Anda di halaman 1dari 25

LABORATORIUM SATUAN PROSES 2

SEMESTER GANJIL TAHUN AJARAN 2014/2015




MODUL : Pembuatan Metil Orange
PEMBIMBING : Ir. Endang Kusumawati, MT







Oleh :

Kelompok : VII
Nama : 1. Rita Inayah NIM 131424025
2. Wynne Raphaela NIM 131424027

Kelas : 2A Teknik Kimia Produksi Bersih


PROGRAM STUDI DIPLOMA IV TEKNIK KIMIA PRODUKSI BERSIH
JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

2014
Tanggal Praktikum : 23 September 2014
Tanggal Penyerahan : 7 Oktober 2014
(Laporan)
PEMBUATAN METIL JINGGA (Methyl Orange)

I. TUJUAN

Mengerti dan memahami prinsip reaksi dan proses substitusi khususnya reaksi
penyambungan (coupling reaction) dalam pembuatan zat warna azo.
Mampu membuat senyawa azo dalam hal ini senyawa metil jingga skala
laboratorium.
Mampu menghitung perolehan metal jingga baik dalam garam maupun dalam persen
(%yield).
Melakukan pengujian secara kualitatif dan kuantitatif metil jingga yang dihasilkan
seperti titik leleh, tes titrasi asam basa.

II. LANDASAN TEORI

Reaksi Diazotisasi
Reaksi Diazotizasi adalah reaksi pembentukan garam diazonium ion. Garam ini biasanya
adalah senyawa intermediet dalam pembentukan senyawa azo. Senyawa aromatik amina
apabila direaksikan dengan asam nitrit pada suhu 0-5C pada kondisi asam akan
menghasilkan garam diazonium ion.

NH
2
+ HNO
2
+ HX N
+
=NX
-
+ 2H
2
O


Gambar : pembentukan garam diazonium ion

Proses pembentukan garam diazonium ion adalah sebagai berikut;
2HON = O O = NON = O
H
2
O Dinitrogen trioxide

ArNH
2
+ N
2
O
3
ArNHN=O
Nitrosoamine

.. .. H
3
O
+
.. .. H
3
O
+
H
+
..
Ar NN=O ArN=NOH ArN=NO
+
ArNN + H
2
O
H diazotic acid H diazonium ion


Kation diazonium ion dalam bentuk sebagai berikut di bawah:

NN
+
N=N
+
N=N
+


Gambar : struktur diazonium ion (kation)

Diazonium ion diatas adalah merupakan elektopil yang lemah (spesies miskin
elektron), yang hanya akan mampu bereaksi dengan baik dengan senyawa aromatik yang
sangat reaktif seperti phenol dan amina. Senyawa aromatik yang mengandung gugus penarik
elektron, pada posisi ortho dan para akan menambah karakter elektropilik pada diazonium
kation.

Pada kondisi asam, garam diazonium ion sangat mudah terhidrolisa menjadi
senyawa nitrogen dan phenol. Proses hidrolisa garam diazonium ion dapat digambarkan pada
persamaan reaksi di bawah:


N
+
NX + H
2
O OH + HX + N
2(g)


Gambar : Proses hidrolisa garam diazonium ion menjadi fenol






Sedangkan perlakuan garam diazonium ion dengan larutan potassium iodida akan
menghasilkan arenediazonium iodida yang akan mengalami dekomposisi dengan sedikit
pemanasan membentuk senyawa aromatik iodida dan nitrogen, seprti pada persamaan rekasi
di bawah :


N
+
NX + KI I + kX + N
2(g)


Gambar : Reaksi garam diazonium dengan kalium iodide


Senyawa azo dan Reaksi Penyambungan (Substitusi)

Salah satu aplikasi dari pengunaan garam diazonium ion ini adalah dalam
pembentukan senyawa azo. Senyawa azo memiliki formula umum R-N=N-R dimana
senyawa azo dapat dengan mudah dibentuk dengan mereaksikan garam diazonium ion
dengan senyawa aromatik amina dan turunan phenol dengan reaksi sibstitusi aromatik
elektrophilik (SRE). Reaksi akan terjadi antara diazonium ion dengan senyawa amina bebas
ataupun dengan ion phenoxida, dan akan memberikan zat warna yang memiliki warna yang
bermacam-macam tergantung dari turunannya. Sedangkan warna dari senyawa yang
dihasilkan akan bervariasi tergantung dari pH.

