Anda di halaman 1dari 12

Acara V

FIKOSIANIN


LAPORAN RESMI PRAKTIKUM
TEKNOLOGI HASIL LAUT


Disusun oleh :
Nama : Michaela Jessica
NIM : 12.70.0072
Kelompok D6








PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA
SEMARANG


2014

1

1. HASIL PENGAMATAN
Hasil pengamatan fikosianin mikroalga dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Fikosianin Mikroalga
Kel
Berat
Biomassa
Kering (g)
Jumlah Akuades
yang Ditambahkan
(ml)
Total Filtrat
yang Diperoleh
(ml)
OD
615
OD
652
KF
(mg/ml)
Yield
(mg/g)
Keterangan Warna
Sebelum
Dioven
Setelah
Dioven
D1 8 100 50 0,0898 0,0442 0,013 0,081 Biru tua Biru muda
D2 8 100 50 0,0898 0,0439 0,013 0,081 Biru tua Biru muda
D3 8 100 50 0,0894 0,0438 0,013 0,081 Biru tua Biru muda
D4 8 100 50 0,0892 0,0439 0,013 0,081 Biru tua Biru muda
D5 8 100 50 0,0895 0,0439 0,013 0,081 Biru tua Biru muda
D6 8 100 50 0,0896 0,0439 0,013 0,081 Biru tua Biru muda

Dari hasil pengamatan tabel 1, dapat dilihat biomassa kering yang digunakan sama yaitu 8 gram dengan penambahan akuades dalam
jumlah dan jumlah filtrat yang diperoleh sama yaitu 100 ml dan 50 ml. Pada panjang gelombang 615 nm didapatkan OD yang berkisar
antara 0,0892 sampai 0,0898, sedangkan pada panjang gelombang 625 nm, didapatkan nilai OD dengan kisaran 0,0438 sampai 0,0442.
Konsentrasi fikosianin yang didapatkan pada seluruh kelompok sama yaitu 0,013 mg/ml dan yield yang sama pula pada seluruh kelompok
yaitu 0,081 mg/g. Warna fikosianin pada seluruh kelompok juga sama, warna sebelum dioven adalah biru tua sedangkan setelah
pengovenan adalah biru muda.

2

2. PEMBAHASAN
Pada praktikum ini, dilakukan pengamatan pigmen fikosianin. Fikosianin sendiri
diisolasi dari biomassa spirulina yang kemudian diolah menjadi pewarna bubuk. Sesuai
dengan teori dari Raziye (2012), bahwa Spirulina sp. adalah salah satu jenis mikroalga
dalam perairan dan termasuk dalam blue green algae. Disebut sebagai blue green algae
disebabkan karena struktur tubuh spirulina yang terdiri dari filament-filamen berbentk
silinder, tidak bercabang yang berwarna hijau-biru. Spirulina atau jenis alga yang lain
sebenarnya memiliki khlorofil di dalam tubuhnya, sehingga dapat melakukan
fotosintesis, sehingga dapat memproduksi hasil-hasil seperti karbohidrat, lemak, protein,
serat, mineral, vitamin, dan juga pigmen-pigmen yang berbeda-beda setiap jenis
alganya. Senyawa-senyawa hasil dari fotosintesis seperti pigmen dapat berperan sebagai
antioksidan, sehingga bila pigmen tersebut diolah maka akan menjadi produk pangan
yang memiliki nutrisi serta nilai fungsional lain. Seperti jurnal In vitro and in vivo
investigations of the wound healing effect of crude Spirulina extract and C-
phycocyanin oleh Semvili (2013), bahwa Spirulina merupakan salah satu golongan
cyanobacteria yang mengandung kandungan protein, karotenoid, dan mikronutrien
alami lain dan memiliki nilai-nilai fungsional di dalam kesaehatan seperti antialergi,
antiviral, antimutagen, anti kanker, peningkat imunitasm serta beberapa nilai lainnya
yang bergantung dari kandungan kalsium spriulan (Ca-SP) dan C-fikosianin (C-PC) di
dalam spirulina. Fikosianin dalam Spirulina, sp. merupakan pigmen warna biru
kehijauan yang dapat menutupi klorofil di dalam tubuhnya. Pigmen ini yang menjadi
perhatian akhir-akhir ini setelah diisolasinya warna biru fikosianin sebagai pewarna
makanan yang warna birunya masih jarang ditemukan.

