Anda di halaman 1dari 31

1

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hipertensi dikenal secara luas sebagai penyakit kardiovaskular. Diperkirakan telah
menyebabkan 4.5% dari beban penyakit secara global, dan prevalensinya hampir sama
besar di negara berkembang maupun di negara maju.1 Hipertensi merupakan salah satu
faktor risiko utama gangguan jantung. Selain mengakibatkan gagal jantung, hipertensi
dapat berakibat terjadinya gagal ginjal maupun penyakit serebrovaskular.
Pada kebanyakan kasus, hipertensi terdeteksi saat pemeriksaan fisik karena alasan
penyakit tertentu, sehingga sering disebut sebagai silent killer. Tanpa disadari penderita
mengalami komplikasi pada organ-organ vital seperti jantung, otak ataupun ginjal.
Di Amerika, menurut National Health and Nutrition Examination Survey (NHNES
III); paling sedikit 30% pasien hipertensi tidak menyadari kondisi mereka, dan hanya 31%
pasien yang diobati mencapai target tekanan darah yang diinginkan dibawah 140/90
mmHg. Di Indonesia, dengan tingkat kesadaran akan kesehatan yang lebih rendah, jumlah
pasien yang tidak menyadari bahwa dirinya menderita hipertensi dan yang tidak mematuhi
minum obat kemungkinan lebih besar.
Obat-obatan yang banyak dikonsumsi masyarakat merupakan obat-obatan kimia
yang secara berkala harus selalu dikonsumsi sehingga menimbulkan ketergantungan pada
obat tersebut. Oleh sebab itu, perlu diadakan terapi yang memberikan solusi tepat tanpa
membebani masyarakat untuk senantiasa bergantung pada obat. Terapi tersebut adalah
terapi herbal yang menyeluruh. Dalam hal ini, untuk penyakit hipertensi dibutuhkan herba
Rosella (Hibiscus sabdarifa Linn.) sebagai salah satu tanaman obat yang dapat digunakan
untuk mengatasi penyakit hipertensi.

1.2 Rumusan Masalah
Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan
sistoliknya di atas 140 mmHg dan tekanan diastoliknya di atas 90 mmHg. Penderita
hipertensi pada umunya berusia 20 tahun ke atas. Faktor-faktor yang memengaruhi
hipertensi yaitu jenis kelamin, usia, obesitas, merokok, stress, dan riwayat keluarga.
Faktor-faktor tersebut memberikan kecenderungan bahwa semua orang dapat
dimungkinkan menderita penyakit hipertensi. Pengobatan medis yang dilakukan oleh para
penderita menganjurkan mereka untuk mengkonsumsi obat-obatan yang berbahan dasar
2

kimia dari para ahli medis secara rutin. Hal tersebut mengakibatkan para penderita
terkadang merasa jenuh karena harus mengkonsumsi obat-obatan tersebut. Dengan
demikian saya membuat produk berbahan dasar bunga Rosella sebagai asupan yang
diharapkan mampu menarik minat penderita hipertensi untuk mengkonsumsinya. Hal ini
dimaksudkan untuk meminimalisasi efek samping dari penggunaan obat-obatan yang
berbahan dasar kimia

1.3 Tujuan
Adapun yang menjadi tujuan penulisan karya tulis ilmiah ini adalah untuk
memberikan gambaran terkait penyakit hipertensi dan memberikan solusi dengan terapi
herbal yaitu menggunakan Teh Rosella.






















3

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengenalan Penyakit
Tekanan Darah Tinggi (hipertensi) adalah suatu peningkatan tekanan darah di
dalam arteri. (Hiper artinya Berlebihan, Tensi artinya Tekanan/Tegangan; Jadi, Hipertensi
adalah Gangguan sistem peredaran darah yang menyebabkan kenaikan tekanan darah
diatas nilai normal.)
Hipertensi didefinisikan oleh Joint National Committee on Detection, Evaluation
and Treatment of High Blood Pressure (JIVC) sebagai tekanan yang lebih tinggi dari 140 /
90 mmHg.
Pada pemeriksaan tekanan darah akan didapat dua angka. Angka yang lebih tinggi
diperoleh pada saat jantung berkontraksi (sistolik), angka yang lebih rendah diperoleh pada
saat jantung berelaksasi (diastolik). Tekanan darah ditulis sebagai tekanan sistolik garis
miring tekanan diastolik, misalnya 120/80 mmHg, dibaca seratus dua puluh per delapan
puluh.
Sejalan dengan bertambahnya usia, hampir setiap orang mengalami kenaikan
tekanan darah; tekanan sistolik terus meningkat sampai usia 80 tahun dan tekanan diastolik
terus meningkat sampai usia 55-60 tahun, kemudian berkurang secara perlahan atau
bahkan menurun drastis.
Tekanan darah dalam kehidupan seseorang bervariasi secara alami. Bayi dan anak-
anak secara normal memiliki tekanan darah yang jauh lebih rendah daripada dewasa.
Tekanan darah juga dipengaruhi oleh aktivitas fisik, dimana akan lebih tinggi pada saat
melakukan aktivitas dan lebih rendah ketika beristirahat. Tekanan darah dalam satu hari
juga berbeda; paling tinggi di waktu pagi hari dan paling rendah pada saat tidur malam
hari.
Klasifikasi Tekanan Darah Pada Dewasa

Kategori Tekanan Darah Sistolik Tekanan Darah Diastolik
Normal Dibawah 130 mmHg Dibawah 85 mmHg
Normal tinggi 130-139 mmHg 85-89 mmHg
Stadium 1
(Hipertensi ringan)
140-159 mmHg 90-99 mmHg
4

Stadium 2
(Hipertensi sedang)
160-179 mmHg 100-109 mmHg
Stadium 3
(Hipertensi berat)
180-209 mmHg 110-119 mmHg
Stadium 4
(Hipertensi maligna)
210 mmHg atau lebih 120 mmHg atau lebih

