Anda di halaman 1dari 19

0

REFERAT

MASA NIFAS
NORMAL & PATOLOGIS



Pembimbing :
Dr. Yedi

Disusun Oleh :
Atika Qisty Desmawan
1102010040

Kepaniteraan Klinik Mahasiswa
Fakultas Kedokteran Universitas YARSI
SMF Obgyn RSUD Kabupaten Bekasi

1

Kata Pengantar

Puji syukur saya panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan limpahan
kenikmatan kesehatan baik jasmani maupun rohani sehingga pada kesempatan ini saya dapat
menyelesaikan penyusunan tugas referat yang berjudul Masa Nifas Normal & Patologis. Saya
mengharapkan saran dan kritik yang dapat membangun dari berbagai pihak agar dikesempatan
yang akan datang saya dapat membuatnya lebih baik lagi.
Pada kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih sebesar besarnya kepada dr. Yedi,
Sp. OG serta berbagai pihak yang telah membantu saya dalam menyelesaikan penulisan refrat
ini.
Semoga refrat ini dapat bermanfaat untuk kita semua.













Cibitung, 2 Oktober 2014




Atika Qisty Desmawan
2


DAFTAR ISI

Judul Halaman
Kata Pengantar ................................................................................................................ 1
Daftar isi ........................................................................................................................... 2
BAB I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang ............................................................................................................. 3
BAB II Pembahasan
A. Definisi .......................................................................................................................... 4
B. Fisiologi Nifas ............................................................................................................ 4-9
C. Patologi Nifas9-12
D. Perawatan Masa Nifas.12-18
Daftar Pustaka ............................................................................................................... 19

3

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Masa nifas (pueperium) adalah suatu periode dalam minggu-minggu pertama
setelah kelahiran. Lamanya perode ini tidak pasti, sebagian besar menganggap antara 4
sampai 6 minngu. Walaupun merupakan masa yang relative tidak kompleks
dibandingkan dengan kehamilan, nifas di tandai oleh banyak perubahan fisiologis.
Beberapa dari perubahan tersebut mungkin hanya sedikit mengganggu ibu baru,
walaupun komplikasi serius juga dapat terjadi.

Pada masa nifas banyak terjadi perubahan perubahan yang dialami ibu pasca
melahirkan. Perubahan ini ada yang bersifat fisiologis (normal terjadi pada umumnya),
dan ada yang bersifat patologis (biasanya tidak terjadi pada umumnya).

Mengingat banyaknya timbul komplikasi pada masa nifas maka saya merasa
perlu untuk membahas manajemen perawatan nifas yang akan dibahas pada bab
selanjutnya.














4

BAB II
. PEMBAHASAN

A. Definisi
Masa nifas (pueperium) adalah suatu periode dalam minggu-minggu pertama setelah kelahiran.
Lamanya perode ini tidak pasti, sebagian besar menganggap antara 4 sampai 6 minngu
(Williams,edisi 23). Nifas dibagi dalam 3 periode, yaitu
2
:
1. Puerperium dini : Kepulihan saat ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan.
Masa puerperium dini adalah 40 hari.
2. Puerperium intermediat : Keputihan menyeluruh alat-alat genitalia yang lamanya 6-8
minggu.
3. Puerperium lanjut : waktu yang diperlukan untuk pulih dan kembali sehat sempurna,
terutama jika selama hamil atau sewaktu persalinan timbul komplikasi. Waktu untuk
mencapai kondisi sehat sempurna dapat berminggu-minggu, bulanan, tahunan.

B. Fisiologi Nifas

Masa nifas merupakan masa yang ditandai dengan banyak perubahan fisiologis pada
tubuh ibu. Walaupun sedikit tetapi komplikasi yang serius bisa terjadi pada ibu setelah
melahirkan.
3
Vagina dan Ostium Vagina
Pada awal masa nifas, vagina dan ostiumnya membentuk aluran yang berdinding
halus dan lebar yang ukurannya berkurang secara perlahan namun jarang kembali ke
ukuran saat nulipara. Rugae muncul kembali pada minggu ketiga namun tidak
semenonjol sebelumnya. Himen tinggal berupa potongan-potongan kecil sisa jaringan,
yang membentuk jaringan parut disebut carunculae myrtiformes. Epitel vagina mulai
berproliferasi pada minggu ke-4 sampai minggu ke-6, biasanya bersamaan dengan
kembalinya produksi estrogen ovarium. Laserasi atau peregangan perineum selama
pelahiran dapat menyebabkan relaksasi ostium vagina.
3
Uterus
Pembuluh darah
Pada saat kehamilan terdapat peningkatan aliran darah uterus masif yang
penting untuk mempertahankan kehamilan, yang disebabkan oleh hipertrofi dan
remodelling pada semua pembuluh darah pelvis. Setelah proses melahirkan,
diameter pembuluh darah berkurang kira-kira ke ukuran sebelum kehamilan.
3
Segmen serviks dan Uterus Bagian Bawah
Selama persalinan, batas serviks bagian luar yang berhubungan dengan
ostium externum biasanya mengalami laserasi terutama di bagian lateral.
Pembukaan serviks berkontraksi secara perlahan dan selama beberapa hari setelah
5

