Anda di halaman 1dari 51

GIZI KERJA

&
PENYELENGGARAAN MAKANAN
DI TEMPAT KERJA




DIREKTORAT JENDERAL
PEMBINAAN PENGAWASAN KETENAGAKERJAAN
KEMENTERIAN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI R.I.

Untuk meningkatkan produktifitas kerja
diperlukan perlindungan kesehatan kerja
Salah satu bentuk perlindungan kesehatan kerja
adalah program gizi kerja & penyelenggaraan
makanan di tempat kerja (GK & PMTK)
GK merupakan salah satu penentu kapasitas
kerja yang mempengaruhi tingkat kesehatan dan
produktivitas tenaga kerja
Permasalahan terkait :
a) Kurangnya pemahaman & perhatian pengusaha maupun
tenaga kerja
b) Makanan sering diberikan dalam bentuk uang
c) Sering terjadinya kasus keracunan makanan di tempat
kerja
Pendahuluan
Penyelenggaraan makan di tempat kerja menentukan
tingkat kecukupan kebutuhan makan bagi tenaga
kerja.
Secara langsung, apabila tenaga kerja mendapatkan
konsumsi makan yang sesuai dengan jenis atau
beban kerjanya maka produktivitas kerjanya akan
optimal.
Secara tidak langsung apabila kebutuhan makan
tenaga kerja sehari-hari terpenuhi sesuai beban
kerjanya, maka kesehatannya akan terpelihara
sehingga tingkat produktivitas kerjanya juga dapat
dipertahankan.
Prevalensi dari gejala-gejala kelelahan, pusing-
pusing serta sakit kepala cukup banyak dijumpai
pada perusahaan yang tidak menyediakan makanan
bagi tenaga kerjanya, utuk itu pemberian makanan di
tempat kerja sangat penting untuk melindungi tenaga
kerja dari berbagai penyakit sehinga tingkat
kesehatan tenaga kerja dapat ditingkatkan
Ruang Lingkup
Definisi/Istilah
Spesifikasi Zat Gizi
Faktor-faktor yang mempengaruhi keadaan gizi tenaga
kerja
Kebutuhan dan kecukupan zat gizi bagi tenaga kerja
Perhitungan kebutuhan energi yang diperlukan untuk
melaksanakan pekerjaan
Prinsip-prinsip penyelenggaraan makanan bagi tenaga
kerja di tempat kerja
Mekanisme Penyelenggaraan makanan bagi tenaga kerja
Rekomendasi perusahaan katering pengelola makanan bagi
tenaga kerja.
Apa yang saudara ketahui tentang gizi ? Apa macam zat gizi ?
Apa yang saudara ketahui tentang gizi kerja ?
Berapa kebutuhan kalori tenaga kerja ?
a) Bagaimana cara menyediakan makanan
b) Berapa yang harus diberikan
c) Apa dan kapan makanan diberikan
Apa yang saudara ketahui tentang penyelenggaraan makanan
bagi tenaga kerja ?
Apa yang saudara ketahui tentang Perusahaan katering
pengelola makanan bagi tenaga kerja ?
Bagaimana penyelenggaraan makanan bagi tenaga kerja harus
dilakukan ?
Apa syarat2 yang harus dipenuhi dalam penyelenggaraan
makanan bagi tenaga kerja ?
Keracunan makan di tempat kerja, bagaimana
menanggulanginya ?
GK & PMTK
Zat Gizi (Nutrient)
Unsur Gizi :
Hidrat arang/karbohidrat
Lemak
Protein
Vitamin, Mineral dan air
Unsur Non Gizi :
Penyedap rasa (MSG)
Pewarna
Pengawet dll.
Fungsi Zat Gizi :
Tenaga (karbohidrat, lemak, protein)
Pembangun (protein)
Pengatur (Vitamin, mineral)
Pelarut (air)
Pengertian

Kerja adalah gerak daripada badan dan pikiran seseorang
untuk menghasilkan barang atau jasa guna memelihara
kelangsungan hidup dan memuaskan kebutuhan.