Studi kasus pembentukan senyawa azo adalah pembentukan senyawa metil jingga.
Metil jingga adalah salah satu senyawa zat warna azo yang biasanya digunakan sebagai
indicator asam basa. Senyawa metil jingga ini dibuat dari penggabungan (coupling) senyawa
asam sulfanilat yang telah diazotisasi dengan N,N-dimetil anilin.







Struktur Metil Jingga :





Mekanisme reaksi :
NaNO
2


O
3
S NH
3
+
Na
+
O
3
S N
+
=N:Cl
-

HCl

CH
3

N:
CH
3


CH
3
-H
+


Na
+
O
3
S N=N

N H
CH
3
NaoH
Cl
-



CH
3

Na
+
O
3
S N=N

N + NaCl + H
2
O
CH
3


Methyl orange

Gambar : proses pembentukan Metil Jingga




CH-HC

N - C C - N
CH - HC

III. PERCOBAAN
3.1 Alat dan Bahan


No. Bahan Spesifikasi
1. Asam Sulfanilat 10,5 gr
2. Natrium karbonat anhidrat 2,65 gr
3. Natrium nitrit 3,7 gr
4. HCL dan NAOH 20% 11 ml dan 35 ml
5. Larutan garam jenuh 35 gr
6. Natrium klorida 10 gr
7. Asam asetat glasial 3 ml
8. Pecahan es 60 gr
9. N,N Dimetil anilin 6,3 ml



No. Alat Spesifikasi
1. Gelas Kimia 250 ml dan 500 ml 2
2. Beaker plastik 2000 ml 1
3. Pipet ukur 10 ml 1
4. Batang pengaduk 1
5. Thermometer 1
6. Hot plate 1
7. Spatula 1
8. Penyaring buchner 1
9. Botol semprot 2
10. Gelas ukur 100 ml 1
11. Labu ukur 100 ml 1
12. Water jet vakum 1
13. Kertas saring 3
3.2 Prosedur Percobaan

3.2.1 Pembentukan Garam Diazonium ion

Larutan A








Larutan B














Gelas kimia 600 ml
2,65 gram natrium karbonat
+ 100 ml aquades
Panaskan hingga semua padatan
larut (warna bening)
Dinginkan suhunya
sampai 15-20C
10,5 gram asam
sulfanilat dihidrat
Gelas kimia 250ml
3,7 gram
Natrium Nitrit
10 ml aquades
Gelas kimia 600 ml
Larutan A
Larutan B
Menambahkan 11 ml HCl & 60 gram pecahan es
Membiarkannya
Terbentuk endapan kristal
putih

3.2.2 Reaksi Penyambungan (Substitusi)
































Larutan garam diazonium
(larutan A)
6,3 ml larutan N,N dimetil anilin
3 ml CH
3
COOH glacial
Sambil diaduk sampai
homogen
Campuran didiamkan 10
menit
35 ml NaOH 20 %
Dihasilkan asam metil
jingga berwarna merah
Amati
Warna larutan menjadi
orange
Panaskan sampai mendidih
10 gr garam NaCl
T = 80-90
0
C sampai
semua NaCl larut
Dinginkan 15 menit dengan es
Saring dengan Buchner
Bilas dengan larutan NaCl
jenuh (35 gr NaCl + 100 ml air)
3.2.3 Rekristalisasi dan Analisa produk
















padatan setengah kering
















Produk
150 ml air panas (mendidih)
Saring larutan yang masih
panas
Filtrat yang mengandung metil
jingga
Garam metil jingga saat dingin
Saring padatan dengan
Buchner funnel
Bilas padatan yang tersaring
dengan etanol
Keringkan dalam oven 75
o
C
IV. DATA PENGAMATAN
4.1 Persiapan
Nama zat Rumus
Molekul
Berat
Terpakai
Berat
Molekul
(g/mol)
Asam sulfanilat C
6
H
7
NO
3
S 10,5 gram 173
N,N dimetil anilin C
8
H
12
N 6,05 gram /
6,3 ml
122
Natrium karbonat Na
2
CO
3
2,65 gram 106
Natrium hidroksida NaOH 35 ml 40
Natrium nitrit NaNO
2
3,70 gram 69

4.2 Pembuatan garam Diazonium

No Reaktan Pengamatan Kondisi Proses
1. Asam sulfanilat
dihidrat






warna larutan berubah menjadi
kuning bening dan menjadi berbuih
ketika proses pencampuran
dilakukan

T
awal
= 34
o
C
T
campuran =
45
o
C
T
akhir
= 20
o
C
pH = 4
2 N, N Dimetil Anilin