Hipertensi maligna adalah hipertensi yang sangat parah, yang bila tidak diobati,
akan menimbulkan kematian dalam waktu 3-6 bulan. Hipertensi ini jarang terjadi, hanya 1
dari setiap 200 penderita hipertensi.
Meningkatnya tekanan darah di dalam arteri bisa terjadi melalui beberapa cara:
Meningkatnya tekanan darah di dalam arteri bisa terjadi sehingga mengalirkan lebih
banyak cairan pada setiap detiknya.
Arteri besar kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku, sehingga mereka tidak dapat
mengembang pada saat jantung memompa darah melalui arteri tersebut. Karena itu
darah pada setiap denyut jantung dipaksa untuk melalui pembuluh yang sempit
daripada biasanya dan menyebabkan naiknya tekanan. Inilah yang terjadi pada usia
lanjut, dimana dinding arterinya telah menebal dan kaku karena arteriosklerosis.
Dengan cara yang sama, tekanan darah juga meningkat pada saat terjadi vasokonstriksi,
yaitu jika arteri kecil (arteriola) untuk sementara waktu mengkerut karena
perangsangan saraf atau hormon di dalam darah.
Bertambahnya cairan dalam sirkulasi bisa menyebabkan meningkatnya tekanan darah.
Hal ini terjadi jika terdapat kelainan fungsi ginjal sehingga tidak mampu membuang
sejumlah garam dan air dari dalam tubuh. Volume darah dalam tubuh meningkat,
sehingga tekanan darah juga meningkat. Sebaliknya, jika aktivitas memompa jantung
berkurang, arteri mengalami pelebaran, dan banyak cairan keluar dari sirkulasi maka
tekanan darah akan menurun.

2.2 Etiologi Penyakit
2.2.1 Hipertensi Esensial (Hipertensi Primer)
Hipertensi Primer adalah hipertensi yang penyebabnya tidak diketahui secara pasti
namun biasanya sebagai akibat dari sensitivitas garam, homeostasis renin, resistansi
5

insulin, tidur apneu, genetik (keturunan), umur, dan obesitas. Terjadi pada sekitar 90%
penderita hipertensi.
2.2.2 Hipertensi Sekunder
Pada sekitar 5-10% penderita hipertensi, penyebabnya adalah penyakit ginjal. Pada
sekitar 1-2%, penyebabnya adalah kelainan hormonal atau pemakaian obat tertentu.
1. Penyakit Ginjal dengan kriteria stenosis arteri renalis, pielonefritis glomerulonefritis,
tumor-tumor ginjal, penyakit ginjal polikista (biasanya diturunkan), dan trauma pada
ginjal (luka yang mengenai ginjal) atau akibat terapi penyinaran yang mengenai ginjal.
2. Kelainan Hormonal seperti Hiperaldosteronisme, Sindroma Cushing (sekresi kortisol
yang berlebihan), dan Feokromositoma. Tumor pada kelenjar adrenal yang
menghasilkan hormon epinefrin (adrenalin) atau norepinefrin (noradrenalin).
3. Obat-obatan, biasanya jenis obat-obatan yang dikoonsumsi seperti pil KB,
kortikosteroid, siklosporin, eritropoietin, kokain, penyalahgunaan alkohol, dan
konsumsi kayu manis (dalam jumlah sangat besar).
Penyebab lainnya bisa diakibatkan oleh koartasio aorta, preeklamsi pada
kehamilan, porfiria intermiten akut, keracunan timbal akut.

2.3 Patofisiologi
Banyak faktor yang mengontrol tekanan darah berkontribusi secara potensial dalam
terbentuknya hipertensi.
2.3.1 Faktor Penyebab Hipertensi
Faktor-faktor yang berkontribusi pada terbentuknya hipertensi adalah sebagai
berikut:
1. Meningkatnya Aktivitas sistem saraf simpatik (tonus simpatis dan/atau variasi
diurnal), mungkin berhubungan dengan meningkatnya respons terhadap stress
psikososial dll
2. Produksi berlebihan hormon yang menahan natrium dan vasokonstriktor
3. Asupan natrium (garam) berlebihan
4. Tidak cukupnya asupan kalium dan kalsium
5. Meningkatnya sekresi renin sehingga mengakibatkan meningkatnya produksi
angiotensin II dan aldosteron
6. Defisiensi vasodilator seperti prostasiklin, nitrik oxida (NO), dan peptide natriuretik
6

7. Perubahan dalam ekspresi sistem kallikrein-kinin yang mempengaruhi tonus
vaskular dan penanganan garam oleh ginjal
8. Abnormalitas tahanan pembuluh darah, termasuk gangguan pada pembuluh darah
kecil di ginjal
9. Diabetes mellitus
10. Resistensi insulin
11. Obesitas
12. Meningkatnya aktivitas vascular growth factors
13. Perubahan reseptor adrenergik yang mempengaruhi denyut jantung, karakteristik
inotropik dari jantung, dan tonus vaskular
14. Berubahnya transpor ion dalam sel


Gambar 2.1 Mekanisme patofisiologi dari hipertensi (Goodman, 1998)
Penyebab Hipertensi
Penggunaan obat-obatan seperti golongan kortikosteroid (cortison) dan beberapa
obat hormon, termasuk beberapa obat antiradang (anti-inflammasi) secara terus
menerus (sering) dapat meningkatkan tekanan darah seseorang. Merokok juga
merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya peningkatan tekanan darah tinggi
dikarenakan tembakau yang berisi nikotin. Minuman yang mengandung alkohol juga
termasuk salah satu faktor yang dapat menimbulkan terjadinya tekanan darah tinggi.
Stop menjadi alcoholic!

