Anda di halaman 1dari 31

1 | P a g e

1. Identitas
Nama : Tn.H
Umur : 16Tahun
JenisKelamin : Laki-laki
Agama : Islam
SukuBangsa : Sunda, Indonesia
Alamat : Tanjung sari
Pekerjaan : Pelajar
Status : Belum menikah

2. Anamnesis
a. Dilakukansecara Autoanamnesis
Tanggal 15-11-2013
Tempat RuangTopas

b. Keluhan utama: Luka terbuka pada kanan yang nyeri dan bengkak.

c. Riwayat penyakit sekarang: Pasien datang dengan keluhan nyeri,
bengkak, dan luka sejak 1 hari SMRS. Pasien mengaku di bonceng
oleh temanya dan saat temanya akan menyalip motor di depanya stang
motor tersebut membentur stang motor yang pasien kendarai dan
pasien terjatuh membentur mobil dari arah yang berlawanan. Pasien
mengaku nyeri pada pertengahan kaki sebelah kanan yang dirasakan
semakin berat dan sulit menggerakan kakinya. Keluhan disertai
bengkak pada kaki yang dirasakan pada pasien beberapa saat setelah
kejadian. Pasien masih dapat merasa pada kaki kanan dan kirinya.
Pasien sulit untuk berjalan karena nyeri pada keadaannya saat ini.

d. Riwayat penyakit dahulu: Tidak ada
Riwayat operasi sebelumnya tidak ada.
Riwayat kencing berdarah tidak ada.
Riwayat penurunan berat badan tidak ada

e. Riwayat penyakit keluarga: Tidak ada
2 | P a g e


f. Riwayat Alergi: Tidak ada


3. PemeriksaanFisik:
a. Status generalis:
KeadaanUmum: Sakitsedang
Kesadaran : Kompos mentis
Tensi : 120/80
Nadi : 72x/menit
Respirasi : 20x/ menit

Tinggibadan : 155cm
Beratbadan : 50 kg
Kepala : Normocephale
Mata : Konjungtiva Anemis: Kanan: Kiri:
Hidung : Tidak ada Deviasi
Tidak ada krepitasi
Tidak tampak adanya darah maupun sekret
Tidak ada pernapasan cuping hidung
Mulut : Sianosis per oral tidak
Telinga : Oval
Tidak tampak secret
Leher : Kelenjar getah bening tidak ada pembesaran
Kelenjar tiroid tidak teraba
Toraks Cor I: Iktus kordis terlihat
P:iktus kordis teraba
P: batas jantung dalam batas normal
3 | P a g e

A:Bunyi jantung 1&2 murni regular
Pul I: Simetris pada keadaan statis dan dinamis
P: Fremitus taktil sama kanan dan kiri
Fremitus vocal sama kanan dan kiri
P: Sonor seluruh lapang paru
A: Vesikuler breathing sound sama kanan dan kiri
Rhonki / Wheezing /
Abdomen I : Datar lembut
A: Bising usus (+)
P: Timpani ke 4 Quadran
P: Defans muscular (-),
Pekaksamping/pekakpindah (-/-),
Nyeri tekan (-)
Ekstremitas bawah: a/rGenu dextra Tampak bekas jahitan pada lutut kanan pasien
sebanyak 5 jahitan
b. Status Lokalis:
a/r Femur dextra 1/3 distal anterior
Look: tampak bekas jahitan sebanyak 5 jahitan.
Perdarahan aktif (-), pembengkakan (+)
Feel: nyeri tekan (+), Suhu kulit lebih panas, nyeri saat digerakan
(+), pulsasi arteri dorsalis pedis (+)
Motion: Motion Range of Knee Joint tidak bisa digerakan
Kekuatan otot : Grade II
4. Pemeriksaanpenunjang:
Laboratorium:

4 | P a g e

07-11-2013 08-11-2013
Hemoglobin 12.9 10.6
Hematokrit 36 28
Leukosit 17.900 9.500
Trombosit 261.000 247.000
Eritrosit 4.19 3.32
AST (SGOT) 268 68
ALT (SGPT) 167 106
Ureum 27 27
Kreatinin 0.7 0.7
GlukosaDarahSewaktu 145 180


5 | P a g e




Diagnosis banding: Open fracture femur dextra 1/3 distal displaced comminuted
Diagnosis kerja: Suspek fractur patella dextra
Tindakan:
- Rontgen toraks
- Rontgen femur-genu dextra AP-Lateral
6 | P a g e

