Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Instrumentasi merupakan alat-alat dan piranti yang digunakan untuk
mengukur dan pengendalian dalam suatu system yang lebih besar dan lebih
kompleks. Secara umum instrumentasi mempunyai tiga fungsi utama yaitu
sebagai alat pengukuran, sebagai alat analisa, dan sebagai alat kendali.
Beberapa alat yang berfungsi sebagai alat analisa seperti, Spektrotometer UV-
VIS, Spektrotometer serapan atom, Spektrotometer Infra Merah, kromatografi
dan X-ray Difraction.
Analisis kimia dengan mempergunakan metoda fisik dalam hal
identifikasi dari berbagai selektifitas fungsi polimer campuran, pemodifikasi
dan aditif digunakan untuk plastik dan elastomer. Spektroskopi infra merah,
metoda pengukuran fotometer UV, gas dan liquid kromatografi dan
spektroskopi masa bersama sama dengan dari metoda pengukuran
termoanalisis merupakan alat yang teliti sebagai pilihan untuk analisis
kwalitatif dan kwantitatif bahan.
Spektrofotometri merupakan salah satu metode dalam kimia analisis
yang digunakan untuk menentukan komposisi suatu sampel baik secara
kuantitatif dan kualitatif yang didasarkan pada interaksi antara materi dengan
cahaya. Sedangkan peralatan yang digunakan dalam spektrofometri disebut
spektrofotometer. Cahaya yang dimaksud dapat berupa cahaya visibel, UV
dan inframerah, sedangkan materi dapat berupa atom dan molekul namun
yang lebih berperan adalah elektron yang adapada atom ataupun molekul
yang bersangkutan.
Pada makalah ini, penulis akan membahas salah satu alat tersebut
yaitu Spektrotometer UV-VIS. Dimana Spektrofotometer Uv-Vis merupakan
alat dengan teknik spektrofotometer pada daerah ultra-violet dan sinar
tampak. Alat ini digunakan guna mengukur serapan sinar ultra violet atau
sinar tampak oleh suatu materi dalam bentuk larutan. Konsentrasi larutan


yang dianalisis sebanding dengan jumlah sinar yang diserap oleh zat yang
terdapat dalam larutan tersebut.

1.2. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari dibuatnya makalah ini antara lain, yaitu:
1. Bagaimana fungsi dari bagian-bagian spektrofotometer Uv/Vis ?
2. Bagaimana cara kerja spektrofotometer Uv/Vis ?
3. Apa keuntungan analisis secara spektrofotometer Uv/Vis ?
1.3. Tujuan
Tujuan dari dibuatnya makalah ini antara lain, yaitu:
1. Mengetahui fungsi dari bagian-bagian spektrofotometer Uv/Vis.
2. Mengetahui cara kerja spektrofotometer Uv/Vis.
3. Mengetahui keuntungan analisis secara spektrofotometer Uv/Vis.
1.4. Manfaat
Manfaat dari dibuatnya makalah ini antara lain, yaitu:
1. Untuk mengetahui fungsi dari bagian-bagian spektrofotometer Uv/Vis.
2. Untuk mengetahui cara kerja spektrofotometer Uv/Vis.
3. Untuk mengetahui keuntungan analisis secara spektrofotometer Uv/Vis.




