Anda di halaman 1dari 14

1

1. HASIL PENGAMATAN

1.1.Tabel pengamatan khitin dan khitosan
Hasil pengamatan khitin dan khitosan dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Hasil pengamatan khitin dan khitosan
Kel. Perlakuan
Rendemen
khitin I (%)
Rendemen
khitin II (%)
Rendemen
khitosan (%)
D1
Kulit Udang + HCl 0,75 N +
NaOH 3,5% + NaOH 40%

31,750 14,730 22,273
D2
Kulit Udang + HCl 0,75 N
+NaOH 3,5% + NaOH 40%

34,750 12,353 21,100
D3
Kulit Udang + HCl 1 N +
NaOH 3,5% + NaOH 50%

30,250 21,000 10,090
D4
Kulit Udang + HCl 1 N +
NaOH 3,5% + NaOH 50%

32,625 12,171 8,528
D5
Kulit Udang + HCl 1,25 N
+NaOH 3,5% +NaOH 60%
29,000 32,138 29,125
D6
Kulit Udang + HCl 1,25 N
+NaOH 3,5% +NaOH 60%
5,625 42,634 13,547

Dari hasil pengamatan kitin dan kitosan diatas dapat kita lihat bahwa pada kelompok D1
yang menggunakan HCl 0,75 N dan NaOH 40% menghasilkan rendemen khitin I
sebesar 31,750%, rendemen khitin II sebesar 14,730%, dan rendemen khitosan sebesar
22,273%. Pada kelompok D2 yang menggunakan HCl 0,75 N dan NaOH 40%
menghasilkan rendemen khitin I sebesar 34,750%, rendemen khitin II sebesar 12,353%,
dan rendemen khitosan sebesar 21,100%. Pada kelompok D3 yang menggunakan HCl 1
N dan NaOH 50% menghasilkan rendemen khitin I sebesar 30,250%, rendemen khitin
II sebesar 21,000%, dan rendemen khitosan sebesar 10,090%. Pada kelompok D4 yang
menggunakan HCl 1 N dan NaOH 50% menghasilkan rendemen khitin I sebesar
32,625%, rendemen khitin II sebesar 12,171%, dan rendemen khitosan sebesar 8,528%.
Pada kelompok D5 yang menggunakan HCl 1,25N dan NaOH 60% menghasilkan
rendemen khitin I sebesar 29,000%, rendemen khitin II sebesar 32,138% dan rendemen
2

khitosan sebesar 29,125%. Sedangkan, pada kelompok D6 yang menggunakan HCl
1,25N dan NaOH 60% menghasilkan rendemen khitin I sebesar 5,625%, rendemen
khitin II sebesar 42,634% dan rendemen khitosan sebesar 13,547%.

3

2. PEMBAHASAN

Kitin adalah hasil pengolahan kulit udang yang bernilai ekonomis tinggi sehingga
penting untuk mengolah kulit udang menjadi kitin, karena kulit udang merupakan
sumber potensial untuk pembuatan kitin (Shahidi et al., 1999). Manfaat-manfaat dari
kitin yang dapat diambil antara lain di bidang pertanian dengan pemanfaatan sifat
antifungi yang berguna menjaga tanaman jamur dan sifat antibakteri terhadap pathogen-
patogen yang dianggap berbahaya. Dalam larutan asam, kitosan serta viskositas larutan
bergantung pada derajat deasetilasi dan degradasi gugus polimer. Apabila penyimpanan
kitosan dalam jangka waktu lama pada suhu kurang lebih 100
o
F, sifat kelarutan maupun
viskositasnya tidak akan sama lagi (Krissetiana, 2004).

Cangkang udang mengandung khitin sebesar 20- 50% dari berat keringnya (Suhardi,
1993). Hal ini juga didukung oleh pendapat Patil et al. (2000), senyawa ini dijumpai
sebagai komponen eksoskeleton kelompok Crustaceae, dinding sel insekta, kapang dan
kamir. Sehingga penggunaan kulit udang dalam pembuatan kitin ini sudah sesuai
dengan pendapat yang ada. Dalam proses pembuatan kitin di praktikum ini dibagi
menjadi 2 proses, yaitu proses demineralisasi dan proses deproteinasi. Selain itu Knorr
(1991) juga menambahkan bahwa, dalam limbah pengolahan udang terdapat sekitar
30% kitin, disamping protein dan mineral, sedangkan turunan dari kitin disebut kitosan,
keduanya dapat diperoleh dengan cara isolasi dan dilanjutkan dengan deasetilasi untuk
kitosan.

