Anda di halaman 1dari 11

e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha

Program Studi Teknologi Pembelajaran


(Volume 3 Tahun 2013)

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK
UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS PADA
SISWA KELAS X MULTIMEDIA 3 SMK NEGERI 1 SUKASADA

Sudewi I.G.A.
1
, Suharsono. N .
2
, Kirna I. M.
3

1,2,3
Program Studi Teknologi Pembelajaran, Program Pascasarjana
Universitas Pendidikan Ganesha
Singaraja, Indonesia

e-mail: ayu.sudewi@pasca.undiksha.ac.id
naswan.suharsono@pasca.undiksha.ac.id
made.kirna@pasca.undiksha.ac.id

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tanggapan siswa dan
meningkatkan kemampuan berpikir kritisnya melalui penerapan model pembelajaran
berbasis proyek pada mata pelajaran IPS di kelas X MM3 SMK Negeri 1 Sukasada.
Untuk mencapai tujuan tersebut penelitian ini dilakukan dengan metode PTK dalam
dua kali siklus tindakan. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X MM3 SMK
Negeri 1 Sukasada yang berjumlah 19 orang, sedangkan fokus penelitiannya adalah
pada penerapan model pembelajaran berbasis projek, tanggapan siswa, berpikir
kritis, kendala pelaksanaan, dan upaya pemecahannya. Data dikumpulkan dengan
metode observasi, wawancara mendalam, diskusi kelompok fokus, pencatatan
dokumen, pemberian kuesioner, dan tes kemampuan berpikir kritis. Data dianalisis
baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
penerapan pembelajaran IPS di kelas X MM3 SMK Negeri 1 Sukasada
menggunakan model pembelajaran berbasis proyek dapat meningkatkan
kemampuan berpikir kritis siswa. Demikian pula tanggapan siswa terhadap
pembelajaran adalah positif.
Kata-kata kunci: Pembelajaran berbasis projek, tanggapan siswa, berpikir kritis.

Abstract
The study was conducted to find out the students responses and the
improvement of their critical thinking skills by implementing project-based
instructional model in the subject of social science at class X MM3 SMK Negeri 1
Sukasada. To achieve the goal the study was made in a form of classroom action
research in two different cycles. The subjects involved in this study were a total
number of 19 students at class X MM3 SMK Negeri 1 Sukasada, while the focus of
the study were the implementation of project-based instructional model, students
responses, critical thinking, problems of implementation, and attempts to get
solutions. The data were collected by using observation, deep interview, focus group
discussion, document recording, questionnaires, and test of critical thinking skill. The
data were analysed both quantitative and qualitatively. The results indicated that the
instructional activities of the social studies subject conducted in the classroom at
class X MM3 SMK Negeri 1 Sukasada was based on project-based instructional
model could improve the students critical thinking skills. As well their responses
towards the model of instruction was found positive.

Key-words: project-based instruction, the students responses, critical thinking skills.

e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha
Program Studi Teknologi Pembelajaran
(Volume 3 Tahun 2013)


PENDAHULUAN
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
mengkaji seperangkat fakta, peristiwa,
konsep, proposisi, dan generalisasi yang
berkaitan dengan fenomena sosial dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara (Sukadi, 2006: 58). Pada jenjang
SMK mata pelajaran IPS memuat materi
Sejarah, Ekonomi, Sosiologi, dan
Antropologi. Melalui mata pelajaran IPS,
peserta didik diarahkan untuk dapat
menjadi warga negara Indonesia yang
demokratis dan bertanggung jawab serta
warga dunia yang cinta damai (Stopsky &
Lee, 1994: 10).
Mata pelajaran IPS dirancang untuk
mengembangkan pengetahuan,
pemahaman, dan kemampuan analisis
terhadap kondisi sosial masyarakat.
Kemampuan tersebut diperlukan untuk
memasuki kehidupan masyarakat yang
dinamis. Mata pelajaran IPS disusun secara
sistematis, komprehensif, dan terpadu
dalam proses pembelajaran menuju
kedewasaan dan keberhasilan dalam
kehidupan di masyarakat. Mata pelajaran
IPS di SMK bertujuan agar peserta didik
memiliki kemampuan sebagai berikut. 1)
Memahami konsep-konsep yang berkaitan
dengan kehidupan masyarakat dan
lingkungannya. 2) Berpikir logis dan kritis
serta mengembangkan rasa ingin tahu,
memecahkan masalah, dan keterampilan
dalam kehidupan social. 3) Berkomitmen
terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan.
4) Mampu berkomunikasi, bekerja sama
dan berkompetisi dalam masyarakat yang
majemuk baik di tingkat lokal, nasional,
maupun global (Sudira. 2006).
Untuk mencapai tujuan tersebut
proses pembelajaran IPS di kelas
diharapkan lebih efektif. Hal ini terjadi
apabila guru melaksanakannya dengan
memahami peran, fungsi dan kegunaan
mata pelajaran IPS yang diajarkan. Selain
pemahaman akan hal-hal tersebut,
keefektipan juga ditentukan oleh
kemampuan guru untuk mengubah model
pengajaran menjadi model pembelajaran
yang lebih inovatif sesuai dengan apa yang
diharapkan oleh Permen Diknas No. 41
tahun 2007 tentang Standar Proses.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
yang dilandasi oleh filsafat kontruktivisme
mensyaratkan pelaksanaan pembelajaran
yang bersifat lebih mengaktifkan peran
siswa dan meningkatkan kemampuan
berpikir kritis siswa. Pada siswa SMK
persyaratan ini sangat diperlukan untuk
menyiapkan siswa menghadapi persaingan
pada jaman global, membantu siswa
mengatasi permasalahan sehari-hari, dan
menyiapkan kematangan emosional siswa.
Keterampilan berpikir kritis sangat
diperlukan dalam era global untuk
meningkatkan kemampuan bersaing,
mengatasi masalah-masalah kehidupan
yang semakin kompleks dan menyiapkan
siswa menghadapi dunia kerja. Berfikir kritis
juga diperlukan untuk proses kematangan
emosional, sosial, dan pengetahuan moral
serta spiritual. Dalam berpikir kritis siswa
dapat mempelajari fakta melalui
serangkaian proses untuk penanaman
konsep, pengulangan, dan penguasaan
secara mendalam.
Salah satu Standar kompetensi mata
pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di
SMK kelas X adalah menganalisis faktor
konflik sosial dalam masyarakat yang
menuntut kemampuan siswa memiliki
kemampuan berpikir kritis, analitis dan
kreatif. Namun kenyataan yang dihadapi di
SMK Negeri 1 Sukasada sesuai dengan
hasil observasi dan wawancara yang
dilaksanakan pada tanggal 2 Nopember
Tahun 2012 khususnya di kelas X
Multimedia 3 menunjukkan ada beberapa
kendala yang dialami siswa selama proses
belajar mengajar berlangsung yaitu
sebagai berikut.
Pertama, guru dalam melaksanakan
pembelajaran di kelas masih menggunakan
metode ceramah dimana guru menjelaskan
dan menyebutkan berbagai fakta sosial baik
yang menyangkut materi Sejarah, Ekonomi,
Sosiologi maupun Antropologi. Materi-
materi pelajaran IPS tersebut dicatat siswa
secara terpisah-pisah baik berupa fakta,
peristiwa, fenomena, maupun konsep-
e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha
Program Studi Teknologi Pembelajaran
(Volume 3 Tahun 2013)