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Analisis berarti pemeriksaan sesuatu secara rinci untuk memahami
dengan lebih baik atau menarik kesimpulan dari itu. Analisis kimia melibatkan
prosedur dan teknik yang digunakan untuk mengidentifikasi dan mengukur kimia
komposisi sampel zat, analisis farmasi mengacu pada analisis kimia molekul obat
atau bahan obat dan metabolitnya. Ini terdiri dari estimasi kualitas dan kuantitas
obat dan bahan kimia, yang digunakan dalam farmasi persiapan (Ali, 2012).
Spektrofotometri UV-Vis merupakan salah satu teknik analisis
spektroskopi yang memakai sumber radiasi eleltromagnetik ultraviolet dekat (190-
380) dan sinar tampak (380-780) dengan memakai instrumen spektrofotometer.
Spektrofotometri UV-Vis melibatkan energi elektronik yang cukup besar pada
molekul yang dianalisis, sehingga spektrofotometri UV-Vis lebih banyak dipakai
untuk analisis kuantitatif ketimbang kualitatif (Mulja dan Suharman, 1995: 26).
Untuk mengidentifikasi dan menetapkan kadar suatu sediaan obat
dapat menggunakan metode Spektrofotometri UV-Vis. Alat-alat penunjang yang
digunakan pada metode spektrofotometri ini, yaitu seperangkat alat
spektrofometer (PG Instrument T80+ UVVis), evaporator (modifikasi pyrex),
timbangan analitik (Precisa XB 220A), tabung reaksi, corong, labu takar, gelas
piala (pyrex), erlenmeyer, pipet tetes, corong pisah, gelas ukur, hot plate
(Maramis, 2013).
Spektrofotometer terdiri atas spektrometer dan fotometer.
Spektrofotometer menghasilkan sinar dari spektrum dengan panjang gelombang
tertentu dan fotometeradalah alat pengukur intensitas cahaya yang ditranmisikan
atau yang diabsorpsi. Spektrofotometer tersusun atas sumber spektrum yang
kontinyu, monokromator, sel pengabsorpsi untuk larutan sampel atau blangko dan
suatu alat untuk mengukur pebedaanabsorpsi antara sampel dan blangko ataupun
pembanding (Khopkar, 1990: 216).
Spektrofotometri ultra violet-visible dengan menggunakan metode zero
crossing merupakan metode alternatif dalam mengatasi penetapan kadar
campuran dua komponen atau lebih senyawa yang spektrumnya saling tumpang


tindih. Dalam hal ini dilakukan dengan membuat spektra serapan normal, spektra
serapan derivat pertama (Naid, 2011).
Namun ada metode spektrofotometri UV adalah diusulkan untuk
estimasi tanpa menggunakan hydrotope dalam jumlah besar dan sediaan farmasi
bentuk. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan dan
memvalidasi suatu metode analisis dengan menggunakan UV spektrofotometri
untuk estimas dalam jumlah besar dan bentuk sediaan farmasi dan juga melakukan
studi degradasi pada obat sesuai pedoman ICH menggunakan metode diusulkan
(Dey, 2010).
Sinar tampak dari 400 sampai 800 nm dan sinar UV yang berbatasan
sekitar 250 sampai 400 nm akan diabsorpsi oleh elektron terliar molekul dan atom
spektroskopi absorbsi dalam bidang ini disebut spektroskopi elektron. Pada
penentuan fotometer nyala logam alkali dan alkali tanah, emisi cahaya juga diukur
dalam daerah sinar tampak dan sinar ultraviolet (Marzuki, 2012).
Spektrum absorbsi dalam daerah-daerah ultra ungu dan sinar tampak
umumnya terdiri dari satu atau beberapa pita absorpsi yang lebar, semua molekul
dapat menyerap radiasi dalam daerah UV-tampak. Oleh karena itu mereka
mengandung elektron, baik yang dipakai bersama atau tidak, yang dapat dieksitasi
ke tingkat yang lebih tinggi. Panjang gelombang pada waktu absorpsi terjadi
tergantung pada bagaimana erat elektron terikat di dalam molekul. Elektrton
dalam satu ikatan kovalen tunggal erat ikatannya dan radiasi dengan energi tinggi,
atau panjang gelombang pendek, diperlukan untuk eksitasinya (Wunas, 2011).




