Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH PSIKOLOGI

PSIKOLOGI INDUSTRI DAN ORGANISASI



Disusun oleh :
1. Topan jaya 4511091021 (38)
2. Rizki Fitriyani P 27220011 196 (39)
3. Robby Argo Weng Saputro P 27220011 197 (40)
4. Rohman P 27220011 198 (41)
5. Rosita Agus Setiarini P 27220011 199 (42)
6. Santi N P 27220011 200 (43)
7. Sidiq Jati Mulyo P 27220011 201 (44)
8. Sinta Dewi Anggraeni P 27220011 202 (45)
9. Ulfa Agusvia Puteri Utami P 27220011 203 (46)
10. Mustika Jingga P 27220011 204 (47)
11. Yulianti Sagita Wulandari P 27220011 205 (48)
12. Yuliska Isdayanti P 27220011 206 (49)

D III BERLANJUT D IV KEPERAWATAN
MEDIKAL BEDAH
POLITEKNIK KESEHATAN SURAKARTA














DAFTAR ISI
I. Daftar isi................................................................................................
II. Kata Pengantar ......................................................................................
III. Bab I
Pendahuluan :
a. Latar belakang ......................................................................................
b. Perumusan masalah ...............................................................................
c. Tujuan penulisan masalah .....................................................................
d. Manfaat ................................................................................................
IV. Bab II
Pembahasan .............................................................................
A. kondisi kerja
b. ergonomic
V. Bab III
Penutup :
a. Kesimpulan ...........................................................................................
b. Kritik dan saran .....................................................................................
VI. Daftar pustaka .......................................................................................

Kata pengantar
Puji syukur saya panjatkan kepada tuhan yang maha esa karena dengan
berkatnya.kami dapat menyusun serta dapat menyelesaikan makalah ini dan tidak
lupa kami ucapkan kepada dosen mata kuliah psikologi industri dan organisasi yang
telah memberikan bimbingan serta pengajaran kepada kami sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah psikologi industri dan organisasi. kami menyadari
walaupun kami telah berusaha dengan sebaik baiknya dalam menyelesaikan
makalah psikologi industri dan organisasi tetapi makalah ini jauh dari sempurna.
Karena itu, kami mohon kritik serta saran yang kiranya dapat membeangun bagi
kami pada makalah selanjutnya. Kami berharap makalah ini dapat memberikan
manfaat bagi pembaca.

Makassar, oktober 2014

penulis







Bab I
Pendahuluan
A. latar belakang
Dalam bidang industri dan organisasi khususnya dalam lingkungan kerja
perusahaan tidak di pungkiri bahwa masih banyaknya tingkat kondisi kerja yang
tidak sesuai dengan harapan yang di miliki karwayan dalamsebuah perusahaan.
Dan itu membuat banyak permasalahan baru yang mucul dalam sebuah
perusahaan yang menyebabkan stress kerja dan produktivitas yang menurun dll
dan berimbas pada tujuan perusahaan. Bukan hanya permasalahan kondisi
kerja namun permasalahan dalam keselamatan kerja dan keserasian antara
manusia dan pekerjaannya juga kemampuan dan batasan itu juga sering di
abaikan akhirnya memperburuk keadaan dalam perusahaan.Tentunya
pengetahuan akan kondisi kerja dan ergonomi sangat di perlukan dalam
membentuk kondisi kerja yang baik . seperti contoh salah satu perusahaan di
makassar yang mempekerjakan buruh dengan kondisi kerja yang tidak sesuai
dan masih banyak lagi kecelakaan kerja lainnya di karenakan pengetahuan
masalah ergonomic dan kondisi kerja yang kurang.

B. Rumusan masalah
Berpijak dari latar belakang di atas, maka yang menjadi rumusan masalah pada
penulisan makalah ini adalah :
a. Apakah kondisi kerja sebenarnya ?
b. Dimensi apa saja yang terdapat di dalam kondisi kerja ?
c. bagaimana menciptakan kondisi kerja yang baik dengan ergonomic ?