konsep yang masing-masing berdiri sendiri-
sendiri. Dengan fakta-fakta yang dicatat
tersebut, siswa kemudian belajar
menghafalkan materi tersebut sebanyak
mungkin, agar mereka lulus dalam tes, baik
yang bersifat formatif maupun sumatif.
Makin banyak materi fakta-fakta yang dapat
dihafal oleh siswa, ada indikasi pula bahwa
makin tinggilah prestasi belajar atau hasil
belajar siswa yang hanya diukur melalui tes
objektif. Siswa belajar hanya dengan
melakukan kegiatan membaca bahan ajar
IPS seperlunya dan seadanya, mencatat
fakta-fakta penting kalau diperlukan,
mendengarkan ceramah atau cerita guru,
mengerjakan PR dengan menjawab soal-
soal yang terdapat pada bahan ajar,
menghafalkan fakta-fakta tersebut jika akan
ada ulangan atau tes, merespons
pertanyaan guru dalam kegiatan tanya
jawab di kelas jika bisa, dan siswa tidak
mampu menjawab walaupun sifatnya
pengulangan apa yang telah dibahas.
Proses belajar seperti ini jelas sangatlah
terbatas dalam memanfaatkan potensi
kemampuan berpikir, kepribadian, dan
keterampilan siswa.
Secara kognisi, belajar IPS seperti ini
hanya mengandalkan kemampuan kognitif
tingkat rendah karena siswa hanya belajar
menghafalkan fakta-fakta dan konsep-
konsep materi pelajaran IPS tanpa
pengertian yang mendalam dan bermakna
(Gredler, 1992: 68).
Kemampuan berpikir seperti ini jelas
kurang bertahan lama. Karena itu, siswa
sering baru belajar ketika tes akan
diadakan. Jika tidak ada tes, siswa tidak
akan belajar.
Kedua, siswa kurang mampu
mengembangkan kemampuan berpikir
kritis, analitis, dan kreatif. Siswa juga
menunjukkan kurangnya kemampuan
dalam menggunakan penalaran dalam
mengambil keputusan khususnya dalam
menganalisis konflik-konflik sosial yang
terjadi dalam masyarakat dan lingkungan
sekolah. Masalah ini ditunjukkan dengan
tidak adanya inisiatif siswa untuk bertanya
maupun menjawab bila dihadapkan dengan
suatu permasalahan yang membutuhkan
proses berpikir, dan siswa kurang peka
terhadap masalah-masalah yang terjadi
dalam masyarakat.
Ketiga, guru juga jarang
menggunakan model pembelajaran dengan
memberi kesempatan kepada siswa secara
otonom mengkonstruk pengetahuan
mereka sendiri sampai menghasilkan
produk, dimana produk adalah merupakan
tuntutan siswa SMK. Guru mata pelajaran
IPS juga kurang maksimal dalam
menggunakan media pengajaran dan
pembelajaran yang interaktif khususnya
penggunaan media Power Point.
Berdasarkan fenomena di atas
peneliti dan guru mata pelajaran Ilmu
Pengetahuan Sosial kelas X SMK Negeri 1
Sukasada bersepakat untuk mencari solusi
terhadap masalah-masalah yang terkait
dengan kemampuan menganalisis faktor-
faktor konflik sosial dalam masyarakat
dalam upaya menumbuhkan pembelajaran
berbasis kompetensi dan menghasilkan
produk dalam memperbaiki mutu
pendidikan utamanya pada mata pelajaran
IPS. Salah satunya adalah menerapkan
model pembelajaran Project-Based
Learning.
Pembelajaran berbasis proyek
memiliki potensi yang amat besar untuk
membuat pengalaman belajar yang lebih
menarik dan bermanfaat bagi peserta didik
(Santyasa, 2006: 12). Dalam pembelajaran
berbasis proyek, peserta didik terdorong
lebih aktif dalam belajar. Guru hanya
sebagai fasilitator, mengevaluasi produk
hasil kerja peserta didik yang ditampilkan
dalam hasil proyek yang dikerjakan,
sehingga menghasilkan produk nyata yang
dapat mendorong siswa mampu berpikir
kritis dalam menganalisis faktor konflik
sosial yang terjadi dalam masyarakat.
Penelitian ini, dengan demikian,
berfokus pada beberapa hal, antara lain
sebagai berikut. Pertama, penerapan model
pembelajaran berbasis proyek (Project-
based learning) pada pembelajaran IPS di
kelas X Multimedia 3 SMK Negeri 1
Sukasada. Pemilihan model pembelajaran
ini didasari oleh keyakinan teoretis dan
dukungan hasil penelitian yang
menunjukkan bahwa penerapan
e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha
Program Studi Teknologi Pembelajaran
(Volume 3 Tahun 2013)

