Anda di halaman 1dari 19

TUJUAN PELAJARAN

DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR
1. Dasar-dasar Pembakaran

2.Kimia Bahan Bakar
2.1.Molekul
2.2.Campuran
2.3.Komposisi Kimia

3. Analisis Bahan Bakar
3.1. Analisis Pendekatan (Proximate Analysis)
3.2. Analisis Ultimate (ultimate analyisis)

4. Proses Pembakaran
4.1 Reaksi Kimia
4.2 Indikasi Pembakaran

5. Udara Pembakaran

6. Udara Lebih (Excess Air)

7. Sistem Pembakaran di Dalam Boiler
7.1 Oil Firing Sistem
7.2 Coal Firing Sistem

8. Alat Ukur Sistem Pembakaran
8.1 Pengukuran Temperatur
8.2 pengukuran Tekanan
8.3 Pengukuran Level
8.4 Pengukuran Aliran







1. Dasar-Dasar Pembakaran
Pembakaran adalah reaksi kimia yang terjadi antara material yang dapat terbakar dengan
oksigen pada volume dan temperatur tertentu. Pembakaran akan terjadi bila ada 3 sumber yaitu:
- Bahan bakar
- Oksigen
- Sumber nyala/panas
Ketiga unsur ini biasa disebut dengan segitiga pembakaran. Pada kondisi tertentu, bahan bakar
akan terbakar dengan sendirinya tanpa bantuan sumber penyalaan. Pembakaran semacam ini
disebut PEMBAKARAN SPONTAN.
Pembakaran spontan dapat terjadi apabila terdapat oksigen yang kontak langsung dengan
bahan bakar serta temperatur bahan bakar dapat disebabkan oleh tekanan atau reaksi kimia
yang menghasilkan panas.
Kecepatan pembakaran dan efesiensi pembakaran akan tergantung pada tiga T, yaitu :
a. Time (Waktu)
Setiap reaksi kimia memerlukan waktu tertentu. Untuk pembakaran bahan bakar harus
diusahakan tetap berada pada zone pembakaran di dalam ruang bakar pada waktu yang
cukup seluruh bahan bakar akan terbakar dengan sempurna.
b. Temperatur
Supaya proses pembakaran suatu zat dapat terjadi, maka temperatur dari zat tersebut
harus berada pada suatu harga tertentu yang cukup untuk memulai terjadinya reaksi
pembakaran. Harga temperatur ini tergantung pada komposisi kimia dari masing-masing zat
dan temperatur ini disebut sebagai TEMPERATUR PENYALAAN. Karena itu temperatur
ruang bakar boiler harus cukup tinggi untuk menjamin bahwa campuran bahan bakar dan
udara akan mencapai temperatur penyalaannya pada zona (daerah) pembakaran.
c. Turbulensi
Oksigen di dalam udara yang dialirkan ke ruang bakar ada kemungkinan dapat langsung
mengalir ke cerobong tanpa kontak dengan bahan bakar. Hal semacam ini dapat di hindari
dengan cara memusarkan aliran udara. Turbulensi udara akan membentuk percampuran
yang baik antara udara bahan bakar sehingga akan diperoleh proses pembakaran yang
sempurna.
Oleh sebab itu faktor 3T tersebut harus selalu dijaga sebab :
- Bila temperatur ruang bakar lebih rendah dari temperatur penyalaan campuran, maka
campuran tidak akan terbakar dengan baik, bahan dapat mematikan nyala api (flame failure).
- Bila hembusan yang terlalu kuat pada sisi masuk ruang bakar, tur bulensi yang kurang
baik, serta ukuran partikel bahan bakar yang besar akan menghasilkan suatu pembakaran
yang kurang sempurna di dalam ruang bakar. Akhirnya, bahan bakar yang belum sempat
terbakar di ruang bakar akan terbakar di luar zone pembakaran dalam ketel uap.
Komplikasi selanjutnya adalah bahwa campuran bahan bakar/udara pada ruang bakar yang
volumenya besar. Sehingga dapat membentuk campuran kurus (weak mixture) yang akan
meningkatkan resiko terjadinya ledakan (explosion).
2. Kimia Bahan Bakar
Tiga jenis bahan bakar yang banyak dipakai di unit pembangkit adalah bahan bakar padat, cair
dan gas. Bahan bakar merupakan suatu senyawa hydrocarbon yang terdiri dari unsur-unsur
yang membentuk reaksi pembakaran dengan oksigen. Secara elemneter komposisi bahan
bakar terdiri dari unsur-unsur hidrogen (H), carbon (C) dan sulfur (S).

