Anda di halaman 1dari 21

KEBIJAKAN FISKAL

Disusun Oleh:
Lutfia Novitasari (19)
Yennyda Murnianty Daeli (30)


Kelas 7D
Program Diploma IV Akuntansi Kurikulum Khusus
Tahun Pelajaran 2013/2014

SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA
2014
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pada tahun 1936, Keynes menerbitkan bukunya yang berjudul The General Theory of
Employment, Interest, and Money, yang banyak pihak menganggapnya sebagai dasar
mengembangkan kebijakan fiskal, yaitu bagaimana cara memanipulasi penerimaan
dan pengeluaran pemerintah untuk dapat mempengaruhi permintaan agregat .
Pada awalnya kebijakan fiskal hanya mengarah pada situasi yang dihadapi saat itu,
yaitu bagaimana menghadapi masalah pengangguran. Setelah Perang Dunia II
kebijakan fiskal digunakan pula untuk mengatasi keadaan inflasi.
Perkembangan selanjutnya kebijkaan fiskal dan moneter secara bersama dan saling
melengkapi dipergunakan untuk memecahkan masalah perekonomian nasional, baik
pada masa depresi, inflasi, maupun dalam permasalahan ekonomi lainnya yang harus
diatasi, agar perekonomian dapat stabil serta kesejahteraan masyarakat semakin
meningkat.
Untuk Indonesia, yang merupakan negara berkembang, salah satu tujuan kebijakan
fiskalnya adalah untuk menciptakan lingkungan yang baik bagi pertumbuhan ekonomi
yang cepat. Kebijakan fiskal dipengaruhi oleh dua instrumen utama, yaitu pajak dan
pengeluaran pemerintah, yang otoritas penanganannya berada di tangan Pemerintah
yang diwakili oleh Kementerian Keuangan sebagaimana disebutkan dalam Undang-
Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.
Sejak Indonesia telah melunasi semua pinjaman dari IMF, yang berarti sudah tidak
ada lagi campur tangan IMF dalam ekonomi kita, maka dapat dikatakan bahwa
Indonesia telah merdeka secara ekonomi. Walaupun masih ada program IMF yang
masih berakibat sampai jangka panjang, misalnya program rekapitulasi perbankan.
Oleh karena itu, kebijakan moneter dan fiskal pemerintah semakin berperan besar
dalam mengarahkan perkembangan ekonomi.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apakah yang dimaksud dengan kebijakan fiskal?
2. Apakah tujuan dan faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan fiskal?
3. Bagaimana strategi kebijakan fiskal yang diterapkan pemerintah Indonesia?
4. Bagaimana pelaksanaan kebijakan fiskal di negara lain?

C. RUANG LINGKUP
Ruang lingkup pembahasan dalam makalah ini hanya terbatas pada kebijakan fiskal dan
implementasinya.




























BAB II
PEMBAHASAN


A. PENGERTIAN KEBIJAKAN FISKAL
Kebijakan fiskal merupakan salah satu kebijakan ekonomi makro yang otoritas
utamanya berada di tangan pemerintah yang diwakili oleh KementerianKeuangan. Hal
tersebut diatur dalam dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun2003 tentang
Keuangan Negara, yang menyebutkan bahwa presiden memberikankuasa pengelolaan
keuangan dan kekayaan negara kepada Menteri Keuanganselaku pengelola fiskal dan
wakil pemerintah dalam pemilikan kekayaan negarayang dipisahkan.
Terdapat beberapa pengertian tentang kebijakan fiskal yang dapat kita temui. Definisi
yang paling populer menyebutkan bahwa kebijakan fiskal adalah kebijakan yang
dilakukan oleh pemerintah dalam rangka mendapatkan dana dan kebijakan yang
ditempuh oleh pemerintah untuk membelanjakan dananya tersebut dalam rangka
melaksanakan pembangunan.
Beberapa pengertian kebijakan fiskal menurut beberapa ahli adalah sebagai berikut:
a. KebijakanFiskaladalahlangkah-langkahpemerintahuntukmembuatperubahan-
perubahandalamsistempajakataudalamperbelanjaannyadenganmaksuduntukmenga
tasimasalah-masalahekonomi yang dihadapi (SadonoSukirno, 2003);
b. Kebijakan fiskal didefinisikan sebagai pengelolaan anggaranpemerintah untuk
mempengaruhi suatu perekonomian, termasuk kebijakanperpajakan yang dipungut
dan dihimpun, pembayaran transfer, pembelian barangbarangdan jasa-jasa oleh
pemerintah, serta ukuran defisit dan pembiayaananggaran, yang mencakup semua
level pemerintahan (Govil, 2009);
c. Kebijakan fiskal adalah langkah-langkah pemerintah untuk mengelolapengeluaran
dan perpajakan atau penggunaan instrumen-instrumen fiskal untukmempengaruhi
bekerjanya sistem ekonomi agar memaksimumkan kesejahteraanekonomi (Tanzi,
1991);
d. Kebijakan fiskal sebagai proses pembentukan perpajakan dan pengeluaran
masyarakat dalam upaya menekan fluktuasi siklus bisnis, dan ikut berperan dalam
menjaga pertumbuhan ekonomi, penggunaan tenaga kerja yang tinggi, bebas dari
laju inflasi yang tinggi dan berubah-ubah (Samuel dan Nordhaus).
Berdasarkan dari beberapa teori dan pendapat ahli di atas dapat kita simpulkan bahwa
kebijakan fiskal adalah suatu kebijakan ekonomi yang dilakukan oleh pemerintah
dalam pengelolaan keuangan negara untuk mengarahkan kondisi perekonomian
menjadi lebih baik yang terbatas pada sumber-sumber penerimaan dan alokasi
pengeluaran negara yang tercantum dalam APBN.Singkatnya, kebijakan fiskal adalah
kebijakan pemerintah yangterkait dengan penerimaan atau pengeluaran negara.