- Spalk kaki
- Infus RL 15 tetes per menit
- Cefotaxime 2x1gr
- Ketorolac 3x1 iv
Resume
Seorang laki-laki 16 tahun datang dengan keluhan luka terbuka a/r genu
dextra, disertai nyeri dan sulit bergerak. Pasien mengaku 1 hari sebelum masuk
rumah sakit mengalami kecekalaan. Dari pemeriksaan fisik didapatkan luka a/r
genu dextra anterior, ukuran 2 x 0,5 cm, tampak perdarahan, pulsasi arteri dorsalis
pedis dextra masih teraba. Motion knee joint dextra tidak bisa digerakan. Riwayat
penyakit dahulu tidak ada.
Follow Up:
8/11/2013
S: Terasa pegal
O: T: 100/70
N: 72x/menit
R: 20x/menit
S: 36,7 C
Abdomen: datar lembut
a/r Genu dextra
Look: tertutup verban
Feel: Perih
Move: tidak bisa digerakan
A: Open fracture femur dextra 1/3 distal displaced cominuted + Open
fractre patella dextra
P: Perecanaan diagnosis: Rontgen ulang genu dextra
- Terapi: Infus RL 15 tetes per menit
- Cefotaxime 2x1gr
- Ketorolac 3x
7 | P a g e

- Anti Tetanus Serum
11/11/2013
S: panas badan
O: T: 100/80
N: 88x/menit
R: 20x/menit
S: 38,2 C
Abdomen: datar lembut
a/r Genu dextra
Look: tertutup verban
Feel: Perih dan panas
Move: tidak bisa digerakan
A: Open fracture femur dextra 1/3 distal displaced cominuted + Open
fracture patella dextra
P: Infus RL 15 tetes per menit
- Cefotaxime 2x1gr
- Ketorolac 3x1 iv
- Ganti Verban dan perawatan luka

R/ Open Reduction Internal Fixation (ORIF) dalam Narkoseumum (NU)

Konsul Anestesi
Kepada Yang Terhormat Sp.An
Mohon konsul pasien diatas dengan diagnosis Open fracture femur dextra
1/3 distal displaced cominuted + Open fracture patella dextra dan akan di
lakukan ORIF dalam NU atas bantuanya terimakasih.

8 | P a g e


12/11/2013
S: panas badan, sakit di kaki kanan
O: T: 100/70
N: 80x/menit
R: 20x/menit
S: 37,6 C
Abdomen: datar lembut
Bising usus (BU): (+) Nyeri tekan (NT): (-)
a/r Genu dextra
Look: tertutup verban
Feel: Perih dan panas
Move: tidak bisa digerakan
A: Open fracture femur dextra 1/3 distal displaced cominuted + Open
fracture patella dextra
P: Infus RL 15 tetes per menit
- Cefotaxime 2x1gr
- Ketorolac 3x1 iv
- Ganti Verban dan perawatan luka

R/ Open Reduction Internal Fixation (ORIF) dalam Narkoseumum (NU)

13/11/2013
S: panas badan, sakit di kaki kanan
O: T: 100/70
N: 82x/menit
9 | P a g e

R: 20x/menit
S: 37,6 C
Abdomen: datar lembut
Bising usus (BU): (+) Nyeri tekan (NT): (-)
a/r Genu dextra
Look: tertutup verban
Feel: Perih dan panas
Move: tidak bisa digerakan
A: Open fracture femur dextra 1/3 distal displaced cominuted + Open
fracture patella dextra
P: Infus RL 15 tetes per menit
- Cefotaxime 2x1gr
- Ketorolac 3x1 iv
- Ganti Verban dan perawatan luka
- Jadwal OK
R/ Open Reduction Internal Fixation (ORIF) dalam Narkoseumum (NU)
14/11/2013
S: Perih dan panas di kaki kanan
O: T: 100/70
N: 80x/menit
R: 20x/menit
S: 36,5 C
Abdomen: datar lembut
Bising usus (BU): (+) Nyeri tekan (NT): (-)
a/r Genu dextra
Look: tertutup verban
10 | P a g e

