Anda di halaman 1dari 422

i | Daf t ar I si

D A F T A R I S I
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I ARAH PENGEMBANGAN WILAYAHNASIONAL2015 2019
1.1.Kerangka Pengembangan Wilayah....
1.2.Tema Pengembangan Wilayah ..
1.3.Tujuan dan Sasaran Pokok Pengembangan Wilayah
1.4.Arah Kebijakan dan Strategi Pengembangan Wilayah
1.4.1. Pengembangan Kawasan Strategis
1.4.2. Pengembangan Kawasan Perkotaan dan Perdesaan .
1.4.3. Pengembangan Daerah Tertinggal dan Kawasan Perbatasan ...
1.4.4. Penanggulangan Bencana
1.4.5. Pengembangan Tata Ruang Wilayah Nasional
1.4.6. Tata Kelola Pemerintah Daerah dan Otonomi Daerah ...
1.5.Kaidah Pelaksanaan Pengembangan Wilayah ...
1.5.1. Sinergi Pusat-Daerah dan Kerjasama Antardaerah .
1.5.2. Kerangka Pendanaan .
1.5.3. Kerangka Regulasi
1.5.4. Kerangka Kelembagaan
I-1
I-4
I-6
I-12
I-12
I-13
I-19
I-21
I-22
I-25
I-26
I-26
I-27
I-28
I-28
BABII ARAHPENGEMBANGAN WILAYAH PULAU PAPUA
2.1 Capaian Kinerja Saat Ini .
2.2 Potensi dan Keunggulan Wilayah
2.3 Tema Pengembangan Wilayah Pulau Papua ...
2.4 Tujuan dan Sasaran Pengembangan Wilayah Pulau Papua .
2.5 Arah Kebijakan dan Strategi Pengembangan Wilayah Pulau Papua .
2.5.1 Pengembangan Kawasan Strategis
2.5.2 Pengembangan Kawasan Perkotaan dan Perdesaan ..
2.5.3 Pengembangan Daerah Tertinggal dan Kawasan Perbatasan ...
2.5.4 Pengembangan Daerah Bencana .
2.5.5 Pengembangan Tata Ruang Wilayah Pulau Papua
2.5.6 Tata Kelola Pemerintah Daerah dan Otonomi Daerah ...
2.6 Kaidah Pelaksanaan Pengembangan Wilayah Pulau Papua
2.6.1 Prioritas Program Pembangunan .
2.6.2 Kerangka Regulasi ..
2.6.3 Kerangka Kelembagaan .
II-1
II-1
II-3
II-3
II-6
II-6
II-10
II-19
II-30
II-32
II-36
II-37
II-37
II-44
II-46
ii | Daf t ar I si
BABIII ARAHPENGEMBANGAN WILAYAHKEPULAUAN MALUKU
3.1 Capaian Kinerja Saat Ini .
3.2 Potensi dan Keunggulan Wilayah
3.3 Tema Pengambangan Wilayah Kepulauan Maluku
3.4 Tujuan dan Sasaran Pengembangan Wilayah Kepulauan Maluku .
3.5 Arah Kebijakan dan Strategi Pengembangan Wilayah Kepulauan
Maluku
3.5.1 Pengembangan Kawasan Strategis
3.5.2 Pengembangan Kawasan Perkotaan dan Perdesaan .
3.5.3 Pengembangan Daerah Tertinggal dan Kawasan Perbatasan ..
3.5.4 Penanggulangan Bencana
3.5.5 Pengembangan Tata Ruang Wilayah Kepulauan Maluku .
3.5.6 Tata Kelola Pemerintah Daerah dan Otonomi Daerah ...
3.6. Kaidah Pelaksanaan Pengembangan Wilayah Kepulauan Maluku
3.6.1 Prioritas Program Pembangunan
3.6.2 Kerangka Regulasi
3.6.3 Kerangka Kelembagaan
III-1
III-1
III-2
III-2
III-4
III-4
III-8
III-17
III-27
III-29
III-33
III-34
III-34
III-39
III-41
BABIVARAHPENGEMBANGAN WILAYAHKEPULAUANNUSA TENGGARA
4.1 Capaian Kinerja Saat ini .
4.2 Potensi dan Keunggulan Wilayah ...
4.3 Tema Pengembangan Wilayah Kepulauan Nusa Tenggara ..
4.4 Tujuan dan Sasaran Pengembangan Wilayah Kepulauan Nusa
Tenggara
4.5 Arah kebijakan dan Strategi Pengembangan Wilayah Kepulauan
Nusa Tenggara ..
4.5.1 Pengembangan Kawasan Strategis ..
4.5.2 Pengembangan Kawasan Perkotaan dan Perdesaan .
4.5.3 Pengembangan Daerah Tertinggal dan Kawasan Perbatasan .
4.5.4 Penanggulangan Bencana
4.5.5 Pengembangan Tata Ruang Wilayah Kepulauan Nusa Tenggara
4.5.6 Tata Kelola Pemerintah Daerah dan Otonomi Daerah ...
4.6 Kaidah Pelaksanaan Pengembangan Wilayah Kepulauan Nusa
Tenggara
4.6.1 Prioritas Program Pembangunan
4.6.2 Kerangka Regulasi
4.6.3 Kerangka Kelembagaan
IV-1
IV-2
IV-3
IV-4
IV-6
IV-6
IV-9
IV-18
IV-30
IV-34
IV-36
IV-37
IV-37
IV-45
IV-45
iii | Daf t ar I si
BABVARAHPENGEMBANGAN WILAYAH PULAUSULAWESI
5.1 Capaian Kinerja Saat Ini .
5.2 Potensi dan Keunggulan Wilayah
5.3 Tema Pengembangan Wilayah Pulau Sulawesi .
5.4 Tujuan dan Sasaran Pengembangan Wilayah Pulau Sulawesi
5.5 Arah kebijakan dan Strategi Pengembangan Wilayah Pulau
Sulawesi .
5.5.1 Pengembangan Kawasan Strategis
5.5.2 Pengembangan Kawasan Perkotaan dan Perdesaan .
5.5.3 Pengembangan Daerah Tertinggal dan Kawasan Perbatasan ..
5.5.4 Pengembangan Daerah Bencana ...
5.5.5 Pengembangan Tata Ruang Wilayah Pulau Sulawesi
5.5.6 Tata Kelola Pemerintah Daerah dan Otonomi Daerah ..
5.6 Kaidah Pelaksanaan Pengembangan Wilayah Pulau Sulawesi .
5.6.1 Prioritas Program Pembangunan .
5.6.2 Kerangka Regulasi ..
5.6.3 Kerangka Kelembagaan ..
V-1
V-2
V-4
V-4
V-6
V-6
V-10
V-21
V-32
V-35
V-41
V-42
V-42
V-58
V-58
BAB VI ARAH PENGEMBANGAN WILAYAH PULAU KALIMANTAN
6.1 Capaian Kinerja Saat ini .
6.2 Potensi dan Keunggulan Wilayah
6.3 Tema Pengembangan Wilayah Pulau Kalimantan ..
6.4 Tujuan dan Sasaran Pengembangan Wilayah Pulau Kalimantan
6.5 Arah kebijakan dan Strategi Pengembangan Wilayah Pulau
Kalimantan ..
6.5.1 Pengembangan Kawasan Strategis
6.5.2 Pengembangan Kawasan Perkotaan dan Perdesaan .
6.5.3 Pengembangan Daerah Tertinggal dan Kawasan Perbatasan ..
6.5.4 Penanggulangan Bencana
6.5.5 Pengembangan Tata Ruang Wilayah Pulau Kalimantan
6.5.6 Tata Kelola Pemerintah Daerah dan Otonomi Daerah ...
6.6 Kaidah Pelaksanaan Pengembangan Wilayah Pulau Kalimantan ...
6.6.1 Prioritas Program Pembangunan
6.6.2 Kerangka Regulasi
6.6.3 Kerangka Kelembagaan
VI-1
VI-2
VI-4
VI-4
VI-7
VI-7
VI-12
VI-22
VI-32
VI-37
VI-40
VI-40
VI-40
VI-54
VI-54
iv | Daf t ar I si
BAB VII ARAHPENGEMBANGAN WILAYAH PULAUJAWA- BALI
7.1 Capaian Kinerja Saat ini
7.2 Potensi dan Keunggulan Wilayah ...
7.3 Tema Pengembangan Wilayah Pulau Jawa-Bali ..
7.4 Tujuan dan Sasaran Pengembangan Wilayah Pulau Jawa-Bali
7.5 Arah Kebijakan dan Strategi Pengembangan Wilayah Pulau Jawa-
Bali
7.5.1 Pengembangan Kawasan Strategis ..
7.5.2 Pengembangan Kawasan Perkotaan dan Perdesaan ...
7.5.3 Pengembangan Daerah Tertinggal ..
7.5.4 Penanggulangan Bencana ..
7.5.5 Pengembangan Tata Ruang Wilayah Pulau Jawa-Bali .
7.5.6 Tata Kelola Pemerintah Daerah dan Otonomi Daerah .
7.6 Kaidah Pelaksanaan Pengembangan Wilayah Pulau Jawa-Bali
7.6.1 Prioritas Program Pembangunan ..
7.6.2 Kerangka Regulasi
7.7.2 Kerangka Kelembagaan
VII-1
VII-2
VII-4
VII-4
VII-7
VII-7
VII-10
VII-20
VII-23
VII-30
VII-32
VII-33
VII-33
VII-58
VII-58
BAB VIII ARAHPENGEMBANGAN WILAYAH PULAUSUMATERA
8.1 Capaian Kinerja Saat Ini ..
8.2 Potensi dan Keunggulan Wilayah .
8.3 Tema Pengembangan Wilayah Pulau Sumatera .
8.4 Tujuan dan Sasaran Pengembangan Wilayah Pulau Sumatera ...
8.5 Arah Kebijakan dan Pengembangan Wilayah Pulau Sumatera ...
8.5.1 Pengembangan Kawasan Strategis
8.5.2 Pengembangan Kawasan Perkotaan dan Perdesaan ..
8.5.3 Pengembangan Daerah Tertinggal dan Kawasan Perbatasan ...
8.5.4 Penanggulangan Bencana
8.5.5 Pengembangan Tata Ruang Wilayah Pulau Sumatera
8.5.6 Tata Kelola Pemerintah Daerah dan Otonomi Daerah
8.6 Kaidah Pelaksanaan Pengembangan Wilayah Pulau Sumatera
8.6.1 Prioritas Program Pembangunan
8.6.2 Kerangka Regulasi
8.6.3 Kerangka Kelembagaan
VIII-1
VIII-2
VIII-3
VIII-3
VIII-6
VIII-6
VIII-10
VIII-21
VIII-33
VIII-38
VIII-41
VIII-42
VIII-42
VIII-72
VIII-73
RANCANGAN TEKNOKRATIK
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA
MENENGAH NASIONAL
2015 2019
BUKU III
ARAH PENGEMBANGAN WILAYAH NASIONAL
KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL /
BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL
BAPPENAS
2014


I - 1

BAB I
ARAH PENGEMBANGAN WILAYAH NASIONAL
2015 - 2019

1.1. Kerangka Pengembangan Wilayah
Isu utama pembangunan wilayah national
1
saat ini adalah masih besarnya
kesenjangan antar wilayah, khususnya kesenjangan pembangunan antara Kawasan
Barat Indonesia (KBI) dan Kawasan Timur Indonesia (KTI). Hal ini tercermin salah
satunya dari kontribusi PDRB terhadap PDB, yang mana selama 30 tahun (1982-
2013), kontribusi PDRB KBI sangat dominan dan tidak pernah berkurang dari 80
persen terhadap PDB.
Tabel 1.1
Peran Wilayah/Pulau dalam Pembentukan PDB Nasional 1982-2013
(persen)


Sumber: BPS
Sehubungan dengan hal tersebut, arah kebijakan utama pembangunan wilayah
nasional difokuskan untuk mempercepat pengurangan kesenjangan pembangunan
antar wilayah. Oleh karena itu, diperlukan arah pengembangan wilayah yang dapat
mendorong transformasi dan akselerasi pembangunan wilayah KTI, yaitu
Sulawesi, Kalimantan, Maluku, Nusa Tenggara dan Papua, dengan tetap menjaga
momentum pertumbuhan di Wilayah Jawa-Bali dan Sumatera.
Transformasi dan akselerasi pembangunan wilayah tersebut bertumpu pada
peningkatan kapasitas sumber daya manusia, peningkatan efisiensi dan nilai

1
Wilayah nasional adalah seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang meliputi ruang darat,
ruang laut, dan ruang udara termasuk ruang di dalam bumi berdasarkan peraturan perundang-undangan (PP
No. 26 Tahun 2008 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional)
I - 2

tambah sumber daya alam, penguatan kapasitas ilmu pengetahuan dan teknologi,
penyediaan infrastruktur yang terpadu dan merata; serta penyelenggaraan tata
kelola pemerintahan yang baik. Kerangka Pengembangan Wilayah untuk
mempercepat dan memperluas pembangunan wilayah tersebut adalah sebagai
berikut:
Mendorong percepatan pembangunan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi,
sebagai penggerak utama pertumbuhan (engine of growth), di masing-masing
pulau, terutama di wilayah koridor ekonomi, dengan menggali potensi dan
keunggulan daerah. Industrialisasi perlu didorong untuk mengolah bahan
mentah, agar dapat meningkatkan nilai tambah serta menciptakan
kesempatan kerja baru.
Secara khusus akan dilakukan pula percepatan pembangunan ekonomi
nasional berbasis maritim (kelautan) dengan memanfaatkan sumber daya
kelautan, yaitu peningkatan produksi perikanan; pengembangan energi dan
mineral kelautan; pengembangan kawasan bahari; dan kemampuan industri
maritim dan perkapalan.
Dikarenakan adanya keterbatasan dana pemerintah, maka tidak semua
wilayah dapat dikembangkan pada saat yang bersamaan. Oleh karena itu,
perlu dipilih pusat-pusat pertumbuhan yang mempunyai komoditas prospektif
(nilai tambah tinggi dan menciptakan kesempatan kerja tinggi), terutama yang
berada di masing-masing koridor ekonomi.
Investasi Pemerintah, BUMN/BUMD, dan Swasta perlu dioptimalkan pada
klaster-klaster industri untuk memicu dampak penggandanya (multiplier
effect) pada daerah sekitarnya, termasuk di wilayah-wilayah tertinggal.
Upaya peningkatan pembangunan ekonomi di semua pusat pertumbuhan
tersebut, harus tetap mengacu Rencana Tata Ruang Wilayah dan
menggunakan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) sebagai pedoman
untuk menjaga keseimbangan alam dan kelangsungan keserasian ekosistem
dan lingkungan sekitarnya. Dengan demikian, diharapkan dapat diciptakan
pertumbuhan yang inklusif yang dapat menjangkau seluruh wilayah dan
masyarakat dengan tetap menjaga keberlanjutan di masa depan.
Keterkaitan antara pusat pertumbuhan wilayah dan daerah sekitarnya, perlu
difasilitasi dengan infrastruktur wilayah yang terintegrasi dan terhubung
dengan baik dan terpadu, khususnya infrastruktur jalan dan perhubungan,
baik perhubungan laut maupun udara, termasuk jaringan informasi dan
komunikasi, serta pasokan energi, sehingga tercipta konektivitas nasional,
baik secara domestik maupun secara internasional (locally integrated,
internationally connected).
Untuk memperlancar distribusi logistik barang, jasa, dan informasi,
pemerintah pusat dan daerah, maupun melalui kerja sama dengan dunia


I - 3

usaha, termasuk BUMN, berupaya untuk (a) menurunkan biaya transaksi
logistik (transaction cost); (b) mengurangi ekonomi biaya tinggi; (c)
mewujudkan akses yang merata diseluruh wilayah; (d) mewujudkan sinergi
antar pusat-pusat pertumbuhan ekonomi.
Selain itu, perlu dilakukan pula peningkatan kemampuan SDM dan Iptek untuk
mendukung pengembangan klaster-klaster industri. Ketersediaan sumber
daya manusia yang terampil dan cerdas (skilled labor) merupakan modal
utama untuk merintis terbangunnya proyek-proyek besar di setiap klaster
industri.
Dari sisi regulasi, Pemerintah secara berkelanjutan terus berupaya untuk
menciptakan dan meningkatkan iklim usaha dan iklim investasi yang kondusif
bagi para investor. Pemerintah perlu melakukan deregulasi (debottlenecking)
terhadap beberapa peraturan yang menghambat pelaksanaan investasi.
Fasilitasi dan katalisasi secara bertahap akan terusdiberikan oleh Pemerintah
melalui pemberian insentif fiskal dan non fiskal.
Pemerintah secara berkelanjutan perlu berupaya untuk meningkatkan
koordinasi, sinkronisasi dan sinergi kebijakan antar Kementerian/Lembaga
dan antara Kementerian/Lembaga dengan Pemerintah Daerah. Pemerintah
Pusat dan Pemerintah Daerah perlu bersinergi dan meningkatkan kualitas
belanjanya sehingga menjadi stimulus bagi berkembangnya usaha dan
investasi di daerah.
Untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif bagi investor, perlu
dilakukan peningkatkan dan penguatan kapasitas kelembagaan pemerintah
daerah termasuk kejelasan pembagian kewenangan antara pemerintah pusat,
pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota, serta peningkatan
kapasitas aparatur, kelembagaan, dan keuangan pemerintah daerah.
Untuk menghindari timbulnya kesenjangan baru antara wilayah koridor
ekonomi dengan wilayah sekitarnya di setiap pulau, maka pembangunan
daerah tertinggal, termasuk desa tertinggal, perlu ditingkatkan dengan
melakukan pemberdayaan ekonomi lokal, penciptaan akses transportasi lokal
ke wilayah pertumbuhan, dan percepatan pemenuhan infrastruktur dasar.
Pada saat yang bersamaan diperlukan percepatan peningkatan pembangunan
kawasan perkotaan untuk mewujudkan kota layak huni yang aman dan
nyaman; hijau yang berketahanan iklim dan bencana; cerdas; dan mempunyai
daya saing kota. Disamping itu, diperlukan juga peningkatan pembangunan
kawasan perdesaan yang bertujuan untuk mewujudkan kemandirian
masyarakat dan menciptakan desa-desa mandiri dan berkelanjutan yang
memiliki ketahanan sosial, ekonomi, dan ekologi, serta penguatan keterkaitan
kegiatan ekonomi kota-desa.
I - 4

Selain daripada itu, akan dilakukan pula penanganan kawasan perbatasan
yang ditujukan untuk mewujudkan kawasan perbatasan sebagai halaman
depan negara yang berdaulat, berdaya saing, dan aman. Pendekatan
pembangunan kawasan perbatasan terdiri: (i) pendekatan keamanan (security
approach) dan (ii) pendekatan peningkatan kesejahteraan masyarakat
(prosperity approach).
Karena hampir seluruh wilayah di Indonesia memiliki resiko tinggi terhadap
bencana, maka resiko bencana tersebut perlu dikelola atau diminimalkan.
Pada akhirnya, pembangunan wilayah yang optimal akan dapat meningkatkan
daya saing perekonomian nasional secara keseluruhan.
1.2. Tema Pengembangan Wilayah
Pengembangan wilayah didasarkan pada pembagian 7 (tujuh) wilayah
pembangunan, yaitu: Wilayah Papua, Wilayah Maluku, Wilayah Nusa Tenggara,
Wilayah Sulawesi, Wilayah Kalimantan, Wilayah Jawa-Bali dan Wilayah Sumatera.
Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional dan Rencana Tata Ruang Wilayah Pulau
menjadi acuan utama dalam mengendalian tata ruang, serta pencegahan dampak
negatif terhadap lingkungan akibat pemanfaatan ruang.
Pengembangan wilayah berdasarkan pada potensi dan keunggulan daerah,
serta lokasi geografis yang strategis di masing-masing pulau. Adapun tema
pengembangan wilayah di setiap pulau adalah sebagai berikut :
Pembangunan Wilayah Pulau Papua sebagai"lumbung panganmelalui
pengembangan industri berbasis komoditas padi, jagung, kedelai, kacang tanah,
sagu, ubi, sayur dan buah-buahan, serta pengembangan peternakan dan
tanaman non-pangan, seperti tebu, karet, dan kelapa sawit;percepatan
pembangunan ekonomi berbasis maritim (kelautan)melalui pengembangan
pariwisata bahari; serta lumbung energidi Kawasan Timur Indonesiamelalui
pengembangan minyak, gas bumi, dan tembaga."
Pembangunan Wilayah Kepulauan Maluku sebagai "produsen makanan
laut dan lumbung ikan nasionaldengan percepatan pembangunan
perekonomian berbasis maritim (kelautan)melalui pengembangan industri
berbasis komoditas perikanan; serta pengembangan industri pengolahan
berbasis nikel, dan tembaga."
Pembangunan Wilayah Kepulauan NusaTenggara sebagai "pintu gerbang
pariwisata ekologismelalui pengembangan industri Meeting, Incentive,
Convetion, Exhibition (MICE); penopang pangan nasionaldengan percepatan
pembangunan perekonomian berbasis maritim (kelautan) melalui
pengembangan industri perikanan, garam, dan rumput laut;pengembangan
industri berbasis peternakan terutama sapi, jagung; serta pengembangan
industri mangan, dan tembaga.


I - 5

GAMBAR 1.1

I - 6

Pembangunan Wilayah Pulau Sulawesi sebagai "salah satu pintu gerbang
Indonesia dalam perdagangan internasional dan pintu gerbang Kawasan
Timur Indonesia dengan pengembangan industri berbasis logistik;serta
lumbung pangan nasionaldenganpengembangan industri berbasis kakao,
padi, jagung;dan pengembangan industri berbasis rotan, aspal, nikel, dan biji
besi; serta percepatan pembangunan ekonomi berbasis maritim (kelautan)
melalui pengembangan industri perikanan dan pariwisata bahari."
Pembangunan Wilayah Pulau Kalimantan sebagai "salah satu paru-paru
duniadengan mempertahankan luasan hutan Kalimantan; dan lumbung energi
nasional dengan pengembangan hilirisasi komoditas batu bara; serta
pengembangan industri berbasis komoditas kelapa sawit, karet, bauksit,
bijibesi, gas alam cair, pasir zirkon dan pasir kuarsa, serta pengembangan food
estate."
Pembangunan Wilayah Pulau Jawa-Bali sebagai "lumbung pangan nasional
dan pendorong sektor industri dan jasa nasional dengan pengembangan
industri makanan-minuman,tekstil, otomotif, alutsista, telematika, kimia,
alumina dan besi baja;salahsatu pintu gerbang destinasi wisata terbaik
dunia dengan pengembangan ekonomi kreatif;serta percepatan pembangunan
ekonomi berbasis maritim (kelautan) melalui pengembangan industri
perkapalan dan pariwisata bahari.
Pembangunan Wilayah Pulau Sumatera sebagai "salah satu pintu gerbang
Indonesia dalam perdagangan internasional dan lumbung energi nasional,
diarahkan untuk pengembanganhilirisasi komoditas batu bara, serta industri
berbasis komoditas kelapa sawit, karet, timah, bauksit, dan kaolin."
Secara diagramatis, tema pembangunan wilayah di masing-masing pulau dapat
dilihat pada Gambar 1.2

1.3. Tujuan dan Sasaran Pokok Pengembangan Wilayah
Dengan mengacu Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN)
2005-2025, maka tujuan pengembangan wilayah pada tahun 2015-2019 adalah
untuk mengurangi kesenjangan pembangunan wilayah antara KBI dan KTI melalui
percepatan dan pemerataan pembangunan wilayah dengan menekankan
keunggulan kompetitif perekonomian daerah berbasis SDA yang tersedia, SDM
berkualitas, penyediaan infrastruktur, serta meningkatkan kemampuan ilmu dan
teknologi secara terus menerus. Pada akhirnya diharapkan dapat tercapai
"Peningkatan Kesejahteraan Rakyat secara Merata di Seluruh Wilayah."


I - 7

GAMBAR 1.2
Tema Pengembangan Wilayah


I - 8




I - 9

Adapun sasaran pengembangan wilayah pada tahun 2015-2019 adalah sebagai
berikut:
1. Untuk percepatan dan perluasan pengembangan ekonomi wilayah, sasarannya
adalah pengembangan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di masing-masing
pulau dengan memanfaatkan potensi dan keunggulan daerah, termasuk
diantaranya adalah pengembangan 10 KEK, 13 KAPET, 4 KPBPB, 169 KPI.
2. Percepatan pembangunan ekonomi nasional berbasis maritim (kelautan) dengan
memanfaatkan sumber daya kelautan, yaitu peningkatan produksi perikanan;
pengembangan energi dan mineral kelautan; pengembangan kawasan bahari;
dan kemampuan industri maritim dan perkapalan, dengan sasaran (a)
peningkatan produksi perikanan tangkap dan budidaya sebesar 48 juta ton pada
Tahun 2019 (termasuk rumput laut); (b) peningkatan dan pengembangan jumlah
kapal perintis 75 unit untuk menghubungkan pulau besar dan pulau-pulau kecil
dan 100 lintas subsidi perintis; (c) pengutuhan dan penambahan luasan kawasan
koservasi laut dari 15,7 juta ha (tahun 2013) menjadi 20 juta ha (tahun 2019);
dan (d) peningkatan cakupan pengawasan sumber daya perikanan dan kelautan
menjadi 53,4 persen terhadap wilayah pengelolaan perikanan Indonesia.
3. Untuk menghindari terjadinya kesenjangan antar wilayah di masing-masing
pulau, sasarannya adalah pembangunan daerah tertinggal sebanyak 75
Kabupaten tertinggal dapat terentaskan dengan sasaran outcome: (a)
meningkatkan rata-rata pertumbuhan ekonomi di daerah tertinggal sebesar 7,35
persen; (b) menurunnya persentase penduduk miskin di daerah tertinggal
menjadi 12,5 persen; dan (c)meningkatnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
di daerah tertinggal sebesar 71,5.
4. Untuk mendorong pertumbuhan pembangunan kawasan perkotaan, utamanya di
luar Jawa, sasarannya adalah percepatan pembangunan 5 Pusat Kegiatan
Nasional (PKN) perkotaan baru, peningkatan efisiensi pengelolaan 7 PKN yang
sudah ada saat ini, dan optimalisasi peran 20 kota otonom berukuran sedang di
luar Jawa sebagai penyangga (buffer) urbanisasi.
5. Sementara itu, untuk pembangunan perdesaan, sasarannya adalah mengurangi
jumlah desa tertinggal dari 26 persen (2011) menjadi 20 persen (2019).
6. Untuk meningkatkan keterkaitan pembangunan kota-desa, sasarannya adalah
dapat diwujudkan 39 pusat pertumbuhan baru perkotaan sebagai Pusat Kegiatan
Lokal (PKL) atau Pusat Kegiatan Wilayah (PKW).
7. Untuk mewujudkan kawasan perbatasan sebagai halaman depan negara yang
berdaulat, berdaya saing, dan aman, sasarannya adalahpengembangan 26 Pusat
Kegiatan Strategis Nasional (PKSN)sebagai pusat pertumbuhan ekonomi
kawasan perbatasan negara yang dapat mendorong pengembangan kawasan
sekitarnya, terutama 187 lokasi prioritas (lokpri) perbatasan.
8. Untuk mengurangi resiko bencana, maka sasaran penanggulangan bencana
adalah mengurangi indeks resiko bencana pada PKN dan PKW yang memiliki
I - 10

indeks resiko bencana tinggi, baik yang berfungsi sebagai KEK, KAPET, KSN,
ataupun PKSN.
9. Untuk penguatan tata kelola pemerintahan dan pningkatan kapasitas aparatur
pemerintah daerah, sasaran yang perlu dicapai adalah: (1)meningkatnya
proporsi penerimaan pajak dan retribusi daerah sebesar 40 persen untuk
provinsi dan 15 persen untuk kabupaten/kota; (2)meningkatnya proporsi
belanja modal dalam APBD provinsi sebesar 35 persen dan untuk
Kabupaten/Kota sebesar 45persen pada tahun 2019 serta sumber pembiayaan
lainnya dalam APBD; (3)meningkatnya jumlah daerah yang mendapatkan opini
wajar tanpa pengecualian (WTP); (4)terbentuknya kerjasama daerah, terutama
dalam rangka percepatan konektivitas dan peningkatan pelayanan publik;
(5)tersusunnya Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang tepat fungsi dan ukuran
sesuai dengan karakteristik wilayah Papua; (6)meningkatnya kualitas dan
proporsi tingkat pendidikan aparatur sipil negara untuk jenjang S1 sebesar 20
persen, S2 sebesar 5 persen, dan S3 sebesar 5 persen;dan (7)meningkatnya
implementasi pelaksanaan SPM di daerah, khususnya pada pendidikan,
kesehatan dan infrastruktur
10. Untuk mewujudkan ruang wilayah yang aman, nyaman, produktif, dan
berkelanjutan, maka sasaran penataan ruang meliputi: (a) terwujudnya
keharmonisan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan; (b) terwujudnya
keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan sumber daya buatan
dengan memperhatikan sumber daya manusia; dan (c) terwujudnya pelindungan
fungsi ruang dan pencegahan dampak negatif terhadap lingkungan akibat
pemanfaatan ruang.
Sehubungan dengan sasaran tersebut, diharapkan pada akhir tahun 2019,
kesenjangan pembangunan wilayah antara KBI dan KTI semakin berkurang yang
dicerminkan dengan makin meningkatnya kontribusi PDRB KTI terhadap PDB
Nasional, yaitu dari sekitar 20 persen (2014) menjadi 22-25 persen. Dengan
demikian, kondisi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan
masyarakat di KTI.Secara rinci target pertumbuhan ekonomi, kemiskinan dan
pengangguran dalam kurun waktu 2015-2019 dapat dilihat pada Tabel 1.1 sampai
dengan Tabel 1.3 sebagai berikut.:



I - 11

Tabel 1.2 Sasaran Pertumbuhan Ekonomi Per WilayahTahun 2015-2019
Wilayah Pertumbuhan Ekonomi
2015 2016 2017 2018 2019
Sumatera 5.7 -5.8 6.0 -6.2 6.2-6.6 6.3-6.9 6.5 -6.9
Jawa-Bali 6.0-6.1 6.2 -6.4 6.3 -6.7 6.3-6.9 6.6-6.9
Nusa Tenggara 5.9-6.0 6.2-6.5 6.3-6.7 6.5-7.1 6.7 -7.1
Kalimantan 5.0-5.1 5.8 -6.0 5.9 -6.2 5.9-6.4 6.1-6.5
Sulawesi 7.2-7.4 7.4-7.7 7.6 -8.0 7.6 -8.2 8.0-8.3
Maluku 6.4-6.6 6.7-7.0 7.3 -7.7 7.3-7.9 7.5 - 8.0
Papua 11.7-11.9 14.1-14.7 14.1 -14.9 14.2-15.4 14.2-15.6
Sumber : Perhitungan Bappenas, 2014


Tabel 1.3 Sasaran Tingkat Kemiskinan Per WilayahTahun 2015-2019
Wilayah Tingkat Kemiskinan
2015 2016 2017 2018 2019
Sumatera 10.3 - 10.1 9.6 - 9.2 8.8 - 8.3 8.0 - 7.3 7.1 - 6.5
Jawa-Bali 10.0 - 9.8 9.2 - 8.9 8.5 - 8.0 7.8 - 7.2 7.0 - 6.3
Nusa Tenggara 17.7 - 17.3 16.4 - 15.7 15.0 - 14.1 13.6 - 13.0 12.2 - 11.1
Kalimantan 6.4 - 6.2 5.9 - 5.6 5.4 - 5.1 4.9 - 4.5 4.3 - 3.9
Sulawesi 10.7 - 10.4 9.9 - 9.5 9.1 - 8.6 8.3 - 7.6 7.4 - 6.7
Maluku 14.2 - 13.9 13.1 - 12.6 12.0 - 11.3 10.8 - 10.0 9.7 - 8.8
Papua 29.8 - 29.2 27.4 - 26.3 25.0 - 23.5 22.6 - 20.9 20.2 - 18.3
Sumber : Perhitungan Bappenas, 2014

Tabel 1.4 Sasaran Tingkat Pengangguran Per WilayahTahun 2015-2019
Wilayah Tingkat Pengangguran
2015 2016 2017 2018 2019
Sumatera 5.7 - 5.5 5.5 - 5.3 5.3 - 5.0 5.1 - 4.8 5.0 - 4.5
Jawa-Bali 6.4 - 6.3 6.3 - 6.0 6.1 - 5.7 5.9 - 5.5 5.8 - 5.2
Nusa Tenggara 3.8 - 3.7 3.6 - 3.5 3.5 - 3.3 3.4 - 3.1 3.3 3.0
Kalimantan 4.8 - 4.7 4.7 - 4.5 4.5 - 4.3 4.4 - 4.0 4.2 - 3.8
Sulawesi 4.8 - 4.7 4.7 - 4.5 4.6 - 4.3 4.4 - 4.1 4.1 - 3.7
Maluku 5.6 - 5.5 5.4 - 5.2 5.2 - 4.9 5.0 - 4.7 4.9 - 4.4
Papua 3.3 - 3.3 3.2 - 3.1 3.1 - 2.9 3.3 - 3.0 2.9 - 2.6
Sumber : Perhitungan Bappenas, 2014


I - 12

1.4. Arah Kebijakan dan Strategi Pengembangan Wilayah
1.4.1. Pengembangan Kawasan Strategis
2

Arah Kebijakan Pengembangan Kawasan strategis adalah percepatan
pengembangan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi wilayah dengan memaksimalkan
keuntungan aglomerasi, menggali potensi dan keunggulan daerah dan peningkatan
efisiensi dalam penyediaan infrastruktur. Pendekatan ini pada intinya merupakan
integrasi dari pendekatan sektoral dan regional. Setiap wilayah akan
mengembangkan produk yang menjadi potensi dan keunggulannya. Strategi yang
akan dilakukan dalam pengembangan kawasan strategis tersebut adalah:
1. Pengembangan Potensi Ekonomi Wilayah
Mengembangkan pusat-pusat pertumbuhan, baik yang telah ada (KEK, KAPET,
KPBP, dan KPI) maupun yang baru, terutama di wilayah koridor ekonomi
Kalimatan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua Pada pusat-pusat
pertumbuhan tersebut akan dibangun klaster-klaster industri pengolahan
produk yang menjadi keunggulannya. terutama yang mempunyai nilai tambah
tinggi dan menciptakan banyak kesempatan kerja.
2. Percepatan Pembangunan Konektivitas
Percepatan pembangunan konektivitas/infrastruktur di wilayah pertumbuhan,
antar wilayah pertumbuhan serta antar wilayah koridor ekonomi atau antar
pulau melalui percepatan pembangunan infrastruktur pelabuhan, bandara, jalan,
informasi dan telekomunikasi, serta pasokan energi. Tujuan penguatan
konektivitas adalah untuk (a) menghubungkan pusat-pusat pertumbuhan
ekonomi untuk memaksimalkan pertumbuhan berdasarkan prinsip keterpaduan
melalui inter-modal supply chained system; (b) memperluas pertumbuhan
ekonomi dari pusat-pusat pertumbuhan ekonomi ke wilayah belakangnya
(hinterland) (c) menyebarkan manfaat pembangunan secara luas melalui
peningkatan konektivitas dan pelayanan dasar ke daerah tertinggal, terpencil dan
perbatasan.
3. Peningkatan Kemampuan SDM dan Iptek
Peningkatan pengembangan kemampuan SDM dan Iptek dilakukan melalui
penyediaan SDM yang memiliki kompetensi yang disesuaikan dengan kebutuhan
pengembangan industri di masing-masing pusat-pusat pertumbuhan, Selain itu,
akan dilakukan pembangunan klaster inovasi sebagai centre of excellence atau
Science and Technology Park dalam rangka mendukung peningkatan kemampuan
berinovasi untuk meningkatkan daya saing di Koridor Ekonomi, serta
mengoptimalkan interaksi dan pemanfaatan sumber daya universitas, lembaga
litbang, dan dunia usaha.

2
Kawasan Strategis Nasional adalah wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan untuk mengembangkan pusat
pertumbuhan berbasis potensi sumber daya alam dan kegiatan budi daya unggulan sebagai penggerak utama
pengembangan wilayah. Pusat-Pusat pertumbuhan tersebut dapat berupa KEK, KAPET, KPI, KPBPB dsb.


I - 13

4. Regulasi dan Kebijakan
Dalam rangka mempermudah proses pembangunan, Pemerintah akan melakukan
deregulasi (debottlenecking) peraturan-peraturan yang menghambat
pengembangan investasi dan usaha di kawasan pertumbuhan ekonomi, melalui:
(i) mempercepat penyelesaian peraturan pelaksanaan undang-undang yang
terkait dengan investasi, (ii) menghilangkan tumpang tindih antar peraturan
yang sudah ada baik di tingkat pusat dan daerah, maupun antara sektor/lembaga,
(iii) merevisi atau menerbitkan peraturan yang sangat dibutuhkan untuk
mendukung pengembangan wilayah strategi, (iv) menyusun peraturan untuk
memberikan insentif bagi pengembangan investasi di pusat-pusat pertumbuhan
ekonomi, dan (v) menyusun atau merevisi peraturan untuk mempercepat dan
menyederhanakan proses serta memberikan kepastian perizinan;
5. Peningkatan Iklim Investasi dan iklim usaha
Dalam rangka mempermudah dan memperlancar proses kemudahan berusaha
dan berinvestasi, perlu dilakukan melalui: (i) penyederhanaan prosedur investasi
dan prosedur berusaha, (ii) peningkatan efisiensi logistik, (iii) optimalisasi
Pelayanan Terpada Satu Pintu (PTSP) dan penggunaan Sistem Pelayanan
Informasi dan Perijinan Investasi secara Elektronik (SPIPISE), (iv) meningkatkan
efektivitas pelaksanaan KPS terutama dalam investasi penyediaan infrastruktur
dan energi, (v) meningkatkan efektivitas strategi promosi investasi, (vi)
pembatalan perda bermasalah dan pengurangan biaya untuk memulai usaha,
(vii) menerapkan kebijakan labour market flexibility terutama terkait
pertimbangan penetapan UMP dengan tetap mempertimbangkan upaya untuk
menarik minat investor (iklim usaha); dan pemberian insentif fiskal dan non
fiskal.

1.4.2. Pengembangan Kawasan Perkotaan dan Perdesaan
1.4.2.1. Pembangunan Perkotaan
Arah kebijakan pembangunan wilayah perkotaan difokuskan untuk
membangun kota berkelanjutan dan berdaya saing menuju masyarakat kota yang
sejahtera berdasarkan karakter fisik, potensi ekonomi dan budaya lokal. Untuk itu,
strategi pembangunan perkotaan tahun 2015-2019 adalah :
1. Perwujudan Sistem Perkotaan Nasional (SPN)
a) Mengembangkan 5 Pusat Kegiatan Nasional (PKN)
3
Perkotaan sebagai Pusat
Kegiatan skala global, yaitu: kawasan perkotaan Jabodetabekjur
4
di provinsi
DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten; kawasan perkotaan Cekungan Bandung
5
(Jawa Barat); kawasan perkotaan Kedungsepur
6
di Provinsi Jawa Tengah;

3
Pusat Kegiatan Nasional (PKN) adalah kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala
internasional, nasional atau beberapa provinsi. PKN dapat berupa kawasan megapolitan atau metropoilitan
4
JakartaBogor-Depok-Tangerang-Bekasi-Cianjur
5
Kota Bandung, Kab. Bandung, Kab. Bandung Barat, Kota Cimahi, Kab. Majalengka, Kab. Sumedang
I - 14

kawasan perkotaan Gerbangkertosusila
7
di Provinsi Jawa Timur; dan kawasan
perkotaan Sarbagita
8
di Provinsi Bali, di wilayah Jawa-Bali.
b) Mengembangkan PKNPerkotaan di luar Jawa-Bali termasuk kawasan
perkotaan Mebidangro
9
di wilayah Sumatera dan kawasan perkotaan
Mamminasata
10
di wilayah Sulawesi; dan membentuk usulan PKNPerkotaan
baru di Wilayah Sumatera (kawasan perkotaan Palembang dan sekitarnya,
kawasan perkotaan Padang dan sekitarnya), Kalimantan (kawasan perkotaan
Banjarmasin dan sekitarnya), Sulawesi (kawasan perkotaan Manado dan
sekitarnya), dan Nusa Tenggara Barat (kawasan perkotaan Mataram dan
sekitarnya) sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi sekaligus pemerataan
pembangunan di luar Jawa-Bali.
c) Melakukan optimalisasi sedikitnya di 20 Kota sedang yang diarahkan sebagai
pengendali (buffer) arus urbanisasi dan diarahkan sebagai pusat pertumbuhan
utama yang mendorong keterkaitan kota dan desa di wilayah sekitarnya.
d) Mengembangkan 39 pusat pertumbuhan baru sebagai Pusat Kegiatan Wilayah
(PKW)
11
atau Pusat Kegiatan Lokal (PKL)
12
yang mendorong terwujudnya
keterkaitan kota dan desa.
2. Perwujudan Kota Layak Huni yang Aman dan Nyaman
a) Mempercepat pemenuhan dan peningkatan pelayanan sarana prasarana
permukiman (perumahan, air minum, sanitasi: pengelolaan sampah;
pengolahan limbah; drainase).
b) Mengembangkan dan meningkatkan pelayanan sarana dan prasarana
transportasi massal perkotaan yang berada diatas (upperground) atau
dibawah tanah (under ground) secara terintegrasi dan multimoda sesuai
dengan tipologi dan kondisi geografisnya.
c) Menyediakan ruang publik dan fasilitas umum yang nyaman sesuai dengan
kebutuhan pejalan kaki dan pesepeda serta menyediakan ruang parkir
terintegrasi multimoda dan antar moda (park and ride).
d) Menyediakan dan meningkatkan sarana prasarana ekonomi, khususnya di
sektor perdagangan dan jasa yang mampu mengakomodasi pasar
tradisional,sektor informal termasuk kegiatan koperasi dan Usaha Mikro Kecil
Menengah (UMKM).
e) Meningkatkan pelayanan kesehatan, pendidikan, dan sosial budaya.

6
Kabupaten Kendal, Demak, Ungaran di Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, Kota Semarang, dan Purwodadi di
Kabupaten Grobogan
7
Gersik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan
8
Kota Denpasar, Kabupaten Badung, Gianyar, dan Tabanan) di Provinsi Bali, di wilayah Jawa-Bali
9
Kawasan Medan, Binjai, Deli Serdang dan Karo
10
Makassar, Maros, Sungguminasa, dan Takalar
11
PKW: kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala provinsi atau beberapa
kabupaten/kota
12 PKL: kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala kabupaten/kota atau beberapa
kecamatan


I - 15

f) Meningkatkan keamanan kota melalui pencegahan, penyediaan fasilitas dan
sistem penanganan kriminalitas dan konflik, serta memberdayakan modal
sosial masyarakat kota.
g) Menyediakan peraturan yang memuat insentif dan disinsentif dalam
pemenuhan Standar Pelayanan Perkotaan (SPP).
h) Semua Pemenuhan Standar Pelayanan Perkotaan (SPP) tersebut diatas
diharapkan dapat diakses bagi seluruh kalangan masyarakat kota, termasuk
kelompok lansia, disabel, wanita dan anak.
3. Perwujudan Kota Hijau yang Berketahanan Iklim dan Bencana
a) Menata, mengelola, dan mengendalikan penyelenggaraan penataan ruang dan
kegiatan perkotaan yang efisien dan berkeadilan.
b) Meningkatkan kapasitas masyarakat, kelembagaan dan teknologi informasi
dan komunikasi dalam menerapkan prinsip kota hijau dan membangun
ketahanan kota terhadap perubahan iklim dan bencana alam (urban
resilience).
c) Mengembangkan dan menerapkan konsep kota hijau melalui: green
transportation, green openspace (ruang terbuka hijau), green
waste(pengelolaan sampah dan limbah melalui 3R
13
), green water (efisiensi
pemanfaatan dan pengelolaan air permukaan) dan green energy(pemanfaatan
sumber energi yang efisien dan ramah lingkungan) untuk pengurangan tingkat
pencemaran di darat, laut, dan udara, pemanfaatan energi alternatif dan
terbarukan, pemanfaatan daur ulang, serta pengembangan kegiatan
perekonomian kota (green Economy).
4. Pengembangan Kota Cerdas dan Daya Saing Kota
a) Mengembangkan perekonomian dengan membangun pencitraan kota (city
branding) memanfaatkan produk dan sumber daya manusia unggulan, serta
arsitektur perkotaan (urban design), berdasarkan karakter sosial budaya local.
b) Menyediakan infrastruktur dan pelayanan publik melalui penggunaan ICT
pada sektor pendidikan, kesehatan, permukiman,dan kegiatan pemerintahan
(e-government ) serta perencanaan, pembangunan, pengoperasian dan
pemeliharaan prasarana sarana kota (e-infrastructures).
c) Membangun kapasitas masyarakat yang inovatif, kreatif dan produktif, mampu
memanfaatkan potensi keragaman sosial budaya lokal untuk membangun daya
saing kota.
5. Peningkatan Kapasitas Tata Kelola Pembangunan Perkotaan
a) Mewujudkan sistem, peraturan dan prosedur dalam birokrasi kepemerintahan
kota yang tanggap terhadap kebutuhan masyarakat kota berkelanjutan.

13
3R: pengurangan (Reduce), pemanfaatan kembali (Re-use), dan Daur Ulang (re-cycle)
I - 16

b) Meningkatkan kapasitas pemimpin kota yang visioner dan kapasitas aparatur
pemerintah dalam membangun dan mengelola kota berkelanjutan, baik
melalui kota layak dan nyaman, kota hijau, maupun kota cerdas, melalui
pendidikan, pelatihan dan pembinaan secara bersikenambungan.
c) Menyederhanakan proses perijinan dan berusaha bagi para pelaku ekonomi
termasuk pelayanan terpadu satu pintu (PTSP).
d) Membangun dan mengembangkan kelembagaan dan kerjasama pembangunan
antar kota, untuk mewujudkan kota berkelanjutan.
e) Mengembangkan dan menyediakan pusat data informasi perkotaan terpadu
yang mudah diakses.
f) Meningkatkan peran swasta,organisasi masyarakat, dan organisasi profesi
secara aktif, baik dalam forum dialog perencanaan dengan pemerintah dan
masyarakat perkotaan, maupun dalam pembangunan kota berkelanjutan,
seperti: pembangunan infrastruktur perkotaan maupun masukan terhadap
rencana tata ruang kota.
g) Mengembangkan lembaga pembiayaan infrastruktur perkotaan.

1.4.2.2. Pengembangan Perdesaan
Sesuai dengan amanat UU No. 6/2014 tentang Desa, tujuan pembangunan desa/
perdesaan adalah mewujudkan kemandirian masyarakat dan menciptakan desa-desa
berkelanjutan yang memiliki ketahanan sosial, ekonomi, dan ekologi, serta
membangun keterkaitan pembangunan ekonomi lokal antara perdesaan dan
perkotaan.
Sasaran utama pembangunan perdesaan difokuskan kepada pembangunan desa
dan pembangunan kawasan perdesaan.Pembangunan desa ditujukan untuk
menurunkan tingkat kemiskinan di desa dan mengurangi jumlah desa tertinggal dan
terisolasi, serta meningkatkan desa-desa berkembang dan desa mandiri. Sedangkan
pembangunan kawasan perdesaan ditujukan untuk memperluas dan
mendiversifikasikan kegiatan ekonomi masyarakat desa, mendorong terjadinya
industrialisasi perdesaan berbasis usaha mikro, kecil, menengah dan koperasi, serta
mengembangkan kegiatan pengolahan Sumber Daya Alam (SDA) yang berkelanjutan
oleh masyarakat desa berbasis ketahanan sosial-ekonomi dan ekologi perdesaan.
Oleh karena itu, kebijakan pembangunan perdesaan tahun 2015-2019 dilakukan
dengan strategi sebagai berikut:
1. Pengurangan Kemiskinan dan Kerentanan Ekonomi Perdesaan di kantong-
kantong kemiskinan
a) Mendorong perekonomian desa mengembangkan kewirausahaan dan
meningkatkan produktivitas rumah tangga.


I - 17

b) Meningkatkan ketahanan ekonomi masyarakat perdesaan melalui fasilitasi
pendampingan dalam pengembangan ekonomi perdesaan, bantuan
permodalan atau kredit, dan kesempatan berusaha.
c) menyiapkan kebijakan jaring pengaman sosial melalui mekanisme bantuan
sosial dan jaminan sosial.
2. Peningkatan Ketersediaan Pelayanan Umum dan Pelayanan Dasar
Minimum di Perdesaan
a) Memenuhi kebutuhan dasar masyarakat perdesaan dalam hal perumahan,
sanitasi (air limbah, persampahan, dan drainase lingkungan) dan air minum.
b) Memenuhi kebutuhan dasar masyarakat perdesaan dalam bidang pendidikan
dan kesehatan dasar (penyediaan sarana dan prasarana pendidikan dan
kesehatan serta tenaga pendidikan dan kesehatan).
c) Meningkatkan ketersediaan sarana dan prasarana dasar dalam menunjang
kehidupan sosial-ekonomi masyarakat perdesaan yang berupa akses ke pasar,
lembaga keuangan, dan toko saprodi pertanian/perikanan.
d) Meningkatkan kapasitas maupun kualitas jaringan listrik, jaringan
telekomunikasi, dan jaringan transportasi.
3. Peningkatan Keberdayaan Masyarakat Perdesaan
a) Meningkatkan keberdayaan masyarakat perdesaan, melalui fasilitasi dan
pendampingan berkelanjutan dalam perencanaan, pembangunan, dan
pengelolaan desa.
b) Meningkatkan keberdayaan masyarakat adat, melalui perlindungan dan
pengakuan tentang tanah adat/ulayat, akses terhadap pendidikan, kesehatan,
serta sarana dan prasarana permukiman yang memenuhi standar pelayanan
minimum dalam peraturan perundangan.
4. Perwujudan Tata Kelola Desa yang Baik
a) Mempersiapkan peraturan teknis pendukung pelaksanaan UU No. 6/2014
tentang Desa, PP No 43/2014 tentang peraturan pelaksanaan UU No 6/2014
tentang Desa, dan PP No 60/2014 tentang Dana Desa.
b) Memfasilitasi peningkatan kapasitas pemerintah desa.
c) Memfasilitasi peningkatan kapasitas Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dan
lembaga lembaga lainnya di tingkat desa.
d) Mempersiapkan data, informasi, dan indeks desa yang digunakan sebagai
acuan bersama dalam perencanaan dan pembangunan, serta monitoring dan
evaluasi kemajuan perkembangan desa.
e) Memastikan secara bertahap pemenuhan alokasi Dana Desa.
I - 18

5. Perwujudan Kemandirian Pangan dan Energi Perdesaan Menuju Desa
Berkelanjutan
a) Mengendalikan penyelenggaraan tata ruang kawasan perdesaan untuk
melakukan redistribusi lahan kepada petani/nelayan (land reform),
melindungi konversi lahan pertanian, kawasan pesisir dan kelautan secara
berkelanjutan, serta menekan laju alih fungsi lahan.
b) Memfasilitasi peningkatan kesadaran pemerintah dan masyarakat dalam
meningkatkan kemandirian pangan dan energi, serta pemanfaatan,
pengelolaan, dan konservasi SDA dan lingkungan hidup yang seimbang,
berkelanjutan, dan berwawasan mitigasi bencana;
c) Menyiapkan regulasi baru tentang akses dan hak desa.
d) Menyiapkan pengaturan shareholding keterlibatan pemerintah, pemerintah
daerah, pemerintah desa, dan swasta terutama untuk menghindari illegal
fishing dan illegal logging.
6. Pengembangan Ekonomi Perdesaan
a) Meningkatkan kegiatan ekonomi desa yang berbasis komoditas unggulan,
melalui pengembangan rantai nilai, peningkatan produktivitas, serta
penerapan ekonomi hijau, dengan memanfaatkan teknologi dan inovasi di
desa.
b) Menyediakan dan meningkatkan sarana dan prasarana produksi, pengolahan,
dan pasar desa.
c) Meningkatkan akses masyarakat desa terhadap modal usaha, pemasaran dan
informasi pasar.
d) mengembangkan lembaga pendukung ekonomi desa seperti koperasi, dan
BUMDes, dan lembaga ekonomi mikro lainnya.
e) Mendorong kerjasama antar desa.
1.4.2.3. Peningkatan Keterkaitan Perkotaan dan Perdesaan
Arah kebijakan peningkatan keterkaitan perkotaan dan perdesaan difokuskan
pada perwujudan Sistem Perkotaan Nasional yang berperan sebagai Penghubung
Kota-Desa (PKD), dengan menghubungkan keterkaitan fungsional antara pasar dan
kawasan produksi.Dalam PKD ini terdapat suatu kegiatan yang dapat meningkatkan
nilai dari komoditas barang dan jasa dari kawasan sekitar (hinterland) perkotaan
maupun perdesaan. Kebijakan tersebut dijabarkan melalui strategi sebagai berikut:
1. Perwujudan Konektivitas antar Kota Sedang dan Kota Kecil, dan antar Kota
Kecil dan Desa sebagai Tulang Punggung (Backbone) Keterhubungan Desa-
Kota
a) Mempercepat pembangunan sistem, sarana dan prasarana di bidang
transportasi, dan komunikasi untuk memperlancar arus barang, jasa,
penduduk, dan modal.


I - 19

b) Menerapkan teknologi informasi dan komunikasi untuk memfasilitasi
perdagangan dan pertukaran informasi antar wilayah.
c) Mempercepat pemenuhan suplai energi untuk memenuhi kebutuhan domestik
dan industri.
2. Perwujudan Keterkaitan antara Kegiatan Ekonomi Hulu (upstream
linkages) dan Kegiatan Ekonomi Hilir (downstream linkages) Desa-Kota.
a) Mengembangkan industri kecil dan menengah yang mengolah hasil
pertanian/perikanan dan industri yang berbasis koperasi dan usaha kecil dan
menengah.
b) Menyediakan sarana dan prasarana termasuk informasi pasar dan pemasaran
dalam menunjang kegiatan agribisnis dan industrialisasi perdesaan.
c) Mengembangkan lembaga keuangan daerah untuk meningkatkan akses
terhadap modal usaha di sektor pertanian dan perikanan.
d) Menerapkan teknologi dan inovasi guna menerapkan ekonomi hijau dan
ekonomi kreatif sehingga dapat meningkatkan nilai tambah dan daya saing di
industri pengolahan.
e) Strategi perwujudan keterkaitan antara Kegiatan Ekonomi Hulu dan Hilir
tersebut di atas dapat dilakukan melalui pengembangan agribisnis (agrowisata
dan agroindustri), Pariwisata, dan Transmigrasi.

3. Peningkatan Kapasitas Tata Kelola, Kelembagaan, dan Masyarakat dalam
Peningkatan Keterkaitan Kota-Desa
a) Menyediakan peraturan yang mendukung pergerakan barang dan jasa antara
desa-kota dan antar wilayah.
b) Menyederhanakan proses perijinan dan berusaha dengan mengefektifkan
peran lembaga Perijinan Terpadu Satu Pintu di daerah guna meningkatkan
iklim dunia usaha.
c) Mengembangkan kerjasama antar daerah dan kerjasama pemerintah-swasta,
serta mengembangkan forum-forum yang mendorong perwujudan kerjasama.
d) Meningkatkan pendidikan formal dan informal untuk memperkuat
kemampuan inovasi,kreatifitas lokal serta potensi keragaman sosial budaya
untuk membangun daya saing kota-desa.

1.4.3. Pengembangan Daerah Tertinggal
14
dan Kawasan
Perbatasan
15


14
Daerah Tertinggal adalah meliputi kabupaten yang masih dalam kategori tertinggal berdasarkan kriteria
ekonomi; SDM; infrastruktur; kapasitas keuangan daerah; aksesibilitas; dan karakteristik daerah.
15
Kawasan Perbatasan Negara adalah wilayah kabupaten/kota yang secara geografis dan demografis berbatasan
langsung dengan negara tetangga dan atau laut lepas.Kawasan perbatasan negara meliputi kawasan perbatasan
darat dan kawasan perbatasan laut termasuk pulau-pulau kecil terluar.
I - 20

1.4.3.1. Pengembangan Daerah Tertinggal
Arah kebijakan percepatan pembangunan daerah tertinggal difokuskan pada:
a. Upaya pemenuhan kebutuhan pelayanan dasar publik;
b. Pengembangan perekonomian masyarakat yang didukung oleh Sumber Daya
Manusia (SDM) yang handal dan infrastruktur penunjang konektivitas antara
daerah tertinggal dan kawasan strategis.
Strategi pengembangan daerah tertinggal sebagai berikut:
a. Pengembangan perekonomian masyarakat di daerah tertinggal dalam rangka
meningkatkan nilai tambah sesuai dengan karakteristik, posisi strategis, dan
keterkaitan antarkawasan yang meliputi aspek infrastruktur, manajemen usaha,
akses permodalan, inovasi, dan pemasaran;
b. Peningkatan aksesibilitas yang menghubungkan daerah tertinggal dengan
kawasan strategis melalui pembangunan sarana dan prasarana, seperti:
peningkatan akses jalan, jembatan, pelabuhan, serta pelayanan penerbangan
perintis dan pelayaran perintis;
c. Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), Iptek, dan kapasitas tata
kelola kelembagaan pemerintahan daerah tertinggal, meliputi aspek peningkatan
kapasitas aparatur pemerintahan daerah, kelembagaan dan keuangan daerah;
d. Percepatan pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM) untuk pelayanan
publik dasar di daerah tertinggal, terutama di bidang pendidikan, kesehatan, air
minum, transportasi, listrik, dan telekomunikasi;
e. Penguatan kapasitas kelembagaan pemerintahan daerah dan peningkatan
kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) untuk daerah tertinggal yang sudah
terentaskan.
f. Percepatan pembangunan wilayah Papua dan Papua Barat yang diprioritaskan
pada: (i) peningkatan tata kelola pemerintah daerah, dan (ii) peningkatan
kesejahteraan masyarakat, melalui pengembangan ekonomi masyarakat asli
Papua, peningkatan pelayanan pendidikan dan kesehatan yang menjangkau di
kampong terisolir, membuka akses infrastruktur di pegunungan tengah dan
wilayah terisolir Papua dan Papua Barat lainnya, pemihakan putra-putri asli
Papua dalam pendidikan kedinasan dan pendidikan menengah, dan
meningkatkan kemampuan kelembagaan pemerintahan Provinsi dan
Kabupaten/Kota di Papua dan Papua Barat.

1.4.3.2. Pengembagan Kawasan Perbatasan
Pengembangan kawasan perbatasan 2015-2019 difokuskan pada 26 Pusat
Kegiatan Strategis Nasional
16
(PKSN) Kawasan Perbatasan dan 187 lokasi prioritas

16
Pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN) adalah kawasan perkotaan yang ditetapkan untuk mendorong
pengembangan kawasan perbatasan negara.


I - 21

(lokpri) perbatasan. Arah kebijakan pengembangan kawasan perbatasan adalah
mewujudkan kawasan perbatasan sebagai halaman depan negara yang berdaulat,
berdaya saing, dan aman. Pendekatan pembangunan kawasan perbatasan terdiri: (i)
pendekatan keamanan (security approach), dan (ii) pendekatan peningkatan
kesejahteraan masyarakat (prosperity approach).
Sehubungan dengan hal tersebut,strategi pengembangan kawasan perbatasan
diperlukan melalui:
a. Pengembangan pusat pertumbuhan ekonomi kawasan perbatasan negara
berdasarkan karakteristik wilayah, potensi lokal, dan mempertimbangkan
peluang pasar negara tetangga dengan didukung pembangunan infrastruktur
transportasi, energi, sumber daya air, dan telekomunikasi;
b. Pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang handal serta pemanfaatan
pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dalam memanfaatkan dan mengelola potensi
lokal, untuk mewujudkan kawasan perbatasan negara yang berdaya saing;
c. Pembangunan konektivitas simpul transportasi utama Pusat Kegiatan Strategis
Nasional (PKSN) dengan lokasi prioritas (Kecamatan disekitarnya), Pusat
Kegiatan Wilayah (Ibukota Kabupaten), Pusat Kegiatan Nasional (Ibukota
Provinsi). Untuk kawasan perbatasan laut, pelayanan transportasi laut perlu
peningkatan kualitas dan intensitas pelayanan. Konektivitas simpul transportasi
juga didorong untuk menghubungkan dengan negara tetangga. Membuka akses
transportasi darat, sungai, laut, dan udara di dalam Lokasi Prioritas (Lokpri)
dengan jalan/moda/dermaga non status dan pelayanan keperintisan;
d. Transformasi kelembagaan lintas batas negara, yaitu Costum, Immigration,
Quarantine, Security (CIQS) menjadi satu sistem pengelolaan yang terpadu;
e. Peningkatan kualitas dan kuantitas, serta standarisasi sarana-prasarana
pengamanan perbatasan laut dan darat, serta melibatkan peran aktif masyarakat
dalam mengamankan batas dan kedaulatan negara;
f. Penegasan batas wilayah negara di darat dan laut melalui Pra-investigation,
refixation, maintanance (IRM), pelaksanaan IRM, penataan kelembagaan
diplomasi perundingan yang didukung oleh kelengkapan data/peta dukung dan
kapasitas peran dan fungsi kelembagaan yang kuat; dan
g. Peningkatan kerjasama perdagangan (Border Trade Aggreement) dan kerjasama
pertahanan dan keamanan batas wilayah dengan negara tetangga.
1.4.4. Penanggulangan Bencana
Untuk mengantisipasi risiko bencana yang sudah ada dan yang berpotensi dimasa
yang akan datang bila tidak dikelola/diminimalisasi akan dapat mengakibatkan
terjadinya kemunduran dari pembangunan yang sudah dilakukan. Sehubungan
dengan hal tersebut, maka arah kebijakan didalam penanggulangan bencana adalah
(1) mengurangi risiko bencana; dan (2) meningkatkan ketangguhan menghadapi
bencana.
I - 22

Strategi penanggulangan bencana dan risiko bencana adalah sebagai berikut.
a. Pengarusutamaan pengurangan risiko bencana dalam pembangunan sektoral dan
wilayah;
b. Harmonisasi kebijakan dan regulasi penanggulangan bencana di pusat dan
daerah;
c. Penyediaan kajian dan peta risiko untuk perencanaan pembangunan;
d. Penyusunan RPJMD dan RTRWP/K yang sensitif terhadap risiko bencana;
e. Penyediaan dan operasionalisasi sistem peringatan dini;
f. Penyediaan infrastruktur mitigasi dan kesiapsiagaan;
g. Pengembangan IPTEK dan pendidikan untuk membangun budaya keselamatan
terhadap bencana;
h. Perkuatan kapasitas manajemen penanggulangan bencana pada fase pra
bencana, tanggap darurat, dan pasca bencana dan peningkatan kapasitas
aparatur dan masyarakat;
i. Partisipasi dan peranserta multi-pihak dalam penyelenggaraan penanggulangan
bencana;
j. Internalisasi Pengurangan Resiko Bencana dalam kerangka Pembangunan
Berkelanjutan;
k. Penurunan kerentanan terhadap bencana.

1.4.5. Pengembangan Tata Ruang Wilayah Nasional
Untuk mendukung pelaksanaan percepatan pembangunan wilayah, diperlukan
landasan utama pembangunan, yaitu: penataan, pemanfaatan dan pengendalian tata
ruang yang ditujukan untuk pelindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak
negatif terhadap lingkungan akibat pemanfaatan ruang. Acuan untuk pengembangan
tata ruang wilayah nasional mengacu pada PP No. 26 Tahun 2008 tentang Rencana
Tata Ruang Wilayah Nasional.
Adapun arah kebijakan pengembangan tata ruang wilayah nasional adalah
sebagai berikut:
a) Kebijakan terkait pengembangan struktur tata ruang:
peningkatan akses pelayanan perkotaan dan pusat pertumbuhan ekonomi
wilayah yang merata dan berhierarki;
peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan prasarana
transportasi, telekomunikasi, energi, dan sumber daya air yang terpadu dan
merata di seluruh wilayah nasional;
b) Kebijakan terkait pengembangan pola ruang:
pemeliharaan dan perwujudan kelestarian fungsi lingkungan hidup
pencegahan dampak negatif kegiatan manusia yang dapat menimbulkan
kerusakan lingkungan hidup


I - 23

pengendalian perkembangan kegiatan budidaya agar tidak melampaui daya
dukung dan daya tampung lingkungan;
pelestarian dan peningkatan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup untuk
mempertahankan dan meningkatkan keseimbangan ekosistem, melestarikan
keanekaragaman hayati, mempertahankan dan meningkatkan fungsi
perlindungan kawasan, melestarikan keunikan bentang alam, dan
melestarikan warisan budaya nasional;
pengembangan dan peningkatan fungsi kawasan dalam pengembangan
perekonomian nasional yang produktif, efisien, dan mampu bersaing dalam
perekonomian internasional;
pengembangan kawasan tertinggal untuk mengurangi kesenjangan tingkat
perkembangan antarkawasan.
Strategi yang diuraikan di bawah hanya mencakup strategi untuk pengembangan
struktur ruang khususnya terkait dengan peningkatan kualitas dan jangkauan
pelayanan jaringan prasaran; dan strategi untuk pengembangan pola ruang
khususnya pengembangan kawasan lindung, dan strategi pengendalian
perkembangan kegiatan budidaya sesuai dengan daya dukung dan daya tampung
lingkungan, serta strategi untuk pelestarian dan peningkatan fungsi dan daya dukung
lingkungan hidup. Sedangkan strategi untuk pengembangan kebijakan lainnya
dipertimbangkan dalam perumusan pengembangan strategi-strategi pengembangan
kawasan strategis, daerah tertinggal, daerah perbatasan, kawasan perkotaan, dan
kawasan perdesaan.
Untuk melaksanakan arah kebijakan pengembangan tata ruang wilayah nasional
tersebut, maka strategi pengembangan tata ruang wilayah sebagai berikut:
1. Peningkatan Kualitas dan Jangkauan Pelayanan Jaringan Prasarana,
meliputi:
a) meningkatkan kualitas jaringan prasarana dan mewujudkan keterpaduan
pelayanan transportasi darat, laut, dan udara;
b) mendorong pengembangan prasarana telekomunikasi terutama di kawasan
terisolasi;
c) meningkatkan jaringan energi untuk memanfaatkan energi terbarukan dan tak
terbarukan secara optimal serta mewujudkan keterpaduan sistem penyediaan
tenaga listrik;
d) meningkatkan kualitas jaringan prasarana serta mewujudkan keterpaduan
sistem jaringan sumber daya air;
e) meningkatkan jaringan transmisi dan distribusi minyak dan gas bumi, serta
mewujudkan sistem jaringan pipa minyak dan gas bumi nasional yang optimal.
2. Pemeliharaan dan Perwujudan Kelestarian Fungsi Lingkungan Hidup,
meliputi:
a) menetapkan kawasan lindung di ruang darat, ruang laut, dan ruang udara,
termasuk ruang di dalam bumi;
I - 24

b) mewujudkan kawasan berfungsi lindung dalam satu wilayah pulau dengan
luas paling sedikit 30 persen dari luas pulau tersebut sesuai dengan kondisi
ekosistemnya;
c) mengembalikan dan meningkatkan fungsi kawasan lindung yang telah
menurun akibat pengembangan kegiatan budi daya, dalam rangka
mewujudkan dan memelihara keseimbangan ekosistem wilayah.

3. Pencegahan Dampak Negatif Kegiatan Manusia Terhadap Kerusakan
Lingkungan Hidup, meliputi:
a) menyelenggarakan upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan
hidup;
b) melindungi kemampuan lingkungan hidup dari tekanan perubahan dan/atau
dampak negatif yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan agar tetap mampu
mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya;
c) melindungi kemampuan lingkungan hidup untuk menyerap zat, energi,
dan/atau komponen lain yang dibuang ke dalamnya;
d) mencegah terjadinya tindakan yang dapat secara langsung atau tidak langsung
menimbulkan perubahan sifat fisik lingkungan yang mengakibatkan
lingkungan hidup tidak berfungsi dalam menunjang pembangunan yang
berkelanjutan;
e) mengendalikan pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana untuk
menjamin kepentingan generasi masa kini dan generasi masa depan;
f) mengelola sumber daya alam tak terbarukan untuk menjamin
pemanfaatannya secara bijaksana dan sumber daya alam yang terbarukan
untuk menjamin kesinambungan ketersediaannya dengan tetap memelihara
dan meningkatkan kualitas nilai serta keanekaragamannya;
g) mengembangkan kegiatan budidaya yang mempunyai daya adaptasi bencana
di kawasan rawan bencana.
4. Pengendalian Perkembangan Kegiatan Budi Daya Sesuai Daya Dukung dan
Daya Tampung Lingkungan, meliputi:
a) membatasi perkembangan kegiatan budi daya terbangun di kawasan rawan
bencana untuk meminimalkan potensi kejadian bencana dan potensi kerugian
akibat bencana;
b) mengembangkan perkotaan metropolitan dan kota besar dengan
mengoptimalkan pemanfaaatan ruang secara vertikal dan kompak;
c) mengembangkan ruang terbuka hjau dengan luas paling sedikit 30 persen
(tiga puluh persen) dari luas kawasan perkotaan;
d) membatasi perkembangan kawasan terbangun di kawasan perkotaan besar
dan metropolitan untuk mempertahankan tingkat pelayanan prasarana dan
sarana kawasan perkotaan serta mempertahankan fungsi kawasan perdesaan


I - 25

di sekitarnya. mengembangkan kegiatan budidaya yang dapat
mempertahankan keberadaan pulau-pulau kecil.

5. Pelestarian dan Peningkatan Fungsi dan Daya Dukung Lingkungan Hidup,
meliputi:
a) menetapkan kawasan strategis nasional berfungsi lindung;
b) mencegah pemanfaatan ruang di kawasan strategis nasional yang berpotensi
mengurangi fungsi lindung kawasan;
c) membatasi pemanfaatan ruang di sekitar kawasan strategis nasional yang
berpotensi mengurangi fungsi lindung kawasan;
d) membatasi pengembangan prasarana dan sarana di dalam dan di sekitar
kawasan strategis nasional yang dapat memicu perkembangan kegiatan budi
daya;
e) mengembangkan kegiatan budi daya tidak terbangun di sekitar kawasan
strategis nasional yang berfungsi sebagai zona penyangga yang memisahkan
kawasan lindung dengan kawasan budi daya terbangun;
f) merehabilitasi fungsi lindung kawasan yang menurun akibat dampak
pemanfaatan ruang yang berkembang di dalam dan di sekitar kawasan
strategis nasional.

1.4.6. Tata Kelola Pemerintah Daerah dan Otonomi Daerah
Kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah diarahkan pada penguatan tata
kelola pemerintahan dan pembangunan kapasitas daerah terkait aspek keuangan,
aparatur, dan kelembagaan, serta peningkatan kualitas kehidupan demokrasi di
daerah. Dalam kaitan ini pemahaman dan semangat nasionalisme harus tetap
ditumbuhkembangkan, terus dilakukan harmonisasi dan sinkronisasi pusat daerah,
penataan daerah, kerja sama antar daerah, peningkatan kapasitas aparatur dan
pelaksanaan reformasi birokrasi, peningkatan pelayanan publik di daerah, penguatan
kebijakan transfer ke daerah, serta penguatan daya sosial dalam rangka peningkatan
kualitas dan capaian pembangunan daerah
Adapun strategi pengembangan Otonomi Daerah adalah sebagai berikut:
1. Peningkatan Kualitas Desentralisasi dan Otonomi Daerah
Peningkatan kualitas desentralisasi dan otonomi daerah dalam dimensi ekonomi,
politik, administrasi dan fiskal, terutama untuk menjaga Negara Kesatuan Republik
Indonesia,meliputi:
a) Peningkatan pemahaman dan kesadaran masyarakat dalam semangat
nasionalisme Negara Kesatuan Republik Indonesia.
b) Harmonisasi dan sinkronisasi pusat dan daerah dalam dimensi penataan
urusan, perencanaan, pengembangan kapasitas, hingga perundangan terkait
hubungan pusat-daerah.
c) Penguatan kualitas demokrasi dan proses pelembagaan politik di tingkat lokal
dalam upaya meningkatkan kualitas desentralisasi dan otonomi daerah.
I - 26

2. Peningkatan Daya Saing dan Kemandirian Daerah
Peningkatan daya saing dan kemandirian daerah dalam upaya meningkatkan
kesejahteraan masyarakat meliputi :
a) Perbaikan kualitas tata pemerintahan daerah dalam upaya meningkatkan
pelayanan dan investasi daerah.
b) Peningkatan kapasitas aparatur pemda dan sumberdaya manusia dalam
mendorong reformasi birokrasi daerah.
c) Peningkatan kapasitas pendanaan infrastruktur daerah serta pengelolaan
sumberdaya alam dan ekonomi dalam menguatkan kemandirian daerah.
3. Peningkatan pemerataan pembangunan
Peningkatan pemertaan pembangunan pada wilayah-wilayah tertentu (khususnya
daerah yang kinerja pemerintahannya rendah/sedang, DOB yg masuk daerah
tertinggal) meliputi:
a) Peningkatan kualitas kerjasama daerah dalam upaya peningkatan pelayanan
publik di daerah.
b) Penguatan sistem alokasi transfer daerah yang meningkatkan kualitas alokasi
sumberdaya yang optimal.
c) Penguatan daya sosial dalam upaya meningkatkan kualitas pembangunan di
daerah.

1.5. Kaidah Pelaksanaan Pengembangan Wilayah
1.5.1. Sinergi Pusat-Daerah dan Kerjasama Antardaerah
Salah satu faktor terpenting dalam sinergi pusat dan daerah adalah terwujudnya
sinergi kebijakan antara pemerintah pusat dan daerah. Oleh karena itu, setiap
kebijakan yang dirumuskan perlu memperhatikan dan menampung aspirasi daerah,
serta mengutamakan penyelesaian permasalahan secara nyata di daerah. Selain itu,
sinergi kebijakan juga dimaksudkan agar pemerintah daerah mampu memahami dan
melaksanakan kebijakan pemerintah pusat dengan efisien dan efektif; serta
mendukung pelaksanaan kebijakan tersebut dengan berbagai sumber daya yang
tersedia.
Sinergi kebijakan pembangunan antara pusat dan daerah dan antardaerah
diperlukan untuk: (1) memperkuat koordinasi antarpelaku pembangunan di pusat
dan daerah; (2) menjamin terciptanya integrasi, sinkronisasi, dan sinergi baik
antardaerah, antarruang, antarwaktu, antarfungsi pemerintah; (3) menjamin
keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, dan
pengawasan, baik di Pusat maupun di Daerah; (4) mengoptimalkan partisipasi
masyarakat di semua tingkatan pemerintahan; serta (5) menjamin tercapainya
penggunaan sumber daya secara efisien, efektif, berkeadilan, dan berkelanjutan.


I - 27

Upaya bersama Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah yang dapat dilakukan
antara lain: (1) sinergi berbagai dokumen perencanaan pembangunan (RPJP dan
RPJPD, RPJM dan RPJMD, RKP dan RKPD); (2) sinergi dalam penetapan target
pembangunan; (3) standarisasi indikator pembangunan yang digunakan oleh
kementerian/lembaga dan satuan perangkat kerja daerah; (4) pengembangan
database dan sistem informasi pembangunan yang lengkap dan akurat; (5) sinergi
dalam kebijakan perijinan investasi di daerah; dan (6) sinergi dalam kebijakan
pengendalian tingkat inflasi.
Sinergi dalam perencanaan kebijakan pembangunan pusat dan daerah baik lima
tahunan maupun tahunan akan dilaksanakan dengan mengoptimalkan
penyelenggaraan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) di semua
tingkatan pemerintahan (desa/kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi dan
nasional) sehingga terwujud sinkronisasi antara kebijakan, program dan kegiatan
antarsektor, antarwaktu, antarwilayah, dan antara pusat dan daerah. Selain itu,
Musrenbang juga diharapkan dapat lebih mendorong terciptanya proses partisipasi
semua pelaku pembangunan dan berkembangnya transparansi dan akuntabilitas
dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan.

1.5.2. Kerangka Pendanaan
Sinergi Pusat-Daerah dilaksanakan selaras dengan upaya penataan dan
penguatan kerangka perimbangan keuangan antara Pemerintah Pusat dan
Pemerintahan Daerah. Salah satu kebijakan RPJMN 2015-2019 adalah restrukturisasi
dan penataan instrumen pendanaan melalui transfer ke daerah termasuk dana
alokasi umum (DAU), dana alokasi khusus (DAK) dan dana bagi hasil (DBH) yang
secara keseluruhan disebut dana perimbangan (DP); serta dana otonomi khusus
(Dana Otsus) untuk menjaga harmonisasi kepentingan nasional dan kebutuhan
daerah.
Dalam lima tahun mendatang pengelolaan dana perimbangan dan dana otonomi
khusus diarahkan untuk: (1) meningkatkan kapasitas fiskal daerah dan mengurangi
kesenjangan fiskal antara pusat dan daerah, serta antar daerah; (2) menyelaraskan
besaran kebutuhan pendanaan di daerah dengan pembagian urusan pemerintahan;
(3) meningkatkan kualitas pelayanan publik di daerah dan mengurangi kesenjangan
pelayanan publik antardaerah; (4) meningkatkan daya saing daerah; (5) mendukung
kesinambungan fiskal nasional dalam kerangka kebijakan ekonomi makro; (6)
meningkatkan kemampuan daerah dalam menggali potensi ekonomi daerah; (7)
meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya nasional; dan (8) meningkatkan
sinkronisasi antara rencana pembangunan nasional dengan rencana pembangunan
daerah.
Dalam rangka meningkatkan efektivitas pemanfaatan DAU langkah yang akan
dilakukan oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah antara lain adalah untuk: (1)
mewujudkan seutuhnya fungsi DAU sebagai block grant belanja publik pemda
I - 28

menurut kewenangan; (2) menyusun formulasi DAU secara komprehensif yang
mampu menggambarkan seluruh fungsi daerah dalam menunjang keutuhan nasional,
serta memberikan perhatian khusus kepada daerah-daerah dengan beban nasional
seperti pusat prasarana vital dan strategis, pusat investasi, kawasan hutan lindung
dan wilayah perbatasan yang belum diakomodasi dalam aspek legal.
Dalam upaya meningkatkan efektivitas pelaksanaan DAK, langkah yang akan
ditempuh Pusat-Daerah antara lain adalah: (1) sinergi perencanaan DAK antara
kementerian/lembaga dan satuan kerja perangkat daerah agar pengelolaan dan
pemanfaatan DAK benar-benar mendorong peningkatan pelayanan publik di daerah
dan mendukung pencapaian prioritas nasional; (2) memberi kewenangan kepada
Gubernur dalam pelaksanaan DAK sehingga masuk dalam APBD, serta menjamin
efektivitas program dan kelancaran pelaporan; dan (3) sinkronisasi petunjuk
pelaksanaan dan petunjuk teknis yang dikeluarkan kementerian/lembaga agar sesuai
dengan kebutuhan daerah dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Dalam meningkatkan efektivitas pelaksanaan DBH dan mengurangi
ketimpangan fiskal antara pemerintah pusat dan pemda, langkah yang akan ditempuh
Pemerintah Pusat bersama pemerintah daerah dalam lima tahun mendatang adalah:
(1) menjamin keterbukaan informasi dan data dari pusat kepada daerah; dan (2)
mempercepat penyaluran DBH sumber daya alam.
Dalam rangka menjamin efektivitas pengelolaan dan pemanfaatan dana
dekonsentrasi untuk mencapai prioritas pembangunan nasional, memperkuat
kapasitas pemerintah daerah, dan meningkatkan penyelenggaraan pemerintahan dan
pembangunan di daerah, maka langkah yang akan ditempuh dalam lima tahun
mendatang adalah (1) mempertegas kerangka organisasi dan personil pelaksana
pemanfaatan dana dekonsentrasi; (2) sinkronisasi perencanaan program antara
kementerian/lembaga dan satuan kerja perangkat daerah; dan (3) penentuan sasaran
fungsional program secara bersama.
Selain itu, dalam rangka untuk meningkatkan kemampuan pendanaan
pembangunan daerah, maka dapat dilakukan dengan peningkatan Kerjasama
Pemerintah Swasta (KPS), penerbitan obligasi daerah, dan peningkatan kinerja
BUMD.

1.5.3. Kerangka Regulasi
Sinergi dalam kerangka regulasi diarahkan untuk mendorong harmonisasi
peraturan perundang-undangan baik dalam bentuk Undang-undang, Peraturan
Pemerintah, Peraturan Daerah, Peraturan Presiden, dan Peraturan Menteri dalam
mendukung pelaksanaan program dan kegiatan yang tercantum dalam RPJMN 2015-
2019. Selain itu, sinergi juga diarahkan untuk meningkatkan kesepahaman,
kesepakatan dan ketaatan dalam melaksanakan peraturan perundang-undangan.
Oleh karena itu, setiap kebijakan dan peraturan perundang-undangan di daerah baik


I - 29

Peraturan Daerah, Peraturan Gubernur, Peraturan Bupati dan Peraturan Walikota
harus harmonis dan sinkron dengan kebijakan dan peraturan perundang-undangan
nasional baik Undang-undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Presiden dan
Peraturan Menteri.
Sinergi pusat dan daerah antara lain dilakukan dengan: (1) konsultasi dan
koordinasi secara lebih efektif dalam penyusunan peraturan perundangan; (2)
pembentukan forum koordinasi lintas instansi dalam rangka harmonisasi peraturan
perundangan: baik penyusunan peraturan baru maupun review atas peraturan yang
sudah ada; dan (3) fasilitasi proses legislasi guna mengurangi jumlah Perda yang
bermasalah.

1.5.4. Kerangka Kelembagaan
Sinergi Pusat-Daerah dalam bidang pemerintahan akan diarahkan untuk
memperbaiki tata kelola kelembagaan pemerintahan daerah dan meningkatkan
kapasitas aparatur daerah. Dalam upaya memperbaiki tata kelola pemerintahan
daerah, upaya yang akan dilakukan dalam lima tahun mendatang diarahkan
mempercepat reformasi organisasi perangkat daerah agar mampu
menyelenggarakan urusan pemerintahan secara lebih efisien dan efektif,
meningkatkan mutu dan jangkauan publik pelayanan sesuai standar pelayanan
minimal (SPM) yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat, melaksakan kaidah
penyelenggaraan pemerintahan yang baik; serta meningkatkan daya saing daerah.
Sementara, upaya peningkatan kapasitas aparatur daerah diarahkan untuk menjadi
aparatur yang lebih handal, kompeten dan profesional dalam penyelenggaraan
pemerintahan dan pembangunan di daerah.
Sinergi Pemerintah Pusat-Daerah yang akan dilakukan dalam lima tahun
mendatang adalah: (1) menata dan menyempurnakan pengaturan kewenangan
antartingkat pemerintahan sebagai dasar penetapan kinerja dan alokasi anggaran
dengan penerapan anggaran berbasis secara bertanggung jawab; (2) mengendalikan
pemekaran daerah dan memantapkan pengelolaan pengelolaan daerah otonom
dengan tetap mengutamakan harmonisasi kepentingan nasional dan kebutuhan
daerah dan rentang kendali manajemen yang ideal: serta (3) meningkatkan kapasitas
aparatur yang mampu menjembatani kepentingan nasional dan daerah serta
kerjasama antardaerah.
Sinergi dalam kerangka regulasi diarahkan untuk mendorong harmonisasi
peraturan perundang-undangan baik dalam bentuk Undang-undang, Peraturan
Pemerintah, Peraturan Daerah, Peraturan Presiden, dan Peraturan Menteri dalam
mendukung pelaksanaan program dan kegiatan yang tercantum dalam RPJMN 2015-
2019. Selain itu, sinergi juga diarahkan untuk meningkatkan kesepahaman,
kesepakatan dan ketaatan dalam melaksanakan peraturan perundang-undangan.
Oleh karena itu, setiap kebijakan dan peraturan perundang-undangan di daerah baik
I - 30

Peraturan Daerah, Peraturan Gubernur, Peraturan Bupati dan Peraturan Walikota
harus harmonis dan sinkron dengan kebijakan dan peraturan perundang-undangan
nasional baik Undang-undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Presiden dan
Peraturan Menteri. Sinergi pusat dan daerah antara lain dilakukan dengan: (1)
konsultasi dan koordinasi secara lebih efektif dalam penyusunan peraturan
perundangan; (2) pembentukan forum koordinasi lintas instansi dalam rangka
harmonisasi peraturan perundangan: baik penyusunan peraturan baru maupun
review atas peraturan yang sudah ada; dan (3) fasilitasi proses legislasi guna
mengurangi jumlah Perda yang bermasalah.



RANCANGAN TEKNOKRATIK
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA
MENENGAH NASIONAL
2015 2019
BUKU III
ARAH PENGEMBANGAN WILAYAH
PULAU PAPUA
KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL /
BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL
BAPPENAS
2014
II - 1

BAB II
ARAH PENGEMBANGAN WILAYAH PULAU PAPUA

2.1 Capaian Kinerja Saat Ini
Berdasarkan data BPS dari tahun 2009 hingga Triwulan II tahun 2014, kinerja
pertumbuhan ekonomi provinsi di Wilayah Pulau Papua mengalami peningkatan
dari tahun ke tahun. Rata-rata pertumbuhan ekonomi dengan migas Wilayah
Pulau Papua selama kurun waktu 2009 2013 sebesar 9,6 persen (dengan migas)
atau diatas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,9 persen. Namun
demikian, peranan Wilayah Pulau Papua dalam pembentukan PDB nasional
mengalami penurunan dari 2,0 persen (2009) menjadi 1,6 persen (Triwulan II
2014).
Pemerintah Provinsi di Wilayah Pulau Papua telah cukup berhasil dalam
menurunkan jumlah penduduk miskin dari tahun 2009 hingga 2014 (Maret),
namun masih berada di atas angka kemiskinan nasional sebesar 14,15 persen
(2009) dan 11,25 persen (Maret 2014). Demikian halnya dengan pencapaian
tingkat pengangguran terbuka (TPT), Pemerintah Provinsi di Wilayah Pulau Papua
juga telah berhasil menurunkan TPT dan sudah di bawah TPT nasional sebesar
7,87 persen (2009) dan 5,70 persen (Feb, 2014).
Dari sisi peningkatan kualitas sumber daya manusia, maka di Wilayah Pulau
Papua ini masih perlu ditingkatkan. Hal ini diindikasikan dengan nilai Indeks
Pembangunan Manusia (IPM) di Wilayah Pulau Papua masih berada dibawah rata-
rata IPM nasional sebesar 71,76 (2009) dan 73,81 (2013). Namun demikian, dari
tahun ke tahun pada masing-masing provinsi mengalami peningkatan nilai IPM.
Dari sisi distribusi pendapatan antar golongan masyarakat, seluruh provinsi di
Wilayah Pulau Papua mengalami kenaikan kesenjangan pendapatan antar
golongan. Hal ini diindikasikan dengan meningkatnya angka Rasio Gini provinsi-
provinsi di Wilayah Pulau Papua yang cenderung meningkat pada tahun 2013
dibandingkan dengan tahun 2009 dan masih berada di atas rata-rata rasio gini
nasional 0,413 (2013). Ke depan, hal ini perlu mendapatkan perhatian agar
proses pembangunan terus lebih melibatkan masyarakat secara inklusif, sehingga
hasil-hasil pembangunan tersebut dapat dinikmati secara merata oleh masyarakat.

2.2 Potensi dan Keunggulan Wilayah
Wilayah Pulau Papua sebagai salah satu pulau terbesar di Indonesia dengan
potensi sumberdaya alam sangat besar di sektor pertambangan, migas dan pertanian.
Komoditas sektor pertambangan dan penggalian yang paling dominan adalah
minyak, gas, dan tembaga. Pada tahun 2013, sektor pertambangan dan penggalian
sudah berkontribusi sebesar 33,56 persen untuk seluruh Wilayah Pulau Papua.
Kontribusi sektor ini di Wilayah Pulau Papua terpusat di Provinsi Papua yang
II - 2

menjadi salah satu penyumbang terbesar bagi sektor pertambangan nasional.
Dengan bertumpunya perekonomian Wilayah Pulau Papua pada sektor
pertambangan dan penggalian menyebabkan fluktuasi pada sektor ini akan sangat
berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
Wilayah Pulau Papua memiliki potensi gas bumi sebesar 23,91 TSCF (Trillion
Square Cubic Feet) atau sebesar 23,45 persen dari potensi cadangan gas bumi
nasional. Sementara itu, cadangan minyak bumi di Wilayah Pulau Papua mencapai
sekitar 66,73 MMSTB atau sebesar 0,91% dari cadangan minyak bumi nasional
yang mencapai 7.039,57 MMSTB (Million Stock Tank Barrels/Cadangan Minyak
Bumi). Cadangan gas bumi di sekitar Teluk Bintuni. Sementara itu, cadangan
migas terbesar terdapat di sekitar Sorong, Blok Pantai Barat Sarmi, dan Semai.
Tembaga merupakan hasil tambang yang sangat potensial untuk dikembangkan di
Wilayah Pulau Papua karena memiliki lebih dari 45 persen cadangan tembaga
nasional yang sebagian eksplorasi dan pengolahannya terpusat di Timika
(Kabupaten Mimika). Cadangan biji tembaga di Wilayah Pulau Papua diperkirakan
sekitar 2,6 milliar ton, sementara itu cadangan logam tembaga hanya sekitar 25
juta ton. Bahan tambang dan galian yang menjanjikan potensi lainnya adalah biji
nikel, pasir besi, dan emas. Biji nikel terdapat di daerah Tanah Merah, Jayapura.
Sebagian besar dari sumber daya tersebut masih dalam indikasi dan belum
dieksploitasi. Penambangan pasir besi, biji tembaga, dan emas berlokasi di tempat
yang sama dengan penambangan biji tembaga di Timika.
Pengembangan MIFEE (Merauke Integrated Food & Energy Estate) dialokasikan
seluas 1,2 juta Ha yang terdiri dari 10 Klaster Sentra Produksi Pertanian (KSPP).
Empat Klaster Sentra Produksi Pertanian yang dikembangkan yaitu: Greater
Merauke, Kali Kumb, Yeinan, dan Bian di Kabupaten Merauke. Untuk jangka
menengah (kurun waktu 2015 2019) diarahkan pada terbangunnya kawasan
sentra produksi pertanian tanaman pangan, hortikultura, peternakan dan
perkebunan, serta perikanan darat di Klaster Okaba, Ilwayab, Tubang, dan
Tabonji. Sedangkan untuk jangka panjang (kurun waktu 2020 2030) diarahkan
pada terbangunnya kawasan sentra produksi pertanian tanaman pangan,
hortikultura, peternakan dan perkebunan.
Dari sektor pertanian terutama perkebunan, Wilayah Pulau Papua merupakan
produsen kelapa sawit yang besar di Asia, yaitu sebesar 7,80 persen per tahun
lebih tinggi dibandingkan Malaysia yang hanya sebesar 4,20 persen per tahun.
Perkebunan kelapa sawit di Papua saat ini telah memiliki 43 persen dari total
produksi minyak mentah sawit (Crude Palm Oil/CPO) dunia sehingga Indonesia
dikenal sebagai penghasil kelapa sawit terbesar di dunia. Investasi kelapa sawit
dalam skala besar dapat meningkatkan pendapatan pemerintah untuk jangka
pendek tetapi akan sedikit mempengaruhi proses hilir dan pertumbuhan sektor
lain dikarenakan keterbatasan kemajuan dan kaitannya multiplier effect sektor ini.
Selain kelapa sawit, produksi perkebunan karet di Wilayah Pulau Papua secara
keseluruhan cukup besar. Produksi karet di Wilayah Pulau Papua mengalami
peningkatan selama periode 2009-2013. Pada tahun 2013, produksi karet di
II - 3

Wilayah Pulau Papua mencapai 2.308 ton dengan dominasi produksi dari Provinsi
Papua sebesar 2.281 ton. Wilayah Pulau Papua juga sangat berpotensi untuk
menjadi penghasil tebu yang besar karena memiliki lahan untuk produksi tebu
terluas di luar Jawa yaitu sebesar 500.000 Ha atau 47 persen dari total lahan tebu
di luar Pulau Jawa.
Berdasarkan data BPS tahun 2013, produksi tanaman pangan di Wilayah Pulau
Papua terdiri dari produksi jagung sebesar 9.107 ton dari luas panen 4.255 ha,
produksi padi mencapai 199.362 ton dari luas panen 58.634 ha, produksi kedelai
mencapai 5.219 ton dari luas panen sebesar 4.367 ha, produksi kacang tanah
mencapai 2.693 ton dari luas panen sebesar 2.551 ha, produksi sagu sebesar 7.319
ton dari luas panen 7.608 ha, dan produksi ubi jalar mencapai 455.742 ton dari
luas panen sebesar 34.100 ha (2012), serta ubi kayu yang memiliki produksi
mencapai 51.120 ton dari luas panen 4.253 ha. Sedangkan untuk peternakan besar
di Wilayah Pulau Papua, jumlah populasi terbesar adalah babi, sapi potong, dan
kambing. Sebaran populasi ternak babi terbesar di Provinsi Papua sebesar
577.407 ekor di tahun 2012. Secara umum, jumlah populasi untuk ternak,
sebagian besar terdapat di Provinsi Papua dibandingkan di Provinsi Papua Barat.
Selain pengembangan pertanian, wilayah Pulau Papua juga memiliki beberapa
potensi pengembangan pariwisata terutama wisata bahari yang merupakan tujuan
wisatawan mancanegara maupun wisatawan lokal yang salah satunya terdapat di
Raja Ampat, Provinsi Papua Barat.

2.3 Tema Pengembangan Wilayah Pulau Papua
Berdasarkan potensi dan keunggulan Wilayah Pulau Papua, maka tema besar
pembangunan Wilayah Pulau Papua sebagai "lumbung pangan melalui
pengembangan industri berbasis komoditas padi, jagung, kedelai, kacang tanah,
sagu, ubi, sayur dan buah-buahan, serta pengembangan peternakan dan tanaman
non-pangan, seperti tebu, karet, dan kelapa sawit; percepatan pembangunan
ekonomi berbasis maritim (kelautan) melalui pengembangan pariwisata bahari;
serta lumbung energi di Kawasan Timur Indonesia melalui pengembangan minyak,
gas bumi, dan tembaga."

2.4 Tujuan dan Sasaran Pengembangan Wilayah Pulau Papua
Tujuan pengembangan Wilayah Pulau Papua tahun 2015-2019 adalah mendorong
percepatan dan perluasan pembangunan wilayah Pulau Papua dengan menekankan
keunggulan dan potensi daerah melalui: (a). pengembangan hilirisasi komoditas
minyak, gas bumi dan tembaga, (b). pengembangan industri berbasis komoditas padi,
jagung, kedelai, kacang tanah, sagu, ubi, sayur dan buah-buahan, (c) peternakan dan
tanaman non-pangan, seperti tebu, karet, dan kelapa sawit, (d). pengembangan
pariwisata bahari, (e). penyediaan infrastruktur wilayah, dan (f). peningkatan SDM dan
Ilmu serta teknologi secara terus menerus. Adapun sasaran pengembangan Wilayah
Pulau Papua pada tahun 2015-2019 adalah sebagai berikut:
II - 4

1. Dalam rangka percepatan dan perluasan pengembangan ekonomi Wilayah Pulau
Papua, akan dikembangkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di koridor
ekonomi dengan memanfaatkan potensi dan keunggulan daerah, termasuk
diantaranya adalah pengembangan 1 Kawasan Industri, 1 MIFEE, 1 Kawasan
Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET), 11 Kawasan Perhatian Investast
(KPI).
2. Sementara itu, untk menghindari terjadinya kesenjangan antar wilayah di Wilayah
Pulau Papua, maka akan dilakukan pembangunan daerah tertinggal dengan
sasaran sebanyak 9 Kabupaten tertinggal dapat terentaskan dengan sasaran
outcome: (a) meningkatkan rata-rata pertumbuhan ekonomi di daerah tertinggal
menjadi 9,5 persen di tahun 2019; (b) menurunnya persentase penduduk miskin
di daerah tertinggal menjadi 18 persen di tahun 2019; (c) meningkatnya Indeks
Pembangunan Manusia (IPM) di daerah tertinggal sebesar 68,3 pada tahun 2019;
dan (d) meningkatkan minimal 7 Kabupaten menjadi kategori daerah maju.
3. Untuk mendorong pertumbuhan pembangunan kawasan perkotaan di Kalimatan,
maka akan dipercepat pembangunan 2 Pusat Kegiatan Nasional (PKN) perkotaan
baru, serta mewujudkan optimalisasi peran 4 kota otonom berukuran sedang
sebagai penyangga (buffer) urbanisasi.
4. Sesuai dengan amanat UU 6/2014 tentang Desa, maka akan dilakukan
pembangunan perdesaan dengan sasaran mengurangi jumlah desa tertinggal
menjadi 22 persen (2019).
5. Khusus untuk meningkatkan keterkaitan pembangunan kota-desa, diharapkan
dapat diwujudkan 4 pusat pertumbuhan baru perkotaan sebagai Pusat Kegiatan
Lokal (PKL) atau Pusat Kegiatan Wilayah (PKW).
6. Dalam rangka mewujudkan kawasan perbatasan sebagai halaman depan negara
yang berdaulat, berdaya saing, dan aman, maka akan dikembangkan 3 Pusat
Kegiatan Strategis Nasional (PKSN) sebagai pusat pertumbuhan ekonomi kawasan
perbatasan negara yang dapat mendorong pengembangan kawasan sekitarnya.
7. Untuk meningkatkan pelaksanaan Otonomi Daerah di wilayah Pulau Papua
ditunjukkan dengan: (1) meningkatnya proporsi penerimaan pajak dan retribusi
daerah sebesar 35% untuk provinsi dan 15% untuk kabupaten/kota; (2)
meningkatnya proporsi belanja modal dalam APBD provinsi sebesar 30% dan
untuk Kabupaten/Kota sebesar 45% pada tahun 2019 serta sumber pembiayaan
lainnya dalam APBD; (3) meningkatnya jumlah daerah yang mendapatkan opini
wajar tanpa pengecualian (WTP); (4) terbentuknya kerjasama daerah di Papua
dalam rangka percepatan konektivitas dan peningkatan pelayanan publik; (5)
tersusunnya Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang tepat fungsi dan ukuran
sesuai dengan karakteristik wilayah Papua; (6) meningkatnya kualitas dan
proporsi tingkat pendidikan aparatur sipil negara untuk jenjang S1 sebesar 35%,
S2 sebesar 5%, dan S3 sebesar 5%; dan (7) meningkatnya implementasi
pelaksanaan SPM di daerah, khususnya pada pendidikan, kesehatan dan
infrastruktur.
II - 5

8. Sasaran penanggulangan bencana adalah mengurangi Indeks Risiko Bencana di
wilayah Pulau Papua pada 2 (dua) PKN terdiri dari Kota Sorong dan Kota
Jayapura; 4 (empat) PKW terdiri dari Kota Manokwari, Kabupaten Nabire yang
merupakan bagian wilayah KAPET Biak; Kabupaten Merauke sebagai MIFFEE
Merauke dan Kabupaten Sarmi, serta Kabupaten Raja Ampat sebagai kawasan
minapolitan dan pariwisata yang memiliki indeks risiko bencana tinggi, baik yang
berfungsi sebagai KAPET, KSN, atau PKSN.
Sehubungan dengan sasaran tersebut, diharapkan pada akhir tahun 2019,
pembangunan Wilayah Pulau Papua semakin meningkat. Hal ini dicerminkan dengan
makin meningkatnya kontribusi PDRB Wilayah Pulau Papua terhadap PDB Nasional,
yaitu dari sekitar 1,8 persen (2014) menjadi 2,6 persen. Dengan demikian, kondisi
tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Wilayah Pulau
Papua. Secara rinci target pertumbuhan ekonomi, tingkat kemiskinan dan
pengangguran dalam kurun waktu 2015-2019 di wilayah Pulau Papua dapat dilihat
pada Tabel 2.1 sampai dengan Tabel 2.3 sebagai berikut.

