Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

JUDUL SKRIPSI

PENGARUH STRUKTUR GEOLOGI TEHADAP PENENTUAN METODE

PENGGALIAN TAMBANG BAWAH TANAH DI UNIT BISNIS

PERTAMBANGAN EMAS PT. ANEKA TAMBANG, Tbk.

A. ALASAN PEMILIHAN JUDUL

Massa batuan berbeda dengan kebanyakan material teknik. Massa batuan

bersifat anisotrop dan tidak menerus (diskontinu). Hal-hal yang membuat massa

batuan anisotrop adalah karena terdapatnya struktur – struktur geologi yang

mempengaruhi massa batuan tersebut. Struktur geologi yang ada dalam masa

batuan sepeti sesar, kekar, lipatan, merupakan bidang-bidang ketidakmenerusan

(plane of discontinuities) dalam massa batuan.

Bidang-bidang diskontinu akan menyebabkan distribusi tegangan dalam

massa batuan tidak diteruskan/terdistribusi secara merata ke segala arah, dan

secara keseluruhan sifat-sifat elastis batuan berubah.

Penggalian untuk pembuatan terowongan mengakibatkan keseimbangan

massa batuan terganggu, sehingga batuan disekitar penggalian tersebut akan

runtuh apabila batuan itu tidak mampu menyangga bebannya sendiri. Untuk

meminimalkan gangguan pada massa batuan akibat struktur geologi pada proses

pengggalian, maka diperlukan pemilihan metode penggalian yang sesuai dengan


karakteristik dari massa batuan dan struktur geologi yang mempengaruhinya. Oleh

sebab itu telah banyak penelitian yang dilakukan untuk menentukan metode

penggalian yang aman dan murah.

Dari penjelasan di atas maka perlu adanya suatu analisis tentang struktur –

struktur geologi pada massa batuan yang bertujuan untuk menentukan metode

penggalian yang sesuai.

Untuk melakukan penelitian ini peneliti akan menggunakan program

komputer (software) untuk mempermudah serta menjamin keakuratan dan

ketelitian dari hasil yang akan didapat.

C. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk menganalisa

struktur – struktur geologi yang mempengaruhi massa batuan, kemudian dari hasil

analisis ini akan di dapat parameter-parameter yang berguna untuk menentukan

metode penggalian yang sesuai dengan pengaruh struktur geologi pada massa

batuan.

D. RUMUSAN MASALAH

1. Mengetahui struktur – struktur geologi yang paling dominan

mempengaruhi massa batuan.


2. Menentukan metode penggalian yang tepat sesuai dengan struktur

geologi yang ada pada massa batuan.


BAB II

ANALISIS MASALAH

A. DASAR TEORI

A.1. Struktur geologi

Struktur – struktur geologi merupakan semua kenampakan dalam suatu

massa batuan yang mempengaruhi kekuatan dan sifat dari batuan yang ada.

Struktur geologi dapat juga dikatakan sebagai bidang-bidang ketidakmenerusan

pada massa batuan. Struktur – struktur ( bidang ketidakmenerusan) ini akan sangat

berpengaruh dalam penetuan metode penggalian dalam suatu lubang bukaan

tambang bawah tanah adalah ; kekar (joint), sesar (fault), dan perlipatan (folding).

Stuktur – struktur tersebut akan banyak di jumpai dalam suatu lubang bukaan,

maka dari itu perlu diadakan suatu analisa untuk menentukan kedudukan/arah dari

struktur yang ada.

Untuk melakukan suatu analisa bidang ketidakmenerusan digunakan

metoda statistik. Metoda statistik adalah suatu metode yang diterapkan untuk

mendapatkan kisaran harga rata-rata atau harga maksimum dari sejumlah data

acak satu jenis struktur. Dari metode ini maka dapat diketahui kecenderungan-

kecenderungan, bentuk pola ataupun kedudukan umum dari jenis struktur yang

sedang dianalisa. Metode statistik terdiri dari dua metode yang

pengelompokannya didasarkan atas banyaknya parameter yang akan diketahui

harga statistiknya, yaitu :


1. Metode statistik dengan satu parameter

2. Metode statistik dengan dua parameter

A.1.2. Metode statistik dengan satu parameter

Dalam metode ini parameter atau data yang diukur hanya terdiri dari satu

unsur pengukuran. Jenis diagram dari metode ini adalah:

1. Diagram kipas

2. Diagram roset

3. Histogram

A.1.2.1. Diagram kipas

Tujuan dari pembuatan digram ini adalah untuk mengetahui arah

kelurusan umum dari unsur-unsur struktur yang datanya hanya satu unsur

pengukuran saja (data bearing). Data-data pengukuran dimasukkan dalam suatu

tabel sehingga mempermudah dalam pembuatan diagram.