Pada praktikum ini tahap pertama yang dilakukan untuk membuat kitin adalah tahap
demineralisasi. Pada tahap ini limbah udang dicuci dan dikeringkan. Kemudian dicuci
menggunakan air panas sebanyak 2 kali pencucian dan dikeringkan dalam dehumidifier.
Setelah itu dihancurkan dan diambil sebanyak 15 gram kemudian dicampur dengan
HCl. Pada kelompok D1 dan D2 HCl yang digunakan adalah HCl dengan konsentrasi
0,75 N, pada kelompok D3 dan D4 digunakan HCl dengan konsentrasi 1 N, pada
kelompok D5 menggunakan HCl dengan konsentrasi 1,25 N, sedangkan pada kelompok
D6 menggunakan HCl dengan konsentrasi 1,25 N. Setelah itu larutan diaduk dan
dipanaskan selama 1 jam pada suhu 90
o
C. Pengadukan dilakukan supaya limbah udang
4

yang dikeringkan bisa terlarut secara homogen dalam larutan, sehingga hasilnya akan
lebih optimal. Kemudian larutan di cuci sampai pH netral dan dikeringkan pada suhu
80
o
C selama 24 jam. Setelah itu dihitung rendemennya. Ekstraksi kitin umumnya
melalui tahapan penggilingan, demineralisasi, deproteinasi, pengeringan, dan
pembubukan.

Demineralisasi bertujuan untuk penghilangan mineral. Bagian cangkang umumnya
mengandung banyak sekali kalsium sehingga harus dihilangkan terlebih dahulu. Limbah
cangkang udang dicuci dengan air mengalir dan dikeringkan di bawah sinar matahari
sampai kering, kemudian dicuci di dalam air panas dua kali lalu direbus selama 10
menit. Tiriskan dan keringkan. Bahan yang sudah kering lalu digiling sampai menjadi
serbuk ukuran 40-60 mesh. Kemudian dicampur asam klorida dengan perbandingan
10:1 lalu diaduk merata sekitar 1 jam. Biarkan sebentar, kemudian panaskan pada suhu
90
o
C selama 1 jam. Residu berupa padatan dicuci dengan air sampai pH netral dan
selanjutnya dikeringkan dalam oven pada suhu 80
o
C selama 24 jam atau dijemur sampai
kering. Alamsyah et al (2007) menambahkan bahwa demineralisasi bertujuan untuk
menghilangkan garam-garam anorganik atau kandungan mineral yang ada pada kitin
terutama kalsium karbonat (CaCO
3
).

Keuntungan penggunaan HCl adalah konsentrasi HCl yang dibutuhkan lebih kecil,
sebagian HCl atau asam yang tersisa pada bahan makanan dapat dihilangkan dan
dinetralkan dengan NaOH yang bersifat basa (Krik dan Othmer, 1953). Berdasarkan
penelitian yang dilakukan diketahui bahwa pada suhu dan waktu reaksi sangat
berpengaruh terhadap rendemen khitin yang diperoleh. Faktor lain yang berpengaruh
terhadap jumlah rendemen khitin adalah urutan tahap pembuatan khitin, isolasi khitin
dilakukan melalui dua tahap, yaitu proses demineralisasi dan deproteinasi (Puspawati
dan Simpen, 2010). Selain itu berdasarkan penelitian juga diketahui bahwa dalam
prosedur biologis untuk demineralisasi kitin dapat digunakan metode dengan fermentasi
asam laktat (Setyahadi, 2007).

