Anda di halaman 1dari 23

Oleh : Muhammad Furqani

(Copas dari blog org minang)


CAPENG 2014
B32/2

Adat Istiadat Minangkabau
BAGIAN 1 :
MENGENAL ADAT MINANG KABAU
Oleh : Afrijon Ponggok Katik Basa Batuah
Minang Kabau yang terkenal dengan adatnya yang kuat dari zama dahulu samapai sekarang
dengan semboyan adat Adaik Basandi Syara Syara Basandi Kitabullah dengan pengertian
yang lebi dalam adalah :
1. Pengertian menurut bahasa dalam dialektika Minang Kabau adalah :
Adaik yang berarti adat, Kultur/budaya,
Sandi yang berati asas/landasan,
Syara yang berarti Agama Islam, dan
Kitabullah yang berarti Al-quran dan Sunnah Nabi Muhammad Saw.
2. Pengertian dalam implementasi keseharian adalah :
Bagi masyarakat Minang dalam melaksanakan Adaik Basandi Syara Syara Basandi
Kitabullah disimpulkan lagi dengan Kalimat Syara mangato Adaik mamakai yang artinya
Islam mengajarkan, memerintahkan menganjurkan sedangkan Adat melaksanakannya,
dalam arti yang sesungguhnya bahwa Islam di Minag Kabau diamalkan dengan gaya adat
Minang dan adat Minang dilaksanakan menurut ajaran Islam dengan landasan dan acuan
dari Alquran dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. yang intinya bahwa ADAT MINANG
KABAU ITU ADALAH AGAMA ISLAM.
3. Pengertian yang sesungguhnya adalah :
Bahwa adat Minang Kabau harus sesuai dengan ajaran Agama Islam secara sempurna
(Kaffah), tidak boleh ada praktek adat yang bertentangan dengan ajaran Islam, karean apa
bila ada praktek adat oleh masyarakat Minang yang bertentangan dengan ajaran Islam maka
itu bukanlah adat Minang, dan apa bila ada orang minang yang melanggar ajaran Islam
maka dia beleh disebut orang yan tidak beradat (dalam lingkup Adat Miang Kabau).
Adat Minang terbagi kepada 4 bagian desebut Adaik nan ampek (adat yang empat) yaitu :
1. Adaik nan sabana Adaik (Adat yang sebenarnya adat)
Adat ini merupakan adat yang paling utama yang tidak dapat dirubah sampai kapanpun dia
merupakan harga mati bagi seluruh masyarakat Minang Kabau, tidaklah bisa dikatakan dia
orang MInang apabila tidak melak sanakan Adat ini dan akan dikeluarkan dia dari orang
Minang apabila meninggalkan adat ini, adat ini yang palin perinsip adalah bahwa seorang
Minag wajib beragama Islam dan akan hilang Minangnya kalau keluar dari agama Islam.
2. Adaik nan diadaikkan (adat yang di adatkan)
Adat ini adalah sebuah aturan yang telah disepakati dan diundangkan dalam tatanan Adat
Minang Kabau dari zaman dulu melalui sebuah pengkajian dan penelitian yang amat dalam
dan sempurna oleh para nenek moyang orang Minang dizaman dulu, contohnya yang paling
perinsip dalam adat ini adalah adalah orang minang wajib memakai kekerabatan
Matrilineal mengambil pesukuan dari garis ibu dan nasab keturunan dari ayah, makanya
ada Dunsanak (persaudaraan dari keluarga ibu) dan adanya Bako (persaudaraan dari
keluarga ayah), Memilih dan atau menetapkan Penguhulu suku dan Ninik mamak dari garis
persaudaraan badunsanak berdasarkan dari ampek suku asal (empat suku asal) Koto
Piliang, Bodi, Caniago atau berdasarkan pecahan suku nan ampek tsb, menetapkan dan
memlihara harta pusaka tinggi yang tidak bisa diwariskan kepada siapapun kecuali diambil
manfaatnya untuk anak kemenakan, seperti sawah, ladang, hutan, pandam pakuburan,
rumah gadang dll.
Kedua adat diatas disebut Adaik nan babuhua mati (Adat yang diikat mati) dan inilah
disebut Adat, adat yang sudah menjadi sebuah ketetapan dan keputusan berdasarkan
kajian dan musyawarah yang menjadi kesepakatan bersama antara tokoh Agama, tokoh
Adat dan cadiak pandai diranah Minang, adat ini tidak boleh dirubah-rubah lagi oleh
siapapun, sampai kapanpun, sehingga ia disebut Nan inadak lakang dek paneh nan indak
lapuak dek hujan, dibubuik indaknyo layua dianjak indaknyo mati (Yang tidak lekang kena
panas dan tidak lapuk kena hujan, dipindah tidak layu dicabut tidak mati).
Kedua adat ini juga sama diseluruh daerah dalam wilayah Adat Minang Kabau tidak boleh
ada perbedaan karena inilah yang mendasari adat Minang Kabau itu sendiri yang membuat
keistimewaan dan perbedaannya dari adat-adat lain di dunia.
Anak sicerek didalam padi
Babuah batangkai-tangkai
Salamaik buah nan mudo
Kabek nan arek buhua mati
Indaklah sia kamaungkai
Antah kok kiamaik nan katibo
3. Adaik nan Taradaik (adat yang teradat)
Adat ini adanya kareana sudah teradat dari zaman dahulu dia adalah ragam budaya di
beberapa daerah di Minang Kabau yang tidak sama masing masing daerah, adat ini juga
disebu dalam istilah Adaik salingka nagari (adat selinkar daerah).
Adat ini mengatur tatanan hidup bermasyarakat dalam suatu Nagari dan iteraksi antara satu
suku dan suku lainnya dalam nagari itu yang disesuaikan dengan kultur didaerah itu sendiri,
namun tetap harus mengacu kepada ajaran agama Islam.
Adat ini merupakan kesepakatan bersama antara Penguhulu Ninik mamak, Alim ulama,
cerdik pandai, Bundo Kanduang dan pemuda dalam suatu nagari di Mianag Kabau, yang
disesuaikan dengan perkembangan zaman memakai etika-etika dasar adat Minang namun
tetap dilandasi ajaran Agama Islam.
4. Adaik Istiadaik (Adat istiadat)
Adat ini adalah merupakan ragam adat dalam pelaksanaan silaturrahim, berkomunikasi,
berintegrasi, bersosialisasi dalam masyarakat suatu nagari di Minang Kabau seperti acara
pinang meminag, pesta perkawinan dll, adat inipun tidak sama dalam wilayah Minang
Kabau, disetiap daerah ada saja perbedaannya namun tetap harus mengacu kepada ajaran
Agama Islam.
Kedua adat yang terakhir ini disebut Adaik nan babuhua sintak (adat yang tidak diikat
mati) dan inilah yang namakan Istiadat, karena ia tidak diikat mati maka ia boleh dirubah
kapan saja diperlukan melalui kesepakatan Penghulu Ninik mamak, Alaim Ulama, Cerdik
pandai, Bundo kanduang dan pemuda yang disesuaikan dengan perkembangan zaman
namun acuannya adalah sepanjang tidak melanggar ajaran Adat dan ajaran Agama Islam,
sehingga disebut dalam pepatah adat maso batuka musim baganti, sakali aie gadang sakali
tapian baranjak
Masaklah padi rang singkarak
Masaknyo batangkai-tangkai
Dibaok urang ka malalo
Kabek sabalik buhua sintak
Jaranglah urang kamaungkai
Tibo nan punyo rarak sajo
Kesimpulan :
1. Yang dimaksut adat di Minang Kabau adalah Ragam budaya dan prilaku kehidupan
masyarakat Minang kabau yang dilandasi asas minkin dan patut sesuai syariat Islam.