persalinan masih sebesar 2 jari. Diakhir minggu pertama, pembukaan serviks
menyempit, serviks menebal, dan kanalis endoservikal kembali terbentuk. Ostium
externum tidak dapat kembali sempurna ke keadaan sebelum hamil. Bagian
tersebut tetap agak lebar dan secara khas, cekungan di kedua sisi pada tempat
laserasi jadi permanen.
Segmen uterus bagian bawah menipis secara nyata mengalami konstraksi
dan retraksi, namun tidak sekuat pada corpus uteri. Selama beberapa minggu
berikutnya, segmen bawah yang sebelumnya merupakan substruktur tersendiri
yang cukup besar untuk mengakomodasi kepala bayi, berubah menjadi isthmus
uteri yang hampir tidak terlihat yang terletak diantara corpus dan ostium
internum.
3
Involusi Uterus
Sesaat setelah pengeluaran plasenta, fundus uteri yang berkontraksi
tersebut terletak sedikit dibawah umbilikus. Bagian tersebut sebagian besar terdiri
dari miometrium yang ditutupi oleh serosa dan dilapisi oleh desidua basalis.
Dinding posterior dan anterior dalam jarak yang terdekat, masing-masing tebalnya
4 sampai 5 cm. Pada saat post partum, berat uterus kira-kira menjadi 1.000 g.
Selama nifas, terjadi destruksi dan dekonstruksi yang luar biasa pada
uterus. Dua hari setelah persalinan, uterus mulai berinvolusi, dan pada minggu
pertama beratnya sekitar 500 g. Pada minggu kedua beratnya sekitar 300 g.
Sekitar 4 minggu setelah melahirkan, uterus kembali ke ukuran sebelum hamil
yaitu 100 g atau kurang. Jumlah sel otot mungkin tidak berkurang cukup besar.
Akan tetapi ukuran masing-masing sel menurun secara bermakna dari 500-800m
kali 5-10 m saat aterm menjadi 50-90 m kali 2,5-5 m pascapartum.


Involusi Tinggi Fundus Uteri Berat Uterus
Bayi Lahir Setinggi umbilikus 1000 gram
Plasenta lahir 2 jari dibawah u mbilikus 750 gram
1 minggu Pertengahan pusat simpisis 500 gram
2 minggu Tidak teraba diatas simpisis 350 gram
6 minggu Bertambah kecil 50 gram
8 minggu Sebesar normal 30 gram

Tabel 1. Tinggi Fundus Uterus dan berat uterus menurut masa involusi
2

6


Gamabar 1. Tinggi Fundus Uteri
Sesudah partus
Hari ke-2
Hari ke-6
Hari ke-15

Karena pemisahan plasenta dan membran meliputi lapisan yang seperti
spons, maka desidua basalis tidak meluruh. Desidua tetap mempunyai variasi
ketebalan yang jelas, mempunyai tampilan ireguler berupa penonjolan yang kasar,
dan diinfiltrasi oleh darah terutama pada perlekatan plasenta.



Nyeri Setelah Melahirkan
Pada primipara, uterus cendrung tetap berkontraksi secara setelah
melahirkan. Akan tetapi, pada multipara uterus sering berkontraksi kuat pada
interval tertentu dan menimbulkan nyeri setelah melahirkan yang mirip dengan
7

nyei saat persalinan tetapi lebih ringan. Biasanya nyeri setelah melahirkan
berkurang pada hari ketiga setelah melahirkan.
3
Lokia
Lokia adalah cairan sekret yang berasal dari kavum uteri dan vagina dalam
masa nifas. Cairan lokia tersebut terdiri dari eritrosit, potongan jaringan desidua,
sel epitel dan bakteri.
1,2,3
- Lokia rubra (cruenta) :
Berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel desidua,
verniks kaseosa, lanugo, dan mekonium, selama 2 hari pasca
persalinan.
- Lokia sanguinolenta :
Berwarna merah kuning, berasa darah dan lendir, hari ke3-7 pasca
persalinan.
- Lokia serosa :
Berwarna kuning, cairan tidak berdarah lagi, pada hari ke 7-14
pascapersalinan.
- Lokia alba :
Campuran leukosit dan penurunan kandungan cairan, lokia berwarna
putih atau putih kekuningan. Terjadi setelah 2 minggu.
3


