Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang

Lereng adalah permukaan bumi yang membentuk sudut kemiringan tertentu dengan bidang
horizontal. Lereng dapat terbentuk secara alamiah karena proses geologi atau karena dibuat oleh
manusia. Lereng yang terbentuk secara alamiah misalnya lereng bukit dan tebing sungai, sedangkan
lereng buatan manusia antara lain yaitu galian dan timbunan untuk membuat jalan raya dan jalan
kereta api, bendungan, tanggul sungai dan kanal serta tambang terbuka.
Suatu longsoran adalah keruntuhan dari massa tanah yang terletak pada sebuah lereng
sehingga terjadi pergerakan massa tanah ke bawah dan ke luar. Longsoran dapat terjadi dengan
berbagai cara, secara perlahan-lahan atau mendadak serta dengan ataupun tanpa tanda-tanda yang
terlihat.
Setelah gempa bumi, longsoran merupakan bencana alam yang paling banyak
mengakibatkan kerugian materi maupun kematian. Kerugian dapat ditimbulkan oleh suatu longsoran
antara lain yaitu rusaknya lahan pertanian, rumah, bangunan, jalur transportsi serta sarana
komunikasi.
Analisis kestabilan lereng harus berdasarkan model yang akurat mengenai kondisi material
bawah permukaan, kondisi air tanah dan pembebanan yang mungkin bekerja pada lereng. Tanpa
sebuah model geologi yang memadai, analisis hanya dapat dilakukan dengan menggunakan
pendekatan yang kasar sehingga kegunaan dari hasil analisis dapat dipertanyakan.
Beberapa pendekatan yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan metode-metode seperti :
metode stereografis tepatnya dengan menggunakan stereonet dari Schmidt untuk menentukan
besaran dari safety factor lereng tesebut.


1.2 Tujuan dan Manfaat
Tujuan dari analisis kestabilan lereng antara lain adalah sebagai berikut:
1. Merupakan dasar bagi rancangan lereng setelah mengalami longsoran.
2. mempelajari cara menganalisis arah dari bidang diskontinue pada lereng menggunakan stereonet
3. Memperkirakan kestabilan lereng dengan menghitung safety factornya
4. Mempelajari pengaruh gaya gaya pada kestabilan lereng.

1.3 batasan masalah
Laporan ini berisi tentang analisa stabilitas lereng dengan menggunakan metode stereografis
tepatnya menggunakan stereonet Schmidt . kemudian hasil dari proyeksi stereografis tersebut
dihuting secara manual untuk mendapatkan nilai dari safety factor.
Bab III
Dasar teori
Analisis kemantapan lereng (slope stability) diperlukan sebagai pendekatan untuk memecahkan
masalah kemungkinan longsor yang akan terjadi pada suatu lereng. Lereng pada daerah
penambangan dapat mengalami kelongsoran apabila terjadi perubahan gaya yang bekerja pada
lereng tersebut. Perubahan gaya ini dapat terjadi karena pengaruh alam atau karena aktivitas
penambangan.
Kemantapan lereng tergantung pada gaya penggerak (driving force) yaitu gaya yang menyebabkan
kelongsoran dan gaya penahan (resisting force) yaitu gaya penahan yang melawan kelongsoran yang
ada pada bidang gelincir tersebut serta tergantung pada besar atau kecilnya sudut bidang gelincir
atau sudut lereng.
Menurut Prof. Hoek (1981) kemantapan lereng biasanya dinyatakan dalam bentuk faktor keamanan
yang dapat dirumuskan sebagai berikut:
F = Gaya penahan / Gaya penggerak
Dimana: Fk > 1 berarti lereng aman
Fk = 1 berarti lereng dalam keadaan seimbang
Fk < 1 berarti lereng dianggap tidak stabil
Penelitian terhadap kemantapan suatu lereng harus dilakukan bila longsoran lereng yang mungkin
terjadi akan menimbulkan akibat yang merusak dan menimbulkan bencana. Kemantapan lereng
tergantung pada gaya penggerak dan penahan yang ada pada lereng tersebut. Gaya penggerak
adalah gaya-gaya yang mengakibatkan lereng longsor. Sedangkan gaya penahan adalah gaya-gaya
yang mempertahankan kemantapan lereng tersebut. Jika gaya penahannya lebih besar dari gaya
penggerak, maka lereng tersebut dalam keadaan mantap.
1. Faktor faktor yang mempengaruhi suatu kestabilan lereng
tegangan dan bidang lemah merupakan beberapa penyebab kelongsoran. Tegangan yang
merupakan akibat dari geometri lereng dan bidang lemah mempengaruhi kestabilan lereng.kedua
factor tersebut sangat mempengaruhi kestabilan lereng. Lebih lengkapnya, Faktor-faktor yang
mengganggu
kestabilan lereng adalah; geometri lereng, air tanah, bidang lemah, kekuatan
batuan utuh dan faktor luar;