2. Yang dikatakan Adat Istiadat di Minang Kabau adalah :
Adat adalah Adaik nan babuhua mati sebagai anggaran dasar yang tidak boleh
dirubah.Istiadat adalah adaik nan babuhua sintak sebagai anggaran rumah tangga
yang dapat dirubah melalui mufakat.










BAGIAN KE 2 :

PENGHULU NINIK MAMAK DI MINANG KABAU
Oleh : Afrijon Ponggok Katik Basa Batuah

Penghulu (dalam bahasa Minang disebut Pangulu) dan ninik mamak di Minang Kabau
mempunyai peranan yang sangat penting dan menentukan dalam kekuatan kekerabatan
adat Minang itu sendiri, tanpa penghulu dan ninik mamak suatu nagari di Minang Kabau
diibaratkan seperti kampung atau negeri yang tidak bertuan karena tidak akan jalan tatanan
adat yang dibuat, Elok nagari dek Pangulu sumarak nagari dek nan mudo
Pengertian Pangulu (Penghulu)
Pangulu berasal dari kata Pangka dan Hulu (pangkal dan hulu) Pangkal artinya tampuk atau
tangkai yang akan jadi pegangan, sedangkan hulu artinya asal atau tempat awal keluar atau
terbitnya sesuatu, maka pangulu di Minang Kabau artinya yang memegang tampuk tangkai
yang akan menjadi pengendali pengarah pengawas pelindung terhadap anak kemenakan
serta tempat keluarnya sebuah aturan dan keputusan yang dibutuhkan oleh masyarakat
anak kemenakan yang dipimpin pangulu, Tampuak tangkai didalam suku nan mahitam
mamutiahkan tibo dibiang kamancabiak tibo digantaiang kamamutuih
Pengertian Ninik Mamak
Ninik mamak adalah merupakan satu kesatuan dalam sebuah lembaga perhimpunan
Pangulu dalam suatu kanagarian di Minang Kabau yang terdiri dari beberapa Datuk-datuk
kepala suku atau pangulu suku / kaum yang mana mereka berhimpun dalam satu
kelembagaan yang disebut Kerapatan Adat Nagari (KAN). Diantara para datuk_datuk atau
ninik mamak itu dipilih salah satu untuk menjadi ketuanya itulah yang dinamakan Ketua
KAN. Orang-orang yang tergabung dalam KAN inilah yang disebut ninik mamak, Niniak
mamak dalam nagari pai tampek batanyo pulang tampek babarito
Pengertian Datuak (Datuk)
Datuak (Datuk) adalah gelar pusako adat dalam suatu suku atau kaum yang diberikan
kepada seseorang dalam suku atau kaum itu sendiri dengan dipilih atau ditunjuk dan
diangkat oleh anak kemenakan suatu suku atau kaum yang bersangkutan melalui upacara
adat dengan syarat-sayarat tertentu menurut adat Minang.
Saluak Pangulu
Seorang Datuak dia adalah pangulu dalam suku atau kaumnya dan sekaligus menjadi ninik
mamak dalam nagarinya, dengan pengertian yang lebih rinci lagi : Datuak gelarnya, Pangulu
Jabatannya dan Ninik mamak lembaganya dalam nagari.
Sebagai Datauak dia harus menjaga martabatnya karena gelar datuak yang disandangnya
adalah gelar kebesaran pusaka adat dalam suku atau kaumnya, banyak pantangan dan
larangan yang tidak boleh dilanggar oleh seseorang yang bergelar datuak dan tidak sedikit
pula sifat-sifat positif yang wajib dimilikinya.
Sebagai Pangulu dia harus tau tugas dan tanggung jawabnya terhadap saudara dan
kemenakannya dalam membina, mengayomi, melindungi dan mengatur pemanfaatan harta
pusaka tinggi dan tanah ulayat untuk kemakmuran saudara dan kemenakannya, namun dia
juag harus tetap menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga di
rumah tangganya terhadap anak dan istrinya, Anak dipangku jo pancarian, kamanakan
dibimbiang jo pusako
Sebagai anggota ninik mamak dia adalah perwakilan dari suku atau kaumnya layaknya
seperti anggota DPRD (dalam istilah MInang disebut Andiko) dalam pemerintahan nagari
yang mewakili konstituennya untuk menyampaikan dan memperjuangakan aspirasi kaum
yang dipimpinnya serta untuk membantu menyelesaikan berbagai permasalahan yang
timbul pada anak kemenakannya dalam nagari, Andiko didalam kampuang kusuak nan
kamanyalasai karuah nan kamampajaniah
Berbagai permasalahan anak kemenakan yang berhubungan dengan hidup bernagari dan
berkorong kampung dibahas oleh ninik mamak dari berbagai pengulu kepala suku atau atau
datuk datuk kaum bersama alim ulama cerdik pandai serta pemerintahan nagari di Balai
Adat yang disebut balerong dalam Kerapatan Adat Nagari (KAN), Balerong ditanah Minang
tampek duduk nak samo randah, tampek tagak nak samo tinggi, tampek duduak bajalan
baiyo, tampek tagak bakato bamolah, tampek manjari bana nan saukua nak tibo kato
dimufakat, tampek mahukum nak samo adia, tampek mambagi nak samo banyak
Hasil musyawarah mufakat inilah yang dijadikan pedoman dalam menata kehidupan
bermasyarakat di dalam suatu kenagarian dan disinilah dirumuskan Adat nan diadatkan
beserta Adat Istiadat yang disesuaikan dengan kebutuhan situasi kondisi serta
perkembangan masyarakat dan kemajuan zaman yang tentunya tetap mengacu kepada
landasan Adat Basandi Syarak Syarak Basandi Kitabullah.
Dalam melaksanakan tugasnya Pangulu dipanggil dengan sebutan Urang nan gadang basa
batuah dia gadang pada kaumnya dia basa pada sukunya dan dia batuah dalam nagari,
gadang dalam kaumnya artinya seorang pengulu dia dibesarkan atau dituakan selangkah
dalam kaumnya, dan basa pada sukunya artinya dia menjadi panutan, pemimpin pengatur
dalam sukunya, sedangkan batuah dalam nagari artinya seorang pangulu karena dia ninik
mamak maka apa-apa yang dikatakan dan diperbuatnya juga menjadi acuan sehingga dia
disegani dan dihormati dalam nagari.