Regenerasi Endometrium
Dalam dua atau tiga hari setelah persalinan, desidua yang tersisa
berdiferensiasi menjadi dua lapisan. Lapisan superfisial menjadi nekrotik dan
menjadi nekrotik dan meluruh masuk kedalam lokia. Lapisan basal yang
berdekatan dengan dengan miometrium tetap utuh dan merupakan sumber
endometrium baru. Endometrium tumbuh dari proliferasi sisa kelenjar
endometrium dan stroma jaringan ikat interglandular.
Regenerasi endometrium berlangsung cepat, kecuali pada tempat
perlekatan plasenta. Dalam waktu seminggu, permukaannya itutupi oleh
epitelium, dan Sharman menemukan endometrium yang kembali sempurna pada
semua spesimen biopsi yang diambil pada hari ke-6 di bangsal.
2
Involusi Tempat Perlekatan Plasenta
Pengeluaran lengkap tempat perlekatan plasenta memerlukan waktu
sampai 6 minggu. Segera setelah pelahiran, tempat perlekatan plasenta kira-kira
seukuran telapak tangan, kemudian ukurannya mengecil dengan cepat. Pada akhir
minggu kedua, diameternya sekitar 3-4 cm.
3
Saluran Kemih
Setelah melahirkan, Vesica Urinaria mengalami peningkatan kapasitas dan relatif
tidak sensitif teradap tekanan intravesika, sehingga bisa mengakibatkan ovedistensi,
8

pengosongan yang tidak sempurna dan residu urin yang berlebihan. Hal ini harus
diwaspadai karena adanya residu urin dan bakteriuria pada vesika urinaria yang
mengalami trauma dapat mengakibatkan terjadinya infeksi. Ureter yang berdilatasi dan
pelvis renal kembali ke keadaaan sebelum hamil dalam 2 sampai 8 minggu setelah
melahirkan.
3
Peritoneum dan Dinding Abdomen
Ligamentum latum dan rotundum memerlukan waktu yang cukup lama untuk
pulih dari perengangan dan pelonggaran yang terjaadi selama kehamilan. Sebagai akibat
dari ruptur serat elastik pada kulit dan distensi uterus pada kehamilan, maka dinding
abdomen masih tetap lunak dan flaksid. Beberapa minggu dibutuhkan untuk kembali
menjadi normal.
3
Payudara
Payudara adalah kelenjar yang terletak dibawah kulit dan diatas otot dada,
merupakan perubahan dari kelenjar keringat. Payudara dewasa beratnya sekitar 00 gram,
sedangkan pada waktu hamil payudara membesar, mencapai 600 gram dan pada ibu
menyusui mencapai 800 gram.
4

a. Kolostrum
Setelah melahirkan, payudara mulai mensekresi kolostrum yaitu suatu cairan berwarna
kuning tua yang mengandung mineral, asam amino dan lebih banyak protein terutama globulin
dan sedikit lemak dan glukosa. Cairan ini biasanya keluar dua jam setelah melahirkan. Sekresi
berlanjut selama 5 hari, dengan berubah secara perlahan menjadi air susu matang selama 4
minggu berikutnya. Kolostrum mengandung antibodi dan imunoglobulin A yang dapat
memberikan perlindungan bagi neonatus terhadap paxgbn\togen enterik. Faktor pertahanan tubuh
lainnya yang ditemukan di kolostrum dan susu mencakup komplemen, makrofag, limfosit,
laktoferin, laktoperoksidase, dan lisozim.
3
b. ASI
Air susu ibu merupakan suspensi lemak dan protein dalam larutan karbohidrat-mineral.
Ibu yang menyusui dapat mengeluarkan 600 ml susu perhari, dan berat badan ibu sewaktu hamil
tidak memengaruhi kuantitas atau kualitasnya. ASI mengandung asam amino esensial yang
berasal darah dan asam amino non-esensial sebagian berasal dari darah atau disintesis di kelenjar
mammae. Sebagian besar protein susu mengandung -laktalbumin, -laktaglobulin, dan kasein.
Asam lemak disintesis di alveoli dari glukosa dan disekresikan melalui apokrin. Semua vitamin
kecuali vitamin K ditemukan pada ASI dalam jumlah yang berbeda. Kandungan vitamin D pada
ASI rendah sekitar 22 IU/mL sehingga diperlukan suplementasi bagi neonatus..
Whey atau serum susu pada ASI memiliki kandungan Interleukin-6 yang besar dan
berhubungan dengan produksi IgA lokal oleh payudara. Pada ASI juga ditemukan prolaktin dan
epidermal growth factor (EGF). EGF tidak dihancurkan oleh enzim proteolitik lambung
sehingga dapat diabsorbsi unntuk mendukung pertumbuhan dan pematangan mukosa usus
neonatus.
3
9


c. Laktasi
Pada saat hamil, payudara membesar karena pengaruh berbagai hormon seperti estrogen,
progesteron, Human Placental Lactogen dan prolaktin. Selama kehamilan ASI biasanya belum
keluar karena masih dihambat oleh estrogen yang tinggi. Pada hari kedua atau ketiga pasca
persalinan, kadar estrogen turun dengan drastis sehingga mulai terjadi sekresi ASI.
5
Ada dua refleks yang sangat penting dalam proses laktasi, aitu refleks prolaktin dan
refleks oksitosin. Kedua reflek ini bersumber dari perangsangan puting susu akibat isapan bayi
5
:
- Refleks Prolaktin
Didalam papilla mammae banyak terdapat ujung saraf peraba. Bila
ini dirangsang, maka akan timbul rangsangan menuju hipotalamus
selanjutnya ke hipofisis anterior, sehingga kelenjar ini memgeluarkan
prolaktin. Hormon prolaktin memegang peranan utama dalam produksi
ASI pada alveolus. Dengan demikian semakin sering rangsangan
penyusuan maka akan semakin banyak pula produksi ASI.
- Refleks Oksitosin
Rangsangan yang berasal dari papilla mammae diteruskan sampai
ke hipofisis posterior akibatnya terjadi pengeluaran oksitosin. Hormon
ini berfungsi memacu konttraksi otot polos yang ada di dinding
alveolus dan dinding saluran, sehingga ASI dipompa keluar.