BAB III
PEMBAHASAN

3.1. Pengertian Spektrofotometri Uv-Vis
Spektroskopi adalah studi mengenai antaraksi cahaya dengan atom
dan molekul. Radiasi cahaya atau elektromagnet dapat dianggap menyerupai
gelombang. Jika cahaya continue (yaitu cahaya yang terdiri dari semua
panjang gelombang yang mungkin, misal cahaya matahari) dilewatkan
melalui sebuah prisma, cahaya akan terdispersi. Jika panjang gelombang
terdispersi ini dilewatkan melalui sel yang mengandung sampel atom atau
molekul, cahaya yang keluar tidak continue lagi.
Beberapa dari gelombang cahaya berantaraksi dengan dan terabsorpsi
oleh atom atau molekul yang terdapat dalam sel. Panjang gelombang yang
hilang dapat dideteksi dengan menjatuhkan sinar yang keluar dari sel sampai
pada pelat fotografi atau alat pendeteksi lainnya. Cara ini disebut
spektroskopi absorpsi dan gambar yang tercatat adalah spektrum. Suatu garis
spektrum adalah panjang gelombang dimana cahaya telah diabsorpsi.
3.2 Sistem Peralatan Spektrofotometri Uv Vis
1. Sumber cahaya
Sumber cahaya pada spektrofotometer harus memiliki pancaran
radiasi yang stabil dan intensitasnya tinggi. Sumber cahaya pada
spektrofotometer UV-Vis ada dua macam :
a. Lampu Tungsten (Wolfram), Lampu ini digunakan untuk mengukur
sampel pada daerah tampak. Bentuk lampu ini mirip dengna bola lampu
pijar biasa. Memiliki panjang gelombang antara 350-2200 nm. Spektrum
radiasianya berupa garis lengkung. Umumnya memiliki waktu 1000 jam
pemakaian
b. Lampu Deuterium Lampu ini dipakai pada panjang gelombang 190-380
nm. Spektrum energy radiasinya lurus, dan digunakan untuk mengukur
sampel yang terletak pada daerah uv. Memiliki waktu 500 jam pemakaian.


2. Monokromator
Monokromator adalah alat yang akan memecah cahaya polikromatis
menjadi cahaya tunggal (monokromatis) dengan komponen panjang
gelombang tertentu. Bagian-bagian monokromator, yaitu :
a. Prisma
Prisma akan mendispersikan radiasi elektromagnetik sebesar mungkin
supaya di dapatkan resolusi yang baik dari radiasi polikromatis.
b. Grating (kisi difraksi)
Kisi difraksi memberi keuntungan lebih bagi proses spektroskopi. Dispersi
sinar akan disebarkan merata, dengan pendispersi yang sama, hasil dispersi
akan lebih baik. Selain itu kisi difraksi dapat digunakan dalam seluruh
jangkauan spectrum.
c. Celah optis
Celah ini digunakan untuk mengarahkan sinar monokromatis yang
diharapkan dari sumber radiasi. Apabila celah berada pada posisi yang tepat,
maka radiasi akan dirotasikan melalui prisma, sehingga diperoleh panjang
gelombang yang diharapkan.
d. Filter
Berfungsi untuk menyerap warna komplementer sehingga cahaya yang
diteruskan merupakan cahaya berwarna yang sesuai dengan panjang
gelombang yang dipilih.
3. Wadah Sampel (Kuvet)
Kebanyakan spektrofotometri melibatkan larutan dan karenanyan
kebanyakan wadah sampel adalah sel untuk menaruh cairan ke dalam berkas
cahaya spektrofotometer. Sel itu haruslah meneruskan energi cahaya dalam
daerah spektral yang diminati: jadi sel kaca melayani daerah tampak, sel kuarsa
atau kaca silica tinggi istimewa untuk daerah ultraviolet. Kuvet (sel ) Adalah
tempat disimpannya larutan sampel yang akan diukur serapannya, kuvet ini
diletakkan pada jalan cahaya dari monokromator.