Menurut teori dari Marezz, et al. (2013) dalam jurnal Impact of Culturing Media on
Biomass Production and Pigments Content of Spirulina platensis, dalam Spirulina,
terdapat beberapa pigmen seperti klorofil (147.43g ml-1), karotenoid (139.88g ml-1),
dan juga kandungan pigmen phycobiliprotein yaitu fikosianin (55.37 g ml-1) dan
allofikosianin. Fikosianin sendiri merupakan pigmen protein yang memiliki warna biru
dan terletak dalam sistem tilakoid pada membrane sitoplasma, sehingga dapat diketahui
bahwa pigmen fikosianin dominan di dalam spirulina sehingga mikroalga ini memiliki
warna biru kehijauan. Menurut Seo (2013), fikosianin termasuk dalam golongan
3


phycobiliproteins atau dapat disebut sebagai chromoproteins. Pigmen yang diamati dari
jenis ini seperti blue phycocyanin. Warna biru pada fikosianin menurut Devanathan
(2012) inilah yang menjadi perhatian, karena pewarna biru yang aman bagi makanan
masih jarang didapatkan. Sehingga dengan adanya pigmen ini pada Sprulina sp. dapat
dimanfaatkan sebagai bahan pewarna dalam industri pangan, industri kosmetik, dan
farmasi.

Sesuai dari teori Song, et al. (2013) dalam jurnal A Large-Scale Preparation Method of
High Purity C-Phycocyanin, dinyatakan bahwa fikosianin merupakan pigmen yang
dibentuk dari ikatan subunit polipeptida dan , yang dapat diabsorbansi pada panjang
gelombang antara 610 nm hingga 620 nm, serta memiliki massa molekul 140-210 kDa.
Fikosianin ini sangat sensitif terhadap perubahan temperatur dan pH karena ikatan
polipeptida penyusunnya. Maka dari itu perlu diperhatikan beberapa faktor-faktor dalam
mengisolasi pigmen fikosianin dari spirulina supaya dihasilkan ekstrak pigmen dengan
tingkat kemurnian dan stabilitas yang baik.

Pada isolasi fikosianin ini, pertama-tama dimasukkan biomassa spirulina dalam bentuk
bubuk ke dalam Erlenmeyer dan ditambahkan akuades ke dalamnya dengan
perbandingan 2:25 (spirulina : akuades). Akuades ditambahkan dengan tujuan untuk
melarutkan spirulina, supaya pelarutan yang dilakukan sempurna, maka dilakukan
pengadukan dengan stirrer selama 2 jam untuk memastikan spirulina telah terlarut
sempurna ke dalam akuades. Setelah itu, larutan spirulina disentrifugasi pada kecepatan
5000 rpm selama 10 menit untuk mendapatkan supernatant yang berisi fikosianin,
sedangkan endapannya tidak terpakai. Sesuai dengan Silveira et al. (2007) bahwa proses
sentrifugasi ditujukan untuk memisahkan endapan dengan supernatant dari larutan,
dimana pada supernatant terdapat kandungan fikosianin yang telah terisolasi. Selain itu
juga dapat memisahkan antara fase cair dan fase padat dari fikosianin, sehingga ketika
akan dilakukan pengujian kadar fikosianin tidak akan terganggu oleh zat-zat/padatan
pengotor.

Supernatan yang berisi fikosianin tersebut diukur kadar fikosianinnya menggunakan
spektrofotometer pada panjang gelombang 615 nm dan 652 nm. Penggunaan panjang
gelombang tersebut sesuai dengan teori dari Song (2013) bahwa warna pigmen
4