C. Patologi Nifas
Pada masa nifas dapat terjadi berbagai keadaan patologi pada ibu seperti infeksi dan
gangguan pada organ-organ reproduksi ibu, yaitu :
1. Sub-involusi uterus
Gangguan pada proses involusi uterus. Nomalnya uterus terus mengecil oleh
kontrasi rahim dari 1000 gram setelah bersalin menjadi 40-60 gram pada 6 minggu
kemudian.
1
Faktor penyebab terjadinya sub-involusi uterus adalah infeksi (endometritis),
retensi plasenta, dan mioma uteri. Pada palpasi uterus masih teraba besar, fundus
masih tinggi, lokia banyak dan terjadi perdarahan.
1
Pengobatan dapat diberikan ergonovine atau methylergonnovine (Methergine) 0,2
mg setiap 3-4 jam selama 24-48 jam, namun cara kerja nya masih dipertanyakan.
3

Bila ada sisa plasenta makan dilakukan kuretase.
1

2. Perdarahan postpartum sekunder
Pendarahan yang terjadi dalam 24 jam sampai 12 minggu setelah melahirkan.
Faktor penyebab terjadinya perdarahan, yaitu :
- Sub-involusi
10

- Retensi Plasenta
- Mioma uteri
Apabila terdapat retensi plasenta maka penangannya bisa di kuretase.

3. Kelainan Pada Payudara

Puting yang terbenam
Puting yang terbenam setelah melahirkan dapat dicoba ditarik dengan
menggunakan nipple puller beberapa saat sebelum bayi disusui.
1
Puting lecet
Puting lecet biasanya terjadi karena perlekatan ibu-bayi sewaktu menyusui tidak
benar. Sering kali juga dapat disebabkan oleh infeksi candida. Pada keadaan puting
susu yang lecet, maka dapat dilakukan cara seperti dibawah ini
1
:
- Periksa apakah perlekatan ibu-bayi salah
- Periksa apakah terdapa infeksi oleh Candida berupa kulit merah,
berkilat dan terasa sakit
- Ibu terus memberikan ASI apabila luka tidak begitu sakit. Kalau
sangat sakit, ASI dapat diperah
- Olesi puting susu dengan ASI dan dibiarkan kering
- Jangan mencuci daerah aerola dan puting dengan sabun
Mastitis
Mastitis adalah suatu peradangan pada payudara yang disebabkan oleh
kuman terutama Staphylococcus aureus melalui luka pada papilla mammae.
Gejala klinis mastitis biasanya infeksi unilateral dan terdapat bengkak pada
payudara. Gejala ini biasanya disertai dengan demam dan takikardi. Payudara
menjadi kerasa dan kemerahan serta nyeri.
1,3
Mastitis yang tidak segera diobati akan menyebabkan abses payudara yang
bisa pecah ke permukaan kulit dan menimbulkan borok yang besar.
Penanganan pada mastitis
1,4
:
- Penyusuan bayi dihentikan pada payudara yang terkena mastitis
- Antibiotik jenis penisilin dengan dosis tinggi, sambil menunggu hasil
pembiakan dan uji kepekaan air susu,
- Berikan kompres air hangat pada payudaraa
Galatokel
Penyumbatan pada duktus kelenjar payudara karena air susu yang
membeku dan terkumpul pada satu atau lebih lobus. Biasanya dapat sembuh
spontan atau dengan pengurutan.
1,3
Sekresi Abnormal
Terdapat variasi dalam umlah ASI yang dilekuarkan tergantung pada
kesehatan ibu secara umum dan perkembangan kelenjar payudara.
1,3
11

- Tidak ada air susu (agalaksia)
- Air susu sedikit keluar (oligogalaksia)
- Air susu keluar berlebihan (poligalaksia)
4. Demam Nifas
Demam nifas adalah kenaikan suhu badan sampai 38 C atau lebih selama dua hari
dalam 10 hari postpartum. Etiologi demam nifas :
- Infeksi alat genital
- Demam menyusui
5. Infeksi nifas
Infeksi nifas adalah keadaan yang mencakup peradangan alat-alat genitalia dalam
masa nifas. Kuman-kuman yang sering menyebabkan infeksi nifas
1
:
- Streptococcus haemoliticus aerob
Masuk secara eksogen dan menyebabkan infeksi berat yang ditularkan
dar penderita lain, alat-alat yang tidak steril, dll.
- Staphylococcus aureus
Masuk secara eksogen dan banyak ditemukan sebagai penyebab
infeksi di rumah sakit
- Escherichia coli
Sering berasal dari vesika urinaria dan rektum. Biasanya mengaibatkan
infeksi terbatas.
Pengobatan infeksi nifas :
- Segera lakukan kultur dari sekret vagina, luka operasi, dan darah serta
uji resistensi untuk mendapatkan antibiotika yang tepat
- Selama menunggu hasil kultur maka berikan antibiotika spektrum luas