TABEL 2.1
SASARAN PERTUMBUHAN EKONOMI PER PROVINSI TAHUN 2015-2019

Provinsi Pertumbuhan Ekonomi (persen)
2015 2016 2017 2018 2019
Papua 14,0 14,3 15,5 - 16,2 15,5 16,4 15,5 16,8 15,4 - 17,0
Papua Barat 7,8 8,0 11,6 12,1 11,5 12,2 11,8 12,8 11,9 13,1
Sumber: Perhitungan Bappenas, 2014

TABEL 2.2
SASARAN TINGKAT KEMISKINAN PER PROVINSI TAHUN 2015-2019

Provinsi Tingkat Kemiskinan (persen)
2015 2016 2017 2018 2019
Papua 25,7 25,1 23,5 22,6 21,3 20,1 19,2 17,7 17,1 15,4
Papua Barat 30,9 30,3 28,5 27,4 26,0 24,5 23,6 21,8 21,1 19,1
Sumber: Perhitungan Bappenas, 2014

TABEL 2.3
SASARAN TINGKAT PENGANGGURAN PER PROVINSI TAHUN 2015-2019

Provinsi Tingkat Pengangguran (persen)
2015 2016 2017 2018 2019
Papua 5,5 5,4 5,3 5,1 5,1 4,8 4,9 4,5 4,7 4,2
Papua Barat 2,9 2,8 2,8 2,6 2,6 2,5 2,9 2,6 2,4 2,2
Sumber: Perhitungan Bappenas, 2014



II - 6

2.5 Arah Kebijakan dan Strategi Pengembangan Wilayah Pulau
Papua
2.5.1 Pengembangan Kawasan Strategis
Pengembangan kawasan strategis bidang ekonomi di kawasan Papua difokuskan
pada pengembangan Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) Biak,
Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE), Kawasan Perdagangan
Internasional Skouw Kota Jayapura, Kawasan Industri Bongrang, Kawasan Industri
Tembaga Timika, Kawasan Pengembangan Ekonomi (KPE) Wamena Kabupaten
Jayawijaya dan usulan KEK di Provinsi Papua Barat dengan fokus industri petrokimia
dan pengembangan industri pengolahan pertambangan mineral, yang dapat dilihat
pada Gambar 2.1. Arah kebijakan pengembangan kawasan strategis bidang ekonomi
dilakukan melalui pengembangan untuk meningkatkan infrastruktur dasar,
pengembangan sumber daya manusia, dan meningkatkan konektivitas menuju dan
dalam kawasan-kawasan strategis tersebut. Percepatan pembangunan kawasan
strategis di wilayah Papua dilakukan melalui strategi sebagai berikut:
1. Peningkatan Potensi Ekonomi Wilayah di Koridor Ekonomi Wilayah Pulau
Papua
Pengembangan kegiatan ekonomi di kawasan strategis erat kaitanya dengan
memberdayakan masyarakat berbasis potensi ekonomi wilayah, sehingga dapat
meningkatkan nilai tambah dan daya saing komoditas unggulan.
a. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)
a) Peningkatan produktivitas ekspor untuk produk minyak-gas, pengolahan
pertambangan mineral di papua bagian barat, pertanian/perkebunan,
dan hasil laut.
b) Pengembangan kawasan industri petrokimia di Papua bagian barat.
b. Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET)
a) Pengembangan pengelolaan KAPET Biak dengan fokus komoditas
perikanan, rumput laut, dan pariwisata (bahari, budaya, sejarah);
b) Percepatan pembangunan kawasan ekonomi lokal Papua berbasis
kesatuan adat, meliputi 1) Wilayah Mamta dengan pusat pertumbuhan
di Jayapura, dan fokus industri pengolahan komoditas sagu, kakao,
kelapa dalam, pariwisata kawasan wisata Danau Sentani; 2) Wilayah
Saireri dengan pusat pertumbuhan di Biak, dan fokus industri
pengolahan komoditas rumput laut, perikanan tangkap, udang, teripang,
kelapa dalam, produk kayu rakyat, kawasan wisata bahari Padaido; 3)
Wilayah La Pago dengan pusat pertumbuhan di Wamena, dan fokus
industri komoditas buah merah, kopi, ubi-ubian, ternak babi, wisata
budaya; 4) Wilayah Me Pago dengan pusat pertumbuhan di Timika, dan
fokus industri pengolahan komoditas Sagu, Kopi, Buah Merah, Kepiting,
Emas, Batu Bara, Kayu Rakyat, Perikanan Air Tawar; 5) Wilayah Anim Ha
dengan pusat pertumbuhan di Merauke, dan fokus industri pengolahan
komoditas pengolahan karet, minyak kayu putih, padi, perikanan
tangkap, pengolahan perikanan;
II - 7

c) Pengembangan pusat-pusat kegiatan ekonomi kecil dan menengah guna
mendukung potensi sektor pariwisata, terutama industri kreatif dan
makanan olahan khas wilayah KAPET Biak, Jayapura, Merauke, Sorong,
Manokwari, Fak-fak, dan Wamena;
c) Pembinaan terhadap mutu produk usaha kecil dan menengah di KAPET
Biak.
c. Kawasan Perhatian Investasi (KPI)
a) Penyiapan kawasan Merauke Integrated Food and Energy Estate
(MIFEE), kawasan industri Arar Kabupaten Sorong, dan kawasan
industri ekspor Biak;
b) Pengembangan industri pengolahan di (i) kawasan MIFEE dengan fokus
padi, jagung, tebu, sawit; (ii) kawasan Arar dengan fokus pengembangan
industri pengolahan tambang mineral, aspal curah, minyak dan gas,
semen, pertanian, perkebunan, pengolahan kayu, tekstil, perikanan, dan
minyak-gas; (iii) pengolahan perikanan dan rumput laut di Biak;
c) Pengembangan kawasan industri tembaga Timika;
d) Kawasan Perdagangan Internasional Skouw di Kota Jayapura, Kawasan
Industri Bongrang dan kawasan pariwisata Danau Sentani di Jayapura,
Kawasan Pengembangan Ekonomi Wamena di Jayawijaya, kawasan
pengembangan peternakan terpadu Bomberai di Fakfak, Kebar di
Tambraw, dan Salawati di Sorong;
e) Pengembangan sistem lumbung pangan dan distribusinya di Kabupaten
Merauke, Fakfak, Tambraw, Sorong, dan Sorong Selatan sebagai sumber
pangan di wilayah Papua dan kawasan Timur Indonesia;
f) Pengembangan kawasan Cagar Alam (CA), kawasan Taman Nasional
(TN), dan kawasan Taman Wisata Alam (TWA) di provinsi Papua dan
provinsi Papua Barat sebagai kawasan ekowisata dan riset ilmiah.

2. Percepatan Penguatan Konektivitas
Peningkatan konektivitas antara pusat-pusat pertumbuhan ekonomi dengan
kawasan-kawasan penyangga sekitarnya meliputi:
a. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)
a) Penyelesaian pembangunan ruas-ruas jalan strategis nasional sesuai
Peraturan Presiden RI No. 40 Tahun 2013 tentang pembangunan jalan
strategis nasional dalam rangka percepatan pembangunan Provinsi
Papua dan Provinsi Papua Barat;
b) Percepatan pembangunan jaringan kereta api untuk mengatasi
keterisolasian dan kemahalan di pegunungan tengah;
c) Konektivitas kawasan MIFEE di Merauke dan sekitarnya (Kabupaten
Mappi, Kabupaten Asmat, dan Kabupaten Boven Digoel);
II - 8

d) Konektivitas kawasan industri Arar, kawasan peternakan (Salawati,
Bomberai, Kebar), dan lumbung pangan Sorong Selatan, yang
terhubungkan dengan Kota Sorong dan Manokwari;
e) Percepatan penyediaan sumber energi berupa pembangkit listrik tenaga
air (PLTA) Urumuka, Mamberamo, Baliem, dan Orya.
b. Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET)
a) Pengembangan konektivitas darat, laut, maupun udara pusat KAPET
Biak Numfor dengan daerah penyangga sekitarnya yaitu Nabire,
Kepulauan Yapen, Waropen, dan Supiori;
b) Pengembangan konektivitas darat, laut, maupun udara di kawasan
berbasis adat (Mamta, Saireri, La Pago, Me Pago, Anim Ha).
c. Kawasan Perhatian Investasi (KPI)
a) Pengembangan pelabuhan Sorong, Merauke, Pomako; penambahan
kapasitas kargo Pelabuhan Laut Pomako di Timika, pengembangan
pelabuhan terminal agribisnis, pergudangan, dan pelabuhan ekspor
Serapuh dan Wogikel di Merauke;
b) Pembangunan terminal tipe C di seluruh kabupaten/kota;
c) Pembangunan dan peningkatan ruas jalan Timika-Potowaiburu-Wagete-
Nabire, ruas Buraka-Poletom, ruas Merauke-Jagebob-Erambu, ruas
Timika-Urumuka, ruas Enarotali-Tiom, ruas Depapre-Bongrang-
Ringroad Jayapura, ruas Merauke-Okaba-Buraka-Wanam-Bian-Wogikel,
dan ruas Tanah Miring-Jagebob-SP13;
d) Pembangunan Jembatan Arar II di Kabupaten Sorong dan Erambu-Torai
di Merauke;
e) Pembangunan intake dan jaringan pipa transmisi air baku Kabupaten
Teluk Bintuni; pembangunan SPAM Kota Pamekaran (Timika);
f) Pembangunan gardu induk di Papua dengan kapasitas 285 MVA;
g) Pembangunan Palapa Ring sebanyak 6 kabupaten di Papua Barat dan 24
kabupaten di Papua;
h) Pembangunan pusat distribusi regional di Kota Sorong dan Kota
Jayapura;
i) Percepatan penyediaan sumber energi pembangkit listrik tenaga uap
(PLTU) di Kabupaten Biak, Holtekamp, Jayapura, Jayapura-Skouw,
Merauke-Gudang Arang, Timika, Andai-Maruni, Klalin Makbusun-Sorong,
dan Nabire-Kalibobo.

3. Penguatan Kemampuan SDM dan IPTEK
Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan kapasitas kelembagaan di
tingkat pusat maupun di daerah dilakukan dengan strategi:
a. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)
a) Pembinaan kelembagaan untuk mendukung pengelolaan kawasan yang
berdaya saing;
II - 9

b) Penguatan kemampuan Pemda dalam menyusun peraturan pemanfaatan
lahan ulayat bersama masyarakat adat untuk memberikan kemudahan
investasi.
c) Penyiapan tenaga kerja berkualitas dengan kompetensi unggulan di
bidang industri petrokimia dan pengolahan pertambangan mineral,
pertanian, perkebunan MIFEE Merauke, kawasan industri Arar, kawasan
peternakan Bomberai, Kebar dan Salawati.
b. Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET)
a) Restrukturisasi kelembagaan dan peningkatan kualitas SDM Badan
Pengelola KAPET Biak, pengelola kawasan MIFEE di Merauke, dan pengelola
kawasan Arar;
b) Memberikan pelatihan dan pembinaan terhadap masyarakat Papua untuk
meningkatkan nilai tambah komoditas di kawasan berbasis kesatuan adat;
c) Menyiapkan SDM yang memiliki kompetensi untuk mengelola komoditas
unggulan KAPET Biak dan kawasan ekonomi berbasis kesatuan adat Papua;
d) Peningkatan kapasitas Orang Asli Papua (OAP) untuk mendapatkan akses
sumber daya ekonomi.
c. Kawasan Perhatian Investasi (KPI)
a) Pembangunan pusat-pusat penelitian dan pengembangan penunjang
kawasan strategis;
b) Kerja sama untuk pemanfaatan sumber daya UNCEN dan UNIPA, lembaga
litbang, dan dunia usaha untuk menghasilkan produk inovatif dalam
pengembangan kawasan strategis.

4. Penguatan Regulasi bagi Peningkatan Iklim Investasi dan Iklim Usaha
Dalam upaya pengembangan kawasan strategis di Papua diperlukan sinergisasi dan
sinkronisasi regulasi melalui strategi berikut:
a. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)
a) Penerapan regulasi insentif fiskal yang sesuai dengan karakteristik wilayah
dan kompetitif, antara lain fasilitas fiskal disemua bidang usaha,
pembebasan PPN dan PPNBM untuk bahan dan barang impor yang akan
diolah dan digunakan di KEK;
b) Penetapan regulasi untuk mengatur pemanfaatan tanah ulayat dalam rangka
memudahkan investasi;
c) Pemetaan dan penegasan batas (deliniasi) hak ulayat khususnya pada
kawasan strategis yang dikembangkan sebagai pusat-pusat pertumbuhan
ekonomi;
d) Sosialisasi kepada masyarakat adat dan investor terhadap regulasi
pemanfaatan lahan ulayat untuk investasi di kawasan MIFEE dan kawasan
industri Arar, kawasan peternakan Bomberai, Kebar, dan Salawati.
b. Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET)
II - 10

a) Harmonisasi peraturan perundangan terkait dengan iklim investasi,
diantaranya adalah PP. Nomor 147 Tahun 2000 Tentang Perlakuan
Perpajakan di KAPET;
b) Pelimpahan kewenangan antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan
instansi terkait kepada pengelola kawasan strategis nasional dan kawasan-
kawasan industri lainnya;
c) Sosialisasi kepada masyarakat adat terhadap regulasi pemanfaatan lahan
ulayat untuk investasi di KAPET Biak dan kawasan ekonomi berbasis
kesatuan adat;
d) Pelayanan terpadu satu pintu dan penggunaan Sistem Pelayanan Informasi
dan Perijinan Investasi secara Elektronik (SPIPISE) di bidang perizinan
perindustrian, perdagangan, pertanahan di KAPET Biak dan MIFEE di
Merauke.
c. Kawasan Perhatian Investasi (KPI)
a) Pelayanan terpadu satu pintu dan penggunaan sistem pelayanan informasi
dan perijian investasi secara elektronik (SPIPISE) bidang pertanahan, dan
penanaman modal di kawasan-kawasan perhatian investasi di Papua dan
Papua Barat.

2.5.2 Pengembangan Kawasan Perkotaan dan Perdesaan
2.5.2.1 Pengembangan Kawasan Perkotaan
Arah kebijakan pembangunan wilayah perkotaan di Wilayah Pulau Papua
difokuskan untuk membangun kota berkelanjutan dan berdaya saing menuju
masyarakat kota yang sejahtera berdasarkan karakter fisik, potensi ekonomi dan
budaya lokal. Untuk itu, strategi pembangunan perkotaan tahun 2015-2019 adalah :
II - 11

GAMBAR 2.1































II - 12

1. Perwujudan Sistem Perkotaan Nasional (SPN)
Perwujudan SPN merupakan langkah untuk meningkatkan keterkaitan
pembangunan kota, baik itu antar kota maupun kota dengan desa serta pemenuhan
fungsi kota itu sendiri. Kondisi kota otonom di Papua (Sorong dan Jayapura) sudah
memenuhi standar, sehingga program diarahkan untuk meningkatkan keterkaitan
antar kota maupun kota-desa, yang dilakukan dengan:
a. Pengembangan 2 kota sedang di pulau Papua yakni Sorong dan Jayapura dalam
rangka mempercepat perannya sebagai pusat pertumbuhan ekonomi dan hub
untuk Pulau Papua dan Pulau Maluku dalam bentuk Pusat Kegiatan Nasional
serta sebagai pendukung pengembangan kawasan perbatasan negara;
b. Pengembangan 4 pusat pertumbuhan baru, yaitu Misool, Manokwari, Merauke
dan Waris sebagai pendorong keterkaitan antara kota sedang dengan desa-desa
sekitarnya dan buffer urbanisasi menuju kota besar di sekitarnya.
c. Pengembangan kawasan industri pengolahan untuk mengembangkan ekonomi
dan meningkatkan keterkaitan dengan desa-kota sekitar.

2. Perwujudan Kota Layak Huni yang Aman dan Nyaman
a. Peningkatan aksesibilitas antar kota melalui penyediaan sarana transportasi
khususnya transportasi laut yang didukung oleh transportasi terpadu dan
optimal sesuai dengan tipologi dan kondisi geografis Kota Sorong dan Jayapura;
b. Percepatan pemenuhan dan peningkatan pelayanan sarana prasarana
permukiman (perumahan, air minum, sanitasi: pengelolaan sampah;
pengolahan limbah; drainase) sesuai dengan kearifan lokal pulau papua;
c. Penyediaan dan Peningkatan sarana prasarana ekonomi, khususnya di sektor
perdagangan dan jasa yang mampu mengakomodasi pasar tradisional,sektor
informal termasuk kegiatan koperasi dan Usaha mikro kecil Menengah (UMKM)
serta dapat mendukung pengembangan ekonomi kawasan perbatasan untuk
Kota Jayapura;
d. Mendorong berkembangnya industri pengolahan yang komplementer dengan
keberadaan Pelabuhan Nasional Sorong dan Jayapura sebagai pusat koleksi dan
distribusi di Pulau Papua.
e. Peningkatan pelayanan kesehatan, pendidikan, dan sosial budaya melalui
pengembangan sarana prasarana dan tenaga terampil di bidang kesehatan,
pendidikan, dan sosial Budaya ;
f. Peningkatan keamanan kota melalui pencegahan, penyediaan fasilitas dan
sistem penanganan kriminalitas dan konflik, serta meningkatkan modal sosial
masyarakat kota;

II - 13

3. Perwujudan Kota Hijau yang Berketahanan Iklim dan Adaptif terhadap
Bencana
a. Penataan, Pengelolaan, dan Pengendalian penyelenggaraan penataan ruang dan
kegiatan perkotaan yang efisien dan berkeadilan;
b. Peningkatan pengetahuan dan kemampuan masyarakat dalam upaya adaptasi
dan mitigasi terhadap dampak perubahan iklim dan bencana (urban resilience);
c. Pembangunan infrastruktur mitigasi terhadap bencana alam untuk melindungi
aset-aset sosial ekonomi masyarakat yang berupa prasarana, permukiman, dan
kawasan budidaya dari gangguan dan ancaman bencana.
4. Peningkatan Kapasitas Tata Kelola Pembangunan Perkotaan
a. Penyediaan peraturan dan prosedur dalam birokrasi kepemerintahan kota yang
tanggap terhadap kebutuhan masyarakat kota berkelanjutan;
b. Peningkatan kapasitas pemimpin kota yang visioner dan kapasitas aparatur
pemerintahmelalui pendampingan, pembinaan, pelatihan dan penilaian kinerja
dalam merencanakan, membangun dan mengelola kota berkelanjutan;
c. Peningkatan kinerja, transparansi, dan akuntabilitas pengelolaan keuangan
pemerintah kota melalui pendampingan secara langsung dari pemerintah pusat;
d. Pembangunan pusat data dan informasi perkotaan terpadu yang mudah
diakses;
e. Peningkatan peran swasta, organisasi masyarakat, dan organisasi profesi secara
aktif, baik dalam forum dialog perencanaan dengan pemerintah dan masyarakat
perkotaan, maupun dalam pembangunan kota berkelanjutan, seperti:
pembangunan infrastruktur perkotaan maupun masukan terhadap rencana tata
ruang kota;
f. Pengembangan lembaga bantuan teknis dan pembiayaan infrastruktur
perkotaan

2.5.2.2 Pengembangan Kawasan Perdesaan
Arah kebijakan pengembangan kawasan perdesaan di Wilayah Pulau Papua adalah
meningkatkan kemandirian masyarakat dan desa, serta mewujudkan desa-desa
berkelanjutan yang memiliki ketahanan sosial, ekonomi dan ekologi sesuai dengan
amanat Undang-Undang No.6/2014 tentang Desa dengan sasaran berkurangnya jumlah
desa tertinggal sebesar 22 persen. Selain itu, membangun keterkaitan ekonomi lokal
antara perkotaan dan perdesaan melalui integrasi perdesaan mandiri pada 4 kawasan
pertumbuhan baru, yang secara rinci dapat dilihat pada tabel 2.5. Dalam rangka
percepatan pembangunan desa di Wilayah Pulau Papua akan dilakukan:
II - 14

1. Pengembangan Penghidupan Berkelanjutan Bagi Masyarakat Miskin dan
Rentan di Desa
a. Peningkatan peran dan kapasitas pemerintah daerah dalam memajukan ekonomi
masyarakat miskin dan rentan;
b. Peningkatan kapasitas masyarakat miskin dan rentan dalam pengembangan
usaha berbasis lokal;
c. Pemberian dukungan bagi masyarakat miskin dan rentan melalui penyediaan
lapangan usaha, dana bergulir, dan lembaga keuangan mikro
2. Peningkatan Ketersediaan Pelayanan Umum dan Pelayanan Dasar Minimum di
Perdesaan
a. Pembangunan sarana dan prasarana dasar perumahan di kawasan desa
tertinggal dan berkembang;
b. Pembangunan sarana dan prasarana pendidikan, khususnya sekolah dasar dan
sekolah menengah dengan mempertimbangkan cakupan pelayanannya;
c. Pembangunan puskesmas yang memiliki kelengkapan obat-obatan yang cukup,
serta penyediaan layanan puskesmas keliling;
d. Peningkatan distribusi tenaga pendidik dan tenaga kesehatan khususnya di desa-
desa terpencil;
e. Penyediaan sarana dan prasarana transportasi, baik darat, air, maupun udara,
khususnya pada pembangunan bandara perintis;
f. Peningkatan rasio elektrifikasi perdesaan;
g. Penyediaan jaringan telekomunikasi yang menjangkau desa-desa terpencil.
3. Peningkatan Keberdayaan Masyarakat Perdesaan
a. Peningkatan keberdayaan masyarakat perdesaan, melalui fasilitasi dan
pendampingan berkelanjutan dalam perencanaan, pembangunan, dan
pengelolaan desa;
b. Penguatan lembaga adat dan Desa Adat, perlindungan hak-hak masyarakat adat
sesuai dengan perundangan yang berlaku;
c. Peningkatan keberdayaan masyarakat melalui penguatan sosial budaya
masyarakat dan keadilan gender (kelompok wanita, pemuda, anak, dan TKI);
d. Peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan dan
kesehatan.
4. Perwujudan Tata Kelola Pemerintahan Desa yang Baik
a. Fasilitasi peningkatan kapasitas pemerintah desa;
b. Fasilitasi peningkatan kapasitas Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dan
lembaga-lembaga lainnya di tingkat desa;
II - 15

c. Pengembangandata dan informasi desa yang digunakan sebagai acuan bersama
perencanaan dan pembangunan desa.
5. Perwujudan Kemandirian Pangan dan Pengelolaan SDA-LH yang Berkelanjutan
dengan Memanfaatkan Inovasi dan Teknologi Tepat Guna di Perdesaan
a. Peningkatan pengendalian pemanfaatan ruang kawasan perdesaan melalui
redistribusi lahan kepada petani/nelayan (land reform), serta menekan laju alih
fungsi lahanpertanian, hutan, dan kawasan pesisir secara berkelanjutan;
b. Fasilitasi peningkatan kesadaranmasyarakat dalam pemanfaatan,pengelolaan,
dan konservasi sumber daya alam dan lingkungan hidup yang seimbang,
berkelanjutan, dan berwawasan mitigasi bencana;
c. Fasilitasi peningkatan kesadaran masyarakatdalammewujudkan kemandirian
pangan dan energi.
6. Pengembangan Ekonomi Perdesaan
a. Penyediaan sarana dan prasarana produksi, pengolahan, dan pasar desa;
b. Peningkatan akses masyarakat desa terhadap modal usaha, pemasaran,dan
informasi pasar;
c. Fasilitasi peningkatan kemampuan masyarakat dalam bidang kewirausahaan
berbasis potensi lokal;
d. Peningkatan pemahaman masyarakat desa terhadap lembaga pendukung
ekonomi desa seperti koperasi, BUMDesa, dan lembaga ekonomi mikro lainnya.

2.5.2.3 Peningkatan Keterkaitan Kota dan Desa di Wilayah Pulau Papua
Peningkatan keterkaitan kota dan desa di Wilayah Pulau Papua diarahkan dengan
mengembangkan 4 kawasan sebagai penghubung kota desa yaitu kawasan Misool dan
sekitarnya (Kab. Raja Ampat, Prov. Papua Barat), Manokwari dan sekitarnya (Kab.
Manokwari, Prov. Papua Barat), Waris dan sekitarnya (Kab. Keerom, Kota Jayapura, Prov.
Papua), serta kawasan Merauke dan sekitarnya (Kab. Merauke, Prov. Papua). Kawasan-
kawasan ini mencakup kawasan transmigrasi, kawasan agropolitan dan minapolitan, serta
kawasan pariwisata.
Kebijakan untuk meningkatkan keterkaitan desa-kota diarahkan untuk mendukung
pengembangan kawasan perdesaan menjadi pusat pertumbuhan baru terutama di desa-
desa mandiri. Adapun prioritas strategi yang dilaksanakan sebagai berikut:
1. Perwujudan Konektivitas antar Kota Sedang dan Kota Kecil, dan antar Kota
Kecil dan Desa sebagai Tulang Punggung (Backbone) Keterhubungan Desa-
Kota.
a. Percepatan pembangunan infrastruktur transportasi untuk memperlancar arus
barang, jasa, penduduk, dan modal, dengan prioritas pada peningkatan
II - 16

kapasitas dan kualitas jaringan jalan Lintas Papua, angkutan sungai dan laut,
dan angkutan udara.
b. Penerapan teknologi informasi dan komunikasi untuk memfasilitasi
perdagangan dan informasi antar wilayah.
c. Percepatan pemenuhan suplai energi/listrik untuk memenuhi kebutuhan
domestik dan industri.
2. Perwujudan Keterkaitan Kegiatan Ekonomi Hulu (upstream linkages) dan
Kegiatan Ekonomi Hilir (Downstream Linkages) Desa-Kota.
a. Penyediaan fasilitas pendukung ekonomi lokal untuk meningkatkan produksi
dan distribusi barang dan jasa desa-kota dan antar kota, meliputi peningkatan
akses desa-desa produksi menuju pusat pertumbuhan (lihat tabel 2.5),
pengembangan pasar, dan toko saprodi;
b. Perwujudan industri pengolahan hasil pertanian secara luas yang berbasis
koperasi dan UMKM, meliputi industri pengolahan hasil pertanian di Kawasan
Pariwisata Manokwari, Waris, dan Marauke, serta industri pengolahan hasil
perikanan dan/atau kelautan di Kawasan Misool dan Waris;
c. Pengembangan daya tarik wisata bahari dan Taman Nasional di Kawasan
Pariwisata Raja Ampat melalui peningkatan ketersediaan infrastruktur
penunjang;
d. Peningkatan akses terhadap modal usahamelalui pengembangan lembaga
keuangan dengan kredit usaha ringan;
e. Penerapan penggunaan teknologi di tingkat lokal untuk meningkatkan nilai
tambah.
f. Pengembangan Pusat Kawasan Transmigrasi, Kawasan Agropolitan dan
Minapolitan, serta Kawasan Pariwisata

3. Peningkatan Kapasitas Tata Kelola, Kelembagaan, dan Masyarakat dalam
Peningkatan Keterkaitan Kota-Desa
a. Peningkatan kapasitas aparatur dan masyarakat mengenai kelembagaan dan
tata kelola ekonomi daerah;
b. Pengembangan kerjasama antar daerah;
c. Peningkatan pendidikan informal untuk memperkuat kemampuan inovasi dan
kreatifitas lokal serta potensi keragaman sosial budaya melalui balai-balai
pelatihan di tingkat lokal;
d. Peningkatan kapasitas perencanaan dan penyelenggaraan kerjasama antarkota
dan antar kota-desa.
e. Peningkatan pengetahuan dan kemampuan masyarakat mengenai kelestarian
laut dan pesisir serta mitigasi bencana, terutama di Kawasan Perdesaan Pesisir
Pesisir Misool, Manokwari, Waris, dan Merauke.
II - 17


Secara diagramatis, lokasi prioritas pengembangan kawasan perkotaan dan
perdesaan dapat dilihat pada Gambar 2.2 dan Tabel 2.5.

TABEL 2.4
LOKASI PRIORITAS KOTA SEDANG YANG BERFOKUS PADA UPAYA PEMERATAAN WILAYAH
DI PAPUA

Kode Lokasi Prioritas Fokus Pengembangan
P1 Jayapura (PKN) Sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN) yang difokuskan dalam pengembangan
Perdagangan dan Jasa (outlet pemasaran produksi tanaman pangan, hasil hutan, logam,
dan perikanan), Industri (pengolahan pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan
dan pertambangan), serta dikembangkan sebagai transhipment point di Kawasan
Timur Indonesia (KTI) dan pusat pelayanan administrasi pelintas batas negara
(perbatasan Indonesia-PNG-Palau)
P2 Sorong (PKN) Sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN) yang berorientasi pada pengembangan kegiatan
industri pengolahan: hasil hutan, bahan tambang dan hasil perikanan serta sebagai
Penghubung/Hub Utama untuk Wilayah Papua dan Maluku
Sumber : Bappenas, 2014

TABEL 2.5
LOKASI PRIORITAS PUSAT PERTUMBUHAN BARU YANG BERFOKUS PADA UPAYA
PEMERATAAN WILAYAH DI PAPUA

Kode Lokasi Prioritas Kelompok Kawasan Komoditas Unggulan
D1 Misool dan sekitarnya
(Kab. Raja Ampat, Prov.
Papua Barat)
Perkotaan Samate
Kawasan Minapolitan Perikanan Budidaya:
Samate, Pulau Rembombo, Pulau Yefman,
Pulau Matan, Pulau Senapan
Kawasan Pariwisata: KSPN Raja Ampat
Kawasan Tertinggal: Raja Ampat
Kota Otonom Terdekat : Sorong
Ikan kerapu
Rumput laut
Wisata Taman Nasional
Wisata pulau-pulau kecil
Wisata bahari
D2 Manokwari dan
sekitarnya
(Kab. Manokwari, Prov.
Papua Barat)
Perkotaan Manokwari
Kawasan Agropolitan (Padi): Prafi, Masui,
Sidey
Kawasan Transmigrasi): Prafi, Manokwari,
PKW terdekat: Manokwari
Padi
Kako
D3 Waris dan sekitarnya
(Kab. Keerom, Kota
Jayapura, Prov. Papua)
Perkotaan Waris
Kawasan Transmigrasi: Senggi
Kawasan Minapolitan Perikanan Budidaya:
Muara Tami dan Muara Heram.
Kota Otonom Terdekat : Jayapura
Jagung
Sapi
Ikan Nila
D4 Merauke dan sekitarnya
(Kab. Merauke, Prov.
Papua)
Perkotaan Merauke
Kawasan Agropolitan (Padi): Tanah Miring,
Kurik, Malind
KPB Salor
Kawasan Transmigrasi: Kurik, Jagebob,
Kawasan Tertinggal: Marauke
Kawasan MIFEE
PKW terdekat: Merauke
Padi
Kelapa Sawit
Sapi
Sumber : Bappenas, 2014
II - 18

GAMBAR 2.2
LOKASI PRIORITAS PENGEMBANGAN KAWASAN PERKOTAAN DAN PERDESAAN































Sumber : Bappenas, 2014

II - 19

2.5.3 Pengembangan Daerah Tertinggal dan Kawasan Perbatasan
2.5.3.1 Pengembangan Daerah Tertinggal
Arah kebijakan Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal di Wilayah Pulau
Papua difokuskan pada upaya pemenuhan kebutuhan pelayanan dasar publik dan
pengembangan perekonomian masyarakat yang berbasis pengembangan pangan,
perikanan, energi, dan pertambangan yang didukung oleh sumber daya manusia (SDM)
yang handal dan infrastruktur penunjang konektivitas antara daerah tertinggal dan pusat
pertumbuhan terutama pada 21 kabupaten terisolir di Provinsi Papua. Pembangunan
daerah tertinggal dilakukan melalui strategi sebagai berikut:
1. Pemenuhan Pelayanan Publik Dasar
Mendukung pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM) untuk pelayanan dasar
publik di daerah tertinggal dengan prioritas kegiatan sebagai berikut:
a. Bidang Pendidikan
1) Program pendidikan keaksaraan tingkat dasar;
2) Program pendidikan kesetaraan;
3) Penyelenggaraan program PAUD bagi anak usia 0-6 tahun untuk;
4) Pengembangan kurikulum untuk meningkatkan kemampuan dasar dan
pengembangan minat bakat melalui program olah raga dan kesenian lokal;
5) Penyelenggaran program guru dengan output lulusan Kursus Pendidikan
Guru (KPG) Diploma 2;
6) Pemerataan distribusi dan kapasitas tenaga pendidik, serta pemberian
insentif tenaga pendidik khususnya di bagian pegunungan tengah dan
perbatasan negara;
7) Pembangunan dan rehabilitasi sarana pendidikan dasar dan penunjang
khususnya di bagian pegunungan tengah wilayah Papua;
8) Penyelenggaraan sekolah bergerak, sekolah satu atap berasrama, dan
pelatihan keterampilan untuk menjamin akses pendidikan di daerah terisolir
dan perbatasan;
9) Penyediaan rumah dinas tenaga pendidik di wilayah-wilayah terisolir dan
perbatasan.
10) Pendirian akademi keperawatan dan kebidanan atau Poltekkes.

b. Bidang Kesehatan
1) Pembangunan, rehabilitasi, dan peningkatan sarana kesehatan diutamakan di
bagian tengah dan perbatasan;
2) Pengadaan sarana kesehatan keliling untuk kepulauan di bagian tengah
wilayah Papua;
II - 20

3) Pemerataan distribusi dan kapasitas tenaga kesehatan, alat kesehatan, dan
obat-obatan terutama di bagian tengah, barat, dan perbatasan;
4) Pengembangan fasilitas Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pratama
terutama di kawasan perbatasan;
5) Peningkatan pelayanan kesehatan bagi masyarakat berupa jaminan
kesehatan masyarakat;
6) Pencegahan dan penanggulangan penyakit menular HIV Aids, TB Paru, dan
Malaria melalui sosialisasi, fasilitasi, dan pengembangan Pusat Aids-
Tuberculosis-Malaria.
c. Bidang Energi
1) Pengembangan PLTMH, PLTS, PLTU dan Biomass khususnya di Kabupaten
Yahukimo, Puncak Jaya, Paniai, Pegunungan Bintang, Yalimo, Tolikara, Nduga,
Dogiyai, Deiyai, Lanny Jaya, dan kawasan perbatasan;
2) Penyediaan energi biogas yang ramah lingkungan khususnya di bagian utara
dan selatan Papua;
3) Penyediaan bahan bakar minyak ke wilayah terpencil khususnya di wilayah
pegunungan tengah dan perbatasan.
d. Bidang Informasi dan Telekomunikasi
1) Pengembangan radio komunitas dan radio komunikasi diutamakan untuk
menghubungkan wilayah perbatasan, bagian tengah Papua, dan pusat-pusat
pertumbuhan;
2) Pembangunan menara penguat sinyal dan radio penguat siaran RRI dan
TVRI.
3) Pendirian Media Center di setiap SKPD untuk penyebarluasan program dan
kebijakan;
4) Pengadaan M-PUSTIKA ( Mobile Pusat Teknologi Informasi Komunitas)
berupa kendaraan roda dua dan roda empat;
e. Bidang Permukiman dan Perumahan
1) Pembangunan prasarana perumahan dan air bersih yang sehat dan layak
huni di seluruh kampung terutama di wilayah terisolir dan perbatasan;
2) Perbaikan lingkungan permukiman tidak layak huni khususnya di kawasan
perhutanan, perairan, dan pesisir.
2. Pengembangan Ekonomi Lokal
Pengembangan kinerja perekonomian masyarakat di daerah tertinggal dalam rangka
meningkatkan nilai tambah sesuai dengan karakteristik, posisi strategis, dan
keterkaitan antar kawasan. Strategi ini meliputi aspek infrastruktur, manajemen
usaha, akses permodalan, inovasi, dan pemasaran dengan prioritas kegiatan sebagai
berikut:
II - 21

a. Penyusunan rencana induk dan rencana aksi pengembangan ekonomi berbasis
agroindustri berdasarkan masterplan pengembangan komoditas, serta
menggunakan pendekatan berbasis lima wilayah adat;
b. Penyediaan bibit tanaman agroindustri dan hewan ternak;
c. Penyediaan pengolahan limbah agroindustri perkebunan dan peternakan;
d. Penegakkan imbal jasa lingkungan bagi masyarakat di kawasan konservasi;
e. Pengembangan pusat informasi dan teknologi, serta pengembangan SDM bagi
pelaku usaha khususnya sub-sektor perkebunan dan perikanan laut, perhutanan;
f. Pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui penyediaan tenaga pendamping;
g. Penurunan biaya distribusi bahan pokok dan melancarkan distribusi kebutuhan
bahan pokok;
h. Pengembangan pasar tradisional;
i. Optimalisasi peran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) khususnya perikanan laut;
j. Pengembangan kegiatan kepariwisataan bahari dan sosial-budaya melalui
peningkatan insfrastruktur, promosi, dan peningkatan peran masyarakat adat,
khususnya di Kabupaten Sorong, Raja Ampat, Fak-Fak, Biak Numfor, dan
Kabupaten Merauke.

3. Penguatan Konektivitas dan Sislognas
Peningkatan konektivitas di Wilayah Pulau Papua difokuskan pada pembukaan
keterisolasian wilayah Pegunungan Tengah dan perbatasan dengan prioritas kegiatan
sebagai berikut:
a. Pembuatan sistem konektivitas laut untuk mendistribusikan hasil bumi menuju
lokasi di luar kawasan Papua;
b. Penyusunan masterplan transportasi dengan pemetaan status jalan dan sinergi
kewenangan pembangunan infrastruktur transportasi untuk membuka akses
seluruh kabupaten dan distrik;
c. Pengembangan 15 ruas jalan strategis sepanjang 966 Km di Provinsi Papua yang
meliputi daerah tertinggal seperti Kabupaten Asmat, Yahukimo, Pegunungan
Bintang, Yapen, Memberamo Raya, dan Waropen; serta di Provinsi Papua Barat
yang meliputi daerah tertinggal tertinggal seperti Kabupaten Tambrauw, Sorong
Selatan, Maybrat, dan non tertinggal seperti Kabupaten Manokwari Selatan;
d. Pembangunan jalan yang menghubungkan kampung-kampung dan distrik yang
masih terisolir dan kawasan perbatasan;
e. Pengembangan bandar udara perintis serta penyediaan pesawat udara perintis di
wilayah terisolir dan perbatasan;
f. Pengembangan pelabuhan, dermaga dan moda transportasi sungai, danau, dan
laut sebagai penghubung rute regional dan antarpulau;
g. Pengembangan terminal dan prasarana penunjang transportasi darat.

II - 22

4. Penguatan Kemampuan SDM dan IPTEK
Penguatan Kemampuan SDM dan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)
difokuskan pada afirmasi pendidikan bagi putera puteri asli Papua dan peningkatan
kapasitas aparatur pemerintah di dalam pelayanan publik dan pengelolaan keuangan
dengan prioritas kegiatan sebagai berikut:
a. Harmonisasi kebijakan, program, dan kegiatan daerah untuk percepatan
pembangunan daerah tertinggal;
b. Peningkatan kualitas aparatur daerah dalam memberikan pelayanan yang
memenuhi SPM;
c. Peningkatan jumlah dan kapasitas pemerintah daerah dalam monitoring dan
evaluasi pencapaian SPM Pelayanan dasar publik di daerah tertinggal;
d. Afirmasi putera puteri asli Papua dalam pendidikan menengah, afirmasi
pendidikan tinggi, dan sekolah kedinasan;
e. Pengembangan kelembagaan bagi peningkatan kapasitas orang asli papua (OAP)
untuk mendapatkan akses terhadap pusat-pusat kegiatan perekonomian;
f. Pengembangan dan peningkatan sarana pendidikan kejuruan dan keterampilan;
g. Peningkatan kelembagaan pendidikan tinggi bidang pertanian, pariwisata,
kelautan, perikanan, dan olahan kayu;
h. Peningkatan kesempatan pemagangan (internship industri mitra) bagi putera
puteri asli Papua;
i. Pembangunan pusat penelitian dan pengembangan.
5. Penguatan Regulasi dan Insentif
Dalam upaya menciptakan iklim yang kondusif untuk pengelolaan hasil bumi dan
energi dilakukan melalui prioritas kegiatan sebagai berikut:
a. Penyusunan Strategi Daerah tentang Percepatan Pembangunan Daerah
Tertinggal;
b. Harmonisasi kebijakan, program, dan kegiatan daerah untuk percepatan
pembangunan daerah tertinggal;
c. Pengaturan dan pengelolaan hak ulayat;
d. Koordinasi dan sinkronisasi antara pemerintah dengan pemerintah daerah,
antar-SKPD dalam penyelenggaraan program pembangunan di daerah;
e. Pemberian insentif untuk pihak swasta dalam proses pengembangan usaha di
daerah tertinggal;
f. Tunjangan khusus bagi pegawai pelayanan dasar publik di daerah-daerah
terisolir dan pedalaman seperti: bidan, dokter, guru, penyuluh pertanian.

2.5.3.2 Pengembangan Kawasan Perbatasan
Arah kebijakan Pengembangan Kawasan Perbatasan di Wilayah Pulau Papua
difokuskan untuk meningkatkan peran kawasan perbatasan sebagai halaman depan negara
II - 23

yang maju dan berdaulat dengan negara tetangga Papua Nugini di perbatasan darat dan
terhadap negara Australia di perbatasan laut. Fokus Pengembangan Kawasan Perbatasan
di Wilayah Pulau Papua diarahkan pada pengembangan Pusat Kegiatan Strategis Nasional
(PKSN) di Wilayah Pulau Papua, yaitu PKSN Jayapura, PKSN Tanah Merah, PKSN Merauke,
serta serta mempercepat pembangunan di Kecamatan Lokasi Prioritas (Lokpri) tahun
2015-2019.
Strategi pengembangan kawasan perbatasan diarahkan untuk mewujudkan
kemudahan aktivitas masyarakat kawasan perbatasan dalam berhubungan dengan negara
tetangga dan menciptakan kawasan perbatasan yang berdaulat, yang dilakukan melalui:
1. Penguatan pengelolaan dan fasilitasi penegasan, pemeliharaan, pengamanan
kawasan perbatasan Papua
Penguatan pengelolaan dan fasilitasi penegasan, pemeliharaan, pengamanan, dan
kawasan perbatasan secara terpadu di Wilayah Pulau Papua, dilakukan dengan:
a. Pengembangan pusat pelayanan kepabeanan, imigrasi, karantina, dan keamanan
terpadu (satu atap) di PKSN Jayapura, PKSN Tanah Merah, dan PKSN Merauke;
b. Perbaikan aktivitas lintas batas di pintu-pintu alternatif (ilegal) di kawasan
perbatasan, khususnya sepanjang perbatasan darat Papua dengan PNG.
c. Pengembangan pusat kegiatan pertahanan dan keamanan negara di PKSN
Jayapura, PKSN Tanah Merah, dan PKSN Merauke;
d. Perkuatan fungsi pengamanan perbatasan wilayah darat (khususnya untuk
daerah perbatasan RI-PNG yang memiliki topografi sulit), sungai, dan laut, baik
penyediaan alutsista maupun non alutsista;
e. Pendayagunaan Pulau-Pulau Kecil Terluar di Pulau Fani, Pulau Fanildo, dan
Pulau Bras dengan pendekatan keamanan, ekonomi dan lingkungan;
f. Menjalin kerjasama pengamanan dan pertahanan kawasan perbatasan negara
antara RI-PNG;
g. Sosialisasi batas wilayah darat, sungai, dan batas wilayah laut RI-PNG kepada
masyarakat perbatasan Wilayah Papua, serta pelibatan peran serta masyarakat
dalam menjaga pertahanan dan keamanan di perbatasan;
h. Pengembangan standar operasional prosedur (SOP) pertahanan dan keamanan
yang profesional bagi aparatur pengaman perbatasan.

II - 24

GAMBAR 2.3



II - 25

Tabel 2.6
Profil Daerah Tertinggal Wilayah Papua

NO. KABUPATEN
P
E
N
G
A
N
G
G
U
R
A
N

(
%
)

P
R
A
S
A
R
A
N
A

J
A
L
A
N

T
I
D
A
K

M
A
N
T
A
P

(
%
)

E
L
E
K
T
R
I
F
I
K
A
S
I

(
%
)

D
E
S
A

P
E
N
G
G
U
N
A

A
I
R

B
E
R
S
I
H

U
N
T
U
K

M
I
N
U
M
/
M
E
M
A
S
A
K

(
%
)

K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

S
A
R
A
N
A

I
N
F
O
R
M
A
S
I

D
A
N

K
O
M
U
N
I
K
A
S
I

R
A
T
A
-
R
A
T
A

L
A
M
A

S
E
K
O
L
A
H

(
T
h
)

S
A
R
A
N
A
F
I
S
I
K

P
E
N
D
I
D
I
K
A
N

(
%
)


R
A
T
A

R
A
T
A

J
A
R
A
K

P
U
S
K
E
S
M
A
S

(
K
m
)

R
A
T
A

R
A
T
A

J
A
R
A
K

P
U
S
K
E
S
M
A
S

P
E
M
B
A
N
T
U

(
K
m
)

K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

T
E
N
A
G
A

K
E
S
E
H
A
T
A
N

(
D
O
K
T
E
R
/
B
I
D
A
N
/
P
A
R
A
M
E
D
I
S
)

A
K
S
E
S
I
B
I
L
I
T
A
S

K
E

T
E
N
A
G
A

K
E
S
E
H
A
T
A
N

(
K
m
)

J
U
M
L
A
H

A
P
A
R
A
T
U
R

D
A
E
R
A
H

B
E
R
D
A
S
A
R
K
A
N

P
E
N
D
I
D
I
K
A
N

A
K
S
E
S
I
B
I
L
I
T
A
S

K
E

S
A
R
A
N
A

P
E
M
E
R
I
N
T
A
H
A
N

A
K
S
E
S
I
B
I
L
I
T
A
S

S
A
R
A
N
A
F
I
S
I
K

K
E
G
I
A
T
A
N

E
K
O
N
O
M
I

D
E
S
A

T
I
D
A
K

T
E
R
J
A
N
G
K
A
U

S
I
N
Y
A
L

S
E
L
U
L
E
R
(
%
)

D
E
S
A

T
I
D
A
K

T
E
R
J
A
N
G
K
A
S
I
A
R
A
N

T
V
R
I

(
%
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

S
D

(
K
m
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

S
M
P

(
K
m
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A

K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

D
O
K
T
E
R
/
K
E
C
A
M
A
T
A
N

R
A
T
A
-
R
A
T
A

K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

B
I
D
A
N
/
D
E
S
A

R
A
T
A
-
R
A
T
A

K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

P
A
R
A
M
E
D
I
S
/
K
E
C
A
M
A
T
A
N

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

P
R
A
K
T
E
K

D
O
K
T
E
R

(
K
m
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

P
R
A
K
T
E
K

B
I
D
A
N

(
K
m
)

<

S
M
U

(
%
)

D
1
/
D
2
/
D
3

(
%
)

D
4
/
S
1

(
%
)

S
2
/
S
3

(
%
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

K
E

K
A
N
T
O
R

K
E
C
A
M
A
T
A
N

(
K
m
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

K
E

K
A
N
T
O
R

K
A
B
U
P
A
T
E
N

(
K
m
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

P
A
S
A
R

(
K
m
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

L
E
M
B
A
G
A

K
E
U
A
N
G
A
N

(
B
A
N
K

U
M
U
M
)

(
K
m
)

A PAPUA
BARAT
9.27 76.82 84.00 29.45 83.34 96.32 7.54 13.94 28.77 27.27 32.99 0.75 0.37 6.78 80.78 84.56 90.41 3.34 6.05 0.20 19.86 54.10 63.9 43.15
1 KAIMANA * 16.8 96.03 92.87 19.77 83.72 96.51 7.95 9.99 31.92 30.82 16.53 2.14 0.44 18.14 61.99 65.01 91.60 3.21 4.56 0.63 26.70 63.19 48.4 51.11
2 TELUK
WONDAMA
11.06 99.17 99.61 17.11 88.16 86.84 7.14 6.42 15.71 15.10 12.22 1.00 0.47 6.69 99.80 99.80 95.97 2.12 1.92 0.00 9.01 53.65 66.4 40.47
3 TELUK
BINTUNI
9.34 98.66 71.14 29.61 82.89 99.34 7.02 14.27 28.70 31.61 35.43 0.75 0.43 6.83 92.90 94.44 87.23 4.22 8.43 0.12 9.39 52.09 71.3 61.46
4 SORONG
SELATAN
14.48 82.61 76.24 27.73 80.67 100.00 8.09 4.79 18.74 16.00 34.88 0.38 0.32 6.85 57.70 85.46 85.88 5.65 8.29 0.19 11.78 29.86 54.7 49.02
5 SORONG 3.35 29.16 94.61 21.48 66.87 90.36 8.11 22.13 31.22 19.87 33.20 0.47 0.47 7.74 62.04 57.88 89.15 3.75 6.95 0.14 25.78 95.12 66.4 37.25
6 RAJA AMPAT 5.79 92.49 71.60 80.00 75.83 97.50 7.53 6.49 17.01 23.49 22.46 0.63 0.39 4.71 87.25 84.02 95.18 2.29 2.34 0.20 36.67 47.29 68.5 29.44
7 TAMBRAUW 5.71 100.00 81.83 36.00 94.00 100.00 5.8 41.17 70.40 61.36 81.53 0.57 0.22 1.71 97.77 95.99 94.71 2.40 2.88 0.00 28.49 28.12 85.8 11.21
8 MAYBRAT 7.63 16.48 84.07 3.88 94.57 100.00 8.64 6.26 16.45 19.87 27.64 0.08 0.19 1.54 86.78 93.88 83.60 3.05 13.03 0.32 11.07 63.51 50.2 65.26
B PAPUA 3.33 61.60 33.59 20.18 83.35 95.81 5.11 28.67 33.43 33.06 33.91 1.58 0.56 9.35 72.94 77.33 91.81 2.61 5.29 0.29 19.01 57.95 47.5 70.87
9 MERAUKE 3.73 70.98 73.50 66.67 69.64 80.36 9.46 19.02 32.08 37.75 8.29 2.90 0.96 6.05 80.43 70.91 88.8 2.8 8.0 0.4 25.81 137.65 76.1 58.84
10 JAYAWIJAYA 2.46 19.91 17.65 4.93 76.76 98.94 5.31 3.26 9.23 8.28 8.42 0.65 0.46 5.59 27.35 99.20 81.86 6.43 11.57 0.14 4.52 21.96 13.1 28.16
11 NABIRE 3.27 42.13 71.54 48.15 66.67 81.48 7.29 82.08 49.11 32.53 16.25 1.71 1.17 13.00 55.59 53.33 85.57 4.62 8.98 0.83 29.70 1.80 64.9 82.13
12 KEPULAUAN
YAPEN
4.95 56.01 65.68 35.14 65.77 91.89 6.74 11.04 14.44 14.58 9.55 1.43 0.65 14.29 27.07 26.83 87.02 4.25 8.49 0.24 8.31 3.23 17.8 27.94
13 BIAK
NUMFOR
4.88 78.86 80.16 43.85 76.47 84.49 9.64 1.22 4.79 7.65 8.55 1.11 0.61 8.84 50.11 49.36 85.28 4.36 9.28 1.08 7.28 6.78 22.2 34.85
14 PANIAI 1.21 99.26 1.66 - 71.43 97.14 6.22 22.12 16.96 16.71 61.66 1.30 0.53 6.10 30.24 88.99 87.88 2.01 9.11 1.01 8.23 10.81 36.0 26.48
15 PUNCAK JAYA 22.27 56.34 2.10 4.97 96.69 100.00 6.12 12.43 24.22 33.68 42.31 9.13 0.54 16.75 69.76 68.96 84.11 2.05 12.74 1.10 14.59 4.73 48.7 81.41
16 MIMIKA * 3.24 66.48 84.87 23.53 67.06 98.82 6.93 5.04 23.13 23.13 34.98 4.58 0.86 12.83 62.66 62.67 89.84 2.66 7.40 0.10 21.25 2.95 49.2 54.59
17 BOVEN
DIGOEL
- 98.12 91.60 38.18 90.00 99.09 3.65 25.56 51.81 35.59 46.04 0.85 0.65 7.05 88.96 83.14 89.91 2.81 7.28 0.00 19.40 115.05 57.9 104.18
II - 26

NO. KABUPATEN
P
E
N
G
A
N
G
G
U
R
A
N

(
%
)

P
R
A
S
A
R
A
N
A

J
A
L
A
N

T
I
D
A
K

M
A
N
T
A
P

(
%
)

E
L
E
K
T
R
I
F
I
K
A
S
I

(
%
)

D
E
S
A

P
E
N
G
G
U
N
A

A
I
R

B
E
R
S
I
H

U
N
T
U
K

M
I
N
U
M
/
M
E
M
A
S
A
K

(
%
)

K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

S
A
R
A
N
A

I
N
F
O
R
M
A
S
I

D
A
N

K
O
M
U
N
I
K
A
S
I

R
A
T
A
-
R
A
T
A

L
A
M
A

S
E
K
O
L
A
H

(
T
h
)

S
A
R
A
N
A
F
I
S
I
K

P
E
N
D
I
D
I
K
A
N

(
%
)


R
A
T
A

R
A
T
A

J
A
R
A
K

P
U
S
K
E
S
M
A
S

(
K
m
)

R
A
T
A

R
A
T
A

J
A
R
A
K

P
U
S
K
E
S
M
A
S

P
E
M
B
A
N
T
U

(
K
m
)

K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

T
E
N
A
G
A

K
E
S
E
H
A
T
A
N

(
D
O
K
T
E
R
/
B
I
D
A
N
/
P
A
R
A
M
E
D
I
S
)

A
K
S
E
S
I
B
I
L
I
T
A
S

K
E

T
E
N
A
G
A

K
E
S
E
H
A
T
A
N

(
K
m
)

J
U
M
L
A
H

A
P
A
R
A
T
U
R

D
A
E
R
A
H

B
E
R
D
A
S
A
R
K
A
N

P
E
N
D
I
D
I
K
A
N

A
K
S
E
S
I
B
I
L
I
T
A
S

K
E

S
A
R
A
N
A

P
E
M
E
R
I
N
T
A
H
A
N

A
K
S
E
S
I
B
I
L
I
T
A
S

S
A
R
A
N
A
F
I
S
I
K

K
E
G
I
A
T
A
N

E
K
O
N
O
M
I

D
E
S
A

T
I
D
A
K

T
E
R
J
A
N
G
K
A
U

S
I
N
Y
A
L

S
E
L
U
L
E
R
(
%
)

D
E
S
A

T
I
D
A
K

T
E
R
J
A
N
G
K
A
S
I
A
R
A
N

T
V
R
I

(
%
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

S
D

(
K
m
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

S
M
P

(
K
m
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A

K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

D
O
K
T
E
R
/
K
E
C
A
M
A
T
A
N

R
A
T
A
-
R
A
T
A

K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

B
I
D
A
N
/
D
E
S
A

R
A
T
A
-
R
A
T
A

K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

P
A
R
A
M
E
D
I
S
/
K
E
C
A
M
A
T
A
N

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

P
R
A
K
T
E
K

D
O
K
T
E
R

(
K
m
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

P
R
A
K
T
E
K

B
I
D
A
N

(
K
m
)

<

S
M
U

(
%
)

D
1
/
D
2
/
D
3

(
%
)

D
4
/
S
1

(
%
)

S
2
/
S
3

(
%
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

K
E

K
A
N
T
O
R

K
E
C
A
M
A
T
A
N

(
K
m
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

K
E

K
A
N
T
O
R

K
A
B
U
P
A
T
E
N

(
K
m
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

P
A
S
A
R

(
K
m
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

L
E
M
B
A
G
A

K
E
U
A
N
G
A
N

(
B
A
N
K

U
M
U
M
)

(
K
m
)

18 MAPPI - 93.37 20.08 63.50 73.72 99.27 4.36 79.54 68.74 60.18 54.91 2.30 0.50 12.50 94.33 84.65 94.56 1.50 3.94 0.00 43.82 132.15 73.7 78.42
19 ASMAT 0.29 19.49 12.84 5.04 86.33 99.28 4.42 45.33 52.98 48.65 50.98 3.63 0.81 13.63 92.37 90.60 96.46 1.02 2.18 0.34 51.63 132.23 98.2 59.20
20 YAHUKIMO 1.09 67.85 1.66 - 96.14 99.81 2.92 18.31 53.07 68.32 32.32 0.39 0.13 4.59 90.10 90.71 92.83 3.72 2.98 0.47 7.38 129.69 66.3 92.07
21 PEGUNUNGAN
BINTANG
- 89.42 4.36 2.05 94.26 97.95 2.59 70.48 75.31 72.51 70.71 0.27 0.12 2.30 93.02 91.69 94.29 1.54 3.62 0.55 13.23 56.80 87.8 81.74
22 TOLIKARA 0.44 82.34 2.02 1.38 82.05 99.61 3.38 43.02 66.73 74.35 59.05 0.30 0.35 3.42 99.09 99.06 93.69 2.45 3.86 0.00 31.11 87.20 89.2 87.61
23 SARMI 5.28 8.28 78.70 73.26 84.88 100.00 7 11.18 20.52 27.42 24.48 0.50 0.28 5.40 62.77 62.94 91.42 3.56 5.02 0.00 22.94 97.27 39.4 78.49
24 KEEROM 3.14 51.22 87.47 19.67 59.02 62.30 7.43 26.53 27.68 19.50 16.68 3.14 0.64 21.71 49.25 71.23 95.07 2.10 2.83 0.00 19.34 86.52 59.5 40.51
25 WAROPEN - 87.55 68.59 21.84 78.16 96.55 6.55 59.47 39.27 41.90 38.34 0.10 0.36 9.30 60.49 69.91 87.25 4.75 8.00 0.00 14.42 69.08 35.6 67.56
26 SUPIORI 2.61 55.27 55.77 34.21 86.84 100.00 8.1 1.00 8.79 17.53 5.53 0.40 0.45 6.00 96.10 96.07 96.14 1.66 2.21 0.00 10.12 31.63 23.2 28.48
27 MAMBERAMO
RAYA
- 47.92 67.19 15.38 87.18 100.00 5.2 56.02 66.22 58.08 52.82 2.20 0.03 8.80 99.80 99.80 95.22 2.56 2.22 0.00 56.93 83.73 65.6 110.82
28 NDUGA 1.13 100.00 0.54 - 100.00 100.00 2.81 12.74 28.60 9.53 17.13 1.00 0.44 12.00 86.81 99.80 96.66 2.71 0.00 0.63 10.06 41.69 21.4 103.84
29 LANNY JAYA 1.05 55.67 0.32 1.40 93.01 100.00 3.75 5.04 7.91 9.52 32.64 0.20 0.60 12.70 71.80 95.23 92.48 0.57 6.95 0.00 7.05 30.70 14.7 83.67
30 MAMBERAMO
TENGAH
0.15 100.00 - - 89.83 100.00 2.93 13.66 19.98 13.51 18.20 1.80 1.02 26.80 81.94 94.92 94.91 0.00 5.09 0.00 16.45 61.42 21.9 123.17
31 YALIMO 0.53 20.69 4.07 - 96.30 100.00 2.81 32.40 26.80 28.89 16.93 1.60 0.93 6.00 90.05 90.05 96.41 2.73 0.87 0.00 12.03 48.71 51.2 128.26
32 PUNCAK - 97.33 - 3.75 98.75 100.00 2.85 19.37 22.82 41.17 54.37 0.25 0.38 4.63 62.67 62.67 100.00 0.00 0.00 0.00 9.41 33.11 20.3 93.95
33 DOGIYAI 6.87 11.10 0.91 1.27 69.62 100.00 4.16 28.04 28.68 28.46 51.34 0.20 0.22 4.00 76.36 88.04 96.66 2.40 0.94 0.00 16.29 60.51 49.5 62.25
34 INTAN JAYA 0.51 17.65 12.97 - 97.30 100.00 2.3 31.50 37.24 53.09 58.72 0.33 0.08 2.33 70.56 66.64 89.47 2.92 7.60 0.00 23.06 52.43 54.7 70.48
35 DEIYAI 0.81 70.00 0.72 36.67 96.67 100.00 2.96 38.71 25.50 10.06 24.41 0.40 1.40 5.80 99.80 30.57 95.08 2.27 1.64 1.01 8.98 24.84 24.7 24.34
RATA RATA
WILAYAH
6.30 69.2 58.79 24.81 83.35 95.93 6.32 21.31 31.10 30.16 33.45 1.17 0.46 8.06 76.86 80.95 91.11 2.97 5.67 0.25 19.44 56.03 55.73 57.01
RATA RATA DATING 5.41 55.41 69.27 52.29 47.97 78.18 7.31 13.5 13.43 14.22 12.96 8.77 1.06 39.58 34.00 34.36 92.28 2.48 5.02 0.22 12.61 53.97 25.02 45.02
RATA RATA
NASIONAL
7.24 48.78 83.18 66.55 32.11 48.63 7.9 8.73 7.97 8.91 7.6 11.2 1.12 37.46 18.51 16.69 89.85 3.03 6.70 0.42 10.32 48.25 14.83 24.92
Sumber: BPS 2012, Podes 2011
Keterangan: *) 70 Kabupaten berpotensi terentaskan

II - 27

2. Pengembangan Ekonomi Lokal
Pengembangan ekonomi lokal secara terpadu pada kawasan perbatasan negara di
Wilayah Pulau Papua, dilakukan dengan:
a. Peningkatan produksi dan nilai tambah hasil pertanian pangan dan perkebunan
untuk kebutuhan lokal dan melayani negara Papua Nugini di PKSN Merauke,
PKSN Tanah Merah, dan PKSN Jayapura;
b. Pengembangan kawasan agropolitan di 3 (tiga) Pusat Kegiatan Strategis
Nasional di PKSN Jayapura, PKSN Tanah Merah, dan PKSN Merauke;
c. Peningkatan kualitas dan kuantitas supply hasil perikanan dan kelautan melalui
pengembangan sarana dan prasarana pengolahan untuk mencukupi kebutuhan
lokal dan negara tetangga di Kepulauan Ayau, PKSN Jayapura, dan PKSN
Merauke;
d. Pengembangan program transmigrasi di kawasan perbatasan dalam bentuk
Kota Terpadu Mandiri di Merauke, Jayapura, dan Tanah Merah;
e. Peningkatan nilai potensi pariwisata alam, budaya, dan sejarah melalui
pengelolaan pariwisata yang optimal (promosi dalam dan lintas negara dan
penyediaan infrastruktur penunjang pariwisata) di Kepulauan Ayau, PKSN
Merauke, dan PKSN Tanah Merah;
f. Pengembangan pusat perdagangan berbasis komoditas lokal berorientasi pasar
ke negara tetangga (Papua Nugini) di PKSN Jayapura, PKSN Tanah Merah, dan
PKSN Merauke;
g. Pengembangan balai-balai latihan kerja untuk meningkatkan mengelola
komoditas unggulan lokal yang berorientasi pasar ke negara tetangga di
kawasan perbatasan Papua dan Papua Barat.
3. Penguatan Konektivitas dan Sislognas
Peningkatan konektivitas kawasan perbatasan baik ke pusat pertumbuhan maupun
konektivitas dengan negara tetangga Papua Nugini dan Australia, yang dilakukan
dengan:
a. Pembangunan ruas jalan strategis Waropko-Oksibil di Kabupaten Pegunungan
Bintang;
b. Peningkatan konektivitas dengan membangun sistem jaringan jalan lokal di
Kecamatan Lokasi Prioritas (Lokpri) dan antar Lokpri yang saling terhubung
dengan pusat kegiatan ekonomi;
c. Peningkatan intensitas dan pelayanan keperintisan yang menghubungkan pulau-
pulau di kawasan perbatasan negara, termasuk pulau kecil terluar berpenduduk
di Wilayah Papua, khususnya di Kepulauan Ayau dan Supiori, serta
konektivitasnya dengan sistem transportasi laut nasional dan internasional;
d. Pengembangan dermaga keperintisan pada pulau-pulau kecil terluar
berpenduduk di Kepulauan Ayau dan Supiori;
II - 28

e. Penjaminan ketersedian logistik, khususnya untuk pulau-pulau kecil terluar
berpenduduk;
f. Pengembangan pusat pelayanan transportasi sungai, laut, dan udara
internasional di PKSN Jayapura, PKSN Merauke, PKSN Tanah Merah;
g. Penyediaan infrastruktur dasar kewilayahan terutama jalan, listrik, air bersih,
dan telekomunikasi di Kecamatan Lokasi Prioritas (Lokpri).
4. Penguatan Kemampuan SDM dan Iptek
Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi (IPTEK) di kawasan perbatasan negara di Wilayah Pulau Papua, yang
dilakukan dengan:
a. Pengembangan dan meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan kejuruan
dan keterampilan berbasis sumberdaya lokal (pertanian, perkebunan, perikanan
tangkap, dan pertambangan) di kawasan perbatasan Papua dan Papua Barat;
b. Pengembangan sekolah bertaraf internasional, serta berasrama di Kawasan
Perbatasan Keerom, Boven Digoel, dan Merauke;
c. Peningkatan akses pelayanan sosial dasar (pendidikan dan kesehatan) di
kawasan perbatasan negara, khususnya di distrik-distrik terdepan dan terisolir
dengan penyediaan sarana prasarana sesuai karakteristik geografis wilayah
untuk meningkatkan SDM penduduk yang berkualitas;
d. Peningkatan tenaga pendidikan dan kesehatan yang handal, serta penyedian
insentif, serta sarana prasarana penunjang yang memadai khususnya di Distrik-
Distrik terdepan dan terisolir;
e. Peningkatan kapasitas aparatur wilayah perbatasan melalui penerapan
kebijakan wajib tugas belajar dan pelatihan teknis, agar diperoleh sumberdaya
aparatur yang memiliki kemampuan dan merumuskan kebijakan pengelolaan
kawasan perbatasan dan pelayanan yang diperlukan oleh masyarakat
perbatasan;
f. Pengembangan teknologi tepat guna dalam menunjang pengembangan kawasan
perbatasan di Wilayah Papua.

5. Penguatan Regulasi dan Insentif
Dalam upaya mendukung pengembangan kawasan perbatasan negara, harmonisasi
regulasi agar afirmasi terhadap pengembangan kawasan perbatasan. Beberapa
regulasi yang kurang harmonis dalam mendukung afirmasi terhadap pengembangan
kawasan perbatasan sebagai berikut:
a. Kemudahan masyarakat perbatasan yang tinggal di kawasan lindung untuk
memanfaatkan sumber daya alam yang ada di dalamnya, serta untuk kemudahan
pembangunan infrastruktur yang melalui hutan lindung;
II - 29

b. Regulasi pengelolaan lintas batas;
c. Regulasi Perdagangan lintas batas, Perjanjian kerjasama antara RI-Australia,
maupun RI-Papua New guinea dalam pengembangan kawasan perbatasan
negara;
d. Regulasi yang berkaitan dengan pengelolaan Dryport;
e. Regulasi untuk memberikan kewenangan yang lebih luas (asimetrik) kepada
Pemerintah Pusat untuk menyediakan sumber daya air, pengelolaan jalan non
status, dan pelayanan pendidikan dan kesehatan di kawasan perbatasan dan
pulau-pulau kecil terluar;
f. Penciptaan iklim investasi yang kondusif di kawasan perbatasan;
g. Pembagian kewenangan atau urusan antar jenjang pemerintah: pusat, provinsi,
dan kabupaten/kota dalam pengelolaan kawasan perbatasan;
h. Kelembagaan pengelola perbatasan yang memiliki otoritas penuh untuk
mengelola pos-pos lintas batas negara;
i. Pengkhususan pemberian kewenangan bagi pemerintahan kecamatan di wilayah
perbatasan (Lokpri) dalam bentuk desentralisasi asimetrik dengan penetapan
daerah khusus untuk akselerasi pembangunan dan efektivitas peningkatan
kualitas pelayanan publik;
j. Penyusunan Rencana Tata Ruang termasuk Detail Tata Ruang Kawasan
Perbatasan di Papua dan Papua Barat.

Adapun sebaran lokasi prioritas pengembangan kawasan perbatasan dapat dilihat
pada Tabel 2.7 dan Gambar 2.4.


Tabel 2.7
Daftar Lokasi Prioritas Pengembangan Kawasan Perbatasan Wilayah Papua

No. Kabupaten/Kota Kecamatan Lokasi Prioritas
1 Kab. Merauke Eligobel, Muting, Sota, Ulilin, Naukenjeri
2 Kab. Boven Digoel Mindiptana, Tanah Merah, Jair,
Waraopko
3 Kab. Pegunungan Bintang Batom, Iwur, Kiwirok, Pepera, Oksomol,
Tarub, Murkim, Kiwirok Timur,
Mufinop
4 Kab. Keerom Web, Senggi, Waris, Arso Timur, Towe
5 Kota Jayapura Muara Tami, Jayapura Utara
6 Kab. Supiori Supiori Barat, Supiori Utara, Kep.Aruri
7 Kab. Raja Ampat Kep. Ayau, Ayau
Sumber : Bappenas, 2014


II - 30

2.5.4 Pengembangan Daerah Bencana
Wilayah Pulau Papua yang terdiri dari Provinsi Papua dan Papua Barat merupakan
pertemuan dari tiga lempeng aktif (Lempeng Pasifik, Lempeng Eurasia, dan Lempeng
Filipina) sehingga rawan terhadap bencana gerakan tanah dan gempa bumi. Daratan
Provinsi Papua merupakan daratan yang terbentuk akibat pergerakan aktif antara lempeng
pasifik dan Indo-Australia yang menyebabkan banyak terdapat patahan aktif dan gunung-
gunung, Di bagian utara wilayah Provinsi Papua Barat terdapat patahan yang paling aktif di
Indonesia, yaitu patahan Sorong sehingga di wilayah Provinsi Papua Barat sering
mengalami gempa bumi. Jenis ancaman bencana yang dominan di pulau Papua adalah
banjir, longsor, gempa bumi, dan tsunami. Index Risiko Bencana yang tinggi di wilayah
pulau Papua dapat disebabkan tingkat ancaman (hazard) yang tinggi, tingkat kerentanan
sedang bila dinilai dari potensi penduduk terpapar dan potensi kerugian fisik (exposures)
dan tingkat kapasitas rendah di bidang kelembagaan, peringatan dini, mitigasi dan
kesiapsiagaan.

Arah kebijakan penanggulangan bencana di wilayah Pulau Papua adalah Arah
kebijakan penanggulangan bencana untuk mendukung pengembangan wilayah Pulau
Papua adalah mengurangi risiko bencana pada pusat-pusat pertumbuhan; dan
meningkatkan ketangguhan pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat dalam
menghadapi bencana. Strategi untuk melaksanakan arah kebijakan tersebut adalah:
1. Internalisasi pengurangan risiko bencana dalam kerangka pembangunan
berkelanjutan, melalui:
a. Harmonisasi kebijakan dan regulasi penanggulangan bencana di wilayah
Provinsi Papua dan Papua Barat, mengingat ancaman bencana gempa bumi,
tsunami, banjir dan longsor tidak mengenal wilayah administrasi
b. Pengenalan, penilaian dan pemantauan risiko bencana menggunakan kajian
dan peta risiko skala 1:50.000 pada kabupaten sasaran dan skala 1:25.000
untuk kota sasaran dengan memperhatikan indikator risiko iklim
c. Pemanfaatan kajian dan peta risiko bagi penyusunan Rencana Penanggulangan
(RPB) Bencana Kab/Kota, yang menjadi referensi untuk penyusunan RPJMD
Kab/Kota , serta untuk mereview RTRW Kabupaten/Kota setiap jangka waktu 5
tahun
d. Penyusunan rencana kontinjensi pada kabupaten/kota sasaran sebagai
panduan kesiapsiagaan dan operasi tanggap darurat
2. Penurunan tingkat kerentanan terhadap bencana, melalui:
a. Penyediaan infrastruktur mitigasi dan kesiapsiagaan (jalur evakuasi dan
shelter) untuk ancaman tsunami, banjir dan longsor
b. Pengembangan IPTEK dan pendidikan untuk pencegahan dan kesiapsiagaan
menghadapi bencana gempa bumi, tsunami, banjir dan longsor
c. Pembangunan dan perlindungan bagi prasarana vital yang diperlukan untuk
memastikan keberlangsungan pelayanan publik, kegiatan ekonomi masyarakat,
keamanan dan ketertiban pada situasi darurat dan pasca bencana
II - 31

GAMBAR 2.4




























II - 32

d. Bekerjasama dengan media cetak, radio dan televisi untuk mengembangkan
skema komunikasi antar pulau bagi peningkatan kesiapsiagaan
e. Penegakan rencana tata ruang kabupaten/kota sebagai instrumen
pengendalian pemanfaatan ruang
f. Pengembangan skema pemulihan paska bencana serta skema social safety net
terutama bagi kelompok masyarakat miskin dan kelompok usaha mikro/kecil
pada lokasi rawan bencana
g. Bekerjasama dengan mitra pembangunan, OMS dan dunia usaha untuk
mengurangi kerentanan ekonomi masyarakat
3. Peningkatan kapasitas aparatur dan masyarakat melalui:
a. Pengembangan 1 (satu) pusat logistik kebencanaan regional di wilayah Papua
b. Penyediaan, pemeliharaan dan pengoperasian sistem peringatan dini gempa
bumi dan tsunami di wilayah Sorong, Manokwari, Nabire dan Sarmi
c. Penyediaan, pemeliharaan dan pengoperasian sistem peringatan dini banjir dan
longsor di Sorong, Manokwari, Merauke dan Sarmi
d. Perkuatan kapasitas manajemen logistik untuk kedaruratan
e. Pelatihan bagi aparatur dan kelompok masyarakat untuk meningkatkan
pengetahuan pengurangan risiko bencana
f. Pelaksanaan simulasi tanggap darurat secara berkala untuk meningkatkan
kesiapsiagaan
g. Pengembangan Desa Tangguh Bencana untuk memobilisasi sumberdaya lokal
dengan prinsip pengelolaan sumber daya berkelanjutan terutama pada desa
pesisir di kabupaten/kota sasaran.

2.5.5 Pengembangan Tata Ruang Wilayah Pulau Papua
2.5.5.1 Arah Kebijakan Tata Ruang Wilayah Pulau Papua
1. Kebijakan untuk mewujudkan kawasan berfungsi lindung paling sedikit 70% (tujuh
puluh persen) dari luas Pulau Papua dan kelestarian keanekaragaman hayati
kelautan dunia sebagai bagian dari Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle)
meliputi:
a. Pemantapan kawasan berfungsi lindung dan rehabilitasi kawasan berfungsi
lindung yang terdegradasi;
b. Pemertahanan kawasan hutan yang bervegetasi sesuai dengan ekosistemnya;
dan
c. Pemertahanan dan pelestarian kawasan perairan yang memiliki nilai ekologis
tinggi.
2. Kebijakan untuk mewujudkan pusat pertumbuhan ekonomi berbasis pertanian
serta perikanan yang berdaya saing dengan prinsip berkelanjutan meliputi:
a. Pengembangan kawasan Merauke sebagai pusat pertanian tanaman pangan,
perkebunan, dan peternakan berbasis bisnis; dan
b. Pengembangan kawasan minapolitan.
II - 33

3. Kebijakan untuk mewujudkan Kawasan Perbatasan sebagai beranda depan negara
dan pintu gerbang internasional yang berbatasan dengan Negara Papua Nugini,
Negara Palau, dan Negara Australia meliputi:
a. Percepatan pengembangan Kawasan Perbatasan dengan pendekatan Pertahanan
dan keamanan negara, kesejahteraan masyarakat, serta kelestarian lingkungan
hidup; dan
b. Pemertahanan eksistensi 9 (sembilan) PPKT sebagai titik-titik garis pangkal
Kepulauan Indonesia.

2.5.5.2 Strategi Pengembangan Tata Ruang Wilayah Pulau Papua
I. Pengembangan Kawasan Lindung
Strategi perwujudan kawasan berfungsi lindung paling sedikit 70% (tujuh puluh
persen) dari luas Pulau Papua dan kelestarian keanekaragaman hayati kelautan dunia
sebagai bagian dari Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle), dilakukan dengan:
a. Mempertahankan dan merehabilitasi fungsi ekologis kawasan suakaalam dan
pelestarian alam dengan memperhatikan keberadaanKampung Masyarakat
Adat; dan
b. Melestarikan kawasan karst sebagai tempat penyimpanan cadanganair tanah
dan perlindungan keanekaragaman hayati.
Strategi pemertahanan kawasan hutan yang bervegetasi sesuai dengan
ekosistemnya, dilakukan dengan:
a. Mempertahankan dan meningkatkan fungsi ekologis kawasan hutanlindung
dengan memperhatikan keberadaan Kampung Masyarakat Adat;
b. Mempertahankan, merehabilitasi, dan meningkatkan fungsi kawasanperuntukan
hutan untuk meningkatkan kesejahteraan KampungMasyarakat Adat; dan
c. Mengendalikan alih fungsi kawasan peruntukan hutan untukkegiatan budi daya
nonhutan.
Strategi pemertahanan dan pelestarian kawasan perairan yang memiliki nilai
ekologis tinggi adalah dengan mengendalikan kegiatan budidaya di laut yang mengancam
keanekaragaman hayati laut.




II - 34

GAMBAR 2.5























II - 35

Tabel 2.8
Profil kerawanan dan risiko bencana pada pusat pertumbuhan
di Wilayah Pulau Papua

Lokasi
Index Kerawanan
(IRBI 2011)
Index Multi Risiko
(IRBI 2013)
KAPET Biak Kab. Biak Numfor Tinggi untuk banjir,
longsor, tsunami
Kab. Kep. Yapen tinggi untuk longsor,
gempabumi
Kab. Mimika tinggi untuk banjir, longsor,
gempabumi
Kab. Nabire tinggi untuk banjir, longsor,
gempabumi
Kab. Supiori tinggi untuk longsor
Kab. Teluk Wondama tinggi untuk longsor
dan tsunami
Kab. Teluk Bintuni tinggi untuk banjir,
gempabumi
Kab. Waropen tinggi untuk banjir, longsor
Kab. Biak Numfor sedang
Kab. Kep Yapen sedang
Kab. Mimika sedang
Kab. Nabire tinggi
Kab. Supiori sedang
Kab. Teluk Wondama
tinggi
Kab. Teluk Bintuni tinggi
Kab. Waropen sedang
KI Bongrang Kab. Jayapura tinggi untuk banjr, longsor Kab. Jayapura Tinggi
KI Tembaga Timika Kab. Mimika tinggi untuk banjir, longsor,
gempabumi
Kab. Mimika sedang
KPE Wamena Kab. Jayawijaya tinggi untuk gempabumi Kab. Jayawijaya sedang
MIFEE Merauke Kab. Merauke sedang untuk longsor Tinggi
Misool dan sekitarnya
(Perkotaan Samate, Kawasan
Minapolitan Perikanan, Kawasan
Pariwisata)
Kab. Raja Ampat tinggi untuk ancaman
banjir, gempabumi
Tinggi
Pusat Kegiatan Nasional (PKN) Papua
Sorong Tinggi untuk ancaman:gempa bumi, tsunami,
banjir
Tinggi
Timika Kab. Mimika Tinggi untuk ancaman:gempa bumi, banjir Sedang
Jayapura Tinggi untuk ancaman: banjir, longsor Tinggi
Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) Papua
Manokwari Tinggi untuk ancaman: gempa bumi, tanah
longsor, tsunami, banjir
Tinggi
Fak-fak Tinggi untuk ancaman tanah longsor, banjir Sedang
Biak Kab. Biak Numfor Tinggi untuk ancaman: banjir, longsor,
tsunami
Sedang
Nabire Tinggi untuk ancaman: gempa bumi Tinggi
Bade Kab. Mappi Tinggi untuk ancaman: banjir Sedang
Merauke Sedang untuk ancaman: longsor Tinggi
Sarmi Tinggi untuk ancaman: gempa bumi, longsor,
tsunami, banjir
Tinggi
Arso Kab. Keerom Tinggi untuk ancaman: banjir, longsor Sedang
Wamena Kab. Jayawijaya Tinggi untuk ancaman: banjir, longsor Sedang
Pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN) Papua
Tanah Merah Kab. Boven
Digoel
Tinggi untuk ancaman:banjir Sedang
Merauke Sedang untuk ancaman: longsor Tinggi
Arso - Kab. Keerom Tinggi untuk ancaman: banjir, longsor Sedang
Sumber : Diolah, Bappenas 2014




II - 36

II. Pengembangan Kawasan Budidaya
Strategi terkait pengembangan kawasan budidaya mencakup strategi-strategi
yang menjabarkan arah kebijakan dalam rangka mewujudkan arah kebijakan dalam
rangka mewujudkan pusat pertumbuhan ekonomi berbasis pertanian serta perikanan
yang berdaya saing dengan prinsip berkelanjutan, dan arah kebijakan dalam rangka
mewujudkan Kawasan Perbatasan sebagai beranda depan negara dan pintu gerbang
internasional yang berbatasan dengan Negara Papua Nugini, Negara Palau, dan Negara
Australia.
Strategi perwujudan pusat pertumbuhan ekonomi berbasis pertanian serta
perikanan yang berdaya saing dengan prinsip berkelanjutan, dilakukan dengan:
a. Mengembangkan sentra pertanian tanaman pangan, perkebunan, dan
peternakan yang didukung industri pengolahan ramah lingkungan;
b. Mengembangkan prasarana sumber daya air untuk meningkatkan luasan
kawasan pertanian tanaman pangan;
c. Mengembangkan kawasan peruntukan industri berbasis komoditas
perikanan;
d. Mengembangkan kawasan peruntukan perikanan yang dilengkapi prasarana
dan sarana dengan memperhatikan kesejahteraan Kampung Masyarakat
Adat.

2.5.6 Tata Kelola Pemerintah dan Otonomi Daerah
Arah kebijakan pengembangan Wilayah Pulau Papua yakni peningkatan kapasitas
pemerintah daerah yang mendorong pelestarian pembangunan berbasis masyarakat
adat dan lingkungan, dengan strategi :
1. Penguatan kapasitas pelayanan publik pada tingkat distrik untuk pemerataan
pembangunan di Papua.
2. Percepatan pelaksanaan UU No. 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara yang
sesuai dengan pelaksanaan Otonomi Khusus di Papua.
3. Peningkatan tingkat pendidikan dan keterampilan aparatur pemerintah daerah
dalam rangka pengembangan tata pemerintahan daerah.
4. Pengembangan kebijakan pelaksanaan otonomi khusus dalam penataan urusan
pemerintahan daerah.
5. Peningkatan efektivitas belanja modal dalam upaya percepatan pembangunan
infrastruktur konektivitas wilayah Papua.
6. Peningkatan opini Badan Pemeriksa Keuangan tentang akuntabilitas keuangan
daerah dari Tidak Menyatakan Pendapat (TMP/Disclaimer) menjadi Wajar
Dengan Pengecualian (WDP).
7. Pengembangan kebijakan penataan daerah (pemekaran) dalam optimalisasi
pembangunan Daerah Otonom Baru yang masuk kawasan tertinggal.
8. Peningkatan partisipasi masyarakat dalam pengawasan kebijakan dan
pemanfaatan Dana Otonomi Khusus Papua.
9. Peningkatan kapasitas masyarakat dan kelembagaan lokal dalam peningkatan
kualitas pelaksanaan Pilkada di tingkat distrik.
II - 37

2.6 Kaidah Pelaksana Pengembangan Wilayah Pulau Papua
2.6.1 Prioritas Program Pembangunan
2.6.1.1 Provinsi Papua

Tabel 2.9
Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
Provinsi Papua

Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
Perhubungan Udara
Pengembangan Bandara Sentani
Perpanjangan Bandara Mopah Merauke
Perhubungan Laut
Pengembangan Pelabuhan Jayapura
Pengembangan Pelabuhan Pomako
Pengembangan Pelabuhan Serui
Pembangunan Pelabuhan Bade
Pembangunan Dermaga Terminal Penumpang dan Peti Kemas Pelabuhan Depapre
Pengembangan Pelabuhan Nabire
Pengembangan Pelabuhan Agats
Pengembangan Pelabuhan Amamapare
Pengembangan Pelabuhan Sarmi
Pengembangan Pelabuhan Waren
Penanganan kapasitas kargo Pelabuhan Laut Timika
Pembangunan terminal agribisnis, pergudangan, dan pelabuhan ekspor di Serapuh & Wogikel
Pengembangan Pelabuhan Merauke
Jalan
Pembangunan Jalan Buraka - Poletom
Pembangunan Jalan Dekai - Oksibil
Pembangunan Jalan Depapre - Bongkrang
Pembangunan Jalan Enarotali - Tiom (240km)
Pembangunan Jalan Habema - Kenyam
Pembangunan Jalan Habema Yaguru
Pembangunan Jalan Jayapura - Sarmi
Pembangunan Jalan Jayapura Wamena - Mulia
Pembangunan Jalan Kumbe - Okaba - Nakias
Pembangunan Jalan Merauke - Jagebob - Erambu
Pembangunan Jalan Merauke Muting - Waropko
Pembangunan Jalan Merauke - Okaba - Buraka - Wanam - Bian - Wogikel
Pembangunan Jalan Ring Road Kota Jayapura
Pembangunan Jalan Tanah Miring-Jagebob-SP13
Pembangunan Jalan Timika Enarotali
Pembangunan Jalan Timika Potowaiburu Wagete - Nabire
Pembangunan Jalan Timika-Urumuka
II - 38

Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
Pembangunan Jembatan Erambu-Torai
Pembangunan Jembatan Holtekamp
Pembangunan Jalan Oksibil - Waropko
Ketenagalistrikan
PLTM Walesi 6, 7 2x0,6 MW
PLTA Orya/Genyem (On Going) 20 MW
PLTU Jayapura (FTP1) - Holtekamp 2x10 MW
PLTM Sinagma 4, 5 2x0,2 MW
PLTM Kalibumi I 2,6 MW
PLTGB Timika 8 MW
PLTGB Kurik/Merauke 3x5 MW
PLTU Jayapura - Holtekamp 2 2x15 MW
PLTM Orya 2 10 MW
PLTM Kalibumi II 2x2,5 MW
PLTM Sanoba 0,3 MW
PLTM Mariarotu I 2x0,65 MW
PLTM Mariarotu II 2x0,65 MW
PLTU Timika 4x7 MW
PLTA Baliem 10 MW
PLTM Kalibumi III Cascade 2x2,5 MW
PLTA Baliem 2x20 MW
PLTGB Biak 1 2x6 MW
PLTM Tatui 2x2 MW
PLTMG Timika Peaker (gas) 5 MW
PLTM Amai 1,4 MW
PLTU Jayapura 2 2x15 MW
PLTMG Nabire (CNG/LNG) 2x5 MW
PLTM Walesi Blok II 6x1 MW
PLTU Biak (FTP2) 2x7 MW
PLTU Merauke (FTP2) 2x7 MW
PLTU Nabire (FTP2) 2x7 MW
PLTU Jayapura (FTP2) 2x15 MW
PLTU Merauke 2 2x7 MW
Sumber Daya Air
Pembangunan Embung di Kab. Mimika (Tersebar)
Rehabilitasi dan Peningkatan Embung Makbalin Distrik Mayamuk Makbalin
Rehabilitasi dan Peningkatan Embung Majaran 1 Distrik Mayamuk Majaran
Rehabilitasi dan Peningkatan Embung Majaran 2 Distrk Mayamuk Majaran
Rehabilitasi dan Peningkatan Embung Sisipan I. Distrik Salawati
Rehabilitasi dan Peningkatan Embung Sisipan II. Distrik Salawati
Rehabilitasi Embung Majener I. Distrik Moisigin
Rehabilitasi dan Peningkatan Embung Matawolot II . Distrik Salawati
Rehabilitasi dan Peningkatan Embung Klamalu II . Distrik Aimas Klamalu
II - 39

Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
Pembangunan Jaringan Air Baku Warsamson (SPAM Regional) Kab. Sorong
Pembangunan Bendung dan Jaringan Air Baku di Kab. Raja Ampat
Pembangunan Bendung dan Jaringan Air Baku Ransiki di Kab. Manokwari Selatan
Pembangunan Intake dan Jaringan Air Baku di Kab. Sorong Selatan (tersebar)
Pembangunan Bendung Wanggar (2300 Ha) Nabire
Pengendalian Banjir Kabupaten Keerom Keerom
Pengendalian Banjir Distrik Bonggo Kabupaten Sarmi Sarmi
Pengendalian Banjir Kota Sarmi Kabupaten Sarmi Sarmi
Pengendalian Banjir S. Titiwuk Kabupaten Sarmi Sarmi
Pengendalian Banjir Sungai Yahim Kabupaten Jayapura Jayapura
Pengendalian Banjir Sungai Dobokurung Kabupaten Jayapura Jayapura
Pengendalian Banjir Distrik Lereh Kabupaten Jayapura Jayapura
Pengendalian Banjir Distrik Nimbokrang Kabupaten Jayapura Jayapura
Pengendalian Banjir Sungai Wanggar Kabupaten Nabire Nabire
Pengendalian Banjir Sungai Nabire Kabupaten Nabire Nabire
Pengendalian Banjir Sungai Musairo Kabupaten Nabire Nabire
Pengendalian Banjir Sungai Maryadei Kabupaten Yapen Yapen
Pengendalian Banjir Sungai Mantembu Kabupaten Yapen Yapen
Pengendalian Banjir Sungai Newi Kabupaten Yapen Yapen
Pengendalian Banjir Sungai Woru Kabupaten Yapen Yapen
Pengendalian Banjir Sungai Uwe Kabupaten Jayawijaya Jayawijaya
Pengendalian Banjir Sungai Elokorak Kabupaten Jayawijaya Jayawijaya
Pengendalian Banjir Sungai Digoel Kabupaten Boven Digoel Boven Digul
Pembangunan Pengaman Pantai Anggaduber Kab. Biak Numfor Biak Numfor
Pembangunan Pengaman Pantai Maff Kabupaten Nabire Nabire
Pembangunan Pengaman Pantai Sarmi Kabupaten Sarmi Nabire
Pembangunan Pengaman Pantai Animi Kab. Biak Numfor Biak Numfor
Pembangunan Pengaman Pantai Wadibu Kab. Biak Numfor Biak Numfor
Pembangunan Pengaman Pantai Soba Kab. Biak Numfor Biak Numfor
Pembangunan Pengaman Pantai Anggopi Kab. Biak Numfor Biak Numfor
Pembangunan Pengaman Pantai Skouw Sae Kota Jayapura Jayapura
Pembangunan Pengaman Pantai Warbefondi Kab. Supiori Supiori
Pembangunan Pengaman Pantai Maryadori Kab. Supiori Supiori
Pembangunan Pengaman Pantai Warpen Kab. Waropen Waropen
Pembangunan Pengaman Pantai Biak Kab. Biak Numfor Biak Numfor
Pembangunan Pengaman Pantai Skow Kota Jayapura Jayapura
Pembangunan Pengaman Pantai Holtekamp Kota Jayapura Jayapura
Pembangunan Pengaman Pantai Lampu Satu Kabupaten Merauke (Lanjutan) Merauke
Pembangunan KTA/PAH/Bendali di Kabupaten Merauke Merauke
Pembangunan Embung di Kabupaten Merauke Merauke
Pembangunan Embung di Kabupaten Timika Merauke
Pembangunan Embung di Kabupaten Sarmi Merauke
Pembangunan Embung di Kabupaten Tolikara Tolikara
II - 40

Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
Pembangunan Embung di Kabupaten Boven Digul Boven Digoel
Pembangunan Embung di Kabupaten Lanny Jaya Lanny Jaya
Pembangunan Long Storage di Kabupaten Merauke Merauke
Pembangunan sarana tampungan air baku rawa Biru distrik Sota Merauke
Pembangunan jaringan dan intake Danau Sentani untuk kota Jayapura dan Kota Sentani tahap III
(lanjutan) Kota Jayapura






II - 41

GAMBAR 2.6

II - 42

2.6.1.2. Provinsi Papua Barat

Tabel 2.10
Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
Provinsi Papua Barat

Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
Perhubungan Udara
Pengembangan Bandara Domine Eduard Osok
Pengambangan Bandara Rendani
Perhubungan Laut
Pengembangan Pelabuhan Kaimana
Pembangunan Pelabuhan Seget
Pengembangan Pelabuhan Owi
Pengembangan Pelabuhan Teminabuan
Pengembangan Pelabuhan Saunek
Pengembangan Pelabuhan Kokas
Pembangunan Faspel Laut Arar
Pengembangan Pelabuhan di Sorong
Pengembangan Pelabuhan Fak Fak
Jalan
Pembangunan Jalan Bourof-Bofuer-Bomberai
Pembangunan Jalan Fakfak -Kokas - Bomberai
Pembangunan Jalan Kamiaman-Tanggarum-Sp.Wonama
Pembangunan Jalan Mameh-Wendesi-Ambuni-Tandia
Pembangunan Jalan Manokwari Bintuni
Pembangunan Jalan Manokwari - Kebar - Sorong
Pembangunan Jalan Resei-Tandia-Sanderawoi-Bts Papua
Pembangunan Jalan Sorong - Pelabuhan Arar
Pembangunan Jalan Sorong-Sausafor-Werman-Mubrani-Manokwari
Pembangunan Jalan Tiwara-Moyana-Sp.Wonama-Wonama-Bourof
Pembangunan Jalan Wendesi-Idor-Tiwara
Pembangunan Jembatan Arar II
Pembangunan Jalan Lingkar Raja Ampat
Ketenagalistrikan
PLTM Prafi 2,5 MW
PLTM Prafi II 1 MW
PLTM Kombemur 2x3,3 MW
PLTGB Manokwari 2x3 MW
PLTM Waigo 1 MW
II - 43

Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
PLTM Ransiki 6 MW
PLTD Fak-Fak (Relokasi PLTD) 2x3 MW
PLTA Warsamson 3x15,5 MW
PLTU Andai (FTP2) 2x7 MW
PLTU Klalin (FTP2) 2x15 MW
Sumber Daya Air
Lanjutan Pembangunan Bendung Wariori di Kab. Manokwari
Peningkatan Jaringan Irigasi D.I. Oransbari 3.016 Ha (Jaringan Sekunder) di Kab. Manokwari
Pembangunan Jaringan Irigasi D. I Mariyat 1.500 Ha (Jaringan Primer) di Kab. Sorong
Pembangunan Jaringan Irigasi Rawa 750 Ha Wonosobo di Kab. Sorong
Pembangunan Jaringan Irigasi Rawa 750 Ha Kampung Segun di Kab. Sorong
Pembangunan Jaringan Irigasi Tambak Danau Ayamaru di Kab. Maybrat
Pengendalian Banjir Sungai Aimasi Kab. Manokwari
Pengendalian Banjir Sungai Ransiki Kab. Manokwari Selatan
Pengendalian Banjir Sungai Wariori Kab. Manokwari
Pengendalian Banjir Sungai Tubhi Kab. Teluk Bintuni
Pengamanan Pantai Pasir Putih di Kab. Manokwari
Pengamanan Pantai Wosi dan Rendani di Kab. Manokwari
Pengamanan Pantai Kaimana di Kab. Kaimana
Pengamanan Pantai Rado di Kab. Teluk Wondama
Pengamanan Pantai Miey di Kab. Teluk Wondama
Pengamanan Pantai Biriosi Wirsi di Kab. Manokwari
Pengamanan Pantai Maruni Maripi di Kab. Manokwari
Pengaman Pantai di Kab. Teluk Bintuni (Tersebar)
Pengaman Pantai di Kab. Nabire (Tersebar)
Pengaman Pantai di Kab. Mimika (Tersebar)
Pengamanan Pantai Oransbari di Kab. Manokwari Selatan
Pengamanan Pantai Ransiki di Kab. Manokwari Selatan
Pengamanan Pantai Tanjung Kasuari Kota Sorong
Pengamanan Pantai Pulau Fani Kab. Raja Ampat
Pengamanan Pantai Makbon Kota Sorong
Pengamanan Pantai Sausapor Kab. Tambrauw
Pengamanan Pantai Seget Kab. Sorong
Pengamanan Pantai Sailolof Kab. Sorong
Pengamanan Pantai Kotam Kab. FakFak
Pembangunan Embung di Kab. Raja Ampat (tersebar)
Pembangunan Embung di Kab. Sorong (Tersebar)
Pembangunan Embung di Kab. Fak-Fak (Tersebar)
Pembangunan Embung di Kab. Manokwari (Tersebar)
Pembangunan Embung di Kab. Teluk Bintuni (Tersebar)
II - 44

Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
Pembangunan Embung di Kab. Nabire (Tersebar)
Pembangunan Embung di Kab. Sorong Selatan (Tersebar)
Pembangunan Embung di Kab. Kaimana (Tersebar)
Pembangunan Embung di Kab. FakFak (Tersebar)
Pembangunan Embung di Kab. Teluk Bintuni (Tersebar)
Pembangunan Embung di Kab. Nabire (Tersebar)
Pembangunan Embung di Kab. Dogiyai (Tersebar)

2.6.2 Kerangka Regulasi
Pelaksanaan pembangunan Wilayah Pulau Papua tidak terlepas dari berbagai
kerangka regulasi yang perlu diperhatikan, diantaranya:
a. Regulasi pengelolaan lintas batas;
b. Regulasi Perdagangan lintas batas, Perjanjian kerjasama antara RI-Australia,
maupun RI-Papua New guinea dalam pengembangan kawasan perbatasan negara;
c. Regulasi yang berkaitan dengan pengelolaan Dryport;
d. Regulasi untuk memberikan kewenangan yang lebih luas (asimetrik) kepada
Pemerintah Pusat untuk menyediakan sumber daya air, pengelolaan jalan non
status, dan pelayanan pendidikan dan kesehatan di kawasan perbatasan dan pulau-
pulau kecil terluar;
e. Penyusunan Rencana Tata Ruang termasuk Detail Tata Ruang Kawasan Perbatasan
di Papua dan Papua Barat.
f. Harmonisasi peraturan perundangan terkait dengan iklim investasi, diantaranya
adalah PP. Nomor 147 Tahun 2000 Tentang Perlakuan Perpajakan di KAPET;
g. Peraturan perundangan terkait pelimpahan kewenangan ijin investasi pada
kawasan-kawasan ekonomi khusus dan kawasan industri nasional lainnya di
Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat;
h. Regulasi untuk mengatur pemanfaatan tanah ulayat;
i. Penyelesaian peninjauan kembali Perpres No. 57/2014 tentang RTR Pulau Papua.
II - 45

GAMBAR 2.7

II - 46

2.6.3 Kerangka Kelembagaan
Pelaksanaan pembangunan Wilayah Pulau Papua tidak terlepas dari berbagai
kerangka kelembagaan yang perlu diperhatikan, diantaranya:
a. Penciptaan iklim investasi yang kondusif di kawasan perbatasan;
b. Pembagian kewenangan atau urusan antar jenjang pemerintah: pusat, provinsi, dan
kabupaten/kota dalam pengelolaan kawasan perbatasan;
c. Kelembagaan pengelola perbatasan yang memiliki otoritas penuh untuk mengelola
pos-pos lintas batas negara;
d. Pengkhususan pemberian kewenangan bagi pemerintahan kecamatan di wilayah
perbatasan (Lokpri) dalam bentuk desentralisasi asimetrik dengan penetapan
daerah khusus untuk akselerasi pembangunan dan efektivitas peningkatan kualitas
pelayanan publik;
e. Pelimpahan kewenangan antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan instansi
terkait kepada pengelola kawasan strategis nasional dan kawasan-kawasan industri
lainnya;
f. Melaksanakan sosialisasi terkait dengan pemanfaatan lahan sebagai peruntukan
investasi di KAPET Biak dan dan MIFEE di Merauke;
g. Memberikan pelayanan terpadu satu pintu dan penggunaan Sistem Pelayanan
Informasi dan Perijinan Investasi secara Elektronik (SPIPISE) di bidang perizinan
perindustrian, perdagangan, pertanahan di KAPET Biak dan MIFEE di Merauke;
h. Penyiapan kemampuan pengelolaan investasi pada usulan KEK di provinsi Papua
dan Papua Barat;
i. Melakukan deliniasi hak ulayat pada kawasan kawasan strategis yang
dikembangkan sebagai pusat-pusat pertumbuhan ekonomi.
j. Pengembangan koordinasi Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional (BKPRD)
Provinsi di Pulau Papua dalam melaksanakan pemanfaatan dan pengendalian
pemanfaatan ruang Pulau.
RANCANGAN TEKNOKRATIK
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA
MENENGAH NASIONAL
2015 2019
BUKU III
ARAH PENGEMBANGAN WILAYAH
KEPULAUAN MALUKU
KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL /
BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL
BAPPENAS
2014
III - 1

BAB III
PENGEMBANGAN WILAYAH KEPULAUAN MALUKU

3.1 Capaian Kinerja Saat Ini
Berdasarkan data BPS dari tahun 2009 hingga Triwulan II tahun 2014, kinerja
pertumbuhan ekonomi provinsi di Wilayah Kepulauan Maluku mengalami
peningkatan dari tahun ke tahun. Rata-rata pertumbuhan Wilayah Kepulauan
Maluku selama kurun waktu 2009-2013 sebesar 6,4 persen atau lebih tinggi
dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,9
persen. Sementara itu, peranan Wilayah Kepulauan Maluku dalam pembentukan
PDB nasional mengalami peningkatan dari 0,25 persen (2009) menjadi 0,28
persen (Triwulan II 2014).
Pemerintah Provinsi di Wilayah Kepulauan Maluku telah cukup berhasil dalam
menurunkan jumlah penduduk miskin tahun 2009 sebesar 20,86 persen hingga
2014 (Maret) sebesar 14,32 persen akan tetapi masih berada dibawah angka
kemiskinan nasional sebesar 14,15 persen (2009) dan 11,25 persen (Maret 2014).
Demikian halnya dengan pencapaian tingkat pengangguran terbuka (TPT).
Pemerintah Provinsi di Wilayah Kepulauan Maluku juga telah berhasil
menurunkan TPT tetapi berada diatas TPT nasional sebesar 8,99 persen (2009)
dan 6,21 persen (Feb, 2014), kecuali di Provinsi Maluku Utara sudah berada
dibawah TPT Nasional.
Dari sisi peningkatan kualitas sumber daya manusia, maka di Wilayah Kepulauan
Maluku ini telah dikatakan sudah cukup baik. Hal ini diindikasikan dengan terus
meningkatnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dari tahun ke tahun pada
masing-masing provinsi di Wilayah Kepulauan Maluku. Namun demikian,
pencapaian IPM di Provinsi Maluku dan Provinsi Maluku Utara masih perlu
ditingkatkan karena masih di bawah IPM nasional sebesar 71,76 (2009) dan 73,81
(2013).
Dari sisi distribusi pendapatan antar golongan masyarakat, seluruh provinsi di
Wilayah Kepulauan Maluku mengalami kenaikan kesenjangan pendapatan antar
golongan. Hal ini diindikasikan dari angka Rasio Gini provinsi-provinsi di wilayah
Kepulauan Maluku lebih tinggi dibandingkan Rasio Gini Nasional sebesar 0,37
(2009) dan 0,41(2013). Kedepan, hal ini perlu mendapatkan perhatian agar
proses pembangunan terus lebih melibatkan masyarakat secara inklusif, sehingga
hasil-hasil pembangunan tersebut dapat dinikmati secara merata oleh masyarakat.

3.2 Potensi dan Keunggulan Wilayah
Perekonomian Wilayah Kepulauan Maluku berpoteni pada dua sektor utama, ,
yakni sektor pertanian terutama perikanan, dan sektor pertambangan terutama nikel
dan tembaga.
III - 2

Potensi perikanan Wilayah Kepulauan Maluku menjadikan Indonesia sebagai
salah satu produsen makanan laut terbesar di Asia Tenggara. Kemudian dalam
konteks global, berdasarkan potensi sumber daya alam yang dimiliki, Wilayah
Kepulauan Maluku dikenal sebagai produsen skala besar komoditas perikanan
dan pertambangan di Indonesia (terutama Provinsi Maluku Utara). Potensi
terbesar dari sektor perikanan dan kelautan Wilayah Kepulauan Maluku berasal
dari perikanan tangkap, produksi perikanan tangkap dan budidaya tahun 2012
mecapai 688.241 ton dan untuk perikanan budidaya sebesar 600.383. Dalam hal
produksi perikanan tuna, Wilayah Kepulauan Maluku menjadikan Indonesia
sebagai negara penghasil tuna terbesar, dengan peringkat ketiga dunia.
Selain potensi perikanan dan kelautan, Wilayah Kepulauan Maluku memiliki
potensi pertambangan dan energi yang cukup besar, terutama untuk nikel dan
tembaga. Wilayah Kepuluan Maluku merupakan penyumbang terbesar
pertambangan nikel di Indonesia dengan cadangan nikel sebesar 39 persen dan
tembaga sebesar 92.48 persen dari total nasional. Nikel dan tembaga merupakan
sumber daya alam yang cukup potensial di Wilayah Kepulauan Maluku, namun
belum memiliki hasil produksi yang bernilai tambah dan berdaya saing tinggi.
Hasil ekstraksi produk tambang nikel dan tembaga secara umum dilakukan tanpa
melalui proses pengolahan untuk memberikan nilai tambah bagi hasil produksi,
sehingga kontribusi sektor-sektor tersebut dalam memajukan perekonomian lokal
kurang optimal. Hal ini merupakan peluang investasi bagi investor untuk
pengembangan usaha disektor pertambangan di Wilayah Kepulauan Maluku.