pembelajaran berbasis proyek ini dalam
pembelajaran IPS dapat memberi
pengalaman belajar IPS yang lebih
powerful (bermakna, terintegrasi, berbasis
nilai, membuat siswa aktif, dan menantang)
kepada siswa.
Kedua, tanggapan siswa terhadap
pembelajaran IPS dengan menerapkan
model pembelajaran berbasis proyek.
Pemilihan fokus ini didasari oleh
pertimbangan dan harapan bahwa dengan
meningkatkan kualitas pembelajaran IPS
melalui penerapan model pembelajaran
berbasis proyek diharapkan sikap dan
tanggapan siswa terhadap pembelajaran
IPS menjadi lebih positif. Tanggapan siswa
yang lebih positif terhadap pembelajaran
IPS tentu akan menjadikan pembelajaran
IPS lebih membuat siswa aktif dan
memberikan pengalaman belajar IPS yang
lebih menyenangkan kepada siswa.
Ketiga, hasil belajar IPS siswa
terutama pada aspek kemampuan berpikir
kritis. Pemilihan fokus ini didasarkan atas
pertimbangan dan harapan untuk
meningkat kualitas hasil belajar siswa yang
tidak hanya berorientasi pada penguasaan
pengetahuan tingkat rendah seperti yang
selama ini dilakukan umum oleh guru-guru
IPS di kelas. Dengan memfokuskan
penelitian ini pada kemampuan berpikir
kritis sebagai konsekuensi dari penerapan
model pembelajaran IPS berbasis proyek,
diharapkan wawasan guru IPS di SMK
Negeri 1 Sukasada akan meningkat baik
dalam meningkatkan kualitas proses
pembelajaran IPS maupun dalam upaya
meningkatkan kualitas hasil belajar IPS
siswa yang lebih bermakna.
Berdasarkan pembatasan masalah
tersebut, maka rumusan masalah penelitian
ini dapat disampaikan sebagai berikut.
Pertama, apakah penerapan model
Pembelajaran Project-Based Learning
dapat meningkatkan kemampuan berpikir
kritis dalam pembelajaran IPS pada siswa
kelas X Multimedia 3 SMK Negeri 1
Sukasada? Kedua, bagaimanakah
tanggapan siswa terhadap penerapan
model pembelajaran project-based
Learning pada siswa kelas X Multimedia 3
SMK Negeri 1 Sukasada?
Dengan dua permasalahan tersebut,
maka tujuan penelitian ini disusun sebagai
berikut. Pertama, meningkatkan
kemampuan berfikir kritis siswa melalui
penerapan model pembelajaran Project-
Based Learning pada siswa kelas X
Multimedia 3 SMK Negeri 1 Sukasada.
Kedua, mendeskripsikan tanggapan siswa
terhadap penerapan model pembelajaran
Project-Based Learning pada siswa kelas X
Multimedia 3 SMK Negeri 1 Sukasada.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan
rancangan penetian tindakan kelas secara
kritis kualitatif (Kemmis dan McTaggart,
1982; Rochiati, 2006). Penelitian dilakukan
dalam dua kali siklus tindakan yang pada
setiap siklusnya dilakukan kegiatan
perencanaan, pelaksanaan tindakan,
observasi, serta evaluasi dan refleksi.
Penelitian ini melibatkan partisipan siswa
SMK Negeri 1 Sukasada kelas X MM 3
yang berjumlah 19 orang serta
berkolaborasi dengan guru IPS di SMK
tersebut. Dalam kegiatan perencanaan,
peneliti dan guru IPS merencanakan dan
menyiapkan seluruh perangkat
pembelajaran yang diperlukan sesuai
dengan model pembelajaran berbasis
projek, merencanakan prosedur dan hasil
pembelajaran, merencanakan pengelolaan
kelas, dan menyiapkan instrumen
penelitian. Dalam kegiatan pelaksanaan
tindakan, guru IPS melaksanakan
pembelajaran di kelas menggunakan model
berbasis projek sampai menghasilkan
produk belajar siswa berupa portofolio.
Dalam kegiatan observasi, peneliti
mengamati pelaksanaan tindakan guru dan
siswa dalam proses pembelajaran dan
mengumpulkan data-data yang diperlukan
melalui metode observasi, wawancara
mendalam, diskusi kelompok fokus,
pencatatan dokumen, serta pemberian
angket tanggapan siswa dan tes berpikir
kritis. Hasil yang diperoleh kemudian
dievaluasi, yaitu membandingkan hasil
dengan kriteria yang diharapkan untuk
kemudian diambil keputusan. Bersamaan
dengan itu kegiatan refleksi dilakukan untuk
mengetahui kelebihan dan kelemahan
tindakan yang dilakukan untuk kemudian
e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha
Program Studi Teknologi Pembelajaran
(Volume 3 Tahun 2013)

