Anda di halaman 1dari 5

MEMBACA NALAR STUDI AGAMA SAKRAL DAN

PROFAN KARYA MERCIA ELIADE


16 f 2009 pada 5:09 am (Agama)
Tags: Pendidikan
Buku Sakral Dan Profan adalah sebuah dokumen yang sangat mendasar tentang pemahaman
manusia tentang agama dan bagaimana ia menguji kualitas hidupnya. Mircea Eliade (1907-1986)
tidak membuang-buang waktu dengan berupaya menjelaskan atau mendefinisikan pengalaman
yang sakral dalam kerangka disiplin-disiplin yang lain. Misalnya, yang sakral sebagai sebuah
pengalaman psikologis (Campbell) atau yang sakral sebagai sebuah fenomena sosiologis
(Burkert). Sebaliknya, ia menganalisa yang sakral sebagai yang sakral. Eliade menunjukkan
bagaimana ruang dan waktu yang sakral adalah sungguh-sungguh ruang dan waktu yang riil,
nyata, permanen dan abadi; kebalikan dengan ruang dan waktu yang labil, selalu berubah-ubah
dari dunia profan. Kalangan homo religiusus (orang-orang tradisional) menghidupkan kembali
kebaikan-kebaikkan primordial dari dewa-dewa dan ritus-ritusnya, tentu saja tidak seperti
manusia modern, dalam semua tingkah lakunya, karena tindakan-tindakan primordial itulah yang
sesungguhnya nyata. Dengan demikian, merambahnya fenomena sakral ke dalam ruang profan
menciptakan ruang yang sakral, ruang yang tercipta, yang abadi, yang nyata.
Dalam buku fenomenal Sakral Dan Profan ini, Eliade mendeskripsikan dua macam perbedaan
mendasar dari pengalaman: tradisional dan modern. Manusia tradisional atau homo religius
selalu terbuka untuk memandang dunia sebagai pengalaman yang sakral. Sedangkan manusia
modern tertutup bagi pengalaman-pengalaman semacam ini. manusia hanya dapat
membangun dirinya secara utuh ketika ia mendesakralisasikan dirinya dan dunia.[1] Baginya,
dunia hanya dialami sebagai yang profan. Yang menjadi Blue Print buku ini kemudia adalah
menunjukan apakah pengalaman-pengalaman yang berlawanan secara mendasar ini pada setiap
tahapannya memang konsisten. Manusia tradisional seringkali mengekspresikan pertentang ini
seabagai nyata versus tidak nyata atau pseudoreal dan ia berusaha sebisa mungkin untuk hidup
dalam yang sakral, agar sepenuhnya dapat menghempaskan dan menyempurnakan dirinya dalam
realitas. Menurut Eliade, yang sakral diketahui oleh manusia karena ia memanifestasikan dirinya
secara berbeda dari dunia profan. Manifestasi dari yang sakral ini disebut Eliade sebagai
hierofani.[2] Bagi Eliade, ini adalah konsep fundamental dalam mengkaji yang sakral dan
berkali-kali buku ini selalu merujuk kepada konsep ini.
Eliade memperkenalkan konsep hierofani, sebuah konsep di mana yang sakral memanifestasikan
dirinya pada diri manusia, pengalaman dari orde realitas lain yang merasuki pengalaman
manusia. Ia memaparkan ide tentang ruang yang sakral, yang mengambarkan bagaimana satu-
satunya ruang yang nyata adalah ruang sakral, yang dikelilingi oleh satu medan tanpa bentuk.
Ruang sakral menjadi kiblat bagi ruang yang lainnya. Ia mendapatkan bahwa manusia mendiami
sebuah dunia tengah (midland), antara dunia-luar yang kacau dan dunia-dalam yang sakral, yang
diperbaharui lagi oleh praktik dan ritual sakral. Dengan mentahbiskan satu tempat dalam dunia
profan, kosmologi direkapitulasi dan yang sakral menjadi mungkin diakses. Ini menjadi sentra
dari dunia primitif. Ritual mengambil tempat dalam ruang sakral ini, dan menjadi satu-satunya
cara partisipasi dalam kosmos yang sakral ketika berupaya menghidupkan dan menyegarkan
kembali dunia profan.
