Anda di halaman 1dari 8

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Dismenore
2.1.1 Definisi Dismenore
Dismenore berasal dari bahasa Yunani yaitu dys yang berarti sulit atau
menyakitkan atau tidak normal. Meno berarti bulan dan rrhea yang berarti
aliran. Sehingga dismenore didefinisikan sebagai aliran menstruasi yang sulit atau
nyeri haid (Calis, 2011). Dismenore adalah rasa nyeri selama menstruasi yang
ditandai dengan rasa kram di perut bawah (Simanjuntak, 2008). Dismenore adalah
sakit saat menstruasi sampai dapat mengganggu aktivitas sehari-hari (Manuaba,
2001). Dismenorea didefinisikan sebagai nyeri haid yang sedemikian hebatnya
sehingga memaksa penderita untuk istirahat dan meninggalkan pekerjaan atau
cara hidupnya sehari-hari, untuk beberapa jam atau beberapa hari (Okparasta,
2003).
2.1.2 Epidemiologi Dismenore
Dismenorea dapat dialami lebih dari setengah wanita yang sedang menstruasi, dan
prevalensinya sangat bervariasi. Berdasarkan data dari berbagai negara, angka
kejadian dismenorea di dunia cukup tinggi. Diperkirakan 50% dari seluruh wanita
di dunia menderita dismenorea dalam sebuah siklus menstruasi (Calis, 2011).
Pasien melaporkan nyeri saat haid, dimana sebanyak 12% nyeri haid sudah parah,
37% nyeri haid sedang, dan 49% nyeri haid masih ringan (Calis, 2011).
Di Amerika Serikat diperkirakan hampir 90% wanita mengalami
dismenorea dan 10-15% diantaranya mengalami dismenorea berat,yang
menyebabkan mereka tidak mampu melakukan kegiatan apapun dan ini akan
menurunkan kualitas hidup pada individu masing-masing. Bahkan di perkirakan
para perempuan di Amerika kehilangan 1,7 juta hari kerja setiap bulan akibat
dismenorea(Calis, 2011). Di Pakistan diperkirakan 57% pelajar yang mengalami
dismenore mempunyai efek terhadap pekerjaan mereka (Tariq, 2009).
Universitas Sumatera Utara
Di Indonesia angka kejadian dismenorea primer sebesar 54,89%
sedangkan sisanya adalah penderita tipe sekunder. Dismenorea menyebabkan
14% dari pasien remaja sering tidak hadir di sekolah dan tidak menjalani kegiatan
sehari-hari (Calis, 2011).

2.1.3 Klasifikasi Dismenore
Dismenore diklasifikasikan menjadi 2 yaitu :
1. Dismenore primer
Dismenore primer adalah nyeri haid yang dijumpai tanpa kelainan alat-alat genital
yang nyata (Simanjuntak, 2008). Dismenore primer ini tidak berhubungan dengan
penyebab fisik yang nyata (Morgan, 2009). Dismenore primer biasanya terjadi 6
bulan sampai 12 bulan setelah menars (Holder, 2011). Oleh karena itu, siklus haid
pada bulan pertama setelah menars umumnya berjenis anovulatoar (tidak disertai
dengan pengeluaran ovum) yang tidak disertai dengan rasa nyeri. Rasa nyeri
timbul tidak lama sebelumnya atau bersama-sama dengan permulaan haid dan
berlangsung untuk beberapa jam (Simanjuntak, 2008). Biasanya 8-72 jam
(Holder, 2011). Sifat rasa nyeri ialah kejang berjangkit-jangkit, biasanya terbatas
pada perut bawah, tetapi dapat menyebar ke daerah pinggang dan paha
Simanjuntak, 2008). Bersamaan dengan rasa nyeri dapat dijumpai rasa mual,
muntah, sakit kepala, diare, iritabilitas, dan sebagainya (Polat, 2009).
2. Dismenore sekunder
Dismenore sekunder adalah nyeri haid yang dijumpai dengan adanya kelainan
pada alat-alat genital yang nyata (Simanjuntak, 2008). Dismenore sekunder terjadi
akibat berbagai kondisi patologis seperti endometriosis, salfingitis, adenomiosis
uteri, dan lain-lain (Schwart, 2005). Dismenore sekunder sering terjadi pada usia
>30 tahun, dimana rasa nyeri semakin bertambah seiring bertambahnya umur dan
memburuk seiring dengan waktu (Benson, 2009). Karakteristik nyeri berbeda-
beda pada setiap siklus haid dimana nyeri haid terjadi dengan kelainan patologis
panggul (Simanjuntak, 2008).


Universitas Sumatera Utara
Dismenore diklasifikasikan juda secara klinis,yaitu :
1) Ringan
Berlangsung beberapa saat dan dapat melanjutkan kerja sehari-hari
2) Sedang
Diperlukan obat penghilang rasa nyeri, tanpa perlu meninggalkan kerjanya
3) Berat
Perlu istirahat beberapa hari dan dapat disertai sakit kepala, diare, dan rasa
tertekan (Manuaba, 2001).