Seorang pangulu adalah pucuk pimpinan dalam kaumnya pada suatu unit pemerintahan
dalam nagari, pangulu dibantu oleh tiga unsur perangkat adat yaitu :
1. Malin yang membidangi persoalan agama
2. Manti sebagai pelaksana kebijakan
3. Dubalang ysng brtsnggung jswab terhadap keamanan
Inilah yang disebut urang nan ampek jinih yaitu Pangulu, Malin, Manti dan Dubalang.
Memilih dan mengukuhkan seorang Pangulu atau datuak.
Seorang Datuak atau pangulu dipilih dan dinobatkan apabila terjadi beberapa hal dalam
suatu suku atau kaum :
1. Apa bila Datuk atau Pangulu yang terdahulu tealah meninggal dunia (Patah tumbuah
hulang baganti)
2. Apa bila Datauk atau Pangulu yang saat ini sedang menyandang gelar datuak telah berusia
lanjut atau dalam keadaan sakit berat dan tidak mungkin atau sanggup lagi untuk
menjalankan tugas-tugasnya sebagai Datauak atau Pangulu. (Hilang dicari lapuak diganti)
3. Apa bila Datauak yang sedang menyandang gelar Datuak atau Pangulu saai ini
mengundurkan diri minta diganti, (Malatak-an gala)
4. Apa bila terjadi pelanggaran moral, adat dan agama serta hukum yang berlaku lainnya
oleg orang yang menyandang gelar Datuak atau Pangulu saat ini dan anak kemenakan
sepakat untuk menggantinya, (Mambuek cabuah jo sumbang salah)
5. Kalau ada Datauk atau pangulu yang sudah lama tidak di angkat karena sesuatu hal dan
saat ini sudah memnuhi syarat untuk dianggkat (Mambangkik Batang Tarandam)
Dalam tatanan adat Minang Kabau ada 2 cara memilih seorang pangulu atau datuak :
1. Menurut adat Suku Bodi Chaniago dan pecahannya (banyak lagi nama suku suku yang lain
pecahan dari suku asal Bodi dan Chaniago ata Koto Piliang) seorang pangulu atau datuak
dipilih secara musyawarah mufakat oleh anak kemenakan suku tersebut berdasarkan syarat-
syarat tertentu dengan mempertimbangkan mungkin dan patut, dalam istilah adat disebut
Hilang dicari lapuak diganti, duduak samo randah tagak samo tinggi, duduak saamparan
tagak sapamatang
2. Menurut adat suku Koto Piliang dan pecahannya seorang pangulu atau datauak dipilih
berdasarkan keturunan dan pergiliran gelar pengulu tersebut dalam suku atau kaum itu
berdasarkan syarat-syarat tertentu dengan mempertimbangkan mungkin dan patut, dalam
istilah adat disebut ramo ramo sikumbang jati katik endah pulang bakudo, patah tumbuah
hilang baganti pusako lakek kanan mudo, rueh tumbuah dimato.

Syarat-syarat seseorang dipilih menjadi seorang pangulu atau datuak :
1. Memenuhi 4 sifat nabi Sidik, Tablihk, Amanah, dan Fthanah
2. Loyalitas yang tinggi terhadap kaum, suku, anak kemenakan dan nagari
3. Berilmu pengetahuan tentang adat dan agama dll
4. Adil dalam memimpin anak kemenakan dan keluarga
5. Berani dalam menegakkan kebenaran dan mencegah kebathilan
6. Taat menjalankan ajaran agama dan adat
7. Tidak cacat moral dimata masyarakat dalam nagari
8. Mungkin dan patut, ini yang paling dipertimbangkan, karena ada orang yang mungkin tapi
tidak patut, dan ada yang patut tapi tidak mungkin, contohnya adalah ada orang yang
memenuhi syarat-syarat diatas tetapi di hidup di rantau yang jauh, di mungkin menjadi
pangulu tetapi tidak patut karena dia jauh dirantau sedangkan dia akan mengayomi dan
mengurus anak kemenakannya dikampung, atau ada yang tinggal dikampung namun tidak
memenuhi syarat jadi pangulu, dia patut jadi pangulu tapi tidak mungkin karena kurang
persyaratan, yang masuk menurut logika, batamu mungkin jo patuik sasuai ukua jo jangko
takanak barih jo balabeh lah tibo wakatu jo musimnyo disitu alek dibuek
Pengukuhan dan penobatan pangulu
Setelah pangulu dipilih dengan musyawarah mufakat melalui demokrasi moril secara adat
antara anak kemenakan dalam suatu suku atau kaum maka segenap anak kemenakan atau
kaum tersebut mempersiapkan acar pengukuhan pada sebuah upacara adat perjamuan
Baralek gadang dalam nagari dan ini disebut malewakan kanan rami, bia basuluah mato
hari bagalanggang mato rang banyak.
Dalam perjamuan baralek gadang pengukuhan seorang pangulu terdapat beberapa symbol-
simbol adat diantaranya adalah :
1. Mambantai Kabau, Kabau didabiah tanduak dibanam darah dikacau dagiang dilapah
(menyembelih kerbau, kerbau disembelih, tanduk ditanam, darah dikacau daging dimakan)
pengertian menyembelih kerbau adalah membunuk sifat-sifat kebinatangan yang ada dalam
diri seoerang pangulu, tanduk ditanam artinya membuang sifat-sifat hewani yang cendrung
melukai dan membinasakan dari jiwa seorang pangulu pemimpin adat, sedangkan
pengertian darah dikacau adalah mendinginkan darah yang panas dalam hati seorang
pemimpin, karean seorang pangulu harus bejiwa teduh mengayomi dia harus tau kalau dia
adalah pemimpin tidak boleh berhati dan berdarah panas dalam menghadapi orang yang
dipimpinnya, dan dan pengertian daging dilapah adalah bahwa seorang ninik mamak dia
adalah tempat mengadu anak kemenakannya dikala susah dan kelaparan, harta pusaka
tinggi dan ulayat yang diaturnya adalah untuk kemakmuran anak kemenakannya, Kok
pangulu lai dinan bana bumi sanang padi manjadi taranak bakambang biak anak kamanakan
basanang hati urang kampuang sato manyukoi
