Anda di halaman 1dari 10

Bab 4

Evaluasi Kapasitas Asimilatif Air Sungai (II)


(PenentuanKoefisienReaerasidanKurvaOxygenSag)

4.1. Pendahuluan
Proses reaerasi air sungai merupakan penyerapan fisik oksigen dari atmosfer ke dalam
media cair. Secara garis besar, proses ini berupa pengisian ulang konsentrasi oksigen yang
telah dikonsumsi saat biodegradasi limbah organik di badan air. Menurut Schtze (2002),
reaerasi terjadi akibat beberapa faktor, seperti perbedaan temperatur, angin, karakteristik
hidrolik sungai (seperti kecepatan aliran dan kedalaman sungai). Penggunaan utama
koefisien reaerasi ditujukan untuk mengukur peningkatan oksigen terlarut pada model
kualitas air. Koefisien reaerasi (K2) merupakan tetapan laju penyerapan oksigen dari
atmosfer. Model ini (berupa simulasi pertukaran oksigen terlarut) digunakan untuk
menghitung alokasi beban limbah untuk sungai sehingga standar konsentrasi oksigen terlarut
tidak dilanggar. Jika penggunaan koefisien reaerasi hasil kalkulasi lebih kecil dari koefisien
sebenarnya di sungai, tingkat pengolahan limbah dibuat dalam skala lebih besar sehingga
kebutuhan anggaran juga menjadi lebih besar (St. John et al., 1984 dalam Kilpatrick et al.,
1989). Sebaliknya, jika koefisien reaerasi hasil kalkulasi lebih besar dari koefisien
sebenarnya di sungai, tingkat pengolahan limbah ditunjukkan relatif lebih kecil dan standar
terlarut oksigen dapat diabaikan. Pengelolaan sumber oksigen terlarut di sungai dapat
dilakukan baik melalui peningkatan kualitas pengolahan limbah sebelum dibuang ke sungai
atau reduksi kuantitas limbah ketika dibuang ke sungai. Pada kedua tindakan tersebut,
koefisien reaerasi harus diketahui secara akurat jika sumber oksigen terlarut di sungai
dikelola dengan baik.
Selain dari proses reaerasi, peningkatan konsentrasi oksigen terlarut biasanya diperoleh
dari produksi oksigen hasil proses fotosintesis dan sumber lain di sungai. Di sisi lain,
penurunan konsentrasi DO disebabkan oleh deoksigenasi bahan organik dan reduksi substansi
lain di badan air, degassing oksigen pada air dalam kondisi jenuh, respirasi oleh tanaman
air, penambahan BOD dari limpasan (run-off) lokal, reduksi konsentrasi oksigen oleh bakteri
nitrifikasi, dan kebutuhan oksigen yang diberikan oleh sedimen sungai (Yudianto dan Yuebo,
2008). Faktor-faktor tersebut menentukan permodelan kualitas air untuk mengetahui
dampak pencemaran. Pemodelan sungai diperkenalkan oleh Streeter-Phelps (1925)
menggunakan persamaan kurva penurunan oksigen (oxygen sag curve) ketika metode
pengelolaan kualitas air ditentukan atas dasar defisit oksigen kritik. Pemodelan Streeter-
Phelps hanya terbatas pada dua fenomena yaitu proses pengurangan oksigen terlarut
(deoksigenasi) akibat aktivitas bakteri untuk mendegradasi bahan organik di dalam air dan
proses peningkatan oksigen terlarut (reaerasi) akibat turbulensi yang terjadi pada aliran
sungai. Berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 110 Tahun 2003 tentang
Pedoman Penetapan daya Tampung Beban Pencemaran Air pada Sumber Air, jika kedua
proses tersebut dialurkan dengan konsentrasi oksigen terlarut sebagai sumbu tegak dan
waktu atau jarak sebagai sumbu datar, hasil pengaluran kumulatif dari interaksi proses
deoksigenasi dan reaerasi disajikan dalam bentuk kurva kandungan oksigen terlarut dalam
badan air. Kurva ini dikenal sebagai kurva penurunan oksigen (oxygen sag curve).