3.3 Tema Pengambangan Wilayah Kepulauan Maluku
Berdasarkan potensi dan keunggulan Wilayah Kepulauan Maluku, maka tema
besar Pembangunan Wilayah Kepulauan Maluku sebagai "produsen makanan laut
dan lumbung ikan nasional dengan percepatan pembangunan perekonomian
berbasis maritim (kelautan) melalui pengembangan industri berbasis komoditas
perikanan; serta pengembangan industri pengolahan berbasis nikel, dan
tembaga.".
3.4 Tujuan dan Sasaran Pengembangan Wilayah Kepulauan Maluku
Tujuan pengembangan Wilayah Kepulauan Maluku tahun 2015-2019 adalah
mendorong percepatan dan perluasan pembangunan Wilayah Kepulauan Maluku
dengan menekankan keunggulan dan potensi daerah, melalui: (a) pengembangan
komoditas perikanan tangkap dan budidaya, (b) pengembangan sektor pertambangan
khususnya komoditas nikel dan tembaga, (c) peningkatan SDM dan ilmu dan teknologi
secara terus menerus.
Adapun sasaran pengembangan Wilayah Kepualuan Maluku pada tahun 2015-
2019 adalah sebagai berikut:
1. Dalam rangka percepatan dan perluasan pengembangan ekonomi Wilayah
Kepulauan Maluku, akan dikembangkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di
koridor ekonomi dengan memanfaatkan potensi dan keunggulan daerah, termasuk
III - 3

diantaranya adalah pengembangan 2 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), 4 Kawasan
Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET), 11 Kawasan Perhatian Investasi (KPI).
2. Sementara itu, untuk menghindari terjadinya kesenjangan antar Wilayah Kepulauan
Maluku, maka akan dilakukan pembangunan daerah tertinggal dengan sasaran
sebanyak 10 Kabupaten tertinggal dapat terentaskan dengan sasaran outcome: (a)
meningkatkan rata-rata pertumbuhan ekonomi di daerah tertinggal sebesar 7,3
persen; (b) menurunnya persentase penduduk miskin di daerah tertinggal menjadi
13,4 persen; dan (c) meningkatnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebesar
72,0.
3. Untuk mendorong pertumbuhan pembangunan kawasan perkotaan di Maluku, maka
akan dilakukan optimalisasi peran 2 kota otonom berukuran sedang sebagai pusat
pertumbuhan ekonomi dalam bentuk Pusat Kegiatan Nasional (PKN) sekaligus
sebagai pendukung pengembangan kawasan perbatasan negara.
4. Sesuai dengan amanat UU 6/2014 tentang Desa, maka akan dilakukan pembangunan
perdesaan dengan sasaran mengurangi jumlah desa tertinggal menjadi 16 persen
(2019).
5. Khusus untuk meningkatkan keterkaitan pembangunan kota-desa, diharapkan dapat
diwujudkan 3 pusat pertumbuhan baru perkotaan sebagai Pusat Kegiatan Lokal
(PKL) atau Pusat Kegiatan Wilayah (PKW).
6. Dalam rangka mewujudkan kawasan perbatasan sebagai halaman depan negara
yang berdaulat, berdaya saing, dan aman, maka akan 4 Pusat Kegiatan Strategis
Nasional (PKSN) sebagai pusat pertumbuhan ekonomi kawasan perbatasan negara
yang dapat mendorong pengembangan kawasan sekitarnya.
7. Sasaran untuk Wilayah Kepulauan Maluku adalah: (1) meningkatnya proporsi
penerimaan pajak dan retribusi daerah sebesar 30% untuk provinsi dan 10% untuk
kabupaten/kota; (2) meningkatnya proporsi belanja modal dalam APBD provinsi
sebesar 35% dan untuk Kabupaten/Kota sebesar 35% pada tahun 2019 serta
sumber pembiayaan lainnya dalam APBD; (3) meningkatnya jumlah daerah yang
mendapatkan opini wajar tanpa pengecualian (WTP); (4) terbentuknya kerjasama
daerah di Wilayah Kepulauan Maluku dalam rangka percepatan konektivitas dan
peningkatan pelayanan publik; (5) tersusunnya Organisasi Perangkat Daerah (OPD)
yang tepat fungsi dan ukuran sesuai dengan karakteristik wilayah Maluku; (6)
meningkatnya kualitas dan proporsi tingkat pendidikan aparatur sipil negara untuk
jenjang S1 sebesar 30%, S2 sebesar 5%, dan S3 sebesar 5%; (7) meningkatnya
implementasi pelaksanaan SPM di daerah, khususnya pada pendidikan, kesehatan
dan infrastruktur.
8. Sasaran penanggulangan bencana adalah mengurangi indeks risiko bencana pala 2
PKN (Kota Ambon dan Kota Ternate) dan 3 PKW (Kabupaten Seram Bagian Barat,
Kabupaten Seram Bagian Timur dan Kabupaten Maluku Tengah serta 1 PKSN
(Morotai) yang memiliki indeks risiko bencana tinggi, baik yang berfungsi sebagai
KAPET, KSN atau PKSN.
III - 4

Sehubungan dengan sasaran tersebut, diharapkan pada akhir tahun 2019,
pembangunan Wilayah Kepulauan Maluku semakin meningkat. Hal ini dicerminkan
dengan makin meingkatnya kontribusi PDRB wilayah Kepulauan Maluku terhadap
PDB Nasional, yaitu dari sekitar 0.28 persen (2014) menjadi 0.33 persen. Dengan
demikian, kondisi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan
masyarakat di wilayah Kepulauan Maluku. Secara rinci pertumbuhan ekonomi,
tingkat kemiskinan dan pengangguran dalam kurun waktu 2015-2019 diwilayah
Kepulauan Maluku dapat dilihat pada Tabel 3.1 sampai dengan Tabel 3.3 sebagai
berikut.
TABEL 3.1
SASARAN PERTUMBUHAN EKONOMI PER PROVINSI
WILAYAH KEPULAUAN MALUKU TAHUN 2015-2019
Provinsi Pertumbuhan Ekonomi (Persen)
2015 2016 2017 2018 2019
Maluku 6.9 - 7.0 7.1 - 7.4 7.6 - 8.0 7.5 - 8.13 7.6 - 8.4
Maluku Utara 5.9 - 6.0 6.2 - 6.4 6.8 - 7.3 7.0 - 7.6 7.3 - 8.1
Sumber : Perhitungan Bappenas, 2014
TABEL 3.2
SASARAN TINGKAT KEMISKINAN PER PROVINSI
WILAYAH KEPULAUAN MALUKU TAHUN 2015-2019
Provinsi Tingkat Kemiskinan (Persen)
2015 2016 2017 2018 2019
Maluku 19.4 - 19.0 17.9 - 17.2 16.4 - 15.5 14.9 - 13.7 13.3 - 12.0
Maluku Utara 6.6 - 6.5 6.1 - 5.86 5.6 - 5.2 5.0 - 4.6 4.5 - 4.1
Sumber : Perhitungan Bappenas, 2014
TABEL 3.3
SASARAN TINGKAT PENGANGGURAN PER PROVINSI
WILAYAH KEPULAUAN MALUKU TAHUN 2015-2019
Provinsi Tingkat Pengangguran (Persen)
2015 2016 2017 2018 2019
Maluku
6.2 - 6.1 6.0 - 5.8 5.8 - 5.4 5.6 - 5.1 5.4 - 4.9
Maluku Utara
4.8 - 4.7 4.7 - 4.5 4.5 - 4.2 4.3 - 4.0 4.1 - 3.8
Sumber : Perhitungan Bappenas, 2014

3.5 Arah Kebijakan dan Strategi Pengembangan Wilayah Kepulauan
Maluku
3.5.1 Pengembangan Kawasan Strategis
Kebijakan pembangunan kawasan strategis bidang ekonomi di wilayah Maluku
diarahkan menjadi pusat-pusat pertumbuhan ekonomi yang memiliki skala ekonomi
III - 5

dengan orientasi daya saing nasional dan internasional berbasis pengembangan
produsen makanan laut dan lumbung ikan nasional, diarahkan untuk
pengembangan industri berbasis komoditas perikanan serta pengembangan
industri pengolahan berbasis nikel, dan tembaga. Persebaran kawasan strategis
berada di beberapa provinsi, meliputi: (1) Provinsi Maluku terdapat Kawasan
Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) Seram; (2) Provinsi Maluku Utara terdapat
satu kawasan strategis, yaitu Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Morotai di Kabupaten
Pulau Morotai dan Provinsi Maluku sebagai Kawasan Industri pengolahan perikanan
dan perkebunan; serta (4) Kawasan Perhatian Investasi (KPI) dalam rangka menunjang
koridor ekonomi dan pusat-pusat pertumbuhan berdaya saing internasional, yaitu KPI
Ambon, Weda, Buli-Maba, Gosowong, Morotai, Wetar, Tual, dan KPI Potensial lainnya di
Maluku. Percepatan pembangunan kawasan strategis dilakukan melalui strategi sebagai
berikut:
1. Pengembangan Potensi Ekonomi Wilayah di Koridor Ekonomi Maluku
Pengembangan potensi ekonomi wilayah dimaksudkan untuk mempercepat
pertumbuhan dan memberdayaan masyarakat berbasis komoditas unggulan lokal.
Pengembangan potensi berbasis komoditas unggulan lokal ini diupayakan untuk
meningkatkan nilai tambah dan daya saing komoditas unggulan. Adapun strategi
untuk dapat meningkatkan pengembangan potensi ekonomi wilayah yaitu:
a. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)
a) Menyiapkan kawasan pengembangan komoditas perikanan dan pariwisata
bernilai tambah tinggi;
b) Mengembangkan pusat-pusat industri pengolahan produk perikanan, jasa
pariwisata dan logistik berdaya saing internasional;
c) Meningkatkan produktivitas hasil olahan perikanan di dalam dan sekitar
pusat industri.
b. Kawasan Pengembangan Terpadu (KAPET)
Dalam rangka mendukung pemerataan pertumbuhan dengan memanfaatkan
potensi sumber daya alam lokal dan memiliki daya saing tinggi, maka diperlukan
strategi sebagai berikut:
a) Menyiapkan kawasan pengelolaan klaster-klaster komoditas unggulan
kawasan berupa perikanan tangkap (ikan pelagis dan ikan demersal) dan
perkebunan (kelapa, cengkeh, pala, cokelat, dan kopi);
b) Meningkatkan produktivitas produk turunan dari kelapa, kakao, cengkih, dan
pala.
c. Kawasan Perhatian Investasi (KPI)
a) Mengembangkan produktivitas komoditas unggulan dan industri-industri
produk olahan komoditas lokal untuk mendukung koridor ekonomi dan
kawasan pertumbuhan lainnya.

III - 6

2. Percepatan Penguatan Konektivitas
Peningkatan konektivitas antara pusat pertumbuhan ekonomi di Provinsi Maluku
dan Maluku Utara dengan daerah sekitarnya yaitu daerah tertinggal (Kabupaten
Seram Bagian Barat, Kabupaten Seram Bagian Timur, Kabupaten Maluku Tengah),
kawasan minapolitan (P. Geser, P. Gorom, P. Boano), kawasan agropolitan (Kaloa,
Warasiwa), kawasan industri yang direncanakan di Masohi, serta KEK Morotai
sebagai penunjang dalam peningkatan kinerja pembangunan ekonomi kawasan
dilakukan melalui:
a. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)
b. Pengembangan dan rehabilitasi Bandar Udara Morotai, Bandar Udara di Tual, dan
Bandar Udara Sultan Babullah di Ternate;
a) Pengembangan Pelabuhan Sofifi-Kaiyasa;
b) Pembangunan terminal tipe A di Sofifi.
c. Kawasan Pengembangan Terpadu (KAPET)
a) Pembangunan fasilitas Pelabuhan Laut Ambon, Pelabuhan Tobelo, Pelabuhan
Matui-Jailolo, Pelabuhan Labuha/Babang;
b) Pembangunan dernaga kapal di Waisamu, Pelabuhan Pengumpul Dokyar,
Pelabuhan Areate, dermaga laut di Makariki, pelabuhan kontainer di Passo,
dermaga penyeberangan Fatkayon, dermaga penyeberangan Gane Timur,
dermaga penyeberangan Bicoli-Maba Selatan, dermaga penyeberangan Weda,
dan dermaga Ferry Airmanang;
c) Pengembangan Pelabuhan Sofifi-Kaiyasa, Pelabuhan Subaim; Pelabuhan
Malbufa, Pelabuhan Tikong, Pelabuhan Wayaluar-Obi; Pelabuhan Saketa;
Pelabuhan Bosua;
d) Pengembangan dan rehabilitasi Bandar Udara Oesman Sadik Labuha, dan
Lapangan Terbang Kawa.
d. Kawasan Perhatian Investasi (KPI)
a) Pembangunan terminal tipe C di seluruh kabupaten/kota;
b) Pembangunan dan peningkatan ruas jalan Daeo-Bere-Bere, ruas Daruba-Daeo,
ruas Wayabula-Sopi-Bere-Bere, Ringroad Halmahera Bagian Utara, Ringroad
Halmahera Bagian Tengah, Ringroad Halmahera Bagian Selatan, ruas
Waisarisa-Kaibobu, Ruas Lumoly-Waisamu, ruas Alang-Supe, ruas Piru-Loki,
ruas Lintas Wahai-Kobisonta, ruas Laimu-Werinama, ruas Taniwel-Saleman,
ruas Waisala-Sp. DPRD, dan ruas-ruas Trans Maluku;
c) Pembangunan transmisi listrik di Maluku Utara sepanjang 376 kilo meter
sirkuit (kms);
d) Pembangunan gardu induk di Maluku dengan kapasitas 280 MVA dan di
Maluku Utara dengan kapasitas 120 MVA;
III - 7

e) Pembangunan pembangkit listrik tenaga mini hidro (PLTM) Wae Tina dengan
kapasitas 8 MW, pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) dengan
kapasitas 20 MW, PLTP Jailolo sebesar 10 MW, PLTP Songa Wayaua sebesar 5
MW, serta Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) Sungai Supe,
Sungai Waimala, Sungai Waimakariki;
f) Pembangunan palapa ring di 3 kabupaten/kota untuk Maluku dan 2
kabupaten/kota untuk Maluku Utara;
g) Pembangunan jaringan backbone serat optik.
3. Penguatan Kemampuan SDM dan IPTEK
a. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)
a) Meningkatkan kualitas SDM Badan Pengelola dan Administratur KEK Morotai
dan Penglola Kawasan Industri di Maluku dalam bidang perencanaan,
penganggaran, dan pengelolaan kawasan;
b) Pengembangan sarana prasarana pendidikan dan pelatihan profesi untuk
meningkatkan kualitas tenaga kerja, khususnya di bidang perikanan,
perkebunan, perdagangan, dan logistik;
c) Penyiapan tenaga kerja berkualitas di sekitar kawasan dalam bidang industri
pengolahan berteknologi tinggi;
d) Peningkatan koordinasi antara Badan Pengelola KEK, pemerintah pusat, dan
pemerintah daerah.
b. Kawasan Pengembangan Terpadu (KAPET)
a) Meningkatkan kualitas SDM Badan Pengelola KAPET Seram di bidang
perencanaan, penganggaran, dan pengelolaan kawasan
b) Memberikan pembinaan kelembagaan yang mendukung perubahan pola pikir
bisnis berorientasi daya saing secara komparatif dan kompetitif
c) Pengembangan sarana prasarana pendidikan dan pelatihan untuk
meningkatkan kualitas SDM pengelola komoditas unggulan agroindustri,
peternakan, perikanan, distribusi dan pemasaran
c. Kawasan Perhatian Investasi (KPI)
a) Peningkatan kapasitas SDM pengelola kawasan untuk meningkatkan
produktivitas komodtas unggulan sekitar koridor ekonomi Maluku
b) Pengembangan inovasi teknologi ramah lingkungan dalam rangka menunjang
industri pengolahan dan distribusi pemasaran melalui koridor ekonomi
Maluku-Papua.
4. Penguatan Regulasi bagi Peningkatan Iklim Investasi dan Iklim Usaha
a. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)
a) Penerapan regulasi insentif fiskal yang sesuai dengan karakteristik wilayah dan
kompetitif, antara lain fasilitas fiskal disemua bidang usaha, pembebasan PPN
III - 8

dan PPNBM untuk bahan dan barang impor yang akan diolah dan digunakan di
KEK;
b) Membuat regulasi terkait dengan pelimpahan kewenangan antara pusat,
daerah, dan instansi terkait kepada administrator kawasan-kawasan
pertumbuhan;
c) Memberikan pelayanan terpadu satu pintu dan penggunaan Sistem Pelayanan
Informasi dan Perijinan Investasi secara Elektronik (SPIPISE) bidang
perindustrian, perdagangan, pertanahan, penanaman modal.
b. Kawasan Pengembangan Terpadu (KAPET)
a) Harmonisasi peraturan perundangan terkait dengan iklim investasi,
diantaranya adalah PP Nomor 147 Tahun 2000 Tentang Perlakuan Perpajakan
di KAPET;
b) Membuat regulasi terkait dengan pembagian kewenangan antara
Kabupaten/Kota di pusat-pusat pertumbuhan;
c) Melaksanakan sosialisasi terkait dengan pemanfaatan lahan sebagai
peruntukan investasi.
c. Kawasan Perhatian Investasi (KPI)
a) Memberikan pelayanan terpadu satu pintu dan penggunaan Sistem Pelayanan
Informasi dan Perijinan Investasi secara Elektronik (SPIPISE) bidang
perindustrian, pertanahan, dan penanaman modal.

3.5.2 Pengembangan Kawasan Perkotaan dan Perdesaan
3.5.2.1 Pengembangan Kawasan Perkotaan
Arah kebijakan pembangunan wilayah perkotaan di Wilayah Kepulauan Maluku
difokuskan untuk membangun kota berkelanjutan dan berdaya saing menuju
masyarakat kota yang sejahtera berdasarkan karakter fisik, potensi ekonomi dan
budaya lokal. Untuk itu, strategi pembangunan perkotaan Wilayah Kepulauan Maluku
tahun 2015-2019 yaitu:
1. Perwujudan Sistem Perkotaan Nasional (SPN)
Perwujudan SPN merupakan langkah untuk meningkatkan keterkaitan
pembangunan kota, baik itu antar kota otonom maupun kota dengan desa serta
pemenuhan fungsi kota itu sendiri. Berdasarkan kondisi kota otonom di Maluku
(Ambon dan Ternate), saat ini program perwujudan SPN diarahkan untuk
meningkatkan keterkaitan antar kota maupun kota-desa. Adapun strategi yang akan
dilakukan.
a. Pengembangan 2 kota sedang di pulau Maluku, yakni Ambon dan Ternate
dalam mempercepat perannya sebagai pusat pertumbuhan ekonomi dalam
bentuk Pusat Kegiatan Nasional (PKN) serta sebagai pendukung pengembangan
kawasan perbatasan negara;

III - 9

GAMBAR 3.1

















III - 10

b. Pengembangan 3 pusat pertumbuhan baru, yaitu Morotai, Maba, dan Bula sebagai
pendorong keterkaitan antara kota sedang dengan desa-desa sekitarnya dan buffer
urbanisasi menuju kota besar disekitarnya.
c. Pengembangan kegiatan industri pengolahan dalam hal ini pada sektor perikanan
dan pertanian serta pengembangan sektor pariwisata untuk mengembangkan
ekonomi dan meningkatkan keterkaitan dengan desa-kota sekitar;
2. Perwujudan Kota Layak Huni yang Aman dan Nyaman
Kebijakan prioritas di Maluku untuk mewujudkan Kota Layak Huni (Liveable City)
dilakukan melalui penyediaan sarana prasarana dasar yang mudah diakses termasuk
oleh kelompok lansia, difabel, wanita, dan anak. Strategi tersebut dilaksanakan dengan
prioritas program sebagai berikut:
a. Peningkatan aksesibilitas antar kota melalui penyediaan sarana transportasi
umum antarmoda khususnya transportasi laut dan udara secara terpadu dan
optimal;
b. Percepatan pemenuhan dan peningkatan pelayanan sarana prasarana
permukiman (perumahan, air minum, sanitasi: pengelolaan sampah; pengolahan
limbah; drainase);
c. Penyediaan dan peningkatan sarana prasarana ekonomi, pengembangan jalur
pariwisata dan distribusi-koleksi kegiatan ekonomi wilayahyang mampu
mengakomodasi pasar tradisional,sektor informal termasuk kegiatan koperasi dan
Usaha mikro kecil Menengah (UMKM) serta dapat mendukung kegiatan KAPET dan
pengembangan ekonomi kawasan perbatasan untuk kota Ambon;
d. Peningkatan pelayanan kesehatan, pendidikan, dan sosial budaya melalui
pengembangan sarana prasarana dan tenaga terampil di bidang kesehatan,
pendidikan, dan sosial; dan
e. Peningkatan keamanan kota melalui pencegahan, penyediaan fasilitas dan sistem
penanganan kriminalitas dan konflik, serta meningkatkan modal sosial masyarakat
kota.
3. Perwujudan Kota Hijau yang Berketahanan Iklim dan Adaptif terhadap Bencana
Kota yang dibangun dengan memanfaatkan secara efektif dan efisien sumber daya air,
energi dan ruang kota yang memperhatikan dan menjamin kesehatan lingkungan kota
serta menyinergikan lingkungan alami dan lingkungan buatan kota untuk dapat
mengembangkan ketahanan kota terhadap perubahan iklim. Perwujudan kota hijau
yang berketahanan iklim dan bencana melalui:
a. Perwujudan penyelenggaraan ruang yang efisien dan berkeadilan serta ramah
lingkungan;
b. Peningkatan pengetahuan dan kemampuan masyarakat dalam kesiapsiagaan
masyarakat yang beradadi kawasan rawan bencana, tanggap darurat, pemulihan
dan pembangunan kembali pasca bencana(urban resilience);
III - 11

c. Pembangunan infrastruktur mitigasi terhadap bencana alam untuk melindungi
aset-aset sosial ekonomi masyarakat yang berupa prasarana, permukiman, dan
kawasan budidaya dari gangguan dan ancaman bencana;
d. Penyelenggaraan tindakan preventif dalam penanganan bencana alamberdasarkan
siklus bencana, pengawasanterhadap pelaksanaan rencana tata ruang;
e. Pengembangan konsep green openspace (ruang terbuka hijau), green
waste(pengelolaan sampah dan limbah melalui 3R
1
) dan green water (efisiensi
pemanfaatan dan pengelolaan air permukaan) untuk pengurangan tingkat
pencemaran di darat dan laut.
4. Kebijakan untuk Meningkatkan Kapasitas Tata Kelola Pembangunan Perkotaan
Berdasarkan kondisi kota-kota di Wilayah Kepulauan Maluku saat ini, maka sasaran
lokasi peningkatan kapasitas tata kelola pembangunan perkotaan diprioritaskan pada
Kota Sedang dan Kota kecil. Strategi tersebut dilaksanakan dengan prioritas program,
sebagai berikut:
a. Penyediaan sistem, peraturan dan prosedur dalam birokrasi kepemerintahan kota
yang tanggap terhadap kebutuhan masyarakat kota berkelanjutan;
b. Peningkatan kapasitas pemimpin kota yang visioner dan kapasitas aparatur
pemerintah dalam membangun dan mengelola kota berkelanjutan, baik melalui
kota layak dan nyaman, kota hijau, maupun kota cerdas, melalui pendidikan,
pelatihan dan pembinaan secara bersikenambungan;
c. Penyederhanaan proses perijinan dan berusaha bagi para pelaku ekonomi
termasuk pelayanan terpadu satu pintu (PTSP);
d. Pengembangan kelembagaan dan kerjasama pembangunan antar kota.
e. Pengembangan dan penyediaan pusat data informasi perkotaan terpadu yang
mudah diakses;
f. Peningkatan peran swasta,organisasi masyarakat, dan organisasi profesi secara
aktif, baik dalam forum dialog perencanaan dengan pemerintah dan masyarakat
perkotaan, maupun dalam pembangunan kota berkelanjutan, seperti:
pembangunan infrastruktur perkotaan maupun masukan terhadap rencana tata
ruang kota;
g. Pengembangan fasilitas penyediaan bantuan teknis dan pembiayaan infrastruktur
perkotaan.

3.5.2.2 Pengembangan Kawasan Perdesaan
Arah kebijakan pengembangan kawasan perdesaan di Wilayah Kepualuan Maluku
adalah meningkatkan kemandirian masyarakat dan desa, serta mewujudkan desa-desa
berkelanjutan yang memiliki ketahanan sosial, ekonomi dan ekologi sesuai dengan amanat

1
3R: pengurangan (Reduce), pemanfaatan kembali (Re-use), dan Daur Ulang (re-cycle)
III - 12

Undang-Undang No.6/2014 tentang Desa dengan sasaran berkurangnya jumlah desa
tertinggal sebesar 16 persen.
Selain itu, membangun keterkaitan ekonomi lokal antara perkotaan dan perdesaan
melalui integrasi perdesaan mandiri pada 3 kawasan pertumbuhan baru, yang secara rinci
dapat dilihat pada Tabel 3.5.
Dalam rangka percepatan pembangunan desa di Wilayah Kepulauan Maluku akan
dilakukan:
1. Pengembangan Penghidupan Berkelanjutan bagi Masyarakat Miskin dan Rentan
di Desa
Kemiskinan di desa masih lebih tinggi dibandingkan dengan kemiskinan di kota
sehingga pembangunan desa diarahkan untuk mengurangi kemiskinan di desa dan
juga meningkatkan usaha ekonomi masyarakat. Dengan meningkatnya usaha ekonomi
perdesaan, maka masyarakat desa mampu meningkatkan taraf kehidupannya sehingga
bisa lepas dari jerat kemiskinan. Dalam usaha mengurangi kemiskinan dan
meningkatkan usaha ekonomi perdesaan, maka strategi pembangunan desa di Wilayah
Kepulauan Maluku adalah sebagai berikut:
a. Peningkatan peran dan kapasitas pemerintah daerah dalam memajukan ekonomi
masyarakat miskin dan rentan;
b. Peningkatan kapasitas masyarakat miskin dan rentan dalam pengembangan usaha
berbasis lokal;
c. Pemberian dukungan bagi masyarakat miskin dan rentan melalui penyediaan
lapangan usaha, dana bergulir, dan lembaga keuangan mikro.
2. Peningkatan Ketersediaan Pelayanan Umum dan Pelayanan Dasar Minimum di
Perdesaan
Mengingat bahwa masih banyak desa-desa yang masih kurang terpenuhi pelayanan
dasar minimumnya, maka strategi pembangunan desa yang paling mendasar untuk
dilakukan adalah dengan meningkatkan ketersediaan pelayanan umum dan pelayanan
dasar minimum yang memadai di desa. Prioritas yang strategi yang harus dilakukan di
Wilayah Kepulauan Maluku terkait hal ini adalah sebagai berikut:
a. Pembangunan sarana dan prasarana dasar perumahan di kawasan desa tertinggal
dan berkembang;
b. Pembangunan sarana dan prasarana pendidikan, khususnya sekolah dasar dan
sekolah menengah di kawasan desa tertinggal dan berkembang;
c. Pembangunan puskesmas yang memiliki kelengkapan obat-obatan yang cukupserta
penyediaan layanan puskesmas keliling bagi desa-desa terpencil;
d. Peningkatan distribusi tenaga pendidik dan tenaga kesehatan khususnya di desa-
desa terpencil;
III - 13

e. Peningkatan kualitas sarana dan prasarana transportasi, baik darat, air, maupun
udara;
f. Peningkatan kapasitas dan kualitas jaringan listrik dan jaringan telekomunikasi.
3. Peningkatan Keberdayaan Masyarakat Perdesaan
Kebijakan peningkatan keberdayaan masyarakat perdesaan tidak lepas dari adanya
masyarakat-masyarakat adat yang tersebar di pelosok Indonesia. Keberadaan,
kebudayaan, dan keberdayaan masyarakat adat ini sangat rentan tergerus oleh budaya
asing apabila tidak dilindungi. Tingkat pendidikan yang relatif masih rendah membuat
masyarakat desa maupun desa adat menjadi kurang berdaya. Oleh karena itu strategi
untuk meningkatkan keberdayaan masyarakat desa yaitu:
a. Peningkatan keberdayaan masyarakat perdesaan, melalui fasilitasi dan
pendampingan berkelanjutan dalam perencanaan, pembangunan, dan pengelolaan
desa;
b. Penguatan lembaga adat dan Desa Adat, perlindungan hak-hak masyarakat adat
sesuai dengan perundangan yang berlaku;
c. Peningkatan keberdayaan masyarakat melalui penguatan sosial budaya masyarakat
dan keadilan gender(kelompok wanita, pemuda, anak, dan TKI);
d. Peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan dan kesehatan
bagi masyarakat di desa tertinggal.
4. Perwujudan Tata Kelola Pemerintahan Desa yang Baik
Kebijakan untuk meningkatkan kapasitas tata kelola pemerintahan desa yang baik
diarahkan untuk meningkatkan kapasitas tata kelola pemerintah desa serta aparat
desa lainnya dalam mendukung peningkatan kemandirian dan kesejahteraan di desa.
Strategi prioritas yang dilaksanakan adalah sebagai berikut:
a. Fasilitasi peningkatan kapasitas pemerintah desa;
b. Fasilitasi peningkatan kapasitas Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dan lembaga-
lembaga lainnya di tingkat desa;
c. Pengembangandata dan informasi desa yang digunakan sebagai acuan bersama
perencanaan dan pembangunan desa.
5. Perwujudan Kemandirian Pangan dan Pengelolaan SDA-LH yang Berkelanjutan
dengan Memanfaatkan Inovasi dan Teknologi Tepat Guna di Perdesaan
Dalam mewujudkan pengelolaan perdesaan yang berkelanjutan, maka pembangunan
perdesaan perlu diarahkan untuk mendukung kemandirian pangan dan energi melalui
penataan kawasan perdesaan dan pengembangan kapasitas pengelola SDA-LH
III - 14

terutama di desa-desa tertinggal. Adapun strategi tersebut dilaksanakan dengan
prioritas program sebagai berikut:
a. Peningkatan pengendalian pemanfaatan ruang kawasan perdesaan melalui
redistribusi lahan kepada petani/nelayan (land reform), serta menekan laju alih
fungsi lahanpertanian, hutan, dan kawasan pesisir secara berkelanjutan;
b. Fasilitasi peningkatan kesadaran masyarakat dalam pemanfaatan,pengelolaan, dan
konservasi sumber daya alam dan lingkungan hidup yang seimbang, berkelanjutan,
dan berwawasan mitigasi bencana;
c. Fasilitasi peningkatan kesadaran masyarakatdalammewujudkan kemandirian
pangan dan energi.
6. Pengembangan Ekonomi Perdesaan
Pengembangan ekonomi perdesaan, khususnya di desa dan kawasan perdesaan yang
telah berkembang atau mandiri, diprioritaskan kepada program-program:
a. Peningkatan kegiatan ekonomi desa yang berbasis komoditas unggulan, melalui
pengembangan rantai nilai, peningkatan produktivitas, serta penerapan ekonomi
hijau;
b. Penyediaan dan peningkatan sarana dan prasarana produksi, pengolahan, dan pasar
desa;
c. Peningkatan akses masyarakat desa terhadap modal usaha, pemasarandan
informasi pasar;
d. Peningkatan kapasitas masyarakat dalam bidang kewirausahaan berbasis potensi
lokal;
e. Pengembangan lembaga pendukung ekonomi desa seperti koperasi, BUMDesa, dan
lembaga ekonomi mikro lainnya.
3.5.2.3 Peningkatan Keterkaitan Kota dan Desa di Wilayah Kepulauan Maluku
Peningkatan keterkaitan kota dan desa di Wilayah Kepulauan Maluku diarahkan
dengan mengembangkan 3 kawasan sebagai penghubung kota desa yaitu kawasan Morotai
dan sekitarnya (Kab. Pulau Morotai, Prov. Maluku Utara), Maba dan sekitarnya (Kab.
Halmahera Timur, Prov. Maluku Utara), serta kawasan Bula dan sekitarnya (Kab. Seram
Bagian Timur, Prov. Maluku). Kawasan-kawasan ini mencakup kawasan transmigrasi,
kawasan agropolitan dan minapolitan, serta kawasan pariwisata.
Kebijakan untuk meningkatkan keterkaitan desa-kota diarahkan untuk mendukung
pengembangan kawasan perdesaan menjadi pusat pertumbuhan baru terutama di desa-
desa mandiri. Adapun prioritas strategi yang dilaksanakan sebagai berikut:

III - 15

1. Perwujudan Konektivitas antar Kota Sedang dan Kota Kecil, dan antar Kota Kecil
dan Desa sebagai Tulang Punggung (Backbone) Keterhubungan Desa-Kota
a. Mempercepat pembangunan infrastruktur transportasi untuk memperlancar arus
barang, jasa, penduduk, dan modal,dengan prioritas pada peningkatan kapasitas dan
kualitas jaringan jalan Lintas Maluku, angkutansungai dan laut, sertaangkutan
udara.
b. Menerapkan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi untuk memfasilitasi
perdagangan dan informasi antar wilayah.
c. Mempercepat pemenuhan suplai energi/listrik untuk memenuhi kebutuhan
domestik dan industri pengolahan.
2. Perwujudan Keterkaitan antara Kegiatan Ekonomi Hulu (upstream linkages) dan
Kegiatan Ekonomi Hilir (downstream linkages) Desa-Kota
a. Menyediakan fasilitas pendukung ekonomi lokal untuk meningkatkan produksi dan
distribusi barang dan jasa desa-kota dan antar kota,meliputi peningkatan akses
desa-desa produksi menuju pusat pertumbuhan (lihat tabel 3.5), pengembangan
pasar, dan toko saprodi;
b. Mewujudkan industri pengolahan hasil pertanian secara luas yang berbasis koperasi
dan UMKM, meliputi industri pengolahan hasil pertanian di Kawasan Maba dan
Bula, serta industri pengolahan hasil perikanan dan kelautan di Kawasan Morotai;
c. Mengembangkan daya tarik wisata bahari dan kepulauan di Kawasan Pariwisata
Morotaimelalui peningkatan ketersediaan infrastruktur penunjang;
d. Meningkatkan akses terhadap modal usahamelalui pengembangan lembaga
keuangan dengan kredit usaha ringan;
e. Menerapkan penggunaan teknologi di tingkat lokal untuk meningkatkan nilai
tambah.
3. Peningkatan Kapasitas Tata Kelola, Kelembagaan, dan Masyarakat dalam
Peningkatan Keterkaitan Kota-Desa
a. Meningkatkan kapasitas aparatur dan masyarakat mengenai kelembagaan dan tata
kelola ekonomi daerah;
b. Mengembangkan kerjasama antar daerah;
c. Meningkatkan pendidikan informal untuk memperkuat kemampuan inovasi dan
kreatifitas lokal serta potensi keragaman sosial budaya melalui balai-balai pelatihan
di tingkat lokal;
d. Meningkatkan kapasitas perencanaan dan penyelenggaraan kerjasama antarkota
dan antar kota-desa.
III - 16

e. Meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masyarakat mengenai kelestarian laut
dan pesisir serta mitigasi bencana, terutama di Kawasan Perdesaan Pesisir Pesisir
Morotai, Maba, dan Bula
Secara diagramatis, lokasi prioritas pengembangan kawasan perkotaan dan perdesaan
dapat dilihat pada Gambar 3.2 dan Tabel 3.4 serta Tabel 3.5

TABEL 3.4
LOKASI PRIORITAS KOTA SEDANG YANG BERFOKUS PADA UPAYA PEMERATAAN WILAYAH
DI MALUKU
Kode Lokasi Prioritas Fokus Pengembangan
P1 Ternate (PKN) Sebagai pusat kegiatan Nasional (PKN) untuk mendukung sektor produksi wilayah
yaitu hortikultura; tanaman tahunan; hasil hutan; dan industri Pengolahan
P2 Ambon (PKN) Sebagai pusat kegiatan nasional (PKN) yang berorientasi pada kegiatan industri
pengolahan perikanan, sebagai hub untuk Kawasan Papua dan Maluku, serta
mendorong sebagai pusat kegiatan pariwisata kawasan Indonesia Timur.
Sumber : Bappenas, 2014
TABEL 3.5
LOKASI PRIORITAS PUSAT PERTUMBUHAN BARU YANG BERFOKUS PADA UPAYA
PEMERATAAN WILAYAH DI MALUKU
Kode Lokasi Kawasan Kelompok Kawasan Komoditas Unggulan
D1 Morotai dan sekitarnya
(Kab. Pulau Morotai, Prov.
Maluku Utara)
Perkotaan Morotai Selatan
Kawasan Minapolitan Perikanan Tangkap:
Morotai
Kawasan Pariwisata: KSPN Morotai
Kawasan Transmigrasi: Morotai
KEK (Usulan) Morotai
Kawasan Tertinggal: Morotai
Perikanan Tangkap
Wisata bahari dan
kepulauan
D2 Maba dan sekitarnya
(Kab. Halmahera Timur,
Prov. Maluku Utara)
Perkotaan Maba
Kawasan Agropolitan (Padi): Wasile, Wasile
Timur, Maba Tengah
Kawasan Transmigrasi: Subaim
Kota Otonom Terdekat : Tidore Kepulauan
Padi
Jagung
D3 Bula dan sekitarnya
(Kab. Seram Bagian
Timur, Prov. Maluku)
Perkotaan Bula
KPB Kobisonta
Kawasan Transmigrasi: Bula,
KAPET Seram.
PKW Terdekat: Bula
Cengkeh
Palawija
Kakao
Sumber : Bappenas, 2014
III - 17



3.5.3 Pengembangan Daerah Tertinggal dan Kawasan Perbatasan
3.5.3.1 Pengembangan Daerah Tertinggal
Arah kebijakan Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal di Wilayah Kepulauan
Maluku difokuskan pada upaya pemenuhan kebutuhan pelayanan dasar publik dan
pengembangan perekonomian masyarakat yang berbasis pengembangan pangan,
perikanan, energi, dan pertambangan yang didukung oleh Sumber Daya Manusia (SDM)
yang handal dan infrastruktur penunjang konektivitas antara daerah tertinggal dan pusat
pertumbuhan. Pembangunan daerah tertinggal dilakukan melalui strategi sebagai berikut:
1. Pemenuhan Pelayanan Publik Dasar
Mendukung pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM) untuk pelayanan dasar
publik di daerah tertinggal dengan prioritas kegiatan sebagai berikut:
a. Bidang Pendidikan
1) Pembangunan dan rehabilitasi sarana pendidikan dasar khususnya di Pulau
Morotai dan Kabupaten Aru;
2) Pemerataan distribusi dan kapasitas tenaga pendidik diutamakan di bagian
utara Wilayah Kepulauan Maluku;
3) Penyelenggaraan pelayanan pendidikan dasar bagi masyarakat yang
bermukim di kepulauan khususnya di Pulau Aru, Buru, dan Morotai;
4) Penyelenggaraan sekolah satu atap berasrama dan pelatihan keterampilan
untuk menjamin akses pendidikan di daerah terisolir;
5) Penyediaan rumah dinas tenaga pendidik di wilayah-wilayah terisolir.

b. Bidang Kesehatan
1) Pembangunan, rehabilitasi, dan peningkatan sarana kesehatan diutamakan di
Kepulauan Aru dan Halmahera Tengah;
2) Pengadaan sarana kesehatan keliling terapung untuk kepulauan di bagian
tenggara dan barat wilayah Kepualuan Maluku;
3) Pemerataan distribusi dan kapasitas tenaga kesehatan diutamakan di
kepulauan Aru dan Halmahera Tengah;
4) Penyediaan rumah dinas bagi tenaga kesehatan di wilayah-wilayah terisolir.

c. Bidang Energi
1) Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) khususnya Kabupaten
Halmahera Selatan dan Kabupaten Maluku Barat Daya;
2) Pengembangan jaringan transmisi di wilayah Maluku kepulauan;
3) Penyediaan infrastruktur depo bahan bakar minyak dan sumber tenaga listrik.
III - 18

GAMBAR 3.2
LOKASI PRIORITAS PENGEMBANGAN KAWASAN PERKOTAAN DAN PERDESAAN
WILAYAH KEPULAUAN MALUKU




















Sumber : Bappenas, 2014
III - 19


d. Bidang Informasi dan Telekomunikasi
1) Pengembangan radio komunitas dan radio komunikasi khususnya di desa-desa
yang tersebar di Wilayah Kepulauan Maluku; dan
2) Pembangunan menara penguat sinyal dan radio penguat siaran RRI dan TVRI,
khususnya di Kabupaten Aru dan Halmahera Tengah.

e. Bidang Permukiman dan Perumahan
1) Pembangunan prasarana perumahan dan air bersih yang sehat dan layak huni
di kawasan Wilayah Kepulauan Maluku;
2) Perbaikan lingkungan permukiman tidak layak huni khususnya di kawasan
pesisir.
2. Pengembangan Ekonomi Lokal
Pengembangan kinerja perekonomian masyarakat di daerah tertinggal dalam rangka
meningkatkan nilai tambah sesuai dengan karakteristik, posisi strategis, dan
keterkaitan antar kawasan. Strategi ini meliputi aspek infrastruktur, manajemen usaha,
akses permodalan, inovasi, dan pemasaran dengan prioritas kegiatan sebagai berikut:
a. Menyusun rencana induk dan rencana aksi pengembangan ekonomi berbasis pada
agroindustri, perkebunan, pangan-hortikultura, dan perikanan laut;
b. Pengembangan kawasan pusat industri perikanan laut di wilayah Ambon dan Tual;
c. Pengembangan ekonomi daerah dan ekonomi masyarakat berbasis perikanan laut,
dan pengolahan hasil-hasil laut mulai dari aspek perencanaan, pelaksanaan, dan
pengendalian;
d. Fasilitasi bantuan peralatan penangkapan ikan berupa kapal dan peralatan
penangkap ikan yang dilengkapi dengan sistem informasi lokasi penangkapan ikan
berbasis satelit;
e. Pengembangan pusat pemasaran rumput laut dan perikanan di Maluku Utara;
f. Pengembangan kegiatan kepariwisataan bahari dan sosial-budaya melalui
peningkatan insfrastruktur, sarana, promosi, serta peningkatan peran serta
masyarakat adat, khususnya di Pulau Morotai, Halmehara, dan Buru.
3. Penguatan Konektivitas dan Sislognas.
Peningkatan konektivitas daerah tertinggal dengan pusat pertumbuhan yang
diprioritaskan pada ketersediaan sarana dan prasarana penunjang peningkatan kinerja
pembangunan ekonomi daerah dengan prioritas program sebagai berikut:
a. Pengembangan 12 pelabuhan perikanan di Maluku, yakni : (i) Pelabuhan
Perikanan Nusantara (PPN): Tantui/Ambon dan Dumar/Tual, (ii) Pelabuhan
III - 20

Penurunan Ikan (PPI): Eri/Ambon, Taar/Tual, Amahai, Kayeli/Buru,
Ukurlarang/Maluku Tenggara Barat, Klishatu/Wetar, Kalar-kalar/Aru, (iii)
Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP): Dobo, Tamher Timur/Seram Bagian Timur,
Piru/Seram Bagian Barat); (iv) Pelabuhan Perikanan di Maluku Utara (Pulau
Morotai) dan Sofifi;
b. Peningkatan kapasitas sarana pelabuhan khususnya untuk mendukung
pengembangan sektor agroindustri perkebunan;
c. Pengembangan pelabuhan/dermaga dan sarana transportasi laut untuk
menghubungkan kawasan kepulauan;
d. Pembangunan Dermaga Ferry untuk mendukung jalur operasional Trans Maluku
di Kabupaten Seram Bagian Barat dan Maluku Tengah;
e. Pengembangan Bandar Udara Amahai di Kabupaten Maluku Tengah;
f. Pembangunan jalan dan jembatan Trans Maluku yang meliputi Kabupaten Seram
Bagian Barat dan Seram Bagian Timur;
g. Peningkatan Jalan Dawang-Waru-Airnanang di Kabupaten Seram Bagian Timur;
Jalan Lintas Seram-Saleman di Kabupaten Maluku Tengah; dan Jalan Piru - Loki
dan Taniwel Saleman di Kabupaten Seram Bagian Barat.
4. Penguatan Kemampuan SDM dan IPTEK
Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan kapasitas kelembagaan
pemangku kepentingan pembangunan daerah tertinggal di pusat maupun di daerah
yang terintegrasi untuk menunjang pengelolaan pangan, perikanan, energi, dan
pertambangan. Strategi ini meliputi aspek peraturan perundangan, tata kelola, SDM,
rumusan dokumen kebijakan, dan pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
(IPTEK) dengan prioritas kegiatan sebagai berikut:
a. Peningkatan kualitas aparatur daerah khususnya pada pemenuhan SPM pada
bidang pendidikan, kesehatan, listrik, informasi, dan telekomunikasi di daerah
tertinggal dari aspek perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian;
b. Pengembangan dan peningkatan sarana pendidikan kejuruan dan politeknik
kelautan di bagian utara, tengah, dan tenggara wilayah Maluku; dan
c. Pengembangan pusat informasi pemasaran serta teknologi, pendidikan, pelatihan
untuk menunjang pengembangan SDM pelaku usaha khususnya sub-sektor
perkebunan dan perikanan laut.

5. Penguatan Regulasi dan Insentif
Dalam upaya mendukung percepatan pembangunan daerah tertinggal, bentuk afirmasi
yang lebih nyata dan konkrit dilakukan dengan evaluasi terhadap harmonisasi regulasi
untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif melalui pelaksanaan prioritas program
sebagai berikut:
a. Harmonisasi kebijakan, program, dan kegiatan daerah untuk percepatan
pembangunan daerah tertinggal;
III - 21

b. Koordinasi dan sinkronisasi antara pemerintah dengan pemerintah daerah dan
antar-SKPD dalam penyelenggaraan program pembangunan di daerah;
c. Pemberian insentif untuk pihak swasta dalam proses pengembangan usaha di
daerah tertinggal;
d. Tunjangan khusus bagi pegawai pelayanan dasar publik di daerah tertinggal (bidan,
dokter, guru, penyuluh pertanian).

Pada periode RPJMN 2010-2014 wilayah wilayah Maluku terdiri dari 2 provinsi
dengan total 21 kabupaten/kota, dimana 61,90 persen atau 13 kabupaten masuk dalam
kategori daerah tertinggal. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di wilayah ini sebesar
69,24, berada dibawah target IPM rata-rata nasional di daerah tertinggal dalam RPJMN
2010-2014 sebesar 72,2. Pertumbuhan ekonomi sebesar 6,86 persen, jauh dari target yang
diharapkan pada RPJMN 2010-2014, sebesar 7,1 persen. Angka kemiskinan di daerah
tertinggal wilayah Maluku masih sebesar 18,48 persen, jauh dari target Angka Kemiskinan
secara nasional di daerah tertinggal dalam RPJMN 2010-2014, sebesar 14,2 persen.
Dalam periode RPJMN 2010-2014 di wilayah Maluku telah ditetapkan 15 kabupaten
tertinggal yang menjadi lokus agenda percepatan pembangunan daerah tertinggal. Pada
akhir tahun 2014 diindikasikan terdapat 2 kabupaten tertinggal yang dapat terentaskan.
Akan tetapi, terdapat 1 kabupaten dengan status Daerah Otonom Baru (DOB) hasil
pemekaran yang masuk kategori daerah tertinggal yaitu Kabupaten Pulau Taliabu.
Sehingga pada periode RPJMN 2015-2019 jumlah daerah tertinggal di Maluku diperkirakan
sebanyak 14 kabupaten. Pada akhir periode RPJMN 2015-2019 ditargetkan sebanyak 10
kabupaten tertinggal dapat terentaskan.
3.5.3.2 Pengembangan Kawasan Perbatasan
Arah kebijakan Pengembangan Kawasan Perbatasan di Wilayah Kepulauan Maluku
difokuskan untuk meningkatkan peran kawasan perbatasan sebagai halaman depan negara
yang maju dan berdaulat dengan negara Australia, Palau, dan RDTL. Fokus Pengembangan
Kawasan Perbatasan di Wilayah Maluku diarahkan pada pengembangan Pusat Kegiatan
Strategis Nasional (PKSN) di Wilayah Maluku, yaitu PKSN Saumlaki, Dobo, Ilwaki, dan
Daruba, serta mempercepat pembangunan di Kecamatan Lokasi Prioritas (Lokpri) tahun
2015-2019.
Strategi pengembangan kawasan perbatasan diarahkan untuk mewujudkan
kemudahan aktivitas masyarakat kawasan perbatasan dalam berhubungan dengan negara
tetangga dan menciptakan kawasan perbatasan yang berdaulat. Strategi tersebut dilakukan
sebagai berikut:
1. Penguatan pengelolaan dan fasilitasi penegasan, pemeliharaan dan pengamanan
kawasan perbatasan Maluku
Penguatan pengelolaan dan fasilitasi penegasan, pemeliharaan, dan pengamanan kawasan
perbatasan secara terpadu di Wilayah Kepulauan Maluku, dilakukan dengan:
III - 22

a. Mengembangkan pusat pelayanan kepabeanan, imigrasi, karantina, dan keamanan
terpadu (satu atap);
b. Mengembangkan pusat kegiatan pertahanan dan keamanan negara di kawasan
perbatasan Maluku dan Maluku Utara;
c. Membenahi aktivitas lintas batas di pintu-pintu alternatif (ilegal) di kawasan
perbatasan Maluku dan Maluku Utara;
d. Meningkatkan upaya perundingan dalam penetapan dan penegasan batas wilayah
negara RI-Palau, RI-RDTL, dan RI-Australia;
e. Memperkuat fungsi pengamanan perbatasan wilayah darat dan laut di kawasan
perbatasan RI-RDTL dan RI-Australia, baik alutsista maupun non alutsista.
f. Sosialisasi batas laut wilayah negara RI-Palau, RI-Australia, maupun RI-RDTL
kepada masyarakat perbatasan Wilayah Maluku, serta pelibatan peran serta
masyarakat dalam menjaga pertahanan dan keamanan di perbatasan.
g. Meningkatkan hubungan diplomatik RI-Palau, RI-Australia, dan RI-Australia dalam
konteks kerjasama lintas batas negara (pertahanan dan keamanan, ekonomi, sosial-
budaya).
h. Mengembangkan standar operasional prosedur (SOP) pertahanan dan keamanan
yang profesional bagi aparatur pengaman perbatasan.
i. Mendayagunakan Pulau-Pulau Kecil Terluar di Pulau Kisar, Pulau Larat, Pulau Leti,
Pulau Lirang, Pulau Marsela, Pulau Meatimiarang, Pulau Panambulai, Pulau Selaru,
dan Pulau Wetar dengan pendekatan keamanan, ekonomi dan lingkungan.
2. Pengembangan Ekonomi Lokal
Pengembangan ekonomi lokal secara terpadu pada kawasan perbatasan negara di Wilayah
Kepulauan Maluku, dilakukan dengan:
a. Meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi perikanan tangkap dan sumber daya
kelautan melalui pengembangan sarana dan prasarana produksi, pengolahan, dan
pemasaran di PKSN Saumlaki, PKSN Ilwaki, PKSN Dobo, dan PKSN Morotai;
b. Meningkatkan nilai potensi pariwisata bahari melalui pengelolaan pariwisata yang
optimal (promosi dan penyediaan infrastruktur penunjang pariwisata) di PKSN
Saumlaki, PKSN Ilwaki, PKSN Dobo, dan PKSN Morotai;
c. Mengembangkan pusat kegiatan industri pengolahan hasil perikanan, perkebunan,
dan pertambangan;
d. Mengembangkan program transmigrasi di kawasan perbatasan dalam bentuk Kota
Terpadu Mandiri ;
e. Meningkatkan investasi pada sektor perikanan dan kelautan melalui kerjasama
ekonomi RI-Palau dan RI- Philipina, termasuk di dua pulau terluar di sekitar Pulau
Morotai, yaitu P. Sopi dan P. Bere-bere berinteraksi langsung dengan kedua negara
tersebut dan saling bersaing dalam sektor perikanan;

III - 23

GAMBAR 3.3






III - 24

TABEL 3.6
PROFIL DAERAH TERTINGGAL WILAYAH KEPULAUAN MALUKU

NO. KABUPATEN
P
E
N
G
A
N
G
G
U
R
A
N
(
%
)

J
A
L
A
N
T
I
D
A
K
M
A
N
T
A
P
(
%
)

E
L
E
K
T
R
I
F
I
K
A
S
I
(
%
)

D
E
S
A
P
E
N
G
G
U
N
A
A
I
R
B
E
R
S
I
H
U
N
T
U
K

M
I
N
U
M
/
M
E
M
A
S
A
K
(
%
)

K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

S
A
R
A
N
A

I
N
F
O
R
M
A
S
I
D
A
N

K
O
M
U
N
I
K
A
S
I

R
A
T
A
-
R
A
T
A
L
A
M
A
S
E
K
O
L
A
H
(
T
A
H
U
N
)

K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

D
A
N

A
K
S
E
S
I
B
I
L
I
T
A
S

S
A
R
A
N
A

P
E
N
D
I
D
I
K
A
N

A
K
S
E
S
I
B
I
L
I
T
A
S

S
A
R
A
N
A

K
E
S
E
H
A
T
A
N

K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

T
E
N
A
G
A

K
E
S
E
H
A
T
A
N

(
D
O
K
T
E
R
/
B
I
D
A
N
/
P
A
R
A
M
E
D
I
S
)

A
K
S
E
S
I
B
I
L
I
T
A
S
K
E

T
E
N
A
G
A

K
E
S
E
H
A
T
A
N
(
K
m
)

J
U
M
L
A
H

A
P
A
R
A
T
U
R

D
A
E
R
A
H

B
E
R
D
A
S
A
R
K
A
N

P
E
N
D
I
D
I
K
A
N

A
K
S
E
S
I
B
I
L
I
T
A
S
K
E

S
A
R
A
N
A

P
E
M
E
R
I
N
T
A
H
A
N

A
K
S
E
S
I
B
I
L
I
T
A
S

S
A
R
A
N
A
F
I
S
I
K

K
E
G
I
A
T
A
N

E
K
O
N
O
M
I

D
E
S
A
T
I
D
A
K
T
E
R
J
A
N
G
K
A
U

S
I
N
Y
A
L
S
E
L
U
L
E
R
(
%
)

D
E
S
A
T
I
D
A
K

T
E
R
J
A
N
G
K
A
S
I
A
R
A
N
T
V
R
I
(
%
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A
J
A
R
A
K
S
D
(
K
m
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A
J
A
R
A
K
S
M
P
(
K
m
)

R
A
T
A
R
A
T
A
J
A
R
A
K

P
U
S
K
E
S
M
A
S
(
K
m
)

R
A
T
A
R
A
T
A
J
A
R
A
K

P
U
S
K
E
S
M
A
S
P
E
M
B
A
N
T
U
(
K
m
)

R
A
T
A
R
A
T
A
K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

D
O
K
T
E
R
/
K
E
C
A
M
A
T
A
N

R
A
T
A
R
A
T
A
K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

B
I
D
A
N
/
D
E
S
A

R
A
T
A
R
A
T
A
K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

P
A
R
A
M
E
D
I
S
/
K
E
C
A
M
A
T
A
N

R
A
T
A
-
R
A
T
A
J
A
R
A
K
P
R
A
K
T
E
K

D
O
K
T
E
R
(
K
m
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A
J
A
R
A
K
P
R
A
K
T
E
K

B
I
D
A
N
(
K
m
)

<
S
M
U
(
%
)

D
1
/
D
2
/
D
3
(
%
)

D
4
/
S
1
(
%
)

S
2
/
S
3
(
%
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A
J
A
R
A
K
K
E

K
A
N
T
O
R
K
E
C
A
M
A
T
A
N
(
K
m
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A
J
A
R
A
K
K
E

K
A
N
T
O
R
K
A
B
U
P
A
T
E
N
(
K
m
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A
J
A
R
A
K
P
A
S
A
R

(
K
m
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A
J
A
R
A
K
L
E
M
B
A
G
A

K
E
U
A
N
G
A
N
(
B
A
N
K
U
M
U
M
)

(
K
m
)

A MALUKU 8.77 59.6 64.79 54.07 67.19 90.77 8.21 13.88 22.15 27.99 22.16 2.64 1.13 17.62 66.10 74.61 92.51 2.82 4.48 0.18 15.51 139.53 37.35 51.00
1 BURU 7.82 54.53 82.98 47.56 52.4 100.0 8.98 36.10 8.89 15.0 9.3 4.00 1.21 16.40 26.7 54.97 91.18 2.75 5.82 0.25 26.02 58.94 16.68 45.9
2 BURU SELATAN 7.34 54.53 64.25 32.73 78.2 100.0 8.88 2.75 18.29 31.3 26.0 1.60 0.64 12.20 53.4 49.88 94.93 1.45 3.62 0.00 26.99 64.52 45.88 67.7
3 KEPULAUAN ARU 4.27 82.68 48.58 70.59 91.6 100.0 7.92 2.73 16.84 16.3 20.1 5.14 1.11 27.43 52.9 47.91 92.65 2.53 4.55 0.27 26.90 96.18 49.49 52.0
4 MALUKU TENGAH 13.59 45.57 83.65 56.82 33.5 70.5 8.02 9.00 13.40 11.4 13.1 2.59 1.98 18.82 36.6 70.13 89.88 3.60 6.19 0.33 14.76 85.84 28.20 27.8
5
MALUKU TENGGARA
BARAT
7.97 69.00 52.47 67.57 58.1 91.9 8.57 1.00 52.98 60.8 38.7 2.60 1.34 16.50 43.7 42.39 93.55 1.68 4.71 0.06 11.50 42.25 44.56 42.4
6 MALUKU BARAT DAYA 7.40 55.88 41.44 48.72 65.8 100.0 7.93 57.11 57.90 68.0 56.2 1.63 0.57 12.50 93.9 98.11 95.61 3.24 1.15 0.00 16.11 245.81 20.11 23.6
7 SERAMBAGIAN BARAT 10.46 42.12 93.40 45.65 73.9 65.2 8.09 1.16 5.17 10.4 4.2 1.73 1.86 20.27 61.9 74.48 90.65 4.18 5.01 0.16 0.83 89.65 25.97 61.4
8 SERAMBAGIAN TIMUR 11.34 72.19 51.53 62.94 83.9 98.6 7.31 1.22 3.74 10.7 9.7 1.88 0.31 16.88 159.7 159.01 91.67 3.13 4.81 0.39 1.00 158.36 67.93 87.1
B MALUKU UTARA 2.63 67.77 75.53 69.02 64.99 94.3 7.84 6.84 8.78 12.78 19.03 1.90 0.98 10.88 38.32 44.83 92.62 3.29 3.89 0.20 16.58 97.82 25.34 51.52
9 HALMAHERA BARAT 3.21 56.98 83.41 53.06 63.3 90.5 7.87 0.58 3.83 10.9 10.5 2.00 0.99 9.78 26.2 24.12 93.17 4.03 2.58 0.22 12.06 46.31 17.61 45.3
10 HALMAHERA SELATAN 5.30 85.13 58.20 67.58 73.4 97.7 8.25 1.04 9.81 14.0 41.9 1.13 0.68 6.63 59.9 70.57 93.08 2.02 4.46 0.44 8.30 64.59 40.16 79.4
11 HALMAHERA TENGAH * 2.31 58.54 74.47 46.43 53.6 96.4 8.02 0.67 8.06 7.1 1.4 2.25 1.55 17.13 37.6 70.01 87.33 6.87 5.47 0.34 25.01 203.27 21.24 64.6
12 HALMAHERA TIMUR 1.68 44.00 84.22 79.22 62.3 94.8 7.69 8.63 7.03 10.5 29.0 2.20 1.23 13.70 55.4 42.46 92.66 2.91 4.30 0.13 13.18 113.85 38.41 48.1
13 HALMAHERA UTARA * 1.41 94.31 86.15 81.22 57.4 99.5 8.28 1.40 6.52 7.7 13.2 2.65 0.93 5.94 28.2 39.46 92.97 3.22 3.60 0.21 9.69 66.69 14.16 39.9
14 KEPULAUAN SULA 3.02 35.39 60.92 75.94 68.4 100.0 7.84 31.00 15.18 25.9 25.9 0.84 0.62 7.37 25.6 28.49 94.15 2.60 3.25 0.00 12.73 91.49 18.91 23.8
15 PULAU MOROTAI 1.50 100.00 81.31 79.69 76.6 81.3 6.96 4.57 11.04 13.3 11.3 2.20 0.88 15.60 35.4 38.66 94.95 1.42 3.58 0.05 35.07 65.41 26.88 59.7
RATA RATA WILAYAH 5.70 63.66 70.16 61.55 66.09 92.42 8.03 10.36 15.47 20.39 20.59 2.27 1.06 14.25 52.21 59.72 92.56 3.06 4.19 0.19 16.05 118.67 31.35 51.26
RATA RATA DATING 5.41 55.41 69.27 52.29 47.97 78.18 7.31 13.5 13.43 14.22 12.96 8.77 1.06 39.58 34.00 34.36 92.28 2.48 5.02 0.22 12.61 53.97 25.02 45.02
RATA RATA NASIONAL 7.24 48.78 83.18 66.55 32.11 48.63 7.9 8.73 7.97 8.91 7.6 11.2 1.12 37.46 18.51 16.69 89.85 3.03 6.70 0.42 10.32 48.25 14.83 24.92
Sumber: BPS 2012, Podes 2011
Keterangan: *) 70 Kabupaten berpotensi terentaskan
III - 25

f. Mengembangkan pusat perdagangan berbasis komoditas lokal berorientasi pasar ke
negara tetangga (Australia, RDTL, dan Palau) di PKSN Morotai, PKSN Dobo, PKSN
Dobo dan PKSN Ilwaki;
g. Mengembangkan program transmigrasi di kawasan perbatasan dalam bentuk Kota
Terpadu Mandiri di Maluku dan Maluku Utara;
h. Mengembangkan balai-balai latihan kerja untuk meningkatkan mengelola
komoditas unggulan lokal yang berorientasi pasar ke negara tetangga (Australia,
RDTL, dan Palau).
3. Penguatan Konektivitas dan Sislognas
Peningkatan konektivitas kawasan perbatasan negara di Wilayah Kepulauan Maluku, dilakukan
dengan:
a. Meningkatkan intensitas dan pelayanan keperintisan yang menghubungkan pulau-
pulau di kawasan perbatasan negara, termasuk pulau kecil terluar berpenduduk di
Wilayah Maluku, 3 (tiga) gugus pulau perbatasan di Maluku Barat Daya, Maluku
Tenggara Barat, Kepulauan Aru, serta serta konektivitasnya dengan sistem
transportasi laut regional, nasional dan internasional;
b. Meningkatkan konektivitas dengan membangun sistem jaringan jalan lokal di
Kecamatan Lokasi Prioritas (Lokpri) yang saling terhubung dengan pusat kegiatan
ekonomi;
c. Mengembangkan dermaga keperintisan pada pulau-pulau kecil terluar
berpenduduk;
d. Menjamin ketersedian logistik, khususnya untuk pulau-pulau kecil terluar
berpenduduk;
e. Mengembangkan pusat pelayanan transportasi udara nasional dan internasional di
PKSN Saumlaki, Dobo, Ilwaki, dan Daruba;
f. Menyediakan infrastruktur dasar kewilayahan terutama jalan, listrik, air bersih, dan
telekomunikasi di Kecamatan Lokasi Prioritas (Lokpri).
4. Penguatan Kemampuan SDM dan IPTEK
Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) agar mampu mengelola sumber daya alam
di kawasan perbatasan dapat melakukan aktivitas dengan negara tetangga dan turut
mendukung upaya peningkatan kedaulatan negara dengan pemanfaatan Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi (IPTEK) yang berkualitas, dilakukan dengan:
a. Mengembangkan dan meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan kejuruan dan
keterampilan berbasis sumber daya lokal (kelautan, perkebunan, pariwisata,
maupun pertambangan) di kawasan perbatasan Maluku dan Maluku Utara;
b. Mengembangkan sekolah bertaraf internasional, serta berasrama di Kawasan
Perbatasan Maluku dan Maluku Utara;
III - 26

c. Meningkatkan akses pelayanan sosial dasar (pendidikan dan kesehatan) di kawasan
perbatasan negara, termasuk di pulau-pulau kecil terluar berpenduduk dengan
penyediaan sarana prasarana sesuai karakteristik geografis wilayah;
d. Menyediakan tenaga pendidikan dan kesehatan yang handal serta penyedian
insentif, serta sarana prasarana penunjang yang memadai, khususnya di pulau-
pulau kecil terluar berpenduduk;
e. Meningkatkan kapasitas aparatur wilayah perbatasan melalui penerapan kebijakan
wajib tugas belajar dan pelatihan teknis, agar diperoleh sumberdaya aparatur yang
memiliki kemampuan dan merumuskan kebijakan pengelolaan kawasan perbatasan
dan pelayanan yang diperlukan oleh masyarakat perbatasan;
f. Mengembangkan teknologi tepat guna dalam menunjang pengelolaan sumber daya
alam/potensi lokal di kawasan perbatasan;
5. Penguatan Regulasi dan Insentif
Dalam upaya mendukung pengembangan kawasan perbatasan negara, harmonisasi
regulasi agar afirmasi terhadap pengembangan kawasan perbatasan. Beberapa regulasi
yang kurang harmonis dalam mendukung afirmasi terhadap pengembangan kawasan
perbatasan sebagai berikut:
a. Kemudahan masyarakat perbatasan yang tinggal di kawasan lindung untuk
memanfaatkan sumber daya alam yang ada di dalamnya, serta untuk kemudahan
pembangunan infrastruktur yang melalui hutan lindung;
b. Regulasi pengelolaan lintas batas,
c. Regulasi Perdagangan lintas batas Perjanjian kerjasama antara RI-RDTL, RI-
Australia, maupun RI-Palau dalam pengembangan kawasan perbatasan negara.
d. Regulasi yang berkaitan dengan pengelolaan Dryport
e. Regulasi untuk memberikan kewenangan yang lebih luas (asimetrik) kepada
Pemerintah Pusat untuk menyediakan sumber daya air, pengelolaan jalan non
status, dan pelayanan pendidikan dan kesehatan di kawasan perbatasan dan pulau-
pulau kecil terluar;
f. Penciptaan iklim investasi yang kondusif di kawasan perbatasan;
g. Pembagian kewenangan atau urusan antar jenjang pemerintah: pusat, provinsi, dan
kabupaten/kota dalam pengelolaan kawasan perbatasan;
h. Kelembagaan pengelola perbatasan yang memiliki otoritas penuh untuk mengelola
pos-pos lintas batas negara;
i. Pengkhususan pemberian kewenangan bagi pemerintahan kecamatan di wilayah
perbatasan (Lokpri) dalam bentuk desentralisasi asimetrik dengan penetapan
daerah khusus untuk akselerasi pembangunan dan efektivitas peningkatan kualitas
pelayanan publik.;
j. Penyusunan Rencana Tata Ruang termasuk Detail Tata Ruang Kawasan Perbatasan
di Maluku dan Maluku Utara.

III - 27

TABEL 3.7
DAFTAR LOKASI PRIORITAS PENGEMBANGAN KAWASAN PERBATASAN
WILAYAH KEPULAUAN MALUKU

No. Kabupaten Kecamatan Lokasi Prioritas
1 Kab. Morotai Morotai Selatan, Morotai Jaya, Morotai Utara, Morotai Barat,
Morotai Timur
2 Kab. Maluku Tenggara Barat Tanimbar Selatan, Selaru, Wertamrian, Kormomolin, Nirunmas,
Tanimbar Utara, Yaru
3 Kab. Maluku Barat Daya Wetar, Pulau-Pulau Terselatan, Pulau Leti, Moalakar
4 Kab. Kepulauan Aru Aru Tengah Selatan, Aru Selatan, Aru Selatan Timur
Sumber : Bappenas, 2014
3.5.4 Penanggulangan Bencana
Arah kebijakan penanggulangan bencana di Wilayah Kepulauan Maluku adalah
mengurangi risiko bencana dan meningkatkan ketangguhan pemerintah, pemerintah
daerah dan masyarakat dalam menghadapi bencana yang dapat dilakukan melalui strategi:
1. Internalisasi Pengurangan Risiko Bencana dalam kerangka Pembangunan
Berkelanjutan, melalui:
a. Harmonisasi kebijakan dan regulasi penanggulangan bencana
b. Melakukan pengenalan, penilaian dan pemantauan risiko bencana menggunakan
kajian dan peta risiko skala 1:50.000 pada kabupaten sasaran dan skala 1:25.000
dengan memperhatikan indikator risiko iklim
c. Pemanfaatan kajian dan peta risiko bagi penyusunan Rencana Penanggulangan
(RPB) Bencana Kab/Kota, yang menjadi referensi untuk penyusunan RPJMD
Kab/Kota , serta untuk mereview RTRW Kabupaten/Kota setiap jangka waktu 5
tahun
d. Penyusunan rencana kontinjensi pada kabupaten/kota sasaran sebagai panduan
kesiapsiagaan dan operasi tanggap darurat
2. Penurunan tingkat kerentanan terhadap bencana, melalui:
a. Menyediakan infrastruktur mitigasi dan kesiapsiagaan (jalur evakuasi dan shelter)
untuk ancaman tsunami, letusan gunung api, banjir dan longsor
b. Mengembangkan IPTEK dan pendidikan untuk pencegahan dan kesiapsiagaan
menghadapi bencana gempa bumi, tsunami, banjir, longsor dan kekeringan
c. Membangun dan memberikan perlindungan bagi prasarana vital yang diperlukan
untuk memastikan keberlangsungan pelayanan publik, kegiatan ekonomi
masyarakat, keamanan dan ketertiban pada situasi darurat dan pasca bencana
d. Bekerjasama dengan media cetak, radio dan televisi untuk mengembangkan skema
komunikasi antar pulau bagi peningkatan kesiapsiagaan
III - 28

GAMBAR 3.4























III - 29

e. Penegakan rencana tata ruang kabupaten/kota sebagai instrumen pengendalian
pemanfaatan ruang
f. Mengembangkan skema pemulihan paska bencana serta skema social safety net
terutama bagi kelompok masyarakat miskin dan kelompok usaha mikro/kecil pada
lokasi rawan bencana
g. Meningkatkan kerjasama dengan mitra pembangunan, OMS dan dunia usaha untuk
mengurangi kerentanan ekonomi masyarakat
3. Peningkatan kapasitas aparatur dan masyarakat, melalui:
a. Membangun 1 (satu) pusat logistik kebencanaan regional di wilayah Kepulauan
Maluku
b. Menyediakan, memelihara dan mengoperasikan sistim peringatan dini gempa bumi
dan tsunami di Pulau Morotai
c. Menyediakan, memelihara dan mengoperasikan sistim peringatan dini banjir dan
longsor di kabupaten/kota sasaran
d. Memperkuat kapasitas manajemen logistik untuk kedaruratan
e. Pelatihan bagi aparatur dan kelompok masyarakat untuk meningkatkan
pengetahuan pengurangan risiko bencana
f. Melaksanakan simulasi tanggap darurat secara berkala untuk meningkatkan
kesiapsiagaan
g. Mengembangkan Desa Tangguh Bencana untuk memobilisasi sumberdaya lokal
dengan prinsip pengelolaan sumber daya berkelanjutan terutama pada desa pesisir
di kabupaten/kota sasaran.
3.5.5 Pengembangan Tata Ruang Wilayah Kepulauan Maluku
A. Arah Kebijakan Tata Ruang Wilayah Kepulauan Maluku
1. Kebijakan untuk mewujudkan lumbung ikan nasional yang berkelanjutan melalui
pengembangan dan rehabilitasi kawasan perikanan tangkap dan perikanan budi daya
sebagai kawasan minapolitan.
2. Kebijakan untuk mewujudkan pusat pertumbuhan ekonomi berbasis minyak dan gas
bumi lepas pantai, perkebunan, serta kehutanan yang berkelanjutan dengan
memperhatikan ekosistem Wilayah Pesisir dan Pulau Kecil meliputi:
a. Pengembangan dan rehabilitasi sentra perkebunan;
b. Pemertahanan dan rehabilitasi sentra kehutanan; dan
c. Pengendalian dan rehabilitasi sentra pertambangan mineral.
3. Kebijakan untuk mewujudkan sistem jaringan prasarana yang handal berbasis Gugus
Pulau serta kawasan permukiman perkotaan yang berbasis mitigasi dan adaptasi
bencana meliputi:
a. Pengembangan jaringan jalan yang terpadu dengan jaringan transportasi
penyeberangan, pelabuhan, dan bandar udara berbasis Gugus Pulau;
III - 30

TABEL 3.8
PROFIL KERAWANAN DAN RISIKO PKN, PKW DAN PKSN DI WILAYAH KEPULAUAN MALUKU

Lokasi
Index Kerawanan
(IRBI 2011)
Kelas Multi Risiko
(IRBI 2013)
KAPET Seram di Kab. Maluku Tengah Tinggi untuk gempabumi, gelombang dan
abrasi
Tinggi
KEK Morotai/Kab. Morotai
(Perkotaan Morotai Selatan,Kawasan
Minapolitan, Kawasan Pariwisata,
Kawasan Transmigrasi)
Tinggi untuk gempa bumi, tsunami, banjir Tinggi
Maba dan sekitarnya
(Kawasan Agropolitan Wasile, Kawasan
Transmigrasi, dekat PKSN Tidore Kepulauan)
Kab. Halmahera Timur tinggi untuk
ancaman banjir dan abrasi
Tinggi
Pusat Kegiatan Nasional (PKN) Maluku
Ambon Tinggi untuk ancaman:
banjir dan tanah longsor, gempabumi,
letusan gunung api, cuaca ekstrim dan
abrasi,
Tinggi
Ternate Tinggi untuk ancaman:
gempabumi, cuaca ekstrim
Tinggi
Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) Maluku
Masohi Kab. Maluku Tengah Tinggi untuk ancaman:
gempabumi, cuaca ekstrim dan abrasi,
kekeringan
Tinggi untuk Kab.
Maluku Tengah
Werinama Kab. Seram Bagian Timur Tinggi untuk ancaman:
cuaca ekstrim dan abrasi
Tinggi untuk Kab. Seram
Bagian Timur
Kairatu - Kab. Seram Bagian Barat Tinggi untuk ancaman:
abrasi
Tinggi untuk Kab. Seram
Bagian Barat
Tual Kab. Maluku Tenggara Tinggi untuk ancaman:
banjir, abrasi,
Tinggi untuk Kab.
Maluku Tenggara Barat
Tinggi untuk Kab. Tual
Namlea Kab. Buru Tinggi untuk ancaman:
banjir, gempabumi, abrasi,
Tinggi untuk Kab. Buru
Wahai Kab. Maluku Tengah Tinggi untuk ancaman:
gempabumi, abrasi, kekeringan
Tinggi untuk Kab.
Maluku Tengah
Tidore Kepulauan

Tinggi untuk ancaman:
gempa bumi, gunung api, tsunami, banjir
Tinggi untuk Kab.
Kepulauan Tidore

Tobelo Kab. Halmahera Utara Tinggi untuk ancaman:
gempabumi, tanah longsor
Tinggi untuk Kab.
Halmahera Utara
Labuha Kab. Halmahera Selatan Tinggi untuk ancaman:
banjir, gempabumi, angin topan
Tinggi untuk Kab.
Halmahera Selatan
Sanana Kab. Kepulauan Sula Tinggi untuk ancaman:
gempa bumi, tsunami, banjir

Tinggi untuk Kab.
Kepulauan Sula
Pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN) Maluku
Saumlaki Kab. Maluku Tenggara Barat Tinggi untuk ancaman:
cuaca ekstrim dan abrasi,
Tinggi untuk Kab.
Maluku Tenggara Barat
Ilwaki Kab. Maluku Barat Daya Tinggi untuk ancaman:
cuaca ekstrim dan abrasi
Tinggi untuk Kab.
Maluku Barat Daya
Dobo Kab. Kepulauan Aru Tinggi untuk ancaman:
cuaca ekstrim, tsunami
Tinggi untuk Kab.
Kepulauan Aru
Daruba Kab. Morotai Tinggi untuk ancaman:
gempa bumi, tsunami, banjir
Tinggi untuk Kabupaten
Pulau Morotai
Sumber: Data diolah, Bappenas, 2014

III - 31

b. Pengembangan jaringan transportasi untuk membuka keterisolasian wilayah;
c. Pengendalian perkembangan kawasan permukiman perkotaan yang berada di
kawasan rawan bencana; dan
d. Pengembangan serta rehabilitasi prasarana dan sarana mitigasi dan adaptasi
bencana.
4. Kebijakan untuk mewujudkan Kawasan Perbatasan sebagai beranda depan negara
dan pintu gerbang internasional yang berbatasan dengan Negara Timor Leste, Negara
Australia, dan Negara Palau meliputi:
a. Percepatan pengembangan Kawasan Perbatasan dengan pendekatan pertahanan
dan keamanan, kesejahteraan masyarakat, serta kelestarian lingkungan hidup;
dan
b. Pemertahanan eksistensi 19 (sembilan belas) PPKT sebagai titik-titik garis
pangkal Kepulauan Indonesia.

B. Strategi Pengembangan Tata Ruang Wilayah Kepulauan Maluku
I. Pengembangan Kawasan Lindung
1. Strategi penetapan dan pelestarian kawasan konservasi di laut yang memiliki
keanekaragaman hayati tinggi meliputi:
a. Mengendalikan pemanfaatan sumber daya alam pada kawasan yang termasuk
dalam Segitiga Terumbu Karang yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi;
b. Mengendalikan perkembangan kegiatan budi daya dan transportasi perairan
yang berpotensi merusak fungsi ekologis kawasan konservasi di laut.
2. Strategi pengendalian wilayah perairan di sekitar Koridor Ekosistem meliputi
mengendalikan perkembangan kegiatan budi daya dan aktivitas transportasi pada
Koridor Ekosistem.
3. Strategi mempertahankan luasan dan rehabilitasi kawasan berfungsi lindung yang
terdegradasi meliputi:
a. Melestarikan kawasan suaka alam dan pelestarian alam dalam kesatuan Gugus
Pulau; dan
b. Mempertahankan luasan dan merehabilitasi kawasan bervegetasi hutan tetap
yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya.
4. Strategi pengembangan dan rehabilitasi kawasan perikanan tangkap dan perikanan
budi daya sebagai kawasan minapolitan meliputi:
a. Mengembangkan Kawasan Andalan dengan sektor unggulan perikanan sebagai
kawasan minapolitan yang berkelanjutan; mempertahankan, memelihara, dan
merehabilitasi ekosistem terumbu karang dan kawasan pantai berhutan bakau
sebagai kawasan pemijahan ikan, udang, dan/atau hasil laut lainnya yang
potensial; dan
b. Meningkatkan keterkaitan sentra produksi perikanan dengan kawasan
perkotaan nasional.
III - 32

GAMBAR 3.5






















III - 33



II. Pengembangan Kawasan Budidaya
Strategi pengembangan dan rehabilitasi sentra perkebunan dilakukan dengan
mengembangkan kawasan perkotaan nasional sebagai pusat industri pengolahan hasil
perkebunan.
Strategi pengendalian dan rehabilitasi sentra pertambangan mineral, dilakukan
dengan:
a. Merehabilitasi sentra produksi komoditas unggulan pertambangan mineral dengan
memperhatikan daya dukung dan daya tamping lingkungan hidup; dan
b. Mengendalikan perkembangan kawasan peruntukan pertambangan mineral yang
berpotensi merusak lingkungan dan mengancam keberadaan Pulau Kecil.
Strategi pengembangan jaringan jalan yang terpadu dengan jaringan transportasi
penyeberangan, pelabuhan, dan bandar udara berbasis Gugus Pulau, dilakukan dengan:
a. Mengembangkan jaringan jalan nasional yang terpadu dengan lintas penyeberangan
pada pulau-pulau dalam Gugus Pulau; dan
b. Mengembangkan jaringan jalan yang terpadu dengan pelabuhan dan bandar udara.

Strategi pengembangan jaringan transportasi untuk membuka keterisolasian
wilayah, dilakukan dengan:
a. Mengembangkan jaringan transportasi antarmoda yang menghubungkan Pulau
Kecil berpenghuni dengan kawasan perkotaan nasional; dan
b. Mengembangkan jaringan jalan nasional yang terpadu dengan dermaga di Pulau
Kecil berpenghuni.
Strategi pengendalian perkembangan kawasan permukiman perkotaan yang berada
di kawasan rawan bencana, dilakukan dengan:
a. Mengendalikan pemanfaatan ruang pada kawasan permukiman perkotaan dan
kawasan budi daya terbangun yang berada dikawasan rawan bencana tanah
longsor, gelombang pasang, banjir, letusan gunung berapi, gempa bumi, dan
tsunami; dan
b. Mengendalikan alih fungsi dan merehabilitasi kawasan pantai berhutan bakau di
kawasan perkotaan nasional.

Strategi pengembangan serta rehabilitasi prasarana dan sarana mitigasi dan
adaptasi bencana yaitu dengan mengembangkan dan merehabilitasi prasarana dan sarana
yang adaptif terhadap dampak bencana tanah longsor, gelombang pasang,banjir, letusan
gunung berapi, gempa bumi, dan tsunami.

3.5.6 Tata Kelola Pemerintah Daerah dan Otonomi Daerah
Arah kebijakan pengembangan Wilayah Kepulauan Maluku yakni peningkatan
kapasitas pemerintah daerah yang mendorong pembangunan ekonomi dan pelayanan
publik berbasis kepulauan, dengan strategi:
III - 34

1. Peningkatan profesionalisme, pendidikan, dan keterampilan aparatur pemerintahan
daerah dalam mendukung pembangunan daerah berbasis kepulauan;
2. Pengembangan jaringan sosial dalam penguatan peran masyarakat dalam
pengembangan demokrasi local;
3. Penguatan peran Gubernur sebagai wakil pemerintah pusat dalam penanganan
konflik daerah;
4. Restrukturisasi Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dengan mengoptimalkan fungsi
pelayanan publik pada wilayah kepulauan;
5. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan efisiensi dan
jangkauan pelayanan publik di wilayah kepulauan;
6. Peningkatan kapasitas pemerintah daerah dalam rangka restrukturisasi organisasi
perangkat daerah berbasis kepulauan;
7. Peningkatan kinerja Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) untuk menggerakkan
perekonomian daerah dan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebagai
upaya penguatan kapasitas fiskal daerah;
8. Peningkatan opini Badan Pemeriksa Keuangan tentang akuntabilitas keuangan
daerah dari Tidak Menyatakan Pendapat (TMP/Disclaimer) menjadi Wajar Dengan
Pengecualian (WDP);
9. Peningkatan kapasitas SDM bidang perencanaan dan penganggaran daerah dalam
rangka peningkatan kualitas dokumen perencanaan dan akuntabilitas keuangan
daerah;
10. Pengembangan dan pembentukan sistem pemungutan Pajak Daerah yang efektif
dan efisien berbasis wilayah kepulauan.


3.6 Kaidah Pelaksanaan Pengembangan Wilayah Kepulauan Maluku
3.6.1 Prioritas Program Pembangunan
3.6.1.1 Provinsi Maluku

Tabel 4.9.
Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional di Provinsi Maluku

Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
PERHUBUNGAN DARAT
Pengembangan Sistem Transit Kota Ambon
PERHUBUNGAN UDARA
Perpanjangan Runway Bandara di Tual
Pengembangan Bandar Udara Amahai
PERHUBUNGAN LAUT
Pembangunan Dermaga Kapal di Waisamu
III - 35

Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
Pembangunan Pelabuhan Areate
Pembangunan Dermaga Laut di Makariki
Pelabuhan Container di Passo
Pembangunan Fasilitas Pelabuhan Laut Ambon
JALAN
Pembangunan Jalan Trans Maluku ruas Ibra--Damar-Tetoat (P. Tual)
Pembangunan Jalan Trans Maluku ruas Lingkar Barat Pulau Seram (Kairatu-Piru-Traniwei-Lisabota-
Saleman)
Pembangunan Jalan Trans Maluku ruas Lingkar Pulau Ambon (Laha-Alang-Wukasibu-Asilulu-Kaitetu-
Hitu-Morela-Liang)
Pembangunan Jalan Trans Maluku ruas Lingkar Selatan Pulau Seram (Haya-Tehoru-Warin-Kotabaru-
Airnanang)
Pembangunan Jalan Trans Maluku ruas Lingkar Timur Pulau Seram (Airnanang-Musiwang-Waru-
Bula)
Pembangunan Jalan Trans Maluku ruas Leksuka - Namrole (P. Buru)
Pembangunan Jalan Trans Maluku ruas Tual - Ngadi - Tamedan - Ohoitu (P. Tual)
KETENAGALISTRIKAN
PLTD Saparua (Relokasi PLTD) 0,5 MW
PLTU Waai ( FTP1) 2x15 MW
PLTM Wae Mala 1,5 MW
PLTM Ruwapa 1 MW
PLTM Tene 4 MW
PLTM Makariki 4 MW
PLTGB Buru (KPI) 6 MW
PLTGB Langgur 6 MW
PLTGB Tual (FTP 2) 8 MW
PLTP Tulehu (FTP2) 2x10 MW
PLTM Isal 3 2x2 MW
PLTU Waai 3 15 MW
PLTM Nua (Masohi) 6 MW
PLTD Tual (Relokasi PLTD) 4x2 MW
PLTA Wai Tala 13,5 MW
PLTA Wai Tala 40,5 MW
PLTM Isal 3x2 MW
PLTM PLTM Tersebar Maluku 18,5 MW
SUMBER DAYA AIR
Pembangunan Bendung D.I. Bula (Fufa) Seram Bagian Timur
Pembangunan Irigasi Lahan Kering Kec. Tanimbar Maluku Tenggara Barat
Pembangunan D.I. Way Simi Buru Selatan
Pembangunan D.I Tehoru P. Seram Buru Selatan
Ambon Waterfront City Ambon
III - 36

Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
PERHUBUNGAN LAUT
Pengembangan Pelabuhan Ternate
Pengembangan Pelabuhan Namlea
Pengembangan Pelabuhan Batu Goyang/Kalar-kalar
Pengembangan Pelabuhan Dobo
Pengembangan Pelabuhan Banda Naira
Pengembangan Pelabuhan Tulehu
Pengembangan Pelabuhan Saumlaki












III - 37

GAMBAR 3.6

III - 38

3.6.1.2 Provinsi Maluku Utara

Tabel 4.10
Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional di Provinsi Maluku
Utara

Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
PERHUBUNGAN UDARA
Pengembangan Bandara Sultan Babullah Ternate
Pengembangan Bandara Oesman Sadik Labuha
PERHUBUNGAN LAUT
Pengembangan Pelabuhan Sofifi/Kaiyasa
Pengembangan Pelabuhan Subaim
Pengembangan Pelabuhan Malbufa
Pengembangan Pelabuhan Tikong
Pengembangan Pelabuhan Wayaluar-Obi
Pengembangan Pelabuhan Saketa
Pengembangan Pelabuhan Bosua
Pembangunan Pelabuhan Khusus di Tanjung Buli
Pengembangan Pelabuhan Tobelo
Pengembangan Pelabuhan Matui-Jailolo
Pengembangan Pelabuhan Labuha/Babang
Pengembangan Pelabuhan Laut Falabisahaya
Adpel Ternate
Pengembangan Pelabuhan Gebe
Pembangunan Dermaga General Cargo 100 meter - Pelabuhan Sofifi
JALAN
Pembangunan Jalan Daruba - Wayabula - Sopi - Bare bare
Pembangunan Jalan Lingkar Pulau Tidore
Pembangunan Jalan Lingkar Halmahera Bagian Selatan (Weda - Matuting - Gane, Sakea - Dehep - Payahe)
Pembangunan Jalan Lingkar Halmahera Bagian Tengah (Boboneigo-Ekor-Subaim-Lolobata-Tamtam-Akelamo-Gamloba-
Jara Jara-Buli-Maba-Sagea-Patani)
Pembangunan Jalan Lingkar Halmahera Bagian Utara (Sidangoli-Jailolo-Goal-Kedi-Galela)
KETENAGALISTRIKAN
PLTU Maluku Utara /Tidore (FTP1) 2x7 MW
PLTD Bacan Peaking (Relokasi PLTD) 1,2 MW
PLTU Sofifi 2x3 MW
PLTD Sanana (Relokasi PLTD) 3 MW
PLTGB Tobelo (FTP 2) 8 MW
PLTU Tidore 2 2x7 MW
PLTD Sanana (Relokasi PLTD) 1x3 MW
PLTD Bacan Peaking (Relokasi PLTD) 2 MW
III - 39

Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
PLTM PLTM Tersebar Maluku Utara 4,5 MW
PLTP Jailolo (FTP2) 2x5 MW
PLTP Songa Wayaua (FTP2) 5 MW
PLTP Jailolo 2 5 MW
SUMBER DAYA AIR
Pembangunan Konstruksi Pengamanan Pantai Maba Thp. I KAB. HALMAHERA TIMUR
Pembangunan Konstruksi Pengamanan Pantai Jailolo Thp. I KAB. HALMAHERA BARAT
Pembangunan Konstruksi Pengamanan Pantai Bisui & Tabahidayat KAB. HALMAHERA SELATAN
Pembangunan Konstruksi Pengamanan Pantai Obi Thp. I KAB. HALMAHERA SELATAN
Pembangunan Embung Pulau Sanana Kab. Kepulauan Sula
Pembangunan Bendung dan Jar. Irigasi D.I. Jani 650 Ha Halmahera Barat
Pembangunan Bendung & Jaringan Irigasi DI. Leleseng 1500 Ha Halmahera Timur

3.6.2 Kerangka Regulasi
Pelaksanaan pembangunan Wilayah Kepulauan Maluku tidak terlepas dari berbagai
kerangka regulasi yang perlu diperhatikan, diantaranya:
1. Harmonisasi peraturan perundangan terkait dengan iklim investasi, diantaranya
adalah PP Nomor 147 Tahun 2000 Tentang Perlakuan Perpajakan di KAPET.
2. Membuat regulasi terkait dengan pembagian kewenangan antara Pemerintah Daerah
Kabupaten Seram Bagian Barat, Kabupaten Seram Bagian Timur, Kabupaten Maluku
Tengah dengan Badan Pengembangan KAPET Seram;
3. Regulasi pelayanan terpadu satu pintu di bidang investasi.
4. Regulasi pengelolaan lintas batas,
5. Regulasi Perdagangan lintas batas Perjanjian kerjasama antara RI-RDTL, RI-Australia,
maupun RI-Palau dalam pengembangan kawasan perbatasan negara.
6. Regulasi yang berkaitan dengan pengelolaan Dryport
7. Regulasi untuk memberikan kewenangan yang lebih luas (asimetrik) kepada
Pemerintah Pusat untuk menyediakan sumber daya air, pengelolaan jalan non status,
dan pelayanan pendidikan dan kesehatan di kawasan perbatasan dan pulau-pulau kecil
terluar;
8. Penyusunan Rencana Tata Ruang termasuk Detail Tata Ruang Kawasan Perbatasan di
Maluku dan Maluku Utara.
9. Penyelesaian peninjauan kembali Perpres No. 77/2014 tentang RTR Kepulauan
Maluku.


III - 40

GAMBAR 3.7
















III - 41

3.6.3 Kerangka Kelembagaan
Pelaksanaan pembangunan Wilayah Kepulauan Maluku tidak terlepas dari berbagai
kerangka kelembagaan yang perlu diperhatikan, diantaranya:
1. Melaksanakan promosi potensi unggul KAPET Seram untuk menarik minat investor;
2. Melaksanakan sosialisasi terkait dengan pemanfaatan lahan sebagai peruntukan
investasi di KAPET Seram;
3. Pelimpahan kewenangan perijinan dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan
instansi terkait kepada pengelola kawasan strategis nasional di Maluku;
4. Kemudahan masyarakat perbatasan yang tinggal di kawasan lindung untuk
memanfaatkan sumber daya alam yang ada di dalamnya, serta untuk kemudahan
pembangunan infrastruktur yang melalui hutan lindung;
5. Penciptaan iklim investasi yang kondusif di kawasan perbatasan;
6. Pembagian kewenangan atau urusan antar jenjang pemerintah: pusat, provinsi, dan
kabupaten/kota dalam pengelolaan kawasan perbatasan;
7. Kelembagaan pengelola perbatasan yang memiliki otoritas penuh untuk mengelola
pos-pos lintas batas negara;
8. Pengkhususan pemberian kewenangan bagi pemerintahan kecamatan di wilayah
perbatasan (Lokpri) dalam bentuk desentralisasi asimetrik dengan penetapan daerah
khusus untuk akselerasi pembangunan dan efektivitas peningkatan kualitas pelayanan
publik;
9. Pengembangan koordinasi Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional (BKPRD)
Provinsi di Wilayah Kepulauan Maluku dalam melaksanakan pemanfaatan dan
pengendalian pemanfaatan ruang Pulau.
RANCANGAN TEKNOKRATIK
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA
MENENGAH NASIONAL
2015 2019
BUKU III
ARAH PENGEMBANGAN WILAYAH
KEPULAUAN NUSA TENGGARA
KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL /
BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL
BAPPENAS
2014
IV - 1

BAB IV
PENGEMBANGAN WILAYAH KEPULAUAN NUSA TENGGARA

4.1 Capaian Kinerja Saat ini
Berdasarkan data BPS dari tahun 2009 hingga Triwulan II tahun 2014,
kinerja pertumbuhan ekonomi provinsi di Wilayah Kepulauan Nusa Tenggara
mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Namun demikian, rata-rata
pertumbuhan ekonomi Wilayah Kepulauan Nusa Tenggara selama kurun
waktu 2009 2013 yang sebesar 4,5 persen masih lebih rendah
dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi dengan migas
nasional sebesar 5,9 persen. Peranan Wilayah Kepulauan Nusa Tenggara
dalam pembentukan PDB nasional mengalami penurunan dari 1,5 persen
(2009) menjadi 1,3 persen (Triwulan II 2014).
Pemerintah Provinsi di Wilayah Kepulauan Nusa Tenggara telah berhasil
dalam menurunkan jumlah penduduk miskin dari tahun 2009 hingga 2014
(Maret) walaupun prosentasenya masih berada di atas angka kemiskinan
nasional sebesar 14,15 persen (2009) dan 11,25 persen (Maret 2014).
Demikian halnya dengan pencapaian tingkat pengangguran terbuka (TPT),
Pemerintah Provinsi di Wilayah Kepulauan Nusa Tenggara juga telah berhasil
menurunkan TPT dan sudah berada di bawah TPT nasional sebesar 7,87
persen (2009) dan 5,70 persen (Feb 2014).
Dari sisi peningkatan kualitas sumber daya manusia, di Wilayah Kepulauan
Nusa Tenggara ini dapat dikatakan sudah cukup baik. Hal ini diindikasikan
dengan selalu meningkatnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dari tahun
ke tahun pada masing-masing provinsi di Wilayah Kepulauan Nusa Tenggara.
Namun demikian, pencapaian IPM di Wilayah Kepulauan Nusa Tenggara
masih perlu ditingkatkan karena masih jauh di bawah IPM nasional sebesar
71,76 (2009) dan 73,81 (2013).
Dari sisi distribusi pendapatan antar golongan masyarakat, seluruh provinsi
di Wilayah Kepulauan Nusa Tenggara mengalami kenaikan kesenjangan
pendapatan antar golongan. Hal ini diindikasikan dari angka Rasio Gini
provinsi-provinsi di Wilayah Kepulauan Nusa Tenggara cenderung
meningkat pada tahun 2013 dibandingkan tahun 2009, namun masih berada
di bawah nasional sebesar 0,37 (2009) dan 0,413 (2013). Ke depan, hal ini
perlu mendapatkan perhatian agar proses pembangunan terus lebih
melibatkan masyarakat secara inklusif, sehingga hasil-hasil pembangunan
tersebut dapat dinikmati secara merata oleh masyarakat.

IV - 2

4.2 Potensi dan Keunggulan Wilayah
Perekonomian Wilayah Kepulauan Nusa Tenggara ditopang oleh 3 sektor
utama, yaitu pertanian, jasa-jasa, serta perdagangan, hotel dan restoran. Di luar
ketiga sektor utama tersebut, sektor pertambangan dan penggalian juga memiliki
peran yang cukup besar.
Sektor pertanian memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian
Wilayah Kepulauan Nusa Tenggara. Komoditas unggulan tanaman pangan di
Wilayah Kepulauan Nusa Tenggara yaitu jagung dengan tingkat produksi
jagung sebesar 947.762 ton pada tahun 2009 dan meningkat menjadi
1.335.723 ton pada tahun 2013.
Di sektor peternakan, jumlah populasi paling dominan di Wilayah Kepulauan
Nusa Tenggara adalah sapi potong, babi, dan kambing. Provinsi Nusa Tenggara
Timur mendominasi dalam persebaran populasi sapi potong, kambing dan
babi.
Produksi perikanan dan kelautan di Nusa Tenggara terdiri atas perikanan
tangkap dan budidaya, dengan produksi terbesar perikanan tangkap berasal
dari perikanan tangkap laut di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Untuk
perkembangan budidaya perikanan, produksi terbesar adalah jenis budidaya
laut dan budidaya tambak, dengan sebaran terbesar untuk produksi perikanan
budidaya laut di Provinsi Nusa Tenggara Timur, dan produksi perikanan
budidaya tambak di Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Produk kelautan Nusa Tenggara adalah garam dan rumput laut. Dalam konteks
nasional, Wilayah Kepulauan Nusa Tenggara merupakan lahan potensial
produksi garam yang luas di Kawasan Timur Indonesia, mengingat kondisi
geografisnya sebagai wilayah kepulauan yang dikelilingi lebih banyak sumber
air laut. Sementara itu, volume produksi rumput laut pada tahun 2012
mencapai 2,649 ton di Provinsi Nusa Tenggara Barat, dan 481 ton di Provinsi
Nusa Tenggara Timur, atau sekitar 41 persen dari volume produksi nasional
(Statistik Kelautan dan Perikanan, 2012).
Peran Wilayah Kepulauan Nusa Tenggara bidang pariwisata bagi nasional
didasarkan atas potensi keadaan alam terutama bahari. Dalam hal ini Wilayah
Kepulauan Nusa Tenggara diharapkan menjadi etalase wisata ekologis,
petualangan, budaya dan bahari serta kepariwisataan yang berbasis UKM.
Destinasi pariwisata yang akan diunggulkan yaitu Sail Komodo yang
direncanakan sebagai destinasi wisata internasional. Gunung Kelimutu di
Flores Nusa Tenggara Timur dan Pulau Komodo di Nusa Tenggara Barat
menjadi fokus promosi destinasi wisata oleh Kementerian Pariwisata dan
Ekonomi Kreatif Tahun 2014.
Wilayah Kepulauan Nusa Tenggara dengan potensi pariwisata yang beragam
telah disiapkan menjadi destinasi MICE. Kegiatan MICE selain mendorong
IV - 3

kunjungan wisatawan dalam jumlah besar juga akan memperkenalkan potensi
daya tarik wisata serta citra wilayah yang positif.
Potensi sumber daya alam mineral di Wilayah Kepulauan Nusa Tenggara
adalah unsur logam, dengan potensi terbesar adalah biji mangan dan tembaga.
Potensi tambang biji mangan tersebar di beberapa daerah di Provinsi Nusa
Tenggara Timur. Sementara itu, tambang biji tembaga terbesar di Indonesia
terdapat di daerah Batu Hijau, Sumbawa Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Sumber daya mangan di Wilayah Kepulauan Nusa Tenggara diperkirakan
sebesar 3,44 juta ton berupa biji mangan dan 1,03 juta ton merupakan logam.
Sementara itu, cadangan mangan diestimasi sebesar 1,08 juta ton berupa biji
mangan dan sebanyak 0,45 juta tonberupa logam dan terpusat di Provinsi
Nusa Tenggara Timur (Mineral and Coal Statistics, 2012). Saat ini, ekspor
mangan masih dalam bentuk bahan mentah biji mangan mengingat belum
adanya industri pengolahan di Wilayah Kepulauan Nusa Tenggara. Dalam
kurun waktu 2008 2013, ekspor mangan sendiri mengalami penurunan
sebagai akibat dari penurunan harga komoditi mangan di pasar dunia.
Komoditas SDA mineral lain yang sangat berpengaruh pada perekonomian
Wilayah Kepulauan Nusa Tenggara adalah biji tembaga. Produksi biji tembaga
yang telah diolah menjadi konsentrat tembaga menunjukkan tren penurunan
dalam 3 tahun terakhir sebagai dampak dari terjadinya penghentian produksi
pada saat perluasan lahan eksploitasi di Batu Hijau. Pada tahun 2012 produksi
konsentrat tembaga di Wilayah Kepulauan Nusa Tenggara mencapai sekitar 73
ribu ton, dengan 20 persen nya dijual ke pabrik smelter di Gresik, Jawa Timur
dan sebagian lagi diekspor. Nilai ekspor tembaga dalam lima tahun terakhir
dalam tren meningkat seiring dengan meningkatnya permintaan dan
keterbatasan suplai di pasar dunia.

4.3 Tema Pengembangan Wilayah Kepulauan Nusa Tenggara
Berdasarkan potensi dan keunggulan Wilayah Kepulauan Nusa Tenggara,
maka tema besar Pembangunan Wilayah Kepulauan NusaTenggara sebagai
"pintu gerbang pariwisata ekologis melalui pengembangan industri Meeting,
Incentive, Convetion, Exhibition (MICE); penopang pangan nasional dengan
percepatan pembangunan perekonomian berbasis maritim (kelautan) melalui
pengembangan industri perikanan, garam, dan rumput laut; pengembangan
industri berbasis peternakan terutama sapi, jagung; serta pengembangan
industri mangan, dan tembaga.