C. Tujuan
Penulisan makalah ini ditujukan untuk pemenuhan tuntutan akademik sebagai
tugas Psikologi Industri dan Organisasi. Selain itu penulisan makalah ini di
tujukan untuk memperdalam pengetahuan dan wawasan tentang Kondisi kerja &
Ergonomic .
D. Manfaat
agar kita dapat menerapkan ergonomic dalam lingkungan kerja khususnya
bagi teman-teman yang mau fokus dalam bidang industri dan organisasi
kita dapat menerapkan ilmu ini diperusahaan sehingga menciptakan kondisi
kerja yang baik
agar terciptanya K3 di dalam lingkungan perusahaan
Bab II
Pembahasan
a. Definisi kondisi kerja
Kondisi karyawan akan lebih mudah untuk menyelesaikan pekerjaan mereka
apabila kondisi kerja mendukung (seperti bersih,lingkungan menarik), tetapi jika
kondisi kerja tidak mendukung (seperti panas,lingkungan rebut,tidak nyaman)
pegawai akan sukar untuk melaksanakan tugasnya.
Disamping itu, salah satu faktor pendukung utama personalia dalam
melaksanakan kegiatan secara optimal, sehat, aman dan nyaman yaitu melalui
perbaikan kondisi kerja. Sepeti yang diungkapkan sedarmayanti (2000:22) bahwa:
manusia akan mampu melaksanakan tugasnya dengan baik, sehingga dicapai
suatu hasil yang optimal, apabila ditunjang suatu kondisi kerja yang sesuai. Kondisi
kerja dikatakan naik atau sesuai apabila manusia dapat melaksanakan kegiatannya
secara optimal, sehat, aman dan nyaman. kondisi kerja, biografi pribadi dan
karakteristik pekerjaan merupakan faktor utama yang meningkatkan motivasi kerja
antara pemegang jabatan Menurut studi Schepers et al. (2005), sementara Toode et
al. (2011) mengemukakan karakteristik pribadi, kondisi kerja, karakteristik tempat
kerja dan keadaan psikologis internal sebagai faktor utama untuk memotivasi
pegawai terhadap pekerjaan. Menurut (Djumadi, 2006) kondisi kerja (working
condition) adalah kondisi tempat kerja, dimana karyawan melakukan tugas
pekerjaannya.
Kondisi Kerja kerja di bagi atas 2 kondisi :
1. Kondisi Fisik Kerja.
Lingkungan kerja fisik mencakup setiap hal dari fasilitas parkir di luar gedung
perusahaan, lokasi dan rancangan gedung sampai jumlah suara dan cahaya yang
menimpa meja kerja atau ruang kerja seorang tenaga kerja. Rancangan kantor
memberikan pengaruh pada produktivitas juga.
a) Iluminasi (penerangan).
Beberapa fisik yang perlu diperhatikan dalam iluminasi ialah: kadar (intensity)
cahaya, distribusi cahaya dan sinar yang menyilaukan. Faktor yang lain dari
iluminasi ialah distribusidari cahaya dalam kamar atau daerah kerja. Pengaturan
yang ideal ialah jika cahaya dapat didistribusikan secara merata pada keseluruhan
lapangan visual. Sinar yang menyilaukan merupakan faktor lain yang mengurangi
efisiensi visual dan meningkatkan ketegangan mata (eyestrain).
b) Warna.
Banyak orang memberikan makna yang tinggi kepada penggunaan warna atau
kombinasi warna yang tepat untuk ruanga-ruangan di rumah, di kantor, dan di
pabrik. Hal ini tidaklah berarti bahwa warna tidak mempunyai warna dalam
pekerjaan. Warna dapat digunakan sebagai:
Alat sandi atau coding device (Schultz, 1982), atau sebagai pencipta kontras
warna (Suyatno, 1985).
Upaya menghindari timbulnya ketegangan mata(Schultz, 1982). Setiap warna
berbeda dalam kemampuan pantulan cahayanya.
Alat untuk menciptakan ilusi tentang besarnya dan suhunya ruangan kerja
(Schultz, 1982), yang memiliki efek psikologis (Suyatno, 1985).
c) Bising (noise).
McCormick menggabungkan aspek bunyi yang tidak diinginkan dengan batasan
dari Burrows dengan mengatakan bahwa tampaknya masuk nalar dengan
mengatakan bahwa bunyi atau suara yang tidak diinginkan ialah bunyi yang tidak
memiliki hubungan informasi dengan tugas atau aktivitas yang dilaksanakan.
Tingkat-tingkat kerasnya suara atu bunyi tertentu dapat merupakan ancaman
bagi pendengar. Menurut Schultz (1982) seorang pekerja yang sehari-hari
mendengar bunyi pad tingkat 80 desibel ke atas untuk jangka waktu yang lama pasti
akan menderita kehilangan pendengaran tertentu.