4.2. Prosedur Perhitungan
Koefisien reaerasi. Pada sebagian besar survei aliran sungai yang melibatkan persamaan
oxygen sag, nilai koefisien reaerasi (K2) sangat penting untuk dicantumkan. Pada kondisi
tertentu, beberapa metode penentuan K2 adalah sebagai berikut:
a) K2 dihitung dari persamaan oxygen sag jika semua parameter lain diketahui; Namun,
data harus cukup untuk mendukung kesimpulan. Prosedur trial-and-error umumnya
digunakan.
b) Jumlah reaerasi (rm) dalam rentang yang sama (stasiun A ke stasiun B) dengan selisih
konsentrasi BOD (LaA LaB) ditambah defisiensi DO dari stasiun A ke stasiun B (DA
DB). Pernyataan tersebut dapat dinyatakan melalui persamaan:

= (

) +(

) (4 1)

2
=

(4 2)

Keterangan:
K
2
= koefisien reaerasi (hari
-1
)
r
m
= nilai reaerasi (mg/L)
D
m
= defisit DO rata-rata (mg/L)
L
aA
= konsentrasi BOD ultimate di stasiun hulu (mg/L)
L
aB
= konsentrasi BOD ultimate di stasiun hilir (mg/L)
D
A
= defisit DO di stasiun hulu (mg/L)
D
B
= defisit DO di stasiun hulu (mg/L)

c) Ketika konsentrasi DO adalah 0 mg/L untuk waktu periode pendek dan tanpa
dekomposisi anaerobik (OConnor, 1958 dalam Lee dan Lin, 2007), penentuan nilai
K2 adalah:

=
2

(4 3)

Keterangan:
D
max
= defisit DO maksimum (mg/L)
C
S
= konsentrasi DO saturasi (jenuh) (mg/L)

Defisiensi maksimum adalah sama dengan konsentrasi DO saturasi dan transfer
oksigen dari utilisasi bahan organik. Nilai utilisasi bahan organik sebanding dengan
LaA dan LaB selama waktu tempuh t. Berdasarkan pernyataan tersebut,

=
(

=
2



Dengan demikian,

2
=
(


(4 4)


d) Pada titik kritis di sungai (OConnor, 1958 dalam Lee dan Lin, 2007):

d
d
= 0

Dengan demikian,

=
2

2
=

(4 5)

Keterangan:
K
d
= nilai deoksigenasi pada kondisi sebenarnya di sungai (hari
-1
)
L
c
= BOD ultimate tersisa pada titik kritis (mg/L)
D
C
= defisit DO pada titik kritis (mg/L)

e) Pada kondisi steady-state di titik sampling (OConnor, 1958 dalam Lee dan Lin,
2007):

d
d
= 0

Pada titik sampling ini,

2
=

(4 6)

Nilai K2 perlu dikoreksi terhadap perubahan temperatur.

2()
=
2 (20)
(1,02)
20
(4 7)

Keterangan:
K
2(T)
= nilai K
2
pada temperatur TC
K
2(20

C)
= nilai K
2
pada temperatur 20C

Faktor-faktor pada Persamaan Streeter-Phelps telah menstimulasi berbagai penelitian
untuk tingkat koefisien reaerasi (K2). Berbagai macam metode dan formula yang tepat
digunakan untuk penentuan K2. Beberapa rumus empiris dan semi-empiris telah
dikembangkan untuk memperkirakan nilai K2 melalui hubungan kecepatan aliran dan
kedalaman sungai, yaitu:

O

Connor dan Dobbins (1958):


2
=
13,0
0,5

1,5
(4 8)

Churchill . (1962):
2
=
11,57
0,969

1,673
(4 9)



Langbein dan Durum (1967):
2
=
7,63

1,33
(4 10)

Keterangan:
v = kecepatan rata-rata aliran sungai (m/detik)
H = kedalaman rata-rata sungai (m)

Kurva Oxygen Sag. Keseimbangan oksigen terlarut di sungai saat menerima efluen air
limbah dapat dirumuskan dari kombinasi tingkat pemanfaatan oksigen melalui BOD dan
transfer oksigen dari atmosfer ke dalam air. Banyak faktor yang terlibat dalam proses ini,
seperti pembahasan bagian sebelumnya. Kurva oxygen sag (kesetimbangan DO) terbentuk
akibat penambahan DO dikurangi reduksi DO. Kurva ini secara matematis dinyatakan oleh
Persamaan Streeter-Phelps sebagai berikut:

1
[

] +

(4 11)

Persamaan (4-11) dapat juga ditulis sebagai berikut:

1
[10

10

] +

10

(4 12)

Keterangan:
D
t
= DO defisit saturasi di hilir pada waktu t (DO
sat
DO
a
); (mg/L)
t = waktu perjalanan dari hulu ke hilir (hari)
D
a
= DO defisit saturasi awal di hulu (mg/L)
L
a
= BOD ultimate di hulu (mg/L)
e = basis nilai logaritma natural (2,7183)
K
1
= koefisien deoksigenasi basis e (hari
-1
)
K
2
= koefisien reaerasi basis e (hari
-1
)
k
1
= koefisien deoksigenasi basis 10 (hari
-1
)
k
2
= koefisien reaerasi basis 10 (hari
-1
)

