Anda di halaman 1dari 3

Seorang Santri Tewas Dianiaya Seniornya

Senin, 21 Desember 2009 | 22:07 WIB


Laporan wartawan KOMPAS Ingki Rinaldi

JOMBANG, KOMPAS.com — Seorang santri Pondok Pesantren Al Aziziyah,


Denanyar, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang, bernama Handoyo (17),
tewas setelah dianiaya seniornya yang berinisial R yang sehari-hari juga
petugas keamanan pondok pesantren itu. Korban yang tercatat sebagai salah
seorang siswa kelas 2 Madrasah Aliyah Denanyar, Kabupaten Jombang, itu
tewas setelah menerima pukulan dan tendangan yang mengarah ke bagian
perut.

Kapolsek Jombang AKP Sumar, Senin (21/12/2009), menyebutkan, korban


sudah tewas saat dibawa dengan becak dari pondok pesantren ke RS Nur
Wahid, Jombang. Peristiwa pemukulan itu sendiri terjadi pada Minggu
(20/12/2009) malam.

"Kejadiannya sekitar pukul 22.00. Korban dinaikkan becak menuju RS Nur


Wahid, tetapi saat di becak sudah tidak ada (tewas)," kata Sumar. Korban
lalu dirujuk ke RSUD Jombang untuk diotopsi. Hingga berita ini disusun, hasil
otopsi masih belum bisa diketahui.

Pengasuh Pondok Pesantren Al Aziziyah Denanyar, Jombang, KH Aziz Mashuri


menjelaskan bahwa kejadian itu berawal dari peristiwa sepekan lalu. "Saat itu
korban ngaploki (menampar) adik kelasnya yang masih kelas I, karena
dianggap pacaran. Lalu, tadi malam, Handoyo ditanya soal peristiwa itu oleh
R, petugas keamanan pondok pesantren, tetapi kemudian ia (Handoyo) tidak
mengakui perbuatannya," kata Aziz.

Menurut Aziz, karena itulah R lalu emosi dan ganti menampar Handoyo.
Namun, Handoyo kemudian tidak hanya ditampar oleh R, tetapi juga dipukul
dan ditendang.
Kekuatan Media dalam Institusi Suci

Sekali lagi, Jombang membuat kontroversi tentang kekerasan. Kali ini


tentang santri yang tewas akibat dianiaya oleh seniornya. Kejadian ini sering
terjadi di institusi pendidikan semi militer seperti IPDN, AKPOL, dan lain
sebagainya. Maka kali ini kekerasan senior terhadap junior ini terjadi di
institusi pendidikan berbasis agama yaitu pesantren. Sangat ironis ketika kita
mengetahui instituisi besar dan suci tersebut tercoreng akibat kelakuan
segelintir orang. Indonesia adalah salah satu negara yang kaya akan
paradigma. Satu sama lain masyarakat akan membetuk paradigma berbeda
tentang suatu masalah. Ketika melihat kejadian pemukulan, kekerasan,
penganiayan, maka seketika itu pula paradigma banyak orang akan
bermuara pada konsep kekuasaan. Kekuasaan pada dasarnya adalah suatu
naluri yang mengarahkan manusia untuk mengendalikan manusia lain
melalui pengaruh yang kita berikan. Pada kondisi ini, semua orang akan
mengedapakan dan senang bila diberi kesempatan untuk berkuasa. Isu-isu
seperti dipepatkan media dalam berbagai bentuk kontennya. Belum lagi
ketertarikan manusia kepada hal-hal menyenangkan biasanya sangat
kontroversi. Dan dari sinilah, media berpijak untuk membuat khalayak
tertarik kedalamnya.
Kekuasaan dikemas secara menarik oleh media. Sebenarnya tidak
butuh banyak darah untuk menggambarkannya. Akan tetapi berita-berita
tentang kekerasan yang ditayangkan di program berita kriminal sudah
menjadi salah satu referensi. Pada dunia global seperti sekarang hypodermic
theory mungkin masih sulit berlaku secara kaku. Akan tetapi, tetap saja
media memiliki kekuatan untuk mempengaruhi orang seberapa panjangpun
jaringan yang terbentu untuk sampai ke pemikiran audiens media. Hasrat
untuk memiliki kekuasaan yang sangat dalam kini bermain dalam level
intrapersonal. Masing-masing individu akan sebisanya mencari skala terkecil
dalam ruang lingkuop hidupnya untuk dikuasai. Begitu pula tampaknya yang
terjadi dengan santri di pesantren yang terletak di Jombang. Senior dengan
naluri berkuasanya akan mencari junior yang mudah untuk dikuasai. Ketika
keuasaannya sebagai ”yang duluan ambil bagian” berhasil mengendalikan
pemikiran junior. Tidak menutup kemungkinan bila secara alami junior akan
lebih takut dan tunduk terhadap kakak kelasnya. Kekerasan pun sangat
mudah terjadi bila ada yang salah atas asas yang telah diterapkan tersebut.
Begitu hebatnya kekuatan media untuk menciptakan berbagai jenis
kesenangan tanpa resiko. Sehingga institusi suci seperti agama pun kini
dapat terkena dampaknya. Kekerasan yang melibatkan institusi agama
bukan hanya sekali ini terjadi akan tetapi sifat multikultural di Indonesia
menyebabkan hal ini rawan terjadi. Salah satunya adalah kejadian di Dengan
media yang terus terindustrialisasi maka semua kesenangan manusia akan
tetap digali hingga tahap yang tidak menentu. Dan ini sungguh ironis ketika
institusi suci seperti pendiidkan, agama dan lain sebagainya juga terkena
dampaknya. Hal ini membuktikan bahwa sebenarnya Homo Ludens semakin
nyata implementasinya.

Daftar pustaka

Rinaldi, Ingki. 2009. Seorang Santri Tewas Dianiaya Seniornya. Terarsip di:
http://regional.kompas.com/read/xml/2009/12/21/22072399/

Kuhn, Bradley M and Stallman, Richard M. 2001. Freedom or Power.


Terarsip di : http://www.gnu.org/philosophy/freedom-or-
power.html

Sulhan, M. 2009. Handout Mata Kuliah Komunikasi Kontemporer : Televisi dan


Homo Ludens. JIK UGM.

Setianto, Widodo.2009. Handout Mata Kuliah Periklanan. JIK UGM