Gizi kerja adalah penyediaan dan pemberian zat gizi
kepada tenaga kerja sesuai dengan pekerjaan yang
dilakukan selama berada di tempat kerja guna
mendapatkan tingkat kebutuhan dan produktivitas kerja
setinggi-tingginya.
Penyelenggaraan makanan bagi tenaga
kerja :

Rangkaian kegiatan yang meliputi
penyusunan anggaran belanja makanan,
perencanaan menu,
penagadaan atau pembuatan bahan makanan,
penerimaan dan penyimpanan bahan makanan,
persiapan dan pemasakan makanan,
penilaian,
pengemasan,
distribusi atau penyajian makanan di tempat kerja.

Pengertian
1. Meningkatkan dan mempertahankan kemampuan
kerja
2. Mengatasi kelelahan dan persiapan tenaga untuk kerja
kembali
3. Meningkatkan derajat kesehatan
4. Menurunkan absenteisme
5. Meningkatkan produktivitas
6. Terciptanya hubungan timbal balik pengusaha dan
pekerja maupun antar pekerja
7. Suasana kerja menyenangkan dan meningkatkan
motivasi dan gairah kerja
KEUNTUNGAN MEMBERIKAN MAKANAN
DI TEMPAT KERJA
GIZI KERJA DAN PRODUKTIVITAS
1. Haggard & Greenberg :
Setelah 3 4 jam kerja terus menerus --- kadar gula darah mencapai
titik terendah
Pemberian makanan tambahan setiap 2 jam, kadar gula dan
efisiensi kerja tetap dalam tingkat opimal.

2. Kraunt & Muller :
Pemberian makanan dengan kalori ditingkatkan == produktivitas
meningkat

3. Darwin Karyadi :
Kebiasaan tidak makan pagi sebelum kerja menyebabkan konsumsi
kalori, protein, lemak dan vitamin serta mineral rendah.
Pekerja yang makan 2 x sehari banyak menderita anemia dibanding
yang makan 3 x sehari

4. FAO :
Energi mempengaruhi produktivitas
Protein, mineral dan vitamin mempengaruhi efisiensi kerja.
PEMBERIAN MAKANAN DAN KEMAMPUAN KERJA
(Semenov, V.I., 1974)
Jam Kerja
0
2 1 3 5 4 8 6 7 9
A
100
80
60
40
20
B1 B
A1
C1
C
%
Penggunaan
Energi Kalori
cadangan dalam
tubuh
Faktor yang mempengaruhi kebutuhan gizi
Ukuran tubuh (tinggi, berat)
Usia
Jenis kelamin
Kondisi tubuh
Iklim dan kondisi lingkungan
Tingkat aktivitas
Peraturan Perundangan Yang Terkait
1. U.U. No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
2. Kepmendagri No. 130-67 tahun 2002 tentang Pengakuan
Kewenangan Kabupaten dan Kota
3. Permennakertrans No. Per. 03/Men/1982 tentang Pelayanan
Kesehatan Kerja
4. PMP No. 7 tahun 1964 tentang Syarat kesehatan, Kebersihan,
serta Penerangan Dalam Tempat Kerja
5. Instruksi Mennaker No. Ins. 03/M/BW/1999 tentang
Pengawasan Terhadap Pengelolaan Makanan di Tempat Kerja
6. SE. Mennakertrans No. SE. 01/Men/1979 tentang Pengadaan
Kantin dan Ruang Makan
7. SE. Dirjen Binawas No. SE. 86/BW/1989 tentang Perusahaan
Catering Yang Mengelola Makanan bagi Tenaga Kerja.

