Anda di halaman 1dari 33

9

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA


Metode untuk menghitung estimasi cadangan suatu reservoir dapat
dikategorikan dalam dua bagian, yaitu berdasarkan karakteristik reservoir dan
berdasarkan prilaku produksi reservoir (reservoir production performance). Estimasi
cadangan reservoir berdasarkan karakteristik reservoir dapat dilakukan dengan
metode volumetrik, sedangkan estimasi cadangan reservoir berdasarkan prilaku
produksi reservoir dapat dilakukan dengan menggunakan metode Decline Curve.
Metode Decline Curve adalah salah satu Metode yang dapat digunakan untuk
menghitung cadangan minyak sisa atau gas dari suatu reservoir yang telah mengalami
penurunan produksi dan tidak mengalami perubahan pada Metode produksinya.
Selain itu Metode ini dapat dipakai untuk memperkirakan besarnya produksi minyak
atau gas pada suatu waktu tertentu, serta sebagai bahan untuk analisa pengembangan
lapangan. Penggunaan Metode ini memerlukan data-data produksi per-sumur ataupun
produksi kumulatif per-reservoir sepanjang masa produksi reservoir tersebut,
sedangkan data pendukung antara lain adalah jumlah cadangan awal minyak atau gas
ditempat, data biaya operasional lapangan, harga minyak, dan pajak produksi untuk
perhitungan economic limit rate-nya.

3.1 Penentuan Jumlah Minyak Mula-mula ditempat (Original Oil in Place
OOIP)
Pada mulanya hidrokarbon terbentuk dari bahan organik pada batuan induk
(source rock). Karena proses penekanan maka hidrokarbon pada batuan induk
tersebut berpindah ke batuan induk (reservoir rock) yang selanjutnya akan bermigrasi
melalui jalur migrasi (carrier rock) ke suatu perangkap (trap). Pada lapisan atas
perangkap reservoir ini terdapat batuan penyekat (cap rock), sehingga dapat
10

dikatakan dengan kondisi tersebut diatas maka hidrokarbon tersebut tidak dapat lagi
berpindah kecuali ada energi luar yang melakukannya.
Original Oil in Place adalah jumlah total hidrokarbon mula-mula yang
terperangkap dalam reservoir, baik yang bisa diproduksikan maupun yang tidak dapat
diproduksikan. Gambar 3.1. menunjukkan akumulasi minyak pada perangkap
antiklin.

Gambar 3.1
Akumulasi Minyak dan Gas Bumi pada Perangkap Antiklin
8)


Besarnya cadangan minyak mula-mula ditempat untuk suatu reservoir minyak
dapat ditentukan dengan persamaan Volumetrik dimana Vb dalam satuan acre-ft,
sebagai berikut :
. (3-1)
Keterangan:
OOIP = Jumlah minyak mula-mula ditempat, STB.
7758 = Konversi satuan, dari Acre-feet ke Bbl.
Vb = Volume bulk batuan, Acre-feet.
avg = Porositas rata-rata, fraksi.
11

Swi avg = Saturasi air mula-mula rata-rata, fraksi.
Boi = Faktor Volume Formasi minyak mula-mula, Bbl/STB.

3.1.1 Penentuan Recovery factor pada saat Volumetrik
Recovery factor adalah perbandingan antara jumlah minyak yang dapat
diproduksikan dengan jumlah minyak mula-mula ditempat dalam suatu reservoir.
Recovery factor pada saat volumetrik dapat dihitung dengan Metode JJ. Arps
berdasarkan tenaga pendorong reservoirnya.
3.1.1.1 Recovery factor dengan Tenaga Pendorong Water drive
Untuk reservoir jenis water drive, energi pendesakan yang mendorong minyak
untuk mengalir berasal dari air yang terperangkap bersama-sama dengan minyak pada
batuan reservoirnya.

Gambar 3.2.
Water drive Reservoir
2)

Apabila dilihat dari terbentuknya batuan reservoir water drive, air merupakan
fluida pertama yang menempati pori-pori reservoir. Tetapi dengan adanya migrasi
minyak maka air yang berada dalam pori batuan tersingkir dan digantikan oleh
minyak.
Reservoir dengan tenaga pendorong water drive memiliki karakteristik sebagai
berikut :
12

Penurunan tekanan sangat pelan atau relatif stabil. Penurunan tekanan yang
kecil pada reservoir disebabkan volume produksi yang ditinggalkan
digantikan oleh sejumlah air yang masuk ke zona minyak.
Perubahan gas oil ratio selama produksi kecil, sehingga dapat dikatakan
bahwa gas oil ratio reservoir mendekati konstan.
Harga water cut naik tajam karena mobilitas air yang besar.
Hubungan antara tekanan, produksi minyak, gas oil ratio, dan water cut dengan
waktu apabila diplot akan membentuk grafik seperti pada Gambar 3.3.

