Anda di halaman 1dari 6

TUTORIAL 7

GASTRITIS

Dibuat dalam rangka perkuliahan Sistem Pencernaan
Dari Ibu Nina Rosdiana, S.Kp., M.Kep






Oleh

Ketua:
Sekretaris:
Anggota:


Kelas: IKP A2
Semester 4
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BINA PUTRA BANJAR
JURUSAN ILMU KEPERAWATAN
TAHUN 2014


GASTRITIS


A. Pengkajian keperawatan
Gastritis adalah peradangan pada mukosa lambung yang dapat bersifat
akut kronik, difus atau lokal (Soepaman, 1998).
Gastritis adalah inflamasi dari mukosa lambung (Arif Mansjoer,
1999).
Gastritis adalah radang mukosa lambung (Sjamsuhidajat, R, 1998).
Berdasarkan pengertian di atas penulis menyimpulkan bahwa Gastritis
merupakan inflamasi mukosa lambung yang dapat bersifat akut, kronik, difus
atau lokal.
1. Riwayat penyakit
a. Keluhan utama klien
b. Riwayat penyakit sekarang
c. Riwayat kesehatan klien dan keluarga.

2. Pemeriksaan Fisik

3. Pemeriksaan Diagnostik:
a. Endoskopi : akan tampak erosi multi yang sebagian biasanya berdarah
dan letaknya tersebar.
b. Pemeriksaan Hispatologi : akan tampak kerusakan mukosa karena erosi
tidak pernah melewati mukosa muskularis.
c. Pemeriksaan radiology.
d. Pemeriksaan laboratorium.
1) Analisa gaster : untuk mengetahui tingkat sekresi HCL, sekresi HCL
menurun pada klien dengan gastritis kronik.
2) Kadar serum vitamin B12 : Nilai normalnya 200-1000 Pg/ml, kadar
vitamin B12 yang rendah merupakan anemia megalostatik.
3) Kadar hemagiobi, hematokrit, trombosit, leukosit dan albumin.
4) Gastroscopy.
5) Untuk mengetahui permukaan mukosa (perubahan) mengidentifikasi
area perdarahan dan mengambil jaringan untuk biopsi.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Resti gangguan keseimbangan volume cairan dan elektrolit kurang dari
kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat,
muntah.\
2. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan intake yang tidak adekuat, anorexia.
3. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan inflamasi mukosa
lambung.
4. Keterbatasan aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
5. Kurang pengetahuan tentang penyakit berhubungan dengan kurangnya
informasi.

C. Intervensi
Diagnosa Keperawatan 1. :
Tujuan : Resti gangguan keseimbangan cairan tidak terjadi.
Kriteria Hasil : Membran mukosa lembab, turgor kulit baik, elektrolit
kembali normal, pengisian kapiler berwarna merah muda, tanda vital
stabil, input dan output seimbang.
Intervensi :
1. Kaji tanda dan gejala dehidrasi
2. observasi TTV
3. ukur intake dan out anjurkan klien untuk minum 1500-2500ml,
4. observasi kulit dan membran mukosa,
5. kolaborasi dengan dokter dalam pemberian cairan infus.




Diagnosa Keperawatan 2. :
Tujuan: Gangguan nutrisi teratasi.
Kriteria Hasil : Berat badan stabil, nilai laboratorium Albumin normal, tidak
mual dan muntah BB dalam batas normal, bising usus normal.

Intervensi :
1. Kaji intake makanan
2. timbang BB secara teratur
3. berikan perawatan oral secara teratur
4. anjurkan klien makan sedikit tapi sering
5. berikan makanan dalam keadaan hangat
6. auskultasi bising usus
7. kaji makanan yang disukai
8. awasi pemeriksaan laboratorium misalnya : Hb, Ht, Albumin.

Diagnosa Keperawatan 3. :
Tujuan : Nyeri dapat berkurang/hilang.
Kriteria Hasil : Nyeri hilang/terkontrol, tampak rileks dan mampu tidur/istirahat,
skala nyeri menunjukkan angka 0.
Intervensi :
1. Kaji skala nyeri dan lokasi nyeri,
2. observasi TTV
3. berikan lingkungan yang tenang dan nyaman
4. anjurkan tekhnik relaksasi dengan nafas dalam
5. lakukan kolaborasi dalam pemberian obat sesuai dengan indikasi untuk
mengurangi nyeri.





Diagnosa Keperawatan 4. :
Tujuan : Keterbatasan aktifitas teratasi.
Kriteria Hasil : K/u baik, klien tidak dibantu oleh keluarga dalam beraktifitas.
Intervensi :
1. Tingkatkan tirah baring atau duduk
2. berikan lingkungan yang tenang dan nyaman
3. batasi pengunjung
4. dorong penggunaan tekhnik relaksasi
5. kaji nyeri tekan pada gaster
6. berikan obat sesuai dengan indikasi.


Diagnosa Keperawatan 5. :
Tujuan : Kurang pengetahuan teratasi.
Kriteria Hasil : Klien dapat menyebutkan pengertian, penyebab, tanda dan
gejala, perawatan, pencegahan dan pengobatan.
Intervensi :
1. Kaji tingkat pengetahuan klien
2. beri pendidikan kesehatan (penyuluhan) tentang penyakit
3. beri kesempatan klien atau keluarga untuk bertanya
4. beritahu tentang pentingnya obat-obatan untuk kesembuhan klien.