Gambar 2.1
Analisis Diagram Kipas
A.1.2.2. Diagram roset

Tujuan dari pembuatan diagram roset adalah untuk mengetahui arah

kelurusan umum dari data-data dengan satu parameter ,misalnya bearing. Data-

data bearing juga dimasukkan dalam tabel untuk pembuatan diagram roset.

Gambar 2.2
Analisis Diagram Roset

A.1.2.3. Histogram

Tujuan dari analisis histogram adalah untuk mengetahui arah kelurusan

umum dari unsur-unsur struktur.


Gambar 2.3
Analisis Histogram
A.1.3. Metode statistik dengan dua parameter (diagram kontur)

Metode ini diterapkan untuk data-data struktur yang memiliki dua unsur

pengukuran seperti pada struktur garis (datanya terdiri dari Bearing dan Plunge),

atau struktur bidang (datanya terdiri dari Strike dan Dip). Contoh dari metode ini

adalah diagram kontur. Diagram ini pembuatannya didasarkan pada prinsip-

prinsip proyeksi stereografi dan proyeksi kutub. Tujuan dari diagram ini adalah

untuk mendapatkan harga kerapatan (densitas) maksimum data-data yang

dianalisa, sehingga dari dapat diketahui orientasi atau kedudukan umum struktur

yang dianalisa.

Gambar 2.4
(a) Pengeplotan data-data pengukuran kekar tarik di atas jaring“PolarEqualAreal”
(b) Menentukan pusat-pusat titik kerapatan di atas jaring “Kalsbek”

Gambar 2.5
(a) Penarikan kontur kerapatan pada diagram kontur
(b) Diagram kontur yang dihasilkan

A.1.4. Analisis Dengan Program DIPS dan RockWork ’99

Dengan menggunakan kedua program ini akan memudahkan dan lebih

akurat dalam melakukan analisa bidang ketidakmenerusan, serta akan

memperindah dalam penyajian hasil dari analisa. Data-data yang didapat

dilapangan (berupa Strike dan Dip) kemudian di input ke dalam komputer maka

akan dihasilkan gambaran hasil analisa seperti di bawah ini.


Gambar 2.6
Analisis Diagram Roset (ROCKWORK ’99)
Gambar 2.7
Analisis Histogram (ROCKWORK ’99)

ANALISIS DATA EQUAL AREA


LOWER
HEMISPHERE
N

CONTOUR
PLOT
SCHMIDT POLE
CONCENTRATION
%
S of total per
1.0 % area
Minimum Contour = 1.5
Contour Interval = 1.5
Max.Concentration = 7.08
W E

S
YUDHA 27-Nov-00 113 Poles Plotted
109 Data Entries
Gambar 2.8
Analisis Diagram Kontur (DIPS)

A.2. Metode Penggalian


Metoda penggalian batuan banyak ditentukan oleh karakteristik batuan
utuh dan massa batuan. Setiap massa batuan terbentuk dari sekumpulan batuan
utuh yang dipisahkan satu dengan yang lainnya oleh bidang diskontinu seperti ;
patahan, rekahan, kekar, bidang perlapisan, bidang geser dan lainnya. Perilaku
massa batuan oleh karenanya sangat bergantung pada sifat – sifat bidang
diskontinu.
Karakteristik penting yang mempengaruhi kemampugalian suatu massa
batuan pada dasarnya dibagi dalam dua kategori, yaitu batuan utuh dan massa
batuan. Sedangkan sifat – sifat yang berpengaruh untuk kedua jenis batuan
tersebut adalah sifat fisik, mekanik statik dan dinamik serta struktur.
Pemilihan metode penggalian Tambang Bawah Tanah merupakan langkah
awal untuk menetapkan metode penggalian tambang bawah tanah yang akan
diterapkan pada suatu endapan bijih. Dalam proses pemilihan metode yang akan
digunakan perlu diketahui hal – hal apa saja yang akan berpengaruh dalam proses
pemilihan tersebut. Salah satu faktor yang akan sangat berpengaruh adalah
struktur geologi yang ada pada massa batuan.