Adapun syarat khusus yang harus dipenuhi , yaitu :
o Tidak berwarna (agar dapat mentransmisikan semua cahaya)
o Permukaannya sejajar
o Inert (tidak bereaksi terhadap bahan kimia)
o Tidak rapuh
o Tidak menyerap cahaya
o Terbuat dari gelas silikat biasa (kaca korex untuk daerah UV)
o Ukuran diameter 1 cm dengan volume 5ml
o Bentuk sederhana ( persegi panjang atau silinder )

Terdapat berbagai jenis dan bentuk kuvet pada spektrofotometer.
Umumnya pada pengukuran di daerah UV, digunakan kuvet yang terbuat dari
bahan kuarsa atau plexiglass. Kuvet kaca tidak dapat mengabsorbsi sinar uv,
sehingga tidak digunakan pada saat pengukuran di daerah UV. Oleh karena
itu, bahan kuvet dipilih berdasarkan daerah panjang gelombang yang
digunakan. Gunanya agar dapat melewatkan daerah panjang gelombang yang
digunakan.
UV : fused silika, kuarsa
Visible : gelas biasa, silika atau plastik
IR : KBr, NaCl, IRTRAN atau kristal dari senyawa ion

Bahan Panjang gelombang
Silika 150-3000
Gelas 375-2000
Plastik 380-800
Tabel 2 Bahan Kuvet Sesuai Panjang Gelombang

UV, VIS dan UV-VIS menggunakan kuvet sebagai tempat sampel.
Kuvet biasanya terbuat dari kuarsa atau gelas, namun kuvet dari kuarsa yang
terbuat dari silika memiliki kualitas yang lebih baik. Hal ini disebabkan yang
terbuat dari kaca dan plastik tidak dapat menyerap UV sehingga


penggunaannya hanya pada spektrofotometer sinar tampak (VIS). Cuvet
biasanya berbentuk persegi panjang dengan lebar 1 cm.
4. Detektor
Detektor akan menangkap sinar yang diteruskan oleh larutan. Sinar
kemudian diubah menjadi sinyal listrik oleh amplifier dan dalam rekorder dan
ditampilkan dalam bentuk angka-angka pada reader (komputer). Detector dapat
memberikan respons terhadap radiasi pada berbagai panjang gelombang Ada
beberapa cara untuk mendeteksi substansi yang telah melewati kolom. Metode
umum yang mudah dipakai untuk menjelaskan yaitu penggunaan serapan ultra-
violet.
Banyak senyawa-senyawa organik menyerap sinar UV dari beberapa
panjang gelombang. Jika anda menyinarkan sinar UV pada larutan yang keluar
melalui kolom dan sebuah detektor pada sisi yang berlawanan, anda akan
mendapatkan pembacaan langsung berapa besar sinar yang diserap. Jumlah
cahaya yang diserap akan bergantung pada jumlah senyawa tertentu yang
melewati melalui berkas pada waktu itu. Anda akan heran mengapa pelarut
yang digunakan tidak mengabsorbsi sinar UV.
Pelarut menyerapnya. Tetapi berbeda, senyawa-senyawa akan
menyerap dengan sangat kuat bagian-bagian yang berbeda dari specktrum UV.
Misalnya, metanol, menyerap pada panjang gelombang dibawah 205 nm dan
air pada gelombang dibawah 190 nm. Jika anda menggunakan campuran
metanol-air sebagai pelarut, anda sebaiknya menggunakan panjang gelombang
yang lebih besar dari 205 nm untuk mencegah pembacaan yang salah dari
pelarut
5. Visual display/recorder
Merupakan system baca yang memperagakan besarnya isyarat listrik,
menyatakan dalam bentuk % Transmitan maupun Absorbansi. Penyerapan
sinar UV-Vis dibatasi pada sejumlah gugus fungsional atau gugus kromofor
yang mengandung elektron valensi dengan tingkat eksutasi rendah. Tiga jenis
elektron yang terlibat adalah sigma, phi, dan elektron bebas. Kromofor-
kromofor organik seperto karbonil, alkena, azo, nitrat, dan karboksil mampu