Gambar 3.3.
Grafik Hubungan Tekanan, Laju Alir Minyak, GOR. Water Cut versus waktu pada Water drive
Reservoir
2)


Pada awal tahun terlihat adanya peningkatan produksi minyak yang terjadi
secara bertahap. Bersamaan dengan hal tersebut, tekanan reservoir akan mengalami
penurunan secara perlahan (adanya fluida menempati ruang pori dari minyak yang
telah diproduksikan) sampai batas tekanan gelembung (P<Pb). Kemudian selang
beberapa waktu air berekspansi secara cepat dan GOR yang diproduksikan
kepermukaan terdapat sisa yang rendah.
13

Recovery factor untuk reservoir dengan tenaga pendorong water drive dapat
dihitung menggunakan persamaan sebagai berikut :
. (3-2)
Keterangan :
RF = Recovery Factor, fraksi.
= Porositas, fraksi.
Sw = Saturasi air, fraksi.
Boi = Faktor volume minyak mula-mula, bbl/STB.
k = Permeabilitas, mD.

wi
= Viskositas air formasi mula-mula, cp.
oi = Viskositas minyak mula-mula, cp.
Pi = Tekanan reservoir mula-mula, psi.
Pa = Tekanan abandon, psi.


3.1.1.2. Recovery Factor dengan Tenaga Pendorong Solution Gas Drive
Reservoir solution gas drive memiliki tenaga pendorong berasal dari gas
yang terbebaskan dari minyak karena adanya perubahan fasa pada hidrokarbon yang
semula merupakan fasa cair menjadi fasa gas selama penurunan tekanan reservoir.
Gas yang semula larut dalam zona minyak kemudian terbebaskan lalu mengembang
dan mendesak minyak kemudian gas dan minyak terproduksi secara bersamaan.
Setelah sumur selesai dibor menembus reservoir dan produksi minyak dimulai,
maka akan terjadi suatu penurunan tekanan di sekitar lubang bor. Penurunan tekanan
ini akan menyebabkan fluida mengalir dari reservoir menuju lubang bor melalui pori-
pori batuan. Penurunan tekanan di sekitar sumur bor akan menimbulkan terjadinya
fasa gas. Pada saat awal, karena saturasi gas tersebut masih kecil (belum membentuk
fasa yang kontinyu), maka gas tersebut terperangkap pada ruang antar butiran batuan
14

reservoirnya. Tetapi setelah tekanan reservoir tersebut cukup kecil dan gas sudah
terbentuk banyak, maka gas tersebut turut serta terproduksi ke permukaan.

Gambar 3.4.
Solution Gas Drive Reservoir
2)

Pada awal produksi, gas yang dibebaskan dari minyak masih terperangkap
pada sela-sela pori batuan, maka gas oil ratio produksi akan lebih kecil jika
dibandingkan dengan gas oil ratio reservoir. Gas oil ratio produksi akan bertambah
besar bila gas pada saluran pori-pori tersebut mulai bisa mengalir dan hal ini akan
terus-menerus berlanjut hingga tekanan menjadi rendah. Bila tekanan telah cukup
rendah, maka gas oil ratio akan menjadi berkurang sebab volume gas di dalam
reservoir tinggal sedikit. Dalam hal ini gas oil ratio dan produksi gas pada reservoir
memiliki harga yang hampir sama
Reservoir dengan tenaga pendorong solution gas drive memiliki karakteristik
sebagai berikut :
Penurunan tekanan reservoir yang tajam.
Sedikit atau bahkan tidak ada air yang diproduksi bersama minyak selama
umur produksi.
15

Produksi minyak turun dengan cepat.
Gas oil ratio mula-mula rendah kemudian naik dengan cepat akibat
terbebaskannya sejumlah gas dari minyak sampai maksimum, kemudian
turun dengan tajam.
Hubungan antara tekanan, produksi minyak, GOR, dengan waktu apabila diplot akan
membentuk sebuah grafik seperti pada Gambar 3.5.

Gambar 3.5.
Grafik Hubungan antara Laju Alir Minyak, Tekanan, GOR versus Waktupada Solution Gas
Drive Reservoir
2)

Recovery factor untuk reservoir dengan tenaga pendorong solution gas drive
dapat dihitung menggunakan persamaan sebagai berikut :
.(3-3)
Keterangan :
RF = Recovery Factor, fraksi.
= Porositas, fraksi.
Sw = Saturasi air, fraksi.
Bob = Faktor volume formasi minyak di bawah tekanan gelembung,
bbl/STB.
k = Permeabilitas, mD.

ob
= Viskositas minyak di bawah tekanan gelembung, cp.
Pb = Tekanan gelembung, psi.
16

Pa = Tekanan abandon, psi.
3.2 Estimated Ultimated Recovery pada saat Volumetrik
Apabila harga recovery factor telah diketahui maka dapat diperkirakan jumlah
cadangan minyak yang mungkin dapat diproduksikan (Estimated Ultimated
Recovery). Estimated Ultimated Recovery (EUR) pada saat volumetric dapat dihitung
:
EUR = OOIP x RF.................(3-4)
Keterangan :
EUR = Estimated Ultimate Recovery, STB.
OOIP = Jumlah minyak mula-mula di tempat, STB.
RF = Recovery factor pada saat volumetrik, fraksi.

