Anda di halaman 1dari 7

32

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian penjelasan (explanatory research) yang
dalam pelaksanaannya, dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif.
Pendekatan kualitatif dipilih oleh peneliti karena mampu memberikan pemahaman
yang mendalam dan rinci mengenai suatu peristiwa atau gejala sosial, serta
mampu menggali realitas dan proses sosial maupun makna yang didasarkan pada
pemahaman yang berkembang dari subyek yang diteliti (Sitorus, 1998).
Pendekatan kualitatif didasarkan oleh realitas sosial, yakni didasarkan pada fakta
tentang perilaku manusia. Menurut Sitorus (1998), realitas sosial adalah fakta
perilaku manusia harus dipahami dari subyek pandang titeliti. Selain itu, Sitorus
(1998) juga mengungkapkan bahwa perilaku manusia itu selalu bersifat subyektif,
artinya setiap individu secara subyektif mengenakan makna dan maksud tertentu
terhadap setiap tindakan sosialnya.
Metode penelitian yang dilakukan adalah metode non survey. Metode non
survey digunakan untuk merekam data yang dapat ditangkap melalui metode studi
kasus, yakni untuk memperoleh wawasan dan pemahaman mendalam mengenai
kebijakan penataan ruang dan mengenai aspek-aspek dari kebijakan penataan
ruang yang memberi peluang terjadinya alih fungsi lahan di tingkat pelaksana
kebijakan dan di tingkat masyarakat dalam hal ini petani serta pemanfaatan
peluang tersebut oleh pihak swasta. Pada tingkat pelaksana dapat diidentifikasi
dengan melakukan pemahaman mendalam mengenai perencanaan, pelaksanaan,
dan pengendalian terkait dengan kebijakan penataan ruang itu sendiri. Sementara
itu di tingkat petani, diterapkan untuk mengetahui posisi tawar petani terhadap
penetapan kebijakan penataan ruang wilayah. Selain itu, digunakan juga untuk
melihat bentuk pemanfaatan peluang dari kebijakan yang dimanfaatkan oleh pihak
swasta. Lebih lanjut, pemahaman mendalam dilakukan untuk menggali hubungan
antara kebijakan penataan ruang dengan alih fungsi lahan pertanian.

33



Metode non survey pada pelaksanaannya di lapangan dilakukan dengan
menggunakan wawancara mendalam, pengamatan berperan serta terbatas, maupun
penelusuran (analisis) data sekunder sebagai instrumennya. Strategi studi kasus
yang diterapkan oleh peneliti diharapkan mampu menghindari terbatasnya
pemahaman yang diikat oleh suatu teori tertentu dan yang hanya berdasar pada
penafsiran peneliti. Tipe studi kasus yang dilakukan dalam penelitian ini adalah
studi kasus instrumental. Menurut Stake (dalam Sitorus, 1998), studi kasus
instrumental merupakan kajian atas suatu kasus khusus untuk memperoleh
wawasan atas suatu isu atau wawasan untuk penyempurnaan teori. Dalam hal ini
kasus dipilih secara sengaja menyangkut pilihan lokasi yang mampu
merepresentasikan permasalahan mengenai implikasi kebijakan penataan ruang
terhadap alih fungsi lahan pertanian di Kampung Cibereum Sunting, Kelurahan
Mulyaharja, Kota Bogor secara mendalam. Penelitian ini juga memiliki suatu
kekhususan dan hal inilah yang membuat permasalahan yang diteliti menjadi lebih
menarik.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Pilihan lokasi dilakukan secara sengaja. Lokasi penelitian ini, yaitu
Kampung Cibereum Sunting, Kelurahan Mulyaharja, Kecamatan Bogor Selatan,
Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat. Beberapa alasan pemilihan lokasi, antara lain:
1. Kajian di lokasi penelitian ini dapat menjawab permasalahan pokok studi ini
secara mendalam dan spesifik.
2. Lokasi tercakup dalam salah satu daerah pinggiran kota (semi-urban)
metropolitan dengan dinamika masalah pembangunan yang sering terjadi di
dalamnya, seperti alih fungsi lahan yang banyak terjadi untuk berbagai
kepentingan. Di satu sisi alih fungsi lahan ini menguntungkan bagi
kepentingan pemanfaat baru namun di sisi lain dapat merugikan bagi
pemanfaat lama.
3. Berdasarkan Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK) Bogor Selatan Tahun
2002-2012, terdapat alokasi peruntukkan permukiman hingga mencapai
2.309,67 hektar atau 74,96 persen (Data Dinas Penataan Ruang Kota Bogor).
Lokasi ini merupakan wilayah alih fungsi lahan, dimana sebagian dan hampir
34



keseluruhan dari total wilayah di Kampung Cibereum Sunting Kelurahan
Mulyaharja, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat,
telah beralih fungsi menjadi kompleks perumahan yang pada awalnya adalah
lahan pertanian produktif.
Penelitian ini dilakukan pada bulan September-November 2009, dengan
perincian jadwal tercantum pada lampiran. Kurun waktu penelitian yang
dimaksud mencakup waktu semenjak peneliti intensif berada di lokasi penelitian,
sehingga penjajagan tidak termasuk dalam kurun waktu tersebut. Penjajagan awal
dilakukan pada Juni akhir hingga pertengahan Juli 2009.