menyerap sinar ultraviolet dan sinar tampak. Panjang gelombang
maksimumnya dapat berubah sesuai dengan pelarut yang digunakan.
Auksokrom adalah gugus fungsional yang mempunyai elektron bebas seperti
hidroksil, metoksi, dan amina. Terkaitnya gugus kromofor akan mengakibatkan
pergeseran pita absorpsi menuju ke panjang gelombang yang lebih besar dan
disertai dengan peningkatan intensitas.
Ketika cahaya melewati suatu larutan biomolekul, terjadi dua
kemungkinan. Kemungkinan pertama adalah cahaya ditangkap dan
kemungkinan kedua adalah cahaya discattering. Bila energi dari cahaya (foton)
harus sesuai dengan perbedaan energi dasar dan energi eksitasi dari molekul
tersebut. Proses inilah yang menjadi dasar pengukuran absorbansi dalam
spektrofotometer.
Cara kerja spektrofotometer dimulai dengan dihasilkannya cahaya
monokromatik dari sumber sinar. Cahaya tersebut kemudian menuju ke kuvet
(tempat sampel/sel). Banyaknya cahaya yang diteruskan maupun yang diserap
oleh larutan akan dibaca oleh detektor yang kemudian menyampaikan ke layar
pembaca. Larutan yang akan diamati melalui spektrofotometer harus memiliki
warna tertentu. Hal ini dilakukan supaya zat di dalam larutan lebih mudah
menyerap energi cahaya yang diberikan. Secara kuantitatif, besarnya energi
yang diserap oleh zat akan identik dengan jumlah zat di dalam larutan tersebut.
Secara kualitatif, panjang gelombang dimana energi dapat diserap akan
menunjukkan jenis zatnya.
3.3 Prinsip Dasar Pengukuran Spektroskopi UV-VIS
Dari 4 jenis spektrofotometri ini (UV, Vis, UV-Vis dan Ir) memiliki
prinsip kerja yang sama yaitu adanya interaksi antara materi dengan
cahaya yang memiliki panjang gelombang tertentu. Perbedaannya terletak
pada panjang gelombang yang digunakan. Panjang gelombang sinar ultraviolet
(200350 nm) dan sinar tampak (350 800 nm). Serapan cahaya uv atau
cahaya tampak mengakibatkan transisi elektronik, yaitu promosi elektron-
elektron dari orbital keadaan dasar yang berenergi rendah ke orbital keadaan
tereksitasi berenergi lebih tinggi.



Keadaan dasar suatu molekul organik mengandung elektron-elektron
valensi dalam tiga jenis utama orbital molekul, yaitu orbital sigma (); orbital
pi (); dan orbital elektron bebas (n). Baik orbital maupun orbital
dibentuk dari tumpang tindih dua orbital atom atau hibrid. Oleh karena itu
masing-masing orbital molekul ini mempunyai suatu orbital * atau *
antiikatan yang berkaitan dengannya. Transisi-transisi elektron mencakup
promosi suatu elektron dari salah satu dari tiga keadaan dasar (; ; atau n)
ke salah satu dari dua keadaan eksitasi (* atau *). Terdapat empat transisi
yang mungkin, seperti diagram berikut :

*

*

n




* * n * n *
< 165 nm >165 nm > 185 nm > 270 nm
Kuantitas energi yang diserap oleh suatu senyawa berbanding terbalik dengan
panjang gelombang radiasi : E = h = hc / ,
dengan E = energi yang diabsorpsi, dalam erg
h = tetapan Planck , 6,6 x 1027 erg-det
= frekuensi, dalam Hz
C = kecepatan cahaya, 3 x 1010 cm/det
= panjang gelombang, dalam cm



Panjang gelombang cahaya UV atau tampak bergantung pada mudahnya
promosi elektron. Molekul-molekul yang memerlukan lebih banyak energi untuk
promosi elektron akan menyerap pada panjang gelombang yang lebih pendek.
Molekul yang memerlukan energi lebih sedikit akan menyerap pada panjang
gelombang yang lebih panjang. Senyawa yang menyerap cahaya dalam daerah
tampak (yakni senyawa berwarna) mempunyai elektron yang lebih mudah
dipromosikan daripada senyawa yang menyerap pada panjang gelombang UV
yang lebih panjang.
* maks = 180 nm