B. INSTRUMEN KEBIJAKAN FISKAL
Instrumen kebijakan fiskal yang paling utama adalah penerimaan dan pengeluaran
pemerintah. Pajak merupakan komponen penting dalam menentukan kondisi
makroekonomi suatu negara. Mengubah tarif pajak yang berlaku akan berpengaruh
pada ekonomi, jika pajak diturunkan maka kemampuan/daya beli masyarakat akan
meningkat dan industri akan dapat meningkatkan jumlah output. Sebaliknya kenaikan
tarif pajak akan menurunkan daya beli masyarakat serta menurunkan output industri
secara umum. Diantara beberapa pilihan instrumen kebijakan fiskal yang lazim
dilakukan pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi makro antara lain:
1. Menaikkan atau menurunkan pajak rumah tangga
2. Mengatur pengeluaran pemerintah untuk pengusaha tertentu
3. Memberikan rangsangan fiskal (insentif atau subsidi) pada pengusaha tertentu
Instrumen kebijakan fiskal berupa penerimaan dan pengeluaran pemerintahtertuang
dalam APBN sebagai suatu rencana operasi keuangan pemerintah.
1. Peningkatan penerimaan karena perubahan tarif pajak akan berpengaruh
padaekonomi,
2. Pengeluaran pemerintah akan berpengaruh pada stimulasi pada
perekonomianmelalui dampaknya terhadap sisi pengeluaran agregat,
3. Politik anggaran (surplus, berimbang, atau defisit) sebagai respon atas
suatukondisi,serta
4. Strategi pembiayaan dan pengelolaan hutang.
Kebijakan fiskal dan kondisi APBN sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi.
Kebijakan fiskal harus dapat berfungsi sebagai stabilisator bagi perekonomiandan
atau bersifat kontra-siklis (countercyclical) yaitu:
1. Pada saat ekonomi sedang dalam masa boom, pemerintah dapat menjalankan
Surplus Anggaran,
2. Sebaliknya, pada saat resesi/krisis, pemerintah dapat melakukan ekspansi fiskal
melalui stimulus fiskal, dengan menjalankan Anggaran Defisit,
Sebagai Fiscal Policy Tools (Alat Kebijakan Fiskal), APBN yang sehat adalahAPBN
yang berkesinambungan, yang ditunjukkan oleh:
1. Defisit yang terkendali menuju seimbang atau surplus,
2. Keseimbangan primer terjaga positif,serta
3. Rasio yang cenderung menurun (benchmark rasio hutang terhadap PDBmenurut
WEO: maksimal 60%).
Idealnya, APBN mempunyai perangkat penyesuaian otomatis terhadap siklus bisnis
(automatic adjustment tools). APBN adalah instrumen fiskal utama yangdigunakan
untuk mencapai kemakmuran rakyat melalui:
1. Penciptaan stabilitas ekonomi,
2. Penyediaan barang publik dan peningkatan kualitas pelayanan dasar,
3. Peningkatan pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja,
4. Perlindungan terhadap kelompok miskin, serta
5. Pengembangan ekonomi daerah melalui desentralisasi fiskal dalam rangka
otonomi daerah yang luas dan bertanggung jawab (pertumbuhan yang inklusif).

C. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN FISKAL
APBN, termasuk jumlah besaran dan komposisinya, sangat dipengaruhioleh berbagai
faktor, baik di bidang ekonomi, politik, maupun sosial. Faktor-faktor tersebut dapat
berasal dari dalam negeri (internal) maupun dari luar negeri (eksternal).
Faktor internaltersebut antara lain adalah:
1. Arah dan strategi politik danpembangunan yang ingin dilakukan dalam mencapai
tujuan bernegara yangberimplikasi pada kebijakan keuangan negara. Tujuan
bernegara tercantumdalam UUD 1945. Terjemahan tujuan tersebut dijabarkan
dalam arah dan strategi pembangunan nasional yang dituangkan dalam Rencana
Pembangunan JangkaPanjang (25 tahun) dan Rencana Pembangunan Jangka
Menengah (RPJM)Nasional serta Rencana Kerja Pemerintah (RKP) yang
menentukan prioritas, arahkebijakan nasional yang pada akhirnya menentukan
komposisi belanja negara(APBN).
2. Perkembangan dan kinerja perekonomian nasional yangmenggambarkan potensi,
kapasitas dan struktur penerimaan negara. Penerimaanpajak suatu negara akan
meningkat dengan berkembangnya perekonomian dansering diukur dengan rasio
penerimaan pajak terhadap perekonomian yang diukurdengan Produk Domestik
Bruto.
3. Kemampuan perencanaan, pengelolaan,dan pengendalian belanja negara. Hal ini
berkaitan dengan politik anggaran danmasalah serta kualitas birokrasi. Belanja
negara yang dilandasi suatu pilihanpolitik tertentu akan menyebabkan pola dan
alokasi anggaran yang berbeda-beda. Belanja negara cenderung terus meningkat
setiap tahun, namun apabiladialokasikan pada proritas belanja yang tidak tepat
misalnya untuk membiayaipembangunan-pembangunan yang tidak sesuai
kebutuhan rakyat danperekonomian, maka akan berdampak sangat kecil/minimal
terhadapkesejahteraan rakyat. Belanja yang besar dapat juga digerogoti oleh
birokrasi baikdalam bentuk kebocoran maupun ketidak-efisienan, sehingga tidak
akanmenghasilkan manfaat kesejahteraan bagi masyarakat keseluruhan.
4. Kemampuan pengelolaan pembiayaan anggaran. Bila suatu negara memiliki
APBNyang surplus, maka masalah pembiayaan adalah bagaimana
dilakukanpengelolaan dan pemanfaatan surplus anggaran terutama untuk tujuan
antisipasikebutuhan negara di masa depan. Di negara-negara maju, kebutuhan
negaramasa depan dikaitkan dengan kondisi demografi (penduduk) yang
semakindidominasi oleh kelompok usia tua, sehingga diperkirakan akan
memakananggaran pelayanan kesehatan dan menjaga kesejahteraan hari tua yang
semakintinggi. Sedang bila negara mengalami APBN defisit, maka tantangan
terbesaradalah bagaimana mendapatkan pembiayaan anggaran yang paling
beresiko keciltermasuk jatuh tempo utang yang berdurasi panjang dan berbiaya
(beban bungautang) rendah. Hal ini sangat ditentukan oleh akses pembiayaan
(utang) baik dariberasal dari dalam negeri (pasar obligasi/surat utang domestik)
maupuninternasional. Akses tersebut ditentukan oleh tingkat perkembangan pasar
suratberharga (obligasi), peringkat (rating), dan tingkat resiko dari negara
tersebut.Risiko suatu negara ditentukan oleh seluruh kualitas APBN, baik dari segi
jumlah,
komposisi penerimaan, tingkat utang dan jatuh tempo, dan keseluruhan aspek
pengelolaan resiko dan beban baik yang langsung maupun yang
bersifatkemungkinan (kontinjensi). Negara yang memiliki tingkat hutang tinggi,
sertakondisi politik yang cenderung tidak stabil dan terus mengakibatkan
belanjanegara yang berlebihan dan tidak hati-hati, serta memiliki kualitas
birokrasi yangburuk, akan dipersepsikan memiliki resiko gagal (tidak mampu)
mengelolaanggaran dan utangnya. Dengan demikian peringkat utang negara ini
menjadiburuk (non-investment grade), dan berakibat pada akses untuk
mendapatpembiayaan menjadi sulit atau sangat mahal, sehingga makin
mempersulit kondisi
dan porspek perbaikan pengelolaan ekonomi dan kesejahteraan rakyatnya.
5. Faktor-faktor non-ekonomi seperti terjadinya bencana alam, perubahaniklim,
gejolak politik atau sosial, gangguan keamanan dan terorisme, sertaterjadinya
perang. Faktor-faktor tersebut selain akan menyebabkan pendapatannegara
menurun karena aktivitas perekonomian akan sangat terganggu ataubahkan
berhenti, juga akan menyebabkan belanja negara melonjak untukpenanganan
masalah. Dengan demikian APBN akan mengalami beban ganda.
Sementara itu, faktor eksternal penting yang juga turut berdampak padaperkembangan
APBN Indonesia di antaranya meliputi perkembangan kondisiekonomi global,
pergerakan nilai tukar rupiah dan antar-mata uang asing(khususnya mata uang kuat
dunia yang menjadi mitra dagang utama dankerjasama ekonomi dengan Indonesia),
harga minyak mentah di pasarinternasional, serta tingkat bunga internasional.
Selanjutnya, karena isi, komposisi, dan nilai dalam APBN sangatdipengaruhi oleh
struktur dan kemajuan perekonomian suatu negara, makaperkembangan APBN
sebenarnya mencerminkan secara langsung kondisi dankeadaan ekonomi suatu
negara. Salah satu indikator untuk melihat perkembangan APBN dari tahun ketahun
adalah dari segi defisit/surplus anggaran. Data menunjukkan bahwapada sebagian
besar periode pemerintahan orde baru APBN sebenarnya mengalami defisit, kecuali
pada kurun waktu lima tahun menjelang krisis (1998) APBN Indonesia sempat
mengalami surplus. Defisit tertinggi terjadi pada tahun 1975/1976 sekitar 3,2%
terhadap PDB dan tahun 1986/1987 sekitar 3,3% terhadap PDB. Sedangkan defisit
terendah terjadi pada tahun 1978/1979 sekitar 0,09% terhadap PDB. Pada kurun
waktu lima tahun sebelum krisis, APBN mengalami surplus rata-rata 2,0% terhadap
PDB. Pada saat krisis berlangsung, APBN kembali menjadi defisit karena APBN
menanggung beban sangat berat biaya pemulihan dan penyehatan sektor perbankan
dan untuk menciptakan stimulus fiskal dalam rangka pemulihan ekonomi. Namun
demikian, defisit anggaran sejak tahun 1998/2000 terus menurun, yaitu dari 4%
terhadap PDB menjadi hanya 1,2% terhadap PDB tahun 2004.