Feel: Perih dan panas
Move: tidak bisa digerakan
A: Open fracture femur dextra 1/3 distal displaced cominuted + Open
fracture patella dextra
P: Infus RL 15 tetes per menit
- Cefotaxime 2x1gr
- Ketorolac 3x1 iv
- Ganti Verban dan perawatan luka
R/ Open Reduction Internal Fixation (ORIF) dalam Narkoseumum (NU)
15/11/2013
S: Perih dan panas di kaki kanan
O: T: 120/70
N: 80x/menit
R: 20x/menit
S: 36,5 C
Abdomen: datar lembut
Bising usus (BU): (+) Nyeri tekan (NT): (-)
a/r Genu dextra
Look: tertutup verban
Feel: Perih dan panas
A: Open fracture femur dextra 1/3 distal displaced cominuted + Open fracture
patella dextra
P: Infus RL 15 tetes per menit
- Cefotaxime 2x1gr
- Ketorolac 3x1 iv
- Ganti Verban dan perawatan luka
R/ Open Reduction Internal Fixation (ORIF) dalam Narkoseumum (NU)
11 | P a g e


























12 | P a g e

PEMBAHASAN

I. Anatomi


II. Fraktur
Definisi
Fraktur adalah hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan sendi, tulang
rawan epifisis, baik yang bersifat total maupun yang bersifat parsial.
1

Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang
dan/atautulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa. Trauma yang
menyebabkantulang patah dapat berupa trauma langsung, misalnya benturan
pada lengan bawah yangmenyebabkan fraktur radius dan ulna, dan dapat berupa
trauma tidak langsung, misalnya jatuh bertumpu pada tangan yang menyebabkan
tulang klavikula atau radius distal patah.Akibat trauma pada tulang bergantung
pada jenis trauma, kekuatan, dan arahnya.Trauma tajam yang langsung atau
trauma tumpul yang kuat dapat menyebabkan tulang patah dengan luka terbuka
sampai ke tulang yang disebut fraktur terbuka. Fraktur di dekatsendi atau
13 | P a g e

mengenai sendi dapat menyebabkan fraktur disertai luksasi sendi yang
disebutfraktur dislokasi.

Etiologi
Untuk mengetahui proses terjadinya fraktur maka perlu diketahui terlebih
dahulu keadaan fisik dan keadaan trauma yang menyebabkan tulang tersebut
patah. Kebanyakan fraktur terjadi sebagai bentuk kegagalan tulang menahan
tekanan, terutama tekanan membengkok, memutar, dan tarikan.
1,2

Trauma dapat bersifat :
- Trauma langsung, trauma langsung menyebabkan penekanan pada tulang
dan terjadi fraktur pada daerah tekanan. Fraktur yang terjadi biasanya
bersifat kominutif dan jaringan lunaknya ikut mengalami kerusakan.
- Trauma tidak langsung, trauma yang dihantarkan kedaerah yang lebih jauh
dari daerah fraktur. Pada keadaan ini biasanya jaringan lunak didapatkan
tetap utuh.
1

Tekanan pada tulang dapat berupa :
- Tekanan berputar yang mengakibatkan fraktur bersifat spiral ataupun
oblique.
- Tekanan membengkok yang menyebabkan fraktur transversal.
- Tekanan sepanjang aksis tulang yang dapat menyebabkan fraktur impaksi,
dislokasi, atau fraktur dislokasi.
- Kompresi vertical dapat menyebabkan fraktur kominutif.
- Trauma langsung dengan disertai adanya resistensi pada suatu jarak
tertentu akan menyebabkan fraktur oblique.
- Fraktur yang disebabkan remuk.
- Trauma karena tarikan pada ligamentum ataupun tendon akan menarik
sebagian tulang.
1




Klasifikasi
Klasifikasi secara etiologi :
14 | P a g e

- Fraktur traumatik, terjadi sebagai akibat dari fraktur secara tiba tiba.
- Fraktur patologis, terjadi sebagai akibat dari kelemahan tulang sebelumnya
disebabkan oleh kelainan patologis dalam tulang.
- Fraktur stress, sebagai akibat dari trauma yang terus menerus pada satu
tempat.
1

Klasifikasi secara klinis :
- Fraktur tertutup / simple fraktur, merupakan suatu fraktur yang tidak
mempunyai hubungan dengan dunia luar.
- Fraktur terbuka, merupakan fraktur yang mempunyai hubungan dengan
dunia luar melalui luka pada kulit dan jaringan lunak dapat berbentuk dari
dalam ataupun dari luar.
- Fraktur dengan komplikasi, merupakan suatu fraktur disertai dengan
komplikasi baik kelainan bentuk ataupun adanya infeksi.
1