Apabila suatu unsur dipecah menjadi bagian yang kecil, maka bagian terkecil dari suatu unsur
disebut dengan atom. Atom merupakan bagian terkecil dari sutau unsur yang masih memiliki
sifat-sifat unsur. Berat atom suatu unsur adalah kelipatan terhadap berat atom unsur hidrogen.
Dalam hal ini berat atom hidrogen dianggap = 1.

2.1 Molekul
Apabila atom-atom bergabung satu dengan yang lain secara kimia, maka dihasilkan molekul.
Atom-atom dari unsur-unsur misalnya hidrogen, oksigen dan nitrogen tidak pernah berdiri
sendiri. Atom-atom dari unsur-unsur tersebut selalu bergabung dan membentuk pasangan-
pasangan ( H
2
, O
2
, N
2
, ) dan gabungan-gabungan ini juga dinamakan molekul.

Apabila molekul bergabung sesuai dengan aturan tertentu maka masing-masing atom atau
molekul akan memiliki energi gabungan dibandingkan atom hidrogen. Energi gabungan
tersebut dinamakan valensi.
Berat molekul suatu unsur merupakan jumlah berat atom pembentuknya. Berat molekul
senyawa adalah berat seluruh atom unsur pembentuknya. Contoh berat molekul ataupun berat
atom suatu unsur dapat dilihat pada tabel dibawah.
2.2 Campuran
Jika kita meletakan sejumlah unsur belerang dan karbon kedalam suatu tabung (Container),
kemudian dikocok, maka kedua unsur tersebut akan bercampur. Tetapi selama proses
pencampuran tersebut, kedua unsur tidak mengalami perubahan sifat dalam arti campuran
kedua unsur tersebut masih dapat dipisahkan secara fisik. Dalam istilah kimia, proses seperti ini
disebut campuran. Pada campuran, tidak akan terjadi penggabungan atom-atom. Air laut
adalah salah satu contoh dari suatu campuran yang terdiri dari garam ( Na Cl ) dengan air (H
2

O ). Dalam campuran tersebut kedua macam molekul tidak mengalami perubahan struktur
berbeda itu tidak berubah pada campuran.
2.3 Komposisi Kimia
Molekul adalah ikatan dari beberapa atom unsur yang sejenis maupun unsur yang berlainan.
Apabila atom-atom atau molekul-molekul unsur bercampur dengan atom-atom atau molekul-
molekul unsur lain sehingga membentuk suatu zat baru yang memiliki sifat berbeda dengan
unsur-unsur aslinya, maka proses seperti ini disebut sebagai reaksi kimia . Bahan atau zat
yang terbentuk sebagai hasil reaksi dinamakan sebagai komposisi kimia atau senyawa (
Chemical Compound ).

Didalam setiap reaksi kimia selalu menghasilkan atau mngeluarkan panas. Jika kita
mereaksikan partikel-partikel karbon dengan oksigen secara sempurna, maka akan dihasilkan
gas karbon dioksida ( CO
2
). Kita dapat menyatakan reaksi tersebut sebagai : Carbon plus
oksigen menjadi carbon dioksida.



UNSUR
SIMBOL
MOLEKUL
BERAT
ATOM
BERAT
MOLEKUL
WUJUD
Hydrogen H
2
1 2 GAS
Carbon C 12 PADAT
Nitrogen N
2
14 28 GAS
Oxygen O
2
16 32 GAS
Sulfur S 32 - PADAT
Uap Air H
2
O - 18 UAP
Carbon monoxide CO - 28 GAS
Carbon dioxide CO
2
- 44 GAS
Methane CH
4
-
Acetylene C
2
H
2
-

3. Analisis Bahan Bakar

Analisis bahan bakar biasanya dilakukan untuk menentukan macam-macam unsur
dalam bahan bakar yang tidak jarang memerlukan waktu.
Bagi keperluan rutin, testing bahan bakar batubara hanya dilakukan untuk menentukan :
1. Kandungan embun.
2. Kandungan abu.
3. Nilai kalor.
4. Kandungan belerang.