3.3 Penentuan Economic Limit Rate (q
Limit
)
Economic Limit Rate (

) adalah laju produksi minimal dimana jumlah


penghasilan yang diterima dari hasil penjualan produksi akan sama dengan jumlah
biaya yang diperlukan untuk menghasilkan produksi tersebut.
Secara matematis menurut Thompson R. S. (1985), Economic Limit Rate
(

) dapat dirumuskan:
(3-5)

Dimana :
OPC = Monthly Operating Cost, $/month.
WI = Working Interest, fraksi.
PTR = Production Tax Rate, Fraksi
SP = Sales Price, $/bbl.
30,4 = Konversi satuan waktu dari bulan ke hari.
NRI = Net Revenue Interest, Fraksi = WI (1-RI)

()

( )

17


Apabila kepemilikan perusahaan dimiliki oleh satu orang/pihak maka harga
WI = 1 (100%), bila kepemilikan bersama maka harga WI tergantung dari
kepemilikan yang besarnya berdasarkan kesepakatan dari perusahaan. Royalty Interst
diberikan kepada pemerintah berdasarkan peraturan perundangan sebagai pemilik
lahan atau area yang digunakan. Net Revenue Interestn (NRI) didefinisikan sebagai
selisih antara Working Interest dan Royalty Interest.
Biaya Operasi (Operating Cost) merupakan biaya yang dikeluarkan baik
sehubungan dengan adanya operasi produksi (variable cost) maupun biaya yang pasti
dikeluarkan oleh perusahaan berupa administrasi umum yang tidak berpengaruh
terhadap besar kecilnya produksi (fixed cost). Contoh biaya operasi yang termasuk
dalam variable cost adalah lifting cost, HSE, production tool, dan equipment
maintenance, gaji pegawai non staf dan sebagainya. Contoh biaya operasi yang
termasuk dalam fixed cost adalah general administration, yaitu meliputi :
1. Finance and administration: audit, perpajakan, sewa kantor.
2. Technical service: pengadaan dan servis alat telekomunikasi dan computer.
3. Transportation cost: pengadaan, servis, dan bahan bakar mobil kantor.
4. Salary and personal expenditure: gaji pegawai (staf), biaya training, dan
menyekolahkan pegawai.
5. Community developmemt: pembangunan fasilitas umum.
Production Tax Rate (PTR) adalah pajak yang diberikan kepda pemerintah.
Pajak adalah salah satu sumber pendapatan pemerintah. Pemerintah mengambil
bagiannya dari hasil produksi minyak dan gas bumi melalui pajak yang dikenakan
terhadap semua pemasukan kontraktor yang didapat dari usahanya tersebut. Sistem
perpajakan yang dibuat oleh pemerintah dimakusdkan untuk memaksimalkan
pendapatan pemerintah.
Harga minyak mentah (sales price) Indonesia tergantung dari harga pasar
minyak mentah dunia. Harga tersebut merupakan harga penjualan dengan sistem Free
On Board (FOB), yang berarti harga minyak sesuai dengan harga minyak yang
18

masuk ke Tanker.harga ini akan naik apabila menggunakan sistem penjualan Cost In
Freight (CIF) yang berarti minyak sampai di Negara pembeli dan harganya
menyesuaikan dengan regulasi yang berlaku atau kesepakatan antara kedua belah
pihak. Harga minyak mentah dipengaruhi oleh
o
API, semakin besar harga
o
API suatu
minyak maka menunjukkan minyak tersebut semakin ringan dan harganya semakin
mahal.
Peramalan produksi yang akan datang merupakan bagian terpenting dalam
analisa ekonomi eksplorasi dan pengeluaran biaya produksi. Analisa kurva penurunan
(decline curve) produksi merupakan suatu cara untuk peramalan produksi yang akan
datang berdasarkan kapasitas produksi dari suatu sumur tersebut. Dari analisa
tersebut dapat diketahui karakteristik produksi dari suatu sumur tersebut, antara lain
adalah :
1. Batas waktu akhir produksi yang bernilai ekonomis (economic limit).
2. Jumlah produksi pada titik batas economic limit.
3. Cadangan tersisa (remaining reserves) dengan mengevaluasi sejarah produksi.
Decline curve dapat dikarakteristikan dari tiga faktor :
1. Laju produksi awal atau laju pada waktu tertentu.
2. Kurva laju penurunan produksi.
3. Laju penurunan produksi.
Faktor-faktor tersebut merupakan suatu fungsi yang kompleks dari beberapa
parameter yang terdapat pada reservoir (parameter formasi), lubang sumur, dan pada
penanganan fasilitas permukaan. Faktor-faktor yang secara langsung mempengaruhi
penurunan pada laju produksi antara lain:
1. Menurunnya tekanan rata-rata reservoir.
2. Meningkatnya harga water cut.
3. Meningkatnya gas oil ratio.
Beberapa kondisi harus berlaku sebelum menganalisa decline curve suatu
produksi dengan suatu derajat keabsahan (degree of reability) tertentu. Produksi harus
dalam keadaan stabil selama periode analisa. Oleh sebab itu aliran sumur dalam
19

