Anda di halaman 1dari 25

CACAR AIR Varicella

Zooster Virus (VZV)


LETTA KUSUMA SAMUDRA
1061050084
FK UKI
DEFINISI
Varisela adalah penyakit kulit dengan
kelainan berbentuk visikel yang tersebar,
terutama menyerang anak-anak, bersifat
mudah menular yang disebabkan oleh
virus Varisela Zoster.

Etiologi
Disebabkan oleh virus Varisela zosteryang
merupakankelompok virus herpes
berukuran 140-200 mikro berinti DNA.
Penamaan virus ini memberi pengertian
bahwa infeksi primer virus ini
menyebabkan timbulnya penyakit varisela,
sedangkan reaktivasi (keadaan kambuh
setelah sembuh dari varisela)
menyebabkan herves zoster.


Negara barat: insidens varisela winter dan awal musim semi
Indonesia: musim peralihan panas hujan atau sebaliknya
Menjadi penyakit musiman: penularan seorang penderita di
populasi padat, penyebaran di satu sekolah
Terutama menyerang anak-anak < 10 th, terbanyak 5-9 th
Sangat menular: 75 % anak terjangkit setelah penularan.
Cara penularan: sekret saluran pernapasan, percikan ludah,
kontak dengan lesi cairan vesikel, pustula, dan secara
transplasental.
Individu herpes zoster juga dapat menyebarkan varisela.
Masa inkubasi 14-21 hari.
Pasien menjadi sangat infektif sekitar 24 48 jam sebelum lesi
kulit timbul sampai lesi menjadi krusta biasanya sekitar 5 hari


Epidemiologi
0
5
10
15
20
25
30
<1 1-14 15-19 20-29 30+
Age group (yrs)
R
a
t
e
Varicella Fatality Rate in
Healthy Persons
*Deaths per 100,000 cases

Masa inkubasi

Waktu inkubasi untuk cacar air adalah 10 sampai
21 hari,
hal ini bisa ditandai dengan badan yang terasa
panas. diikuti dengan ruam berbintik merah pada
mulanya, yang kemudian menjadi lepuh dalam
waktu beberapa jam. Bintik-bintik ini biasanya
timbul di badan, muka dan bagian tubuh yang
lain.


Cara penularan
Penularannya bisa melaui kontak langsung dan
tidak langsung, tapi infeksi primernya melalui
hawa nafas
Virusnya yang terdapat diudara, berasal dari debu
pakaian, tempat tidur, dari keropeng yang jatuh
ditanah ataupun dari hawa napas
sipenderita,terhirup bersama hawa pernapasan
sehingga terjadi penularan.

Herpes Zoster/
Shingles/
Dampa/ Cacar Ular
Infeksi
primer




Varicella Zoster
Virus
Varisela (Cacar air)
Etiologi:
Varicella Zoster Virus
Infeksi
sekunder
Varisela
- Infeksi : kekebalan yang
berlangsung lama; serangan
kedua jarang terjadi, biasanya
menjadi laten

- Menjadi Herpes zoster : 15 %
dewasa dan kadang pada anak

- Pada pasien yang status imun
menurun(immunocompromise)
timbul penyulit hingga kematian
Varicella Zoster Virus (VZV)
Penyebab varisela dan Herpes Zoster
Termasuk kelompok Herpes Virus
Berkapsul : 150-200 nm
Inti disebut capsid yang berbentuk
ikosahedral
Inti: protein dan DNA berantai ganda
Protein tegument replikasi virus.
Bentuk garis
Disusun 162 isomer
Sifat infeksius
VZV melekat pada heparin sulfate
proteoglycan pada permukaan sel dan
berikatan dengan reseptor sebelum
memasuki sel.
Replikasi (4-10 jam) ekspresi
protein virus dan membentuk formasi
multinucleated giant cells



Patogenesis

Hari 1 VZV masuk ke dalam tubuh manusia melalui mukosa traktus
respiratorius bagian atas (orofaring)
Hari 4-6 Mengalami multiplikasi awal penyebaran virus ke pembuluh darah
dan saluran limfe : viremia primer virus ke sel RE limfe, hati,
organ lain berkumpul dalam makrofag mekanisme pertahanan
tubuh (interferon, sel NK dan respon imun)
7-14
hari
Virus dapat bertahan dari respons imun non-spesifik Jumlah >>
banyak
Viremia sekunder virus berkumpul di dalam Limfosit T
menyebar ke kulit dan mukosa dan bereplikasi di epidermis : lesi
varisela.
14-21
hari
Lesi awal : infeksi kapiler endotel papil dermis epitel dermis,
folikel dan kel sebasea demam dan malaise

