Anda di halaman 1dari 13

1

1. HASIL PENGAMATAN

Hasil pengamatan kitin dan kitosan dengan berbagai perlakuan dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Hasil Pengamatan Kitin dan Kitosan.
Kel Perlakuan
Rendemen
Kitin I
Rendemen
Kitin II
Rendemen
Kitosan
D1
Kulit udang + HCl 0,75
N + NaOH 3,5%+NaOH
40%
31,750% 14,730% 22,273%
D2
Kulit udang + HCl 0,75
N + NaOH 3,5%+
NaOH 40%
34,750% 12,353% 21,100%
D3
Kulit udang + HCl 1 N
+NaOH 3,5%+ NaOH
50%
30,250% 21,000% 10,090%
D4
Kulit udang + HCl 1 N
+NaOH 3,5%+ NaOH
50%
32,625% 12,171% 8,528%
D5
Kulit udang + HCl 1,25
N + NaOH 3,5% +
NaOH 60%
29,000% 32,138% 29,125%
D6
Kulit udang + HCl 1,25
N + NaOH 3,5% +
NaOH 60%
5,625% 42,634% 13,547%

Pada Tabel 1, dapat dilihat bahwa rendemen kitin I terbesar diperoleh dari kelompok D2
dengan penambahan HCl 0,75 N, NaOH 3,5%, dan NaOH 40% yaitu 34,750%. Sedangkan
rendemen kitin I yang terendah didapatkan pada kelompok D6 yaitu 5,652% dengan
penambahan HCl 1,25 N, NaOH 3,5%, dan NaOH 60%. Rendemen kitin II terbesar diperoleh
dari kelompok D6 yaitu 42,634% dengan penambahan HCl 1,25 N, NaOH 3,5%, dan NaOH
60%, dan yang terkecil diperoleh dari kelompok D4 dengan penambahan HCl 1 N, NaOH
3,5% dan NaOH 50%. Rendemen kitosan maksimal diperoleh oleh kelompok D5 dengan
penambahan HCl 1,25 N, NaOH 3,5% dan NaOH 60% yaitu sebesar 29,125%. Dan yang
terendah diperoleh kelompok D4 dengan penambahan HCl 1 N, NaOH 3,5% dan NaOH 50%.



2

2. PEMBAHASAN

Pada praktikum ini, bahan yang digunakan adalah kulit udang. Menurut Moeljanto (1992),
kulit udang memiliki kandungan protein yang tinggi. Namun, pemanfaatannya dalam bidang
pangan masih terbatas. Limbah kulit udang termasuk sumber utama pada pengolahan kitin
dan kitosan. Kitin dan kitosan adalah biopolimer yang berpotensi dalam berbagai bidang serta
industri. Menurut Manjang (1993), udang adalah salah satu komoditi ekspor yang terbagi
menjadi tiga macam, yaitu udang dengan bagian badan dan kepala secara utuh, udang dengan
bagian badan tanpa kepala, serta dan udang bagian dagingnya saja. Dari proses pengolahan
udang, akan dihasilkan limbah atau bagian-bagian tidak terpakai yang akan dibuang seperti
kepala, ekor dan kulitnya. Karena jumlah limbah udang yang banyak, maka diperlukan upaya
untuk mengolahnya. Salah satunya menjadi kitin dan kitosan. Selain member nilai tambah
pada usaha pengolahan udang, upaya ini juga membantu dalam usaha pemeliharaan
lingkungan. Purwaningsih (1994) juga menambahkan bahwa selain bertujuan untuk
menambah nilai ekonomis, pengolahan limbah kulit udang juga bertujuan untuk
memanfaatkan kitin yang terdapat pada kulit udang. Kulit udang merupakan sumber kitin dan
jumlahnya sekitar 30% dari berat keringnya. Kandungan kitin pada kelompok Crustacea
cukup besar, yakni sekitar 20-60%. Menurut Arbia (2012), dalam proses pengolahan udang
untuk konsumsi manusia, sekitar 40 hingga 50% dari total massa adalah limbah. Sekitar 40%
limbah adalah kitin, bercampur dengan kalsium karbonat dan astaxanthin, dan mengandung
daging dan sejumlah kecil residu lipid.