2. Marawa dipancangkan (mengibarkan umbul-umbul) dimedan perhelatan. Marawa 3
warna : kuning, merah dan hitam berdiri kokoh menjulang tinggi keudara namun ujungnya
menjulai tunduk kebawah dengan pengertian :
Warna kuning melambangkan kekuasaan seorang pangulu (mahukum adia bakato
bana)
Warna merah melambangkan keberanian (barani karano bana, takuaik karano salah)
Warna hitam melambangkan kesabaran dan ketabahan seorang pangulu dalam
mengahadapi anak kemenakannya.
Berdiri kokoh menjulang tinggi artinya seorang pangulu harus mempunyai wibawa
dan kharismatik ditengah-tengah kaum dan masyarakat dalam nagari.
Ujung marawa menjulai tunduk kebawah melambangkan walau pangulu orang yang
ditinggikan seranting dan didahulukan selangkah namun dia tetap harus melihat
kebawah memperhatikan dan mengayomi orang yang dipimpinnya dengan rendah
hati memakai ilmu padi semakin berisi semakin tunduk.
3. Malatuihan badia sadantam (meletuskan bedil sedantam) nan gaganyo karonggo bimi
dantangnyo sampai kalangik (gegrnya kerongga bumi gaumnya sampai ke langit) itulah ikrar
seorang pengulu kepada manusia dan janjinya kepada Allah sebagai sumpah jabatan yang
mesti dipertanggung jawabkan.
Kedaulatan seorang Datuak atau Pangulu
Kedaulatan seorang Datuak atau Pangulu di Minang Kabau tidak lebih seperti powernya
seorang ketua sebuah oprganisasi dia ada karena dipilih dan diangakat oleh kaumnya nan
diamba gadang dianjuang tinggi gadangnyo karano diamba tinggunyo karano dianjuang,
apa bila anak kemenakan meninggikan dia maka tinggilah dia, tinggi dimata anak
kemenakan dan tinggi dimata urang nagari tapi kalau anak kemenakan sudah tidak
menghormatinya lagi maka dengan sendirinya hilang pulalah kehormatan seorang datauak
atau pangulu.
Pemberhentian seorang Datauak atau pangulu tidaklah harus menunggu satu priode masa
jabatan karena tidak ada batasan masa jabatan seorang Pangulu atau datuak di Ranah
Minang, kalau seorang datuak atau pangulu telah berbuat sumbang salah menurut adat dan
agama maka gelar datauak atau pengulunya sudah bisa dilucuti atau diberhentikan jadi
datauak atau pangulu dan menggantinya dengan yang lain Kalau punco mararak ulu kalau
pasak mambaok guyah kalau tungkek mambaok rabah mohon datuak baganjua suruik
banyak nan lain kapangganti
Batasan antara Datauk atau Pangulu dengan anak kemenakan yang dipimpinnya hanyalah
sebatas kejujuran dalam mungkin dan patuik, oleh sebab itu maka seorang pangulu haruslah
adil dan bijak sana dalam memimpin anak kemenakannya, Jikoklah tagak dinan cupiang
manampuah jalan baliku, bakato indak dinan bana, mahukum indak dinan adia mambagi
bak kato surang disinan baju balipeknyo mamak diganti jonan lain.
Kekuasaan Ninik mamak dalam adat Minang kabau hanyalah tinggi sarantiang jumbo-
jomboan sarangguik runtuah badaram, didahulukan cuman salangkah bajarak tungkai-
tungkaian sahambua lompeklah tibo sadatiak wakatu nampak satitiak salah basuo baitu
ukua jo jangko di dalam alam Minang Kabau.
Namun demikian ditangan pangulu berhimpun kekuasaan yang besar dalam menjalankan
tugas membimbing dan mengatur anak kemenakannya, ninik mamak mampunyai fungsi
Eksekutif sebagai pelaksana kekuasaan, fungsi Legislatif sebagai pembuat aturan dan funsi
yudikatif sebagai pengambik keadilan, funsi ini dilakukan oleh ninik mamak yang disebut
uarang nan ampek jinih (pangulu, malin, manti dan dubalang) yang mana pangulu sebagai
koordinatornya.
Itulah sebabnya Pangulu dan urang nan ampek jinih disebut Bak kayu gadang ditangah koto
ureknyo tampek baselo batangnyo tampek basanda dahannyo tampek bagantuang daun
rimbunnyo tampek bataduah, tampek bahimpun hambo rakyat, pai tampek batanyo pulang
tampek babarito, sasek nan kamanyapo tadorong nan kamanyintak, tibo dikusuik
kamanyalasai tibo dikaruah mampajaniah, mahukum adia bakato bana
Pangulu dan ninik mamak adalah Ulil amri yang wajib ditaati dan dipatuhi karena dia adalah
pemimpin yang dipilih oleh anak kemenakannya sendiri Tutua sakapa digunuangkan kakok
satitiak dilauikkan dia dimulyakan dihormati dan dijaga martabatnya oleh anak
kemenakannya karena Pangulu di Minang Kabau adalah lambang kebesaran suatu suku atau
kaum yang wajib dijaga dan dimulyakan.
Namun Pangulu dan ninik mamak bukanlah seperti raja-raja yang harus disembah dan
dipuja setinggi langit dan dia tidak boleh dikultuskan seperti dewa-dewa bangsa lain, di
Minang Kabau tidak ada istilah bangsawan walaupun dia seoerang datuk apalagi hanya
keturunan datuk, di Minang Kabau semua derajat manusia sama tidak ada bedanya,
pemimpin adat hanyalah ditinggikan seranting didahulukan selangkah dan dituakan dalam
kaum.
Dalam Pakaian Pangulu mulai dari Salauk (Tutup kepala) baju, salempang, celana, keris, ikat
pinggang dan sandal semuanya mempunyai arti dan makna yang sangat luas untuk dipahami
oleh seorang yang bergelar Datuak atau pengulu.
Tatanan masyarakat Mianag kabau memakai palsapaf Kamanakan barajo ka mamak,
mamak barajo kapangulu, pangulu barajo kamufakat, mufakat barajo kanan bana, bana
badiri sandirinyo, itulah inyo hokum Allah.