Klasifikasi secara radiologis :
- Lokalisasi - Diafisial
- - Metafisial
- - Intra artikular
- - Fraktur dengan dislokasi


( Sumber : Pengantar Ilmu Bedah ortopedi, 2007 )


- Konfigurasi - Fraktur transversal
- - Fraktur oblique
15 | P a g e

- - Fraktur spiral
- - Fraktur Z
- - Fraktur segmental
- - Fraktur kominutif, fraktur yang lebih dari dua segmen.
- - Fraktur baji, biasa pada vertebra karena trauma kompresi.
- - Fraktur avulse, suatu segmen kecil yang tertarik.
- - Fraktur depresi
- - Fraktur impaksi
- - Fraktur burst
- - Fraktur epifisis

( Sumber : Pengantar Ilmu Bedah ortopedi, 2007 )

- Ekstensi - Frakktur total

- - Fraktur tidak total

- - Fraktur bucle atau torus

- - Fraktur garis rambut

- - Fraktur green stick.

16 | P a g e



( Sumber : Pengantar Ilmu Bedah ortopedi, 2007 )

- Berdasarkan hubungan dengan fragmen lainnya - Tidak bergeser

- - Bergeser -
Samping

- -
Angulasi

- -
Rotasi

- -
Distraksi

- -
Overiding

- -
Impaksi


Fraktur terbuka dibagi menjadi 3 derajat yang ditentukan oleh berat
ringannyaluka dan berat ringannya fraktur.
17 | P a g e




III. Fraktur Terbuka
Definisi
Fraktur terbuka merupakan suatu fraktur dimana terjadi hubungan dengan
lingkungan luar melalui kulit sehingga terjadi kontaminasi bakteri sehingga
timbul komplikasi berupa infeksi. Luka pada kulit dapat berupa tusukan tulang
tajam yang keluar menembus kulit atau dari luar karena tertembus peluru atau
trauma langsung.
1,2

Fraktur terbuka merupakan suatu keadaan darurat yang memerlukan
penaganan terstandard untuk mengurangi resiko infeksi. Selain penyembuhan
infeksi juga diharapkan terjadi penyembuhan dari fraktur dan restorsi fungsi dari
anggota gerak.
1,2


Klasifikasi
Klasifikasi yang dianut berdasarkan Gustilo, Merkow, dan Templemen :
Tipe I
Luka kecil yang kurang dari 1cm panjangnya biasanya karena luka tusukan dari
fragmen tulang yang menembus keluar kulit. Terdapat sedikit kerusakan jaringan
dan tidak terdapat tanda tanda trauma yang hebat pada jaringan lunak.
Tipe II
Laserasi kulit melebihi 1 cm tetapi tidak ada kerusakan jaringan yang hebat atau
avulse kulit. Terdapat kerusakan yang sedang dari jaringan dengan sedikit
kontaminasi dari fraktur.
Tipe III
18 | P a g e

Terdapat kerusakan yang hebat dari jaringan lunak termasuk otot, kulit, dan
strukturneovaskular dengan kontaminasi yang hebat. Tipe ini disebabkan karena
trauma dengan kecepatan yang tinggi.
- IIIA, Jaringan lunak cukup menutup tulang yang patah walaupun terdapat
laserasi hebat dan terdapat adanya flap.
- IIIB, Fraktur disertai dengan trauma hebat dengan kerusakan dan
kehilangan jaringan, terdapat pendorongan dari periost, tulang terbuka,
kontaminasi yang hebat serta fraktur kominutif yang hebat.
- IIIC, Fraktur terbuka yang disertai dengan kerusakan arteri yang
memerlukan perbaikan tanpa memperhatikan tingkat kerusakan jaringan
lunak.
1,2