IV - 4

4.4 Tujuan dan Sasaran Pengembangan Wilayah Kepulauan Nusa
Tenggara
Tujuan pengembangan Wilayah Kepulauan Nusa Tenggara tahun 2015-2019
adalah mendorong percepatan dan perluasan pembangunan Wilayah Kepulauan
Nusa Tenggara dengan menekankan keunggulan dan potensi daerah, melalui: (a)
pengembangan pariwisata ekologis, serta pengembangan industri berbasis
komoditas peternakan terutama sapi, garam, rumput laut, jagung, mangan, dan
tembaga, (b) penyediaan infrastruktur wilayah, (c) peningkatan SDM dan ilmu dan
teknologi secara terus menerus.
Adapun sasaran pengembangan Wilayah Kepulauan Nusa Tenggara pada
tahun 2015-2019 adalah sebagai berikut:
1. Dalam rangka percepatan dan perluasan pengembangan ekonomi Wilayah
Pulau Nusa Tenggara, akan dikembangkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi
di koridor ekonomi dengan memanfaatkan potensi dan keunggulan daerah,
termasuk diantaranya adalah pengembangan 1 Kawasan Ekonomi Khusus
(KEK), 2 Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET), 24 Kawasan
Perhatian Investasi (KPI).
2. Sementara itu, untuk menghindari terjadinya kesenjangan antar wilayah di
Wilayah Kepulauan Nusa Tenggara, maka akan dilakukan pembangunan
daerah tertinggal dengan sasaran sebanyak 16 Kabupaten tertinggal dapat
terentaskan dengan sasaran outcome: (a) meningkatkan rata-rata
pertumbuhan ekonomi di daerah tertinggal sebesar 5,90 persen; (b)
menurunnya persentase penduduk miskin di daerah tertinggal menjadi 15,80
persen; dan (c) meningkatnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di daerah
tertinggal sebesar 68,98
3. Untuk mendorong pertumbuhan pembangunan kawasan perkotaan di Nusa
Tenggara, maka akan dipercepat pembangunan 1 Pusat Kegiatan Nasional
(PKN) perkotaan baru, serta mewujudkan optimalisasi peran 2 kota otonom
berukuran sedang sebagai penyangga (buffer) urbanisasi.
4. Sesuai dengan amanat UU 6/2014 tentang Desa, maka akan dilakukan
pembangunan perdesaan dengan sasaran mengurangi jumlah desa tertinggal
menjadi 14 persen (2019).
5. Khusus untuk meningkatkan keterkaitan pembangunan kota-desa, diharapkan
dapat diwujudkan 4 pusat pertumbuhan baru perkotaan sebagai Pusat
Kegiatan Lokal (PKL) atau Pusat Kegiatan Wilayah (PKW).
6. Dalam rangka mewujudkan kawasan perbatasan sebagai halaman depan
negara yang berdaulat, berdaya saing, dan aman, maka akan dikembangkan 3
Pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN) sebagai pusat pertumbuhan
IV - 5

ekonomi kawasan perbatasan negara yang dapat mendorong pengembangan
kawasan sekitarnya.
7. Sasaran Otonomi Daerah untuk Wilayah Kepulauan Nusa Tenggara adalah: (1)
meningkatnya proporsi penerimaan pajak dan retribusi daerah sebesar 30%
untuk provinsi dan 10% untuk kabupaten/kota; (2) meningkatnya proporsi
belanja modal dalam APBD provinsi sebesar 30% dan untuk Kabupaten/Kota
sebesar 25% pada tahun 2019 serta sumber pembiayaan lainnya dalam APBD;
(3) meningkatnya jumlah daerah yang mendapatkan opini wajar tanpa
pengecualian (WTP); (4) terbentuknya kerjasama daerah di 5 daerah Nusa
Tenggara dalam rangka percepatan konektivitas dan peningkatan pelayanan
publik; (5) tersusunnya Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang tepat fungsi
dan ukuran sesuai dengan karakteristik wilayah Nusa Tenggara; (6)
meningkatnya kualitas dan proporsi tingkat pendidikan aparatur sipil negara
untuk jenjang S1 sebesar 25%, S2 sebesar 5%, dan S3 sebesar 5%; dan (7)
meningkatnya implementasi pelaksanaan SPM di daerah, khususnya pada
pendidikan, kesehatan dan infrastruktur.
8. Sasaran Penanggulangan Bencana di Wilayah Kepulauan Nusa Tenggara
adalah kawasan pengembangan wilayah berisiko tinggi yaitu: 2 (dua) PKN
terdiri dari Kupang dan Mataram yang akan dikembangkan sebagai perkotaan
Mataram Raya meliputi wilayah Kabupaten Lombok Barat, Lombok Timur,
Lombok Tengah dan Lombok Utara; 5 (lima) PKW terdiri dari Kabupaten Bima
(KAPET Bima), Kabupaten Ngada (KAPET Mbay), Praya di Kabupaten Lombok
Tengah (termasuk KEK Mandalika), Raba di Kabupaten Dompu, Ende dan
sekitarnya (Kabupaten Ende dan Ngada) yang akan dikembangkan sebagai
pusat pertumbuhan baru.

Sehubungan dengan sasaran tersebut, diharapkan pada akhir tahun 2019,
pembangunan Wilayah Kepulauan Nusa Tenggara semakin meningkat. Hal ini
dicerminkan dengan makin meningkatnya kontribusi PDRB Wilayah Kepulauan
Nusa Tenggara terhadap PDB Nasional, yaitu dari sekitar 1,2 (2014) menjadi 1,3
persen (2019). Dengan demikian, kondisi tersebut diharapkan dapat
meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Wilayah Kepulauan Nusa Tenggara.
Secara rinci target pertumbuhan ekonomi, tingkat kemiskinan dan pengangguran
dalam kurun waktu 2015-2019 di wilayah Kepulauan Nusa Tenggara dapat dilihat
pada Tabel 4.1 sampai dengan Tabel 4.3 sebagai berikut.

IV - 6

TABEL 4.1
SASARAN PERTUMBUHAN EKONOMI PER PROVINSI TAHUN 2015-2019

Provinsi Pertumbuhan Ekonomi (Persen)
2015 2016 2017 2018 2019
Nusa Tenggara Barat 5,9 - 6,0 5,9 - 6,1 6,1 -6,4 6,4 7,0 6,6 7,3
Nusa Tenggara Timur 6,0 6,1 6,6 6,9 6,6 7,1 6,7 7,2 6,7 7,4
Sumber: Perhitungan Bappenas, 2014


TABEL 4.2
SASARAN TINGKAT KEMISKINAN PER PROVINSI TAHUN 2015-2019

Provinsi Tingkat Kemiskinan (Persen)
2015 2016 2017 2018 2019
Nusa Tenggara Barat 16,9 16,5 15,6 15,0 14,4 13,5 13,1 12,1 11,8 10,7
Nusa Tenggara Timur 18,4 18,1 17,0 16,4 15,6 14,7 14,2 13,1 12,7 11,5
Sumber: Perhitungan Bappenas, 2014


TABEL 4.3
SASARAN TINGKAT PENGANGGURAN PER PROVINSI TAHUN 2015-2019

Provinsi Tingkat Pengangguran (Persen)
2015 2016 2017 2018 2019
Nusa Tenggara Barat 4,6 4,5 4,4 4,3 4,3 4,1 4,2 3,9 4,1 3,7
Nusa Tenggara Timur 3,0 2,9 2,8 2,7 2,7 2,5 2,6 2,4 2,5 2,3
Sumber: Perhitungan Bappenas, 2014


4.5 Arah kebijakan dan Strategi Pengembangan Wilayah
Kepulauan Nusa Tenggara
4.5.1 Pengembangan Kawasan Strategis
Kebijakan pengembangan kawasan strategis bidang ekonomi di wilayah
Kepulauan Nusa Tenggara diarahkan menjadi pusat-pusat pertumbuhan ekonomi
yang memiliki daya saing nasional dan internasional berbasis pengembangan
industri MICE, serta pengembangan industri berbasis peternakan terutama sapi,
garam, rumput laut, jagung, mangan, dan tembaga. Persebaran pengembangan
kawasan strategis di wilayah Nusa Tenggara, yaitu: (1) Provinsi Nusa Tenggara
Barat terdapat Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) Bima dan
Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika; (2) Provinsi Nusa Tenggara Timur
terdapat KAPET Mbay; serta (3) kawasan agropolitan, minapolitan, dan KPI-KPI di
Nusa Tenggara yaitu KPI Lombok Tengah, Sumbawa, Sumbawa Barat, Kupang,
Lombok Barat, Rinjani, dan KPI potensial lainnya di koridor ekonomi sebagai
hinterland KAPET dan KEK.
IV - 7

Percepatan pembangunan kawasan strategis dilakukan melalui strategi sebagai
berikut:
1. Pengembangan Potensi Ekonomi Wilayah di Koridor Ekonomi Nusa
Tenggara
Pengembangan kegiatan ekonomi di kawasan strategis dimaksudkan untuk
mempercepat pertumbuhan dan memberdayakan masyarakat berbasis potensi
ekonomi wilayah, sehingga dapat meningkatkan nilai tambah dan daya saing
komoditas unggulan.
a. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)
a) Menyiapkan kawasan KEK Mandalika sebagai pusat kegiatan MICE
bertaraf internasional;
b) Meningkatkan produktivitas industri kreatif penunjang pariwisata
kawasan KEK Mandalika;
c) Meningkatkan logistik penunjang kegiatan parawisata di kawasan
KEK Mandalika.
b. Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET)
a) Menyiapkan kawasan pengelolaan klaster-klaster komoditas unggulan
sapi, garam, rumput laut, dan jagung secara terpadu;
b) Meningkatkan produktivitas komoditas unggulan sapi, garam, rumput
laut, dan jagung.
c. Kawasan Perhatian Investasi (KPI)
a) Mengembangkan produktivitas komoditas unggulan dan industri-
industri produk olahan komoditas lokal untuk mendukung koridor
ekonomi dan kawasan pertumbuhan lainnya.
2. Percepatan Penguatan Konektivitas
Peningkatan konektivitas antara pusat pertumbuhan ekonomi dengan daerah
sekitarnya yang di dalamnya adalah daerah tertinggal dan KEK Mandalika
sebagai penunjang dalam peningkatan kinerja pembangunan ekonomi
kawasan, dilakukan melalui:
a. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)
a) Pengembangan Bandara Internasional Lombok;
b) Penanganan ruas jalan Pemenanng Mataram;
b. Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET)
a) Pembangunan ruas jalan Bangau - Dompu - Ramba - Labuhan Bajo;
b) Pembangunan Bendungan Tanju-Mila;
c) Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Bima, PLTP Huu,
PLTP Mataloka dan penyediaan jaringan penyaluran energi berupa
saluran udara tegangan tinggi (SUTT) di sekitar kawasan.
IV - 8

c. Kawasan Perhatian Investasi (KPI)
a) Pengembangan Pelabuhan penyeberangan Aibari; Pengembangan
Cruise Port - Lembar Sekotong (Pelabuhan Teluk Lembar);
b) Penangganan ruas jalan dari Benete - Simpang Negara, ruas jalan
Benete Sejorong Lunyuk, ruas Jalan Pemenang - Tanjung - Bayan -
Sanbella - Lb.Lombok;
c) Pembangunan waduk Bintang Bano , Bendungan Pandanduri;
d) Pembangunan PLTU Sumbawa, PLTA Brang Beh, PLTU Sumbawa Barat,
PLTMG Kupang Peaker , PLTU Kupang, PLTU Lombok, PLTMG Lombok
Peaker PLTP Sembalun PLTU Lombok Timur;
e) Pembangunan Dam Raknamo dan Kolhua.
3. Penguatan Kemampuan SDM dan IPTEK
a. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)
a) Meningkatkan kualitas SDM Badan Pengelola dan Administratur KEK
Mandalika di bidang perencanaan, penganggaran, dan pengelolaan
kawasan;
b) Pengembangan sarana prasarana pendidikan dan pelatihan profesi
untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja, khususnya di bidang
industri jasa pariwisata;
c) Peningkatan koordinasi antara Badan Pengelola KEK, pemerintah pusat,
dan pemerintah daerah;
d) Peningkatan kemampuan pengelolaan investasi di KEK Mandalika.
b. Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET)
a) Restrukturisasi kelembagaan dan peningkatkan kualitas SDM Badan
Pengelola KAPET di bidang perencanaan, penganggaran, dan
pengelolaan kawasan;
b) Memberikan pembinaan kelembagaan yang mendukung perubahan
pola pikir bisnis berorientasi daya saing secara komparatif dan
kompetitif;
c) Pengembangan sarana prasarana pendidikan dan pelatihan profesi
untuk meningkatkan kualitas SDM terhadap kompetensinya mengelola
industri peternakan sapi, garam, rumput laut, dan jagung.
c. Kawasan Perhatian Investasi (KPI)
a) Peningkatan kapasitas SDM pengelola kawasan untuk meningkatkan
produktivitas komodtas unggulan sekitar koridor ekonomi Nusa
Tenggara;
b) Pengembangan pusat-pusat penelitian dan pengembangan inovasi
teknologi ramah lingkungan dalam rangka menunjang industri
pengolahan dan distribusi pemasaran melalui koridor ekonomi Nusa
Tenggara.
IV - 9

4. Penguatan Regulasi bagi Peningkatan Iklim Investasi dan Iklim Usaha
a. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)
a) Membuat regulasi terkait dengan pelimpahan kewenangan antara
pusat, daerah, dan instansi terkait kepada administrator kawasan-
kawasan pertumbuhan;
b) Memberikan pelayanan terpadu satu pintu dan penggunaan Sistem
Pelayanan Informasi dan Perijinan Investasi secara Elektronik
(SPIPISE) bidang perindustrian, perdagangan, pertanahan, penanaman
modal.
b. Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET)
a) Harmonisasi peraturan perundangan terkait dengan iklim investasi,
diantaranya adalah PP Nomor 147 Tahun 2000 Tentang Perlakuan
Perpajakan di KAPET;
b) Membuat regulasi terkait dengan pembagian kewenangan antar
instansi dan antara Kabupaten/Kota, provinsi, dan pusat di pusat-pusat
pertumbuhan;
c) Melaksanakan sosialisasi terkait dengan pemanfaatan lahan sebagai
peruntukan investasi.
c. Kawasan Perhatian Investasi (KPI)
a) Memberikan pelayanan terpadu satu pintu dan penggunaan Sistem
Pelayanan Informasi dan Perijinan Investasi secara Elektronik (SPIPISE)
bidang perindustrian, pertanahan, dan penanaman modal.

4.5.2 Pengembangan Kawasan Perkotaan dan Perdesaan
4.5.2.1 Pengembangan Kawasan Perkotaan
Arah kebijakan pembangunan wilayah perkotaan difokuskan untuk
membangun kota berkelanjutan dan berdaya saing menuju masyarakat kota yang
sejahtera berdasarkan karakter fisik, potensi ekonomi dan budaya lokal. Untuk itu,
strategi pembangunan perkotaan tahun 2015-2019 adalah:
1. Perwujudan Sistem Perkotaan Nasional (SPN)
a. Pembentukan PKN Perkotaan baru, yaitu PKN Perkotaan Mataram Raya
dalam rangka membangun koridor wilayah timur indonesia, untuk
mempercepat pembangunan di Wilayah Nusa Tenggara bagian barat,
mengurangi urbanisasi dari luar Jawa ke Pulau Jawa, serta diharapkan
mampu mengurangi ketimpangan antar kota maupun kota-desa;
IV - 10

GAMBAR 4.1


















IV - 11

b. Pengembangan 2 kota sedang di Wilayah Kepulauan Nusa Tenggara, yakni Bima
dan Kupang untuk mempercepat perannya sebagai pusat pertumbuhan ekonomi
(sentra produksi dan pengolahan produk perikanan) dalam bentuk Pusat Kegiatan
Wilayah (PKW) sekaligus sebagai pengendali arus urbanisasi menuju Pulau Jawa
atau kota besar disekitarnya
c. Pengembangan 4 pusat pertumbuhan baru sebagai pusat pertumbuhan utama
yang mendorong keterkaitan antara kota sedang dengan desa-desa di wilayah
sekitarnya yakni: Praya, Sumbawa,Raba dan Ende.
d. Pengembangan sektor pariwisata sekaligus pendukungnya berupa perdagangan
dan jasa untuk meningkatkan pendapatan daerah.
2. Perwujudan Kota Layak Huni yang Aman dan Nyaman
a. Percepatan pemenuhan dan peningkatan pelayanan sarana prasarana
permukiman (perumahan, air minum, sanitasi: pengelolaan sampah; pengolahan
limbah; drainase);
b. Peningkatan aksesibilitas antar kota melalui penyediaan sarana transportasi
umum antarmoda khususnya transportasi laut dan darat secara terpadu dan
optimal;
c. Penyediaan sarana prasarana pemerintahan dan ekonomi, khususnya di sektor
perdagangan dan jasa serta pariwisata yang mampu mengakomodasi kegiatan
koperasi, UMKM, industri pengolahan kecil dan menengah;
d. Penyediaan sarana pengolahan perindustrian khususnya industri pengolahan
untuk mengakomodasi dan mengembangkan kawasan perindustrian yang sudah
ditetapkan
e. Peningkatan pelayanan prasarana sarana kesehatan, pendidikan, sosial budaya,
dan keamanan kota serta meningkatkan modal sosial masyarakat serta
memberikan rasa aman dan tentram bagi masyarakat kota;
f. Pengembangan konsep insentif dan disinsentif dalam pemenuhan Standar
Pelayanan Perkotaan (SPP).
3. Perwujudan Kota Hijau yang Berketahanan Iklim dan Adaptif terhadap Bencana
a. Perwujudan penyelenggaraan ruang yang efisien dan berkeadilan serta ramah
lingkungan;
b. Peningkatan pengetahuan dan kemampuan masyarakat dalam upaya adaptasi
terhadap dampak perubahan iklim dan mitigasi bencana (urban resilience).
c. Pembangunan infrastruktur kota dalam upaya adaptasi dan mitigasi terhadap
dampak perubahan iklim dan bencana;
d. Pengembangan dan menerapkan konsep kota hijau melalui: green openspace (ruang
terbuka hijau), green waste (pengelolaan sampah dan limbah melalui 3R ) untuk
pengurangan tingkat pencemaran di darat, laut, dan udara,pemanfaatan energi
alternatif dan terbarukan, pemanfaatan daur ulang.
IV - 12

4. Perwujudan Kota Cerdas dan Daya Saing Kota
a. Pengembangan pencitraan kota (city branding) melalui produk unggulan, SDM
unggulan dan memiliki karakter sosial budaya lokal yakni potensi pariwisata ;
b. Peningkatan jumlah tenaga kerja ahli dan terampil melalui penyediaan sarana
prasarana pendidikan tinggi dan pelatihan kejuruan (higher education and
vocational training) dibidang pariwisata agar memiliki daya saing dan kemampuan
memasarkan produk unggulan;
c. Penyediaan layanan publik serta perencanaan, pengoperasian dan pemeliharaan
sarana prasarana kota melalui penggunaan teknologi informasi dan komunikasi
(TIK) dalam bentuk e-government dan e-commerce
d. Pengembangan pasar keuangan dalam bentuk penyediaan kredit lunak kepada
industri kecil, koperasi dan UMKM.
5. Kebijakan untuk Meningkatkan Kapasitas Tata Kelola Pembangunan Perkotaan
a. Perwujudan sistem, peraturan dan prosedur dalam birokrasi kepemerintahan kota
yang tanggap terhadap kebutuhan masyarakat kota berkelanjutan;
b. Peningkatan kapasitas pemimpin kota yang visioner dan kapasitas aparatur
pemerintah dalam membangun dan mengelola kota berkelanjutan, baik melalui kota
layak dan nyaman, kota hijau, maupun kota cerdas, melalui pendidikan, pelatihan
dan pembinaan secara bersikenambungan;
c. Penyederhanaan proses perijinan dan berusaha bagi para pelaku ekonomi termasuk
pelayanan terpadu satu pintu (PTSP);
d. Pembangunan dan pengembangan kelembagaan dan kerjasama pembangunan antar
kota, untuk mewujudkan kota berkelanjutan;
e. Pengembangan dan penyediaan pusat data informasi perkotaan terpadu yang
mudah diakses;
f. Peningkatan peran swasta,organisasi masyarakat, dan organisasi profesi secara
aktif, baik dalam forum dialog perencanaan dengan pemerintah dan masyarakat
perkotaan, maupun dalam pembangunan kota berkelanjutan, seperti: pembangunan
infrastruktur perkotaan maupun masukan terhadap rencana tata ruang kota;
g. Pengembangan lembaga bantuan teknis dan pembiayaan infrastruktur perkotaan.

4.5.2.2 Pengembangan Wilayah Perdesaan
Arah kebijakan pengembangan kawasan perdesaan di Wilayah Nusa Tenggara
adalah meningkatkan kemandirian masyarakat dan desa, serta mewujudkan desa-desa
berkelanjutan yang memiliki ketahanan sosial, ekonomi dan ekologi sesuai dengan amanat
Undang-Undang No.6/2014 tentang Desa dengan sasaran berkurangnya jumlah desa
tertinggal sebesar 14 persen. Selain itu, membangun keterkaitan ekonomi lokal antara
perkotaan dan perdesaan melalui integrasi perdesaan mandiri pada 4 kawasan
pertumbuhan baru, yang secara rinci dapat dilihat pada tabel 4.6. Dalam rangka percepatan
pembangunan desa di Wilayah Nusa Tenggara akan dilakukan:
IV - 13

1. Pengembangan Penghidupan Berkelanjutan Bagi Masyarakat Miskin dan Rentan
di Desa
a. Peningkatan peran dan kapasitas pemerintah daerah dalam memajukan ekonomi
masyarakat miskin dan rentan;
b. Peningkatan kapasitas masyarakat miskin dan rentan dalam pengembangan usaha
berbasis lokal;
c. Pemberian dukungan bagi masyarakat miskin dan rentan melalui penyediaan
lapangan usaha, dana bergulir, dan lembaga keuangan mikro.
2. Peningkatan Ketersediaan Pelayanan Umum dan Pelayanan Dasar Minimum di
Perdesaan
a. Pembangunan maupun peningkatan kualitas sarana dan prasarana dasar bidang
pendidikan, khususnya sekolah dasar dan sekolah menengah;
b. Penyediaan sarana dan prasarana kesehatan melalui penyediaan puskesmas yang
pelayanannya mencakup kawasan desa tertinggal dan berkembang;
c. Penyediaan sarana dan prasarana perumahan di kawasan desa tertinggal dan
berkembang;
d. Peningkatan distribusi tenaga pendidik dan tenaga kesehatan khususnya di desa-
desa terpencil;
e. Peningkatan kualitas sarana dan prasarana transportasi, baik darat, laut, maupun
udara;
f. Peningkatan kapasitas dan kualitas jaringan listrik dan jaringan telekomunikasi.
3. Peningkatan Keberdayaan Masyarakat Perdesaan
a. Peningkatan keberdayaan masyarakat perdesaan, melalui fasilitasi dan
pendampingan berkelanjutan dalam perencanaan, pembangunan, dan pengelolaan
desa;
b. Penguatan lembaga adat dan Desa Adat, perlindungan hak-hak masyarakat adat
sesuai dengan perundangan yang berlaku;
c. Peningkatan keberdayaan masyarakat melalui penguatan sosial budaya masyarakat
dan keadilan gender (kelompok wanita, pemuda, anak, dan TKI);
d. Peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan dan kesehatan
bagi masyarakat di desa tertinggal.
4. Perwujudan Tata Kelola Pemerintahan Desa yang Baik
a. Fasilitasi peningkatan kapasitas pemerintah desa;
b. Fasilitasi peningkatan kapasitas Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dan lembaga-
lembaga lainnya di tingkat desa;
IV - 14

c. Pengembangandata dan informasi desa yang digunakan sebagai acuan bersama
perencanaan dan pembangunan desa.
5. Perwujudan Kemandirian Pangan dan Pengelolaan SDA-LHyang Berkelanjutan
dengan Memanfaatkan Inovasi dan Teknologi Tepat Guna di Perdesaan
a. Peningkatan pengendalian pemanfaatan ruang kawasan perdesaan melalui
redistribusi lahan kepada petani/nelayan (land reform), serta menekan laju alih
fungsi lahanpertanian dan kawasan pesisir secara berkelanjutan;
b. Fasilitasi peningkatan kesadaran masyarakat dalam pemanfaatan, pengelolaan, dan
konservasi sumber daya alam dan lingkungan hidup yang seimbang, berkelanjutan,
dan berwawasan mitigasi bencana;
c. Fasilitasi peningkatan kesadaran dan kemampuan masyarakat dalam mewujudkan
kemandirian pangan dan energi.
6. Pengembangan Ekonomi Perdesaan
a. Peningkatan kegiatan ekonomi desa yang berbasis komoditas unggulan, melalui
pengembangan rantai nilai, peningkatan produktivitas, serta penerapan ekonomi
hijau;
b. Penyediaan dan peningkatan sarana dan prasarana produksi, pengolahan, dan pasar
desa;
c. Peningkatan akses masyarakat desa terhadap modal usaha, pemasarandan
informasi pasar;
d. Peningkatan kapasitas masyarakat dalam bidang kewirausahaan berbasis potensi
lokal;
e. Pengembangan lembaga pendukung ekonomi desa seperti koperasi, BUMDesa, dan
lembaga ekonomi mikro lainnya;
f. Fasilitasi masyarakat dalam mengembangkan usaha yang mendukung sektor
pariwisata di Nusa Tenggara

4.5.2.3 Peningkatan Keterkaitan Kota dan Desa di Wilayah Kepulauan Nusa
Tenggara
Peningkatan keterkaitan kota dan desa di Wilayah Kepulauan Nusa Tenggara
diarahkan dengan mengembangkan 4 kawasan sebagai penghubung kota desa yaitu
kawasan Praya dan sekitarnya (Kab. Lombok Timur, Kab. Lombok Barat,Prov. NTB),
Sumbawa Besar dan sekitarnya (Kab. Sumbawa, Prov. NTB), Raba dan sekitarnya (Kab.
Dompu, Prov. NTB), serta Kawasan Ende dan sekitarnya (Kab. Ngada, Kab. Ende, Prov.
NTT). Kawasan-kawasan ini mencakup kawasan transmigrasi, kawasan agropolitan dan
minapolitan, serta kawasan pariwisata.
IV - 15

Kebijakan untuk meningkatkan keterkaitan desa-kota diarahkan untuk mendukung
pengembangan kawasan perdesaan menjadi pusat pertumbuhan baru terutama di desa-
desa mandiri. Adapun prioritas strategi yang dilaksanakan sebagai berikut:
1. Perwujudan Konektivitas antar Kota Sedang dan Kota Kecil, dan antar Kota Kecil
dan Desa sebagai Tulang Punggung (Backbone) Keterhubungan Desa-Kota
a. Mempercepat pembangunan infrastruktur transportasi untuk memperlancar arus
barang, jasa, penduduk, dan modal,dengan prioritas pada peningkatan kapasitas dan
kualitas jaringan jalan Lintas Nusa Tenggara, angkutan laut, serta angkutan udara.
b. Mengembangkan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi untuk
memfasilitasi perdagangan dan informasi antar wilayah.
c. Mempercepat pemenuhan suplai energi/listrik untuk memenuhi kebutuhan
domestik dan industri.
2. Perwujudan Keterkaitan antara Kegiatan Ekonomi Hulu (upstream linkages) dan
Kegiatan Ekonomi Hilir (downstream linkages) Desa-Kota.
a. Menyediakan fasilitas pendukung ekonomi lokal untuk meningkatkan produksi dan
distribusi barang dan jasa desa-kota dan antar kota,meliputi peningkatan akses
desa-desa produksi menuju pusat pertumbuhan (lihat tabel 4.6), pengembangan
pasar, dan toko saprodi;
b. Mewujudkan industri pengolahan hasil pertanian secara luas yang berbasis koperasi
dan UMKM, meliputi industri pengolahan hasil pertanian di Kawasan Sumbawa
Besar, Dompu, dan Ende, serta industri pengolahan hasil perikanan dan/atau
kelautan di Kawasan Praya dan Ende;
c. Mengembangkan daya tarik wisata Taman Nasional dan sejarah di Kawasan
Pariwisata Rinjani dan wisata Taman Nasional dan bahari di Kawasan Pariwisata
Ende-Kelimutu melalui peningkatan ketersediaan infrastruktur penunjang;
d. Meningkatkan akses terhadap modal usaha melalui pengembangan lembaga
keuangan dengan kredit usaha ringan;
e. Meningkatkan akses bagi pelaku usaha terhadap pemasaran, teknologi, dan
informasi;
f. Mengembangkan ekonomi hijau berbasis agroindustri,agrowisata, dan sektor
informal perkotaan, untuk menambah nilai produk dan jasa dari desa.
g. Mengembangkan kawasan Agropolitan, Minapolitan, Pariwisata, dan Transmigrasi
3. Peningkatan Kapasitas Tata Kelola, Kelembagaan, dan Masyarakat dalam
Peningkatan Keterkaitan Kota-Desa
a. Meningkatkan kapasitas aparatur dan masyarakat mengenai kelembagaan dan tata
kelola ekonomi daerah;
IV - 16

b. Mengembangkan kerjasama antar daerah dan kerjasama pemerintah-swasta, serta
mengembangkan forum-forum yang mendorong perwujudan kerjasama antar
stakeholder;
c. Meningkatkan pendidikan formal dan informal untuk memperkuat kemampuan
inovasi dan kreatifitas lokal serta potensi keragaman sosial bidaya untuk
membangun daya saing kota;
d. Meningkatkan kapasitas perencanaan dan penyelenggaraan kerjasama antarkota
dan antar kota-desa.
e. Meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masyarakat mengenai kelestarian laut
dan pesisir serta mitigasi bencana, terutama di Kawasan Perdesaan Pesisir Praya,
Sumbawa, Raba, dan Ende;
Secara diagramatis, lokasi prioritas pengembangan kawasan perkotaan dan perdesaan
dapat dilihat pada Gambar 4.2 dan Tabel 4.6.

TABEL 4.4
LOKASI PRIORITAS KAWASAN STRATEGIS NASIONAL PERKOTAAN SEBAGAI PUSAT
PERTUMBUHAN WILAYAH DI WILAYAH KEPULAUAN NUSA TENGGARA

Kode Lokasi Prioritas Fokus Pengembangan
K1 KSN (Usulan)
Perkotaan Mataram
Raya
(Mataram, Lombok
Barat, Lombok
Timur,Lombok
Tengah, Lombok
Utara)
Diarahkan untuk menjadi pusat kegiatan Nasional (PKN)
yang berorientasi pada upaya mendorong perkembangan
sektor produksi wilayah seperti kehutanan, pertambangan
bijih besi dan agroindustri serta industri pengolahan
Sumber : Bappenas, 2014

TABEL 4.5
LOKASI PRIORITAS KOTA SEDANG YANG BERFOKUS PADA UPAYA PEMERATAAN
WILAYAH DI WILAYAH KEPULAUAN NUSA TENGGARA

Kode Lokasi Prioritas Fokus Pengembangan
P1 Bima Sebagai pusat pertumbuhan Wilayah (PKW), Bima sebagai hub
untuk industri pengolahan sektor primer (pertanian dan
perikanan) serta sektor tersier (pertambangan marmer)
P2 Kupang Diarahkan sebagai kota yang berfungsi sebagai pusat kegiatan
Nasional (PKN) yang mengembangkan sektor perdagangan dan
jasa
Sumber : Bappenas, 2014
IV - 17

GAMBAR 4.2
LOKASI PRIORITAS PENGEMBANGAN KAWASAN PERKOTAAN DAN PERDESAAN






















Sumber : Bappenas, 2014
IV - 18

TABEL 4.6
LOKASI PRIORITAS PUSAT PERTUMBUHAN BARU YANG BERFOKUS PADA UPAYA
PEMERATAAN WILAYAH DI WILAYAH KEPULAUAN NUSA TENGGARA

Kode Lokasi Kawasan Kelompok Kawasan Komoditas Unggulan
D1 Praya dan
sekitarnya
(Kab. Lombok
Timur, Kab.
Lombok Barat,
Prov. NTB)
Perkotaan Praya
Kawasan Minapolitan Perikanan Tangkap:
Jerowaru, dan Keruak
Kawasan Transmigrasi: Keruak, Selong
Belanak
Kawasan Pariwisata: KSPN Rinjani
KEK Mandalika
PKW Terdekat: Praya
Kota Otonom Terdekat : Mataram
Perikanan Tangkap
Padi
Wisata Taman Nasional
Wisata Sejarah
D2 Sumbawa Besar
dan sekitarnya
(Kab. Sumbawa,
Prov. NTB)
Perkotaan Sumbawa Besar
Kawasan Agropolitan (Padi): Moyo Hilir,
Moyo Utara
Kawasan Agropolitan (Jagung): Utan
Kawasan Minapolitan Perikanan
Budidaya: Lape
Padi
Jagung
Rumput Laut
D3 Raba dan
sekitarnya
(Kab. Dompu,
Prov. NTB)
Perkotaan Dompu
Kawasan Agropolitan (Jagung): Dompu
Kawasan Transmigrasi: Dompu, Huu,
KAPET Bima
PKW Terdekat: Raba
Kota Otonom Terdekat : Bima
Jagung
Sapi
D4 Ende dan
sekitarnya
(Kab. Ngada,
Kab. Ende, Prov.
NTT)
Perkotaan Bajawa
Kawasan Agropolitan (Padi): Soa
Kawasan Transmigrasi: Maronggela
Kawasan Pariwisata: KSPN Ende-
Kelimutu
Kawasan Tertinggal: Ende
KAPET Mbay
PKW Terdekat: Ende
Padi
Kopi
Sapi
Wisata Budaya
Wusata Pantai/ Bahari
Wisata Taman Nasional
Sumber : Bappenas, 2014

4.5.3 Pengembangan Daerah Tertinggal dan Kawasan Perbatasan

4.5.3.1 Pengembangan Daerah Tertinggal
Arah kebijakan Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal di Wilayah Kepulauan
Nusa Tenggara difokuskan pada upaya pemenuhan kebutuhan pelayanan dasar publik dan
pengembangan perekonomian masyarakat yang berbasis pariwisata, perikanan, dan
peternakan yang didukung oleh Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal dan
infrastruktur penunjang konektivitas antara daerah tertinggal dan kawasan strategis.
Percepatan pembangunan daerah tertinggal dilakukan melalui strategi sebagai berikut:
1. Pemenuhan Pelayanan Publik Dasar
Mendukung pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM) untuk pelayanan publik
dasar di daerahtertinggal dengan prioritas kegiatan sebagai berikut:
IV - 19

a. Bidang Pendidikan
1. Pembangunan dan rehabilitasi sarana pendidikan dengan fokus utama pada
pendidikan dasar di wilayah Nusa Tenggara bagian timur dan perbatasan;
2. Pemerataan kecukupan tenaga pendidik difokuskan pada wilayah Nusa
Tenggara bagian barat;
3. Penyediaan akses pendidikan dasar di pulau-pulau terpencil wilayah Nusa
Tenggara;
4. Penyelenggaraan sekolah bergerak dan sekolah berasrama di wilayah Nusa
Tenggara bagian barat dan perbatasan;
5. Pemberian beasiswa miskin kepada anak-anak di wilayah terpencil dan
perbatasan;
6. Penyediaan rumah dinas bagi tenaga pendidik di wilayah terisolir dan
perbatasan.
b. Bidang Kesehatan
1. Pemerataan distribusi dan kapasitas tenaga kesehatan (dokter, bidan,
perawat, apoteker, analis kesehatan, ahli gizi), alat kesehatan, dan obat-
obatan di Kabupaten Sabu Raijua, Timor Tengah Selatan, dan Timor Tengah
Utara;
2. Pembangunan, rehabilitasi, dan peningkatan sarana kesehatan diutamakan
di bagian timur Nusa Tenggara dan perbatasan;
3. Pengadaan sarana kesehatan keliling terapung untuk kepulauan di bagian
timur Wilayah Kepulauan Nusa Tenggara.
c. Bidang Energi
1. Penambahan kapasitas energi listrik dengan peningkatan kapasitas
PLTU/PLTP;
2. Pembangunan dan pemeliharaan jaringan irigasi di kawasan timur Nusa
Tenggara.
d. Bidang Informasi dan Telekomunikasi
1. Pengembangan radio komunitas dan radio komunikasi khususnya yang
menghubungkan wilayah perbatasan, bagian timur Nusa Tenggara, dan
pusat-pusat pertumbuhan;
2. Pembangunan menara penguat sinyal dan radio penguat siaran RRI dan
TVRI, khususnya di wilayah terisolir dan perbatasan.
e. Bidang Permukiman dan Perumahan
Pembangunan prasarana perumahan dan air bersih yang sehat dan layak huni
di seluruh kampung terutama di wilayah terisolir dan perbatasan.
IV - 20

2. Pengembangan Ekonomi Lokal
Pengembangan kinerja perekonomian masyarakat di daerah tertinggal secara
terpadu dalam rangka meningkatkan nilai tambah sesuai dengan karakteristik, posisi
strategis, dan keterkaitan antar kawasan. Strategi ini meliputi aspek infrastruktur,
manajemen usaha, akses permodalan, inovasi, dan pemasaran dengan prioritas
kegiatan sebagai berikut:
a. Pemberdayaan ekonomi masyarakat di wilayah Nusa Tenggara melalui
penyediaan tenaga pendamping masyarakat khususnya dalam bidang
pariwisata, perikanan, dan peternakan;
b. Optimalisasi peran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) khususnya sektor
pariwisata, perikanan laut, dan subsektor perikanan laut;
c. Kerjasama investasi antara pemerintah daerah, sektor swasta dan pelaku usaha
lainnya seperti perbankan dan koperasi;
d. Peningkatan produksi dan mutu tanaman buah berkelanjutan di bagian barat
Nusa Tenggara;
e. Peningkatan produksi ternak melalui pendayagunaan sumber daya local;
f. Pengembangan kegiatan kepariwisataan bahari dan sosial-budaya melalui
peningkatan insfrastruktur, sarana, promosi, serta peningkatan peran serta
masyarakat adat, khususnya di Kabupaten Sumba Barat, Bima, Manggarai Barat,
Ende, Alor, Flores Timur, Kupang, dan Rote Ndao;
g. Pengembangan pasar tradisional.
3. Penguatan Konektivitas dan Sislognas
Peningkatan konektivitas daerah tertinggal dengan kawasan strategis yang
diprioritaskan pada ketersediaan sarana dan prasarana penunjang peningkatan
kinerja pembangunan ekonomi daerah dengan prioritas kegiatan sebagai berikut:
a. Membuat sistem konektivitas laut untuk mendistribusikan hasil bumi menuju
lokasi di luar Wilayah Kepulauan Nusa Tenggara;
b. Peningkatan kapasitas pelayanan Bandara Nagekeo;
c. Pengembangan jalan penghubung menuju kawasan strategis (Kapet Bima) di
Kabupaten Dompu dan Bima;
d. Pengembangan bandara perintis di kawasan Nusa Tenggara;
e. Pembangunan dan rehabilitasi infrastruktur transportasi (jalan dan jembatan)
difokuskan pada wilayah Nusa Tenggara bagian barat;
f. Penyediaan moda transportasi sesuai dengan karakteristiknya;
g. Pembangunan dermaga di pulau-pulau kecil yang tersebar di wilayah kepulauan
Nusa Tenggara;
h. Pengembangan jalur keperintisan laut di wilayah kepulauan Nusa Tenggara;
i. Pembangunan bandara perintis di wilayah kepulauan Nusa Tenggara.
IV - 21

4. Penguatan Kemampuan SDM dan IPTEK
Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan kapasitas kelembagaan
pemangku kepentingan pembangunan daerah tertinggal di pusat maupun di daerah
yang terintegrasi untuk menunjang pengelolaan pariwisata, perikanan, dan
peternakan. Strategi ini meliputi aspek peraturan perundangan, tata kelola, SDM,
rumusan dokumen kebijakan, dan pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
(IPTEK). Prioritas program untuk mendukung strategi ini adalah sebagai berikut:
a. Peningkatan kualitas aparatur daerah khususnya pada pemenuhan SPM pada
bidang pendidikan, kesehatan, listrik, informasi, dan telekomunikasi di daerah
tertinggal dari aspek perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian; dan
b. Pengembangan pusat informasi pemasaran serta teknologi, pendidikan,
pelatihan, pengembangan SDM pelaku usaha untuk menunjang pengembangan
usaha khususnya sektor pariwisata, perikanan laut, dan subsektor perikanan
laut;
c. Peningkatan kompetensi guru di daerah tertinggal melalui pelatihan;
d. Penyelenggaraan kejar paket C dan paket B;
e. Pembinaan dan pengembangan ketenagalistrikan.
5. Penguatan Regulasi dan Insentif
Dalam upaya mendukung percepatan pembangunan daerah tertinggal, bentuk
afirmasi yang lebih nyata dan konkrit dilakukan dengan evaluasi terhadap
harmonisasi regulasi untuk menciptakan iklim yang kondusif dalam pengelolaan hasil
bumi dan energi melalui pelaksanaan prioritas program sebagai berikut:
a. Penyusunan Strategi Daerah tentang Percepatan Pembangunan Daerah
Tertinggal;
b. Penyusunan rencana induk dan rencana aksi pengembangan ekonomi berbasis
pada agroindustri peternakan dan perikanan laut secara terpadu;
c. Penyusunan rencana induk dan rencana aksi pengembangan pariwisata baik
wisata bahari dan sosial budaya.
d. Harmonisasi kebijakan, program, dan kegiatan daerah untuk percepatan
pembangunan daerah tertinggal;
e. Pengaturan dan pengelolaan hak ulayat;
f. Koordinasi dan sinkronisasi antara pemerintah dengan pemerintah daerah,
antar-SKPD dalam penyelenggaraan program pembangunan di daerah;
g. Pemberian insentif untuk pihak swasta dalam proses pengembangan usaha di
daerah tertinggal;
h. Tunjangan khusus bagi pegawai pelayanan publik dasar di daerah-daerah
terisolir dan pedalaman seperti: bidan, dokter, guru, penyuluh pertanian.

IV - 22

GAMBAR 4.3
IV - 23

TABEL 4.7
PROFIL DAERAH TERTINGGAL WILAYAH KEPULAUAN NUSA TENGGARA
NO. KABUPATEN
P
E
N
G
A
N
G
G
U
R
A
N

(
%
)

P
J
A
L
A
N

T
I
D
A
K

M
A
N
T
A
P

(
%
)

E
L
E
K
T
R
I
F
I
K
A
S
I

(
%
)

D
E
S
A

P
E
N
G
G
U
N
A

A
I
R

B
E
R
S
I
H

U
N
T
U
K

M
I
N
U
M
/
M
E
M
A
S
A
K

(
%
)

K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

S
A
R
A
N
A

I
N
F
O
R
M
A
S
I

D
A
N

K
O
M
U
N
I
K
A
S
I

R
A
T
A
-
R
A
T
A

L
A
M
A

S
E
K
O
L
A
H

(
T
h
)

K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

D
A
N

A
K
S
E
S
I
B
I
L
I
T
A
S

S
A
R
A
N
A

P
E
N
D
I
D
I
K
A
N

R
A
T
A

R
A
T
A

J
A
R
A
K

P
U
S
K
E
S
M
A
S

(
K
m
)

R
A
T
A

R
A
T
A

J
A
R
A
K

P
U
S
K
E
S
M
A
S

P
E
M
B
A
N
T
U

(
K
m
)

K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

T
E
N
A
G
A

K
E
S
E
H
A
T
A
N

(
D
O
K
T
E
R
/
B
I
D
A
N
/
P
A
R
A
M
E
D
I
S
)

A
K
S
E
S
I
B
I
L
I
T
A
S

K
E

T
E
N
A
G
A

K
E
S
E
H
A
T
A
N

(
K
m
)

J
U
M
L
A
H

A
P
A
R
A
T
U
R

D
A
E
R
A
H

B
E
R
D
A
S
A
R
K
A
N

P
E
N
D
I
D
I
K
A
N

A
K
S
E
S
I
B
I
L
I
T
A
S

K
E

S
A
R
A
N
A

P
E
M
E
R
I
N
T
A
H
A
N

A
K
S
E
S
I
B
I
L
I
T
A
S

S
A
R
A
N
A
F
I
S
I
K

K
E
G
I
A
T
A
N

E
K
O
N
O
M
I

D
E
S
A

T
I
D
A
K

T
E
R
J
A
N
G
K
A
U

S
I
N
Y
A
L

S
E
L
U
L
E
R
(
%
)

D
E
S
A

T
I
D
A
K

T
E
R
J
A
N
G
K
A
S
I
A
R
A
N

T
V
R
I

(
%
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

S
D

(
K
m
)

R
A
T
A

R
A
T
A

K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

S
D

/

D
E
S
A

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

S
M
P

(
K
m
)

R
A
T
A

R
A
T
A

K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

S
M
P

/

K
E
C
A
M
A
T
A
N

R
A
T
A

R
A
T
A

K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

D
O
K
T
E
R

/

K
E
C
A
M
A
T
A
N

R
A
T
A

R
A
T
A

K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

B
I
D
A
N

/

D
E
S
A

R
A
T
A

R
A
T
A

K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

P
A
R
A
M
E
D
I
S

/

K
E
C
A
M
A
T
A
N

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

P
R
A
K
T
E
K

D
O
K
T
E
R

(
K
m
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

P
R
A
K
T
E
K

B
I
D
A
N

(
K
m
)

<

S
M
U

(
%
)

D
1
/
D
2
/
D
3

(
%
)

D
4
/
S
1

(
%
)

S
2
/
S
3

(
%
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

K
E

K
A
N
T
O
R

K
E
C
A
M
A
T
A
N

(
K
m
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

K
E

K
A
N
T
O
R

K
A
B
U
P
A
T
E
N

(
K
m
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

P
A
S
A
R

(
K
m
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

L
E
M
B
A
G
A

K
E
U
A
N
G
A
N

(
B
A
N
K

U
M
U
M
)

(
K
m
)

A NUSA TENGGARA BARAT 5.2
1
66.
50
88.
56
74.
13
15.72 52.91 7.
00
0.3
9
3.4
8
2.79 10.75 5.4
2
3.0
9
2.97 1.8
2
25.44 7.62 8.56 90.
03
2.
51
7.2
7
0.1
9
5.98 29.71 14.
09
13.61
1 LOMBOK BARAT 4.3
1
94.
27
87.
66
82.
11
12.20 3.25 6.
10
1.0
0
3.4 2.47 13.2 3.5
2
1.7
4
4.2 1.3 23.2 3.92 3.83 90.
83
2.
50
6.4
2
0.2
5
4.72 17.90 4.7
3
8.11
2 LOMBOK TENGAH 9.1
4
47.
14
89.
08
89.
21
7.19 6.47 6.
19
0.0
0
5.9 2.06 13.8 3.1
4
0.9
7
5.2 1.5 41.3 2.67 3.78 92.
36
2.
14
5.2
7
0.2
2
5.31 13.51 3.7
6
6.47
3 LOMBOK TIMUR 5.4
1
62.
00
77.
49
70.
23
6.51 50.23 6.
91
0.0
0
4.1 1.43 10.8 3.6
6
1.7
8
3.6 1.4 26.9 3.00 3.29 92.
29
1.
86
5.8
5
0.0
0
4.29 18.08 4.5
7
8.10
4 SUMBAWA 4.1
3
57.
19
90.
53
80.
72
22.29 69.28 7.
64
0.4
5
2.3 3.20 7.0 7.1
9
2.2
9
2.2 1.7 16.1 13.57 10.81 88.
97
2.
07
8.6
5
0.3
2
7.50 51.30 41.
46
15.01
5 DOMPU 3.6
5
62.
55
89.
75
73.
42
11.39 82.28 7.
97
0.0
0
3.1 1.93 12.0 6.0
2
4.8
9
2.9 2.6 44.6 9.62 11.26 83.
98
4.
36
11.
36
0.3
1
6.53 36.28 18.
88
16.11
6 BIMA 3.9
1
70.
60
90.
98
73.
45
24.65 78.60 7.
59
0.2
5
2.6 3.18 9.8 7.2
6
2.5
0
1.5 1.5 17.9 7.48 18.07 90.
87
2.
11
7.0
1
0.0
0
6.67 43.05 18.
94
20.73
7 SUMBAWA BARAT * 3.8
3
70.
61
96.
76
87.
50
20.31 93.75 8.
02
1.4
3
1.5 3.25 7.0 7.0
5
8.8
6
3.0 1.5 18.8 6.75 13.29 88.
12
2.
11
9.3
7
0.3
9
7.27 21.20 15.
06
13.55
8 LOMBOK UTARA 7.2
7
67.
62
86.
26
36.
36
21.21 39.39 5.
61
0.0
0
4.9 0.00 12.4 5.5
1
1.6
8
1.2 3.2 14.8 13.99 4.13 92.
81
2.
92
4.2
7
0.0
0
5.54 23.20 5.3
2
20.83
B NUSA TENGGARA TIMUR 2.9
1
49.
82
46.
32
33.
57
50.86 74.06 6.
72
4.0
2
1.5
7
6.22 6.46 9.1
9
7.9
2
2.24 1.0
6
19.27 29.91 38.85 92.
51
2.
76
4.6
8
0.0
5
10.86 47.03 12.
88
30.49
9 SUMBA BARAT 2.3
1
47.
25
33.
16
23.
33
38.33 98.33 6.
62
0.8
8
1.4 5.68 8.7 5.9
4
5.9
7
2.8 0.8 12.8 14.71 12.32 90.
23
3.
90
5.8
3
0.0
4
7.67 17.24 5.6
8
17.09
10 SUMBA TIMUR 1.7
9
43.
36
44.
01
39.
10
57.69 91.03 6.
44
4.7
0
1.5 9.77 4.6 11.
46
7.8
6
1.5 1.0 11.6 49.83 73.20 89.
98
2.
21
7.6
8
0.1
3
10.46 74.02 15.
88
43.16
11 KUPANG 3.1
4
15.
13
51.
66
51.
98
43.42 28.51 7.
45
3.0
0
1.8 6.17 6.8 12.
07
6.7
8
0.9 1.3 6.9 41.81 41.74 90.
51
2.
62
6.6
9
0.1
9
7.34 41.44 16.
93
39.82
12 TIMOR TENGAH SELATAN 2.2
6
63.
00
25.
54
24.
58
55.00 67.08 6.
69
3.5
0
2.1 5.81 5.5 9.6
3
10.
98
1.0 1.1 6.6 31.76 20.06 92.
77
2.
69
4.5
4
0.0
0
9.77 48.07 11.
57
29.09
13 TIMOR TENGAH UTARA 2.3
3
56.
47
50.
35
48.
44
57.29 75.00 6.
92
1.3
7
1.3 4.03 5.1 6.8
8
7.6
3
1.2 1.2 11.0 27.35 24.68 89.
67
2.
30
7.8
5
0.1
8
6.80 35.43 7.5
9
19.83
14 BELU 4.1
8
28.
15
37.
90
49.
04
45.19 54.81 6.
56
1.8
5
1.6 5.48 2.9 5.8
1
7.9
5
1.6 1.4 16.3 24.10 23.88 93.
38
2.
48
4.1
5
0.0
0
7.48 58.71 16.
05
17.12
15 ALOR 4.1
2
81.
52
52.
92
34.
29
41.71 69.14 7.
47
1.5
0
1.3 6.74 5.5 8.3
7
7.1
6
1.9 1.1 12.9 44.59 43.53 93.
60
1.
61
4.7
9
0.0
0
16.30 71.17 7.1
8
72.54
16 LEMBATA 2.9
1
44.
62
66.
12
25.
69
64.58 88.19 7.
02
0.9
8
1.2 3.73 6.0 8.8
0
5.2
3
3.0 1.2 10.9 19.80 26.12 92.
72
3.
38
3.9
0
0.0
0
8.94 38.90 6.2
2
18.81
17 FLORES TIMUR * 2.9
1
67.
46
73.
96
24.
40
49.60 80.40 6.
76
0.8
1
1.2 3.65 3.2 6.3
5
5.3
8
1.8 1.0 21.2 17.13 56.39 94.
53
1.
81
3.5
5
0.1
0
7.33 39.37 9.7
7
20.78
18 SIKKA * 2.8
6
73.
38
50.
93
29.
38
49.38 73.13 6.
59
2.1
8
1.9 4.71 2.7 6.8
5
4.0
5
2.0 1.9 17.2 23.89 30.70 92.
58
3.
12
4.1
2
0.1
8
8.85 32.50 8.5
7
21.88
19 ENDE 2.3
8
50.
84
70.
79
23.
83
42.99 76.64 7.
55
5.0
8
1.6 5.70 4.4 8.3
4
13.
51
2.0 0.8 15.0 29.78 37.31 88.
60
4.
36
7.0
0
0.0
4
9.19 50.01 11.
95
23.25
20 NGADA * 0.7
8
41.
00
80.
29
38.
83
41.75 54.37 7.
63
2.0
0
1.5 6.39 5.6 10.
73
5.0
7
2.1 1.1 25.9 25.58 20.70 90.
38
4.
61
5.0
0
0.0
2
10.06 33.67 11.
02
23.94
21 MANGGARAI 3.6
4
28.
15
48.
34
14.
09
36.91 72.48 6.
83
0.7
9
1.5 5.13 8.2 6.6
6
4.4
7
5.9 1.3 38.2 27.48 27.02 92.
34
2.
98
4.5
9
0.0
9
11.71 33.81 14.
77
23.42
22 ROTE NDAO 1.3
1
5.0
7
42.
27
77.
27
50.00 72.73 6.
46
0.6
0
1.6 4.93 7.5 10.
85
3.3
1
2.1 1.0 16.5 25.57 58.13 91.
24
1.
78
6.9
8
0.0
0
10.48 32.04 7.6
6
29.70
23 MANGGARAI BARAT 2.6 74. 42. 15. 57.85 80.99 6. 25. 2.0 9.95 8.9 13. 8.4 3.4 0.8 35.7 35.44 38.80 94. 2. 3.1 0.0 14.16 71.64 13. 36.09
IV - 24

NO. KABUPATEN
P
E
N
G
A
N
G
G
U
R
A
N

(
%
)

P
J
A
L
A
N

T
I
D
A
K

M
A
N
T
A
P

(
%
)

E
L
E
K
T
R
I
F
I
K
A
S
I

(
%
)

D
E
S
A

P
E
N
G
G
U
N
A

A
I
R

B
E
R
S
I
H

U
N
T
U
K

M
I
N
U
M
/
M
E
M
A
S
A
K

(
%
)

K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

S
A
R
A
N
A

I
N
F
O
R
M
A
S
I

D
A
N

K
O
M
U
N
I
K
A
S
I

R
A
T
A
-
R
A
T
A

L
A
M
A

S
E
K
O
L
A
H

(
T
h
)

K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

D
A
N

A
K
S
E
S
I
B
I
L
I
T
A
S

S
A
R
A
N
A

P
E
N
D
I
D
I
K
A
N

R
A
T
A

R
A
T
A

J
A
R
A
K

P
U
S
K
E
S
M
A
S

(
K
m
)

R
A
T
A

R
A
T
A

J
A
R
A
K

P
U
S
K
E
S
M
A
S

P
E
M
B
A
N
T
U

(
K
m
)

K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

T
E
N
A
G
A

K
E
S
E
H
A
T
A
N

(
D
O
K
T
E
R
/
B
I
D
A
N
/
P
A
R
A
M
E
D
I
S
)

A
K
S
E
S
I
B
I
L
I
T
A
S

K
E

T
E
N
A
G
A

K
E
S
E
H
A
T
A
N

(
K
m
)

J
U
M
L
A
H

A
P
A
R
A
T
U
R

D
A
E
R
A
H

B
E
R
D
A
S
A
R
K
A
N

P
E
N
D
I
D
I
K
A
N

A
K
S
E
S
I
B
I
L
I
T
A
S

K
E

S
A
R
A
N
A

P
E
M
E
R
I
N
T
A
H
A
N

A
K
S
E
S
I
B
I
L
I
T
A
S

S
A
R
A
N
A
F
I
S
I
K

K
E
G
I
A
T
A
N

E
K
O
N
O
M
I

D
E
S
A

T
I
D
A
K

T
E
R
J
A
N
G
K
A
U

S
I
N
Y
A
L

S
E
L
U
L
E
R
(
%
)

D
E
S
A

T
I
D
A
K

T
E
R
J
A
N
G
K
A
S
I
A
R
A
N

T
V
R
I

(
%
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

S
D

(
K
m
)

R
A
T
A

R
A
T
A

K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

S
D

/

D
E
S
A

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

S
M
P

(
K
m
)

R
A
T
A

R
A
T
A

K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

S
M
P

/

K
E
C
A
M
A
T
A
N

R
A
T
A

R
A
T
A

K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

D
O
K
T
E
R

/

K
E
C
A
M
A
T
A
N

R
A
T
A

R
A
T
A

K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

B
I
D
A
N

/

D
E
S
A

R
A
T
A

R
A
T
A

K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

P
A
R
A
M
E
D
I
S

/

K
E
C
A
M
A
T
A
N

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

P
R
A
K
T
E
K

D
O
K
T
E
R

(
K
m
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

P
R
A
K
T
E
K

B
I
D
A
N

(
K
m
)

<

S
M
U

(
%
)

D
1
/
D
2
/
D
3

(
%
)

D
4
/
S
1

(
%
)

S
2
/
S
3

(
%
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

K
E

K
A
N
T
O
R

K
E
C
A
M
A
T
A
N

(
K
m
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

K
E

K
A
N
T
O
R

K
A
B
U
P
A
T
E
N

(
K
m
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

P
A
S
A
R

(
K
m
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

L
E
M
B
A
G
A

K
E
U
A
N
G
A
N

(
B
A
N
K

U
M
U
M
)

(
K
m
)

9 31 90 70 58 98 37 1 67 22 1 0 47
24 SUMBA BARAT DAYA 1.8
4
69.
91
15.
46
8.3
3
35.42 100.0
0
6.
21
0.0
0
2.0 5.40 7.5 6.5
4
4.5
5
2.8 1.3 24.6 29.69 39.95 92.
31
2.
93
4.7
7
0.0
0
6.99 31.94 7.4
3
25.43
25 SUMBA TENGAH 2.5
9
60.
42
39.
32
20.
93
60.47 81.40 5.
34
6.0
0
1.6 12.58 8.0 14.
81
5.9
3
1.6 0.7 15.0 33.68 66.13 94.
53
3.
37
2.1
0
0.0
0
19.63 28.19 19.
21
41.11
26 NAGEKEO 1.7
2
64.
83
42.
84
17.
00
55.00 69.00 7.
15
15.
00
1.6 4.19 8.0 9.8
9
4.9
9
1.9 1.3 29.9 26.88 26.71 93.
02
3.
20
3.7
0
0.0
8
10.69 44.95 23.
65
19.22
27 MANGGARAI TIMUR 1.0
8
53.
77
36.
88
6.8
2
78.98 73.30 6.
53
2.0
0
1.6 9.10 15.3 10.
76
7.0
9
4.0 0.6 52.3 39.54 38.18 97.
38
1.
54
1.0
8
0.0
0
27.83 72.17 18.
81
48.22
28 SABU RAIJUA 11.
28
27.
78
20.
80
98.
41
55.56 74.60 5.
54
2.2
5
1.0 5.24 5.0 9.6
0
32.
16
1.3 0.5 4.8 29.66 71.42 95.
72
2.
03
2.2
5
0.0
0
5.59 26.03 24.
23
39.23
RATA RATA WILAYAH 4.0
6
58.
16
67.
44
53.
85
33.29 68.01 6.
86
2.2
1
2.5
3
4.50 8.61 7.3
0
5.5
1
2.60 1.4
4
22.35 18.77 23.70 91.
27
2.
63
5.9
8
0.1
2
8.42 38.37 13.
49
22.05
RATA RATA DATING 5.4
1
55.
41
69.
27
52.
29
47.97 78.18 7.
31
13.
5
1.5
2
13.43 5.66 14.
22
12.
96
8.77 1.0
6
39.58 34.00 34.36 92.
28
2.
48
5.0
2
0.2
2
12.61 53.97 25.
02
45.02
RATA RATA NASIONAL 7.2
4
48.
78
83.
18
66.
55
32.11 48.63 7.
9
8.7
3
2.1
4
7.97 5.89 8.9
1
7.6 11.2 1.1
2
37.46 18.51 16.69 89.
85
3.
03
6.7
0
0.4
2
10.32 48.25 14.
83
24.92
Sumber: BPS 2012, Podes 2011
Keterangan: *) 70 Kabupaten berpotensi terentaskan
IV - 25

4.5.3.2 Pengembangan Kawasan Perbatasan

Arah kebijakan Pengembangan Kawasan Perbatasan di Wilayah Kepulauan Nusa
Tenggara difokuskan untuk meningkatkan peran kawasan perbatasan sebagai halaman
depan negara yang maju dan berdaulat dengan negara yaitu RDTL dan Australia. Fokus
Pengembangan Kawasan Perbatasan di Wilayah Nusa Tenggara diarahkan pada
pengembangan Pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN) di Wilayah Kepulauan Nusa
Tenggara, yaitu PKSN Atambua, PKSN Kefamenanu dan PKSN Kalabahi, serta Kecamatan
Lokasi Prioritas (Lokpri) penanganan kawasan perbatasan tahun 2015-2019.
Strategi pengembangan kawasan perbatasan diarahkan untuk mewujudkan
kemudahan aktivitas masyarakat kawasan perbatasan dalam berhubungan dengan negara
tetangga dan menciptakan kawasan perbatasan yang berdaulat. Strategi tersebut dilakukan
sebagai berikut:
1. Penguatan pengelolaan dan fasilitasi penegasan, pemeliharaan dan pengamanan
kawasan perbatasan Nusa Tenggara
Penguatan pengelolaan dan fasilitasi penegasan, pemeliharaan, dan pengamanan
kawasan perbatasan, secara terpadu di Wilayah Nusa Tenggara dengan strategi
sebagai berikut:
a. Mengembangkan pusat pelayanan kepabeanan, imigrasi, karantina, dan keamanan
terpadu di PKSN Atambua, PKSN Kefamenanu, dan PKSN Kalabahi;
b. Mengembangkan pusat kegiatan pertahanan dan keamanan negara di PKSN
Kefamenanu, PKSN Atambua, dan PKSN Kalabahi;
c. Membenahi aktivitas lintas batas di pintu-pintu alternatif (ilegal) di kawasan
perbatasan di Belu, Timor Tengah Utara, Rote, Alor, dan Kupang;
d. Meningkatkan upaya perundingan dalam penetapan dan penegasan segmen-
segmen batas wilayah negara RI- RDTL;
e. Meningkatkan kapasitas tim perunding dari tingkat teknis, strategi, hingga
kebijakan (pengambilan keputusan);
f. Mendayagunakan Pulau-Pulau Kecil Terluar di Pulau Alor, Pulau Dana, Pulau
Batek, Pulau Ndana dan Pulau Manggudu dengan pendekatan keamanan, ekonomi
dan lingkungan;
g. Memperkuat pertahanan dan pengamanan perbatasan wilayah laut dan darat baik
dengan penambahan sarana dan prasarana alutsista maupun non alutsista;
h. Menjalin kerjasama pengamanan dan pertahanan kawasan perbatasan negara
antara RI-RDTL dan RI-Australia;
i. Pembentukan kerjasama patroli pertahanan dan keamanan batas wilayah Negara
RI-RDTL dan RI-Australia;
j. Sosialisasi batas wilayah laut negara RI-RDTL dan RI-Australia kepada masyarakat
perbatasan Wilayah Nusa Tenggara;
IV - 26

k. Mengembangkan standar operasional prosedur (SOP) pertahanan dan keamanan
yang profesional bagi aparatur pengaman perbatasan.
2. Pengembangan Ekonomi Lokal
Pengembangan ekonomi lokal secara terpadu pada kawasan perbatasan negara di
Wilayah Nusa Tenggara dengan strategi sebagai berikut:
a. Meningkatkan kualitas dan kuantitas supplyperikanan tangkap dan sumber daya
kelautan, peternakan, pertanian tanaman pangan, dan perkebunan melalui
pengembangan sarana dan prasarana produksi, pengolahan, dan pemasaran di
PKSN Kalabahi, PKSN Atambua, dan PKSN Kefamenanu;;
b. Meningkatkan nilai potensi pariwisata alam dan budaya melalui pengelolaan
pariwisata yang optimal (promosi dan penyediaan infrastruktur penunjang
pariwisata) di PKSN Kalabahi, PKSN Kefamenanu, dan PKSN Atambua;
c. Mengembangkan program transmigrasi di kawasan perbatasan dalam bentuk Kota
Terpadu Mandiri kawasan perbatasan Nusa Tenggara Timur;
d. Mengembangkan pusat perdagangan berbasis komoditas lokal berorientasi pasar
ke negara tetangga (RDTL dan Australia) di PKSN Atambua, PKSN Kefamenanu,
dan PKSN Kalabahi;
e. Mengembangkan balai-balai latihan kerja untuk meningkatkan mengelola
komoditas unggulan lokal yang berorientasi pasar ke negara RDTL maupun
Australia.
3. Penguatan Konektivitas dan Sislognas
Peningkatan konektivitas kawasan perbatasan negara di Wilayah Nusa Tenggara
dengan strategi sebagai berikut:
a. Mempercepat pembangunan konektivitas dengan membangun sistem jaringan
jalan lokal di Kecamatan Lokasi Prioritas (Lokpri) dan antar Lokpri yang saling
terhubung dengan pusat kegiatan ekonomi di Kecamatan Lokasi Prioritas (Lokpri)
Kabupaten Timor Tengah Utara, Kupang, dan Belu, terutama desa-desa yang masih
terisolir;
b. Meningkatkan intensitas dan pelayanan keperintisan yang menghubungkan pulau-
pulau di kawasan perbatasan negaradi Kecamatan Lokasi Prioritas (Lokpri)
Kabupaten Alor dan Kabupaten Rote Ndao, termasuk pulau kecil terluar
berpenduduk di Wilayah Nusa Tenggara dengan pusat pertumbuhan/aktivitas
ekonomi;
c. Mengembangkan dermaga keperintisan pada pulau-pulau kecil terluar
berpenduduk;
d. Menjamin ketersedian logistik, khususnya untuk pulau-pulau kecil terluar
berpenduduk;
e. Mengembangkan pusat pelayanan transportasi laut dan udara internasional di
Kupang, PKSN Kalabahi, dan PKSN Atambua Mengembangkan pusat pelayanan
IV - 27

transportasi laut dan udara internasional di Kupang, PKSN Kalabahi, dan PKSN
Atambua;
f. Menyediakan infrastruktur dasar kewilayahan terutama jalan, listrik, air bersih,
dan telekomunikasi di Kecamatan Lokasi Prioritas (Lokpri).
4. Penguatan Kemampuan SDM dan Iptek
Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi (IPTEK) di kawasan perbatasan negara di Wilayah Nusa Tenggara dengan
strategi sebagai berikut:
a. Mengembangkan dan meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan kejuruan
dan keterampilan berbasis sumber daya lokal (kelautan, peternakan, pertanian
tanaman pangan, dan perkebunan) di kawasan perbatasan Belu, Timor Tengah
Utara, Alor, Kupang, Rote Ndao;
b. Meningkatkan akses pelayanan sosial dasar (pendidikan dan kesehatan) di
kawasan perbatasan negara, termasuk orientasi pelayanan kepada RDTL;
c. Menyediakan tenaga pendidikan dan kesehatan yang handal serta penyedian
insentif, serta sarana prasarana penunjang yang memadai, khususnya di pulau-
pulau kecil terluar berpenduduk;
d. Meningkatkan kapasitas aparatur wilayah perbatasan melalui penerapan
kebijakan wajib tugas belajar dan pelatihan teknis, agar diperoleh sumberdaya
aparatur yang memiliki kemampuan dan merumuskan kebijakan pengelolaan
kawasan perbatasan dan pelayanan yang diperlukan oleh masyarakat perbatasan;
e. Mengembangkan teknologi tepat guna dalam menunjang pengelolaan sumber
daya alam/potensi lokal di kawasan perbatasan;
5. Penguatan Regulasi dan Insentif
Dalam upaya mendukung pengembangan kawasan perbatasan negara, harmonisasi
regulasi agar afirmasi terhadap pengembangan kawasan perbatasan. Beberapa
regulasi yang kurang harmonis dalam mendukung afirmasi terhadap pengembangan
kawasan perbatasan sebagai berikut:
a. Kemudahan masyarakat perbatasan yang tinggal di kawasan lindung untuk
memanfaatkan sumber daya alam yang ada di dalamnya, serta untuk kemudahan
pembangunan infrastruktur yang melalui hutan lindung;
b. Regulasi pengelolaan lintas batas,
c. Regulasi Perdagangan lintas batas Perjanjian kerjasama antara RI-RDTL maupun
RI-Australia dalam pengembangan kawasan perbatasan negara.
d. Regulasi yang berkaitan dengan pengelolaan Dryport
e. Regulasi untuk memberikan kewenangan yang lebih luas (asimetrik) kepada
Pemerintah Pusat untuk menyediakan sumber daya air, pengelolaan jalan non
status, dan pelayanan pendidikan dan kesehatan di kawasan perbatasan dan
pulau-pulau kecil terluar;
IV - 28

f. Penciptaan iklim investasi yang kondusif di kawasan perbatasan;
g. Pembagian kewenangan atau urusan antar jenjang pemerintah: pusat, provinsi,
dan kabupaten/kota dalam pengelolaan kawasan perbatasan;
h. Kelembagaan pengelola perbatasan yang memiliki otoritas penuh untuk
mengelola pos-pos lintas batas negara;
i. Pengkhususan pemberian kewenangan bagi pemerintahan kecamatan di wilayah
perbatasan (Lokpri) dalam bentuk desentralisasi asimetrik dengan penetapan
daerah khusus untuk akselerasi pembangunan dan efektivitas peningkatan
kualitas pelayanan publik.;
j. Penyusunan Rencana Tata Ruang termasuk Detail Tata Ruang Kawasan
Perbatasan di Nusa Tenggara Timur.
Adapun sebaran lokasi prioritas pengembangan kawasan perbatasan dapat dilihat pada
tabel 4.8 dan gambar 4.4
TABEL 4.8
DAFTAR LOKASI PRIORITAS PENGEMBANGAN KAWASAN PERBATASAN
WILAYAH KEPULAUAN NUSA TENGGARA

No. Kabupaten Kecamatan Lokasi Prioritas
1 Kupang Amfoang Timur
2
Timor Tengah
Utara
Insana Utara, Kefamenanu,
Miaomaffo Barat, Bikomi Utara,
Bikomi Tengah, Bikomo selatan,
Bikomi Nalulat, Mutis, Musi, Nalbenu
3
Belu
Atambua, Lamaknen, Lamaknen
Selatan, Lasiolat, Tasifeto Timur,
Raihat, Tasifeto Barat, Nanaet
Dubesi, Malaka Barat
4
Malaka
Malaka Barat, Kobalima Timur,
Kobalima, Malaka Tengah, Wewiku
5 Rote Ndao Rote Barat Daya, Rote Ndao, Rote
Ndao, Rote Baru, Rote Barat Laut,
Rote Selatan, Rote Timur, Lobalain,
Pantai Baru
6 Alor Teluk Mutiara, Alor Timur, Alor
Selatan, Alor Barat Daya, Pureman,
Mataru, Pantar, Pantar Tengah,
Pantar Barat Laut, Pantar Barat
7 Sabu Raijua Raijua
Sumber: Bappenas, 2014

IV - 29

GAMBAR 4.4

IV - 30

4.5.4 Penanggulangan Bencana
Provinsi Nusa Tenggara Timur merupakan wilayah kepulauan yang terdiri dari 566
pulau, yang telah berpenghuni adalah sekitar 42 pulau. Di Wilayah Nusa Tenggara Timur
terdapat 11 gunung api dan 40 sungai besar. Berdasarkan IRBI 2013, seluruh
kabupaten/kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur berada dalam kelas risiko tinggi. Wilayah
Provinsi Nusa Tenggara Barat dilalui oleh sekitar 155 buah sungai yang berhulu antara lain
di 15 gunung, termasuk Gunung Rinjani di Pulau Lombok dan gunung Tambora di Pulau
Sumbawa. Ancaman bencana di wilayah Kepulauan Nusa Tenggara adalah gempa bumi,
tsunami, letusan gunung api, kekeringan, banjir dan longsor.
Arah kebijakan penanggulangan bencana untuk mendukung pengembangan wilayah
Kepulauan Nusa Tenggara adalah mengurangi risiko bencana pada pusat-pusat
pertumbuhan dan meningkatkan ketangguhan pemerintah, pemerintah daerah dan
masyarakat dalam menghadapi bencana. Strategi untuk melaksanakan arah kebijakan
tersebut adalah:
1. Internalisasi pengurangan risiko bencana dalam kerangka pembangunan
berkelanjutan, melalui:
a. Harmonisasi kebijakan dan regulasi penanggulangan bencana di wilayah Kepulauan
Nusa Tenggara
b. Melakukan pengenalan, penilaian dan pemantauan risiko bencana menggunakan
kajian dan peta risiko skala 1:50.000 pada kabupaten sasaran dan skala 1:25.000
untuk kota sasaran dengan memperhatikan indikator risiko iklim
c. Pemanfaatan kajian dan peta risiko bagi penyusunan Rencana Penanggulangan
(RPB) Bencana Kab/Kota, yang menjadi referensi untuk penyusunan RPJMD
Kab/Kota , serta untuk mereview RTRW Kabupaten/Kota setiap jangka waktu 5
tahun
d. Penyusunan rencana kontinjensi pada kabupaten/kota sasaran sebagai panduan
kesiapsiagaan dan operasi tanggap darurat

2. Penurunan tingkat kerentanan terhadap bencana melalui:
a. menyediakan infrastruktur mitigasi dan kesiapsiagaan (jalur evakuasi dan shelter)
untuk ancaman tsunami, letusan gunung api, banjir dan longsor
b. mengembangkan IPTEK dan pendidikan untuk pencegahan dan kesiapsiagaan
menghadapi bencana gempa bumi, tsunami, banjir, longsor dan kekeringan
c. membangun dan memberikan perlindungan bagi prasarana vital yang diperlukan
untuk memastikan keberlangsungan pelayanan publik, kegiatan ekonomi
masyarakat, keamanan dan ketertiban pada situasi darurat dan pasca bencana
d. bekerjasama dengan media cetak, radio dan televisi untuk mengembangkan skema
komunikasi antar pulau bagi peningkatan kesiapsiagaan
e. Penegakan rencana tata ruang kabupaten/kota sebagai instrumen pengendalian
pemanfaatan ruang
IV - 31

f. Mengembangkan skema pemulihan paska bencana serta skema social safety net
terutama bagi kelompok masyarakat miskin dan kelompok usaha mikro/kecil pada
lokasi rawan bencana
g. Meningkatkan kerjasama dengan OMS dan dunia usaha untuk mengurangi
kerentanan ekonomi masyarakat wilayah Maluku
3. Peningkatan kapasitas aparatur dan masyarakat melalui:
a. Membangun 1 (satu) pusat logistik kebencanaan regional di wilayah Nusa Tenggara
b. Menyediakan, memelihara dan mengoperasikan sistem peringatan dini gempa bumi
dan tsunami di kota Kupang dan Mataram
c. Menyediakan, memelihara dan mengoperasikan sistem peringatan dini banjir dan
longsor di kabupaten/kota sasaran
d. Memperkuat kapasitas manajemen logistik untuk kedaruratan
e. Pelatihan bagi aparatur dan kelompok masyarakat untuk meningkatkan
pengetahuan pengurangan risiko bencana
f. Melaksanakan simulasi tanggap darurat secara berkala untuk meningkatkan
kesiapsiagaan
g. Mengembangkan Desa Tangguh Bencana untuk memobilisasi sumberdaya lokal
dengan prinsip pengelolaan sumber daya berkelanjutan terutama pada desa pesisir
di kabupaten/kota sasaran

TABEL 4.9
PROFIL KERAWANAN RISIKO BENCANA PADA PUSAT PERTUMBUHAN
DI WILAYAH KEPULAUAN NUSA TENGGARA

Lokasi
Index Kerawanan
(IRBI 2011)
Kelas Multi Risiko
(IRBI 2013)
KAPET Bima di Kota Bima dengan
wilayah-wilayah sentra produksi
bahan baku di Kabupaten Bima,
dan Kabupaten Dompu.
Tinggi untuk gempabumi,
gelombang dan abrasi
Kota Bima: tinggi
Kab. Bima: tinggi
Kab. Dompu: tinggi

KAPET Mbay-Kab. Ngada Tinggi untuk gempa bumi,
tsunami, banjir
Kab. Ngada: Tinggi
KEK Mandalika-Kab. Lombok
Tengah
Tinggi untuk gempa bumi Kab. Lombok Tengah:
tinggi
Pusat Kegiatan Nasional (PKN) Nusa Tenggara
Kupang Tinggi untuk ancaman:
Gempa bumi, tsunami, banjir,
cuaca ekstrim, abrasi,
Tinggi
Mataram Tinggi untuk ancaman:
gempabumi, tsunami, cuaca
ekstrim, abrasi
Tinggi
IV - 32

GAMBAR 4.5



IV - 33

Lokasi
Index Kerawanan
(IRBI 2011)
Kelas Multi Risiko
(IRBI 2013)
KAPET Bima di Kota Bima dengan
wilayah-wilayah sentra produksi
bahan baku di Kabupaten Bima,
dan Kabupaten Dompu.
Tinggi untuk gempabumi,
gelombang dan abrasi
Kota Bima: tinggi
Kab. Bima: tinggi
Kab. Dompu: tinggi

KAPET Mbay-Kab. Ngada Tinggi untuk gempa bumi,
tsunami, banjir
Kab. Ngada: Tinggi
KEK Mandalika-Kab. Lombok
Tengah
Tinggi untuk gempa bumi Kab. Lombok Tengah:
tinggi
Pusat Kegiatan Nasional (PKN) Nusa Tenggara
Kupang Tinggi untuk ancaman:
Gempa bumi, tsunami, banjir,
cuaca ekstrim, abrasi,
Tinggi
Mataram Tinggi untuk ancaman:
gempabumi, tsunami, cuaca
ekstrim, abrasi
Tinggi
Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) Nusa Tenggara
Praya Kab. Lombok Tengah Tinggi untuk ancaman: banjir,
gempabumi, abrasi, kekeringan
Tinggi
Raba Kab. Bima Tinggi untuk ancaman: banjir,
gempabumi, cuaca ekstrim,
kekeringan
Tinggi
Sumbawa Besar Kab. Sumbawa Tinggi untuk ancaman:
gempabumi, tsunami, cuaca
ekstrim, banjir dan tanah
longsor, letusan gunung api
Tinggi
Soe Kab. Timor Tengah Selatan Tinggi untuk ancaman: banjir
dan tanah longsor, cuaca
ekstrim, abrasi
Tinggi
Kefamenanu - Kab. Timor Tengah
Utara
Tinggi untuk ancaman: banjir,
angin topan
Tinggi
Ende Tinggi untuk ancaman: banjir
dan tanah longsor, cuaca
ekstrim, abrasi
tinggi
Maumere Sikka Tinggi untuk ancaman: banjir
dan tanah longsor, letusan
gunung api, abrasi, gempabumi,
tsunami, cuaca ekstrim
Tinggi
Waingapu Kab. Sumba Timur Tinggi untuk ancaman: abrasi,
cuaca ekstrim
Tinggi
Ruteng Kab. Manggarai Tinggi untuk ancaman: banjir
dan tanah longsor, cuaca
ekstrim, abrasi
Tinggi
Labuan Bajo Kab. Manggarai Barat Tinggi untuk ancaman: banjir
dan tanah longsor, cuaca
ekstrim
Tinggi
IV - 34

Lokasi
Index Kerawanan
(IRBI 2011)
Kelas Multi Risiko
(IRBI 2013)
Pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN) Nusa Tenggara
Atambua Kab. Belu Tinggi untuk ancaman: angin
topan, banjir dan tanah longsor
Tinggi
Kalabahi Kab. Alor Tinggi untuk ancaman:
gempabumi, cuaca, abrasi
Tinggi
Kefamenanu Kab. Timor Tengah
Utara
Tinggi untuk ancaman: banjir,
cuaca ekstrim
Tinggi
Sumber: Data diolah, Bappenas, 2014.

4.5.5 Pengembangan Tata Ruang Wilayah Kepulauan Nusa Tenggara
A. Arah Kebijakan Tata Ruang Wilayah Kalimantan
Dalam rangka untuk mempercepat pembangunan Wilayah Kepulauan Nusa
Tenggara tersebut, diperlukan beberapa kebijakan sebagai berikut: (i) percepatan
pengembangan kawasan strategis; (ii) percepatan pengembangan daerah tertinggal,
termasuk percepatan pengembangan kawasan perbatasan, pulau-pulau terluar dan daerah
transmigrasi; (iii) percepatan pengembangan wilayah perkotaan dan perdesaan. Selain hal
itu, untuk mendukung pelaksanaan percepatan pembangunan tersebut, diperlukan
landasan utama pembangunan, yaitu: (i) penataan, pemanfaatan dan pengendalian tata
ruang yang ditujukan untuk perlindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak negatif
terhadap lingkungan akibat pemanfaatan ruang dan (ii) penanggulangan bencana dan
risiko bencana serta (iii) peningkatan tata kelola pemerintahan dan otonomi daerah.
Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, arah kebijakan yang diigariskan adalah
sebagai berikut:
1. Kebijakan untuk mewujudkan ketersediaan air sepanjang tahun dan kelestarian
ekosistem kepulauan yang mendukung kegiatan pengembangan wilayah secara
berkelanjutan meliputi:
a. Pelestarian kawasan berfungsi lindung yang bervegetasi hutan tetap paling
sedikit 30% (tiga puluh persen) dari luas daratan Wilayah Kepulauan Nusa
Tenggara sesuai dengan kondisi ekosistemnya dan pelestarian kawasan
keanekaragaman hayati kelautan dunia; dan
b. Pengendalian perkembangan kawasan permukiman perkotaan dan kawasan
budi daya terbangun pada Wilayah Pesisir, Pulau Kecil, dan kawasan rawan
bencana.
2. Kebijakan untuk mewujudkan lumbung ternak nasional melalui pengembangan
kawasan perkotaan nasional sebagai pusat industri pengolahan, industri kerajinan,
dan industri jasa hasil peternakan.
3. Kebijakan untuk mewujudkan pusat pertumbuhan ekonomi berbasis perikanan dan
kelautan, hortikultura dan perkebunan, pertanian tanaman pangan serta kehutanan
yang berdaya saing dengan prinsip berkelanjutan meliputi:
a. Pengembangan kawasan minapolitan; dan
IV - 35

b. Pengembangan jaringan prasarana dan sarana yang terpadu untuk mewujudkan
poros Indonesia Bagian Tenggara.
4. Kebijakan untuk mewujudkan Kawasan Perbatasan sebagai beranda depan negara
dan pintu gerbang internasional yang berbatasan dengan Negara Timor Leste dan
Negara Australia meliputi:
a. Percepatan pengembangan Kawasan Perbatasan dengan pendekatan pertahanan
dan keamanan negara, kesejahteraan masyarakat, serta kelestarian lingkungan
hidup; dan
b. Pemertahanan eksistensi 6 (enam) PPKT sebagai titik-titik garis pangkal
Kepulauan Indonesia.
B. Strategi Pengembangan Tata Ruang Wilayah Kepulauan Nusa Tenggara
I. Pengembangan Kawasan Lindung
Strategi pelestarian kawasan berfungsi lindung yang bervegetasi hutan tetap paling
sedikit 30% (tiga puluh persen) dari luas daratan Wilayah Kepulauan Nusa Tenggara
sesuai dengan kondisi ekosistemnya dan pelestarian kawasan keanekaragaman hayati
kelautan dunia meliputi:
a. Mempertahankan dan merehabilitasi kawasan hutan lindung, kawasan resapan
air, sungai, danau, dan waduk;
b. Mempertahankan luasan dan merehabilitasi kawasan suaka alam dan
pelestarian alam yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi;
c. Meningkatkan fungsi ekologis kawasan peruntukan hutan terutama di Pulau
Kecil;
d. Mengendalikan kegiatan budi daya yang berpotensi mengganggu fungsi
kawasan berfungsi lindung;
e. Mengendalikan kegiatan budi daya laut yang mengancam habitat
keanekaragaman hayati laut; dan
f. Mencegah pengembangan pelabuhan dan/atau alur pelayaran yang berpotensi
mengganggu fungsi Kawasan Lindung dan ekosistem pesisir.
Strategi pengendalian perkembangan kawasan permukiman perkotaan dan
kawasan budidaya terbangun pada Wilayah Pesisir, Pulau Kecil, dan kawasan rawan
bencana meliputi:
a. Mengendalikan pemanfaatan ruang pada kawasan permukiman perkotaan dan
kawasan budi daya terbangun yang berada di kawasan rawan tanah longsor,
gelombang pasang, banjir, letusan gunung berapi, gempa bumi, gerakan tanah,
tsunami, dan abrasi; dan
b. Mengendalikan alih fungsi dan merehabilitasi kawasan pantai berhutan bakau di
kawasan perkotaan nasional.
II. Pengembangan Kawasan Budidaya
Strategi terkait pengembangan kawasan budidaya mencakup strategi-strategi yang
menjabarkan arah kebijakan dalam rangka mewujudkan lumbung ternak nasional; arah
IV - 36

kebijakan dalam rangka mewujudkan pusat pertumbuhan ekonomi berbasis perikanan dan
kelautan, hortikultura dan perkebunan, pertanian tanaman pangan serta kehutanan yang
berdaya saing dengan prinsip berkelanjutan; serta arah kebijakan dalam rangka
mewujudkan kawasan perbatasan sebagai beranda depan negara dan pintu gerbang
internasional.
Strategi untuk arah kebijakan pengembangan kawasan perkotaan nasional sebagai
pusat industri pengolahan, industri kerajinan, dan industri jasa hasil peternakan meliputi:
a. Mengembangkan kawasan perkotaan nasional sebagai pusat industri
pengolahan, industri kerajinan, dan industri jasa hasil peternakan yang
didukung oleh pengelolaan limbah industri terpadu; dan
b. Mengembangkan kawasan perkotaan nasional sebagai pusat penelitian dan
pengembangan peternakan.
Strategi untuk arah kebijakan dalam rangka mewujudkan pusat pertumbuhan
ekonomi berbasis perikanan dan kelautan, hortikultura dan perkebunan, pertanian
tanaman pangan serta kehutanan yang berdaya saing dengan prinsip berkelanjutan adalah
sebagai berikut:
a. Mengembangkan kawasan peruntukan industri berbasis komoditas perikanan
dan kelautan; dan
b. Mengembangkan prasarana dan sarana transportasi untuk meningkatkan
keterkaitan antara kawasan perkotaan nasional dan sentra perikanan dan
kelautan.
c. Mengembangkan lintas penyeberangan untuk meningkatkan keterkaitan
antarpulau dan antarwilayah;
d. Mengembangkan jaringan jalan yang terpadu dengan jaringan transportasi
penyeberangan, pelabuhan, dan bandar udara;
e. Mendorong pengembangan pelabuhan di sepanjang ALKI II, ALKI IIIA, dan ALKI
IIID untuk mendukung pelayaran internasional; dan
f. Mengembangkan bandar udara untuk meningkatkan keterkaitan antarwilayah
dan antarnegara.

4.5.6 Tata Kelola Pemerintah Daerah dan Otonomi Daerah
Arah kebijakan pengembangan Wilayah Kepulauan Nusa Tenggara yakni
peningkatan kapasitas pemerintah daerah yang mendorong daya saing berbasis potensi
ekonomi lokal dengan prinsip berkelanjutan, dengan strategi :
1. Peningkatan kualitas belanja daerah untuk kualitas pelayanan yang terkait dengan
pelayanan dasar, khususnya bidang Pendidikan, Kesehatan dan Infrastruktur
2. Peningkatan kapasitas dan cakupan pelayanan publik berbasis wilayah kepulauan
dan perbatasan
IV - 37

3. Pengembangan kompetensi aparatur daerah berdasarkan potensi ekonomi lokal,
baik peternakan, pertanian serta kelautan dan perikanan
4. Peningkatan fasilitasi untuk Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota dalam
rangka pembentukan kerja sama daerah-daerah perbatasan dalam rangka
peningkatan kualitas pelayanan publik
5. Membangun sinergitas kebijakan antar wilayah, khususnya di daerah terluar dan
perbatasan dengan Timur Leste maupun Australia
6. Restrukturisasi Organisasi Perangkat Daerah (OPD) sesuai dengan beban kerja
dalam rangka optimalisasi belanja modal daerah.

4.6 Kaidah Pelaksanaan Pengembangan Wilayah Kepulauan Nusa
Tenggara

4.6.1 Prioritas Program Pembangunan

4.6.1.1. Provinsi Nusa Tenggara Barat

Tabel 4.10
Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
di Provinsi Nusa Tenggara Barat

Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
PERHUBUNGAN UDARA
Pengembangan Bandara Internasional Lombok
PERHUBUNGAN LAUT
Pengembangan Faspel Bima
Pembangunan faspel laut Pelabuhan Lombok
Pengembangan Pelabuhan Lembar
JALAN
Pembangunan Jalan Akses BIL (Patung Sapi - Gadjah Mada)
Pembangunan Jalan Benete - Sejorong - Lunyuk
Pembangunan Jalan dari Bangau - Dompu - Ramba - Lb. Bajo (159,2 km)
Pembangunan Jalan dari Benete - Simpang Negara (72,1km)
Pembangunan Jalan Dompu-Huu
Pembangunan Jalan Gerung-Kuripan-Sp.Panujak-Praya
Pembangunan Jalan Lunyuk-Rapang-Sekokot-Toro-Sp.Dompu-Dompu
Pembangunan Jalan Pemenang - Ampenan
Pembangunan Jalan Pemenang - Tanjung - Bayan - Sanbella - Lb.Lombok
Pembangunan Jalan Penyaring-Labu Sawo dan Moyo - Sebewe (Samota)
Pembangunan Jalan Sekotong - Pelangan
IV - 38

Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
Pembangunan Jalan Sp.Banggo-Sp.Kempo-Doropati-Lb.Kenanga-Kawindatoi-Sp.Kore
Pembangunan Jalan Sp.Panujak-Sengkol-Kuta
Pembangunan Jembatan Penghubung (Labuan Bajo - Pulau Bajo)
KETENAGALISTRIKAN
PLTM Santong 0,85 MW
PLTU Lombok (APBN) 25 MW
PLTU Lombok (FTP1) 2x25 MW
PLTU Bima (FTP1) 2x10 MW
PLTG/MG Lombok Peaker 2x30 MW
PLTU Sumbawa Barat 2x7 MW
PLTU Bima 2 2x10 MW
PLTU Lombok (FTP 2) 2x25 MW
PLTG/MG Lombok Peaker 2 30 MW
PLTA Brang Beh 1 8 MW
PLTA Brang Beh 2 4,1 MW
PLTU Lombok 2 2x25 MW
PLTG/MG Lombok Peaker 3 30 MW
PLTG/MG Lombok Peaker 4 30 MW
PLTP Sembalun (FTP2) 2x10 MW
PLTP Sembalun 2 2x10 MW
PLTU Lombok 3 2x25 MW
PLTU Lombok 56 MW
PLTM PLTM Tersebar NTB 28 MW
PLTU Sumbawa (FTP2) 2x10 MW
PLTU Lombok Timur 2x25 MW
PLTP Hu'u (FTP2) 20 MW
PLTP Hu'u 2 2x20 MW
SUMBER DAYA AIR
Pembangunan Jaringan Irigasi DI. Rababaka Kompleks di Kabupaten Dompu Dompu
Pembangunan Pengendali Banjir Sungai Dodokan Lombok Barat
Rehabilitasi Tanggul Banjir Sungai Babak Lombok Barat
Pembangunan Pengaman Pantai Bintaro/Ampenan Kota Mataram
Pembangunan Pengaman Pantai Batu Nampar Lombok Timur
Pembangunan Bendung Pengalih dan Saluran Interbasin Bendungan Tanju dan Bendungan
Mila Untuk Rababaka Komplek di Kabupaten Dompu Dompu
Pembangunan Bendungan Tanju dan Bendungan Mila Untuk Rababaka Kompleks Dompu
Pembangunan Bendungan Bintangbano Sumbawa
Pembangunan Bendungan Mujur Lombok Tengah
Pembangunan Bendungan Meninting Lombok Barat
Pembangunan Bendungan Krekeh Sumbawa
Pembangunan Embung Rakyat 50 di WS Lombok Tersebar
IV - 39

Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
Pembangunan Embung Rakyat 50 di WS Sumbawa Tersebar
PERHUBUNGAN LAUT
Pengembangan Pelabuhan Bima
Pengembangan Pelabuhan Badas
Pengembangan Pelabuhan Benete







IV - 40


GAMBAR 4.6
IV - 41

4.6.1.2 Provinsi Nusa Tenggara Timur

Tabel 4.11
Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
di Provinsi Nusa Tenggara Timur

Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
PERHUBUNGAN DARAT
Pengembangan Sistem Transit Kota Kupang
PERHUBUNGAN UDARA
Rehabilitasi Bandara El Tari Kupang
PERHUBUNGAN LAUT
Pembangunan dermaga kapal pesiar di Labuan Bajo
Pengembangan Dermaga Wisata di Rinca
Pengembangan dermaga pariwisata di Ende
Pembangunan dermaga pariwisata di Maumere
Pengembangan Faspel Laut Marapokot
Pengembangan Pelabuhan Tenau
Penanganan Fasilitas Pelabuhan Laut Pulau Komodo untuk mendukung Pariwisata
JALAN
Pembangunan Jalan Kendidi - Ruteng
Pembangunan Jalan Bajawa - Ende
Pembangunan Jalan Baranusa-Kabir
Pembangunan Jalan Bolok - Lapter.penfui
Pembangunan Jalan Ende - Maumere Magepanda
Pembangunan Jalan Lewoleba-Balauring
Pembangunan Jalan Lingkar Selatan Pulau Timor (Batuputih-Panite-Oinlausi-Boking-Motamasin)
Pembangunan Jalan Lingkar Utara Pulau Flores (Ngorang-Kondo-Reo-Riung-Megapanda-Maumere)
Pembangunan Jalan Detusoko - Ronokolo
Pembangunan Jalan poros tengah di Kupang-Timor Tengah Utara (Oilmasi - Sulamo)
Pembangunan Jalan Tenau-Sp.Lp.Terbang
Pembangunan Jalan Wailebe-Kolilanang-Waiwuring
Pembangunan Jalan Lingkar Barat Pulau Sumba (Wanokaka-Patiate-Bondohodi-Keroso-Waitabula-
Waikelo-Memboro)
IV - 42

Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
Pembangunan Jalan Waingapu-Melolo-Baing
Pembangunan Jalan Perbatasan NTT - Timor Leste
Pembangunan Jalan Batutua - Baa - Pantebaru - Eakun
KETENAGALISTRIKAN
PLTM Ndungga 1,9 MW
PLTD Rote (Relokasi PLTD) 1 MW
PLTP Ulumbu (APBN) 2 x 2,5 MW
PLTU Atambua APBN 6 MW
PLTD Kalabahi Peaker (Relokasi PLTD) 0,75 MW
PLTU NTT-1 Ropa (FTP1)/Ende 14 MW
PLTU NTT-2 Kupang (FTP1) 33 MW
PLTU Rote Ndao 6 MW
PLTU Alor 6 MW
PLTU Atambua APBN (3x6) 18 MW
PLTD Kalabahi Peaker (Relokasi PLTD) 0,5 MW
PLTM Lokomboro 6, 7 0,4 MW
PLTM Maidang 1 MW
PLTB Oelbubuk-Soe 2 x 1 MW
PLTP Ulumbu (ADB) 5 MW
PLTP Ulumbu 4 2,5 MW
PLTGB Larantuka (FTP 2) 8 MW
PLTBiomass Waingapu 1 MW
PLTMH Maubesi 2 x 0,5 MW
PLTM Kudungawa 2 MW
PLTG/MG Kupang Peaker 20 MW
PLTG/MG Kupang Peaker 2 (gas) 20 MW
PLTMG Maumere Peaker (gas) 8 MW
PLTP Ulumbu 5 2,5 MW
PLTM Umbuwangu III 0,2 MW
PLTA Wae Rancang I - Man-ggarai 12 MW
PLTBiomass Waingapu 2 MW
IV - 43

Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
PLTP Bukapiting 2 x 2,5 MW
PLTA Wae Rancang II - Man-ggarai 4,5 MW
PLTU Kupang 2 2 x 15 MW
PLTG/MG Kupang Peaker 3 (gas) 20 MW
PLTD Lembata (Relokasi PLTD) 3,5 MW
PLTG/MG Kupang Peaker 4 (gas) 20 MW
PLTM PLTM Tersebar NTT 14 MW
PLTP Ulumbu 3 5 MW
PLTP Atadei (FTP 2) 5 MW
PLTP Mataloko (FTP 2) 5 MW
PLTU Kupang 2 x 15 MW
PLTP Oka Larantuka 3 MW
PLTP Sokoria (FTP2)- Ende 3 x 5 MW
PLTP Mataloko 3 5 MW
PLTP Mataloko 4 5 MW
PLTP Sokoria 4 5 MW
SUMBER DAYA AIR
Pembangunan Bendung Linamnutu D.I. Bena Kab. TTS
Pembangunan Bendung dan Jaringan Irigasi D.I. Satar Beleng ( 1.225 Ha) Kab. Manggarai Timur
Pembangunan Bendung dan Jaringan Irigasi D.I. Mbaing Kab. Sumba Timur
Pembangunan Waduk Raknamo Kab. Kupang
Pembangunan Waduk Jawa Tiwa (Multi Years) Kab. Nagekeo
PERHUBUNGAN LAUT
Pengembangan Pelabuhan Maritaing
Pengembangan Pelabuhan Ippi
Pengembangan Pelabuhan Larantuka
IV - 44

GAMBAR 4.7
IV - 45

4.6.2 Kerangka Regulasi
Pelaksanaan pembangunan Wilayah Kepulauan Nusa Tenggara tidak terlepas
dari berbagai kerangka regulasi yang perlu diperhatikan, diantaranya:
a. Harmonisasi peraturan perundangan terkait dengan iklim investasi, diantaranya
adalah PP. Nomor 147 Tahun 2000 Tentang Perlakuan Perpajakan di KAPET;
b. Membuat regulasi terkait dengan pembagian kewenangan antara Pemerintah
Daerah Kota Bima, Kabupaten Bima, dan Kabupaten Dompu dengan Badan
Pengembangan KAPET Bima;
c. Membuat regulasi terkait dengan pembagian kewenangan antara Pemerintah
Daerah Kabupaten Ngada dan Kabupaten Nagekeo dengan Badan Pengembangan
KAPET Mbay;
d. Peraturan perundangan terkait dengan pelimpahan kewenangan ijin investasi di
kawasan-kawasan ekonomi khusus dan kawasan industri nasional lainnya;
e. Penyelesaian peninjauan kembali Perpres No. 56/2014 tentang RTR Kepulauan
Nusa Tenggara.

4.6.3 Kerangka Kelembagaan
Pelaksanaan pembangunan Wilayah Kepulauan Nusa Tenggara tidak terlepas
dari berbagai kerangka kelembagaan yang perlu diperhatikan, diantaranya:
a. Melaksanakan sosialisasi terkait dengan pemanfaatan lahan sebagai peruntukan
investasi di KAPET Bima dan KAPET Mbay;
b. Memberikan pelayan terpadu di bidang perizinan perindustrian, perdagangan,
pertanahan di kawasan KAPET Bima dan KAPET Mbay;
c. Penyiapan kemampuan pengelolaan investasi di KEK Mandalika;
d. Promosi keunggulan wilayah KEK Mandalika kepada investor dalam/luar negeri
untuk menarik minat investasi.
e. Pengembangan koordinasi Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional (BKPRD)
Provinsi di Wilayah Kepulauan Nusa Tenggara dalam melaksanakan pemanfaatan
dan pengendalian pemanfaatan ruang Pulau.


RANCANGAN TEKNOKRATIK
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA
MENENGAH NASIONAL
2015 2019
BUKU III
ARAH PENGEMBANGAN WILAYAH
PULAU SULAWESI
KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL /
BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL
BAPPENAS
2014
V - 1

BAB V
PENGEMBANGAN WILAYAH PULAU SULAWESI

5.1 Capaian Kinerja Saat Ini
Berdasarkan data BPS dari tahun 2009 hingga Triwulan II tahun 2014, kinerja
pertumbuhan ekonomi provinsi di Wilayah Pulau Sulawesi mengalami
kecenderungan meningkat. Hal ini didukung dengan rata-rata pertumbuhan
ekonomi Pulau Sulawesi yang tinggi selama kurun waktu 2009 Triwulan II 2014
yaitu sebesar 7,8 persen atau jauh lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata
pertumbuhan ekonomi nasional yaitu sebesar 5,9 persen. Peranan Pulau Sulawesi
dalam pembentukan PDB nasional juga mengalami peningkatan dari 4,5 persen
(2009) menjadi 4,8 persen (Triwulan II 2014).
Pemerintah Provinsi di Wilayah Pulau Sulawesi telah cukup berhasil dalam
menurunkan persentase penduduk miskin dari tahun 2009 hingga 2014 (Maret)
dengan kisaran penurunan di setiap Provinsi antara 2 9 persen. Walaupun
demikian Provinsi Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Selatan, baik di
tahun 2009 maupun di tahun 2014, masih memiliki tingkat kemiskinan diatas
angka nasional yaitu 14,2 persen (2009) dan 11,3 persen (Maret 2014). Demikian
halnya dengan pencapaian tingkat pengangguran terbuka (TPT). Pemerintah
Provinsi di Pulau Sulawesi juga telah berhasil menurunkan TPT dengan kisaran
penurunan setiap Provinsi antara 1 4 persen dan angkanya sudah di bawah TPT
nasional yaitu sebesar 7,9 persen (2009) dan 5,7 persen (Februari, 2014), kecuali
Provinsi Sulawesi Utara.
Dari sisi peningkatan kualitas sumber daya manusia, Wilayah Pulau Sulawesi dapat
dikatakan sudah cukup baik. Hal ini diindikasikan dengan selalu meningkatnya
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dari tahun ke tahun pada masing-masing
provinsi di Pulau Sulawesi. Namun demikian, pencapaian IPM di Wilayah Pulau
Sulawesi masih perlu ditingkatkan karena hanya Provinsi Sulawesi Utara yang
berada di atas angka IPM nasional (71,76 di tahun 2009 dan 73,81 di tahun 2013).
Dari sisi distribusi pendapatan antar golongan masyarakat, seluruh provinsi di
Pulau Sulawesi mengalami kenaikan kesenjangan pendapatan antar golongan. Hal
ini dapat diindikasikan dari angka Rasio Gini provinsi-provinsi di Wilayah Pulau
Sulawesi yang meningkat dari tahun 2009 dibandingkan tahun 2013 dengan
kisaran peningkatan di setiap provinsi antara 0,05 0,1. Selain itu kesenjangan
antar individu provinsi di Sulawesi rata-rata juga masih lebih tinggi dibandingkan
dengan nasional yaitu sebesar 0,37 (2009) dan 0,41 (2013). Oleh karena itu,
masalah kesenjangan antar individu perlu mendapatkan perhatian khususnya
dalam proses pembangunan dengan lebih melibatkan masyarakat secara inklusif,
sehingga hasil-hasil pembangunan tersebut dapat dinikmati secara merata oleh
masyarakat.