dijadikan dasar pertimbangan untuk
melakukan perbaikan atau penyempurnaan
proses pembelajaran dan hasil-hasil belajar
siswa.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Pelaksanaan inovasi pembelajaran
IPS berbasis konstruktivisme sosial dengan
model pembelajaran berbasis projek
berorientasi kebijakan publik ini berhasil
dilaksanakan dengan prosedur
pembelajaran sebagai berikut. Pertama
siswa diberikan tugas mandiri secara
berkelompok untuk membaca dan
mengerjakan tugas-tugas dalam LKS
berupa membuat ringkasan dan mereview
bab serta membuat media presentasi.
Kedua, hasil tugas kelompok ini dijadikan
dasar oleh siswa secara berkelompok
untuk presentasi menggunakan program
media powerpoint yang menggunakan
model kerangka konseptual. Ketiga, dari
hasil presentasi ini kemudian dilanjutkan
dengan aktivitas diskusi kelas. Dalam
diskusi kelas, siswa yang tidak mendapat
giliran presentasi diminta mengajukan
pertanyaan dan memberikan komentar
serta penilaian.
Ketiga prosedur atau langkah-langkah
pembelajaran ini terutama dilaksanakan
untuk membantu siswa meningkatkan
kemampuan berpikir kritis konseptualnya
dalam memahami pokok-pokok materi yang
dibahas bersama melalui aktivitas belajar
secara berkelompok yang dapat pula
meningkatkan penalaran nilai dan
keterampilan-keterampilan sosial siswa.
Akhirnya, sebagai puncak aktivitas belajar
dikembangkanlah prosedur praktik belajar
berbasis projek terutama untuk membahas
isu-isu sosial kemasyarakatan yang relevan
dengan pokok-pokok materi yang telah
dibahas sebelumnya dalam rangka
menghasilkan usulan kebijakan publik oleh
siswa.
Pada aktivitas belajar terakhir yang
berorientasi kebijakan publik ini,
dikembangkan lagi prosedur atau fase-fase
pembelajaran sebagai berikut. Pertama,
siswa belajar melakukan identifikasi
masalah dan kebutuhan masyarakat serta
merumuskannya dari adanya isu-isu
kebijakan publik yang muncul dalam
kehidupan bermasyarakat. Kedua, siswa
belajar menggali data dan informasi dari
berbagai sumber belajar baik yang berasal
dari buku, media massa cetak, dan
elektronik (terutama internet), dan sumber-
sumber belajar dalam masyarakat.
Penggalian data dan informasi ini
dimaksudkan untuk mengenali
permasalahan secara lebih kompleks dan
memadai serta menjadi kerangka acuan
konseptual untuk mengembangkan
kerangka hipotetik dalam upaya
memecahkan masalah yang ada. Ketiga,
dengan kemampuan olah data dan
informasi yang diperoleh siswa dari
berbagai sumber belajar, mereka kemudian
belajar mengusulkan beberapa alternatif
pemecahan masalah atas masalah yang
telah diidentifikasi dan dirumuskan.
Keempat, atas dasar alternatif pemecahan
masalah tersebut yang telah disertai
kegiatan analisis dan klarifikasi nilai atas
kemungkinan efektivitas tiap-tiap alternatif,
siswa kemudian belajar merumuskan dan
mengusulkan kebijakan publik yang
konstitusional kepada unsur pemerintahan
terkait untuk mengatasi masalah. Usulan
kebijakan publik ini juga haruslah berbasis
kajian analisis nilai yang mantap. Kelima,
siswa belajar mengusulkan satu rencana
tindakan untuk mendapatkan dukungan dari
unsur masyarakat dan pemerintahan terkait
guna melancarkan penerimaan dan
pelaksanaan usul kebijakan publik.
Keenam, siswa belajar mempresentasikan
projek sosialnya kepada guru juri untuk
sosialisasi dan mendapatkan validasi.
Terakhir, siswa dan guru dapat melakukan
refleksi pengalaman belajar untuk
mengevaluasi kembali keseluruhan proses
belajar sebelumnya.
Seluruh aktivitas belajar di atas
sepenuhnya dilakukan secara mandiri dan
berkelompok secara kooperatif oleh siswa
tanpa meninggalkan arahan, bimbingan,
fasilitasi, dan motivasi dari guru.
Pembahasan
e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha
Program Studi Teknologi Pembelajaran
(Volume 3 Tahun 2013)

