Anda di halaman 1dari 14

LABORATORIUM PENGOLAHAN LIMBAH INDUSTRI

SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2012/2013



PRAKTIKUM PENGOLAHAN LIMBAH INDUSTRI
MODUL : Biochemical Oxygen Demand (BOD)
PEMBIMBING : Endang Kusumawati, MT
Tanggal Praktikum : 1 Oktober 2014
Tanggal Penyerahan laporan : 7 Oktober 2014

Oleh :
Kelompok : 1
Nama : Abdul Rozak K NIM. 121411001
Abed Nego NIM. 121411002
Agin Adwisan NIM. 121411003

Kelas : 3A



PROGRAM STUDI DIPLOMA III ANALIS KIMIA
JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2014
A. Tujuan Praktikum
Dapat menentukan nilai BOD dari suatu sampel limbah.
B. Teori Dasar
Kebutuhan oksigen biologi (BOD) didefinisikan sebagai banyaknya oksigen yang
diperlukan oleh organisme pada saat pemecahan bahan organik, pada kondisi aerobik.
Pemecahan bahan organik diartikan bahwabahan organik ini digunakan oleh organisme
sebagai bahan makanan dan energinya diperoleh dari proses oksidasi (PESCOD,1973).
Parameter BOD, secara umum banyak dipakai untuk menentukan tingkat pencemaran air
buangan. Penentuan BOD sangat penting untuk menelusuri aliran pencemaran dari tingkat
hulu ke muara. Sesungguhnya penentuan BOD merupakan suatu prosedur bioassay yang
menyangkut pengukuran banyaknya oksigen yang digunakan oleh organisme selama
organisme tersebut menguraikan bahan organik yang ada dalam suatu perairan, pada kondisi
yang harnpir sama dengan kondisi yang ada di alam. Selama pemeriksaan BOD, contoh
yang diperiksa harus bebas dari udara luar untuk rnencegah kontaminasi dari oksigen yang
ada di udara bebas. Konsentrasi air buangan/sampel tersebut juga harus berada pada suatu
tingkat pencemaran tertentu, hal ini untuk menjaga supaya oksigen terlarut selalu ada selama
pemeriksaan. Hal ini penting diperhatikan mengingat kelarutan oksigen dalam air terbatas
dan hanya berkisar 9 ppm pads suhu 20C (SAWYER & MC CARTY, 1978).
Penguraian bahan organik secara biologis di alam, melibatkan bermacam-macam
organisme dan menyangkut reaksi oksidasi dengan hasil akhir karbon dioksida (CO
2
) dan air
(H
2
O). Pemeriksaan BOD tersebut dianggap sebagai suatu prosedur oksidasi dimana
organisme hidup bertindak sebagai medium untuk menguraikan bahan organik menjadi CO
2

