Anda di halaman 1dari 11

1

1. HASIL PENGAMATAN

Hasil pengamatan karagenan dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Hasil Pengamatan Karagenan
Kelompok Berat awal (gr) Berat kering (gr) % Rendeman
D1 40 2,631 6,578
D2 40 2,421 6,053
D3 40 1,535 3,837
D4 40 1,725 4,312
D5 40 1,941 4,853
D6 40 2,443 6,107

Pada Tabel 1, dapat dilihat bahwa berat awal rumput laut yang digunakan sebesar 40 gram.
Berat kering yang paling besar ditemukan pada kelompok D1 yaitu 2,631 gram. Sedangkan
berat kering yang paling sedikit ditemukan pada kelompok D3 yaitu sebesar 1,535
gram.Untuk persen rendeman, yang paling besar diperoleh kelompok D1 dengan 6,578% dan
yang paling kecil diperoleh kelompok D3 dengan 3,837%.






2

2. PEMBAHASAN

Istini (1998) menjelaskan bahwa rumput laut adalah salah satu sumber devisa negara dan
sumber pendapatan bagi masyarakat daerah laut. Rumput laut dimanfaatkan untuk berbagai
jenis bahan pembuatan makanan, minuman dan obat-obatan. Bahkan beberapa rumput laut
diolah menjadi agar-agar, alginat dan karagenan. Karagenan sendiri adalah senyawa yang
penting dalam industri. Apabila ditinjau dari segi ekonomi, harga olahan dari rumput laut
seperti karagenan jauh lebih tinggi dari pada rumput laut kering. Oleh sebab itu, pengolahan
rumput laut di dalam negeri perlu dikembangkan untuk mengurangi impor dari luar negeri
untuk hasil olahan rumput laut. Selain itu juga dapat meningkatkan nilai tambah dari rumput
laut itu sendiri. Menurut Blakemore (2012), pada industri biasanya digunakan rumput laut
yang kering. Penggunaan rumput laut basah segar dihindari, tidak praktis, dan tidak
dilakukan dengan alasan berikut. Proses pengeringan membuat semua struktur molekul yang
terdiri dari rumput laut basah menjadi lebih erat, hal ini akan membuat komponen non-
karagenan larut, dan akan bercampur dengan ekstrak karagenan murni. Ekstraksi komponen
non-karagenan yang terjadi ketika menggunakan rumput laut segar akan memperparah
sentrifugasi dan penyaringan ekstrak karagenan.

Menurut Campo, et al. (2009), karagenan merupakan polisakarida yang diekstraksi dari
beberapa jenis rumput laut atau alga merah (rhodophyceae). Karagenan termasuk dalam
galaktan tersulfatasi linear hidrofilik. Galaktan tersulfatasi ini diklasifikasikan menurut
adanya unit 3,6-anhydro galactose (DA) dan posisi gugus sulfat. Sedangkan menurut
pendapat Usov (1998), karagenan merupakan polisakarida galaktosa yang diekstraksi dari
rumput laut dan sebagian besar dari karagenan mengandung beberapa senyawa seperti
natrium, magnesium, dan kalsium. Senyawa ini dapat berikatan dengan gugus ester sulfat dari
galaktosa dan kopolimer 3,6-anhydro-galaktosa.

Menurut Van De Velde, et al. (2002), karagenan memiliki berbagai jenis. Tiga jenis
karagenan yang komersial adalah karagenan iota, karagenan kappa, dan karagenan lambda.
Dikenal juga karagenan mu dan karagenan nu. Karagenan mu sendiri merupakan prekursor
karagenan kappa, dan karagenan nu merupakan precursor karagenan iota. Karagenan
komersial mempunyai berat molekul massa rata-rata berkisar antara 400.000 sampai 600.000
Da. Selain galaktosa dan sulfat, beberapa jenis karbohidrat juga dapat ditemui terkandung
3



dalam karagenan, antara lain seperti xylose, glucose, uronic acids, dan substituen seperti
methyl esters dan piruvat.

Menurut Hellebust & Cragie (1978), karagenan terdapat pada dinding sel rumput laut atau
matriks intraselulernya. Karagenan juga merupakan unit penyusun yang cukup besar dari
berat kering rumput laut apabila dibandingkan dengan komponen lain. Jumlah dan posisi
gugus sulfat yang berbeda membuat adanya bermacam-macam polisakarida Rhodophyceae.
Agar dapat diklasifikasikan sebagai karagenan, polisakarida tersebut harus mengandung 20%
sulfat berdasarkan berat kering rumput laut. Berat molekul karagenan cukup tinggi yaitu
sekitar 100 - 800 ribu (de Man 1989).

