Anda di halaman 1dari 8

1

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan
luasnya (Smeltzer & Bare, 2006). Fraktur memegang proporsi terbesar
penyebab trauma atau cedera, dapat terjadi pada semua tingkat usia dan dapat
menimbulkan perubahan yang signifikan pada kualitas hidup individu.
Perubahan yang ditimbulkan diantaranya terbatasnya aktivitas, karena rasa
nyeri akibat tergeseknya saraf motorik dan sensorik, pada luka fraktur. Tanda
dan gejala fraktur berupa deformitas, bengkak, bruissing (ekimosis),
kehilangan fungsi, mobilitas abnormal (krepitus), perubahan neurovaskuler,
spasme otot dan nyeri (Black & Hawks, 2009).

Rasa nyeri dan kekakuan otot yang dialami pasien, membuat pasien takut
untuk menggerakkan ekstremitas yang cedera serta mengalami kecemasan
terhadap kondisi yang dialami, sehingga dibutuhkan relaksasi otot untuk
mencegah kekakuan pada otot dan meminimalkan tingkat kecemasan pasien
(Smeltzer & Bare, 2009). Kecemasan mencetuskan beberapa sensasi dan
perubahan fisik, meliputi peningkatan aliran darah menuju otot, ketegangan
otot, mempercepat atau memperlambat pernafasan, meningkatkan denyut
jantung, dan menurunkan fungsi pencernaan (Ankrom, 2008). Jika stres dan
kecemasan yang dialami berlangsung terus menerus, maka respon
psikofisiologi yang berulang dapat membahayakan tubuh. Oleh karena itu
diperlukan asuhan keperawatan ansietas yang bertujuan untuk mengurangi
2

dan relaksasi respon stress yang dikombinasi dengan tindakan medik yang
berfokus pada tindakan relaksasi otot. Relaksasi otot progresif merupakan
teknik menejemen terhadap ansietas telah digunakan pada berbagai tatanan
pada berbagai populasi dan telah dibuktikan menjadi terapi yang efektif untuk
digunakan perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien yang
mengalami gangguan ansietas. Relaksasi otot progresif telah menunjukan
manfaat dalam mengurangi ansietas yang akan mempengaruhi berbagai gejala
fisiologis dan psikologis karena kondisi medis. Teknik ini dianjurkan untuk
orang-orang dengan gangguan kecemasan, insomnia dan nyeri (Snyder &
Linquist, 2002).

Badan kesehatan dunia (WHO) mencatat tahun 2009 terdapat dari 7 juta
orang meninggal dikarenakan insiden kecelakaan dan sekitar 2 juta orang
mengalami kecacatan fisik. Salah satu insiden kecelakaan yang memiliki
prevalensi cukup tinggi yakni insiden fraktur ekstremitas bawah yakni sekitar
46,2% dari insiden kecelakaan yang terjadi. Berdasarkan data dari
Departemen Kesehatan RI (2009), didapatkan sekitar delapan juta orang
mengalami kejadian fraktur dengan jenis fraktur yang berbeda dan penyebab
yang berbeda. Dari hasil survey tim Depkes RI didapatkan 25% penderita
fraktur yang mengalami kematian, 45% mengalami kecacatan fisik, 15%
mengalami stress psikologis karena cemas dan bahkan depresi, dan 10%
mengalami kesembuhan dengan baik. Berdasarkan hasil studi pendahuluan
yang dilakukan di Ruang Cempaka RSUD dr. Iskak Tulungagung. Menurut
data dari Ruang Cempaka, jumlah penderita dengan fraktur pada tahun 2013
sebanyak 640 orang, sedangkan klien dengan fraktur ekstremitas bawah pada
3

tahun 2013 sebanyak 140 orang. Ketika dilakukan interview pada penderita
fraktur ekstremitas bawah tanggal 27 Januari 2014, dari 13 pasien fraktur
ekstremitas bawah 10 diantaranya menunjukan tanda-tanda ansietas.

