Anda di halaman 1dari 14

JTM Vol. XVIII No.

4/2011

173

ANALISIS PENGARUH ALIRAN NON-DARCY DI SUMUR
TERHADAP AOF, LAJU ALIR OPTIMUM GAS DAN WAKTU
PLATEAU PADA LAPANGAN X

Dirga Rikandhi
1
, Tutuka Ariadji
1

Sari
Salah satu kondisi yang terjadi didalam reservoir retrogade gas adalah kehadiran aliran Non-Darcy (aliran turbulensi)
didalam media berpori. Kehadiran aliran Non-Darcy ini akan mempengaruhi nilai AOF, skin, laju alir optimum gas dan
waktu plateau. Pada makalah ini, dengan menggunakan compositional model telah ditentukan nilai koefisien Darcy,
koefisien Non-Darcy, koefisien turbulensi dan pengaruh kehadiran aliran Non-Darcy terhadap AOF, skin, Q
optimum
dan
waktu plateau. Dengan menggunakan interpretasi uji sumur, pemodelan dan matching proccess yang meliputi pemodelan
PVT, pemodelan IPR-TPR dan reservoir modelling, didapatkan suatu sistem model reservoir yang match dengan data
lapangan X. Kehadiran aliran Non-Darcy membuat AOF yang dihasilkan dari reservoir yang ditinjau menjadi lebih kecil,
kurang lebih menjadi sepertiga daripada AOF pada reservoir yang hanya memperhitungkan aliran Darcy saja, lalu
dengan kehadiran aliran Non-Darcy menyebabkan Q
optimum
berkurang sekitar 1,12 MMSCF/d atau 5,56%. Kemudian
kehadiran aliran Non-Darcy pada lapangan X ini memiliki kontribusi untuk menaikkan faktor skin sebesar 7,42 atau
28,5% dengan skin total sebesar 26,02 . Uji sensitivitas terhadap koefisiensi turbulensi dilakukan pada kondisi laju alir
tertentu untuk melihat pengaruh dari aliran Non-Darcy terhadap waktu plateau dan didapatkan suatu korelasi untuk
memprediksi waktu plateau pada lapangan X ini, persamaannya adalah
t = 3419,052-2478,701 x ln (Q) - 10389,873 x D + 450,748 x ln (Q)
2
+ 556609,148 x D
2


Kata kunci: retrogade gas, Non-Darcy, turbulensi, AOF, waktu plateau

Abstract
A condition in retrograde gas reservoir is presence of Non-Darcy flow in porous media. The presence of this flow could
make effect for AOF, skin, optimum gas rate and plateau time. In this paper, by using compositional model, had been
determined Darcy coefficient, Non-Darcy coefficient and turbulence coefficient, and the effect of presence of Non-Darcy
flow for AOF, skin, Q
optimum
and plateau time. By using well testing interpretation, modelling and mathing proccess which
involve PVT modelling, IPR-TPR modelling and reservoir modelling, had been gotten a match system reservoir model with
field data. Presence of Non-Darcy flow made AOF less become 1/3 than AOF in reservoir without Non-Darcy flow, then
presence of Non-Darcy flow made Q
optimum
decreased about 1.12 MMSCF/d or 5.56%. In other side, presence of Non-
Darcy flow in this X field had contribution to increase skin factor about 7.42 or 26.5% with total skin about 26.02.
Sensitivity test for turbulence coefficient in specific rate was done, and made relationship for plateau time. The correlation
is :
t = 3419.052-2478.701 x ln (Q) 10389.873 x D + 450.748 x ln (Q)
2
+ 556609.148 x D
2


Keywords: retrogade gas, Non-Darcy, turbulence, AOF, plateau time

1)
Program Studi Teknik Perminyakan Institut Teknologi Bandung
Jl. Ganesa No. 10 Bandung, Telp: +62-22-2504904, Fax.: +62-22-2504904, Email: tutukaariadji@gmail.com

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Salah satu jenis fluida reservoir yang termasuk ke
dalam lima klasifikasi fluida reservoir adalah
retrogade gas atau retrogade condensate.
Reservoir dengan fluida reservoir berjenis
retrogade gas memiliki karakteristik dan
kelakuan yang berbeda dengan jenis fluida
reservoir lainnya. Pada saat awal diproduksi,
fluida yang terbentuk di reservoir masih berada
pada satu fasa, yaitu fasa gas. Gas sebagai fluida
yang memiliki massa jenis yang ringan berpotensi
untuk mengalir secara turbulen pada kondisi
tertentu. Kehadiran aliran turbulen atau lebih
sering dikenal sebagai aliran Non-Darcy ini
merupakan salah satu keadaan yang menyebabkan
profil kelakuan aliran yang unik di reservoir.
Hukum Darcy yang selama ini sering kita gunakan
mengasumsikan bahwa aliran yang terjadi di
media berpori merupakan aliran laminer, sehingga
dengan kehadiran aliran turbulen pada reservoir,
penggunaan hukum Darcy menjadi tidak akurat.
Oleh karena itu dibutuhkan pemahaman secara
baik mengenai efek kehadiran aliran Non-Darcy
ini.

Kehadiran aliran Non-Darcy diprediksi akan
mempengaruhi beberapa parameter, diantaranya
AOF (Absolut Open Flow), skin, laju alir optimum
gas dan plateau time dari reservoir retrogade gas
yang ditinjau. Namun seberapa besar pengaruh
aliran Non-Darcy ini pada lapangan X belum
diketahui. Sehingga dibutuhkan pemahaman yang
baik mengenai kehadiran aliran Non-Darcy ini
terhadap hal-hal tersebut. Dengan mengetahui efek
kehadiran aliran Non-Darcy di reservoir,
diharapkan nantinya akan dapat dibuat skenario
pengembangan yang tepat agar bisa
memproduksikan hidrokarbon secara optimum.
1.2 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
faktor koefisien Darcy, koefisien Non-Darcy,
koefisien turbulensi dan menganalisis efek dari
aliran Non-Darcy terhadap AOF, skin, Q
optimum
dan
plateau time dari lapangan X.