7

2.3.2 Gejala
Pada sebagian besar penderita, hipertensi tidak menimbulkan gejala, meskipun
secara tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan dipercaya berhubungan dengan
tekanan darah tinggi (padahal sesungguhnya tidak). Gejala yang dimaksud adalah sakit
kepala, perdarahan dari hidung, pusing, wajah kemerahan dan kelelahan; yang bisa saja
terjadi baik pada penderita hipertensi, maupun pada seseorang dengan tekanan darah yang
normal.
Jika hipertensinya berat atau menahun dan tidak diobati, bisa timbul gejala berikut;
sakit kepala, kelelahan, mual, muntah, sesak nafas, gelisah, pandangan menjadi kabur
(yang terjadi karena adanya kerusakan pada otak, mata, jantung dan ginjal). Kadang
penderita hipertensi berat mengalami penurunan kesadaran dan bahkan koma karena terjadi
pembengkakan otak. Keadaan ini disebut ensefalopati hipertensif, yang memerlukan
penanganan segera.
Krisis hipertensi merupakan suatu keadaan klinis yang ditandai oleh tekanan darah
yang sangat tinggi yang kemungkinan dapat menimbulkan atau telah terjadinya kelainan
organ target. Biasanya ditandai oleh tekanan darah >180/120 mmHg.
Pada hipertensi emergensi tekanan darah meningkat ekstrim disertai dengan
kerusakan organ target akut yang bersifat progresif, sehingga tekanan darah harus
diturunkan segera (dalam hitungan menit jam) untuk mencegah kerusakan organ target
lebih lanjut. Contoh gangguan organ target akut: encephalopathy, pendarahan intrakranial,
gagal ventrikel kiri akut disertai edema paru, dissecting aortic aneurysm, angina pectoris
tidak stabil, dan eklampsia atau hipertensi berat selama kehamilan.
Hipertensi urgensi adalah tingginya tekanan darah tanpa disertai kerusakan organ
target yang progresif. Tekanan darah diturunkan dengan obat antihipertensi oral ke nilai
tekanan darah pada tingkat 1 dalam waktu beberapa jam s/d beberapa hari.
2.4 Komplikasi
Tekanan darah tinggi dalam jangka waktu lama akan merusak endothel arteri dan
mempercepat atherosklerosis. Komplikasi dari hipertensi termasuk rusaknya organ tubuh
seperti jantung, mata, ginjal, otak, dan pembuluh darah besar. Hipertensi adalah faktor
resiko utama untuk penyakit serebrovaskular (stroke, transient ischemic attack), penyakit
arteri koroner (infark miokard, angina), gagal ginjal, dementia, dan atrial fibrilasi. Bila
penderita hipertensi memiliki faktor-faktor resiko kardiovaskular lain (tabel 3), maka akan
8

meningkatkan mortalitas dan morbiditas akibat gangguan kardiovaskularnya tersebut.
Menurut Studi Framingham, pasien dengan hipertensi mempunyai peningkatan resiko yang
bermakna untuk penyakit koroner, stroke, penyakit arteri perifer, dan gagal jantung.



HIPERTE
NSI
Jantung :

Hipertrofi ventrikel kiri
Gagal jantung kronik
Infark miokard
Penyakit jantung kongestif
Aritmia
Pembuluh Darah :
Arteriosklerosis
Penyakit pembuluh darah perifer
Penyakit jantung koroner
Insufisiensi ginjal
Ginjal
OTAK

Stroke
TIA

MATA
Retinopati
9




2.4.1 Diagnosis
Tekanan darah diukur setelah seseorang duduk atau berbaring selama 5 menit.
Angka 140/90 mmHg atau lebih dapat diartikan sebagai hipertensi, tetapi diagnosis tidak
dapat ditegakkan hanya berdasarkan satu kali pengukuran.
Jika pada pengukuran pertama memberikan hasil yang tinggi, maka tekanan darah
diukur kembali dan kemudian diukur sebanyak 2 kali pada 2 hari berikutnya untuk
meyakinkan adanya hipertensi. Hasil pengukuran bukan hanya menentukan adanya
tekanan darah tinggi, tetepi juga digunakan untuk menggolongkan beratnya hipertensi.
Setelah diagnosis ditegakkan, dilakukan pemeriksaan terhadap organ utama,
terutama pembuluh darah, jantung, otak dan ginjal.
1. Retina
Retina merupakan satu-satunya bagian tubuh yang secara langsung bisa
menunjukkan adanya efek dari hipertensi terhadap arteriola (pembuluh darah kecil).
Faktor risiko
Disfungsi endotel
aterosklerosis
Infark miokard akut
Disfungsi sistolik
ventrikel kiri
remodelling
Gagal jantung
kongestif
Gagal jantung
tahap akhir
KEMATIAN
Disritmia


mati mendadak
Disfungsi diastolik
Hipertrofi
ventrikel kiri
Disfungsi endotel
Tekanan
glomerulus


Gagal ginjal
tahap akhir
Disfungsi mesangial
sitokin
Proteinuria
sklerosis & fibrosis
Paradigma Perjalanan Penyakit Kardiovaskular
plak tidak stabil
Penyakit jantung koroner
PVD
STROKE
Hipertensi
10

Dengan anggapan bahwa perubahan yang terjadi di dalam retina mirip dengan perubahan
yang terjadi di dalam pembuluh darah lainnya di dalam tubuh, seperti ginjal. Untuk
memeriksa retina, digunakan suatu oftalmoskop. Dengan menentukan derajat kerusakan
retina (retinopati), maka bisa ditentukan beratnya hipertensi.
2. Jantung
Perubahan di dalam jantung, terutama pembesaran jantung, bisa ditemukan pada
elektrokardiografi (EKG) dan foto rontgen dada. Pada stadium awal, perubahan tersebut
bisa ditemukan melalui pemeriksaan ekokardiografi (pemeriksaan dengan gelombang
ultrasonik untuk menggambarkan keadaan jantung).
Bunyi jantung yang abnormal (disebut bunyi jantung keempat), bisa didengar
melalui stetoskop dan merupakan perubahan jantung paling awal yang terjadi akibat
tekanan darah tinggi.
3. Ginjal
Petunjuk awal adanya kerusakan ginjal bisa diketahui terutama melalui
pemeriksaan air kemih. Adanya sel darah dan albumin (sejenis protein) dalam air kemih
bisa merupakan petunjuk terjadinya kerusakan ginjal.
Pemeriksaan pada penderita usia muda bisa berupa rontgen dan radioisotop ginjal,
rontgen dada serta pemeriksaan darah dan air kemih untuk hormon tertentu. Untuk
menemukan adanya kelainan ginjal, ditanyakan mengenai riwayat kelainan ginjal
sebelumnya.
Sebuah stetoskop ditempelkan diatas perut untuk mendengarkan adanya bruit
(suara yang terjadi karena darah mengalir melalui arteri yang menuju ke ginjal, yang
mengalami penyempitan). Dilakukan analisa air kemih dan rontgen atau USG ginjal.
2.4.2 Pemeriksaan Lain
Jika penyebabnya adalah feokromositoma, maka di dalam air kemih bisa ditemukan
adanya bahan-bahan hasil penguraian hormon epinefrin dan norepinefrin. Biasanya
hormon tersebut juga menyebabkan gejala sakit kepala, kecemasan, palpitasi (jantung
berdebar-debar), keringat yang berlebihan, tremor (gemetar) dan pucat. Mengukur kadar
kalium dalam darah bisa membantu menemukan adanya hiperaldosteronisme dan
mengukur tekanan darah pada kedua lengan dan tungkai bisa membantu menemukan
adanya koartasio aorta.