Menurut Varadarajan, et al. (2009), jenis karagenan kappa secara dominan diperoleh dari
rumput laut yang berada di daerah tropis. Kappaphycus alvarezii lebih dikenal sebagai
Eucheuma cottonii sebagai nama komersialnya merupakan penghasil jenis karagenan kappa.
Eucheuma denticulatum atau yang lebih dikenal dengan Eucheuma spinosum adalah spesies
utama pengahasil karagenan iota. Sedangkan karagenan lamda dihasilkan oleh spesies
Gigartina dan Condrus. Menurut pendapat Hilliou, et al. (2006), karagenan iota dan kappa
dapat diperoleh juga melalui ekstraksi terhadap Mastocarpus stellatus yang akan
menghasilkan karagenan biopolymer yang memiliki struktur yang ideal. Menurut Araujo, et
al. (2012), karagenan iota juga dapat diperoleh melalui ekstraksi enzimatik menggunakan
enzim papain untuk mengisolasi karagenan iota yang terdapat pada Solieria filiformis yang
merupakan golongan Rhodophyceae. Menurut Yudi, et al. (2006) karagenan kappa sering
ditambahkan pada gelatin ikan untuk meningkatkan sifat film nya bersamaan dengan gellan
yang lainnya. Karagenan kappa meningkatkan titik leleh gelatin pada ikan sehingga lebih
efektif digunakan.

Pada praktikum ini, jenis rumput laut yang digunakan adalah Eucheuma cottonii. Menurut
Doty (1985), Eucheuma cottonii merupakan salah satu jenis rumput laut merah
(Rhodophyceae) yang berubah nama menjadi Kappaphycus alvarezii karena jenis karagenan
yang dihasilkan adalah karagenan tipe kappa. Maka rumput laut ini secara taksonomi
bernama Kappaphycus alvarezii (Doty 1986). Namun nama cottonii lebih dikenal dan biasa
digunakan dalam dunia perdagangan nasional maupun internasional.


4



Menurut Doty (1985), klasifikasi Eucheuma cottonii adalah sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisi : Rhodophyta
Kelas : Rhodophyceae
Ordo : Gigartinales
Famili : Solieracea
Genus : Eucheuma
Species : Eucheuma alvarezii / Kappaphycus alvarezii

Menurut Aslan (1998), Eucheuma cottonii mempunyai ciri-ciri fisik yaitu memiliki thallus
silindris, permukaan yang licin, cartilogeneus. Memiliki warna yang tidak selalu tetap,
kadang-kadang dapat berwarna hijau, hijau kuning, abu-abu atau merah. Perubahan warna
terjadi dikarenakan faktor lingkungan. Hal ini karena merupakan proses adaptasi kromatik
yaitu penyesuaian antara proporsi pigmen dengan berbagai kualitas pencahayaan.
Penampakan thallus bervariasi mulai dari bentuk yang sederhana hingga kompleks. Duri-duri
pada thallus bentuknya runcing memanjang, agak jarang-jarang, dan tidak bersusun
melingkari thallus. Batang-batang utamanya bercabang ke berbagai arah dan keluar saling
berdekatan ke daerah pangkal. Menurut Atmadja (1996), Eucheuma cottonii tumbuh melekat
ke substrat dengan alat perekat berupa cakram. Cabang pertama dan kedua dari batang
Eucheuma cottonii tumbuh dengan membentuk rumpun yang rimbun dan memiliki ciri
khusus yaitu selalu mengarah ke arah datangnya sinar matahari.

Langkah-langkah dalam mengekstraksi karagenan yaitu pertama-tama rumput laut basah
ditimbang sebanyak 40 gram. Kemudian dipotong kecil-kecil dan dihaluskan dengan blender.
Proses penghaluskan akan memudahkan proses-proses selanjutnya. Setelah diperoleh tepung
tepung rumput laut, kemudian direbus dalam 500 ml air dengan suhu 80
o
90
o
C selama 1
jam. Menurut Syamsuar (2007), proses pemanasan ini bertujuan untuk melarutkan karagenan.
Pada dasarnya semua karagenan dapat larut dalam air panas. Proses pemanasan juga memiliki
tujuan yaitu untuk mempercepat proses ekstraksi. Proses pemanasan juga mampu
memisahkan kotoran atau bahan yang tidak diperlukan dari rumput laut. Semakin lama waktu
perebusan, kontak antara rumput laut dengan panas akan menyebabkan karagenan terlepas
dari dinding sel sehingga diperoleh nilai rendemen yang tinggi.

