Anda di halaman 1dari 6

BIOGRAFI SYAIKH MUQBIL BIN HADY ALWADI'IY

Nama dan Nisbah


Muqbil bin Hadi bin Muqbil bin Qoidah Al-Hamdani Al-Wadi'i Al- Khilali dari
Qobilah Alu Raasyd.

As-Syaikh adalah seorang warga negara Yaman, kabilahnya Al-Wadi'i termasuk


dari kabilah besar Al-Hamdani. Beliau dilahirkan di kampung halamannya di
desa kecil bernama "Dammaj" (Sa’adah). Kunyah beliau Abu Abdurrahman.

Tanggal kelahiran dan umurnya


Kami tidak tahu secara persis tahun kelahiran Syaikh dan Syaikh sendiri
memperkirakan umurnya pada tahun 1420 H dan kemudian mengatakan :
"Dahulu orang tua kami tidak ada yang perhatian dengan kalender dan umur
saya kurang lebih (65 atau 66 atau 67 tahun).”

Pernah disebutkan bahwasanya beliau dilahirkan pada tahun 1352 H, kalau


benar apa yang dikatakan Syaikh, maka Syaikh ketika wafat umurnya kurang
lebih sekitar 70 tahun. Ada kemungkinan lain, yakni beliau wafat umurnya
dibawah 70 tahun dan diatas 60 tahun. (yakni di Jeddah, Saudi Arabia tgl
21/07/2001 Masehi, yakni sekitar 29 Rabi'ul Akhir 1422 H, red). Wallahu a'lam
bisshowab.

Istri-istri beliau :
Beliau memiliki tiga orang istri, dan urutannya sebagai berikut :
1. Ummu Abdurrahman Al-Wadi'iyyah, telah meninggal dunia pada hari Kamis
8/3/1422 H.
2. Ummu Syua'ib Al-Wadi'iyah, dan dia memiliki beberapa tulisan
diantaranya :"‫"ا ة  ل  ا
  ا‬
"Kumpulan hadits-hadits shahih dari keutamaan keluarga Rasul-Shalallahu
'alaihi wasallam"
3. Ummu Salamah Al-'Amroniyyah, dan dia memiliki beberapa tulisan
diantaranya bantahan kepada orang-orang bermanhaj haroki yang berjudul : "
 ‫
ت ا! اة‬# %&‫"ا)( ا'&ا‬
"Peringatan dari gadis yang menjaga kehormatan dirinya dari tipu daya (Abdul
Majid) Az-Zindani yang jahat"

Anak-anak Syaikh :
1. Ummu Abdillah Al-Wadi'iyyah, beliau dibantu oleh beberapa Nisa' (wanita)
yang mengajar di Madrasah khusus wanita, dan beliau memiliki beberapa
tulisan diantaranya :
a) ‫ ا
  ا‬%  *‫( " "ا   ا‬dua jilid). Kumpulan Hadits-hadits
Shahih tentang kepribadian Rasulullah- Shalallahu 'Alaihi Wasallam.
b) "+ ,‫ ا ا‬% -#!‫ و ا‬/#"
Kata Syaikh tentang dua tulisan tersebut diatas : “Tidak ada duanya yang
sepertinya dalam topik yang sama.”
c) Tahqiq kitab : " 
‫ ا‬0 %‫ أ‬-23 "
d) Nashihati linnisaa. "Nasihatku untuk wanita"
e) Dan dia sekarang lagi mengerjakan kitab: "‫"ا   ا
ة ا
  ا‬
"Kumpulan Hadits-hadits shahih dari sejarah Nabi - Shalallahu 'alaihi Wasallam".
f) Dan masih banyak lagi dari tulisan Ummi Abdillah.