11

BAB 3
PEMBAHASAN
Penanganan dan Pengobatan Hipertensi
a. Diet Penyakit Darah Tinggi (Hipertensi)
Kandungan garam (Sodium/Natrium)
Seseorang yang mengidap penyakit darah tinggi sebaiknya mengontrol diri
dalam mengkonsumsi asin-asinan garam, ada beberapa tips yang bisa dilakukan
untuk pengontrolan diet sodium/natrium ini ;
- Jangan meletakkan garam diatas meja makan
- Pilih jumlah kandungan sodium rendah saat membeli makan
- Batasi konsumsi daging dan keju
- Hindari cemilan yang asin-asin
- Kurangi pemakaian saos yang umumnya memiliki kandungan sodium
Kandungan Potasium/Kalium
Suplements potasium 2-4 gram perhari dapat membantu penurunan tekanan
darah, Potasium umumnya bayak didapati pada beberapa buah-buahan dan sayuran.
Buah dan sayuran yang mengandung potasium dan baik untuk di konsumsi
penderita tekanan darah tinggi antara lain semangka, alpukat, melon, buah pare,
labu siam, bligo, labu parang/labu, mentimun, lidah buaya, seledri, bawang dan
bawang putih. Selain itu, makanan yang mengandung unsur omega-3 sagat dikenal
efektif dalam membantu penurunan tekanan darah (hipertensi).
Pengobatan hipertensi biasanya dikombinasikan dengan beberapa obat;
- Diuretic {Tablet Hydrochlorothiazide (HCT), Lasix (Furosemide)}. Merupakan
golongan obat hipertensi dengan proses pengeluaran cairan tubuh via urine. Tetapi
karena potasium berkemungkinan terbuang dalam cairan urine, maka pengontrolan
konsumsi potasium harus dilakukan.
- Beta-blockers {Atenolol (Tenorim), Capoten (Captopril)}. Merupakan obat yang
dipakai dalam upaya pengontrolan tekanan darah melalui proses memperlambat
kerja jantung dan memperlebar (vasodilatasi) pembuluh darah.
- Calcium channel blockers {Norvasc (amlopidine), Angiotensinconverting enzyme
(ACE)}. Merupakan salah satu obat yang biasa dipakai dalam pengontrolan darah
12

tinggi atau Hipertensi melalui proses rileksasi pembuluh darah yang juga
memperlebar pembuluh darah.

3.1 Terapi Nonfarmakologi
Menerapkan gaya hidup sehat bagi setiap orang untuk mencegah tekanan darah
tinggi dan merupakan bagian yang penting dalam penanganan hipertensi. Semua pasien
dengan prehipertensi dan hipertensi harus melakukan perubahan gaya hidup.
Disamping menurunkan tekanan darah pada pasien-pasien dengan hipertensi,
modifikasi gaya hidup juga dapat mengurangi berlanjutnya tekanan darah ke hipertensi
pada pasien-pasien dengan tekanan darah prehipertensi. Modifikasi gaya hidup yang
penting yang terlihat menurunkan tekanan darah adalah mengurangi berat badan untuk
individu yang obes atau gemuk, mengadopsi pola makan DASH (Dietary Approach to Stop
Hypertension) yang kaya akan kalium dan kalsium (diet rendah natrium, aktivitas fisik, dan
tidak mengkonsumsi alkohol.
Pada sejumlah pasien dengan pengontrolan tekanan darah cukup baik dengan terapi
satu obat antihipertensi; mengurangi garam dan berat badan dapat membebaskan pasien
dari menggunakan obat. Program diet yang mudah diterima adalah yang didisain untuk
menurunkan berat badan secara perlahan-lahan pada pasien yang gemuk dan obesitas
disertai pembatasan pemasukan natrium dan alkohol. Untuk ini diperlukan pendidikan ke
pasien, dan dorongan moril.
Aktivitas fisik juga dapat menurunkan tekanan darah. Olah raga aerobik secara
teratur paling tidak 30 menit/hari beberapa hari per minggu ideal untuk kebanyakan pasien.
Studi menunjukkan kalau olah raga aerobik, seperti jogging, berenang, jalan kaki, dan
menggunakan sepeda, dapat menurunkan tekanan darah. Keuntungan ini dapat terjadi
walaupun tanpa disertai penurunan berat badan. Pasien harus konsultasi dengan dokter
untuk mengetahui jenis olah-raga mana yang terbaik terutama untuk pasien dengan
kerusakan organ target.
Merokok merupakan faktor resiko utama independen untuk penyakit
kardiovaskular. Pasien hipertensi yang merokok harus dikonseling berhubungan dengan
resiko lain yang dapat diakibatkan oleh merokok.


13




Modifikasi

Rekomendasi
Kira-kira penurunan
tekanan darah, range
Penurunan berat badan
(BB)
Pelihara berat badan normal
(BMI 18.5 24.9)
5-20 mmHg/10-kg
penurunan BB
Adopsi pola makan
DASH
Diet kaya dengan buah, sayur, dan produk
susu rendah lemak
8-14 mm Hg1

Diet rendah sodium

Mengurangi diet sodium, tidak lebih dari
100meq/L (2,4 g sodium atau 6 g sodium
klorida)
2-8 mm Hg

Aktifitas fisik

Regular aktifitas fisik aerobik seperti jalan
kaki 30 menit/hari, beberapa hari/minggu
4-9 mm Hg18

Minum alkohol sedikit
saja

Limit minum alkohol tidak lebih dari 2/hari
(30 ml etanol [mis.720 ml beer], 300ml
wine) untuk laki-laki dan 1/hari untuk
perempuan
2-4 mm Hg

Singkatan: BMI, body mass index, BB, berat badan, DASH, Dietary Approach to Stop
Hypertension
* Berhenti merokok, untuk mengurangi resiko kardiovaskular secara keseluruhan

Tabel Modifikasi Gaya Hidup untuk Mengontrol Hipertensi*


Terapi farmakologi
Kebanyakan pasien dengan hipertensi memerlukan dua atau lebih obat
antihipertensi untuk mencapai target tekanan darah yang diinginkan. Penambahan
obat kedua dari kelas yang berbeda dimulai apabila pemakaian obat tunggal dengan dosis
lazim gagal mencapai target tekanan darah. Apabila tekanan darah melebihi 20/10 mm Hg
diatas target, dapat dipertimbangkan untuk memulai terapi dengan dua obat. Yang harus
14

diperhatikan adalah resiko untuk hipotensi ortostatik, terutama pada pasien-pasien dengan
diabetes, disfungsi autonomik, dan lansia.