memproduksi hidrokarbon harus dalam keadaan konstan (indeks produksi dianggap
konstan). Hal tersebut mengindikasikan bahwa sumur telah diproduksikan pada
kapasitas dan kondisi tertentu. Pengamatan penurunan produksi seharusnya
merefleksikan produktivitas reservoir dan bukan karena penyebab faktor eksternal,
seperti perubahan kondisi produksi, kerusakan sumur, rusaknya peralatan dan lain-
lain.
Kondisi reservoir yang stabil juga harus berlaku dengan baik untuk
mengekstrapolasikan decline curve dengan derajat keabsahan tertentu. Kondisi
tersebut akan secara normal dicapai selama mekanisme produksi tidak berubah.
Bagaimanapun juga, ketika diambil langkah untuk memperbaiki perolehan minyak,
seperti penambahan sumur baru untuk memperluas daerah pengurasan, decline curve
analysis dapat digunakan untuk memperkirakan ulah alir dari suatu sumur atau
reservoir tanpa ada perubahan tertentu dan membandingkan pada ulah alir
sebenarnya dengn perubahan yang telah ada. Seperti halnya perbandngan tersebut
dibuat untuk menentukan sukses secara ekonomi dan teknik.
Analisa produksi decline curve digunakan untuk evaluasi investasi baru dan
kajian pelaksanaan sebelumnya. Hubungan tersebut berkaitan secara teknis dan
analisa ekonomi untuk menentukan cadangan suatu sumur atau reservoir.
(Chi U. Ikoku, The Pennsylvania State University)
Beberapa macam tipe grafik yang dapat digunakan untuk peramalan cadangan
dan produksi hidrokarbon adalah:
1. Laju produksi terhadap waktu (q vs t).
2. Laju produksi terhadap produksi kumulatif (q vs Np).
3. Persen minyak atau water cut terhadap produksi kumulatif (% oil vs Np).
4. Produksi kumulatif gas terhadap produksi kumulatif minyak (Gp vs Np).
5. Tekanan reservoir terhadap waktu (P vs t).
6. P/Z vs produksi kumulatif (untuk reservoir gas).

20

Grafik yang umum yang digunakan adalah tipe (q vs t) dimana memberikan
pendekatan grafis yang dinamakan decline curve, seperti terlihat pada Gambar 3.6.
Dan hubungan antara laju alir setiap waktu dengan kumulatif produksinya (q
t
vs N
p
)
seperti yang terlihat pada Gambar 3.7. (I.Constant Percentage Decline,
II.Hyperbolic Decline, III.Harmonic Decline).











Gambar 3.6.
Grafik Laju Produksi Vs Waktu pada Analisa Decline Curve
1)













21


Gambar 3.7.
Grafik Laju Produksi vs Produksi Kumulatif
1)

Kurva penurunan (decline curve) terbentuk akibat adanya penurunan produksi
yang disebabkan adanya penurunan tekanan statis reservoir seiring dengan
diproduksinya hidrokarbon, yaitu minyak atau gas. Para ahli reservoir mencoba
menarik hubungan antara laju produksi terhadap waktu dan terhadap produksi
kumulatif dengan tujuan memperkirakan produksi yang akan datang (future
production) dan umur reservoir (future life).

3.4. Istilah Pada Decline Curve Analysis
Istilah-istilah yang digunakan pada decline curve analysis, yaitu sebagai
berikut:
1. Loss Ratio (a)
Loss ratio (a) didefinisikan sebagai perbandingan antara laju produksi (q)
dengan turunan pertama dari laju produksi tersebut terhadap waktu (dq/dt).
Secara matematis dapat ditulis sebagai berikut :
.. (3-6)

2. Nominal Decline Rate (D)
Nominal decline rate (D) didefinisikan sebagai negative slope dari kurva
log laju produksi (q) terhadap waktu (t). Secara matematis dapat ditulis sebagai
berikut :
. (3-7)

3. EffectiveDecline Rate (d)


22

Effective decline rate per satuan waktu (d) adalah penurunan produksi
dari

ke

pada interval waktu yang sama (1 bulan atau 1 tahun) dibagi


laju produksi pada awal periode. Secara sistematis dapat ditulis :
. (3-8)
dimana:

= laju produksi pada waktu t.