Menurut Sevda & McClureb (2004) dalam Zhao, et al. (2011), kitin dan kitosan merupakan
kelompok polisakarida linear yang terdiri dari (1,4) yang berikatan dengan N-asetil-2
amino-2-deoksi-D-glukosa dan 2-amino-2-deoksi-D-glukosa. Kitin hanya mempunyai ikatan
2-amino-2-deoksi-D-glukosa dalam jumlah yang sedikit. Oleh sebab itu, polimer kitin tidak
dapat larut dalam media air asam. Sedangkan pada kitosan mengandung 2-amino-2-deoksi-D-
glukosa cukup tinggi menyebabkan polimer kitosan dapat larut dalam asam. Kitosan dapat
dibuat dengan pemecahan N-asetil yang merupakan kelompok N-asetil-2 amino-2-deoksi-D-
glukosa. Menurut Saules (2005), kemampuan kitinase untuk menghidrolisis kitin
membuatnya sangat berguna untuk produksi nilai tambah produk tersebut sebagai pemanis,
faktor pertumbuhan, dan protein sel tunggal.

3


Menurut Hargono, et al. (2008), cangkang kepala udang mengandung 20-30% kitin, 21%
protein, dan 40-50% mineral. Menurut Hussain, et al. (2013), kitin merupakan polisakarida
terbesar kedua setelah selulosa. Struktur kimia kitin hampir sama dengan selulosa,
perbedaannya terletak pada gugus yang terikat pada atom C nomor 2. Pada selulosa, gugus
yang terikat pada atom C nomor 2 adalah OH. Ssedangkan pada kitin, gugus yang terikat
adalah gugus asetamida.

Menurut Krissetiana (2004), kitin memiliki karakteristik warnanya putih, teksturnya keras,
tidak elastis, dan merupakan nitrogenous polysaccharide yang dijumpai pada cangkang
invertebrata. Kitin memiliki sifat tidak larut air sehingga penggunaan kitin terbatas.
Sedangkan menurut Dutta, et al. (2004), kitosan mempunyai karakteristik kimia antara lain
merupakan poliamin linear, memiliki gugus amino reaktif, gugus hidroksil reaktif, dan
berperan sebagai chelating agent. Karakteristik biologi dari kitosan antara lain sebagai
biocompatible (polimer alami, bersifat biodegradable, tidak beracun dan aman).

Metode pembuatan kitin dan kitosan melalui tiga tahapan yaitu demineralisasi, deproteinasi,
dan deasetilasi. Tahap yang pertama yaitu demineralisasi. Menurut Burrows, et al. (2007),
tahap ini dilakukan dengan tujuan untuk menghilangkan mineral yang masih terdapat pada
limbah kulit udang. Metode ini dilakukan dengan langkah awal yaitu limbah kulit udang yang
sudah dihancurkan menjadi serbuk diayak dengan ayakan 40-60 mesh (masing-masing
kelompok 10 gram) dengan tujuan memperluas permukaan partikel. Kemudian dicampur HCl
dengan perbandingan 10 : 1. Untuk kelompok D1 dan E2 ditambah dengan HCl 0,75 N,
untuk kelompok D3 dan D4 ditambah dengan HCl 1 N, dan untuk kelompok D5 dan D6
ditambah dengan HCl 1,25 N. Burrows, et al. (2007) mengatakan bahwa larutan HCl (asam
encer) yang ditambahkan pada praktikum ini berfungsi untuk melarutkan senyawa-senyawa
mineral yang terdapat pada serbuk kulit udang yang utamanya kalsium karbonat.

Menurut Austin (1981), campuran antara garam anorganik dengan HCl akan menghasilkan
reaksi sebagai berikut.
CaCO
3
(s) + 2 HCl (l) CaCl
2
(s) + H
2
O (l) + CO
2
(g)
Ca
3
(PO
4
)
2
(s) + 4 HCl (l) 2 CaCl
2
(s) + Ca(H
2
PO
4
)
2
(l)
Krik & Othmer (1953) menjelaskan mengenai keuntungan penggunaan HCl. Dengan
penggunaan HCl diperoleh keuntungan yaitu konsentrasi HCl yang dibutuhkan cenderung
rendah dan apabila ada sisa dalam bahan pangan kemudian dapat dihilangkan dan dinetralkan
4


dengan NaOH yang memiliki sifat basa sehingga akan menghasilkan garam yang berperan
sebagai flavouring agent.