6. Depesi Ringan
Beberapa pasien menunjukan depresi ringan beberapa hari setelah melahirkan.
Depresi ringan sesaat, atau postpartum blues tersebut paling mungkin terjadi sebagai akibat
sejumlah faktor. Penyebab penyebab yang menonjol adalah
3
:
1. Kekecewaan emosional yang mengikuti kegirangan bercampur rasa takut yang dialami
kebanyakan wanita selama hamil dan melahirkan
2. Rasa nyeri pada awal masa nifas
3. Kelelahan akibat kurang tidur selama persalinan dan setelah melahirkan pada kebanyakan
rumah sakit
4. Kecemasan akan kemampuannya untuk merawat bayi setelah meninggalkan rumah sakit
5. Ketakutan akan menjadi tidak menarik lagi

12

Pada sebagian besar kasus, terapi yang efektif terkadang tidak lebih dari sekedar
antisipasi, pemahaman, dan rasa aman. Gangguan ringan ini akan hilang dengan sendirinya dan
biasanya membaik setelah 2 atau 3 hari, meskipun terkadang menetap hingga 10 hari. Begitu
depresi postpartum menetap, atau bertambah buruk, perlu diberikan perhatian khusus untuk
mencari gejala gejala depresi. Pada sebuah studi di Parkland Hospital, didapatkan bahwa
gejala gejala depresi telah muncul sejak kehamilan pada 50 persen wanita yang mengalami
depresi postpartum. Hal ini menunjukan bahwa depresi postpartum merupakan manifestasi suatu
kelainan depresif yang mendasarinya
3,6
.

D. Perawatan Masa Nifas
1. Perawatan di Rumah Sakit
a. Perawatan segera setelah persalinan
Selama beberapa jam pertama setelah pelahiran tekanan darah dan denyut nadi
harus diukur tiap 15 menit sekali, atau lebih sering bila ada indikasi tertentu. Jumlah
perdarahan vagina terus dipantau, dan fundus harus diraba untuk memastikan
kontraksinya baik. Bila teraba relaksasi, uterus hedaknya dimasase melalui dinding
abdomen sampai organ ini tetap berkontraksi. Darah mungkin terakumulasi di dalam
uterus tanpa ada bukti perdarahan luar. Kondisi ini dapat dideteksi secara dini dengan
menemukan pembesaran uterus melalui palpasi fundus yang sering beberapa jam setelah
persalinan. Karena kemungkinan paling besar terjadi perdarahan berat terjadi setelah
partus, sekalipun pada kasus normal, seorang petugas yang terlatih hendaknya tetap
bersama ibu selama sekurang kurangnya 1 jam setelah selesainya persalinan kala tiga.
Identifikasi dan penatalaksanaan perdarahan postpartum.
3

b. Menyusui
Pemberian ASI yang dianjurkan pada bayi adalah sebagai berikut :
ASI eksklusif selama 6 bulan karena ASI saja dapat memenuhi 100% kebutuhan
bayi.
Dari 6-12 bulan ASI masih merupakan makanan utama bayi karena dapat
memenuhi 60-70% kebutuhan bayi dan perlu ditambahkan makanan pendamping
ASI berupa makanan lumat sampai lunak sesuai dengan usia bayi.
Diatas 12 bulan ASI saja hanya memenuhi sekitar 30% kebutuhan bayi dan
makanan padat sudah menjadi makanan utama. Namun ASI tetap dianjurkan
pemberiannya sampai paling kurang 2 tahun untuk manfaat lainnya.
3


Untuk meningkatkan tingkat menyusui WHO mengeluarkan 10 langkah untuk
keberhasilan menyusui pada bayi adalah sebagai berikut
2
:
1. Mempunyai kebijakan menyusui tertulis yang secara teratur dikomunikasikan
kesemua staf pelayanan kesehatan.
13

2. Melatih semua staf untuk keahlian yang diperlukan untuk mengimplementasikan
kebijakan tersebut.
3. Menginformasikan kepada semua wanita lahir tentang manfaat menyusui dan
manajemen laktasi.
4. Membantu ibu untuk memulai menyusui dalam satu jam setelah kelahiran.
5. Menunjukkan kepada ibu bagaimana cara menyusui dan mempertahanan laktasi,
6. Jangan memberi bayi mkanan apapun kecuali ASI, jika tidak ada indikasi medis,
dan bagaimanapun juga jangan memberikan pengganti ASI, botol susu, atau dot
gratis maupun dengan harga rendah.
7. Praktikkan rawat gabung, yang memungkinkan ibu dan bayi untuk tetap bersama
24 jam sehari
8. Mennganjurkan pemberian ASI kapanpun dbutuhkan
9. Jangan menggunakan dot artifisial untuk menyusui bayi
10. Bantu pembentukan kelompok-kelompok pendukung ASI dan rujuk ibu ke
mereka.