Tahap kedua setelah demineralisasi adalah tahap deproteinasi, setelah dikeringkan
tepung yang dihasilkan dari proses demineralisasi dicampur dengan NaOH 3,5% dengan
5

perbandingan 6:1. Kemudian diaduk dan dipanaskan selama 1 jam pada suhu 90
o
C.
Kemudian disaring dan didinginkan lalu dicuci sampai pH netral dan dikeringkan pada
suhu 80
o
C selama 24 jam. Tujuan dari proses deproteinasi adalah untuk memisahkan
atau melepaskan ikatan-ikatan antara protein dan kitin. Umumnya protein yang
terkandung dalam limbah ini masih cukup tinggi (30%). Proses penghilangan protein
dilakukan dengan larutan sodium hidroksida (NaOH 3,5%) dengan perbandingan 6
(pelarut) : 1 (cangkang udang). Diaduk selama 1 jam hingga merata. Didiamkan
beberapa saat, kemudian dipanaskan menggunakan suhu 90
o
C dengan waktu 60 menit.
Setelah itu dilakukan penyaringan lalu didinginkan hingga terbentuk residu padatan dan
dicuci dengan air hingga diperoleh pH netral. Setelah itu pengeringan dilakukan pada
suhu 80
o
C selama 1 hari menggunakan oven.

Tahap ketiga setelah deproteinasi adalah tahap deasetilasi, kitosan dibuat dengan cara
memasukkan kitin yaitu limbah udang yang telah mengalami proses demineralisasi dan
deproteinasi ke dalam larutan NaOH dengan perbandingan 20:1. NaOH yang digunakan
dalam praktikum ini berbeda-beda, untuk kelompok D1 dan D2 menggunakan NaOH
40%, untuk kelompok D3 dan D4 menggunakan NaOH 50%, dan kelompok D5 dan D6
menggunakan NaOH 60%. Kemudian diaduk selama 1 jam dan didiamkan selama 30
menit. Lalu dipanaskan 140
o
C selama 90 menit. Setelah itu dicuci menggunakan air
sampai pH netral, lalu dikeringkan pada suhu 70
o
C selama 24 jam. Merendam dalam
larutan yang alkali pada kitin dalam bentuk powder. Dengan dilakukannya proses ini
maka diharapkan dapat berlangsung lebih singkat dan tepat, karena larutan alkali dapat
mengakses permukaan yang lebih luas (No dan Meyers,1997).

Kulit udang yang telah dilakukan isolasi akan menghasilkan glukosamin yaitu gugus
asetatamida polisakarida, kitosan yaitu hasil dari hidrolisis alkali dengan kitin sehingga
timbul yang dinamakan deasetilasi dari transformasi gugus asetamida menjadi gugus
amina. Hidrolisis dengan asam basa dapat mentransformasi kitin menjadi kitosan
(Ramadhan et al., 2010). Perlakuan dengan menggunakan metode heterogen dalam
suasana adalah suatu metode yang umum dilakukan dalam basa kuat untuk proses
deasetilasi kitin menjadi kitosan, hasilnya akan bervariasi.

6

Dari hasil pengamatan dapat dilihat pada kelompok D1 untuk proses demineralisasi
yang menggunakan HCl 0,75 N menghasilkan rendemen khitin I sebesar 31,750%,
untuk proses deproteinasi yang menggunakan NaOH 3,5% menghasilkan rendemen
khitin II sebesar 14,730%, dan proses deasetilasi yang menggunakan NaOH 40%
menghasilkan khitosan sebesar 22,273%. Pada kelompok D2 untuk proses
demineralisasi yang menggunakan HCl 0,75 N menghasilkan rendemen khitin I sebesar
34,750%, untuk proses deproteinasi yang menggunakan NaOH 3,5% menghasilkan
rendemen khitin II sebesar 12,353%, dan proses deasetilasi yang menggunakan NaOH
40% menghasilkan khitosan sebesar 21,100%. Pada kelompok D3 untuk proses
demineralisasi yang menggunakan HCl 1 N menghasilkan rendemen khitin I sebesar
30,250%, untuk proses deproteinasi yang menggunakan NaOH 3,5% menghasilkan
rendemen khitin II sebesar 21,000%, dan proses deasetilasi yang menggunakan NaOH
50% menghasilkan khitosan sebesar 10,090%. Pada kelompok D4 untuk proses
demineralisasi yang menggunakan HCl 1 N menghasilkan rendemen khitin I sebesar
32,625%, untuk proses deproteinasi yang menggunakan NaOH 3,5% menghasilkan
rendemen khitin II sebesar 12,171%, dan proses deasetilasi yang menggunakan NaOH
50% menghasilkan khitosan sebesar 8,528%. Pada kelompok D5 untuk proses
demineralisasi yang menggunakan HCl 1,25 N menghasilkan rendemen khitin I sebesar
29,000%, untuk proses deproteinasi yang menggunakan NaOH 3,5% menghasilkan
rendemen khitin II sebesar 32,138%, dan untuk proses deasetilasi yang menggunakan
NaOH 60% menghasilkan rendemen kitosan 29,125%. Sedangkan, pada kelompok D6
untuk proses demineralisasi yang menggunakan HCl 1,25 N menghasilkan rendemen
khitin I sebesar 5,625%, untuk proses deproteinasi yang menggunakan NaOH 3,5%
menghasilkan rendemen khitin II sebesar 42,634%, dan untuk proses deasetilasi yang
menggunakan NaOH 60% menghasilkan rendemen kitosan 13,547%.

