Anda di halaman 1dari 8

1

1. HASIL PRAKTIKUM
1.1 Hasil Pengamatan Karagenan
Hasil praktikum dari kloter D mengenai karagenan dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 1. Hasil Pengamatan Karagenan
Kelompok Berat awal (gr) Berat kering (gr) % Rendemen (%)
D1 40 2,631 6,578
D2 40 2,421 6,053
D3 40 1,535 3,837
D4 40 1,725 4,312
D5 40 1,941 4,853
D6 40 2,443 6,107
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa berat kering yang didapatkan untuk tiap kelompok
berbeda beda, dan hal ini mempengaruhi hasil persen rendemen yang didapatkan. Untuk
kelompok D1, D2, D6 memiliki berat kering diatas 2 gram, sehingga mendapatkan hasil
persen rendemen lebih dari 6 %. Sedangkan untuk kelompok D3, D4, dan D5 memiliki
berat kering kurang dari 2 gram, sehingga mendapatkan hasil untuk persen rendemen
sebesar 3 4 %. Persen rendemen yang dihasilkan oleh kloter D antara 3 6 %.
2

2. PEMBAHASAN
Praktikum teknologi hasil laut kali ini membahas mengenai karagenan. Menurut Hilliou et
al., (2006) dalam jurnal Effect of Extraction Parameters on the Chemical Structure and Gel
Properties of k/i-hybrid Carrageenans obtained from Mastocarpus stellatus, karagenan
adalah nama umum yang diberikan untuk polisakarida yang diekstrak dari seaweed merah
(Rhodophyceae). Produk lain yang berasal dari seaweed adalah agar dan alginat (Waryono,
2001). Karagenan dihasilkan oleh Gigantina, Chondrus, dan Euchema (Sumiarsih, 1991).
Pada praktikum ini digunakan pengekstrakan karagenan dilakukan dari seaweed Euchema
cotonii. Karagenan biasanya dapat terdiri dari polisakarida ikatan -(1-3) dan -(1-4) D-
galaktosil dan juga ikatan 3,6 - anhydrogalaktosa (Ramli et al., 2009). Berdasarkan posisi
dari ion sulfat dan juga struktur molekulnya, karagenan dibagi menjadi 3 macam, yaitu
lambda, iota, dan juga kappa karagenan (Kasim, 2013). Gellan dan karagenan kappa
ditambahkan untuk meningkatkan karakteristik dari lapisan gel ikan (Lee dan Park, 2006).
Dalam pengekstraksian karagenan ini pertama tama rumput laut ditimbang hingga 40
gram, kemudian dipotong kecil kecil. Pemotongan ini dimaksudkan agar dalam proses
pembuatan tepung, rumput laut lebih mudah hancur dan waktu proses pun menjadi lebih
cepat. Setelah itu tepung rumput laut yang telah terbentuk direbus dalam air sebanyak 500
ml selama 1 jam dalam suhu 80 90
o
C. Saat tepung rumput laut bercampur dengan air,
maka air akan membuat beberapa senyawa kimia menjadi keluar. Air digunakan untuk
merendam rumput laut dan memperjelas keberadaan dari polisakarida. Pemanasan tepung
rumput laut dengan menggunakan air akan memaksa polisakarida, dalam hal ini karagenan
untuk terekstraksi keluar dari rumput laut (Ramli et al., 2009). Selain itu Kasim (2013),
juga menambahkan bahwa apabila dilakukan perebusan dalam beberapa jam, maka akan
membuat proses ekstraksi menjadi lebih cepat. Daya kelarutan karagenan dapat dilihat pada
tabel 2.
Tabel 2. Daya Kelarutan Karagenan pada Berbagai Media Pelarut
Medium Lambda Iota Kappa
Air Dingin Larut Larut garam Ca,
Garam Na
Garam K dan Ca tidak larut,
Garam Na larut
Air panas Larut Larut apabila suhu Larut apabila suhu diatas
3