D. JENIS KEBIJAKAN FISKAL
1. Kebijakan Fiskal yang Disengaja (discretionary)
Kebijakan fiskal yang disengaja adalah kebijakan yang dilakukan oleh
pemerintah untuk menanggulangi tingkat naik turunnya kegiatan ekonomi dari
waktu ke waktu (gelombang konjungtur), dengan memanipulasi anggaran belanja
secara sengaja, baik melalui pengubahan perpajakan atau pengubahan
pengeluaran pemerintah. Dengan usaha ini dapat terlihat seberapa jauh peranan
pemerintah dalam melakukan campur tangannya dalam pengaturan jalannya roda
perekonomian.
2. Kebijakan Fiskal Pasif (automatic stabilizers atau built-in stabilizer)
Kebijakan pasif adalah kebijakan yang erat kaitannya dengan penerapan
berbagai pajak. Perubahan-perubahan dalam pengeluaran pemerintah dan atau
penerimaan pajak yang merupakan hasil dari fleksibilitas otomatis dari sistem
fiskal. Sebagai misal, ketika pendapatan menurun dan perekonomian berada
dalam resesi, penerimaan pajak secara otomatis menurun dan pengeluaran
pemerintah untuk kompensasi pengangguran secara otomatis meningkat.
Dari sudut ekonomi makro, kebijakan fiskal dapat dibedakan menjadi dua macam
yaitu kebijakan fiskal ekspansif dan kebijakan fiskal kontraktif.
1) Kebijakan fiskal ekspansif, adalah kebijakan menaikkan belanja negara dan
menurunkan tingkat pajak
netto. Kebijakan ini untuk
meningkatkan daya beli
masyarakat. Kebijakan fiskal
ini dilakukan pada saat
perekonomian mengalami
resesi/depresi dan
pengangguran yang tinggi.
Kebijakan ekspansif
dilakukan dengan cara
menaikkan pengeluaran pemerintah (G) atau menurunkan pajak (T) untuk
meningkatkan output (Y), adapun mekanisme peningkatan pengeluaran
pemerintah ataupun penurunan pajak (T) terhadap output adalah sebagai berikut,
pada gambardi atas dapat dijelaskan bahwa disaat pengeluaran pemerintah (G)
naik atau selisih pajak (T) turun maka akan menggeser kurva pengeluaran
agregat keatas sehingga pendapatan akan naik dari (Y1) menjadi (Yf).
Dampakkebijakanfiskalekspansifterhadappendapatan,
tingkatbungadannilaitukarbergantungpadaapakahkebijakandilakukansecaraperma
nenatautemporer.Kebijakanfiskalekspansifakanefektifjikadilakukansecaratempor
er,
dankurangefektifuntukmeningkatkanpendapatanjikakebijakandilakukansecaraper
manen (Yarbrough & Yarbrough, 2002).
2) Kebijakan fiskal kontraktif, adalah kebijakan untuk menurunkan belanja
negara dan menaikkan tingkat pajak. Kebijakan ini bertujuan untuk menurunkan
daya beli masyarakat dan mengatasi inflasi. Kebijakan pemerintah untuk
membuat pemasukannya lebih besar daripada pengeluarannya. Baiknya politik
anggaran surplus dilaksanakan ketika perekonomian pada kondisi yang ekspansi
yang mulai memanas (overheating) untuk menurunkan tekanan permintaan.
Adapun mekanisme penurunan
pengeluaran pemerintah (G)
ataupun kenaikan pajak (T)
terhadap output (Y) adalah
sebagai berikut: Pada gambar
dapat dijelaskan bahwa disaat
pengeluaran pemerintah (G)
turun atau selisih pajak (T)
naik maka akan menggeser
kurva pengeluaran agregat
kebawah sehingga Pendapatan akan turun dari (Y1) menjadi (Yf).

Jenis Pembiayaan Dalam Kebijakan Fiskal
Banyak kebijakan yang dilakukan pemerintah dalam mengatasi kelesuan ekonomi
negara. Dewasa ini pemerintah mengadakan deregulasi dan debirokratisasi di
berbagai bidang dengan tujuan memperbaiki keadaan ekonomi agar tercapai tingkat
pertumbuhan yang tinggi. Kebijakan deregulasi dan debirokratisasi merupakan
bagian dari kebijakan fiskal pemerintah. Secara umum kebijakan fiskal dapat
ditempuh dengan empat jenis pembiayaan, yaitu sebagai berikut:
1. Pembiayaan Fungsional (functional finance)
Kebijakan anggaran pembiayaan fungsional (functional finance), adalah kebijakan
yang mengatur pengeluaran pemerintah dengan melihat berbagai akibat tidak
langsung terhadap pendapatan nasional dan bertujuan untuk meningkatkan
kesempatan kerja. Pembiayaan pengeluaran pemerintah ditentukan sedemikian
rupa sehingga tidak berpengaruh langsung terhadap pendapatan nasional. Tujuan
utamanya adalah untuk meningkatkan kesempatan kerja (employement).
Penerimaan pemerintah dari sektor pajak bukan ditujukan untuk meningkatkan
penerimaan pemerintah tetapi bertujuan untuk mengatur pengeluaran pihak
swasta. Oleh karena itu dalam hal terjadi pengangguran, penerimaan pajak tidak
terlalu diperlukan. Sedangkan untuk menekan inflasi diatasi dengan kebijakan
pinjaman. Jika sektor pajak dan pinjaman tidak berhasil, tindakan lain yang dapat
dilakukan pemerintah adalah mencetak uang. Jadi dalam hal ini sektor pajak
dengan pengeluaran pemerintah menjadi satu hal yang terpisah.
2. Pengelolaan Anggaran (the finance budget approach)
Kebijakan pengelolaan anggaran (the finance budget approach), adalah kebijakan
untuk mengatur pengeluaran pemerintah, perpajakan, dan pinjaman untuk
mencapai stabilitas ekonomi yang mantap. Penerimaan dan pengeluaran
pemerintah dari perpajakan dan pinjaman adalah satu paket yang tidak dapat
dipisahkan dalam rangka menciptakan kestabilan ekonomi. Kemudian dalam
pengelolaan anggaran dibutuhkan anggaran berimbang dengan perumusan jika
terjadi depresi, maka ditempuh anggaran defisit. Jika terjadi inflasi maka
ditempuh anggaran surplus.
3. Stabilisasi Anggaran Otomatis (the stabilizing budget)
Kebijakan stabilisasi anggaran otomatis (the stabilizing budget), adalah kebijakan
yang mengatur pengeluaran pemerintah dengan melihat besarnya biaya dan
manfaat dari berbagai program. Tujuan kebijakan ini adalah agar terjadi
penghematan dalam pengeluaran pemerintah. Dalam stabilisasi anggaran ini,
diharapkan terdapat keeimbangan antara penerimaan dan pengeluaran tanpa
campur tangan pemerintah yang disengaja. Dengan stabilisasi anggaran ini,
pengeluaran pemerintah lebih ditekan pada asas manfaat dan biaya relatif dari
berbagi program. Pajak ditetapkan sedemikian rupa sehingga terdapat anggaran
belanja surplus dalam kesempatan kerja penuh.
4. Anggaran Belanja Seimbang
Cara yang diberlakukan dalam hal ini adalah anggaran yang disesuaikan dengan
keadaan (managed budget). Tujuannya adalah tercapainya anggaran berimbang
dalam jangka panjang. Dalam keadaan terpaksa, seperti ketika terjadi
ketidakstabilan ekonomi, ditempuh anggaran defisit. Sedangkan pada masa inflasi
ditempuh anggaran surplus.