Selanjutnya campuran serbuk dengan HCl tersebut diaduk selama 1 jam dan dipanaskan pada
suhu 90
o
C selama 1 jam dengan menggunakan hot plate. Alamsyah, et al. (2007) mengatakan
bahwa pengadukan tersebut dilakukan dengan tujuan supaya kitin yang terkandung dalam
kulit udang bereaksi sempurna dengan pelarut (HCl) sehingga gugus amino dapat terbentuk.
Pengadukan juga membuat larutan menjadi homogen sehingga pemanasan dapat merata dan
efisiensi pemanasan meningkat sehingga proses ekstraksi menjadi lebih cepat. Pemanasan
pada suhu 90
o
C dilakukan dengan tujuan untuk mengoptimalkan fungsi HCl dalam
melarutkan mineral, supaya ikatan antara kitin dengan kalsium karbonat atau bahan organik
yang lainnya dapat terlepas. Tanda terjadinya pemisahan mineral adalah munculnya
gelembung gas CO
2
ketika larutan HCl ditambahkan ke dalam sampel. Setelah proses
pemanasan selesai, kitin dibiarkan mendingin sebelum dicuci dengan air mengalir. Karena
menurut teori Rogers (1986), sebelum dilakukan pencucian, kitin harus didinginkan terlebih
dahulu supaya kitin dapat terendapkan sehingga tidak ikut terbuang ketika dicuci berulang
kali. Setelah itu, kitin disaring dengan kain saring di bawah aliran air supaya endapan kitin
tidak ikut terbuang. Suptijah (2004) mengungkapkan bahwa pencucian kitin hingga pH netral
juga dapat membantu penghilangan mineral yang terdapat pada kulit udang dan untuk
mencegah terjadinya degradasi produk selama pengeringan akibat lepasnya beberapa
kandungan gugus amino. Pengukuran pH dilakukan menggunakan kertas lakmus. Setelah
didapati pHnya netral, campuran tersebut lalu dikeringkan di oven dengan suhu 80
o
C selama
24 jam.

Berdasarkan hasil pengamatan yang diperoleh, didapati bahwa rendemen kitin I yang terbesar
diperoleh pada kelompok D2 yaitu 34,750% dengan penambahan HCl konsentrasi 0,75 N,
kemudian kelompok D4 dengan rendemen 32,625%, kelompok D1 yaitu 31,750%, kelompok
D3 dengan rendemen 30,250%, kelompok D5 yaitu 29,000%, dan rendemen kitin I terkecil
didapatkan pada kelompok D6 dengan rendemen sebesar 5,625% yang menggunakan HCl
dengan konsentrasi 1,25 N. Menurut teori oleh Suptijah (2004), konsentrasi penambahan
asam yang sesuai dapat melarutkan mineral secara sempurna. Sehingga apabila semakin
tinggi konsentrasi HCl yang ditambahkan, maka rendemen kitin I yang dihasilkan semakin
besar. Namun, pada hasil yang didapatkan tidak sesuai dengan teori Suptijah (2004), karena
seharusnya rendemen kitin I terbesar diperoleh kelompok D5 dan D6 yang ditambah dengan
5


HCl dengan konsentrasi paling besar yaitu 1,25 N. Ketidaksesuaian antara hasil dengan teori
tersebut disebabkan karena kesalahan praktikan saat mencuci. Ada yang ikut terbuang dengan
air sehingga berat yang didapatkan sedikit maka rendemen kitin I yang didapatkan juga kecil.
Menurut Kaunas (1984), perbedaan hasil dengan teori yang ada dapat pula disebabkan karena
pengadukan dilakukan yang konstan ketika pemanasan berlangsung. Padahal pengadukan
yang konstan dapat membuat HCl bereaksi secara sempurna dengan kulit udang. Selain itu,
menurut Angka & Suhartono (2000), demineralisasi sebaiknya dilakukan setelah deproteinasi
karena jika demineralisasi dilakukan sebelum deproteinasi maka dapat terjadi kontaminasi
protein terhadap cairan ekstrak mineral.