diatas 60
o
C 60
o
C
Larutan garam
pekat
Larut dengan
bantuan panas
Larut dengan
bantuan panas
Tidak larut
Larut gula
pekat
Larut dengan
bantuan panas
Sukar untuk larut Dengan bantuan panas maka
akan larut
Sumber : Kasim (2013)
Setelah itu pH diatur hingga mencapai pH 8 dengan penambahan HCl 0,1 N atau NaOH 0,1
N. Kedua larutan ini akan membantu membuat kondisi pH dari larutan seaweed menjadi
alkali. Menurut Ramli et al., (2009) dalam jurnal Development of High Yielding
Carragenan Extraction Method from Euchema cotonii Using Cellulase and Aspergillus
niger, kondisi alkali yang cukup tinggi akan mengakatalis gugus-6-sulfat dari unit
monomernya sehingga menjadi hilang dan terbentuk 3,6-anhidrogalaktosa yang lebih kuat
dalam membentuk gel. Pada pH 6 atau lebih, larutan karagenan bisa mempertahankan
proses produksi dari karagenan. Semakin tinggi pH yang digunakan, maka viskositas dan
juga pembentukkan gel menjadi semakin baik (Kasim, 2013).
Setelah itu hasil ekstraksi disaring kemudian filtrat ditampung dalam wadah dan filtrat
ditambah dengan NaCl 10% sebanyak 5 % dari volume filtrat lalu dipananskan hingga suhu
60
o
C. Penyaringan dilakukan agar filtrat dapat terpisah dari residua atau ampas padatnya
(Mustamin, 2012). Penambahan NaCl akan membuat karagenan yang terekstraksi lebih
stabil, dan pemanasan yang dilakukan seperti yang terdapat pada tabel 2, bahwa pemanasan
akan membuat karagenan menjadi mudah larut dan dapat memudahkan proses ekstraksi.
Langkah selanjutnya adalah filtrat dituangkan dalam wadah yang berisi cairan IPA
(Isoprophil Alkohol) sebanyak 300 ml. Cairan IPA berfungsi sebagai pengendap organik
yang akan menarik air dari filtrat karagenan, sehingga akan diperoleh serat karagenan.
Cairan IPA digunakan karena akan memberikan hasil karagenan yang lebih murni dan
kental. Namun, cairan IPA memiliki kekurangan, yaitu harganya yang lebih mahal
dibandingkan dengan pengendap organik lainnya seperti etanol atau methanol (Mustamin,
2012).
Setelah itu dilakukan pengadukan selama 10 15 menit hingga terbentuk endapan
karagenan. Endapan ini lalu ditiriskan dan direndam kembali dalam cairan IPA hingga
4

diperoleh serat karagenan yang lebih kaku. Serat karagenan lalu dibentuk tipis tipis dan
dikeringkan dengan oven selama 24 jam dalam suhu 35
o
C. Pengeringan dalam oven
dilakukan untuk mengurangi kadar air yang terdapat dalam karagenan. Setelah itu
karagenan yang sudah kering ditimbang dan diblender menjadi tepung karagenan. Dilihat
dari proses ekstraksinya, dalam praktikum ini digunakan proses ekstraksi karagenan dengan
metode Semirefine Carageenan (SRC). Menurut Kasim (2013), proses produksi dengan
metode SRC dilakukan dalam kondisi panas dengan perlakuan alkali. Proses produksi
pertama tama adalah pemasakan rumput laut dalam alkali panas, kemudian netralisasi,
pemotongan, lalu pengeringan dan pengemasan.
Setelah dilakukan berbagai langkah untuk mengekstraksi karagenan dari seaweed Euchema
cotonii, didapatkan hasil pengamatan yaitu berupa nilai berat awal, berat kering, dan juga %
rendemen yang berbeda beda antar kelompok. Berat awal dari semua kelompok sama,
yaitu sebesar 40 gram, namun setelah dikeringkan, didapatkan berat kering yang berbeda
beda. Untuk kelompok D1 didapatkan berat kering sebesar 2,631 gram, kelompok D2
sebesar 2,421 gram, kelompok D3 sebesar 1,535 gram, kelompok D4 sebesar 1,725 gram,
kelompok D5 sebesar 1,941 gram, dan kelompok D6 sebesar 2,443 gram. Berat kering yang
berbeda beda ini mempengaruhi persen rendemen yang dihasilkan. Besar persen
rendemen untuk kelompok D1 sebesar 6,578%, kelompok D2 sebesar 6,053%, kelompok
D3 sebesar 3,837%, kelompok D4 sebesar 4,312%, kelompok D5 sebesar 4,853%, dan
kelompok D6 sebesar 6,107%.
Hasil persen rendemen yang berbeda beda dipengaruhi oleh berat kering dari karagenan
yang juga berbeda beda untuk tiap kelompok. Menurut Rosmawaty et al., (2011), apabila
nilai rendemen yang dihasilkan semakin tinggi, maka semakin besar pula karagenan
(output) yang dihasilkan. Selain itu, keefektifan dan keefisienan proses ekstraksi dari
karagenan akan terlihat dari persen nilai rendemen yang dihasilkan. Semakin tinggi nilai
persen rendemen, maka semakin efektif proses ekstraksi karagenan yang dilakukan. Hasil
yang berbeda beda pada tiap kelompok dapat dikarenakan faktor faktor tertentu yang
terjadi selama proses ekstraksi. Misalnya, dalam proses penyaringan atau filterisasi, larutan
5