Adapun permasalahan yang muncul pada pasien fraktur ekstremitas bawah
diantaranya adalah ditinjau dari permasalahan fisik dan permasalahan
psikologis. Masalah fisik yang muncul pada pasien fraktur ekstremitas bawah
yaitu rasa nyeri akut, jika bergerak karena kerusakan tulang, pembengkakan
jaringan lunak, injuri, dan spasme otot serta kondisi pada tulang membuat
pasien tidak mau beraktivitas (Halstead, 2004). Sedangkan dampak masalah
psikologis yang muncul pada pasien fraktur ekstremitas bawah adalah
ansietas, stress, depresi, gangguan gambaran diri, gangguan peran, sampai
munculnya koping individu inefektif. Patterson (2006) menyebutkan bahwa
depresi dan kecemasan merupakan reaksi yang paling umum terjadi, yang
kadang kala sampai muncul keinginan untuk melakukan bunuh diri ataupun
menunjukan perilaku yang destruktif pada diri sendiri. Beberapa klien
mempunyai koping yang baik terhadap kondisi kesehatan setelah dilakukan
operasi pada fraktur alat gerak bawah, namun tak sedikit pula yang
mengalami stress, mengurung diri dan bahkan menarik diri dari lingkungan
(Limb, 2004).

Intervensi yang bersifat kolaborasi yang dapat di berikan diantaranya adalah
terapi farmakologi, pembedahan, dan dukungan keluarga. Selain itu juga
dapat menggunakan beberapa teknik terapi secara fisik yang bertujuan untuk
relaksasi. Intervensi keperawatan pada pasien ansietas bertujuan agar klien
mampu mengenal ansietas dan mampu mengatasi ansietas yang terjadi
4

(Keliat,dkk 2005). Penatalaksanaan pada gejala ansietas menggunakan latihan
Relaksasi Otot Progresif (ROP) dan biofeedback. Menurut Varcolis (2006)
beberapa terapi individu yang dapat digunakan adalah terapi kognitif (kognitif
therapy), terapi perilaku (behavioral therapy) yang di dalamnya meliputi
modelling, sistemic desensitization, flooding dan thought stopping serta
cognitive behavioral therapy, sedangkan terapi keluarga yang dapat dilakukan
dalam mengatasi ansietas adalah family psychoeducation therapy (Stuart &
Laraia, 2005) dan terapi kelompok yang dapat digunakan adalah logoterapi
(Issacs, 2005). Dalam penelitian ini hanya membatasi teknik relaksasi otot
progresif.

Relaksasi otot progresif adalah suatu terapi yang bertujuan untuk memberikan
sensasi ketegangan dan merileksasikan otot-otot tubuh tertentu. Relaksasi otot
progresif merupakan gerakan mengencangkan dan melemaskan otot-otot pada
satu bagian tubuh pada satu waktu tertentu untuk memberikan perasaan
relaksasi secara fisik. Cara kerja terapi ini adalah mengurangi konsumsi
oksigen tubuh, laju metabolisme tubuh laju pernafasan, ketegangan otot,
kontraksi ventricular prematur dan tekanan darah sistolik serta gelombang
alpha otak serta dapat meningkatkan beta endorphin dan berfungsi
meningkatkan imun seluler. Sehingga relaksasi otot progresif cocok untuk
menurunkan ansietas. Gerakan mengencangkan dan melemaskan secara
progresif kelompok otot ini dilakukan secara berturut-turut (Synder &
Lynquist, 2002). Berdasarkan fenomena diatas maka peneliti tertarik untuk
meneliti pengaruh relaksasi otot progresif terhadap ansietas pada klien post
operasi fraktur ekstremitas bawah.
5


1.2 Rumusan masalah
Sebagian besar klien yang dirawat di rumah sakit mengalami ansietas,
terutama pada klien post operasi fraktur ekstremitas bawah di ruang Cempaka
RSUD dr. Iskak Tulungagung. Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka
peneliti ingin mengetahui Apakah ada pengaruh Relaksasi Otot Progresif
(ROP) terhadap ansietas pada klien post operasi fraktur ekstremitas bawah
yang dirawat di RSUD dr.Iskak Tulungagung ?

1.3 Tujuan penelitian
1.3.1 Tujuan umum
Mengetahui pengaruh Relaksasi Otot Progresif terhadap ansietas pada
klien post operasi fraktur ekstremitas bawah di ruang Cempaka RSUD
dr.Iskak Tulungagung.

1.3.2 Tujuan khusus
1.3.2.1 Mengidentifikasi tingkat kecemasan klien post operasi fraktur ekstremitas
bawah sebelum dilakukan Relaksasi Otot Progresif pada kelompok kontrol
dan kelompok intervensi di ruang Cempaka RSUD dr. Iskak Tulungagung.