Tetapi setiap laboratorium pembangkit listrik juga melakukan pengujian untuk
memperoleh data mengenai karakteristik-karakteristik lain batubara yang dianggap
penting sesuai dengan kebutuhan unit pembangkitan yang bersangkutan. Ada 2 macam
analisis yang lazim dilakukan terhadap batubara yaitu :
3.1Analisis Pendekatan (Proximate Analysis)
Analisis pendekatan merupakan suatu analisis yang dilakukan untuk menentukan
kandungan air (moisture), zat terbang (volatile matter) abu serta carbon tetap (fixed
carbon). Untuk melengkapi hasil pengujian, biasanya dicantumkan juga data tentang
nilai kalor dan kandungan belerang.

a. Ash (Abu).
Terdapat tiga tipe abu , yaitu
1. Inherent ash (abu inherent) - kandungan abu yang tidak dapat dihilangkan dengan
metoda pembersihan apapun. Abu inherent boleh dianggap sama seperti unsur-
unsur pokok mineral dari bahan tumbuhan dari mana batubara diperoleh, ditambah
endapan (lumpur) dimana tumbuhan itu tumbuh.
2. Associated ash (abu campuran) - terdapat pada lapisan batubara sebagai bercak-
bercak. Diantaranya terdiri dari semacam zat mineral yang belum terpisahkan dari
bongkahan-bongkahan batubara selama penambangan.
3. Adventitous ash - tidak terdapat pada lapisan, tetapi berasal dari lantai atau atap
tambang yang tergantung pada kondisi geologis setempat. Adventitous ash
mungkin berupa lempung (tanah liat) tahan api atau serpihan Carbon dari tanah liat
yang mengendap pada air dangkal dilokasi tambang batubara.

b. Zat Terbang (Volatile).
Zat terbang dipakai sebagai pedoman dalam sistem klasifikasi batubara karena zat
terbang dapat mencerminkan tipe batubara serta karakteristiknya dalam suatu proses
pembakaran. Pengukuran dilakukan dengan cara memanaskan 1 gram sampel
betubara dalam wadah peleburan pada 900
0
C selama 7 menit tanpa kontak
langsung dengan udara. Dihitung berdasarkan berkurangnya berat setelah dikurangi
dengan pengurangan berat karena hilangna uap air. Zat terbang terdiri dari Hidrogen
dan Nitrogen yang ada dalam batubara dan campuran organik yang amat kompleks
dari unsur kimia.





c. Fixed Carbon (Karbon Tetap).
Karbon tetap adalah zat yang tidak menguap dan tersisa setelah moisture, volatile
matter (zat terbang) dan kadar abu dihilangkan.

Fixed Carbon = 100 % - % Moisture - % Volatile Matter - % Abu.

Sulfur (belerang) dihitung terpisah, kadang-kadang dihitung sekaliian pada penentuan
nilai kalor.

3.2Analisis Ultimate (ultimate analyisis)

Analisis ultimat yang memberikan data tentang komposisi bahan bakar dalam
presentase untuk Nitrogen, Oksigen, Carbon, abu, belerang Chlor dan Hidrogen.
Analisis ultimat adalah suatu analisis yang dilakukan untuk menentukan unsur-unsur
yang terkandung dalam bahan bakar termasuk Chlorine, Phospor dan lain
sebagainya. Untuk keperluan yang berkaitan dengan teknologi bahan bakar, analisis
ultimat terhadap batubara terutama dilakukan untuk mengetahui kandungan Carbon,
Hidrogen, Nitrogen dan Sulfur.

Kandungan Oksigen biasanya ditentukan setelah unsur-unsur tersebut diatas diketahui
yaitu dengan cara 100 dkurangi jumlah unsur-unsur tersebut dinyatakan dalam persen.
Analisis ultimat merupakan sesuatu yang penting terutama dalam aplikasinya untuk
keperluan perhitungan dalam bidang teori pembakaran serta neraca panas.