Pasal 3, syarat-syarat Keselamatan Kerja :
Mencegah timbulnya peracunan, infeksi dan penularan
penyakit
Memelihara kebersihan, kesehatan dan ketertiban di tempat
kerja
Pasal 5, Pengawasan :
Direktur, pegawai pengawas, Ahli K3
Pasal 9, Pembinaan :
Pengurus wajib mentaati syarat dan ketentuan yang berlaku
U.U. No. 1 Tahun 1970
tentang Keselamatan Kerja
Kewenangan Bidang Ketenagakerjaan
khususnya perlindungan tenaga kerja :
Bimbingan pencegahan kecelakaan kerja
Bimbingan kesehatan kerja
Bimbingan pembentukan P2K3
Pengawasan Norma K3
Pemeriksaan Kecelakaan kerja
Pemberdayaan pelaksanaan kegiatan Ahli K3
Pemberdayaan pelaksaan kegiatan PJK3

Kepmendagri No. 130-67 tahun 2002 tentang
Pengakuan Kewenangan Kabupaten dan Kota
Ps. 2 Tugas Pokok Pelayanan Kesehatan Kerja :
Memberikan nasehat mengenai gizi serta penyelenggaraan
makanan di tempat kerja
Pasal 5, Penyelenggaraan pelayanan kesehatan kerja :
Dipimpin dan dijalankan oleh dokter yang disetujui oleh
Direktur
Permennakertrans No. Per. 03/Men/1982
tentang Pelayanan Kesehatan Kerja
1. Syarat-syarat tempat kerja meliputi :
Bangunan, halaman, dapur, penerangan, air minum,
wc, tempat duduk, ventilasi dll.
2. Syarat penyelenggaraan makan di tempat kerja
(Pasal 8)
PMP No. 7 tahun 1964 tentang Syarat Kesehatan,
Kebersihan, serta Penerangan Dalam Tempat Kerja
Syarat penyelenggaaan makan di tempat kerja
(Psl. 8 PMP No. 7 tahun 1964)
Dapur, kamar makan dan alat keperluan makan harus selalu bersih
dan rapih
Dapur dan kamar makan tidak boleh berhubungan langsung dengan
tempat kerja
Makanan & minuman yang disediakan harus memenuhi syarat2
kesehatan.
Majikan harus menyediakan pakaian/schort & tutup kepala yang
bersih bagi pegawai penjamah makanan untuk dipakai sewaktu
melayani makan/minum.
Pegawai penjamah makanan & minuman :
harus bebas penyakit menular dan harus selalu menjaga kebersihan
badannya
mendapat pendidikan kebersihan & kesehatan
sebelum bekerja hrs diperiksa kesehatan badannya disertai pemeriksaan
rontgen paru-paru
Pemeriksaan kesehatan berkala setiap 1 tahun sekali
tidak boleh melayani makanan selama menderita suatu penyakit sampai
dinyatakan sehat kembali oleh dokter

Ketentuan dapur dan ruang makan :
1. Letak dapur tidak jauh dari ruang makan dan
tidak berhubungan langsung dengan tempat
kerja.
2. Fasilitas dapur dan ruang makan cukup
memadai
3. Keadaan/kondisi dapur dan ruang makan :
mudah dibersihkan,
penerangan cukup,
ventilasi memadai, tidak menyebarkan
panas/bau/uap,
lantai tidak licin,
ruangan cukup dan bebas dari serangga dan
binatang mengerat.
Ketentuan Petugas Penyelenggara Makanan
(Food Handler)
1. Bebas Penyakit menular (TBC paru, thypus, Cacingan),
dinyatakan dg surat keterangan dokter
2. Mempunyai pengetahuan ttg kebersihan, kesehatan diri
& cara mengelola makanan
3. Tidak mempunyai kebiasaan buruk yg tidak sehat
4. Disiplin memakai alat pelindung pakaian kerja, celemek,
sarung tangan, tutup kepala, masker dll) & tidak
merokok sewaktu bekerja
5. Sebaiknya tidak mengunakan perhiasan
6. Pekerja yang muntah dan diare di tempat kerja, di
rumah atau di tempat lain dan menderita infeksi segera
melapor kepada supervisor