1.3.2.2 Mengidentifikasi tingkat kecemasan klien post operasi fraktur ekstremitas
bawah setelah dilakukan Relaksasi Otot Progresif pada kelompok kontrol
dan kelompok intervensi di ruang Cempaka RSUD dr. Iskak Tulungagung.


6

1.3.2.3 Menganalisis pengaruh Relaksasi Otot Progresif terhadap ansietas pada
klien post operasi fraktur ekstremitas bawah di ruang Cempaka RSUD dr.
Iskak Tulungagung.

1.4 Mafaat penelitian
1.4.1 Manfaat aplikatif

1.4.1.1 Meningkatkan pelaksanaan terapi Relaksasi Otot Progresif pada klien post
operasi fraktur ekstremitas bawah yang mengalami ansietas.

1.4.1.2 Menambah pengetahuan dan kemampuan pelaksanaan terapi Relaksasi
Otot Progresif terhadap klien yang mengalami masalah psikososial
ansietas.

1.4.2 Manfaat Keilmuan Keperawatan
1.4.2.1 Mengembangkan teknik terapi Relaksasi Otot Progresif sebagai salah satu
terapi terhadap klien post operasi fraktur ekstremitas bawah yang
mengalami kecemasan.

1.4.2.2 Penelitian ini sebagai dasar dalam mengembangkan pelaksanaan
Relaksasi Otot Progresif pada klien dengan diagnosa ansietas.

1.4.3 Manfaat Metodologi
1.4.3.1 Dapat menerapkan teori dan teknik terapi yang terbaik dalam
meningkatkan kemampuan klien dengan diagnosa keperawatan ansietas
7

1.4.3.2 Hasil penelitian ini dapat berguna sebagai data dasar bagi peneliti
selanjutnya untuk mengatasi masalah psikososial ansietas.

1.5 Relevansi
Setiap tahun klien fraktur ekstremitas bawah terus mengalami peningkatan.
Karena klien dengan fraktur salah satu penatalaksanaannya adalah di lakukan
pembedahan untuk reposisi tulang yang putus. Sebagian besar klien dengan
fraktur ekstremitas bawah merasa bahwa dirinya tidak mampu untuk berjalan,
aktivitas, dan tidak mampu melakukan kegiatan seperti biasanya. Perubahan
fisik yang dialami klien fraktur ekstremitas bawah seringkali sebagai faktor
pencetus ansietas. Stres dan kecemasan biasanya ditandai dengan peningkatan
aliran darah menuju otot, ketegangan otot, mempercepat atau memperlambat
pernafasan, meningkatkan denyut jantung, dan menurunkan fungsi digesti.
Jika stres dan kecemasan yang dialami berlangsung terus menerus, maka
respon psikofisiologi yang berulang dapat membahayakan tubuh. Respon stres
adalah bagian dari jalur umpan balik yang tertutup antara otot-otot dan
pikiran. Penilaian terhadap stressor mengakibatkan ketegangan otot yang
mengirimkan stimulus ke otak dan membuat jalur umpan balik. Relaksasi otot
progresif akan menghambat jalur tersebut dengan cara mengaktivasi kerja
sistem saraf parasimpatis dan memanipulasi hipotalamus melalui pemusatan
pikiran untuk memperkuat sikap positif sehingga rangsangan stres terhadap
hipotalamus berkurang.
Tujuan dari relaksasi otot progresif adalah untuk mengurangi konsumsi
oksigen tubuh, laju metabolisme tubuh laju pernafasan, ketegangan otot,
8

kontraksi ventricular prematur dan tekanan darah sistolik serta gelombang
alpha otak serta dapat meningkatkan beta endorphin dan berfungsi
meningkatkan imun seluler. Sehingga dalam hal ini relaksasi otot progresif
sangat cocok untuk menurunkan tingkat cemas pada pasien post operasi
fraktur ekstremitas bawah. Untuk mengatasi hal tersebut, perawat sebagai
vasilitator harus dapat menjalankan tugasnya untuk mengatasi masalah klien
dengan respon kecemasan. Dan apabila masalah tersebut dapat teratasi, maka
teknik terapi relaksasi otot progresif dapat di kembangkan untuk mengatasi
masalah keperawatan yang lain.