A.2.1. Sifat – sifat Massa Batuan

A.2.1.1. Bidang Diskontinu


Bidang diskontinu di dalam massa batuan dapat membantu mempermudah
proses penggalian. Dua parameter penting dalam karakteristik bidang diskontinu
adalah kekerapan (frequency) atau jarak antara bidang diskontinu. Orientasi yang
selanjutnya dibagi dalam dua bagian, yaitu arah kemiringan (dip direction) dan
kemiringan (dip). Keberadaan bidang diskontinu dalam massa batuan dapat
membantu pencapaian fragmentasi yang diinginkan.
A.2.1.2. Rock Quality Designation (RQD)
Kehadiran bidang diskontinu dalam massa batuan sering memberi
pengaruh buruk pada sifat mekaniknya, dan tentunya besaran kuantitatif dari
bidang diskontinu perlu diketahui. Parameter yang dapat menunjukkan kualitas
massa batuan sebelum penggalian dilakukan adalah Rock Quality Designation
yang dikembangkan oleh Deere (1964) yang datanya diperoleh dari pengeboran
inti.
RQD dihitung dari persentase bor inti yang diperoleh dengan panjang
minimum 10 cm dan dihitung secara,

RQD = Panjang total bor inti ≥ 0,10 m x 100%


Panjang total bor (m)

Bila bor inti tidak tersedia, RQD dapat dihitung secara tidak langsung
dengan melakukan pengukuran orientasi dan jarak antar diskontinu pada
singkapan batuan. Priest & Hudson (1976) mengajukan sebuah persamaan untuk
menentukan RQD dari data scanline sebagai berikut :

RQD = 100 e-0.1λ (0.1 λ + 1)


Dimana λ = frekuensi diskontinu permeter

A.2.1.3. Jarak Antar Bidang Diskontinu


Jarak pisah antar bidang diskontinu atau kekar adalah jarak tegak lurus
antara dua bidang diskontinu yang berurutan sepanjang sebuah garis pengamatan
yang disebut scanline dan dinyatakan sebagai intact length. Panjang scanline
minimum untuk pengukuran jarak diskontinu yang akan diukur. Sedangkan
menurut ISRM (1981) panjang ini cukup sekitar 10 kali, tergantung kepada tujuan
(1993) dan diberikan pada tabel 2.1
Semakin jauh jarak antar bidang diskontinu maka massa batuan secara
keseluruhan dapat dikatan massif, sedangkan bila jarak antar diskontinu ini kecil,
maka massa batuan mengalami rusak berat.
Arah kemiringan (dip direction), kemiringan (dip) dan kekerapan
(frequency) tertentu bidang diskontinu akan memberikan kemudahan suatu
ekskavator untuk menggali suatu massa batuan, walaupun bila dilihat dari kuat
tekan batuan utuhnya ternyata sangat tinggi. Dalam hal ini kriteria kekerapan
minimum bidang diskontinu harus dipenuhi dahulu.

A.2.1.4. Orientasi Bidang Diskontinu


Istilah strike dan dip yang dipakai oleh para ahli geologi adalah arah garis
horizontal pada bidang diskontinu yang tegak lurus terhadap kemiringan
bidangnya, dan sudut tegak ke bawah dari garis horizontal.
Orientasi diskontinu dapat mempengaruhi kinerja mesin gali potong.
Menurut Blindheim (1979), orientasi kekar yang paling menguntungkan untuk
penggalian dengan rock header dalam pembuatan lubang bukaan adalah tegak
lurus terhadap sumbu lubang.

Tabel 2.1
A.2.2 Klasifikasi Massa Batuan
Pada hakekatnya suatu klasifikasi massa batuan dibuat untuk memenuhi
hal – hal berikut ini (Bieniawski, 1989) :
1. Untuk mengidentifikasi parameter yang paling mempengaruhi
perilaku massa batuan.
2. Untuk membagi massa batuan kepada kelompok grup yang
berperilaku sama, yaitu kelas massa batuan dengan kualitas berbeda.
3. Untuk melengkapi suatu dasar pengertian karakteristik masing –
masing kelas.
4. Untuk menghubungkan pengalaman atas pengamatan suatu kondisi
massa batuan di satu tempat dengan yang lainnya.
5. Untuk menghasilkan data kuantatif untuk desain rekayasa.
6. Untuk melengkapi suatu dasar umum komunikasi.