Ibu yang baru melahirkan sebaiknya dirawat bersama bayinya ( rawat gabung). Saat
berada diruang rawat petugas harus mengajarkan kepada ibu cara memosisikan dan melekatkan
bayi pada payudara bagi mereka yang belum dilatih selama fase pemeriksaan antenatal.
Seringkali kegagalan menyusui disebabkan oleh kesalahan memosisikan dan melekatkakan bayi.
Langkah-langkah menyusui yang benar
4
:
1. Cuci tangan dengan air bersih yang mengalir
2. Ibu duduk dengan santai dan kaki tidak boleh menggantung
3. Perah sedikit ASI dan oleska ke puting dan aerola sekitarnya
4. Posisikan bayi dengan benar
- Bayi dipegang dengan satu lengan. Kepala bayi diletakkan dekat
lengkungan siku ibu, bokong bayi ditahan dengan telapak tangan ibu
- Perut bayi menempel pada tubuh ibu
- Mulut bayi berada didepan puting ibu
- Lengan yang dibawah merangkul tubuh ibu, jangan berada diantara
tubuh ibu dan bayi. Tangan yang diatas boleh dipegang ibu atau
diletakkan diatas dada ibu
- Telinga dan lengan yang diatas berada dalam satu garis lurus
5. Bibir bayi dirangsang dengan puting ibu dan akan membuka lebar, kemudian
dengan cepat kepala bayi didekatkan k payudara ibu dan puting serta aerola
dimasukkan kedalam mulut bayi
6. Cek apakah pelekatan sudah benar
- Dagu menempel ke payudara ibu
- Mulut terbuka lebar
14

- Sebagian besar aerola terutama yang berada dibawah, masuk ke dalam
mulut bayi
- Bibir bayi terlipat keluar
- Pipi bayi tidak boleh kempot (Karena bayi tidak menghisap, tetapi
memerah ASI)
- Tidak boleh terdengar bunyi decak, hanya boleh terdengar bunyi
menelan)
- Ibu tidak kesakitan
- Bayi tenang

Terdapat beberapa kontraindikasi pemberian ASI pada bayi, yaitu :
1. Bayi yang menderita galaktosemia
2. Ibu dengan HIV/AIDS
3. Ibu dengan penyakit jantung yang apabila menyusui dapat terjadi gagal
jantung.
4. Ibu yang memerlukan terapi dengan obat-obatan tertentu
5. Ibu yang memerlukan pemeriksaan dengan obat radioaktif perlu
menghentikan pemberian ASI kepada bayinya selama 5x waktu paruh obat.
Setelah itu bayi boleh meyusu lagi. Sementara itu, ASI tetap diperah dan
dibuang agar tidak mengurangi produksi.

c. Rawat Gabung
Rawat gabung adalah suatu cara perawatan dimana ibu dan bayi yang baru dilahirkan
tidak dipisahkan, mlainkan ditempatkan bersama dalam sebuah ruang selama 24 jam penuh.
Keuntungan dalam rawat gabung, yaitu
4
:
1. Aspek psikologis
Dengan rawat gabung antara ibu dan bayi akan terjalin proses bonding. Hal ini sangat
mempengaruhi perkembangan psikologis bayi selanjutnya. Kehangatan tubuh ibu
merupakan stimulasi mental yang mutlak diperlukan oleh bayi.
2. Aspek Fisik
Dengan rawat gabung ibu akan dengan mudah menyusui kapan saja bayi
menginginkannya. Dengan demikian Asi juga akan cepat kelua.
3. Aspek Fisiologis
Dengan rawat gabung, bayi dapat disusui dengan frekuensi yang lebih sering dan
menimbulkan reflek prolaktin yang memacu proses produksi ASI dan refleks
oksitosin yang membantu pengeluaran ASI dan mempercepat involusi rahim.

4. Aspek Edukatif
Dengan rawat gabung ibu, akan mempunyai pengalaman menyusui dan meawat
bayinya.
15

5. Aspek Medis
Dengan awat gabung, ibu merawat bayinya sendiri sehingga bayi tidak tepapar
dengan banyak petugas dan infesi nosokomial dapat dicegah.