Prosedur pembelajaran di atas
diyakini telah berbasis pada pendekatan
belajar menurut pandangan konstruktivisme
sosial. Dikatakan demikian karena dalam
pembelajaran ini proses belajar oleh siswa
telah dilakukan secara mandiri dan
berkelompok secara kooperatif. Keyakinan
ini berpijak pada asumsi konstruktivisme
yang meyakini bahwa belajar itu pada
dasarnya adalah aktivitas mandiri pebelajar
dalam rangka membangun
pengetahuannya sendiri (Joyce, Weil, &
Piaget dalam Gredler, 1992). Tentu dalam
aktivitas belajar mandiri ini diperlukan juga
adanya dialog dengan orang lain secara
berkelompok dalam rangka membangun
pengetahuan sosial yang berkarakteristik
memerlukan adanya konsensus di antara
anggota-anggota kelompok masyarakat
(DeVries & Zan; Vigotsky dalam Gredler,
1992; Suparno, 1997).
Dalam aktivitas belajar mandiri dan
berkelompok secara kooperatif ini, belajar
haruslah dimulai dari pengalaman apa atau
pengetahuan awal berupa konsep-konsep
awal apa yang dimiliki oleh pebelajar
sendiri. Karena itulah dalam
pengembangan proses belajar diakomodasi
pengetahuan awal atau pengalaman awal
siswa sangat penting dilakukan. Di sinilah
diakui konsep-konsep awal apa saja yang
telah dimiliki oleh pebelajar untuk kemudian
dikembangkan dan ditransformasi
strukturnya agar lebih kompleks dan lebih
teruji. Dalam rangka pengembangan dan
transformasi struktur pengetahuan awal
menjadi lebih konpleks dan teruji itulah
diperlukan adanya arahan, bimbingan,
fasilitasi, dialog, dan validasi baik di antara
siswa sendiri maupun belajar bersama guru
(Joyce & Weil dalam Sukadi, 2009). Di
sinilah kegiatan-kegiatan belajar berupa
pemodelan oleh guru, belajar berkelompok,
kegiatan presentasi, diskusi kelas,
pengumpulan data dan informasi, dan
refleksi pengalaman belajar itu menjadi
sangat krusial untuk membantu siswa
membangun struktur pengetahuan
sosialnya sendiri secara valid (DeVries &
Zan, 1994). Menurut DeVries dan Zan
(1994) lebih lanjut, aktivitas-aktivitas belajar
seperti di atas dapat memadukan aktivitas-
aktivitas akademis dengan kegiatan-
kegiatan sosial dalam satu iklim dan
atmosfer sosio-moral yang dinamis yang
dapat membantu siswa membangun
pengetahuan sosialnya secara mantap dan
dinamis karena terus akan berkembang dan
selalu mengalami transformasi untuk
memenuhi standar-standar kepentingan
dan nilai-nilai bersama dalam masyarakat
(White, 1996).
Sesungguhnya, inilah proses belajar
pengetahuan sosial yang dikatakan oleh
NCSS (2000) berbasis konstruktivisme
sosial sebagai pengalaman belajar yang
powerful, karena proses dan hasil belajar
menjadi lebih bermakna, integrated,
berbasis nilai, penuh tantangan, dan
melibatkan siswa belajar secara aktif dan
partisipatif.
Prosedur-prosedur pembelajar an di
atas tidak akan memberikan hasil yang
optimal jika tidak disesuaikan dengan
kondisi-kondisi kontekstual (CCE, 2004;
NCSS, 2000) dan didukung dengan
perangkat pembelajaran yang memadai
(Skinner dalam Gredler, 1992) serta
didukung oleh kemampuan guru untuk
memberikan motivasi belajar, mengarahkan
dan membimbing cara-cara belajar yang
lebih efektif untuk mengembangkan rasa
percaya diri, sikap positif, dan strategi
kognitif siswa (Gagne dalam Gredler,
1992), memberikan reinforcement yang
tepat kepada siswa dalam belajar (Gredler,
1992), serta mengakui dan menghargai
setiap perkembangan hasil belajar siswa
sekecil apapun. Karena itulah dalam
pelaksanaan prosedur pembelajaran di
atas, dalam inovasi pembelajaran ini juga
diupayakan guru memahami irama
perkembangan motivasi belajar siswa;
memahami keberadaan siswa yang
berlatar kemampuan intelektual yang
rendah dan dengan keterbatasan
kemampuan sosial ekonominya; belajar
dengan memberikan contoh-contoh yang
kontekstual dan aktual; belajar dilengkapi
dengan perangkat pembelajaran seperti
buku teks, media presentasi berteknologi
komputer dengan program powerpoint,
bantuan penyediaan sumber belajar media
massa cetak dan elektronik (internet), dan
penggunaan sumber-sumber belajar di
e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha
Program Studi Teknologi Pembelajaran
(Volume 3 Tahun 2013)