2. Ummu Ayub Al-Wadi'iyyah.

Dahulu Asy-Syaikh (Rahimahullah) memulai belajarnya di masjid-masjid Jami’


belajar membaca dan menulis, kemudian Asy-Syaikh memulai dengan belajar
membaca Al-Qur’an akan tetapi hanya sekedar baca. Kalaupun ada tambahan
pelajaran, beliau menghafalkan sebagian mutun (kitab-kitab yang belum
dijabarkan) yang sering dipergunakan oleh madzhab-madzhab, lalu beliau
membaca kitab-kitab sejarah, itupun sekedar membaca. Maka akhirnya beliau
menyelesaikan jenjang belajar di tempat itu.

Selanjutnya, waktu terus bergulir, lantas belajarlah Asy-Syaikh ke masjid Jami’


Al-Hadi (di kota Saadah - tempat orang-orang Syi’ah), karena tidak adanya
orang yang menolong untuk mengarahkan kepada Al Haq dan yang
memberikan bantuan. Qadarallah, akhirnya beliau memiliki keinginan yang kuat
untuk pergi ke negeri Haramain (Makkah dan Madinah) dan Najed (Saudi Arabia
dibagi menjadi tiga wilayah/propinsi, propinsi Timur, Tengah (Najd) dan Barat.
Najd sekarang mencakup wilayah ibu kota KSA, Riyadh dan sekitarnya), dari
sinilah awal permulaan hidayah Allah Ta’ala turun.

Pada saat itu Asy-Syaikh berangkat ke negeri Haramain dan Najed dengan
niatan untuk bekerja. Dahulu, beliau banyak terpengaruh oleh (dakwah yang
dibawa) para da’i - yang dahulu - suka berpindah-pindah dari satu masjid ke
masjid yang lainnya. Namun akhirnya Asy-Syaikh mengetahui hakikat dakwah
mereka sebenarnya, setelah beliau menuntut ilmu agama yang bermanfaat ini.

Dahulu pertama kali Asy-Syaikh bekerja sebagai penjaga apartemen di Al-Hajun


(Makkah). Akhirnya beliau diberikan petunjuk Allah Ta’ala untuk membeli
kitab-kitab: “Shahih Al-Bukhari”, “Riyadus-Shalihin”, “Bulughul Maram” dan
“Fathul Majid”, dan beliau juga diberi makalah-makalah yang bertemakan
Tauhid. Sehingga beliaupun mulai menyibukkan diri dengan belajar membaca
kitab-kitab yang beliau beli itu.

Akhirnya kitab-kitab tersebut banyak memberikan pengaruh didalam dirinya,


khususnya kitab “Fathul Majid”, tentunya berbeda apa yang beliau dapatkan
selama beliau tinggal negeri Al-Haramain dibanding dengan negeri asalnya,
terutama dari segi ilmu agama.

Beberapa waktu lamanya tinggal disana, Asy-Syaikh pun kembali pulang ke


Yaman dan beliau terpanggil untuk menjadi seorang da’i. Beliau menyaksikan
banyak kemungkaran di negerinya, sehingga beliau tidak membiarkan
perbuatan mungkar, kecuali beliau ingkari.

Selanjutnya Asy-Syaikh belajar di tempat mereka tiga tahun lamanya dan


menurut aturan jenjang akhir belajar disana ditempuh selama dua belas tahun.
Beliau belajar di tempat mereka dengan penuh kebencian, diantara kitab yang
dipelajari pada saat itu: “Al-’Aqdu Tsamin”, “Tsalatsina Masalah”, “Matn
Al-Azhar” dan kitab di dalam ilmu Fara’id (hukum waris). Malah sebelumnya
disana pernah diajarkan kitab “Bulughul Maram”, akan tetapi akhirnya dilarang.