Patogenesis
Patofisiologi
VIRUS
Replikas
& migrasi
Hilang
24 jam
Hati & sel
mononuclear
Menyebar
ke kel. limfe
orofaring
replikasi
pem,.
Darah &
Limfe
Berkembang
biak
Sel retikulo
endotellial
Demam &
Malaise
Menyebar
di pem.
Darah
Jaringan kulit
Lesi
mokulopapular
6-8 jam
Penegakan diagnosis
Anamnesis
Riwayat imunisasi
Lingkungan sekitar
Waktu timbulnya gejala
Gejala penyerta

pemeriksaan fisik
karakteristik lesi (Gambaran lesi bergelombang, polimorfi dengan
penyebaran sentrifugal)

pemeriksaan penunjang
Tzanck smear (dengan pewarnaan giemsa) untuk menemukan multinuclear giant cell
Direct fluorescent assay (DFA) untuk menemukan antigen VZV
PCR untuk menemukan DNA dan protein VZV
Biopsy pada vesikel intraepidermal untuk melihat adanya degenerasi sel epidermal
Diagnosa banding
Hand-foot-mouth disease (intradermal
balloning dan degenerasi retikular keratinosit)
Herpes zoster generalisata (lebih sering
menyerang dewasa, riwayat cacar
air sebelumnya, ruam sejajar dermatom,
nyeri hebat)
Herpes simplex ( lesi berkelompok, nyeri
hebat)
Dermatitis kontak (riwayat kontak dengan
bahan iritan)
Impetigo (tak ada vesikel klasik, lebih sedikit
ruam, lesi perioral/perifer

PENATALAKSANAAN
1. UMUM
- Istirahat cukup
- Bila ada panas :
Dewasa : Metampiron 3x500 mg/hari
po
Paracetamol : 4x500 mg/hari po
Anak : Paracetamol 10 mg/kg/dosis
sehari 4 kali po.
- Bila ada sekunder infeksi :
Dicloxacilline : 12,5 50 mg/kg/hr po
Erythromycin : 4 x 250 -500 mg/hr po
2. KHUSUS
- Acyclovir
Dewasa : 5 x 800 mg /hr (7-10 hari)
Anak : 20 mg/kg BB/kali sampai 800
mg sehari 4 kali (5 hari)
- Salep antibiotik : Sodium fusidate (untuk
erosi)
Pencegahan

1. Vaksinasi
Perlindungan terhadap varicella hingga 71 100%
lebih efektif pada anak setelah > 1 tahun.
< 13 tahun dosis tunggal
> 13 Tahun dua dosis yang diberikan dengan
interval waktu 4 8 minggu.

2. Imunoglobin Varicella Zooster (VZIG)
profilaksis setelah terpapar virus, dan terutama pada orang
orang dengan resiko tinggi

Dosis 125 IU / 10 kgBB. 125 IU adalah dosis minimal,
sedangkan dosis maksimal adalah 625 IU dan diberikan
secara intramuskuler

Pencegahan: Vaksin virus varicella yang
dilemahkan (Varivax) dosis 0.5 mL
diberikan dua kali interval pemakaian
menurut rekomendasi ACIP

Pencegahan
Komplikasi varisela
Infeksi sekunder dengan bakteri
Akibat Stafilokokus : impetigo, selulitis,
fasiitis, erisipelas, furunkel, abses, scarlet
fever, atau sepsis
Varisela Pneumonia: penderita
immunokompromis, dan kehamilan panas
tinggi, batuk, sesak napas, takipneu, ronki
basah, sianosis, dan hemoptoe bbrp hr
setelah ruam. Ro: gambaran noduler radio-
opak pada kedua paru
Reye sindrom: letargi, mual, muntah
menetap, bingung dan perubahan sensoris.
>> pasien yang menggunakan salisilat.
SGOT, SGPT dan amonia

Ensefalitis
Pada gangguan imunitas. 1 pada 1000 kasus
varisela, gejala ataksia serebelar hari 3-8 setelah
ruam
Hemorrargis varisela
Autoimun trombositopenia, menyebabkan idiopatik
koagulasi intravaskuler diseminata
Hepatitis
Komplikasi lain : neuritis optic, myelitis tranversa,
orkitis , arthritis, nefritis, diffuse edema dan
hipertensi akibat proteinuria, hematuria, fungsi
ginjal abnormal, nephrotic syndrome, myocarditis,
pericarditis, pancreatitis,
Komplikasi varisela
Urutan yang lebih awal dalam satu keluarga
prognosisnya lebih baik
Pada anak-anak sehat prognosis varisela lebih baik
dibandingkan orang dewasa oleh karena cacar air pada
dewasa memiliki risiko 25 kali lipat menderita pneumonia
Pada neonatus dan anak yang menderita leukemia,
imunodefisiensi, seringmenimbulkan komplikasi
sehingga angka kematian meningkat
Prognosis
Daftar pustaka
Widoyo, 2005, Penyakit tropis, epidemiologi, penularan, pencegahan dan
pemberantasannya, Penerbit Erlangga
Meadow, S.R., Newell, S.J., 2003. Lecture notes : Pediatrika, edisi ketujuh
Roni, 2007. Penyakit Virus. Jakarta: Fakutas Kedokteran Universitas
Indonesia
Siregar, 2005. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit. Jakarta.: EGC