Tahap yang kedua adalah tahap deproteinasi. Menurut Reece, et al. (2003), tujuan dari tahap
ini adalah untuk memisahkan atau melepaskan ikatan antara protein dengan kitin.
Deproteinasi dilakukan dengan mencampurkan tepung hasil dari proses demineralisasi
dengan NaOH 3,5% (6 : 1). Menurut Reece et al (2003) tujuan penambahan NaOH pada
tahap ini adalah untuk melarutkan protein yang masih ada di dalam kitin hasil dari proses
demineralisasi. Winarno (1997) juga menambahkan bahwa protein merupakan senyawa yang
dapat larut di dalam basa kuat tetapi tidak dapat larut di dalam asam kuat. Oleh karena itu
digunakan NaOH. Lalu setelah ditambah NaOH, larutan diaduk selama 1 jam sambil
dipanaskan di atas hot plate dengan suhu 90
o
C. Rogers (1986) mengatakan bahwa
pengadukan selama pemanasan berlangsung bertujuan untuk membuat panas merata ke
seluruh bagian agar derajat deproteinasi meningkat dan tidak terjadi kegosongan.

Setelah ditambah dengan NaOH, campuran tersebut dibiarkan mendingin. Menurut teori
Rogers (1986), sebelum dilakukan pencucian, kitin harus didinginkan terlebih dahulu supaya
kitin dapat terendapkan sehingga tidak ikut terbuang ketika dicuci berulang kali. Setelah
dingin dicuci dengan air mengalir sambil disaring hingga pHnya netral. Suptijah (2004)
mengungkapkan bahwa pencucian kitin hingga pH netral juga dapat membantu penghilangan
mineral yang terdapat pada kulit udang dan untuk mencegah terjadinya degradasi produk
selama pengeringan akibat lepasnya beberapa kandungan gugus amino. Pengukuran pH
dilakukan menggunakan kertas lakmus. Setelah didapati pHnya netral, campuran tersebut lalu
dikeringkan di oven dengan suhu 80
o
C selama 24 jam dan keesokan harinya diperoleh kitin.

Berdasarkan hasil pengamatan, diperoleh hasil yaitu rendemen kitin II terbesar didapatkan
dari kelompok D6 yaitu 42,634%, selanjutnya oleh kelompok D5 sebesar 32,138%,
6


kelompok D3 sebanyak 21,000%, kemudian kelompok D1 yaitu 14,730%, kelompok D2
dengan rendemen kitin II sebesar 12,353%, dan rendemen kitin II terkecil diperoleh
kelompok D4 yaitu sebesar 12,171%. Data yang didapat mengalami perbedaan. Bahkan pada
kelompok D5 dan D6 justru mengalami kenaikan rendemen. Seharusnya dengan perlakuan
deproteinasi dan pencucian rendemen kitin yang diperoleh semakin rendah. Ketidaksesuaian
ini dapat dipengaruhi karena tahapan yang dilakukan berbeda dengan teori oleh Angka &
Suhartono (2000) yaitu tahap demineralisasi dilakukan setelah tahap deproteinasi karena
apabila tahap demineralisasi dilakukan sebelum tahap deproteinasi, dapat menyebabkan
terjadinya kontaminasi protein terhadap cairan ekstrak mineral. Selain itu, perbedaan hasil
tersebut dapat juga disebabkan karena pengadukan yang tidak konstan akibat pengadukan
yang dilakukan secara manual sehingga larutan NaOH tidak bereaksi sempurna dengan kitin.
Hal ini diungkapkan oleh Kaunas (1984).