Tatalaksana
Penaggulangan fraktur terbuka
- Obati fraktur tebuka sebagai suatu kegawatan.
- Adukan evaluasi awal dan diagnosis akan adanya kelainan yang dapat
menyebabkan kematian.
- Berikan antibiotic dalam ruang gawat darurat, dikamar operasi, dan setelah
operasi.
- Segera dilakukan debridement dan dilakukan irigasi yang baik
- Ulangi debridement 24 72 jam.
- Stabilisasi fraktur
- Biarkan luka terbuka 5 7 hari
- Lakukan bone graft autogenous secepatnya.
- Rehabilitasi anggota gerak yang terkena.
Tahap tahap pengobatan fraktur terbuka
- Pembersihan luka. Pembersihan dilakukan dengan carairigasi dengan NaCl
fisiologis secara mekanis untuk mengeluarkan benda asing yang melekat.
- Eksisi jaringan mati dan tersangka mati ( debridement ). Semua jaringan
yang kehilangan vaskularisasinya merupakan daerah tempat pembenihan
sehingga diperlukan eksisi secara operasi kulit, jaringan subkutaneus,
jaringan lemak, fascia, otot, an fragmen fragmen yang lepas.
- Pengobatan fraktur itu sendiri, Fraktur dengan luka yang hebat
memerlukan suatu traksi skeletal atau reduksi terbuka dengan fiksasi
eksterna tulang.
- Penutupan kulit, apabila fraktur terbuka diobati dalam waktu emas ( 6 7
jam mulai dari terjadinya kecelakaan ). Hal ini tidak dilakukan apabila
19 | P a g e

mengakibatkan kulit menjadi tegang. Luka dapat dibiarkan terbuka namun
tidak lebih dari 10 hari.
- Pemberian antibiotic.
- Pencegahan tetanus.
1,2


Komplikasi
- Perdarahan, syok septic sampai dengan kematian.
- Septikemia dan toksikemia oleh karena infeksi piogenik.
- Tetanus
- Gangren
- Perdarahan sekunder.
- Osteomielitis kronik.
- Delayed union
- Nonunion dan Malunion
- Kekakuan senid
- Komplikasi lain oleh karena perawatan yang lama.


IV. Fraktur pada Femur
Definisi
Fraktur yang mempunyai hubungan dengan dunia luar melalui luka pada
kulit dan jaringan lunak. Femur merupakan tulang yang terpanjang pada badan,
dimana fraktur dapat terjadi mulai pada bagian proksimal hingga bagian distal
dari tulang.
1


A. Fraktur pada Leher Femur
Definisi
Fraktur pada leher femur merupakan jenis fraktur yang sering ditemukan
pada orang tua terutama pada wanita berusia diatas 60 tahun atau pada orang
dengan osteoporosis.
1

20 | P a g e


( Sumber : Pengantar Ilmu Bedah ortopedi, 2007 )

Klasifikasi
Berdasarkan hubungan terhadap kapsul - Ekstrakapsuler
- Intrakapsuler
Berdasarkan lokasi - Sub-kapital
- Trans-servikal
- Basal
Secara radiologi :
- Berdasarkan keadaan fraktur - Tidak ada pergeseran fraktur.
- Fragmen distal, rotasi eksterna, abduksi,
dapat bergeser kearah proksimal.
- Fraktur impaksi

- Klasifikasi menurut Garden - Tingkat 1 - Fraktur impaksi yang tidak total
21 | P a g e

- Tingkat 2 - Fraktur total tapi tidak bergeser.
- Tingkat 3 - Fraktur total disertai sedikit
pergeseran
- Tingkat 4 - Fraktur dengan disertai pergeseran
yang berat

( Sumber : Pengantar Ilmu Bedah ortopedi, 2007 )

- Klasifikasi menurut Pauwel - Tipe 1 - Fraktur dengan garis fraktur 30
0

- Tipe 2 - Fraktur dengan garis fraktur 50
0

- Tipe 3 - Fraktur dengan garis fraktur 70
0


22 | P a g e


( Sumber : Pengantar Ilmu Bedah ortopedi, 2007 )

Patologi
Kaput femur mendapatkan aliran darah dari tiga sumber, yaitu pembuluh
darah intrameduler di dalam leher femur, pembuluh darah servikal ascenden
dalam retinakulum kapsul sendi, dan pembuluh darah dari ligament yang berputar.
Pada saat terjadinya fraktur, pembuluh darah intrameduler dan pembuservikal
ascenden dalam retinakulum kapsul sendi selalu mengalami robekan apabila
terjadi pergeseran fragmen.
1


Manifestasi Klinis
Riwayat jatuh dari ketinggian disertai nyeri pada daerah panggul, terutama
pada daerah inguinasi depan. Nyeri dan pemendekan tulang dapat terjadi pada
fraktur dalam posisi rotasi lateral.
1


Tatalaksana
- Konservatif dengan indikasi yang sangat terbatas.
- Terapi operatif, pengobatan opertaif hampir selalu dilakukan pada penderita
fraktur leher femur. Keadaan ini memerlukan reduksi yang akurat dan stabil serta
23 | P a g e

mobilisasi yang cepat pada orang tua untuk mencegah terjadinya komplikasi.
Jenis operasi yang dilakukan dapat berupa pemasangan pin atau pemasangan plate
dan screw.
- Artroplasti, biasa dilakuakan pada pasien berusia diatas 55 tahun berupa, eksisi
artroplasti, hemiartroplasti, atau artroplasti total.
1