Akibat-akibat lain dari tingkat bising yang tinggi ialah:
Timbulnya perubahan fisiologis.orang-orang yang mendengar bising pada tingkat
95-110 desibel, terjadi penciutan dari pembuluh darah, perubahan detak jantung,
dilatasi dari pupil-pupil mata dan bising yang keras dapat meningkatkan tekanan
darah dan dapat ikut mengakibatkan sakit jantung juga meningkatkan ketegangan
otot.
Adanya dampak psikologis. Mereka yang bekerja dalam lingkungan yang ekstrem
bising lebih agresif, penuh curiga, dan cepat jengkel dibandingkan dengan mereka
yang bekerja dalam lingkungan yang lebih sepi.

McCormick menyimpulkan bahwa terdapat bukti bahwa bising:
(1) Menghasilkan penurunan pada prestasi kerja.
(2) Tidak mempunyai pengaruh terhadap prestasi kerja.
(3) Menghasilkan peningkatan pada prestasi kerja.

Pengurangan tingkat kebisingan dapat dilakukan dengan cara:
(1) Mengurangi bunyi mesin, dengan cara membuat mesin-mesin yang lebih halus
suaranya, dengan meredam suara dari mesin-mesin.
(2) Memasang dinding yang kedap suara.
(3) Mengharuskan para karyawan memakai alat pelindung pendengaran, misalnya
dengan menggunakan kapas penutup telinga,atau lat penutup telinga (ear plugs).

d) Musik dalam bekerja.
Sebagaimana halnya dengan warna, banyak yang berpendapat bahwa musik
yang mengiringi kerja dapat meningkatkan produktivitas karyawannya. Hasil
penelitian tidak menunjukkan hasil yang tegas tentang hal ini. Pada umumnya para
tenaga kerja bekerja dengan perasaan senang, bekerja lebih keras, tidak banyak
absen, dan kurang merasa lelah pada akhir hari kerja.
Musik tampaknya memiliki pengaruh yang baik pada pekerjaan-pekerjaan yang
sederhana, rutin dan monoton, sedangkan pad pekerjaan yang lebih majemuk dan
memerlukan konsentrasi yang tinggi pad pekerjaan, pengaruhnya dapat menjadi
sangat negatif.


Suyatno (1985) berpendapat bahwa musik pengiring kerja harus dipandu oleh
pertimbangan sebagai berikut:
1. Musik dalam bekerja harus menciptakan suasana akustik yang menghasilkan efek
menguntungkan pada pikiran.
2. Musik akan bernilai sekali pada pekerja tangan pada pekerjaan repetitif dan
pekerjaan lain yang hanya memerlukan sedikit kegiatan mental.
3. Musik tidak akan bernilai tinggi jika ada suara atau bunyi lain yang cukup keras.
4. Musik bernada meriah diperdengarkan secar singkat pada awal hari, permulaan
kerja, untuk membangkitkan gairah, diperdengarkan juga pada akhir hari, dan empat
kali masing-masing selama setengah jam diperdengarkan musik ringan ditengah
hari.
5. Tempo musik janga terlalu lambat (slow) tetapi juga jangan terlalu cepat.

2. Kondisi Lama Waktu Kerja
a) Jam kerja.
Hasil penelitian juga menunjukkan adanya hubungan yang menarik antara jam-
jam kerja nominal dan aktual. Jika jam kerja nominal ditambah maka jam kerja aktual
malahan menurun.
b) Kerja paro-waktu tetap.
Menurut Schultz (1982) mempekerjakan paro waktu menarik bagi:
Orang-orang yang bertanggung jawab atas urusan rumah tangga.
Orang-orang yang cacat jasmaniah, yang menghadapi masalah mobilitas
yaitu masalah pergi dan pulang dari tempat kerja.
Orang-orang yang sedang mengalami krisis usia tengah baya.
Orang-orang yang memang tidak bersedia bekerja selama 40 jam per minggu
kerja di kantor atau di pabrik.