5



Dilakukan pengukuran terhadap pH dan pH nya dibuat hingga 8 menggunakan HCl 0,1 N dan
NaOH 10%. Hasil ekstraksi kemudian disaring dengan kain saring bersih dan filtratnya
ditampung dalam wadah. Kemudian ditambah dengan larutan NaCl 10% sebanyak 5% dari
volume filtrat. NaCl ditambahkan untuk meningkatkan kekuatan gel dan membantu proses
pengendapan. Lalu dipanaskan suhu 60
o
C. Setelah dipanaskan, larutan dituang ke wadah
yang berisi cairan IPA sebanyak 300 ml untuk diendapkan dengan cara diaduk selama 10
menit sehingga terbentuk endapan karagenan. Setelah itu direndam lagi dalam larutan IPA
secukupnya hingga endapan karagenan tadi tenggelam. Menurut Aslan (1998), tujuan
penambahan cairan IPA (isopropyl alcohol) adalah untuk mengendapkan serat-serat
karagenan yang telah diekstrak tetapi masih bercampur dengan NaOH. Pengadukan secara
terus-menerus juga harus dilakukan pada proses ini hingga diperoleh serat-serat karagenan.
Kemudian serat karagenan yang berhasil diendapkan, diambil, lalu direndam kembali dalam
cairan IPA secukupnya hingga didapatkan serat karagenan yang lebih kaku. Direndam hingga
diperoleh serat karagenan yang lebih kaku.

Kemudian serat karagenan tersebut dibentuk tipis-tipis. Lalu diletakkan dalam wadah yang
tahan panas dan dikeringkan dalam oven selama 24 jam dengan suhu 35
o
C. Menurut Candra
(2011), tujuan dari perlakuan pengovenan ini adalah untuk mengurangi kadar air pada serat
karagenan, agar diperoleh serat karagenan yang benar-benar kering. Namun tidak dalam suhu
tinggi karena pengovenan dengan suhu tinggi akan mengubah karakteristik fisik karagenan
seperti warna. Apabila dioven dengan suhu tinggi, warnanya akan berubah menjadi coklat.
Setelah dioven, serat karagenan ditimbang dan dihaluskan dengan blender agar diperoleh
tepung karagenan. Setelah itu ditimbang dan dihitung persen rendemennya dengan
menggunakan rumus :



Berdasarkan pada hasil pengamatan, berat awal rumput laut semua kelompok sama yaitu 40
gram. Setelah dioven, berat kering rumput laut pada tiap kelompok berbeda-beda. Berat
kering terbesar pada kelompok D1 yaitu 2,631 gram dan yang terendah pada kelompok D3
yaitu 1,535 gram. Hasil % rendemen yang diperoleh berbanding lurus dengan berat
keringnya. Persen rendemen terbesar diperoleh kelompok D1 dengan 6,578% dan kelompok
D3 yang terendah dengan 3,837%. Menurut Angka (2000), adanya perbedaan hasil rendemen
ini mungkin disebabkan karena pada saat proses penghalusan karagenan kering, banyak
6



karagenan yang terbuang atau mungkin tidak ikut terukur sehingga hasil rendemennya kecil.
Rendemen karagenan penting diketahui karena akan membantu untuk mengetahui efektivitas
perlakuan terhadap hasil akhir. Menurut Chapman (1980), nilai rendemen tidak hanya
dipengaruhi saat proses penghalusan, namun juga dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti
spesies apa yang digunakan, iklim, cara ekstraksi yang digunakan, pemanenan rumput laut
dan lokasi pengambilan rumput laut.
7

3. KESIMPULAN

Rumput laut adalah salah satu sumber devisa negara dan sumber pendapatan bagi
masyarakat daerah laut.
Pada industri biasanya digunakan rumput laut yang kering.
Karagenan merupakan polisakarida yang diekstraksi dari beberapa jenis rumput laut atau
alga merah (rhodophyceae).
Tiga jenis karagenan yang komersial adalah karagenan iota, karagenan kappa, dan
karagenan lambda.
Karagenan mu sendiri merupakan prekursor karagenan kappa, dan karagenan nu
merupakan precursor karagenan iota.
Karagenan merupakan unit penyusun yang cukup besar dari berat kering rumput laut
apabila dibandingkan dengan komponen lain.
Eucheuma cottonii sebagai nama komersialnya merupakan penghasil jenis karagenan
kappa.
Eucheuma spinosum adalah spesies utama pengahasil karagenan iota.
Karagenan lamda dihasilkan oleh spesies Gigartina dan Condrus.
Eucheuma cottonii mempunyai ciri-ciri fisik yaitu memiliki thallus silindris, permukaan
yang licin, cartilogeneus.
Memiliki warna yang tidak selalu tetap, kadang-kadang dapat berwarna hijau, hijau
kuning, abu-abu atau merah.
Penambahan NaCl bertujuan untuk meningkatkan kekuatan gel dan membantu proses
pengendapan.
Penambahan cairan IPA (isopropyl alcohol) adalah untuk mengendapkan serat-serat
karagenan yang telah diekstrak tetapi masih bercampur dengan NaOH.
Pengadukan secara terus-menerus dilakukan hingga diperoleh serat-serat karagenan.
Tujuan dari pengovenan adalah untuk mengurangi kadar air pada serat karagenan, agar
diperoleh serat karagenan yang benar-benar kering.
Adanya perbedaan hasil rendemen ini mungkin disebabkan karena pada saat proses
penghalusan karagenan kering, banyak karagenan yang terbuang atau mungkin tidak ikut
terukur sehingga hasil rendemennya kecil.
8