Diuretik
Diuretik thiazide biasanya merupakan obat pertama yang diberikan untuk
mengobati hipertensi. Diuretik membantu ginjal membuang garam dan air, yang akan
mengurangi volume cairan di seluruh tubuh sehingga menurunkan tekanan darah. Diuretik
juga menyebabkan pelebaran pembuluh darah.
Diuretik menyebabkan hilangnya kalium melalui air kemih, sehingga kadang
diberikan tambahan kalium atau obat penahan kalium.
Diuretik sangat efektif pada:
- orang kulit hitam
- lanjut usia
- kegemukan
- penderita gagal jantung atau penyakit ginjal menahun

Penghambat adrenergik
Penghambat adrenergik merupakan sekelompok obat yang terdiri dari alfa-blocker,
beta-blocker dan alfa-beta-blocker labetalol, yang menghambat efek sistem saraf simpatis.
Sistem saraf simpatis adalah sistem saraf yang dengan segera akan memberikan
respon terhadap stres, dengan cara meningkatkan tekanan darah.
Yang paling sering digunakan adalah beta-blocker, yang efektif diberikan kepada:
- penderita usia muda
- penderita yang pernah mengalami serangan jantung
- penderita dengan denyut jantung yang cepat
- angina pektoris (nyeri dada)
- sakit kepala migren.

Angiotensin converting enzyme inhibitor
Angiotensin converting enzyme inhibitor (ACE-inhibitor) menyebabkan penurunan
tekanan darah dengan cara melebarkan arteri.
Obat ini efektif diberikan kepada:
15

- orang kulit putih
- usia muda
- penderita gagal jantung
- penderita dengan protein dalam air kemihnya yang disebabkan oleh penyakit ginjal
menahun atau penyakit ginjal diabetik
- pria yang menderita impotensi sebagai efek samping dari obat yang lain.

Angiotensin-II-bloker menyebabkan penurunan tekanan darah dengan suatu mekanisme
yang mirip dengan ACE-inhibitor.

Antagonis kalsium
Antagonis kalsium menyebabkan melebarnya pembuluh darah dengan mekanisme
yang benar-benar berbeda.
Sangat efektif diberikan kepada:
- orang kulit hitam
- lanjut usia
- penderita angina pektoris (nyeri dada)
- denyut jantung yang cepat
- sakit kepala migren.

Vasodilator
Vasodilator langsung menyebabkan melebarnya pembuluh darah. Obat dari
golongan ini hampir selalu digunakan sebagai tambahan terhadap obat anti-hipertensi
lainnya.
Kedaruratan hipertensi (misalnya hipertensi maligna) memerlukan obat yang
menurunkan tekanan darah tinggi dengan segera.

Beberapa obat bisa menurunkan tekanan darah dengan cepat dan sebagian besar diberikan
secara intravena (melalui pembuluh darah):
- diazoxide
- nitroprusside
- nitroglycerin
- labetalol.
16

Nifedipine merupakan kalsium antagonis dengan kerja yang sangat cepat dan bisa
diberikan per-oral (ditelan), tetapi obat ini bisa menyebabkan hipotensi, sehingga
pemberiannya harus diawasi secara ketat.

Monitoring kerusakan target organ
Kelas Obat
Parameter pasien yang di
monitor
Monitoring
Tambahan
ACE Inhibitor

Hipotensi pada pemberian
dosis pertama, pusing,
batuk, tekanan darah,
adherence (kepatuhan)
Fungsi ginjal (BUN, serum
kreatinin), serum elektrolit
(kalium)

ARB

Hipotensi pada pemberian
dosis pertama, pusing,
tekanan darah, adherence
Fungsi ginjal (BUN, serum
kreatinin), serum elektrolit
(kalium)
Alpha-blocker
(Penyekat alfa)

Hipotensi ortostatik
(terutama
dengan dosis pertama),
Pusing, tekanan darah,
adherence
-

Beta-blocker
(Penyekat beta)

Denyut nadi, tekanan darah,
toleransi thd olah raga,
pusing, disfungsi seksual,
gejala gagal jantung,
adherence
Gejala gagal jantung,
gula darah

Antagonis
kalsium

Denyut nadi (verapamil,
diltiazem), edema perifer,
sakit kepala (terutama
dengan
dihidropiridin), gejala gagal
jantung, tekanan darah,
adherence
Gejala gagal jantung

Obat yang bekerja sentral
(metildopa, klonidin)

Sedasi, mulut kering, denyut
nadi, gejala retensi cairan,
tekanan darah, adherence
Enzim liver (metildopa)

Diuretik

Pusing, status cairan, urine
output, berat badan, tekanan
darah, adherence
Fungsi ginjal (BUN, serum
kreatinin), serum elektrolit
(kalium, magnesium,
natrium), kadar gula, asam
urat (utk tiazid)
ACE: angiotensin converting enzyme; ARB:angiotensin receptor blocker;
BUN:blood urea nitrogen

17





Monitoring interaksi obat dan efek samping obat
Untuk melihat toksisitas dari terapi, efek samping dan interaksi obat harus di nilai
secara teratur. Efek samping bisanya muncul 2 sampai 4 minggu setelah memulai obat baru
atau setelah menaikkan dosis (tabel 7). Kejadian efek samping mungkin memerlukan
penurunan dosis atau substitusi dengan obat antihipertensi yang lain. Monitoring yang
intensif diperlukan bila terlihat ada interaksi obat.