Setelah dicampur dengan garam
diazo warna larutan menjadi merah
T = 19
o
C, pH= 2


3 Natrium Karbonat





Larutan berwarna putih, setelah
dicampur dengan asam sulfanilat
menjad berbuih dan kekuningan

T
awal
= 34
o
C
T
campuran =
45
o
C
T
akhir
= 20
o
C
pH = 4
4 Natrium Hidroksida




Larutan berwarna jingga
kemerahan

T = 25
o
C, pH= 11
5 Natrium Nitrit




Larutan berwarna jingga
T = 20
o
C, pH=5
6 Asam Asetat Glasial





Larutan menjadi kemerahan

T = 17
o
C, pH=2
4.3 Reaksi Penyambungan (Substitusi-SRE)



No Reaktan Pengamatan Kondisi Proses
1. Asam Sulfanilat + N,
N Dimetil Aniliin






Setelah pencampuran warna larutan
menjadi merah dan larutan menjadi
berminyak dan lama kelamaan
larutan menjadi 2 lapisan
T = 19
o
C, pH= 2
2 Pencampuran larutan
A dan larutan B





Warna larutan berubah dari merah
menjadi kuning dan kemudian
berubah menjadi jingga dan terjadi
pemisahan antara pasta dengan
larutan

T = 70
o
C, pH= 12
3 Pasta MO + NaCl




Pada tahap ini pasta dan larutan
menjadi terpisah
T = 80
o
C, pH= 12

V. PENGOLAHAN DATA

Mol asam sulfanilat (HSO
3
C
6
H
4
NH
2
)
o Mol =


Mol Natrium Karbonat (Na
2
CO
3
)
o Mol =


Mol Natrium Nitrit (NaNO
2
)
o Mol =


Mol N,N Dimetyl anilin (C
6
H
5
N(CH
3
)
2
)
o Mol =



5.1 Berat Metil jingga secara teoritis
5.1.1 Diazotisasi
Asam sulfanilat + Natrium karbonat Natrium sulfanilat
Awal 0,061 0,025 -
Reaksi 0,025 0,025 0,025
Sisa 0,036 0 0,025

Natrium Sulfanilat + Natrium Nitrit Garam Diazonium
Awal 0,025 0,054 -
Reaksi 0,025 0,025 0,025
Sisa 0 0,029 0,025









5.2 Reaksi Penyambungan

Garam Diazonium + N,N Dimetil anilin Metil Jingga
Awal 0,025 0,05 -
Reaksi 0,025 0,025 0,025
Sisa 0 0,025 0,025

Mol metil jingga yang dihasilkan = 0.025 mol
Berat Metil Jingga (teoroitis) = mol metil jingga x BM metil jingga
= 0.025 mol x 327.3 g/mol
= 8.1825 gram

5.3 Berat Metil jingga hasil percobaan
Berat kertas saring 1 = 0,63 gram
Berat kertas saring + metil jingga = 7,44 gram
Berat metil jingga = 6,81 gram

Berat kertas saring 2 = 0,59 gram
Berat kertas saring + metil jingga = 1,50 gram
Berat metil jingga = 0,91 gram
Berat total metil jingga = 0,91 gram + 6,81 gram = 7,72 gram


5.4 Persen Yield
Yield =



= 94,35 %

5.5 Pengamatan Hasil
Produk Berat hasil percobaan Berat secara Teoritis % Yield
Metil jingga 7,72 gram 8.1825 gram 94,35%


VI. PEMBAHASAN
Nama : Rita Inayah
Nim : 131424025

Pada percobaan ini praktikan membuat metil jingga dari asam sulfanilat yang dasar
teorinya mengikuti reaksi azo. Metil jingga adalah senyawa azo, yang dibuat dari
mereaksikan asam sulfanilat yang direaksikan dengan Natrium Nitrit dan HCl pekat
menghasilkan garam diazonium.Metil jingga adalah salah satu indikator yang banyak
digunakan dalam titrasi asam basa. Pada larutan yang bersifat basa, metil jingga berwarna
kuning dan strukturnya adalah:

Pada larutan yang bersifat asam, metal jingga berwarna merah dan strukturnya adalah:


Dalam proses pembuatan Metil Jingga ini ada tiga tahap yaitu:
1. Reaksi Diazotisasi
Tahap pertama dalam praktikum pembuatan metil jingga ini adalah pembuatan garam
diazonium melalui reaksi diazotiasi. Garam ini terbentuk dengan mereaksikan Asam
Sulfanilat dan Natrium Karbonat sehingga membentuk larutan bersoda yang berfungsi untuk
membantu pembentukan garam diazonium. Penambahan natrium karbonat anhidrat ke dalam
asam sulfanilat yang bertujuan untuk deprotonasi gugus amino, dimana pada proton yang
didapatkan atau dihasilkan berasal dari disosiasi natrium karbonat tersebut. Larutan tersebut
mengalami pemanasan agar campuran larut sempurna, kemudian campuran mengalami
pendinginan hingga suhu 17
0
C. Selanjutnya penambahan larutan natrium nitrit (NaNO
2
+ air
10 ml ) ke dalam campuran yang telah didinginkan. Setelah penambahan Natrium Nitrit,
warna larutan menjadi orange pekat kemerahan. Selanjutnya campuran dua larutan di atas
dimasukkan ke dalam gelas kimia 600 ml yang di telah berisi 11 ml HCl 0,1 N dan pecahan
es. Penambahan es ini bertujuan untuk ketika pada saat akan mereaksikan dengan larutan
HCl, larutan akan mengeluarkan panas (eksoterm). Penambahan Asam Klorida dan Natrium
Nitrit yang akan membentuk Asam Nitrit di dalam larutan tersebut. Dehidrasi dari asam nitrit
ini akan membentuk ion nitrosonium yang bersama asam sulfanilat akan membentuk ion atau
garam diazonium. Proses ini dinamakan diazotisasi, yaitu proses reaksi aniline dengan asam
nitrit yang akan menghasilkan garam diazonium. Tetapi dalam percobaan tidak didapatkan
adanya endapan Kristal putih hal ini disebabkan karena HCl yang digunakan tidak pekat
sehingga tidak terjadi endapan Kristal putih pada larutan.
2. Reaksi Penyambungan (substitusi-SRE)
Reaksi penyambungan (substitusi-SRE) yaitu reaksi yang berlangsung dengan
mereaksikan garam diazonium sebagai nukleofil (ion yang miskin elektron ) dengan senyawa
yang kaya akan electron seperti fenol dan turunannya atau amina dan turunannya. Disini,
praktikan menggunakan larutan amina yaitu N-N dimetyl anilin yang dilarutkan dalam asam
asetat glacial karena N-N dimetyl aniline larut baik didalamnya. Reaksi penyambungan
berlangsung hingga terbentuk larutan berwarna kuning-merah ungu dan berubah menjadi
pasta. Bagian atas larutan berwarna kuning, dan bagian bawahnya yaitu larutan + endapan
Kristal berwarna merah ungu. Kemudian ke dalam campuran (pasta) tersebut ditambahkan
larutan NaOH 20% sebanyak 35 ml yang menyebabkan warna larutan berubah menjadi
jingga (orange). Hal ini terjadi akibat berubahnya asam metil jingga menjadi garamnya.
Larutan mengalami pemanasan pada suhu 80
0
C dan dilakukan pula penambahan NaCl.
Penambahan NaCl secara sedikit-sedikit dilakukan karena proses ini bersifat eksoterm. Yang
jika dilakukan secara langsung akan mengakibatkan ledakan (explosive). Adapun
penambahan NaCl berfungsi untuk membantu pemisahan padatan dari campuran (pasta).
Selanjutnya, campuran didinginkan ke dalam campuran es- air selama 15 menit sehingga
dihasilkan produk yang mudah disaring. Pembilasan padatan metil jingga dengan
menggunakan NaCl jenuh bertujuan untuk menghindari larutnya metil jingga (ke dalam
filtrat). Berikut ini reaksi-reaksi yang terlibat dalam pembentukan metil orange:
Pembuatan garam diazonium dari asam sulfanilat (deprotonasi)

