Anda di halaman 1dari 11

Acara IV

EKSTRASI KARAGENAN

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM
TEKNOLOGI HASIL LAUT

Disusun oleh:
Nama : Michaela Jessica V
NIM : 12.70.0072
Kelompok D6




PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA
SEMARANG

2014

1

1. HASIL PENGAMATAN
Hasil pengamatan dari percobaan ekstrasi karagenan dapat dilihat pada tabel 1 berikut.
Tabel 1. Rendemen Karagenan
Kelompok Berat Awal (g) Berat Kering (g) Rendemen (%)
D1 40 2,631 6,578
D2 40 2,421 6,053
D3 40 1,535 3,837
D4 40 1,725 4,312
D5 40 1,941 4,853
D6 40 2,443 6,107
Berdasarkan hasil pengamatan yang ada, dapat dilihat bahwa berat awal setiap
kelompok sama yaitu 40 gram namun didapatkan berat kering yang berbeda-beda. Berat
tertinggi adalah 2,631 gram pada kelompok D1 dan berat terendah pada kelompok D3
dengan berat 1,535 gram. Dari hasil berat kering, dapat diketahui rendemen yang
dihasilkan berbanding lurus, artinya semakin tinggi nilai berat kering, maka nilai
rendemen juga akan semakin tinggi.


2

2. PEMBAHASAN

Ekstraksi karagenan yang dilakukan pada praktikum ini menggunakan rumput laut dari
jenis Euchema cotonii. Jenis Euchema cotonii adalah salah satu jenis rumput laut merah
atau red algae dengan jenis Rhodophyta. Jenis ini sangat baik tumbuh pada negara
Filipina dan Indonesia sebagai salah satu sumber penghasil karagenan. Dalam jurnal
Varadarajan et al., (2009) dengan judul Development of High Yielding Carragenan
Extraction Method from Eucheuma Cotonii Using Cellulase and Aspergillus niger,
karagenan merupakan salah satu kompleks galaktan yang larut dalam air dan didapatkan
dari jenis red algae. Karagenan sendiri merupakan salah satu hidrokoloid yang terdiri
dari beberapa senyawa seperti ester kalium, natrium, magnesium, kalium sulfat dan sub-
sub unit polisakarida linier galaktosa dan 2,6 anhydrogalactose pada ikatan glikosidik
1-2 dan 1-4. Menurut Musthapa et al., (2011), karagenan merupakan salah satu
hidrokoloid yang diperlukan paling banyak setelah pati dan gelatin yang biasanya
digunakan untuk stabilizer, viscosifie, serta bahan tambahan pangan. Pada bahan
tambahan pangan, sesuai dengan Webber, et al (2012), karagenan sering digunakan
sebagai thickening agent dan pembentuk gel.

Terdapat beberapa tipe karagenan yaitu kappa, lambda, dan iota karagenan yang paling
sering digunakan bagi kepentingan komersial (Zhou, et al., 2008). Selain itu, fungsi
yang dapat digunakan pada ketiga karagenan ini sebagai gelling agents dan thickening
yang telah digolongkan dalam GRAS (Generally Recognize As Safe) yang termasuk
aman untuk dikonsumsi dan telah distandarkan oleh FDA. Karagenan dimanfaatkan
sebagai bahan tambahan pangan karena sifatnya natural terdiri dari galaktosa yang
memiliki berat molekul yang terdistribusi spesifik serta berat kation yang cukup tinggi
(Tuvikene, 2006). Oleh karena itu cara pengekstraksian karagenan harus diketahui
sebagai faktor pertimbangan yang dibutuhkan.