Tidak semua bayi atau ibu dapat dirawat gabung. Diperlukan beberapa syarat, yaitu :
1. Usia kehamilan > 34 mingu dan berat lahir >1800 gam, berarti reflek menelan dan
menghisapnya sudah baik.
2. Nilai Apgar pada 5 menit >7
3. Tidak ada kelainan kongenital yang memerlukan perawatan khusus
4. Tidak ada trauma lahir atau morbiditas lain yang berat
5. Bayi yang lahir dengan seksio sesarea yang menggunakan pembiusan umum, rawat
gabbung dilakukan setelah ibu dan bayi sadar. Apabila ibu masih diinfus, bayi tetap
disusui dengan bantuan petugas.
6. Ibu dalam keadaan sehat

d. Perawatan Vulva
Pasien dianjurkan untuk membasuh vulva dari anterior ke posterior (dari arah vulva ke
anus). Perineum dapat dikompres dengan es untuk membantu mengurangi edema dan rasa tidak
nyaman pada beberapa jam pertama setelah reparasi episiotomi
3
.
e. Perawatan Payudara
Kedua payudara harus sudah dirawat selama masa kehamilan, aerola mammae dan papilla
mammae dicuci secara teratur dengn sabun serta diberi minyak atau krim agar tetap lentur,
jangan sampai mudah lecet atau pecah-pecah.
5

f. Fungsi kandung Kemih
Kecepatan pengisian kandung kemih setelah persalinan mungkin dapat bervariasi. Cairan
intravena hampir selalu diberikan melalui infus selama persalinan pervaginam. Sebagai akibat
dari pemberian cairan infus dan penghentian efek antidiuretik oksitosin secara mendadak, sering
terjadi pengisian kandung kemih secara cepat. Sensasi maupun kapasitas kandung kemih untuk
melakukan pengosongan spontan dapat berkurang akibat dari anastesi, khususnya anastesi
regional, juga episiotomi, laserasi, atau hematoma. Karena itu tidaklah mengherankan bahwa
retensi urin dengan overdistensi kandung kemih merupakan komplikasi yang umum pada awal
masa nifas.
Untuk mencegah overdistensi diperlukan pengamatan yang ketat setelah persalinan untuk
menjamin kandung kemih tidak terisi berlebihan dan setiap berkemih mengosongkan diri secara
adekuat. Kandung kemih dapat teraba sebagai suatu massa kistik suprapubik, atau kandung
kemih yang membesar dapat tampak menonjol di abdomen sebagai akibat tidak langsung
pendorongan fundus uteri diatas umbilikus.
16

Bila pasien tersebut belum berkemih dalam 4 jam setelah persalinan, ada kemungkinan
gangguan dalam berkemih. Terkadang diperlukan pemasangan kateter untuk mencegah
overdistensi. Kemungkinan adanya hematoma traktus genitalia harus dipikirkan jika pasien
tersebut tidak dapat berkemih. Begitu kandung kemih mengalami overdistensi, kateter harus
tetap terpasang sampai faktor faktor yang menyebabkan retensi urin teratasi. Hariss dkk.
(1977) melaporkan bahwa 40 persen pasien tersebut akan mengalami bakteriuria, sehingga dapat
diberikan antibiotika jangka pendek setelah kateter dicabut.
Apabila terjadi overdistensi kandung kemih, sebaiknya kateter dibiarkan terpasang
setidaknya 24 jam, untuk mengosongkan kandung kemih seluruhnya dan mencegah terjadinya
rekurensi, selain itu juga memungkinkan pemulihan tonus dan sensasi kandung kemih normal.
Bila kateter dicabut, pasien harus mampu untuk berkemih normal secara berkala. Bila pasien
tidak mampu berkemih setelah 4 jam, maka kateter harus dipasangkan kembali pada pasien.
Apabila terdapat lebih dari 200 ml urin, kandung kemih belum berfungsi secara normal. Jika
hanya terdapat kurang dari 200 ml urin, kateter dapat dicabut dan kandung kemih diperiksa
kembali.
g. Fungsi pencernaan
Terkadang, hilangnya motilitas usus merupakan suatu konsekuensi yang diharapkan
setelah pemberian enema yang akan membersihkan saluran cerna dengan efisien beberapa jam
sebelum melahirkan. Dengan pemberian makan secara dini dapat mengurangi konstipasi
3
.
h. Relaksai Dinding Abdomen
Bebat sebenarnya tidak perlu dilakukan karena tidak dapat mengembalikan postur tubuh
ibu. Bila abdomen bagian luar bisa kendur dan menggantung, penggunaan korset biasanya sudah
cukup membantu. Olahraga untuk membantu mengembalikan tonus dinding abdomen boleh
dimulai kapan saja setelah persalinan pervaginam dan segera setelah nyeri pada perut berkurang
pada seksio sesarea
3
.

i. Diet
Tidak ada pantangan makanan bagi wanita yang melahirkan per vaginam. Dua jam
setelah partus pervaginam normal, jika tidak ada komplikasi yang memerlukan pemberian
anestetika, pasien hendaknya diberikan minum kalau ia haus dan makanan kalau ia lapar. Diet
wanita menyusui, dibandingkan dengan apa yang dikonsumsinya selama hamil, hendaknya
ditingkatkan kandungan kalori dan proteinya, seperti yang dianjurkan oleh Food and Nutrition
Board of the National Research Council. Apabila ibu tidak ingin menyusui, maka kebutuhan
dietnya sama seperti wanita tidak hamil.
Pada praktiknya adalah melanjutkan suplementasi besi selama sekurang kurangnya 3
bulan setelah melahirkan dan memeriksa kadarnya pada kunjungan pertama
3
.