4. Proses Pembakaran

Pembakaran adalah reaksi kimia yang terjadi jika material mudah terbakar (combustible)
bereaksi dengan oksigen sehingga menghasilkan sejumlah panas yang besar. Untuk
mendukung terjadinya pembakaran diperlukan tiga kondisi yang harus dipenuhi secara
bersamaan, yaitu :

a. Adanya Oksigen
Didalam kimia pembakaran kita memerlukan bercampurnya bahan bakar dengan
oksigen. Tanpa oksigen pembakaran tidak akan terjadi. Didalam praktek, oksigen
diperoleh dari udara
b. Bahan Bakar
Bahan bakar hanya akan menyala apabila temperaturnya naik hingga sesuai dengan
temperatur oksigen. Temperatur ini disebut sebagai temperatur penyalaan (ignition
temperature). Semua material combustible mempunyai temperatur penyalaan
sendiri-sendiri.
c. Sumber Penyalaan
Proses pembakaran hanya dapat terjadi bila bahan bakar dan oksigen yang berada
atau diatas temperatur penyalaan dinyalakan oleh sumber penyalaan. Sumber ini
dapat berupa percikan api, api, bara atau metal yang membara.

Ketiga unsur tersebut biasa disebut dengan segitiga api. Kenaikan temperatur material
combustible dapat disebabkan oleh tekanan atau reaksi kimia yang menghasilkan
panas.

Pada kondisi tertentu bahan bakar dapat terbakar dengan sendirinya tanpa bantuan
sumber penyalaan. Pembakaran semacam ini disebut pembakaran spontan.
Pembakaran spontan dapat terjadi apabila terdapat oksigen yang kontak langsung
dengan bahan bakar serta temperatur bahan bakar disebabkan oleh tekanan atau reaksi
kimia yang menghasilkan panas.




4.1Reaksi Kimia.

Dalam setiap bahan bakar, unsur yang mudah terbakar adalah Carbon, Hidrogen dan
Sulfur. Karena itu, hanya ketiga unsur inilah yang banyak dibahas dalam persamaan
rekasi pembakaran.

a. Carbon (zat arang) :
Dalam pembakaran ( reaksi pembakaran bahan bakar dengan Oksigen), Carbon dan
Oksigen bisa menghasilkan dua hasil akhir yang berbeda.
Jika tidak ada cukup oksigen, maka karbon tidak akan terbakar seluruhnya. Dua
macam persamaan rekasi pembakaran karbon adalah sebagai berikut :

C + O
2
CO
2



(untuk Carbon yang terbakar sempurna dan panas yang dihasilkan adalah 8100
Kcal/Kg atau 33.940 kj/kg).

2C + O2 2CO

(untuk pembakaran Carbon yang tidak sempurna dan panas yang dihasilkan sebesar
2370 Kcal/Kg atau 10120 kj/kg).

Reaksi yang kedua menghasilkan produk Carbon monoksida.

Mengingat pembakaran tidak sempurna tidak dikehendaki karena tidak seluruh nilai
kalor Carbon dilepaskan, maka kita harus memastikan bahwa jumlah Oksigen cukup
tersedia untuk membentuk persamaan jumlah reaksi yang pertama. Nanti akan kita
lihat bahwa, dalam operasi ketel, kadar Carbon monoksida didalam gas cerobong
dimonitor dengan teliti dan proses pembakaran dalam ketel diatur sedemikian rupa
untuk memperoleh kandungan Carbon monoksida yang minimum.


b. Hidrogen :
Hidrogen dalam bahan bakar yang dibakar akan menghasilkan uap air, sesuai dengan
reaksi berikut :

2 H
2
+ O
2
2 H
2
O

Panas yang ditimbulkan sebesar 34.000 Kcal/Kg.

c. Sulfur :
Sulfur yang dibakar akan menghasilkan gas Sulfurdioksida dengan reaksi :


S + O
2
SO
2


Panas yang ditimbulkan sebesar 2.500 Kcal/Kg.

4.2Indikasi Pembakaran
Kwalitas pembakaran di Boiler dapat dilihat dari parameter sebagai berikut :
a. Asap
b. Karbon dalam abu dan debu
c. Adanya karbon monoksida
d. Keadaan nyala api
e. Keadaan ruang bakar

a. Asap
Gas buang yang keluar dari cerobong yang kotor (hitam) disebabkan oleh :
1. Debu, adanya debu dan grit (pasir halus) yang bercampur dengan gas
2. Karbon, adanya karbon yang tidak terbakar
3. Gas berwarna, adanya gas berwarna (sulfur dioksida dan nitrous dioksida)
yang dihasilkan oleh pembakaran minyak
4. Uap, zat cair yang menguap (untuk boiler yang tidak dilengkapi dengan
FGD).