Dirga Rikandhi, Tutuka Ariadji

174

1.3. Teori Dasar
1.3.1 Kelakuan Reservoir Retrogade Gas
Pada saat awal ditemukan, reservoir retrogade-gas
memiliki tekanan reservoir diatas tekanan titik
embunnya, sehingga fasa yang terbentuk hanya
fasa gas. Ketika tahap produksi dilakukan pada
reservoir tersebut, maka akan terjadi penurunan
tekanan dibawah kondisi isothermal. Ketika
tekanan turun melewati tekanan titik embunnya
maka fasa cair akan mulai terbentuk, fasa cair
yang terbentuk ini sering disebut dengan
kondensat. Gambar 1 menunjukkan tipikal bentuk
diagram fasa dari reservoir retrogade gas.


Gambar 1. Diagram fasa retrogade gas


Salah satu ciri dari reservoir retrogade gas adalah
memiliki komposisi fluida reservoir dengan
kandungan komponen heptane plus dibawah
12,5%.

1.3.2 Uji Sumur Gas
Salah satu tujuan dari suatu pengujian sumur
hidrokarbon adalah untuk menentukan beberapa
karakteristik reservoir seperti skin, permeabilitas
dan lain-lain. Oleh karena itu dibutuhkan
perancangan pengujian yang tepat serta analisa
yang memadai.

Prinsip dasar pengujian tekanan ini sangat
sederhana, yakni dengan diberikannya 'gangguan'
berupa produksi fluida reservoir dan penutupan
dari sumur yang diuji. Perubahan tekanan sebagai
fungsi waktu kemudian diplot untuk dianalisa pola
aliran yang terjadi dan juga diinterpretasi besaran-
besaran dari karakteristik formasi.


Pada sumur gas dikenal beberapa jenis pengujian
sumur, diantaranya adalah back pressure test
,

isochronal test dan modified isochronal test.
Pelaksanaan back pressure test dimulai dengan
cara menstabilkan tekanan reservoir dengan cara
menutup sumur. Kemudian sumur dipoduksi
dengan laju sebesar q
sc
sampai didapatkan aliran
yang stabil sebelum diganti dengan laju produksi
lainnya. Setiap perubahan laju produksi tidak
didahului dengan penutupan sumur. Untuk
isochronal test, pelaksanaannya adalah dengan
membuka sumur pada q tertentu dengan selang
waktu yang sama untuk setiap kondisi laju alir
yang berbeda. Setiap perubahan laju produksi
didahului dengan penutupan sumur sampai
tekanan mencapai stabil (

R
). Sedangkan modified
isochronal test merupakan metode yang diusulkan
oleh Katz et al. (1990) untuk memperoleh hasil
yang mendekati isochronal test. Perbedaan antara
metode ini dengan isochronal test adalah pada
metode isochronal test memiliki persyaratan
bahwa penutupan sumur harus mencapai keadaan
stabil, tetapi pada modified isochronal test tidak
perlu mencapai stabil. Pada prinsipnya, modified
isochronal test adalah uji sumur dengan
mengalirkan fluida reservoir pada laju alir tertentu
kemudian menutup sumur pada setiap perubahan
laju alir dengan selang waktu yang sama (Gambar
2).



2 (a)


2 (b)
Analisis Pengaruh Aliran Non-Darcy di Sumur terhadap AOF,
Laju Optimum Gas dan Waktu Plateau Pada Lapangan X
175


2 (c)
Gambar 2. Distribusi laju alir dan tekanan uji
sumur: a. Back pressure test; b. Isochronal test; c.
Modified isochronal test
1.3.3 Penentuan P

dengan Metode MBH


Metode MBH merupakan suatu metode yang dapat
digunakan untuk memperkirakan P

pada suatu
reservoir yang terbatas dari hasil tes build up.

Berikut langkah-langkah untuk mendapatkan P


dengan menggunakan metode ini:
1. Menghitung waktu uji sumur yang telah
dilakukan apakah sudah memasuki periode pseudo
steady state ataukah masih dalam periode transien.
Digunakan persamaan 1 untuk menghitung waktu
dimana periode transien berakhir:

t <
0C
t
At
DA
0.000264k
(1)

2. Harga P
*
dan m bisa didapatkan dari metode
Horner (Gambar 3).
3. Kemudian harga P

diperkirakan dengan
menggunakan persamaan 2:

P

= P


m
2.303
P
MBH
(t
pA
) (2)

Harga P
DMBH
atau dikenal dengan "MBH
Dimensionless Pressure" dibaca pada ordinat pada
grafik yang dibuat MBH. Harga absisnya
didapatkan dengan menggunakan persamaan 3:

t
pA
=
0.0002637kt
p
C
t
A
(3)

Gambar 3. Horner plot

1.3.4 Aliran Non-Darcy pada Reservoir Gas
Aronofsky dan Jenkins (1954) telah
mengembangkan deliverability relationship untuk
aliran gas dari solusi persamaan diferensial aliran
gas melalui media berpori dengan menggunakan
persamaan Forchheimer. Persamaannya adalah:

q =
kh(P
2
-P
w]
2
)
1424 1 z [In(0.472c/w)+s+q]
(4)
Sehingga:
P

2
P
w]
2
=
1422z 1
kh
[ln
0.472c
w
+s q +
1422z 1
kh
q
2
(5)
atau
P

2
P
w]
2
= Aq +Bq
2
(6)
dengan
A =
1422z 1
kh
[ln
0.472c
w
+s (7)
B =
1422z 1
kh
(8)

Faktor A diatas dikenal dengan koefisien Darcy,
faktor B dikenal dengan koefisien Non-Darcy dan
faktor D dikenal dengan koefisien turbulensi.