Bebas Penyakit menular :
TBC paru >>> Foto Ro Paru2
Thypus >>> Periksa Lab darah (Widal test)
Cacingan >>> Periksa Tinja (cacing & telor
cacing )
Pengawasan oleh pegawai pengawas KTK
Pemeriksaan dengan formulir Pemeriksaan
Perusahaan Jasa Boga :
Persyaratan tenaga kerja
Persyaratan kesehatan bahan dan penyimpanan
makanan
Persyaratan sanitasi lingkungan dan fasilitas
pengelolaan makanan
Ins. Menaker No. Ins. 03/M/BW/1999 tentang Pengawasan
Terhadap Pengelolaan Makanan di Tempat Kerja :

Perusahaan dengan Tk 50 200 : menyediakan tempat
ruang makan di perusahaan
Perusahaan dengan TK > 200 : menyediakan kantin
di perusahaan
SE Mennaker No. SE. 01/Men/1979 tentang
Pengadaan Kantin dan Ruang Makan:
Harus terlibih dahulu mendapatkan rekomendasi dari
Depnaker (Disnaker setempat)
Kandepnaker (Disnaker) melaksanakan pembinaan
dan monitoring
SE. Dirjen Binawas No. SE. 86/BW/1989 tentang
Perusahaan Katering yang Mengelola Makanan Bagi
Tenaga Kerja
Penyelenggaraan Makan
di Tempat Kerja
Penyelenggaraan makanan
Petugas penyelenggara
Sistem pelayanan
Susunan menu
Dapur dan Ruang makan
Higiene sanitasi

Penyelenggaraan Makan
1. Arus Kerja :
Penerimaan bahan
Penyimpanan bahan
Pemasakan
Penghidangan
Pembersihan
Pembuangan sampah
2. Cara penyelenggaraan :
Perusahaan sendiri
Kerjasama dengan perusahaan lain
Perusahaan jasa boga dengan sistem borongan
Penyelenggaraan Makan
1. Bebas Penyakit menular (Pemeriksaan Kesehatan)
2. Mempunyai pengetahuan ttg kebersihan,
kesehatan, cara mmengelola makanan
3. Tidak mempunyai kebiasaan buruk
4. Disiplin (memakai Alat pelindung, topi, pakaian,
tidak merokok dll)

Petugas /Penjamah
Sistem Pelayanan
Sistem Kafetaria (porsi diatur)
Sistem catu (lauk pauk diporsikan, nasi dan
sayur ambil sendiri)
Sistem prasmanan (ambil sesuai kebutuhan
dan selera)
Sistem kotak (untuk kerja di lapangan)
Susunan Menu

Menu bervariasi
Kandungan gizi seimbang
Menarik dan rasa enak
Dapat mencukupi kebutuhan kalori dengan
porsi yang dapat dihabiskan
Bahan makanan yang biasa dimakan
Dapur dan Ruang Makan