Selanjutnya, Eliade mengaitkan waktu sakral dengan mitologi. Ketika waktu profan adalah
linear, waktu sakral kembali pada permulaan manakala segalanya nampak lebih nyata daripada
keadaannya sekarang. Lagi-lagi ritual memainkan peran penting. Waktu digerakkan kembali
dengan menjadikannya baru kembali sementara ritual-ritual mengikat kembali para penganut
kepada keaslian kosmos yang sakral. Maka, siklus satu tahun menjadi paradigma bagi
pembaharuan kembali masyarakat dan dunia genesis yang sakral.
Ia lalu menganalisa bagaimana sejumlah unsur alam secara khusus bermain di dalam pengalaman
yang sakral. Ia melihat air, pohon sakral, rumah dan tubuh. Ia mencatat bahwa tidak ada tubuh
manusia modern, seateis apapun, yang sepenuhnya tidak merasakan daya tarik alam.[3]
Simbolisme kosmik menambahkan satu nilai baru kepada objek atau tindakan tanpa mengeser
nilai-nilai yang inheren. Manusia religius mendapatkan dalam dirinya kesucian yang sama
dengan yang ia temukan dalam kosmos. keterbuikaan terhadap dunia memungkinkan manusia
religius untuk mengenal dirinya dalam pengenalannya akan dunia dan pengetahuan ini
berharga baginya karena inilah cara beragama, karena hal ini berkaitan dengan being.
Di bagian terakhir buku Sakral Dan Profan ini, Eliade memaparkan perbedaan antara homo
religiosus dan manusia profan. Manusia non-religius mendapatkan bahwa segala sesuatu telah
didesakralisasi. Ini akan merusak sekaligus juga memiskinkan karena semua tindakan dan
kejadian telah tercerabut dari signifikansi spritualnya. Ia menunjukkan kehilangan yang besar
dalam kristen:
kepekaan religius dari penduduk kota sangatlah dangkal dan miskin. Liturgi kosmik,
disertakannya misteri alam dalam darama kristologis, tidak dapat diakses lagi pada kehidupan
orang kristen di kota modern. Pengalaman religius mereka tidak lagi terbuka bagi kosmos.
Dalam analisa terakhir, ia adalah pengalaman yang sangat privat; keselamatan adalah sebuah
persoalan yang menguras perhatian manusia untuk mengurusi tuhannya; kebanyakan manusia
mengakui bahwa ia bukan hanya bertanggung jawab kepada tuhan. Namun hubungan manusia-
tuhan-sejarah ini tidak meluangkan tempat sama sekali bagi kosmos. Dari sini akan kelihatan
bahwa, bahkan bagi seorang kristen tulen, dunia tidak lagi dipahami sebagai karya tuhan.[4]
Fenomena pengalaman religius tersebut tidak menyisakan perdebatan apapun. Eliade
menganalisa bahwa karakteristik dari fenomenologi ini bertentangan dengan yang telah dialami
manusia selama puluhan ribu tahun dengan agama modern; agama yang telah dilucuti,
dirasionalisasi. Jelas sekali, buku Sakral Dan Profan menunjukan apa yang hilang dari agama-
agama modern. Harga yang telah mereka bayar untuk menjadi modern mencabut mereka dari
fenomena mendasar yang senantiasa memperkuat pengalaman spritual di masa lalu. Dan lokus
utama dari buku Sakral Dan Profan adalah menunjukan dalam hal mana manusia religius
berusaha untuk bertahan sebisa dan selama mungkin dalam sebuah semesta yang sakral, dan oleh
karena itu keseluruhan pengalaman hidupnya disajikan sebagai perbandingan dengan
pengalaman dari orang yang tidak memiliki kepekaan religius, orang yang hidup atau akan
hidup dalam sebuah dunia yang terdesakralisasikan.
Tinjuan terhadap buku pengantar klasik dalam studi agama ini sebenarnya cukup
mengkhawatirkan karena sangat terbatasnya isi kepala tentang subjek ini. Terlepas dari pada hal
itu, yang ingin diuji adalah bagaimana hubungan Eliade dengan telaahnya terhadap kategori
pengalaman religius. Pembahasan Eliade mengenai pengalaman relius menampakkan keterkaitan
yang menarik dengan perdebatan-perdebatan perenialisme / kontektualisme. Akan nampak dalam
kaitannya dengan persoalan sifat pengalaman religius bahwa Eliade, selemah apapun, adalah
seorang perenialis. Lebih dari sekedar menganggap bahwa semua pengalaman religius atau
mistis bertemu dengan realitas yang sama (perenialisme), Eliade mengatakan bahwa pengalaman
yang sakral adalah bagian alami dari pengalaman manusia (apa yang akan saya sebut
perenialisme lemah). Simak saja kutipan ungkapan Eliade berikut ini:adalah berbeda
pengalaman religius yang dijelaskan melalui perbedaan-perbedaan dalam bidang ekonomi,
budaya dan organisasi sosial atau singkatnya oleh sejarah. Kendati demikian, antara para
pemburu yang nomaden dan petani yang menetap, ada kesamaan perilaku yang bagi kita nampak
sangat penting daripada perbedaan-perbedaannya: keduanya hidup dalam sebuah kosmos yang
sakral, keduanya sama-sama berada dalam sakralitas kosmis yang manifestasinya sama seperti
dalam dunia binatang dan dunia tumbuh-tumbuhan.