V - 2

5.2 Potensi dan Keunggulan Wilayah
Perekonomian Wilayah Pulau Sulawesi ditopang oleh 3 sektor utama, yaitu
pertanian antara lain tanaman pangan, perkebunan, perikanan, dan kehutanan;
pertambangan dan penggalian; serta perdagangan dan jasa-jasa.
Komoditas perkebunan yang paling dominan di Wilayah Pulau Sulawesi adalah
Kakao. Wilayah Pulau Sulawesi merupakan produsen terbesar di Indonesia dengan
memasok 67 persen produksi Kakao nasional dan produsen kedua terbesar di
dunia dengan memasok sekitar 18 persen produksi Kakao dunia (Tahun 2012). Di
sub sektor kehutanan, Sulawesi merupakan produsen terbesar kedua Rotan
dengan angka produksi sebesar 2.540 ton di Tahun 2012.
Wilayah Pulau Sulawesi juga memiliki potensi yang menjanjikan dalam komoditas
tanaman pangan khususnya padi dan jagung. Pada tahun 2013, Sulawesi tercatat
sebagai produsen beras terbesar ketiga di Indonesia yang menyumbang 10 persen
produksi padi nasional. Selain itu, Wilayah Sulawesi juga menyumbang 15 persen
produksi Jagung nasional dengan produksi dan luas panen paling besar (Tahun
2013).
Begitu pula di sub sektor perikanan. Di tahun 2012 Wilayah Pulau Sulawesi
merupakan produsen perikanan terbesar di Indonesia dengan memasok lebih dari
40 persen produksi perikanan tangkap dan sekitar 20 persen produksi perikanan
budidaya nasional. Keunggulan Pulau Sulawesi, baik di komoditas tanaman
pangan dan perikanan, menjadikan Sulawesi berpotensi untuk mendukung
ketahanan pangan nasional.
Di sisi lain, pada sub sektor pertambangan, Wilayah Pulau Sulawesi merupakan
salah satu dari tiga tempat yang memiliki deposit aspal alam terbesar di dunia dan
juga penghasil aspal terbesar di Indonesia yaitu di Kabupaten Buton, Provinsi
Sulawesi Tenggara. Walaupun demikian, pada kenyataannya Indonesia masih
melakukan impor aspal untuk memenuhi kebutuhannya. Oleh karena itu, produksi
aspal perlu ditinggkatkan paling tidak untuk memenuhi kebutuhan di dalam
negeri.
Wilayah Pulau Sulawesi juga menyimpan 50 persen cadangan nikel nasional yang
didukung oleh proses produksi nikel paling maju. Kandungan nikel yang tersimpan
di Wilayah Pulau Sulawesi mencakup hampir 50 persen dari cadangan nikel
Indonesia dan menempati peringkat keempat dunia (60 persen). Besarnya
cadangan nikel yang dimiliki Sulawesi berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut
mengingat luasnya kemanfaatan nikel khususnya dalam mendukung
pengembangan industri logam dan merupakan bahan baku utama besi tahan karat
atau stainless steel.
Semenjak diberlakukannya undang-undang larangan ekspor bahan mentah
mineral di 2012, rencana pembangunan pabrik smelter di Wilayah Pulau Sulawesi
merupakan salah satu yang terbanyak. Hal ini juga didukung oleh rencana
pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Sulawesi bagian Tengah,
Tenggara, dan Selatan yang memiliki fokus pengembangan industri pengolahan
V - 3

(smelter) pertambangan. Investasi pabrik smelter nikel direncanakan di Morowali,
Sulawesi Tengah, Bantaeng, Sulawesi Selatan, Konawe, dan Sulawesi Tenggara.
Rencana pembangunan tersebut didasari keyakinan akan ketersediaan pasokan
biji nikel dan prospek permintaan baik domestik maupun global di masa
mendatang. Meskipun demikian, salah satu tantangan yang dihadapi dalam
peningkatan kapasitas pengolahan biji nikel adalah rendahnya kualitas biji nikel
yang masih jauh dibawah negara-negara lainnya. Sehubungan dengan hal tersebut,
perlu adanya optimalisasi teknologi agar kualitas nikel yang dihasilkan dapat
ditingkatkan.
Wilayah Pulau Sulawesi juga memiliki potensi pada pengolahan biji besi terutama
di Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. Selain sumber daya dan
cadangan biji besi laterit yang besar, juga terdapat potensi pengolahan pasir besi di
Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah untuk mendukung pengembangan industri
besi baja. Sumber daya pasir besi di wilayah Sulawesi merupakan yang terbesar di
luar wilayah Jawa. Meskipun demikian, hingga saat ini pasir besi dari Wilayah
Pulau Sulawesi cenderung langsung diekspor tanpa diolah terlebih dahulu dan
mengalami hambatan pengembangan industri pengolahan terutama terkait
infrastruktur fisik dan energi.
Wilayah Pulau Sulawesi menjadi salah satu pintu gerbang Indonesia dalam
perdagangan internasional. Secara geografis Wilayah Pulau Sulawesi memiliki
posisi yang strategis dengan Negara Filipina dan Malaysia yaitu berbatasan di 14
pulau kecil terluar dan 46 gerbang internasional. Sedangkan terkait dengan
konektifitas di Indonesia, wilayah Sulawesi merupakan satu-satunya wilayah yang
memiliki pergerakan barang tertinggi di Kawasan Timur Indonesia (data origin-
destination tahun 2011). Namun demikian, pergerakan barang yang terjadi
tersebut cenderung menuju dan berasal dari Wilayah Jawa-Bali yang kemudian
disusul dengan Wilayah Sumatera dan Wilayah Kalimantan.
Selain itu, Sulawesi memiliki akses transportasi lintas pulau yang menghubungkan
kawasan budidaya dengan arus peti kemas yang sangat tinggi. Hal tersebut juga
didukung oleh pengembangan KEK Palu dan Bitung sebagai pusat
pertumbuhan distribusi barang dan menunjang penyediaan logistik di Kawasan
Timur Indonesia. Kawasan ekonomi tersebut juga memiliki akses Internasional
dan berperan sebagai Hub Internasional, sehingga akan menunjang aktivitas
logistik dan rantai distribusi kawasan Indonesia Timur. Oleh karena itu, Sulawesi
sangat berpotensi sebagai pengembangan industri berbasis logistik yang tentunya
juga akan mendukung industri berbasis komoditas unggulan Sulawesi lainnya.
Peluang investasi di Wilayah Pulau Sulawesi tidak hanya terbuka bagi ketujuh
kegiatan ekonomi tersebut (Kakao, Padi, Jagung, Rotan, Aspal, Nikel, Bijih Besi, dan
logistik). Peluang investasi di sektor pariwisata khususnya pariwisata bahari akan
bernilai tambah tinggi dengan potensi Sulawesi yang memiliki beberapa kawasan
wisata yang sudah menjadi tujuan wisata internasional dan nasional diantaranya
taman laut Bunaken, Wakatobi, dan Kepulauan Togean. Hal ini didukung oleh
karakteristik fauna dan flora yang unik, dimana hampir semua spesies utama dan
V - 4

endemik dari tanaman, mamalia, burung, reptil dan amfibi menghuni wilayah
konservasi dengan luas 20% dari total pulau dan tutupan lahan hutan 53% dari
luas pulau.

5.3 Tema Pengembangan Wilayah Pulau Sulawesi
Berdasarkan potensi dan keunggulan Wilayah Pulau Sulawesi, maka tema besar
Pembangunan Wilayah Pulau Sulawesi sebagai "salah satu pintu gerbang Indonesia
dalam perdagangan internasional dan pintu gerbang Kawasan Timur Indonesia
dengan pengembangan industri berbasis logistik;serta lumbung pangan
nasionaldenganpengembangan industri berbasis kakao, padi, jagung;dan
pengembangan industri berbasis rotan, aspal, nikel, dan biji besi; serta percepatan
pembangunan ekonomi berbasis maritim (kelautan) melalui pengembangan
industri perikanan dan pariwisata bahari."

5.4 Tujuan dan Sasaran Pengembangan Wilayah Sulawesi
Tujuan pengembangan Wilayah Pulau Sulawesi tahun 2015-2019 adalah
mendorong percepatan dan perluasan pembangunan wilayah Pulau Sulawesi dengan
menekankan keunggulan dan potensi daerah, melalui: (a) pengembangan industri
berbasis logistik, komoditas kakao, jagung, perikanan, padi, rotan, aspal, nikel, dan bijih
besi, serta pengembangan pariwisata bahari, (b) penyediaan infrastruktur wilayah, (c)
peningkatan SDM dan ilmu dan teknologi secara terus menerus.
Adapun sasaran pengembangan Wilayah Pulau Sulawesi pada tahun 2015-2019
adalah sebagai berikut:
1. Dalam rangka percepatan dan perluasan pengembangan ekonomi Wilayah Pulau
Sulawesi, akan dikembangkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di koridor
ekonomi dengan memanfaatkan potensi dan keunggulan daerah, termasuk
diantaranya adalah pengembangan 2 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), 4 Kawasan
Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET), 31 Kawasan Perhatian Investasi (KPI).

2. Sementara itu, untuk menghindari terjadinya kesenjangan antar wilayah di
Sulawesi, maka akan dilakukan pembangunan daerah tertinggal dengan sasaran
sebanyak 15 Kabupaten tertinggal dapat terentaskan dengan sasaran outcome: (a)
meningkatkan rata-rata pertumbuhan ekonomi di daerah tertinggal sebesar 9,2
persen; (b) menurunnya persentase penduduk miskin di daerah tertinggal menjadi
11,7 persen; dan (c) meningkatnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di daerah
tertinggal sebesar 70,2.

3. Untuk mendorong pertumbuhan pembangunan kawasan perkotaan di Sulawesi,
maka akan dipercepat pembangunan 1 Pusat Kegiaatan Nasional (PKN) perkotaan
baru, serta mewujudkan optimalisasi peran 5 kota otonom berukuran sedang
sebagai penyangga (buffer) urbanisasi.


V - 5

4. Sementara itu, untuk pembangunan perdesaan, sesuai dengan amanat UU 6/2014
tentang Desa, dengan sasaran mengurangi jumlah desa tertinggal menjadi 7,0
persen (2019).

5. Untuk meningkatkan keterkaitan pembangunan kota-desa, diharapkan dapat
diwujudkan 9 pusat pertumbuhan baru perkotaan sebagai Pusat Kegiatan Lokal
(PKL) atau Pusat Kegiatan Wilayah (PKW).

6. Untuk mewujudkan kawasan perbatasan sebagai halaman depan negara yang
berdaulat, berdaya saing, dan aman, maka akan dikembangkan 2 Pusat Kegiatan
Strategis Nasional (PKSN) sebagai pusat pertumbuhan ekonomi kawasan
perbatasan negara yang dapat mendorong pengembangan kawasan sekitarnya.

7. Untuk mewujudkan pelaksanaan otonomi daerah sasaran untuk wilayah Sulawesi
adalah: (1) meningkatnya proporsi penerimaan pajak dan retribusi daerah sebesar
40% untuk propinsi dan 10% untuk kabupaten/kota; (2) meningkatnya proporsi
belanja modal dalam APBD propinsi sebesar 25% dan untuk Kabupaten/Kota
sebesar 35% pada tahun 2019 serta sumber pembiayaan lainnya dalam APBD; (3)
meningkatnya jumlah daerah yang mendapatkan opini wajar tanpa pengecualian
(WTP); (4) terbentuknya kerjasama daerah diantara 6 daerah Sulawesi dalam
rangka percepatan konektivitas dan peningkatan pelayanan publik; (5) tersusunnya
Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang tepat fungsi dan ukuran sesuai dengan
karakteristik wilayah Sulawesi; (6) meningkatnya kualitas dan proporsi tingkat
pendidikan aparatur sipil negara untuk jenjang S1 sebesar 60%, S2 sebesar 15%,
dan S3 sebesar 5%; (7) meningkatnya implementasi pelaksanaan SPM di daerah,
khususnya pada pendidikan, kesehatan dan infrastruktur.

8. Untuk Penanggulangan Bencana di wilayah Pulau Sulawesi adalah kawasan
pengembangan wilayah berisiko tinggi yaitu: KAPET Palapas, KAPET Manado-
Bitung, KAPET Bangsejahtera, KEK Palu, KEK Bitung; 4 (empat) PKN terdiri dari
Gorontalo, Palu, Makassar, Sungguminasa; serta kelompok PKW yang terkait dengan
pengembangan perkotaan minapolitan/agropolitan.

Sehubungan dengan sasaran tersebut, diharapkan pada akhir tahun 2019,
pembangunan Wilayah Pulau Sulawesi semakin meningkat. Hal ini dicerminkan dengan
makin meningkatnya kontribusi PDRB Wilayah Sulawesi terhadap PDB Nasional, yaitu
dari sekitar 4,8 persen (2014) menjadi 5,2 persen (2019). Dengan demikian, kondisi
tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Sulawesi. Secara
rinci target pertumbuhan ekonomi, tingkat kemiskinan dan pengangguran dalam kurun
waktu 2015-2019 di wilayah Sulawesi dapat dilihat pada Tabel 5.1 sampai dengan Tabel
5.3 sebagai berikut.
V - 6

TABEL 5.1.
SASARAN PERTUMBUHAN EKONOMI PER PROVINSI TAHUN 2015-2019

Wilayah
Pertumbuhan Ekonomi (Persen)
2015 2016 2017 2018 2019
Sulawesi Utara 7,0 - 7,2 7,1 - 7,4 7,2 - 7,6 7,4 - 8,0 7,6 - 8,4
Gorontalo 6,6 - 6,7 7,1 - 7,4 8,1 - 8,6 8,0 - 8,7 8,2 - 9,1
Sulawesi Tengah 7,5 - 7,6 7,6 - 7,9 7,8 - 8,3 8,0 - 8,6 8,7 - 9,6
Sulawesi Selatan 7,3 - 7,5 7,4 - 7,7 7,4 - 7,9 7,4 - 8,1 7,6 - 8,4
Sulawesi Barat 8,0 - 8,1 9,6 - 10,0 9,8 - 10,4 9,8 - 10,7 11,2 - 12,4
Sulawesi Tenggara 7,8 - 7,9 7,9 - 8,2 7,9 - 8,4 7,9 - 8,6 9,2 - 10,1
Sumber: Perhitungan Bappenas, 2014

TABEL 5.2.
SASARAN TINGKAT KEMISKINAN PER PROVINSI TAHUN 2015-2019

Wilayah
Tingkat Kemiskinan (Persen)
2015 2016 2017 2018 2019
Sulawesi Utara 7,1 - 7,0 6,6 - 6,4 6,1 - 5,8 5,6 - 5,1 5,0 - 4,5
Gorontalo 13,7 - 13,5 12,7 - 12,2 11,6 - 11,0 10,6 - 9,8 9,5 - 8,6
Sulawesi Tengah 9,1 - 9,0 8,5 - 8,2 7,8 - 7,4 7,1 - 6,6 6,4 - 5,8
Sulawesi Selatan 13,5 - 13,2 12,4 - 11,9 11,3 - 10,7 10,2 - 9,5 9,1 - 8,3
Sulawesi Barat 15,9 - 15,6 14,7 - 14,1 14,1 - 13,3 12,2 - 11,3 11,0 - 9,9
Sulawesi Tenggara 10,2 - 10,0 9,4 - 9,1 8,6 - 8,1 7,8 - 7,2 7,0 - 6,3
Sumber: Perhitungan Bappenas, 2014

TABEL 5.3.
SASARAN TINGKAT PENGANGGURAN PER PROVINSI TAHUN 2015-2019

Wilayah
Tingkat Pengangguran (Persen)
2015 2016 2017 2018 2019
Sulawesi Utara 8,4 - 8,3 8,3 - 8,0 8,1 - 7,6 7,8 - 7,2 7,7 - 6,9
Gorontalo 4,0 - 3,9 3,9 - 3,8 3,8 - 3,6 3,7 - 3,4 3,6 - 3,2
Sulawesi Tengah 4,6 - 4,5 4,4 - 4,3 4,3 - 4,1 4,2 - 3,9 3,7 - 3,4
Sulawesi Selatan 3,9 - 3,8 3,7 - 3,6 3,6 - 3,4 3,5 - 3,2 3,3 - 3,0
Sulawesi Barat 4,0 - 4,0 3,9 - 3,8 3,8 - 3,6 3,7 - 3,4 3,6 - 3,2
Sulawesi
Tenggara
4,0 - 3,9 3,9 - 3,8 3,8 - 3,5 3,6 - 3,3 3,5 - 3,2
Sumber: Perhitungan Bappenas, 2014


5.5 Arah kebijakan dan Strategi Pengembangan Wilayah Sulawesi
5.5.1 Pengembangan Kawasan Strategis
Kebijakan pengembangan kawasan strategis bidang ekonomi di Wilayah Pulau
Sulawesi difokuskan sebagai pengembangan industri berbasis logistik, serta
pengembangan industri berbasis komoditas kakao, rotan, perikanan, aspal, nikel, dan
bijih besi, serta pengembangan pariwisata bahari yang miliki daya saing nasional dan
internasional. Persebaran lokasi pengembangan kawasan strategis di wilayah Sulawesi
V - 7

meliputi: (1) Provinsi Sulawesi Utara terdapat dua kawasan yaitu Kawasan
Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) Mando-Bitung dan Kawasan Ekonomi
Khusus (KEK) Bitung; (2) Provinsi Sulawesi Tengah terdapat dua kawasan yaitu KAPET
Palapas dan KEK Palu; (3) Provinsi Sulawesi Selatan terdapat satu kawasan yaitu KAPET
Pare Pare; (4) Provinsi Sulawesi Tenggara terdapat satu kawasan yaitu KAPET Bank
Sejahtera, serta (5) Kawasan Perhatian Investasi (KPI) dalam rangka menunjang
koridor ekonomi dan pusat-pusat pertumbuhan berdaya saing internasional, yaitu KPI
Makassar, Wajo, Pare-pare, Palopo (Luwu), Mamuju-Mamasa, Palipi, Kendari, Kolaka,
KPI Konawe Utara, Palu, Parigi Moutong, Morowali, Banggai, Bitung, Manado, dan KPI
potensial lainnya di Sulawesi dapat dilihat dalam Gambar 5.1. Percepatan pembangunan
kawasan strategis dilakukan melalui strategi sebagai berikut:
1. Pengembangan Potensi Ekonomi Wilayah di Koridor Ekonomi Sulawesi
Pengembangan potensi ekonomi wilayah dimaksudkan untuk mempercepat
pertumbuhan dan memberdayaan masyarakat berbasis komoditas unggulan
wilayah. Pengembangan potensi berbasis komoditas unggulan wilayah ini
diupayakan untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing komoditas unggulan
yang dilakukan dengan:
a. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)
a) Menyiapkan kawasan industri KEK Palu sebagai sentra pengolahan komoditas
unggulan pertambangan mineral, agroindustri kakao, industri manufaktur, dan
logistik; serta KEK Bitung sebagai sentra pengolahan perikanan, angroindustri,
dan logistik;
b) Mengembangkan klaster-klaster industri pengolahan pertambangan,
pertanian, perkebunan dan perikanan yang berorientasi ekspor;
c) Meningkatkan produktivitas hasil olahan pertambangan, pertanian,
perkebunan dan perikanan di dalam dan sekitar kawasan industri;
d) Mengembangkan tempat penyimpanan/pembekuan ikan yang berteknologi
tinggi.
b. Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET)
Dalam rangka mendukung pemerataan pertumbuhan dengan memanfaatkan
potensi sumber daya alam lokal dan memiliki daya saing tinggi, maka upaya yang
dilakukan adalah:
a) Mengembangkan kawasan pengelolaan klaster-klaster komoditas unggulan
kakao, rotan, peternakan dan perikanan secara terpadu;
b) Meningkatkan produktivitas komoditas unggulan kakao, rotan, peternakan
dan perikanan.
c. Kawasan Perhatian Investasi (KPI)
a) Mengembangkan produktivitas komoditas unggulan dan industri-industri
produk olahan komoditas wilayah untuk mendukung koridor ekonomi
Sulawesi dan kawasan pertumbuhan lainnya.
V - 8

2. Percepatan Penguatan Konektivitas
Peningkatan konektivitas antara kawasan sebagai pusat-pusat pengolahan produk
bernilai tambah tinggi dan berorientasi ekspor pada KEK Palu dan KEK Bitung
dengan kawasan-kawasan sekitarnya sebagai pusat-pusat bahan baku yaitu KAPET
dan KPI-KPI di Sulawesi, termasuk didalamnya daerah tertinggal, agropolitan, dan
minapolitan, dilakukan melalui:
a. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)
a) Penerapan insentif fiskal yang sesuai dengankarakteristik wilayah dan
kompetitif, antara lain fasilitas fiskal disemua bidang usaha, pembebasan PPN
dan PPNBM untuk bahan dan barang impor yang akan diolah dan digunakan di
KEK;
b) Pembangunan dan pengembangan pelabuhan Pantoloan dan pengembangan
pelabuhan Bitung sebagai Hub Internasional;
c) Pembangunan jalur kereta api Palu-Poso, dan jalan tol Menado-Bitung;
d) Pembangunan infrastruktur penunjang eksport hasil perkebunan dan
perikanan.
b. Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET)
a) Pengembangan Bandara Mutiara sebagai bandara internasional dan
perpanjangan landasan pacu Bandara Internasional Sam Ratulangi;
b) Pengembangan pelabuhan penyeberangan Garongkong Barru, pengembangan
pelabuhan Kendari, Bitung, pelabuhan Pare-pare, Pembangunan ASEAN Ferry
Roro Network;
c) Mempercepat pembangunan dan pengembangan jaringan jalan menuju
Koridor Ekonomi meliputi pembangunan jalan lintas Palu Parigi ,
peningkatan ruas jalan Simpang Torobulu-Lainea-Kendari, ruas jalan Kolaka
Lasusua Batas Sulsel, ruas jalan Kolaka Pomalaa, Tol Manado Bitung, ruas
jalan Parigi - Poso - Tentena - Tidantana (Batas Sulsel) - (Sultra), ruas jalan
Atinggola Maelang Kaiya;
d) Pembangunan bendungan Kuwil dan bendungan Torere;
e) Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lainea, PLTP
Lahendong V dan VI, Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Kendari, PLTU
Kolaka, PLTU Tawaeli, PLTU Sulsel Barru 2, PLTU Kendari 3, PLTU Palu 3,
Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Bakaru 2, PLTA Bonto Batu, PLTA
Watunohu.
c. Kawasan Perhatian Investasi (KPI)
a) Pengembangan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Bandar Udara
Syukuran Aminudin Amir, Bandara Halu Oleo, Bandara Sumarorong
b) Perluasan pelabuhan Makassar dan pengembangan pelabuhan Poso
c) Pembangunan jalur kereta api Makassar Pare-pare, pengembangan jaringan
perkeretaapian Perkotaan kawasan Mamminasata.
d) Penanganan Jalan dari Siwa - Pare-pare - Barru - Maros Makassar, ruas jalan
dari Batas Sultra - Malili - Masamba - Palopo Siwa, ruas jalan Majene -
V - 9

Polewali - (Sulbar), ruas Jalan Majene - Tapalang - Mamuju (Sulbar), ruas jalan
Polewali - Batas Sulsel ruas jalan dari Takalar - Sungguminasa Makassar,
ruas jalan Trans Sulawesi Mamminasata (Middle Ring Road), ruas jalan
baypass Maminasata, jaringan Transportasi Danau Tempe, Jalan Akses
Bandara Tampa Padang, dan ruas Jalan Salubatung - Mambi - Malabo - Mamasa
Tandung;
e) Pembangunan Fly Over - Akses Bandara Internasional Sultan Hasanuddin;
f) Pembangunan bendungan Passellorang;
g) Pembangunan IPA Mamminasata;
h) Pembangunan PLTA Karama, PLTU Luwuk , PLTGU Makassar Peaker, PLTA
Poso 2, PLTA Poko;
i) Pembangunan Transmisi Listrik di Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi
Tenggara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Gorontalo;
j) Pembangunan jaringan Palapa Ring dan backbone Serat Optik di Koridor
Sulawesi.
3. Penguatan Kemampuan SDM dan IPTEK
a. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)
a) Meningkatkan kualitas SDM Badan Pengelola dan Administratur KEK Palu dan
Bitung di bidang perencanaan, penganggaran, dan pengelolaan kawasan;
b) Pengembangan sarana prasarana pendidikan dan pelatihan profesi untuk
meningkatkan kualitas tenaga kerja, khususnya di bidang perkebunan,
perikanan, dan logistik;
c) Penyiapan tenaga kerja berkualitas di sekitar kawasan dalam bidang industri
pengolahan berteknologi tinggi;
d) Peningkatan koordinasi antara Badan Pengelola KEK, pemerintah pusat, dan
pemerintah daerah;
e) Peningkatan kemampuan pengelolaan investasi di KEK Palu dan Bitung.
b. Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET)
a) Meningkatkan kualitas SDM Badan Pengelola KAPET di bidang perencanaan,
penganggaran, dan pengelolaan kawasan
b) Memberikan pembinaan kelembagaan yang mendukung perubahan pola pikir
bisnis berorientasi daya saing secara komparatif dan kompetitif
c) Pengembangan sarana prasarana pendidikan dan pelatihan untuk
meningkatkan kualitas SDM pengelola komoditas unggulan agroindustri,
peternakan, perikanan, distribusi dan pemasaran;
c. Kawasan Perhatian Investasi (KPI)
a) Peningkatan kapasitas SDM pengelola kawasan untuk meningkatkan
produktivitas komodtas unggulan sekitar koridor ekonomi
b) Pengembangan inovasi teknologi ramah lingkungan dalam rangka menunjang
industri pengolahan dan distribusi pemasaran melalui koridor ekonomi
Sulawesi.

V - 10

4. Penguatan Regulasi bagi Peningkatan Iklim Investasi dan Iklim Usaha
a. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)
a) Penerapan regulasi insentif fiskal yang sesuai dengan karakteristik wilayah
dan kompetitif, antara lain fasilitas fiskal disemua bidang usaha, pembebasan
PPN dan PPNBM untuk bahan dan barang impor yang akan diolah dan
digunakan di KEK;
b) Membuat regulasi terkait dengan pelimpahan kewenangan antara pusat,
daerah, dan instansi terkait kepada administrator kawasan-kawasan
pertumbuhan;
c) Memberikan pelayanan terpadu satu pintu dan penggunaan Sistem Pelayanan
Informasi dan Perijinan Investasi secara Elektronik (SPIPISE) bidang
perindustrian, perdagangan, pertanahan, penanaman modal.
b. Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET)
a) Harmonisasi peraturan perundangan terkait dengan iklim investasi,
diantaranya adalah PP Nomor 147 Tahun 2000 Tentang Perlakuan Perpajakan
di KAPET;
b) Membuat regulasi terkait dengan pembagian kewenangan antara
Kabupaten/Kota di pusat-pusat pertumbuhan;
c) Melaksanakan sosialisasi terkait dengan pemanfaatan lahan sebagai
peruntukan investasi.
c. Kawasan Perhatian Investasi (KPI)
a) Memberikan pelayanan terpadu satu pintu dan penggunaan Sistem Pelayanan
Informasi dan Perijinan Investasi secara Elektronik (SPIPISE) bidang
perindustrian, pertanahan, dan penanaman modal.

5.5.2 Pengembangan Kawasan Perkotaan dan Perdesaan
5.5.2.1 Pengembangan Kawasan Perkotaan
Arah kebijakan pembangunan wilayah perkotaan di Wilayah Pulau Sulawesi
difokuskan untuk membangun kota berkelanjutan dan berdaya saing menuju
masyarakat kota yang sejahtera berdasarkan karakter fisik, potensi ekonomi dan
budaya lokal. Untuk itu, strategi pembangunan perkotaan Wilayah Pulau Sulawesi tahun
2015-2019 adalah:
1. Perwujudan Sistem Perkotaan Nasional (SPN)
a. Peningkatan efisiensi pengelolaan Pusat Kegiata Nasional (PKN) Perkotaan
Maminassata (Makassar, Maros, Sangguminasa, Takalar) dengan fungsi
sebagaimana dalam Tabel 5.4;
V - 11

GAMBAR 5.1




























V - 12

b. Pembentukan PKN Perkotaan baru, PKN Manado Raya dalam rangka
membangun koridor wilayah yang kuat untuk mempercepat
pembangunan di Wilayah Sulawesi bagian utara, mengurangi urbanisasi
dari kota kecil dan pusat pertumbuhan baru menuju kota besar
disekitarnya;
c. Pengembangan 4 kota sedang (Tabel 5.5) yaitu: Kota Kotamobagu, Kota
Pare-pare, Kota Baubau, dan Kota Palopo dalam rangka mempercepat
perannya sebagai pusat pertumbuhan ekonomi dalam bentuk Pusat
Kegiatan Wilayah (PKW) sekaligus sebagai pengendali (buffer) arus
urbanisasi dari kota kecil dan pusat pertumbuhan baru menuju kota
besar disekitarnya;
d. Pengembangan 9 pusat pertumbuhan baru sebagai pusat pertumbuhan
utama yang mendorong keterkaitan antara kota sedang dengan desa-
desa di wilayah sekitarnya, yaitu Pawonsari, Buol, Poso, Kolonedale,
Mamuju, Pinrang, Barru, Muna, dan Wakatobi.
2. Perwujudan Kota Layak Huni yang Aman dan Nyaman
a. Percepatan pemenuhan dan peningkatan pelayanan sarana prasarana
permukiman (perumahan, air minum, sanitasi: pengelolaan sampah;
pengolahan limbah; drainase);
b. Peningkatan aksesibilitas antar kota melalui penyediaan sarana
transportasi antarmoda terutama transportasi udara dan laut untuk
menghubungkan antar pusat kegiatan di Pulau Sulawesi serta
mengembangankan transportasi terintegrasi dengan kawasan
perbatasan dan penerapan konsep TOD (Transit Oriented Development)
untuk kota metropolitan di Pulau Sulawesi;
c. Penyediaan sarana prasarana ekonomi, khususnya di sektor
perdagangan dan jasa serta pariwisata yang mampu mengakomodasi
kegiatan koperasi, UMKM, industri pengolahan kecil dan menengah;
d. Peningkatan pelayanan kesehatan, pendidikan, dan sosial budaya melalui
pengembangan sarana prasarana dan tenaga terampil di bidang
kesehatan, pendidikan, dan sosial;
e. Pengembangan konsep insentif dan disinsentif dalam pemenuhan
Standar Pelayanan Perkotaan (SPP); dan
f. Peningkatan keamanan kota melalui pencegahan, penyediaan fasilitas
dan sistem penanganan kriminalitas dan konflik, serta meningkatkan
modal sosial masyarakat kota.
V - 13

3. Perwujudan Kota Hijau yang Berketahanan Iklim dan Adaptif terhadap
Bencana
a. Perwujudan penyelenggaraan ruang yang efisien dan berkeadilan serta
ramah lingkungan;
b. Peningkatan pengetahuan dan kemampuan masyarakat dalam upaya
adaptasi dan mitigasi terhadap dampak perubahan iklim dan bencana
(urban resilience).
c. Pembangunan infrastruktur kota dalam upaya adaptasi dan mitigasi
terhadap dampak perubahan iklim dan bencana;
d. Pengembangan dan menerapkan konsep kota hijau melalui:
greentransportation, green openspace (ruang terbuka hijau), green
waste(pengelolaan sampah dan limbah melalui 3R1), green water
(efisiensi pemanfaatan dan pengelolaan air permukaan) dan green
energy (pemanfaatan sumber energi yang efisien dan ramah
lingkungan)untuk pengurangan tingkat pencemaran di darat, laut, dan
udara,pemanfaatan energi alternatif dan terbarukan, pemanfaatan daur
ulang, serta pengembangan kegiatan perekonomian kota (green
Economy).
4. Perwujudan Kota Cerdas dan Berdaya Saing
a. Pengembangan perekonomian dengan membangun pencitraan kota (city
branding) yang memanfaatkan produk dan Sumber Daya Manusia
unggulan,sertaarsitektur perkotaan (urban design), berdasarkan
karakter sosial budaya lokal;
b. Penyediaan infrastruktur dan meningkatkan kualitas pelayanan publik
melalui penggunaan ICT pada sektor pendidikan, kesehatan,
permukiman,dan kegiatan pemerintahan (e-government);
c. Pembangunan kapasitas masyarakat yang inovatif, kreatif dan
produktif,serta mampu memanfaatkan potensi keragaman sosial budaya
lokal untuk membangun daya saing kota.
d. Peningkatan jumlah tenaga kerja ahli dan terampil melalui penyediaan
sarana prasarana pendidikan tinggi dan pelatihan kejuruan (higher
education and vocational training); dan
e. Meningkatkan efisiensi pasar melalui pengaturan jalur distribusi logistik
dari dan keluar kota.

1
3R: pengurangan (Reduce), pemanfaatan kembali (Re-use), dan Daur Ulang (re-cycle)
V - 14

5. Peningkatan kapasitas tata kelola pembangunan perkotaan
a. Perwujudan sistem, peraturan dan prosedur dalam birokrasi
kepemerintahan kota yang tanggap terhadap kebutuhan masyarakat kota
berkelanjutan;
b. Peningkatan kapasitas pemimpin kota yang visioner dan kapasitas
aparatur pemerintah dalam membangun dan mengelola kota
berkelanjutan, baik melalui kota layak dan nyaman, kota hijau, maupun
kota cerdas, melalui pendidikan, pelatihan dan pembinaan secara
bersikenambungan;
c. Penyederhanaan proses perijinan dan berusaha bagi para pelaku
ekonomi termasuk pelayanan terpadu satu pintu (PTSP);
d. Pembangunan dan Pengembangan kelembagaan dan kerjasama
pembangunan antar kota, untuk mewujudkan kota berkelanjutan;
e. Pengembangan dan Penyediaan pusat data informasi perkotaan terpadu
yang mudah diakses;
f. Peningkatan peran swasta,organisasi masyarakat, dan organisasi profesi
secara aktif, baik dalam forum dialog perencanaan dengan pemerintah
dan masyarakat perkotaan, maupun dalam pembangunan kota
berkelanjutan, seperti: pembangunan infrastruktur perkotaan maupun
masukan terhadap rencana tata ruang kota;
g. Pengembangan lembaga bantuan teknis dan pembiayaan infrastruktur
perkotaan.
5.5.2.2 Pengembangan Kawasan Perdesaan
Arah kebijakan pengembangan kawasan perdesaan di Wilayah Pulau
Sulawesi adalah meningkatkan kemandirian masyarakat dan desa, serta
mewujudkan desa-desa berkelanjutan yang memiliki ketahanan sosial, ekonomi
dan ekologi sesuai dengan amanat Undang-Undang No.6/2014 tentang Desa
dengan sasaran berkurangnya jumlah desa tertinggal sebesar 7 persen. Selain itu,
membangun keterkaitan ekonomi lokal antara perkotaan dan perdesaan melalui
integrasi perdesaan mandiri pada 9 kawasan pertumbuhan baru. Dalam rangka
percepatan pembangunan desa di Wilayah Pulau Sulawesi akan dilakukan:
1. Pengembangan Penghidupan Berkelanjutan Bagi Masyarakat Miskin dan
Rentan di Desa
a. Peningkatan peran dan kapasitas pemerintah daerah dalam memajukan
ekonomi masyarakat miskin dan rentan;
b. Peningkatan kapasitas masyarakat miskin dan rentan dalam pengembangan
usaha berbasis lokal;
c. Pemberian dukungan bagi masyarakat miskin dan rentan melalui
penyediaan lapangan usaha, dana bergulir, dan lembaga keuangan mikro.
V - 15

2. Peningkatan Ketersediaan Pelayanan Umum dan Pelayanan Dasar
Minimum di Perdesaan
a. Pembangunan maupun peningkatan kualitas sarana dan prasarana dasar
bidang pendidikan, khususnya sekolah dasar dan sekolah menengah;
b. Penyediaan sarana dan prasarana kesehatan melalui penyediaan
puskesmas yang pelayanannya mencakup kawasan desa tertinggal dan
berkembang;
c. Penyediaan sarana dan prasarana perumahan di kawasan desa tertinggal
dan berkembang;
d. Peningkatan distribusi tenaga pendidik dan tenaga kesehatan khususnya di
desa-desa terpencil;
e. Peningkatan kualitas sarana dan prasarana transportasi, baik darat, laut,
maupun udara;
f. Peningkatan kapasitas dan kualitas jaringan listrik dan jaringan
telekomunikasi.
3. Peningkatan Keberdayaan Masyarakat Perdesaan
a. Peningkatan keberdayaan masyarakat perdesaan, melalui fasilitasi dan
pendampingan berkelanjutan dalam perencanaan, pembangunan, dan
pengelolaan desa;
b. Penguatan lembaga adat dan Desa Adat, perlindungan hak-hak masyarakat
adat sesuai dengan perundangan yang berlaku;
c. Peningkatan keberdayaan masyarakat melalui penguatan sosial budaya
masyarakat dan keadilan gender (kelompok wanita, pemuda, anak, dan TKI)
d. Peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan dan
kesehatan bagi masyarakat di desa tertinggal.
4. Perwujudan Tata Kelola Pemerintahan Desa yang Baik
a. Fasilitasi peningkatan kapasitas pemerintah desa;
b. Fasilitasi peningkatan kapasitas Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dan
lembaga-lembaga lainnya di tingkat desa;
c. Pengembangandata dan informasi desa yang digunakan sebagai acuan
bersama perencanaan dan pembangunan desa.
5. Perwujudan kemandirian Pangan dan Energi Perdesaan Menuju Desa
Berkelanjutan
a. Peningkatan pengendalian pemanfaatan ruang kawasan perdesaan melalui
redistribusi lahan kepada petani/nelayan (land reform), serta menekan laju
V - 16

alih fungsi lahan pertanian, hutan, dan kawasan pesisir secara
berkelanjutan;
b. Fasilitasi peningkatan kesadaran masyarakat dalam pemanfaatan,
pengelolaan, dan konservasi sumber daya alam dan lingkungan hidup yang
seimbang, berkelanjutan, dan berwawasan mitigasi bencana;
c. Pemberian dukungan kepada masyarakat pesisir dalam gerakan konservasi
laut;
d. Fasilitasi peningkatan kesadaran masyarakat dalam mewujudkan
kemandirian pangan dan energi.
6. Pengembangan Ekonomi Perdesaan
a. Peningkatan kegiatan ekonomi desa yang berbasis komoditas unggulan,
melalui pengembangan rantai nilai, peningkatan produktivitas, serta
penerapan ekonomi hijau;
b. Penyediaan dan peningkatan sarana dan prasarana produksi, pengolahan,
dan pasar desa;
c. Peningkatan akses masyarakat desa terhadap modal usaha, pemasarandan
informasi pasar;
d. Peningkatan kapasitas masyarakat dalam bidang kewirausahaan berbasis
potensi lokal;
e. Pengembangan lembaga pendukung ekonomi desa seperti koperasi,
BUMDesa, dan lembaga ekonomi mikro lainnya;
f. Fasilitasi masyarakat dalam mengelola koperasi dan BUMDesa.

5.5.2.3 Peningkatan Keterkaitan Kota dan Desa di Wilayah Sulawesi
Peningkatan keterkaitan kota dan desa di Wilayah Pulau Sulawesi
diarahkan dengan mengembangkan 9 kawasan sebagai penghubung kota desa
yaitu Pawonsari dan sekitarnya (Kab. Boalemo, Kab. Gorontalo, dan Kab. Gorontalo
Utara, Prov. Gorontalo), Buol dan sekitarnya (Kab. Buol, Prov. Sulteng), Poso dan
sekitarnya, (Kab. Poso dan Kab. Donggala, Prov. Sulteng), Kolonedale dan
sekitarnya (Kab. Morowali, Kab. Morowali Utara, Prov. Sulteng dan Kab. Luwu
Timur, Prov Sulsel), Mamuju dan sekitarnya (Kab. Mamuju, Kab. Mamuju Tengah,
Prov. Sulbar), Pinrang dan sekitarnya (Kab. Pinrang, Prov. Sulsel), Barru dan
sekitarnya (Kab. Barru, Kab. Sidenreng Rappang, Prov. Sulsel), Muna dan
sekitarnya (Kab. Muna, Prov. Sultra), serta Kawasan Wakatobi dan sekitarnya (Kab.
Wakatobi, Prov. Sultra). Kawasan-kawasan ini mencakup kawasan transmigrasi,
kawasan agropolitan dan minapolitan, serta kawasan pariwisata.
Kebijakan untuk meningkatkan keterkaitan desa-kota diarahkan untuk
mendukung pengembangan kawasan perdesaan menjadi pusat pertumbuhan baru
V - 17

terutama di desa-desa mandiri. Adapun prioritas strategi yang dilaksanakan
sebagai berikut:
1. Perwujudan Konektivitas antar Kota Sedang dan Kota Kecil, dan antar
Kota Kecil dan Desa sebagai Tulang Punggung (Backbone)
Keterhubungan Desa-Kota
a. Percepatan pembangunan infrastruktur transportasi, dan komunikasi untuk
memperlancar arus barang, jasa, penduduk, dan modal termasuk
pengembangan dan pembangunan bandara perintis
b. Penerapan teknologi informasi dan komunikasi untuk memfasilitasi
perdagangan dan informasi antar wilayah.
c. Percepatan pemenuhan suplai energi/listrik untuk memenuhi kebutuhan
domestik dan industri.
2. Perwujudan Keterkaitan Kegiatan Ekonomi Hulu (upstream linkages)
dan Kegiatan Ekonomi Hilir (downstream linkages) Desa-Kota
a. Penyediaan fasilitas pendukung ekonomi lokal untuk meningkatkan
produksi dan distribusi barang dan jasa desa-kota dan antar kota,meliputi
peningkatan akses desa-desa produksi menuju pusat pertumbuhan (lihat
Tabel 5.6), pengembangan pasar, toko saprodi, dan pengembangan
kawasan agropolitan, minapolitan, dan transmigrasi;
b. Perwujudan industri pengolahan hasil pertanian secara luas yang berbasis
koperasi dan UMKM, meliputi industri pengolahan hasil pertanian di
Kawasan Pawonsari, Buol, Poso, Kolonedale, Pinrang, Barru, dan Muna,
serta industri pengolahan hasil perikanan dan/atau kelautan di Kawasan
Pawonsari, Kolonedale, Tobadak, Pinrang, Muna, dan Wangi-Wangi;
c. Pengembangan daya tarik wisata bahari di Kawasan Pariwisata Wakatobi
melalui peningkatan ketersediaan infrastruktur penunjang;
d. Peningkatan akses terhadap modal usaha melalui pengembangan lembaga
keuangan dengan kredit usaha ringan;
e. Peningkatan akses bagi pelaku usaha mengenai pemasaran, teknologi, dan
informasi;
f. Penggunaan teknologi dan pengenalan ekonomi hijau berbasis agroindustri
dan agrowisata untuk meningkatkan nilai tambah.
3. Peningkatan Kapasitas Tata Kelola, Kelembagaan, dan Masyarakat dalam
Peningkatan Keterkaitan Kota-Desa
a. Peningkatan kapasitas aparatur dan masyarakat mengenai kelembagaan
dan tata kelola ekonomi daerah;
b. Pengembangan kerjasama antar daerah, dan kerjasama pemerintah-swasta,
serta forum-forum yang mendorong perwujudan kerjasama antar
stakeholder;
V - 18

c. Peningkatan pendidikan informal untuk memperkuat kemampuan inovasi
dan kreatifitas lokal serta potensi keragaman sosial budaya melalui balai-
balai pelatihan di tingkat lokal;
d. Peningkatan kapasitas perencanaan dan penyelenggaraan kerjasama
antarkota dan antar kota-desa.
e. Peningkatan pengetahuan dan kemampuan masyarakat mengenai
kelestarian laut dan pesisir serta mitigasi bencana, terutama di Kawasan
Pawonsari, Kolonedale, Mamuju, Suppa, Barru, Muna, dan Wakatobi.
Secara diagramatis, lokasi prioritas pengembangan kawasan perkotaan dan
perdesaan dapat dilihat pada Gambar 5.2 dan Tabel 5.6.
TABEL 5.4.
LOKASI PRIORITAS KAWASAN STRATEGIS NASIONAL PERKOTAAN SEBAGAI PUSAT
PERTUMBUHAN WILAYAH DI SULAWESI
Kode Lokasi Prioritas Fokus Pengembangan
K1 KSN Perkotaan Maminasata:
Kota Makassar, Kab. Maros,
Sungguminasa (Ibukota Kab.
gowa), Kab. Takalar
Diarahkan sebagai pusat kegiatan global (PKG) yang mendorong
pertumbuhan kota-kota disekitarnya sebagai sentra produksi wilayah
pulau serta sebagai pusat orientasi pelayanan berskala internasional dan
penggerak utama bagi Kawasan Timur Indonesia;
K2 KSN (Usulan) Perkotaan Manado
Raya
(Manado,
Bitung,Tomohon,Minahasa utara
dan Minahasa Selatan)
Diarahkan sebagai pusat kegiatan nasional yang berorientasi pada
meningkatkan spesialisasi fungsi pariwisata, industri pengolahan
dengan tetap mempertahankan budaya lokal
Sumber : Bappenas, 2014


TABEL 5.5.
LOKASI PRIORITAS PUSAT PERTUMBUHAN BARU YANG BERFOKUS PADA UPAYA
PEMERATAAN WILAYAH DI SULAWESI
Kode Lokasi Prioritas Fokus Pengembangan
P1 Gorontalo Diarahkan sebagai kota agropolitan yang berfungsi sebagai pusat kegiatan nasional
(PKN) yang berorientasi pada upaya mendorong pertumbuhan produksi pertanian,
pusat pengolahan ikan tangkap, dan wisata bahari yang memanfaatkan potensi Teluk
Tomini
P2 Palu Diarahkan sebagai pusat kegiatan nasional (PKN) yang berorientasi pada
pengembangan jasa perdagangan yang melayani kebutuhan pengembangan sentra-
sentra produksi wilayah Sulawesi Tengah dan sekitarnya.
P3 Palopo Diarahkan sebagai kota yang berfungsi sebagai pusat kegiatan nasional (PKN)yang
berorientasi pada kegiatan pelayanan sentra pengolahan hasil pertanian (sentra
pangan nasional) dan perkebuanan
P4 Kendari Diarahkan sebagai kota yang berfungsi sebagai pusat pertumbuhan nasional (PKN) dan
berorientasi pada kegiatan pariwisata, pengolahan hasil perkebunan, tangkapan ikan
dan perdagangan yang melayani kebutuhan pengembangan sentra-sentra produksi
wilayah Sulawesi Tenggara
P5 Bau-bau Diarahkan sebagai kota yang berfungsi sebagai pusat pertumbuhan wilayah (PKW)
yang berorientasi pada aktivitas pariwisata bahari-ekowisata yang memanfaatkan
kawasan Taman Laut Nasional Wakatobi yang memiliki nilai global heritage di bidang
keanekaragaman flora dan fauna laut dan pengolahan ikan tangkap.
Sumber : Bappenas, 2014
V - 19

GAMBAR 5.2
LOKASI PRIORITAS PENGEMBANGAN KAWASAN PERKOTAAN DAN PERDESAAN




































Sumber : Bappenas, 2014
V - 20

TABEL 5.6.
LOKASI PRIORITAS PUSAT PERTUMBUHAN BARU YANG BERFOKUS PADA UPAYA
PEMERATAAN WILAYAH DI SULAWESI
Kode Lokasi Kawasan Kelompok Kawasan Komoditas Unggulan
D1 Pawonsari dan
sekitarnya
(Kab. Boalemo, Kab.
Gorontalo, dan Kab.
Gorontalo Utara, Prov.
Gorontalo)
Perkotaan Limboto
Kawasan Minapolitan Budidaya: Anggrek
Kawasan Minapolitan Perikanan Tangkap:
Anggrek, Kwandang
Kawasan Agropolitan (Padi): Mootilango,
Tolangohula
KPB Pawonsari
Kawasan Transmigrasi: Dino Liyohu
Kota Otonom Terdekat : Gorontalo
Udang
Lobster
Kerapu
Padi
Jagung
D2 Buol dan sekitarnya
(Kab. Buol, Prov.
Sulteng)
Perkotaan Buol
KPB Air Tenang
Kawasan Transmigrasi: Momunu
PKW terdekat: Buol
Kota Otonom Terdekat : Gorontalo dan
Palu
Padi
Pakawuja
D3 Poso dan sekitarnya
(Kab. Poso dan Kab.
Donggala, Prov. Sulteng)
Perkotaan Poso
KPB Tamporole
Kawasan Agropolitan (Jagung): Donggala
Kawasan Transmigrasi: Ambarona ,
Kawasan Tertinggal: Poso
Jagung
Cengkeh
D4 Kolonedale dan
sekitarnya
(Kab. Morowali, Kab.
Morowali Utara, Prov.
Sulteng dan Kab. Luwu
Timur, Prov Sulsel)
Perkotaan Kolonedale
Kawasan Minapolitan: Bungku Selatan
KPB Mahalona
KPB Bungku
Kawasan Transmigrasi: Kolonedale ,
Lembo
PKW Terdekat: Kolonedale
Rumput Laut
Padi
Kakao
D5 Mamuju dan sekitarnya
(Kab. Mamuju, Kab.
Mamuju Tengah, Prov.
Sulbar)
Perkotaan Tobadak
Kawasan Minapolitan Perikanan Budidaya:
Mamuju
KPB Tobadak
Kawasan Transmigrasi: Salopangkang,
Tomo,
PKW Terdekat: Mamuju dan Majene
Rumput Laut
Padi
Kakao
D6 Pinrang dan sekitarnya
(Kab. Pinrang, Prov.
Sulsel)
Perkotaan Pinrang
Kawasan Minapolitan Budidaya: Suppa
Kawasan Agropolitan (Padi): Mattiro
Sompe, Lanrisang, Duampanua
Kota Otonom Terdekat : Pare-Pare
Udang
Padi
D7 Barru dan sekitarnya
(Kab. Barru, Kab.
Sidenreng Rappang,
Prov. Sulsel)
Perkotaan Lalabata
Kawasan Agropolitan (Kedelai): Barru
Kawasan Transmigrasi: Maritengae
PKW Terdekat: Barru
Kota Otonom Terdekat : Pare-Pare dan
Makassa
Kedelai
Padi
D8 Muna dan sekitarnya
(Kab. Muna, Prov. Sultra)
Perkotaan Muna
Kawasan Minapolitan Budidaya: Kabangka
Kawasan Agropolitan (Jagung): Kentu
Kowuna, Kabangka, Maginti
Kota Otonom Terdekat : Bau-Bau
Udang
Jagung
D9 Wakatobi dan sekitarnya
(Kab. Wakatobi, Prov.
Sultra)
Perkotaan Wangi-Wangi
Kawasan Pariwisata: KSPN Wakatobi
Kawasan Tertinggal: Wakatobi
Kota Otonom Terdekat : Bau-Bau
Perikanan Tangkap
Wisata bahari
Sumber : Bappenas, 2014

V - 21

5.5.3 Pengembangan Daerah Tertinggal dan Kawasan Perbatasan
5.5.3.1 Pengembangan Daerah Tertinggal
Arah kebijakan Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal di Wilayah
Pulau Sulawesi difokuskan pada upaya pemenuhan kebutuhan pelayanan dasar
publik dan pengembangan perekonomian masyarakat yang berbasis pertanian,
perkebunan, perikanan, migas, dan pertambangan nasional yang didukung oleh
Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal dan infrastruktur penunjang
konektivitas antara daerah tertinggal dan pusat pertumbuhan. Pembangunan
daerah tertinggal dilakukan melalui strategi sebagai berikut:
1. Pemenuhan Pelayanan dasar publik
Mendukung pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM) untuk pelayanan
dasar publik di daerah tertinggal dengan prioritas kegiatan sebagai berikut:
a. Bidang Pendidikan
1) Pembangunan dan rehabilitasi sarana pendidikan dasar diutamakan di
bagian tengah dan bagian barat Sulawesi;
2) Pemerataan distribusi, kapasitas, dan pemberian insentif tenaga
pendidik diutamakan di bagian tengah, bagian barat, sebagian bagian
selatan wilayah Sulawesi;
3) Peningkatan penyelenggaraan pelayanan pendidikan dasar bagi
masyarakat di kawasan terisolir, perairan, dan kepulauan;
4) Penyediaan rumah dinas tenaga pendidik di di kawasan terisolir,
perairan, dan kepulauan.
b. Bidang Kesehatan
1) Pembangunan, rehabilitasi, dan peningkatan sarana kesehatan
diutamakan di bagian Tengah dan Selatan Sulawesi;
2) Pengadaan sarana kesehatan keliling terapung untuk kawasan perairan
dan kepulauan di wilayah Sulawesi;
3) Pemerataan distribusi dan kapasitas tenaga kesehatan (dokter, bidan,
perawat, apoteker, analis kesehatan, ahli gizi), alat kesehatan, dan obat-
obatan di bagian tengah dan utara wilayah Sulawesi.
c. Bidang Energi
1) Pengembangan PLTMH, PLTS, dan PLTU;
2) Penyediaan energi biogas yang ramah lingkungan khususnya di
kawasan terisolir dan kepulauan;
3) Penyediaan bahan bakar minyak ke wilayah terpencil khususnya di
kawasan terisolir dan kepulauan.


V - 22

d. Bidang Informasi dan Telekomunikasi
1) Pengembangan radio komunitas dan radio komunikasi khususnya di
desa-desa terisolir dan kepulauan di wilayah Sulawesi;
2) Pembangunan menara penguat sinyal dan radio penguat siaran RRI dan
TVRI, khususnya di kawasan kepulauan, dan desa-desa perhutanan
Sulawesi.
e. Bidang Permukiman dan Perumahan
1) Perbaikan lingkungan permukiman diutamakan pada kawasan
perairan, kepulauan, dan pesisir.
2. Pengembangan Ekonomi Lokal
Pengembangan kinerja perekonomian masyarakat di daerah tertinggal secara
terpadu dalam rangka meningkatkan nilai tambah sesuai dengan karakteristik,
posisi strategis, dan keterkaitan antar kawasan. Strategi ini meliputi aspek
infrastruktur, manajemen usaha, akses permodalan, inovasi, dan pemasaran
dengan prioritas kegiatan sebagai berikut:
a. Peningkatan kapasitas sarana pelabuhan khususnya untuk sektor pertanian,
perkebunan, perikanan, migas, dan pertambangan nasional;
b. Pemberdayaan ekonomi masyarakat di wilayah Sulawesi seperti
penyediaan tenaga pendamping khususnya sub-sektor tanaman pangan,
perkebunan, dan kawasan pesisir;
c. Pengembangan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dan Koperasi khususnya
dalam bidang perkebunan dan perikanan;
d. Pengembangan minapolitan dan penganekaragaman produk hasil laut serta
pengembangan mata pencaharian alternatif bagi nelayan;
e. Fasilitasi bantuan peralatan penangkapan yang dilengkapi dengan sistem
informasi lokasi penangkapan ikan (satelit);
f. Pengembangan sarana pengolahan produk hasil laut diutamakan di bagian
selatan, utara, dan tenggara wilayah Sulawesi;
g. Penambahan dan peningkatan kapasitas fasilitas penyimpanan hasil
pangan, perkebunan dan hasil laut di pusat-pusat perdagangan dan
pelabuhan;
h. Pengembangan kegiatan kepariwisataan bahari dan sosial-budaya melalui
peningkatan insfrastruktur, sarana, promosi, serta peningkatan peran serta
masyarakat adat, khususnya di Kabupaten Wakatobi, Tojo Una-Una, dan
Banggai Kepulauan;
i. Pengembangan pasar tradisional.


V - 23

3. Penguatan Konektivitas dan Sislognas
Peningkatan konektivitas daerah tertinggal dengan pusat pertumbuhan yang
diprioritaskan pada ketersediaan sarana dan prasarana penunjang
peningkatan kinerja pembangunan ekonomi daerah dengan prioritas kegiatan
sebagai berikut:
a. Membuat sistem konektivitas laut untuk mendistribusikan hasil bumi
menuju lokasi di luar Kepulauan Sulawesi;
b. Pembangunan dermaga di pulau-pulau kecil yang tersebar di wilayah
kepulauan Sulawesi;
c. Pembangunan bandara perintis dan moda transportasi udara di sebagai
daerah selatan, barat, dan utara Sulawesi;
d. Pengembangan pelabuhan nasional dan pelabuhan penyeberangan
antarpulau di wilayah kepulauan;
e. Pengembangan jalur kereta api antarkota pada kawasan utara, selatan, dan
barat Kepulauan Sulawesi;
f. Peningkatan status jalan dan pembangunan jalan penghubung diutama
antara bagian selatan, barat, dan tengah Sulawesi.
4. Penguatan Kemampuan SDM dan IPTEK
Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan kapasitas kelembagaan
pemangku kepentingan pembangunan daerah tertinggal di pusat maupun di
daerah yang terintegrasi untuk menunjang pengelolaan pertanian,
perkebunan, perikanan, migas, dan pertambangan nasional. Strategi ini
meliputi aspek peraturan perundangan, tata kelola, SDM, rumusan dokumen
kebijakan, dan pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)
dengan prioritas kegiatan sebagai berikut:
g. Menyusun rencana induk dan rencana aksi pengembangan ekonomi
berbasis pada agroindustri perkebunan, pangan-hortikultura, dan
perikanan laut (minapolitan);
h. Peningkatan kualitas aparatur daerah khususnya pada pemenuhan SPM
pada bidang pendidikan, kesehatan, listrik, informasi, dan telekomunikasi di
daerah tertinggal dari aspek perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian;
i. Pengembangan sekolah-sekolah kejuruan dan politeknik untuk menyiapkan
SDM dalam rangka menunjang pengelolaan pertanian, perkebunan,
perikanan, migas, dan pertambangan nasional;
j. Pengembangan pusat teknologi informasi pemasaran, pendidikan,
pelatihan, pengembangan SDM pelaku usaha untuk menunjang
pengembangan usaha khususnya sub-sektor perkebunan, tanaman pangan,
tanaman hortikultura, dan perikanan laut;
k. Pelatihan keterampilan kewirausahaan bagi pemuda;
V - 24

l. Pelatihan pengolahan hasil produksi perikanan kepada masyarakat di
kawasan pesisir wilayah Sulawesi.
5. Penguatan Regulasi dan Insentif
Dalam upaya mendukung percepatan pembangunan daerah tertinggal, bentuk
afirmasi yang lebih nyata dan konkrit dilakukan dengan evaluasi terhadap
harmonisasi regulasi untuk menciptakan iklim yang kondusif dalam
pengelolaan hasil bumi dan energi melalui pelaksanaan prioritas program
sebagai berikut:
a. Harmonisasi kebijakan, program, dan kegiatan daerah untuk percepatan
pembangunan daerah tertinggal;
b. Penyusunan Strategi Daerah tentang Percepatan Pembangunan Daerah
Tertinggal;
c. Koordinasi dan sinkronisasi antara pemerintah dengan pemerintah daerah,
antar-SKPD dalam penyelenggaraan program pembangunan di daerah;
d. Pemberian insentif untuk pihak swasta dalam proses pengembangan usaha
di daerah tertinggal;
e. Tunjangan khusus bagi pegawai pelayanan dasar publik di daerah tertinggal
(bidan, dokter, guru, penyuluh pertanian).

5.5.3.2 Pengembangan Kawasan Perbatasan
Arah kebijakan Pengembangan Kawasan Perbatasan di Wilayah Pulau
Sulawesi difokuskan untuk untuk meningkatkan peran sebagai halaman depan
negara yang maju dan berdaulat dengan negara tetangga Filipina di perbatasan
laut. Fokus Pengembangan Kawasan Perbatasan di Wilayah Sulawesi diarahkan
pada pengembangan Pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN) di Wilayah Pulau
Sulawesi, yaitu PKSN Tahuna dan PKSN Melonguane, serta Kecamatan Lokasi
Prioritas (Lokpri) penanganan kawasan perbatasan tahun 2015-2019.
Strategi pengembangan kawasan perbatasan diarahkan untuk mewujudkan
kemudahan aktivitas masyarakat kawasan perbatasan dalam berhubungan dengan
negara tetangga dan menciptakan kawasan perbatasan yang berdaulat. Strategi
tersebut yaitu:
1. Penguatan pengelolaan dan fasilitasi penegasan, pemeliharaan,
pengamanan kawasan perbatasan Sulawesi
Penguatan pengelolaan dan fasilitasi penegasan, pemeliharaan, pengamanan,
dan aktivitas lintas batas Wilayah Negara secara terpadu di Wilayah Pulau
Sulawesi, dilakukan dengan:
a. Pengembangan pusat pelayanan kepabeanan, imigrasi, karantina, dan
keamanan terpadu di PKSN Tahuna dan PKSN Melonguane;
V - 25

GAMBAR 5.3
V - 26

TABEL 5.7.
PROFIL DAERAH TERTINGGAL WILAYAH SULAWESI

NO. KABUPATEN
P
E
N
G
A
N
G
G
U
R
A
N

(
%
)

P
R
A
S
A
R
A
N
A

J
A
L
A
N

T
I
D
A
K

M
A
N
T
A
P

(
%
)

E
L
E
K
T
R
I
F
I
K
A
S
I

(
%
)

D
E
S
A

P
E
N
G
G
U
N
A

A
I
R

B
E
R
S
I
H

U
N
T
U
K

M
I
N
U
M
/
M
E
M
A
S
A
K

(
%
)

K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

S
A
R
A
N
A

I
N
F
O
R
M
A
S
I

D
A
N

K
O
M
U
N
I
K
A
S
I

R
A
T
A
-
R
A
T
A

L
A
M
A

S
E
K
O
L
A
H

(
T
A
H
U
N
)

K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

D
A
N

A
K
S
E
S
I
B
I
L
I
T
A
S

S
A
R
A
N
A

P
E
N
D
I
D
I
K
A
N

R
A
T
A

R
A
T
A

J
A
R
A
K

P
U
S
K
E
S
M
A
S

(
K
m
)

R
A
T
A

R
A
T
A

J
A
R
A
K

P
U
S
K
E
S
M
A
S

P
E
M
B
A
N
T
U

(
K
m
)

K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

T
E
N
A
G
A

K
E
S
E
H
A
T
A
N

(
D
O
K
T
E
R
/
B
I
D
A
N
/
P
A
R
A
M
E
D
I
S
)

A
K
S
E
S
I
B
I
L
I
T
A
S

K
E

T
E
N
A
G
A

K
E
S
E
H
A
T
A
N

(
K
m
)

J
U
M
L
A
H

A
P
A
R
A
T
U
R

D
A
E
R
A
H

B
E
R
D
A
S
A
R
K
A
N

P
E
N
D
I
D
I
K
A
N

A
K
S
E
S
I
B
I
L
I
T
A
S

K
E

S
A
R
A
N
A

P
E
M
E
R
I
N
T
A
H
A
N

A
K
S
E
S
I
B
I
L
I
T
A
S

S
A
R
A
N
A

F
I
S
I
K

K
E
G
I
A
T
A
N

E
K
O
N
O
M
I

D
E
S
A

T
I
D
A
K

T
E
R
J
A
N
G
K
A
U

S
I
N
Y
A
L

S
E
L
U
L
E
R
(
%
)

D
E
S
A

T
I
D
A
K

T
E
R
J
A
N
G
K
A
S
I
A
R
A
N

T
V
R
I

(
%
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

S
D

(
K
m
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

S
M
P

(
K
m
)

R
A
T
A

R
A
T
A

K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

D
O
K
T
E
R

/

K
E
C
A
M
A
T
A
N

R
A
T
A

R
A
T
A

K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

B
I
D
A
N

/

D
E
S
A

R
A
T
A

R
A
T
A

K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

P
A
R
A
M
E
D
I
S

/

K
E
C
A
M
A
T
A
N

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

P
R
A
K
T
E
K

D
O
K
T
E
R

(
K
m
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

P
R
A
K
T
E
K

B
I
D
A
N

(
K
m
)

<

S
M
U

(
%
)

D
1
/
D
2
/
D
3

(
%
)

D
4
/
S
1

(
%
)

S
2
/
S
3

(
%
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

K
E

K
A
N
T
O
R

K
E
C
A
M
A
T
A
N

(
K
m
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

K
E

K
A
N
T
O
R

K
A
B
U
P
A
T
E
N

(
K
m
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

P
A
S
A
R

(
K
m
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

L
E
M
B
A
G
A

K
E
U
A
N
G
A
N

(
B
A
N
K

U
M
U
M
)

(
K
m
)

A SULAWESI UTARA 7.24 74.34 92.3
9
38.7
7
53.21 79.08 8.
34
0.
84
2.8
8
5.
44
5.82 2.82 0.58 16.93 20.59 32.67 91
.6
6
2.
99
5.
13
0.
21
5.03 39.36 29.62 23.05
1 KEPULAUAN SANGIHE * 7.91 59.61 86.6
3
29.3
4
44.31 92.81 7.
74
1.
32
3.9
3
7.
10
3.51 3.87 0.47 24.40 20.44 34.34 92
.3
5
2.
19
5.
26
0.
20
6.29 33.09 18.77 27.82
2 KEPULAUAN TALAUD * 9.89 92.51 94.3
7
60.7
8
58.17 90.85 8.
80
0.
64
2.4
4
5.
81
6.85 1.68 0.65 11.58 29.38 44.18 89
.6
9
3.
80
6.
27
0.
24
4.90 49.24 36.69 29.73
3 KEPULAUAN SITARO * 3.91 70.89 96.1
6
26.1
9
57.14 53.57 8.
49
0.
56
2.2
8
3.
40
7.08 2.90 0.62 14.80 11.96 19.49 92
.9
4
2.
99
3.
86
0.
21
3.90 33.83 33.41 11.58
B SULAWESI TENGAH 4.21 59.24 70.8
7
49.1
9
50.04 89.18 7.
99
1.
69
5.3
0
9.
90
5.00 2.03 1.03 16.52 35.43 42.88 91
.1
9
2.
23
6.
31
0.
27
10.70 86.71 20.81 32.71
4 BANGGAI KEPULAUAN 3.57 18.25 61.5
4
23.8
1
79.52 100.00 7.
94
9.
14
4.8
4
11
.9
2
6.27 1.47 0.45 12.00 38.43 35.65 89
.7
8
2.
35
7.
08
0.
79
9.75 60.40 21.09 37.36
5 BANGGAI * 5.62 28.74 75.8
4
71.0
9
45.72 99.12 8.
03
1.
68
6.0
6
9.
07
8.36 2.78 0.76 14.94 33.49 33.27 91
.6
4
1.
78
6.
43
0.
15
10.88 88.93 26.87 42.64
6 MOROWALI * 5.19 26.93 78.6
5
62.0
8
52.50 100.00 8.
20
1.
83
5.9
4
11
.1
2
4.02 2.50 0.90 19.86 39.89 42.30 90
.0
8
2.
99
6.
93
0.
00
13.95 117.69 11.53 41.26
7 POSO * 5.78 76.59 85.0
7
34.6
2
33.97 94.23 8.
80
1.
00
4.0
4
7.
90
4.70 2.42 1.72 22.00 33.23 27.49 89
.5
7
2.
76
7.
45
0.
23
7.89 75.52 51.81 22.98
8 DONGGALA 2.94 75.67 61.1
4
54.6
7
50.67 60.00 7.
65
0.
00
6.2
5
12
.1
2
4.24 0.81 1.08 8.31 48.89 30.67 95
.7
5
1.
30
2.
62
0.
32
10.46 105.64 12.59 43.80
9 TOLI-TOLI 3.89 88.71 76.0
1
50.5
5
54.95 95.60 7.
86
0.
00
8.3
5
11
.5
9
2.66 2.30 1.33 20.50 32.27 34.56 87
.6
0
2.
54
9.
34
0.
52
12.13 71.58 15.60 31.02
10 BUOL * 3.17 62.02 52.2
1
63.8
9
53.70 100.00 8.
30
0.
50
3.2
8
6.
69
3.91 2.00 0.82 19.82 22.53 82.04 89
.3
6
2.
41
8.
15
0.
07
6.96 36.36 5.09 21.17
11 PARIGI MOUTONG 4.15 80.02 62.3
2
67.5
0
21.50 92.50 7.
17
1.
00
3.3
1
6.
27
2.42 1.95 1.48 14.45 22.98 20.68 92
.4
7
2.
23
4.
92
0.
38
8.31 140.51 16.74 11.57
12 TOJU UNA-UNA 3.97 75.48 72.1
4
30.5
8
59.50 100.00 7.
92
0.
70
4.7
1
14
.1
0
6.30 2.78 0.64 26.56 48.34 91.51 93
.8
5
2.
05
4.
10
0.
00
17.69 77.62 16.08 51.89
13 SIGI 3.77 60.00 83.8
0
33.1
2
48.41 50.32 8.
06
1.
08
6.2
5
8.
23
7.14 1.33 1.07 6.80 34.24 30.59 91
.7
5
1.
94
6.
10
0.
21
9.00 44.68 30.67 23.44
V - 27

NO. KABUPATEN
P
E
N
G
A
N
G
G
U
R
A
N

(
%
)

P
R
A
S
A
R
A
N
A

J
A
L
A
N

T
I
D
A
K

M
A
N
T
A
P

(
%
)

E
L
E
K
T
R
I
F
I
K
A
S
I

(
%
)

D
E
S
A

P
E
N
G
G
U
N
A

A
I
R

B
E
R
S
I
H

U
N
T
U
K

M
I
N
U
M
/
M
E
M
A
S
A
K

(
%
)

K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

S
A
R
A
N
A

I
N
F
O
R
M
A
S
I

D
A
N

K
O
M
U
N
I
K
A
S
I

R
A
T
A
-
R
A
T
A

L
A
M
A

S
E
K
O
L
A
H

(
T
A
H
U
N
)

K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

D
A
N

A
K
S
E
S
I
B
I
L
I
T
A
S

S
A
R
A
N
A

P
E
N
D
I
D
I
K
A
N

R
A
T
A

R
A
T
A

J
A
R
A
K

P
U
S
K
E
S
M
A
S

(
K
m
)

R
A
T
A

R
A
T
A

J
A
R
A
K

P
U
S
K
E
S
M
A
S

P
E
M
B
A
N
T
U

(
K
m
)

K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

T
E
N
A
G
A

K
E
S
E
H
A
T
A
N

(
D
O
K
T
E
R
/
B
I
D
A
N
/
P
A
R
A
M
E
D
I
S
)

A
K
S
E
S
I
B
I
L
I
T
A
S

K
E

T
E
N
A
G
A

K
E
S
E
H
A
T
A
N

(
K
m
)

J
U
M
L
A
H

A
P
A
R
A
T
U
R

D
A
E
R
A
H

B
E
R
D
A
S
A
R
K
A
N

P
E
N
D
I
D
I
K
A
N

A
K
S
E
S
I
B
I
L
I
T
A
S

K
E

S
A
R
A
N
A

P
E
M
E
R
I
N
T
A
H
A
N

A
K
S
E
S
I
B
I
L
I
T
A
S

S
A
R
A
N
A

F
I
S
I
K

K
E
G
I
A
T
A
N

E
K
O
N
O
M
I

D
E
S
A

T
I
D
A
K

T
E
R
J
A
N
G
K
A
U

S
I
N
Y
A
L

S
E
L
U
L
E
R
(
%
)

D
E
S
A

T
I
D
A
K

T
E
R
J
A
N
G
K
A
S
I
A
R
A
N

T
V
R
I

(
%
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

S
D

(
K
m
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

S
M
P

(
K
m
)

R
A
T
A

R
A
T
A

K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

D
O
K
T
E
R

/

K
E
C
A
M
A
T
A
N

R
A
T
A

R
A
T
A

K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

B
I
D
A
N

/

D
E
S
A

R
A
T
A

R
A
T
A

K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

P
A
R
A
M
E
D
I
S

/

K
E
C
A
M
A
T
A
N

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

P
R
A
K
T
E
K

D
O
K
T
E
R

(
K
m
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

P
R
A
K
T
E
K

B
I
D
A
N

(
K
m
)

<

S
M
U

(
%
)

D
1
/
D
2
/
D
3

(
%
)

D
4
/
S
1

(
%
)

S
2
/
S
3

(
%
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

K
E

K
A
N
T
O
R

K
E
C
A
M
A
T
A
N

(
K
m
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

K
E

K
A
N
T
O
R

K
A
B
U
P
A
T
E
N

(
K
m
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

P
A
S
A
R

(
K
m
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

L
E
M
B
A
G
A

K
E
U
A
N
G
A
N

(
B
A
N
K

U
M
U
M
)

(
K
m
)

C SULAWESI SELATAN 7.76 44.35 90.1
0
64.2
1
35.28 64.29 7.
11
1.
12
7.6
3
8.
58
3.45 2.59 1.41 17.63 26.10 23.63 89
.0
0
2.
87
7.
64
0.
50
10.88 35.13 15.14 30.72
14 SELAYAR * 5.19 37.79 83.3
9
56.7
9
37.04 97.53 7.
26
1.
00
4.5
5
11
.8
7
1.32 1.82 0.93 18.09 50.94 47.77 85
.7
1
4.
33
8.
80
1.
15
13.19 67.55 18.37 59.81
15 JENEPONTO 8.34 10.12 93.7
3
85.8
4
21.24 15.93 6.
23
0.
00
2.9
6
4.
53
1.73 2.09 1.21 21.55 10.51 9.06 91
.0
9
2.
35
6.
38
0.
18
5.57 18.10 6.94 12.55
16 PANGKAJENE KEPULAUAN
*
5.72 46.71 90.0
8
86.4
1
39.81 19.42 7.
07
0.
00
18.
38
12
.8
3
4.57 3.92 2.27 24.77 27.82 24.73 90
.3
0
1.
99
7.
44
0.
27
20.46 54.52 24.01 35.45
17 TORAJA UTARA * 11.8
0
82.79 93.2
1
27.8
1
43.05 74.17 7.
86
3.
47
4.6
3
5.
10
6.16 2.52 1.25 6.10 15.12 12.98 88
.8
9
2.
79
7.
92
0.
40
4.29 17.26 11.24 15.07
D SULAWESI TENGGARA 3.00 57.02 71.3
0
56.1
8
50.39 79.11 7.
72
1.
37
3.5
4
6.
33
14.94 1.61 0.80 13.60 35.48 48.52 89
.2
3
2.
72
7.
83
0.
22
6.04 55.34 9.31 33.04
18 BUTON 2.15 16.54 67.5
9
37.2
0
53.62 93.24 7.
04
0.
46
2.9
0
5.
97
4.52 1.52 0.81 8.38 41.33 46.14 90
.3
6
2.
40
7.
25
0.
00
7.93 74.97 12.33 42.74
19 MUNA * 2.08 39.44 74.0
0
82.4
3
55.23 98.74 7.
53
0.
55
2.6
3
4.
43
3.20 1.12 0.93 10.61 27.98 31.69 88
.8
8
3.
14
7.
42
0.
57
4.55 39.24 3.21 14.58
20 KONAWE 3.43 71.79 82.6
2
65.4
5
39.90 62.77 8.
56
1.
65
3.1
7
5.
28
10.75 1.03 0.54 16.20 27.11 25.59 86
.7
7
3.
49
8.
73
1.
01
5.65 59.86 11.25 30.49
21 KONAWE SELATAN* 2.71 58.28 77.5
0
78.6
3
48.77 66.30 7.
66
2.
77
4.2
3
8.
36
8.15 1.27 0.51 12.14 37.75 28.97 93
.7
4
2.
24
3.
94
0.
08
7.58 48.15 5.75 27.58
22 BOMBANA 2.64 37.57 65.9
6
46.7
6
61.87 93.53 7.
28
2.
15
5.1
7
8.
54
14.80 1.23 0.75 5.55 28.03 30.70 88
.8
9
2.
34
8.
77
0.
00
5.39 84.76 15.32 29.02
23 WAKATOBI 3.41 62.04 75.5
6
68.0
0
26.00 75.00 7.
76
0.
65
1.1
9
3.
52
6.16 2.88 1.06 26.00 23.97 98.61 90
.1
3
2.
36
7.
51
0.
00
5.14 39.46 6.77 39.59
24 KOLAKA UTARA * 5.76 68.77 64.6
4
28.5
7
34.59 90.98 7.
65
2.
48
4.6
1
5.
20
7.23 1.67 1.21 12.07 19.33 55.01 89
.4
6
2.
29
8.
02
0.
23
5.09 55.00 7.66 17.78
25 KONAWE UTARA * 1.89 82.87 76.1
7
23.9
7
62.33 100.00 8.
05
1.
10
4.6
7
6.
20
54.96 1.30 0.54 11.00 66.97 70.50 86
.9
7
2.
34
10
.5
9
0.
10
5.65 45.52 8.10 47.27
26 BUTON UTARA * 2.95 75.88 57.6
6
74.5
8
71.19 100.00 7.
97
0.
50
3.2
8
9.
46
24.69 2.50 0.83 20.50 46.88 49.45 87
.8
9
3.
89
8.
22
0.
00
7.35 47.36 13.44 48.27
E GORONTALO 6.15 79.28 71.0
8
84.6
5
40.63 64.43 6.
60
1.
15
2.4
6
5.
41
7.45 3.16 0.69 14.23 24.20 40.25 93
.8
0
1.
63
4.
34
0.
23
7.46 43.45 11.24 22.45
27 BOALEMO 4.32 53.61 70.1
1
88.1
0
44.05 95.24 6.
57
0.
40
2.0
6
6.
19
2.44 3.43 0.83 12.43 10.25 12.05 93
.9
1.
61
4.
26
0.
23
8.15 31.14 9.08 21.32
V - 28

NO. KABUPATEN
P
E
N
G
A
N
G
G
U
R
A
N

(
%
)

P
R
A
S
A
R
A
N
A

J
A
L
A
N

T
I
D
A
K

M
A
N
T
A
P

(
%
)

E
L
E
K
T
R
I
F
I
K
A
S
I

(
%
)

D
E
S
A

P
E
N
G
G
U
N
A

A
I
R

B
E
R
S
I
H

U
N
T
U
K

M
I
N
U
M
/
M
E
M
A
S
A
K

(
%
)

K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

S
A
R
A
N
A

I
N
F
O
R
M
A
S
I

D
A
N

K
O
M
U
N
I
K
A
S
I

R
A
T
A
-
R
A
T
A

L
A
M
A

S
E
K
O
L
A
H

(
T
A
H
U
N
)

K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

D
A
N

A
K
S
E
S
I
B
I
L
I
T
A
S

S
A
R
A
N
A

P
E
N
D
I
D
I
K
A
N

R
A
T
A

R
A
T
A

J
A
R
A
K

P
U
S
K
E
S
M
A
S

(
K
m
)

R
A
T
A

R
A
T
A

J
A
R
A
K

P
U
S
K
E
S
M
A
S

P
E
M
B
A
N
T
U

(
K
m
)

K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

T
E
N
A
G
A

K
E
S
E
H
A
T
A
N

(
D
O
K
T
E
R
/
B
I
D
A
N
/
P
A
R
A
M
E
D
I
S
)

A
K
S
E
S
I
B
I
L
I
T
A
S

K
E

T
E
N
A
G
A

K
E
S
E
H
A
T
A
N

(
K
m
)

J
U
M
L
A
H

A
P
A
R
A
T
U
R

D
A
E
R
A
H

B
E
R
D
A
S
A
R
K
A
N

P
E
N
D
I
D
I
K
A
N

A
K
S
E
S
I
B
I
L
I
T
A
S

K
E

S
A
R
A
N
A

P
E
M
E
R
I
N
T
A
H
A
N

A
K
S
E
S
I
B
I
L
I
T
A
S

S
A
R
A
N
A

F
I
S
I
K

K
E
G
I
A
T
A
N

E
K
O
N
O
M
I

D
E
S
A

T
I
D
A
K

T
E
R
J
A
N
G
K
A
U

S
I
N
Y
A
L

S
E
L
U
L
E
R
(
%
)

D
E
S
A

T
I
D
A
K

T
E
R
J
A
N
G
K
A
S
I
A
R
A
N

T
V
R
I

(
%
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

S
D

(
K
m
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

S
M
P

(
K
m
)

R
A
T
A

R
A
T
A

K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

D
O
K
T
E
R

/

K
E
C
A
M
A
T
A
N

R
A
T
A

R
A
T
A

K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

B
I
D
A
N

/

D
E
S
A

R
A
T
A

R
A
T
A

K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

P
A
R
A
M
E
D
I
S

/

K
E
C
A
M
A
T
A
N

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

P
R
A
K
T
E
K

D
O
K
T
E
R

(
K
m
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

P
R
A
K
T
E
K

B
I
D
A
N

(
K
m
)

<

S
M
U

(
%
)

D
1
/
D
2
/
D
3

(
%
)

D
4
/
S
1

(
%
)

S
2
/
S
3

(
%
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

K
E

K
A
N
T
O
R

K
E
C
A
M
A
T
A
N

(
K
m
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

K
E

K
A
N
T
O
R

K
A
B
U
P
A
T
E
N

(
K
m
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

P
A
S
A
R

(
K
m
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

L
E
M
B
A
G
A

K
E
U
A
N
G
A
N

(
B
A
N
K

U
M
U
M
)

(
K
m
)

1
28 POHUWATO * 3.94 92.36 79.7
0
89.4
2
35.58 72.12 6.
72
1.
03
2.6
7
5.
24
6.34 2.38 0.73 12.92 26.47 66.63 93
.2
5
2.
25
4.
25
0.
26
4.58 43.82 15.21 12.40
29 GORONTALO UTARA 2.98 91.87 63.4
2
76.4
2
42.28 91.87 6.
50
2.
01
2.6
4
4.
78
13.57 3.67 0.50 17.33 35.87 42.05 94
.2
4
1.
05
4.
51
0.
20
9.67 51.54 9.43 33.62
F SULAWESI BARAT 3.02 54.98 78.6
2
49.9
9
55.18 79.15 7.
50
1.
39
5.3
4
7.
94
17.88 2.07 1.19 17.70 24.66 32.60 87
.9
9
3.
31
8.
20
0.
50
8.39 58.88 8.93 24.00
30 MAJENE * 4.02 48.30 93.8
1
44.7
4
46.05 92.11 8.
50
0.
65
4.2
3
6.
51
2.04 2.25 1.41 25.50 29.18 25.42 82
.2
7
6.
15
11
.1
0
0.
48
6.69 46.23 12.74 13.46
31 MAMASA * 3.24 91.73 76.2
1
3.95 67.23 100.00 7.
07
1.
58
4.3
6
7.
51
2.78 0.88 0.59 10.76 32.75 83.17 86
.1
8
3.
69
9.
56
0.
57
7.46 34.20 6.67 37.70
32 POLEWALI MANDAR 3.35 28.22 82.0
5
52.1
0
37.13 41.32 7.
19
1.
73
4.5
2
6.
01
4.67 2.44 1.32 18.75 13.03 14.24 89
.3
0
2.
29
7.
91
0.
50
7.40 50.83 10.83 12.33
33 MAMUJU * 2.00 66.97 62.4
9
58.7
1
65.16 81.29 7.
47
3.
00
8.0
7
12
.0
7
76.85 3.13 1.20 24.75 28.68 22.95 89
.3
0
2.
66
7.
47
0.
57
14.01 103.95 10.06 41.64
34 MAMUJU UTARA 2.50 39.66 78.5
6
90.4
8
60.32 100.00 7.
26
0.
00
5.5
5
7.
60
3.08 1.67 1.43 8.75 19.68 17.21 92
.9
0
1.
76
4.
94
0.
39
6.40 51.24 4.34 14.86
RATA RATA WILAYAH 4.85 61.53 79.0
6
57.1
7
47.46 82.08 7.
54
1.
26
4.5
3
7.
27
9.09 2.38 0.95 16.10 28.17 37.13 90
.4
8
2.
63
6.
57
0.
32
8.08 53.14 15.84 27.66
RATA RATA DATING 5.41 55.41 69.2
7
52.2
9
47.97 78.18 7.
31
13
.5
13.
43
14
.2
2
12.96 8.8 1.06 39.58 34.00 34.36 92
.2
8
2.
48
5.
02
0.
22
12.61 53.97 25.02 45.02
RATA RATA NASIONAL 7.2
4
48.78 83.1
8
66.
55
32.11 48.63 7.
9
8.
73
7.9
7
8.
91
7.6 11 1.12 37.46 18.51 16.69 89
.8
5
3.
03
6.
70
0.
42
10.32 48.25 14.83 24.92
Sumber: BPS 2012, Podes 2011
Keterangan: *) 70 Kabupaten berpotensi terentaskan
V - 29

b. Pembenahan aktivitas lintas batas di pintu-pintu alternatif (ilegal) di
kawasan perbatasan Riau dan Kepulauan Riau;
c. Pengembangan pusat kegiatan pertahanan dan keamanan negara di
Kabupaten Talaud dan Kabupaten Sangihe;
d. Peningkatan upaya perundingan dalam penetapan dan penegasan batas
wilayah negara RI- Philipina;
e. Peningkatan kapasitas tim perunding dari tingkat teknis, strategi, hingga
kebijakan (pengambilan keputusan);
f. Pendayagunaan Pulau-Pulau Kecil Terluar di Pulau Miangas, Pulau Marore,
Pulau Kawio, Pulau Kawaluso, Pulau Marampit dan Pulau Kakarotan dengan
pendekatan keamanan, ekonomi dan lingkungan;
g. Penyelesaian status kewarganegaraan masyarakat Philipina-Sangir
(Phisang);
h. Penguatan fungsi pengamanan perbatasan wilayah laut, baik penyediaan
alutsista, non alutsista dan pemberdayaan masyarakat dalam menjaga
kedaulatan, khususnya perbatasan wilayah laut RI-Philipina;
i. Pembentukan kerjasama patroli pertahanan dan keamanan batas wilayah
Negara RI- Philipina;
j. Pendayagunaan Pulau-Pulau Kecil Terluar di Pulau Miangas, Pulau Marore,
Pulau Kawaluso, Pulau Kawio, Pulau Kakorotan, dan Pulau Marampit
dengan pendekatan ekonomi, keamanan dan lingkungan;
k. Sosialisasi batas wilayah laut negara RI- Philipina kepada masyarakat
perbatasan Wilayah Sulawesi;
l. Pengembangan standar operasional prosedur (SOP) pertahanan dan
keamanan yang profesional bagi aparatur pengaman perbatasan.
2. Pengembangan Ekonomi Lokal
Pengembangan ekonomi lokal secara terpadu pada kawasan perbatasan
negara di Wilayah Pulau Sulawesi, dilakukan dengan:
a. Peningkatan kualitas dan kuantitas hasil perikanan dan kelautan melalui
pengembangan sarana dan prasarana produksi, pengolahan, dan pemasaran
di PKSN Tahuna, PKSN Melonguane, dan gugus pulau perbatasan di Sangihe
dan Talaud (termasuk Miangas dan Marore) yang berorientasi pasar kepada
negara Filipina;
b. Peningkatan kerjasama investasi lintas batas negara produk unggulan
kawasan perbatasan, khususnya dengan negara Filipina;
c. Peningkatan kualitas dan kuantitas hasil perkebunan untuk mencukupi
kebutuhan lokal maupun lintas negara;
d. Pengembangan program transmigrasi di kawasan perbatasan dalam bentuk
Kota Terpadu Mandiri di kawasan perbatasan Sangihe dan Talaud;
V - 30

e. Peningkatan nilai potensi pariwisata bahari dan budaya melalui
pengelolaan pariwisata yang optimal (promosi dalam dan lintas negara dan
penyediaan infrastruktur penunjang pariwisata) di Kabupaten Kepulauan
Sangihe dan Kabupaten Kepulauan Talaud;
f. Pengembangan pusat perdagangan berbasis komoditas lokal berorientasi
pasar ke negara tetangga (Filipina) di PKSN Tahuna dan PKSN Melonguane;
g. Pengembangan balai-balai latihan kerja berbasis komoditas lokal yang
berorientasi pasar ke negara tetangga di kawasan perbatasan Sangihe dan
Talaud.
3. Penguatan Konektivitas dan Sislognas
Peningkatan konektivitas kawasan perbatasan negara di Wilayah Pulau
Sulawesi, dilakukan dengan:
a. Peningkatan intensitas dan pelayanan keperintisan yang menghubungkan
pulau-pulau di kawasan perbatasan negara, di Kepulauan Sangihe dan
Kepulauan Melonguane, termasuk pulau kecil terluar berpenduduk, serta
konektivitasnya dengan sistem transportasi laut nasional dan internasional;
b. Pengembangan dermaga keperintisan pada pulau-pulau kecil terluar
berpenduduk di gugus pulau perbatasan Kepulauan Talaud dan Kepulauan
Sangihe;
c. Penjaminan ketersedian logistik, khususnya untuk pulau-pulau kecil terluar
berpenduduk, khususnya perhatian terhadap Pulau Miangas dan Pulau
Marore;
d. Pengembangan pusat aktifitas perdagangan dan gudang logistik untuk
meningkatkan distribusi hulu-hilir perdagangan antar negara, khususnya di
Lokasi Prioritas yang memiliki aktifitas perdagangan tinggi;
e. Pengembangan pelayanan transportasi udara internasional dan nasional,
khususnya di PKSN Sangihe dan PKSN Talaud;
f. Penyediaan infrastruktur dasar kewilayahan terutama jalan, listrik, air
bersih, dan telekomunikasi di Kecamatan Lokasi Prioritas (Lokpri).
4. Penguatan Kemampuan SDM dan Iptek
Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) agar mampu mengelola
sumber daya alam di kawasan perbatasan dapat melakukan aktivitas dengan
negara tetangga dan turut mendukung upaya peningkatan kedaulatan negara
dengan pemanfaatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang
berkualitas, dilakukan dengan:
a. Pengembangan dan meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan
kejuruan dan keterampilan berbasis sumber daya lokal (kelautan,
perkebunan, maupun pertambangan) di kawasan perbatasan Sangihe dan
Talaud;
V - 31

b. Pengembangan sekolah bertaraf internasional, serta berasrama di PKSN
Sangihe dan PKSN Melonguane yang memiliki aktivitas/interaksi tinggi
dengan negara tetangga
c. Pengembangan akses pelayanan sosial dasar (pendidikan dan kesehatan) di
kawasan perbatasan negara, khususnya di pulau-pulau kecil terluar dengan
penyediaan sarana prasarana sesuai karakteristik geografis wilayah;
d. Penyediaan tenaga pendidikan dan kesehatan yang handal serta penyedian
insentif, serta sarana prasarana penunjang yang memadai, khususnya di
desa-desa terdepan dan terisolir dalam kecamatan Lokpri;
e. Peningkatan kapasitas aparatur wilayah perbatasan melalui penerapan
kebijakan wajib tugas belajar dan pelatihan teknis, agar diperoleh
sumberdaya aparatur yang memiliki kemampuan dan merumuskan
kebijakan pengelolaan kawasan perbatasan dan pelayanan yang diperlukan
oleh masyarakat perbatasan;
f. Pengembangan teknologi tepat guna dalam menunjang pengelolaan sumber
daya alam/potensi lokal di kawasan perbatasan.
5. Penguatan Regulasi dan Insentif
Dalam upaya mendukung pengembangan kawasan perbatasan negara,
harmonisasi regulasi agar afirmasi terhadap pengembangan kawasan
perbatasan. Beberapa regulasi yang kurang harmonis dalam mendukung
afirmasi terhadap pengembangan kawasan perbatasan sebagai berikut:
a. Kemudahan masyarakat perbatasan yang tinggal di kawasan lindung untuk
memanfaatkan sumber daya alam yang ada di dalamnya, serta untuk
kemudahan pembangunan infrastruktur yang melalui hutan lindung;
b. Regulasi pengelolaan lintas batas;
c. Regulasi Perdagangan lintas batas Perjanjian kerjasama antara RI-Filipina
dalam pengembangan kawasan perbatasan negara;
d. Regulasi yang berkaitan dengan pengelolaan Dryport;
e. Regulasi untuk memberikan kewenangan yang lebih luas (asimetrik)
kepada Pemerintah Pusat untuk menyediakan sumber daya air, pengelolaan
jalan non status, dan pelayanan pendidikan dan kesehatan di kawasan
perbatasan, khususnya di desa-desa terdepan dan terisolir (kecamatan
lokpri);
f. Penciptaan iklim investasi yang kondusif di kawasan perbatasan;
g. Pembagian kewenangan atau urusan antar jenjang pemerintah: pusat,
provinsi, dan kabupaten/kota dalam pengelolaan kawasan perbatasan;
h. Kelembagaan pengelola perbatasan yang memiliki otoritas penuh untuk
mengelola pos-pos lintas batas negara;
i. Pengkhususan pemberian kewenangan bagi pemerintahan kecamatan di
wilayah perbatasan (Lokpri) dalam bentuk desentralisasi asimetrik dengan
V - 32

penetapan daerah khusus untuk akselerasi pembangunan dan efektivitas
peningkatan kualitas pelayanan publik;
j. Penyusunan Rencana Tata Ruang termasuk Detail Tata Ruang Kawasan
Perbatasan di Kepulauan Sangihe dan Kepulauan Talaud.

Adapun sebaran lokasi prioritas pengembangan kawasan perbatasan dapat dilihat
pada tabel 5.8 dan gambar 5.4

TABEL 5.8.
DAFTAR LOKASI PRIORITAS PENGEMBANGAN KAWASAN PERBATASAN
WILAYAH SULAWESI

No. Kabupaten Kecamatan Lokasi Prioritas
1 Kep. Sangihe Tabukan Utara, Tahuna, Marore, Kendahe
2 Kep. Talaud Melonguane, Miangas, Nanusa
Sumber : Bappenas, 2014


5.5.4 Pengembangan Daerah Bencana
Arah kebijakan penanggulangan bencana di Wilayah Pulau Sulawesi adalah
untuk mendukung pengembangan Wilayah Pulau Sulawesi adalah mengurangi
risiko bencana pada pusat-pusat pertumbuhan dan meningkatkan ketangguhan
pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat dalam menghadapi bencana.
1. Internalisasi pengurangan risiko bencana dalam kerangka pembangunan
berkelanjutan, melalui:
a. Harmonisasi kebijakan dan regulasi penanggulangan bencana di wilayah
Pulau Sulawesi
b. Melakukan pengenalan, penilaian dan pemantauan risiko bencana
menggunakan kajian dan peta risiko skala 1:50.000 pada kabupaten
sasaran dan skala 1:25.000 dengan memperhatikan indikator risiko iklim
c. Pemanfaatan kajian dan peta risiko bagi penyusunan Rencana
Penanggulangan (RPB) Bencana Kab/Kota, yang menjadi referensi untuk
penyusunan RPJMD Kab/Kota, serta untuk mereview RTRW
Kabupaten/Kota setiap jangka waktu 5 tahun
d. Penyusunan rencana kontinjensi pada kabupaten/kota sasaran sebagai
panduan kesiapsiagaan dan operasi tanggap darurat
V - 33

GAMBAR 5.4

























V - 34

2. Penurunan tingkat kerentanan terhadap bencana melalui:
a. Menyediakan infrastruktur mitigasi dan kesiapsiagaan (jalur evakuasi dan
shelter) untuk ancaman tsunami, letusan gunung api, banjir dan longsor
b. Mengembangkan IPTEK dan pendidikan untuk pencegahan dan
kesiapsiagaan menghadapi bencana gempa bumi, tsunami, banjir, longsor
dan kekeringan
c. Membangun dan memberikan perlindungan bagi prasarana vital yang
diperlukan untuk memastikan keberlangsungan pelayanan publik, kegiatan
ekonomi masyarakat, keamanan dan ketertiban pada situasi darurat dan
pasca bencana
d. Bekerjasama dengan media cetak, radio dan televisi untuk mengembangkan
skema komunikasi antar pulau bagi peningkatan kesiapsiagaan
e. Penegakan rencana tata ruang kabupaten/kota sebagai instrumen
pengendalian pemanfaatan ruang
f. Mengembangkan skema pemulihan paska bencana serta skema social safety
net terutama bagi kelompok masyarakat miskin dan kelompok usaha
mikro/kecil pada lokasi rawan bencana
g. Meningkatkan kerjasama dengan mitra pembangunan, OMS dan dunia
usaha untuk mengurangi kerentanan ekonomi masyarakat

3. Peningkatan kapasitas aparatur dan masyarakat melalui:
a. Membangun 1 (satu) pusat logistik kebencanaan regional di wilayah Pulau
Sulawesi
b. Menyediakan, memelihara dan mengoperasikan sistim peringatan dini
gempa bumi
c. Menyediakan, memelihara dan mengoperasikan sistim peringatan dini
banjir dan longsor di kabupaten/kota sasaran
d. Memperkuat kapasitas manajemen logistik untuk kedaruratan
e. Pelatihan bagi aparatur dan kelompok masyarakat untuk meningkatkan
pengetahuan pengurangan risiko bencana
f. Melaksanakan simulasi tanggap darurat secara berkala untuk
meningkatkan kesiapsiagaan
g. Mengembangkan Desa Tangguh Bencana untuk memobilisasi sumberdaya
lokal dengan prinsip pengelolaan sumber daya berkelanjutan terutama
pada desa pesisir di kabupaten/kota sasaran.
Adapun sebaran risiko bencana dan profil kerawanan dan risiko PKN, PKW dan
PKSN di Wilayah Pulau Sulawesi dapat dilihat pada Gambar 5.5 dan Tabel 5.9.




V - 35

5.5.5 Pengembangan Tata Ruang Wilayah Pulau Sulawesi
5.5.5.1 Arah Kebijakan Tata Ruang Wilayah Pulau Sulawesi
1. Kebijakan untuk mewujudkan pusat pengembangan ekonomi kelautan
berbasis keberlanjutan pemanfaatan sumber daya kelautan dan konservasi
laut meliputi:
a. Pengembangan kawasan perkotaan nasional sebagai pusat pengembangan
perikanan berbasis mitigasi dan adaptasi dampak pemanasan global;
b. Pelestarian kawasan konservasi laut yang memiliki keanekaragaman
hayati tinggi.

2. Kebijakan untuk mewujudkan lumbung pangan padi nasional di bagian selatan
Pulau Sulawesi dan lumbung pangan jagung nasional di bagian utara Pulau
Sulawesi meliputi:
a. Pengembangan sentra pertanian tanaman pangan padi dan jagung yang
didukung dengan industri pengolahan dan industri jasa untuk
mewujudkan ketahanan pangan nasional; dan
b. Pemertahanan kawasan peruntukkan pertanian pangan berkelanjutan.

3. Kebijakan untuk mewujudkan pusat perkebunan kakao berbasis bisnis di
bagian tengah Pulau Sulawesi melalui pengembangan kawasan perkotaan
nasional sebagai pusat industri pengolahan dan industri jasa hasil perkebunan
kakao yang bernilai tambah tinggi dan ramah lingkungan.

TABEL 5.9.
PROFIL KERAWANAN DAN RISIKO PKN, PKW DAN PKSN
DI WILAYAH PULAU SULAWESI

Lokasi
Index Kerawanan
(IRBI 2011)
Kelas Multi Risiko
(IRBI 2013)
KAPET Palapas Tinggi untuk ancaman: banjir dan
longsor, gempabumi, cuaca
ekstrim, kekeringan
Kota Palu: tinggi
Kab. Sigi: sedang
Kab.Donggala: tinggi
Kab. Parigi Moutong: tinggi
KAPET Manado-Bitung Tinggi untuk banjir dan longsor,
letusan gunung api, gempabumi,
cuaca ekstrim dan abrasi
Kota Manado: sedang
Kab. Bitung: tinggi
KAPET Bangsejahtera Tinggi untuk banjir, gempabumi,
cuaca ekstrim
Kota Kendari: tinggi
Kab. Kolaka: tinggi
Kab. Konawe: tinggi
KEK Palu Tinggi untuk banjir dan longsor,
gempabumi, cuaca ekstrim dan
abrasi
Tinggi
KEK Bitung Tinggi untuk banjir, gelombang
ekstrim dan abrasi
Tinggi
V - 36


GAMBAR 5.5
V - 37

Lokasi
Index Kerawanan
(IRBI 2011)
Kelas Multi Risiko
(IRBI 2013)
KSN Perkotaan Maminasata:
Kota Makassar, Kab. Maros,
Sungguminasa (Ibukota Kab.
gowa), Kab. Takalar
Kab. Maros: tinggi untuk banjir
dan cuaca ekstrim
Kab. Takalar : banjir, cuaca
ekstrim
Kab. Maros: tinggi
Kab. Takalar: tinggi
KSN (Usulan) Perkotaan Manado
Raya (Manado,
Bitung, Tomohon, Minahasa
Utara dan Minahasa Selatan)
Kab. Tomohon: tinggi untuk
banjir dan longsor
Kab. Minahasa Utara: tinggi untuk
banjir, longsor, cuaca ekstrim,
letusan gunung api, abrasi
Kab. Minahasa Selatan: tinggi
untuk banjir, longsor, letusan
gunung api, abrasi
Kab. Tomohon: sedang
Kab. Minahasa Utara: tinggi
Kab. Minahasa Selatan: tinggi
Bau-bau (usulan PKW)
mendukung pariwisata bahari-
ekowisata Taman Laut Nasional
Wakatobi
Tinggi untuk: cuaca ekstrim Tinggi
Pawonsari dan sekitarnya
(perkotaan Limboto, kawasan
minapolitan, agropolitan,

Kab. Boalemo tinggi untuk banjir
dan longsor, gempabumi
Kab. Gorontalo tinggi untuk
banjir dan tanah longsor,
kekeringan
Kab. Gorontalo Utara tinggi untuk
banjir, gempabumi
Kab. Boalemo: sedang
Kab. Gorontalo: tinggi
Kab. Gorontalo Utara: sedang
Poso dan sekitarnya
(KPB Tamporole, kawasan
agropolitan)

Kab. Poso tinggi untuk banjir,
cuaca ekstrim, longsor, abrasi
Kab. Donggala tinggi untuk banjir,
cuaca ekstrim, gempa, longsor,
abrasi
Kab. Poso: tinggi
Kab. Donggala: tinggi
Kolonedale dan sekitarnya
(Kawasan Minapolitan Bungku
Selatan, KPB Mahalona, KPB
Bungku, Kawasan Transmigrasi)
Kab. Morowali: tinggi untuk
banjir dan longsor
Kab. Morowali Utara: data belum
tersedia
Kab. Luwu Timur: tinggi untuk
banjir, longsor, kekeringan
Kab. Morowali: tinggi
Kab. Morowali Utara: data belum
tersedia
Kab. Luwu Timur: tinggi
Mamuju dan sekitarnya
(Kawasan Minapolitan Perikanan,
KPB Tobadak, Kawasan
Transmigrasi)
Kab. Mamuju:tinggi untuk
gempabumi, banjir
Kab. Mamuju Tengah: tinggi
untuk banjir dan longsor
Kab. Mamuju: tinggi
Kab. Mamuju Tengah: data tidak
tersedia
Pinrang dan sekitarnya
(Kawasan Minapolitan Perikanan,
KPB Tobadak, Kawasan
Transmigrasi)
Kab. Pinrang: tinggi untuk banjir
dan longsor, cuaca ekstrim, abrasi
Kab. Pinrang: tinggi
Barru dan sekitarnya
(Perkotaan Lalabata, Kawasan
Agropolitan, Kawasan
Transmigrasi)
Kab. Barru: tinggi untuk cuaca
ekstrim
Kab. Sidenreng Rappang: tinggi
cuaca ekstrim
Kab. Barru: tinggi
Kab. Sidenreng Rappang: sedang

Muna dan sekitarnya
(Kawasan Minapolitan, Kawasan
Kab. Muna: tinggi untuk cuaca
ekstrim
Kab. Muna: tinggi
V - 38

Lokasi
Index Kerawanan
(IRBI 2011)
Kelas Multi Risiko
(IRBI 2013)
Agropolitan, dekat Bau-bau)
Wakatobi dan sekitarnya
(Perkotaan Wangi-Wangi,
kawasan Pariwisata: KSPN
Wakatobi, dekat Bau-bau)
Kab. Wakatobi: tinggi untuk
banjir, abrasi
Kab. Wakatobi: sedang
Pusat Kegiatan Nasional (PKN) Sulawesi
Gorontalo Tinggi untuk ancaman:
Gempabumi, banjir dan tanah
longsor
Tinggi
Palu Tinggi untuk ancaman: banjir,
tanah longsor, abrasi,
Tinggi
Makassar Tinggi untuk ancaman: banjir,
kebakaran permukiman, angin
topan
Tinggi
Sungguminasa Tinggi untuk ancaman: banjir dan
tanah longsor, angin topan
Tinggi untuk Kab. Gowa
Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) Sulawesi
Isimu Kab. Gorontalo Tinggi untuk ancaman: banjir dan
tanah longsor, kekeringan
Tinggi
Tilamuta Kab. Boalemo Tinggi untuk ancaman: banjir dan
tanah longsor
Sedang
Luwuk Kab. Banggai Tinggi untuk ancaman: banjir,
abrasi, angin topan, konflik sosial
Tinggi
Donggala Tinggi untuk ancaman:
gempabumi, banjir, tanah
longsor, abrasi, angin topan
Tinggi
Mamuju Tinggi untuk ancaman:
gempabumi, banjir
Tinggi
Pasangkayu Kab. Mamuju Utara Tinggi untuk ancaman:
gempabumi, tanah longsor,
abrasi, angin topan
Tinggi
Tomohon Tinggi untuk ancaman: banjir dan
tanah longsor
Sedang
Leneponto Tinggi untuk ancaman: banjir dan
tanah longsor, kekeringan, angin
topan
Tinggi
Pangkajene Kepulauan Tinggi untuk ancaman: angin
topan
Tinggi
Pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN) Sulawesi
Melonguane Kab. Kepulauan
Talaud
Tinggi untuk ancaman: gempa
bumi, banjir dan tanah longsor,
letusan gunung api, abrasi,
Sedang
Tahuna Kab. Kepulauan Sangihe Tinggi untuk ancaman: gempa
bumi, banjir dan tanah longsor,
letusan gunung api, abrasi,
Tinggi
Sumber: Data diolah, Bappenas, 2014.


