Anda di halaman 1dari 8

RESUME

PENGENALAN BATUAN 1


Batuan merupakan bahan penyusun kerak bumi, biasanya berupa suatu
komponen dari kumpulan mineral-mineral yang telah mengeras baik yang sejenis
maupun yang tidak sejenis dan keterjadiannya di alam. Batuan terbentuk dalam
suatu siklus yang disebut orogenesa batuan. Keterbentukannya ini diikuti oleh
penghancuran batuan lain, dan tentu akan kembali ke titik awal karena itulah
yang dinamakan siklus.

Gambar 1
Keterbentukan batuan
Batuan secara umum terbagi menjadi tiga, yaitu batuan beku, batuan
sedimen, dan batuan metamorf. Keterbentukan batuan memiliki proses masing-
masing. Adapun proses yang terjadi dalam siklus ini diantaranya: kristalisasi
(keterbentukan batuan beku), pelapukan, sedimentasi (keterbentukan batuan
sedimen), metamorfisme (keterbentukan batuan metamorf), peleburan batuan
dan kembali lagi pada kristalisasi.

1. Batuan Beku (Igneous Rock)
Igneous merupakan akar kata dari kata ignis yang berarti api atau pijar,
yang dimaksud disini adalah magma yang merupakan cairan silikat yang panas
dan pijar yang terdapat di dalam bumi. Suhu dari magma tersebut berkisar antara
600-700
o
C. sedangkan lava merupakan magma yang telah mencapai permukaan
bumi, dan mempunyai komposisi yang sama dengan magma, hanya kandungan
gasnya relatif lebih kecil.
Batuan beku merupakan batuan yang terbentuk dari hasil proses
pembekuan magma tersebut. Magma yang membeku di permukanaan bumi
(lava) akan menghasilkan batuan beku luar (ekstrusif) atau batuan vulkanik.
Magma yang tidak berhasil mencapai permukaan bumi dan membeku di dalam
bumi akan membentuk batuan beku dalam (instrusif) atau batuan beku plutonik.
Karena magma merupakan cairan yang panas, maka ion-ion yang
menyusun magma bergerak bebas tak beraturan. Pada saat magma mengalami
pendinginan, pergerakan ion-ion ini akan menurun, dan akan mulai mengatur
dirinya menyusun bentuk yang teratur. Proses ini disebut kristalisasi. Proses ini
yang merupakan kebalikan dari proses pencairan, ion-ion akan saling mengikat
satu dengan yang lainnya dan melepaskan kebebasan untuk bergerak. Ion-ion
tersebut akan membentuk ikatan kimia dan membentuk kristal yang teratur. Pada
umumnya material yang menyusun magma tidak membeku pada waktu yang
bersamaan.
Kecepatan pendinginan magma ini sangat berpengaruh pada proses
kristalisasi, terutama pada ukuran kristalnya. Jika pendinginan magma
berlangsung dengan lambat, ion-ion mempunyai kesempatan untuk
mengembangkan dirinya, sehingga akan menghasilkan bentuk kristal yang
besar, biasanya terjadi pada batuan beku intrusif. Sebaliknya jika pendinginan
cepat berlangsung, ion-ion tersebut tidak mempunyai kesempatan untuk
mengembangkan dirinya, sehingga akan membentuk kristal yang kecil. Sehingga
saat pendinginan berlangsung sangat cepat maka tidak ada kesempatan bagi
ion-ion tersebut untuk membentuk kristal, dan hasil pembekuannya akan
menghasilkan kristal yang tidak beraturan, mineral seperti ini dinamakan dengan
mineral gelas (glass).
Batuan beku memiliki kandungan mineral yang berbeda-beda. Klasifikasi
dari kandungannya ini dapat ditentukan oleh serie bown. Didalam seri bown
mineral penyusun batuan beku di bagi menjadi dua kelompok yaitu mineral
terang (Felsic mineral) contohnya kuarsa, muskovit, dan ortoklas dan mineral
gelap (Malfic mineral) contohnya olivine, pyroxene, dan biotit.