Pada praktikum ini, akan diuji karagenan yang lebih dahulu diambil dengan cara
ekstraksi. Yasita & Rachmawati (2006) menyatakan bahwa ekstraksi merupakan salah
satu cara untuk memisahkan campuran dengan komponen terlarutnya menggunakan
media pemisah berupa pelarut. Pada praktikum ini, langkah awal yang dilaukan adalah
melakukan penimbangan rumput laut yang telah dipotong, lalu dihaluskan
3

menggunakan blender sebanyak 40 gram. Menurut Arpah (1993), dikatakan bahwa
proses pemotongan dan penghancuran sampel akan dapat memperluas permukaan
kontak antara pelarut dengan permukaan rumput laut, sehingga pada proses-proses
berikutnya akan lebih cepat, serta menurut Palmer (1991) memudahkan rumput laut
untuk diekstrak. Hasil tepung rumput laut ditimbang dan dilakukan perebusan atau
dapat disebut sebagai tahap ekstraksi ke dalam 500 ml air dengan suhu 80-90
0
C selama
60 menit. Menurut Mappiratu (2009), perebusan ditujukan untuk mengekstraksi
karagenan dari rumput laut dengan cara melarutkan hidrokoloid karagenan ke dalam air,
sehingga membutuhkan suhu yang tinggi dan karagenan akan lebih mudah diekstrak.
Kemudian setelah 1 jam, akan dilakukan netralisasi yaitu menyeimbangkan pH larutan
karagenan mencapai pH 8 menggunakan larutan NaOH 0,1 N untuk larutan yang
bersifat asam atau HCl 0,1 N untuk larutan yang bersifat basa. Menurut Prasetyowati et
al, (2008), supaya karagenan dalam larutan stabil dan demi menjaga kestabilan
karagenan maka dipilih pH 8, karena stabilitas akan berada dalam keadaan maksimum
pH 9 serta akan terhidrolisis saat pH ada di bawah 3,5.

Setelah itu dilakukan penyaringan hasil ekstraksi dan ditampung cairan hasil
penyaringan sebagai filtrat ke dalam wadah. Filtrat akan ditambah dengan larutan NaCl
10% sebanyak 5% dari volume filtrat dan dilakukan pemanasan kembali sampai suhu
mencapai 60
0
C. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Mappiratu (2009) bahwa NaCl
ditambahkan sebagai larutan untuk mengendapkan karagenan dalam larutan, sedangkan
pemanasan, sesuai dengan Prasetyowati et al., (2008) dilakukan untuk meningkatkan
efektivitas NaCl dalam mengendapkan karagenan. Filtat setelah pemanasan tadi
dituangkan ke dalam wadah yang berisi larutan IPA atau isopropyl alcohol dengan
volume 2 kali dari volume filtrat. Tujuannya adalah untuk mengendapkan oleh karena
itu ketika larutan karagenan dimasukkan, harus langsung diaduk selama kurang lebih 10
menit sampai 15 menit. Prasetyowati et al, (2008) menyatakan bahwa larutan IPA
berfungsi sebagai pengendap karagenan karena dalam larutan IPA terdapat alkohol.
Setelah diaduk, maka karagenan akan berkumpul pada pengaduk dan membuat
gumpalan karagenan. Ditambahkan pula oleh Blakemore (2012), dalam jurnalnya
Formaldehyde in Carrageenan and Processed Eucheuma Seaweed bahwa beliau juga
menggunakan larutan IPA sebagai pengekstrak karagenan untuk mengetahui jumlah
formaldehyde yang seharusnya tidak diperbolehkan ada dalam karagenen sebagai
4

pengawet untuk mempertahankan kualitas seaweed dan turunannya dalam waktu yang
lama.

Setelah itu, endapan karagenan tersebut akan ditiriskan dan dilakukan perendaman
dalam larutan IPA kembali. Tujuan perendaman kembali dalam IPA supaya dapat
diperoleh serat karagenan yang lebih sempurna dan kaku. Tidak hanya itu menurut
Yasita & Rachmawati (2006), perendaman ditujukan untuk mengurangi kadar air yang
akan mengakibatkan serat-serat karagenan lebih kaku dan dapat meningkatan kekuatan
gel dari karagenan.