masyarakat; belajar dibimbing baik secara
kurikuler maupun kokurikuler; belajar
dituntun oleh penggunaan format self-
assessment; belajar mengembangkan
portofolio; guru banyak memberikan
pengakuan dan penghargaan pada setiap
proses aktivitas belajar siswa serta pada
setiap kemajuan belajar siswa sekecil
apapun; dan guru juga membangun
hubungan yang harmonis dan kedekatan
dengan seluruh siswa tanpa membeda-
bedakan status dan latar belakang mereka;
serta guru juga selalu menerima kritik dari
siswa dengan terbuka dan lapang dada
tanpa menimbulkan efek negatif pada
siswa dan guru siap melakukan perubahan
sikap dan perilakunya yang lebih
demokratis sesuai dengan harapan-
harapan siswa.
Pembelajaran IPS dengan prosedur
serta penciptaan iklim belajar seperti di atas
diamati telah menghasilkan perubahan
kemampuan pemahaman konseptual dan
kemampuan akademis siswa menjadi lebih
baik dan berkategori baik dalam dua kali
siklus tindakan. Peningkatan hasil belajar
dalam kemampuan berpikir kritis ini jelas
ditentukan oleh banyak faktor-faktor belajar,
seperti: aktivitas belajar mandiri dengan
tuntunan LKS dan bimbingan guru, belajar
secara berkelompok, belajar
mempresentasikan gagasan secara bebas
dan kreatif menggunakan perangkat media
presentasi, belajar melalui diskusi kelas,
belajar memformulasikan masalah, belajar
melalui penggalian informasi dan data ke
lapangan, belajar mengembangkan
kerangka konseptual hipotetik, belajar
mengembangkan media presentasi melalui
pengembangan kerangka konseptual,
belajar menemukan alternatif pemecahan
masalah, belajar melakukan analisis dan
klarifikasi nilai, belajar membuat keputusan,
belajar merumuskan usul kebijakan publik,
belajar membuat rencana tindakan, dan
belajar presentasi dan berdebat dengan
guru juri. Belajar mandiri seperti ini dapat
dikatakan menerapkan model belajar
dengan inkuiri yang diyakini para ahli
berkaitan erat dengan peningkatan
kemampuan berpikir kritis, berpikir
konseptual, dan berpikir akademis (Joyce &
Weil dalam Sukadi, 2009).
Pembelajaran seperti di atas juga
diamati dapat meningkatkan keterampilan
sosial siswa seperti menggalang kerjasama
kelompok, sharing tanggung jawab
kepemimpinan, kemampuan
mendistribusikan tugas, keberanian dan
kemampuan komunikasi secara oral dalam
presentasi dan diskusi kelas dengan guru
juri, memecahkan konflik kepentingan antar
anggota kelompok, keberanian dan
kemampuan menghubungi nara sumber,
belajar berkomunikasi secara intensif
dengan guru pembimbing dengan penuh
rasa hormat baik pada aktivitas kurikuler
maupun kokurikuler, kemampuan
mempertahankan pendapat, kemampuan
mempengaruhi pikiran dan keyakinan orang
lain secara oral, serta mengembangkan
kemampuan berdiskusi dengan teman
sekelompok atau sekelas.
Keberhasilan pencapaian
pembentukan keterampilan-keterampilan
sosial seperti di atas walau masih dinilai
belumlah cukup memadai untuk
menghasilkan kemampuan berpikir kritis
secara optimal diyakini benar bersumber
dari intensifnya pengembangan model
belajar secara berkelompok serta
penciptaan hubungan belajar yang
multiarah antara siswa dengan berbagai
sumber belajar dengan memberikan peran
aktif dan kreativitas siswa dalam
mewujudkan seluruh potensi belajarnya
secara optimal, terarah, dan terbimbing. Hal
ini sejalan dengan pandangan dan temuan-
temuan DeVries dan Zan (1994) yang
antara lain menyatakan bahwa aktivitas
belajar yang mengintegrasikan aktivitas-
aktivitas sosial, akademis, dan aktivitas
moral dapat mengembangkan kemampuan
berpikir konseptual dan akademis, berpikir
kritis, mengembangkan keterampilan-
keterampilan sosial, serta membantu
meningkatkan penalaran nilai dan moral
siswa secara mantap, mandiri, dan
bermakna (Joyce & Weil dalam Sukadi,
2009).
Pelaksanaan inovasi pembelajaran ini
juga menemukan bahwa siswa dapat
meningkatkan rasa percaya diri, kepekaan,
dan komitmen sosialnya. Peningkatan rasa
percaya diri siswa dapat diwujudkan melalui
e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha
Program Studi Teknologi Pembelajaran
(Volume 3 Tahun 2013)

bimbingan belajar dengan menumbuhkan
keyakinan dan sikap positif siswa bahwa
mereka dapat belajar dengan baik dan
mencapai hasil belajar yang optimal jika
mereka melakukan semua upaya-upaya
belajar yang efektif. Memberikan tantangan-
tantangan belajar yang relevan dengan
kemampuan siswa juga dapat
meningkatkan rasa percaya diri mereka,
antara lain dengan menumbuhkan sikap
positif dalam belajar mandiri, belajar
mempresentasikan gagasan-gagasan yang
dimiliki dalam kegiatan diskusi kelas,
berhubungan dengan nara sumber
langsung di masyarakat dalam menggali
data dan informasi, mempresentasikan
karya projek siswa dan melakukan validasi
di hadapan guru juri, memberikan
pengakuan dan penghargaan terhadap
setiap kemajuan keberhasilan belajar
siswa, dan memberikan akses kepada
siswa untuk dapat berkomunikasi intensif
dengan guru untuk kepentingan bimbingan
belajar, dan sebagainya. Penciptaan iklim
belajar seperti ini relevan dengan
pandangan pengembang model
pembelajaran kuantum yang meyakini
bahwa pembelajaran harus dapat
meningkatkan rasa percaya diri pebelajar
karena meningkatnya rasa percaya diri
pebelajar akan mengembangkan konsep
diri akademis dan pada akhirnya dapat
melipatgandakan hasil belajar mereka
(Sukadi, 2003).
Siswa juga dapat ditingkatkan
kepekaan dan komitmen sosialnya melalui
memberikan akses yang luas kepada
mereka untuk memahami dan berinteraksi
dengan isu-isu atau masalah-masalah
sosial kemasyarakatan yang aktual
berkembang di masyarakat. Pemahaman
dan kesadaran yang muncul kemudian
ditantang dengan memberikan siswa untuk
terlibat aktif dan mengembangkan
partisipasi sosial politiknya secara aktif
untuk memecahkan masalah-masalah
sosial yang ada dalam kehidupan
bermasyarakat melalui pengembangan usul
kebijakan publik. Dalam kegiatan-kegiatan
ini juga diintegrasikan aktivitas belajar yang
memungkinkan siswa melakukan analisis
dan klarifikasi nilai serta memberikan
kebebasan kepada mereka untuk
mengambil keputusan nilai secara rasional
dan bertanggung jawab sesuai dengan
keyakinan-keyakinan nilai kebenaran yang
mereka junjung. Aktivitas belajar seperti
inilah yang diharapkan memfasilitasi siswa
menyelaraskan keyakinan dan nilai-
nilainya, mengembangkan sikap positif, dan
menumbuhkan keinginan berpartisipasi aktif
untuk memecahkan masalah-masalah
sosial kemasyarakatan yang aktual dan
kontroversial terjadi dalam kehidupan sosial
bermasyarakat (CCE, 2004).
Akhirnya, pelaksanaan inovasi
pembelajaran ini juga menemui banyak
kendala dalam pelaksanaannya untuk
mencapai hasil belajar yang seoptimal
mungkin. Pertama, pembelajaran seperti ini
membutuhkan waktu belajar siswa yang
relatif lebih lama dari model pembelajaran
konvensional. Banyaknya mata pelajaran
yang harus diikuti siswa membatasi
kesempatan belajar siswa secara intensif.
Kedua, model pembelajaran ini
membutuhkan siswa belajar lebih intensif,
fokus, dan partisipatif. Kebiasaan belajar
siswa secara konvensional yang hanya
belajar dengan membaca untuk
menyiapkan diri dalam ujian tengah
semester dan ujian akhir semester menjadi
kendala efektivitas pembelajaran ini. Ketiga,
pembelajaran ini lebih membutuhkan upaya
belajar bekerjasama siswa secara
kooperatif dan partisipatif. Kebiasaan
belajar secara konvensional yang bisa
dicapai dengan belajar secara individual
dan pasif menjadi kendala tersendiri dalam
mengubah kebiasaan belajar siswa.
Keempat, pembelajaran ini memberikan
kepada siswa banyak tantangan,
membutuhkan keterlibatan siswa secara
aktif, berinteraksi dengan banyak sumber
belajar, dan menunjukkan hasil belajar
siswa dalam berbagai bentuk produk hasil
belajar. Kebiasaan belajar siswa secara
konvensional yang pasif, kurang adanya
tantangan, menggunakan sumber belajar
hanya dari catatan guru atau buku sumber
yang terbatas, dan siswa menunjukkan
hasil belajarnya hanya dalam mengerjakan
soal objektif atau essay yang terbatas
menjadi kendala tersendiri dalam
penerapan inovasi pembelajaran ini.
Kelima, model pembelajaran ini
e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha
Program Studi Teknologi Pembelajaran
(Volume 3 Tahun 2013)