K1 atau K2 dan k1 atau k2 digunakan untuk masing-masing nilai berdasarkan basis e dan 10.
Pembaca harus menyadari dan berhati-hati dalam menggunakan notasi tersebut. Hubungan
logaritmik antara notasi k dan K adalah K1 = 2,3026 k1 dan K2 = 2,3026 k2; atau k1 = 0,4343 K1
dan k2 = 0,4343 K2.
Sejak k1 diatur pada kondisi laboratorium, tingkat penurunan konsentrasi oksigen di
sungai oleh oksidasi mungkin berbeda dari kondisi di laboratorium. Dengan demikian, k1
sering diganti menjadi kd pada kondisi di lapangan. Demikian juga, nilai reduksi BOD di
sungai mungkin tidak sama dengan tingkat deoksigenasi dalam botol winkler di laboratorium
sehingga kr digunakan untuk mencerminkan situasi ini. Modifikasi notasi membuat
Persamaan (4-12) berubah menjadi:

[10

10

] +

10

(4 13)


Keterangan:
k
d
= konstanta laju dekomposisi organik (hari
-1
)
K
r
= laju penyisihan BOD akibat dekomposisi dan pengendapan (hari
-1
)

Nilai kr dan kd ditentukan berdasarkan rentang tertentu di sungai melalui penentuan BOD
contoh uji di hulu (A) dan hilir (B).

log

=
1

log

=
1

log

=
1

(log

log

) (4 14)

Nilai kd diperoleh dari persamaan:

=
1

(log

log

) (4 15)

Titik kritis pada kurva oxygen sag. Dalam berbagai kasus, hanya titik terendah dari
kurva oxygen sag dijadikan teknis kajian utama model kualitas air. Modifikasi persamaan
memberikan nilai kritis untuk defisiensi DO (DC) dan waktu kritis (tc) di hilir pada titik kritis.
Pada titik kritis kurva, tingkat deoksigenasi sama dengan tingkat reaerasi.

d
d
=
1

= 0 (4 16)

Dengan demikian, Persamaan (4-16) menghasilkan Persamaan (4-5):



LC merupakan konsentrasi BOD tersisa dan dihasilkan dari persamaan:

(4 17)

Kemudian,

2
(

) (4 18)

atau,

2
(

10

) (4 19)

Koefisien f diperoleh melalui perbandingan nilai kd dan K2.

=

(4 20)

Dengan demikian, Persamaan (4-18) berubah menjadi:

=
1

) (4 21)

Menurut Thomas (1948) dalam Lee dan Lin (2007), waktu kritis (tc) diperoleh dari:

=
1

log

[1

(
2

] (4 22)

Persamaan (4-22) dapat disederhanakan menjadi:

=
1

( 1)
log { [1 ( 1)

]} (4 23)

tc disubtitusikan ke Persamaan (4-19) untuk memperoleh nilai La.

) [1 +

(1

)
0,418
] (4 24)





















Petunjuk Teknis Praktikum
Topik #4. Evaluasi Kapasitas Asimilatif Air Sungai (II)
(Penentuan Koefisien Reaerasi dan Kurva Oxygen Sag)

Kelompok Praktikum: Nama Mahasiswa:
1.
2.
3.
4.

NIM.
NIM.
NIM.
NIM.
5. NIM.
6. NIM.
Lokasi Praktikum:
Waktu Praktikum: Tanggal: Pukul:
Dosen Praktikum:

A. Tujuan
Penentuan konstanta reaerasi dan kurva oxygen sag Sungai Ciliwung dan Sungai Cisadane
di Kota Bogor untuk menunjukkan kondisi terkini kualitas air kedua sungai akibat beban
pencemar.

B. Alat dan Bahan
Alat dan bahan untuk praktikum ini adalah:
1. Seperangkat laptop
2. Data hasil pengukuran DO, BOD, dan temperatur.
3. Data nilai k1 dan La.

C. Petunjuk Umum
Nilai deoksigenasi (k1) akibat efek temperatur
1. Pilih nilai k1 terbesar dari metode slope, momen, dan logaritmik.
2. Cek temperatur pada saat sampling dilaksanakan.
3. Apabila temperatur air sungai tidak mencapai 20C, maka nilai k1 dan La akan
berubah sesuai suhu 20C melalui persamaan:

1()
=
1 (20)
(1,047)
20
(4 25)
atau

1()
=
1 (20)
(1,047)
20
(4 26)

Dengan demikian, nilai La berubah menjadi:

()
=
(20)
[1 +0,02( 20)] (4 27)
atau

()
=
(20)
(0,6 +0,02 ) (4 28)