Setelah itu, didapatkan serat karagenan yang kaku dan dapat dipisahkan tipis-tipis untuk
dilakukan pengovenan dalam wadah tahan panas pada suhu 50-60
0
C dengan oven
selama 12 jam. Prasetyowati, et al (2008) menyatakan bahwa perlakuan pemanasan
dalam oven ditujukan untuk mendapatkan serat karagenan menjadi kering, sehingga
dapat diolah menjadi bubuk. Serat karagenan kering akan ditimbang lebih dulu dan
dihaluskan menggunakan blender menjadi tepung karagenan. Penimbangan karagenan
tadi digunakan untuk menghitung hasil persentase rendemen karagenan dengan
menggunakan rumus.

Dapat dilihat pada tabel 1., bahwa dengan sumber rumput laut yang diberikan sama
begitu pula dengan perlakuannya, namun terdapat hasil yang bervariasi antara hasil
rendemen karagenan berbeda antara kelompok 1 dengan kelompok yang lain. Dapat
dilihat hasil rendemen yang tertinggi adalah pada kelompok D1 dengan hasil rendemen
6,578% dan yang terendah adalah kelompok D3 yaitu 3,837. Terjadinya perbedaan
disini dapat dikarenakan beberapa faktor yang mempengaruhi seperti yang dinyatakan
dalam Varadarajan, et al., (2009) seperti suhu, lama pemanasan serta pH pada larutan
karagenan. Seperti suhu yang terlalu tinggi saat dilakukan pemanasan, atau saat
netralisasi ketika pH belum stabil sehingga mengakibatkan perbedaan-perbedaan pada
tiap kelompok. Berdasarkan rata-rata yang diperoleh juga didapatkan hasil rendemen
karagenan masih terlalu rendah yaitu 5,29%. Hal ini diakibatkan karena beberapa faktor
yang dinyatakan oleh Yolanda et al., (2006) bahwa umur panen, spesies alga, perubahan
cuaca, dan yang terpenting adalah kondisi ekstraksi yang dilakukan ketika praktikum
akan berpengaruh pada hasil rendemen karagenan. Selain itu Yasita & Rachmawati
5

(2006) juga berpendapat bila jenis pengendap akan mempengaruhi hasil rendemen
seperti digunakannya etanol, akan lebih meningkatkan efektivitas ekstraksi karagenan
dibandingkan dengan pelarut IPA yang digunakan saat praktikum ini.

Dalam ekstraksi karagenan sendiri terdapat beberapa metode yang dilakukan penelitian
oleh Varadarajan et al., (2009) dengan judul Development of High Yielding
Carragenan Extraction Method from Eucheuma Cotonii Using Cellulase and
Aspergillus niger bahwa beberapa metode yang beliau gunakan pada penelitiannya
yaitu pemanasan tradisional, ekstraksi dengan fungi seperti Eucheuma cotonii, serta
perlakuan dengan enzim selulase yang dihasilkan oleh mikroba Aspergillus niger,
dilakukan untuk mendapatkan kondisi optimal bagi ekstraksi karagenan seperti pH,
suhu, dan lama waktu pemanasan. Berdasarkan penelitian beliau, dapat dihasilkan
ekstrak karagenan sebesar 30-40% yang artinya pada praktikum yang dilakukan, yield
yang dihasilkan masih sangat rendah. Metode-metode yang digunakan akan dihasilkan
rendemen yang berbeda-beda, sehingga perlu diketahui penggunaan metode yang dapat
memaksimalkan hasil rendemen karagenan. Hal ini juga didukung oleh Araujo, et al.
(2012) dalam Iota-carrageenans from Solieria filiformis (Rhodophyta) and their
effects in the inflammation and coagulation, digunakan metode ekstraksi enzimatis
menggunakan enzim papain dan ekstraksi dengan air panas yang masing-masing akan
dihasilkan karakteristik karagenan yang berbeda tergantung karakter yang ingin
dimunculkan pada karagenan.
Selain metode ekstraksi, sesuai dalam jurnal Hilliou (2006) dengan judul Effect of
extraction parameters on the chemical structure and gel properties of k/i-hybrid
carrageenans obtained from Mastocarpus stellatus, faktor lain yang mempengaruhi
karakteristik rendemen adalah pretreatment dengan larutan alkali dingin dengan waktu
yang lama saat ekstraksi akan mereduksi kuantitas dari prekursor karagenan yaitu
karagenan NU dan karagenan MU, namun dapat meningkatkan elastisitas dari gel yang
dihasilkan karagenan. Selain itu perlakuan kondisi pH serta suhu dari ekstraksi akan
sangat mempengaruhi atribut-atribut kimia dan sifat-sifat gel karagenan. Setiap
karagenan memiliki monomer-monomer berbeda yang telah dijelaskan seperti kappa,
iota, maupun lambda yang konsentrasinya berbeda-beda, masing-masing jenis
karagenan akan memiliki karakteristik yang berbeda tergantung dari jenis monomer
6