membutuhkan sarana belajar yang
memadai seperti ruangan belajar yang
representatif, sumber belajar yang
memadai, media pembelajaran yang
memadai, dan kesempatan membimbing
belajar siswa oleh guru secara memadai
pula. Sayangnya, sarana yang dibutuhkan
tersebut sangat terbatas, maka masih
terbatas jugalah hasil yang dicapai.
Berbagai kendala tersebut telah
diatasi sedapat mungkin, antara lain
sebagai berikut. Pertama, penerapan
pembelajaran diupayakan lebih kontekstual.
Kedua, memberikan siswa banyak motivasi
belajar, mengakui dan menghargai semua
aktivitas dan hasil belajar siswa, dan belajar
lebih disesuaikan dengan irama perubahan
sikap dan perilaku belajar siswa. Ketiga,
guru berupaya menyediakan sarana belajar
yang dibutuhkan siswa seperti menyiapkan
komputer dan LCD, menyediakan LKS ,
menyediakan akses sumber belajar lainnya,
menata dan menyesuaikan kebutuhan
ruang belajar agar lebih representatif.
Keempat, guru memberikan perhatian dan
akses waktu yang lebih banyak kepada
siswa untuk melakukan bimbingan belajar
yang lebih intensif baik secara kurikuler
maupun kokurikuler.
PENUTUP
Berdasarkan temuan dan
pembahasan penelitian yang telah
dideskripsikan sebelumnya dapatlah ditarik
dua simpulan hasil penelitian ini sebagai
berikut. Pertama, penerapan pembelajaran
IPS di kelas X MM3 SMK Negeri 1
Sukasada menggunakan model
pembelajaran berbasis projek dalam dua
kali siklus tindakan dapat meningkatkan
kemampuan berpikir kritis siswa. Kedua,
tanggapan siswa terhadap pembelajaran
adalah positif. Para siswa umumnya setuju
dan senang dengan penerapan model
pembelajaran berbasis projek sebagai
salah satu model pembelajaran inovatif
dalam pembelajaran IPS. Melalui model
pembelajaran ini siswa merasa dapat
belajar, antara lain: berlatih untuk terus
belajar berpikir kritis, bekerja berkelompok,
belajar memecahkan masalah di
masyarakat, belajar mempresentasikan dan
menanggungjawabkan hasil belajar,
merasa ada tantangan belajar, belajar dari
pengalaman hidup sehari-hari yang tidak
hanya belajar secara teori dari buku, belajar
berpikir tingkat tinggi, belajar menghargai
pekerjaan kelompok, belajar berdemokrasi,
belajar memecahkan masalah secara
ilmiah, dan belajar ikut berpartisipasi dalam
pengambilan kebijakan publik untuk
kepentingan bersama.
Sesuai dengan temuan penelitian
tersebut dapatlah diajukan beberapa saran
pula sebagai berikut. Pertama, kepada guru
sejenis yang mengalami masalah yang
sama dan memiliki kondisi yang sama
dengan pelaksanaan penelitian ini
disarankan dapat menerapkan model
pembelajaran IPS berbasis projek untuk
meningkatkan kemampuan berpikir kritis
dan tanggapan positif siswa dalam
pembelajaran. Kedua, kepada kepala SMK
Negeri 1 Sukasada disarankan agar
membuat kebijakan sekolah untuk
memotivasi guru-guru mata pelajaran lain
yang memiliki masalah dan kondisi yang
sama untuk menerapkan model
pembelajaran berbasis projek dalam rangka
meningkatkan kemampuan berpikir kritis
dan tanggapan positif siswa dalam
pembelajaran. Ketiga, kepada para peneliti
lain yang berminat untuk mengkaji
penerapan model pembelajaran berbasis
projek dalam rangka meningkatkan
kemampuan berpikir kritis dan tanggapan
positif siswa dalam pembelajaran dapat
menjadikan hasil penelitian ini sebagai
acuan untuk pengembangan penelitian
lebih lanjut.
Penelitian ini juga menemukan bahwa
penerapan model pembelajaran berbasis
projek pada mata pelajsaran IPS di kelas X
MM3 SMK Negeri Sukasada dapat
meningkatkan beberapa aspek
keterampilan sosial siswa. Keterampilan
sosial ini penting tidak saja untuk
kepentingan hidup bermasyarakat, tetapi
juga penting untuk menjadi modal sosial
dalam upaya belajar mencapai tujuan
seoptimal mungkin. Karena itu, kepada
semua pihak yang akan mencoba
menerapkan model pembelajaran berbasis
projek ini, penting untuk memperhatikan
agar penerapan model pembelajaran ini
e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha
Program Studi Teknologi Pembelajaran
(Volume 3 Tahun 2013)