V - 39

4. Kebijakan untuk mewujudkan pusat pertambangan mineral, aspal, panas bumi,
serta minyak dan gas bumi di Pulau Sulawesi meliputi:
a. Pengembangan kawasan perkotaan nasional sebagai pusat pengembangan
pertambangan mineral berupa nikel serta minyak dan gas bumi yang
ramah lingkungan; dan
b. Pengembangan kawasan peruntukkan pertambangan mineral, aspal,
panas bumi, serta minyak dan gas bumi dengan memperhatikan daya
dukung dan daya tampung lingkungan hidup.
5. Kebijakan untuk mewujudkan pusat pariwisata cagar budaya dan ilmu
pengetahuan, bahari, ekowisata, serta penyelenggaraan pertemuan, perjalanan
insentif, konferensi, dan pameran melalui pengembangan kawasan perkotaan
nasional sebagai pusat pariwisata cagar budaya dan ilmu pengetahuan, bahari,
serta penyelenggaraan pertemuan, perjalanan insentif, konferensi, dan
pameran.
6. Kebijakan untuk mewujudkan jaringan transportasi antarmoda yang dapat
meningkatkan keterkaitan antarwilayah, efisiensi ekonomi, serta membuka
keterisolasian wilayah meliputi:
a. Pengembangan jaringan transportasi yang terpadu untuk meningkatkan
keterkaitan antarwilayah, efisiensi, dan daya saing ekonomi wilayah; dan
b. Pengembangan jaringan transportasi untuk meningkatkan aksesibilitas
kawasan perbatasan negara, kawasan tertinggal dan terisolasi, termasuk
pulau-pulau kecil.
7. Kebijakan untuk mewujudkan kelestarian kawasan berfungsi lindung yang
bervegetasi hutan tetap paling sedikit 40% (empat puluh persen) dari luas
Pulau Sulawesi sesuai dengan kondisi ekosistemnya meliputi:
a. Pemantapan kawasan berfungsi lindung dan rehabilitasi kawasan
berfungsi lindung yang terdegradasi; dan
b. Pengembangan koridor ekosistem antarkawasan berfungsi konservasi.

5.5.5.2 Strategi Pengembangan Tata Ruang Wilayah Pulau Sulawesi
I. Pengembangan Kawasan Lindung
1. Perwujudan pusat pengembangan ekonomi kelautan berbasis
keberlanjutan pemanfaatan sumber daya kelautan dan konservasi laut),
dan kelestarian kawasan berfungsi lindung yang bervegetasi hutan tetap
paling sedikit 40% dari luas Pulau Sulawesi;
2. Perwujudan pusat pengembangan ekonomi kelautan berbasis
keberlanjutan pemanfaatan sumber daya kelautan dan konservasi laut
dengan pelestarian terumbu karang dan sumber daya hayati laut di
wilayah segitiga terumbu karang (coral triangle) dan pencegahan
sedimentasi pada kawasan muara sungai yang dapat mengganggu
kelestarian ekosistem terumbu karang;
V - 40

3. Perwujudan kelestarian kawasan berfungsi lindung yang bervegetasi hutan
tetap paling sedikit 40% (empat puluh persen) dari luas Pulau Sulawesi
sesuai dengan kondisi ekosistemnya dan penetapan kawasan hutan paling
sedikit 30% dari luas Daerah Aliran Sungai (DAS);
4. Penetapan koridor ekosistem antarkawasan suaka alam dan pelestarian
alam pengendalian pemanfaatan ruang kawasan budidaya pada koridor
ekosistem antarkawasan berfungsi konservasi.
II. Pengembangan Kawasan Budidaya
1. Perwujudan pusat pengembangan ekonomi kelautan berbasis
keberlanjutan pemanfaatan sumber daya kelautan dan konservasi laut;
2. Perwujudan lumbung pangan padi nasional di bagian selatan Pulau
Sulawesi dan lumbung pangan jagung nasional di bagian utara Pulau
Sulawesi;
3. Pengembangan sentra pertanian tanaman pangan padi dan jagung yang
didukung dengan industri pengolahan dan industri jasa untuk mewujudkan
ketahanan pangan nasional dengan pengembangan sentra pertanian
tanaman pangan padi dan jagung di kawasan andalan dengan sektor
unggulan pertanian untuk ketahanan pangan;
4. Penetapan dan pemertahanan lahan pertanian pangan berkelanjutan
berdasarkan kriteria, persyaratan, dan tata cara penetapan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan;
5. Pembatasan alih fungsi lahan pertanian pangan berkelanjutan;
6. Perwujudan pusat perkebunan kakao berbasis bisnis di bagian tengah
Pulau Sulawesi dengan pengembangan kawasan perkotaan nasional sebagai
pusat industri pengolahan dan industri jasa hasil perkebunan kakao yang
bernilai tambah tinggi dan ramah lingkungan;
7. Perwujudan pusat pertambangan mineral, aspal, panas bumi, serta minyak
dan gas bumi di Pulau Sulawesi adalah dengan pengembangan kawasan
industri pengolahan hasil pertambangan mineral berupa nikel serta minyak
dan gas bumi yang didukung oleh pengelolaan limbah industri terpadu dan
pengembangan prasarana dan sarana untuk kelancaran distribusi dan
produksi pertambangan mineral berupa nikel serta minyak dan gas bumi
dari kawasan peruntukan pertambangan ke pasar nasional dan
internasional;
8. Perwujudan pusat pariwisata cagar budaya dan ilmu pengetahuan, bahari,
ekowisata, serta penyelenggaraan pertemuan, perjalanan insentif,
konferensi, dan pameran;
9. Pengembangan jaringan transportasi yang terpadu untuk meningkatkan
keterkaitan antarwilayah, efisiensi, dan daya saing ekonomi wilayah dengan
pengembangan akses prasarana dan sarana transportasi darat, laut, dan
udara yang menghubungkan antarkawasan perkotaan dan memantapkan
koridor ekonomi Pulau Sulawesi;
V - 41

10. Pengembangan dan pemantapan akses prasarana dan sarana transportasi
darat meliputi jaringan jalan nasional, jaringan jalur kereta api, dan jaringan
transportasi penyeberangan yang menghubungkan kawasan perkotaan
nasional dengan sentra produksi, pelabuhan, dan bandar udara antara lain
dengan pengembangan pelabuhan utama dan pelabuhan pengumpul di
sepanjang jalur Alur Laut Kepulauan Indonesia II dan Alur Laut Kepulauan
Indonesia III yang menghubungkan Samudera Pasifik dan Samudera Hindia
untuk mendukung pelayaran internasional.

5.5.6 Tata Kelola Pemerintah Daerah dan Otonomi Daerah
Arah kebijakan pengembangan Wilayah Pulau Sulawesi yakni peningkatan
kapasitas pemerintahan daerah yang mendorong pembangunan ekonomi secara
merata berbasis pada pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan,
dengan strategi:
1. Peningkatan efektivitas belanja modal melalui pengembangan skema pinjaman
dan hibah daerah (Kerjasama Pemerintah-Swasta) untuk mendukung
konektivitas Wilayah Pulau Sulawesi;
2. Penyederhanaan pelayanan bagi dunia usaha melalui peningkatan kinerja
Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) dan pemanfaatan teknologi informasi
untuk menggerakkan perekonomian local;
3. Penerapan pola karier terbuka dan pemberdayaan Pegawai Pemerintah dengan
Perjanjian Kerja (P3K) dalam menjamin pemerataan pelayanan publik;
4. Peningkatan kapasitas Pemerintah Daerah Provinsi dalam rangka evaluasi dan
harmonisasi peraturan daerah yang berkaitan dengan pajak dan retribusi
daerah, khususnya di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara;
5. Penguatan kerja sama administrasi pajak daerah pemerintah provinsi dan
pemerintah kabupaten/kota untuk meningkatkan kapasitas fiskal wilayah
Sulawesi yang rendah;
6. Pemetaan potensi-potensi kerja sama daerah serta memfasilitasi terbentuknya
kerja sama daerah di Wilayah Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi
Selatan dan Gorontalo.









V - 42

5.6 Kaidah Pelaksanaan Pengembangan Wilayah Pulau Sulawesi
5.6.1 Prioritas Program Pembangunan
5.6.1.1 Provinsi Sulawesi Utara

TABEL 5.10
KEGIATAN STRATEGIS INFRASTRUKTUR JANGKA MENENGAH NASIONAL
DI PROVINSI SULAWESI UTARA

Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
KERETA API
Pembangunan jalur KA antara Manado - Bitung (track, jembatan, stasiun, persinyalan,
telekomunikasi, depo)
PERHUBUNGAN DARAT
Pengembangan Sistem Transit Kota Manado
Perhubungan Udara
Pengembangan Bandara Samratulangi
PERHUBUNGAN LAUT
Pengembangan Pelabuhan (UPP) Tahuna
Pengembangan Pelabuhan
Lirung
Pengembangan Pelabuhan Bitung (Pelabuhan hub Bitung)
Pembangunan infrastruktur
penunjang eksport hasil perikanan Bitung
JALAN
Pembangunan Jalan Atinggola Maelang Kaiya (Sulut)
Pembangunan Jalan Bypass Manado II
Pembangunan Jalan Lingkar Pulau Karakelong (Esang-Rainis)
Pembangunan Jalan Lingkar Pulau Sangihe (Enemawira-Tomako)
Pembangunan Jalan Pinogaluman-Duloduo-Molibagu
Pembangunan Jalan Tol Manado - Bitung - 39 km
Pembangunan Jalan Tomohon - Manado
Pembangunan Jalan Wailang - Waisan - Kokas - Kawangkoang
KETENAGALISTRIKAN
PLTU Sulut II (FTP 1) / Amurang 2x25 MW
PLTU Talaud 2x3 MW
PLTM Lelipang/Belengan 1x0,5 MW
PLTGB Tahuna (FTP 2) 8 MW
PLTU Sulut I (FTP 1) 2x25 MW
PLTG/MG Minahasa Peaker 3x25 MW
PLTM Duminanga 1x0,5 MW
PLTA Sawangan 2x6 MW
PLTM PLTM Tersebar Sulut 2 MW
PLTG/MG Sulut Peaker 3x50 MW
V - 43

Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
PLTP Kotamobagu I (FTP 2) 2x20 MW
PLTP Kotamobagu II (FTP 2) 2x20 MW
PLTU Amurang 2x25 MW
PLTP Lahendong V (FTP 2) 20 MW
PLTU Sulut I - Kema 2x25 MW
PLTP Lahendong VI (FTP 2) 20 MW
PLTGB Tahuna 2 3 MW
PLTU Sulut 3 2x50 MW
SUMBER DAYA AIR
perkuatan Tebing dan Tanggul Banjir Sungai Tondano (Paket 1) Manado
perkuatan Tebing dan Tanggul Banjir Sungai Tondano (Paket 2) Manado
Pembangunan Sabo Dam Sungai Milangodaa Kab. Bolsel
Pengamanan Pantai Amurang (Lanjutan) Kab. Minahasa Selatan
Pembangunan Pengaman Pantai Pulau Miangas (Lanjutan) Kab. Kepulauan Talaud
Pembangunan Bendungan Lolak Kab. Bolaang Mongondow
Pembangunan Bendungan Kuwil Kab. Minahasa Utara
Revitalisasi Danau Tondano Kab. Minahasa Utara
V - 44


GAMBAR 5.6
V - 45

5.6.1.2 Provinsi Gorontalo

TABEL 5.11
KEGIATAN STRATEGIS INFRASTRUKTUR JANGKA MENENGAH NASIONAL
DI PROVINSI GORONTALO
Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
PERHUBUNGAN DARAT
Pengembangan Sistem Transit Kota Gorontalo
PERHUBUNGAN UDARA
Pengembangan Bandara Jalaludin
PERHUBUNGAN LAUT
Pengembangan Fasilitas pelabuhan laut Anggrek, Gorontalo
Pengembangan Fasilitas pelabuhan Gorontalo
JALAN
Pembangunan Jalan Gorontalo - Batas Sulut
Pembangunan Jalan Gorontalo Outter Ring Road (GORR) Provinsi Gorontalo
Pembangunan Jalan Tolinggula - Marisa
KETENAGALISTRIKAN
PLTU Gorontalo (FTP1) 2x25 MW
PLTG/MG Gorontalo Peaker 25 MW
PLTU Gorontalo 2 2x50 MW
PLTM Taludaa II 1x2 MW
PLTU Molotabu 2x10 MW
PLTM Taludaa I 1x3 MW
PLTU Gorontalo Energi *) 2x6 MW
SUMBER DAYA AIR
Pembangunan Bendung Randangan (Multi Year) Pohuwato
Pembangunan Jaringan Irigasi DI. Randangan Kiri (Lanjutan) Pohuwato
Pembangunan Jaringan Irigasi DI. Randangan Kanan Pohuwato
Pembangunan / Peningkatan Bendung Pilohayanga (Multi Year) Gorontalo
Pembangunan Jaringan Reklamasi Rawa Imbodu Pohuwato
Pengendalian Banjir Sungai Tilamuta Boalemo
Pengendalian Banjir Sungai Molosipat Pohuwato
Pengendalian Banjir Sungai Lemito Pohuwato
Pengendalian Banjir Sungai Bone Bone Bolago
Pengendalian Banjir Sungai Tolinggula Prov. Gorontalo
Pengendalian Banjir Sungai Pontolo Gorontalo Utara
Pembangunan Long Storage Bulia Boalemo
Pembangunan Pengendali Sedimen Wil. Kab Boalemo Boalemo
Pembangunan Pengendali Sedimen Wil. Kab Pohuwato Pohuwato
Pembangunan Pengendali Sedimen Wil. Kab Gorontalo Utara Gorontalo Utara
Pengamanan Pantai Sumalata Gorontalo Utara
Pengamanan Pantai Tolinggula Gorontalo Utara
Pengamanan Pantai Atinggola Gorontalo Utara
V - 46

Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
PERHUBUNGAN DARAT
Pengamanan Pantai Leato Kota Gorontalo
Pengamanan Pantai Biluhu Barat Kab. Gorontalo
Pengamanan Pantai Biluhu Timur Kab. Gorontalo
Pembangunan Waduk Bone Hulu Bone Bolango
Pembangunan Waduk Toheti Dehuwa Bone Bolango
Pembangunan Waduk Kayu Merah (multi years) Gorontalo
Revitalisasi Danau Limboto Gorontalo
Revitalisasi Danau Perintis









V - 47

GAMBAR 5.7
V - 48

5.6.1.3 Provinsi Sulawesi Barat

TABEL 5.12
KEGIATAN STRATEGIS INFRASTRUKTUR JANGKA MENENGAH NASIONAL
DI PROVINSI SULAWESI BARAT

Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
PERHUBUNGAN LAUT
Pengembangan Fasilitas pelabuhan laut Belang-belang, Sulawesi Barat
JALAN
Pembangunan Jalan Akses Bandara Tampa Padang
Pembangunan Jalan Malabo - Polewali
Pembangunan Jalan Polewali - Batas Sulsel
Pembangunan Jalan Salubatu - Mambi - Malabo - Mamasa - Tandung
Pembangunan Jalan Salubatu - Tibo - Kalumpang - Bts Sulsel (Tanah Toraja)
KETENAGALISTRIKAN
PLTA Poko 2x117 MW
PLTU Mamuju (FTP2) 2x25 MW
PLTA Karama Peaking (Unsolicited) 150 MW
PLTA Karama Baseload (Unsolicited) 300 MW
SUMBER DAYA AIR
Lanjutan Pembuatan Tanggul Pengendalian Banjir, Sungai Pasang Kayu Kab. Mamuju Utara
Mamuju Utara
Pembangunan Pengendalian Banjir, Sungai Lariang, Kab. Mamuju Utara Mamuju Utara
Lanjutan Pembangunan Pengendalian Banjir, Sungai Benggaulu, Kab. Mamuju Utara Mamuju
Utara
Pembuatan Pengendalian Banjir, Sungai Kuma, Kab. Mamuju Utara Mamuju Utara
Pembuatan Pengendalian Banjir S.Rondo Mayang, Kab. Mamuju Utara Mamuju Utara
Pembuatan Pengendalian Banjir S.Pedongga, Kab. Mamuju Utara Mamuju Utara
Pembuatan Pengendalian Banjir S. Lumu Lanjutan, Kab. Mamuju Mamuju
Pembuatan Pengendalian Banjir S. KaroSul-Sela, Mamuju Tengah Mamuju Tengah
Pembangunan Pengendalian Banjir S. Tobadak Mamuju Tengah
Pembangunan Pengendalian Banjir S. Salubiro Mamuju Tengah
Pemabangunan Pengendalian Banjir S. Salulebbo Mamuju Tengah
Pembuatan Pengendalian Banjir S. Kalukku, Kab. Mamuju Mamuju
Pembuatan Pengendalian Banjir Sungai Papalang, Kab. Mamuju Mamuju
Pembuatan Pengendali Banjir Sungai Deking Kab. Majene Majene
Lanjutan Pembuatan Tanggul Pengendali Banjir dan Perkuatan Tebing Sungai Mapilli Kab.
Polman Polman
Lanjutan Pembuatan Tanggul Pengendali Banjir Sungai Mandar Kab. Polman Polman
Pembangunan Pengendali Banjir Sungai Mamasa Kab. Mamasa Mamasa
Pembangunan Pengendali Banjir Sungai Palattoang Kab. Majene Majene
Pembangunan Pengendali Banjir Sungai MoSul-Selo Kab. Majene Majene
Pengendalian Banjir Sungai Benggaulu Mamuju Utara
Lan jutan Pembangunan Pengaman Abrasi Pantai Tapalang Kab. Majene Mamuju
V - 49

Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
Lanjutan Pembangunan Pengaman Abrasi Pantai Pasang Kayu Kab. Mamuju utara Mamuju Utara
Lanjutan Pembangunan Pengaman Abrasi Pantai Kalukku Kab. Mamuju Mamuju
Lanjutan Pembangunan Pengaman Abrasi Pantai Budong-budong Kab. Mamuju Mamuju
Pembangunan Pengaman Abrasi Pantai Pangiang Kab. Mamuju Utara Mamuju Utara
Pembangunan Pengaman Abrasi Pantai Karya Bersama Kab. Mamuju Utara Mamuju Utara
Pembangunan Pengaman Abrasi Pantai Mamuju Kab. Mamuju Mamuju
Pembangunan Pengaman Abraasi Pantai Bambaira Kab. Mamuju Utara Mamuju Utara
Pembangunan Pengaman Abrasi Pantai Kasoloang Kab. Mamuju Utara Mamuju Utara
Pembangunan Pengaman Abrasi Pantai Tampaure Kab. Mamuju Utara Mamuju Utara
Pembangunan Pengaman Abrasi Pantai Bambapore Kab. Mamuju Utara Mamuju Utara
Pembangunan Pengaman Abrasi Pantai Sarasa Kab. Mamuju Utara Mamuju Utara
Pembangunan Pengaman Abrasi Pantai Sarudu Kab. Mamuju Utara Mamuju Utara
Pembangunan Pengaman Abrasi Pantai Tarailu kab. Mamuju Mamuju
Lanjutan Pembangunan Pengaman Abrasi Pantai Buku kab. Polman Polman
Pembangunan Pengaman Abrasi Pantai Baurung Kab. Majene Majene
Pembangunan Pengaman Abrasi Pantai Mampie kab. Polman Polman
Pembangunan Pengaman Abrasi Pantai Tanga-Tanga kab. Polman Polman
Pembangunan Pengaman Abrasi Pantai karama kab. Polman Polman
Pembangunan Pengaman Abrasi Pantai Onang Kab. Majene Majene
Pemb. Tanggul dan Pemecah Ombak Pantai Pasangkayu Mamuju Utara






















V - 50


GAMBAR 5.8
V - 51

5.6.1.4 Provinsi Sulawesi Tengah

TABEL 5.13
KEGIATAN STRATEGIS INFRASTRUKTUR JANGKA MENENGAH NASIONAL
DI PROVINSI SULAWESI TENGAH
Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
PERHUBUNGAN UDARA
Pengembangan Bandara Ampana di Kabupaten Tojo Una-una
Pengembangan Bandar Udara Syukuran Aminudin Amir-Luwuk
Pengembangan Bandara Mutiara Palu
Pengembangan Bandara Tampa Padang
Perhubungan Laut
Pengembangan Pelabuhan Pantoloan
Pengembangan Pelabuhan Poso
Pengembangan Pelabuhan Toli - toli
Pegembangan Fasilitas pelabuhan laut Pantoloan, Sulawesi Tengah
JALAN
Pembangunan Jalan Basi - Pasiputi - Mepanga
Pembangunan Jalan Luwuk - Batul - Moilong-Rata-Baturube
Pembangunan Jalan Pepe - Tomata
Pembangunan Jalan Pintas Palu-Parigi (36,45 km)
Pembangunan Jalan Poros Soroako Bahodopi, Kab. Morowali, Sulawesi Tengah
Pembangunan Jalan Salakan-Sambut
Pembangunan Kolondale - Tondoyondo - Sp.Batutube
Pembangunan Jalan Palu - bangga - Simora - Gimpu - Puna - Tonusa Tentena
KETENAGALISTRIKAN
PLTD Ampana (Relokasi PLTD) 2 MW
PLTU Ampana 2x3 MW
PLTMG Luwuk Peaker (CNG) 10 MW
PLTMG Morowali 10 MW
PLTM Halulai/Wuasa 2x0,7 MW
PLTM Buleleng 2x0,6 MW
PLTU Tolitoli 3x15 MW
PLTMG Luwuk Peaker (CNG) 5 MW
PLTU Palu 2 2x15 MW
PLTMG Morowali 2x5 MW
PLTU Palu 3 2x50 MW
PLTMG Luwuk Peaker (CNG) 5 MW
PLTA Poso 2 2x66 MW
PLTA Poso Energy (Transfer ke Sulsel) 130 MW
PLTA Poso (Transfer ke Palu) 65 MW
PLTM PLTM Tersebar Sulteng 25 MW
PLTU Tawaeli (Ekspansi) 2x15 MW
PLTU Luwuk (FTP2) 2x10 MW
V - 52

Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
PLTP Bora (FTP 2) 5 MW
PLTP Marana/Masaingi (FTP 2) 20 MW
PLTP Borapulu 2x20 MW
SUMBER DAYA AIR
Pembangunan D.I. Sibea (3.321 Ha) Kab. Parigi Moutong
Pembangunan D.I. Binsil (1.510 Ha) Kab. Parigi Moutong
Pembangunan D.I. Meko (2.800 Ha) Kab. Poso Kab. Poso
Rehabilitasi Jaringan Irigasi D.I. Lambunu (Saluran, Jalan Inspeksi) Kab. Parigi Moutong
Rehabilitasi Jaringan Irigasi D.I. Gumbasa (tahap I) (Saluran Induk, Saluran Sekunder) Kab. Sigi
Pembangunan Tanggul Sungai Puna Kab. Poso
Pembangunan Revetment Pantai Kab. Donggala Kab. Donggala
Pembuatan Tanggul Penahan Tebing Danau Poso Danau poso, Kab. Poso
Pengadaan dan Pemasangan Jaringan Transmisi Air Baku Sungai Saluki Gumbasa SPAM Regional
PASIGALA (Tahap V) Kab. Sigi
Pembangunan Intake dan Pipa Transmisi Air baku Sungai Tandayo Donggala
Pembangunan Intake dan Pipa Transmisi Air baku Sungai Tunu Donggala
Pembuatan Tanggul Penahan Tebing Danau Poso Danau poso, Kab. Poso
V - 53

GAMBAR 5.9
V - 54

5.6.1.5 Provinsi Sulawesi Selatan

TABEL 5.14
KEGIATAN STRATEGIS INFRASTRUKTUR JANGKA MENENGAH NASIONAL
DI PROVINSI SULAWESI SELATAN

Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
KERETA API
Pembangunan jalur KA antara Makassar - Pare-Pare (track, jembatan, stasiun, persinyalan,
telekomunikasi, depo)
Pembangunan KA Perkotaan Mamminasata
(tahap 1)
PERHUBUNGAN DARAT
Pengembangan Sistem Transit Kota Makassar
Pengembangan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin -Pembangunan Terminal II di Kawasan
Bandara Lama Sultan Hasanuddin Makassar
Pengembangan Pelabuhan Penyeberangan Garongkong Barru
Pembangunan Pelabuhan Pare-pare
Perluasan Pelabuhan Makassar (Makassar New Port)
Pengembangan Pembangunan Faspel Laut Garongkong
JALAN
Pembangunan Fly Over - Akses Bandara Internasional Sultan Hasanuddin
Pembangunan Jalan baypass Maminasata
Pembangunan Jalan Seseng - Bts.Sulbar
Pembangunan Jalan Trans Sulawesi Mamminasata (Middle Ring Road)
Pembangunan Jaringan Transportasi Danau Tempe
Pembangunan Under Pass A.P. Pettarani
Pembangunan Jalan Kaluku - Sae - Talang - Sabang
KETENAGALISTRIKAN
PLTU Sulsel Barru (FTP 1) 2x50 MW
PLTG/MG Makassar Peaker 200 MW
PLTU Punagaya/Takalar (FTP2) 2x100 MW
PLTD Selayar (Relokasi PLTD) 2x1 MW
PLTU Sulsel 2 2x100 MW
PLTU Sulsel Barru 2 100 MW
PLTA Bakaru 2 2x63 MW
PLTM PLTM Tersebar Sulsel 13 MW
PLTG Sengkang, Op. Cycle - Unit 2 60 MW
PLTU Sulsel-1/Jeneponto Bosowa 2x100 MW
PLTGB Selayar (FTP 2) 8 MW
PLTGU Sengkang-ST Unit 3 -> Comb. Cycle 60 MW
PLTU Jeneponto 2 2x100 MW
PLTA Bontobatu (FTP 2) 110 MW
PLTA Malea 2x45 MW
PLTU Sulsel-3/Takalar 2x100 MW
SUMBER DAYA AIR
V - 55

Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
Pembangunan Bendungan Karalloe Gowa
Pembangunan DI Pamukulu Takalar
Pembangunan Waduk Paselloreng Gowa
Pembangunan Waduk Nipa-Nipa Maros
Pembangunan Jaringan Irigasi Bayang-Bayang Bulukumba
Pembangunan Bendungan Cinemabella Selayar
Pembangunan Bendungan Posi Selayar
Pembangunan Bendung dan Jaringan Irgasi D.I. Baliase Luwu Utara
Pembangunan Bendung D.I. Baliase Luwu Utara
Pembangunan Jaringan Irigasi D.I. Baliase Luwu Utara
Rehabilitasi Konstruksi & Pintu Bendung Benteng Pinrang
Pembangunan Perkuatan Tebing Bagian Hulu Bendung Gerak Tempe Wajo
Pengendalian Banjir dan Daya Rusak Air Sungai Taroang dan Muara Sungai Tamanroya Jeneponto
Pemataan Sungai Tallo dengan Foto Udara Kt. MakaSul-Selar
Pengendalian Banjir dan Perbaikan Alur Sungai Kalaena dan Sungai Angkona Luwu Timur
Pekerjaan Pengendalian Banjir Sungai Rongkong Luwu Utara
Pengendalian Banjir dan Daya Rusak Air Sungai Baliase Luwu
Pengendalian Banjir dan Daya Rusak Air Sungai Kanjiro Luwu
Pengendalian Banjir dan Daya Rusak Air Sungai Bone-Bone Luwu
Pengendalian Banjir Sungai Cenranae Wajo-Bone
Pengendalian Banjir dan Daya Rusak Air Sungai Walanae Soppeng
Construction of Giant Sand Trap Gowa
Construction of Water Selected Intake Gowa
Construction of three Sabo Dam No 8-1, 8-2, & 8-3 Gowa
Construction of Two Sabo Dam No 8-4 & 8-5 Gowa
Rehabilitasi Bangunan Pengendali Sedimen Bagian Hulu Gowa
Penggalian Hulu Waduk Bili-Bili Gowa
Pembangunan Konsolidasi Dam Gowa
Pembangunan Sand Pocket Gowa
Pembangunan Bendungan Jenelata Gowa
Pembangunan DPS Rongkong Kab. Luwu Utara Luwu Utara
Pemb. Pengaman Abrasi Pantai Tanaberu Bulukumba
Pemb. Pengaman Abrasi Pantai Lengnga Pinrang
Pembangunan Embung Air Baku di Kab. Luwu Utara (7 buah) Luwu Utara
V - 56

GAMBAR 5.10
V - 57

5.6.1.6 Provinsi Sulawesi Tenggara
TABEL 5.15
KEGIATAN STRATEGIS INFRASTRUKTUR JANGKA MENENGAH NASIONAL
DI PROVINSI SULAWESI TENGGARA
Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
PERHUBUNGAN UDARA
Pengembangan Bandara Haluoleo
Perhubungan Laut
Pengembangan Pelabuhan Lawele
Pengembangan Fasilitas pelabuhan laut Bungkutoko
Pengembangan Pelabuhan Bau - Bau
Pengembangan Pelabuhan Raha
Pengembangan Pelabuhan Kendari
JALAN
Pembangunan Jalan Lingkar Kota Kendari
Pembangunan Jalan Parigi - Poso - Tentena - Tidantana (Batas Sulsel) - (Sultra) 298 KM
Pembangunan Jalan Tampo-Raha
Pembangunan Jalan Tinanggea-Alangga-Punggaluku-Ambesia
Pembangunan Jembatan Teluk Kendari
Pembangunan Jalan Raha - Wakuru - Wara
KETENAGALISTRIKAN
PLTU Kendari - Nii Tanasa (FTP1) 2x10 MW
PLTU Kendari - Nii Tanasa (Ekspansi) 10 MW
PLTD Wangi-Wangi (Relokasi PLTD) 2x2 MW
PLTM Rongi 2x0,4 MW
PLTM Lapai 1 2x2 MW
PLTM Lapai 2 2x2 MW
PLTM Riorita 2x0,5 MW
PLTM Toaha 2x0,5 MW
PLTU Raha 2x3 MW
PLTD Raha (Relokasi PLTD) 2 MW
PLTU Wangi-Wangi (FTP 2) 2x3 MW
PLTU Bau-Bau (FTP2) 2x10 MW
PLTA Konawe 2x25 MW
PLTU Kendari 3 2x50 MW
PLTA Watunohu 1 20 MW
PLTU Bau-Bau 2x7 MW
PLTU Kendari (FTP2) 2x25 MW
PLTU Kolaka (FTP2) 2x10 MW
PLTP Lainea 2x10 MW
SUMBER DAYA AIR
Pembangunan Tanggul Sungai Konaweha Konawe
Pembangunan Pengaman Pantai Bahari Buton
Pembangunan Bendungan Pelosika di Kabupaten Konawe Konawe
V - 58

5.6.2 Kerangka Regulasi
Pelaksanaan pembangunan Wilayah Pulau Sulawesi tidak terlepas dari
berbagai kerangka regulasi yang perlu diperhatikan, diantaranya:
1. Penyelesaian peninjauan kembali Perpres No. 88/2011 tentang RTR Pulau
Sulawesi.
2. Harmonisasi peraturan perundangan terkait dengan iklim investasi,
diantaranya adalah PP Nomor 147 Tahun 2000 Tentang Perlakuan Perpajakan
di KAPET;
3. Membuat regulasi terkait dengan pembagian kewenangan antara
Kabupaten/Kota di wilayah KAPET Pare Pare, KAPET Palapas, KAPET Bank
Sejahtera, KAPET Manado-Bitung, KEK Palu dan KEK Bitung;
4. Regulasi pengelolaan lintas batas;
5. Regulasi Perdagangan lintas batas Perjanjian kerjasama antara RI-Filipina
dalam pengembangan kawasan perbatasan negara;
6. Regulasi yang berkaitan dengan pengelolaan Dryport;
7. Regulasi untuk memberikan kewenangan yang lebih luas (asimetrik) kepada
Pemerintah Pusat untuk menyediakan sumber daya air, pengelolaan jalan non
status, dan pelayanan pendidikan dan kesehatan di kawasan perbatasan,
khususnya di desa-desa terdepan dan terisolir (kecamatan lokpri);
8. Penyusunan Rencana Tata Ruang termasuk Detail Tata Ruang Kawasan
Perbatasan di Kepulauan Sangihe dan Kepulauan Talaud.

5.6.3 Kerangka Kelembagaan
Pelaksanaan pembangunan Wilayah Pulau Sulawesi tidak terlepas dari
berbagai kerangka kelembagaan yang perlu diperhatikan, diantaranya:
1. Pengembangan koordinasi Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional
(BKPRD) Provinsi di Pulau Sulawesi dalam melaksanakan pemanfaatan dan
pengendalian pemanfaatan ruang Pulau.
2. Penciptaan iklim investasi yang kondusif di kawasan perbatasan;
3. Pembagian kewenangan atau urusan antar jenjang pemerintah: pusat,
provinsi, dan kabupaten/kota dalam pengelolaan kawasan perbatasan;
4. Kelembagaan pengelola perbatasan yang memiliki otoritas penuh untuk
mengelola pos-pos lintas batas negara;
5. Pengkhususan pemberian kewenangan bagi pemerintahan kecamatan di
wilayah perbatasan (Lokpri) dalam bentuk desentralisasi asimetrik dengan
penetapan daerah khusus untuk akselerasi pembangunan dan efektivitas
peningkatan kualitas pelayanan publik;
6. Harmonisasi kebijakan, program, dan kegiatan daerah untuk percepatan
pembangunan daerah tertinggal;
7. Penyusunan Strategi Daerah tentang Percepatan Pembangunan Daerah
Tertinggal;
V - 59

GAMBAR 5.11
V - 60

8. Koordinasi dan sinkronisasi antara pemerintah dengan pemerintah daerah,
antar-SKPD dalam penyelenggaraan program pembangunan di daerah;
9. Pemberian insentif untuk pihak swasta dalam proses pengembangan usaha di
daerah tertinggal;
10. Tunjangan khusus bagi pegawai pelayanan dasar publik di daerah tertinggal
(bidan, dokter, guru, penyuluh pertanian).
RANCANGAN TEKNOKRATIK
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA
MENENGAH NASIONAL
2015 2019
BUKU III
ARAH PENGEMBANGAN WILAYAH
PULAU KALIMANTAN
KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL /
BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL
BAPPENAS
2014
VI - 1

BAB VI
ARAH PENGEMBANGAN WILAYAH PULAU KALIMANTAN

6.1 Capaian Kinerja Saat ini
Berdasarkan data BPS dari tahun 2009 hingga Triwulan II tahun 2014,
kinerja pertumbuhan ekonomi provinsi di Wilayah Pulau Kalimantan
mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Namun demikian, rata-rata
pertumbuhan ekonomi Wilayah Pulau Kalimantan selama kurun waktu
2009 2013 sebesar 4,4 persen atau masih lebih rendah dibandingkan
dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,9 persen.
Peranan Pulau Kalimantan dalam pembentukan PDB nasional mengalami
penurunan dari 9,2 persen (2009) menjadi 8,3 persen (Triwulan II 2014).
Pemerintah Provinsi di Wilayah Pulau Kalimantan telah cukup berhasil
dalam menurunkan jumlah penduduk miskin dari tahun 2009 hingga 2014
(Maret) dan sudah berada di bawah angka kemiskinan nasional sebesar
14,15 persen (2009) dan 11,25 persen (Maret 2014). Demikian halnya
dengan pencapaian tingkat pengangguran terbuka (TPT), Pemerintah
Provinsi di Wilayah Pulau Kalimantan juga telah berhasil menurunkan TPT
dan sudah di bawah TPT nasional sebesar 7,87 persen (2009) dan 5,70
persen (Feb, 2014), kecuali di Provinsi Kalimantan Timur yang masih
berada di atas TPT Nasional.
Dari sisi peningkatan kualitas sumber daya manusia, maka di Wilayah Pulau
Kalimantan ini telah dikatakan sudah cukup baik. Hal ini diindikasikan
dengan selalu meningkatnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dari
tahun ke tahun pada masing-masing provinsi di Pulau Kalimantan. Namun
demikian, pencapaian IPM di Provinsi Kalimantan Barat dan Provinsi
Kalimantan Selatan masih perlu ditingkatkan karena masih di bawah IPM
nasional sebesar 71,76 (2009) dan 73,81 (2013).
Dari sisi distribusi pendapatan antar golongan masyarakat, seluruh provinsi
di Wilayah Pulau Kalimantan mengalami kenaikan kesenjangan pendapatan
antar golongan. Hal ini diindikasikan dari angka Rasio Gini provinsi-
provinsi di Wilayah Pulau Kalimantan yang cenderung meningkat pada
tahun 2013 dibandingkan dengan tahun 2009. Namun, rasio gini Wilayah
Pulau Kalimantan sudah berada dibawah rasio gini nasional yaitu 0,413
(2013). Ke depan, hal ini perlu mendapatkan perhatian agar proses
pembangunan terus lebih melibatkan masyarakat secara inklusif, sehingga
hasil-hasil pembangunan tersebut dapat dinikmati secara merata oleh
masyarakat.
VI - 2

6.2 Potensi dan Keunggulan Wilayah
Perekonomian Wilayah Pulau Kalimantan ditopang oleh 3 sektor utama,
yaitu pertambangan dan penggalian, pertanian terutama perkebunan, dan industri
pengolahan.
Komoditas sektor pertambangan dan penggalian yang paling dominan
adalah minyak, gas, dan batu bara. Untuk seluruh Wilayah Pulau Kalimantan
tahun 2013, sektor pertambangan dan penggalian sudah berkontribusi
sebesar 31,8 persen. Kontribusi sektor ini sedikitnya telah menyumbang
keuangan negara hingga USD 100 juta pada tahun 2010. Potensi dari
komoditas utama sektor ini adalah gas bumi sebesar 17,0 persen dari
potensi cadangan gas bumi nasional, minyak bumi sebesar 9,0 persen dari
cadangan minyak bumi nasional.
Pada tahun 2002 produksi minyak dan gas nasional tidak mampu
menopang kebutuhan dalam negeri yang mengalami tren peningkatan dari
tahun ke tahun Hal ini menjadi tantangan bagi pengembangan ekonomi di
Kalimantan dan ketahanan energi nasional. Revitalisasi kilang tua dan
pencarian cadangan minyak dan gas yang baru memberikan peluang
investasi bagi investor. Selain menjamin ketahanan energi nasional, upaya
tersebut mampu menggerakkan perekonomian di Kalimantan, maka
sinkronisasi kebijakan untuk sektor migas menjadi hal utama ditengah
meningkatnya permintaan migas nasional.
Batu bara yang merupakan komoditas tambang utama Kalimantan,
mempunyai cadangan 49,6 persen dari cadangan batu bara nasional,
dengan naiknya permintaan terhadap batu bara dalam negeri, dan
penurunan permintaan dari luar negeri terutama dari Tiongkok, hal ini
sebenarnya memberikan peluang untuk pembangunan ekonomi Kalimantan
selanjutnya dengan mengalihkan peningkatan permintaan dalam negeri.
Terlebih lagi keunggulan yang dimiliki sektor batubara di Kalimantan ialah
tingkat kalorinya yang tinggi (mencapai 7000 kalori/kg).
Bahan tambang dan galian yang menjanjikan potensinya adalah pasir
sirkon, biji besi dan bauksit. Saat ini, produksi pasir sirkon Indonesia
mencapai sekitar 20.000 ton sebulan dan menempati urutan keempat di
dunia. Cadangan bauksit di Indonesia diperkirakan mencapai 24 juta ton,
saat ini produksi bauksit nasional baru mencapai 5,5 juta ton. Cadangan biji
besi primer di Kalimantan mencapai 84 persen dan cadangan biji besi laterit
mencapai 29 persen dari total cadangan bauksit nasional. Potensi
pengembangan produk turunan biji besi dan bauksit sangat besar.
Pembangunan smelter yang menjadi hal wajib untuk meningkatkan nilai
tambah bijih besi dan bauksit menunjukkan potensi investasi di ketiga
komoditas tersebut sangat terbuka lebar. Ditambah lagi berdasarkan hasil
VI - 3

identifikasi (pohon industri Kemenperin), pengembangan klaster industri
pengolahan SDA mineral tersebut akan mampu mendukung industri
manufaktur yang memproduksi barang elektronik, peralatan listrik,
kendaraan bermotor, mesin dan komponennya, serta barang konstruksi.
Dari sektor pertanian, pengembangan sumber daya terbarukan, seperti
kelapa sawit dan perkayuan juga perlu dipertimbangkan, kedua komoditas
ini telah memberikan kontribusi ekonomi yang cukup besar. Pada tahun
2010 luas perkebunan kelapa sawit di Kalimantan mencapai 83 persen dari
luas kelapa sawit nasional. Sedangkan, potensi perkayuan di kawasan hutan
produksi Kalimantan mencapai 29,8 juta Ha, dari sejumlah itu baru 52
persen (15,7 juta Ha) yang dapat dimanfaatkan. Artinya, potensi
pengembangan komoditas kelapa sawit dan perkayuan masih dapat
ditingkatkan. Hal ini menggambarkan potensi ekonomi dari kedua sektor ini
masih mungkin terus dikembangan dan tingkatkan nilai tambahnya.
Sektor industri di Wilayah Pulau Kalimantan berpotensi untuk berperan
besar menjadi bagian dari rantai industri strategis di wilayah Jawa terutama
industri barang kompleks. Sektor industri pengolahan saat ini
terkonsentrasi di Provinsi Kalimantan Timur yakni mencapai 23,5 persen
yang didominasi oleh sektor industri berbasis migas. Dalam konteks
pengembangan rantai industri strategis, hilirisasi potensi sumber daya alam
akan dapat memperkuat basisi ekonomi Wilayah Pulau Kalimantan secara
keseluruhan. Adapun komoditas seperti pasir zirkon, biji besi, dan bauksit
berpotensi untuk diprioritaskan pengembangan dan integrasinya dengan
mata rantai industri barang kompleks di wilayah Jawa.
Peluang investasi di Kalimantan tidak hanya terbuka bagi ketujuh kegiatan
ekonomi tersebut (minyak bumi, gas bumi, batubara, besi baja, bauksit,
kelapa sawit, dan perkayuan). Namun, peluang investasi di sektor pertanian
pangan sangat terbuka lebar. Pengembangan food estate di Kalimantan pun
membuka kesempatan bagi investor untuk terlibat dalam membangun
ketahanan pangan nasional. Pengembangan kawasan food estate
direncanakan di Kalimantan Barat (Pontianak) dan Kalimantan Timur
(Bulungan). Kedua provinsi tersebut menjadi wilayah yang potensial untuk
meningkatkan produksi pangan nasional di luar Pulau Jawa. Hal ini
menunjukkan bahwa potensi Kalimantan membuka peluang investasi
diberbagai bidang dan sektor ekonomi.

Berbagai aktivitas ekonomi di Wilayah Pulau Kalimantan tentunya perlu
memperhatikan fungsinya sebagai paru-paru dunia. Hutan Kalimantan saat ini
adalah 54 persen dari luas Wilayah Pulau Kalimantan. Proporsi penggunaan
kawasan hutan terluas Hutan Produksi Terbatas sekitar 10.585.610 hektar atau
47,20 persen dan Hutan Produksi seluas 14.217.676 hektar (38,69 persen) dari
VI - 4

total luas Kawasan hutan dan perairan Kalimantan. Dengan demikian, kelestarian
kawasan konservasi keanekaragaman hayati dan kawasan berfungsi lindung
menjadi perhatian pengembangan Wilayah Pulau Kalimantan kedepan.

6.3 Tema Pengembangan Wilayah Pulau Kalimantan
Berdasarkan potensi dan keunggulan Wilayah Pulau Kalimantan, maka
tema besar Pembangunan Wilayah Pulau Kalimantan sebagai "salah satu
paru-paru dunia dengan mempertahankan luasan hutan Kalimantan; dan
lumbung energi nasional dengan pengembangan hilirisasi komoditas batu
bara; serta pengembangan industri berbasis komoditas kelapa sawit, karet,
bauksit, biji besi, gas alam cair, pasir zirkon dan pasir kuarsa, serta
pengembangan food estate."

6.4 Tujuan dan Sasaran Pengembangan Wilayah Pulau
Kalimantan
Tujuan pengembangan Wilayah Pulau Kalimantan tahun 2015-2019 adalah
mendorong percepatan dan perluasan pembangunan Wilayah Pulau Kalimantan
dengan menekankan keunggulan dan potensi daerah, melalui: (a) pengembangan
hilirisasi komoditas batu bara, serta pengembangan industri berbasis komoditas
kelapa sawit, karet, bauksit, bijih besi, gas alam cair, pasir zirkon dan pasir kuarsa,
(b) penyediaan infrastruktur wilayah, (c) peningkatan SDM dan ilmu dan teknologi
secara terus menerus.
Adapun sasaran pengembangan Wilayah Pulau Kalimantan pada tahun
2015-2019 adalah sebagai berikut:
1. Dalam rangka percepatan dan perluasan pengembangan ekonomi Wilayah
Pulau Kalimantan, akan dikembangkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi
di koridor ekonomi dengan memanfaatkan potensi dan keunggulan daerah,
termasuk diantaranya adalah pengembangan 1 Kawasan Ekonomi Khusus
(KEK), 4 Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET), 37 Kawasan
Perhatian Investasi (KPI).
2. Sementara itu, untuk menghindari terjadinya kesenjangan antar wilayah di
Kalimantan, maka akan dilakukan pembangunan daerah tertinggal dengan
sasaran sebanyak 9 Kabupaten tertinggal dapat terentaskan dengan sasaran
outcome: (a) meningkatkan rata-rata pertumbuhan ekonomi di daerah
tertinggal sebesar 7,2 persen; (b) menurunnya persentase penduduk
miskin di daerah tertinggal menjadi 9.6 persen; dan (c) meningkatnya
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di daerah tertinggal sebesar 73.26.
3. Untuk mendorong pertumbuhan pembangunan kawasan perkotaan di
Kalimatan, maka akan dipercepat pembangunan 1 Pusat Kegiatan Nasional
(PKN) perkotaan baru, serta mewujudkan optimalisasi peran 3 kota otonom
berukuran sedang sebagai penyangga (buffer) urbanisasi.
VI - 5

4. Sesuai dengan amanat UU 6/2014 tentang Desa, maka akan dilakukan
pembangunan perdesaan dengan sasaran mengurangi jumlah desa
tertinggal menjadi 12 persen (2019).
5. Khusus untuk meningkatkan keterkaitan pembangunan kota-desa,
diharapkan dapat diwujudkan 7 pusat pertumbuhan baru perkotaan
sebagai Pusat Kegiatan Lokal (PKL) atau Pusat Kegiatan Wilayah (PKW).
6. Dalam rangka mewujudkan kawasan perbatasan sebagai halaman depan
negara yang berdaulat, berdaya saing, dan aman, maka akan 10 Pusat
Kegiatan Strategis Nasional (PKSN) sebagai pusat pertumbuhan ekonomi
kawasan perbatasan negara yang dapat mendorong pengembangan
kawasan sekitarnya.
7. Sasaran untuk Wilayah Pulau Kalimantan adalah: (1) Meningkatnya
proporsi penerimaan pajak dan retribusi daerah sebesar 40% untuk
provinsi dan 15% untuk kabupaten/kota; (2) Meningkatnya proporsi
belanja modal dalam APBD provinsi sebesar 35% dan untuk
Kabupaten/Kota sebesar 45% pada tahun 2019 serta sumber pembiayaan
lainnya dalam APBD; (3) Meningkatnya jumlah daerah yang mendapatkan
opini wajar tanpa pengecualian (WTP); (4) Terbentuknya kerjasama daerah
di 5 daerah Kalimantan dalam rangka percepatan konektivitas dan
peningkatan pelayanan publik; (5) Tersusunnya Organisasi Perangkat
Daerah (OPD) yang tepat fungsi dan ukuran sesuai dengan karakteristik
Wilayah Pulau Kalimantan; (6) Meningkatnya kualitas dan proporsi tingkat
pendidikan aparatur sipil negara untuk jenjang S1 sebesar 20%, S2 sebesar
5%, dan S3 sebesar 5%; (7) Meningkatnya implementasi pelaksanaan SPM
di daerah, khususnya pada pendidikan, kesehatan dan infrastruktur.
8. Sasaran penanggulangan bencana adalah mengurangi indeks risiko bencana
pada 3 PKN (Kota Samarinda, Kota Pontianak dan Palangkaraya) dan 9
PKW (Kota Singkawang, Kabupaten Bengkayang, Kabupaten Sambas,
Kabupaten Sintang, Kabupaten Kapuas Hulu, Kabupaten Kapuas, Kabupaten
Kotabaru, Kota Balikpapan, Kabupaten Kutai Kertanegara, Kabupaten
Barito Kuala dan Kabupaten Tanah Laut) yang memiliki indeks risiko
bencana tinggi, baik yang berfungsi sebagai KAPET, KSN atau PKSN.

Sehubungan dengan sasaran tersebut, diharapkan pada akhir tahun 2019,
pembangunan wilayah Pulau Kalimantan semakin meningkat. Hal ini dicerminkan
dengan makin meningkatnya kontribusi PDRB Wilayah Pulau Kalimantan terhadap
PDB Nasional, yaitu dari sekitar 9.5 persen (2014) menjadi 9.7 persen. Dengan
demikian, kondisi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan
masyarakat di Wilayah Pulau Kalimantan. Secara rinci target pertumbuhan
ekonomi, tingkat kemiskinan dan pengangguran dalam kurun waktu 2015-2019 di
VI - 6

Wilayah Pulau Kalimantan dapat dilihat pada Tabel 6.1 sampai dengan Tabel 6.3
sebagai berikut.

TABEL 6.1
SASARAN PERTUMBUHAN EKONOMI PER PROVINSI TAHUN 2015-2019

Provinsi Pertumbuhan Ekonomi (persen)
2015 2016 2017 2018 2019
Kalimantan Barat 6.0 - 6.1 5.7 - 5.9 5.8 - 6.2 5.9 - 6.4 6.2 - 6.9
Kalimantan Tengah 6.0 - 6.1 6.9 - 7.2 7.0 - 7.4 7.2 - 7.8 7.4 8.2
Kalimantan Selatan 5.0 - 5.10 6.0 - 6.3 6.3 - 6.7 6.5 - 7.1 6.5 - 7.2
Kalimantan Timur 4.5 - 4.6 5.3 - 5.6 5.4 - 5.7 5.3 - 5.8 5.5 6.1
Kalimantan Utara 5.6 - 5.7 7.7 - 8.0 7.7 - 8.1 7.6 - 8.2 7.7 - 8.6
Sumber : Perhitungan Bappenas, 2014


TABEL 6.2
SASARAN TINGKAT KEMISKINAN PER PROVINSI TAHUN 2015-2019

Provinsi Tingkat Kemiskinan (persen)
2015 2016 2017 2018 2019
Kalimantan Barat 8.7 - 8.5 8.0 - 7.7 7.4 - 6.9 6.7 - 6.2 6.0 - 5.4
Kalimantan Tengah 6.3- 6.2 5.8 - 5.5 5.3 5.0 4.7 - 4.4 4.2 - 3.8
Kalimantan Selatan 4.5 - 4.4 4.2 - 4.0 3.8 - 3.6 3.5 - 3.2 3.1 - 2.8
Kalimantan Timur 5.5 - 5.4 5.1 - 4.9 4.6 - 4.3 4.1 - 3.8 3.7 - 3.3
Kalimantan Utara 7.2 - 7.0 6.6 - 6.4 6.0 - 5.7 5.4 - 5.0 4.8 - 4.4
Sumber : Perhitungan Bappenas, 2014


TABEL 6.3
SASARAN TINGKAT PENGANGGURAN PER PROVINSI TAHUN 2015-2019

Provinsi Tingkat Pengangguran (persen)
2015 2016 2017 2018 2019
Kalimantan Barat 8.7 - 8.5 8.0 - 7.7 7.4 - 6.9 6.7 - 6.2 6.0 - 5.4
Kalimantan Tengah 6.3 - 6.2 5.8 - 5.5 5.3 - 5.0 4.7 - 4.4 4.2 - 3.8
Kalimantan Selatan 4.5 - 4.4 4.2 - 4.0 3.8 - 3.6 3.5 - 3.2 3.1 - 2.8
Kalimantan Timur 5.5 - 5.4 5.1 - 4.9 4.6 - 4.3 4.1 - 3.8 3.7 - 3.3
Kalimantan Utara 7.2 - 7.0 6.6 - 6.4 6.0 - 5.7 5.4 - 5.0 4.8 - 4.4
Sumber : Perhitungan Bappenas, 2014








VI - 7

6.5 Arah kebijakan dan Strategi Pengembangan Wilayah Pulau
Kalimantan
6.5.1 Pengembangan Kawasan Strategis
Kebijakan pengembangan kawasan strategis bidang ekonomi di Wilayah
Pulau Kalimantan difokuskan untuk pusat produksi dan pengolahan hasil
perkebunan, tambang, dan lumbung energi nasional yang berdaya saing. Fokus
lokasi pengembangan kawasan strategis di Wilayah Pulau Kalimantan meliputi: (1)
Provinsi Kalimantan Barat terdapat satu kawasan yaitu KAPET Khatulistiwa (2)
Provinsi Kalimantan Timur terdapat dua kawasan yaitu KAPET Sasamba dan KEK
Maloy; (3) Provinsi Kalimantan Tengah terdapat satu kawasan yaitu KAPET
Daskakab; (4) Provinsi Kalimantan Selatan terdapat satu kawasan yaitu KAPET
Batulicin; serta (5) Kawasan Perhatian Investasi (KPI) dalam rangka menunjang
koridor ekonomi dan pusat-pusat pertumbuhan berdaya saing internasional, yaitu
KPI Balikpapan, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Bulungan, Bontang, Banjar,
Kotabaru, Murung Raya, Pontianak, Ketapang, Kotawaringin Barat, Tanah Laut,
Tanah Bumbu, Sanggau, Bengkayang, Mempawah dan KPI potensial lainnya di
Kalimantan. Percepatan pembangunan kawasan strategis dilakukan melalui
strategi sebagai berikut:
1. Pengembangan Potensi Ekonomi Wilayah di Koridor Ekonomi Kalimantan
Pengembangan potensi ekonomi wilayah erat kaitanya dengan pemberdayaan
masyarakat berbasis komoditas unggulan wilayah. Pengembangan potensi
berbasis komoditas unggulan wilayah ini diupayakan untuk meningkatkan nilai
tambah dan daya saing komoditas unggulan melalui:
a. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
a) Menyiapkan kawasan pengembangan komoditas mineral, batubara, dan
kelapa sawit;
b) Mengembangkan klaster-klaster industri pengolahan mineral, batubara,
kelapa sawit berorientasi ekspor;
c) Meningkatkan produktivitas hasil olahan mineral, batubara, kelapa sawit
di dalam dan sekitar pusat industri.
b. Kawasan Pengembangan Terpadu (KAPET)
a) Menyiapkan kawasan pengelolaan klaster-klaster komoditas unggulan
kawasan berupa pertanian pangan, kelapa sawit, karet, rotan;
b) Meningkatkan produktivitas produk turunan dari kelapa sawit, karet,
rotan.
c. Kawasan Perhatian Investasi (KPI)
a) Mengembangkan industri-industri produk olahan komoditas wilayah
VI - 8

untuk mendukung kawasan pertumbuhan lainnya.
2. Percepatan Penguatan Konektivitas
Peningkatan konektivitas antara pusat pertumbuhan ekonomi dengan daerah
sekitarnya yang termasuk daerah tertinggal, kawasan minapolitan, kawasan
agropolitan, kawasan lokasi prioritas pengelolaan perbatasan, kawasan industri
Mandor, Semparuk, Tayan, Kariangau, Maloy, Tajun, Batulicin, dan Kota Baru,
dilakukan melalui:
a. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)
a) Menyiapkan sarana prasarana pengembangan kawasan pertumbuhan
Maloy, Batuta, zona Trans Kalimantan, dan kawasan pertumbuhan
lainnya di Kalimantan dengan kawasan pendukung di sekitarnya
(hinterland);
b) Pembangunan Pelabuhan Internasional Maloy;
c) Pembangunan infrastruktur pelabuhan sebagai pendukung integrated
mining development MEC coal project.
b. Kawasan Pengembangan Terpadu (KAPET)
a) Mempercepat pembangunan dan pengembangan jaringan jalan menuju
Koridor Ekonomi yang meliputi pembangunan ruas jalan akses kawasan
industri Batulicin ke pelabuhan Batulicin, pelebaran jalan Samarinda
Tenggarong, tol SamarindaTenggarong, dan Tol SamarindaBalikpapan.
b) Mempercepat pembangunan Jembatan Kembar Mahakam dan Jembatan
Loa Kulu;
c) Mempercepat pembangunan dan pengembangan pelabuhan Kuala
Samboja, pelabuhan Seibuku, terminal peti kemas Palaran, pelabuhan
Samarinda, fasilitas pelabuhan Kariangau serta bandara Samarinda Baru
untuk meningkatkan distirbusi logistik;
d) Mempercepat pembangunan dan pengembangan jaringan jalan menuju
Koridor Ekonomi yang meliputi pembangunan ruas jalan akses kawasan
industri Batulicin ke pelabuhan Batulicin, pelebaran jalan Samarinda
Tenggarong, tol SamarindaTenggarong, dan Tol SamarindaBalikpapan.
e) Mempercepat penyediaan air baku di Waduk Wain;
f) Pengelolaan cekungan air tanah PalangkarayaBanjarmasin di KAPET
Daskakab, dan pengembangan Waduk Gunung Ulin, pengembangan
Bendungan Batulicin, pengembangan sumber mata air di Pegunungan
Maratus, Sungai Sitiung, dan Sungai Batulicin.
c. Kawasan Perhatian Investasi (KPI)
a) Pembangunan Bandara Supadio, Bandara Juwata, Bandara Tanjung
Harapan, Bandara Bontang, dan Bandara Tana Paser;
b) Pembangunan dan pengembangan Pelabuhan Laut Batanjung, Pelabuhan
VI - 9

Pontianak, Pelabuhan Pelaihari, Pelabuhan Pangkalan Bun, Pelabuhan
Tongkang Bangkuang, Pelabuhan Tanah Grogot, Pelabuhan Tarakan,
Pelabuhan Internasional Temajo, Pelabuhan Nunukan, dan Pelabuhan
Penyeberangan Tarakan;
c) Pembangunan rel kereta api di Kotawaringin Timur, ruas Tabang-Lubuk
Tutung, dan ruas Kutai Barat-Balikpapan;
d) Pembangunan dan peningkatan kapasitas jalan ruas Tanjung Selor-
Tanjung Redeb-Maloy, ruas Sampit-Bagendang-Ujung Pandaran, ruas
Samarinda-Bontang, ruas Sangatta-Maloy, Sekadau-Sanggau-Tayan-
Pontianak, ruas Sampit-Simpang Runtu-Pangkalan Bun-Kumai, ruas
Kubu-Sungau Bakau-Teluk Bogam, ruas Banjarmasin-Pelaihari-Jorong,
ruas Trisakti-Pasir Mas-Jembatan Barito, jalan Trikora Banjarbaru, jalan
Kawasan Industri Batulicin, dan jalan Banjarmasin-Kandangan;
e) Mempercepat pembangunan Jembatan Tanjung AyunTarjun, Jembatan
Pulau Balang, dan Jembatan Tullur Aji Jejangkat;
f) Pembangunan akses jalan ke fasilitas penggilingan di Kotawaringin,
akses jalan ke fasilitas penggilingan di Ketapang, akses menuju
pelabuhan di Tanah Laut, dan akses menuju pelabuhan di Pulau Pisau;
g) Pembangunan PDAM Tanah Bumbu dan Sampit;
h) Pembangunan waduk Tapin;
i) Mempercepat pembangunan dan peningkatan sistem kelistrikan berupa
Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Ketapang, PLTU di Parit Baru,
PLTU di Kotabaru, PLTU Muara Jawa, PLTU Kusan, PLTU Kalselteng
Peaker, PLTU Nanga Pinoh, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Kelai,
PLTA Kayan, Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) di Bangkanai, dan
Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) di Senipah;
j) Pembangunan transmisi listrik di seluruh Kalimantan;
k) Pembangunan Palapa Ring di Kalimantan dan jaringan backbone serat
optik.

3. Penguatan Kemampuan SDM dan IPTEK
a. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)
a) Pengembangan sarana prasarana pendidikan dan pelatihan profesi untuk
meningkatkan kualitas tenaga kerja, khususnya di bidang energi
pertambangan;
b) Memberikan pembinaan kelembagaan badan usaha pengelola kawasan
yang mendukung perubahan pola pikir bisnis berorientasi daya saing
internasional.
b. Kawasan Pengembangan Terpadu (KAPET)
a) Pengembangan sarana prasarana pendidikan dan pelatihan profesi untuk
VI - 10

meningkatkan kualitas tenaga kerja, khususnya di bidang pertanian,
perkebunan, dan kehutanan;
b) Pengembangan pusat-pusat informasi pemasaran dan teknologi bidang
pertanian (padi dan jagung), perkebunan (kelapa sawit, karet),
peternakan (sapi), perikanan, dan kehutanan (rotan dan perkayuan);
c) Memberikan pembinaan kelembagaan badan pengelola yang mendukung
perubahan pola pikir bisnis berorientasi daya saing secara komparatif
dan kompetitif.
c. Kawasan Perhatian Investasi (KPI)
a) Pengembangan inovasi teknologi ramah lingkungan dalam rangka
menunjang industri pengolahan.
4. Penguatan Regulasi bagi Peningkatan Iklim Investasi dan Iklim Usaha
a. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)
a) Penerapan regulasi insentif fiskal yang sesuai dengan karakteristik
wilayah dan kompetitif, antara lain fasilitas fiskal disemua bidang usaha,
pembebasan PPN dan PPNBM untuk bahan dan barang impor yang akan
diolah dan digunakan di KEK.
b) Membuat regulasi terkait dengan pelimpahan kewenangan antara pusat,
daerah, dan instansi terkait kepada administrator kawasan-kawasan
pertumbuhan;
c) Memberikan pelayanan terpadu satu pintu dan penggunaan Sistem
Pelayanan Informasi dan Perijinan Investasi secara Elektronik (SPIPISE)
bidang perindustrian, perdagangan, pertanahan, penanaman modal.
b. Kawasan Pengembangan Terpadu (KAPET)
a) Harmonisasi peraturan perundangan terkait dengan iklim investasi,
diantaranya adalah PP Nomor 147 Tahun 2000 Tentang Perlakuan
Perpajakan di KAPET;
b) Membuat regulasi terkait dengan pembagian kewenangan antara
Kabupaten/Kota di pusat-pusat pertumbuhan;
c) Melaksanakan sosialisasi terkait dengan pemanfaatan lahan sebagai
peruntukan investasi.
c. Kawasan Perhatian Investasi (KPI)
a) Memberikan pelayanan terpadu satu pintu dan penggunaan Sistem
Pelayanan Informasi dan Perijinan Investasi secara Elektronik (SPIPISE)
bidang perindustrian, pertanahan, dan penanaman modal.

VI - 11

GAMBAR 6.1





















VI - 12

6.5.2 Pengembangan Kawasan Perkotaan dan Perdesaan
6.5.2.1 Pengembangan Kawasan Perkotaan
Arah kebijakan pembangunan wilayah perkotaan di Wilayah Pulau
kalimantan difokuskan untuk membangun kota berkelanjutan dan berdaya saing
menuju masyarakat kota yang sejahtera berdasarkan karakter fisik, potensi
ekonomi dan budaya lokal. Untuk itu strategi pembangunan perkotaan Wilayah
Pulau Kalimantan tahun 2015-2019 yaitu:
1. Perwujudan Sistem Perkotaan Nasional (SPN)
Perwujudan SPN diharapkan dapat meningkatkan pemerataan pembangunan
kota-kota sesuai peran dan fungsinya serta mempercepat keterkaitan dan
manfaat antarkota dan desa. Strategi untuk mewujudkan dilakukan melalui
prioritas program sebagai berikut:
a. Pembentukan Pusat Kegiatan Nasional (PKN) Perkotaan baru, yaitu PKN
Banjarbakula (Banjarmasin, Banjar Baru, Barito Kuala, dan Tanah Laut)
dalam rangka membangun koridor wilayah yang kuat untuk mempercepat
pembangunan di Wilayah Pulau Kalimantan bagian selatan, mengurangi
urbanisasi dari luar Jawa ke Pulau Jawa, serta memperkuat orientasi
kedalam (backward linkage) dari pulau-pulau terluar di kawasan
perbatasan;
b. Pengoptimalan 3 kota sedang sebagai buffer urbanisasi, yaitu singkawang,
Tarakan, Palangkaraya
c. Pengembangan 7 pusat pertumbuhan baru sebagai pusat pertumbuhan
utama yang mendorong keterkaitan antara kota sedang dengan desa-desa
di wilayah sekitarnya, yaitu Sambas, Rasau Jaya, Gerbang Kayong,
Pangkalan Bun, Marabahan, Sangata, dan Tanjung Redeb.
2. Perwujudan Kota Layak Huni yang Aman dan Nyaman.
Kebijakan prioritas di Kalimantan untuk mewujudkan Kota Layak Huni
(Liveable City) dilakukan melalui penyediaan sarana prasarana dasar yang
mudah diakses termasuk oleh kelompok lansia, difabel, wanita, dan anak .
Prioritas kota untuk Palangkaraya, singkawang dan Bontang. Strategi tersebut
dilaksanakan dengan prioritas program sebagai berikut:
a. Penyediaan sarana prasarana permukiman, berupa perumahan, air minum,
sanitasi: pengelolaan sampah; pengolahan limbah; drainase, pedestrian, dan
RTH;
b. Penyediaan sarana prasarana pemerintahan dan ekonomi, khususnya di
sektor perdagangan dan jasa yang mampu mengakomodasi kegiatan
koperasi, UMKM, industri pengolahan kecil dan menengah; Pengembangan
dan peningkatan pelayanan sarana dan prasarana transportasi massal
VI - 13

perkotaan antar moda terutama transportasi sungai, angkutan laut dan
angkutan udara ;
c. Pengembangan konsep insentif dan disinsentif dalam pemenuhan Standar
Pelayanan Perkotaan (SPP);
d. Peningkatan pelayanan prasarana sarana kesehatan, pendidikan, sosial
budaya, dan keamanan kota yang mudah diakses bagi seluruh kalangan
masyarakat kota guna meningkatkan modal sosial masyarakat serta
memberikan rasa aman dan tentram bagi masyarakat kota.
3. Perwujudan Kota Hijau yang Berketahanan Iklim dan Adaptif terhadap
Bencana
Kota yang dibangun dengan memanfaatkan secara efektif dan efisien sumber
daya air, energi dan ruang kota yang memperhatikan dan menjamin kesehatan
lingkungan kota serta menyinergikan lingkungan alami dan lingkungan buatan
kota untuk dapat mengembangkan ketahanan kota terhadap perubahan iklim.
Perwujudan kota hijau yang berketahanan iklim dan bencana melalui:
a. Perwujudan penyelenggaraan ruang yang efisien dan berkeadilan serta
ramah lingkungan;
b. Peningkatan pengetahuan dan kemampuan masyarakat dalam upaya
adaptasi dan mitigasi terhadap dampak perubahan iklim dan bencana
(urban resilience).
c. Pembangunan infrastruktur kota dalam upaya adaptasi dan mitigasi
terhadap dampak perubahan iklim dan bencana;
d. Pengembangan konsep greentransportation, green openspace (ruang
terbuka hijau), green waste(pengelolaan sampah dan limbah melalui 3R
1
),
green water (efisiensi pemanfaatan dan pengelolaan air permukaan) dan
green energy(pemanfaatan sumber energi yang efisien dan ramah
lingkungan) untuk pengurangan tingkat pencemaran di darat, laut.
4. Perwujudan Kota Cerdas dan Berdaya Saing
Kebijakan untuk mewujudkan Kota Cerdas (Smart City) diarahkan melalui
optimalisasi dalam menggunakan SDM, meningkatkan modal sosial, dan
penggunaan infrastruktur telekomunikasi modern (ICT) untuk mewujudkan
pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Perwujudan kota cerdas akan
diprioritaskan ke kota metropolitan dan kota besar yang kondisi Standar
Pelayanan Perkotaan (SPP) sudah sebagian besar terpenuhi, yaitu: Kota
Banjarmasin. Strategi tersebut dilaksanakan dengan prioritas program,
sebagai berikut:

1
3R: pengurangan (Reduce), pemanfaatan kembali (Re-use), dan Daur Ulang (re-cycle)
VI - 14

a. Pengembangan perekonomian dengan membangun pencitraan kota (city
branding) memanfaatkan produk dan sumber daya manusia unggulan, serta
arsitektur perkotaan (urban design), berdasarkan karakter sosial budaya
lokal;
b. Peningkatan jumlah tenaga kerja ahli dan terampil melalui penyediaan
sarana prasarana pendidikan tinggi dan pelatihan kejuruan (higher
education and vocational training);
c. Penyediaan layanan publik serta perencanaan, pengoperasian dan
pemeliharaan sarana prasarana kota melalui penggunaan teknologi
informasi dan komunikasi (TIK) dalam bentuk e-government, e-commerce
dan e-infrastructures;
d. Peningkatan efisiensi pasar melalui pengaturan jalur distribusi logistik dari
dan keluar kota; dan
e. Penyederhanaan proses perizinan melalui peningkatan kualitas layanan
Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP).
5. Kebijakan untuk Meningkatkan Kapasitas Tata Kelola Pembangunan
Perkotaan
Berdasarkan kondisi kota-kota di Wilayah Pulau Kalimantan saat ini, maka
sasaran lokasi peningkatan kapasitas tata kelola pembangunan perkotaan
diprioritaskan pada Kota Sedang dan Kota kecil seperti: Tarakan dan Bontang.
Strategi tersebut dilaksanakan dengan prioritas program, sebagai berikut:
a. Penyediaan sistem, peraturan dan prosedur dalam birokrasi
kepemerintahan kota yang tanggap terhadap kebutuhan masyarakat kota
berkelanjutan;
b. Peningkatan kapasitas pemimpin kota yang visioner dan aparatur
pemerintah dalam membangun dan mengelola kota berkelanjutan, baik
melalui kota layak dan nyaman, kota hijau, maupun kota cerdas, melalui
pendidikan, pelatihan dan pembinaan secara bersikenambungan;
c. Penyediaan dan melakukan pemutakhiran data, peta dan informasi
perkotaan;
d. Peningkatan kinerja, transparansi, dan akuntabilitas pengelolaan keuangan
pemerintah kota melalui pendampingan secara langsung dari pemerintah
pusat;
e. Peningkatan kapasitas supremasi hukum baik perangkat maupun
kelembagaan;
f. Pengembangan kelembagaan dan kerjasama pembangunan antar kota;
g. Peningkatan peran swasta dan organisasi profesi secara aktif, baik dalam
forum dialog dengan pemerintah dan masyarakat perkotaan, maupun
dalam pembangunan kota berkelanjutan seperti: pembangunan
VI - 15

infratsruktur perkotaan maupun masukan terhadap rencana tata ruang
kota;
h. Pengembangan fasilitas penyediaan bantuan teknis dan pembiayaan
infrastruktur perkotaan.

6.5.2.2 Pengembangan Kawasan Perdesaan
Arah kebijakan pengembangan kawasan perdesaan di Wilayah Pulau
Kalimantan adalah meningkatkan kemandirian masyarakat dan desa, serta
mewujudkan desa-desa berkelanjutan yang memiliki ketahanan sosial, ekonomi
dan ekologi sesuai dengan amanat Undang-Undang No.6/2014 tentang Desa
dengan sasaran berkurangnya jumlah desa tertinggal sebesar 12 persen.
Selain itu, membangun keterkaitan ekonomi lokal antara perkotaan dan
perdesaan melalui integrasi perdesaan mandiri pada 7 kawasan pertumbuhan
baru, yang secara rinci dapat dilihat pada Tabel 5.3.
Dalam rangka percepatan pembangunan desa di Wilayah Pulau Kalimantan
akan dilakukan:
1. Pengembangan Penghidupan Berkelanjutan Bagi Masyarakat Miskin dan
Rentan di Desa
Kemiskinan di desa masih lebih tinggi dibandingkan dengan kemiskinan di
kota sehingga pembangunan desa diarahkan untuk mengurangi kemiskinan di
desa dan juga meningkatkan usaha ekonomi masyarakat. Dengan
meningkatnya usaha ekonomi perdesaan, maka masyarakat desa mampu
meningkatkan taraf kehidupannya sehingga bisa lepas dari jerat kemiskinan.
Dalam usaha mengurangi kemiskinan dan meningkatkan usaha ekonomi
perdesaan, maka strategi pembangunan desa di Wilayah Pulau Kalimantan
adalah sebagai berikut:
a. Peningkatan peran dan kapasitas pemerintah daerah dalam memajukan
ekonomi masyarakat miskin dan rentan
b. Peningkatan kapasitas masyarakat miskin dan rentan dalam pengembangan
usaha berbasis lokal;
c. Pemberian dukungan bagi masyarakat miskin dan rentan melalui
penyediaan lapangan usaha, dana bergulir, dan lembaga keuangan mikro.
2. Peningkatan Ketersediaan Pelayanan Umum dan Pelayanan Dasar
Minimum di Perdesaan
Mengingat bahwa masih banyak desa-desa yang masih kurang terpenuhi
pelayanan dasar minimumnya, maka strategi pembangunan desa yang paling
mendasar untuk dilakukan adalah dengan meningkatkan ketersediaan
pelayanan umum dan pelayanan dasar minimum yang memadai di desa.
VI - 16

Prioritas yang strategi yang harus dilakukan di Wilayah Pulau Kalimantan
terkait hal ini adalah sebagai berikut:
a. Pembangunan sarana dan prasarana dasar bidang transportasi,
ekonomi, pendidikan dan kesehatan (termasuk tenaga pendidik dan
kesehatan), serta perumahan di Kawasan Desa tertinggal dan
berkembang;
b. Peningkatan kapasitas maupun kualitas jaringan listrik dan
telekomunikasi;
3. Peningkatan Keberdayaan Masyarakat Perdesaan
Kebijakan peningkatan keberdayaan masyarakat perdesaan tidak lepas dari
adanya masyarakat-masyarakat adat yang tersebar di pelosok Indonesia.
Keberadaan, kebudayaan, dan keberdayaan masyarakat adat ini sangat rentan
tergerus oleh budaya asing apabila tidak dilindungi. Tingkat pendidikan yang
relatif masih rendah membuat masyarakat desa maupun desa adat menjadi
kurang berdaya. Oleh karena itu strategi untuk meningkatkan keberdayaan
masyarakat desa yaitu:
a. Peningkatan keberdayaan masyarakat perdesaan, melalui fasilitasi dan
pendampingan berkelanjutan dalam perencanaan, pembangunan, dan
pengelolaan desa.
b. Peningkatan keberdayaan masyarakat adat, melalui penguatan lembaga
adat dan Desa Adat, perlindungan hak-hak masyarakat adat sesuai
dengan perundangan yang berlaku.
c. Peningkatan keberdayaan masyarakat melalui penguatan sosial budaya
masyarakat dan keadilan gender(kelompok wanita, pemuda, anak, dan
TKI).
4. Perwujudan Tata Kelola Pemerintahan Desa yang Baik
Kebijakan untuk meningkatkan kapasitas tata kelola pemerintahan desa yang
baik diarahkan untuk meningkatkan kapasitas tata kelola pemerintah desa
serta aparat desa lainnya dalam mendukung peningkatan kemandirian dan
kesejahteraan di desa. Strategi prioritas yang dilaksanakan adalah sebagai
berikut:
a. Fasilitasi peningkatan kapasitas pemerintah desa;
b. Fasilitasi peningkatan kapasitas Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dan
lembaga lembaga lainnya di tingkat desa;
c. Pengembangan data dan informasi desa yang digunakan sebagai acuan
bersama perencanaan dan pembangunan desa.

VI - 17

5. Perwujudan Kemandirian Pangan dan Pengelolaan SDA-LH yang
Berkelanjutan
Dalam mewujudkan pengelolaan perdesaan yang berkelanjutan, maka
pembangunan perdesaan perlu diarahkan untuk mendukung kemandirian
pangan dan energi melalui penataan kawasan perdesaan dan pengembangan
kapasitas pengelola SDA-LH terutama di desa-desa tertinggal. Adapun strategi
tersebut dilaksanakan dengan prioritas program sebagai berikut:
a. Peningkatan pengendalian pemanfaatan ruang kawasan perdesaan melalui
redistribusi lahan kepada petani/nelayan (land reform), serta menekan laju
alih fungsi lahan pertanian, kawasan pesisir dan kelautan secara
berkelanjutan.
b. Fasilitasi peningkatan kesadaran masyarakat dalam pemanfaatan,
pengelolaan, dan konservasi sumber daya alam dan lingkungan hidup yang
seimbang, berkelanjutan, dan berwawasan mitigasi bencana yang didukung
oleh inovasi dan teknologi tepat guna di perdesaan.
c. Fasilitasi peningkatan kesadaran masyarakat dalam kemandirian pangan
dan energi, dengan memanfaatkan inovasi dan teknologi tepat guna di
perdesaan.
6. Pengembangan Ekonomi Perdesaan
Pengembangan ekonomi perdesaan, khususnya di desa dan kawasan
perdesaan yang telah berkembang atau mandiri, diprioritaskan kepada
program-program:
a. Peningkatan kegiatan ekonomi desa yang berbasis komoditas unggulan,
melalui pengembangan rantai nilai, peningkatan produktivitas, serta
penerapan ekonomi hijau.;
b. Penyediaan dan peningkatan sarana dan prasarana produksi, pengolahan,
dan pasar desa;
c. Peningkatan akses masyarakat desa terhadap modal usaha, pemasaran dan
informasi pasar;
d. Pengembangan lembaga pendukung ekonomi desa seperti koperasi, dan
BUMDesa, dan lembaga ekonomi mikro lainnya;
6.5.2.3 Peningkatan Keterkaitan Kota dan Desa di Wilayah Pulau
Kalimantan
Peningkatan keterkaitan kota dan desa di Wilayah Pulau Kalimantan
diarahkan dengan mengembangkan 7 kawasan sebagai penghubung kota desa
yaitu kawasan Sambas dan sekitarnya (Kab. Sambas, dan Kab. Bengkayang, Prov.
Kalbar),Rasau Jaya dan sekitarnya (Kab. Kubu Raya, Prov. Kalbar), Gerbang Kayong
dan sekitarnya (Kab. Kayong Utara, Prov. Kalbar), Pangkalan Bun dan sekitarnya
VI - 18

(Kab. Kotawaringin Barat, Prov. Kalteng), Marabahan dan sekitarnya (Kab. Banjar,
Kab. Barito Kuala, Prov. Kalsel), Sangata dan sekitarnya (Kab. Kutai Timur, Prov.
Kaltim), serta Kawasan Tanjung Redeb dan sekitarnya (Kab. Berau, Prov. Kaltim).
Kawasan-kawasan ini mencakup kawasan transmigrasi, kawasan agropolitan dan
minapolitan, serta kawasan pariwisata .
Kebijakan untuk meningkatkan keterkaitan desa-kota diarahkan untuk
mendukung pengembangan kawasan perdesaan menjadi pusat pertumbuhan baru
terutama di desa-desa mandiri. Adapun prioritas strategi yang dilaksanakan
sebagai berikut:
1. Perwujudan Konektivitas antar Kota Sedang dan Kota Kecil, dan antar
Kota Kecil dan Desa sebagai Tulang Punggung (Backbone)
Keterhubungan Desa-Kota
a. Mempercepat pembangunan infrastruktur transportasi untuk
memperlancar arus barang, jasa, penduduk, dan modal, dengan prioritas
pada peningkatan kapasitas dan kualitas jaringan jalan Lintas Kalimantan,
Jalan Pengumpan, angkutan sungai dan laut, serta angkutan udara.
b. Mengembangkan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi untuk
memfasilitasi perdagangan dan informasi antar wilayah.
c. Mempercepat pemenuhan suplai energi/listrik untuk memenuhi kebutuhan
domestik dan industri.
2. Perwujudan Keterkaitan Kegiatan Ekonomi Hulu (upstream linkages)
dan Kegiatan Ekonomi Hilir (downstream linkages) Desa-Kota
a. Menyediakan fasilitas pendukung ekonomi lokal untuk meningkatkan
produksi dan distribusi barang dan jasa desa-kota dan antar kota, meliputi
peningkatan akses desa-desa produksi menuju pusat pertumbuhan (lihat
tabel 5.3), pengembangan pasar, dan toko saprodi;
b. Mewujudkan industri pengolahan hasil pertanian secara luas yang berbasis
koperasi dan UMKM, meliputi industri pengolahan hasil pertanian di
Kawasan Sambas, Rasau Jaya, Gerbang Kayong, Pangkalan Bun, Marabahan,
Sangata, dan Tanjung Redeb, serta industri pengolahan hasil perikanan
dan/atau kelautan di Kawasan Sambas dan Marabahan; yang didukung oleh
pengembangan kawasan transmigrasi;
c. Mengembangkan daya tarik wisata budaya dan agro di Kawasan Pariwisata
Sambas, wisata Taman Nasional dan bahari di Kawasan Pariwisata Tanjung
Puting, dan wisata bahari di Kawasan Pariwisata Derawan melalui
peningkatan ketersediaan infrastruktur penunjang;
d. Meningkatkan akses terhadap modal usaha melalui pengembangan lembaga
keuangan dengan kredit usaha ringan;
VI - 19

e. Meningkatkan akses bagi pelaku usaha terhadap pemasaran, teknologi, dan
informasi;
f. Mengembangkan ekonomi hijau berbasis agroindustri, agrowisata, dan
sektor informal perkotaan, untuk menambah nilai produk dan jasa dari
desa.
3. Peningkatan Kapasitas Tata Kelola, Kelembagaan, dan Masyarakat dalam
Peningkatan Keterkaitan Kota-Desa
a. Meningkatkan kapasitas aparatur dan masyarakat mengenai kelembagaan
dan tata kelola ekonomi daerah;
b. Mengembangkan kerjasama antar daerah dan kerjasama pemerintah-
swasta, serta mengembangkan forum-forum yang mendorong perwujudan
kerjasama antar stakeholder;
c. Meningkatkan pendidikan formal dan informal untuk memperkuat
kemampuan inovasi dan kreatifitas lokal serta potensi keragaman sosial
bidaya untuk membangun daya saing kota;
d. Meningkatkan kapasitas perencanaan dan penyelenggaraan kerjasama
antarkota dan antar kota-desa;
e. Meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masyarakat mengenai
kelestarian laut dan pesisir serta mitigasi bencana, terutama di Kawasan
Perdesaan Pesisir Sambas, Pangkalan Bun, dan Sangatta.
Secara diagramatis, lokasi prioritas pengembangan kawasan perkotaan dan
perdesaan dapat dilihat pada Gambar 5 dan Tabel 5.3.

TABEL 6.4
LOKASI PRIORITAS KAWASAN STRATEGIS NASIONAL PERKOTAAN SEBAGAI PUSAT
PERTUMBUHAN WILAYAH DI KALIMANTAN
Kode Lokasi Prioritas Fokus Pengembangan
K1 KSN (Usulan) Perkotaan
Banjarbakula
Kota Banjarmasin, Kab.
Banjarbaru, Kab. Banjar,
Kab. Baritokuala, Kab.
Tanah Laut
Meningkatkan fungsi Banjarmasin dan Banjar Baru sebagai
Pusat Kegiatan Nasional (PKN) yang mendukung
pertumbuhan wilayah nasional dan memantapkan fungsi-
fungsi keterkaitan dengan pusat-pusat pertumbuhan di
Wilayah Pulau Kalimantan Bagian Selatan.
Sumber : Bappenas, 2014


VI - 20

GAMBAR 6.2
LOKASI PRIORITAS PENGEMBANGAN KAWASAN PERKOTAAN DAN PERDESAAN


Sumber : Bappenas, 2014
VI - 21

TABEL 6.5
LOKASI PRIORITAS KOTA SEDANG YANG BERFOKUS PADA UPAYA PEMERATAAN
WILAYAH DI KALIMANTAN
Kode Lokasi
Prioritas
Fokus Pengembangan
P1

Singkawang Diarahkan sebagai kota agropolitan yang berfungsi sebagai pusat
kegiatan Nasional (PKN) yang mendorong pertumbuhan produksi
pertanian dan perkebunan (kelapa sawit) di Wilayah Prov. Kalimantan
Barat.

P2 Palangkaraya Diarahkan untuk menjadi pusat kegiatan Nasional (PKN) yang
berorientasi pada upaya mendorong perkembangan sektor produksi
wilayah seperti perdagangan, pertanian, dan pertambangan galian
logam.

P3 Tarakan Sebagai pusat pertumbuhan Nasional (PKN) yang berfungsi sebagai
pintu gerbang kedua pulau kalimantan dan pusat transit perdagangan
dengan sektor produksi wilayah seperti: Perkebunan, Perikanan, dan
pertambangan.
Sumber : Bappenas, 2014

TABEL 6.6
LOKASI PRIORITAS PUSAT PERTUMBUHAN BARU YANG BERFOKUS PADA UPAYA
PEMERATAAN WILAYAH DI KALIMANTAN
Kode Lokasi Kawasan Kelompok Kawasan Komoditas Unggulan
D1 Sambas dan
sekitarnya
(Kab. Sambas, dan
Kab. Bengkayang,
Prov. Kalbar)
Perkotaan Sambas
Kawasan Minapolitan Perikanan
Budidaya: Jawai Selatan
Kawasan Minapolitan Perikanan
Tangkap: Jawai Selatan, Jawai,
Pemangkat
KPB Subah
Kawasan Transmigrasi: Sambas,
Jawai, Ledo,
Kawasan Pariwisata: KSPN Sambas

Udang
Karet
Wisata Budaya
Wisata Agro
D2 Rasau Jaya dan
sekitarnya
(Kab. Kubu Raya,
Prov. Kalbar)
Perkotaan Rasau Jaya
KPB Rasau Jaya
Kawasan Transmigrasi: Ambawang,
dan Kubu
Kota Otonom Terdekat: Pontianak

Padi
Kelapa
D3 Gerbang Kayong dan
sekitarnya
(Kab. Kayong Utara,
Prov. Kalbar)
Perkotaan Gerbang Kayong
KPB Gerbang Kayong
Kawasan Transmigrasi: Teluk Batang,
Pkl. Suka

Padi
D4 Pangkalan Bun dan
sekitarnya
(Kab. Kotawaringin
Barat, Prov. Kalteng)
Perkotaan Mentawa Baru
Kawasan Agropolitan (Jagung):
Kumai, Pangkalan Lada, Pangkalan
Bunteng, Arut Selatan.
Kawasan Pariwisata: KSPN Tanjung
Jagung
Wisata Taman
Nasional
Wisata
Pantai/Bahari,
VI - 22

Kode Lokasi Kawasan Kelompok Kawasan Komoditas Unggulan
Puting
Kawasan Tertinggal: Mentawa Baru.
PKW Terdekat: Pangkalan Bun

Wisata Situs Sejarah
D5 Marabahan dan
sekitarnya
(Kab. Banjar, Kab.
Barito Kuala, Prov.
Kalsel)
Perkotaan Marabahan
Kawasan Minapolitan Perikanan
Budidaya: Cindai Alus
KPB Cahaya Baru
Kawasan Transmigrasi: Cerbon,
Marabahan,
PKW Terdekat: Marabahan
Kota Otonom Terdekat : Banjarbaru
dan Banjarmasin

Ikan Patin
Ikan Haruan
Padi
Jeruk
D6 Sangata dan
sekitarnya
(Kab. Kutai Timur,
Prov. Kaltim)
Perkotaan Sanggata Utara
KPB Maloy
Kawasan Transmigrasi: Sangkulirang,
Rantau Pulung
KEK Maloy
PKW Terdekat: Sanggata
Kota Otonom Terdekat : Bontang

Kelapa sawit
D7 Tanjung Redeb dan
sekitarnya
(Kab. Berau, Prov.
Kaltim)
Perkotaan Tanjung Redeb
Kawasan Agropolitan (Jagung): Berau
Kawasan Pariwisata: KSPN
Kepulauan Derawan
Jagung
Wisata Bahari/
Flora-Fauna
Sumber : Bappenas, 2014
6.5.3 Pengembangan Daerah Tertinggal dan Kawasan Perbatasan
6.5.3.1 Pengembangan Daerah Tertinggal
Arah kebijakan Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal di Wilayah
Pulau Kalimantan difokuskan pada upaya pemenuhan kebutuhan pelayanan dasar
publik dan pengembangan perekonomian masyarakat yang berbasis energi dan
pertambangan yang didukung oleh Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal dan
infrastruktur penunjang konektivitas antara daerah tertinggal dan pusat
pertumbuhan. Pembangunan daerah tertinggal dilakukan melalui strategi sebagai
berikut:
1. Pemenuhan Pelayanan dasar publik
Mendukung pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM) untuk pelayanan
dasar publik di daerah tertinggal dengan prioritas kegiatan sebagai berikut:
a. Bidang Pendidikan
1) Pembangunan dan rehabilitasi sarana pendidikan dasar diutamakan di
Seruyan dan Sintang;
2) Mengoptimalkan kemitraan dengan Program Kemitraan dan Bina
Lingkungan (PKBL) atau Corporate Social Responsibility (CSR) dalam
pemenuhan SPM bidang pendidikan;
VI - 23

3) Pemerataan distribusi dan kapasitas tenaga pendidik diutamakan di
Bengkayang, Sangau, dan Kayong Utara;
4) Peningkatan penyelenggaraan pelayanan pendidikan dasar bagi
masyarakat sesuai dengan karakteristik kawasan perhutanan, perairan
sungai seperti sekolah berasrama;
5) Penyediaan rumah dinas tenaga pendidik di wilayah-wilayah terisolir
dan perbatasan;
6) Pemberian beasiswa miskin bagi anak-anak di kawasan perbatasan.
b. Bidang Kesehatan
1) Pembangunan, rehabilitasi, dan peningkatan sarana kesehatan
diutamakan di Sangau;
2) Pemerataan distribusi dan kapasitas tenaga kesehatan (dokter, bidan,
perawat, apoteker, analis kesehatan, ahli gizi), alat kesehatan, dan obat-
obatan terutama di bagian barat Wilayah Pulau Kalimantan;
3) Pengadaan sarana kesehatan keliling terapung untuk kawasan perairan
dan pulau-pulau kecil;
4) Mengoptimalkan kemitraan dengan PKBL atau CSR dalam pemenuhan
SPM bidang kesehatan.
c. Bidang Energi
1) Pengembangan sumber energi alternatif yang terbarukan seperti arang
briket, briket batubara, dan biogas, terutama di kawasan konservasi;
2) Pembangunan jaringan listrik tenaga alternatif seperti mikro hidro,
biomass dengan skala komunitas di desa-desa terisolir;
3) Penyediaan Bahan Bakar Minyak ke wilayah terpencil khususnya di
wilayah pegunungan tengah dan perbatasan.
d. Bidang Informasi dan Telekomunikasi
1) Pengembangan radio komunitas dan radio komunikasi di kawasan
perbatasan;
2) Pembangunan menara penguat sinyal dan radio penguat siaran RRI dan
TVRI di Sintang, Nunukan, Kapuas Hulu, dan Sekadau.
e. Bidang Permukiman dan Perumahan
1) Pembangunan prasarana perumahan layak huni dan air bersih di
seluruh kampung terutama di wilayah terisolir dan perbatasan;
2) Perbaikan lingkungan permukiman diutamakan pada kawasan perairan
dan kawasan perhutanan.

VI - 24

2. Pengembangan Ekonomi Lokal
Pengembangan kinerja perekonomian masyarakat di daerah tertinggal secara
terpadu dalam rangka meningkatkan nilai tambah sesuai dengan karakteristik,
posisi strategis, dan keterkaitan antar kawasan. Strategi ini meliputi aspek
infrastruktur, manajemen usaha, akses permodalan, inovasi, dan pemasaran
dengan prioritas program sebagai berikut:
a. Pengembangan pusat teknologi informasi pemasaran, pendidikan,
pelatihan, pengembangan SDM pelaku usaha khususnya sub-sektor
perkebunan, penganeka-ragaman pengolahan hasil hutan, dan perikanan
darat-sungai;
b. Pengadaan instalasi pengolahan dan pemanfaatan limbah industri usaha
agroindustri kelapa sawit;
c. Pemberian imbal jasa lingkungan bagi masyarakat yang berada di wilayah
konservasi;
d. Pemberdayaan ekonomi masyarakat seperti penyediaan tenaga
pendamping bidang perkebunan, energy, dan pertambangan;
e. Optimalisasi peran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) khususnya sub-
sektor perkebunan rakyat, hasil hutan, perikanan darat, dan pertambangan
rakyat;
f. Pengelolaan produksi tanaman aneka kacang dan umbi di kawasan timur
Kalimantan;
g. Peningkatan produksi ternak dengan pendayagunaan sumberdaya lokal di
bagian tengah Wilayah Pulau Kalimantan;
h. Perluasan areal pertanian di kawasan timur dan tengah Wilayah Pulau
Kalimantan;
i. Pengembangan kegiatan kepariwisataan bahari dan sosial-budaya melalui
peningkatan insfrastruktur, sarana, promosi, serta peningkatan peran serta
masyarakat adat, khususnya di Kabupaten Sintang dan Sambas;
j. Pengembangan pasar tradisional.

3. Pengembangan Ekonomi Lokal
Peningkatan konektivitas daerah tertinggal dengan pusat pertumbuhan yang
diprioritaskan pada ketersediaan sarana dan prasarana penunjang
peningkatan kinerja pembangunan ekonomi daerah dengan prioritas kegiatan
sebagai berikut:
a. Pembangunan infrastruktur jalan dan sarana transportasi di desa-desa
terisolir dan kawasan perbatasan;
VI - 25

b. Pengembangan jaringan jalur kereta api lintas selatan antarkota di kawasan
timur dan timur Wilayah Pulau Kalimantan;
c. Pembangunan sarana transportasi air dermaga dan perahu;
d. Pembangunan, rehabilitasi, dan pemeliharaan prasarana bandara perintis;
e. Pengembangan jalur keperintisan udara;
f. Pembangunan dan peningkatan kapasitas jalan penghubung nasional di
kawasan perbatasan menuju pusat pertumbuhan, yakni di Kabupaten
Bengkayang, Kapuas Hulu, Sambas, Sanggau, Sintang, Kutai Barat, Nunukan,
dan Malinau.
4. Penguatan Kemampuan SDM dan IPTEK
Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan kapasitas kelembagaan
pemangku kepentingan pembangunan daerah tertinggal di pusat maupun di
daerah yang terintegrasi untuk menunjang pengelolaan pertambangan dan
energi. Strategi ini meliputi aspek peraturan perundangan, tata kelola, SDM,
rumusan dokumen kebijakan, dan pengembangan Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi (IPTEK) dengan prioritas kegiatan sebagai berikut:
a. Peningkatan kualitas aparatur daerah khususnya pada pemenuhan Standar
Pelayanan Minimal (SPM) pada bidang pendidikan, jaringan listrik,
informasi, dan telekomunikasi dari aspek perencanaan, pelaksanaan, dan
pengendalian;
b. Peningkatan kualitas aparatur daerah khususnya pada pengembangan
ekonomi daerah dan ekonomi masyarakat pada perhutanan, perkebunan,
dan tanaman hortikultura;
c. Pengembangan sekolah-sekolah kejuruan dan politeknik untuk menyiapkan
SDM dalam rangka menunjang pengelolaan pertambangan dan energi;
d. Pemberdayaan masyarakat di kawasan pertambangan menengah sampai
dengan besar dan perkebunan menengah sampai dengan besar besar;
e. Pengembangan teknologi pengolahan limbah industri;
f. Pelatihan kewirausahaan bagi masyarakat.
5. Penguatan Regulasi dan Insentif
Dalam upaya mendukung percepatan pembangunan daerah tertinggal, bentuk
afirmasi yang lebih nyata dan konkrit dilakukan dengan evaluasi terhadap
harmonisasi regulasi untuk menciptakan iklim yang kondusif dalam
pengelolaan pertambangan dan energi melalui pelaksanaan prioritas program
sebagai berikut:
a. Harmonisasi kebijakan, program, dan kegiatan daerah untuk percepatan
pembangunan daerah tertinggal;
VI - 26

b. Penyusunan Strategi Daerah tentang Percepatan Pembangunan Daerah
Tertinggal;
c. Penegakan regulasi bagi reklamasi lahan-lahan di kawasan pertambangan;
d. Penyusunan rencana induk dan rencana aksi pengembangan ekonomi
berbasis pada agroindustri perhutanan, perkebunan, seperti kelapa dan
kelapa sawit, serta tanaman hortikultura;
e. Koordinasi dan sinkronisasi antara pemerintah dengan pemerintah daerah
dan antar-SKPD dalam penyelenggaraan program pembangunan di daerah;
f. Penyusunan rencana induk dan rencana aksi pengembangan ekonomi
berbasis pada agroindustri peternakan dan perikanan laut, serta
pengembangan pariwisata baik wisata bahari dan sosial budaya;
g. Pemberian insentif untuk pihak swasta dalam proses pengembangan usaha
di daerah tertinggal;
h. Tunjangan khusus bagi pegawai pelayanan dasar publik di daerah tertinggal
(bidan, dokter, guru, penyuluh pertanian).

Dalam periode RPJMN 2010-2014 di Wilayah Pulau Kalimantan telah
ditetapkan 16 kabupaten tertinggal yang menjadi lokus agenda percepatan
pembangunan daerah tertinggal. Pada akhir tahun 2014 diindikasikan terdapat 6
kabupaten tertinggal yang dapat terentaskan. Akan tetapi, terdapat 1 kabupaten
dengan status Daerah Otonom Baru (DOB) hasil pemekaran yang masuk kategori
daerah tertinggal yaitu Kabupaten Mahakam Ulu. Sehingga pada periode RPJMN
2015-2019 jumlah daerah tertinggal di Kalimantan diperkirakan sebanyak 11
kabupaten. Pada akhir periode RPJMN 2015-2019 ditargetkan sebanyak 9
kabupaten tertinggal dapat terentaskan di wilayah ini.