Dari hasil yang didapat diketahui bahwa rendemen tertinggi pada proses demineralisasi
ada pada kelompok D2 yang menggunakan HCl 0,75 N, sedangkan rendemen terendah
ada pada kelompok D6 yang menggunakan HCl 1,25 N. Untuk proses deproteinasi
diketahui rendemen tertinggi ada pada kelompok D6 dan rendemen terendah ada pada
kelompok D4. Sedangkan untuk proses deasetilasi diketahui rendemen kitosan tertinggi
ada pada kelompok D5 dengan menggunakan NaOH 60%. Hal ini sesuai dengan
7

pernyataan Arlius (1989) yang mengatakan bahwa semakin tinggi konsentrasi NaOH
yang digunakan, maka laju deasetilasi akan semakin cepat.

Pemanasan mempengaruhi rendemen yang dihasilkan, hal ini dikarenakan menurut
Benjakul (1993) derajat deasetilasi kitosan dipengaruhi konsentrasi natrium hidroksida
(NaOH) dan suhu proses. Puspawati & Simpen (2010) juga menyatakan bahwa suhu
berpengaruh terhadap derajat deasetilasi kitosan. Semakin meningkat suhu, maka
derajat deasetilasi yang diperoleh juga akan meningkat. Jadi pemanasan bertujuan untuk
meningkatkan derajat deasetilasi kitosan. Sifat kitosan hanya dapat larut dalam asam
encer, seperti asam asetat, asam format, asam sitrat kecuali kitosan yang telah
disubstitusi dapat larut air. Adanya gugus karboksil dalam asam asetat akan
memudahkan pelarutan kitosan karena terjadinya interaksi hidrogen antara gugus
karboksil dengan gugus amina dari kitosan (Dunn et al., 1997).

Kitosan, yang dikenal karena biodegradabilitas, bisa dikopolimerisasi dengan polymethyl
methacrylate (PMMA) dan sifat dari inokulasi kopolimer bisa diatur dengan benar
dengan menyesuaikan konsentrasi reaktan. Methyl methacrylate (MMA) telah berhasil
diokulasikan ke kitosan menggunakan metode Ce (IV). Persentase okulasi maksimum
yang diperoleh adalah 234% dan persentase hasil maksimum adalah 92%.
Kopolimerisasi okulasi ditetapkan menggunakan berbagai metode analisis fisika-kimia
dan thermal. Film okulasi ditunjukkan jauh berkurang sifat mekanik, tetapi kopolimer
dapat digunakan untuk penyusunan pada pori yang sangat kecil untuk obat. Inokulasi
mempertahankan hidrofilisitas kitosan. Inokulasi kopolimer merupakan non-sitotoksik
dan cocok dengan darah (Radhakumary et al., 2005).

Beberapa manfaat khitin dan khitosan antara lain dalam industri farmasi, biokimia,
bioteknologi, biomedikal, pangan, gizi, kertas, tekstil, pertanian, kosmetik, membran
dan kesehatan. Sashiwa & Sei-ichi (2004) menambahkan bahwa studi tentang kitin dan
kitosan sudah dilakukan sejak tahun 1990 dimana diteliti karena dapat berperan dalam
pertahanan tubuh dan antibakteri. Kitin memiliki struktur yang hampir sama dengan
heparin, chondroitin sulfat, dan asam hyaluronic dimana penting dalam
8

mucopolisakarida mamalia. Kitin tidak berbahaya bagi tubuh dan dapat dibiodegradasi.
Oleh karena itu, penggunaannya melimpah saat ini.