Al-Hussainy Ramey- Crowford (1966) telah
mengembangkan konsep baru yaitu real gas
pseudo-pressure function. Real gas pseudo-
pressure function (P) didefinisikan sebagai:

V(P) = 2
P
z
P
i
P
w]
dp (9)

Untuk menggambarkan kehadiran aliran Non-
Darcy, jika menggunakan metode pseudo-pressure
((P)) maka persamaannya menjadi:

V(P
R

) V(P
w]
2
) = A

q +B

q
2
(10)

dimana:

A

=
14221
kh
[ln
0.472c
w
+s (11)
B

=
14221
kh
(12)

dimana untuk mendapatkan nilai A dan B, faktor
A dan B di atas masing-masing perlu dikalikan
dengan viskositas dan z-faktor.

II. METODOLOGI
Metodologi yang digunakan dalam studi yang
dilakukan yaitu dengan melakukan perhitungan
manual dan simulasi reservoir. Data yang
digunakan didalam studi ini berasal dari beberapa
sumber data seperti data routine core, SCAL, data
PVT dari pengujian di laboratorium, dan data hasil
uji sumur. Data tersebut ada yang dapat langsung
digunakan namun ada juga yang harus diolah
terlebih dahulu sehingga menjadi data yang siap
Dirga Rikandhi, Tutuka Ariadji

176

pakai, seperti data properti batuan (permeabilitas,
skin, dll.), data PVT, data koefisien Darcy, Non-
Darcy dan turbulensi serta data lainnya. Model
yang digunakan di dalam tugas akhir ini adalah
single well model dengan aliran radial. Model
reservoir yang digunakan merupakan model
hipotetik dengan arah aliran radial dimana terdapat
satu sumur yang terletak di tengah-tengah
reservoir tersebut.

Data yang digunakan di dalam penelitian ini
merupakan data real lapangan, sehingga untuk
membuat model seperti model PVT, IPR-TPR dan
reservoir harus dicocokkan terlebih dahulu dengan
data lapangan. Proses pencocokan model yang
dibuat dengan data real lapangan sering disebut
dengan matching proccess.

Berikut tahap-tahap yang dilakukan untuk
melakukan penelitian ini:
1. Interpretasi dan analisis data uji sumur.
2. Pemodelan PVT dari fluida reservoir.
3. Perhitungan untuk mencari koefisien Darcy,
koefisien Non-Darcy dan koefisien turbulensi.
4. Pemodelan IPR dan TPR.
5. Studi pengaruh kehadiran aliran Non-Darcy
terhadap AOF, Skin dan Q
optimum.

6. Simulasi reservoir dengan memvalidasi model
reservoir yang dibuat dengan BHP matching.
7. Studi sensitivitas.

Gambar 4 menunjukkan flowchart dari metodologi
yang dilakukan.


Gambar 4. Flowchart metodologi penelitian

Dari flowchart di atas dapat dilihat bahwa
metodologi pada penelitian ini terdapat beberapa
matching proccess. Matching proccess tersebut
meliputi PVT matching, IPR dan TPR matching
dan BHP matching. PVT matching dilakukan
untuk membuat model PVT yang sesuai dengan
data laboratorium. Kemudian IPR dan TPR
matching dilakukan untuk mencocokkan model
IPR dan TPR yang dibuat dengan data uji sumur.
Sedangkan BHP matching atau sering disebut
sebagai history matching dilakukan untuk
memvalidasi model reservoir terhadap kelakuan
reservoir yang sebenarnya.

III. HASIL DAN ANALISIS
3.1 Interpretasi dan Analisis Data Uji Sumur
Pada tahap ini dilakukan interpretasi data hasil uji
sumur dari sumur Y dari lapangan X. Jenis uji
sumur yang dilakukan pada sumur Y ini adalah
modified isochronal test. Tes ini dilakukan pada
saat dilakukan UKL (Uji Kandungan Lapisan) atau
yang lebih dikenal dengan nama Drill Stem Test.
Interpretasi data hasil uji sumur ini dilakukan
dengan menggunakan peranti lunak komersial.

Karakterisasi reservoir seperti permeabilitas dan
skin diinterpretasi pada data build up pressure,
karena pada data uji sumur ini khususnya pada
tahap drawdown dipengaruhi oleh adanya
ketidakstabilan laju alir sehingga mempengaruhi
kualitas data yang terbentuk.

Dari hasil simulasi uji sumur kemudian didapatkan
model yang match dengan data uji sumur.
Permeabilitas efektif yang dihasilkan dari model
yang match ini sebesar 40 mD dengan skin sebesar
27,9. Karena permeabilitas relatif gas sebesar
0,3107 maka permeabiltas absolut dari reservoir
ini adalah sebesar 128,74 mD. Pencocokan data uji
sumur ini dapat dilihat pada Gambar 5 dan 6.


Gambar 5. Log-log plot dan derivative match

Gambar 6. Semi log plot match
Analisis Pengaruh Aliran Non-Darcy di Sumur terhadap AOF,
Laju Optimum Gas dan Waktu Plateau Pada Lapangan X
177

3.2 Pemodelan PVT dari Fluida Reservoir
Jenis fluida reservoir pada reservoir ini diprediksi
sebagai retrogade gas. Retrogade gas merupakan
salah satu jenis fluida reservoir yang saat proses
produksi memiliki kecenderungan untuk berubah
komposisinya dan jenis fasanya. Oleh karena itu
untuk menggambarkan kondisi ini dilakukan
simulasi fluida reservoir dengan compositional
model dengan menggunakan PVT simulator
komersial.