= laju produksi pada waktu t + 1.


Dari pengertian antara nominal decline rate dengan effective decline rate
dapat dibuat hubungan, misal pada tipe exponential decline rate, sebagaimana
persamaan dibawah ini :
. (3-9)

untuk t + 1 = 1 dan t = i, maka :
.. (3-10)
Kemudian dari persamaan :
. (3-11)
Untuk satuan waktu, maka persamaan diatas menjadi :
.. (3-12)
Dari kedua persamaan diatas dapat diperoleh persamaan :

. (3-13)
Dari Persamaan (3-9), jika

adalah effective monthly (bulanan) decline


rate, maka laju produksi pada akhir bulan pertama adalah

), kemudian

( )

( )


23

pada akhir bulan kedua adalah

). Dimana

dan
seterusnya, maka besarnya laju produksi pada akhir bulan ke-12 adalah


dan secara matematis dapat ditulis sebagai berikut :
. (3-14)
Dimana :

= effective monthly (bulanan) decline rate.

= effective annual (tahunan) decline rate.


Maka,
.. (3-15)
. (3-16)
Penggunaan effective annual decline rate untuk menghitung produksi
kumulatif per satuan waktu adalah sebagai berikut:
Jika

adalah laju produksi rata-rata tahunan (t) maka kumulatif produksi t tahunan
adalah :
. (3-17)
Untuk exponential decline curve dengan effective annual decline curve rate d adalah:
.. (3-18)
Sehingga diperoleh persamaan :
... (3-19)
Kemudian dikalikan dengan ( )

, maka akan diperoleh:


( )

[ ( ) ( )

( )

[ ( )]

[ ( )

[
( )

( )
]
24


... (3-20)

3.5 Klasifikasi Decline Curve Analysis
Salah satu observasi yang sangat terkenal telah dipublikasikan oleh Arps
(1945) yang menyajikan hasil sebuah studi mengenai data produksi. Secara umum
dicline curve dibagi menjadi tiga jenis berdasarkan harga eksponensial decline-nya
(b). Harga b berkisar antara 0-1. Jika harga b = 0 maka disebut sebagai exponential
decline, harga 0 < b < 1 maka disebut hyperbolic decline, dan jika harga b = 1 maka
disebut dengan harmonic decline. untuk menentukan besarnya eksponen decline
dapat ditentukan menggunakan persamaan dibawah ini :

................................................................................... (3-21)
dimana:
b = exponent decline.
q = production rate, BOPD atau MCFPD.
t = time, day.
Eksponen atau constant decline merupakan metode yang sederhana, dinilai
lebih konservatif, dan lebig luas pada penggunaan persamaan decline curve. Tipe
analisa ini lebih sering digunakan karena alasan-alasan sebagai berikut :
1. Beberapa sumur dan lapangan secara actual sebagian besar lebih mengikuti trend
constant percentage decline dari umur produksinya dan hanya terjadi
penyimpangan pada akhir dari periode tersebut.
2. Secara sistematis, constant percentage decline sederhana dan mudah untuk
digunakan dari pada dua tipe yang lain.

(


25

3. Perbedaan antara constant precentage decline dengan kedua tipe yang lain, lebih
sering terjadi pada beberapa tahun saja di masa yang akan datang. Ketika
perbedaan tersebut diabaikan pada saat perhitungan, dan biasanya hal tersebut
tidak begitu berarti.

3.5.1. Exponential Decline Curve
Exponential decline curve disebut juga geometri decline atau semilog decline
atau constant precentage decline mempunyai ciri khas yaitu penurunan produksi pada
suatu interval waktu tertentu sebanding dengan laju produksinya. Lebih jelasnya
dapat dilihat pada persamaan dibawah ini :

.......................................................................................... (3-22)

Dimana :
D = nominal decline rate.
q = laju produksi pada waktu t.
= penurunan produksi terhadap waktu.
Nilai D pada exponential decline curve adalah konstan. Tanda negatif
ditambahkan pada sisi kanan agar D bernilai positif.
Atas dasar hubungan diatas, apabila variabel-variabelnya dipisahkan maka
dapat ditarik beberapa macam hubungan yaitu hubungan antara laju produksi
terhadap waktu dan hubungan laju produksi terhadap produksi komulatif.

3.5.1.1. Hubungan Laju Produksi terhadap Waktu
Variabel-variabel q dan t pada persamaan exponential decline curve
diintegrasikan menggunakan batas q = qi untuk t = 0 dan q = qt untuk t = t, sehingga
diperoleh suatu hubungan laju produksi terhadap waktu sebagai berikut :


26




.................................................................................................................... (3-23)
Persamaan (3-23) akan membentuk suatu kurva linear apabila laju produksi
diplot terhadap waktu pada kertas semi-log dengan kemiringan sebesar D, seperti
terlihat pada Gambar 3.8.