n * maks = 250 nm


A


150 200 300 maks
Pada kebanyakan transisi * keadaan tereksitasi lebih terkutub
(polar) daripada keadaan dasar. Akibatnya, pada transisi * , dalam pelarut
polar, absorpsi akan bergeser ke panjang gelombang lebih besar. Pergeseran
absorpsi ke panjang gelombang lebih besar disebut efek batokromik (pergeseran
merah). Molekul yang mempunyai elektron bebas (tidak terikat) dapat
berantaraksi dengan pelarut berikatan hidrogen secara lebih baik dalam keadaan
dasar dari pada dalam keadaan tereksitasi. Akibatnya, absorpsi transisi n *
akan bergerak ke panjang gelombang yang lebih kecil dalam pelarut polar, yang
disebut dengan pergeseran hipsokrom (pergeseran biru).
Proses Absorbsi Cahaya pada Spektrofotometri
Ketika cahaya dengan panjang berbagai panjang gelombang (cahaya
polikromatis) mengenai suatu zat, maka cahaya dengan panjang gelombang
tertentu saja yang akan diserap. Di dalam suatu molekul yang memegang peranan


penting adalah elektron valensi dari setiap atom yang ada hingga terbentuk suatu
materi. Elektron-elektron yang dimiliki oleh suatu molekul dapat berpindah
(eksitasi), berputar (rotasi) dan bergetar (vibrasi) jika dikenai suatu energi.
Jika zat menyerap cahaya tampak dan UV maka akan terjadi perpindahan
elektron dari keadaan dasar menuju ke keadaan tereksitasi. Perpindahan elektron
ini disebut transisi elektronik. Apabila cahaya yang diserap adalah cahaya
inframerah maka elektron yang ada dalam atom atau elektron ikatan pada suatu
molekul dapat hanya akan bergetar (vibrasi). Sedangkan gerakan berputar elektron
terjadi pada energi yang lebih rendah lagi misalnya pada gelombang radio.
Atas dasar inilah spektrofotometri dirancang untuk mengukur konsentrasi
suatu suatu yang ada dalam suatu sampel. Dimana zat yang ada dalam sel sampel
disinari dengan cahaya yang memiliki panjang gelombang tertentu. Ketika cahaya
mengenai sampel sebagian akan diserap, sebagian akan dihamburkan dan
sebagian lagi akan diteruskan.
Pada spektrofotometri, cahaya datang atau cahaya masuk atau cahaya
yang mengenai permukaan zat dan cahaya setelah melewati zat tidak dapat diukur,
yang dapat diukur adalah I
t
/I
0
atau I
0
/I
t
(perbandingan cahaya datang dengan
cahaya setelah melewati materi (sampel)). Proses penyerapan cahaya oleh suatu
zat dapat digambarkan sebagai berikut:





Gambar Proses penyerapan cahaya oleh zat dalam sel sampel.
Dari gambar terlihat bahwa zat sebelum melewati sel sampel lebih terang atau
lebih banyak di banding cahaya setelah melewati sel sampel.


Cahaya yang diserap diukur sebagai absorbansi (A) sedangkan cahaya yang
hamburkan diukur sebagai transmitansi (T), dinyatakan dengan hukum lambert-
beer atau Hukum Beer, berbunyi:
Jumlah radiasi cahaya tampak (ultraviolet, inframerah dan sebagainya)
yang diserap atau ditransmisikan oleh suatu larutan merupakan suatu fungsi
eksponen dari konsentrasi zat dan tebal larutan.
Berdasarkan hukum Lambert-Beer, rumus yang digunakan untuk menghitung
banyaknya cahaya yang hamburkan:

dan absorbansi dinyatakan dengan rumus:

dimana I
0
merupakan intensitas cahaya datang dan I
t
atau I
1
adalah intensitas
cahaya setelah melewati sampel.
Rumus yang diturunkan dari Hukum Beer dapat ditulis sebagai:
A= a . b . c atau A = . b . c
dimana:
A = absorbansi
b = tebal kuvet ( terkadang digunakan l = tebal larutan)
c = konsentrasi larutan yang diukur
= tetapan absorptivitas molar (jika konsentrasi larutan yang diukur dalam molar)
a = tetapan absorptivitas (jika konsentrasi larutan yang diukur dalam ppm)