Data yang didapatkan dari hasil well stream
sampling dimasukkan sebagai input data didalam
simulator. Selain itu, beberapa data hasil pengujian
fluida reservoir seperti CCE (Constant
Compsotion Expansion), CVD (Constant Volume
Depletion) dan Separator Test dimasukkan juga ke
dalam simulator sebagai data pembanding.
Matching proccess dilakukan dengan cara
mengubah beberapa parameter seperti specific
gravity dan molecular weight dari pseudo-
component. Perubahan data pseudo-component ini
dapat dilakukan karena pada saat penentuan
karakteristik pseudo-component di laboratorium
terdapat ketidakpastian data. Namun syarat
perubahan data tersebut tidak boleh melebihi batas
maksimum sebesar 10% dari nilai awal. Tabel
hasil perubahan parameter pseudo-component
ditampilkan pada Tabel 1.

Tabel 1. Perubahan parameter pseudo-component
Komponen
Specific
Gravity
Molecular
Weight
Awal Akhir Awal Akhir
PS-1 0,771 0,751 130,7 133,7
PS-2 0,823 0,830 192,5 192,5

Dari Tabel 1 dapat dilihat bahwa perubahan
maksimal parameter yang dilakukan adalah
sebesar 2,59% sehingga dapat disimpulkan bahwa
perubahan parameter pseudo-component diatas
valid karena kurang dari batas maksimum sebesar
10%.

Dengan menggunakan metode EOS (Equation of
State) dan korelasi parameter yang tepat serta
regresi yang dilakukan terhadap hasil simulasi,
didapatkan hasil yang match antara data hasil
pengujian di laboratorium dan data hasil simulasi.
Data tersebut antara lain tekanan titik embun, gas
oil ratio dan densitas kondensat yang ditampikan
pada Tabel 2.

Tabel 2. Hasil simulasi PVT
Parameter Hasil Lab.
Hasil
Simulasi
Galat
(%)
Dew Point
Pressure
3045 psig 3045 psig 0
Gas Oil
Ratio
77320,3
scf/STB
77318
scf/STB
0,003
Densitas
kondensat
725,40 gr/cc
726,965
gr/cc
0,216

Selain data di atas, matching proccess juga
dilakukan terhadap data lainnya. Data lain yang
dicocokkan antara hasil simulasi dan hasil
laboratorium adalah z-faktor (Gambar 7), liquid
dropout (Gambar 8) dan volume relatif (Gambar
9).






Gambar 7. Z-Faktor matching

1,5
1,12
5
0,75
0,375
Dirga Rikandhi, Tutuka Ariadji

178


Gambar 8. Liquid drop out matching

Gambar 9. Volume relatif matching

Phase envelope (Gambar 10) yang dihasilkan dari
hasil simulasi PVT ini menunjukkan bahwa fluida
reservoir lapangan X ini adalah retrogade gas.
Dari phase envelope tersebut dapat dilihat bahwa
kondensat akan segera terbentuk pada tahap awal
proses produksi dimana tekanan titik embun dari
reservoir ini sebesar 3045 psig sedangkan tekanan
awal reservoirnya sebesar 3051 psig.


Gambar 10. Phase envelope reservoir
1
0,75
0, 5
0,25
Analisis Pengaruh Aliran Non-Darcy di Sumur terhadap AOF,
Laju Optimum Gas dan Waktu Plateau Pada Lapangan X
179

Matching proccess data PVT ini perlu dilakukan
untuk memvalidasi model PVT yang akan
digunakan untuk simulasi reservoir. Model PVT
yang sudah match ini nantinya akan dimasukkan
sebagai data input untuk perhitungan, pemodelan
IPR-TPR dan simulasi reservoir.

3.3 Analisis Efek Kehadiran Aliran Non-Darcy
terhadap AOF dan Skin
Untuk menganalisis efek kehadiran aliran Non-
Darcy terhadap AOF dan skin diperlukan data
seperti koefisien Darcy, koefisien Non-Darcy dan
koefisien turbulensi. Namun sebelumnya, perlu
diketahui terlebih dahulu mengenai nilai P

.

3.3.1 Penentuan P


Untuk menentukan P

dari reservoir ini perlu


diperhatikan apakah uji sumur yang dilakukan
masih didalam periode transien atau sudah
memasuki periode PSS. Untuk memperkirakan
waktu akhir periode transien, pada studi ini
digunakan persamaan Dietz untuk model centered
well radial reservoir. Menurut Dietz, periode
aliran transien akan terjadi pada:

t <
C
t
A t
DA
0.000264 k
(13)

Dengan menggunakan persamaan diatas,
didapatkan waktu akhir periode aliran transien
sebesar 108,87 jam. Dengan membandingkan
waktu produksi yang dilakukan pada sumur Y
sebesar 176 jam dengan waktu akhir periode
transien maka dapat disimpulkan bahwa uji sumur
yang dilakukan pada sumur ini sudah memasuki
periode PSS. Metode yang dapat digunakan untuk
memperkirakan P

pada uji sumur yang sudah


memasuki periode PSS adalah MBH (Matthews,
Brons, Hazebroek). Persamaan yang digunakannya
adalah:

P

= P


m
2.303
P
MBH
(t
pA
) (14)

dimana:

t
pA
=
0.0002637kt
p
C
t
A
(15)

Dari perhitungan di atas didapatkan P

sebesar
3059,69 psia.

3.3.2 Penentuan koefisien Darcy, Non-Darcy
dan turbulensi
Untuk mencari koefisien Darcy, Non-Darcy dan
turbulensi dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu
dengan menggunakan P
2
dan (P). Pada penelitian
ini penulis menggunakan kedua metode tersebut
dan ingin melihat perbedaan nilai yang dihasilkan
dari setiap metode.