Gambar 3.8.
Grafik Hubungan Laju Produksi terhadap Waktu pada
Tipe Exponential Decline
4)


27

3.5.1.2. Hubungan Laju Produksi terhadap Produksi Kumulatif
Produksi kumulatif merupakan jumlah produksi yang diperoleh dalam waktu
tertentu. Hubungan laju produksi terhadap produksi kumulatif diperoleh dengan
mengintegrasikan variabel q dan t dengan batas t = 0 untuk Np = 0 dan t = t untuk Np
= Np, sehingga diperoleh suatu hubungan laju produksi terhadap waktu sebagai
berikut :


.......................................................................................... (3-24)

Persamaan (3-24) akan memberikan grafik garis lurus bila laju produksi ()
diplot terhadap produksi kumulatif (

) pada kertas skala cartesian seperti terlihat


pada Gambar 3.9. berikut :









Gambar 3.9.
Grafik Hubungan Laju Produksi terhadap Produksi Kumulatif pada Tipe Exponential Decline
4)


28

Besarnya cadangan pada waktu abandonment dapat dicari dengan
mengekstrapolasi garis lurus sampai batas economic limit (

) atau dihitung
menggunakan persamaan :
.. (3-25)
Besarnya harga nominal decline rate dapat dihitung dari slope kemiringan
grafik, yaitu:
. (3-26)

Lamanya waktu produksi sampai produksi kumulatif abandonment dapat
dihitung dengan Persamaan (3-23), yaitu :


......................................................................................... (3-27)
Nilai t dapat disubstitusikan dari Persamaan (3-21) sehingga diperoleh
persamaan :
.... (3-28)


3.5.2. Hyperbolic Decline Curve
Hyperbolic decline curve adalah suatu tipe kurva dimana harga loss ratio (a)
mengikuti deret hitung, sehingga turunan pertama loss ratio terhadap waktu (b)
mempunyai harga konstan atau relatif konstan. Harga b berkisar antara 0-1 dan secara
matematis dapat ditulis sebagai berikut :

)
(

)
29

............................................................................... (3-29)

Terlihat dari persamaa diatas bahwa penurunan produksi persatuan waktu
merupakan fraksi produksi yang besarnya sebandig dengan q
b
:
.......................................... (3-30)
Grafik hubungan antara laju produksi terhadap waktu dan laju produksi
terhadap produksi kumulatif dapat dibuat berdasarkan Persamaan (3-30) diatas.

3.5.2.1. Hubungan Laju Produksi terhadap Waktu
Grafik hubungan laju produksi terhadap waktu didapat dengan
mengintegrasikan Persamaan (3-31) dengan batas q = qi untuk t = 0 dan q = qt untuk
t = t, sehingga diperoleh persamaan :
Untuk kondisi mula-mula.


........................................................................... (3-31)






(


30

Plot laju produksi terhadap waktu pada kertas kartesian akan membentuk
suatu kurva hiperbola seperti terlihat pada Gambar 3.10.















Gambar 3.10
Grafik Hubungan Laju Produksi terhadap Waktu Pada
Tipe Hyperbolic Decline
4)



3.5.2.2. Hubungan Laju Produksi terhadap Produksi Kumulatif
Hubungan laju produksi terhadap produksi kumulatif dapat diperoleh dengan
mengintegrasikan laju produksi yang ada terhadap waktu sebagai berikut :
(3-32)
Apabila

dari Persamaan (3-32) disubstitusikan pada persamaan diatas, maka akan


diperoleh :


31

( )

[ (

)
()

( )

[ (

]

....................................................... (3-33)
Besarnya produksi kumulatif pada batas economic limit (

) dapat dihitung
menggunakan Persamaan (3-34) dengan menggunakan laju produksi pada batas
economic limit (

) sebagai berikut :
.. (3-34)

Untuk lamanya waktu produksi sampai batas economic limit (

) dapat diperoleh
dengan persamaan :

(3-35)



3.5.3. Harmonic Decline Curve
Harmonic decline curve merupakan bentuk khusus dari hyperbolic decline
curve dimana turunan pertama loss ratio terhadap waktu (b) sama dengan 1. Sama

( )

()

()
]

( )

()

()
]


32

seperti dua tipe sebelumya, hubungan laju produksi terhadap waktu dan hubungan
laju produksi terhadap produksi kumulatif dapat diperoleh dari tipe decline ini.