memiliki efek samping pada peningkatan
keterampilan sosial siswa.
Penelitian ini juga menemukan bahwa
masih ada kendala dalam penerapan model
pembelajaran berbasis projek untuk dapat
mencapai tujuan belajar secara optimal.
Kepada pihak-pihak yang ingin mencoba
menerapkan model pembelajaran ini
disarankan agar memperhatikan beberapa
alternatif untuk mengatasi kendala dalam
implementasinya, sehingga dapat mencapai
tujuan secara optimal.
DAFTAR PUSTAKA
CCE. (2004). Kami Bangsa... Indonesia:
Buku Pedoman Guru. California:
Center for Civic Education.
DeVries, R. and Zan, B. 1994. Moral
Classrooms, Moral Children:
Creating a Constructivist
Atmosphere in Early Education. New
York and London: Teachers College
Press.
Direktorat Tenaga Pendidik Dirjen PMPTK
Depdiknas. 2008. Strategi
Pembelajaran Pendidikan
Kewarganegaraan dan Ilmu
Pengathuan Sosial. Jakarta
Gredler, M. E. 1992. Learning and
Instruction: Theory into Practice.
Secong Edition. New Jersey:
Prentice-Hall, Inc.
Kemmis, S dan R. McTaggart. 1982. The
Action Research Planner. Victoria:
Deakin University.
Martorella, P. H. 1985. Elementary Social
Studies: Developing Reflective,
Competent, and Concerned
Citizens. Boston, Toronto: Little,
Brown and Company.
NCSS. 2000. National Standards for Social
Studies Teachers, Volume 1.
Washington, DC: National Council
for the Social Studies.
Permen Diknas No. 41 tahun 2007 tentang
Standar Proses.
Rochiati W. 2006. Metode Penelitian
Tindakan Kelas untuk Guru dan
Dosen. Bandung: Rosda Karya dan
UPI Bandung
Santyasa, I. W. (2011). Pembelajaran
inovatif. Universitas Pendidikan
Ganesha.
Santyasa, I W. 2006. Pembelajaran inovatif:
Model kolaboratif, basis proyek, dan
orientasi NOS. Makalah. Disajikan
dalam seminar di Sekolah
Menengah Atas (SMA) Negeri 2
Semarapura, 27 Desember 2006, di
Semarapura.
Sudira, P. (2006). Kurikulum tinkat satuan
pendidikan SMK. Jakarta
Dikdasmen Depdiknas.
Suparno, P. (1997). Filsafat
Konstruktivisme dalam Pendidikan.
Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Sukadi. 2009. Belajar dan Pembelajaran
(Bermuatan Konsep-konsep
Kearifan Lokal). Singaraja:
Undiksha.
Sukadi. 2006. Pendidikan IPS sebagai
Rekonstruksi Pengalaman Budaya
Berbasis Ideologi Tri Hita Karana
(Studi Etnografi tentang Pengaruh
Masyarakat terhadap Pelaksanaan
Program Pendidikan IPS di SMA
Negeri 1 Ubud). Disertasi (tidak
dipublikasikan. Bandung: UPI
Bandung.
Sukadi. 2005. Pembelajaran Mata Kuliah
Belajar dan Pembelajaran
Menggunakan Modeling Dosen
Berbasis Konstruktivisme Pada
Mahasiswa Semester III Jurusan
PPKN IKIP Negeri Singaraja Tahun
2005/2006. Laporan Penelitian.
Singaraja: IKIP Negeri Singaraja.
Sukadi. 2003. Pendidikan Pengetahuan
Sosial (IPS) yang Powerful dalam
implementasi Kurikulum Berbasis
Kompetensi pada Jenjang
Pendidikan SLTP dan SMU.
Makalah. Disampaikan dalam
Pelantikan Pengurus HISPISI dan
Semiloka Nasional FPIPS IKIP
Negeri Singaraja dalam Rangka
Menyongsong Pemberlakuan KBK
di Sekolah, tanggal 22-23 Desember
2003.
Sopandi, 2011 Penerapan model
pembelajaran Project Based
Learning (PBL). Tersedia dalam:
http://id.shvoong.com/ socialsciences
/education/2197608-pengertian meto
de_pembelajaran berba sisproyek:
diakses tanggal 6 desember 2012.
e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha
Program Studi Teknologi Pembelajaran
(Volume 3 Tahun 2013)

White, C. (1996). IPS (Social Studies
Education) in Indonesia: An
American Perspective. Jurnal
Pendidikan Ilmu Sosial,