3.3.2.1 Metode P
2

Dengan menggunakan metode P
2
ingin diketahui
nilai dari koefisien Darcy, koefisien Non-Darcy
dan koefisien turbulensi dari lapangan X.
Persamaan umum gas well deliverability untuk
aliran Non-Darcy adalah:

(P

2
P
w]
2
) = A q + Bq
2
(16)

dimana A : Koefisien Darcy
B : Koefisien Non-Darcy

Koefisien Darcy dan Non-Darcy di atas bisa
didapatkan dengan memplot
(P
2
-P
w]
2
)
q
vs q
dimana data yang digunakan berasal dari data uji
sumur (Gambar 11). Dengan menarik garis linear
dari kurva tersebut maka slope yang dihasilkan
adalah koefisien Non-Darcy sedangkan intercept
dari kurva tersebut adalah koefisien Darcy,
sementara koefisien turbulensi dapat dicari dari
koefisien Non-Darcy dengan menggunakan
persamaan:
=
Bkh
1422
g
z 1
(17)


Gambar 11. Kurva P
2
-Pwf
2
/q vs q metode P
2

Tabel 3 berikut adalah hasil yang didapatkan dari
perhitungan dengan menggunakan metode ini:
Tabel 3. Nilai koefisien Darcy, Non-Darcy dan
turbulensi dengan metode P
2

Koefisien
Darcy
Koefisien
Non-Darcy
Koefisien
Turbulensi
66,23
psi
2
/(MSCF/d)

0,001
psi
2
/(MSCF/d)
2

0,00044
d/MSCF

Dari hasil di atas maka persamaan gas well
deliverability menjadi:

(P

2
P
w]
2
) = 66.23 q + 0.01q
2
(18)

3.3.2.2 Metode (P)
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa
untuk mencari koefisien Darcy, koefisien Non-
Darcy dan koefisien turbulensi dapat dilakukan
dengan menggunakan metode P
2
dan (P). Oleh
karena itu, penulis mencoba melakukan
perhitungan lagi untuk mencari koefisien Darcy,
koefisien Non-Darcy dan koefisien turbulensi
dengan menggunakan metode ((P)). Penggunaan
metode ((P)) perlu dilakukan mengingat tekanan
0
20
40
60
80
100
120
0 10000 20000 30000
P
2
-
P
w
f
2
/
q
,

p
s
i
2
.
d
a
y
/
M
S
C
F
q, MSCF/d
Dirga Rikandhi, Tutuka Ariadji

180

reservoir ini dapat dikategorikan tekanan tinggi.
Persamaan yang digunakan adalah:

[V(P

) V(P
w]
) = Aq + Bq
2
(19)

Cara yang dilakukan untuk mendapatkan koefisien
Darcy dan koefisien Non-Darcy untuk metode
pseudo-pressure hampir sama seperti metode P
2
,
namun yang diplot didalam metode ini adalah
+(P
R
)-+(P
w]
)
q
vs q (Gambar 12). Slope yang
dihasilkan dari kurva ini disebut B', dimana untuk
mendapatkan koefisien Non-Darcy (B), B' perlu
dikalikan dengan viskositas dan z-faktor.
Kemudian intercept yang dihasilkan dari kurva ini
disebut dengan A', dimana untuk mendapatkan
koefisien Darcy (A), A' perlu dikalikan dengan
viskositas dan z-faktor.


Gambar 12. Kurva Metode (P)
Tabel 4 berikut adalah hasil yang didapatkan dari
perhitungan dengan menggunakan metode ini:

Tabel 4. Nilai A dan B dari metode (P)
A' B'
3465
mpsi
2
/MSCF.cp

0,082
mpsi
2
/(MSCF/d)
2
.cp

Dari hasil di atas maka persamaan gas well
deliverability menjadi:

[V(P

) V(P
w]
) = 3465q + 0,082q
2
(20)

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa
nilai A dan B diatas dapat diubah menjadi
koefisien Darcy dan koefisien Non-Darcy dengan
mengalikan faktor-faktor tersebut dengan
viskositas dan z-faktor.

Sehingga dengan menggunakan perhitungan diatas
maka koefisien Darcy, koefisien Non-Darcy dan
koefisien turbulensi yang dihasilkan dapat dilihat
pada Tabel 5.

Tabel 5. Nilai koefisien Darcy, Non-Darcy dan
turbulensi dengan metode (P)
Koefisien
Darcy
Koefisien
Non-Darcy
Koefisien
Turbulensi
65,33
psi
2
/(MSCF/d)

0,001546
psi
2
/(MSCF/d)
2

0,000614
d/MSCF

3.4 Analisis Pengaruh Aliran Non-Darcy
terhadap AOF, Skin dan Q
optimum
Setelah koefisien Darcy dan koefisien Non-Darcy
didapatkan dari perhitungan sebelumnya yaitu
dengan menggunakan metode P
2
dan (P), maka
analisis efek kehadiran aliran Non-Darcy terhadap
AOF, skin dan Q
optimum
dapat dilakukan.

3.4.1 Analisis Pengaruh Aliran Non-Darcy
terhadap AOF
Untuk mengetahui pengaruh kehadiran aliran Non-
Darcy terhadap AOF, maka dilakukan pembuatan
model IPR. Model IPR yang dibuat ini bertujuan
untuk memvalidasi nilai koefisien Darcy dan Non-
Darcy yang dihasilkan dari perhitungan apakah
sudah tepat atau belum. Model IPR yang dibuat
tentu saja mempertimbangkan kehadiran aliran
Non-Darcy.

Dengan memasukkan koefisien Darcy dan Non-
Darcy sebagai data masukan untuk membuat
model IPR, maka dihasilkan suatu kurva IPR yang
menggambarkan kelakuan dari reservoir yang
ditinjau. Dari model IPR yang dibuat ini, kita bisa
mengetahui AOF dari reservoir yang ditinjau.
Namun sebelumnya, model IPR yang telah dibuat
harus dicocokkan terlebih dahulu dengan data uji
sumur.