dan H2O. Reaksi oksidasi selama pemeriksaan BOD merupakan hasil dari aktifitas biologis
dengan kecepatan reaksi yang berlangsung sangat dipengaruhi oleh jumlah populasi dan
suhu. Karenanya selama pemeriksaan BOD, suhu harus diusahakan konstan pada 20C yang
merupakan suhu yang umum di alam. Secara teoritis, waktu yang diperlukan untuk proses
oksidasi yang sempurna sehingga bahan organik terurai menjadi CO
2
dan H
2
O adalah tidak
terbatas. Dalam prakteknya dilaboratoriurn, biasanya berlangsung selama 5 hari dengan
anggapan bahwa selama waktu itu persentase reaksi cukup besar dari total BOD. Nilai BOD
5 hari merupakan bagian dari total BOD dan nilai BOD 5 hari merupakan 70 - 80% dari nilai
BOD total (SAWYER & MC CARTY, 1978). Metoda penentuan yang dilakukan adalah
dengan metoda titrasi dengan cara WINKLER. Metoda titrasi dengan cara WINKLER
secara umum banyak digunakan untuk menentukan kadar oksigen terlarut. Prinsipnya
dengan menggunakan titrasi iodometri. Sampel yang akan dianalisis terlebih dahulu
ditambahkan larutan MnCl
2
den Na0H - KI, sehingga akan terjadi endapan MnO
2
. Dengan
menambahkan H
2
SO
4
atan HCl maka endapan yang terjadi akan larut kembali dan juga akan
membebaskan molekul iodium (I
2
) yang ekivalen dengan oksigen terlarut. Iodium yang
dibebaskan ini selanjutnya dititrasi dengan larutan standar natrium tiosulfat (Na
2
S
2
0
3
) dan
menggunakan indikator larutan amilum (kanji).
Ditegaskan lagi oleh Boyd (1990), bahwa bahan organik yang terdekomposisi dalam
BOD adalah bahan organik yang siap terdekomposisi (readily decomposable organic
matter). Mays (1996) mengartikan BOD sebagai suatu ukuran jumlah oksigen yang
digunakan oleh populasi mikroba yang terkandung dalam perairan sebagai respon terhadap
masuknya bahan organik yang dapat diurai. Dari pengertianpengertian ini dapat dikatakan
bahwa walaupun nilai BOD menyatakan jumlah oksigen, tetapi untuk mudahnya dapat juga
diartikan sebagai gambaran jumlah bahan organik mudah urai (biodegradable organics)
yang ada di perairan. Faktor yang mempengaruhi hasil BOD adalah :
Bibit biological yang dipakai
pH jika tidak dekat dengan aslinya (netral)
Temperatur jika selain 20
0
C (68
0
F)
Keracunan sampel
Waktu inkubasi
Selama pemeriksaan BOD, contoh yang diperiksa harus bebas dari udara luar
mencegah kontaminasi dari oksigen yang ada di udara bebas. Konsentrasi air buangan/
sampel tersebut yang harus berada pada suatu tingkat pencemaran tertentu. Hal ini untuk
menjaga supaya oksigen terlarut selalu ada selama pemeriksaan. Hal ini penting diperhatikan
mengingat kelarutan oksigen salam air terbatas dan hanya berkisar 9 ppm pada suhu 20
0
C
(Salmin. 2005). Faktor-faktor yang mempengaruhi BOD adalah jumlah senyawa organik
yang diuraikan, tersedianya mirkoorganisme aerob dan tersedianya sejumlah oksigen yang
dibutuhkan dalam proses penguraian tersebut (barus, 1990 dalamSembiring, 2008). Oksidasi
biokimia adalah proses yang lambat. Dalam waktu 20 hari, oksidasi bahan organik karbon
mencapai 95 99 %, dan dalam waktu 5 hari sekitar 60 70 % bahan organik telah
terdekomposisi (Metcalf & Eddy, 1991). Lima hari inkubasi adalah kesepakatan umum
dalam penentuan BOD. Jika sampel air BOD pada 20
0
C diukur berdasarkan fungsi waktu,
maka akan diperoleh kurva seperti gambar 7.8.10.untuk 10 sd 15 hari, kurva mendekati
eksponensial, tapi sekitar 15 hari, kurva meningkat tajam yang menurunkankan kestabilan
laju BOD. Karena panjangnya waktu dan kurvanya tidak datar, maka para engineer
lingkungan mengambil secara universal untuk test standar pada 5 hari untuk prosedur BOD.


C. Alat dan Bahan














Alat Bahan
Batang pengaduk Aquadest
Bola isap Indikator Amilum
Botol BOD Kertas isap
Buret Lar. Buffer phosfat
Erlenmeyer Lar. CaCl
2

Gelas kimia Lar. FeCl
3

Hot plate Lar. H
2
SO
4

Inkubator Lar. KMnO
4

Pipet seukuran Lar. MgSO
4

Lar. Na
2
S
2
O
3

Lar. NaOH
Sampel
Tissue
Bibit mikroba
D. Prosedur Kerja
- Pembebasan Reduktor dari Labu Erlenmeyer