Kemudian di sana beliau memiliki kesempatan untuk belajar Nahwu, maka


beliau pada saat itu sangat antusias sekali dengan pelajaran Nahwu, beliau
belajar Nahwu dari kitab “Al-Aajrumiyyah”, juga kitab “Qatrun-Nada” pada
gurunya, Ismail Khatabah sebanyak enam kali.
Tak lama kemudian terjadilah pergolakan di negara Yaman yakni pada tahun
1382 H. Maka pergilah Asy-Syaikh ke kota Najran (kota di bagian selatan KSA
perbatasan dengan Yaman Utara). Beliau tinggal disana dua tahun lamanya dan
ditemani oleh Abul Husain Majidud-din al-Mu’ayyidi, keduanya saling
mengingatkan (dalam faidah-faidah) dan Asy-syaikh banyak mengambil faidah
didalam ilmu Nahwu darinya.

Asy-syaikh masuk ke kota Najran yang pada itu sedang dipimpin oleh Ibrahim
Al-Hamdi. Namun disana terjadi pergolakan, Asy-Syaikh melihat bahwa
peperangan yang terjadi lantaran urusan dunia saja, yakni antara Kerajaan
dengan Republik (di Yaman), maka Asy-Syaikh menetapkan untuk pergi dari
Najran.

Pergilah Asy-Syaikh ke kota Riyadl dengan maksud ingin bekerja, namun ketika
di tengah perjalanan rencana berubah, ada satu keinginan yang kuat dan Allah
(Subhanahu wa Ta’ala) menghendaki lain untuk dirinya. Beliau berkata
(rahimahullah) kepada dirinya sendiri: “Wahai fulan, engkau telah menjadi da’i
dan orang-orang di negerimu telah banyak mengambil faidah, apakah engkau
akan menyia-nyiakan dirimu?”. Maka pergilah beliau ke tempat menghafal
Al-Qur’an milik orang Yaman yang bernama Muhammad ibn Sinan Al-Hada’i,
beliau sangat senang dengan Asy-syaikh, karena dapat mengambil faidah
dengan baik khususnya di ilmu Nahwu. Tinggallah Asy-Syaikh di sana selama
satu bulan setengah.

Kemudian Asy-Syaikh masuk di Ma’had Al-Haram Al-Makki dan dahulu yang


bertanggung jawab atas beliau adalah Asy-Syaikh Abdullah ibn Humaid. Maka
majulah bersama beberapa orang santri untuk melakukan tes ujian dan
berhasillah beliau. Berkata Asy-Syaikh (rahimahullah): “Kami saling membantu
di dalam menjawab soal, dahulu saya kuat di dalam pelajaran Nahwu. Dan yang
lainnya mereka kuat di dalam pelajaran Tauhid dan ilmu Musthalah Al-Hadits.”
Sampai-sampai salah seorang diantara mereka, ketika ditanya tentang Asma’ul
khamsah (dalam ilmu Nahwu)? Maka dijawab: “Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali
(radliyallahu ‘anhum) dan …”. Lalu ketika Asy Syaikh sudah menetap menjadi
santri di Ma’had, datanglah keluarganya masuk dari kota Najran.

Asy Syaikh terhitung tinggal di Makkah selama enam tahun lamanya, karena
jenjang pendidikan yang ada (enam tahun). Dahulu Asy-Syaikh juga rajin
mendatangi pelajaran- pelajaran yang diadakan di Masjidil Haram dan diantara
guru-gurunya disana yakni Asy-Syaikh Muhammad ibn Abdillah Ash-Shomali
dan Asy-syaikh Abdul-’Aziz Rasyid An-Najdi.

Asy Syaikh tamat dari Ma’had Al-Haram Tsanawi dan Mutawasth (SMA),
masuklah beliau ke Al-Jami’ah Al-Islamiyyah di Madinah (Universitas Islam
Madinah, KSA).