Menurut jurnal Chitin Extraction from Crustacean Shells Using Biological Methods
setelah selulosa, kitin merupakan biopolimer yang paling luas di alam. Kitin dan
turunannya memiliki nilai ekonomis yang besar karena aktivitas biologisnya dan
aplikasi industri dan biomedis. Hal ini dapat diekstraksi dari tiga sumber, yaitu
krustasea, serangga dan mikroorganisme. Namun, sumber komersial utama kitin adalah
cangkang krustasea seperti udang, kepiting, lobster dan krill yang dipasok dalam jumlah
besar oleh industri pengolahan kerang. Ekstraksi kitin melibatkan dua langkah,
demineralisasi dan deproteinisation, yang dapat dilakukan dengan dua metode, kimia
atau biologi.
















9

3. KESIMPULAN

Pembuatan kitin dan kitosan menggunakan limbah udang (kulit) yang sudah
dipisahkan dari dagingnya yang melalui proses demineralisasi, deproteinasi dan
deasetilasi.
Pencucian bertujuan untuk menghilangkan kotoran yang masih menempel yang
dapat mencemari ektraksi kitin.
Keuntungan kitosan yaitu mudah didapat, prosedur isolasinya mudah, tidak
beracun, dan tidak membahayakan.
Penggunaan NaOH sebagai pelarut dikarenakan NaOH merupakan alkali yang
digunakan untuk menghidrolisa kitin sehingga terjadi proses deasetilasi dari
gugus asetamida menjadi gugus amina.
Faktor yang mempengaruhi proses pembuatan kitin adalah jenis bahan baku dan
proses ekstraksi kitin.
Faktor yang mempengaruhi pembuatan kitosan adalah konsentrasi enzim, pH
dan suhu proses.



Semarang, 15 Oktober 2014
Praktikan, Asisten Dosen:


Edwin Prasetyo Stella Gunawan
(12.70.0181)
10

4. DAFTAR PUSTAKA

Alamsyah, Rizal, et al. (2007). Pengolahan Khitosan Larut dalam Air dari Kulit Udang
sebagai Bahan Baku Industri.

Angka, S. L. dan M. T. Suhartono. (2000). Bioteknologi Hasil Laut. Pusat Kajian
Sumberdaya Pesisir dan Lautan. Bogor.

Balley, J.E., and Ollis, D.F. (1977). Biochemical Engineering Fundamental, Mc.
Graw Hill Kogakusha, ltd., Tokyo.

Benjakul S., dan P. Sophanodora. (1993). Chitosan production from carapace and Shell
of Black Tiger Shrimp (Penaeus monodon). J. Asean Food (4): 145-148

Chang KLB., G.Tsai, J. Lee dan W. Fu. (1997). Heterogenous N-deacetylation of chitin
in alkaline solution. Carbohydr Res 303:327-332

Dunn, ET., EW. Grandmaison dan MFA. Goosen. (1997). Applications and properties
of chitosan. Di dalam MFA. Goosen (ed). Applications of Chitin and
Chitosan.Technomic Pub, Basel, p 3-30.

Jess E. M, Krzysztof N. W, Miguel A. G, and Ramon C. (2006). The Use of Crude
Shrimp Shell Powder for Chitinase Production by Serratia marcescens WF. Mexico.

Knoor, D. (1982). Function properties of chitin and chitosan. J.Food.Sci. (47)36

Knorr, D. (1991). Recovery and Utilization of Chitin and Chitosan in Food Processing
Waste Management in Food Technology 45, 114-122

Krissetiana, Henny. (2004). Khitin dan Khitosan dari Limbah Udang.

Li-Ming Zhao, Lu-E Shi, Zhi-Liang Zhang, Jian-Min Chen, Dong-Dong Shi, Jie Yang
and Zhen-Xing Tang. (2011). Preparation And Application Of Chitosan Nanoparticles
And Nanofibers. East China University of Science and Technology, 200037, Shanghai.
China.

M. Rabiul. H, Murshid I and Tarun K. M. (2013). Determination of Degree of
Deacetylation of Chitosan and Their effect on the Release Behavior of Essential Oil
from Chitosan and Chitosan-Gelatin Complex Microcapsules. Department of Chemical
Sciences, Tezpur University. India.