A.2.2.1 Rock Mass Rating – Bieniawski


Sistem Rock Mass Rating (RMR), atau sering juga dikenal sebagai
Geomechanics Classification dibuat oleh Bieniawski (1973). Klasifikasi ini telah
dimodifikasi berulang kali begitu baru dari studi – studi kasus diperoleh dan
menjadikannya sesuai dengan International Standard dan prosedur. RMR terdiri
dari 6 parameter utama untuk membagi massa batuan (lihat Tabel 2.2) :

1. Kuat Tekan Batuan Utuh (UCS)

2. RQD

3. Jarak diskontinu / kekar

4. Kondisi diskontinu / kekar

5. Kondisi air tanah

6. Orientasi diskontinu / kekar

Pengaruh orientasi diskontinu relative terhadap arah perpotongan atau


penggalian ditentukan dengan pertama – tama melakukan plot orientasi diskontinu
yang ada kedalam Streone – tequal area projection. Pembobotannya ditentukan
dengan memperhatikan bobot yang diberikan oleh RMR dan alternatifnya juga
diberikan oleh Fowell & Johnson (1991) lihat Tabel 2.3

Tabel 2.2

Parameter Klasifikasi dan Pembobotannya dalam sistem RMR


Parameter Selang Nilai
Kuat Untuk kuat tekan
tekan perlu UCS
PLI (Mpa) > 10 4 - 10 2-4 1-2
batuan
1 utuh
UCS (Mpa) 5- 1-5 <1
> 250 100 - 250 50 - 100 25 - 50
25

Bobot 15 12 7 4 2 1 0

2 RQD ( % ) 90- 100 75- 90 50 - 75 25 - 50 < 25


Bobot 20 17 13 8 3
3 Jarak Diskontinuiti (m) >2 0.6 - 2 0.2- 0.6 0.06 -0.2 <0.06
Bobot 20 15 10 8 5
4 Kondisi diskontinuiti Sangat Agak Agak Slickensi Gouge lunak,
kasar, kasar, kasar, ded/teba tebal >5mm, atau
tdk pemisaha pemisah gouge pemisahan
menerus n 1 mm, an <5mm, >5mm, menerus
, tidak dinding <1mm, atau
ada agak dinding pemisaha
pemisah lapuk sangat n 1-5mm,
an, lapuk menerus
dinding
batu
tidak
lapuk
Bobot 30 25 20 10 0
Air Aliran/10 m
tanah panjang tunnel None < 10 10- 25 25- 125 > 125
pada (liter/menit)
5 kekar
Tek. Air pada 0 < 0.1 0.1–0.2 0.2 – 0.5 >0.5
kekar/Maks teg
utama (Kpa)

Kondisi Umum Kering Lembab Basah Menetes Mengalir


Bobot 15 10 7 4 0

Tabel 2.3
Pengaruh Orientasi Strike dan Dip Diskontinu Dalam
Pembuatan Terowongan dan Penggalian
(Bieniawski,1989 dan Fowell & Johnson, 1991)

A.2.2.2 Rock Mass Quality – Q System

Klasifikasi Massa Batuan menurut Q – System dibuat di Norewgia pada


tahun 1974 oleh Barton, Lien dan Lunde, semuanya dari Norwegian Geothecnical
Institute.

Pembobotan Q – System didasarkan atas penaksiran numerik kualitas massa


batuan dengan menggunakan 6 parameter berikut ini :

1. RQD

2. Jumlah set kekar

3. Kekasaran kekar atau diskontinu utama

4. Derajat alterasi atau pengisian sepanjang kekar yang paling lemah

5. Aliran air
6. Factor reduksi tegangan

Dan pembobotan total dari kualitas massa batuan ini ditulis menurut,

Q = RQD x Jr x Jw
Jn Ja SRF

Dimana :
RQD = Rock Quality Designation
Jr = Angka kekasaran kekar
Jw = Angka reduksi kondisi air
Jn = Jumlah set kekar
SRF = Faktor Reduksi Tegangan
Keenam parameter tersebut di kelompokkan ke dalam 3 kelompok nisbah
dalam upaya menyatakan kualitas total massa batuan.
a. Ukuran blok (RQD/Jn)
b. Kuat geser blok utuh (Jr/Jn)
c. Tegangan aktif (Jw/SRF)