Tahap yang terakhir adalah tahap deasetilasi. Menurut Islam, et al. (2011), tahap deasetilasi
ini memiliki tujuan untuk memperoleh kitosan dari kitin dengan melepas gugus asetil pada
kitin. Langkah-langkah pada tahap ini yaitu kitin yang diperoleh dari proses deproteinasi
ditambah dengan NaOH (20 : 1) dengan konsentrasi 40% untuk kelompok D1 dan D2, NaOH
50% untuk kelompok D3 dan D4, sedangkan konsentrasi 60% untuk kelompok D5 dan D6.
Kemudian dilakukan pengadukan selama 1 jam sambil dipanaskan pada suhu 90
o
C di atas hot
plate. Menurut Reece, et al. (2003), penambahan larutan NaOH dan perlakuan pemanasan
dengan suhu 90
o
C akan menyebabkan gugus asetil (CH3CHO
-
) lepas dari kitin. Menurut teori
Rogers (1986), setelah proses pemanasan selesai, campuran tersebut dibiarkan mendingin
agar bubuk kitosan dapat mengendap di bawah sehingga tidak ikut terbuang saat dicuci
berulang kali. Kemudian kitosan dicuci berulang kali dengan air mengalir sambil disaring
hingga pH menjadi netral. Menurut Suptijah (2004), pencucian hingga pH mencapai netral
bertujuan untuk menetralkan kitosan yang sifatnya basa, dapat juga berperan dalam
pencegahan terjadinya degradasi produk selama pengeringan akibat pembentukan asetilasi
yang tidak sempurna. Setelah itu dioven pada suhu 70
o
C selama 24 jam untuk menguapkan
air yang masih tersisa setelah penyaringan. Hasil dari proses deasetilasi akan dihasilkan
kitosan.

Berdasarkan hasil pengamatan yang diperoleh, rendemen kitosan yang paling besar diperoleh
kelompok D5 yaitu 29,125%, kemudian kelompok D1 sebesar 22,273%, kelompok D2 yaitu
21,100%, kelompok D6 sebesar 13,547%, kelompok D3 yaitu 10,090%, dan yang paling
7


kecil kelompok D4 sebesar 8,528%. Hasil yang didapatkan tidak sesuai dengan teori Suptijah
(2004) dan Prasetyo (2006), yang mengatakan bahwa semakin besar konsentrasi NaOH yang
ditambahkan, maka akan menghasilkan rendemen kitosan yang besar karena proses ekstrak
kitosan semakin sempurna. Rendemen kitosan yang terbesar diperoleh kelompok D5 dengan
penambahan NaOH sebesar 60% sudah sesuai dengan teori. Namun yang terkecil justru
diperoleh kelompok D4 yang menggunakan NaOH sebesar 40%. Ketidaksesuaian antara hasil
dengan teori mungkin disebabkan karena pengadukan yang tidak konstan ketika pemanasan
berlangsung atau akibat suhu pemanasan tidak konstan 90
o
C, seperti teori Kaunas (1984).
Menurut Puvvada, et al. (2012), beberapa parameter yang dapat mempengaruhi kitosan yang
terbentuk antara lain berat molekul, viskositas, pH, dan derajat deasetilasi yang mewakili
proporsi unit deasetilasi. Derajat deasetilasi dari kitosan dapat diturunkan dengan
reacetylation, sedangkan berat molekul dapat diturunkan dengan depolymerisation (Berger,
et al., 2004).







8

3. KESIMPULAN

Kulit udang memiliki kandungan protein yang tinggi.
Kitin dan kitosan adalah biopolimer yang berpotensi dalam berbagai bidang serta industri.
Kulit udang merupakan sumber kitin dan jumlahnya sekitar 30% dari berat keringnya.
Kitin dan kitosan merupakan kelompok polisakarida linear.
Kitin warnanya putih, teksturnya keras, tidak elastis.
Kitin sifat tidak larut air.
Kitosan merupakan poliamin linear, memiliki gugus amino reaktif, gugus hidroksil
reaktif, dan berperan sebagai chelating agent.
Karakteristik biologi dari kitosan adalah sebagai polimer alami, bersifat biodegradable,
tidak beracun dan aman.
Metode pembuatan kitin dan kitosan melalui tiga tahapan yaitu demineralisasi,
deproteinasi, dan deasetilasi.
Tahap demineralisasi bertujuan untuk menghilangkan mineral yang masih terdapat pada
limbah kulit udang.
Larutan HCl (asam encer) berfungsi untuk melarutkan senyawa-senyawa mineral yang
terdapat pada serbuk kulit udang terutama kalsium karbonat.
Pengadukan dilakukan dengan tujuan supaya kitin yang terkandung dalam kulit udang
bereaksi sempurna dengan pelarut (HCl) sehingga gugus amino dapat terbentuk.
Pengadukan juga mencegah terjadinya kegosongan.
Pemanasan pada suhu 90
o
C bertujuan untuk mengoptimalkan fungsi HCl dalam
melarutkan mineral, supaya ikatan antara kitin dengan kalsium karbonat atau bahan
organik yang lainnya dapat terlepas.
Sebelum dicuci, kitin didinginkan dahulu supaya kitin dapat terendapkan sehingga tidak
ikut terbuang ketika dicuci berulang kali.
Pencucian kitin hingga pH netral membantu penghilangan mineral yang terdapat pada
kulit udang.
Semakin tinggi konsentrasi HCl yang ditambahkan, maka rendemen kitin I yang
dihasilkan semakin besar.
Tujuan dari tahap deproteinasi adalah untuk memisahkan atau melepaskan ikatan antara
protein dengan kitin.
9