- Penetapan Angka KMnO
4













100 mL Air Kran 3 butir batu didih 5 mL H
2
SO
4
6 N KMnO
4
0,01 N
Erlenmeyer 250 mL
Pemanasan
10 menit
Warna KMnO
4
tidak hilang dengan pendidihan
10 mL Sampel 90 mL Aquadest 10 mL H
2
SO
4
6 N
Erlenmeyer 250 mL
Pemanasan
Sampai terjadi gelembung
Terjadi gelembung di dasar cairan
Cairan dibuang
10 mL KMnO
4
0,01 N
Mendidihkan 10 menit 10 mL H
2
C
2
O
4
0,01 N
Titrasi dengan KMnO
4
0,01 N
- Penetapan Faktor Ketelitian KMnO
4
0,01 N






- Pembuatan Pengencer
1 mL buffer posfat 1 mL FeCl
3

1 mL CaCl 1 mL MgSO
4









160,64 mL sampel








10 mL H
2
C
2
O
4
0,01 N
Erlenmeyer 250 mL
Titrasi dengan KMnO
4
0,01 N
Larutan berwarna merah muda
1 Liter aquadest
Penambahan 1 mL bibit
mikroba
Pengaerasian pada
kompresor selama 30
menit
Pengambilan larutan
pengencer sebanyak
1839,36 mL (diambil P5)
Pemindahan kedalam botol
BOD (sebagai DO sampel)
Pemindahan
kedalam botol BOD
(blanko)
DO
0
DO
5

Titrasi
winkler
Inkubasi
pada suhu
20
o
C 5 hari
DO
0
DO
5

Titrasi
winkler
Inkubasi
pada suhu
20
o
C 5 hari
- Penetapan Oksigen Terlarut dengan Metoda Winkler






















1 mL lar. MgSO
4
1 mL Pereaksi Oksigen
Botol BOD berisi sampel
Pengocokan
Membiarkan 10 menit
Menuangkan cairan
dalam botol
1
3
sampai
isi botol
Cairan dalam botol & erlenmeyer
Titrasi dengan Na
2
S
2
O
3
1/80 N
Larutan berwarna kuning jerami
Titrasi dengan Na
2
S
2
O
3
1/80 N
Larutan berwarna biru hilang
1 mL H
2
SO
4
pekat
Beberapa tetes lar. kanji
E. Data Pengamatan

1. Penentuan angka KMnO
4

Volume sampel = 10 mL
N KMnO
4
= 0,1 N
Volume KMnO
4
(a mL) = 15 mL
2. Penentuan faktor ketelitian KMnO
4

Volume KMnO
4


= 13 mL
3. Penentuan oksigen terlarut dengan metode winkler
Volume thiosulfat pada DO
0

Sample 1 = 2,1+2,7= 4,8ml
Sample 1 = 1,4+1,8=3,2ml
Blanko= 2+1,5=4,5ml
Blanko = 2+2,5 = 4,5ml

Volume thiosulfat pada DO
5

Sample 1= 2,2+1,8= 4ml
Sample 1 = 2,5+1,5 = 4ml
Sample 2 = 2,5+0,7= 3,2ml
Sample 2 = 2,8+1 =3,8ml
Blanko= 2+2,5=4,5ml
Blanko = 2,3+2,5 = 4,8ml

Awal Setelah ditambah kanji
ml Thiosulfat TOTAL
Botol Erlenmeyer Total Botol Erlenmeyer Total
DO
0

Sample 1 2,7 2,1 4,8 1,8 1,4 3,2 8
Blanko 2 1,5 3,5 2,5 2 4,5 8
DO
5

Sample 1 2,2 1,8 4 2,5 1,5 4 8
Sample 2 2,5 0,7 3,2 2,8 1 3,8 7
Blanko 2,5 2 4,5 2,3 2,5 4,8 9,3

PERHITUNGAN
1. Penentuan faktor ketelitian KMnO
4

1
1

0,67
2. Penentuan angka KMnO
4

1 [(1 ) 1]131


1 [(1 1 )1 1]131
1




3. Penentuan pengenceran
a. Angka KMnO
4

Ppm KMnO
4
yang diperoleh 500 ppm maka melakukan pengenceran:

31

1333
1333 1 1333
b. Penentuan BOD

1
1333
1

1333

1
4. Penentuan oksigen terlarut dengan metode winkler
*volume botol dianggap 350 mL
a. Blanko
0

1
( )

(1 1 )
(3 )


b. Blanko
5

1
( )

(131 )
(3 )


c. DO
0

1
( )