BAGIAN KE 3 :

HARTA PUSAKA TINGGI DAN TANAH ULAYAT DI MINANG KABAU
Oleh : H. Afrijon Ponggok Katik Basa Batuah

Salah satu keistimewaan dan yang menjadi kekuatan Adat Minang Kabau adalah karena
adanya Harta Pusaka Tinggi dan diakuinya Tanah Ulayat sebagai satu kesatuan yang tidak
dapat dipisahkan dari kesatuan suku atau kaum dalam kekerabatan Materinial yang
mengikat satu sama lainnya.
Bagi masyarakat Minang Kabau harta pusaka tinggi atau tanah ulayat merupakan marwah
dalam suku atau kaumnya, ada pusaka tinggi dan tanah ulayat berarti ada suku atau kaum,
karena cirri cirri adanya suatu suku atau kaum dalam kekerabatan Metrinial adalah dengan
adanya :
1. Rumah Gadang (Rumah gadang tempat berhimpunnya kaum atau saudara sesuku)
2. Sasok Jarami (Sawah atau ladang tempat menhidupi keluarga atau kaum)
3. Pandam pakuburan (Tanah pekuburan kaum atau suku)
4. Lantak supadan (batas-batas kebun dan hutan ulayat untuk pengembangan usaha).

Pengertian Harta Pusaka Tinggi atau tanah ulayat
Harat pusaka tinggi dan tanah ulayat bukanlah harta yang diperoleh melalui usaha, kerja
dan pencarian seorang ayah yang dapat dibagikan dan diwariskan kepada anak dan istrinya.
Harta pusaka tinggi adalh harta yang diperoleh dari hasil kerjasama, gatong royong antara
mamak dan kemenakan dalam suatu suku atau kaum pada masa lalu yang diperuntukkan
manfaatnya bagi saudara dan kemenakan perempuan menurut suku atau kaum dari garis
ibu sesuai konsep meterinial, sedangkan tanah ulayat adalah didapat dari pembagian
wilayah kekuasaan antara penghulu dalam suatu nagari menurut sesuai jumlah masing-
masing suku yang ada dalam nagari itu pada zaman dulunya.
Status kepemilikan
Harta pusaka tinggi dan tanah ulayat bukanlah milik pribadi yang dapat diperjual belikan
atau dipindah tangankan oleh seseorang kepada orang lain, harta pusaka tinggi adalah milik
suku atau kaum yang terdiri dari kesatuan kekrabatan keluarga besar dalam suatu suku atau
kaum yang diatur pemanfaatannya oleh ninik mamak penghulu suku untuk saudara
perempuan dan kemenakan, inilah yang disebut dalam aturan adat bahwa Mamak
Balai Adat
maulayat diharato pusako (Mamak mengulayat pada harta pusaka).
Pengertian mamak mengulayat pada harta pusaka adalah bahwa seorang mamak penghulu
suku yang ditunjuk atau dipilih oleh saudara dan kemenakan dalam suku atau kaum di
Minang Kabau mempunyai tanggung jawab yang besar kepada saudara dan kemenakan
dalam suku atau kaum yang dipimpinnya, diantaranya adalah menjaga memelihara dan
menagtur pemanfaatan harta pusaka tinggi dan tanah ulayat untuk saudara dan kemenakan
dari suku yang dipimpinnya, dengan palsapah adat Nan kamaagak maagiahkan, nan
kamanimbang samo barek, nan kamaukua samo panjang, nan kamambagi samo banyak,
sasuai mungkin jo patuik sukua mangko manjadi