Letak dapur (tidak jauh ruang makan, tdk
berhub. langsung dg tempat Kerja)
Fasilitas dan ruang makan cukup memadai
Keadaan/kondisi dapur dan ruang makan
(mudah dibersihkan, penerangan cukup,
ventilasi, lantai tidak licin, tidak panas, tidak bau,
ruangan cukup, bebas serangga)
Higiene Dan Sanitasi
Bahan makanan dan lingkungan (sumber, keadaan, cara
mengangkut/mengepak)
Tenaga penjamah (sertifikat sehat, pemeriksaan kes.
Berkala, kebiasaan menjaga higiene perorangan)
Pemasakan/pengolahan (peralatan, sarung tangan,
pakaian kerja)
Distribusi (wadah bersih dan tertutup, alat pemanas)
Transportasi (alat angkut bersih)
Menyimpan (rapi dan terjaga kebersihannya)
Konsumsi (cuci tangan, cuci muka & kumur-kumur)
pakaian bebas debu)
1. SUMBER BAHAYA SPESIFIK.
Listrik
Gas bertekanan
Api dan bahan-bahan mudah terbakar
Radiasi elektromagnetik seperti microwave.
Cara kerja.
Bahan kimia berbahaya.
Peralatan.
Pengelolaan limbah.
Lingkungan kerja.
K3 SPESIFIK DALAM PENYELENGGARAAN
MAKANAN DI TEMPAT KERJA
2. PENCEGAHAN KECELAKAAN LISTRIK
Ground Fault Circuit Interupters (GFCIs) harus dipasang
apabila daerah tersebut basah. Dengan pemasangan
graunding yang merupakan alat proteksi arus lebih sehingga
tidak menyebabkan tersentuh arus listrik.
Exposed Receptable Boxs (kotak kontak) harus dibuat dari
bahan tidak konduktif.
Plug dab receptacles (tusuk kontak) harus di design secara
baik
Panel-panel listrik harus diberi label agar jelas setiap circuit
breaker.
Pekerja harus mengetahui SOP agar tidak kontak dengan arus
Pelatihan pekerja dalam penggunaan peralatan pengamanan
dan cara mencari bantuan pada keadaan darurat.
Perawatan perlengkapan listrik untuk penyelenggaraan
makanan di tempat kerja.
3. PENCEGAHAN KECELAKAAN DI LOKASI
PENYIAPAN MAKANAN
Lantai basah dan berminyak ditutup dengan
bahan yang anti slip.
Tumpahan makanan dan cairan, pecahan
piring/gelas harus segera dibersihkan.
Di tempat permukaan yang licin, harus
menggunakan sepatu anti slip.
Jangan berdiri di kursi, bangku atau boks-boks
untuk mengambil sesuatu di tempat yang tinggi,
gunakanlah tangga untuk mencapai tempat
tersebut.
Kereta/ lorry, boks-boks dan sampah jangan
sampai menggangu tempat lalu lalang di tempat
kerja.
4. PENCEGAHAN KECELAKAAN DARI PERALATAN
DAPUR
Peralatan dapur kondisi baik, disimpan dengan
rapi dan tertata, agar dalam penggunaannya
mudah diambil dan tidak terjadi kecelakaan.
Peralatan makan ditata baik, jangan ada yang
rusak, cacat, retak/pecah yang dapat
mengakibatkan luka.
Penggunaan oven microwave, stoves, dll. harus
memperhatikan petunjuk yang ada agar terhindar
dari bahaya radiasi elektromagnetik.
Penggunaan bahan pembersih, deterjen,
desinfektan, dan larutan-larutan kimia lainnya
harus sesuai dengan petunjuk pemakaian.
Pekerja harus memakai alat pelindung diri yang
sesuai
5. ALAT PEMADAM API RINGAN (APAR)