3.5.3.1. Hubungan Laju Produksi terhadap Waktu
Hubungan laju produksi terhadap waktu dapat diperleh dengan
mengintegrasikan persamaan berikut :

...... (3-36)


Setelah dilakukan integrasi dengan memasukan batas-batasnya diperoleh
Persamaan (3-25) dan dengan memasukan harga b = 1, maka didapat :
. (3-37)
Apabila dibuat hubungan antara laju produksi terhadap waktu dari Persamaan (3-37)
pada kertas log-log, maka akan diperoleh suatu kurva garis lurus seperti Gambar
3.11 berikut :









Gambar 3.11.
Grafik Hubungan Laju Produksi terhadap Waktu pada Tipe Harmonic Decline
4)


33

3.5.3.2. Hubungan Laju Produksi terhadap Produksi Kumulatif
Hubungan laju produksi terhadap produksi kumulatif dapat dibuat dengan
mengintegrasikan laju produksi untuk waktu t sebagai berikut :
...... (3-38)

Berdasarkan Persamaan (3-38), apabila q disubstitusikan akan diperoleh
persamaan:


.. (3-39)

Plot antara laju produksi terhadap kumulatif produksi dari Persamaan (3-39)
pada kertas semi-log akan membentuk suatu kurva garis lurus seperti Gambar 3.12.
berikut :





34













Gambar 3.12.
Grafik Hubungan Laju Produksi terhadap Produksi Kumulatif
pada Tipe Harmonic Decline
4)

Waktu produksi sampai batas economic limit (

) dapat dihitung dari


Persamaan (3-32), yaitu :

)

(3-40)
Dengan mensubstitusikan nilai

dari Persamaan (3-40) kemudian akan


diperoleh :

*(

) +
(

)


.. (3-41)

*(

) +

*(

) +

)


35

3.6. Penentuan Tipe Decline Curve
Tipe decline curve ditentukan sebelum melakukan peramalan cadangan dan
umur reservoir. Penentuannya dapat dilakukan dengan menggunakan tiga metode,
yaitu loss ratio method, trial and error method, dan fitting curve method.

3.6.1. Loss Ratio Method
Loss ratio merupakan kebalikan dari decline rate dan digunakan untuk
keperluan ekstrapolasi dan identifikasi jenis decline. adapun langkah-langkah dalam
penentuan metode ini adalah sebagai berikut:
1. Mentabulasi laju produksi dan waktu.
2. Menentukan besarnya selisih laju produksi dan selisih waktu.
3. Menentukan besarnya eksponen b menggunakan persamaan :

(3-42)
dimana:
b = turunan pertama loss ratio.
q = laju produksi, STB/D.
t = waktu.
4. Menentukan jenis decline yang akan digunakan sesuai hasil yang diperoleh dari
langkah diatas, dimana bila b = 0 maka jenis decline-nya adalah exponential
decline curve, bila b antara 0 sampai 1 (0<b<1) maka jenis decline-nya adalah
hyperbolic decline curve dan bila b = 1 maka jenis decline-nya adalah harmonic
decline curve.
5. Menetukan harga D (nominal decline rate) dengan memperhatikan jenis decline
dari langkah sebelumnya, dimana :

..................................................................... (3-43)

(


36



................................................................ (3-44)


..................................................................... (3-45)
dimana :
D = laju decline awal.
q
i
= laju produksi awal, STB/D.
q
t
= laju produksi pada waktu t, STB/D.
b = turunan pertama dari loss ratio.
t = waktu.
6. Harga D tersebut digunakan dalam menentukan besarnya harga laju produksi
pada waktu tertentu menggunakan Persamaan (3-23), Persamaan (3-31) dan
Persamaan (3-37).

3.6.2. Trial and Error Method
Teknik ini salah satu cara untuk menyesuaikan data-data kurva hiperbolik
yang mana akan lebih cepat dan praktis apabila menggunakan bantuan perangkat
lunak (software) microsoft excel. Langkah kerjanya adalah sebagai berikut:
1. Memplot data produksi (

) pada skala semi-log terhadap waktu.


2. Mengambil dua titik data (

) dari kurva pada titik yang


mendekati daerah ekstrim.
3. Tentukan sembarang harga b asumsi antara 0-1.
4. Menentukan harga D menggunakan harga b dari langkah 3 dengan Persamaan
(3-43), Persamaan (3-44), atau Persamaan (3-45) dengan menyesuaikan dari
bentuk trend.


37

5. Harga b dan D akan membentuk suatu trend yang mendekati kurva decline
produksi, sehingga dari besarnya harga b tersebut dapat ditentukan jenis kurva
decline-nya.

3.6.3. Fitting Curve Method
Meode Ekstrapolasi Kurva Fit adalah satu dari beberapa metode untuk
menentukan jenis dari decline curve, dimana prinsip dari metode ini adalah dengan
mengasumsikan harga b dari 0 sampai dengan 1. Langkah-langkah untuk menentukan
jenis decline curve dengan metode ekstrapolasi kurva fit ini adalah sebagai berikut:
1. Buat tabulasi bentuk spreadsheet harga laju produksi () dan waktu ().
2. Ambil dua titik pada kurva dekat daerah ekstrim (misalnya:

).
3. Tentukan harga

, dimana:
Exponential Hyperbolic Harmonic


4. Berdasarkan harga

, tentukan harga q pada waktu t, dimana:


Exponential Hyperbolic Harmonic


5. Tentukan jenis kurva dengan menggunakan chi-square test, suatu tes untuk
mengetahui perbedaan data perkiraan (model) terhadap data aktual
(sebenarnya), dimana persamaan chi-square test tersebut sebagai berikut :

[
( )


]
....................................................................... (3-46)

[
(

]

(


38

Dimana :
f
i
= observed value.
F
i
= expected value.
6. Harga

yang paling kecil menunjukan derajat kesalahan yang paling kecil


dari aktualnya.
7. Pilih harga (6) tersebut sebagai tipe decline curve-nya.