Absorptivitas molar pada tertentu merupakan suatu nilai yang dapat dihitung
dengan persamaan:
= A /c.
Secara eksperimen hukum Lambert-beer akan terpenuhi apabila peralatan
yang digunakan memenuhi kriteria-kriteria berikut:
1. Sinar yang masuk atau sinar yang mengenai sel sampel berupa sinar dengan
dengan panjang gelombang tunggal (monokromatis).
2. Penyerapan sinar oleh suatu molekul yang ada di dalam larutan tidak
dipengaruhi oleh molekul yang lain yang ada bersama dalam satu larutan.
3. Penyerapan terjadi di dalam volume larutan yang luas penampang (tebal
kuvet) yang sama.
4. Penyerapan tidak menghasilkan pemancaran sinar pendafluor. Artinya larutan
yang diukur harus benar-benar jernih agar tidak terjadi hamburan cahaya oleh
partikel-partikel koloid atau suspensi yang ada di dalam larutan.
5. Konsentrasi analit rendah. Karena apabila konsentrasi tinggi akan menggangu
kelinearan grafik absorbansi versus konsntrasi.
3.4 Keuntungan Spektrometer Uv-Vis
Spektrometer Uv-Vis dapat digunakan misalnya untuk mengukur kadar
logam. UV / Vis spektroskopi secara rutin digunakan dalam kuantitatif
penentuan larutan dari logam transisi ion dan sangat dikonjugasikan senyawa
organik.
a. Larutan ion logam transisi dapat berwarna (misalnya, menyerap cahaya)
karena elektron dalam atom logam dapat tertarik dari satu negara elektronik
lainnya. Warna larutan ion logam sangat dipengaruhi oleh kehadiran spesies
lain, seperti anion tertentu atau ligan. Sebagai contoh, warna larutan
encertembaga sulfat adalah biru yang sangat terang;
menambahkanamonia meningkat dan perubahan warna panjang gelombang
serapan maksimum (
m a x
)
b. Senyawa organik, terutama mereka yang memiliki tingkat
tinggi konjugasi, juga menyerap cahaya pada daerah UV atau terlihat


dari spektrum elektromagnetik. Pelarut untuk penentuan ini sering air untuk
senyawa larut dalam air, atau etanol untuk senyawa organik yang
larut. (Pelarut organik mungkin memiliki penyerapan sinar UV yang
signifikan; tidak semua pelarut yang cocok untuk digunakan dalam
spektroskopi UV. Ethanol menyerap sangat lemah di paling panjang
gelombang.).Polaritaspelarut dan pH dapat mempengaruhi penyerapan
spektrum senyawa organik. Tirosin, misalnya, peningkatan penyerapan
maksimum dan koefisien molar kepunahan ketika pH meningkat 6-13 atau
ketika polaritas pelarut berkurang.
c. Sementara kompleks transfer biaya juga menimbulkan warna, warna sering
terlalu kuat untuk digunakan dalam pengukuran kuantitatif. Hukum Beer-
Lambert menyatakan bahwa absorbansi larutan berbanding lurus dengan
konsentrasi spesies menyerap dalam larutan dan panjang jalan.

Jadi, UV / VIS spektroskopi dapat digunakan untuk menentukan
konsentrasi dalam larutan penyerap dan mengetahui seberapa cepat perubahan
absorbansi dengan konsentrasi.




