Anda di halaman 1dari 2

Latar Belakang

Kranworth Chair Coropration ( KCC ) merupakan sebuah perusahaan yang memproduksi kursi
lipat portable. Perusahaan ini didirikan oleh Weston Krantz dan teman lamanya Kevin Wentworth
pada tahun 1987. Kursi lipat produksi KCC memiliki berbagai macam model dengan merek dagang Fold
It! yang desainnya dilindungi oleh 20 hak peten. Di tahun tahun awal KCC menghasilkan margin laba
yang tinggi dari hasil penjualan kursi lipat yang mereka produksi. Margin rata rata yang dihasilkan
berada di kisaran 40 50%. Hal tersebut juga didukung rendahnya persaingan di bidang produksi kursi
lipat. Munculnya pesaing signifikan yang sebagian besar datang dari Negara Asia pada tahun 1990an dan
adanya resesi dunia membuat penjualan produk KCC merata dan laba mengalami penurunan.
Masalah
KCC merupakan sebuah perusahaan kursi lipat portable dengan penghasilan yang cukup tinggi di awal
berdirinya KCC tidak mengalami banyak kesulitan dalam penjualan produk karena rendahnya persaingan
di bidang industry ini. Munculnya competitor signifikan di tahun 1990an membuat penjualan KCC
merata dan margin laba yang dihasilkan menurun. Kevin Wentworth CEO KCC berpendapat bahwa
perusahaan perlu melakukan perubahan struktur organisasi dari fungsional ke divisional. Hal ini
dikarenakan menurutnya pada awalnya struktur organisasi tsb dirancang untuk kondisi pasar dengan
persaingan yang rendah. Munculnya competitor di tahun tahun belakangan membuat struktur organisasi
yang digunakan KCC yaitu struktur fungsional sudah tidak relevan lagi dengan kondisi saat ini.
Pendekatan divisional yang digunakan Kevin adalah dengan menjadikan divisi produksi sebagai profit
centre bagi KCC. Pada tahun tahun awal, perubahan dari fungsional ke divisional menghadapi berbagai
tantangan. Hal yang sering terjadi adalah ketidakpuasan antar divisi. Misalnya hal yang dikeluhkan oleh
Joe Yarmouth divisi produksi ritel. Dia mengeluhkan kinerja Carrie Jennings Kepala Perusahaan yang
bagian saluran rantai pasokan dan kualitas, divisi ini bertangung jawab untuk memperoleh dan
memelihara kelompok pedagang yang memadai, menjaga baik sub pemasangan berkualitas tinggi dan
pengiriman yang tepat waktu, sementara mengurangi ketergantungan perusahaan pada vendor tertentu.
Menurutnya, divisi produksi saat ini sering mengalami masalah pada kualitas dan pengiriman bahan
dengan vendor luar negeri dimana ia tidak memiliki control akan hal tersebut. Hal tersebut akan
kinerjanya menurun pada tahun terkait. Kebijakan insentif perusahaan yang didasarkan pada kinerja divisi
membuat Joe akan kehilangan bonusnya jika kinerjanya tidak mencapai target. Dimana hal tersebut
diakibatkan oleh kegagalan kinerja bagian lain. selain itu, ia juga mengeluh tentang bagian R & D.
Menurutnya, divisi produksi retail tidak bisa melakukan inovasi terhadap produk tanpa izin dari Ken
Simmon ( R & D manager ) sementara divisi produksi retail jauh lebih mengetahui pasar daripada
mereka. Ia juga beranggapan bahwa Divisi produksi custom mendapat support lebih dari divisi bagian R
& D daripada divisi produksi retail. Sementara Ed Sanchez ( Custom Manager ) mengeluhkan bahwa
divisi R&D terlalu reaktif dengan desain baru pesaing walaupun divisinya telah mengajukan banyak ide
ide baru.
Jadi pada intinya masalah yang dihadapi KCC adalah adanya ketidakpuasan antar divisi dimana satu
divisi saling tidak puas dengan kinerja divisi lain, dimana kinerja divisi lain tersebut akan berpengaruh
tehadap kinerja divisinya yang ujungnya berdampak pada besarnya bonus yang akan diterima.
Saran
Menurut kami, masalah yang dihadapi KCC merupakan dampak dari adanya perubahan struktur
organisasi yang tadinya fungsional menjadi divisional. Manager yang awalnya memiliki control penuh
atas suatu fungsi ( misalnya fungsi produksi yang tadinya memiliki control atas semua hal yang
berhubungan dengan produksi baik dimulai dari vendor sampai Research and Development produk ).
Harus kehilangan control tersebut karena hal tersebut sudah menjadi tanggung jawab divisi lain . jika
tetap ingin melanjutkan struktur divisional pada perusahaan maka diperlukan adanya pengertian dan kerja
sama yang baik antar divisi. Selain itu, dalam perusahaan KCC dimana antar divisi saling berhubungan,
perusahaan perlu mempertimbangkan apakah penurunan kinerja suatu divisi merupakan murni kesalahan
divisi terkait atau ada hubungannya dengan divisi lain ketika menentukan besarnya bonus yang akan
diterima manajer. Tidak adil jika seorang manajer dinilai memiliki kinerja yang buruk karena tidak bisa
mencapai target yang direncanakan dan kehilangan bonus mereka sedangkan kesalahan bersumber pada
kinerja divisi lain.