Sila ke I : meliputi dan menjiwai sila II, III, IV
dan V.
Sila ke II : diliputi sila I, meliputi dan menjiwai
III, IV.
Sila ke III : diliputi dan dijiwai sila I dan II
meliputi sila IV dan V.
Sila ke IV : diliputi dan di jiwai sila I, II, III dan
V
Sila ke V : diliputi dan dijiwai oleh seluruh
sila.
KONSEP NEGARA PANCASILA

Menurut pembukaan UUD45
Konsep negara Pancasila adalah :
Paham negara persatuan yang meliputi
kehidupan masyarakat :
1. sifat sosialistis religius
2. semangat kekeluargaan dan kebersamaan
3. semangat persatuan
4. musyawarah
5. menghendaki keadilan sosial