j. Kontrasepsi
17

Selama perawatan di rumah sakit, dilakukan usaha pendidikan tentang keluarga
berencana. Apabila ibu dalam masa menyusui maka berikan kontrasepsi yang tidak menganggu
pengeluaran ASI seperti mini-pil, injeksi progestin, implan progestin, atau Alat kontrasepsi
dalam rahim (AKDR) seperti IUD
3,6
.

k. Waktu Pemulangan
Setelah persalinan pervaginam, bila tidak ada komplikasi, jarang diperlukan rawat inap
lebih dari 48 jam. Sebelum pulang, seorang wanita bersalin harus menerima instruksi seputar
perubahan perubahan fisiologis normal pada masa nifas, termasuk pola lokhia, penurunan berat
badan akibat diuresis, dan waktu pengeluaran ASI. Wanita tersebut juga harus mendapatkan
pengarahan mengenai apa yang harus dilakukan bila ia mengalami demam, perdarahan per
vaginam dalam jumlah banyak, atau mengalami nyeri, pembengkakan atau nyeri pada tungkai.
3

2. Perawatan di Rumah
a. Senggama
Setelah melahirkan, tidak ada kejelasan mengenai waktu yang diperbolehkan untuk
kembali melakukan koitus. Kembali melakukan aktifitas seksual terlalu dini mungkin akan terasa
tidak nyaman, bila tidak terasa sangat nyeri, yang diakibatkan oleh belum sempurnanya involusi
uterus dan penyembuhan luka episiotomi atau laserasi. Median interval waktu antara melahirkan
dengan hubungan seksual adalah 5 minggu, tapi kisarannya berbeda antara 1 12 minggu.
3

b. Kebalinya Menstruasi dan Ovulasi
Bila seorang wanita tidak menyusui anaknya, siklus menstruasi biasanya akan kembali
dalam waktu 6 8 minggu. Tetapi terkadang sulit untuk menentukan secara klinis waktu spesifik
terjadinya menstruasi pertama setelah melahirkan. Sebagian kecil wanita mengeluarkan darah
sedikit sampai sedang secara intermiten, segera setelah melahirkan. Menstruasi pertama dapat
terjadi paling cepat pada bulan kedua atau selambat lambatnya 18 bulan setelah melahirkan
Sharman (1966), dengan menggunakan penetapan waktu endometrium secara histologik,
telah mengidentifikasi ovulasi pada 42 hari setelah melahirkan; Perez dkk. (1992) pada 36 hari.
Lebih lanjut, korpus luteum telah dapat ditemukan pada minggu ke 6 setelah melahirkan pada
waktu dilakukan sterilisasi. Ovulasi lebih jarang terjadi pada wanita menyusui dibandingkan
pada mereka yang tidak menyusui. Campbell dan Gray (1993) menggunakan spesimen urin
harian untuk menemukan ovulasi pada 92 wanita. Penelitian ini adalah penelitian pertama yang
mendeskripsikan kembalinya aktivitas ovarium postpartum secara mendetail pada wanita
menyusui di Amerika Serikat. Jelas bahwa terjadi penundaan ovulasi pada ibu menyusui, akan
tetapi ovulasi dini tidak dihambat oleh laktasi yang terus menerus, penemuan lain mencakup
3
:
1. Kembalinya ovulasi sering ditandai oleh kembalinya perdarahan menstruasi yang normal
2. Menyusui tiap 15 menit selama 7 kali sehari dapat menunda ovulasi
3. Ovulasi dapat terjadi tanpa perdarahan (menstruasi)
4. Perdarahan (menstruasi) dapat bersifat anovulatorik
18


DAFTAR PUSTAKA


1. Sastrawinata S, Masa Nifas, dalam Obstetri Fisiologi bagian Obstetri dan Ginekologi,
Bandung : FK UNPAD, 1983 : 315-27
2. Cunningham F, Leveno K, Bloom S.2012. Masa Nifas, dalam William Obstetrics, edisi
ke-23 volume 1, New York : McGraw-Hill.
3. Mochtar R, Masa Nifas, dalam Sinopsis Obstetri, edisi ke-3, Jakarta : EGC, 2011 : 87-9
4. Cunningham F, Leveno K, Bloom S, Masa Nifas, dalam William Obstetrics, edisi ke-23
volume 1, New York : McGraw-Hill,2013 : 674-89
5. Prawirohardjo S, Asuhan Masa Nifas, dalam Ilmu Kebidanan, edisi ke-4, Jakarta : Bina
Pustaka, 2010 : 356-65
6. Siswosudarmo R, Puerperium Normal, dalam Obstetri Fisiologi, Yogyakarta : Pustaka
Cindekia Press, 2008 : 152-84
7. http://emedicine.medscape.com/article/260187