Efek samping dan kontraindikasi obat-obat antihipertensi
Kelas Obat Kontraindikasi Efek samping
ACE inhibitors

Kehamilan, bilateral artery
stenosis, hiperkalemia
Batuk, angioedema,
hiperkalemia, hilang rasa,
rash,
disfungsi renal
ARB

Kehamilan, bilateral artery
stenosis, hiperkalemia
Angioedema (jarang),
hiperkalemia, dusfungsi
renal
Penyekat alfa

Hipotensi ortostatik, gagal
jantung, diabetes
Sakit kepala, pusing, letih,
hipotensi postural, hipotensi
dosis pertama, hidung
tersumbat, disfungsi ereksi
Penyekat beta

Asma, heart block, sindroma
Raynauds yg parah
Bronkospasm, gagal
jantung,
gangguan sirkulasi perifer,
insomnia, letih, bradikardi,
trigliserida meningkat,
impoten, hiperglikemi,
exercise
intolerance
Antagonis kalsium

Heart block, disfungsi
sistolik gagal jantung
(verapamil, diltiazem)
Sakit kepala, flushing,
edema
perifer, gingival
hyperplasia,
constipasi (verapamil),
disfungsi ereksi
Agonis sentral
(metildopa,
klonidine)
Depresi, penyakit liver
(metildopa), diabetes

Rebound hipertensi bila
dihentikan, sedasi, mulut
kering, bradikardi, disfungsi
18

ereksi, retensi natrium dan
cairan, hepatitis (jarang)
Diuretik

Pirai Hipokalemia, hiperurisemia,
glucose intolerance (kecuali
indapamide), hiperkalsemia
(tiazid), hiperlipidemia,
hiponatremia, impoten
(tiazid)





Interaksi antara obat antihipertensive dengan obat lain
Kelas Obat Berinteraksi dengan Mekanisme Efek
Diuretik
Tiazide

Loop


Potasium-
Sparing


Tiazid


Digoksin

Obat-obat yang
menurunkan kadar
kalium
ACEI, ARB,
siklosporin, garam
kalium

Carbamazepin,
chlorpropamid


Hipokalemia

Hipokalemia


Hiperkalemia



Hiponatremia


Digoksin menjadi
lebih toksik
Lemah otot, aritmia
jantung

Hiperkalemia yg
serius dapat
menyebabkan
cardiac arrest
Mual, muntah,
letargi, bingung, dan
kejang
Penyekat
beta
Diltiazem, verapamil

Antidiabetik oral

Dobutamin

Adrenalin

Efek negatif
inotropik
yang aditif
Blokade reseptor
beta-2
Antagonis reseptor
-1
-vasokonstriksi
oleh
adrenalin
Bradikardia, depresi
miokardial
Gejala hipoglisemia
tertutupi
Efek inotropik dr
dobutamin dihambat
Hipertensi dan
bradikardi
Verapamil,
diltiazem

Penyekat beta

Digoksin

Efek negatif
inotropik
yang aditif
Menghambat
ekskresi renal
digoksin
Bradikardia, depresi
miokardial
Akumulasi digoksin,
efek aritmogenik
19

ACEI/ARB

Diuretik penahan
Kalium

NSAID
Ekskresi kalium
melalui ginjal
berkurang
Retensi Na dan H2O
Hiperkalemia


Efek antihipertensi
berkurang
Klonidin

Penyekat beta


Antidepresan trisiklik

Tidak diketahui


Antagonisme
adrenoreseptor -2
sentral

Fenomena rebound
bila klonidin
dihentikan
Efek antihipertensi
berkurang dan
fenomena
rebound bila
klonidin
dihentikan




PENATALAKSANAAN DIET
Tujuan Akhir
Menurunkan resiko
Meminimalkan kebutuhan akan obat untuk mengontrol tekanan darah
Mencapai dan menjaga status gizi baik

Tujuan Diet
Menurunkan tekanan darah (diastole) 90 mmHg
Menghilangkan retensi garam atau air dalam jaringan tubuh
Mencapai dan menjaga BB dengan IMT 18.5 25

Syarat Diet
Menerapkan Diet Garam Rendah, yaitu sebagai berikut:
Cukup energi, protein, mineral dan vitamin
Komsumsi karbohidrat kompleks
Bentuk makanan sesuai dengan keadaan penyakit
Jumlah konsumsi natrium disesuaikan dengan berat tidaknya hipetensi
Hindari bahan makanan yang tinggi natrium
20

Konsumsi bahan makanan yang mengandung tinggi kalium, tinggi serat

Jenis Diet
Diet Garam Rendah I (200-400 mg Na)
Diberikan pada pasien dengan edema, asites, dan atau hipertensi berat. Tidak
ditambahkan garam dapur dalam pengolahan makanannya. Hindari juga bahan
makanan yang tinggi kadar natriumnya.
Diet Garam Rendah II (600-800 mg Na)
Diberikan pada pasien dengan edema, asites, dan atau hipertensi tidak terlalu berat.
Boleh menggunakan sdt (2 gr) garam dapur dalam pengolahan makanannya. Hindari
juga bahan makanan yang tinggi kadar natriumnya.
Diet Garam Rendah III (1000-1200 mg Na)
Diberikan pada pasien dengan edema, asites, dan atau hipertensi ringan. Boleh
menggunakan 1 sdt (4 gr) garam dapur dalam pengolahan makanannya.
Bahan Makanan yang dianjurkan dan Tidak Dianjurkan
Dianjurkan: bahan makanan yang tidak menggunakan garam dapur, soda, atau baking
powder dalam pengolahannya. Bahan makanan segar tanpa diawetkan, daging dan ikan
maksimal 100 gr sehari, dan untuk telur 1 butir sehari.
Dihindari: bahan makanan yang diolah dengan garam dapur, soda, baking powder,
asinan, dan bahan makanan yang diawetkan dengan natrium benzoat, soft drinks,
margarin dan mentega biasa, bumbu yang mengandung garam dapur (kecap, terasi,
tomato ketchup, tauco, dan lain sebagainya)

Contoh Menu
21

Pagi
Nasi
Telor Mata Sapi
Tumis Garlic Caisim
Soup Tahu Seledri

Pukul 10.00
Bubur Kacang Hijau


Siang
Nasi
Tim kembung jahe
Sayur bayam jagung manis
Tempe Orek
Pisang

Snack 16.00
Jus jeruk



BAB V
PENCEGAHAN
Setelah umur 30 tahun, periksa tekanan darah setiap tahun.
Jangan merokok / minum alkohol
Kurangi berat badan bila berlebihan
22

Lakukan latihan aerobik
Pelajari cara-cara mengendalikan stres.
BAB 4
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Dari studi pustaka di atas, dapat disimpulkan bahwa penyakit hipertensi banyak diderita
oleh masyarakat yang memiliki latar belakang faktor keturunan, mereka yang memiliki
kebiasaan merokok dan minum alkohol akan mudah terkena hipertensi.