Koefisien Darcy dan koefisien Non-Darcy yang
digunakan sebagai data masukan bersumber dari
hasil perhitungan P
2
dan (P). Hal ini bertujuan
untuk melihat perbedaan nilai AOF yang
dihasilkan dari kedua metode ini disamping
nantinya akan dibandingkan dengan nilai AOF
yang dihasilkan pada model IPR yang hanya
memperhitungkan aliran Darcy saja. Model IPR
yang dihasilkan untuk koefisien Darcy dan
koefisien Non-Darcy yang berasal dari metode P
2

ditampilkan pada Gambar 13 sedangkan dari
metode (P) ditampilkan pada Gambar 14.

0
1000
2000
3000
4000
5000
6000
0 20000 40000
(
(

(
P


)
-

(
P
_
w
f

)

)
)
/
q
,
m
p
s
i
2
/
M
S
C
F
.
c
p
q, MSCF
Analisis Pengaruh Aliran Non-Darcy di Sumur terhadap AOF,
Laju Optimum Gas dan Waktu Plateau Pada Lapangan X
181


Gambar 13. Model IPR Matching metode P
2


Gambar 14. Model IPR Matching metode (P)
Dari kedua grafik diatas dapat disimpulkan bahwa
kedua metode menghasilkan model IPR yang
match dengan data uji sumur. Namun bila
dibandingkan, kedua model tersebut memiliki
perbedaan nilai AOF dimana jika menggunakan
koefisien Darcy dan koefisien Non-Darcy yang
dihasilkan dari metode P
2
menghasilkan nilai AOF
sebesar 67,607 MMSCF/d sedangkan untuk
metode (P) menghasilkan nilai AOF sebesar
59,291 MMSCF/d. Sehingga terdapat selisih nilai
AOF sebesar 8,316 MMSCF/d. Namun metode
(P) merupakan metode yang lebih dapat
dipercaya pada kasus ini, karena pada metode P
2

menganggap bahwa hubungan antara P/z vs P
adalah linear sedangkan metode (P) tidak.
Hubungan P/z vs P pada lapangan X
menunjukkan terdapat daerah yang tidak linear
yaitu pada daerah tekanan diatas 2000 psi (Gambar
15). Sehingga metode (P) merupakan metode
yang lebih cocok digunakan.


Gambar 15. Ketidak linieran Kurva P/(z) vs P

Selanjutnya dibuat model IPR untuk
menggambarkan kelakuan reservoir yang hanya
mempertimbangkan kehadiran aliran Darcy saja
dan ditampilkan pada Gambar 16.
0
50000
100000
150000
200000
0.00 1000.00 2000.00 3000.00 4000.00
P
/
(

z
)
,

p
s
i
a
/
c
p
Tekanan, psia
Ketidak-linieran P/(z)

Dirga Rikandhi, Tutuka Ariadji

182



Gambar 16. Model IPR (Aliran Darcy)

Selain menggunakan simulasi untuk membuat
IPR, penulis melakukan perhitungan manual untuk
membandingkan nilai AOF untuk kondisi terdapat
aliran Darcy dan Non-Darcy dan kondisi yang
hanya terdapat aliran Darcy saja. Untuk
mendapatkan nilai AOF diperlukan plot kurva
antara (P

2
P
w]
2
) vs q, dimana AOF didapatkan
saat Pwf=0. Dengan menggunakan koefisien
Darcy dan Non-Darcy yang telah dihitung dengan
menggunakan metode (P), didapatkan grafik log-
log antara (P

2
P
w]
2
) vs q yang ditampilkan
pada Gambar 17.

Gambar 17. Kurva log(P

2
P
wI
2
) vs log q
Berdasarkan grafik di atas dan model IPR yang
dibuat, dengan kehadiran aliran Non-Darcy
menyebabkan nilai AOF menjadi semakin
berkurang. Penyimpangan yang terjadi antara
kurva yang memperhitungkan aliran Darcy dan
Non-Darcy dengan kurva yang hanya
memperhitungkan aliran Darcy saja dimulai pada
saat kondisi laju alir 5 MMSCF/d. Dari grafik
tersebut dapat dilihat bahwa AOF untuk kurva
yang hanya memperhitungkan aliran Darcy adalah
sebesar 142,48 MMSCF/d sedangkan AOF untuk
kurva yang memperhitungkan aliran Darcy dan
Non-Darcy adalah sebesar 59,29 MMSCF/d.
Sehingga bila dibandingkan, terjadi penurunan
nilai AOF yang cukup signifikan sebesar 83,2
MMSCF/d atau sekitar 58%.
3.4.2 Analisis Pengaruh Aliran Non-Darcy
terhadap Skin
Koefisien Darcy yang dihasilkan dari perhitungkan
sebelumnya dapat digunakan untuk mencari faktor
skin. Skin dapat dicari dengan menggunakan
persamaan:

S =
Aikh
14221
ln [
0.472c
w
(21)
Skin yang dihasilkan dengan persamaan diatas
adalah sebesar 18,6. Kemudian dicari nilai faktor
Dq saat kondisi dilakukannya interpretasi data uji
sumur. Laju alir konstan sebelum penutupan build
up terakhir adalah sebesar 12089 MSCF/d.
Sehingga nilai Dq yang dihasilkan adalah 7.42.
Jika nilai ini ditambahkan dengan nilai skin yang
dihasilkan sebelumnya maka hasilnya adalah
26,02. Nilai skin tersebut sangat mendekati dengan
nilai skin yang dihasilkan dari interpretasi data uji
sumur yaitu 27,9. Sehingga, dapat disimpulkan
aliran turbulensi memberikan kontribusi yang
cukup besar terhadap penambahan faktor skin
yaitu sebesar 7,42.
3.4.3 Analisis Pengaruh Aliran Non-Darcy
terhadap Q
optimum
Dari model IPR yang telah dibuat, kemudian
dibuat model TPR untuk mendapatkan Q
optimum
.
Model TPR yang dibuat kemudian dilakukan
proses pencocokkan dengan data dari uji sumur.
Base case yang dipakai menggunakan ukuran
tubing sebesar 3,5 inch sedangkan THP yang
didesain sebesar 1311 psig. Dari hasil simulasi
yang dilakukan, didapatkan model TPR yang
cocok terhadap data uji sumur. Setelah model TPR
yang cocok telah didapatkan, model IPR dan TPR
diplot secara bersama-sama dan menghasilkan
Q
optimum
untuk masing-masing kondisi (Gambar 18
dan Gambar 19).
100000
1000000
10000000
1000 10000 100000 1000000
(
P
2
-
P
w
f
2
)
,