Gambar 2
Serie Bown

Gambar 3
Serie Bown

Foto 1
Contoh batuan beku
2. Batuan Sedimen
Produk dari proses pelapukan mekanik dan kimia merupakan sumber
material untuk pembentukan batuan sedimen. Kata sedimentasi berasal dari
bahasa Latin sedimentum yang berarti endapan, yang digunakan untuk materi
padat yang diendapkan dari atau oleh fluida. Material hasil proses pelapukan
secara tetap akan terkikis dari batuan induknya, kemudian mengalami
pengangkutan dan diendapkan di danau, lembah sungai, laut atau cekungan
lainnya. Partikel-partikel pada bukit pasir di gurun, lumpur di dasar rawa-rawa,
kerakal di sungai, merupakan produk dari proses sedimentasi yang tiada
hentinya. Karena proses pelapukan batuan, transportasi dan pengendapan
material hasil proses pelapukan terus beralangsung, maka material sedimen
dapat dijumpai dimana-mana. Setelah diendapkan material yang dekat dengan
dasar akan mengalami kompaksi. Lama kelamaan endapan ini akan
tersemenkan oleh mineral yang mengkristal di pori-pori antar butiran sehingga
membentuk batuan sedimen. Proses perubahan sedimen menjadi batuan
sedimen ini disebut litifikasi.

Foto 2
Contoh batuan Sedimen
Dari segi ukuran butir batuan sedimen dapat diklasifikasikan sebagai
berikut:
Tabel 1
Skala wentworth

Sumber: Google.com
Batuan sedimen dapat dibedakan menjadi dua. Pertama sedimen klastik
yaitu batuan sedimen yang terbentuk karena proses ilmiah. Kedua sedimen non
klastik, yaitu batuan sedimen yang terbentuk karena proses reaksi-reaksi kimia,
penghabluran dan proses biokimia.

3. Batuan Metamorf
Proses metamorfisme adalah proses perubahan batuan yang sudah ada
menjadi batuan metamorf karena perubahan tekanan dan temperatur yang tinggi.
Batuan asal dari batuan metamorf tersebut dapat batuan beku, batuan sedimen
dan batuan metamorf itu sendiri yang sudah ada. Kata metamorf sendiri adalah
perubahan bentuk. Penyebab terjadinya proses metamorfisme adalah panas,
tekanan dan cairan kimia aktif. Sedangkan perubahan yang terjadi pada batuan
meliputi tekstur dan komposisi mineralnya

Foto 3
Contoh batuan Metamorf








KESIMPULAN


Dari resume yang telah dibuat, dapat diketahui bahwa batuan merupakan
bahan penyusun kerak bumi, biasanya berupa suatu komponen dari kumpulan
mineral-mineral yang telah mengeras baik yang sejenis maupun yang tidak
sejenis dan keterjadiannya di alam. Batuan terbentuk dalam suatu siklus yang
disebut orogenesa batuan.
Batuan itu sendiri tergolong menjadi tiga, yaitu:
1. Batuan Beku, yaitu batuan yang terbentuk karena proses kristalisasi
magma. Batuan beku ada dua, yaitu batuan beku intusif (dalam) dn
batuan beku ekstrusif (luar). Berdasarkan mineral penyusunya, batuan
beku dapat diklasifikasikan dengan menggunakan seri bown
2. Batuan sedimen, yaitu batuan yang terbentuk karena adany proses
sedimentasi (pelapukan, transportasi, pengendapan) dan litifikasi
(kompaksi dan sementasi). Batuan sediment juga dibagi menjadi dua,
yaitu batuan sedimen klastik (alami) dan non-klastik (kimiawi-biokimia).
Batuan sedimen diklasifikasikan menurut ukuran butirnya dengan
menggunakan skala wentworth.
3. Batuan Metamorf, batuan yang terbentuk karena proses metamorfisme
yaitu perubahan dari batuan yang sudah ada menjadi batuan metamorf
dikarenakan perubahan suhu dan tekanan yang tinggi.











DAFTAR PUSTAKA


A, Diansyah F. 2013. Pengenalan Dasar Batuan. http://anaktambang093.
blogspot.com/2013/09/pengenalan-dasar-batuan.html. Diakses tanggal 25
Februari 2014 (online)
Panjah, Najib Arangi. 2011. Orogenesa. http://tambangunsri.blogspot.com/
2011/03/orogenesa.html. Diakses tanggal 25 Februari 2014 (online)
Risejet, Rachmat. 2013. Pengenalan Batuan. http://rachmatrisejet.
blogspot.com/2013/02/pengenalan-batuan.html Rachmat Risejet,