Tujuan penambahan NaOH adalah untuk melarutkan protein yang masih ada di dalam
kitin hasil dari proses demineralisasi.
Protein merupakan senyawa yang dapat larut di dalam basa kuat tetapi tidak dapat larut di
dalam asam kuat.
Perlakuan deproteinasi dan pencucian membuat rendemen kitin yang diperoleh semakin
rendah.
Tujuan tahap deasetilasi untuk memperoleh kitosan dari kitin dengan melepas gugus
asetil pada kitin.
Penambahan larutan NaOH dan perlakuan pemanasan dengan suhu 90
o
C akan
menyebabkan gugus asetil (CH3CHO
-
) lepas dari kitin.
Semakin besar konsentrasi NaOH yang ditambahkan, maka akan menghasilkan rendemen
kitosan yang besar.
Parameter yang dapat mempengaruhi kitosan yang terbentuk antara lain berat molekul,
viskositas, pH, dan derajat deasetilasi yang mewakili proporsi unit deasetilasi.







Semarang, 20 Oktober 2014 Asisten Dosen,
Praktikan,




Ferra Aprilia K. Stella Gunawan
12.70.0009

10

4. DAFTAR PUSTAKA

Alamsyah, Rizal, et al., (2007). Pengolahan Khitosan Larut dalam Air dari Kulit Udang
sebagai Bahan Baku Industri, http://www.bbia.go.id/ringkasan.pdf. Diakses tanggal 8
Oktober 2013.

Angka, S. L. dan M. T. Suhartono. (2000). Bioteknologi Hasil Laut. Pusat Kajian
Sumberdaya Pesisir dan Lautan. Bogor.

Arbia, W., Leila Arbia, Lydia Adour, Abdeltif Amrane. (2012). Chitin Extraction from
Crustacean Shells by Biological Methods. Universite Europeene de Bretagne. France.

Austin, P.R., Brine, C.J., Castle, J.E. & Zikakis, J.P. (1981). Chitin: New facets of research.
Science, 212(4496), 749753.

Berger, J; M. Reista; J. M. Mayer; O. Felt; N. A. Peppas; R. Gurny. (2004). Structure and
Interactions in Covalently and Ionically CrosslinkedKitosan Hydrogels for Biomedical
Applications. European Journal Of Pharmaceutics And Biopharmaceutics 57 (2004) 19
34.

Burrows, Felicity; Clifford Louime; Michael Abazinge; dan Oghenekome Onokpise. (2007).
Extraction and Evaluation of Kitosan from Crab Exoskeleton as a Seed Fungicide and
Plant Growth Enhancer. American-Eurasian J. Agric. & Environ. Sci., 2 (2): 103-111,
2007.

Dutta, Pradip Kumar., Joydeep Dutta, V.S. Tripathi. (2004). Chitin and Chitosan: Chemistry,
Properties, and Applications. Journal of Scientific & Industrial Research Vol 63,
january 2004, pp 20-31.