23



HIPERTENSI PADA IBU HAMIL

Penelitian berbagai faktor risiko terhadap hipertensi pada kehamilan / pre-eklampsia /
eklampsia :

Usia
Insidens tinggi pada primigravida muda, meningkat pada primigravida tua. Pada wanita hamil
berusia kurang dari 25 tahun insidens > 3 kali lipat
Pada wanita hamil berusia lebih dari 35 tahun, dapat terjadi hipertensi laten

Paritas
- angka kejadian tinggi pada primigravida, muda maupun tua
- primigravida tua risiko lebih tinggi untuk pre-eklampsia berat

Ras / golongan etnik
- bias (mungkin ada perbedaan perlakuan / akses terhadap berbagai etnikdi banyak negara)

Faktor keturunan
Jika ada riwayat pre-eklampsia/eklampsia pada ibu/nenek penderita, faktor risiko meningkat
sampai + 25%

Faktor gen
Diduga adanya suatu sifat resesif (recessive trait), yang ditentukan genotip ibu dan janin

Diet / gizi
Tidak ada hubungan bermakna antara menu / pola diet tertentu (WHO). Penelitian lain :
kekurangan kalsium berhubungan dengan angka kejadian yang tinggi. Angka kejadian juga lebih
tinggi pada ibu hamil yang obese / overweight
24


Iklim / musim
Di daerah tropis insidens lebih tinggi

Tingkah laku / sosioekonomi
Kebiasaan merokok : insidens pada ibu perokok lebih rendah, namun merokok selama hamil
memiliki risiko kematian janin dan pertumbuhan janin terhambat yang jauh lebih tinggi.
Aktifitas fisik selama hamil : istirahat baring yang cukup selama hamil mengurangi
kemungkinan / insidens hipertensi dalam kehamilan.

Hiperplasentosis
Proteinuria dan hipertensi gravidarum lebih tinggi pada kehamilan kembar, dizigotik lebih tinggi
daripada monozigotik.
Hidrops fetalis : berhubungan, mencapai sekitar 50% kasus
Diabetes mellitus : angka kejadian yang ada kemungkinan patofisiologinya bukan pre-eklampsia
murni, melainkan disertai kelainan ginjal / vaskular primer akibat diabetesnya.
Mola hidatidosa : diduga degenerasi trofoblas berlebihan berperan menyebabkan pre-eklampsia.
Pada kasus mola, hipertensi dan proteinuria terjadi lebih dini / pada usia kehamilan muda, dan
ternyata hasil pemeriksaan patologi ginjal juga sesuai dengan pada pre-eklampsia.

25



GEJALA DAN TANDA
Tekanan darah diastolik merupakan indikator dalam penanganan hipertensi dalam kehamilan,
oleh karena tekanan diastolik mengukur tahanan perifer dan tidak tergantung pada keadaan
emosional pasien
Diagnosis hipertensi dibuat jika tekanan darah diastolik 90 mmHg pada 2 pengukuran
berjarak 1 jam atau lebih
Hipertensi dalam kehamilan dapat dibagi dalam:
- Hipertensi karena kehamilan, jika hipertensi terjadi pertama kali sesudah kehamilan 20
minggu, selama persalinan dan/atau dalam 48 jam post partum
- Hipertensi kronik, jika hipertensi terjadi sebelum kehamilan 20 minggu



26

HIPERTENSI KARENA KEHAMILAN
Lebih sering terjadi pada primigravida. Keadaan patologis telah terjadi sejak implantasi,
sehingga timbul iskemia plasenta yang kemudian diikuti dengan sindroma inflamasi.
Risiko meningkat pada:
- Masa plasenta besar (gemelli, penyakit trofoblast)
- Hidramnion
- Diabetes melitus
- Isoimunisasi rhesus
- Faktor herediter
- Autoimun: SLE
Hipertensi karena kehamilan:
- Hipertensi tanpa proteinuria atau edema
- Preeklampsia ringan
- Preeklampsia berat
- Eklampsia
Hipertensi dalam kehamilan dan preeklampsia ringan sering ditemukan tanpa gejala, kecuali
peningkatan tekanan darah. Prognosis menjadi lebih buruk dengan terdapatnya proteinuria.
Edema tidak lagi menjadi suatu tanda yang sahih untuk preeklampsia.
Preeklampsia berat didiagnosis pada kasus dengan salah satu gejala berikut:
- Tekanan darah diastolik > 110 mmHg
- Proteinuria 2+
- Oliguria < 400 ml per 24 jam
- Edema paru: nafas pendek, sianosis dan adanya ronkhi
- Nyeri daerah epigastrium atau kuadran atas kanan perut
- Gangguan penglihatan: skotoma atau penglihatan yang berkabut
- Nyeri kepala hebat yang tidak berkurang dengan pemberian analgetika biasa
- Hiperrefleksia
- Mata: spasme arteriolar, edema, ablasio retina
- Koagulasi: koagulasi intravaskuler disseminata, sindrom HELLP
- Pertumbuhan janin terhambat
- Otak: edema serebri
27

- Jantung: gagal jantung
Eklampsia ditandai oleh gejala preeklampsia berat dan kejang
- Kejang dapat terjadi dengan tidak tergantung pada beratnya hipertensi
- Kejang bersifat tonik-klonik, menyerupai kejang pada epilepsy grand mal
- Koma terjadi setelah kejang dan dapat berlangsung lama (beberapa jam)
HIPERTENSI KRONIK
Hipertensi kronik dideteksi sebelum usia kehamilan 20 minggu
Superimposed preeclampsia adalah hipertensi kronik dan preeklampsia
DIAGNOSIS BANDING
Hipertensi kronik
Jika tekanan darah sebelum kehamilan 20 minggu tidak diketahui, akan sulit untuk
membedakan antara preeklampsia dan hipertensi kronik, dalam hal demikian, tangani
sebagai hipertensi karena kehamilan.
Proteinuria
Sekret vagina atau cairan amnion dapat mengkontaminasi urin, sehingga terdapat
proteinuria
Kateterisasi tidak dianjurkan karena dapat mengakibatkan infeksi
Infeksi kandung kemih, anemia berat, payah jantung dan partus lama juga dapat
menyebabkan proteinuria
Darah dalam urin, kontaminasi darah vagina dapat menghasilkan proteinuria positif palsu
Kejang dan koma
Eklampsia harus didiagnosa banding dengan epilepsi, malaria serebral, trauma kepala,
penyakit serebrovaskuler, intoksikasi (alkohol, obat, racun), kelainan metabolisme
(asidosis), meningitis, ensefalitis, ensefalopati, intoksikasi air, histeria dan lain-lain
KOMPLIKASI
Iskemia uteroplasenter
- Pertumbuhan janin terhambat
- Kematian janin
- Persalinan prematur
- Solusio plasenta
Spasme arteriolar
28