6.5.3.2 Pengembangan Kawasan Perbatasan
Arah kebijakan Pengembangan Kawasan Perbatasan di Wilayah Pulau
Kalimantan difokuskan untuk meningkatkan peran sebagai halaman depan negara
yang maju dan berdaulat dengan negara Malaysia di perbatasan darat dan laut.
Fokus Pengembangan Kawasan Perbatasan di Wilayah Pulau Kalimantan
diarahkan pengembangan Pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN) di Wilayah
Pulau Kalimantan, yaitu PKSN Jagoi Babang, PKSN Nanga Badau, PKSN Paloh-Aruk,
PKSN Entikong, PKSN Jasa, PKSN Long Pahangai, PKSN Long Nawan, PKSN
Simanggaris, PKSN Long Midang dan PKSN Nunukan, serta mempercepat
pembangunan di Kecamatan Lokasi Prioritas (Lokpri) tahun 2015-2019.
VI - 27

GAMBAR 6.3

VI - 28

TABEL 6.7
PROFIL DAERAH TERTINGGAL WILAYAH PULAU KALIMANTAN
NO. KABUPATEN
P
E
N
G
A
N
G
G
U
R
A
N
(
%
)

P
R
A
S
A
R
A
N
A
J
A
L
A
N
T
I
D
A
K
M
A
N
T
A
P
(
%
)

E
L
E
K
T
R
I
F
I
K
A
S
I
(
%
)

D
E
S
A
P
E
N
G
G
U
N
A
A
I
R
B
E
R
S
I
H
U
N
T
U
K

M
I
N
U
M
/
M
E
M
A
S
A
K
(
%
)

K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

S
A
R
A
N
A
I
N
F
O
R
M
A
S
I

D
A
N
K
O
M
U
N
I
K
A
S
I
R
A
T
A
-
R
A
T
A
L
A
M
A
S
E
K
O
L
A
H
(
T
h
)

K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N
D
A
N

A
K
S
E
S
I
B
I
L
I
T
A
S

S
A
R
A
N
A
P
E
N
D
I
D
I
K
A
N

R
A
T
A
R
A
T
A
J
A
R
A
K
P
U
S
K
E
S
M
A
S
(
K
m
)

R
A
T
A
R
A
T
A
J
A
R
A
K
P
U
S
K
E
S
M
A
S

P
E
M
B
A
N
T
U
(
K
m
)

K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

T
E
N
A
G
A
K
E
S
E
H
A
T
A
N

(
D
O
K
T
E
R
/
B
I
D
A
N
/
P
A
R
A
M
E
D
I
S
)

A
K
S
E
S
I
B
I
L
I
T
A
S
K
E

T
E
N
A
G
A
K
E
S
E
H
A
T
A
N

(
K
m
)

J
U
M
L
A
H
A
P
A
R
A
T
U
R

D
A
E
R
A
H

B
E
R
D
A
S
A
R
K
A
N

P
E
N
D
I
D
I
K
A
N

A
K
S
E
S
I
B
I
L
I
T
A
S
K
E

S
A
R
A
N
A

P
E
M
E
R
I
N
T
A
H
A
N

A
K
S
E
S
I
B
I
L
I
T
A
S

S
A
R
A
N
A
F
I
S
I
K

K
E
G
I
A
T
A
N
E
K
O
N
O
M
I

D
E
S
A
T
I
D
A
K

T
E
R
J
A
N
G
K
A
U

S
I
N
Y
A
L
S
E
L
U
L
E
R
(
%
)

D
E
S
A
T
I
D
A
K

T
E
R
J
A
N
G
K
A
S
I
A
R
A
N

T
V
R
I
(
%
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A
J
A
R
A
K

S
D
(
K
m
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A
J
A
R
A
K

S
M
P
(
K
m
)

R
A
T
A
R
A
T
A

K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

D
O
K
T
E
R
/

K
E
C
A
M
A
T
A
N

R
A
T
A
R
A
T
A

K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

B
I
D
A
N
/
D
E
S
A

R
A
T
A
R
A
T
A

K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

P
A
R
A
M
E
D
I
S
/

K
E
C
A
M
A
T
A
N

R
A
T
A
-
R
A
T
A
J
A
R
A
K

P
R
A
K
T
E
K
D
O
K
T
E
R

(
K
m
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A
J
A
R
A
K

P
R
A
K
T
E
K
B
I
D
A
N

(
K
m
)

<
S
M
U
(
%
)

D
1
/
D
2
/
D
3
(
%
)

D
4
/
S
1
(
%
)

S
2
/
S
3
(
%
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A
J
A
R
A
K

K
E
K
A
N
T
O
R

K
E
C
A
M
A
T
A
N
(
K
m
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A
J
A
R
A
K

K
E
K
A
N
T
O
R

K
A
B
U
P
A
T
E
N
(
K
m
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A
J
A
R
A
K

P
A
S
A
R
(
K
m
)

A KALIMANTAN BARAT 4.27 55.53 69.52 21.35 54.24 84.59 6.73 23.17 14.93 19.62 12.30 2.17 0.95 15.98 33.20 26.58 95.15 2.04 2.72 0.09 22.26 84.88 37.10
1 SAMBAS 3.07 41.48 88.73 3.80 21.74 21.74 6.21 0.30 4.43 6.34 3.12 2.47 1.21 17.74 14.53 10.40 94.95 2.07 2.89 0.09 7.93 39.04 9.88
2 BENGKAYANG 3.69 56.95 74.01 26.61 58.06 83.06 6.54 17.99 18.72 16.89 12.58 1.47 1.18 11.24 26.78 23.77 96.13 1.40 2.38 0.09 16.80 64.35 24.62
3 LANDAK 4.46 59.96 72.06 8.33 57.69 75.00 7.54 0.00 12.10 15.20 11.66 1.69 1.04 14.77 26.27 17.62 95.61 2.07 2.32 0.00 17.46 76.72 28.46
4 SANGGAU * 3.24 41.30 63.31 22.29 53.61 84.34 6.63 0.00 12.16 17.89 7.25 3.53 1.30 18.00 21.44 18.09 96.21 1.73 1.97 0.09 15.63 78.79 20.22
5 KETAPANG 3.94 43.74 76.38 52.61 56.22 92.77 6.54 4.00 34.17 22.85 23.35 2.50 0.80 15.70 28.84 24.30 95.85 2.48 1.51 0.16 42.07 172.98 74.81
6 SINTANG 5.98 58.10 57.11 34.84 68.99 99.30 6.68 6.16 17.11 28.21 18.95 2.29 0.57 21.86 39.93 34.07 95.47 1.37 2.93 0.22 32.03 113.17 51.57
7 KAPUAS HULU 5.17 67.59 73.05 14.54 62.77 96.45 7.18 12.50 19.06 24.02 14.65 1.72 0.63 12.44 38.96 40.49 92.63 3.09 4.09 0.18 23.68 130.33 47.17
8 SEKADAU * 1.64 47.98 58.54 21.05 60.53 97.37 6.83 0.00 8.69 16.24 10.37 2.29 1.01 13.71 40.79 21.59 96.23 1.65 2.13 0.00 16.48 58.85 46.57
9 MELAWI 8.08 89.85 64.02 20.12 58.58 95.86 7.28 4.32 12.71 21.63 12.00 1.73 0.50 10.73 31.10 16.72 94.80 2.47 2.73 0.00 20.00 65.17 35.52
10 KAYONG UTARA 3.42 48.37 68.02 9.30 44.19 100.00 5.84 0.00 10.18 26.88 9.05 2.00 1.23 23.60 63.34 58.79 93.65 2.03 4.22 0.11 30.55 49.36 32.13
B KALIMANTAN TENGAH 2.07 80.73 77.65 38.00 72.00 89.00 7.78 9.00 15.95 22.71 22.43 5.40 0.78 28.80 53.67 46.12 96.50 1.53 1.89 0.08 38.16 272.63 49.78
11 SERUYAN 2.07 80.73 77.65 38.00 72.00 89.00 7.78 9.00 15.95 22.71 22.43 5.40 0.78 28.80 53.67 46.12 96.50 1.53 1.89 0.08 38.16 272.63 49.78
C KALIMANTAN SELATAN 4.11 55.82 89.61 47.19 17.52 6.89 7.37 0.78 2.62 4.66 2.65 2.30 0.84 10.98 10.81 6.38 92.06 1.53 6.13 0.28 5.52 26.32 7.95
12 BARITO KUALA * 4.60 49.84 87.59 30.00 25.00 1.00 7.25 0.81 3.44 5.66 2.95 1.29 0.99 9.76 16.83 9.94 93.94 1.72 4.09 0.25 6.55 41.74 10.38
13 HULU SUNGAI UTARA * 3.62 61.79 91.63 64.38 10.05 12.79 7.49 0.75 1.79 3.65 2.34 3.30 0.70 12.20 4.79 2.81 90.19 1.34 8.17 0.30 4.50 12.23 5.53
D KALIMANTAN TIMUR 14.01 32.58 75.12 16.49 60.76 96.50 8.01 5.30 20.51 29.56 18.89 2.33 0.34 13.91 49.04 46.07 90.24 3.71 5.68 0.37 19.73 147.70 55.37
14 KUTAI BARAT * 14.59 32.27 76.37 36.13 57.98 99.16 8.21 0.92 20.67 22.43 14.19 1.33 0.43 14.38 48.37 41.76 94.98 2.88 2.02 0.12 20.82 119.09 53.72
15 MALINAU * 10.63 38.98 87.54 9.17 51.38 99.08 8.26 6.10 34.32 32.60 22.93 3.00 0.38 15.25 61.40 54.95 82.95 5.38 10.94 0.73 17.85 115.66 69.92
16 NUNUKAN 16.81 26.50 61.45 4.17 72.92 91.25 7.55 8.88 6.54 33.65 19.57 2.67 0.20 12.11 37.37 41.51 92.80 2.87 4.08 0.25 20.54 208.36 42.47
RATA RATA WILAYAH 6.11 56.17 77.97 30.76 51.13 77.39 7.47 9.56 13.50 19.14 14.07 3.05 0.73 17.42 36.68 31.29 93.49 2.20 4.11 0.20 20.69 101.16 37.55
RATA RATA DATING 5.41 55.41 69.3 52.29 48 78.18 7.31 13.5 13.4 14.2 12.96 8.77 1.1 39.6 34 34.4 92.28 2.48 5.02 0.22 12.61 53.97 25
RATA RATA NASIONAL 7.24 48.78 83.2 66.55 32.11 48.63 7.9 8.73 7.97 8.91 7.6 11.2 1.1 37.5 18.5 16.7 89.85 3.03 6.70 0.42 10.32 48.25 14.8
Sumber: BPS 2012, Podes 2011, Keterangan: *) 70 Kabupaten berpotensi terentaskan
VI - 29

Strategi pengembangan kawasan perbatasan diarahkan untuk mewujudkan
kemudahan aktivitas masyarakat kawasan perbatasan dalam berhubungan dengan
negara tetangga dan menciptakan kawasan perbatasan yang berdaulat. Strategi
tersebut dilakukan sebagai berikut:
1. Penguatan pengelolaan dan fasilitasi penegasan, pemeliharaan,
pengamanan kawasan perbatasan Kalimantan
Penguatan pengelolaan dan fasilitasi penegasan, pemeliharaan, dan
pengamanan kawasan perbatasan, secara terpadu di Wilayah Pulau
Kalimantan dengan strategi sebagai berikut:
a. Mengembangkan mengembangkan pusat pelayanan kepabeanan, imigrasi,
karantina, dan keamanan terpadu (satu atap) di PKSN Jagoi Babang, PKSN
Nanga Badau, PKSN Paloh-Aruk, PKSN Entikong, PKSN Jasa, PKSN Long
Pahangai, PKSN Long Nawan, PKSN Simanggaris, PKSN Long Midang dan
PKSN Nunukan;
b. Membenahi aktivitas lintas batas di pintu-pintu alternatif (ilegal) di
kawasan perbatasan Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan
Utara;
c. Mengembangkan pusat kegiatan pertahanan dan keamanan negara di
beberapa wilayah yang memiliki Outstanding Boundary Problem (OBP) dan
PKSN di wilayah perbatasan Kalimantan;
d. Meningkatkan upaya perundingan dalam penetapan dan penegasan batas
wilayah negara RI-Malaysia dalam penyelesaian 9 (sembilan) Outstanding
Boundary Problem (OBP);
e. Meningkatkan kapasitas tim perunding dari tingkat teknis, strategi, hingga
kebijakan (pengambilan keputusan);
f. Memperkuat pertahanan dan pengamanan perbatasan wilayah laut baik
dengan penambahan sarana dan prasarana alutsista maupun non alutsista;
g. Pembentukan kerjasama patroli pertahanan dan keamanan batas wilayah
Negara RI-Malaysia;
h. Mengembangkan standar operasional prosedur (SOP) pertahanan dan
keamanan yang profesional bagi aparatur pengaman perbatasan.
2. Pengembangan Ekonomi Lokal
Pengembangan ekonomi lokal secara terpadu pada kawasan perbatasan
negara di Wilayah Pulau Kalimantan dengan strategi sebagai berikut:
a. Meningkatkan nilai tambah produk hasil perkebunan dan pertanian melalui
pengembangan sarana dan prasarana pengolahan dan pemasaran hasil
Perkebunan PKSN Nanga Badau, PKSN Long Pahangai, PKSN Sei
Simanggaris, PKSN Long Midang, dan PKSN di Perbatasan Kalimantan;
VI - 30

b. Mengembangkan program transmigrasi di kawasanperbatasan Kalimantan
Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara dalambentuk Kota
TerpaduMandiri;
c. Mengembangkan kegiatan ekowisata hutan, melalui kegiatan konservasi
dan pembangunan sarana dan prasarana pariwisata di PKSN Paloh, Long
Nawang, PKSN Long Pahangai, dan PKSN Long Midang melalui pengelolaan
pariwisata yang optimal (promosi dan penyediaan infrastruktur penunjang
pariwisata);
d. Mengembangkan pusat perdagangan skala internasional, nasional, dan
regional berbasis komoditas lokal berorientasi pasar ke negara Malaysia;
e. Mengembangkan balai-balai latihan kerja untuk meningkatkan mengelola
komoditas unggulan lokal yang berorientasi pasar ke negara Malaysia.
3. Penguatan Konektivitas dan Sislognas
Peningkatan konektivitas kawasan perbatasan negara di Wilayah Pulau
Kalimantan dengan strategi sebagai berikut:
a. Mempercepat penyelesaian Jalan Strategis Perbatasan dan Jalan Poros
Perbatasan di Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara;
b. Meningkatkankonektivitasdenganmembangun sistem jaringan jalan lokal di
Kecamatan Lokasi Prioritas (Lokpri) dan antar Lokpri yang saling
terhubung dengan pusat kegiatan ekonomi;
c. Mengembangkan pusat aktifitas perdagangan dan gudang logistik untuk
meningkatkan distribusi hulu-hilir perdagangan antar negara, khususnya di
Lokasi Prioritas yang memiliki aktifitas perdagangan tinggi;
d. Meningkatkanintensitasdan kualitas pelayanankeperintisan (Angkutan
Sungai dan Penyeberang) yang menghubungkan Lokasi Prioritas (Lokpri) di
kawasan perbatasan negara dengan Pusat Kegiatan Strategis Nasional
(PKSN) maupun pusat pertumbuhan/aktivitas ekonomi;
e. Menjamin ketersedian logistik, khususnya untuk kecamatan-kecamatan
Lokpri terisolir, di Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, dan Kalimantan
Barat;
f. Mengembangkanpelayanantransportasiudarainternasionaldannasional di
PKSN Perbatasan Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan
Utara;
g. Menyediakan infrastruktur dasar kewilayahan terutama jalan, listrik, air
bersih, dan telekomunikasi di Kecamatan Lokasi Prioritas (Lokpri).
4. Penguatan Kemampuan SDM dan Iptek
Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) agar mampu mengelola
sumber daya alam di kawasan perbatasan dapat melakukan aktivitas dengan
negara tetangga dan turut mendukung upaya peningkatan kedaulatan negara
VI - 31

dengan pemanfaatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang
berkualitas, dengan penjabaran strategi sebagai berikut:
a. Mengembangkan dan meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan
kejuruan dan keterampilan berbasis sumber daya lokal (perkebunan,
pariwisata, maupun pertambangan) di PKSN Nanga Badau, Entikong, PKSN
Long Pahangai, PKSN Sei Simanggaris, PKSN Long Midang dan PKSN lain di
Perbatasan Kalimantan;
b. Mengembangkan sekolah bertaraf internasional, serta berasrama di PKSN
Paloh, Badau, Entikong, Jagoi Babang, Nunukan, dan PKSN lain di
Perbatasan Kalimantan yang memiliki aktivitas/interaksi tinggi dengan
negara tetangga;
c. Meningkatkan akses pelayanan sosial dasar (pendidikan dan kesehatan) di
kawasan perbatasan negara, khususnya di desa-desa terdepan dan terisolir
dengan penyediaan sarana prasarana sesuai karakteristik geografis
wilayah;
d. Menyediakan tenaga pendidikan dan kesehatan yang handal serta
penyedian insentif, serta sarana prasarana penunjang yang memadai,
khususnya di desa-desa terdepan dan terisolir dalam kecamatan Lokpri;
e. Meningkatkan kapasitas aparatur wilayah perbatasan melalui penerapan
kebijakan wajib tugas belajar dan pelatihan teknis, agar diperoleh
sumberdaya aparatur yang memiliki kemampuan dan merumuskan
kebijakan pengelolaan kawasan perbatasan dan pelayanan yang diperlukan
oleh masyarakat perbatasan;
f. Mengembangkan teknologi tepat guna dalam menunjang pengelolaan
sumber daya alam/potensi lokal di kawasan perbatasan.
5. Penguatan Regulasi dan Insentif
Dalam upaya mendukung pengembangan kawasan perbatasan negara,
harmonisasi regulasi agar afirmasi terhadap pengembangan kawasan
perbatasan. Beberapa regulasi yang kurang harmonis dalam mendukung
afirmasi terhadap pengembangan kawasan perbatasan sebagai berikut:
a. Kemudahan masyarakat perbatasan yang tinggal di kawasan lindung untuk
memanfaatkan sumber daya alam yang ada di dalamnya, serta untuk
kemudahan pembangunan infrastruktur yang melalui hutan lindung;
b. Regulasi pengelolaan lintas batas;
c. Regulasi Perdagangan lintas batas Perjanjian kerjasama antara RI-Malaysia
dalam pengembangan kawasan perbatasan negara;
d. Regulasi yang berkaitan dengan pengelolaan Dryport;
e. Regulasi untuk memberikan kewenangan yang lebih luas (asimetrik)
kepada Pemerintah Pusat untuk menyediakan sumber daya air, pengelolaan
jalan non status, dan pelayanan pendidikan dan kesehatan di kawasan
VI - 32

perbatasan, khususnya di desa-desa terdepan dan terisolir (kecamatan
lokpri);
f. Penciptaan iklim investasi yang kondusif di kawasan perbatasan;
g. Pembagian kewenangan atau urusan antar jenjang pemerintah: pusat,
provinsi, dan kabupaten/kota dalam pengelolaan kawasan perbatasan;
h. Kelembagaan pengelola perbatasan yang memiliki otoritas penuh untuk
mengelola pos-pos lintas batas negara;
i. Pengkhususan pemberian kewenangan bagi pemerintahan kecamatan di
wilayah perbatasan (Lokpri) dalam bentuk desentralisasi asimetrik dengan
penetapan daerah khusus untuk akselerasi pembangunan dan efektivitas
peningkatan kualitas pelayanan publik;
j. Penyusunan Rencana Tata Ruang termasuk Detail Tata Ruang Kawasan
Perbatasan di Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara.
Adapun sebaran lokasi prioritas pengembangan kawasan perbatasan dapat
dilihat pada tabel 6.8 dan gambar 6.4.

TABEL 6.8
DAFTAR LOKASI PRIORITAS PENGEMBANGAN KAWASAN PERBATASAN
WILAYAH PULAU KALIMANTAN
No. Kabupaten Kecamatan Lokasi Prioritas
1 Sambas Paloh; Sajingan Besar
2 Bengkayang Jagoi Babang; Siding
3 Sanggau Entikong; Sekayam
4 Sintang Ketungau Hulu; Ketungau Tengah
5 Kapuas Hulu Badau; Puring Kencana; Batang Lupar; Embaloh Hulu;
Putussibau Utara; Putussibau Selatan
6 Mahakam Ulu Long Apari; Long Pahangai
7 Malinau Kayan Hulu; Pujungan; Kayan Hilir; Bahau Hulu; Kayan Selatan
8 Nunukan Sebatik Barat; Krayan Selatan; Krayan; Lumbis; Sebuku; Sebatik,
Lumbis Ogong, Simanggaris, Tulin Onsoi, Sebatik Tengah, Sebatik
Timur, Sebatik Utara
Sumber : Bappenas, 2014

6.5.4 Penanggulangan Bencana
Arah kebijakan penanggulangan bencana di Wilayah Pulau Kalimantan
adalah mengurangi risiko bencana dan meningkatkan ketangguhan pemerintah,
pemerintah daerah dan masyarakat terhadap bencana, yang dapat dilakukan
melalui strategi:
1. Internalisasi Pengurangan Risiko Bencana dalam kerangka
Pembangunan berkelanjutan, melalui :
a. mengarusutamakan pengurangan risiko bencana dalam pembangunan
sektoral dan wilayah;
VI - 33

b. melakukan harmonisasi kebijakan dan regulasi penanggulangan bencana di
pusat dan daerah;
c. mendorong penyusunan RPB, RPJMD dan RTRWP/K yang sensitif terhadap
risiko bencana.
d. Integrasi pengurangan risiko bencana dengan adaptasi perubahan iklim
dalam kerangka pembangunan berkelanjutan.
e. menyediakan kajian dan peta risiko bencana kebakaran hutan dan lahan,
banjir dan kekeringan di Pulau Kalimantan untuk perencanaan
pembangunan.
2. Penurunan kerentanan terhadap bencana
a. menyediakan dan mengoperasikan sistem peringatan dini;
b. menyediakan infrastruktur mitigasi dan kesiapsiagaan;
c. Monitoring hot spot di Provinsi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah,
Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah.
d. Penataan bangunan dan lingkungan di daerah rawan bencana banjir
e. Normalisasi DAS yang kritis di Pulau Kalimanatan
f. Pembangunan infrastruktur pengendali banjir
3. Peningkatan kapasitas aparatur dan masyarakat
a. mengembangkan IPTEK dan pendidikan untuk membangun budaya
keselamatan terhadap bencana;
b. memperkuat kapasitas manajemen penanggulangan bencana pada fase pra
bencana, tanggap darurat dan pasca bencana;
c. mendorong partisipasi dan peranserta multi-pihak dalam penyelenggaraan
penanggulangan bencana.
d. Pembangunan pusat logistik kebencanaan untuk Wilayah Pulau Kalimantan.
e. Pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan hutan.
f. Pendidikan, pelatihan dan sosialisasi tentang penanggulangan bahaya dan
risiko kebakaran hutan dan lahan, banjir dan kekeringan.
g. Penguatan forum pengurangan risiko bencana kebakaran hutan dan lahan,
banjir dan kekeringan sampai tingkat komunitas.
Adapun sebaran risiko bencana dan profil kerawanan dan risiko PKN, PKW dan
PKSN di Wilayah Pulau Kalimantan dapat dilihat pada Gambar 6.5 dan Tabel 6.9.
VI - 34

GAMBAR 6.4

























VI - 35

GAMBAR 6.5





























VI - 36

TABEL 6.9
PROFIL KERAWANAN DAN RISIKO PKN, PKW DAN PKSN
DI WILAYAH PULAU KALIMANTAN

Wilayah
Index Kerawanan
(IRBI 2011)
Indeks Risiko tingkat
Kabupaten/Kota (IRBI 2013)
KEK Maloy
Kabupaten Kutai Timur: tinggi untuk
bencana banjir, sedang untuk gempa
bumi, tinggi untuk gelombang ekstrim
dan abrasi, tinggi unutuk kebakaran
hutan dan lahan, sedang untuk cuaca
ekstrim,
Kabupaten Kutai Timur: tinggi

KAPET Khatulistiwa


Kota Singkawang: tinggi untuk bencana
banjir
Kabupaten Bengkayang: sedang untuk
bencana banjir
Kabupaten Sambas: tinggi untuk banjir
dan kebakaran hutan dan lahan
Kabupaten Sanggau: tinggi untuk
bencana dan kebakaran hutan dan lahan
Kabupaten Sintang: sedang untuk
bencana
Kabupaten Landak: tinggi untuk bencana
banjir dan kebakaran hutan
Kabupaten Kapuas Hulu: sedang tinggi
untuk bencana banjir dan kebakaran
hutan

Kota Singkawang: tinggi
Kabupaten Bengkayang: tinggi
Kabupaten Sambas: tinggi
Kabupaten Sanggau: sedang
Kabupaten Sintang: tinggi
Kabupaten Landak: sedang
Kabupaten Kapuas Hulu: tinggi
KAPET Daskakab
Kota Palangkaraya: tinggi untuk bencana
kebakaran hutan dan lahan
Kabupaten Barito Utara:tinggi
Kabupaten Barito Selatan:tinggi
Kabupaten Kapuas: tinggi
Kota Palangkaraya: tinggi
Kabupaten Barito Utara: sedang
Kabupaten Barito Selatan:
sedang
Kabupaten Kapuas: tinggi
KAPET Batulicin Kabupaten Kotabaru: Tinggi untuk
bencana banjir
Kabupaten Kotabaru: tinggi
KAPET Sasamba
Kota Samarinda: tinggi untuk bencana
kebakaran hutan dan lahan
Kota Balikpapan: tinggi untuk bencana
kebakaran hutan dan lahan
Kabupaten Kutai Kertanegara: tinggi
Kota Samarinda: sedang
Kota Balikpapan: tinggi
Kabupaten Kutai Kertanegara:
tinggi
KSN Banjarbakula
Kota Banjarmasin: tinggi untuk ancaman
banjir
Kabupaten Banjar Baru: sedang untuk
bencana banjir
Kabupaten Barito Kuala: sedang untuk
bencana kebakaran hutan dan lahan
Kabupaten Tanah Laut: tinggi untuk
bencana banjir
Kota Banjarmasin: sedang
Kabupaten Banjar Baru: sedang
Kabupaten Barito Kuala: tinggi
Kabupaten Tanah Laut: tinggi
Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) Kalimantan
Pontianak Tinggi untuk ancaman:
kebakaran hutan dan lahan
Kota Pontianak: Sedang
Palangkaraya Tinggi untuk ancaman:
kebakaran hutan dan lahan,
Kota Palangkaraya: Tinggi
VI - 37

Wilayah
Index Kerawanan
(IRBI 2011)
Indeks Risiko tingkat
Kabupaten/Kota (IRBI 2013)
Banjarmasin Tinggi untuk ancaman:
banjir
Kota Banjarmasin: Tinggi
Kawasan Perkotaan
Balikpapan,
Tenggarong,
Samarinda, Bontang
Balikpapan, Tenggarong, Samarinda
ancaman tinggi untuk:
banjir, kebakaran hutan dan lahan
Kota Balikpapan: Tinggi;
Kota Samarinda: Tinggi;
Kota Bontang: Tinggi
Pusat Kegiatan
Wilayah (PKW)
Kalimantan

Mempawah Kab.
Pontianak
Tinggi untuk ancaman:
banjir, kebakaran jutan dan lahan,
Kab. Pontianak: Tinggi
Sambas Tinggi untuk ancaman:
banjir, kekeringan, tanah longsor,
Sambas: Tinggi
Ketapang Tinggi untuk ancaman:banjir Ketapang: Tinggi
Putussibau Kab.
Kapuas Hulu
Tinggi untuk ancaman: Banjir,
kekeringan
Kapuas Hulu: Tinggi
Sanggau Tinggi untuk ancaman:
banjir dan tanah longsor
Sanggau: Tinggi
Sintang Tinggi untuk ancaman: banjir Sintang: Tinggi
Muara Teweh Kab.
Barito Utara
Tinggi untuk ancaman:
banjir
Barito Utara: Tinggi
Paloh Kab. Sambas Tinggi untuk ancaman:
banjir, kekeringan
Sambas: Tinggi
Jagoi Babang Kab.
Bengkayang
Tinggi untuk ancaman: banjir dan tanah
longsor
Bengkayang: Tinggi
Entikong Kab.
Sanggau
Tinggi untuk ancaman:
banjir dan tanah longsor
Sanggau: Tinggi
Sumber : Diolah, Bappenas 2014

6.5.5 Pengembangan Tata Ruang Wilayah Pulau Kalimantan
A. Arah Kebijakan Tata Ruang Wilayah Pulau Kalimantan
1. Kebijakan untuk mewujudkan kelestarian kawasan konservasi
keanekaragaman hayati dan kawasan berfungsi lindung yang bervegetasi
hutan tropis basah paling sedikit 45 persen dari luas Pulau Kalimantan
sebagai Paru-paru Dunia meliputi:
a. Pelestarian kawasan yang memiliki keanekaragaman hayati tumbuhan
dan satwa endemik kawasan;
b. Pengembangan koridor ekosistem antarkawasan konservasi;
c. Pemantapan kawasan berfungsi lindung dan rehabilitasi kawasan
berfungsi lindung yang terdegradasi; dan
d. Pengendalian kegiatan budi daya yang berpotensi mengganggu
kawasan berfungsi lindung.
2. Kebijakan untuk mewujudkan kemandirian energi dan lumbung energi
nasional untuk ketenagalistrikan melalui pengembangan interkoneksi
jaringan transmisi tenaga listrik.
VI - 38

3. Kebijakan untuk mewujudkan jaringan transportasi antarmoda yang dapat
meningkatkan keterkaitan antarwilayah, efisiensi ekonomi, serta membuka
keterisolasian wilayah dilakukan melalui pengembangan jaringan
transportasi antarmoda yang terpadu dan efisien untuk menghubungkan
kawasan produksi komoditas unggulan menuju bandar udara dan/atau
pelabuhan, dan antarkawasan perkotaan, serta membuka keterisolasian
wilayah.

B. Strategi Pengembangan Tata Ruang Wilayah Pulau Kalimantan
I. Pengembangan Kawasan Lindung
Strategi tata ruang terkait pengembangan kawasan lindung meliputi arah
kebijakan dalam rangka:
1. Mewujudkan kelestarian kawasan konservasi keanekaragaman hayati dan
kawasan berfungsi lindung yang bervegetasi hutan tropis basah paling
sedikit 45 persen dari luas Pulau Kalimantan sebagai Paru-paru Dunia,
2. Mewujudkan kemandirian energi dan lumbung energi nasional untuk
ketenagalistrikan,dan
3. Mewujudkan swasembada pangan dan lumbung pangan nasional.
Strategi tata ruang untuk arah kebijakan dalam rangka mewujudkan
kelestarian kawasan konservasi keanekaragaman hayati dan kawasan berfungsi
lindung yang bervegetasi hutan tropis basah paling sedikit 45 persen dari luas
Pulau Kalimantan sebagai Paru-paru Dunia adalah sebagai berikut:
1. Strategi tata ruang untuk arah kebijakan pelestarian kawasan yang memiliki
keanekaragaman hayati tumbuhan dan satwa endemik kawasan dengan
mempertahankan dan merehabilitasi luasan kawasan konservasi yang
memiliki keanekaragaman hayati tumbuhan dan satwa endemik kawasan.
2. Strategi tata ruang untuk arah kebijakan pengembangan koridor ekosistem
antarkawasan konservasi meliputi:
a. Mengendalikan pemanfaatan ruang kawasan budi daya yang berfungsi
sebagai koridor ekosistem; dan
b. Membatasi perkembangan kawasan permukiman pada wilayah yang
berfungsi sebagai koridor ekosistem.
3. Strategi tata ruang untuk arah kebijakan pemantapan kawasan berfungsi
lindung dan rehabilitasi kawasan berfungsi lindung yang terdegradasi
dengan mempertahankan luasan dan melestariakan kawasan bergambut
untuk menjaga sistem tata air alami dan ekosistem kawasan.
4. Strategi tata ruang untuk arah kebijakan pengendalian kegiatan budi daya
yang berpotensi mengganggu kawasan berfungsi lindung meliputi:
VI - 39

a. Mempertahankan permukiman masyarakat adat dan menyediakan akses
bagi masyarakat adat yang tidak mengganggu kawasan berfungsi
lindung; dan
b. Mengendalikan kegiatan pemanfaatan ruang di bagian hulu wilayah
sungai (WS), kawasan hutan lindung, kawasan resapan air, dan kawasan
konservasi.
5. Strategi tata ruang untuk arah kebijakan pengembangan sentra pertanian
tanaman pangan dan sentra perikanan yang didukung dengan industri
pengolahan dan industri jasa untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional
meliputi:
a. mengembangkan sentra pertanian tanaman pangan di kawasan andalan
dengan sektor unggulan pertanian untuk ketahanan pangan;
b. mengambangkan sentra produksi perikanan dengan memperhatikan
potensi lestari; dan
c. mendorong pengembangan kawasan perkotaan nasional sebagai pusat
industri pengolahan dan industri jasa hasil pertanian tanaman pangan
dan perikanan.
II. Pengembangan Kawasan Budidaya
Strategi tata ruang terkait pengembangan kawasan budidaya mencakup
strategi-strategi yang menjabarkan arah kebijakan dalam rangka mewujudkan
kemandirian energi dan lumbung energi nasional untuk ketenagalistrikan, dan
mewujudkan jaringan transportasi antarmoda yang dapat meningkatkan
keterkaitan antarwilayah, efisiensi ekonomi, serta membuka keterisolasian
wilayah.
Strategi tata ruang untuk arah kebijakan pengembangan interkoneksi
jaringan transmisi tenaga listrik meliputi:
a. Mengembangkan interkoneksi jaringan transmisi tenaga listrik seluruh Pulau
Kalimantan; dan
b. Mengembangkan interkoneksi jaringan transmisi tenaga listrik antara Pulau
Kalimantan dan wilayah lain di luar Pulau Kalimantan untuk mendukung
sistem penyediaan tenaga listrik nasional.
Strategi tata ruang untuk arah kebijakan pengembangan jaringan
transportasi antarmoda yang terpadu dan efisien untuk menghubungkan kawasan
produksi komoditas unggulan menuju bandar udara dan/atau pelabuhan, dan
antarkawasan perkotaan, serta membuka keterisolasian wilayah meliputi:
a. Mengembangkan jaringan jalan dan/atau jalur kereta api secara terpadu
untuk menghubungkan kawasan perkotaan sebagai pusat pertumbuhan
dengan sentra produksi komoditas unggulan dan pelabuhan dan/atau bandar
udara;
VI - 40

b. Mengembangkan pelabuhan dan bandar udara yang terpadu dengan jaringan
jalan, transportasi sungai dan penyeberangan;
c. Mengembangkan alur-alur pelayaran untuk menjangkau pusat pertumbuhan
dan pusat permukiman di wilayah pedalaman; dan
d. Meningkatkan fungsi terusan yang menghubungkan antaralur pelayaran
sungai.

6.5.6 Tata Kelola Pemerintah Daerah dan Otonomi Daerah
Arah kebijakan pengembangan Wilayah Pulau Kalimantan yakni peningkatan
kapasitas pemerintahan daerah dalam mendorong pembangunan daerah dengan
mempertimbangkan kelestarian alam dan konektivitas wilayah, dengan strategi:
1. Penataan monitoring dana perimbangan terutama untuk daerah DBH sumber
daya alam melalui kerjasama antar tingkat pemerintahan untuk mendorong
konektivitas wilayah.
2. Peningkatan kapasitas aparatur dalam pencapaian SPM di Provinsi
Kalimantan Utara dan Kalimantan Tengah.
3. Peningkatan kapasitas pemda terkait dengan sistem pengelolaan data dan
administrasi pajak daerah berbasis sumberdaya alam, baik perkebunan
maupun pertambangan.
4. Peningkatan kapasitas pengawasan internal pemerintah daerah dalam upaya
pencapaian Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP).
5. Peningkatan kapasitas pemerintah daerah dalam rangka restrukturisasi
organisasi perangkat daerah sesuai karakteristik Wilayah Pulau Kalimantan.

6.6 Kaidah Pelaksanaan Pengembangan Wilayah Pulau
Kalimantan
6.6.1 Prioritas Program Pembangunan
6.6.1.1 Provinsi Kalimantan Barat

TABEL 6.10.
KEGIATAN STRATEGIS INFRASTRUKTUR JANGKA MENENGAH NASIONAL
DI PROVINSI KALIMANTAN BARAT
Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
PERHUBUNGAN DARAT
Pengembangan Sistem Transit Kota Pontianak
PERHUBUNGAN UDARA
Pengembangan Bandara Supadio
VI - 41

Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
PERHUBUNGAN LAUT
Pengembangan Pelabuhan Internasional Temajo (Sei Kunyit)
Pengembangan Pelabuhan Teluk Melano (Teluk Batang)
Pengembangan Pelabuhan Pontianak
JALAN
Pembangunan Jalan akses Pelabuhan penyeberangan Ketapang
Pembangunan Jalan Siduk - Sei Keli - Nangatayap
Pembangunan Jalan Ketapang - Siduk - Sukadana - Teluk Batang
Pembangunan Jalan Tebas-Sentebang-Tn.Hitam-Jeruju-Liku - Merbau - Temajok
Pembangunan Jalan Tn.Hitam - Sp.Bantanan - Galing - Aruk
Pembangunan Jembatan Tayan
Pembangunan Jalan Nanga Pinoh - Batas Kalteng
Pembangunan Jalan Lingkar Luar Pontianak
Pembangunan Jalan Perbatasan (Lintas Utara Kalbar)
KETENAGALISTIKAN
PLTGB Nanga Pinoh 6 MW
PLTGB Putussibau (FTP2) 8 MW
PLTA Riam Badau 0,2 MW
PLTU Pantai Kura-Kura (FTP1) 55 MW
PLTU Parit Baru (FTP1) 100 MW
PLTU Sanggau 14 MW
PLTU Sintang 21 MW
PLTU Ketapang (FTP2) 20 MW
PLTU Ketapang (FTP2) 14 MW
PLTU Parit Baru - Loan China (FTP2) 100 MW
PLTU Kalbar-1 200 MW
PLTG/MG Pontianak Peaker 100 MW
PLTA Nanga Pinoh 98 MW
SUMBER DAYA AIR
Pembangunan/Peningkatan Jaringan Irigasi D.I. Sanggau Ledo Bengkayang
Pembangunan Outer Ring Canal Kota Metropolitan Pontianak Kota Pontianak
Perkuatan Tebing Sungai Kapuas Sei Nipah Kuning Kota Pontianak Kota Pontianak
Pembangunan Sarana/Prasarana Pengendali Banjir Kota Sintang Kab Sintang
Pembangunan Sarana/Prasarana Pengendali Banjir Kab. Kapuas Hulu Kab Kapuas Hulu
Pembangunan Bendungan Segedong Kab Pontianak
Pembangunan Bendungan Kapuas Hulu Kab Kapuas Hulu
Peningkatan kapasitas Waduk Panepat ( 10 Ha) Kota Pontianak
Pembangunan Prasarana Pengambilan dan Saluran Pembawa Air Baku Kota Ketapang Kab
Ketapang
Pembangunan Prasarana Pengambilan dan Saluran Pembawa Air Baku Sungai Potan Kab Kapuas
Hulu
VI - 42

GAMBAR 6.6




























VI - 43

6.6.1.2 Provinsi Kalimantan Tengah

TABEL 6.11
KEGIATAN STRATEGIS INFRASTRUKTUR JANGKA MENENGAH NASIONAL
DI PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
PERHUBUNGAN UDARA
Pengembangan Bandara Tjilik Riwut
PERHUBUNGAN LAUT
Pengembangan Pelabuhan Laut Batanjung, Teluk Segintung dan Pelabuhan Kumai
Pengembangan Pangkalan Bun
Pengembangan Pelabuhan Tongkang Bangkuang
Pengembangan Pelabuhan Bagendang
Pengembangan Pelabuhan Sampit
JALAN
Pembangunan Jalan akses pelabuhan penyeberangan bahaur/pulau pisau
Pembangunan Jalan dari Kotawaringin ke Fasilitas Penggilingan (mills)
Pembangunan Jalan di Kab. Kotawaringin Barat : Kubu - Sungau Bakau - Teluk Bogam
Pembangunan Jalan Palangkaraya-Bukittliti-Bkt.Batu-Buntok-Ampah
Pembangunan Jalan Sampit-Samuda-Ujung Pandaran
Pembangunan Jalan Tumbang Samba-Tbg Senawang-Bts Kalbar
KETENAGALISTRIKAN
PLTU Pulang Pisau (FTP1) 2x60 MW
PLTG/MG Bangkanai (FTP 2) 2x70 MW
PLTU Kuala Pambuang 2x3 MW
PLTU Sampit (APBN) 2x25 MW
PLTU Kuala Pambuang 2 3 MW
PLTU Kalselteng 3 2x50 MW
PLTU Kalselteng 1 2x100 MW
Pembangunan Bendungan Setongah Kab Lamandau
SUMBER DAYA AIR
Pembangunan Prasarana Air Baku Kotawaringin Barat Kab Kotawaringin Barat








VI - 44

GAMBAR 6.7





























VI - 45

6.6.1.3 Provinsi Kalimantan Selatan

TABEL 6.12
KEGIATAN STRATEGIS INFRASTRUKTUR JANGKA MENENGAH NASIONAL
DI PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
KERETA API
Pembangunan KA Tanjung-Paringin- Rantau- Martapura- Banjarmasin
Pembangunan KA Akses Bandara Syamsoedin Noor
Pembangunan KA Lintas Kalimantan
PERHUBUNGAN DARAT
Pengembangan Sistem Transit Kota Banjarmasin
PERHUBUNGAN UDARA
Pengembangan Bandara Syamsudian Noor Banjarmasin
PERHUBUNGAN LAUT
Pengembangan Pelabuhan Laut Batulicin
Pembangunan Pelabuhan Seibuku (sebuku)
Pengembangan Pelabuhan Pelaihari
Pengembangan Pelabuhan Trisakti Banjarmasin
JALAN
Pembangunan Jalan akses Kawasan Industri Batulicin ke Pelabuhan Batulicin
Pembangunan Jalan akses ke pelabuhan penyeberangan Kumai
Pembangunan Jalan akses menuju Pelabuhan Pelaihari di Kabupaten Tanah Laut
Pembangunan Jalan Benua Anyar - Margasari-Ma. Muning-Kandangan
Pembangunan Jalan Kandangan - Hampang- Batu Licin
Pembangunan Jalan Kawasan Industri Batulicin Ruas Batulicin-Lumpangi, Batulicin-Mentewe, Batulicin-
Pagatan, Batulicin-S.Kupang, dan Simp. Kodeco-Mentewe
Pembangunan Jalan Nasional Ruas Banjarmasin-Pelaihari-Jorong 99 km
Pembangunan Jalan Pelabuhan Trisakti Banjarmasin (Trisakti - Pasir Mas - Jembatan Barito)
Pembangunan Jalan Sp. Serapat - Sei Tabuk Gambut
Pembangunan Jalan Tol Banjarmasin - Banjarbaru - Martapura
Pembangunan Jalan Trikora Banjarbaru
Pembangunan jembatan Tanjung Ayun -Tarjun di Kab. Kotabaru
KETENAGALISTRIKAN
PLTU Asam Asam (FTP1) 2x65 MW
PLTU Kotabaru (APBN) 2x7 MW
PLTU Kalselteng 2 2x100 MW
PLTG/MG Kalselteng Peaker 50 MW
PLTA Kusan 65 MW
PLTU Kalsel 1 (FTP2) 2x100 MW
SUMBER DAYA AIR
Lanjutan Pembangunan Jaringan Irigasi D.I Batang Alai
Pembangunan Pengendali Erosi dan Proteksi S. Barito di Marabahan, Kab Batola
VI - 46

Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
Pembangunan Pengendali Erosi dan Proteksi S. Martapura, Kota Banjarmasin
Pembangunan Pengendali Erosi dan Proteksi Sungai Martapura, Kab Banjar
Pembangunan Pengendali Erosi dan Proteksi S. Tabalong (3 Lokasi)
Pengendalian Banjir Santui, Kintap dan Batu Licin
Pengendalian Banjir, Jorong, Asam - Asam & Kintap
Pengendalian Banjir Kandang Jaya
Normalisasi Sungai Martapura
Pembangunan Pengaman Pantai Aluh Aluh
Pembangunan Waduk Tapin
Tanah Bendungan Tapin
Pembangunan Embung Tala
Pembangunan Embung Tanbu
Pembangunan Air Baku Banjar Bakula





























VI - 47

GAMBAR 6.8





























VI - 48

6.6.1.4 Provinsi Kalimantan Timur

TABEL 6.14
KEGIATAN STRATEGIS INFRASTRUKTUR JANGKA MENENGAH NASIONAL
DI PROVINSI KALIMANTAN TIMUR

Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
PERHUBUNGAN DARAT
Pengembangan Sistem Transit Kota Samarinda
Pengembangan Sistem Transit Kota Balikpapan
PERHUBUNGAN UDARA
Pembangunan Bandara Tana Paser
Pengembangan Bandara Bontang
Pengembangan Bandara Samarinda Baru
Pengembangan Bandara Juwata-Tarakan
PERHUBUNGAN LAUT
Pengembangan Terminal Peti Kemas Palaran
Pembangunan Pelabuhan Internasional Maloy
Pengembangan Pelabuhan Nunukan
Pengembangan Pelabuhan Penyeberangan/Ferry Tarakan
Pelabuhan Kuala Samboja
Pengembangan Pelabuhan Internasional Balikpapan (Terminal Peti Kemas Kariangau)
Pembangunan Fasilitas Pelabuhan Penajam Pasir Kuala Semboja (Kariangau)
Pengembangan Pelabuhan Tanah Grogot
Pengembangan Pelabuhan Samarinda
Pengembangan Pelabuhan Tarakan
Pembangunan infrastruktur pelabuhan sebagai pendukung Integrated Mining Development MEC
Coal Project
JALAN
Pembangunan Jalan Akses Jembatan Pulau Balang
Pembangunan Jalan dalam Kawasan Industri Maloy
Pembangunan Jalan Petung-Kenangan-Semoisepaku-Sp.Semboja
Pembangunan Jalan samarinda menuju tenggarong (Pengembangan Destinasi Pulau Parai Kumala -
Tenggarong)
Pembangunan Jalan Sangkulirang-Taliyasan-Guntur-Tanjung Redep
Pembangunan Jalan Tol Samarinda - Balikpapan
Pembangunan Jembatan Kembar Mahakam
Pembangunan Jembatan Loa Kulu
Pembangunan Jembatan Pulau Balang
Pembangunan Jembatan Tullur Aji Jejangkat
KETENAGALISTRIKAN
PLTU Kaltim Peaking (APBN) 100 MW
PLTMG Tanjung Selor 0 MW
PLTU Malinau 2x3 MW
VI - 49

Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
PLTMG Malinau Peaker 5 MW
PLTU Tanjung Redep 14 MW
PLTU Muara Jawa/Teluk Balikpapan (FTP1) 2x110 MW
PLTU Tanjung Selor 2x7 MW
PLTU Sangatta 2x7 MW
PLTMG Nunukan 8 MW
PLTU Melak 2x7 MW
PLTU Malinau 2 2x3 MW
PLTU Tanjung Redep 2 2x7 MW
PLTD Sangatta Peaker (Relokasi PLTD) 2x5 MW
PLTMG Nunukan 2 8 MW
PLTD Tana Tidung (Relokasi PLTD) 1 MW
PLTU Sangatta 2 7 MW
PLTG/MG Kaltim Peaker 1( Ex Sewa Bontang) 100 MW
PLTMG Nunukan 3 16 MW
PLTD Tana Tidung (Relokasi PLTD) 1 MW
PLTA Kelai 75 MW
PLTMG Tana Tidung 6 MW
PLTMG Nunukan 14 MW
PLTG Senipah 2x41 MW
PLTU Lati 2 5 MW
PLTU Tanah Grogot (Terkendala) 2x7 MW
PLTU Senipah (ST) 35 MW
PLTU Kaltim (MT) 2x27,5 MW
PLTU Embalut (Ekspansi) 50 MW
PLTU Kaltim 2 (FTP2) 2x100 MW
PLTMG Tana Tidung 6 MW
PLTU Kaltim 3 2x100 MW
PLTU Kaltim 4 2x150 MW
SUMBER DAYA AIR
Pembangunan Waduk Teritip Kab. Balikpapan
Pembangunan Bendung Tepian Buah (1.500 Ha) Kab. Berau
Pembangunan Bendung Sidomukti Kab. Kukar
Pembangunan Bendung Sukabumi Kab. Kukar
Pembangunan Bendung Ritan Lama Kab. Kukar
Pembangunan Bendung Mejang Kab. Kutim
Pembangunan DR. Sepunggur Kab. Bulungan
Pembangunan DR. Salim batu Kab. Bulungan
Pembangunan DR. Teras Baru Kab. Bulungan
Peningkatkan DR. Sebakung Kab. PPU
Pembangunan Bendali V Banjir Papan Lestari Sepinggan Kota Balikpapan Kota Balikpapan
Lanjutan Penanganan Banjir dan Pengaman Tebing Sungai Karang Mumus Kota Samarinda Kota
Samarinda
VI - 50

Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
Pembangunan Pengendalian Banjir Tanjung Belimbing (Kanal, Retarding Basin dan Drainase) Kota
Malinau Kab. Malinau
Pembangunan Pintu Air dan Pompa Banjir Muara Sungai Karang Mumus Kota Samarinda Kota
Samarinda
Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip Kota Balikpapan Kota Balikpapan
Pembangunan Bendungan Sepaku Semoi Kab. PPU
Pembangunan Bendungan Lambakan Kab. PPU
Pengerukan dan Konservasi DAS Danau Semayang Kab. Kukar
Pengerukan dan Konservasi DAS Danau Melintang Kab. Kukar
Pembangunan Embung Aji Raden Kota Balikpapan
Pembangunan Intake Keledang Kapasitas 900 Lt/dt Kota Samarinda
Pengadaan & Pemasangan Jaringan Transmisi Air Baku Dia 800 mm Intake Loa Kulu -IPA Lok Bahu
L = 8.4 KM Kota Samarinda


























VI - 51

GAMBAR 6.9





























VI - 52

6.6.1.5 Provinsi Kalimantan Utara

TABEL 6.15
KEGIATAN STRATEGIS INFRASTRUKTUR JANGKA MENENGAH NASIONAL
DI PROVINSI KALIMANTAN UTARA

Kegiatan
PERHUBUNGAN UDARA
Pengembangan Bandara Tanjung Harapan, Bulungan
JALAN
Pembangunan Jalan Longmidang-Longbawan-Bulungan
Pembangunan Jalan Mesalong-Sasipu--Tou Lumbis


































VI - 53

GAMBAR 6.10





























VI - 54

6.6.2 Kerangka Regulasi
Pelaksanaan pembangunan Wilayah Pulau Kalimantan tidak terlepas dari
berbagai kerangka regulasi yang perlu diperhatikan, diantaranya:
1. Harmonisasi peraturan perundangan terkait dengan iklim investasi,
diantaranya adalah PP Nomor 147 Tahun 2000 Tentang Perlakuan
Perpajakan di KAPET.
2. Penetapan regulasi terkait dengan pembagian kewenangan antara
Kabupaten/Kota di pusat-pusat pertumbuhan.
3. Pembentukan sistem pelayanan terpadu satu pintu dan penggunaan Sistem
Pelayanan Informasi dan Perijinan Investasi secara Elektronik (SPIPISE)
bidang perindustrian, perdagangan, pertanahan, penanaman modal.
4. Penetapan regulasi Perdagangan lintas batas Perjanjian kerjasama antara RI-
Malaysia dalam pengembangan kawasan perbatasan negara.
5. Penyelesaian peninjauan kembali Perpres No. 3/2012 tentang RTR Pulau
Kalimantan.

6.6.3 Kerangka Kelembagaan
Pelaksanaan pembangunan Wilayah Pulau Kalimantan tidak terlepas dari
berbagai kerangka kelembagaan yang perlu diperhatikan, diantaranya:
1. Pelaksanaan sosialisasi terkait dengan pemanfaatan lahan sebagai
peruntukan investasi di KAPET Khatulistiwa, KAPET Sasamba, KAPET
Daskakab, KAPET Batulicin;
2. Pemberian berbagai kemudahan perizinan perindustrian, perdagangan,
pertanahan, penanaman modal di KEK, KAPET, KPI dan pusat-pusat
pertumbuhan lainnya.
3. Pengembangan pengelola perbatasan yang memiliki otoritas penuh untuk
mengelola pos-pos lintas batas negara.
4. Pemberian kewenangan bagi pemerintahan kecamatan di wilayah
perbatasan (Lokpri) dalam bentuk desentralisasi asimetrik dengan
penetapan daerah khusus untuk akselerasi pembangunan dan efektivitas
peningkatan kualitas pelayanan publik.
5. Pembagian kewenangan atau urusan antar jenjang pemerintah: pusat,
provinsi, dan kabupaten/kota dalam pengembangan daerah tertinggal
kawasan perbatasan.
6. Peningkatan koordinasi antar Kementerian/Lembaga untuk menyusun
program/kegiatan dalam pengembangan KEK, KAPET, KPI dan pusat-pusat
pertumbuhan lainnya.
7. Pelaksanaan pembinaan dan pengawasan terhadap kelembagaan KEK,
KAPET, KPI dan pusat-pusat pertumbuhan lainnya.
VI - 55

8. Penciptaan iklim investasi yang menarik bagi investor dengan memberikan
insentif fiskal dan non fiskal yang berimbang.
9. Pengembangan koordinasi Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional
(BKPRD) Provinsi di Wilayah Pulau Kalimantan dalam melaksanakan
pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang Pulau.
RANCANGAN TEKNOKRATIK
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA
MENENGAH NASIONAL
2015 2019
BUKU III
ARAH PENGEMBANGAN WILAYAH
PULAU JAWA BALI
KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL /
BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL
BAPPENAS
2014
VII - 1

BAB VII
ARAH PENGEMBANGAN WILAYAH PULAU JAWA-BALI

7.1 Capaian Kinerja Saat ini
Berdasarkan data BPS dari tahun 2009 hingga Triwulan II tahun 2014,
kinerja pertumbuhan ekonomi provinsi di Wilayah Pulau Jawa-Bali
cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Rata-rata
pertumbuhan ekonomi Wilayah Pulau Jawa-Bali selama kurun waktu 2009
2013 sebesar 6,1 persen atau lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata
pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,9 persen. Peranan Wilayah Pulau
Jawa-Bali dalam pembentukan PDB nasional mengalami penurunan dari
60,0 persen (2009) menjadi 59,9 persen (Triwulan II 2014).
Pemerintah Provinsi di Wilayah Pulau Jawa-Bali telah cukup berhasil dalam
menurunkan jumlah penduduk miskin dari tahun 2009 hingga 2014
(Maret) dan sudah berada di bawah angka kemiskinan nasional sebesar
14,15 persen (2009), kecuali di Provinsi Jawa Tengah, DI Yogyakarta dan
Jawa Timur, dan berada di bawah angka kemiskinan nasional sebesar 11,25
persen (Maret 2014), kecuali di Provinsi DI Yogyakarta, Jawa Timur dan
Banten. Demikian halnya dengan pencapaian tingkat pengangguran terbuka
(TPT), Pemerintah Provinsi di Wilayah Pulau Jawa-Bali juga telah berhasil
menurunkan TPT dan sudah di bawah TPT nasional sebesar 7,87 persen
(2009) dan 5,70 persen (Feb, 2014), kecuali di Provinsi DKI Jakarta, Jawa
Barat dan Banten yang masih berada di atas TPT Nasional.
Dari sisi peningkatan kualitas sumber daya manusia, maka di Wilayah Pulau
Jawa-Bali ini telah dikatakan sudah cukup baik. Hal ini diindikasikan
dengan selalu meningkatnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dari
tahun ke tahun pada masing-masing provinsi di Wilayah Pulau Jawa-Bali.
Namun demikian, pencapaian IPM di Provinsi Jawa Barat, Jawa Timur dan
Banten masih perlu ditingkatkan karena masih di bawah IPM nasional
sebesar 71,76 (2009) dan 73,81 (2013).
Dari sisi distribusi pendapatan antar golongan masyarakat, seluruh provinsi
di Wilayah Pulau Jawa-Bali mengalami kenaikan kesenjangan pendapatan
antar golongan. Hal ini diindikasikan dari angka Rasio Gini provinsi-
provinsi di Wilayah Pulau Jawa-Bali yang cenderung meningkat dari tahun
2009 sampai dengan tahun 2013, namun telah berada di bawah angka Rasio
Gini nasional sebesar 0,413 (2013), kecuali Provinsi DKI Jakarta dan DI
Yogyakarta. Ke depan, hal ini perlu mendapatkan perhatian agar proses
pembangunan terus lebih melibatkan masyarakat secara inklusif, sehingga
hasil-hasil pembangunan tersebut dapat dinikmati secara merata oleh
masyarakat.
VII - 2

7.2 Potensi dan Keunggulan Wilayah
Perekonomian Wilayah Pulau Jawa-Bali ditopang oleh 3 sektor unggulan,
yaitu industri pengolahan, perdagangan, hotel dan restoran, serta pertanian.
Sektor industri pengolahan berkontribusi sebesar 26,6 persen terhadap
perekonomian Wilayah Pulau Jawa-Bali. Komoditas industri pengolahan
yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan antara lain makanan-
minuman, tekstil, peralatan transportasi (otomotif, perkapalan dan
alutsista), telematika, kimia dasar, serta logam dasar (alumina dan besi
baja).
Industri makanan-minuman menyerap banyak tenaga kerja dan merupakan
kontributor terbesar dari industri pengolahan non migas terhadap PDB
nasional, yaitu sebesar 7,4 persen pada tahun 2011. Penjualan domestik
industri makanan-minuman diperkirakan tumbuh sebesar 6 persen pada tahun
2014 (GAPMMI, 2014). Sementara itu, ekspor industri makanan-minuman
cenderung meningkat dalam periode 2005-2010 dan mencapai US$
2.146,85 juta pada tahun 2010. Susu adalah salah satu produk industri
makanan-minuman yang mempunyai potensi untuk dikembangkan karena
konsumsi produk susu per kapita di Indonesia masih sangat rendah
dibandingkan Cina, Malaysia dan India. Penjualan produk susu di Indonesia
diproyeksikan akan tumbuh sebesar 17 persen setiap tahunnya.
Industri tekstil juga merupakan salah satu penyerap tenaga kerja terbesar
di Indonesia. Kontribusi produk tekstil terhadap PDB nasional cukup
signifikan, yaitu sebesar 1,9 persen pada tahun 2011, dengan laju
pertumbuhan sebesar 7,5 persen dan diperkirakan dapat terus meningkat
di masa yang akan datang. Sebagian besar produksi tekstil Indonesia
terpusat di Wilayah Pulau Jawa (94 persen), dimana Bandung dan
Sukoharjo merupakan hub produksi utama, selain industri-industri hulu
pembuat serat di Purwakarta, Subang dan Tangerang. Ekspor tekstil dan
produk tekstil cenderung meningkat pada periode 2005-2010 dan
mencapai sebesar US$ 11.224.04 juta pada tahun 2010.
Industri otomotif Indonesia yang berpusat di Provinsi DKI Jakarta dan Jawa
Barat (Cikarang dan Karawang) menunjukkan pertumbuhan yang cukup
pesat dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2011, total penjualan
kendaraan penumpang mengalami pertumbuhan tertinggi sekitar 23
persen (y-o-y). Dari sisi produksi, peningkatan produksi kendaraan
penumpang juga cukup signifikan khususnya di tahun 2011 dan 2012, yaitu
tumbuh mencapai lebih dari 30 persen (y-o-y). Sementara itu, pertumbuhan
untuk kendaraan komersial mencapai puncaknya di 2011 yaitu sebesar
35,2 persen (y-o-y). Industri ini berpeluang besar untuk terus tumbuh
karena kepemilikan kendaraan di Indonesia saat ini masih rendah dan
diperkirakan akan semakin naik seiring dengan meningkatnya PDB. Selain
itu, pasar ekspor juga masih terbuka lebar.
VII - 3

Sebagai negara maritim dengan wilayah perairan yang cukup luas, industri
perkapalan berpotensi untuk terus berkembang. Dalam lima tahun terakhir,
industri perkapalan di Indonesia menunjukkan perkembangan cukup baik.
Pada Maret 2010, Indonesia telah memiliki armada sebanyak 9.309 unit
kapal atau meningkat 54,1 persen dari Maret 2005 (IPERINDO, 2011).
Industri peralatan transportasi lainnya yaitu alutsista yang dibutuhkan
untuk memenuhi kebutuhan alutsista TNI dan almatus POLRI.
Industri lainnya yang berpotensi dalam mendukung perekonomian Wilayah
Pulau Jawa-Bali yaitu industri telematika, dengan sentra produksi di area
Jabodetabek. Kapasitas Broadband yang terpasang ditargetkan bergeser
dari 14 Mbps menjadi 20 Mbps pada tahun 2015. Pasar produk telematika
semakin membesar setiap tahunnya seiring dengan semakin cepatnya
perubahan teknologi telekomunikasi, serta ekspansi jaringan
telekomunikasi ke berbagai wilayah terutama KTI.
Industri pengolahan lainnya yang menjadi prioritas antara lain industri
kimia dasar, termasuk petrokimia, serta industri logam dasar (alumina dan
besi baja). Perkembangan industri besi baja sangat signifikan dalam
beberapa tahun terakhir sejalan dengan naiknya kebutuhan terhadap
pembangunan infrastruktur untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.
Kontribusi industri logam dasar besi dan baja terhadap PDB nasional yaitu
sebesar 0,4 persen pada tahun 2011, dengan laju pertumbuhan sebesar
13,1 persen. Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA)
memprakirakan produksi besi dan baja nasional sekitar 7,2 juta ton pada
2012, sementara kebutuhan domestik mencapai hampir 10 juta ton.
Produksi besi dan baja Indonesia diharapkan dapat meningkat hingga
mencapai 12 juta ton pada 2014 dan 15 juta ton pada 2015. Di Wilayah
Pulau Jawa, industri besi baja terutama terlokalisir di daerah Jawa Barat
(Cilegon) dan Jawa Timur.
Sebagai lumbung pangan nasional, sektor pertanian merupakan salah satu
sektor unggulan di Wilayah Pulau Jawa-Bali. Produksi padi di Wilayah Pulau
Jawa-Bali dari tahun 2009-2013 cenderung meningkat dengan sentra
produksi terbesar di Provinsi Jawa Timur (12,1 juta ton), Jawa Barat (12,0
juta ton) dan Jawa Tengah (10,3 juta ton).
Sektor pariwisata dan ekonomi kreatif juga merupakan sektor unggulan di
Wilayah Pulau Jawa-Bali. Di Wilayah Pulau Jawa-Bali terdapat 12 dari 50
Destinasi Pariwisata Nasional (DPN). Berdasarkan perspektif nasional,
Provinsi Bali merupakan pintu gerbang pariwisata di Indonesia. Jumlah
kedatangan wisatawan mancanegara ke Indonesia pada tahun 2013
sebanyak 3.241.889 orang, atau sebesar 36,8 persen, melalui Provinsi Bali,
dengan tingkat penghunian kamar hotel berbintang sebesar 59,2 persen.
Sementara itu, di Wilayah Pulau Jawa terdapat satu Kawasan Ekonomi
Khusus (KEK), yaitu KEK Tanjung Lesung. di Kabupaten Pandeglang,
VII - 4

Provinsi Banten. Fokus dari KEK tersebut adalah pengembangan pariwisata
termasuk hotel, resort, dan industri kreatif lain. Lebih lanjut, Wilayah Pulau
Jawa-Bali juga memiliki potensi industri kreatif di berbagai kota, antara lain
Bandung (desain, fashion, arsitektur, film, video, radio, perangkat lunak),
Yogyakarta (barang antik, seni pertunjukan), Surabaya (perangkat lunak
hiburan interaktif), Denpasar (barang antik, seni pertunjukan), dan Jakarta
(periklanan, film dan video, televisi dan radio, musik, percetakan).

7.3 Tema Pengembangan Wilayah Pulau Jawa-Bali
Berdasarkan potensi dan keunggulan Wilayah Pulau Jawa-Bali, maka tema
besar Pembangunan Wilayah Pulau Jawa-Bali sebagai "lumbung pangan
nasional dan pendorong sektor industri dan jasa nasional dengan
pengembangan industri makanan-minuman, tekstil, otomotif, alutsista,
telematika, kimia, alumina dan besi baja; salahsatu pintu gerbang destinasi
wisata terbaik dunia dengan pengembangan ekonomi kreatif;serta
percepatan pembangunan ekonomi berbasis maritim (kelautan) melalui
pengembangan industri perkapalan dan pariwisata bahari.

7.4 Tujuan dan Sasaran Pengembangan Wilayah Pulau Jawa-
Bali
Tujuan pengembangan Wilayah Pulau Jawa-Bali tahun 2015-2019 adalah
mendorong percepatan dan perluasan pembangunan Wilayah Pulau Jawa-Bali
dengan menekankan keunggulan dan potensi daerah, melalui: (a) pengembangan
produksi sektor pertanian pangan, khususnya padi, pengembangan industri
makanan-minuman, tekstil, peralatan transportasi, telematika, kimia, alumina dan
besi baja, serta pengembangan industri pariwisata dan ekonomi kreatif; (b)
penyediaan infrastruktur wilayah, (c) peningkatan SDM dan ilmu dan teknologi
secara terus menerus.
Adapun sasaran pengembangan Wilayah Pulau Jawa-Bali pada tahun 2015-
2019 adalah sebagai berikut:
1. Dalam rangka percepatan dan perluasan pengembangan ekonomi Wilayah
Pulau Jawa-Bali, akan dikembangkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di
koridor ekonomi dengan memanfaatkan potensi dan keunggulan daerah,
termasuk diantaranya adalah pengembangan 1 Kawasan Ekonomi Khusus
(KEK) dan 37 Kawasan Perhatian Investasi (KPI).
2. Sementara itu, untuk menghindari terjadinya kesenjangan antar wilayah di
Pulau Jawa-Bali, maka akan dilakukan pembangunan daerah tertinggal
dengan sasaran sebanyak 7 Kabupaten tertinggal dapat terentaskan dengan
sasaran outcome: (a) meningkatkan rata-rata pertumbuhan ekonomi di
daerah tertinggal menjadi 6,2 persen; (b) menurunnya persentase
penduduk miskin di daerah tertinggal menjadi 8,9 persen; dan (c)
VII - 5

meningkatnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di daerah tertinggal
menjadi 73,7.
3. Untuk mendorong pertumbuhan pembangunan kawasan perkotaan di Jawa
- Bali, maka akan dipercepat peningkatan efisiensi pengelolaan 5 Pusat
Kegiatan Nasional (PKN) perkotaan yang sudah ada saat ini.
4. Sesuai dengan amanat UU 6/2014 tentang Desa, maka akan dilakukan
pembangunan perdesaan dengan sasaran mengurangi jumlah desa
tertinggal menjadi 1 persen (2019).
5. Khusus untuk meningkatkan keterkaitan pembangunan kota-desa,
diharapkan dapat diwujudkan 4 pusat pertumbuhan baru perkotaan
sebagai Pusat Kegiatan Lokal (PKL) atau Pusat Kegiatan Wilayah (PKW).
6. Sasaran bidang otonomi daerah untuk Wilayah Pulau Jawa-Bali adalah: (1)
meningkatnya proporsi penerimaan pajak dan retribusi daerah sebesar 45
persen untuk propinsi dan 15 persen untuk kabupaten/kota; (2)
meningkatnya proporsi belanja modal dalam APBD propinsi sebesar 35
persen dan untuk Kabupaten/Kota sebesar 30 persen pada tahun 2019
serta sumber pembiayaan lainnya dalam APBD; (3) meningkatnya jumlah
daerah yang mendapatkan opini wajar tanpa pengecualian (WTP); (4)
terbentuknya kerjasama daerah diantara 7 daerah Jawa-Bali dalam rangka
percepatan konektivitas dan peningkatan pelayanan publik; (5)
tersusunnya Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang tepat fungsi dan
ukuran sesuai dengan karakteristik wilayah Jawa-Bali; (6) meningkatnya
kualitas dan proporsi tingkat pendidikan aparatur sipil negara untuk
jenjang S1 sebesar 60 persen, S2 sebesar 15 persen, dan S3 sebesar 5
persen; dan (7) meningkatnya implementasi pelaksanaan SPM di daerah,
khususnya pada pendidikan, kesehatan dan infrastruktur.
7. Sasaran Pengurangan Risiko Bencana di Wilayah Pulau Jawa-Bali adalah
pusat-pusat pertumbuhan berisiko tinggi yaitu: 5 (lima) PKN Kawasan
Perkotaan (Jabodetabek, Bandung Raya, Kedung Sepur, Gerbangsusila,
Sarbagita), 2 (dua) PKN rawan tsunami (Cilacap dan Yogyakarta), 5 (lima)
PKW rawan tsunami (Kebumen, Banyuwangi, Semarapura, Ciamis,
Pengandaran) dan 8 (delapan) PKW rawan letusan gunung api (Cilegon,
Tasikmalaya, Wonosobo, Magelang, Kediri, Blitar, Klaten, Sleman).

Sehubungan dengan sasaran tersebut, diharapkan pada akhir tahun 2019,
pembangunan Wilayah Pulau Jawa-Bali semakin meningkat, dan juga semakin
meratanya pembangunan antarwilayah. Hal ini dicerminkan dengan makin
menurunnya kontribusi PDRB Wilayah Pulau Jawa-Bali terhadap PDB Nasional,
yaitu dari sekitar 58,4 persen (2014) menjadi 55,3 persen (2019). Dengan
demikian, kondisi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan
masyarakat di Pulau Jawa-Bali. Secara rinci target pertumbuhan ekonomi, tingkat
kemiskinan dan pengangguran dalam kurun waktu 2015-2019 di Wilayah Pulau
Jawa-Bali dapat dilihat pada Tabel 7.1 sampai dengan Tabel 7.3 sebagai berikut.
VII - 6

TABEL 7.1
SASARAN PERTUMBUHAN EKONOMI PER PROVINSI TAHUN 2015-2019

Provinsi Pertumbuhan Ekonomi (persen)
2015 2016 2017 2018 2019
DKI Jakarta 6,1 6,2 6,4 6,7 6,4 6,8 6,4 6,9 6,8 7,5
Jawa Barat 5,9 6,0 5,9 6,2 6,1 6,5 6,2 6,7 6,3 7,0
Banten 5,9 6,0 6,0 6,2 5,9 6,3 6,1 6,6 6,3 6,9
Jawa Tengah 5,9 6,0 6,2 6,4 6,3 6,7 6,4 6,9 6,4 7,0
DI Yogyakarta 5,8 5,9 5,8 6,0 5,8 6,1 5,8 6,3 5,7 6,3
Jawa Timur 6,1 6,2 6,3 6,6 6,5 6,9 6,5 7,0 6,8 - 7,5
Bali 5,3 5,4 5,8 6,1 5,8 6,2 5,9 6,4 5,9 6,5
Sumber: Perhitungan Bappenas, 2014

TABEL 7.2
SASARAN TINGKAT KEMISKINAN PER PROVINSI TAHUN 2015-2019

Provinsi Tingkat Kemiskinan (persen)
2015 2016 2017 2018 2019
DKI Jakarta 3,4 3,3 3,2 3,1 2,9 2,8 2,7 2,5 2,4 2,2
Jawa Barat 8,9 8,7 8,2 7,9 7,5 7,1 6,9 6,3 6,2 5,6
Banten 5,3 5,2 4,9 - 4,7 4,4 4,2 4,0 3,7 3,6 3,2
Jawa Tengah 13,1 12,8 12,2 - 11,7 11,2 10,6 10,3 9,5 9,3 8,4
DI Yogyakarta 13,8 13,5 12,8 12,3 11,8 11,1 10,7 9,9 9,7 8,8
Jawa Timur 12,0 11,7 11,2 10,7 10,3 9,7 9,5 8,7 8,6 7,8
Bali 4,0 3,9 3,7 3,6 3,4 3,2 3,1 2,9 2,8 2,6
Sumber: Perhitungan Bappenas, 2014


TABEL 7.3
SASARAN TINGKAT PENGANGGURAN PER PROVINSI TAHUN 2015-2019

Provinsi Tingkat Pengangguran (persen)
2015 2016 2017 2018 2019
DKI Jakarta 9,7 9,5 9,5 9,2 9,3 8,8 9,1 8,4 8,9 8,1
Jawa Barat 8,6 8,5 8,4 - 8,1 8,2 7,7 7,9 7,3 7,7 6,9
Banten 10,4 10,2 10,1 9,7 9,7 9,2 9,4 8,7 9,1 8,2
Jawa Tengah 5,6 5,4 5,4 5,2 5,3 5,0 5,2 4,8 5,1 4,6
DI Yogyakarta 4,6 - 4,5 4,5 4,3 4,4 4,1 4,3 3,9 4,2 3,8
Jawa Timur 3,5 3,4 3,5 3,3 3,4 3,2 3,3 3,0 3,2 2,9
Bali 2,4 2,3 2,4 - 2,3 2,3 2,2 2,2 2,1 2,2 2,0
Sumber: Perhitungan Bappenas, 2014

VII - 7

7.5 Arah Kebijakan dan Strategi Pengembangan Wilayah Pulau
Jawa-Bali
7.5.1 Pengembangan Kawasan Strategis
Kebijakan pembangunan kawasan strategis bidang ekonomi di Wilayah
Pulau Jawa-Bali diarahkan menjadi pusat-pusat pertumbuhan ekonomi yang
memiliki skala ekonomi dengan orientasi daya saing nasional dan internasional
berbasis sektor industri dan jasa nasional, pusat pengembangan ekonomi kreatif,
serta sebagai salah satu pintu gerbang destinasi wisata terbaik dunia, diarahkan
untuk pengembangan industri makanan-minuman, tekstil, peralatan transportasi,
telematika, kimia, alumina dan besi baja. Fokus lokasi pengembangan kawasan
strategis di Wilayah Pulau Jawa-Bali adalah KEK Tanjung Lesung yang terletak di
Kabupaten Pandeglang dan Kawasan Perhatian Investasi (KPI) dalam rangka
menunjang koridor ekonomi dan pusat-pusat pertumbuhan berdaya saing
internasional, yaitu KPI Cilegon, Serang, Tangerang, DKI Jakarta, Bogor, Bekasi,
Karawang, Jabodetabek Area, Purwakarta, Subang, Bandung, Cimahi, Majalengka,
Indramayu, Semarang, Pati, Banyumas, Cilacap, Kulon Progo, Sukoharjo, Wonogiri,
Mojokerto, Tuban, Lamongan, Gresik, Surabaya, Pasuruan, Lebak, serta KPI-KPI
potensial lainnya.
1. Pengembangan Potensi Ekonomi Wilayah di Koridor Ekonomi Jawa-
Bali
Pengembangan potensi ekonomi wilayah erat kaitannya dengan
pemberdayaan masyarakat berbasis komoditas unggulan wilayah. Pengembangan
potensi berbasis komoditas unggulan wilayah ini diupayakan untuk meningkatkan
nilai tambah dan daya saing komoditas unggulan yang dilakukan melalui:
a. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)
a) Penyiapan kawasan industri jasa pariwisata berorientasi internasional
di KEK Tanjung Lesung, Provinsi Banten.
b) Pengembangan pusat-pusat industri jasa pariwisata berdaya saing
internasional.
c) Pengembangan industri kreatif penopang kawasan wisata Tanjung
Lesung.
d) Stabilitasi dan konsistensi pengembangan pariwisata Bali dan industri
kreatif, serta jasa penunjang pariwisatanya.
b. Kawasan Perhatian Investasi (KPI)
a) Pengembangan kawasan-kawasan industri makanan-minuman,
industri kreatif, peralatan transportasi, tekstil, telematika, kimia,
alumina, serta besi baja disekitar Jawa dan Bali.
2. Percepatan Penguatan Konektivitas
Peningkatan konektivitas antara pusat kegiatan ekonomi KEK Tanjung
Lesung dengan kawasan industri dan kota-kota besar lainnya di Pulau Jawa dan
Bali ditujukan untuk meningkatkan kelancaran arus orang dan barang dari dan
menuju KEK Tanjung Lesung yang dilakukan melalui:
a. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)
a) Pembangunan Bandar Udara Banten Selatan (Panimbang);
VII - 8

b) Pembangunan jalan Tol Serang-Panimbang;
c) Pembangunan jaringan transmisi air baku dari Sungai Ciliman IPA,
dan pipa distribusi primer ke lokasi KEK Tanjung Lesung.
b. Kawasan Perhatian Investasi
a) Pembangunan ruas jalan Cikande-Rangkasbitung, ruas Simpang
Ciseukeut-Simpang Srimulya-Simpang Karet-Simpang Cipanon, Tol
Pasir Koja-Soreang, Tol Pasteur-Ujung Berung-Cileunyi, Soekarno
Hatta-Gedebage, Tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu, Tol Ciawi-
Sukabumi, jalan bebas hambatan akses Tanjung Priok dan Dry Port
Cikarang, 6 ruas tol dalam kota Jakarta, Tol Kunciran Serpong, Tol
Depok-Antasari, Tol Cileunyi-Dawuan, Tol Semarang Solo, Tol
Pandaan-Malang, Tol Gempol Pandaan, ruas jalan Waru-Wonokromo-
Tanjung Perak, Lingkar Sumpiuh, ruas Desa Baseh menuju PLTG
Baturaden, akses jalan menuju BTS, jalan Tegal Danas, akses Tol
Cimanggis-Wanaherang-Nangrak, Tol Cikampek-Palimanan, ruas
Cikampek-Cirebon, lajur baru Tol Jakarta-Cikampek, akses Bandara
Internasional Karawang, akses jalan antar kawasan industri di
Cibitung dan Cikarang, ruas Carikan-Borobudur, ruas Pejagan-
Pemalang, Tol Kertosono-Mojokerto, akses kawasan industri
Purwakarta, Tol Batang-Semarang, Tol Pemalang-Batang, dan akses
Subang;
b) Pengembangan Jakarta Outer Ring Road tahap 2;
c) Peningkatan kapasitas jalan Jabodetabek;
d) Pembangunan Bandara Internasional di Provinsi DI Yogyakarta,
Bandara Soekarno-Hatta, Bandara Kertajati, Bandara Djuanda,
Bandara Karawang, Bandara Ahmad Yani;
e) Pembangunan Pelabuhan Cilamaya, Pelabuhan Lamongan, Pelabuhan
Tanjung Emas, Terminal Serbaguna Teluk Lamong, Pelabuhan
Pamanukan, Terminal Serbaguna Reklamasi Ancol Timur, Pelabuhan
Wonogiri, dan Pelabuhan Kalibaru;
f) Penerapan Intelligent Transport System (ITS) di JABODETABEK;
g) Pembangunan jaringan elektrifikasi Padalarang-Bandung-Cicalengka
dan Kiara Condong-Cicalengka;
h) Pembangunan Double-Double Track dan elektrifikasi ruas Manggarai
Cikarang;
i) Pembangunan kereta api layang;
j) Pembangunan Rel Kereta Api Pasoso-Tanjung Priok, commuter line
dan kereta ekspres Bandara Soekarno Hatta, rel ganda Semarang-
Surabaya, rel ganda dan elektrifikasi Serpong-Maja-Rangkasbitung, rel
kereta api lingkar luar Jabodetabek, elektrifikasi ruas rel Solo-Jogja
Kutoarjo, dan rel ganda Solo-Surabaya;
k) Pembangunan MRT;
l) Pengadaan sistem e-ticketing;
m) Pengembangan Jaringan KA ke Pelabuhan Kalibaru, Cilamaya, Cirebon,
Tanjung Perak, Lamongan, Teluk Lamong, Tanjung Emas, dan
Bojonegara;
n) Pembangunan Water Management Program di Citarum;
o) Transfer air baku Cibatarua, Cilaku, dan Cisangkuy;
VII - 9

p) Pembangunan KPS Air minum di Lebak, Water Conveyance Umbulan,
Bendungan Matenggeng, Bendungan Kuningan, Jakarta Urgent Flood
Mitigation Project, Bendung Gerak Sembayat, IPA Jatiluhur, SPA
Jatiluhur, Bendungan Tukul, Bendungan Tugu, Water Conveyance
Karian, Bendungan Logung, National Capital Integrated Coastal
Development, SPAM Jatigede, SPAM Semarang, SPAM Tangerang, SPAM
Bandung, SPAM Purbamas;
q) Pembangunan pengolahan limbah di Jawa Barat;
r) Pengembangan sistem drainase di DKI Jakarta;
s) Pembangunan TPA di Tangerang dan Tangerang Selatan;
t) Pembangunan Gardu Induk di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur,
Banten, dan Jakarta;
u) Pembangunan jaringan serat optik di sepanjang Jawa;
v) Pembanguna PLTU Jawa Tengah, PLTP Dieng, PLTA Karang Kates

3. Penguatan Kemampuan SDM dan IPTEK
a. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)
a) Peningkatan kualitas SDM Badan Pengelola dan Administrator KEK
Tanjung Lesung dalam bidang perencanaan, penganggaran, dan
pengelolaan kawasan;
b) Pengembangan sarana prasarana pendidikan dan pelatihan profesi
untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja, khususnya di bidang
pariwisata dan jasa penunjang pariwisata;
c) Peningkatan koordinasi antara Badan Pengelola KEK, pemerintah
pusat, dan pemerintah daerah.
b. Kawasan Perhatian Investasi (KPI)
a) Peningkatan kapasitas SDM industri kreatif untuk meningkatkan
produktivitas komodtas unggulan sekitar koridor ekonomi Jawa.
b) Pengembangan inovasi teknologi ramah lingkungan dalam rangka
menunjang industri pengolahan dan distribusi pemasaran melalui
koridor ekonomi Jawa dan Bali-Nusa Tenggara.

4. Penguatan Regulasi bagi Peningkatan Iklim Investasi dan Iklim Usaha
Dalam upaya mendukung pengembangan kawasan strategis bidang
ekonomi maka diperlukan strategi penguatan regulasi bagi peningkatan iklim
investasi dan iklim usaha, yang dilakukan dengan:
a. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)
a) Penerapan regulasi insentif fiskal yang sesuai dengan karakteristik
wilayah dan kompetitif, antara lain fasilitas fiskal disemua bidang
usaha, pembebasan PPN dan PPNBM untuk bahan dan barang impor
yang akan diolah dan digunakan di KEK.
b) Membuat regulasi terkait dengan pelimpahan kewenangan antara
pusat, daerah, dan instansi terkait kepada administrator kawasan-
kawasan pertumbuhan;
c) Memberikan pelayanan terpadu satu pintu dan penggunaan Sistem
Pelayanan Informasi dan Perijinan Investasi secara Elektronik
(SPIPISE) bidang perindustrian, perdagangan, pertanahan,
penanaman modal.
VII - 10

b. Kawasan Perhatian Investasi (KPI)
a) Memberikan pelayanan terpadu satu pintu dan penggunaan Sistem
Pelayanan Informasi dan Perijinan Investasi secara Elektronik
(SPIPISE) bidang perindustrian, pertanahan, dan penanaman modal.

7.5.2 Kawasan Perkotaan dan Perdesaan
7.5.2.1 Pengembangan Kawasan Perkotaan
Arah kebijakan pembangunan wilayah perkotaan di Wilayah Pulau Jawa-
Bali difokuskan untuk membangun kota berkelanjutan dan berdaya saing menuju
masyarakat kota yang sejahtera berdasarkan karakter fisik, potensi ekonomi dan
budaya lokal. Untuk itu strategi pembangunan perkotaan Wilayah Pulau Jawa-Bali
tahun 2015-2019 yaitu:
1. Perwujudan Sistem Perkotaan Nasional (SPN)
a. Peningkatan efisiensi pengelolaan PKN Jabodetabekjur (Jakarta, Bogor,
Depok, Tangerang, Bekasi, dan Cianjur), PKN Cekungan Bandung (Kota
Bandung, Kab. Bandung, Kab. Bandung Barat, Kota Cimahi, Kab.
Majalengka, Kab. Sumedang), PKN Kedungsepur (Kota Semarang, Kab.
Kendal, Kota Salatiga, Kota Ungaran (Ibukota Kab. Semarang), Kab.
Demak, Purwodadi), PKN Gerbangkertasusila (Kota Surabaya, Kab.
Sidoarjo, Kab. Gresik, Kab. Mojekerto, Kab. Lamongan, Kab. Bangkalan,
Kota Mojekerto),dan PKN Sarbagita (Kota Denpasar, Kab. Badung, Kab.
Gianyar, Kab. Tabanan) dalam rangka mempercepat perannya sebagai
penggerak pertumbuhan ekonomi dan mempertahankan
keberlangsungan lingkungan;
b. Pengembangan 5 kota sedang sebagai pengendali (buffer) arus
urbanisasi dari kota sedang menuju kota besar di Pulau Jawa, yaitu
dengan prioritas di Kota Tegal, Kota Banjar, Kota Tasikmalaya, Kota
Probolinggo, dan Kota Pasuruan;
c. Pengembangan 4 pusat pertumbuhan baru sebagai pusat pertumbuhan
utama yang mendorong keterkaitan antara kota sedang dengan desa-
desa di wilayah sekitarnya, yaitu Cibitung, Pamekasan, Banyuwangi dan
Tabanan.
2. Perwujudan Kota Layak Huni Yang Aman dan Nyaman
a. Penyediaan hunian vertikal serta menerapkan konsep compact city
dalam rangka efisiensi lahan di kota besar dan metropolitan;
b. Pengembangan jaringan sanitasi (pengolahan sampah dan air limbah)
melalui sistem pengumpulan secara komunal dan pengolahan terpusat;
c. Penyediaan saluran air minum perpipaan yang terintegrasi dengan
kawasan permukiman;
VII - 11

GAMBAR 7.1

VII - 12

d. Pengembangan dan peningkatan pelayanan sarana dan prasarana
transportasi massal perkotaan yang berada diatas (upperground) atau
dibawah tanah (under ground) secara terintegrasi dan multimoda
sesuai dengan tipologi dan kondisi geografisnya;
e. Penyediaan ruang publik dan fasilitas umum yang nyaman sesuai
dengan kebutuhan pejalan kaki dan pengendara sepeda serta
menyediakan ruang parkir terintegrasi multimoda dan antar moda
(park and ride) untuk mengurangi kemacetan;
f. Pengembangan Transit Oritented Development (TOD) di kota
metropolitan untuk optimalisasi dan efisiensi kegiatan transportasi
masyarakat serta lahan perkotaan;
g. Pengembangan infrastruktur, sarana, dan prasarana transportasi kereta
api untuk mobilitas masyarakat perkotaan, serta distribusi barang, dan
jasa;
h. Penyediaan dan Peningkatan sarana prasarana ekonomi, khususnya di
sektor perdagangan dan jasa dan industri manufaktur dan
pengolahanyang mampu mengakomodasi pasar tradisional,sektor
informal termasuk kegiatan koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah
(UMKM) serta bertaraf internasional;
i. Peningkatan pelayanan kesehatan bertaraf internasional serta
mengembangkan upaya preventif dan kuratif dalam rangka
meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat dan lingkungan
perkotaan;
j. Peningkatan kualitas pendidikan melalui pengembangan laboratorium
riset yang menunjang pembangunan kota serta terintegrasi dengan
kebutuhan dunia kerja;
k. Peningkatan keamanan lingkungan permukiman di perkotaan dengan
memperkuat modal sosial masyarakat perkotaan untuk pencegahan
kejadian kriminalitas dan konflik sosial antar kelompok masyarakat;
l. Penyediaan peraturan yang memuat insentif dan disinsentif dalam
pemenuhan Standar Pelayanan Perkotaan (SPP).
3. Perwujudan Kota Hijau yang Berketahanan Iklim dan Adaptif
terhadap Bencana
a. Pengendalian pertumbuhan kota secara ekspansif yang tidak
terkendali (Urban sprawl) dan pertumbuhan menerus (konurbasi)
melalui pengembangan jalur hijau yang membatasi fisik kota inti dan
kota satelit disekitarnya;
b. Penetapan aturan dan prosedur pemanfaatan ruang kota yang sesuai
dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan melalui land use
VII - 13

planning dan building regulation sebagai dasar perijinan dan
pemanfaatan lahan;
c. Pemberian insentif dan disinsentif bagi perencanaan dan pembangunan
kota, sesuai dengan aturan perundangan mengetai tat ruang dan
pemanfaatan tanah perkotaan yang berlaku.
d. Peningkatan pengetahuan dan kemampuan masyarakat dalam upaya
adaptasi dan mitigasi terhadap dampak perubahan iklim dan bencana
(urban resilience);
e. Pengembangan dan Penerapan konsep kota hijau melalui: green
transportation, green openspace (ruang terbuka hijau), green
waste(pengelolaan sampah dan limbah melalui 3R
1
), green water
(efisiensi pemanfaatan dan pengelolaan air permukaan) dan green
energy(pemanfaatan sumber energi yang efisien dan ramah lingkungan)
untuk pengurangan tingkat pencemaran di darat, laut, dan udara,
pemanfaatan energi alternatif dan terbarukan, pemanfaatan daur ulang,
serta pengembangan kegiatan perekonomian kota yang berwawasan
lingkungan (green Economy).
4. Perwujudan Kota Cerdas dan Daya Saing Kota
a. Pengembangan perekonomian dengan membangun pencitraan kota
(city branding) memanfaatkan produk dan sumber daya manusia
unggulan, serta arsitektur perkotaan (urban design), berdasarkan
karakter sosial budaya lokal;
b. Peningkatan kapasitas dan kemampuan inovasi Sumber Daya Manusia
dalam kewirausahaan;
c. Pengembangan peran layanan sistem informasi industri, produk dan
pasar dalam meningkatkan nilai tambah perekonomian kota (e-
commerce) serta mengembangkan pasar keuangan dalam bentuk
penyediaan kredit lunak kepada industri kecil, koperasi dan UMKM).
d. Peningkatan penggunaan e-governance dalam pengelolaan
pemerintahan (kebijakan dan penganggaran) serta sistem pelayanan
publik;
e. Pengembangan sarana dan prasarana sistem pengelolaan transportasi
berbasis ICT secara cepat dan tepat;
f. Peningkatan efisiensi pasar melalui pengaturan jalur distribusi logistik
dari dan keluar kota.
5. Peningkatan Kapasitas Tata Kelola Pembangunan Perkotaan
a. Perwujudan sistem, peraturan dan prosedur dalam pembangunan
perkotaan dan birokrasi kepemerintahan kota yang tanggap terhadap
kebutuhan masyarakat kota berkelanjutan;

1
3R: pengurangan (Reduce), pemanfaatan kembali (Re-use), dan Daur Ulang (re-cycle)
VII - 14

b. Peningkatan kapasitas pemimpin kota yang visioner dan kapasitas
aparatur pemerintah dalam membangun dan mengelola kota
berkelanjutan, baik melalui kota layak dan nyaman, kota hijau, maupun
kota cerdas, melalui pendidikan, pelatihan dan pembinaan secara
bersikenambungan;
c. Penyederhanaan proses perijinan dan berusaha bagi para pelaku
ekonomi termasuk Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP);
d. Pembangunan dan Pengembangankelembagaan dan kerjasama
pembangunan antar kota dan antar tingkatan pemerintahan;
e. Pengembangan dan Penyediaanpusat data dan informasi perkotaan
terpadu yang mudah diakses;
f. Peningkatan peran swasta,organisasi masyarakat, dan organisasi
profesi secara aktif, baik dalam forum dialog perencanaan dengan
pemerintah dan masyarakat perkotaan, maupun dalam pembangunan
kota berkelanjutan, seperti: pembangunan infrastruktur perkotaan
maupun masukan terhadap rencana tata ruang kota;dan
g. Pengembangan lembaga bantuan teknis dan pembiayaan infrastruktur
perkotaan.

7.4.1.1. Pengembangan Kawasan Perdesaan
Arah kebijakan pengembangan kawasan perdesaan di Wilayah Pulau Jawa-
Bali adalah meningkatkan kemandirian masyarakat dan desa, serta mewujudkan
desa-desa berkelanjutan yang memiliki ketahanan sosial, ekonomi dan ekologi
sesuai dengan amanat Undang-Undang No.6/2014 tentang Desa dengan sasaran
berkurangnya jumlah desa tertinggal sebesar 1 persen. Selain itu, membangun
keterkaitan ekonomi lokal antara perkotaan dan perdesaan melalui integrasi
perdesaan mandiri pada 4 kawasan pertumbuhan baru, yang secara rinci dapat
dilihat pada Tabel 7.4. Dalam rangka percepatan pembangunan desa di Wilayah
Pulau Jawa-Bali akan dilakukan:
1. Pengembangan Penghidupan Berkelanjutan Bagi Masyarakat Miskin
dan Rentan di Desa
a. Peningkatan peran dan kapasitas pemerintah daerah dalam memajukan
ekonomi masyarakat miskin dan rentan;
b. Peningkatan kapasitas masyarakat miskin dan rentan dalam
pengembanganusahaberbasis lokal;
c. Pemberian dukungan bagi masyarakat miskin dan rentan melalui
penyediaan lapangan usaha, dana bergulir, dan lembaga keuangan
mikro.
VII - 15

2. Peningkatan Ketersediaan Pelayanan Umum dan Pelayanan Dasar
Minimum di Perdesaan
a. Peningkatan kualitas sarana dan prasarana dasar bidangpendidikan,
kesehatan, dan perumahan di desa tertinggal dan berkembang;
b. Pengembangan dan penataan pasar-pasar desa;
c. Peningkatan kualitas jaringan irigasi serta jaringan sanitasi dengan
pengembangan instalasi pengolahan air limbah di kawasan perdesaan.
d. Pengembangan terminal dan moda transportasi yang memperlancar
akses dari maupun menuju desa.
3. Peningkatan Keberdayaan Masyarakat Perdesaan
a. Peningkatan keberdayaan masyarakat perdesaan, melalui fasilitasi dan
pendampingan berkelanjutan dalam perencanaan, pembangunan, dan
pengelolaan desa;
b. Peningkatan keberdayaan masyarakat melalui penguatan sosial budaya
masyarakat dan keadilan gender(kelompok wanita, pemuda, anak, dan
TKI).
4. Perwujudan Tata Kelola Pemerintahan Desa yang Baik
a. Fasilitasi peningkatan kapasitas pemerintah desa;
b. Fasilitasi peningkatan kapasitas Badan Permusyawaratan Desa (BPD)
dan lembaga-lembaga lainnya di tingkat desa;
c. Pengembangan sistem pelayanan desa berbasis internet;
d. Pengembangandata dan sistem informasi desa yang digunakan sebagai
acuan bersama perencanaan dan pembangunan desa;
e. Fasilitasi kerjasama antar desa.
5. Perwujudan Kemandirian Pangan dan Pengelolaan SDA-LHyang
Berkelanjutan dengan Memanfaatkan Inovasi dan Teknologi Tepat
Guna di Perdesaan
a. Peningkatan pengendalian pemanfaatan ruang kawasan perdesaan
melalui redistribusi lahan kepada petani/nelayan (land reform), serta
menekan laju alih fungsi lahanpertanian, dan kawasan pesisir secara
berkelanjutan;
b. Dorongan kepada masyarakat berperan dalam gerakan penghijauan
dan menjaga kelestarian kawasan resapan air;
c. Fasilitasi peningkatan kapasitas masyarakat dalam pemanfaatan,
pengelolaan, dan konservasi sumber daya alam dan lingkungan hidup
yang seimbang, berkelanjutan, dan berwawasan mitigasi bencana;
VII - 16

d. Fasilitasi peningkatan kapasitas masyarakat dalam mewujudkan
kemandirian pangan dan energi dengan memanfaatkan sumber energi
terbarukan;
e. Fasilitasi masyarakat desa dalam penyediaan listrik secara mandiri;
f. Fasilitasi masyarakat dalam pengelolaan dan pendayagunaan limbah
organik maupun non-organik.
6. Pengembangan Ekonomi Perdesaan
a. Peningkatan kegiatan ekonomi desa yang berbasis komoditas unggulan,
melalui pengembangan rantai nilai, peningkatan produktivitas, serta
penerapan ekonomi hijau;
b. Fasilitasi masyarakat dalam mengembangkan usaha jasa dan
perdagangan yang mendukung sektor pariwisata;Peningkatankualitas
sarana dan prasarana produksi, pengolahan, dan pasar desa;
c. Peningkatan akses masyarakat desa terhadap modal usaha,
pemasarandan informasi pasar;
d. Peningkatan kapasitas masyarakat dalam bidang kewirausahaan
berbasis potensi lokal;
e. Peningkatan peran lembaga pendukung ekonomi desa seperti koperasi,
BUMDesa, dan lembaga ekonomi mikro lainnya dalam pengembangan
ekonomi perdesaan;
f. Fasilitasi peningkatan kesadaran masyarakat dalam inklusi keuangan.

7.4.1.2. A Peningkatan Keterkaitan Kota dan Desa di Wilayah Jawa-Bali
Peningkatan keterkaitan kota dan desa di Wilayah Pulau Jawa-Bali
diarahkan dengan mengembangkan 4 kawasan sebagai penghubung kota desa
yaitu kawasan Cibitung-Banten, Pamekasan-Jawa Timur, dan Tabanan-Bali, serta
industri pengolahan hasil perikanan dan kelautan di Kawasan Banyuwangi Jawa
timur. Kawasan-kawasan ini mencakup kawasan transmigrasi, kawasan
agropolitan dan minapolitan, serta kawasan pariwisata .
Kebijakan untuk meningkatkan keterkaitan desa-kota diarahkan untuk
mendukung pengembangan kawasan perdesaan menjadi pusat pertumbuhan baru
terutama di desa-desa mandiri. Adapun prioritas strategi yang dilaksanakan
sebagai berikut:
1. Perwujudan Konektivitas antar Kota Sedang dan Kota Kecil, dan antar
Kota Kecil dan Desa sebagai Tulang Punggung (Backbone)
Keterhubungan Desa-Kota
VII - 17

a. Percepatan pembangunan infrastruktur transportasi untuk
memperlancar arus barang, jasa, penduduk, dan modal,dengan prioritas
pada peningkatan kapasitas dan kualitas jaringan jalan peningkatan
kualitas jaringan jalan Lintas Jawa, jalan bebas hambatan, kereta api,
dan angkutan laut.
b. Pengembangan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi untuk
memfasilitasi perdagangan dan informasi antar wilayah.
c. Percepatan pemenuhan suplai energi/listrik untuk memenuhi
kebutuhan domestik dan industri pengolahan.
2. Perwujudan Keterkaitan antara Kegiatan Ekonomi Hulu (upstream
linkages) dan Kegiatan Ekonomi Hilir (downstream linkages) Desa-
Kota.
a. Penyediaan fasilitas pendukung ekonomi lokal untuk meningkatkan
produksi dan distribusi barang dan jasa desa-kota dan antar
kota,meliputi peningkatan akses desa-desa produksi menuju pusat
pertumbuhan (lihat tabel 7.2), pengembangan pasar, dan toko saprodi;
b. Perwujudan industri pengolahan hasil pertanian secara luas yang
berbasis koperasi dan UMKM, meliputi industri pengolahan hasil
pertanian di Kawasan Cibitung-Banten, Pamekasan-Jawa Timur, dan
Tabanan-Bali, serta industri pengolahan hasil perikanan dan kelautan
di Kawasan Banyuwangi Jawa timur;
c. Pengembangan daya tarik wisata bahari dan sejarah di Kawasan
Pariwisata Kuta-Sanur-Nusa Dua melalui peningkatan ketersediaan
infrastruktur penunjang;
d. Peningkatan akses terhadap modal usahamelalui pengembangan
lembaga keuangan dengan kredit usaha ringan;
e. Peningkatan akses bagi pelaku usaha terhadappemasaran, teknologi,
dan informasi;
f. Pengembangan ekonomi hijau berbasis agroindustri,agrowisata, dan
sektor informal perkotaan, untuk menambah nilai produk dan jasa dari
desa.
g. Pengembangan kawasan Agropolitan, Minapolitan, dan Pariwisata
3. Peningkatan Kapasitas Tata Kelola, Kelembagaan, dan Masyarakat
dalam Peningkatan Keterkaitan Kota-Desa
a. Peningkatan kapasitas aparatur dan masyarakat mengenai
kelembagaan dan tata kelola ekonomi daerah;
VII - 18

b. Pengembangan kerjasama antar daerah dan kerjasama pemerintah-
swasta, serta mengembangkan forum-forum yang mendorong
perwujudan kerjasama antar stakeholder;
c. Peningkatan pendidikan formal dan informal untuk memperkuat
kemampuan inovasi dan kreatifitas lokal serta potensi keragaman
sosial bidaya untuk membangun daya saing kota;
d. Peningkatan kapasitas perencanaan dan penyelenggaraan kerjasama
antarkota dan antar kota-desa;
e. Peningkatan pengetahuan dan kemampuan masyarakat mengenai
kelestarian laut dan pesisir serta mitigasi bencana, terutama di
Kawasan Perdesaan Pesisir Pamekasan, Banyuwangi, dan Tabanan;
Secara diagramatis, lokasi prioritas pengembangan kawasan perkotaan dan
perdesaan dapat dilihat pada Gambar 7.2 dan Tabel 7.5.
TABEL 7.4
LOKASI PRIORITAS KAWASAN STRATEGIS NASIONAL PERKOTAAN SEBAGAI PUSAT
PERTUMBUHAN WILAYAH DI JAWA-BALI

Kode Lokasi Prioritas Fokus Pengembangan
K1 KSN Perkotaan
Jabodetabek:
Kota Jakarta, Kab. Bogor,
Kota Bekasi, Kab.
Tangerang, Kota
Tangerang, Kota Depok,
Kab. Bekasi, Kota
Tangerang Selatan, Kota
Bogor
Diarahkan sebagai pusat kegiatan skala global yang
mendukung pertumbuhan wilayah nasional dan
memantapkan fungsi-fungsi keterkaitan dengan pusat-
pusat pertumbuhan atau kota-kota ditingkat internasional.
K2 KSN Perkotaan Cekungan
Bandung:
Kota Bandung, Kab.
Bandung, Kab. Bandung
Barat, Kota Cimahi, Kab.
Majalengka, Kab.
Sumedang
Diarahkan sebagai pusat kegiatan skala global yang
berorientasi pada meningkatkan spesialisasi fungsi jasa
pendidikan, teknologi sistem informasi, industri, dan dan
pariwisata perkotaan (urban tourism)
K3 KSN Perkotaan
Kedungsepur:
Kota Semarang, Kab.
Kendal, Kota Salatiga,
Unggaran (Ibukota Kab.
Semarang), Kab. Demak,
Purwodadi (Ibukota Kab.
Grobogan)
Diarahkan sebagai pusat kegiatan skala global yang
berfungsi mendorong pertumbuhan sektor jasa, teknologi
informasi, pariwisata, dan industri wilayah Jawa Tengah
VII - 19

GAMBAR 7.2
LOKASI PRIORITAS PENGEMBANGAN KAWASAN PERKOTAAN DAN PERDESAAN


Sumber : Bappenas, 2014
VII - 20

Kode Lokasi Prioritas Fokus Pengembangan

K4 KSN Perkotaan Gerbang
Kertosusila:
Kota Surabaya, Kab.
Sidoarjo, Kab. Gresik, Kab.
Mojekerto, Kab.
Lamongan, Kab.
Bangkalan, Kota Mojekerto
Diarahkan sebagai pusat kegiatan skala global yang
dipertahankan untuk berfungsi sebagai pusat kegiatan
nasional yang mendukung pelayanan pengembangan
wilayah Indonesia bagian Timur
K5 KSN Perkotaan Sarbagita:
Kota Denpasar, Kab.
Badung, Kab. Gianyar, Kab.
Tabanan
Diarahkan sebagai pusat kegiatan skala global yang
mendorong pertumbuhan wilayah disekitarnya sebagai
sentra produksi wilayah pulau serta sebagai pusat kegiatan
ekonomi nasional berbasis kegiatan pariwisata yang
bertaraf internasional
Sumber : Bappenas, 2014


TABEL 7.5
LOKASI PRIORITAS PUSAT PERTUMBUHAN BARU YANG BERFOKUS PADA UPAYA
PEMERATAAN WILAYAH DI JAWA-BALI

Kode Lokasi Kawasan Kelompok Kawasan Komoditas Unggulan
D1 Cibitung dan
sekitarnya
(Kab. Pandeglang,
Prov. Banten)
Perkotaan Cibitung
Kawasan Agropolitan (Kedelai):
Pandeglang
Kawasan Tertinggal: Pandeglang
Kedelai
D2 Pamekasan dan
sekitarnya
(Kab. Pamekasan,
Kab. Sampang, Prov.
Jatim)
Perkotaan Sampang
Kawasan Agropolitan (Jagung):
Pamekasan, Sampang
Kawasan Tertinggal: Madura
PKW Terdekat: Pamekasan
Kota Otonom Terdekat : Surabaya
Jagung
Sapi
D3 Banyuwangi dan
sekitarnya
(Kab. Banyuwangi,
Prov. Jatim)
Perkotaan Genteng
Kawasan Minapolitan Perikanan
Tangkap: Muncar
Kawasan Tertinggal: Pujer
PKW Terdekat: Banyuwangi
Perikanan
Tangkap
D4 Tabanan dan
sekitarnya (Kab.
Tabanan, Prov. Bali)
Perkotaan Tabanan
Kawasan Agropolitan (Padi):
Salamandeg Barat, Salamandeg
Timur, Kerambitan
Kawasan Pariwisata: KSPN Kuta-
Sanur-Nusa Dua
PKW Terdekat: Singaraja
Kota Otonom Terdekat : Denpasar
Padi
Sapi
Wisata Bahhari
Wusata Sejarah
Sumber : Bappenas, 2014

7.5.3 Pengembangan Daerah Tertinggal
Arah kebijakan Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal di Wilayah
Pulau Jawa-Bali difokuskan pada upaya pemenuhan kebutuhan pelayanan dasar
VII - 21

publik dan pengembangan perekonomian masyarakat yang berbasis industri dan
jasa yang didukung oleh Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal dan
infrastruktur penunjang konektivitas antara daerah tertinggal dan pusat
pertumbuhan.
Percepatan pembangunan daerah tertinggal dilakukan melalui strategi
sebagai berikut:
1. Pemenuhan Pelayanan Publik Dasar
Mendukung pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM) untuk
pelayanan publik dasar di daerah tertinggal wilayah Jawa-Bali dengan prioritas
program sebagai berikut:
a. Bidang Pendidikan
1) Pembangunan dan rehabilitasi sarana pendidikan dasar diutamakan di
Pulau Madura;
2) Pemerataan distribusi dan kapasitas tenaga pendidik diutamakan di
bagian timur wilayah Pulau Jawa;
3) Peningkatan penyelenggaraan pelayanan pendidikan dasar bagi
masyarakat sesuai dengan karakteristik pulau-pulau kecil bagian utara
Pulau Jawa seperti sekolah berasrama;
4) Pemberantasan tuna aksara melalui program pendidikan keaksaraan
tingkat dasar (membaca, menulis, berhitung) yang diakui dengan
pemberian Surat Keterangan Melek Aksara dan program pendidikan
kesetaraan khususnya di Sampang dan Pandeglang.
b. Bidang Kesehatan
1) Pembangunan, rehabilitasi, dan peningkatan sarana kesehatan
diutamakan di bagian utara wilayah Pulau Jawa;
2) Pengadaan sarana kesehatan keliling terapung untuk Pulau Madura dan
pulau-pulau kecil disekitarnya;
3) Pembinaan pelayanan kesehatan anak, khususnya di kawasan
perdesaan kawasan Pulau Jawa dan Madura;
4) Pengadaan puskesmas keliling di bagian barat Pulau Jawa; dan
5) Perbaikan lingkungan permukiman diutamakan pada Pulau Madura,
dan Kawasan Pesisir.
2. Pengembangan Ekonomi Lokal
Pengembangan kinerja perekonomian masyarakat di daerah tertinggal
secara terpadu dalam rangka meningkatkan nilai tambah sesuai dengan
karakteristik, posisi strategis, dan keterkaitan antar kawasan. Strategi ini meliputi
aspek infrastruktur, manajemen usaha, akses permodalan, inovasi, dan pemasaran
dengan prioritas program sebagai berikut:
a. Pengembangan kegiatan perekonomian sub-sektor perikanan laut, garam,
dan produk olahan laut diutamakan di Pulau Madura;
b. Pengembangan perekonomian masyarakat pada sub-sektor perkebunan,
tanaman pangan, dan hortikultura diutamakan di baratdan timur Pulau
Jawa;
VII - 22

c. Menyusun rencana induk dan rencana aksi pengembangan ekonomi
berbasis pada agroindustri perkebunan, tanaman hortikultura, dan
kelautan;
d. Pemberdayaan ekonomi masyarakat di Pulau Jawa seperti penyediaan
tenaga pendamping;
e. Optimalisasi peran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) khususnya sub-
sektor pangan, perkebunan, dan kawasan pesisir;
f. Pengembangan pasar tradisional.
3. Penguatan Konektivitas dan Sislognas
Peningkatan konektivitas daerah tertinggal dengan pusat pertumbuhan,
diprioritaskan pada ketersediaan sarana dan prasarana yang menunjang pada
peningkatan kinerja pembangunan ekonomi daerah, dengan prioritas kegiatan
sebagai berikut:
a. Pembangunan infrastruktur jalan dan sarana transportasi di desa-desa
terisolir khususnya di Pulau Madura, bagian timur, dan bagian barat Pulau
Jawa;
b. Penyediaan dan pembangunan prasarana dan fasilitas pendukung kereta
api di kawasan Pulau Jawa dan Madura.
c. Pembangunan dan pemeliharaan sistem jaringan kawasan utara Pulau
Jawa;
d. Pengembangan pelabuhan penyebrangan antarpulau;
e. Pembangunan sarana transportasi air di desa-desa terisolir bagian utara
Pulau Jawa;
f. Pengembangan pelabuhan berskala nasional;
g. Pengembangan bandara perintis di kawasan Pulau Jawa dan Madura;
h. Pengembangan jalan tol.
4. Penguatan Kemampuan SDM dan IPTEK
Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan kapasitas
kelembagaan pemangku kepentingan pembangunan daerah tertinggal di pusat
maupun di daerah yang terintegrasiuntuk menunjang pengelolaan industri dan
jasa. Strategi ini meliputi aspek peraturan perundangan, tata kelola, SDM, rumusan
dokumen kebijakan, dan pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)
dengan prioritas kegiatan sebagai berikut:
a. Peningkatan kualitas aparatur daerah khususnya pada pemenuhan SPM
pada bidang pendidikan, kesehatan, listrik, dan telekomunikas di daerah
tertinggal dari aspek perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian;
b. Peningkatan kualitas aparatur daerah khususnya pada pengembangan
ekonomi daerah dan ekonomi masyarakat pada perkebunan, pangan-
hortikultura, dan perikanan laut (pesisir) dari aspek perencanaan,
pelaksanaan, dan pengendalian;
c. Pengembangan kewirausahaan bagi pemuda;
d. Peningkatan teknologi pengolahan limbah hasil industri;
VII - 23

e. Pengembangan pusat informasi pemasaran serta teknologi, pendidikan,
pelatihan, pengembangan SDM pelaku usaha khususnya sub-sektor
perkebunan dan perikanan laut.
5. Penguatan Regulasi dan Insentif
Dalam upaya mendukung percepatan pembangunan daerah tertinggal,
perlu adanya evaluasi terhadap harmonisasi dan regulasi agar afirmasi terhadap
daerah tertinggal secepatnya dapat direalisasikan melalui prioritas kegiatan
sebagai berikut:
a. Harmonisasi kebijakan, program, dan kegiatan daerah untuk percepatan
pembangunan daerah tertinggal;
b. Penyusunan Strategi Daerah tentang Percepatan Pembangunan Daerah
Tertinggal;
c. Koordinasi dan sinkronisasi antara pemerintah dengan pemerintah daerah
dan antar-SKPD dalam penyelenggaraan program pembangunan di daerah;
d. Pemberian insentif untuk pihak swasta dalam proses pengembangan usaha
di daerah tertinggal;
e. Tunjangan khusus bagi pegawai pelayanan publik dasar di daerah
tertinggal (bidan, dokter, guru, penyuluh pertanian).