3.3 Penentuan Satuan Analisis
Pemilihan subyek pada penelitian ini dilakukan melalui penggunaan teknik
bola salju (snow balling). Selain itu, subyek penelitian juga dipilih berdasarkan
kemampuannya memberikan pemahaman terhadap aspek masalah yang sedang
diteliti. Satuan analisis adalah petani pemilik. Satuan analisis tersebut ditentukan
secara sengaja (purposif) berdasarkan informasi yang diperoleh dari informan.
Satuan analisis ini dibedakan menjadi informan (orang yang memberikan
informasi umum tentang suatu hal) dan responden (orang yang memberikan
informasi tentang dirinya sendiri).
Informan adalah pejabat dan perangkat Dinas Penataan Ruang Kota
Bogor, perangkat Dinas Tata Pemerintahan Kota Bogor, perangkat Dinas Cipta
Karya Kota Bogor, pejabat dan perangkat Kantor Pertanahan, pejabat dan
perangkat Kelurahan Mulyaharja, dan pejabat PT. A. Pejabat dan perangkat Dinas
Penataan Ruang Kota Bogor memberi informasi umum tentang Kebijakan
Penataan Ruang Kota Bogor. Perangkat Dinas Tata Pemerintahan Kota Bogor
berkompeten memberikan informasi terkait dengan mekanisme perizinan lokasi.
Perangkat Dinas Cipta Karya Kota Bogor berkompeten memberikan informasi
terkait dengan pengendalian pemanfaatan ruang Kota Bogor. Pejabat dan
perangkat Kantor Pertanahan Kota Bogor memberi informasi umum tentang
peraturan pertanahan. Pejabat dan perangkat Kelurahan Mulyaharja memberikan
informasi terkait dengan gambaran umum lokasi Kelurahan Mulyaharja,
pemberian surat keterangan tanah dari kelurahan, dan data petani-petani yang
35



menjual lahan pertaniannya. Pejabat PT. A memberikan informasi terkait dengan
proses pengalihfungsian lahan pertanian ke bentuk penggunaan usaha komersial.
Berdasarkan informasi dari informan, penulis dapat menemukan lokasi penelitian
yang dapat mempresentasikan mengenai topik yang dikaji, responden yang
diteliti, dan informasi mengenai topik yang dikaji .
Responden adalah masing-masing individu, seperti perangkat Dinas
Penataan Ruang Kota Bogor, perangkat Dinas Ciptakarya, dan petani pemilik.
Perangkat Dinas Penataan Ruang Kota Bogor dan perangkat Dinas Ciptakarya
berkompeten memberikan informasi terkait dengan mekanisme atau proses
operasionalisasi penataan ruang di lapangan. Sementara itu, petani pemilik
berkompeten memberikan informasi terkait dengan kehidupan sosial-ekonomi
mereka dan alih fungsi lahan pertanian yang terjadi.

3.4 Teknik Pengumpulan Data
Data primer penelitian dikumpulkan melalui tiga metode, antara lain
sebagai berikut:
1. Wawancara mendalam
Teknik wawancara mendalam bertujuan untuk memperoleh data
primer dan deskriptif yang dilakukan terhadap responden dan informan.
Responden dan informan diketahui melalui penggunaan teknik bola salju
(snow balling). Pemilihan informan, pada awalnya dilakukan secara
sengaja (purposif) dengan mendatangi pejabat dan perangkat Dinas
Penataan Ruang Kota Bogor, perangkat Kantor Pertanahan, pejabat dan
perangkat Kelurahan Mulyaharja, dan pejabat PT. A. Selanjutnya,
informasi yang diperoleh akan menggiring pada responden atau titeliti.
Responden itu sendiri merupakan pihak yang akan memberi keterangan
mengenai diri dan keluarganya. Sementara informan adalah pihak yang
akan memberi keterangan tentang pihak lain, lingkungan, dan berbagai hal
yang terkait dengan penelitian ini. Penentuan informan dan responden
melalui teknik sengaja (purposif) dan bola salju (snow balling), dapat
digambarkan sebagai berikut:

36



Gambar 3 Proses Penentuan Informan dan Responden



























Sumber: Dikumpulkan oleh penulis selama penelitian (2009)









































Purposive
Pejabat Dinas Penataan
Ruang Kota Bogor:
RDM

Pejabat Kantor
Pertanahan:
HNX

Pejabat
Kelurahan
Mulyaharja:
USX
Snow Balling


BRD
(Perangkat
Kantor
Pertanahan)









Snow Balling

Pejabat PT. A:
ZKA
BEN
(Perangkat
Kelurahan)
Mulyaharja)
UJG
(Perangkat
Kelurahan)
Mulyaharja)
UJP (Petani)
SSI (Petani)
BSR
(Perangkat
Kelurahan
Mulyaharja)

WWN (Petani)
AJH (Petani)
OIN (Petani)
BDN (Petani)
IYD (Petani)
DYT
(Petani dan RT)
CCC (Petani)
MDM (Petani)
Perangkat Dinas
Penataan Ruang:
RAB&ARD
Perangkat
Dinas Tata
Pemerintahan:
EDY
Perangkat
Dinas Cipta
Karya:
NDN
Keterangan :
Menunjukkan Proses
Arah Informasi

37



2. Pengamatan Berperanserta Terbatas
Pengamatan berperan serta terbatas dilakukan agar peneliti dapat
melihat, merasakan, dan memaknainya sehingga memungkinkan
pembentukan pengetahuan secara bersama. Pengamatan berperan serta
yang dilakukan penulis terbatas pada berpartisipasinya penulis dalam
beberapa kegiatan bersama, misalnya dalam hal pemantauan tata laksana
implemetasi kebijakan tata ruang wilayah.
3. Penelusuran (analisis) Data Sekunder
Data sekunder diperoleh dengan menganalisis dan melakukan kajian
pustaka terhadap berbagai literatur, yakni skripsi, tesis, disertasi, buku,
jurnal, makalah, dan informasi dari internet yang terkait dengan topik
penelitian. Kajian literatur ini membantu penulis dalam mengumpulkan
data di lapangan, maka penulis membuat panduan pertanyaan yang
digunakan sebagai pedoman dalam pengumpulan data. Selain itu, analisis
data sekunder juga dilakukan terhadap dokumen yang diperoleh di lokasi
penelitian, seperti monografi dan potensi desa, peta lokasi, dan data
statistik.

3.5 Teknik Analisis Data
Analisis data mulai dilakukan ketika pengumpulan data dilakukan. Adapun
teknik analisis data yang digunakan adalah analisis data kualitatif. Data kualitatif,
yakni baik data primer yang dituangkan dalam catatan lapang maupun data
sekunder yang telah dikumpulkan oleh peneliti diolah dan dianalisis secara
kualitatif. Adapun tahapannya melalui tahap reduksi yang bertujuan untuk
menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu, dan
mengorganisasikan data sedemikian rupa sehingga menghasilkan suatu bentuk
penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Penyajian data kualitatif ini dilakukan
dalam bentuk deskripsi dan matrik.
Pereduksian data primer dilakukan peneliti melalui peringkasan data yang
sudah dijabarkan dalam catatan lapang yang ditulis selama penelitian. Kemudian
data yang telah diperoleh dianalisis untuk mengetahui informasi penting yang
harus dipertajam terkait dengan kebijakan penataan ruang dan alih fungsi lahan
38



pertanian yang terjadi di Kampung Cibereum Sunting, Kelurahan Mulyaharja,
Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat. Selama pereduksian
data, terdapat informasi yang tidak terkait dengan masalah penelitian sehingga
dilakukan proses pembuangan informasi tersebut. Sementara itu, informasi yang
belum jelas terkait dengan masalah penelitian, dipertanyakan kembali kepada
informan dan responden yang bersangkutan, sehingga diperoleh data yang valid.
Pereduksian data sekunder dilakukan peneliti melalui pemilihan dan
penggolongan data. Pemilihan dan penggolongan data yang dilakukan, bertujuan
untuk memperoleh data yang diperlukan untuk melengkapi dan mendukung data
primer. Selain itu, hasil pereduksian data sekunder juga bertujuan untuk
memperdalam kajian terhadap permasalahan penelitian. Setelah pereduksian data,
penyusunan hasil penelitian disempurnakan dengan merevisi kerangka berpikir
yang disesuaikan dengan situasi (keadaan) di lapang. Tujuannya adalah untuk
membantu peneliti menarik suatu kesimpulan yang dapat mengarahkan pada
kesimpulan berikutnya. Hasil penyusunan kesimpulan akhir kemudian diverifikasi
dengan membandingkan antara teori dengan realita di lapang untuk memperkuat
keabsahan data.