fikosianin dapat dideteksi pada kisaran panjang gelombang 610 nm hingga 620 nm.
Sebanyak 8 ml supernatan diambil dan dimasukkan ke dalam loyang dan ditambahkan
dekstrin sebanyak 10 gram (perbandingan 1:1,25 yaitu fikosianin:dekstrin) pada
masing-masing kelompok. Kemudian diaduk hingga rata dan diratakan di atas
permukaan loyang, dan dihindarkan supaya larutan tidak terlalu tebal di atas loyang
karena akan mempengaruhi proses pengeringan setelahnya. Setelah rata, maka loyang
dimasukkan dalam oven untuk mengeringkan fikosianin pada suhu 45C, hingga dicapai
kadar air kurang lebih 7%. Tahap kekeringan yang diinginkan bisa dilihat apakan
fikosianin sudah terlihat kering atau masih menggempal. Dengan pengeringan pada
suhu yang tidak terlalu tinggi, maka membutuhkan waktu yang cukup lama untuk
mendapatkan fikosianin yang benar-benar kering. Pengeringan yang dilakukan hanya
menggunakan suhu 45
o
C, yang telah sesuai dengan teori dari Metting dan Pyne (1986)
yang berkata bahwa fikosianin yang dikeringkan pada suhu lebih dari 60
o
C, akan
mengakibatkan fikosianin terdegradasi dan memacu reaksi maillard. Namun bila
dikeringkan secara konvensional dengan sinar matahari, sangat tidak direkomendasikan
karena selain timbul bau yang tidak diinginkan, juga akan meningkatkan bakteri pada
produk. Oleh karena itu pengeringan dengan suhu 45
o
C telah cukup efektif. Selain itu
dalam jurnal Duangsee, et al., (2009) dengan judul Phycocyanin extraction from
Spirulina platensis and extract stability under various pH and temperature, bahwa
efisiensi ekstraksi fikosianin sangat dipengaruhi oleh temperature. Pada penelitiannya
dikatakan bahwa maksimum efektifitas ekstraksi adalah menggunakan suhu 44oC
seperti yang dilakukan pada praktikum ini, karena pada suhu tersebut akan diuji
kekuatan ion dari larutan buffer. Selain itu kestabilan dari fikosianin juga harus
diperhatikan yaitu pH 5. Di bawah pH 5, seperti pH 3 akan membuat fikosianin sangat
sensitive terhadap panas dan cepat mengalami perubahan yang tidak diinginkan.

Sebelum dilakukan pengovenan, terlebih dahulu dilakukan penambahan dekstrin pada
larutan fikosianin. Menurut Norman dan Pother (19790, dekstrin adalah salah satu
komponen dalam maltodekstrin bersama dengan maltose, glukosa, serta oligosakarida.
Dekstrin sendiri berfungsi untuk mengisi rendemen pada produk akhir. Maltodekstrin
adalah produk hidrolisis yang memiliki kandungan -D-glukosa dengan DE kurang dari
20 dan terikat ke dalam ikatan 1,4 glikosidik. Maltodekstrin biasanya berfungsi sebagai
bahan emulsifier atau bahan pengental (thickening agent), biasanya maltodekstrin
5


dimanfaatkan pada produk-produk serbuk. Menurut Srihari Endang (2010), struktur
molekul maltodekstrin adalah spiral sehingga dapat memerangkap molekul flavor dalam
bentuk spiral helix, sehingga dalam proses pengolahan seperti pengeringan yang
dilakukan dalam praktikum menggunakan oven, dapat menekan hilangnya komponen-
komponen tertentu. Sehingga selain yang telah dijelaskan bahwa dekstrin berfungsi
sebagai bahan pengisi, juga mencegah terjadinya kerusakan bagi fikosianin selama
proses pengeringan dalam oven. Penggunaan dekstrin sebagai pelindung dari fikosianin
ini merupakan salah satu contoh metode mikroenkapsulasi yang menurut Khin, et al
(2006) merupakan teknik dalam melapisi butiran-butiran droplet pada bahan yang
dikeringkan. Metode perlindungan ini akan menjaga bahan aktif pada produk yang
dikeringkan seperti pigmen yang sensitive terhadap pemanasan dan oksidasi, dari
kerusakan yang dapat terjadi.

Dari hasil pengamatan yang dilakukan, seperti dilihat pada tabel 1. Didapatkan
konsentrasi fikosianin yang dapat dihitung dengan rumus:
Konsentrasi fikosianin (KF) =


Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan, dapat diketahui bahwa nilai absorbansi
akan semakin tinggi diikuti dengan semakin tinggi konsentasi dan kekeruhan suatu
larutan, sehingga semakin tingginya nilai absorbansi yang diperoleh, maka
menunjukkan konsentrasi dari yield fikosianin yang tinggi. Fox (1991) juga telah
menyatakan bahwa dengan nilai OD akan menjadi parameter kekeruhan suatu larutan,
yang bila semakin keruh yang dalam praktikum ini berwarna biru, maka larutan akan
semakin besar konsentrasi fikosianinnya. Dapat diihat dari rumus yang ada bahwa nilai
dari yield (hasil panen) fikosianin dari biomassa spirulina yang diisolasi akan
berbanding lurus dengan konsentrasi dari fikosianin, maka bila konsentrasinya tinggi,
yield juga akan semakin tinggi. Pada hasil praktikum, dapat dilihat bahwa konsentrasi
fikosianin dan yield hampir sama-sama rendah untuk setiap kelompok karena memang
perlakuan yang diberikan seragam untuk setiap kelompok. Selain itu juga dapat dilihat
warna yang dihasilkan setelah perlakuan pengeringan dengan oven semakin muda dan
lebih pucat bila dibandingkan dengan bahan yang belum dioven. Hal ini dapat terjadi
karena pigmen mengalami kerusakan selama proses pengeringan, karena pigmen
6


sensitive terhadap pemanasan. Selain itu menurut Angka dan Suhartono (2000),
konsentrasi dekstrin yang ditambahkan pada fikosianin, membuat warna lebih
cenderung muda dan pucat. Maka dari itu hasil praktikum warna fikosianin telah sesuai
dengan teori yang ada dimana hasil warna setelah proses pengovenan akan menjadi
lebih pucat/muda/pudar, bila dibandingkan dengan warna sebelum dilakukan
pemanasan atau pengeringan dalam oven.

Pada jurnal dengan judul Effect of Carbon Content, Salinity and pH on Spirulina
platensis for Phycocyanin, Allophycocyanin and Phycoerythrin Accumulation oleh
Sharma, et al. (2014), dilakukan pengujian efektifitas ekstraksi pada fikobiliprotein
yang terdiri dari tiga pigmen seperti fikosianin, allofikosianin, dan fikoeritrin. Pada
penelitian beliau dibuktikan bahwa faktor pH dan salinitas sangat mempengaruhi
kandungan pigmen pada spirulina. Berdasarkan penelitian tersebut didapatkan
fikobiliprotein akan meningkat pada penambahan 0,4M NaCl dengan pH netral.



7

3. KESIMPULAN

Spirulina merupakan kelompok cyanobacteria yang termasuk dalam jenis blue
green algae, yang memiliki beberapa pigmen seperti karotenoid, klorofil, dan
fikosianin.
Fikosianin memiliki warna biru alami yang dapat digunakan sebagai pewarna alami
dalam makanan.
Penambahan akuades ditujukan untuk mengekstrak dan melarutkan fikosianin di
dalam Sprulina karena sifatnya yang larut dalam air.
Proses sentrifugasi ditujukan untuk pemisahan antara supernatant dengan endapan
dari larutan fikosianin.
Dekstrin ditambahkan sebelum pengeringan, yang ditujukan untuk mempercepat
pengeringan, sebagai bahan pengisi fikosianin, mencegah kerusakan fikosianin
karena pemanasan, melapisi komponen flavor yang dihasilkan, meningkatkan total
padatan fikosianin serta memaksimalkan jumlah fikosianin yang dihasilkan.
Semakin tinggi konsentrasi yang dihasilkan, maka warna pigmen fikosianin menjadi
semakin muda dan pucat.
Pengeringan fikosianin juga akan memudarkan warna pigmen, sehingga suhunya
harus diatur dibawah 60
o
C karena bila terlalu tinggi akan menyebabkan fikosianin
terdegradasi dan terjadi reaksi maillard.
Nilai OD (optical density) akan ditentukan dari kejernihan dan konsentrasi larutan,
semakin keruh larutan yang diuji, maka nilai OD akan berbanding lurus juga akan
semakin tinggi pula.

Semarang, 20 Oktober 2014
Praktikan, Asisten Dosen,
- Agita Mustikahandini



Michaela Jessica V.
(12.70.0072)

8

4. DAFTAR PUSTAKA

Devanathan J., Ramanathan N. (2012). Pigment Production from Spirulina platensis
Using Seawater Supplemented with Dry Poultry Manure. Journal of Algal
Biomass Utilization Vol. 3 (4): page 66 73. Tamilnadu, India.