2.1.4 Etiologi dismenore
Banyak teori telah dikemukakan untuk menerangkan penyebab dismenore primer,
tetapi patofisiologinya belum jelas dimengerti. Rupanya beberapa faktor
memegang peranan sebagai penyebab dismenore primer, antara lain:
a. Faktor kejiwaan : pada gadis-gadis yang secara emosional tidak stabil, apalagi
jika mereka tidak mendapat penerangan yang baik tentang proses haid, mudah
timbul dismenore (Abedian, 2011).
b. Faktor konstitusi : faktor ini, yang erat hubungannya dengan faktor tersebut di
atas, dapat juga menurunkan ketahanan terhadap rasa nyeri. Faktor-faktor
seperti anemia, penyakit menahun, dan sebagainya dapat mempengaruhi
timbulnya dismenore.
c. Faktor obstruksi kanalis servikalis : salah satu teori yang paling tua untuk
menerangkan terjadinya dismenore primer ialah stenosis kanalis servikalis.
Pada wanita dengan uterus dalam hiperantefleksi mungkin dapat terjadi
stenosis kanalis servikalis, akan tetapi hal ini sekarang tidak dianggap sebagai
sebagai faktor yang penting sebagai penyebab dismenore. Banyak wanita
menderita dismenore tanpa stenosis servikalis dan tanpa uterus dalam
hiperantefleksi. Sebaliknya terdapat banyak wanita tanpa keluhan dismenore,
walaupun ada stenosis servikalis da uterus terletak dalam hiperantefleksi atau
hiperretrofleksi. Mioma submukosum bertangkai atau polip endometrium dapat
menyebabkan dismenore karena otot-otot uterus berkontraksi keras dalam
usaha untuk mengeluarkan kelainan tersebut.
Universitas Sumatera Utara
d. Faktor endokrin, pada umumnya ada anggapan bahwa kejang yang terjadi pada
dismenore primer disebabkan oleh kontraksi uterus yang berlebihan. Faktor
endokrin mempunyai hubungan dengan soal tonus dan kontraktilitas otot usus.
Novak dan Reynolds yang melakukan penelitian pada uterus kelinci
berkesimpulan bahwa hormon estrogen merangsang kontraktilitas uterus,
sedangkan hormon progesteron menghambat atau mencegahnya. Tetapi, teori
ini tidak dapat menerangkan fakta mengapa tidak timbul rasa nyeri pada
perdarahan disfungsional anovulatoar, yang biasanya bersamaan dengan kadar
estrogen yang berlebihan tanpa adanya progesteron.
e. Faktor alergi, teori ini dikemukakan setelah memperhatikan adanya asosiasi
antara dismenore dengan urtikaria, migraine atau asma bronkhiale. Smith
menduga bahwa sebab alergi ialah toksin haid (Simanjuntak, 2008).

Penyebab dari dismenore sekunder biasanya disebabkan oleh kelainan-kelainan
organik, misalnya :
a. Rahim kurang sempurna karena ukurannya terlalu kecil
b. Posisi rahim yang tidak normal
c. Adanya tumor dalam rongga rahim , misalnya myoma uteri
d. Adanya tumor dalam rongga panggul, terutama tumor fibroid, yang letaknya
dekat permukaan selaput lendir rahim, adanya selaput lendir rahim di tempat
lain (Endometriosis), bisa ditemukan di dalam selaput usus, di jaringan
payudara atau di tempat lain. Pada waktu haid, jaringan selaput lendir yang di
luar rahim juga seperti ikut terlepas dan berdarah seperti jaringan aslinya di
dalam rahim.
e. Penyakit-penyakit tubuh lain seperti tuberkulosa, kurang darah (anemia),
buang air besar kurang lancar (constipation), postur tubuh yang terlalu kurus
(Yatim, 2001).

2.1.5 Patofisiologi
Dismenore biasanya terjadi akibat pelepasan berlebihan prostaglandin tertentu,
prostaglandin-F2 , dari sel-sel endomerium uterus. Prostaglandin-F2 adalah
Universitas Sumatera Utara
suatu perangsang kuat kontraksi otot polos miometrium dan konstriksi pembuluh
darah uterus. Hal ini memperparah hipoksia uterus yang secara normal terjadi
pada haid, sehingga timbul rasa nyeri hebat (Corwin, 2009).

2.1.6 Diagnosis dismenore
2.1.6.1 Diagnosis Dismenore primer
Pada gadis perawan yang mengalami nyeri kram ringan cukup dilakukan
pemeriksaan menyeluruh serta pemeriksaan genitalia untuk menyingkirkan
kelainan duktus Mlleri obstruktif. Pada pasien yang lebih tua,terutama yang
mengalami dismenore berat, sebaliknya dilakukan pemeriksaan pelvis menyeluruh
(Schwartz, 2005).