pembentuknya, seperti yang dinyatakan dalam jurnal Characterizations of Fish Gelatin
Films Added with Gellan and K-Karrageenan oleh Pranoto, et al., (2000) yang
menyatakan bahwa kappa karagenan dapat meningkatkan kekuatan gel pada ikan,
sedangkan jenis karagenan yang lain akan memberikan manfaat yang berbeda-beda
pada berbagai produk makanan lainnya. Sehingga dalam pemberian perlakuan perlu
diketahui dulu atau memiliki referensi mengenai perlakuan untuk memaksimalkan
karakteristik karagenan apa yang ingin ditingkatkan. Seperti pada kappa dan iota
karagenan, perlakuan pemanasan akan mempengaruhi struktur gel, gugus sulfat yang
tereduksi, kemudian meningkatkan kandungan iota karagenan sehingga titik leleh dari
karagenan akan meningkat.





7

3. KESIMPULAN
Karagenan merupakan hidrokoloid yang termasuk dalam polisakarida linier yang
merupakan hasil ekstrak dari red algae (Rodhophyta) seperti Euchemia cotonii.
Karagenan dibuat melalui metode ekstraksi
Pemotongan dan penghalusan seaweed ditujukan supaya dapat memperluas
permukaan seaweed serta mempercepat proses ekstraksi karagenan.
Perlakuan pemanasan ditujukan untuk mengekstrak karagenan dari seaweed.
Dilakukan tahap netralisasi pada larutan karagenan supaya memastikan pH larutan
sesuai dengan pH yang diinginkan yang disesuaikan dengan karakteristik karagenan
dan demi menjaga kestabilan karagenan serta mencegah hidrolisa karagenan pada
kondisi asam.
Larutan IPA atau isoprophyl alcohol dan NaCl berfungsi sebagai bahan pengendap
karagenan.
Pengeringan dilakukan supaya dapat menghilangkan kadar air dalam serat
karagenan dan dapat dihasilkan karagenan bubuk
Hasil yield atau rendemen karagenan sangat dipengaruhi oleh metode ekstaksi, sifat
karagenan, pH, suhu, lama waktu pemanasan dan ekstraksi, serta bahan pengendap
yang digunakan.

Semarang, 19 Oktober 2014
Praktikan, Asisten Dosen
- Aletheia Handoko
- Margaretha Rani K