Duangsee R., Phoopat N. and Ningsanond S. (2009). Phycocyanin Extraction from
Spirulina platensis and Extract Stability under various pH and Temperature. Asian
Journal of Food and Agro-Industry Vol. 2 No. 4: page 819 - 826. Bangkok,
Thailand.

Fox, P. F. (1991). Food Enzymologi Vol 1. Elsevier Applied Sciences. London

Khin, M. M.; Zhou, W.; Yeo, S.Y. (2006). Mass Transfer in the Osmotic Dehydration
of Coated Apple Cubes by Using Maltodextrin as the Coating Material and Their
Textural Properties. Journal of Food Engineering. USA.

Norman, N. and Pother, 1979. Food Science, Second Edition, The Avi Publishing
Company, New York.

Raziye U.T., Tarhan Leman. (2012). Th e relationship between the antioxidant system
and phycocyanin production in Spirulina maxima with respect to nitrate
concentration. Turk J. Bot Vol 36: page 369 - 377. Turkey.

Song Wenjun, Cuijuan Zhao, and Suying Wang. (2013). A Large-Scale Preparation
Method of High Purity C-Phycocyanin. International Journal of Bioscience,
Biochemistry and Bioinformatics, Vol. 3, No. 4: page 293 297. Tianjin, China.

Srihari Endang, Farid Sri Lingganingrum, Rossa Hervita, Helen Wijaya S. (2010).
Pengaruh Penambahan Maltodekstrin Pada Pembuatan Santan Kelapa Bubuk.
Universitas Diponegoro. Semarang.

Yong Chang Seo, Woo Seok Choi, Jong Ho Park, Jin Oh Park, Kyung-Hwan Jung and
Hyeon Yong Lee. (2013). Stable Isolation of Phycocyanin from Spirulina platensis
Associated with High-Pressure Extraction Process. International Journal of
Molecular Sciences Vol.14: page 1778 1787. Korea

Metting B dan Pyne JW. (1986). Biologically Active Compounds from Microalga.
Journal of Enzyme Microb. Tech. Vol. 8. Butterworth and Co Publish.
Silveira, S. T.; Burkert, J. F. M.; Costa, J. A. V.; Burkert, C. A.V.; Kalil, S. J.(2007).
Bioresour.Technol.,98, 1629
Semvili, et al. (2013). In vitro and in vivo investigations of the wound healing effect of
crude Spirulina extract and C-phycocyanin. Journal of Medicinal Plants Research
Vol. 7(8), pp. 425-433, 25 February, 2013.
9


Marezz, et al. (2013). Impact of Culturing Media on Biomass Production and Pigments
Content of Spirulina platensis. International Journal of Advanced Research (2013),
Volume 1, Issue 10, 951-961
Sharma, et al., (2014). Effect of Carbon Content, Salinity and pH on Spirulina platensis
for Phycocyanin, Allophycocyanin and Phycoerythrin Accumulation. J Microb
Biochem Technol 2014, 6:4.

10

5. LAMPIRAN
5.1. Perhitungan
Konsentrasi Fikosianin/KF (mg/ml) =

615
-0,474 (
652
)
5,34

Yield (mg/g) =
ol (otal iltrat)
erat biomassa (g)


Kelompok D1
OD
615
= 0,0898
OD
652
= 0,0442
KF =

= 0,013 mg/ml
Yield =

= 0,081 mg/g

Kelompok D2
OD
615
= 0,0898
OD
652
= 0,0439
KF =

= 0,013 mg/ml
Yield =

= 0,081 mg/g

Kelompok D3
OD
615
= 0,0894
OD
652
= 0,0438
KF =

= 0,013 mg/ml
Yield =

= 0,081 mg/g

Kelompok D4
OD
615
= 0,0892
OD
652
= 0,0439
KF =

= 0,013 mg/ml
Yield =

= 0,081 mg/g
11


Kelompok D5
OD
615
= 0,0895
OD
652
= 0,0439
KF =

= 0,013 mg/ml
Yield =

= 0,081 mg/g
Kelompok D6
OD
615
= 0,0896
OD
652
= 0,0439
KF =

= 0,013 mg/ml
Yield =

= 0,081 mg/g

5.2. Foto


Gambar 1. Warna fikosianin D1-D6 (kiri-kanan); kiri: sebelum dioven;
kanan:setelah dioven



Gambar 1. Serbuk fikosianin

5.3. Laporan Sementara
5.4. Diagram Alir