2.1 Geometri lereng,
Makin tinggi lereng, makin besar risiko yang akan dihadapi. Hal ini
disebabkan karena makin tinggi lereng, maka makin besar perubahan tegangan
(stress) yang dapat menyebabkan konsentrasi tegangan pada kaki lereng serta
dengan makin besarnya geometri, maka ketersingkapan struktur pun akan makin
besar (Gambar 2.1) yang menyebabkan terjadinya kelongsoran blok batuan.
Tegangan (stress) yang terkonsentrasi pada suatu area yang sempit akan
melampaui kekuatan batuan, sehingga batuan akan pecah dan memprovokasi
kelongsoran. Tegangan yang hadir pada lereng ini disebabkkan karena adanya
perubahan beban (hilangnya beban) diatas dan disamping bidang lereng.
Pada beberapa daerah dimana tektonik stress hadir atau adanya stress
residu horisontal, maka pengaruh geometri ini akan makin besar.
2.2 Bidang lemah
Kekuatan massa batuan merupakan gabungan dari kekuatan batuan utuh,
kondisi air tanah dan kondisi/posisi/geometri serta frekwensi bidang diskontinyu.
Jika batuan utuh makin kuat serta bidang lemah makin sedikit dan makin kuat,
maka massa batuan akan makin kuat. Selain itu pula adanya kehadiran bidang
lemah yang cukup lebar/panjang harus diperhitungkan secara tersendiri karena
akan menjadi faktor penentu kelongsoran.
Kondisi bidang lemah yang harus diperhitungkan adalah
- lebar bidang lemah; makin lebar jarak antar sisi-sisi bidang lemah, maka
batuan akan makin lemah
- kondisi pelapukan sisi-sisi batuan bidang lemah; makin lapuk sisi-sisi batuan
bidang lemah maka bidang lemah tersebut akan makin lemah
- jenis pengisi bidang lemah; jika pengisi kuarsa maka bidang lemah akan
makin kuat, sebaliknya jika pengisi adalah lempung maka bidang lemah akan
makin lemah
- orientasi bidang lemah; bidang lemah yang berisiko longsor adalah bidang
lemah yang searah dan lebih landai dari kemiringan lereng
- kekasaran bidang lemah, makin kasar maka bidang lemah akan makin kuat

gMbar
Kondisi bidang lemah yang harus diperhitungkan adalah
- lebar bidang lemah; makin lebar jarak antar sisi-sisi bidang lemah, maka
batuan akan makin lemah
- kondisi pelapukan sisi-sisi batuan bidang lemah; makinlapuk sisi-sisi batuan
bidang lemah maka bidang lemah tersebut akan makin lemah
- jenis pengisi bidang lemah; jika pengisi kuarsa maka bidang lemah akan
makin kuat, sebaliknya jika pengisi adalah lempung maka bidang lemah akan
makin lemah
- orientasi bidang lemah; bidang lemah yang berisiko longsor adalah bidang
lemah yang searah dan lebih landai dari kemiringan lereng
- kekasaran bidang lemah, makion kasar maka bidang lemah akan makin kuat
2.3 Air tanah.
Pada batuan sangat berpengaruh jika ada bidang lemah yang terisi oleh air
karena akan menyebabkan meningkatkan tegangan terhadap bidang lemah
tersebut. Selain itu air dapat mengikis pengisi ruang antar bidang lemah,
melapukan sisi bidang lemah dan melarutkan mineral - mineral sulfida. Pada
beberapa kasus, air dapat menjadi faktor utama ketidakstabilan lereng terutama
pada lereng tanah.

2.4 Getaran
Getaran dapat diakibatkan oleh gempa bumi, getaran alat berat ataupun
peledakan. Getaran menyebabkan berpindahnya suatu massa dalam frekwensi
tertentu yang mengakibatkan timbulnya gaya dorong pada suatu blok batuan,

Dalam keadaan proses longsoran pada batuan dibedakan menjadi 4, yaitu :
a. Longsoran Bidang (Plane Failure)
b. Longsoran Baji (Wedge Failure)
c. Longsoran Busur (Circulair Failure)
d. Longsoran Guling (Toppling Failure)


Longsoran Baji (Wedge Failure)
Longsoran baji dapat terjadi pada suatu batuan jika terdapat lebih dari satu bidang lemah yang
bebas saling berpotongan. Sudut perpotongan antara bidang lemah tersebut harus lebih besar
dari sudut geser dalam batuan. Bidang lemah ini dapat berupa bidang sesar, rekahan maupun
bidang perlapisan. Cara longsoran baji dapat melalui salah satu beberapa bidang lemahnya, atau
melalui garis perpotongan kedua bidang lemahnya.
Syarat terjadinya longsoran baji : Longsoran baji terjadi bila dua buah jurus bidang diskontinu saling
berpotongan dan juga memotong muka lereng. Kemudian arah kemiringan garis potong kedua
bidang tersebut searah dengan arah kemiringan muka lereng, dan sudut garis potong kedua bidang
diskontinu (
i
) lebih besar dari sudut geser dalam () dan lebih kecil dari sudut kemiringan lereng
(
fi
). Longsoran terjadi menurut garis potong kedua bidang tersebut.
3. Analisis longsoran dengan menggunakan proyeksi stereografis
Bila suatu lereng terdapat pada batuan luar yang mempunyai bidang-bidang diskontinu seperti
perlapisan, sesar, kekar, liniasi, dll., maka analisisnya dapat dilakukan dengan cara proyeksi
stereografis dengan berdasarkan orientasi bidang diskontinu dan orientasi lereng, serta besarnya
sudut geser dalam pada bidang diskontinu. Tetapi perlu diperhatikan bahwa cara ini hanya dapat
mengetahui arah gaya-gaya yang bekerja serta arah luncuran, sedangkan besarnya gaya-gaya
tersebut tidak diketahui. Untuk mengetahui besarnya gaya-gaya harus dibantu dengan cara analitik.