Komplikasi
Komplikasi umum yang kerap kali terjadi dapat berupa trombosis vena,
emboli paru, pneumonia, dan dekubitus. Dapat pula terjadi nekrosis avaskular
kaput femur. Keadaan tersebut terjadi pada 30 % penderita dengan fraktur yang
disertai pergeseran dan 10 % pada fraktur yang tanpa pergeseran. Apabila
lokalisasi fraktur lebih kearah proksimal maka resiko untuk terjadinya nekrosis
avaskular dari kaput lebih besar.
1

Lebih dari 1 / 3 dari penderita dengan fraktur leher femur tidak dapat
mengalami union, terutama pada fraktur yang bergeser. Komplikasi cenderung
lebih sering terjadi pada fraktur yang lebih mengarah ke proksimal. Hal ini dapat
disebabkan oleh vaskularisasi yang buruk, reduksi yang tidak adekuat, fiksasi yag
tidak adekuat, dan lokasi fraktur yang intraartikular.
1

Dapat pula terjadi osteoarthritis sekunder akibat kolapsnya kaput femur
atau nekrosis avaskular. Selain itu dapat pula didapatkan komplikasi berupa
anggota gerak memendek, malunion, malrotasi berupa rotasi eksterna, dan
koksavara.
1

B. Fraktur pada Trokanter
Definisi
Fraktur daerah trokanter biasa juga disebut fraktur trokanterik adalah
semua fraktur yang terjadi antara trokanter mayor dan minor. Fraktur ini bersifat
ekstra artikular dan sering terjadi pada orang tua usia diatas 60 tauhun.
1


Klasifikasi
24 | P a g e

Fraktur trokanterik dapat dibagi atas stabil dan tidak stabil. Disebut fraktur
tidak stabil bila korteks bagian medial didapatkan remuk dan fragmen besar
mengalami pergeseran terutama trokanter minor.
1

Fraktur trokanterik diklasifikasikan menjadi empat :
- Tipe 1, faktur melewati trkanter mayor dengan minor tanpa pergeseran.
- Tipe 2, fraktur melewati trokanter mayor dengan pergeseran trokanter
minor.
- Tipe 3, fraktur yang disertai dengan fraktur kominutif.
- Tipe 4, fraktur yang disertai dengan fraktur spiral femur.

( Sumber : Pengantar Ilmu Bedah ortopedi, 2007 )

Manifestasi Klinis
Pada pasien biasanya didapatkan pemendekan pada anggota gerak bawah
disertai adanya rotasi eksterna.
1


Tatalaksana
Fraktur tanpa pergeseran dapat dilakukan terapi konservatif dengan traksi.
Pada fraktur trokanterik sebaiknya dilakukan pemasangan fiksasi interna dengan
tujuan untuk memperoleh fiksasi yang kuat dan memberikan mobilisasi yang
cepat pada orang tua.
1


Komplikasi
25 | P a g e

Komplikasi umum yang kerap kali terjadi dapat berupa trombosis vena,
emboli paru, pneumonia, dan dekubitus. Komplikasi lanjut dari fraktur daerah
trokanter dapat berupa deformitas varus dan rotasi eksterna serta nonunion,
namun kealina tersebut jarang ditemukan.
1


C. Fraktur pada Subtrokanter
Manifestasi Klinis
Anggota gerak bawah dalam keadaan rorasi eksterna, memendek, dan
ditemukan pembengkakan pada daerah proksimal dari femur dengan disertai nyeri
pada pergerakan.
1


Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan radiologi dapat menunjukkan fraktur yang terjadi pada area
dibawah trokanter minor. Garis fraktur dapat bersifat transversal, oblique, ataupun
spiral dan sering bersifat kominutif. Fragmen proksimal dalam posisi fleksi
sedangkan distal pada adduksi dan bergeser earah proksimal.
1


Pengobatan
Untuk tatalaksana dapat dilakuakan reduksi terbuka dan fiksasi interna
merupakan pengobatan pilihan dengan menggunakan plate dan screw.
1


Komplikasi
Komplikasi yang sering ditemukan adalah nonunion dan malunion.
Komplikasi ini dapat diatasi dengan dilakukannya osteotomi dan bone grafting.
1