Formasi Ion Nitrosonium


Formasi Asam Sulfanilat yang telah mengalami proses diazoniasasi

Penambahan N-N-dimetil aniline





3. Rekristalisasi
Produk yang dihasilkan dari reaksi substitusi, selanjutnya mengalami rekristalisasi
dengan melarutkannya ke dalam air (mendidih), karena metil jingga akan larut didalam air
panas. Kemudian dilakukan penyaringan (buchner funnel) sehingga akan diperoleh larutan
yang mengandung metil jingga di filtrat yang lebih murni. Dari larutan filtrat tersebut akan
dihasilkan produk garam metil jingga yang akan membentuk padatan (terpisah dari
larutannya) ketika larutan tersebut dingin. Kemudian dilakukan penyaringan kembali, dan
padatan dari penyaringan (residu) dibilas dengan etanol. Penambahan etanol ini bertujuan
untuk memudahkan penyaringan hingga seluruh kristal dapat tersaring dan untuk membantu
pengeringan (penghilangan air) pada endapan. Setelah penyaringan maka tahap selanjutnya
padatan dikeringkan didalam oven pada 75
o
C untuk menghasilkan padatan metil jingga yang
kering.Tetapi hal tersebut salah, sehingga tidak didapatkan %yield nya, praktikan akhirnya
mengulangi lagi pada proses rekristalisasi, residu yang telah di oven kemudian didapatkan %
yieldnya 94,35% dengan berat metil jingga 7,72 gram.
Tetapi hasil metil jingga yang didapatkan praktikan tidak layak untuk dijadikan
indicator pada titrasi dengan Ph 12 sedangkan praktikan lain Ph 7. Karena pada praktikum ini
praktikan menggunakan HCL 0,1 N sedangkan praktikan lain menggunakan HCL pekat
sehingga hasil yang didapatkan Ph netral.















Nama : Wynne Raphaela
NIM : 131424027
Pada praktikum ini dilakukan pembuatan metil jingga. Metil jingga adalah suatu zat
warna yang biasa digunakan sebagai zat warna teksti di industri mapun sebagai indicator
pada titrasi asam dan basa. Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengerti dan memahami
prinsip reaksi dan proses substitusi khususnya reaksi penyambungan (coupling reaction)
dalam pembuatan zat warna azo, mampu membuat senyawa azo dalam hal ini senyawa metil
jingga skala laboratorium, mampu menghitung perolehan metil jingga baik dalam garam
maupun dalam persen (%yield). Praktikum ini terdiri dari tiga tahapan utama yaitu
pembuatan garam diazonium, reaksi penyambungan (couping), dan rekristalisasi produk.
Tahapan pertama pada pembuatan metil jingga adalah pembuatan garam diazonium
ion. Garam diazo adalah senyawa yang dapat memberi warna. Garam diazo terbentuk ketika
ada rekasi antara senyawa aromatic amina dengan asam nitrit pada suhu 0-5
o
C dan pada
kondisi asam. Senyawa aromatic amina yang digunakan adalah pencampuran asam sulfanilat
dengan natrium karbonat yang dipanaskan hingga suhu 80
o
C. Senyawa aromatic amina yang
terbentuk didinginkan hingga 17
o
C lalu pada larutan tersebut ditambahkan asam nitrit
(nantrium nitrit) dengan katalis HCl yang dilarutkan dalam pecehan es. Namun pada
pembentukan senyawa diazo ini HCl yang digunakan bukan HCl pekat melainkan HCl 0,1 N.
sehingga pada reaksi katalis tidak terlalu asam dan akibatnya kondisi reaksi suasananya
menjadi kurang asam dan tidak terbentuk Kristal putih. Reaksi pembuatan garam diazo,
adalah sebagai berikut :

NH
2
+ HNO
2
+ HX N
+
=NX
-
+ 2H
2
O

Tahapan selanjutnya adalah reaksi penyambungan, yaitu pencampuran dimetil anilin
dengan asam asetat direakssikan dengan garam diazo. Pencampuran dimetil anilin dnegan
sam asteta glaial akan mengasilkan asam metil. Ketika asam metil direaksika dengan garam
diazo maka akan menghasilkan metil jingga. Prinsip dari reaksi penyambungan adalah
menggabungkan reaktan untuk menjadi produk. Produk yang dihasilkan adalah produk
tunggal. Mekanisme rekasinya adalah, sebagai berikut :