7.5.4 Penanggulangan Bencana
Indonesia merupakan negara yang memiliki jumlah penduduk terbesar ke 4
di dunia setelah Amerika Serikat; dan lebih dari 50% jumlah penduduk Indonesia
berada di Pulau Jawa. Jumlah penduduk miskin di Indonesia diwakili Provinsi Jawa
Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur sehingga potensi kerentanan sosial terhadap
kejadian bencana sangat tinggi di Pulau Jawa, dibandingkan pulau-pulau lainnya.
Berdasarkan data dari BNPB, bencana alam yang paling dominan berpotensi
terjadi di wilayah Jawa-Bali adalah banjir, tanah longsor, gempabumi, letusan
gunung api, tsunami.
Arah kebijakan penanggulangan bencana di Wilayah Pulau Jawa-Bali adalah
mengurangi risiko bencana dan meningkatkan ketangguhan pemerintah,
pemerintah daerah dan masyarakat terhadap bencana, yang dapat dilakukan
melalui strategi:
1. Internalisasi Pengurangan Risiko Bencana dalam kerangka
Pembangunan berkelanjutan, melalui :
a. Harmonisasi kebijakan dan regulasi penanggulangan bencana di
wilayah Provinsi Papua dan Papua Barat, mengingat ancaman bencana
gempa bumi, tsunami, banjir dan longsor tidak mengenal wilayah
administrasi
b. Pengenalan, penilaian dan pemantauan risiko bencana menggunakan
kajian dan peta risiko skala 1:50.000 pada kabupaten sasaran dan skala
1:25.000 untuk kota sasaran dengan memperhatikan indikator risiko
iklim
VII - 24

GAMBAR 7.3





VII - 25

TABEL 7.6
PROFIL DAERAH TERTINGGAL WILAYAH JAWA-BALI

NO. KABUPATEN
P
E
N
G
A
N
G
G
U
R
A
N

(
%
)

P
R
A
S
A
R
A
N
A

J
A
L
A
N

T
I
D
A
K

M
A
N
T
A
P

(
%
)

E
L
E
K
T
R
I
F
I
K
A
S
I

(
%
)

D
E
S
A

P
E
N
G
G
U
N
A

A
I
R

B
E
R
S
I
H

U
N
T
U
K

M
I
N
U
M
/
M
E
M
A
S
A
K

(
%
)

K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

S
A
R
A
N
A

I
N
F
O
R
M
A
S
I

D
A
N

K
O
M
U
N
I
K
A
S
I

R
A
T
A
-
R
A
T
A

L
A
M
A

S
E
K
O
L
A
H

(
T
h
)

S
A
R
A
N
A
F
I
S
I
K

P
E
N
D
I
D
I
K
A
N

(
%
)

R
A
T
A

R
A
T
A

J
A
R
A
K

P
U
S
K
E
S
M
A
S

(
K
m
)

R
A
T
A

R
A
T
A

J
A
R
A
K

P
U
S
K
E
S
M
A
S

P
E
M
B
A
N
T
U

(
K
m
)

K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

T
E
N
A
G
A

K
E
S
E
H
A
T
A
N

(
D
O
K
T
E
R
/
B
I
D
A
N
/
P
A
R
A
M
E
D
I
S
)

A
K
S
E
S
I
B
I
L
I
T
A
S

K
E

T
E
N
A
G
A

K
E
S
E
H
A
T
A
N

(
K
m
)

J
U
M
L
A
H

A
P
A
R
A
T
U
R

D
A
E
R
A
H
B
E
R
D
A
S
A
R
K
A
N

P
E
N
D
I
D
I
K
A
N

A
K
S
E
S
I
B
I
L
I
T
A
S

K
E

S
A
R
A
N
A

P
E
M
E
R
I
N
T
A
H
A
N

A
K
S
E
S
I
B
I
L
I
T
A
S

S
A
R
A
N
A

F
I
S
I
K

K
E
G
I
A
T
A
N

E
K
O
N
O
M
I

D
E
S
A

T
I
D
A
K

T
E
R
J
A
N
G
K
A
U

S
I
N
Y
A
L

S
E
L
U
L
E
R
(
%
)

D
E
S
A

T
I
D
A
K

T
E
R
J
A
N
G
K
A
S
I
A
R
A
N

T
V
R
I

(
%
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

S
D

(
K
m
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

S
M
P

(
K
m
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A

K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

D
O
K
T
E
R
/
K
E
C
A
M
A
T
A
N

R
A
T
A
-
R
A
T
A

K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

B
I
D
A
N
/
D
E
S
A

R
A
T
A
-
R
A
T
A

K
E
T
E
R
S
E
D
I
A
A
N

P
A
R
A
M
E
D
I
S
/
K
E
C
A
M
A
T
A
N

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

P
R
A
K
T
E
K

D
O
K
T
E
R

(
K
m
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

P
R
A
K
T
E
K

B
I
D
A
N

(
K
m
)

<

S
M
U

(
%
)

D
1
/
D
2
/
D
3

(
%
)

D
4
/
S
1

(
%
)

S
2
/
S
3

(
%
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

K
E

K
A
N
T
O
R

K
E
C
A
M
A
T
A
N

(
K
m
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

K
E

K
A
N
T
O
R

K
A
B
U
P
A
T
E
N

(
K
m
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

P
A
S
A
R

(
K
m
)

R
A
T
A
-
R
A
T
A

J
A
R
A
K

L
E
M
B
A
G
A

K
E
U
A
N
G
A
N

(
B
A
N
K

U
M
U
M
)

(
K
m
)

A JAWA BARAT 9,40 49,42 95,97 66,60 16,56 35,31 7,15 0 3,52 4,62 3,35 4,71 1,51 15,59 5,89 1,11 96,15 1,05 2,67 0,12 5,54 47,05 9,17 8,01
1 SUKABUMI * 10,10 70,32 95,06 79,84 18,50 36,75 6,93 0 3,81 4,74 3,01 3,7 1,5 11,9 5,12 1,08 96,53 1,01 2,26 0,20 5,64 56,77 11,69 8,19
2 GARUT 8,69 28,51 96,87 53,36 14,62 33,87 7,37 0 3,24 4,50 3,69 5,8 1,5 19,3 6,67 1,14 95,78 1,09 3,08 0,04 5,44 38,04 6,65 7,82
B JAWA TIMUR 4,62 28,88 94,04 82,52 23,61 17,18 5,69 0,48 3,57 4,50 3,41 3,15 1,57 20,14 6,63 2,00 93,32 1,15 5,14 0,39 6,23 22,66 4,70 8,71
3 BONDOWOSO 4,01 17,79 98,64 53,88 36,99 32,42 5,94 1 3,30 3,56 2,37 2,7 1,3 23,5 4,62 1,44 94,05 0,75 4,97 0,23 3,79 16,71 4,22 5,63
4 SITUBONDO 4,43 53,75 96,77 74,26 23,53 36,03 6,22 0 4,13 4,92 2,61 2,7 1,8 14,0 6,36 0,51 93,47 0,98 5,26 0,28 5,75 27,28 7,92 6,21
5 BANGKALAN 4,41 26,55 85,59 96,80 25,98 8,90 5,74 0,92 4,21 4,79 3,03 4,1 1,4 16,8 5,29 0,99 94,14 0,85 4,68 0,33 9,64 27,57 4,09 12,40
6 SAMPANG 4,84 30,86 97,06 89,25 22,58 6,45 4,22 0 3,24 5,08 3,46 2,1 1,6 16,6 7,49 1,10 93,43 1,24 4,79 0,54 6,00 25,21 3,43 11,05
7 PAMEKASAN * 5,43 15,47 92,17 98,41 8,99 2,12 6,32 0,5 2,98 4,17 5,60 4,2 1,7 29,7 9,37 5,97 91,51 1,95 5,97 0,57 5,97 16,43 3,87 8,25
C BANTEN 17,19 43,44 91,11 74,26 25,74 27,00 6,62 0,67 3,39 5,56 8,43 1,75 1,36 10,28 11,14 2,67 94,76 1,13 3,92 0,19 6,55 51,86 7,43 14,10
8 PANDEGLANG 14,08 51,67 90,50 73,73 24,48 23,28 6,97 0 2,92 4,74 7,50 1,6 1,5 9,6 9,39 1,94 94,06 1,27 4,47 0,21 4,99 42,65 5,50 10,35
9 LEBAK 20,29 35,21 91,71 74,78 26,96 30,72 6,27 1,33 3,85 6,39 9,36 1,9 1,2 10,9 12,88 3,39 95,46 0,98 3,38 0,17 8,10 60,80 9,35 17,86

RATA RATA WILAYAH
10,40 40,6 93,71 74,46 21,97 23,39 6,49 0,38 3,49 4,90 5,06 3,20 1,48 15,34 7,88 1,93 94,75 1,11 3,91 0,23 6,11 40,52 7,10 10,27

RATA RATA DATING
5,41
55,41
69,27 52,29 47,97 78,18 7,31 13,5 13,4 14,2 12,96 8,77 1,06 39,58 34,00 34,36 92,28 2,48 5,02 0,22 12,61 53,97 25,02 45,02

RATA RATA NASIONAL
7,24 48,78 83,18 66,55 32.11 48,63 7,9 8,73 7,97 8,91 7,6 11,2 1,12 37,46 18,51 16,69 89,85 3,03 6,70 0,42 10,32 48,25 14,83 24,92
Sumber: BPS 2012, Podes 2011
Keterangan: *) 70 Kabupaten berpotensi terentaskan
VII - 26

c. Pemanfaatan kajian dan peta risiko bagi penyusunan Rencana
Penanggulangan (RPB) Bencana Kab/Kota, yang menjadi referensi
untuk penyusunan RPJMD Kab/Kota, serta untuk mereview RTRW
Kabupaten/Kota setiap jangka waktu 5 tahun
d. Penyusunan rencana kontinjensi pada kabupaten/kota sasaran sebagai
panduan kesiapsiagaan dan operasi tanggap darurat
2. Penurunan kerentanan terhadap bencana
a. Penyediaan infrastruktur mitigasi dan kesiapsiagaan (jalur evakuasi
dan shelter) untuk ancaman tsunami dan letusan gunung api
b. Pengembangan IPTEK dan pendidikan untuk pencegahan dan
kesiapsiagaan menghadapi bencana gempa bumi, tsunami, banjir dan
longsor
c. Perlindungan bagi prasarana vital yang diperlukan untuk memastikan
keberlangsungan pelayanan publik, kegiatan ekonomi masyarakat,
keamanan dan ketertiban pada situasi darurat dan pasca bencana
d. Kerjasama dengan media cetak, radio dan televisi untuk
mengembangkan skema komunikasi antar pulau bagi peningkatan
kesiapsiagaan
e. Penegakan rencana tata ruang kabupaten/kota sebagai instrumen
pengendalian pemanfaatan ruang
f. Pengembangan skema pemulihan paska bencana serta skema social
safety net terutama bagi kelompok masyarakat miskin dan kelompok
usaha mikro/kecil pada lokasi rawan bencana
g. Kerjasama dengan mitra pembangunan, OMS dan dunia usaha untuk
mengurangi kerentanan ekonomi masyarakat
3. Peningkatan kapasitas aparatur dan masyarakat
a. Penyediaan, pemeliharaan dan pengoperasian sistem peringatan dini
tsunami di Kebumen, Banyuwangi, Semarapura, Ciamis, dan
Pengandaran
b. Penyediaan, pemeliharaan dan pengoperasian sistem pemantauan
gunung api di Cilegon, Tasikmalaya, Wonosobo, Magelang, Kediri,
Blitar, Klaten, Sleman
c. Perkuatan kapasitas manajemen logistik untuk kedaruratan
d. Pelatihan bagi aparatur dan kelompok masyarakat untuk meningkatkan
pengetahuan pengurangan risiko bencana
e. Pelaksanaan simulasi tanggap darurat secara berkala untuk
meningkatkan kesiapsiagaan
f. Pengembangan Desa Tangguh Bencana untuk memobilisasi
sumberdaya lokal dengan prinsip pengelolaan sumber daya
berkelanjutan terutama pada desa pesisir di kabupaten/kota sasaran.
VII - 27

GAMBAR 7.4




VII - 28

TABEL 7.7
PROFIL KERAWANAN DAN RISIKO PKN, PKW DAN PKSN
DI WILAYAH JAWA-BALI

Wilayah
Index Kerawanan
(IRBI 2011)
Kelas Multi Risiko tingkat
Kabupaten/Kota
Pusat Kegiatan Nasional (PKN) Jawa-Bali
Kawasan Jabodetabek
(Jakarta, Bogor, Depok,
Tangerang, Bekasi)
DKI Jakarta: tinggi untuk banjir
Kota Bogor : tinggi untuk banjir
dan Longsor
Kota Depok: tinggi untuk banjir,
cuaca ekstrim
Kota Tangerang: tinggi untuk
banjir, cuaca ekstrim
Kab. Tangerang: tinggi untuk
banjir, cuaca ekstrim
Kota Bekasi; tinggi untuk banjir,
cuaca ekstrim
Kab. Bekasi tinggi untuk banjir,
cuaca ekstrim
DKI Jakarta: sedang
Kota Bogor : tinggi
Kota Depok: sedang
Kota Tangerang: sedang
Kab. Tangerang: tinggi
Kota Bekasi: sedang
Kab. Bekasi : tinggi
Bandung Raya Kota Bandung : tinggi untuk
banjir dan tanah longsor.
Bandung Barat : tinggi untuk
gempabumi.
Kota Bandung: Tinggi
Kab. Bandung Barat : Tinggi
Kawasan Perkotaan
Kedungsepur (Kendal,
Demak, Semarang,
Ungaran, Purwodadi)
Kota Semarang : tinggi untuk
banjir dan tanah longsor.
Kab. Kendal: tinggi untuk banjir
dan cuaca ekstrim
Kab. Demak: tinggi untuk banjir,
cuaca ekstrim, abrasi
Kab. Ungaran: data belum
tersedia
Kab. Purwodadi: data belum
tersedia
Kota Semarang: Tinggi
Kab. Kendal: tinggi
Kab. Demak: tinggi
Kab. Ungaran: data belum
tersedia
Kab. Purwodadi: data belum
tersedia
Malang Tinggi untuk ancaman : banjir,
gempabumi
Kab.Malang: Tinggi
Cilegon Kota Cilegon : tinggi untuk
letusan gunung api
Kota Cilegon: Tinggi
Cirebon Kab. Cirebon : tinggi banjir,
tanah longsor.
Kota/Kab Cirebon: Tinggi
Kawasan Perkotaan
Gerbangkertosusila
(Gresik,Bangkalan,
Mojokerto, Surabaya,
Sidoarjo, Lamongan)
Gresik : tinggi untuk banjir,
tanah longsor, angin topan.
Bangkalan : tinggi untuk banjir
Mojokerto : tinggi untuk banjir
dan tanah longsor
Kota Surabaya : tinggi untuk
cuaca ekstrim
Sidoarjo : tinggi untuk banjir
Lamongan : tinggi untuk banjir.
Gresik: Tinggi
Bangkalan: Tinggi
Kota/Kab Mojokerto: Tinggi
Kota Surabaya: Tinggi
Sidoarjo: Tinggi
Lamongan: Tinggi
Kawasan Perkotaan Denpasar : tinggi untuk banjir, Denpasar: Tinggi

VII - 29

Wilayah
Index Kerawanan
(IRBI 2011)
Kelas Multi Risiko tingkat
Kabupaten/Kota
Sarbagita (Denpasar,
Badung, Gianyar,
Tabanan)
cuaca ekstrim
Badung : tinggi untuk cuaca
ekstrim, abrasi.
Gianyar : tinggi untuk tanah
longsor, banjir.
Badung: Tinggi
Gianyar: Sedang
Tabanan: Tinggi

Serang Tinggi untuk ancaman : banjir, Tinggi
Cilacap Tinggi untuk ancaman: banjir,
gempa bumi, tsunami, tanah
longsor, kebakaran.
Cilacap: Tinggi
Yogyakarta Tinggi untuk ancaman:
gempabumi
Yogyakarta: Tinggi
Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) Jawa-Bali
Sukabumi Tinggi untuk ancaman : banjir,
gempa, kebakaran.
Tinggi
Tasikmalaya Tinggi untuk ancaman : banjir,
gempa, letusan gunung api.
Tinggi
Pekalongan Kab. Pekalongan : banjir, abrasi,
tanah longsor, cuaca ekstrim,
kebakaran
Kota Pekalongan : tanah longsor,
kebakaran, banjir.
Kota/Kab Pekalongan: Tinggi
Wonosobo Tinggi untuk ancaman:
banjir, tanah longsor,
gempabumi, letusan gunung api,.
Sedang
Kebumen Tinggi untuk ancaman :
banjir dan tanah longsor,
tsunami.
Kebumen: Tinggi
Magelang Tinggi untuk ancaman : tanah
longsor, letusan gunung api,
gempa bumi, banjir.
Magelang: Sedang
Boyolali Tinggi untuk ancaman:
banjir, gempa bumi.
Boyolali: Tinggi
Tuban Tinggi untuk ancaman:
Banjir
Tuban: Tinggi
Bojonegoro Tinggi untuk ancaman:
Banjir
Bojonegoro: Tinggi
Pacitan Tinggi untuk ancaman:
Banjir dan tanah longsor
Pacitan: Tinggi
Kediri Tinggi untuk ancaman:
letusan gunung api
Kota/Kab Kediri: Tinggi
Jember Tinggi untuk ancaman:
Banjir dan tanah longsor, angin
topan
Jember: Tinggi
Banyuwangi Tinggi untuk ancaman:
gempabumi, tsunami, angin
topan, kekeringan
Banyuwangi: Tinggi
Blitar Tinggi untuk ancaman:
letusan gunung api, gempa bumi
Kota/Kab Blitar: Tinggi

VII - 30

Wilayah
Index Kerawanan
(IRBI 2011)
Kelas Multi Risiko tingkat
Kabupaten/Kota
Madiun Tinggi untuk ancaman:
angin topan, kekeringan
Kota/Kab Madiun: Tinggi
Probolinggo Tinggi untuk ancaman:
Banjir
Kota/Kab Probolinggo: Tinggi
Singaraja Tinggi untuk ancaman:
banjir dan tanah longsor
Kab Buleleng: Tinggi
Indramayu Tinggi untuk ancaman:
banjir,
Indramayu: Tinggi
Tegal Tinggi untuk ancaman:
angin topan, kekeringan
Kota/Kab Tegal: Tinggi

Pandeglang Tinggi untuk ancaman:
banjir dan tanah longsor.
Pandeglang: Tinggi
Kudus Tinggi untuk ancaman:
banjir dan tanah longsor.
Kudus: Tinggi
Bantul Tinggi untuk ancaman:
banjir dan tanah longsor,
gempabumi.
Bantul: Tinggi
Klaten Tinggi untuk ancaman:
banjir, tanah longsor,
gempabumi, letusan gunung api,
Klaten: Tinggi
Sleman Tinggi untuk ancaman:
gempabumi, letusan gunung api,
Sleman: Tinggi
Mojokerto Tinggi untuk ancaman:
banjir
Kota/Kab Mojokerto: Tinggi
Semarapura Tinggi untuk ancaman:
gempabumi, tsunami
Kab Klungkung: Sedang
Negara Tinggi untuk ancaman:
banjir, tanah longsor,
Kab. Jembrana: Tinggi
Pelabuhan Ratu Tinggi untuk ancaman:
banjir, tanah longsor, kebakaran
hutan dan lahan
Kab. Sukabumi: Tinggi
Pangandaran Tinggi untuk ancaman:
banjir, tsunami
Kab. Ciamis: Tinggi
Pamekasan Tinggi untuk ancaman:
Banjir
Pamekasan: Tinggi
Sumber: Data diolah, Bappenas, 2014

7.5.5 A Pengembangan Tata Ruang Wilayah Pulau Jawa-Bali
A. Arah Kebijakan Tata Ruang Wilayah Pulau Jawa-Bali
1) Kebijakan untuk mewujudkan lumbung pangan nasional yang
berkelanjutan meliputi:
a. pemertahanan lahan pertanian untuk tanaman pangan, termasuk lahan
pertanian pangan berkelanjutan; dan
b. pengembangan dan pemertahanan jaringan prasarana sumber daya air
untuk meningkatkan luasan lahan pertanian untuk tanaman pangan.

VII - 31

2) Kebijakan untuk mewujudkan pusat industri yang berdaya saing dan ramah
lingkungan meliputi:
a. peningkatan keterkaitan ekonomi antarpusat industri.
3) Kebijakan untuk mewujudkan kapasitas daya dukung dan daya tampung
lingkungan hidup yang memadai untuk pembangunan meliputi:
a. peningkatan luasan kawasan berfungsi lindung paling sedikit 30% (tiga
puluh persen) dari luas Pulau Jawa-Bali sesuai dengan kondisi
ekosistemnya; dan
b. pengembangan kawasan lindung dan kawasan budi daya untuk
meningkatkan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup.
4) Kebijakan untuk mewujudkan jaringan transportasi antarmoda yang dapat
meningkatkan daya saing meliputi:
a. pengembangan dan pemantapan jaringan transportasi yang terpadu
untuk meningkatkan keterkaitan antarwilayah dan efisiensi ekonomi;
dan
b. pengembangan jaringan transportasi untuk meningkatkan aksesibilitas
kawasan tertinggal dan terisolasi, termasuk pulau-pulau kecil.

B. Strategi Pengembangan Tata Ruang Wilayah Jawa-Bali
I. Pengembangan Kawasan Lindung
Strategi terkait Arah Kebijakan dalam rangka mewujudkan kapasitas daya
dukung dan daya tampung lingkungan hidup yang memadai untuk pembangunan
adalah sebagai berikut:
1. Peningkatan luasan kawasan berfungsi lindung paling sedikit 30 persen
dari luas Pulau Jawa-Bali sesuai dengan kondisi ekosistemnya meliputi:
a. Pertahanan luasan kawasan berfungsi lindung dan merehabilitasi
kawasan berfungsi lindung yang terdegradasi;
b. Pengendalian dan rehabilitasi daerah aliran sungai (DAS) kritis;
c. Pengendalian dan rehabilitasi kawasan lindung di bagian hulu Wilayah
Sungai (WS), kawasan hutan lindung, kawasan resapan air, dan
kawasan konservasi; dan
2. Pengembangan kawasan lindung dan kawasan budidaya untuk
meningkatkan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup meliputi:
a. Pengembangan pengelolaan kawasan lindung dan kawasan budi daya
melalui kerja sama antardaerah untuk kelestarian pemanfaatan sumber
daya alam.

II. Pengembangan Kawasan Budidaya
Strategi terkait Arah Kebijakan dalam rangka mewujudkan lumbung pangan
nasional yang berkelanjutan:
1. Pemertahanan lahan pertanian untuk tanaman pangan, termasuk lahan
pertanian pangan berkelanjutan meliputi:
a. Pemertahanan luas lahan pertanian pangan berkelanjutan dengan
mengendalikan kegiatan budi daya lainnya;

VII - 32

b. Pengendalian alih fungsi peruntukan lahan pertanian untuk tanaman
pangan; dan
c. Pengendalian perkembangan fisik kawasan perkotaan nasional untuk
menjaga keutuhan lahan pertanian tanaman pangan.
2. Pengembangan dan pemertahanan jaringan prasarana sumber daya air
untuk meningkatkan luasan lahan pertanian tanaman pangan meliputi:
a. Pengembangan dan pemeliharaan bendungan beserta waduknya untuk
mempertahankan daya tampung air yang menjamin penyediaan air
baku bagi kegiatan pertanian tanaman pangan;
b. Pemeliharaan dan peningkatan jaringan irigasi teknis pada daerah
irigasi (DI) untuk meningkatkan luasan lahan pertanian tanaman
pangan.

Strategi terkait arah kebijakan dalam rangka mewujudkan pusat industri
yang berdaya saing dan ramah lingkungan:
1. Peningkatan keterkaitan ekonomi antarpusat industri meliputi:
a. Peningkatan penataan lokasi kegiatan industri di dalam kawasan
industri;
b. Peningkatan kegiatan industri yang benilai tambah tinggi dengan
penggunaan teknologi tinggi dan ramah lingkungan;
c. Pemantapan jaringan jalan nasional, jaringan jalur kereta api nasional,
pelabuhan, dan/atau bandar udara.

Strategi untuk arah kebijakan dalam rangka mewujudkan jaringan
transportasi antarmoda yang dapat meningkatkan daya saing:
1. Pengembangan dan pemantapan jaringan transportasi yang terpadu untuk
meningkatkan keterkaitan antarwilayah dan efisiensi meliputi:
a. Pengembangan dan/atau pemantapan akses prasarana dan sarana
transportasi darat, laut, dan/atau udara yang menghubungkan
antarkawasan perkotaan nasional;
b. Pemantapan koridor ekonomi Pulau Jawa-Bali;
c. Pemantapan akses prasarana dan sarana transportasi darat yang
meliputi jaringan jalan, jaringan jalur kereta api, serta jaringan
transportasi penyeberangan yang menghubungkan kawasan perkotaan
nasional dengan sentra produksi, pelabuhan, dan/atau bandar udara;
2. Pengembangan jaringan transportasi untuk meningkatkan aksesibilitas
kawasan tertinggal dan terisolasi, termasuk pulau-pulau kecil dilakukan
dengan pengembangan jaringan transportasi yang menghubungkan
perkotaan nasional dengan kawasan tertinggal dan terisolasi, termasuk
pulau-pulau kecil.

7.5.6 Tata Kelola Pemerintah Daerah dan Otonomi Daerah
Arah kebijakan pengembangan Wilayah Jawa-Bali yakni peningkatan
kapasitas pemerintah daerah yang mendorong daya saing nasional berbasis

VII - 33

industri, lumbung pangan nasional, serta perdagangan dan jasa berskala
internasional, dengan strategi:
1. Percepatan inovasi pembiayaan untuk wilayah perkotaan, khususnya
melalui Kerja Sama Pemerintah Swasta (KPS) untuk pembangunan
infrastruktur publik.
2. Percepatan reformasi birokrasi pemerintah daerah yang berorientasi
kepada kebutuhan pelayanan masyarakat dan dunia usaha, khususnya di
bidang industri.
3. Pengembangan informasi dan inovasi pelayanan publik di wilayah-wilayah
metropolitan Jawa-Bali.
4. Peningkatan local taxing power, melalui penguatan struktur pajak dan
retribusi daerah, dan peningkatan kepatuhan pajak untuk mendorong
kapasitas fiskal daerah.
5. Penguatan kelembagaan badan kerja sama daerah dalam peningkatan
peran dan fungsinya meningkatkan pelayanan publik dalam bidang
persampahan, air minum, pengelolaan limbah dan sebagainya.
6. Harmonisasi peraturan daerah yang berkaitan dengan pajak dan retribusi
daerah dalam rangka mendorong daya saing nasional, khususnya Provinsi
Jawa Barat dan Provinsi Jawa Tengah.
7. Peningkatan kapasitas forum-forum perencanaan tingkat regional dalam
pelaksanaan sinergi perencanaan berbasiskan wilayah Jawa-Bali.
8. Penguatan partisipasi dunia usaha dalam rangka peningkatan daya saing
nasional serta pelaksanaan kebijakan publik.


7.6 Kaidah Pelaksanaan Pengembangan Wilayah Pulau Jawa-
Bali
7.6.1 Prioritas Program Pembangunan
7.6.1.1 Provinsi DKI Jakarta

TABEL 7.8
KEGIATAN STRATEGIS INFRASTRUKTUR JANGKA MENENGAH NASIONAL
DI PROVINSI DKI JAKARTA

Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
KERETA API
Pembangunan jalur lingkar KA layang (elevated loopline) Jabodetabek termasuk
shortcut antara Manggarai - Pondok Jati & Rajawali Kampung Bandan
Pembangunan shortcut antara Palmerah dan Karet Lintas Serpong
Pembangunan MRT North-South antara Kampung Bandan Lebak Bulus (Porsi
Pemerintah)

VII - 34

Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
Koridor Green Line (Circular Line)
Koridor Green Line (Extention)
Pembangunan KA Bandara Soekarno-Hatta express line (Porsi Pemerintah dalam
skema KPS)
Pengembangan fasilitas baru KA Jabodetabek (ATP, Workshop)
Peningkatan prasarana KA eksisting Jabodetabek
Pembangunan jalur KA baru lingkar luar Jabodetabek antara Parungpanjang -
Citayam (jalur ganda dan elektrifikasi) termasuk pengadaan lahan
Pembangunan jalur KA baru lingkar luar Jabodetabek antara Nambo - Cikarang -
Tj. Priok/Kalibaru
Lanjutan pembangunan double-double track (DDT) dan elektrifikasi antara
Manggarai - Cikarang termasuk pengadaan lahan
PERHUBUNGAN DARAT
Pengembangan BRT Transjakarta
PERHUBUNGAN LAUT
Pembangunan dermaga Kali Baru Utara (Tahap 1) - New Priok
Pengembangan Terminal Multipurpose di area Reklamasi Ancol Timur
JALAN
Pembangunan Jalan Bebas Hambatan Akses Tanjung Priok (E2, E2 A, dan NS) dan
Akses Dry Port Cikarang
Pembangunan Jalan Bekasi - Cikunir Cawang
Pembangunan Jalan Tol Bekasi-Cawang-Kp. Melayu
Pembangunan Jalan Tol Depok-Antasari
Pembangunan Jalan Tol JORR W2 - Utara (7,67 km)
Pembangunan Flyover Dalam Kota (Semanggi, RE Martadinata, Pinang Baris,
Pancoran, Kuningan, Sudirman)
Pembangunan FO/Underapass Perlintasan KA
SUMBER DAYA AIR
Pembangunan Sudetan Kali Ciliwung ke KBT Jakarta
Normalisasi Kali Ciliwung Paket 1 Jakarta
Normalisasi Kali Ciliwung Paket 2 Jakarta
Normalisasi Kali Ciliwung Paket 3 Jakarta
Normalisasi Kali Ciliwung Paket 4 Jakarta
Perbaikan dan Pengaturan Kali Krukut Jakarta
Perbaikan dan Pengaturan Kali Cipinang Jakarta
Perbaikan dan Pengaturan Kali Cisadane Jakarta
Perbaikan dan Pengaturan Kali Buaran, Jatikramat, Cakung Jakarta
Perbaikan dan Pengaturan Cikarang Bekasi Laut Jakarta
Perbaikan dan Pengaturan Kali Cilemah Abang Jakarta
Perbaikan dan Pengaturan Kali Cimanceuri Jakarta
Pembangunan Cengkareng Drain 2 Jakarta
JUFMP/JEDI Paket 2A Cengkareng Floodway Jakarta
JUFMP/JEDI Paket 2B Lower Sunter Jakarta
JUFMP/JEDI Paket 6 Upper Sunter dan West Canal Flood Jakarta

VII - 35

Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
National Capital Integrated Coastal Defence (Tanggul Laut) Jakarta
O&P Banjir Kanal Barat Jakarta
O&P Banjir Kanal Timur Jakarta



VII - 36

GAMBAR 7.5

VII - 37

7.6.1.2 Provinsi Jawa Barat

TABEL 7.9
KEGIATAN STRATEGIS INFRASTRUKTUR JANGKA MENENGAH NASIONAL
DI PROVINSI JAWA BARAT

Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
KERETA API
Pengembangan KA perkotaan Bandung (jalur ganda, stasiun, persinyalan,
telekomunikasi dan elektrifikasi)
Pembangunan double-double track (DDT) antara Cikarang - Cikampek
Lanjutan pembangunan shortcut antara Cibungur - Tanjung Rasa (track,
jembatan, persinyalan, telekomunikasi, stasiun)
Pembangungan jalur KA antara Cikarang - Pelabuhan Cilamaya
Pembangunan jalur KA antara Cangkring - Pelabuhan Cirebon
Pembangunan jalur ganda antara Cicalengka - Kroya
Reaktivasi jalur KA antara Rancaekek - Tj. Sari dan pembangunan jalur KA baru
antara Tj. Sari - Bandara Kertajati
Reaktivasi jalur KA antara Cirebon - Kadipaten dan pembangunan jalur KA
baru antara Kadipaten - Bandara Kertajati
Reaktivasi jalur KA antara Banjar Cijulang
Pembangunan High Speed Railway Jakarta - Bandung
PERHUBUNGAN DARAT
Pengembangan Sistem Transit Kota Bandung
Pengembangan Sistem Transit Kota Bogor
Pengembangan Sistem Transit Kota Bekasi
Pengembangan Sistem Transit Kota Depok
Pengembangan Sistem Transit Kota Cimahi
Pengembangan Sistem Transit Kota Tasikmalaya
PERHUBUNGAN UDARA
Pembangunan Bandara Karawang
Pembangunan Bandara Kertajati
PERHUBUNGAN LAUT
Pembangunan Terminal Mobil Pelabuhan Kalibaru
Pengembangan Pelabuhan Pemanukan
Pembangunan konstruksi pelabuhan Cilamaya
JALAN
Pembangunan Jalan Akses Menuju Bandara Internasional Karawang
Pembangunan Jalan Akses Pelabuhan Cilamaya
Pembangunan Jalan akses Subang ke Tol Cikampek-Palimanan 10 km
Pembangunan Jalan Akses Tol Cimanggis - Wanaherang - Nangrak
Pembangunan Jalan Antar Kawasan MM-2100-Bekasi Fajar-EJIP-Lippo
Cikarang (3 km)
Pembangunan Jalan Bekasi - Narogong Cilengsi

VII - 38

Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
Pembangunan Jalan Cibiru-Dayu Kolot-Soreang-Patrol-Cemarene
Pembangunan Jalan Cirebon-Kuningan-Cipasung-Ciamis
Pembangunan Jalan Kawasan Industri Cikarang menuju Timur Jakarta
Pembangunan Jalan Lintas Pantai Selatan Jawa Barat (Tegal Buleud-Sindang
Barang-Kelapagenep)
Pembangunan Jalan menuju kawasan industri Purwakarta 5,1 Km
Pembangunan Jalan Pantura Cikampek Cirebon (166,1 Km)
Pembangunan Jalan Soreang-Rancabali-Cidaun
Pembangunan Jalan Tegal Danas
Pembangunan Jalan Tol Ciawi-Sukabumi
Pembangunan Jalan Tol Cibitung - Cilincing 33,9 km (JORR 2)
Pembangunan Jalan Tol Cikampek-Palimanan 116. 75 km
Pembangunan Jalan Tol Cileunyi - Sumedang - Dawuan
Pembangunan Jalan Tol Cimanggis-Cibitung (JORR 2)
Pembangunan Jalan Tol Cinere-Jagorawi 14,6 km (JORR 2)
Pembangunan Jalan tol Pasir Koja- Soreang
Pembangunan Jalan tol terusan Pasteur - Ujung Berung - Cileunyi, Soekarno
Hatta Gedebage
Pembangunan Jembatan Layang Cikarang Kota-Pasir Gombong
Penambahan Jalur Jalan Tol Jakarta Cikampek
Pembangunan Jalan Tol Kota Bandung (BIUTR)
ENERGI
Pipa Cirebon-Bekasi 220 km
KETENAGALISTRIKAN
PLTU Cirebon 660 MW
PLTU Pelabuhan Ratu 350 MW
PLTU Pelabuhan Ratu 350 MW
PLTM Pelabuhan Ratu 350 MW
PLTM Cianten 2 5 MW
PLTM Cikaso 5 MW
PLTM Cirompang 8 MW
PLTM Cikaniki 1 3 MW
PLTM Cikaniki 2 3 MW
PLTM Cisanggiri 3 MW
PLTM Pakenjeng Atas 4 MW
PLTM Pakenjeng Bawah 6 MW
PLTP Patuha 55 MW
PLTM Cibatarua 5 MW
PLTM Citaraje 3 MW
PLTM Cianten 1 2 MW
PLTM Cilaki 7 MW
PLTM Cimandiri 3 MW
PLTP Patuha 55 MW

VII - 39

Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
PLTM Cijampang 1 1 MW
PLTM Cibalapulang 9 MW
PLTM Cibalapulang-2 7 MW
PLTM Cibalapulang-3 6 MW
PLTM Cilaki 1A 3 MW
PLTM Cilaki 1B 10 MW
PLTM Cikopo-2 6 MW
PLTM Ciasem 3 MW
PLTM Cicatih 6 MW
PLTP Wayang Windu 110 MW
PLTP Kamojang 30 MW
PLTP Karaha Bodas 30 MW
PLTA Rajamandala 47 MW
PLTP Patuha 55 MW
PLTP Cibuni 10 MW
PLTA Jatigede 55 MW
PLTA Jatigede 55 MW
PLTM Kalapa Nunggal 3 MW
PLTM Cikandang 6 MW
PLTP Tangkuban Perahu 2 30 MW
PLTU Jawa-1 1 MW
PS Upper Cisokan Pump Storage 260 MW
PS Upper Cisokan Pump Storage 260 MW
PS Upper Cisokan Pump Storage 260 MW
PS Upper Cisokan Pump Storage 260 MW
PLTU Jawa-3 660 MW
PLTP Kamojang 60 MW
PLTP Karaha Bodas 55 MW
PLTP Karaha Bodas 55 MW
PLTP Tangkuban Perahu 2 30 MW
PLTP Wayang Windu 110 MW
PLTP Cisolok-Cisukarame 50 MW
PLTUIndramayu-4 1 MW
PLTU Jawa-3 660 MW
PLTU Jawa-5 1 MW
PLTP Tangkuban Perahu 1 55 MW
PLTP Tangkuban Perahu 1 55 MW
PLTP Tampomas 45 MW
PLTP Cisolok-Cisukarame 55 MW
PLTU Jawa-5 1 MW
PLTP Gn Ciremai 55 MW
PLTP Gn Ciremai 55 MW
PLTP Cisolok-Cisukarame 55 MW

VII - 40

Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
PLTU Indramayu-5 1 MW
SUMBER DAYA AIR
Pembangunan Waduk Ciawi (2015-2018) Bogor
Revitalisasi Situ - Jawa Barat (25 Situ)
Pembangunan SPAM Air Baku Kali Baru Barat dan Kali Baru Timur Bogor
Pembangunan DI Sadawarna Subang, Indramayu
Rehabilitasi Jaringan Irigasi SS Sukamandi Cs, SS Jengkol Cs, SS Gadung Cs, SS
Rancabango Cs, dan SS Beres - Kab Subang (Loan World Bank - WISMP2)
Bekasi
Pembebasan Tanah untuk Floodway Cisangkuy Bandung
Pembangunan Floodway Cisangkuy Bandung
Pembangunan Retensi Cieunteung Bandung
Pembangunan relokasi tanggul s. Citarum Hilir, desa Teluk Buyung Kab.
Karawang
Pembebasan lahan untuk pembangunan tanggul s. Citarum Hilir, desa Pantai
Sederhana Kab. Bekasi
Pembangunan tanggul s. Citarum Hilir, desa Pantai Sederhana Kab. Bekasi
Sodetan Sungai Cilamatan Ds. Wanasari Kec Cipunagara Subang
Pembebasan Lahan untuk rehabilitasi 4 anak sungai - Loan JICA IP-559
Bandung
Upper Citarum Basin Flood Management (Loan JICA IP-559) Bandung
Peningkatan Kapasitas Sungai Citarum Hulu Rancamanyar s/d Nanjung
Bandung
Pembebasan Lahan untuk peningkatan kapasitas s. Citarum Hilir
Peningkatan Kapasitas Sungai Citarum Hilir dari s. Cikao s/d Muara Gembong
Bandung
Pembangunan Check Dam di Sungai Cipamingkis Bogor
Pembangunan Waduk Tegal Luar Bandung
Pembangunan Waduk Santosa Bandung
Pembangunan Waduk Sadawarna Bandung
Pembangunan Waduk Cimeta Bandung
Pembangunan Waduk Sukawana Bandung
Pembangunan Waduk Cikapundung Bandung
Pembangunan Waduk Citarik Bandung
Rehabilitasi Saluran Tarum Barat ruas Curug - Cibeet (Loan ADB - ICWRMIP)
Karawang
Rehabilitasi Saluran Tarum Barat ruas Cibeet - Bekasi (Loan ADB - ICWRMIP)
Bekasi
Rehabilitasi Saluran Tarum Barat ruas Bekasi-Cawang Bekasi
Operasi dan Pemeliharaan Sungai Citarum Hulu Sapan-Nanjung dan Anak-anak
Sungai Citarum Hulu Bandung
Pembangunan Jaringan Irigasi DI. Leuwigoong AMS-19A Garut
Pembangunan Jaringan Irigasi DI. Leuwigoong AMS-19B Garut
Perbaikan Irigasi Kecil 78 Desa Provinsi Jawa Barat

VII - 41

Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
Pengerukan Lembah Putri di Muara Sungai Ciputrapinggan Kab. Pangandaran
Perbaikan dan Pengaturan Sungai Cikidang di Ds. Babakan Kec. Pangandaran
Kab. Pangandaran Kab. Pangandaran
Pembangunan Acces Road Matenggeng Ciamis/Cilacap
Pembangunan Perkantoran Waduk Matenggeng Ciamis/Cilacap
Pembangunan Waduk Matenggeng Ciamis/Cilacap
Pembebasan Tanah Bendungan Matenggeng Kab. Ciamis/ Kab. Cilacap
Pembangunan Pipa Transmisi Air Baku Tasikmalaya, Ciamis, Cilacap,
Banyumas






VII - 42

GAMBAR 7.6


VII - 43

7.6.1.3 Provinsi Jawa Tengah

TABEL 7.10
KEGIATAN STRATEGIS INFRASTRUKTUR JANGKA MENENGAH NASIONAL
DI PROVINSI JAWA TENGAH

Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
KERETA API
Pembangunan Jalur Ganda Lintas Selatan Jawa Purwokerto - Kroya
Pembangunan Jalur Ganda Lintas Selatan Jawa Lanjutan Kroya - Kutoarjo
Lanjutan elektrifikasi jalur KA antara Yogyakarta - Solo
Elektrifikasi jalur KA antara Kutoarjo - Yogyakarta
Pembangunan shortcut Solokota - Solo jebres
Lanjutan reaktivasi jalur KA antara Kedungjati - Tuntang dan peningkatan jalur
KA antara Tuntang - Ambarawa
Reaktivasi jalur KA antara Yogyakarta - Magelang dan Magelang - Ambarawa
Pembangunan jalur KA layang antara Jerakah - Semarang Poncol - Semarang
Tawang - Alastua (perkotaan Semarang) termasuk flyover Kaligawe
Peningkatan jalur KA menuju Pelabuhan Cilacap
Reaktivasi jalur KA antara Semarang Gudang - Pelabuhan Tanjung Mas
PERHUBUNGAN DARAT
Pengembangan Sistem Transit Kota Semarang
Pengembangan Semi BRT Kota Surakarta
PERHUBUNGAN UDARA
Pengembangan Bandara Ahmad Yani Semarang
PERHUBUNGAN LAUT
Pembangunan Pelabuhan Wonogiri di Kecamatan Paranggupito
Pengembangan Pelabuhan Kendal
Pengembangan Pelabuhan Tanjung Emas
JALAN
Pembangunan Fly Over Kali Banteng (Menuju Pelabuhan Tanjung Emas)
Pembangunan Jalan akses Pelabuhan Penyeberangan Kendal
Pembangunan Jalan Baru dari Desa Baseh menuju PLTG WKP Baturaden
Pembangunan Jalan Bypass Brebes-Tegal
Pembangunan Jalan Carikan - Deyangan - Bumihargo - Borobudur
Pembangunan Jalan Kb. Agung-Wanayasa-Dieng-Wonosobo
Pembangunan Jalan Lingkar Sumpiuh Kab. Banyumas
Pembangunan Jalan Lintas Pantai Selatan Jawa Tengan (Slarang-Jladri-Mawar-
Congot)
Pembangunan Jalan Rembang - Blora-Batas Jatim
Pembangunan Jalan Surakarta-Sukoharjo-Wonogiri
Pembangunan Jalan Tol Batang Semarang (75km)
Pembangunan Jalan Tol Pejagan - pemalang (57,5 km)
Pembangunan Jalan Tol Pemalang Batang (39,20 km)

VII - 44

Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
Pembangunan Jalan tol Semarang - Solo
Pembangunan Jalan Wonogiri-Ngadirejo-Biting
ENERGI
Pipa Cirebon-Semarang 230 KM
FSRU Jawa Tengah 550 mmcfd
Pipa Kepodang-TambakLorok 250 KM
KETENAGALISTRIKAN
PLTU Tanjung Jati B-#4 660 MW
PLTU Adipala/Cilacap 660 MW
PLTM Logawa Baseh 3 MW
PLTM Logawa Sunyalangu 2 MW
PLTG Semarang 150 MW
PLTM Bendosari 4 MW
PLTM Pugeran 6 MW
PLTM Ambal 2 MW
PLTM Banjaran /Kbnmanis 2 MW
PLTM Logawa Babakan 1 MW
PLTM Karangpelem 2 MW
PLTM Palumbungan 2 MW
PLTP Dieng 55 MW
PLTP Dieng 60 MW
PLTU Cilacap exp 600 MW
PLTA Karangkates 100 MW
PLTU Jawa Tengah (PPP) 950 MW
PLTU Jawa Tengah (PPP) 950 MW
PLTP Ungaran 55 MW
PLTP Baturaden 110 MW
PLTP Dieng 55 MW
PLTP Ungaran 30 MW
PLTP Baturaden 110 MW
PLTP Ungaran 55 MW
PLTP Guci 55 MW
PLTP Candi Umbu-Telomoyo 55 MW
PLTP Gunung Lawu 55 MW
PLTP Dieng 55 MW
PLTU Jawa-4 1 MW
PS Matenggeng PS 225 MW
PS Matenggeng PS 225 MW
PLTP Ungaran 55 MW
PLTP Gunung Lawu 55 MW
PLTU Jawa-4 1 MW
PS Matenggeng PS 225 MW
PS Matenggeng PS 225 MW

VII - 45

Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
SUMBER DAYA AIR
Rehabilitasi DI Pemali (27.482 Ha) Kab Tegal - Brebes
Rehabilitasi DI Klambu (37.451 Ha) Kab Grobogan - Demak
Revitalisasi Irigasi Tambak WS pemali Juana
Pembangunan Bendung Karet Tondomulyo Kab Pati Kab Pati
Normalisasi dan Perkuatan Tebing Sistem Sungai Jragung Kab Demak
Grobogan
Perkuatan Tebing Sungai Serang Kab Demak - Grobogan
Normalisasi dan Perkuatan Tebing Sungai BKT Kota Semarang - Kab. Demak
Normalisasi dan Perkuatan Tebing Sungai Wulan Kab Kudus dan Demak
Normalisasi dan Perkuatan Tebing Sungai Lusi Kab Blora
Perkuatan Tebing Sungai Comal Kab. Pemalang
Perkuatan Tebing Sungai Pemali Kab. Brebes
PEMBANGUNAN PENGAMAN PANTAI KEDUNG SEMAT Kab Jepara, Ds
Kedungmalang, Kalianyar, Surodadi, Panggung, Bulakbaru, Tanggultlare, Semat.
Pelaksanaan Konstruksi Bendungan Logung kab Kudus Desa Tanjungrejo,
Kecamatan Jekulo
Pembangunan Embung Gondanglegi dan Embung Pelemputih Kab Boyolalai
Pembangunan Embung Coyo dan Embung Tirto Kab Grobogan
Rekondisi Rawa Pening Kab Semarang
Pembangunan Jaringan Air Baku Petanglong (Tahap I dan Tahap II) Kab
Pemalang, Pekalongan
Pembangunan Jaringan Air Baku Dadi Muria Kab Kudus, Purwodadi
Pembangunan Jaringan Air Baku Semarsalat Kab Semarang, Salatiga
Penyempurnaan SAB Klambu Kudu Kab Demak, Grobogan, Semarang
Pembangunan/peningkatan DI Slinga Purbalingga
Rehabilitasi DI Serayu Banyumas, Cilacap Kebumen
Rehabilitasi DI Wadaslintang Kebumen, Purworejo
Peningkatan kapasitas dan normalisasi Sungai Serayu dan anak Sungainya
(Sungai Serayu, Sungai Merawu, Kali Sapi, Sungai Klawing, Sungai Pekacangan)
Wonosobo, Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas
Peningkatan kapasitas dan normalisasi Sungai Luk Ulo dan anak sungainya
Wonosobo, Kebumen
Peningkatan kapasitas, perkuatan tebing dan pintu klep Sungai Wawar dan
anak sungainya Kebumen, Purworejo
Peningkatan kapasitas, perkuatan tebing dan pintu klep Sungai Bogowonto dan
anak sungainya Wonosobo, Purworejo
Peningkatan, perkuatan tebing dan Pintu Klep Sungai Progo dan anak
sungainya Temanggung, Magelang, Sleman, Yogyakarta, Bantul
Rehabilitasi, peningkatan kapasitas dan perkuatan tebing Sungai Serayu dan
anak Sungainya (Sungai Serayu, Sungai Merawu, Kali Sapi, Sungai Klawing,
Sungai Pekacangan) Wonosobo, Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas
Rehabilitasi, peningkatan kapasitas dan perkuatan tebing Sungai Tipar /
Bengawan dan anak sungainya Cilacap, Banyumas, Kebumen
Rehabilitasi, peningkatan kapasitas dan perkuatan tebing Sungai Ijo dan anak

VII - 46

Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
sungainya Cilacap, Banyumas, Kebumen
Rehabilitasi, peningkatan kapasitas dan perkuatan tebing Sungai Telomoyo
dan anak sungainya Kebumen
Rehabilitasi, peningkatan dan perkuatan tebing Sungai Wawar dan anak
sungainya Kebumen, Purworejo
Rehabilitasi, peningkatan dan perkuatan tebing Sungai Cokroyasan dan anak
sungainya Kebumen, Purworejo
Rehabilitasi, peningkatan dan perkuatan tebing Sungai Bogowonto dan anak
sungainya Wonosobo, Purworejo
Rehabilitasi, peningkatan dan perkuatan tebing Sungai Progo dan anak
sungainya Temanggung, Magelang, Sleman, Yogyakarta, Bantul
Pembangunan Sabo/DAM Pengendali Sedimen Boyolali, Magelang, Klaten
Pembangunan Diversion Channel Kali Putih Magelang
RehabilitasiSabo/DAM Pengendali Sedimen di Jateng Boyolali, Magelang, Klaten
Pembangunan Waduk Bener Purworejo dan Wonosobo
Pembangunan Waduk Gintung Banjarnegara
Pembangunan Waduk Wanadadi / Punggelan Banjarnegara
Pembangunan Waduk Pasuruan Magelang
Pembangunan embung kecil / telaga Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara,
Wonosobo, Kebumen, Purworejo
Pembangunan SPAM Regional Keburejo Kebumen, Purworejo
Pembangunan SPAM Regional Purbamas Purbalingga, Banyumas, Banjarnegara
Pembangunan SPAM Wononegara Wonosobo, Banjarnegara
Pemeliharaan Sungai WS Serayu Bogowonto
O & P Sabo/DAM Pengendali Sedimen di Jateng Boyolali, Magelang, Klaten
Normalisasi Alur Sungai Cibeureum Kab. Cilacap
Normalisasi Alur Sungai Cihaur Kab. Cilacap















VII - 47

GAMBAR 7.7


VII - 48

7.6.1.4 Provinsi DI Yogyakarta

TABEL 7.11
KEGIATAN STRATEGIS INFRASTRUKTUR JANGKA MENENGAH NASIONAL
DI PROVINSI DI YOGYAKARTA

Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
PERHUBUNGAN DARAT
Pengembangan Sistem Transit Kota Yogyakarta
PERHUBUNGAN UDARA
Pembangunan bandara internasional di Propinsi DI Yogyakarta
Pembangunan Jalan Lintas Pantasi Selatan Jawa (Temon-Bugel-Girijati-Baron-
Jepitu-Jerukwudel)
Pembangunan Jalan Lingkar Kota Yogyakarta
Pembangunan Jalan Tol Solo - Yogyakarta
SUMBER DAYA AIR
Peningkatan kapasitas, perkuatan tebing dan pintu klep Sungai Opak dan anak
sungainya Gunung Kidul, Bantul
Rehabilitasi, peningkatan dan perkuatan tebing Sungai Serang dan anak
sungainya Kulon Progo
Rehabilitasi, peningkatan dan perkuatan tebing Sungai Opak dan anak
sungainya Gunung Kidul, Bantul
Pembangunan Sabo/DAM Pengendali Sedimen Sleman
Pembangunan Kantong Lahar Kali Gendol Sleman
Consulting Service Urgent Disaster Merapi
RehabilitasiSabo/DAM Pengendali Sedimen di DIY Sleman
Pembangunan Jetty Glagah Kulon Progo
Rehabilitasi Muara sungai dan Jetty di WS POS Kulon Progo, Bantul
Pembangunan Waduk Karang Talun Sleman
Pembangunan Long Storage Karang Talun dan Kali Bawang Sleman, Kulon
Progo
Pembangunan Waduk Gari Gunung Kidul
Pembangunan embung kecil / telaga Gunungkidul, Sleman, Kulon Progo,
Temanggung, Magelang












VII - 49

GAMBAR 7.8

VII - 50

7.6.1.5 Provinsi Jawa Timur

TABEL 7.12
KEGIATAN STRATEGIS INFRASTRUKTUR JANGKA MENENGAH NASIONAL
DI PROVINSI JAWA TIMUR

Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
KERETA API
Pembangunan Jalur Ganda Lintas Selatan Jawa Solo - Paron
Pembangunan Jalur Ganda Lintas Selatan Jawa Paron - Madiun
Pembangunan Jalur Ganda Lintas Selatan Jawa Madiun - Surabaya
Pembangunan jalur KA antara Tulangan - Gununggangsir
Pengembangan KA perkotaan Surabaya (jalur ganda, elektrifikasi) termasuk
akses jalur KA menuju Bandara Juanda
Pembangunan jalur ganda antara Bangil - Banyuwangi
Reaktivasi jalur KA antara Jombang - Babat - Tuban
Reaktivasi jalur KA antara Kalisat - Situbondo - Panarukan
Pembangunan jalur KA antara Kandangan - Pelabuhan Teluk Lamong
Pembangunan MRT Surabaya (Boyo Rail)
Pembangunan LRT Surabaya (Suro Tram)
PERHUBUNGAN DARAT
Pengembangan Sistem Transit Kota Surabaya
Pengembangan Sistem Transit Kota Malang
PERHUBUNGAN UDARA
Pengembangan terminal penumpang Bandara Djuanda
PERHUBUNGAN LAUT
Pengembangan Pelabuhan Tanjung Perak
Pengembangan Pelabuhan Probolinggo
Pembangunan Pelabuhan Petikemas Bojonegara
Pengembangan Pelabuhan Branta
Pengembangan Pelabuhan Lamongan
Pembangunan Terminal Multi Purpose Teluk Lamong Tahap I
JALAN
Pembangunan Jalan Bangkalan - Tj Bumi-Ketapang-Sotobar-Sumenep
Pembangunan Jalan Bonojegoro-Cepu
Pembangunan Jalan Lingkar Sidoarjo
Pembangunan Jalan Lintas Pantai Selatan Jawa Timur (Jarit-Puger-Glenmore)
Pembangunan Jalan Lintas Pantai Selatan Jawa Timur (Talok-Wonorogo-
Ngrejo-Prigi-Panggul)
Pembangunan Jalan menuju Bts di Probolinggo, Sukapura - Cemoro Lawang -
Lautan Pasir
Pembangunan Jalan Prigi-Durenen
Pembangunan Jalan Ptg Bunder - Krian
Pembangunan Jalan Situbondo-Garduatak-Silapak-Ketapang-Banyuwangi

VII - 51

Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
Pembangunan Jalan Tol Gempol - Pandaan
Pembangunan Jalan Tol Kertosono Mojokerto (40,05 km)
Pembangunan Jalan Tol Pandaan - Malang
Pembangunan Jalan Tol Pasuruan - Probolinggo 45,32 Km
Pembangunan Jalan Tol Probolinggo - Banyuwangi 215 Km
Pembangunan Jalan Tol Solo - Kertosono
Pembangunan Jalan Tol Surabaya Gempol - Pasuruan 32 Km
Pembangunan Jalan Tol Surabaya-Mojokerto 36,27 km
Pembangunan Jalan Treggalek-Dengok-Ponorogo-Madiun
Pembangunan Jalan Waru - Wonokromo - Tj.Perak
Pembangunan Flyover Dalam Kota (Wonokromo, Kenjeran, Demak Kalibutuh,
Jemur Sari, Letjen Sutoyo, Raya Darmo, Waru)
Pembangunan Jalan Tol Lingkar Timur Surabaya
Pembangunan Jalan Tol Akses Pelabuhan Bulu Pandan
ENERGI
Kilang minyak 300 MBCD
Pipa Gresik-Semarang 250 km
FSRU Jawa Timur 150 mmcfd
KETENAGALISTRIKAN
PLTU Paiton-9 660 MW
PLTU Pacitan 315 MW
PLTU Paiton 3 Exp 815 MW
PLTU Pacitan 315 MW
PLTU Tj. Awar-awar 350 MW
PLTU Tj. Awar-awar 350 MW
PLTGB Bawean 3 MW
PLTG Grati 150 MW
PLTG Grati 150 MW
PLTGB Bawean 3 MW
PLTGU Jawa-1 500 MW
PLTM Pacet 2 MW
PLTGU Jawa-1 250 MW
PLTU Madura 200 MW
PLTU Madura 200 MW
PLTA Kalikonto 62 MW
PLTA Kesamben 37 MW
PLTP Iyang Argopuro 55 MW
PLTP Iyang Argopuro 110 MW
PLTP Wilis/Ngebel 55 MW
PLTP Iyang Argopuro 110 MW
PLTP Wilis/Ngebel 55 MW
PLTP Ijen 55 MW
PLTP Ijen 55 MW

VII - 52

Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
PLTP Wilis/Ngebel 55 MW
PLTP Arjuno Welirang 55 MW
PLTP Arjuno Welirang 55 MW
PLTGU Jawa-2 750 MW
Pembangunan Tanjung Bulu Pandan
Pembangunan Bendungan Tugu Kabupaten Trenggalek
Pembangunan Bendungan Semantok II Kabupaten Nganjuk
Pembangunan Bendungan Lesti III Kabupaten Malang
Pembangunan Bendungan Bagong Kabupaten Trenggalek
Pembangunan Bendungan Genteng I Kabupaten Malang
Pembangunan Bendungan Kedung Warak Kabupaten Nganjuk
Pembangunan Bendungan Kampak Kabupaten Trenggalek
Pembangunan Bendungan Sumber Agung Kabupaten Kediri
Pembangunan Waduk Blega Kab. Bangkalan
Pembangunan Waduk Gongseng Bojonegoro
Pembangunan Waduk Tukul Pacitan
Pembangunan Waduk bendo Kab. Ponorogo
Lower Solo River Improvement Project Phase 2 Bojonegoro, Lamongan,
Gresik

















VII - 53

GAMBAR 7.9





VII - 54

7.6.1.6 Provinsi Banten

TABEL 7.13
KEGIATAN STRATEGIS INFRASTRUKTUR JANGKA MENENGAH NASIONAL
DI PROVINSI BANTEN

Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
KERETA API
Pembangunan shortcut Lintas Tangerang
Pembangunan jalur ganda KA dan elektrifikasi antara Maja - Rangkasbitung
Merak
Pembangunan jalur KA antara Tonjong - Pelabuhan Bojonegara
Reaktivasi jalur KA antara Cilegon - Anyer Kidul (termasuk mendukung
konektivitas dengan rencana pembangunan jembatan selat sunda)
Reaktivasi jalur KA antara Rangkasbitung - Labuan
PERHUBUNGAN DARAT
Pengembangan Sistem Transit Kota Tanggerang
Pengembangan Sistem Transit Kota Tanggerang Selatan
Pengembangan Sistem Transit Kota Serang
PERHUBUNGAN UDARA
Pembangunan Terminal 3 dan pengembangan Bandara Soekarno-Hatta
Pembangunan Bandara Banten Selatan
JALAN
Pembangunan Jalan Cikande - Rangkasbitung
Pembangunan Jalan Cikande Serang Cilegon
Pembangunan Jalan Cilegon - Bojonegara - Merak
Pembangunan Jalan Cilegon- Pasauran
Pembangunan Jalan Cipanas-Warung banten - Bayah
Pembangunan Jalan Tanjung Lesung - Sumur (24 Km)
Pembangunan Jalan Lingkar Selatan Cilegon
Pembangunan Jalan penghubung Kawasan Pariwisata Tanjung Lesung (Jalur
Karet - Panjang 6,5 Km, Jalur Cipanon - Panjang 0,42 Km, Jalur Panjang -
Cipenyu 5,3 Km)
Pembangunan Jalan Serang - Bojonegara - Merak
Pembangunan Jalan Tol Cengkareng - Kunciran (JORR 2)
Pembangunan Jalan Tol Cilegon Bojonegara
Pembangunan Jalan Tol Kunciran Serpong
Pembangunan Jalan Tol Panimbang - Serang
Pembangunan Jalan Tol Serpong-Cinere 10,1 km (JORR 2)
KETENAGALISTRIKAN
PLTU Lontar 315 MW
PLTU Lontar 315 MW
PLTM Cisono 3 MW
PLTM Cikotok 4 MW

VII - 55

Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
PLTM Situmulya 3 MW
PLTM Cikidang 2 MW
PLTM Cisungsang II 3 MW
PLTM Karang Ropong 6 MW
PLTM Cisimeut 2 MW
PLTM Bulakan 10 MW
PLTU Lontar Exp 315 MW
PLTU Banten 625 MW
PLTM Cidano 2 MW
PLTP Rawa Dano 110 MW
PLTP Endut 55 MW
PLTU Jawa-6 2 MW
SUMBER DAYA AIR
Pembangunan Waduk Sindang Heula Kab. Serang
Pembangunan Waduk Karian Kab. Lebak
Pengadaan dan Pemasangan Pintu Air Bendung Pasar Baru TANGERANG





















VII - 56

GAMBAR 7.10





VII - 57

7.6.1.7 Provinsi Bali

TABEL 7.14
KEGIATAN STRATEGIS INFRASTRUKTUR JANGKA MENENGAH NASIONAL
DI PROVINSI BALI

Kegiatan Strategis Infrastruktur Jangka Menengah Nasional
KERETA API
Pembangunan KA Bandara Ngurah Rai
PERHUBUNGAN DARAT
Pengembangan Sistem Transit Kota Denpasar
PERHUBUNGAN UDARA
Pembangunan Bandara Bali Utara
PERHUBUNGAN LAUT
Pengerukan alur di Pelabuhan Benoa
Pengembangan Pelabuhan Celukan Bawang di Kab Buleleng
Pengembangan Pelabuhan pariwisata/cruise Tanah ampo
JALAN
Pembangunan Jalan Antasari - Seririt
Pembangunan Jalan Buahan - Trunyan
Pembangunan Jalan Canggu-Beringkit-Batuan-Pantai Pumana
Pembangunan Jalan Canggu-Denpasar
Pembangunan Jalan Culali - Toya Mul
Pembangunan Jalan Denpasar-Gilimanuk
Pembangunan Jalan Kayuselem - Pradi A
Pembangunan Jalan Kubu Tambahan - Singaraja - Seririt - Celukan Bawang
Pembangunan Jalan Malet - Malet Kuta Mesir
Pembangunan Jalan Mengwitani-Singaraja
Pembangunan Jalan P . Nusa Penida
Pembangunan Jalan Penelokan - Yeh Mampeh
Pembangunan Jalan Penulisan - Blandingan (4 Km)
Pembangunan Jalan Saketi - Simpang
Pembangunan Jalan Soka-Sririt
Pembangunan Jalan Songan - Alengkong - Bukit Sari
Pembangunan Jalan Songan - Blandingan
Pembangunan Jalan Tohpati Kosamba
Pembangunan Jalan Tol Kusamba-Padangbai
Pembangunan Jalan Yehamampeh - Dalem Belingkang
KETENAGALISTRIKAN
PLTU Bali Utara/Celukan Bawang 130 MW
PLTU Bali Utara/Celukan Bawang 125 MW
PLTU Bali Utara/Celukan Bawang 125 MW
PLTM Telagawaja 4 MW
PLTG Pesanggaran 50 MW

VII - 58

PLTG Pesanggaran 50 MW
PLTG Pesanggaran 50 MW
PLTP Bedugul 10 MW
SUMBER DAYA AIR
Pembangunan Waduk Titab Kab. Buleleng
Bali Beach Conservation Program Phase II


7.6.2 Kerangka Regulasi
Pelaksanaan pembangunan Wilayah Pulau Jawa-Bali tidak terlepas dari
berbagai kerangka regulasi yang perlu diperhatikan, diantaranya:
a. Pelimpahan kewenangan perijinan pusat kepada pengelola KEK Tanjung
Lesung.
b. Penyelesaian peninjauan kembali Perpres No. 28/2012 tentang RTR Pulau
Jawa-Bali.

7.6.3 Kerangka Kelembagaan
Pelaksanaan pembangunan Wilayah Pulau Jawa-Bali tidak terlepas dari
berbagai kerangka kelembagaan yang perlu diperhatikan, diantaranya:
a. Pelayanan terpadu satu pintu di bidang investasi.
b. Peningkatan kemampuan pengelolaan investasi di KEK Tanjung Lesung.
c. Meningkatkan kualitas hubungan industrial antara tenaga kerja, serikat
pekerja, dan perusahaan.
d. Promosi pariwisata dan industri mikro kecil menengah KEK Tanjung
Lesung kepada investor luar/dalam negeri untuk menarik minat para
investor.
e. Pengembangan koordinasi Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional
(BKPRD) Provinsi di Pulau Jawa-Bali dalam melaksanakan pemanfaatan dan
pengendalian pemanfaatan ruang Pulau.




VII - 59

GAMBAR 7.11


7.7
RANCANGAN TEKNOKRATIK
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA
MENENGAH NASIONAL
2015 2019
BUKU III
ARAH PENGEMBANGAN WILAYAH
PULAU SUMATERA
KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL /
BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL
BAPPENAS
2014
VIII - 1

BAB VIII
ARAH PENGEMBANGAN WILAYAH PULAU SUMATERA

8.1 Capaian Kinerja Saat Ini
Berdasarkan data BPS dari tahun 2009 hingga Triwulan II tahun 2014,
kinerja pertumbuhan ekonomi provinsi di Wilayah Pulau Sumatera
mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun. Namun demikian, rata-rata
pertumbuhan ekonomi Wilayah Pulau Sumatera selama kurun waktu 2009-
2013 sebesar 6,74 persen atau sudah berada diatas rata-rata pertumbuhan
ekonomi nasional sebesar 5,9 persen. Peranan Wilayah Pulau Sumatera
dalam pembantukan PDB nasional mengalami peningkatan dari 23,5 persen
(2009) menjadi 23,74 persen (Triwulan II 2014).
Pemerintah Provinsi di Wilayah Pulau Sumatera telah cukup berhasil dalam
menurunkan jumlah penduduk miskin dari tahun 2009 hingga 2014 (Maret)
dan sudah berada di bawah angka kemiskinan nasional sebesar 14,15 persen
(2009) dan 11,25 persen (Maret 2014). Demikian halnya dengan pencapaian
tingkat pengangguran terbuka (TPT), Pemerintah Provinsi di Wilayah Pulau
Sumatera juga telah berhasil menurunkan TPT dan sudah di bawah TPT
nasional sebesar 7,87 persen (2009), kecuali Provinsi Aceh, Sumatera Utara,
Sumatera Barat, Riau, dan Sumatera Selatan; dan 5,70 persen (Feb, 2014),
kecuali di Provinsi Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat yang masih
berada di atas TPT Nasional.
Dari sisi peningkatan kualitas sumber daya manusia, maka di Wilayah Pulau
Sumatera ini telah dikatakan sudah cukup baik. Hal ini diindikasikan dengan
selalu meningkatnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dari tahun ke
tahun pada masing-masing provinsi di Wilayah Pulau Sumatera. Namun
demikian, pencapaian IPM di Provinsi Lampung masih perlu ditingkatkan
karena masih di bawah IPM nasional yaitu sebesar 71,76 (2009) dan 73,81
(2013).
Dari sisi distribusi pendapatan antar golongan masyarakat, seluruh provinsi
di Wilayah Pulau Sumatera mengalami kenaikan kesenjangan pendapatan
antar golongan. Hal ini diindikasikan dari angka Rasio Gini provinsi-provinsi
di Wilayah Pulau Sumatera yang cenderung meningkat pada tahun 2013
dibandingkan dengan tahun 2009. Namun, rasio gini Wilayah Pulau Sumatera
sudah berada dibawah rasio gini nasional yaitu 0,413 (2013). Ke depan, hal
ini perlu mendapatkan perhatian agar proses pembangunan terus lebih
melibatkan masyarakat secara inklusif, sehingga hasil-hasil pembangunan
tersebut dapat dinikmati secara merata oleh masyarakat.
VIII - 2

8.2 Potensi dan Keunggulan Wilayah
Perekonomian Wilayah Pulau Sumatera ditopang oleh beberapa sektor
utama yaitu pertanian terutama perkebunan, pertambangan dan penggalian, serta
industri pengolahan.
Potensi perkebunan Wilayah Pulau Sumatera cukup melimpah terutama
pada komoditas kelapa sawit. Sebesar 70 persen lahan penghasil kelapa
sawit nasional berada di Wilayah Pulau Sumatera, dengan produksi kelapa
sawit di tahun 2013 mencapai 18.895.449 ton per tahun atau 68,10 persen
dari jumlah produksi kelapa sawit di Indonesia. Sementara itu, Wilayah Pulau
Sumatera juga menjadi produsen karet di Indonesia dengan kontribusi
sebesar 65 persen dari produksi karet nasional serta memiliki 14 persen
luasan lahan perkebunan karet nasional. Dalam perkembangannya, karet
yang diproduksi kemudian menjadi konsumsi bagi 15 persen industri hilir
nasional.
Sektor pertambangan dan penggalian yaitu batu bara, gas bumi dan minyak
bumi cukup berlimpah. Perkembangan produksi batu bara nasional tahun
2004-2011 meningkat dengan produksi batubara hingga akhir tahun 2011
mencapai 290 juta ton. Total sumberdaya batubara nasional tahun 2011
adalah sebanyak 105.187,44 juta ton, yang sebagian besar terdapat di
Wilayah Pulau Sumatera sebanyak 52.483,2 juta ton atau sebesar 49,89
persen dari total cadangan batubara nasional.
Potensi bahan tambang di Wilayah Pulau Sumatera lainnya yaitu biji timah,
bauksit (biji alumunium), dan kaolin. Kandungan timah Indonesia
merupakan salah satu yang terbesar di dunia. Indonesia memasok sekitar 30
persen dari kebutuhan timah dunia dengan 27 persen di antaranya berasal
dari Provinsi Bangka Belitung. Komoditas timah terdapat di Sungai Liat
(Pulau Bangka), Manggara (Pulau Belitung), Dabo (Pulau Singkep), Provinsi
Kepulauan Riau, dan Bangkinan (Provinsi Riau). Sementara itu,
penambangan bauksit atau bijih aluminium di Wilayah Pulau Sumatera
terdapat di Kepulauan Riau, dan Provinsi Bangka Belitung. Potensi kaolin di
Wilayah Pulau Sumatera juga cukup besar untuk dikembangkan dengan
potensi 34,9 persen dari cadangan nasional. Indonesia merupakan penghasil
kaolin terbesar ke-5 di dunia. Kandungan kaolin yang cukup besar di Wilayah
Pulau Sumatera terdapat di Provinsi Bengkulu sebesar 162,5 miliar ton dan
Sumatera Utara sebesar 91,8 miliar ton.
Lebih jauh lagi, pohon industri Kemenperin mengindikasikan bahwa
pengembangan klaster industri pengolahan timah dan aluminium akan
mampu mendukung industri manufaktur yang memproduksi barang
kompleks seperti elektronik, peralatan listrik, kendaraan bermotor, mesin
dan komponennya. Sementara itu, industri kaolin dapat dikembangkan lebih
VIII - 3

lanjut sebagai bahan baku dalam produksi barang kompleks pada industri
otomotif, industri elektronik, dan industri peralatan laboratorium.
Dalam konteks nasional, Wilayah Pulau Sumatera merupakan sentra
produksi dan pengolahan hasil bumi. Sektor industri pengolahan juga
memberikan kontribusi yang cukup besar pada perekonomian Wilayah Pulau
Sumatera tahun 2012 sebesar 19,48 persen. Persebaran industri pengolahan
yang berbasis komoditas unggulan di Wilayah Pulau Sumatera diantaranya:
industri kelapa sawit, industri karet dan barang dari karet di Provinsi
Sumatera Utara, Provinsi Sumatera Selatan dan Provinsi Bengkulu; Industri
pulp dan kertas di Provinsi Riau; Industri dasar besi dan baja dan industri
logam dasar bukan besi di Provinsi Sumatera Utara dan Provinsi Kepulauan
Bangka Belitung.

8.3 Tema Pengembangan Wilayah Pulau Sumatera
Berdasarkan potensi dan keunggulan Wilayah Pulau Sumatera, maka tema
besar Pembangunan Wilayah Pulau Sumatera sebagai "salah satu pintu
gerbang Indonesia dalam perdagangan internasional dan lumbung energi
nasional, diarahkan untuk pengembanganhilirisasi komoditas batu bara,
serta industri berbasis komoditas kelapa sawit, karet, timah, bauksit, dan
kaolin."

8.4 Tujuan dan Sasaran Pengembangan Wilayah Pulau Sumatera
Tujuan pengembangan Wilayah Pulau Sumatera tahun 2015-2019 adalah
mendorong percepatan dan perluasan pembangunan Wilayah Pulau Sumatera
dengan menekankan keunggulan dan potensi daerah, melalui: (a) pengembangan
hilirisasi komoditas batu bara, serta pengembangan industri berbasis komoditas
kelapa sawit, karet, timah, bauksit, dan kaolin; (b) penyediaan infrastruktur
wilayah; (c) peningkatan SDM dan ilmu dan teknologi secara terus menerus.
Adapun sasaran pengembangan Wilayah Pulau Sumatera pada tahun 2015-
2019 adalah sebagai berikut:
1. Dalam rangka percepatan dan perluasan pengembangan ekonomi Wilayah
Pulau Sumatera, akan dikembangkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di
koridor ekonomi dengan memanfaatkan potensi dan keunggulan daerah,
termasuk diantaranya adalah pengembangan 2 Kawasan Ekonomi Khusus
(KEK), 1 Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET), 21 Kawasan
Perhatian Investasi (KPI).
2. Sementara itu, untuk menghindari terjadinya kesenjangan antar wilayah di
Wilayah Pulau Sumatera, maka akan dilakukan pembangunan daerah
tertinggal dengan sasaran sebanyak 11 Kabupaten tertinggal dapat
VIII - 4

terentaskan dengan sasaran outcome: (a) meningkatkan rata-rata
pertumbuhan ekonomi di daerah tertinggal sebesar 6,3 persen; (b)
menurunnya persentase penduduk miskin di daerah tertinggal menjadi 10,13
persen; dan (c) meningkatnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di daerah
tertinggal sebesar 73,69.
3. Untuk mendorong pertumbuhan pembangunan kawasan perkotaan di
Sumatera, maka akan dipercepat pembangunan 2 Pusat Kegiatan Nasional
(PKN) perkotaan baru, peningkatan efisiensi pengelolaan 1 PKN perkotaan
yang sudah ada saat ini.
4. Sesuai dengan amanat UU 6/2014 tentang Desa, maka akan dilakukan
pembangunan perdesaandengan sasaran mengurangi jumlah desa tertinggal
menjadi 6 persen (2019).
5. Khusus untuk meningkatkan keterkaitan pembangunan kota-desa,
diharapkan dapat diwujudkan 8 pusat pertumbuhan baru perkotaan sebagai
Pusat Kegiatan Lokal (PKL) atau Pusat Kegiatan Wilayah (PKW).
6. Dalam rangka mewujudkan kawasan perbatasan sebagai halaman depan
negara yang berdaulat, berdaya saing, dan aman, maka akan dikembangkan
10 Pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN) sebagai pusat pertumbuhan
ekonomi kawasan perbatasan negara yang dapat mendorong pengembangan
kawasan sekitarnya.
7. Sasaran Otonomi Daerah adalah: (1) Meningkatnya proporsi penerimaan
pajak dan retribusi daerah sebesar 45% untuk propinsi dan 15% untuk
kabupaten/kota; (2) Meningkatnya proporsi belanja modal dalam APBD
propinsi sebesar 30% dan untuk Kabupaten/Kota sebesar 35% pada tahun
2019 serta sumber pembiayaan lainnya dalam APBD; (3) Meningkatnya
jumlah daerah yang mendapatkan opini wajar tanpa pengecualian (WTP); (4)
Terbentuknya kerjasama daerah diantara 10 daerah Sumatera dalam rangka
percepatan konektivitas dan peningkatan pelayanan publik; (5) Tersusunnya
Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang tepat fungsi dan ukuran sesuai
dengan karakteristik Wilayah Pulau Sumatera; (6) Meningkatnya kualitas
dan proporsi tingkat pendidikan aparatur sipil negara untuk jenjang S1
sebesar 75%, S2 sebesar 10%, dan S3 sebesar 5%; (7) Meningkatnya
implementasi pelaksanaan SPM di daerah, khususnya pada pendidikan,
kesehatan dan infrastruktur; (8) Meningkatnya implementasi pelaksanaan
Pilkada Serentak pada tingkat Provinsi di Sumatera pada tahun 2015 (93
Pilkada) dan 2018 (55 Pilkada) serta melakukan penyesuaian Pilkada lainnya
menjelang Pilkada Serentak Nasional 2020.
8. Sasaran Pengurangan Bencana adalah menurunnya indeks risiko bencana
pada 5 PKN (Kota Medan, Kota Padang, Kota Lhokseumawe, Banda Lampung,
Jambi) dan 15 PKW (Kota Banda Aceh, Langkat, Deli Serdang, Karo, Padang
Pariaman, Kepulauan Mentawai, Kota Bengkulu, Mukomuko, Rejang Lebong,
Banyuasin, Lahat, Lampung Barat, Tanggamus, Sarolangun, Kerinci) yang
VIII - 5

memiliki indeks risiko bencana tinggi, baik yang berfungsi sebagai KAPET,
KSN atau PKSN.
Sehubungan dengan sasaran tersebut, diharapkan pada akhir tahun 2019,
pembangunan Wilayah Pulau Sumatera semakin meningkat. Hal ini dicerminkan
dengan makin meningkatnya kontribusi PDRB Wilayah Pulau Sumatera terhadap
PDB Nasional, yaitu dari sekitar 23,9 persen (2014) menjadi 25,6 persen (2019).
Dengan demikian, kondisi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan
masyarakat di Sumatera. Secara rinci target pertumbuhan ekonomi, tingkat
kemiskinan dan pengangguran dalam kurun waktu 2015-2019 di Wilayah Pulau
Sumatera dapat dilihat pada Tabel 6.1 sampai dengan Tabel 6.3 sebagai berikut.
TABEL 8.1
SASARAN PERTUMBUHAN EKONOMI PER PROVINSI TAHUN 2015-2019

Provinsi Pertumbuhan Ekonomi (persen)
2015 2016 2017 2018 2019
Aceh 5,5 5,6 5,8 6,0 5,7 6,1 5,7 6,2 5,8 6,5
Sumatera Utara 6,1 6,3 6,6 6,8 6,7 7,1 6,9 7,5 7,1 7,9
Sumatera Barat 5,7 5,8 5,9 6,1 6,1 6,4 6,1 6,6 6,3 7,0
Riau 4,5 4,6 4,9 5,1 5,8 6,2 5,9 6,3 5,8 6,4
Kepulauan Riau 6,6 6,7 6,8 7,1 6,9 7,3 6,9 7,4 7,1 7,8
Jambi 6,9 7,0 6,9 7,2 6,9 7,3 7,1 7,6 7,5 8,2
Sumatera Selatan 5,8 5,9 6,0 6,2 6,1 6,4 6,2 6,7 6,2 6,9
Kep. Bangka Belitung 5,0 5,1 5,2 5,4 5,3 5,6 5,6 6,0 5,6 6,2
Bengkulu 5,8 6,0 6,0 6,3 6,0 6,4 6,3 6,8 6,5 7,2
Lampung 5,6 5,7 5,6 5,9 5,8 6,1 5,9 6,4 6,1 6,7
Sumber: Perhitungan Bappenas, 2014

TABEL 8.2
SASARAN TINGKAT KEMISKINAN PER PROVINSI TAHUN 2015-2019

Provinsi Tingkat Kemiskinan (persen)
2015 2016 2017 2018 2019
Aceh 16,2 15,9 14,9 14,3 13,6 12,8 12,3 11,4 11,0 10,0
Sumatera Utara 9,4 9,2 8,7 8,4 8,0 7,6 7,3 6,8 6,6 6,0
Sumatera Barat 6,7 6,6 6,2 6,0 5,7 5,4 5,2 4,8 4,7 4,3
Riau 7,0 6,8 6,4 6,1 5,8 5,5 5,2 4,8 4,7 4,2
Kepulauan Riau 5,1 5,0 4,6 4,5 4,3 4,1 3,8 3,5 3,4 3,0
Jambi 5,9 5,8 5,4 5,2 5,0 4,7 4,5 4,2 4,1 3,7
Sumatera Selatan 12,2 11,9 11,3 10,8 10,4 9,8 9,4 8,7 8,5 7,7
Kep. Bangka Belitung 3,9 3,8 3,6 3,5 3,3 3,1 3,0 2,7 2,6 2,4
Bengkulu 14,7 14,4 13,6 13,0 12,4 11,7 11,3 10,4 10,1 9,2
Lampung 14,6 14,3 13,6 13,0 12,5 11,8 11,4 10,5 10,3 9,3
Sumber: Perhitungan Bappenas, 2014


VIII - 6

TABEL 8.3
SASARAN TINGKAT PENGANGGURAN PER PROVINSI TAHUN 2015-2019

Provinsi Tingkat Pengangguran (persen)
2015 2016 2017 2018 2019
Aceh 9,1 9,0 8,9 8,5 8,5 8,1 8,2 7,6 8,0 7,2
Sumatera Utara 6,0 5,9 5,9 -5,6 5,7 5,4 5,5- 5,1 5,4 4,9
Sumatera Barat 6,0 5,9 5,9 5,7 5,7 5,4 5,5 5,1 5,4 4,9
Riau 5,3 5,2 5,1 4,9 4,9 4,6 4,6 4,3 4,5 4,0
Kepulauan Riau 6,4 6,3 6,1 5,9 5,9 5,5 5,6 5,2 5,4 4,8
Jambi 4,5 4,4 4,4 4,2 4,2 4,0 4,1 3,8 3,9 3,6
Sumatera Selatan 4,6 4,5 4,4 4,3 4,3 4,1 4,2 3,9 4,1 3,7
Kep. Bangka Belitung 4,4 4,3 4,2 4,1 4,1 3,9 3,9 3,6 3,8 3,4
Bengkulu 3,4 3,3 3,3 3,2 3,2 3,0 3,1 2,8 3,0 2,7
Lampung 5,3 5,2 5,1 4,9 5,0 4,7 4,9 4,5 4,7 4,3
Sumber: Perhitungan Bappenas, 2014

8.5 Arah Kebijakan dan Pengembangan Wilayah Pulau Sumatera
8.5.1 Pengembangan Kawasan Strategis
Kebijakan pembangunan kawasan strategis bidang ekonomi di Wilayah Pulau
Sumatera diarahkan menjadi pusat-pusat pertumbuhan ekonomi yang memiliki
skala ekonomi dengan orientasi daya saing nasional dan internasional berbasis
produksi dan pengolahan hasil bumi serta menjadi lumbung energi nasional.
Persebaran kawasan strategis berada di beberapa provinsi, meliputi: (1) Provinsi
Aceh terdapat dua kawasan strategis, yaitu: Kawasan Pengembangan Ekonomi
Terpadu Bandar Aceh Darussalam (KAPET BAD) dan Kawasan Perdagangan Bebas
dan Pelabuhan Bebas (KPBPB) Sabang di Kota Sabang; (2) Provinsi Sumatera Utara
terdapat satu kawasan strategis, yaitu: Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei
Mangkei di Kabupaten Simalungun; (3) Provinsi Kepulauan Riau terdapat empat
kawasan strategis nasional, yaitu: KPBPB Batam di Kota Batam, KPBPB Bintan di
Kabupaten Bintan, KPBPB Tanjung Pinang, dan KPBPB Karimun di Kabupaten
Karimun; (4) Provinsi Sumatera Selatan terdapat satu kawasan strategis, yaitu
KEK Tanjung Api-Api di Kabupaten Banyuasin; dan (5) Kawasan Perhatian
Investasi (KPI) di sekitar koridor ekonomi Sumatera meliputi: KPI Tapanuli
Selatan, Dairi, Dumai, Muara Enim, Palembang, Bangka Barat, Tanggamus, Cilegon,
KSN Selat Sunda, dan KPI potensial lainnya. Percepatan pembangunan kawasan
strategis dilakukan melalui strategi sebagai berikut:
1. Pengembangan Potensi Ekonomi Wilayah di Koridor Ekonomi Sumatera
Pengembangan kegiatan ekonomi di kawasan strategis erat kaitanya dengan
memberdayakan masyarakat berbasis potensi ekonomi wilayah, sehingga dapat
meningkatkan nilai tambah dan daya saing komoditas unggulan yang dilakukan
melalui:
VIII - 7

a. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)
a) Menyiapkan kawasan industri KEK Sei Mangke dan KEK Tanjung Api-Api
sebagai sentra pengolahan komoditas unggulan kelapa sawit, karet, batu
bara menjadi produk bernilai tambah tinggi, serta logistik;
b) Mengembangkan industri-industri pengolahan kelapa sawit, karet, dan
batu bara menjadi produk bernilai tambah tinggi berorientasi ekspor;
c) Meningkatkan produktivitas komoditas unggulan kelapa sawit, karet
baik di dalam KEK maupun di sekitar wilayah KEK (kebun rakyat)
b. Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB)
a) Mengembangkan industri manufaktur unggulan kawasan berorientasi
ekspor di KPBPB Batam, Bintan, Tanjung Pinang, dan Karimun dengan
memanfaatkan fasilitas perdagangan bebas dan pelabuhan bebas;
b) Mengembangkan Industri pariwisata dan pengolahan perikanan dan
sumberdaya laut berorientasi ekspor di KPBPB Sabang
c) Menyiapkan sarana dan prasarana perdagangan bebas dan pelabuhan
bebas;
c. Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET)
a) Mengembangkan kawasan pengelolaan klaster-klaster komoditas
unggulan kelapa sawit dan perkayuan secara terpadu;
b) Meningkatkan produktivitas komoditas unggulan kelapa sawit dan
perkayuan;
c) Mengembangkan industri-industri pengolahan untuk meningkatkan nilai
tambah komoditas unggulan.

2. Percepatan Penguatan Konektivitas
Peningkatan konektivitas antara kawasan sebagai pusat-pusat pengolahan
produk bernilai tambah tinggi dan berorientasi ekspor pada KEK Sei Mangke
dan KEK Tanjung Api-Api dengan kawasan-kawasan sekitarnya sebagai pusat-
pusat bahan baku yaitu KAPET dan KPI-KPI di Sumatera, termasuk didalamnya
daerah tertinggal akan dilakukan melalui:
a. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)
a) Pengembangan dan pembangunan pelabuhan Pelabuhan Tanjung Api-
Api, Pelabuhan Kuala Tanjung sebagai hub internasional
b) Pengembangan dan pembangunan terminal peti kemas di Belawan,
terminal peti kemas di Kuala Tanjung
c) Pembangunan jalur kereta api ruas Bandar Tinggi-Kuala Tanjung, ruas
Prabumulih-Simpang-Tanjung Api-Api, ruas Spoor Simpang (Gunung
Bayu)-KEK Sei Mangkei;
d) Peningkatan kapasitas jalan ruas Simpang Inalum-Kuala Tanjung; ruas
Ujung Kubu-Kuala Tanjung, ruas Simpang Sei Balai-Ujung Kubu, ruas
Tanjung Kubah-Kuala Indah, ruas Simpang Mayang-Sei Mangkei-Simpang
Pasar Baru-Boluk, ruas Simpang Pasar Baru-Pasar Baru-Dusun
VIII - 8

Pengkolan-Tinjoan-Sei Mejangkar, ruas Bts Simalungun-Silimbat-Bts
Taput, ruas Tanjung Morawa-Saribudolok-Tongging
e) Pembangunan Bendungan Lausimeme;
f) Pembangunan PLTU di Sumatera Selatan dengan kapasitas 300 MW;
b. Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB)
a) Pengembangan dan pembangunan pelabuhan Batu Ampar dan
Pelabuhan Tanjung Sauh di Batam;
b) Pembangunan jalan tol Batu Ampar-Muka Kuning-Hang Nadim;
c. Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET)
a) Pembangunan ruas jalan jalan Seulimum - Lam Teuba - Krueng Raya
b) Pengembangan jaringan jalur kereta api di pesisir timur
c) Pengembangan pelabuhan Malahayati
d) Peningkatan bandara Sultan Iskandar Muda
e) Pembangunan dan peningkatan Bendungan Lambadeuk, Bendungan
Keuliling, dan Bendungan Leubok Bendungan Rajui, Bendungan Rukoh
dan Bendungan Tiro
d. Kawasan Perhatian Investasi (KPI)
a) Pengembangan Pelabuhan Samudera Tj. Berikat - Bangka Tengah,
Pelabuhan Muntok - Pelabuhan Tj. Berikat;
b) Pembangunan Double Track antara Tanjung Enim Prabumulih
Kertapati dan Prabumulih Tarahan, Jaringan KA Rantau Prapat-Duri-
Dumai;
c) Penanganan ruas jalan Sp. Kulim - Pelabuhan Dumai, ruas jalan Sorek -
Sp. Japura - Rengat - Rumbai Jaya - K. Enok, ruas jalan Muara Enim
Palembang, ruas jalan Tj. Pandan Tj. Tinggi Bangka Belitung, ruas
jalan Pekan Heran - Siberida - Bts. Prov. Jambi, ruas jalan Buatan
Dayun, ruas jalan Dayun - Sungai Tonggak, ruas jalan Sp.Lago - Sp.
Buatan - Siak Sri Indrapura - Pelabuhan Buton
d) Pembangunan Jalan Tol Pekanbaru - Kandis - Dumai
e) Pembangunan Jembatan Teluk Kelabat, jembatan Musi 5/9, jembatan
Teluk Belinyu;
f) Pembangunan bendungan Jambo Aye dan bendungan Kreuto;
g) Pembangunan PLTP Lumut Balai, PLTU Sumsel, PLTU Banjarsari, dan
PLTU Dumai;
h) Pembangunan transmisi listrik di Sumatera;
i) Pembangunan palapa ring dan jaringan Backbone Serat Optik di koridor
Sumatera.

3. Penguatan Kemampuan SDM dan IPTEK
a. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)
a) Meningkatkan kualitas SDM Badan Pengelola dan Administratur KEK Sei
Mangkei dan Tanjung Api-Api di bidang perencanaan, penganggaran, dan
VIII - 9

pengelolaan kawasan
b) Peningkatan kemampuan pengelolaan investasi di KEK Sei Mangkei dan
Tanjung Api-Api
c) Peningkatan koordinasi Badan Pengelola KEK, pemerintah pusat, dan
pemerintah daerah
d) Penyiapan tenaga kerja berkualitas di bidang industri pengolahan
berteknologi tinggi.
b. Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB)
a) Meningkatkan kualitas SDM Badan Pengusahaan KPBPB BBK dan Sabang
di bidang perencanaan, penganggaran, dan pengelolaan kawasan
b) Revitalisasi kelembagaan BP KPBPB dalam mendukung pengembangan
bisnis yang berorientasi profit
c) Peningkatan kualitas kelembagaan serikat pekerja.
d) Pengembangan sarana prasarana pendidikan dan pelatihan profesi untuk
meningkatkan kualitas tenaga kerja dalam bidang industri pengolahan
dan manufaktur
c. Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET)
a) Meningkatkan kualitas SDM Badan Pengelola KAPET BAD di bidang
perencanaan, penganggaran, dan pengelolaan kawasan
b) Memberikan pembinaan kelembagaan yang mendukung perubahan pola
pikir bisnis berorientasi daya saing secara komparatif dan kompetitif
c) Restrukturisasi dan revitalisasi kelembagaan Badan Pengelola KAPET
BAD
d) Penguatan peran Dewan Kawasan KPBPB BBK dan Sabang sebagai
regulator kawasan
e) Peningkatan kemampuan koordinasi kewenangan antara BP KPBPB BBK
dan Sabang dengan pemda dan pemerintah pusat
f) Pengembangan sarana prasarana pendidikan dan pelatihan profesi untuk
meningkatkan kualitas tenaga kerja di bidang agroindustri, bidang
perikanan, bidang pariwisata, serta bidang distribusi dan pemasaran
d. Kawasan Perhatian Investasi (KPI)
a) Pengembangan inovasi teknologi ramah lingkungan dalam rangka
menunjang industri pengolahaan dan sitribusi pemasaran melalui
koridor ekonomi Sumatera.

4. Penguatan Regulasi bagi Peningkatan Iklim Investasi dan Iklim Usaha
a) Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)
a) Penerapan regulasi insentif fiskal yang sesuai dengan karakteristik
wilayah dan kompetitif, antara lain fasilitas fiskal disemua bidang usaha,
pembebasan PPN dan PPNBM untuk bahan dan barang impor yang akan
diolah dan digunakan di KEK;
b) Memberikan pelayanan terpadu satu pintu dan penggunaan Sistem
VIII - 10

Pelayanan Informasi dan Perijinan Investasi secara Elektronik (SPIPISE)
bidang perijinan perindustrian, perdagangan, pertanahan di KEK Sei
Mangkei, dan KEK Tanjung Api-Api;
c) Meningkatkan harmonisasi hubungan industrial antara tenaga kerja,
serikat pekerja, dan perusahaan dalam KEK;
d) Promosi produk unggulan KEK Sei Mangkei, KEK Tanjung Api-api kepada
investor luar dan dalam negeri untuk menarik minat para investor.
b) Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB)
a) Penyelesaian status lahan, terutama terkait dengan pemanfaatan lahan
yang masih berstatus holding zone kawasan hutan di kawasan-kawasan
strategis;
b) Meningkatkan harmonisasi hubungan industrial antara tenaga kerja,
serikat pekerja, dan perusahaan di KPBPB Batam, Bintan, karimun,
tanjungpinang, dan Sabang;
c) Promosi industri unggulan KPBPB BBK dan Sabang kepada investor luar
dan dalam negeri untuk menarik minat para investor.
c) Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET)
a) Harmonisasi peraturan perundangan terkait dengan iklim investasi,
diantaranya adalah PP. Nomor 147 Tahun 2000 Tentang Perlakuan
Perpajakan di KAPET
b) Membuat regulasi terkait dengan pembagian kewenangan antara
Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Besar, Kota Banda Aceh, dan
Kabupaten Pidie Jaya dengan Badan Pengembangan KAPET BAD, sesuai
dengan perundangan yang berlaku
c) Promosi produk unggulan KAPET BAD kepada investor luar dan dalam
negeri untuk menarik minat para investor.
d) Kawasan Perhatian Investasi (KPI)
a) Memberikan pelayanan terpadu satu pintu dan penggunaan Sistem
Pelayanan Informasi dan Perijinan Investasi secara Elektronik (SPIPISE)
bidang perijinan perindustrian, perdagangan, pertanahan.

8.5.2 Kawasan Perkotaan dan Perdesaan
8.5.2.1 Pengembangan Kawasan Perkotaan
Arah kebijakan pembangunan wilayah perkotaan di Wilayah Pulau
Sumatera difokuskan untuk membangun kota berkelanjutan dan berdaya saing
menuju masyarakat kota yang sejahtera berdasarkan karakter fisik, potensi
ekonomi dan budaya lokal. Untuk itu strategi pembangunan perkotaan Wilayah
Pulau Sumatera tahun 2015-2019 yaitu:

VIII - 11

GAMBAR 8.1



















VIII - 12

1. Perwujudan Sistem Perkotaan Nasional (SPN)
a. Peningkatan efisiensi pengelolaan PKN Perkotaan Medan, Binjai,
DeliSerdang, Karo (Mebidangro), dalam rangka mempercepat perannya
sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi sekaligus pemerataan
pembangunan di Wilayah Sumatera;
b. Pembentukan 2 PKN Perkotaan baru, yaitu PKN Perkotaan ITBM Palapa
dan PKN Perkotaan Palembang Raya dalam rangka membangun koridor
wilayah yang kuat untuk mempercepat pembangunan di Wilayah
Sumatera bagian barat, mengurangi urbanisasi dari luar Jawa ke Pulau
Jawa, serta mengurangi kesenjangan pembangunan sumatera barat bagian
timur dan barat;
c. Pengembangan 6 kota sedang sebagai buffer urbanisasi yaitu
Lhoksumawe, Tebing Tinggi, Dumai, Tanjung Pinang, Payakumbuh, dan
Lubuk Linggau dalam rangka mempercepat perannya sebagai pusat
pertumbuhan ekonomi dalam bentuk Pusat Kegiatan Wilayah (PKW)
sekaligus sebagai pengendali (buffer) arus urbanisasi dari Pulau Sumatera
ke Pulau Jawa;
d. Pengembangan 8 kawasan pertumbuhan baru, yaituPeureulak, Sidikalang,
Lunang Silaut, Argo Makmur, Baturaja, Mesuji, Siapi-api, dan Batu
Betumpangsebagai pusat pertumbuhan utama yang mendorong
keterkaitan antara kota sedang dengan desa-desa di wilayah sekitarnya.
2. Perwujudan Kota Layak Huni Yang Aman dan Nyaman
a. Percepatan pemenuhan dan peningkatan pelayanan sarana prasarana
permukiman (perumahan, air minum, sanitasi: pengelolaan sampah;
pengolahan limbah; drainase);
b. Pengembangan dan peningkatan pelayanan sarana dan prasarana
transportasi massal perkotaan yang berada di atas (upperground) atau di
bawah tanah (under ground) secara terintegrasi dan multimoda sesuai
dengan tipologi dan kondisi geografisnya;
c. Pengembangan jaringan kereta api untuk sumatera bagian timur dan
mengembangkan jaringan transportasi laut untuk sumatera bagian barat;
d. Pengembangan konsep Transport Oriented Development (TOD) untuk
optimalisasi dan efisiensi transportasi dan tata guna lahan perkotaan;
e. Penyediaan dan Peningkatan sarana prasarana ekonomi, khususnya di
sektor perdagangan dan jasa yang mampu mengakomodasi pasar
tradisional,sektor informal termasuk