Asap adalah benda yang dapat dilihat yang terbawa oleh gas buang. Seringkali
menganggap bahwa cerobong yang berasap merupakan indikator terhadap terjadinya
proses pembakaran yang tidak efisien (sempurna). Secara umum dapat dikatakan
bahwa asap merupakan bukti adanya jelaga (soot) sebagai akibat adanya karbon
yang tidak terbakar didalam gas buang. Meskipun demikian anggapan ini tidak selalu
benar.

b. Karbon dalam abu dan debu
Untuk mengetahui pembakaran yang sempurna adalah dengan menyelidiki sisa
bahan bakar yang tidak terbakar. Unsur yang dimonitor adalah karbon yang terdapat
dalam abu sisa pembakaran. Adanya karbon dalam abu merupakan kerugian dan ini
dapat mencapai 0,5% dari seluruh kerugian boiler. Tetapi kenyataannya kerugian
tersebut dapat mencapai lebih dari 0,5% dalam kondisi operasi normal.

Usaha boiler batubara untuk meniadakan semua karbon yang tidak terbakar dari abu
dan debu sisa pembakaran merupakan hal yang kurang ekonomis. Yang dapat
dilakukan adalah membatasi kadar karbon dalam abu dan debu sekecil mungkin,
angka 1,5 % dapat dianggap normal.

c. Karbon monoksida
Adanya karbon monoksida (CO) didalam aliran gas bekas menunjukkan terjadinya
pembakaran yang tidak sempurna. Hal ini dikuatkan dengan kenyataan bahwa karbon
monoksida itu sendiri adalah zat yang masih dapat terbakar dan bila bereaksi dengan
oksigen akan menghasilkan panas dalam jumlah yang besar

2 CO + O
2
2 CO
2



Dengan demikian hilangnya karbon monoksida yang keluar bersama dengan gas
bekas menunjukkan bertambahnya kerugian panas ke cerobong sehingga
mengurangi efisiensi boiler. Bila kadar CO dalam gas asap bertambah ini berarti
jumlah panas yang hilang terbawa gas asap semakin besar.


d. Keadaan nyala api
Melalui flame detector ruang bakar dapat di indikasi adanya pembakaran yang
sempurna atau tidak sempurna.

Pembakaran sempurna, apabila bentuk lidah api pada burner memanjang dan
nyalanya terang. Pembakaran tidak sempurna, apabila bentuk lidah api pendek dan
nyalanya redup.

e. Keadaan Ruang Bakar
Pembakaran tidak sempurna diruang bakar dapat diketahui dari banyaknya jelaga di
dinding ruang bakar.


5. Udara Pembakaran

Kita membicarakan diatas bahwa untuk membakar bahan bakar diperlukan oksigen.
Proses pembakaran dengan menggunakan oksigen murni secara praktis sangat
mahal. Selain itu juga akan menghasilkan temperatur setempat yang sangat tinggi
didalam ruang bakar sehingga dapat merusak pipa-pipa boiler dan metal-metal casing
boiler. Karena itu kita menggunakan sumber oksigen yang lebih murah.

Jika kita mengabaikan presentase yang amat kecil dari gas-gas lembam ( inert gases
) yang ada didalam udara seperti neon, zenon, dan lain-lain, kita dapat menganggap
udara kering merupakan campuran gas nitrogen dan oksigen. Kita dapat mengukur
volume atau berat oksigen dan nitrogen didalam udara.
Prosentase unsur-unsur tersebut dalam udara adalah :

Dalam persen berat : Oksigen 23,20 % dan Nitrogen 76,8 %
Dalam persen volume : Oksigen 21 % dan Nitrogen 79 %

Perbedaan tersebut disebabkan karena perbedaan berat jenis atom nitrogen dan
oksigen. Nitrogen didalam udara tidak ambil bagian dalam reaksi pembakaran dan
keluar cerobong tanpa mengalami perubahan. Disamping membantu mendinginkan
ruang bakar, nitrogen juga dianggap merugikan, karena melemahkan atau
mengencerkan oksigen sehingga dapat menggangu kontak langsung antara molekul-
molekul oksigen dengan partikel-partikel bahan bakar.