D. Fraktur pada Diafisis Femur
Definisi
Fraktur pada diafisis femur dapat terjadi pada segala usia biasanya
keadaan tersebut disebaban oleh trauma yang hebat. Femur diliputi oleh otot yang
26 | P a g e

kuat dan merupakan proteksi untuk femur. Namun otot juga dapat berdampak
buruk karena dapat menarik fragmen tulang. Fraktur femur biasanya dapat
menyebabkan perdarahan yang masif.
1


Klasifikasi
Fraktur femur dapat dibagi menjadi : - Fraktur tertutup
- Fraktur terbuka
- Fraktur simple
- Fraktur kominutif
- Fraktur Z
- Fraktur segmental
1


Manifestasi Klinis
Penderita umumnya pada dewasa muda. Ditemukan adana pembengkakan
dan deformitas pada tungkai atau berupa rotasi eksterna dan pemendekan tungkai
dan mungkin dalam keadaan syok.
1


Tatalaksana
Terapi konsrvatif :
- Traksi kulit berupa pengobatan sementara sebelum dilakukan terapi definitive
untuk mengurangi spasme otot.
- Traksi tulang berimban dengan bagian Pearson pada sendi lutut. Indikasi traksi
terutama fraktur yang bersifat kominutif dan segmental.
- Menggunakan cast bracing yang dipasang setelah terjadi union fraktur secara
klinis.

Terapi operatif :
- Pemasanga plate dan screw terutama pada fraktur proksimal dan distal femur.
27 | P a g e

- Menggunakan K-nail, AO-nail, atau jenis jenis lain baik dengan operasi
tertutup ataupun terbuka.
- Fiksasi eksterna terutama pada fraktur segmentel, fraktur kominutif, infected
pseudoartritis atau fraktur tebuka dengan kerusakan dengan jaringan lunak yang
hebat.
1


Komplikasi
Komplikasi dini dapat berupa syok dengan perdarahan sebanyak 1 2 liter
walaupun fraktur vesifat tertutup. Emboli lemak sering didapatkan pada penderita
muda dengan fraktur femur. Trauma pembuluh darah besar dapat terjadi akibat
ujung fragmen tulang yang menembus jaringan lunak dan merusak arteri
femoralis. Infeksi data terjadi pada fraktur terbuka akibat kontaminasi dari luka,
tetapi infeksi dapat pula terjadi melalui tindakan operasi.
1

Komplikasi lanjut dapat berupa delayed union yaitu pada orang dewasa
yang mengalami union setelah 4 bulan. Non union, apabila permukaan fraktur
menjadi bulat dan sklerotik dicurigai adanya non union dan diperlukan fiksasi
interna dan bone graft.
1

Malunion dapat terjadi apabila terjadi kembali pergeseran dari kedua
fragmen, angulasi dapat sering ditemukan pada keadaan ini dapat pula ditemukan
pemendekan ektremitas sehingga diperlukan tindakan osteotomi.
1


E. Fratur pada Suprakondiler Femur
Definisi
Fraktur pada daerah suprakondiler dimana daerah antara batas proksimal
kondilus femur dan batas metafisis dengan diafisis femur.
1


Klasifikasi
Klasifikasi fraktur suprakondilar dari femur
- Tidak bergeser
- Impaksi
- Bergeser
28 | P a g e

- Kominutif

Manifestasi Klinis
Keluhan pada anamnesis sering kali didapatkan riwayat trauma yang
disertai pembengkakan dan deformitas pada daerah suprakondiler. Pada
pemeriksaan mungkin didapatkan adanya krepitasi.

Tatalaksana
Terapi konservatif dapat dilakukan dengan traksi berimbang menggunakan
bidai Thomas dan penahanan lutut Pearson. Dapat pula dilakukan cast bracing dan
spika panggul.
1

Terapi operatif dilakukan pada fraktur terbuka atau pada pergeseran
fraktur yang tidak dapat direduksi secara konservatif. Terapi dilakukan dengan
menggunakan nail plate dan screw dengan macam macam tipe yang tersedia.
1

Komplikasi
Komplikasi dini dapat berupa penetrasi fragmen fraktur ke kulit yang
dapat mengakibatkannya menjadi luka terbuka atau mencederai pembuluh darah
besar dan saraf. Sedangkan komplikasi lanjut dapat berupa malunion ataupun
kekakuan dari sendi lutut.
1