Larangan menjual mengadai harta pusaka tinggi
Harta pusaka tinggi atau tanah ulayat di Minang Kabau tidaklah boleh dipejual belikan
ataupun digadaikan kepada orang lain, karena kalau harta pusaka tinggi digadaikan atau
apalagi dijual kepada orang lain maka suatu suku atau kaum akan kehilangan ulayat dan
hartanya sehingga tidak adalagi jaminan hidup bagi saudara dan kemenakan perempuan
dimasa-masa yang akan datang, dan akan terjadi penurunan nilai-nilai kekerabatang
materinial itu sendiri, inilah yang disebut dalam pepatah adat harato pusako tinggi dijua
indak dimakan bali digadai indak dimakan sando (harta pusaka tinggi dijual tidak dimakan
beli digadai tidak dimakan agun)
Tujuan harta pusaka tinggi dipelihara adalah untuk melindungi kaum yang lemah yaitu kaum
perempuan dan ini sudah teradat dari dahulu makanya adat Minang mengambil pesukuan
dari garis ibu, sedangkan harta pusaka rendah yaitu pencarian pribadi Sang ayah dan ibu
tetap bisa diwariskan kepada anak istrinya dan tidak boleh pula dibagikan kepada saudara
kemenakan dalam pesukuan..

Pedoman kerja seorang mamak penghulu adat
Seorang mamak penghulu suku harus bijak dalam menjalankan tugasnya sebagai kepala
kaum dalam sukunya maupun sebagai kepala keluarga dalam rumah tangganya dia harus
bisa membedakan mana yang hak saudara dan kemenakanya dan mana yang hak anak
istrinya, hal ini telah diatur dalam aturan adat seperti pepatah adat yang mengatakan :
Kaluak paku kacang balimbiang tampuruang lenggang lenggokkan dibaok urang ka saruaso,
anak dipangku kamanakan dibimbiang urang kampuang dipatenggangkan tenggang nagari
jan binaso, (keluk paku kacang belimbing tempurung lenggang lenggokkan dibawa orang ke
saruasa, anak dipangku kemenakan dibimbing orang kampong dipertenggangkan tenggang
negeri jangan binasa).
Maksut dari pepatah ini adalah pedoman bagi seorang mamak dalam suku atau kaum dalam
menjalankan fungsinya baik sebagai mamak bagi kmenakan maupun sebagai kepala
keluarga bagi anak dan istrinya, serta sikap sebagai masyarakat di dalam nagari atau
kampungnya. Anak dipangguk dengan hasil usaha atau pencarian pribadi, kemenakan
dibimbing dengan harta pusaka tinggi atau ulayat, orang kampong dipertenggangkan
dengan salang tenggang, gotong royong, kerja sama, dan tenggang nagari jangan binasa
dengan sikap kurenah, perangai kita jangan membuat malu nagarai atau kampung kita
sendiri.
Sangatlah dilarang dalam adat seorang mamak atau pengulu adat membawa harta pusaka
tinggi atau ualayat sukunya untuk anak istrinya apa lagi yang menggadai bahkan menjual
harta pusaka tinggi atau ualayat adat untuk kepentingan anak dan istrinya, dan begitu juga
sebaliknya sangatlah tidak pantas harta pencarian kita sendiri diberikan kepada saudara dan
kemenakan secara berlebihan sementara anak dan istri masih berkekurangan.

Harta pusaka tinggi yang beleh dimanfaatkan mamak pemangku adat.
Seorang mamak penghulu adat dapat memanfaatkan harta pusaka tinggi atau ualayat untuk
keperluan hidupnya dan keluarganya apa bial telah disepakati melalui anak kemenakan
dengan istilah sawah atau ladang abuan yang memang diperuntukan bagi mamak yang
menjabat gelar pengulu adat atau keperluan yang sangat mendesak atau sangat urgent
lainnya seperti sakit keras dll.

Kelonggoran Menggadai harta pusaka tinggi dalam adat.
Tidak dibenarkanya menggadai dan menjual harta pusaka tinggi atau tanah ulayat di Minang
Kabau bukanlah harga mati yang tidak ada toleransi sama sekali kecuali menjual memang
harga mati yang tidak dapat ditawar-tawar, sedangkan menggadai masih ada kelonggaran
yaitunya apa bila terjadi 4 perkara :
1. Maik tabujua ateh rumah (mayat terbujur diatas rumah ), Apabila ada dari keluarga yang
meninggal dunia namun tidak ada family atau orang kampung yang akan membantu untuk
menyelenggarakan jenazahnya sedangkan menyelenggarakan jenazah itu wajib menurut
agama, maka boleh menggadaikan harta pusaka untuk mengupahkan orang
menyelenggarakan jenazah tsb.
2. Gadih atau rando indak balaki (gadis atau janda tak punya suami), Kalau ada saudara atau
family perempuan baik dia gadis atau janda yang tidak punya suami dan tidak ada orang
yang mau mengawini dia sedangkan usianya sudah lanjut maka boleh menggadaikan harta
pusaka tinggi untuk membayar laki-laki lain agar mau menikahi dia, karena aib di Minang
Kabau kalau ada perempuan yang tidak punya suami apabila sudah sampai waktunya.
3. Rumah gadang katirisan (Rumah Gadang rusak berat), Apa bila rumah gadang rusak berat
seperti bocor, dinding lapuk tangga runtuh dll dan tidak ada orang laki-laki yang kuat untuk
memperbaikinya maka supaya rumah gadang jangan sampai runtuh boleh menggadaikan
harta pusaka tinggi atau ulayat untuk memperbaikinya, karena rumah gadang di Minang
Kabau adalah merupakan lambang kesatuan suku yang kuat dan kokoh, mencerminkan
kehidupan yang harmonis penuh kekeluargaan dalam suatu kaum yang diikat dengan pola
persaudaraan yang materinial
4. Mambangkik batang tarandam, (Membangkit batang terendam), Apa bila ada gelar
penghulu adat dalam suku yang tidak terpasang sedangkan anak kemenakan semakin
kembang memerlukan bimbingan seorang penghulu adat sementara pengulu adat atau
datuknya sudah lama terbenam (tidak dinobatkan) sementara anak kemenakannya tidak
mempunyai biaya untuk menyelenggarakan upacara penobatan gelar penghulu itu maka
boleh mengadai secukupnya untuk pelaksanaan acra tersebut.

Diluar yang 4 macam tersebut pada hakekatnya tidak diperkenankan bagi masyarakat
Minang untuk menggadaikan harta pusaka tinggi atau ulayat, kecuali yang sifatnya urgent
sekali seperti
1. Ada kemenakan yang sekolahnya sedang tergantung atak cerdas nilai tinggi, tapi ibu
miskin ayah meninggal saudarapun miskin pula tak ada tempat bertenggang, maka boleh
mengadaikan harta pusaka tinggi untuk keperluan sekolahnya dan kalau sudah bekerja nanti
dapat ditebus kembali.