Kebijakan/Politik Anggaran
Kebijakan anggaran atau biasa disebut politik anggaran lazim digunakan pemerintah
suatu negara dalam menjalankan kebijakan fiskal. Kebijakan masing-masing negara
bisa berbeda tergantung pada keadaan dan arahyang akan dicapai dalam jangka
pendek maupun jangka panjangnya. Berikut adalah macam-macam anggaran yang
biasa ditempuh beberapa negara dalam mencapai manfaat tertinggi dalam mengelola
anggaran, antara lain:
Anggaran Berimbang (Balanced Budget)
Anggaran berimbang terjadi bilamana pemerintah menetapkan pengeluaran sama
besar dengan pemasukan. Tujuan politik anggaran berimbang yakni terjadinya
kepastian anggaran serta meningkatkan disiplin anggaran karena pengeluaran
tidak boleh dilaksanakan melebihi penerimaan.
Pada anggaran berimbang, diusahakan agar pengeluaran (belanja) dan pendapatan
atau penerimaan sama. Keadaan seperti ini dapat menstabilkan ekonomi dan
anggaran. Dalam hal ini, pengeluaran disesuaikan dengan kemampuan keuangan
suatu negara.
Fokus kebijakan fiskal berbeda dengan kebijakan moneter, yang bertujuan
menstabilkan perekonomian dengan cara mengontrol tingkat bunga dan jumlah
uang yang beredar. Jadi topik utama kebijakan fiskal adalah pengeluaran dan
pajak. Perubahan tingkat dan komposisi pajak serta pengeluaran pemerintah dapat
memengaruhi hal-hal seperti permintaan agregat dan tingkat aktivitas ekonomi,
pola persebaran sumberdaya serta distribusi pendapatan. Kebijakan ini kurang
lebih serupa dengan kebijakan moneter untuk mengatur jumlah uang beredar,
namun kebijakan fiskal menekankan pada pengaturan pendapatan dan belanja
pemerintah.
Anggaran Surplus (Surplus Budget) / Kebijakan Fiskal Kontraktif
Pada anggaran surplus, tidak semua penerimaan dibelanjakan, sehingga terdapat
tabungan pemerintah. Asas ini tepat digunakan jika keadaan ekonomi sedang
mengalami inflasi. Pendekatan dalam anggaran surplus adalah kebijakan
pemerintah untuk membuat pemasukanlebih besar daripada pengeluarannya.
Politik anggaran surplus dilaksanakan ketika perekonomian pada kondisi ekspansi
yang mulai memanas (overheating) untuk menurunkan tekanan permintaan.
Anggaran Defisit (Defisit Budget) / Kebijakan Fiskal Ekspansif
Anggaran defisit adalah kebijakan pemerintah untuk membuat pengeluaran lebih
besar dari pemasukan negara guna memberi stimulus pada perekonomian.
Umumnya sangat baik digunakan jika keaadaan ekonomi sedang dalam kondisi
resesi.
Pada anggaran defisit, anggaran disusun sedemikian rupa sehingga pengeluaran
lebih besar daripada penerimaan. Anggaran defisit dapat memicu inflasi karena
untuk menutup defisit harus dilakukan dengan mengajukan pinjaman/ utang LN
atau mencetak uang.