Kebanyakan santri yang lainnya -alumni Ma’had Al-Haram- masuk di (fakultas)


kuliah Ad-Da’wah dan Ushul ad-Dien, demikian juga Asy Syaikh. Karena adanya
santri-santri yang menonjol di dalam kuliah tersebut, maka dibukalah kelas
khusus, maka masuklah Asy-Syaikh mengambil jurusan ilmu Hadits. Dahulu
Asy-syaikh banyak mengambil faidah (dari program khusus Ilmu hadits itu) dan
itulah sebaik-baiknya At-Takhasus (penjurusan). Diantara guru-gurunya yang
paling menonjol waktu itu adalah Asy-Syaikh Muhammad Al-Hakim, Asy-Syaikh
Muhammad ibn Abdul Wahab Al-Mashri dan Asy-Syaikh Hammad Al-Anshari.

Asy-Syaikh memanfaatkan masa musim liburan untuk melakukan bahats


(penelitian seperti penyusunan skripsi) dua topik yaitu “As-Shahih Al-Musnad
Min As-Baab An-Nuzul” (kumpulan Hadits-hadits As-Sahih dari As-Baab
An-Nuzul), risalah (skripsi) untuk kuliyah Ad-Da’wah, dan bahats “Al-Qubbah
Al-Mabniyah Ala Qabri Ar-Rhasul (Shalallahu ‘alaihi wasalam)” (Kubah yang di
bangun di atas kuburan Ar-Rasul (Shalallahu ‘alaihi wasallam), risalah untuk
kuliyah Asy-Syari’ah.

Asy Syaikhpun menyelesaikan masa belajarnya dan meraih gelar Licente (Lc)
-setara S1- dan kedua risalahnya mendapatkan ijazah dengan predikat sangat
bagus. Berkata Asy-Syaikh tentang kedua ijazahnya: “Saya tidak tahu di mana
kedua ijazah tersebut?”

Asy-syaikh waktu itu juga menghadiri kajian yang diasuh oleh Asy-Syaikh
Al-Walid Al-Imam Abdul ‘Aziz ibn Abdullah ibn Baaz (rahimahullah) dalam
pelajaran “Shahih Muslim” di masjid Nabawi, juga kajian-kajian khusus yang
diasuh oleh Asy-Syaikh Al-Imam Al-Muhadits Muhammad Nasiruddin Al-Albani
(Rahimahullah).
Pada kesempatan pertama, Asy-Syaikh menginfaqkan kelebihan kemampuan
yang diberikan oleh Allah (Subhanahu wa Ta’ala) dengan mengajar di Masjid
Al-Haram, berupa pelajaran kitab-kitab ilmu Nahwu seperti “At-Tuhfah” dan “Al
Qatru An-Nada”, juga kitab ilmu Al-Musthalah Al-Hadits seperti kitab “Al-Ba’its
Al-Hatsits”.

Asy-Syaikh tercatat lulus dari kuliyah Ad-Da’wah dan Ushul ad-Din pada tahun
1394-1395 H, serta mendapatkan ijazah dengan gelar License (Lc) predikat
sangat bagus. Beliaupun kemudian masuk ke jenjang yang lebih tinggi
(Magister) pada tanggal 23/11/1395 H. Asy Syaikh dinyatakan lulus dengan
predikat bagus, dimana beliau menyusun skripsinya yang berjudul: “Al-Ilzamat
wa At-Tatbu’ karya Al-Imam Ad-Daraquthni” dan menyelesaikannya dengan
mendapatkan gelar “Magister”. Dan lama jenjang belajar beliau selama tujuh
tahun lamanya. [Lihat: Al-Ibhaj (35-39): Biografi Asy-Syaikh hal:19-25,
Pertanyaan dari kota Al-Hudaidah (Yemen) dan Pertanyaan dari negara Iraq,
“Gharatul Asy-Syritah” (2/309-310)].

(Dikutip dari tulisan al Ustadz Muhammad Barmim, Surabaya, disadur dari kitab
Al-Ibhaj, Biografi Asy-Syaikh, Gharatul Asy-Syritah, Al-Suyuf, Ijabatu As-Sail
dan lainnya)
Sumber : salafy.or.id