filtrat yang mengandung karagenan banyak terbuang atau masih terikut dalam residu/ampas
sehingga filtrat yang dihasilkan tidak sama antar kelompok.
Karagenan juga mengandung protein yang sangat tinggi. Karagenan dalam industri pangan
digunakan sebagai pengental, pembuat gel, dan juga sebagai penstabil dalam makanan (de
Araujo et al., 2012). Kasim (2013) juga menambahkan bahwa penambahan karagenan
dapat mencegah pemisahan krim dan pengendapan coklat, namun dapat meningkatkan
pengendapan kalsium dan kekentalan lemak. Menurut Blakemore (2012) dalam
Formaldehyde in Carrageenan and Processed Euchema Seaweed, jenis karagenan yang
diproses dari seaweed Euchema banyak diproses dalam bentuk kering atau semi kering
agar memiliki waktu simpan yang lebih lama.
6

3. KESIMPULAN
Karagenan adalah nama umum yang diberikan untuk polisakarida yang diekstrak dari
seaweed merah (Rhodophyceae)
Karagenan biasanya dapat terdiri dari polisakarida ikatan -(1-3) dan -(1-4) D-
galaktosil dan juga ikatan 3,6- anhydrogalaktosa.
Proses ekstraksi karagenan menggunakan metode SRC.
Metode SRC meliputi pemasakan rumput laut dalam alkali panas, netralisasi,
pemotongan, pengeringan, dan pengemasan.
Pemanasan tepung rumput laut dengan menggunakan air akan memaksa polisakarida
untuk terekstrak keluar.
Hasil persen rendemen yang berbeda beda dipengaruhi oleh berat kering dari
karagenan yang juga berbeda beda untuk tiap kelompok.
Semakin tinggi nilai persen rendemen, maka semakin efektif proses ekstraksi karagenan
yang dilakukan.





Semarang, 20 Oktober 2014 Asisten Dosen:
-Aletheia Handoko
-Margaretha Rani Kirana

Cicilia Tembang Kinanti
12.70.0148
7

4. DAFTAR PUSTAKA
Araujo, Ianna Wivianne Fernandes de et,al,. (2012). Iota-Carrageenans from Solieria
Filiformis (Rhodophyta) and Their Effects in The Inflammation and Coagulation. Maringa
34 (2): 127-135.

Blakemore, Bill. (2012). Formaldehyde in Carrageenan and Processed Eucheuma Seaweed.
Marinalg International Journal.

Hilliou, L, F.D.S. Larotonda, P. Abreu, A.M. Ramos, A.M. Sereno, & M.P. Goncalves.
(2006). Effect of Extraction Parameters on The Chemical Structure and Gel Properties of
K/I-Hybrid Carrageenans Obtained from Mastocarpus stellatus. Biomolecular Engineering
23: 201-208.
Kasim, Syaharuddin. (2013). Pengaruh Konsentrasi Natrium Hidroksida Terhadap
Rendemen Karaginan yang Diperoleh Dari Rumput Laut Jenis Euchema spinosum Asal
Kota Bau Bau. Universitas Hasanuddin, Makassar.

Lee, Chong-Min dan Park Hyun-Jin. (2006). Characterizations of Fish Gelatin Films Added
with Gellan and Kappa-Carrageenan. LWT Food Science And Technology 40(5): 766-774.

Mustamin, ST. Fatimah. (2012). Studi Pengaruh Konsentrasi KOH dan Lama Ekstraksi
Terhadap Karakteristik Karagenan Dari Rumput Laut. Universitas Hasanuddin, Makassar.

Ramli, Nazaruddin; Bakariya A, Mamot S, dan Suhaimi Md Y. (2009). Development of
High Yielding Carragenan Extraction Method from Eucheuma cotonii Using Cellulase and
Aspergillus niger. Prosiding Seminar Kimia Bersama UKM-ITB VIII: 461-469.

Rosmawaty, Peranginangin; Arif Rahman; dan Hari Eko Irianto. (2011). Pengaruh
Perbandingan Air Pengekstrak dan Penambahan Celite Terhadap Mutu Kappa Karaginan.
Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan. Jakarta.

Waryono, Tarsoen. (2001). Biogeografi Alga Makro (Rumput) Laut di Kawasan Pesisir
Indonesia. Makalah Seminar Ikatan Geografi Indonesia (IGI). Malang.



8

5. LAMPIRAN
5.1 Perhitungan
Rumus :



Kelompok D1


Kelompok D2


Kelompok D3


Kelompok D4


Kelompok D5


Kelompok D6



5.2 Diagram Alir
5.3 Laporan Sementara