2. Ada keluarga dan family yang sakit keras harus dioperasi dll, uang tidak ada untuk biaya
familipun hidupnya susah juga maka boleh menggadaikan harta pusaka seperlunya dll yang
sifatnya sangat urgent.
Pada hakikatnya menggadaikan harta pusaka tinggi atau ulayat di Minang Kabau sangat
dilarang, apa lagi menjualnya malah sangat tidak boleh, karena kalau dibolehkan mengadai
atau menjual maka akan hilanglah keistimewaan Minang Kabau, Ladang habih sawah
tagadai, parak tandeh hutan tajua, dima katampek iduik lai kamanakan batambah banyak
juo, akianyo manumpang ditanah urang manjawek upah patang pagi, pilolah nasib
kabarubah akianyo rantau dipajauah kampuang dihuni urang lain, harato bapindah tangan
Minang kabau katingga namo.






BAGIAN KE IV :
MINANG KABAU ADALAH BUDAYA BUKAN TERITORIAL PEMERINTAHAN
Bismillahirrahmanirrahim
Banyak orang yang salah pengertian memahami Minang Kabau, karena banyak yang
menganggap Minang Kabau itu adalah sebuah kerajaan pemerintahan yang berada di
Sumatera Barat, padahal Minang Kabau bukanlah suatu kerajaan pemerintahan namun dia
adalah suatu kebudayaan masyarakat adat yang menganut sistim kekerabatan Matrilineal
dalam tatanan kemasyarakatan sehari-hari.
Pada zaman dahulu memang banyak terdapat kerajaan pemerintahan di Minang Kabau
salah satunya yang terbesar adalah Kerajaan Pagaruyung, namun Pagaruyung bukanlah
satu-satunya kerajaan di Minang Kabau banyak lagi yang lain.
Banyak pula orang yang mencampurkan dan mengidentikkan Minang Kabau itu adalah
Pagaruyung padahal bukan, Pagaruyung hanyalah merupakan salah satu Kerajaan yang
pernah berkuasa di masyarakat Minang Kabau yang kebetulan Pusat Kerajaannya berada di
daerah dimana Adat dan Budaya Minang Kabau itu dibangun oleh para pendiri dan
pemikirnya zaman dulu.
Banyak pula orang yang mengartikan bahwa Minang Kabau identik dengan Provinsi
Sumatera Barat, padahal itu juga bukan, tidak seluruh Provinsi Sumatera Barat menganut
Budaya Minang Kabau seperti di Kepulauan Mentawai dan sebahagian Pasaman,
masyarakat yang menganut adat dan budaya Minang Kabau juga terdapat di Provinsi lain
seperti Riau, Jambi dan Bengkulu, Bahkan sampai ke Negeri Sembilan Malaisya.
Tidaklah tepa kalau dikatakan seluruh orang Sumatera Barat adalah orang Minang Kabau
dan orang yang diluar Sumatera Barat bukan orang minang kerena berada pada Provinsi
lain, yang paling tepat itu orang Minang adalah orang yang memakai adat istiadat Minang
Kabau.
Untuk menentukan apakah orang itu adalah masyarakat Minang Kabau dapat dilihat dari
beberapa kriteria yang sesuai dengan ajaran adat Minang Kabau, diantaranya :
1. Palsapah adatnya adalah ADAT BERSENDI SYARAK, SYARAK BERSENDI KITABULLAH
(Mengamalkan syariat Islam secara utuh)
2. Mereka memakai sistim Kekerabatan Matrilineal (mengambil pesukuan dari garis ibu)
3. Mempunyai Suku dalam kelompok masyarakatnya yang di pimpin oleh seorang
penghulu yang disebut Datuk
4. Mempunya harta pusaka tinggi berupa sawah, ladang, hutan, sungai, dll yang dikelola
turun temurun menurut garis ibu yang disebut Ulayat adat.
5. Mempunyai pandam pekuburan (Tanah pekuburan Kaum adat dalam suatu suku)
6. Mempunyai Rumah Adat kaum yang atapnya berbentuk tanduk kerbau (bergonjong).
Orang Minang Kabau melaksanakan kehidupan sesuai menurut ajaran Islam serta menurut
alur dan patut yang di terjemahkan kedalam ajaran adat, jadi siapa saja masyarakatnya yang
menganur tatanan adat sesuai kriteria diatas maka mereka adala orang Minang Kabau,
begitu juga sebaliknya walaupun seseorang atau sekelompok masyarakat itu berasal dari
Sumatera Barat dan dari Batusangkar sekalipun tempat lahirnya adat Minag Kabau kalau dia
tidak memenuhi keriteria tersebut maka dia bukanlah orang Minang Kabau.


















Bahasa Minangkabau
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Bahasa Minangkabau atau Baso Minang adalah salah satu anak cabang bahasa Austronesia
yang dituturkan khususnya di wilayah Sumatera Barat, bagian barat propinsi Riau serta
tersebar di berbagai kota di seluruh Indonesia.
Terdapat pertentangan mengenai hubungan bahasa Minangkabau dengan bahasa Melayu.
Sebagian pakar bahasa menganggap bahasa ini sebagai dialek Melayu, karena banyaknya
kesamaan kosakata dan bentuk tuturan di dalamnya, sementara yang lain justru
beranggapan bahasa ini merupakan bahasa mandiri yang berbeda dengan Melayu.
Daerah sebar tutur
Secara historis, daerah sebar tutur Bahasa Minangkabau meliputi bekas wilayah kekuasaan
Kerajaan Pagaruyung yang berpusat di Batusangkar, Sumatera Barat. Batas-batasnya biasa
dinyatakan dalam ungkapan Minang berikut ini:
Dari Sikilang Aia Bangih
hingga Taratak Aia Hitam.
Dari Durian Ditakuak Rajo
hingga Sialang Balantak Basi.
Sikilang Aia Bangih adalah batas utara, sekarang di daerah Pasaman Barat, berbatasan
dengan Natal, Sumatera Utara. Taratak Aia Hitam adalah daerah Bengkulu. Durian Ditakuak
Rajo adalah wilayah di Kabupaten Bungo, Jambi. Yang terakhir, Sialang Balantak Basi adalah
wilayah di Rantau Barangin, Kabupaten Kampar, Riau sekarang.
Bahasa Minangkabau juga menjadi bahasa lingua franca di kawasan pantai barat Sumatra
Utara, bahkan menjangkau jauh hingga pesisir barat Aceh. Di Aceh, penutur bahasa ini
disebut sebagai Aneuk Jamee. Selain itu, bahasa Minangkabau juga dituturkan oleh
masyarakat Negeri Sembilan, Malaysia yang nenek moyangnya merupakan pendatang asal
ranah Minang sejak berabad-abad silam.
Dialek
Dialek bahasa Minangkabau sangat bervariasi, bahkan antarkampung yang dipisahkan oleh
sungai sekali pun dapat mempunyai dialek yang berbeda. Perbedaan terbesar adalah dialek
yang dituturkan di kawasan Pesisir Selatan dan dialek di wilayah Mukomuko, Bengkulu.
Selain itu dialek bahasa Minangkabau juga dituturkan di Negeri Sembilan, Malaysia dan yang
disebut sebagai Aneuk Jamee di Aceh, terutama di wilayah Aceh Barat Daya dan Aceh
Selatan. Berikut ini adalah perbandingan perbedaan antara beberapa dialek:
Bahasa Indonesia/ Bahasa Melayu : Apa katanya kepadamu?
Bahasa Minangkabau baku : A keceknyo jo kau?
Mandahiling Kuti Anyie : Apo kecek o k gau?
Padang Panjang : Apo keceknyo ka kau?
Pariaman : A kato e bakeh kau?
Luda i : A kecek o ka rau?
Sungai Batang : Ea janyo ke kau?
Kurai : A jano kale gau?
Kuranji : Apo kecek e ka kau?
Salimpaung Batusangkar : Poh ceknyoh kah khau duh?
Rao-Rao Batusangkar : Aa keceknyo ka awu tu?
Untuk komunikasi antar penutur bahasa Minangkabau yang sedemikian beragam ini,
akhirnya dipergunakanlah dialek Padang sebagai bahasa baku Minangkabau atau disebut
Baso Padang atau Baso Urang Awak. Bahasa Minangkabau dialek Padang inilah yang
menjadi acuan baku (standar) dalam menguasai bahasa Minangkabau.
Contoh :
Bahasa Minangkabau: Sadang kayu di rimbo tak samo tinggi, kok kunun manusia
(peribahasa)
Bahasa Indonesia: Sedangkan pohon di hutan tidak sama tinggi, apa lagi manusia
Bahasa Minangkabau: Co a koncek baranang co itu inyo (peribahasa)
Bahasa Indonesia: Bagaimana katak berenang, seperti itulah dia.
Bahasa Minangkabau: Indak buliah mambuang sarok di siko!
Bahasa Indonesia: Tidak boleh membuang sampah di sini!
Bahasa Minangkabau: Bungo indak satangkai, kumbang indak sa ikua (peribahasa)
Bahasa Indonesia: Bunga tidak setangkai, kumbang tidak seekor
Bahasa Minangkabau: A tu nan ka karajo ang* ?
Bahasa Indonesia: Apa yang akan kamu kerjakan?
* perhatian: kata ang (kamu) adalah kata kasar
Karya sastra
Karya sastra tradisional berbahasa Minang memiliki persamaan bentuk dengan karya sastra
tradisional berbahasa Melayu pada umumnya, yaitu berbentuk pantun, cerita rakyat,
hikayat nenek moyang (tambo) dan adat-istiadat Minangkabau. Penyampaiannya biasanya
dilakukan dalam bentuk cerita (kaba) atau dinyanyikan (dendang).
Perbandingan dengan Bahasa Melayu/Indonesia
Orang Minangkabau umumnya berpendapat banyak persamaan antara Bahasa
Minangkabau dengan Bahasa Melayu/Indonesia. M. Rusli dalam Peladjaran Bahasa
Minangkabau menyebutkan pada pokoknya perbedaan antara Bahasa Minangkabau dan
Bahasa Indonesia adalah pada perbedaan lafal, selain perbedaan beberapa kata.
Contoh-contoh perbedaan lafal Bahasa Melayu/Indonesia dan Bahasa Minangkabau adalah
sebagai berikut:
ut-uik, contoh: rumput-rumpuik
us-uih, contoh: putus -putuih
at-ek, contoh: rapat-rapek. Untuk kata-kata berasal dari bahasa asing at-aik, contoh: adat-
adaik
al/ar-a, contoh: jual-jua, kabar-kaba
e(pepet)-a, contoh: beban-baban
a-o, contoh: kuda-kudo
awalan ter-, ber-, per- menjadi ta-, ba-, pa-. Contoh: berlari, termakan, perdalam (Bahasa
Melayu/Indonesia) menjadi balari, tamakan, padalam (Bahasa Minangkabau)


