E. TUJUAN KEBIJAKAN FISKAL
Tujuan yang ingin dicapai melalui kebijakan fiskal adalahterciptanya stabilitas
ekonomi yang lebih mantap. Artinya secara nasional laju pertumbuhan ekonomi yang
layak tetap dapat dipertahankantanpa adanya angka pengangguran yangsignifikan
serta tetap menjaga stabilitas harga.
Kebijakan ini bertujuan untuk memperbaiki keadaan ekonomi, mengusahakan
kesempatan kerja (mengurangi pengangguran), dan menjaga kestabilan harga-harga
secara umum. Hal ini dilakukan dengan jalan memperbesar dan memperkecil
pengeluaran konsumsi pemerintah (G), jumlah transfer pemerintah (Tr), dan jumlah
pajak (Tx) yang diterima pemerintah sehingga dapat mempengaruhi tingkat
pendapatan nasional (Y) serta tingkat kesempatan kerja (N).
Kebijakan fiskal juga merupakan salah satu paket tindakan pemerintah di bidang
pengeluaran dan penerimaan keuangan negara. Dengan kata lain kebijakan fiskal
mengusahakan peningkatan penerimaan pemerintah dalam rangka meningkatkan
kesejahteraan rakyat dengan cara menyesuaikan pengeluaran dan penerimaan
pemerintah. Pencegahan timbulnya pengangguran merupakan tujuan yangpaling
utama dari kebijakan fiskal karena perekonomiansuatu negara dapat mencapai laju
pertumbuhan yang dikehendaki melaluitingkat penggunaan tenaga kerja penuh (full
employment). Full employmentdapat diartikan sebagai suatu keadaan yang
menunjukkanseluruh angkatan kerja memperoleh pekerjaan. Kondisi ini dapat
terwujudbila pemerintah mampu menambah lapangan kerja melalui berbagai
kebijakan sehinggadapat menampung seluruh tenaga kerja yang tersedia. Kebijakan
yang dilakukanpemerintah untuk mencapai kondisi full employment antara lain
dengan mengundang investorasing untuk berinvestasi di Indonesia. Dari dalam negeri,
pemerintahmenambah pengeluaran untuk membuka lapangan kerja padat
karyamelalui proyek-proyek pembangunan infrastruktur fisik. Sementara di bidang
moneter, bank sentral dapat menerbitkan regulasi yang memudahkan pengajuan kredit
usaha dan penentuan suku bunga yang kondusif bagi dunia usaha.
Dengan berbagai tujuan tersebut, maka secara bersamaan terdapat kebijakan fiskal
jangka pendek atau stabilisasi, dan kebijakan fiskal jangkapanjang. Hal ini terutama
karena di dalam kenyataan, kebanyakan dari langkah-langkahkebijakan fiskal jangka
pendek juga mempunyai konsekuensi jangkapanjang, dan dengan cara yang sama
berbagai langkah kebijakan fiskal jangkapanjang juga mempunyai implikasi-implikasi
jangka pendek. Berdasarkan berbagai tujuan tersebut, terdapat tiga aktivitas utama
dari otoritas fiskal yangmencerminkan fungsi-fungsi spesifik dari kebijakan fiskal.
Ketiga fungsi spesifikdari kebijakan fiskal itu adalah fungsi alokasi, distribusi, dan
stabilisasi. Namun demikian, fungsi kebijakan fiskal lebih jelas ketika meminimalisir
volatilitasatau fluktuasi siklus bisnis, dimana fungsi stabilisasi sangat
dibutuhkanperekonomian. Tujuan utama dari fungsi stabilisasi kebijakan fiskal
adalahmemelihara tingkat pendapatan nasional aktual mendekati potensialnya.
Dengantujuan seperti itu, maka kebijakan stabilisasi seringkali dimaknai
sebagaimanipulasi dari permintaan agregat agar pada saat yang sama mencapai
fullemployment dan stabilitas harga (price stability).Dalam kerangka fungsi stabilisasi
tersebut diatas, kebijakan fiskaldipandang sebagai alat yang sangat ampuh dalam
membantu memperkecil siklusbisnis. Mengingat sumber penyebab terjadinya
fluktuasi ekonomi jangka pendekberasal dari guncangan permintaan agregat dan
penawaran agregat, maka usahauntuk mengendalikan fluktuasi siklus bisnis
seharusnya dilakukan denganmengendalikan permintaan agregat dan penawaran
agregat melalui berbagaiinstrumen kebijakan ekonomi makro, baik kebijakan moneter
maupun kebijakanfiskal yang tepat. Kebijakan-kebijakan ini mempengaruhi siklus
bisnis, sehinggasangat berpotensi menstabilkan perekonomian dari berbagai fluktuasi
siklus bisnisjika dilaksanakan secara baik, tepat, akurat, dan prudent. Sebaliknya,
jikakebijakan-kebijakan tersebut tidak dijalankan dan dikelola dengan baik, justru
akandapat menciptakan masalah baru pada ketidakstabilan ekonomi yang bukan
tidakmungkin bahkan akan lebih buruk lagi (Mankiw, 2007).
Secara singkat dapat kita simpulkan bahwa secara umum kebijkan fiskal bertujuan
untuk:
1. meningkatkankesempatankerja;
2. meningkatkanstabilitasekonomiditengahketidakstabilaninternasional;
3. menanggulangiinflasi;
4. meningkatkandanmendistribusikanpendapatannasional