N
N N
CH
3
CH
3
S
O
O
-
O
Na
+
N
+
N
S
O
O
-
O N
CH
3
CH
3
+
diazonium
coupling
Asammetil yang reaksikandihasilkan berwarna merah. Kemudian di tambahakan NaOH
20% maka larutan akan berubah menjadi orange karena berubahnya asam metil jingga
menjadi garamnya. Kemudian campuran tersebut di panaskan sampai mendidih dan
ditambahakan NaCl untuk membantu pemisahan padatan dari campurannya. NaCl
diusahakan larut semua, karena jika tidak hasil metil jingga nantinya akan tetap ada di
permukaan padatan metil jingga.
Tahapan terkahir adalah rekristalisasi produk, Selanjutnya campuran disaring dengan
buchner funnel vakum. Filtratnya dibuang padatannya dikeringkan di dalam oven. Namun
pada praktikum pertama, praktikum melakukan kesalahan dengan menggunakan filtrate
bukan residunya. Sehingga tidak didapat yield karena itu nukan metil jingga. Akhirnya,
praktikan menggunakan residu yang sebelumya telah dioven dan didapat berat metil jingga
sebesar 7,72 gram dengan % yield 94,35 %.
Namun produk metil jingga yang didapat kelompok kami tidak layak untuk dijadikan
indicator titrasi. Karena setelah dibandingkan dengan metil jingga kelas 2 A yang memiliki
Ph netral karena pada pembuatan senyawa diazo menggunakan HCl pekat dan langsung
terbentuk Kristal. Sehingga dapat dikatakan garam diazo kelas 2A terbentuk dengan
sempurna. pH metil jingga praktikan tidak netral yaitu 12 padahal sebagai indicator
seharusnya memiliki pH yang netral yaitu 7. Hal ini disebabkan praktikan tidak
menggunakan HCl pekat pada pembuatan garam diazo melainkan menggunakan HCl 0,1 N
sehingga suasana menjadi kurang asam pada pembentukan garam diazo dan akhirnya tidak
membentuk Kristal walaupun telah didiamkan selama 30 menit.












KESIMPULAN

Kesimpulan yang didapat dari praktikum pembuatan metil jingga adalah, sebagai berikut :
1. Metil jingga diperoleh dengan dua tahapan reaksi yaitu reaksi pembuatan garam
diazonium dan reaksi penyambungan, dan tahap rekristalisasi.
2. Pembuatan garam diazonium diperoleh dari reaksi asam sulfanilat dan natrium
karbonat yang kemudian direaksikan dengan natrium nitrit.
3. Reaksi penyambungan adalah reaksi garam diazonium dan N,N dimethyl anilin.
4. Yield metil jingga yang dihasilkan adalah 94,35%
























DAFTAR PUSTAKA

Andrijanto, Eko. Jobsheet Praktikum Satuan Proses. Proses Substitusi Pembuatan Metil
Jingga. Politeknik Negeri Bandung.
Anshory, Irfan. 2003. Kimia SMU Untuk Kelas 3. Jakarta : Erlangga.
Internet. Anonim, Berbagai Sumber.
Purba, Michael. 2000. Kimia 2000 Kelas 2. Jakarta : Erlangga.
Vogel. 1978. Text Book Of Practical Organic Chemistry, fourth edition. New York :
John Wiley and Sons Inc.
























LAMPIRAN MSDS
a. Natrium Karbonat
Rumus Molekul : Na
2
CO
3

Sifat :
a. Serbuk kristal atau kristal putih berwarna putih
b. Tidak berwarna
c. Berat jenis 1,55
d. Larut dalam air dan gliserol, tidak larut dalam alkohol
e. Titik leleh 109C
f. Tidak mudah terbakar
g. Daya toksik rendah

Penggunaan :
- Pengontrol pH air, bahan tambahan makanan, pembersih dan pemutih tekstil,
pereaksi analitik
b. Natrium Hidroksida
Rumus Molekul : NaOH
Nama Lain : Caustic soda, Sodium Hydrate, white acustic
Sifat :
a. menyerap air dan karbondioksida dari udara
b. berat jenis 2,3
c. titik leleh 318 C
d. titik didih 1390 C
e. larut dalam air dan alkohol dan gliserol


Pembuatan :
- Elektrolisis NaCl,
- Reaksi kalsium Hidroksida dan Natrium karbonat

Bahaya :
- korosif terhadap jaringan, iritasi terhadap jaringan (mata,kulit, membran lendir),
toleran si di udara 2 mg/m
3
udara

Penggunaan :
- Industri kimia, rayon, dan cellophane, agen penetral dalam penyaringan
petroleum, aluminium, detergen, sabun, bahan tambahan makanan dan
elektroplating.

Indikator Metil Jingga (C
14
H
14
N
3
NaO
3
S)
A. Sifat Fisika berdasarkan literatur
1. Rumus molekul : C
14
H
14
N
3
NaO
3
S
2. Berat molekul : 327,33 gr/mol
3. Densitas : 1,28 gr / cm
3
, padat
4. Titik lebur : > 300
0
C
5. Titik didih : terdekomposisi (terurai)
B. Sifat Kimia
1. Trayek pH 3,1 - 4,4
2. Berwarna merah pada suasana asam
3. Berwarna kuning pada suasana basa
4. Larut dalam air panas
5. Lebih banyak digunakan untuk titrasi pada suasana asam