Pekerja di dapur harus mendapat pelatihan
bagaimana menggunakan APAR.
Pekerja di dapur harus mengetahui prosedur
evakuasi dan pelaporan apabila terjadi
kebakaran.
APAR harus ditempatkan pada tempat yang
mudah dicapai secara cepat dan harus diperiksa
secara rutin.
REKOMENDASI PERUSAHAAN KATERING PENGELOLA
MAKANAN BAGI TENAGA KERJA
Surat Edaran Dirjen Bina Hubungan Ketenagakerjaan dan
Pengawasan Norma Kerja No. SE. 86/BW/1989 tentang
Perusahaan Katering Yang Mengelola Makanan Bagi Tenaga
Kerja :
Setiap perusahaan katering yang mengelola makanan pada
perusahaan-perusahaan harus terlebih dahulu mendapatkan
rekomendasi dari Depnaker.(dalam hal ini adalah Disnaker
setempat).
Rekomendasi diberikan berdasarkan persyaratan-persyaratan
kesehatan, hygiene dan sanitasi
Setiap Kantor Depnaker agar melaksanakan
pembinaan/penataan kepada perusahaan-perusahaan catering
yang beroperasi di daerahnya, khususnya mengenai hygiene,
sanitasi dan penanggulangan keracunan makanan.
Setiap Kantor Depnaker agar memonitor tindak lanjut
perusahaan-perusahaan catering tersebut di wilayahnya.
1. mengajukan permohonan kepada Bupati/Walikota c.q.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi setempat.
2. Permohonan dibuat rangkap 2 (dua) disertai lampiran:
Salinan akte perusahaan
Salinan Surat Ijin Usaha Perusahaan (SIUP)
Salinan surat keterangan domisili perusahaan
Salinan bukti NPWP perusahaan
Salinan wajib lapor ketenagakerjaan
Daftar peralatan yang dimiliki sesuai jenis usahanya
Struktur organisasi perusahaan
Pernyataan pengelola catering untuk mentaati peraturan
perundangan ketenagakerjaan
Salinan surat keterangan sehat bagi petugas penjamah
makanan, untuk penyakit menular; infeksi kulit, thypoid, TBC,
Cacing.
Salinan bukti telah mengikuti pelatihan pengelolaan makanan
bagi tenaga kerja untuk pengelola dan petugas penjamah
makanan.
Pas foto
REKOMENDASI PERUSAHAAN KATERING
PENGELOLA MAKANAN BAGI TENAGA KERJA
Pemeriksaan ke lokasi perusahaan dengan formulir
pemeriksaan sesuai dengan lampiran Surat Edaran
Dirjen Binawas No. SE. 86/BW/1989 yang menyangkut
masalah:
Persyaratan tenaga kerja
Persyaratan pimpinan perusahaan
Persyaratan kesehatan makanan
Persyaratan kesehatan pengelolaan makanan
(sanitasi lingkungan dan fasilitas pengelolaan
makanan).
REKOMENDASI PERUSAHAAN KATERING
PENGELOLA MAKANAN BAGI TENAGA KERJA
Jenis Kegiatan Kebutuhan Kalori
(Per Kg BB/Jam)
Tidur
Duduk istirahat
Membaca keras
Berdiri
Berdiri dengan perhatian
Menyulam
Menyanyi
Jahit dengan mesin
Mengetik cepat
Menyeterika
Cuci piring
Menyapu
Menjilit buku
Latihan ringan
Membuat sepatu
Menggergaji kayu
Jalan cepat
Jalan naik tangga
0,95
1,10
1,50
1,50
1,63
1,66
1,74
1,94
2,00
2,05
2,06
2,41
2,43
2,43
2,57
6,86
9,25
15,80

KEBUTUHAN KALORI UNTUK TINGKAT AKTIVITAS YANG
DILAKUKAN
(Sumber : Standar Gizi Kerja Depnakertrans 1994/1995)
Usia 25 tahun
BB Laki-laki 55 Kg dan Wanita 47 kg
Suhu lingkungan kerja 25
0
C

Tingkat Aktivitas Laki-laki (55 kg) Wanita (47 kg)
(Kalori 24 Jam) (Kalori 24 Jam)

Kerja ringan 2.400 1.900
Kerja sedang 3.200 2.200
Kerja Berat 3.900 3.100
Usia 25 tahun
BB Laki-laki 55 Kg dan Wanita 47 kg
Suhu lingkungan kerja 25
0
C


Tingkat Kebutuhan Laki-laki Wanita
Aktivitas Kalori Per Kg (Kalori) (Kalori)
BB/Jam 8 Jam Kerja 8 Jam Kerja
Kerja ringan 1,7 750 650
Kerja sedang 2,5 1100 950
Kerja Berat 5,0 2200 1900
KEBUTUHAN KALORI UNTUK TINGKAT AKTIVITAS YANG
DILAKUKAN
(Sumber : Standar Gizi Kerja Depnakertrans 1994/1995)
Usia 20 - 59 tahun
BB Laki-laki 62 Kg dan Wanita 54 kg