Selayang Pandang tentang Minangkabau (Sumatera Barat)
Budaya
Masyarakat Minangkabau merupakan masyarakat matrilineal yang terbesar di dunia,
di mana harta pusaka diwaris menerusi nasab sebelah ibu. Beberapa ahli fikir berpendapat
bahawa adat inilah yang menyebabkan ramai kaum lelaki Minangkabau untuk merantau di
serata Nusantara untuk mencari ilmu atau mencari kemewahan dengan berdagang. Kanak-
kanak lelaki semuda 7 tahun selalunya akan meninggalkan rumah mereka untuk tinggal di
surau di mana merka diajarkan ilmu agama dan adat Minangkabau. Apabila remaja pula,
mereka digalakkan untuk meninggalkan perkampungan mereka untuk menimba ilmu di
sekolah atau menimba pengalaman daripada luar kampung dengan harapan yang mereka
akan pulang sebagai seorang dewasa yang lebih matang dan bertanggungjawab kepada
keluarga dan nagari (kampung halaman).
Tradisi ini berhasil mendirikan beberapa masyarakat rantauan Minangkabau di
bandar dan tempat-tempat lain di Indonesia. Namun ikatan mereka dengan Ranah Awak
(Tanah Minang) masih disimpan dan dikuatkan lagi. Satu contoh kawasan yang didiami oleh
masyarakat Minangkabau dan masih mengamalkan adat dan budaya Minangkabau adalah
Negeri Sembilan di Malaysia.
Selain daripada dikenali sebagai orang pedagang, masyarakat Minang juga berjaya
melahirkan beberapa penyair, penulis, negarawan, ahli fikir dan para ulama. Ini mungkin
terjadi kerana budaya mereka yang memberatkan penimbaan ilmu pengetahuan. Sebagai
penganut agama Islam yang kuat, mereka cenderung kepada idea untuk menggabungkan
ciri-ciri Islam dalam masyarakat yang moden. Selain itu, peranan yang dimainkan oleh para
cendekiawan bersama dengan semangat bangga orang Minang dengan identiti mereka
menjadikan Tanah Minangkabau, iaitu, Sumatra Barat, sebagai sebuah kuasa utama dalam
pergerakan kemerdekaan di Indonesia.
Masyarakat Minang, terbahagi kepada beberapa buah suku, iaitu, Suku Piliang, Bodi
Caniago, Tanjuang, Koto, Sikumbang, Malayu dan Jambak. Kadang-kadang juga, keluarga
yang sesuku tinggal dalam satu rumah besar yang dipanggil Rumah Gadang. Penggunaan
bahasa Indonesia berleluasa di kalangan masyarakat Minang, tetapi mereka masih boleh
bertutur dalam bahasa ibunda mereka, iaitu, bahasa Minangkabau. Bahasa Minangkabau
mempunyai perkataan yang serupa dengan bahasa Melayu tetapi berbeza dari segi sebutan
dan juga tatabahasa hingga menjadikannya unik dari bahasa Melayu.
Salah satu aspek terkenal mengenai orang Minang adalah makanan tradisional
mereka seperti rendang, Soto Padang (makanan sup), Sate Padang dan Dendeng Balado
(daging dendeng berlada). Restoran Minangkabau yang sering digelar Restoran Padang
dapat dijumpai di merata Indonesia dan di negara-negara jiran yang lain.
Upacara dan perayaan
Upacara dan perayaan Minangkabau termasuk:
Turun mandi upacara memberkati bayi
Sunat rasul upacara bersunat
Baralek upacara perkahwinan
Batagak pangulu upacara pelantikan penghulu. Upacara ini akan berlansung selama 7
hari di mana seluruh kaum kerabat dan ketua-ketua dari kampung yang lain akan dijemput
Turun ka sawah upacara kerja gotong-royong
Manyabik upacara menuai padi
Hari Rayo perayaan Hari Raya Aidilfitri
Hari Rayo perayaan Hari Raya Aidiladha
Maanta pabukoan menghantar makanan kepada ibu mentua sewaktu bulan Ramadan
Tabuik perayaan Islam di Pariaman
Tanah Ta Sirah, perlantikan seorang Datuk (ketua puak) apabila Datuk yang sebelumnya
meninggal dunia silang beberapa jam yang lalu (tidak payah didahului dengan upacara
batagak pangulu)
Mambangkik Batang Tarandam, perlantikan seorang Datuk apabila Datuk yang sebelumya
telah meninggal 10 atau 50 tahun yang lalu (mengisi jawatan yang telah lama dikosongkan)
Seni
Seni tradisonal Minangkabau termasuk:
Randai, teater rakyat dengan memasuki pencak, musik, tarian dan drama
Saluang Jo Dendang, serunai bambu dan nyanyian
Talempong musik bunyi gong
Tari Piring
Tari Payung Menceritakan kehidupan muda-mudi Minang yang selalu riang gembira
Tari Indang
Pidato Adat juga dikenali sebagai Sambah Manyambah (sembah-menyembah), upacara
berpidato, dilakukan di setiap upacara-upacara adat, seperti rangkaian acara pernikahan
(baralek), upacara pengangkatan pangulu (penghulu), dan lain-lain
Pencak Silat tarian yang gerakannya adalah gerakan silat tradisional Minangkabau
Kraftangan
Traditional Minangkabau crafts include:
Kain Songket
Sulaman
Ukiran kayu
menukang emas dan perak
Agama
Kebanyakkan orang apabila diberitahu bahawa masyarakat Minang merupakan penganut
Islam yang kuat merasa bingung kerana anggapan mereka ialah sebuah masyarakat yang
mengikut sistem saka (matriarchal) akan sering berselisih dengan fahaman Islam yang lebih
patriarchal. Namun sebenarnya, terdapat banyak persamaan di antara fahaman Islam dan
Minangkabau (lebih lagi pada masa kini) sehingga menjadi sukar untuk orang Minang
membedakan satu daripada lain.
Seperti contoh:
Fahaman Islam: Menimba ilmu adalah wajib.
Fahaman Minangkabau: Anak-anak lelaki mesti meninggalkan rumah mereka untuk tinggal
dan belajar dengan di surau (langgar, masjid).
Fahaman Islam: Mengembara adalah digalakkan untuk mempelajari dari tamadun-
tamadun yang kekal dan binasa untuk meningkatkan iman kepada Allah.
Fahaman Minangkabau: Remaja mesti merantau (meninggalkan kampung halaman) untuk
menimba ilmu dan bertemu dengan orang dari berbagai tempat untuk mencapai
kebijaksanaan, dan untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Falsafah merantau juga
bererti melatih orang Minang untuk hidup berdikari, kerana ketika seorang pemuda Minang
berniat merantau meninggalkan kampungnya, dia hanya membawa bekal seadanya.
Fahaman Islam: Tiada wanita yang boleh dipaksa untuk berkahwin dengan lelaki yang dia
tidak mahu berkahwin.
Fahaman Minangkabau: Wanita menentukan dengan siapa yang mereka ingin berkahwin.
Fahaman Islam: Ibu berhak dihormati 3 kali lebih dari bapa.
Fahaman Minangkabau: Bundo Kanduang adalah pemimpin/pengambil keputusan di Rumah
Gadang.
Ciri-ciri Islam begitu mendalam dalam adat Minang sehingga mereka yang tidak
mengamalkan Islam dianggap telah terkeluar dari masyarakat Minang.
Masyarakat Minangkabau di Negeri Sembilan
Pada permulaan abad ke-14, orang-orang Minangkabau mula tiba di Negeri Sembilan
melalui Melaka dan sampai ke Rembau. Orang Minangkabau ini lebih bertamadun daripada
penduduk asal iaitu, Orang Asli, dan berjaya tinggal secara damai dengan mereka. Dengan
itu berlakulah pernikahan antara orang-orang Minangkabau dengan penduduk asli dan
daripada keturunan mereka dinamakan suku Biduanda. Suku Biduanda ini adalah pewaris
asal Negeri Sembilan dan apabila hendak memilih seorang pemimpin maka hanya mereka
dari suku Biduanda inilah yang akan dipilih. Orang-orang Minangkabau yang datang
kemudian adalah dari suku kampung-kampung asal mereka di Minangkabau. Pada peringkat
awal kebanyakan yang tiba adalah dari Tanah Datar dan Payakumbuh.
Dari suku Biduanda inilah asalnya pembesar-pembesar Negeri Sembilan yang dipanggil
Penghulu dan kemudiannya Undang. Sebelum wujudnya institusi Yang di-Pertuan Besar,
Negeri Sembilan berada di bawah naungan kerajaan Melayu Johor.
Orang-orang Minangkabau terkemuka
Abdul Muis, penulis, wartawan dan pejuang kebangsaan
Leftenan Adnan bin Saidi, wira Perang Dunia II
Chairil Anwar, pujangga
Buya Hamka, cendekiawan Islam
Prof Dr Emil Salim, ahli ekonomis dan bekas menteri Indonesia
Haji Agus Salim, pejuang kemerdekaan Indonesia
Mohammad Hatta, Naib Presiden Indonesia yang pertama dan salah seorang pengasas
negara Indonesia
Siti Mangopoh, pejuang wanita yang berlawan mengusir penjajah Belanda
Rasuna Said, menteri wanita pertama di Indonesia
Rohana Kudus, aktivis wanita dan pengarang
Sutan Sjahrir, bekas perdana menteri Indonesia
Ibrahim Datuk Tan Malaka, nasionalis dan ketua parti komunis
Tuanku Imam Bonjol, Pemimpin gerakan Padri. Islam di Minangkabau yang berfahaman
Wahabi, keras dan berdasarkan Al Quran dan Sunnah menyebaban perselisihan antara
Ulama dan Pemimpin Adat kerana Islam melarang beberapa kebiasaan-kebiasaan adat,
seperti menyabung ayam dan sebagainya. Namun dalam perkembangannya, beberapa
kebiasaan masyarakat Minang yang dilarang Islam itu lambat laun menghilang sejalan
dengan bertambahnya ulama-ulama Minangkabau yang menuntut ilmu langsung di Mekah
dan kembali lagi ke Minangkabau.
Tuanku Nan Renceh, ketua dalam Perang Padri
Yusof Ishak, presiden pertama Singapura
Zubir Said, penggubah lagu kebangsaan Singapura, Majulah Singapura
Hasyim Ning, usahawan terkenal pada era Sukarno
Ir. Fazwar Bujang Direktor Utama syarikat PT. Krakatau Steel Indonesia
Adityawarman, Raja pertama Minangkabau, masih mempunyai tali darah dengan
Majapahit dan Gajah Mada. Ibu Adityawarman adalah puteri raja Kerajaan Melayu di Jambi
yang disunting salah satu raja Majapahit, dan dihantar kembali ke Minangkabau untuk
memerintah di wilayah Minangkabau. Namun kerana Adat Minangkabau yang begitu kuat,
di mana pemerintahan tertinggi dari suatu nagari adalah Tigo Tungku Sajarangan; Pangulu,
Cadiak Pandai, Alim Ulama (Bukan Rajo), maka kedudukan Aditiyawarman sebagai raja
Minangkabau hanya sebagai lambang saja; bahkan Adityawarman memutuskan hubungan
dengan Majapahit dan mendirikan kerajaan Minangkabau yang merdeka dan berpusat di
Pagaruyung.
Dr Sheikh Muszaphar Shukor Al Masrie bin Sheikh Mustapha, angkasawan pertama
Malaysia
Tan Sri Datuk Abdul Samad Idris, ahli politik, budayawan, sejarawan dan penulis Malaysia
Tan Sri Norma Abas. Wanita pertama Hakim Besar Malaya