F. Fraktur pada Suprakondiler Femur dan Fraktur Interkondiler
Klasifikasi
Klasifikasi menurut Neer, Grantham, Sheelton :
- Tipe I : Fraktur suprakondiler dan kondiler bentuk T
- Tipe IIA : Fraktur suprakondiler dan kondiler dengan sebagian
metafisis
- Tipe IIB : Sama dengan IIA namun bagian metafisis lebih kecil.
- Tipe III : Fraktur suprakondiler kominutif dengan fraktur kondiler
yang tidak total.
29 | P a g e


( Sumber : Pengantar Ilmu Bedah ortopedi, 2007 )

Pengobatan
Dilakukan terapi konservatif seperti pada fraktur suprakondiler kominutif
dengan fraktur kondiler yang tidak total. Terapi operatif dilakukan karena fraktur
ini bersifat intra articular maka sebaiknya dilakukan terapi operatif dengan fiksasi
interna yang rigid untuk menapatkan posisi anatomis sendi dan segera dilakukan
mobilisasi.
1


Komplikasi
Beberapa komplikasi yang kerap kali ditemukan :
- Trauma pembuluh darah
- Kaku sendi
- Osteoartritis akut
G. Fraktur pada Kondilus Femur
Klasifikasi
Klasifikasi pada fraktur kondilus femur :
- Tipe I : Fraktur kondilus dalam posisi sagital.
30 | P a g e

- Tipe II : Fraktur dalam posisi koronal dimana bagian posterior kondilus
femur bergeser.
- Tipe III: Fraktut kombinasi antara sagital dan koronal.

Manifestasi Klinis
Pasien sering kali datang dengan keluhan nyeri dan pembengkakan.
Mungkin ditemukan adanya krepitasi dan hemartrosis dari sendi lutut.

Tatalaksana
Terapi konservatif pada fraktur yang tidak dapat bergeser dapat dilakukan
pemasangan gips sirkuler diatas lutut. Terapi operati memperguanakan screw agar
didapatkan posisi anatomis sendi lutut dan mobilisasi dapat segera dilakukan.
1


Komplikasi
Komplikasi pada fraktur kondilus femur dapat berupa :
- Trauma pembuluh darah dan saraf.
- Malunion
- Osteoartritis
- Kekakuan pada sendi lutut
1


V. ORIF
Definisi
Reduksi terbuka adalah tindakan reduksi dan melakukan kesejajaran
tulang yang patah setelah terlebih dahulu dilakukan diseksi atau pemajanan tulang
yang patah. Fiksasi interna adalah stabilisasi tulang yang sudah patah yang telah
direduksi dengan skrup, plat, paku dan pin logam. Maka, dapat ditarik kesimpulan
Open Reduksi Internal Fiksasi (ORIF) adalah sebuah prosedur bedah medis, yang
tindakannya mengacu pada operasi terbuka untuk mengatur tulang, seperti yang
diperlukan untuk beberapa patah tulang, fiksasi internal mengacu pada fiksasi
sekrup dan piring untuk mengaktifkan atau memfasilitasi penyembuhan.

31 | P a g e

a. Reduksi Terbuka
Insisi dilakukan pada tempat yang mengalami cedera dan diteruskan
sepanjang bidang anatomi menuju tempat yang mengalami fraktur. Fraktur
diperiksa dan diteliti. Fragmen yang telah mati dilakukan irigasi dari luka. Fraktur
direposisi agar mendapatkan posisi yang normal kembali. Sesudah reduksi
fragmen-fragmen tulang dipertahankan dengan alat ortopedik berupa: pin, skrup,
plate, dan paku.
b. Fiksasi Internal
Metode alternatif manajemen fraktur dengan fiksasi eksternal, biasanya
pada ekstrimitas dan tidak untuk fraktur lama Post eksternal fiksasi, dianjurkan
penggunaan gips. Setelah reduksi, dilakukan insisi perkutan untuk implantasi pen
ke tulang. Lubang kecil dibuat dari pen metal melewati tulang dan dikuatkan
pennya. Perawatan 1-2 kali sehari secara khusus, antara lain: Observasi letak pen
dan area, observasi kemerahan, basah dan rembes, observasi status neurovaskuler
distal fraktur, fiksasi eksternal fiksasi internal pembidaian, fiksasi internal
dilaksanakan dalam teknik aseptis yang sangat ketat dan pasien untuk beberapa
saat mandapat antibiotik untuk pencegahan setelah pembedahan.