Untuk menghitung kebutuhan udara minimum yang diperlukan untuk suatu proses
pembakaran sempurna, maka data komposisi bahan bakar harus diperoleh melalui
analisa ultimate yang akan dibahas pada bagian lain.
Persamaan pembakaran untuk karbon sebagaimana dinyatakan sebelumnya yakni :

Carbon + Oxygen Carbon Dioxide
C + O
2
CO
2




Dari tabel molekul dan berat atom, dapat dilihat bahwa :



Ini berarti bahwa setiap kg karbon memerlukan 32/12 atau 8/3 atau 2,66, Kg oksigen
untuk pembakaran sempurna menjadi karbon dioksida.

Begitu juga persamaan untuk hidrogen memberikan :




maka ,







Dari persamaan tersebut didapat bahwa untuk setiap 1 Kg hidrogen memerlukan 8 Kg
oksigen untuk pembakaran sempurna menjadi air. Apabila didalam bahan bakar
mengandung oksigen, maka oksigen tersebut dianggap bereaksi dengan hidrogen
dalam bahan bakar. Oleh karena itu hidrogen yang akan bereaksi dengan oksigen
dari udara tinggal (H O/8 )

Begitu juga untuk belerang. persamaan pembakaran adalah :




12 kg + 32 kg 44 Kg
Carbon Oxygen Carbon Dioxide
Hydrogen + Oxygen Air
2 H
2
+ O
2
2 H
2
O
4 kg + 32 kg 36 Kg
Hydrogen Oxygen Carbon Dioxide
1 kg + 8 kg 9 Kg
Hydrogen Oxygen Carbon Dioxide
Sulphur + Oxygen Sulphur dioxide
S + O
2
SO
2

Maka :



Atau




Setiap 1 Kg sulphur memerlukan 1 Kg Oxygen untuk pembakaran sempurna agar
dapat menjadi 2 Kg sulphur dioxide.

Jika oxygen yang diperlukan untuk membakar semua unsur dalam batu bara dihitung
dan kemudian ditambahkan bersama-sama, maka jumlah minimum oxygen yang
diperlukan dalam teori untuk pembakaran sempurna akan diperoleh.

Pada kenyataannya batu bara sendiri juga mengandung oksigen. Oksigen ini akan
dilepas selama proses pembakaran dan akan dapat bereaksi dengan bahan yang bisa
terbakar. Karena itu, oksigen total yang dibutuhkan dari udara harus dikurangi dengan
kadar oksigen yang terkandung dalam bahan bakar sendiri.


Karena dalam udara terdapat 23,2 % oksigen dalam perhitungan berat, maka untuk
membakar 1 kg bahan bakar diperlukan udara sebesar :


100
23, 20
x Total Oxygen
Atau
4, 31 x Total Oxygen


formula untuk menghitung udara teoritis ini adalah :

8
4, 31 8
3 8
O
C H S
| |
| |
| |
\ . \
+
.
+

Atau
32 kg + 32 kg 64 Kg
Sulphur Oxygen Sulphur dioxide
1 kg + 1 kg 2 Kg
Sulphur Oxygen Sulphur dioxide

4, 31 2.66 8
8
O
C H S
| |
| |
| |
\ . \
+
.
+


Dimana : C = % carbon / Kg bahan bakar
H = % hydrogen / Kg bahan bakar
O = % Oxygen / Kg bahan bakar
S = % Sulphure / Kg bahan bakar













Contoh :
Sejumlah batu bara mempunyai ultimasi :

Karbon ( Carbon ) C = 56.8 %
Hidrogen ( Hydrogen ) H = 3.7 %
Nitrogen ( Nytrogen ) N = 1.3 %
Belerang ( Sulphur ) S = 2.0 %
Oksigen ( Oxygen ) O = 7.0 %
Abu ( Ash ) = 16.7 %
Kebasahan ( Moisture ) = 12.6 %
100 %

1. Oksigen minimum yang diperlukan untuk karbon.
Karbon didalam 1 Kg bahan bakar = 0.568 Kg. Jika 1 Kg karbon memerlukan 2.66
Kg oksigen, sehingga 0.568 Kg karbon memerlukan 2.66 x 0.568 Kg = 1.516.