(1 1 )
(3 )


d. DO
5

1
( )

(11 )
(3 )


e. DO
5

(11 )
(3 )



5. Penentuan nilai BOD
Diketahui :
P (pengenceran) = 1333 kali
Blanko
0
=
Blanko
5
=
DO
0
=
DO
5
=
DO
5
=
DO
5
rata2 =
Ditanyakan :
Ppm BOD ?
Menjawab :
BOD
BOD = P x (Blanko
0
Blanko
5
) - (DO
0
(1) DO
5
(1)
BOD = 1333 x (2,296-2,79) (2,296 - 2.15)
BOD =660,875 ppm

F. PEMBAHASAN







































G. KESIMPULAN
1. Nilai BOD yang dihasilkan 660,5 ppm
2. DO
o
yang dihasilkan yaitu
3. DO
5
yang dihasilkan yaitu

DAFTAR PUSTAKA
ANONIMOUS. 2004. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup. No. 5 1 Tahun 2004.
Tentang : Baku Mutu Air Laut. 2004. 11 hal.
PESCOD, M. D. 1973. Investigation of Rational Effluen and Stream Standards for Tropical
Countries. A.I.T. Bangkok, 59 pp



























Abed Nego (121411002)
Kebutuhan oksigen biologi (BOD) didefinisikan sebagai banyaknya oksigen yang
diperlukan oleh organisme pada saat pemecahan bahan organik, pada kondisi aerobik.
Pemecahan bahan organik diartikan bahwabahan organik ini digunakan oleh organisme
sebagai bahan makanan dan energinya diperoleh dari proses oksidasi (PESCOD,1973).
Dari percobaan didapat angka KMnO4 yang dihasilkan dari sampel adalah sebesar
Dari angka ini maka didapat sebesar 9361,5 mg/liter KMnO
4
untuk
mengoksidasi zat organik dalam tiap 1 Liter sampel. Sedangkan berdasarkan literatur zat
organik (KMnO
4
) tidak boleh lebih dari 10 mg/L (PP No. 20 tahun 1990), sehingga air
sampel limbah ini dapat dikatakan tercemar zat organik karena mengandung angka KMnO
4

yang melebihi seharusnya.
Untuk DO hari 0, larutan sampel yang telah dicampur dengan pengencer serta blanko
ditambahkan MnSO
4
dan pereaksi oksigen(KI+NaOH) dimana MnSO
4
dalam keadaan basa
ini akan membentuk endapan MnO
2
, kemudian ditambahkan H
2
SO
4
sehingga endapan larut
dan akan melepas I
2
yang ekivalen dengan oksigen terlarut. I
2
yang terbentuk ditirasi
dengan Na
2
S
2
O
3
dengan metode iodometri. Dari data percobaan yang didapat, DO pada hari
nol adalah sebesar 2,296 ppm.
Untuk DO rata-rata pada hari kelima yaitu 2,15 ppm. dimana nilai DO pada sampel ini
lebih kecil dibanding dengan nilai DO pada hari ke 0 hal ini dikarenakan oksigen terlarut
berkurang karena digunakan oleh mikroba untuk mengoksidasi bahan organik.
Reaksi yang terjadi ialah:
MnSO
4
+ 2NaOH Mn(OH)
2
+ Na
2
SO
4

Mn(OH)
2
+ O
2
2MnO
2(s)
+ 2H
2
O
MnO
2
+ 2KI + 2H
2
O Mn(OH)
2
+ I
2
+ 2KOH
I
2
+ 2Na
2
S
2
O
3
Na
2
S
4
O
6
+ 2NaI
Dari hasil analisa BOD ini dihasilkan nilai BOD sebesar 660,875 ppm, artinya 660,875
mgram oksigen akan dihabiskan oleh mikroorganisme dalam satu liter contoh air selama
waktu lima hari pada suhu 20
o
C. Sedangkan menurut literatur BOD pada air bersih tidak
boleh lebih dari 50 ppm (Keputusan Menteri Lingkungan Hidup. KEP-
51/MENLH/10/1995). Sehingga dapat dikatakan bahwa sampel air limbah ini tercemar.