Eliade melihat karyanya sebagai penerus dari proyek yang dimulai oleh Rudolft Otto dalam Das
Heilige.[5] Eliade berusaha mengeksplorasi kekuatan eksplanatif dalam analisa Otto mengenai
pengalaman religius. Eliade memfokuskan diri untuk menunjukkan bahwa ide pengalaman
religius sangat membantu membangkitkan rasa hormat sekaligus rasa takut ketika berjumpa
dengan entitas sakral yang sama sekali asing dari dunia kehidupan lahir adalah eksplorasinya
terhadap signifikansinya religius dari objek natural, proses kehidupan, ruang sakral (tempat-
tempat suci agama), dan waktu sakral (ritual keagamaan). Keistimewaan dari pendekatan Eliade
adalah pengintegrasiannya atas pengalaman religius biasa dan pengalaman yang luar biasa
atau abnormal ke dalam satu pandangan yang menyeluruh tentang pengalaman religius.
Teori Eliade adalah reduksionis (seperti semua teori yang berkaitan dengan fenomenanya). Ia
berusaha menunjukkan bagaimana sejumlah pengalaman atau aktivitas religius menyimbolkan
perjumpaan manusia dengan hal yang sama sekali lain (yaitu yang sakral). Mungkin inilah
perbedaan antara kontektualis dan prenialis dalam kaitanya dengan pengalaman religius.
Perbedaan utama antara Eliade dan beberapa kalangan kontektualis yang bermunculan
setelahnya adalah bahwa Eliade jelas-jelas mempercayai perjumpaan dengan yang sakral sebagai
sebuah aspek yang normal dan beraturan (kendati itu pun natural) dalam kehidupan manusia.
Kalangan kontektualis tidak terlalu menolak padangan ini sepertri ketika mereka abstain
menyikapi kecenderungan yang mengeneralisasi watak dan perilaku manusia. Dengan mengingat
hal itu, ia memungkasi bukunya dengan beberapa refleksi atas mengejalanya pengalaman-
pengalaman pseudoreligius di kalangan nonreligius (sehingga menunjukkan kekuatan penjelas
yang signifikan dengan teorinya). Dalam bukunya ini, Eliade mengadopsi bentuk perenialisme
lemah untuk mengembangkan teorinya tentang pengalaman. Setuju atau tidak, orang patut
memuji betapa cemerlang teori yang dikemukakannya.
Sakral Dan Profan terbagi ke dalam empat judul yang terkait dengan ruang (space), waktu (time),
alam (nature) dan manusia (man). Ditambahkan pula pada bagian akhir yang terpisah dari tema
buku Survey Kronologis dari Sejarah Agama Sebagai Cabang Ilmu. Pada bagian pertama,
Eliade mengeksplorasi keragaman ruang pengalaman religius. Dalam pengalamanya, manusia
modern cenderung merasa bahwa semua ruang adalah sama. Ia telah mematematisasi ruang,
menyeragamkannya dengan mereduksi setiap ruang pada kesepadanan dari begitu banyak unit
ukuran. Apa yang menjadi perbedaan antara tempat-tempat yang ada di sana, biasanya hanya
karena pengalaman yang diasosiasikan individu dengan sebuah tempat bukanlah tempat itu
sendiri, misalnya tempat kelahiran saya, tempat yang saya sukai, dan sebagainya. Namun
manusia religius tidak memiliki satu ruang dalam pemahaman ini. Menurutnya, beberapa ruang
berbeda secara kualitatif. Ruang yang sakral, tentu saja lebih kokoh dan bermakna. Ruang lainya
adalah profan, kacau dan tanpa makna. Manusia tradisional tidak mampu hidup dalam dunia
profan, karena ia tidak mengoreintasikan dirinya. Untuk mencapai orientasi ia pertama kali harus
memiliki satu sentral. Sentral tersebut tidak datang dengan putusan yang spekulatif atau arbriter
namun ia adalah given. Wahyu dari yang sakral, hirofani membentuk sentral dan sentral
membentuk dunia karena setiap ruang yang lain menderivasikan maknanya yang sentral.