3.7. Produksi Kumulatif
Produksi kumulatif aktual (

) adalah jumlah hidrokarbon yang telah


diproduksikan sampai waktu t.

3.8. Estimasi Jumlah Cadangan yang dapat Diproduksi ()
Estimated Ultimate Recovery () adalah estimasi jumlah cadangan
minyak yang bisa diproduksikan sesuai dengan teknologi, kondisi ekonomi dan
peraturan-peraturan yang ada pada saat itu dan diproduksikan sampai batas
ekonominya. Definisi ini dengan memperhitungkan pemikiran-pemikiran sebagai
berikut :
1. Untuk menyatakan bahwa banyaknya minyak dan gas bumi sebagai cadangan
maka minyak dan gas bumi itu haruslah diproduksikan.
2. Minyak dan gas bumi harus secara ekonomis menguntungkan untuk
diproduksikan dengan teknologi yang ada pada saat diproduksikan.
3. Dikarenakan minyak dan gas bumi belum diproduksikan dan tidak
memugkinkan untuk dilihat atau diukur kedalam reservoir minyak dan gas
bumi maka satu-satunya cara hanyalah melakukan estimasi atau perkiraan.
4. Dikarenakan cadangan yang ada adalah cadangan sisa, maka akan ada ukuran
waktu produksi yang berhubungan setiap cadangan yang diperikirakan.
. (3-47)


39

dimana harga

merupakan kumulatif produksi dari waktu t sampai limit.



3.9. Recovery Factor ()
Recovery Factor () adalah perbandingan antara estimated ultimate
recovery () dengan estimated oil in place (

).
.......... (3-48)
(Wahyono, Kuswo; n.d.) (Rachmat n.d.) Perhitungan estimasi jumlah
cadangan minyak yang bisa diproduksikan () dapat dilakukan dengan membuat
persamaan matematis, yaitu :
... (3-49)
Dimana :
= estimated ultimate recovery.
= actual cumulative recovery.
= estimated remaining reserves.
Dalam konteks decline curve, adalah

, adalah

, adalah

, maka:
(3-50)
dimana harga

didapat dari data produksi dan

dari hasil plot laju produksi


pada setiap waktu t (

) dengan kumulatif produksi setiap waktu t (

).

3.10. Estimasi Cadangan Sisa (ERR)
Estimated Remaining Reserves() adalah estimasi cadangan yang masih
tertinggal di reservoir yang dapat diproduksikan dengan teknologi yang ada. Ditinjau
dari konsep decline curve, adalah equivalent dengan estimasi produksi


40

kumulatif sampai economic limit rate-nya tercapai (

). Perhitungan
dapat memakai persamaan sebagai berikut :
......................... .................................................................................. (3-51)
Dimana :
= estimated remaining reserves, STB.
= estimated ultimate recovery, STB.

= cumulative production pada waktu t, STB.



3.11. Radius Pengurasan Sumur
Radius Pengurasan Sumur merupakan perkiraan jari-jari pengurasan (drainage
radius) dari suatu sumur, dengan mengasumsikan profil performance produksi sumur
seperti tabung dan alirannya adalah radial, dan menambahkan parameter-parameter
yang mempengaruhi seperti Net pay, porosity dan Water Saturation, sehingga
persamaannya sebagai berikut

Np = r
d
2
* HPM
r
d
2
= Np / HPM
r
d
= . (3-52)

Dimana : Np = Kumulatif Produksi Sumur (bbl)
r
d
= Radius Pengurasan sumur (m)
HPM = Hydrocarbon Pore Meter yaitu Net pay, porosity and water
saturation (m)



41

3.12. Perencanaan Pengembangan
Rencana pengembangan adalah suatu usaha untuk memproduksikan cadangan
secara optimal dengan mempertimbangkan dari aspek teknis, ekonomis, dan HSE
(Health, Safety, and Environment). Tujuan yang utama dari perencanaan
pengembangan, yaitu:
1. Menaikkan produksi minyak dan gas.
2. Memaksimalkan perolehan (Recoverable Reserves).

Rencana pengembangan lapangan atau lapisan dapat meliputi:
1. Kerja ulang pindah lapisan.
2. Reopening, yaitu sumur-sumur yang sudah ditutup dibuka kembali pada lapisan
yang sama.
3. Melakukan perubahan metode produksi.