BAB III
PENUTUP

1. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat duambil dari makalah ini, yaitu :
a. Spektrofotometri digunakan untuk mengukur energi secara relatif jika
energi tersebut ditransmisikan, direfleksikan, atau diemisikan sebagai
fungsi panjang gelombang. Komponen yang harus ada dalam sebuah
spektrofotometer yaitu sumber cahaya polikromatis, slit, pendispersi, sel
sampel, dan detektor.
b. Berdasarkan hukum Lambert-Beer, diperoleh prinsip kerja
spektrofotometri yaitu bila cahaya monokromatik melalui suatu media,
maka sebagia cahaya tersebut diserap, sebagian dipantulkan, dan sebagian
lagi dipancarkan.
c. Keuntungan dari spektrofotometer UV-VIS yaitu UV / VIS spektroskopi
dapat digunakan untuk menentukan konsentrasi dalam larutan penyerap
dan mengetahui seberapa cepat perubahan absorbansi dengan konsentrasi
2. Saran
Penggunaan spektrofotometer Uv-Vis ini diharapkan dapat membantu
untuk penelitian bagi mahasiswa khususnya di Fakultas Farmasi Halu Oleo.





DAFTAR PUSTAKA
Dey, Suddhasattya et al. 2010. Development and validation of a uvvis
spectrophotometric method for the Estimation and degradation
monitoring of cefadroxil in bulk and pharmaceutical dosage
forms. International Journal of Chemistry Research. Vol 1,
issue 1.

Naid, Tadjuddin. 2011. Penetapan Kadar Parasetamol dalam Tablet
Kombinasi Parasetamol dengan Kafein Secara spektrofotometri
Ultraviolet-Sinar Tampak. Jurnal Farmasi dan farmakologi.
Vol. 15, No. 2

Maramis, Rialita Kesia., et al. 2013. Analisis Kafein Dalam Kopi Bubuk
Di Kota Manado Menggunakan Spektrofotometri Uv-Vis.
Jurnal Ilmiah Farmasi .Vol. 2 No. 04. ISSN 2302 2493.

Marzuki, Asnah. 2012. Kimia Analisis Farmasi. Makassar : Dua Satu
Press.

Sani, Ali. Audu et al. IRJP. 2012. Analysis Of Different Brands Of
Paracetamol 500mg Tablets Used In Maiduguri,Using Ultra
Violet Spectrophotometric And High Performance Liquid
Chromatographic (Hplc) Methods. International Research
Journal Of Pharmacy. 3 (8). ISSN 2230 8407.

Wunas, Yeanny dan Susanti. 2011. Analisa Kimia Farmasi Kuantitatif
(revisi kedua). Makassar : Laboratorium Kimia Farmasi
Fakultas Farmasi UNHAS.












MAKALAH ANALISIS FARMASI
SPEKTROFOTOMETRI UV
















OLEH :

NAMA : I MADE SATRIA BINAWA ALIT
NIM : F1F1 12135
KELAS : C



JURUSAN FARMASI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2014



KATA PENGANTAR


Puji dan syukur patut kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa
karna berkat kasih dan rahmat-NYA makalahini dapat terselesaikan.
Makalah ini dibuat dengan tujuan untuk memenuhi tugas yang diberikan
oleh dosen Analisis Farmasi serta memahami dan mengerti tentang
spektrofotometri Uv-Vis dalam bidang farmasi. Namun dalam penulisan makalah
ini masih banyak terdapat kekurangan, untuk itu kami mohon kritik dan sarannya
yang bersifat membangun untuk penyempurnaan makalah ini.
Demikian makalah ini penulis buat atas perhatian dan kritik sarannya
penulis ucapkan terimakasih.





Kendari, Oktober 2014

Penulis



DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................. i
DAFTAR ISI ............................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................1
1.1.Latar Belakang Masalah.....................................................................1
1.2.Rumusan Masalah ............................................................................. 2
1.3.Tujuan ................................................................................................ 2
1.4.Manfaat .............................................................................................. 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................. 3
BAB III PEMBAHASAN ........................................................................ 5
3.1 Pengertian Spektrofotometri Uv-Vis ................................................. 5
3.2 Sistem Peralatan Spektrofotometri Uv Vis ..................................... 6
3.3 Prinsip Dasar Pengukuran Spektroskopi UV-VIS ............................. 9
3.4 Keuntungan Spektrofotomerter Uv-Vis ............................................. 14
BAB IV PENUTUP ................................................................................. 16
4.1.Kesimpulan ........................................................................................ 16
4.2.Saran .................................................................................................. 16
DAFTAR PUSTAKA