11

Marganov. (2003). Potensi Limbah Udang sebagai Penyerap Logam Berat (Timbal,
Kadmium, dan Tembaga) di Perairan.

Muzzarelli R.A.A., R. Rochetti, V. Stanic dan M. Weckx. (1997). Methods for the
determination of the degree of acetylation of chitin and chitosan. Di Dalam R.A.A.
Muzzarelli dan M.G. Peter (ed). Chitin Handbook. European Chitin Soc.,Grottamare

No H.K dan S.P. Meyers. (1997). Preparation of chitin and chitosan. Di Dalam
R.A.A.Muzzarelli dan M.G. Peter (ed). Chitin Handbook. European Chitin
Soc.,Grottamare.

Peter, Martin G. (1995). Application and Environmental Aspects of Chitin and
Chitosan. Journal of Pure and Appl. Chem. Marcel Dekker, Inc., Germany. Hlm. 629-
639.

Purwatiningsih. (1992). Isolasi Kitin dan Karakterisasi Komposisi Senyawa Kimia dari
Limbah Kulit Udang Windu(Penaeus monodon). Jurusan Kimia Program Pasca Sarjana
ITB. Bandung.

Puspawati, N. M. dan I N. Simpen. (2010). Optimasi Deasetilasi Khitin dari Kulit
Udang dan Cangkang Kepiting Limbah Restoran Seafood Menjadi Khitosan melalui
variasi konsentrasi NaOH. http://ejournal.unud.ac.id/abstrak/j-kim-4-1-12.pdf

Radhakumary, C.; Prabha D. Nair; Suresh Mathew and C.P. Reghunadhan Nair. (2005).
Biopolymer Composite of Chitosan and Methyl Methacrylate for Medical Applications.
http://www.sbaoi.org

Ramadhan, L.O.A.N., et al. (2010). Deasetilasi Kitin secara Bertahap dan
Pengaruhnya terhadap Derajat Deasetilasi serta Massa molekul Kitosan.
http://www.kimiawan.org/journal/index.php/jki/article/view/32

Sashiwa, H & Sei-Ichi, A. (2004). Chemically modified chitin and chitosan as
biomaterials. http://unila.ac.id/widiarto/files/2010/05/sashiwa-chemmodified.pdf.

Setyahadi, Siswa. (2007). Screening of Lactic Acid Bacteria for the Purpose of Chitin
Recovery Processing. Microbiology Indonesia volume 1.

Shahidi F, Arachchi JKV, and Jeon Y-J. (1999). Food Applications of Chitin and
Chitosans. Trends in Food Science and Technology 10 : 37- Slepecky, R. A. and H. E.
12

Hemphill. 1991. The genus Bacillius-nonmedical the prokaryotes. In Balows, A. (ed).
The Procaryotes, 2nd. Edn., Chapter 76, pp. 1663-1696. Springer Verlag. NY.

Suhardi. (1993). Khitin dan Khitosan, Pusat Antar Universitas pangan dan Gizi, PAU
UGM, Yogyakarta.

Suhartono MT. (1989). Enzim dan bioteknologi. Pusat Antar Universitas
Bioteknologi.IPB.

Wassila A, Leila A, Lydia A, and Abdeltif A. (2013). Chitin Extraction from
Crustacean Shells Using Biological Methods. European University of Brittany. France

Yateendra S. P, Saikishore V, Sudheshnababu S. (2012). Extraction of chitin from
chitosan from exoskeleton of shrimp for application in the pharmaceutical industry.
Bapatla College. India.
















13


5. LAMPIRAN

5.1.Perhitungan Kitin dan Kitosan
Rendemen Kitin I


x 100%
Rendemen Kitin II


x 100%
Rendemen Kitosan


x 100%

Kelompok D1



Kelompok D2
Rendemen Kitin I =


Rendemen kitin II =


Rendemen kitin III =



Kelompok D3




14


Kelompok D4
Rendemen Kitin I

x 100%
32,625%
Rendemen Kitin II

x 100%
12,171%
Rendemen Kitosan

x 100%
8,528%

Kelompok D5



Kelompok D6




5.2.Laporan Sementara
5.3.Jurnal-jurnal