Anda di halaman 1dari 3

Sarah Paradiska- 08/264683/SP/22574

Sang Pemimpi (diharapkan) Membawa Angin Segar


Perfillman Indoensia

Dunia perfilman Indonesia memang tidak akan pernah habis


dibicarakan. Setelah mati pada dekade 1990-an, akhirnya kini perfilman itu
kembali berjaya di rumahnya sendiri. Sudah banyak film karya anak bangsa
yang bukan hanya dapat menyedot ribuan simpati tapi juga mengharumkan
nama bangsa di festival dan ajang perfilaman lain di dunia internasional.
Pada tahun 2008 rumah produksi milik Mira Lesmana, Miles Films,
mengeluarkan suatu film fenomenal, Laskar Pelangi. Laskar Pelangi
merupakan novel best seller yang didasarkan pada kisah nyata kehidupan
sang penulis. Penulis Laskar Pelangi dikisahkan dalam tokoh Iklan yang
memeiliki nama asli Andrea Hirata. Sekian banyak penderitaan yang dialami
oleh Iklan dan juga teman-temannya. Kemiskinan, tidak menyurutkan
sekawanan pelajar yang bersekolah di tempat yang sudah tidak layak akibat
terlalu terpencil.
Melalui tangan dingin sutradara Riri Riza, novel tersebut dirilis dalam
bentuk film yang melibatkan tokoh asli Belitung. Riri Riza dengan totalitasnya
dengan selektif memilih pemeran film yang berasal dari tanah Belitung, tidak
peduli apakah mereka pernah atau belum bermain peran. Dengan fakta
seperti itu, Laskar Pelangi tetap berhasil meraup keuntungan hingga 5 milyar
rupiah selama masa pemutarannya diseluruh Indonesia. Bukan hanya itu,
film ini juga menyabet beberapa penghargaan baik di dalam maupun luar
negeri seperti Berlin International film festival 2009, Asia film Awards 2009
dan Indonesian Movie Awards 2009. Merupakan satu lagi prestasi ketika
homogenisasi menyerang tema perfilman di Indonesia, penawaran dari Miles
ini bisa di sambut baik oleh banyak pihak. Seperti yang kita ketahui, hampir
beberapa bulan belakangan film Indonesia diisi dengan tema yang sama satu
sama lain, seperti horor, komedi-sex dan lain sebagainya. Tidak ada yang
salah dengan hal tersebut, akan tetapi keseragaman tersebut terkesan tanpa
esensi.
Berkaca pada kesuksesan film Laskar Pelangi, Miles Films kemudian
membuat sekuelnya. Masih dalam kondisi perfilman Indonesia yang masih
homogen, langkah sama diambil oleh Miles Films. Tetap dari rangkaian
tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, film ini berjudul Sang Pemimpi.
Sang Pemimpi merupakan kelanjutan cerita anak Belitung yang tidak pernah
pitus asa dalam mengejar mimpi. Akan tetapi, dalam cerita ini terdapat
tambahan tokoh yaitu Arai. Arai adalah sepupu jauh Ikal yang ditinggal mati
oleh kedua orang tuanya. Kemudian Arai diasuh dan disekolahkan oleh kedua
orang tua Ikal. Seperti yang dilakukan sebelumnya, Riri Riza kembali
menempatkan beberapa talent baru dalam filmnya. Seperti film Laskar
Pelangi, Riri Riza juga memilik pemain utama yang berasal dari kalangan non
aktor. Setelah berhasil mengangkat nama Zulfanny, Sandy Pranata, Ferdian,
Verry Yamanro dan lain sebagainya melalui Laskar Pelangi, kini Riri
memunculkan Vikri Setiawan sebagai Ikal remaja, Ahmad Syaifullah sebagai
Arai remaja, Azwir Fitrianto sebagai Jimbron dan tidak ketinggalan Nazriel
Ilham atau Ariel Peterpan sebagai Arai dewasa.
Sepertinya karakteristik film yang dibuat Riri terletak pada
totalitasnya. Dengan tangan dinginya, selalu bisa mengahasilkan film yang
menarik tanpa harus menggunakan talent yang ternama. Walaupun dengan
jam terbang minim, Ariel pada film ini cukup memegang peran yang
dominan. Seperti yang khalayak ketahui, Sang Pemimpi merupakan film
perdana Ariel. Akan tetapi Mira Lesmana dan Riri Riza tidak segan-segan
memepercayakan tokoh dominan padanya. Setidaknya melalui beberapa
media keduanya mengakui pemilihan Ariel sebagai Arai sudah melewati
tahap seleksi yang ketat terlebih dahulu. Totalitas Riri Riza dalam membuat
film, bukan barang baru di dunia perfilman indonesia. Tanpa ragu dia
menempatkan beberapa pemain baru di dalam beberapa filmnya, dan tak
jarang film yang digarap dengan serius itu menempati urutan film terbaik di
negeri ini. Dalam sebuah film, selain proses pembuatan yang terpenting
adalaha pesan. Perfilman Indonesia membutuhkan heterogenitas tema dalam
film. Sebagai salah satu unsur pembangun bangsa. Tmemang benar banyak
pembuat film, terbentur alibi film sebagai komoditas. Akan tetapi sudah
terbukti dari film Laskar Pelangi, dengan esensi yang penuh, dikemas dalam
cerita menarik. Tetap dapat memperoleh kedudukan di mata industri.
Sang pemimpi akan ditayangkan perdana sebagai film pembuka di
JIFFest 2009 yang diselenggarakan pada 4 – 12 Desember 2009. Setelah itu
film ini akan mulai diputar secara massal pada 17 Desember 2009. Bukan
tidak mungkin dengan melihat animo sebelumnya, film ini juga mungkin bisa
mendapat tempat di hati masyarakat. Apalagi momentum penanyangannya
tidak berjauhan dengan libur natal dan tahun baru. Apabila benar, film ini
dibuat tidak jauh berbeda dengan novel. Maka optimisme itu bisa muncul.
Apalagi bertolak pada kisah yang diangkat dari novel tersebut bahwa
masalah remaja dianggap bukan hanya masalah ekonomi, akan tetapi lebih
kompleks yaitu maslaah pencarian jati diri. Sekali lagi, film dengan esensi
semacam ini dapat menjadi salah satu inspirasi bagi banyak masyarakat
Indonesia.

Daftar pustaka

"Sang Pemimpi" Membuka JIFFest 2009. Senin, 23/11/2009. Terarsip di:


http://entertainment.kompas.com/read/xml/2009/11/23/e141743/sang.
pemimpi.membuka.jiffest.2009

Ariel Peterpan dan Nugie Siap Main Film 'Sang Pemimpi'. 26 Juni 2009.
Terarsip di :
http://www.rileks.com/entertainment/music/onfire/25100-ariel-
peterpan-dan-nugie-siap-main-film-sang-pemimpi-.html

http://klub-sastra-bentang.blogspot.com/2006/07/bukubaru-sang-
pemimpi.html
http://www.kapanlagi.com/h/laskar-pelangi-borong-6-penghargaan-di-
ffb-2009.html