p
s
i
2
q (MSCF/d)
Analisis Pengaruh Aliran Non-Darcy di Sumur terhadap AOF,
Laju Optimum Gas dan Waktu Plateau Pada Lapangan X
183



Gambar 18. Model IPR dan TPR untuk Aliran Non Darcy dan Darcy

Gambar 19. Model IPR dan TPR untuk Aliran Darcy
Perbandingan Q
optimum
dari kedua gambar di atas
ditampilkan pada Tabel 6.

Tabel 6. Perbandingan Q
optimum

Kondisi Aliran
Qoptimum
(MMSCF/d)
Darcy 20,191
Non Darcy + Darcy 19,068

Dari tabel diatas, efek kehadiran aliran Non-Darcy
membuat pengurangan nilai Q
optimum
pada base
case

perlu diperhitungkan yaitu sebesar 1,12
MMSCF/d atau 5,56 %.

3.5 Simulasi Reservoir
Simulasi reservoir dilakukan dengan
menggunakan peranti lunak komersial. Model
reservoir yang digunakan adalah model hipotetik
yang divalidasi dengan data lapangan. Berikut ini
adalah tahapan yang dilakukan dalam simulasi
resevoir adalah:
1. Pengumpulan dan Pengolahan Data
Data yang dibutuhkan didalam proses
pembuatan model reservoir dan proses simulasi
reservoir dikumpulkan dari beberapa sumber
data. Data didapatkan dari analisis core di
laboratorium, hasil analisis fluida reservoir
(PVT), hasil interpretasi dan analisis uji sumur
DST yang dilakukan pada sumur Y, dan lain-
lain.
2. Pembuatan Model
Pembuatan model reservoir merupakan tahap
yang sangat penting karena pembuatan model
merupakan tahapan dalam simulasi reservoir
yang dilakukan untuk menggambarkan
karakteristik reservoir secara aktual, seperti
sifat fisik reservoir, distribusi sifat fluida
reservoir dan parameter lainnya ke dalam
sebuah model numerik. Model reservoir yang
Dirga Rikandhi, Tutuka Ariadji

184

digunakan dalam studi ini yaitu model
reservoir berbentuk radial dengan ukuran grid
69984 (108 x 108 x 6). Ukuran grid dalam arah
i dibuat secara k artesian dengan mengikuti
rumus:

i+1

i
= [

1
(n-1)
(22)
Dengan menggunakan rumus di atas, ukuran grid
cell yang mendekati lubang sumur dibuat semakin
kecil dengan menggunakan skala logaritmik
sehingga dapat mensimulasikan kelakuan gas
kondensat di dekat lubang sumur secara lebih
akurat. Gambar model reservoir dapat dilihat pada
Gambar 20.
Gambar 20. Bentuk model reservoir

Dari interpretasi dan analisis uji sumur didapatkan
nilai permeabilitas efektif reservoir sebesar 40 MD
(dengan data permeabilitas relatif lapangan sebesar
0,3107, maka permeabilitas absolutnya sebesar
128,74 MD) dan skin sebesar 27,9. Sedangkan
porositas batuan yang digunakan sebesar 22,5 %.
Sifat fisik reservoir dan sifat fisik fluida lainnya
yang digunakan dalam pemodelan ini dapat dilihat
pada Tabel 7. Komposisi retrogade gas yang
digunakan dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 7. Sifat fisik reservoir
Parameter Nilai
Jenis Sumur Vertikal
Zona Interval 6.889,76-6.929,13 ft
Ketebalan 180 ft
Temperatur
Reservoir
216 F
Tekanan Awal
Reservoir
3.065,7 psia
Permeabilitas 40 mD
Porositas 22,5 %
Jari - Jari Sumur 0,583 ft
Jari - Jari Reservoir 1.905 ft
Tekanan embun
fluida reservoir
3.059,7 psi
Tabel 8. Komposisi retrogade gas (PVT matching)
Molekul Persen Mole
H
2
S
0,140
CO
2
4,002
N
2
1,704
C1
88,029
C2
2,925
C3
1,144
IC4
0,282
NC4
0,365
IC5
0,165
NC5
0,126
FC6
0,139
PS-1
0,781
PS-2
0,198

3. Inisialisasi
Inisialisasi merupakan proses yang
dilakukan untuk menghitung IGIP dari
reservoir yang ditinjau. IGIP yang
dihasilkan dari inisialisasi adalah sebesar
49,12 BSCF.
Analisis Pengaruh Aliran Non-Darcy di Sumur terhadap AOF,
Laju Optimum Gas dan Waktu Plateau Pada Lapangan X
185

4. BHP Matching
Untuk memvalidasi model dinamik reservoir
yang dibuat terhadap kondisi aktual perlu
untuk dilakukan penyelarasan profil tekanan
hasil simulasi terhadap sejarah tekanan
lapangan tersebut yang sering dikenal dengan
history matching. Pada studi ini, digunakan
model reservoir yang belum berproduksi,
sehingga hanya dilakukan penyelarasan
tekanan alir dasar sumur hasil simulasi dengan
tekanan dasar sumur yang didapatkan dari hasil
DST.