2. Oksigen minimum yang diperlukan untuk Hidrogen
Hidrogen dalam 1 Kg bahan bakar = 0.037 Kg. Jika 1 Kg hidrogen memerlukan 8
Kg oksigen, maka 0.037 Kg hidrogen memerlukan 0.037 x 8 Kg = 0.296 Kg

3. Oksigen minimum yang diperlukan untuk belerang
Belerang dalam 1 kg bahan bakar = 0.02 Kg. Jika 1 Kg belerang memerlukan 1 Kg
oksigen, maka 0.02 Kg belerang memerlukan 1 x 0.02 Kg = 0.02 Kg.

Nitrogen dan abu adalah bukan zat yang bisa terbakar dan tidak memerlukan oksigen.
Oksigen didalam 1 Kg bahan bakar adalah 0.07 Kg.






Maka dari persamaan diatas diperoleh :
Kebutuhan udara minimum =





Jadi 1 Kg bahan bakar Batubara membutuhkan udara minimum seberat 7.594 Kg
Udara.


6. Udara Lebih (Excess Air)


Kebutuhan Udara Minimum = 4,31 ( 1,516 + 0,296 + 0.02 - 0.07 ) Kg
Kebutuhan Udara Minimum = 4,31 x 1.762 Kg
Kebutuhan Udara Minimum = 7.594 Kg

Perhitungan-perhitungan yang menunjukkan kebutuhan udara minimum atau
kebutuhan udara teoritis untuk membakar 1 Kg bahan bakar dengan sempurna telah
dibahas. Tetapi dalam praktek, tidak mungkin memperoleh pembakaran sempurna
hanya dengan memberikan jumlah udara sebanyak kebutuhan udara minimum. Oleh
karena itu diberikan sejumlah udara lebih atau oksigen lebih untuk menjamin
pembakaran sempurna. Tetapi udara lebih juga akan membawa panas keluar
kecerobong. Karena itu, suatu kompromi harus dibuat antara usaha untuk
memperoleh pembakaran sempurna dengan kerugian cerobong yang berlebihan.

Pengaruh pembakaran hanya dengan sejumlah udara teoritis saja dapat dilihat pada
gambar 4.1. Dari sini, terlihat bahwa 10 % dari potensi panas bahan bakar hilang
sebagai karbon tak terbakar. Sedangkan lebih dari 15 % sebagai kehilangan panas
yang terbawa oleh gas keluar cerobong. Pemberian udara lebih, yakni dengan
memasukkan lebih banyak udara kedalam ruang bakar, akan mengurangi kerugian
atau kehilangan tersebut.

Tambahan oksigen akan bereaksi dengan karbon sehingga akan menurunkan kadar
karbon dalam abu. Selain itu juga akan mengurangi kandungan karbon monoksida
didalam gas bekas, sehingga mengurangi kerugian gas yang tidak terbakar seperti
terlihat pada gambar.



























Gambar 1 Unsur dalam gas buang dan kurva udara lebih

Jika udara lebih ditingkatkan atau dinaikkan lagi diatas 20% excess air kerugian
karena kehilangan panas akan kembali meningkat karena temperatur boiler akan
turun yang disebabkan oleh waktu yang dipakai untuk proses transfer panas dari gas
bekas ke uap dalam superheater menjadi lebih singkat karena meningkatkan
kecepatan gas asap di daerah superheater. Penambahan Excess air juga dapat
menyebabkan kenaikan pemakaian daya FDF dan IDF yang berpotensi fan tersebut
Over load.

Jumlah udara lebih yang dibutuhkan tergantung pada jenis boiler, komposisi bahan
bakar, dan jenis bahan bakar, apakah ini batu bara, minyak atau gas. Namun secara
umum, jumlah udara lebih pada boiler-boiler modern berkisar antara-antara 19 % - 35
%.

Presentase udara lebih dapat dihitung dengan rumus :


100 %

Udara Aktual Udara Minimum
Excess Air X
Udara Minimum
=

Atau bila kadar CO
2
dideteksi dan presentasenya diketahui maka :

2
2
1
% 100%

CO Teoritis
Excess Air X
CO Aktual
| |
|
\ .
=

Apabila kadar O
2
dalam gas buang diketahui, maka excess dapat dihitung dengan

2
2
% 100%
21
O
Excess Air X
O
=



Secara umum, presentase teoritis karbon dioksida untuk berbagai bahan bakar
diberikan pada tabel dibawah ini :

NO BAHAN BAKAR % CO
2

1 Bahan bakar Minyak 15.30
2 Batu Bara Bitumious 18.50
3 Gas Alam ( Natural Gas ) 11.70