A.2.3. Kriteria Penggalian Menurut RMR & Q – System


Kemampuan untuk menaksir kemampugalian suatu massa batuan sangatlah
penting, apalagi bila akan menggunakan alat gali mekanis kontinu.
Telah dibuktikan bahwa hubungan antara RMR dan Q – System untuk
berbagai kondisi penggalian adalah linear (lihat Gamba 2.8). Titik – titik yang
menunjukkan harga RMR dan Q – System yang tinggi mencerminkan kondisi
material keras yang penggaliannya perlu peledakan. Sedangkan kehadiran alat
gali, seperti Surface Miner yang menggunakan mekanisme potong rupanya dapat
menggantikan operasi peledakan.
Dalam upaya melengkapi informasi Gambar 2.8 data asli hasil penelitian
Abdullatif & Cruden (1983) dimasukkan dan data penggunaan Surface Miner
disuplai oleh Kramadibrata (1992).
Gambar 2.8
Klasifikasi Metode Penggalian Menurut RMR dan Q – System
(Kramadibrata, 1996)

B. DATA PENDUKUNG
Yang dimaksud dengan data pendukung adalah data-data yang dapat

mendukung data-data dari lapangan guna menganalisa permasalahan yang ada

untuk mencari alternatif penyelesaian masalah.

Data pendukung dapat diambil antara lain dari data hasil pengamatan di

lapangan, laporan penelitian terdahulu dari perusahaan, brosur-brosur dari

perusahaan, data dari instansi yang terkait dan dari literatur-literatur.

C. ANALISA PENYELESAIAN MASALAH

Permasalahan yang ada di lapangan selanjutnya dipelajari dan dikaji

berdasarkan data yang ada, baik data yang dikumpulkan dari hasil penyelidikan

maupun data penunjang dan didukung berbagai teori yang menunjang

permasalahan tersebut, selanjutnya dicarikan alternatif penyelesaiannnya.

Adapun rincian dari analisa penyelesaian masalah dalam melakukan analisis

terhadap bidang ketidakmenerusan dan kelongsoran baji adalah sebagai berikut :

1. Tahap Persiapan

Pada tahap ini akan dipelajari tentang fungsi/tujuan dari dibuatnya lubang

bukaan tersebut, ukuran yang diinginkan, dan bagaimana bentuk lubang

bukaan yang akan dibuat serta aktivitas penggalian lain yang berdekatan

dengan lubang bukaan yang akan dibuat.

2. Tahap Penyelidikan Pendahuluan

Tahap penyelidikan pendahuluan dimaksudkan untuk mendapatkan deskripsi

umum daerah yang akan diselidiki, meliputi pengambilan conto batuan dengan

pemboran, pendugaan geofisika (bila mungkin), pengukuran tekanan air,


pengukuran permeabilitas dari massa batuan, dan penyelidikan terhadap

keadaan geologi sekitar.

3. Tahap Penyelidikan Terinci

a. Penentuan pengklasifikasian massa batuan

Parameter yang diperlukan untuk pengklasifikasisan massa batuan adalah

bobot isi,modulus elastik, koefisien Poisson, kuat tekan uniaksial, kuat geser,

kohesi, sudut geser dalam, tegangan in situ dan beberapa parameter lain,

seperti kedudukan umum arah bidang kekar, data spasi bidang kekar, kondisi

air tanah pada kedalaman tertentu dan RQD untuk tiap kedalaman.

b. Analisis terhadap bidang ketidakmenerusan

Melakukan penyelidikan dan pengukuran terhadap bidang-bidang

ketidakmenerusan yang ada dalam suatu section lubang bukaan, bidang-

bidang yang diukur terutama adalah struktur kekar. Setelah semua data kekar

didapat kemudian di input kedalam program DIPS dan ROCKWORK ’99

untuk mengetahui arah umum dari kekar tersebut.