F. PENERAPAN KEBIJAKAN FISKAL DI INDONESIA
1. Kebijakan Fiskal di Indonesia dari Waktu ke Waktu
Hingga saat ini kebijakan fiskal Indonesia masih menerapkan kebijakan defisit
anggaran. Kebijakan defisit anggaran ditetapkan berdasarkan proyeksi realisasi
penerimaannegara maupun rencana alokasi belanja negara. Penetapan defisit
anggarantersebut tergantung pada kebijakan fiskal yang akan diambil Pemerintah
bersama-samadengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).Kondisi defisit APBN
terkait dengan arah kebijakan fiskal yangdisepakati untuk dicapai. Ketika
kebijakan diarahkan untuk mencapai konsolidasifiskal, maka defisit APBN akan
ditekan untuk tetap rendah, sementara apabilakebijakan diarahkan untuk
memberikan stimulasi fiskal untuk mendorongperekonomian, maka defisit APBN
akan cenderung lebih tinggi.
Dalam periode 2001-2004, kebijakan fiskal lebih diarahkan untuk konsolidasi
fiskalguna mewujudkan kesinambungan fiskal (fiscal sustainability), dan
ketahanan utang yang berkelanjutan (debt sustainability) sehingga defisit APBN
cenderung menurun. Defisit anggaran berhasil ditekan dari 2,4 persen terhadap
PDB padatahun 2001 menjadi 1,1 persen terhadap PDB pada tahun 2004.
Dalam upaya memantapkan proses konsolidasi fiskal tersebut, prioritaskebijakan
fiskal lebih diarahkan untuk:
- peningkatan pendapatan negara,
- mengendalikan dan mempertajam prioritas alokasi dan pemanfaatan anggaran
belanja,
- memperbaiki pengelolaan utang dan pembiayaan anggaran,
- memperbaiki struktur penerimaan dan belanja negara,
- memperbaikipengelolaan keuangan negara agar lebih efektif, efisien dan
berkesinambungan.
Sementara itu, dalam periode 2005 s.d. saat ini, kebijakan fiskal lebih diarahkan
untuk memberikan stimulus pada perekonomian dalam batas
kemampuankeuangan negara dengan tetap menjaga ketahanan fiskal yang
berkelanjutan,sehingga rasio defisit anggaran terhadap PDB meningkat dari 0,5
persen terhadapPDB pada tahun 2005 menjadi 2,1 persen terhadap PDB pada
tahun 2008 Peningkatan rasio defisit terhadap PDB tersebut tetap memperhatikan
ketentuan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara yaitu
jumlahkumulatif defisit APBN dan APBD dibatasi tidak melebihi 3,0 persen
terhadap PDBtahun bersangkutan.
Adapun ringkasan kebijakan fiskal yang dilakukan pemerintah Indonesia pada
tahun 2013 dan 2014 adalah sebagai berikut:
a. Tahun 2013
Kebijakan fiskal pada tahun 2013 diperkirakan masih akan tetap ekspansif, di
mana belanja negara lebih besar dibandingkan pendapatan negara, yang
bertujuan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Arah kebijakan fiskal yang
sejalan dengan tema pembangunan nasional 2013 adalah Mendorong
Pertumbuhan Ekonomi yang berkelanjutan melalui Upaya Penyehatan Fiskal.
Strategi untuk menjaga kesinambungan fiskal:
1) optimalisasi pendapatan negara dengan tetap menjaga iklim investasi,
keberlanjutan dunia usaha, dan kelestarian lingkungan hidup
2) meningkatkan kualitas belanja negara melalui efisiensi belanja yang
kurang produktif dan meningkatkan belanja infrastruktur untuk memacu
pertumbuhan
3) menjaga defisit anggaran pada batas aman (di bawah 3 persen terhadap
PDB)
4) menurunkan rasio utang terhadap PDB dalam batas yang terkendali
Pada 23 Agustus 2013 pemerintah meluncurkan dua jenis insentif fiskal dalam
paket kebijakan ekonomi, yaitu:
1) tambahan pengurangan pajak (additional deduction tax) kepada industri
padat karya
2) penghapusan PPN buku dan PPnBM untuk barang yang dianggap tidak
mewah lagi

b. Tahun 2014
Arah kebijakan fiskal yang sejalan dengan tema pembangunan nasional 2014
adalah Memperkuat Pertumbuhan Ekonomi yang Inklusif, Berkualitas, dan
Berkelanjutan Melalui Pelaksanaan Kebijakan Fiskal yang Sehat dan Efektif.
Langkah-langkah yang akan ditempuh untuk mendorong upaya akselerasi
pertumbuhan ekonomi sekaligus perbaikan pemerataan hasil pembangunan
nasional dengan tetap menjaga kesinambungan fiskal, yaitu:
1) memberikan insentif fiskal untuk kegiatan ekonomi strategis
2) mendorong pembangunan infrastruktur
3) meningkatkan kinerja BUMN dalam mendukung pembangunan
infrastruktur, pemberdayaan koperasi, usaha mikro, kecil, dan menengah
(KUMKM)
4) memanfaatkan utang untuk belanja produktif
Secara umum, kebijakan fiskal tahun 2014 masih bersifat ekspansif dalam
rangka menjaga momentum pertumbuhan dengan tetap mengendalikan defisit
dalam batas aman.