Yang termasuk dalam kelompok ini ialah para tenaga kerja muda yang menyukai
gaya hidup yang lentur, yang dimungkinkan dengan bekerja paro waktu. Mereka
senang dengan peluang untuk bekerja paro-waktu karena, disamping mendapatkan
tambahan penghasilan, dapat memenuhi kebutuhan mereka akan aktivitas yang
bermakna.

c) Empat hari minggu kerja.
Dengan 4 hari kerja per minggu mereka harapkan akan terjadi peningkatan pada
produktivitas dan efisiensi pekerja dan pengurangan dari jumlah absensi tenaga
kerja. Dari hasil-hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa, secara keseluruhan,
penerapan 4 hari kerja per minggu pada kebanyakan kasus (perusahaan) meruakan
suatu keberhasilan, namun bukan tanpa kritik. Ada tanda-tanda yang menunjukkan
adanya sedikit penuruna dari penerapan4 hari kerja per minggu, digantikan dengan
pengaturan waktu kerja yang lain, yaitu jam-jam kerja lentur.
d) Jam kerja lentur.
Ternyata penerapan jam kerja lentur berhasil dan memberikan beberapa
keuntungan. Kemacetan lalu lintas pada jam-jam sibuk jauh lebih berkurang, malah
pada kasus-kasus tertentu sudah tidak merupakan masalah lagi.para tenaga kerja
tiba di tempar kerja dengan perasaanyang lebih tenang dan dapat segera di mulai
bekerja.
Hasil penelitian pada perusahaan-perusahaan yang menggunakan jadwal jam
kerja lentur menunjukkan keuntungan berikut:
Produktivitas naik pada hampir separo dari perusahaan-perusahaan.
Angket absensi berkurang pada lebih dari 75% dari perusahaan-perusahaan.
Keterlambatan datang berkurang 84% dari perusahaan-perusahaan.
Angka keluar masuk tenaga kerja berkurang pada lebih dari 50% dari
perusahaan-perusahaan.
Semangat kerja tenaga kerja meningkat pada hampir semua perusahaan.



b. ergonomic/psikologi rekayasa
Para psikolog juga memberi perhatian terhadap faktor manusia pada
rancangan tempat kerja,interaksi antara manusia dan mesin dan kelelahan fisik dan
stres. Dan salah satu contoh adalah kegiatan-kegiatan dalam bagian ini meliputi
merancang cara yang optimal untuk mengammbar sebuah peta,merancang kursi
agar sesuai dengan kebutuhan dan kenyamanan manusia dan menemukan
berbagai rencana kerja yang optimal,desain interior,arsitektur,keindahan dan
kenyamanan tempat kerja yang biasanya disebut sebagai studi gerak dan
waktu(time in motion study).dalam perkembangan selanjutnya disebut sebagai
psikologi rekayasa.

Psikologi rekayasa di kenal di amerika sementara itu psikologi rekayasa di
eropa dikenal dengan sebutan ERGONOMIC yang mengantisipasi pada
pemahaman terhadap kecakapan sumber daya manusia dalam kaitanya dengan
sistem manusia dengan mesin, termasuk rancangan peralatan kerja dan permesinan
untuk meningkatkan produktivitas dan keamanan para pegawai. perangkat dan
peralatan kerja, mesin-mesin di rancang bagi pengoperasian karwayan secara
efisien dan efektif .bagiamana pun koordinasi,kepekaan alat indra dalam menangkap
suara,warna ,kelembaban udara yang dapat mempengaruhi produktivitas kerja jadi
psikologi rekayasa atau ergonomic mencoba untuk memodifikasi lingkungan kerja
yang menguntungkan untuk keterampilan dan bakat karyawan.


Bab III

a. kesimpulan
kondisi kerja adalah kondisi yang dapat dipersiapkan oleh manajemen
perusahaan yang bersangkutan pada pabrik yang didirikan oleh
perusahaan dan kondisi kerja merupakan salah satu faktor strategis yang dapat
mempengaruhi produtivitas karyawan.sedangkan ergonomic ilmu yang menciptkan
kenyamanan dalam kondisi kerja itu sendiri jadi keduanya tidak bisa di pisahkan
Dengan diperhatikannya ergonomic dalam kondisi kerja dengan baik maka secara
otomatis akan mempengaruhi kepada produktivitas karyawan itu sendiri.

b. Saran

Jadikan kondisi kerja yang baik dapat membuat kita bekerja lebih maksimal dan
kondisi kerja yang baik juga akan mempengaruhi hasil kerja karyawan itu sendiri.


VI. Daftar pustaka
-Psikologi industri & organisasi oleh sutarto wijono edisi revisi
-Jurnal Bisnis dan Ekonomi (JBE) September 2012, Hal. 142 152
PENINGKATAN KINERJA SDM MELALUI KONDISI KERJA, KONTEN PEKERJAAN
DAN PENGEMBANGAN KARIR DENGAN MEDIASI MOTIVASI KERJA
- Jurnal Analisis Perbaikan kondisi lingkungan kerja dengan menggunakan
Ergonomics Checklist