Nilai rendemen tidak hanya dipengaruhi saat proses penghalusan, namun juga
dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti spesies apa yang digunakan, iklim, cara ekstraksi
yang digunakan, pemanenan rumput laut dan lokasi pengambilan rumput laut.










Semarang, 20 Oktober 2014 Asisten Dosen,
Praktikan,




Ferra Aprilia K. - Aletheia Handoko
12.70.0009 - Margaretha Rani Kirana


9

4. DAFTAR PUSTAKA

Aslan,M., (1998), Budidaya Rumput Laut, Kanisius, Yogyakarta, hal. 89.

Angka SL, Suhartono MT. 2000. Bioteknologi Hasil Laut. Bogor: Pusat Kajian Sumberdaya
Pesisir dan Lautan, Institut Pertanian Bogor.

Atmadja. W.S, 1996. Pengenalan Jenis-Jenis Rumput Laut Indonesia. Puslitbang Oseaanologi
LIPI, Jakarta.

Blakemore, B. (2012). Formaldehyde in Carrageenan and Processed Eucheuma Seaweed.
Marinalg International.

Campo VL, Kawano DF, da Silva Jr DB, Carvaospho I,. 2009. Carrageenans: Biological
properties, chemical modifications and structural analysis. A review. Carbohydrate
Polymers, 77 (2), p.167-180.

Candra B.A. (2011). Karakteristik Pigmen Fikosianin dari Spirulina fusiformis yang
Dikeringkan dan Diamobilisasi. Insitut Pertanian Bogor.
http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/47184/C11bac.pdf?seque
nce=1. Diakses tanggal tanggal 11 September 2014.

Chapman VJ, Chapman DJ. 1980. Seaweed and Their Uses, Third edition. London: Chapman
and Hall.

de Man, M. J. 1989. Kimia Makanan. Penerjemah : K. Padmawinata. ITB-Press. Bandung.

Doty M.S. 1985. Taxonomy of Economic Seaweeds: Eucheuma alvarezii sp.nov (Gigartinales,
Rhodophyta) from Malaysia. California Sea Grant College Program. 37 45.

Hellebust, J. A. Cragie. J. S. 1978. Handbook of Phycological Methods. London. Cambridge
University Press.

Hilliou, L., Larotonda, F.D.S., Abreu, P., Ramos, A.M., Sereno, A.M., M. P. Goncalves. (2006).
Effect of extraction parameters on the chemical structure and gel properties of k/i-
hybrid carrageenans obtained from Mastocarpus stellatusi. Universidade do Porto.
Portugal.

Istini, S. dan Suhaimi., 1998, Manfaat dan Pengolahan Rumput Laut, Lembaga Oseanologi
Nasional, Jakarta.

10



Syamsuar, 2007, Karakteristik Karaginan Rumput Laut Eucheuma cottonii Pada Ber-bagai
Umur Panen, Kosentrasi Koh dan Lama Ekstraksi. Laporan Penelitian. Institut Tekno-
logi Bandung. Bandung. diakses 11 September 2014.

Usov, A. I. (1998). Structural analysis of red seaweed galactans of agar and carrageenan
groups. Food Hydrocolloids, 1998, 12, 301308.

Van de Velde,.F.,Knutsen, S.H., Usov, A.I., Romella, H.S., and Cerezo, A.S., 2002, 1H and
13 C High Resolution NMR Spectoscopy of Carrageenans: Aplication in Research and
Industry, Trend in Food Science and Technology, 13, 73-92.

Varadajan, S. A., Ramli, N., Ariff, A. Said, M. and S. M. Yasir. (2009). Development of high
yielding carragenan extraction method from Eucheuma Cotonii using cellulase and
Aspergillus niger. Universiti Kebangsaan Malaysia. Malaysia.

Yudi, P. Lee, C.M., Park, H.J. (2006). Characterizations of fish gelatin films added with
gellan and kappa-carrageenan. LWT Food Science and Technologu 40(5): 766-774.


11

5. LAMPIRAN

5.1. Perhitungan
Rumus :



Kelompok D1



Kelompok D2



Kelompok D3



Kelompok D4



Kelompok D5



Kelompok D6



5.2. Diagram Alir

5.3. Laporan Sementara