Hargono, Abdullah.; & I. Sumantri. (2008). Pembuatan Kitosan dari Limbah Cangkang
Udang serta Aplikasinya dalam Mereduksi Kolesterol Lemak Kambing. Reaktor, Vol.
12 No. 1, Juni 2008, Hal. 53-57.

Hussain, R. M.. Iman, M. & T. K. Maji. (2013). Determination of Degree of Deacetylation of
Chitosan and Their effect on the Release Behavior of Essential Oil from Chitosan and
Chitosan-Gelatin Complex Microcapsules. Tezpur University. India.

Islam, Monarul Md.; Shah Md. Masum; M. Mahbubur Rahman; Md. Ashraful Islam Molla;
A. A. Shaikh; S.K. Roy. (2011). Preparation of Chitosan from Shrimp Shell and
Investigation of Its Properties. International Journal of Basic & Applied Sciences
IJBAS-IJENS Vol: 11 No: 01. Bangladesh.

Kaunas. (1984). Meat, Poultry, and Seafood Technology. Neyes Data Coorporation, USA.

11


Krissetiana, Henny, Mei. (2004). Khitin dan Khitosan dari Limbah Udang.

Manjang, Y. (1993). Analisa Ekstrak Berbagai Jenis Kulit Udang Terhadap Mutu Kitosan,
Jurnal Penelitian Andalas. 12 (V) : 138 143.

Moeljanto. (1992). Pengawetan dan Pengolahan Hasil Perikanan. Penebar Swadaya. Jakarta.

Prasetyo, K.W. (2006). Pengolahan Limbah Cangkang Udang. Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia.

Purwaningsih. 1994. Teknologi Pembekuan Udang. PT Penebar Swadaya. Bogor.

Puvvada, Y. S., Vankayalapati, S. & S. Sukhavasi. (2012). Extraction of Chitin from
Chitosan from Exoskeleton of Shrimp for Application in the Pharmaceutical Industry.
Bapatla College of Pharmacy. India.

Reece, C., dan Mitchell. (2003). Biologi, Edisi kelima-jilid 2, Penerbit Erlangga, Jakarta.

Rogers, E.P. (1986). Fundamental of Chemistry. Books/Cole Publishing Company.
California.Science Published Ltd., England.

Saules, J. E. M., Waliszweski, K. N., Garcia, M. A. & R. C. Camarillo. (2005). The Use of
Crude Shrimp Shell Powder for Chitinase Production by Serratia marcescens WF.
Instituto Potitecnico Nacional. Mexico.

Sevda, S. and McClureb, S. J.. (2004). Potential applications of chitosan in veterinary
medicine. Adv. Drug Delivery Rev., 56, 1467-1480.

Suptijah, P. (2004). Tingkatan Kualitas Kitosan Hasil Modifikasi Proses Produksi. Buletin
Teknologi Hasil Perikanan 56Vol VII Nomor 1.

Winarno, F.G. (1997). Pangan, Gizi, Teknologi dan Konsumen. PT Gramedia Pustaka
Utama. Jakarta.

Zhao, L. M., Shi, L. E., Zhang, Z. L., Chen, J. M., Shi, D. D., Yang, J. & Z. X. Tang. (2011).
Preparation and Application of Chitosan Nanoparticles and Nanofibers. East China
University. China.

12

5. LAMPIRAN

5.1. Perhitungan
Rumus:
Rendemen Chitin I


x 100%
Rendemen Chitin II


x 100%
Rendemen Chitosan


x 100%

D1 Rendemen Chitin I =


Rendemen Chitin II =


Rendemen Chitosan =



D2 Rendemen Chitin I =


Rendemen Chitin II =


Rendemen Chitosan =



D3 Rendemen Chitin I =


Rendemen Chitin II =


Rendemen Chitosan =



D4 Rendemen Chitin I

x 100% = 32,625 %
Rendemen Chitin II

x 100% = 12,171 %
Rendemen Chitosan

x 100% = 8,528 %

D5 Rendemen Chitin I


Rendemen Chitin II


Rendemen Chitosan


13


D6 Rendemen Chitin I

x 100% 5,625 %
Rendemen Chitin II

x 100% 42,635%
Rendemen Chitosan

x 100% 13,547%

5.2. Diagram Alir

5.3. Laporan Sementara