Tingkat Aktivitas Laki-laki Protein Wanita Protein
(Kalori 24 Jam) (Kalori 24 Jam)

Kerja ringan 2.800 55 2.050 48
Kerja sedang 3.000 55 2.250 48
Kerja Berat 3.600 55 2.600 48
KEBUTUHAN KALORI UNTUK TINGKAT AKTIVITAS YANG
DILAKUKAN
(Sumber : Standar Gizi Kerja Depnakertrans 1994/1995)
PENANGANAN KASUS
KERACUNAN MAKANAN DI TEMPAT KERJA
1. Memeriksa data umum perusahaan yang meliputi;
a) Identitas perusahaan
b) Informasi kasus keracunan makanan (tempat, tanggal,
sumber laporan),
c) Lain-lain (P2K3, program Jamsostek)
2. Memeriksa data korban;
a) Identitas korban (Jumlah korban, Nama, NIP, jenis kelamin,
unit kerja)
b) Riwayat penyakit dan keluhan korban
c) Pemeriksaan kesehatan kerja sebelumnya
d) Pemeriksaan kesehatan sekarang
3. Memeriksa hasil laboratorium sample makanan
a) Sumber keracunan
b) Adanya sample makanan
c) Hasil laboratorium
4. Upaya yang telah dilakukan pengurus/pengusaha
a) Pendataan
b) Pemeriksaan dan pengobatan
c) Pengambilan dan pengiriman sample makanan
Sumber Kontaminasi Makanan
Bakteri & Zat Beracun
Kuman
Parasit
Racun
Bahan Kimia
Perantara Kontaminasi :
Serangga : lalat, kecoa
Batuk, bersin, kebersihan diri
Peralatan tidak bersih
Bahan makana tdk mmnuhi syarat kesehatan
Cara penyiapan, pengolahan, penyimpanan &
penyajian
Beberapa Penyebab Kontaminan
Makanan
1. Penyebab (racun) Biologis :
Clostridium perfringens & batulinum : bbp
menit 2 jam ssdh makan
Salmonella Thyposa : 4-5 hr ssd makan
Kuman Koli
2. Penyebab (racun) non biologis
Bahan organik : pestisida, herbisida,
insektisida
Bahan non organik : timah hitam, air raksa,
kadmium, phospor dsb.


Faktor Penyebab Keracunan Makanan
1. Makanan disiapkan di tempat yg cukup jauh
2. Makanan disimpan dalam suhu ruang tanpa
pendingin
3. Lambatnya menyimpan dalam pendingin
4. Temperatur pemanasan makanan tidak cukup untuk
mematikan bakteri
5. Pemakaian makanan masak yg terkontaminasi
6. Daging & produk daging tidak dimasak sempurna
7. Daging beku tidak mencair dalam waktu yg cukup
8. Kontaminasi dari makanan mentah ke makanan
matang
9. Pekerja pengolah makanan mengidap penyakit
infeksi
Pembinaan dan Pengawasan
1. Tujuan :
Menciptakan kontinuitas terhadap
Pelaksanaan norma & peraturan perundangan
Upaya perbaikan & peningkatan Gizi Kerja &
Penyelenggaraan Makan di Tempat Kerja
Evaluasi
2. Pelaksana :
Pengawas Ketenagakerjaan
Ahli K3
Dokter perusahaan dan petugas lain yang ditunjuk
Pembinaan dan Pengawasan
3. Jenis kegiatan pembinaan dan pengawasan
Besar porsi, nilai gizi, kebersihan
Petugas/pengelola (kebiasaan buruk, syarat petugas)
Tempat dan alat
Evaluasi perubahan menu makanan
Keadaan kesehatan dan gizi TK
Pemenuhan ketentuan peraturan perundangan
Pemberian rekomendasi