- Perdarahan serebral
- Gagal jantung, ginjal dan hati
- Ablasio retina
- Thromboemboli
- Gangguan pembekuan darah
- Buta kortikal
Kejang dan koma
- Trauma karena kejang
- Aspirasi cairan, darah, muntahan dengan akibat gangguan pernafasan
Penanganan tidak tepat
- Edema paru
- Infeksi saluran kemih
- Kelebihan cairan
- Komplikasi anestesi atau tindakan obstetrik
PENCEGAHAN
Pembatasan kalori, cairan dan diet rendah garam tidak dapat mencegah hipertensi karena
kehamilan, bahkan dapat membahayakan janin
Manfaat aspirin, kalsium dan lain-lain dalam mencegah hipertensi karena kehamilan
belum sepenuhnya terbukti
Yang lebih perlu adalah deteksi dini dan penanganan cepat-tepat. Kasus harus ditindak
lanjuti secara berkala dan diberi penerangan yang jelas bilamana harus kembali ke
pelayanan kesehatan. Dalam rencana pendidikan, keluarga (suami, orang tua, mertua dll.)
harus dilibatkan sejak awal
Pemasukan cairan terlalu banyak mengakibatkan edema paru






29






PENGELOLAAN
HIPERTENSI DALAM KEHAMILAN TANPA PROTEINURIA
Jika kehamilan < 35 minggu, lakukan pengelolaan rawat jalan:
Lakukan pemantauan tekanan darah, proteinuria dan kondisi janin setiap minggu
Jika tekanan darah meningkat, kelola sebagai preeklampsia
Jika kondisi janin memburuk atau terjadi pertumbuhan janin yang terhambat, rawat dan
pertimbangkan terminasi kehamilan
PREEKLAMPSIA RINGAN
Jika kehamilan < 35 minggu dan tidak terdapat tanda perbaikan, lakukan penilaian 2 kali
seminggu secara rawat jalan:
Lakukan pemantauan tekanan darah, proteinuria, refleks dan kondisi janin
Lebih banyak istirahat
Diet biasa
30

Tidak perlu pemberian obat
Jika tidak memungkinkan rawat jalan, rawat di rumah sakit:
- Diet biasa
- Lakukan pemantauan tekanan darah 2 kali sehari, proteinuria 1 kali sehari
- Tidak memerlukan pengobatan
- Tidak memerlukan diuretik, kecuali jika terdapat edema paru, dekompensasi jantung
atau gagal ginjal akut
- Jika tekanan diastolik turun sampai normal, pasien dapat dipulangkan:
Nasehatkan untuk istirahat dan perhatikan tanda preeklampsia berat
Periksa ulang 2 kali seminggu
Jika tekanan diastolik naik lagi rawat kembali
- Jika tidak terdapat tanda perbaikan tetap dirawat
- Jika terdapat tanda pertumbuhan janin terhambat, pertimbangkan terminasi kehamilan
- Jika proteinuria meningkat, kelola sebagai preeklampsia berat
Jika kehamilan > 35 minggu, pertimbangkan terminasi kehamilan
Jika serviks matang, lakukan induksi dengan Oksitosin 5 IU dalam 500 ml Ringer
Laktat/Dekstrose 5% IV 10 tetes/menit atau dengan prostaglandin
Jika serviks belum matang, berikan prostaglandin, misoprostol atau kateter Foley, atau
lakukan terminasi dengan bedah Caesar
PREEKLAMPSIA BERAT DAN EKLAMPSIA
Penanganan preeklampsia berat dan eklampsia sama, kecuali bahwa persalinan harus
berlangsung dalam 6 jam setelah timbulnya kejang pada eklampsia.
Pengelolaan kejang:
Beri obat anti kejang (anti konvulsan)
Perlengkapan untuk penanganan kejang (jalan nafas, penghisap lendir, masker oksigen,
oksigen)
Lindungi pasien dari kemungkinan trauma
Aspirasi mulut dan tenggorokan
Baringkan pasien pada sisi kiri, posisi Trendelenburg untuk mengurangi risiko aspirasi
Berikan O
2
4-6 liter/menit
Pengelolaan umum
31

Jika tekanan diastolik > 110 mmHg, berikan antihipertensi sampai tekanan diastolik antara
90-100 mmHg
Pasang infus Ringer Laktat dengan jarum besar no.16 atau lebih
Ukur keseimbangan cairan, jangan sampai terjadi overload
Kateterisasi urin untuk pengukuran volume dan pemeriksaan proteinuria
Infus cairan dipertahankan 1.5 - 2 liter/24 jam
Jangan tinggalkan pasien sendirian. Kejang disertai aspirasi dapat mengakibatkan
kematian ibu dan janin
Observasi tanda vital, refleks dan denyut jantung janin setiap 1 jam
Auskultasi paru untuk mencari tanda edema paru. Adanya krepitasi merupakan tanda
adanya edema paru. Jika ada edema paru, hentikan pemberian cairan dan berikan diuretik
(mis. Furosemide 40 mg IV)
Nilai pembekuan darah dengan uji pembekuan. Jika pembekuan tidak terjadi setelah 7
menit, kemungkinan terdapat koagulopati

HIPERTENSI KRONIK
Jika pasien sebelum hamil sudah mendapatkan pengobatan dengan obat anti hipertensi dan
terpantau dengan baik, lanjutkan pengobatan tersebut
Jika tekanan darah diastolik > 110 mmHg atau tekanan sistolik 160 mmHg, berikan anti
hipertensi
Jika terdapat proteinuria, pikirkan superimposed preeclampsia
Istirahat
Lakukan pemantauan pertumbuhan dan kondisi janin
Jika tidak terdapat komplikasi, tunggu persalinan sampai aterm
Jika terdapat preeklampsia, pertumbuhan janin terhambat atau gawat janin, lakukan:
- Jika serviks matang, lakukan induksi dengan Oksitosin 2-5 IU dalam 500 ml Dekstrose
melalui infus 10 tetes/menit atau dengan prostaglandin.
- Jika serviks belum matang, berikan prostaglandin, misoprostol atau kateter Foley
Observasi komplikasi seperti solusio plasenta atau superimposed preeklampsia.