Bab dua berkaitan dengan waktu sakral. Di sini, Eliade secara singkat mengupas materi yang ia
banyak cakupkan dalam The Myth of the Eternal Return. Seperti pengalaman ruangnya,
manusia religius memahami pengalaman waktu sebagai sakral sekaligus profan. Waktu yang
sakral, waktu perayaan, adalah kembali pada waktu mistis yang mengawali permulaan segala
sesuatu, inilah yang oleh Eliade disebut sebagai in illo tempore. Manusia religius
mengharapkan untuk selalu hidup dalam waktu yang kokoh ini. Ini adalah kehendak untuk
kembali pada kehadiran dewa-dewa, untuk memulihkan kekuatan, kesegaran dunia sejati yang
eksis in illo tempore. Menurut Eliade, waktu sakral atau waktu perayaan tidak mungkin
didapatkan oleh manusia modern, karena manusia modern melihat waktu profan adalah
keseluruhan hidupnya dan ketika ia meninggal hidupnya juga binasa.
Bab tiga bertajuk Sakralitas Alam Dan Agama Kosmik. Di sini Eliade menjelaskan bahwa bagi
manusia religius alam, tidak semata-mata alami namun selalu mengungkapkan sesuatu di luar
dirinya. Baginya, dunia adalah simbolis atau transparen; dunia dewa-dewa bersinar-terang
melalui dunianya. Alam raya dilihat sebagai sebuah semesta yang tertata yang memanifestasikan
modalitas yang berlainan dari being dan dari yang sakral. Eliade lalu mengeksplorasikan
beberapa simbol khusus menjadi simbol-simbol kunci dari yang sakral: langit, air, tanah,
tumbuhan, dan bulan. Dalam kategori-kategori ini, Eliade memberikan perhatian khusus pada
baptisme Kristen dan Pohon Kehidupan. Kesimpulannya, watak khas modernitas adalah
desakralisasi alam.
Bab empat dan terakhir mencakup penyucian kehidupan manusia. Penyucian memungkinkan
manusia religius untuk hidup dalam eksistensi yang terbuka. Ini berarti manusia tradisional
mengarungi kehidupannya dalam dua dunia. Ia hidup dalam kesehariannya, namun ia juga
berbagi hidup di luar dunia hidupnya sehari-hari, kehidupan kosmos atau dewa-dewa. Dunia
yang ganda dari kehidupan manusia dan kosmis ini secara tepat terekspresikan dalam
pengalaman manusia tradisinal sendiri dan tempat tinggal mereka sebagai mikrokosmos atau
semesta kecil. Sebagaian besar dari bab ini berkaitan dengan triple tubuh-rumah-kosmos dan
dengan makna inisiasi. Inisiasi adalah cara manusia tradisional menyucikan hidupnya. Ia
mengandung pandangan keagamaan yang junik tentang dunia, karena manusia tradisional
melihat dirinya belum lengkap atau belum sempurna. Maka kelahiran alaminya harus
disempurnakan dengan serangkaian kelahiran kedua atau kelahiran spritual. Hal ini
disempurnakan dengan ritus-ritus perjalanan yaitu inisiasi. Inisiasi adalah semacam kelahiran,
namun ia selalu disertai dengan kematian menuju ruang-waktu setelahnya.
Keleban dari Sakral Dan Profan adalah ada pada kombinasinya atas keringkasan dan kedalaman
wawasan yang menakjubkan. Eliade menulis secara sederhana dan jelas (walaupun dengan
berbagai peristilahan tehnis yang cukup rumit) tentang persoalan-persoalan yang sangat berarti
bagi kehidupan manusia. Inilah karya akademis yang sangat cemerlang. Sebelum Houston Smith,
Eliade-lah agaknya sang penulis sesungguhnya tentang agama. Tulisan-tulisannya sangat dalam
dan indah, mengeksplorasi apa yang profan dan apa yang sakral khususnya melalui evolusi mitos
dan agama awal. Buku Sakaral Dan Profan merupakan buku yang sangat hebat. Ia memaparkan
unsur-unsur dasar pengalaman religius, dan memunkinkan pembaca untuk mencatat manakah
yang hilang dari pengalaman itu yang bisa dirasakan dalam masyarakat modern dan kehidupanya
sendiri.