Dengan menggunakan nilai permeabilitas dan skin
yang dihasilkan dari interpretasi dan analisis uji
sumur ke dalam model reservoir didapatkan
tekanan alir dasar sumur yang dihasilkan dari hasil
simulasi mendekati nilai tekanan dasar sumur yang
dihasilkan dari DST (Gambar 21). Sehingga dapat
dikatakan model yang dibuat sudah
merepresentasikan kondisi aktual.

Gambar 21. BHP Matching

3.6 Studi Sensitivitas Pengaruh Aliran Non-
Darcy terhadap Plateau Time
Studi pada tahap ini ingin melihat bagaimanakah
pengaruh kehadiran aliran Non-Darcy terhadap
plateau time. Pada studi ini dilakukan uji
sensitivitas untuk kondisi laju alir 5, 7,5 , 10, 12,5,
15, 17,5 dan 20 MMSCF/d. Sedangakan nilai
koefisien turbulensi yang dipakai adalah 0,000001,
0,00001, 0,0001, 0,001 dan 0,01 d/MMSCF.
Setelah dilakukan uji sensitivitas, didapatkan suatu
hubungan antara plateau time terhadap laju alir
dan koefisien turbulensi pada lapangan X. Korelasi
usulannya adalah:
t = 3419,052-2478,701 x ln (Q) 10389,873 x D +
450,748 x ln (Q)
2
+ 556609,148 x D
2
(23)

dengan

R
2
= 0,986

dimana batasan korelasi ini adalah maksimum rate
yang menjadi input adalah 20 MMSDCF/d.

3.6.1 Validasi Korelasi
Untuk menguji apakah korelasi yang dibuat sudah
cukup akurat untuk memprediksi plateau time
pada lapangan X maka akan dibandingan waktu
plateau time yang dihasilkan dari hasil korelasi
dengan hasil simulasi. Contoh validasi
persamaannya adalah sebagai berikut:
Contoh 1:
Laju alir: 9,5 MMSCF/d
Koefisien turbulensi: 0,000614 d/MSCF
Plateau time hasil simulasi: 113,5 hari
Plateau time hasil perhitungan: 117,1 hari
Error: 2,8%.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Dari penelitian ini dapat disimpulkan hal-hal
sebagai berikut:
1. Dengan kehadiran aliran Non-Darcy dapat
menurunkan AOF cukup signifikan sekitar
58% dan menurunkan plateau time yang
cukup besar bergantung terhadap koefisien
turbulensi.
2. Pada lapangan X didapatkan nilai koefisien
Darcy sebesar 65,33psi
2
/(MSCF/d), koefisien
Non-Darcy sebesar 0,001546 psi
2
/(MSCF/d)
2
dan koefisien turbulensi sebesar 0,000614
d/MSCF.
3. Kehadiran aliran Non-Darcy pada lapangan X
ini memberikan kontribusi yang cukup besar
terhadap penambahan faktor skin yaitu
sebesar 7,42 dan menurunkan nilai Q
oprimum

pada base case

yang nilainya perlu
diperhitungkan yaitu sebesar 1,12 MMSCF/d
atau 5,56 %.
4. Telah ditemukan korelasi usulan untuk
memprediksi plateau time pada Lapangan X
fungsi dari laju alir dan faktor turbulensi.
Korelasinya adalah:
t = 3419,052-2478.701 x ln (Q) 10389,873 x
D + 450,748 x ln (Q)
2
+ 556609,148 x D
2
.

Dirga Rikandhi, Tutuka Ariadji

186

4.2 SARAN
Saran-saran untuk penelitian selanjutnya adalah:
1. Perlu dilakukan studi lebih lanjut untuk melihat
pengaruh aliran turbulensi terhadap faktor-
faktor, seperti penentuan tekanan optimum
separator, dll.
2. Perlu dilakukan studi lebih lanjut dengan
menggunakan model geologi yang sebenarnya.
3. Perlu dilakukan studi terhadap data hasil
simulasi reservoir yang dimasukkan ke
simulator uji sumur yang kemudian hasil
interpretasinya dibandingkan terhadap
interpretasi data uji sumur yang asli.

DAFTAR PUSTAKA
1. Al-Hussainy, Ramey, H.J.JR., and Crawford,
P.B., 1966. The Flow of Real Gases Throgh.
Porous Media. JPT (may, 1966) 624-636.
2. Aronofsky, J.S. and Jenkins, R., 1954. A
Simplified Analysis of Unsteady Radial Gas
Flow. Trans, AIME (1954) 201, 149.
3. Chaudhry, A.U., 2003. Gas Well Testing
Hanbook. Gulf Professional Publishing,
Burlington.
4. Economides, M.J., Hill, A.D., and Economides
C.E., 1994. Petroleum Production System.
PTR Prentice Hall, New Jersey.
5. Energy Resource Conservation Board, 1975.
Theori and Practice of The Testing of Gas
Wells. Alberta, Canada.
6. Katz, D.L.V and Lee, R.L., 1990. Natural Gas
Engineering: Production and Strorange
Mcgraw-Hill Chemical Engineering Series
Mcgraw-Hill Series in Management.
7. McCain, W.D., 1990. The Properties of
Petroleum Fluids. PennWell Publishing, Tulsa
Oklahoma.

DAFTAR SIMBOL
A = Koefisien Darcy, psi
2
/(MSCF/d)
B

= Koefisien Non-Darcy, psi
2
/(MSCF/d)
2
D = Koefisien turbulensi d/MSCF
h = Ketebalan, feet
k

= Permeabilitas
P
wf
= Tekanan alir dasar sumur, psi
q = Laju alir gas, MMSCFD
S = Skin
T = Temperatur, F atau R
t = waktu, jam atau hari
z = Faktor kompresibiltas gas
= Porositas, fraksi
= Viscositas gas, cp