2.1.6.2 Diagnosis Dismenore sekunder
1. Ultrasonografi : untuk mencari tahu apakah terdapat kelainan dalam anatomi
rahim, misalnya posisi, ukuran, dan luas ruangan dalam rahim
2. Histerosalphingografi : untuk mencari tahu apakah terdapat kelainan dalam
rongga rahim, seperti polypendometrium, myoma submukcosa, atau
adenomyosis
3. Histerokopi : untuk membuat gambar dalam rongga rahim, seperti polyp atau
tumor lain.
4. Laparoskopi : untuk melihat kemungkinan adanya endometriosis, dan
penyakit-penyakit laindalam rongga panggul (Yatim, 2001).









Universitas Sumatera Utara
2.1.7 Tatalaksana dismenore
2.1.7.1 Farmakologi
a) Pemberian obat analgesik
Dewasa ini banyak beredar obat-obat analgesik yang dapat diberikan sebagai
terapi simtomatik. Jika rasa nyerinya berat, diperlukan istirahat di tempat tidur
dan kompres panas pada perut bawah untuk mengurangi penderitaan. Obat
analgesik yang sering diberikan adalah preparat kombinasi aspirin, fenasetin,
dan kafein. Obat-obat paten yang beredar di pasaran adalah novalgin, ponstan,
acetaminopen, dan sebagainya (Simanjuntak, 2008).
b) Obat anti inflamasi nonsteroid (NSAID)
NSAID menghambat sintesis prostaglandin dan memperbaiki gejala pada 80%
kasus (Kabirian, 2011). Nasihatkan wanita untuk mengonsumsinya pada saat
atau sesaat
sebelum awitan nyeri 3 kali/hari pada hari pertama hingga ketiga (Sinclair,
2009).
C) Terapi hormonal
Tujuan terapi hormonal adalah menekan ovulasi. Tindakan ini bersifat
sementara dengan maksud untuk membuktikan bahwa gangguan benar-benar
dismenore primer, atau untuk memungkinkan penderita melaksanakan
pekerjaan penting pada waktu haid tanpa gangguan. Tujuan ini dapat dicapai
dengan pemberian salah satu jenis pil kombinasi kontrasepsi (Simanjuntak,
2008). Hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya ovulasi dan menurunkan
produksi prostaglandin karena atrofi endometrium desidual (Martinus, 2010).

2.1.7.2 Nonfarmakologi
a) Penerangan dan nasihat
Perlu dijelaskan kepada penderita bahwa dismenore adalah gangguan yang
tidak berbahaya bagi kesehatan. Hendaknya diadakan penjelasan dan diskusi
mengenai cara hidup, pekerjaan, kegiatan, dan lingkungan penderita.
Kemungkinan salah informasi mengenai haid atau adanya tabu atau takhyul
mengenai haid perlu dibicarakan . nasihat-nasihat mengenai makanan sehat,
Universitas Sumatera Utara
istirahat yang cukup, dan olahraga mungkin berguna. Kadang-kadang
diperlukan psikoterapi (Simanjuntak, 2008). Olahraga dapat mengurangi rasa
nyeri oleh karena terkontrolnya emosional seperi suasana hati dan tekanan
(Lafebvre, 2005)

2.2 Pengetahuan
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, pengetahuan itu berasal dari kata tahu
yang berarti: mengerti sesudah (melihat, mengalami). Pengetahuan merupakan
hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap
suatu objek tertentu (Notoatmodjo, 2005).
Menurut Bloom, pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6
tingkatan, antara lain :
1. Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya dan merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata
kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain
menyebutkan, menguraikan, mendefenisikan, menyatakan, dan sebagainya.
2. Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan
(menyimpulkan) secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat
menginterprestasikan materi tersebut secara banar.
3. Aplikasi (aplication)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah
dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya), misalnya ; rumus statistik
dalam perhitungan hasil penelitian.
4. Analisis (analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek
kedalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam satu struktur organisasi,
dan masih ada kaitannya satu sama lain.
5. Sintesis (synthesis)
Universitas Sumatera Utara
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.

2.3 Sikap
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, sikap adalah suatu perbuatan yang
berdasarkan pada pendirian. Seperti halnya dengan pengetahuan, sikap ini terdiri
dari berbagai tingkatan, yakni
1. Menerima (receiving) diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan
stimulus yang diberikan (objek).
2. Merespons (responding) , dimana memberikan jawaban apabila ditanya,
mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi
dari sikap.
3. Menghargai (valuing) mengajak orang lain untuk mengerjakan atau
mendiskusikan dengan orang lain terhadap suatu masalah adalah suatu indikasi
sikap tingkat tiga.
4. Bertanggung jawab (responsible), bertanggung jawab atas segala sesuatu yang
telah dipilihnya dengan segala risiko merupakan sikap yang paling tinggi
(Notoatmodjo, 2005).












Universitas Sumatera Utara