2. Kebijakan Fiskal di Negara Lain
a. Jepang
- Tahun anggaran dimulai pada 1 April sampai dengan 31 Maret tahun
berikutnya.
- Pemerintah Jepang menggunakan tiga jenis anggaran, yaitu: General Account
Budget, Special Account Budget, dan Goverment-Affiliated Agencies Budget.
Kebijakan fiskal yang dilakukan pada tahun berjalan terangkum dalam
General Account.
- FILP (Fiscal Invesment and Loan Program) adalah sebuah sistem yang
dibentuk untuk melaksanakan berbagai kebijakan fiskal dengan memanfaatkan
sumber daya komersial yang dihimpun dari masyarakat.
- Perkembangan Kebijakan Fiskal di Jepang:
1) Pasca perang dunia I 1965
Secara ketat Pemerintah Jepang menerapkan anggaran berimbang, yaitu
jumlah pengeluaran sama persis dengan jumlah penerimaan.
2) 1965 1974
Pemerintah Jepang tidak lagi menerapkan anggaran berimbang, karena
pemerintah diperbolehkan menerbitkan obligasi untuk membangan sarana dan
prasarana publik.
3) 1974 1980
Karena peningkatan harga minyak pada tahun 1973 yang menyebabkan oli
crisis, menyebabkan Pemerintah Jepang diperbolehkan menerbitkan deficit-
financing bond.
4) 1980an 1990an
Karena rasio obligasi terhadap pengeluaran yang sudah begitu besar,
Pemerintah Jepang mulai melakukan upaya-upaya mengurangi deficit-
financing bond, yaitu dengan menerapkan batas anggaran untuk masing-
masing sektor serta reformasi di bidang fiskal.
5) 1990an 1996
Ambruknya masa buble economy menyebabkan kelesuan dalam
perekonomian. Upaya Pemerintah Jepang antara lain: penciptaan mega proyek
dan pemotongan pajak secara signifikan, yang menyebabkan kembali
memuncaknya penjualan obligasi pemerintah.
6) 1997 2000
Krisis ekonomi membuat Pemerintah Jepang melakukan konsolidasi fiskal,
yaitu menaikkan pajak pertambahan nilai, melakukan review, dan
penghematan dari sisi pengeluaran.
7) 2001
Merubah tujuan kebijakan fiskal dari pemulihan ekonomi menjadi reformasi
struktural.
8) 2005 - 2008
Obligasi masih mempunyai peran relative besar terhadap penerimaan negara,
namun penerimaan pajak mulai menunjukkan trend peningkatan.
9) 2013
Perekonomian Jepang telah pulih. Langkah yang telah diambil adalah
penerapan kebijakan fiskal yang fleksibel, agresifitas moneter dan reformasi
struktural. Contoh: memberikan stimulus kepada perusahaan Jepang.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kebijakan fiskal merupakan salah satu kebijakan ekonomi makro yang otoritas utamanya
berada di tangan pemerintah. Secara singkat kebijakan fiskal merupakan kebijakan
pemerintah yangterkait dengan penerimaan atau pengeluaran negara.
Tujuan yang ingin dicapai melalui kebijakan fiskal adalah terciptanya stabilitas ekonomi
yang lebih mantap melalui peningkatankesempatankerja,
peningkatanstabilitasekonomiditengahketidakstabilaninternasional, menanggulangiinflasi,
sertameningkatkandanmendistribusikanpendapatannasional.
Dalam penerapannya di Indonesia selama periode 2001-2004, kebijakan fiskal lebih
diarahkan untuk konsolidasi fiskal guna mewujudkan kesinambungan fiskal (fiscal
sustainability), dan ketahanan utang yang berkelanjutan (debt sustainability) sehingga
defisit APBN cenderung menurun. Sementara itu, dalam periode 2005 sampai dengan
saat ini, kebijakan fiskal lebih diarahkan untuk memberikan stimulus pada perekonomian
dalam batas kemampuan keuangan negara dengan tetap menjaga ketahanan fiskal yang
berkelanjutan.
Sejak awal tahun 2014 ini, nilat tukar rupiah masih berkisar diatas Rp11.000,00. Nilai ini
masih jauh dibandingkan dengan parameter yang digunakan dalam RAPBN 2014, yaitu
sebesar Rp9.750,00. Rentang yang cukup besar ini pasti akan berakibat kepada
peningkatan pengeluaran pemerintah, terutama dari sektor subsidi BBM sebagai
pengeluaran terbesar pemerintah. Keadaan tersebut merupakan tantangan yang tidak
mudah bagi pemerintah dalam penetapkan kebijakan fiskalnya selama tahun berjalan
supaya kondisi ekonomi Indonesia tetap dapat berkembang sebagaimana yang kita
kehendaki.

B. Saran
Penentuan jenis kebijakan fiskal yang akan diterapkan di suatu negara hendaknya
disesuaikan dengan keadaan ekonomi serta tujuan yang hendak dicapai. Ketika suatu
negara hendak mendorong pertumbuhan ekonomi dengan memberikan stimulus pada
perekonomiannya, maka negara tersebut dapat menerapkan kebijakan anggaran defisit.
Namun, penggunaan anggaran harus dilakukan secara efektif dan efisien agar kebijakan
defisit anggaran yang dilakukan tidak menjadi sia-sia dan dapat benar-benar memberikan
stimulus pada perekonomian. Terutama apabila pembiayaan atas defisit tersebut
dilakukan melalui utang. Diharapkan economic rate of return utang yang digunakan oleh
pemerintah lebih besar dari cost of debt sehingga dengan demikian utang tersebut masih
dapat dikategorikan sehat dan bermanfaat.






























DAFTAR PUSTAKA

Sadono Sukirno. Makroekonomi Teori Pengantar. Edisi Ketiga. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persaja. 1994.
Case, Fair, Oster. Principles of Macroeconomics. Ninth Edition. New Jersey: Pearson
Education. 2002.
Noor Cholis Madjid, Kebijakan Fiskal dan Penyusunan APBN. Jakarta: Pusat Pendidikan dan
Pelatihan Keuangan Anggaran dan Perbendaharaan, BPPK, Kementerian Keuangan.
2012.
Nota Keuangan dan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran
2014.
Nota Keuangan dan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran
2013.
Macroeconomic Dashboard Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gajah Mada.
Indonesia Economic Review and Outlook. No 3/Tahun II/September 2013.
http://www.kemenkeu.go.id/
http://www.fiskal.kemenkeu.go.id/