Michaela Jessica
12.70.0072

8

4. DAFTAR PUSTAKA
Araujo, et al. (2012). Iota-carrageenans from Solieria filiformis (Rhodophyta) and their
effects in the inflammation and coagulation. Acta Scientiarum.Technology
Maring, v. 34, n. 2, p. 127-135.
Arpah, M. (1993). Pengawasan Mutu Pangan. Tarselo. Bandung.
Blakemore, Bill. (2012). Formaldehyde in Carrageenan and Processed Eucheuma
Seaweed. Marinalg International.
Distantina Sperisa, Wiratni , Moh. Fahrurrozi, and Rochmadi. (2011). Carrageenan
Properties Extracted From Eucheuma cottonii, Indonesia. World Academy of
Science, Engineering and Technology Vol 54: page 738 742.
Hilliou. (2006). Effect of extraction parameters on the chemical structure and gel
properties of k/i-hybrid carrageenans obtained from Mastocarpus stellatus.
Biomolecular Engineering 23 (2006) 201208
Mappiratu. (2009). Kajian Teknologi Pengolahan Karaginan Dari Rumput Laut
Eucheuma cottonii Skala Rumah Tangga. Media Litbang Sulteng 2 (1) : 01 06
Mustapha S., Chandar H., Abidin Z. Z., Saghravani R., and Harun M.Y. (2011).
Production of Semi Refined Caraagenan from Eucheuma cotonii. Journal of
Scientific and Industrial Research. Vol 70, October 2011, pp 865-870.
Palmer, T. (1991). Understanding Enzymes 3rd Edition. Ellis Horwood Limited.
England.
Pranoto, Yudi; Lee, Chong-Min; Park, Hyun-Jin. (2000). Characterizations of Fish
Gelatin Films Added with Gellan and K-Karrageenan. LWT Food Science and
Technology 40(5): 766-774
Prasetyowati, Corrine Jasmine A., Devy Agustiawan. (2008). Pembuatan Tepung
Karaginan Dari Rumput Laut (Eucheuma cottonii) Berdasarkan Perbedaan Metode
Pengendapan. Jurnal Teknik Kimia, No. 2, Vol. 15:Hlm 2733.
Tuvikene Rando, Kalle Truus, Merike Vaher, Tiiu Kailas, Georg Martin, and Priit
Kersen. (2006). Extraction and quantification of hybrid carrageenans from the
biomass of the red algae Furcellaria lumbricalis and Coccotylus truncates. Proc.
Estonian Acad. Sci. Chem Vol 55, No 1: page 4053. Tallinn, Estonia.
Varadarajan S., Nazaruddin Ramli, Arbakariya Ariff, Mamot Said, Suhaimi Md Yasir.
(2009). Development of high yielding carragenan extraction method from
Eucheuma Cotonii using cellulase and Aspergillus niger. Prosiding Seminar Kimia
Bersama UKM-ITB VIII 9-11 Jun 2009
Webber Vanessa, Sabrina Matos De Carvalho , Paulo Jos Ogliari , Leila Hayashi,
Pedro Luiz Manique Barreto. (2012). Optimization of the extraction of carrageenan
from Kappaphycus alvarezii using response surface methodology. Cinc. Tecnol.
Aliment., Campinas, Vol 32(4): page 812-818.
9

Yasita Dian dan Intan Dewi Rachmawati. (2006). Optimasi Proses Ekstraksi Pada
Pembuatan Karaginan Dari Rumput Laut Eucheuma cottonii Untuk Mencapai
Foodgrade. Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro,
Semarang
.
Yolanda Freile-Pelegrn, Daniel Robledo and Jose A. Azamar. (2006), Carrageenan of
Eucheuma isiforme (Solieriaceae, Rhodophyta) from Yucata n, Mexico. I. Effect
of extraction conditions. Botanica Marina Vol 49: page 6571. Mexico.
Zhou M., Jian-she Ma, Jun Li1, Hai-ren Ye, Ke-xin Huang, and Xiao-wei Zhao. (2008).
A -Carrageenase from a Newly Isolated Pseudoalteromonas-like Bacterium,
WZUC10. Biotechnology and Bioprocess Engineering 2008, 13: 545-551. China

10

5. LAMPIRAN
5.1. Perhitungan
% Rendemen =
erat kering (g)
erat aal (g)
x 100%
Kelompok D1
% Rendemen =

x 100% = %
Kelompok D2
% Rendemen =

x 100% =
Kelompok D3
% Rendemen =

x 100% = %
Kelompok D4
% Rendemen =

x 100% = %
Kelompok D5
% Rendemen =

x 100% = %
Kelompok D6
% Rendemen =

x 100% = %

5.2. Laporan Sementara
5.3. Diagram Alir