BAB III
PENELITIAN DI LAPANGAN

A. METODOLOGI PENELITIAN

Didalam melaksanakan penelitian permasalahan ini, penulis menggabungkan

antara teori dengan data-data lapangan,sehingga dari keduanya didapat

pendekatan penyelesaian masalah. Adapun urutan pekerjaan penelitian yaitu :

1. Study literatur, brosur-brosur, laporan penelitian terdahulu dari perusahaan.

2. Pengamatan langsung di lapangan, dilakukan dengan cara peninjauan

lapangan untuk melakukan pengamatan langsung terhadap semua kegiatan

di daerah yang akan diteliti

3. Pengambilan Data, dengan pengukuran langsung di lapangan maupun

penelitian di laboratorium.

4. Akuisisi Data

a. Pengelompokan data

b. Jumlah data

c. Uji realitas

5. Pengolahan data

6. Analisis hasil Pengolahan data

7. Kesimpulan
B. JADWAL KEGIATAN PENELITIAN

Minggu I II III IV V VI VII VIII


Rencana Kegiatan
Studi Literatur
Penyelidikan Geologi lokal
Pengumpulan data struktur
geologi
Analisis struktur terhadap
metode penambangan dan
jenis penyanggaan
Penyusunan Laporan
Penelitian
C. RENCANA DAFTAR PUSTAKA

1. Bickel, John., Kuesel, T., King, E.H., “Tunnel Engineering Handbook”,


Chapman & Hall,Dep. BC., 2nd edition, New York, 1996.

2. Hoek, E, Kaiser, P.K, Bawden, W.F., “Support of Underground Excavations


in Hard Rock”., A.A. Balkema, Rotterdam, Brookfield, 1995.

3. Kem Mc Clay, “The Mapping of Geological Structures”, John Willey &


Sonss,Inc, New York, 1987.

4. Prastitho Bambang, Hendaryono, “Geologi Struktur”, Petunjuk Praktikum,


UPN “Veteran” Yogyakarta,1999.

5. Kramadibrata, Suseno, “Teknik Pengeboran dan Penggalian”, Buku Ajar,


Institut Teknologi Bandung, 2000.

RENCANA DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR

RINGKASAN

DAFTAR ISI

DAFTAR GAMBAR

DAFTAR TABEL

DAFTAR LAMPIRAN

BAB

I. PENDAHULUAN

II. TINJAUAN UMUM DAERAH PENELITIAN

A. LOKASI DAN KESAMPAIAN DAERAH


B. KEADAAN GEOLOGI
C. IKLIM
D. TINJAUAN SINGKAT PT. FREEPORT INDONESIA COMPANY
E. DEEP ORE ZONE (D.O.Z)

III. PENGKLASIFIKASIAN MASSA BATUAN

A. MASSA BATUAN
B. PRINSIP KLASIFIKASI MASSA BATUAN
IV. ANALISIS BIDANG KETIDAKMENERUSAN

A. METODE ANALISIS
B. ARAH UMUM DARI BIDANG KETIDAKMENERUSAN
V. ANALISIS KELONGSORAN BAJI

A. PARAMETER KELONGSORAN BAJI

B. PENCEGAHAN KELONGSORAN BAJI

VI. PEMBAHASAN
A. DAERAH-DAERAH RAWAN TERJADI KELONGSORAN BAJI

B. PENGGUNAAN ROCK BOLT

VII. KESIMPULAN DAN SARAN

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN
ANALISIS BIDANG KETIDAKMENERUSAN UNTUK
MENGANTISIPASI TERJADINYA KELONGSORAN BAJI PADA
LUBANG BUKAAN TAMBANG BAWAH TANAH DI D.O.Z
PT. FREEPORT INDONESIA COMPANY

PROPOSAL TUGAS AKHIR


Dibuat untuk memenuhi persyaratan dalam pelaksanaan
kerja praktek lapangan

Oleh :

YUDHA EKO MURWANTO

97050/TA

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
YOGYAKARTA
2001
ANALISIS BIDANG KETIDAKMENERUSAN UNTUK
MENGANTISIPASI TERJADINYA KELONGSORAN BAJI PADA
LUBANG BUKAAN TAMBANG BAWAH TANAH DI D.O.Z
PT. FREEPORT INDONESIA COMPANY

PROPOSAL TUGAS AKHIR

Oleh :

YUDHA EKO MURWANTO

97050/TA

Disetujui oleh :

Dosen wali Pembimbing I

(Ir. Indah Setyowati, MT) ( )