Anda di halaman 1dari 5

32

BAB 3
KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS

3.1 Kerangka Konseptual Penelitian
3.1.1 Kerangka konseptual merupakan suatu tahapan yang penting dalam suatu
penelitian (Nursalam, 2003). Konsep adalah abstraksi dari suatu realita
agar dapat dikomunikasikan dan membentuk suatu teori yang menjelaskan
keterkaitan antar dua variabel, baik variabel yang diteliti dan yang tidak
diteliti (Nursalam, 2003).

Iskandar (2008:55), mengemukakan bahwa dalam penelitian kuantitatif,
kerangka konseptual merupakan suatu kesatuan kerangka pemikiran yang
utuh dalam rangka mencari jawaban-jawaban ilmiah terhadap masalah-
masalah penelitian yang menjelaskan tentang variabel-variabel, hubungan
antara variabel-variabel secara teoritis yang berhubungan dengan hasil
penelitian yang terdahulu yang kebenarannya dapat diuji secara empiris.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa kerangka konseptual merupakan suatu
kesatuan dimana masing-masing variabel dalam penelitian dihubungkan
untuk mendapatkan suatu jawaban dari sebuah penelitian.

Oleh karena itu, maka teori yang disampaikan di penelitian ini disusun
dalam suatu kerangka konseptual yang menggunakan pendekatan teori
proses yang ditampilkan pada bagan 3.1 dibawah ini :

33

3.1.2 Bagan kerangka konsep
Gambar 3.1 Kerangka Konsep Penelitian Pengaruh Relaksasi Otot Progresif
terhadap Ansietas Klien Post Operasi Fraktur Ekstremitas Bawah
Klien post operasi
fraktur ekstremitas
bawah
Fisik :
Nyeri akut
Kekakuan otot
Pembengkakan jaringan lunak
Injury
Spasme otot

Psikososial :
Ansietas
Stress
Depresi
Gangguan gambaran diri
Gangguan peran
Koping inefektif
Respon ansietas :
Respon fisiologis
Respon perilaku
Respon kognitif
Respon afektif
Ansietas ringan
Ansietas sedang
Ansietas berat
Faktor yang mempengaruhi
ansietas:
Umur
Jenis kelamin
Pendidikan
Pekerjan
Ruang perawatan
Faktor Predisposisi:
Psikologis
Biologis
Sosial budaya
Faktor presipitasi:
Biologis : gangguan fisik
Psikologis : identitas diri dan
harga diri.
Sosial budaya: status ekonomi

Terapi kognitif
Terapi perilaku
Modeling
Desentisasi sistemik
Flooding
Pencegahan respon
CBT
Psikoedukasi keluarga
Thought stopping
Penatalaksanaan Ansietas
Keperawatan :
Relaksasi otot progresif
Medis :
Ansioliti
Sedatif
Transquilizer minor
Antikonfulsan
Langkah-langkah ROP :
Latihan mata
Latihan mulut
Latihan tengkuk
Latihan bahu
Latihan kedua
tangan
Latihan punggung
Latihan perut
Latihan kaki
Keterangan :

Di teliti :

Tidak diteliti :

Hubungan sebab akibat :

Gerakan mengencangkan
dan mengendurkan otot
Memperlancar peredaran
darah, metabolisme, dan
berfungsi meningkatkan
imun seluler
34

3.1.3 Narasi
Kecelakaan lalu lintas dari tahun ketahun terus mengalami peningkatan,
yang biasa dialami oleh korban insiden kecelakaan adalah patah tulang
atau fraktur. Dari klasifikasi fraktur yang dialami oleh korban insiden
kecelakaan di dominasi pada fraktur ekstremitas bawah. Fraktur
merupakan terputusnya kontinuitas tulang dan jaringan disekitarnya, yang
bersifat komplit ataupun inkomplit, karena stress atau tahanan yang
berlebihan pada tulang, yang mengakibatkan dislokasi sendi, kerusakan
jaringan lunak, saraf dan pembuluh darah. Ada beberapa penatalaksanaan
yang harus dilakukan untuk klien dengan fraktur ekstremitas bawah
dianataranya adalah prosedure pembedahan atau operasi. Operasi disini
bertujuan untuk mereposisi dislokasi sendi, kerusakan jaringan lunak, saraf
dan pemubuluh darah agar mempercepat pemulihan kesehatan klien
fraktur ekstremitas bawah. Adapun masalah yang muncul pada klien post
operasi fraktur ekstremitas bawah adalah masalah fisiologis dan
psikososial. Masalah psikososial yang biasa muncul pada klien post
operasi fraktur ekstremitas bawah diatanya adalah mengalami cemas
(ansietas) dengan kondisi yang dialami klien tersebut.
Ansietas merupakan masalah psikososial yang muncul pada setiap individu
yang mengalami perubahan fisiologis, sehingga ansietas harus diatasi agar
tidak menyebabkan komplikasi yang lainnya. Ansietas atau perasan cemas
apabila tidak teratasi maka akan menambah buruk keadaan klien dan
memperlambat proses penyembuhn klien. Adapun pelayanan keperawatan
35

yang digunakan untuk menangani klien dengan masalah keperawatan
cemas atau ansietas diantaranya penanganan terapi medis dan juga terapi
psikososial.
Terapi psikososial untuk menangani klien yang mengalami ansietas ada
beberapa macam, diantaranya sebagai berikut : terapi kognitif, terapi
perilaku, flooding, CBT, ACT, pencegahan respon, thought stopping,
psikoedukasi keluarga, logoterapi, dan relaksasi otot progresif. Pada
masalah keperawatan cemas yang dialami oleh klien post operasi fraktur
ekstremitas bawah teknik terapi yang paling cocok di terapkan adalah
teknik terapi relaksasi otot progresif.
Relaksasi otot progresif merupakan suatu teknik untuk menangani klien
dengan masalah keperawatan ansietas atau cemas. Relaksasi otot progresif
merupakan salah satu teknik relaksasi yang mudah dan sederhana serta
sudah digunakan secara luas. Relaksasi otot progresif merupakan suatu
prosedur untuk mendapatkan relaksasi pada otot melalui dua langkah,
yaitu dengan memberikan sensasi tegangan pada suatu kelompok otot, dan
menghentikan tegangan tersebut kemudian memusatkan perhatian terhadap
bagaimana otot tersebut menjadi rileks, merasakan sensasi rileks, dan
ketegangan menghilang.

36

3.2 Hipotesis
Menurut Thomas et al (2010), hipotesis adalah hasil yang diharapkan atau
hasil yang diantisipasi dari sebuah penelitian. Apabila kita mau melakukan
penelitian, umumnya kita memiliki ide tentang outcome dari studi tersebut.
Outcome ataupun jawaban terebut didapatkan bisa melalui konstruksi teori
atau berdasarkan hasil penelitian sebelumnya. Berdasarkan kerangka
konseptual penelitian, maka dapat dirumuskan hipotesis penelitian sebagai
berikut :

Hipotesis alternatif (Ha): Ada pengaruh relaksasi otot progresif terhadap
ansietas pada klien post op ekstremitas bawah sebelum dan sesudah
mendapatkan relaksasi otot progresif di RSUD dr iskak Tulungagung.