Nilai reaerasi (k2)
1. Kumpulkan hasil konsentrasi DO0 dan BOD ultimate setiap segmen.
2. Tentukan masing-masing nilai DA dan DB. Nilai tersebut dihasilkan dari pengurangan
antara konsentrasi DO saturasi pada suhu t (Tabel 4.1) dan konsentrasi DO saat
sampling dilaksanakan.
3. Hitung nilai K2 berdasarkan keterkaitan antara jumlah reaerasi (rm) dan konsentrasi
BOD (La) sesuai Persamaan (4-1) dan (4-2).
4. Hitung nilai K2 berdasarkan waktu periode pendek dan tanpa dekomposisi anaerobik
sesuai Persamaan (4-3).
5. Hitung nilai K2 berdasarkan titik kritis sesuai Persamaan (4-5). Hitung terlebih dahulu
nilai Kd, Lc, dan DC berdasarkan Persamaan (4-15), (4-17), dan (4-18).
6. Hitung nilai K2 berdasarkan hubungan antara kecepatan aliran dan kedalaman sungai
pada Persamaan (4-8), (4-9), dan (4-10).
7. Buatlah secara sistematik rekapitulasi nilai K2 dari setiap metode di dalam tabel
untuk setiap segmen sungai.

Kurva Oxygen Sag
1. Buat kurva oxygen sag berdasarkan kondisi di laboratorium dan kondisi di lapangan.
2. Gunakan Persamaan (4-11) atau (4-12) untuk kurva oxygen sag berdasarkan kondisi
di laboratorium dengan melibatkan koefisien K1 dan K2.
3. Gunakan Persamaan (4-11) atau (4-12) untuk kurva oxygen sag berdasarkan kondisi
di lapangan dengan melibatkan koefisien kd dan kr.
4. Gunakan seluruh nilai K2 sehingga di dalam satu kondisi terdapat enam buah kurva
oxygen sag.
5. Asumsikan nilai Dt pada waktu 0; 0,0015; 0,03; 0,045; 0,06; 0,075 hari; dan
seterusnya. Asumsi tersebut bisa berubah sesuai dengan hasil penggambaran kurva.
Pada segmen berikutnya, waktu asumsi disesuaikan dengan tc. Buatlah kurva dengan
perubahan defisit DO yang tidak drastis saat pergantian segmen. Lihat contoh pada
Gambar 4.1.
6. Pilih kurva yang menunjukkan tingkat proses self-purification terbaik dan
bandingkan antara kedua kondisi tersebut.

Umum
1. Buatlah pembahasan sistematis terhadap hasil dari kurva oxygen sag berdasarkan:
a) Penyebab tren naik turun kurva ditinjau dari sumber limbah, kondisi terkini titik
sampling, perubahan kecepatan aliran, dan lain
b) Keterkaitan seluruh koefisien penyusun rumus Streeter-Phelps, waktu kritis, dan
konsentrasi BOD kritis terhadap pola pembentukan kurva.
2. Berikan solusi tindakan preventif dan responsif terhadap ketidakstabilan kondisi
lingkungan sungai pada setiap segmen. Kaitkan juga dengan nilai indeks pencemar
dan beban pencemar.
3. Kajian studi literatur selalu diarahkan pada hasil analisis.
4. Buat laporan dengan rapih, detil, dan sistematis.








Tabel 4.1. Nilai DO saturasi berdasarkan temperatur (mg/L)

(Sumber: Lee dan Lin, 2007)

















Gambar 4.1. Contoh model kurva oxygen sag Sungai Cisadane tahun 2013
(Sumber: Dewi et al., 2013)







DAFTAR PUSTAKA
Kilpatrick, F. A., Rathbun, R. E., Yotsukura, N., Parker, G. W., DeLong, L. L. 1989.
Determination of stream reaeration coefficients by use of tracers. Techniques of Water-
Resources Investigations of the United States Geological Survey. 1-51.
Lee, C. C., Lin, S. D. 2007. Handbook of Environmental Engineering Calculations. New York:
McGraw-Hill.
Dewi, N. A., Artati, A. A., Setiawan, I., Supriadi, A., Anggrainy, L. 2013. Analisis permodelan
tingkat oksigen terlarut dan perhitungan defisit oksigen terlarut (DO) per satuan waktu
pada setiap segmen pengukuran. Laporan Praktikum Toksikologi Lingkungan. Institut
Pertanian Bogor.
Schtze, M., Iutler, D., Beck, B. M. 2002. Modelling, Simulation and Control of Urban
Wastewater Systems. London: Springer.
Yudianto, D., Yuebo, X. 2008. The development of simple dissolved oxygen sag curve in
lowland non-tidal river by using matlab. Journal Applied Sciences in Environmental
Sanitation. 3(3):137-155.

--- ALK 2014 ---
0
0,1
0,2
0,3
0,4
0,5
0,6
0,7
0,8
0,9
1
0 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6 0,7 0,8 0,9
D
t

(
m
g
/
l
)
t (hari)
Cipaku
IPB
BNR
Jl. Baru
RS. Karya
Bakti
Gn. Batu Empang
Segmen 1 Segmen 2 Segmen 3 Segmen 4 Segmen 5 Segmen 6