Anda di halaman 1dari 54

LAPORAN IDENTIFIKASI MINERAL

LAPORAN PRAKTIKUM GEOLOGI DASAR


PRAKTIKUM 1
IDENTIFIKASI MINERAL



OLEH :
NAMA : I K H S A N
NIM : F1G1 12 054
PRODI : GEOLOGI
KELOMPOK : VIII ( DELAPAN )
ASISTEN : AL RUBAIYN

LABORATORIUM FISIKA KEBUMIAN
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2013






ACARA 1
1.1 JUDUL
IDENTIFIKASI MINERAL

1.2 TUJUAN
Tujuan yang ingin di capai pada praktikum ini adalah :
1. Untuk mengidentifikasi suatu mineral.
2. Untuk mengetahui dan untuk mendeskripsikan jenis-jenis mineral.

1.3 LANDASAN TEORI
Identifikasi mineral merupakan suatu kegiatan membuat deskripsi suatu mineral tertentu.
Setelah identifikasi dilakukan, maka kita dapat dengan jelas memberi nama mineral tersebut.
Mineral adalah bahan anorganik yang terbentuk secara alamiah, memiliki komposisi kimia yang
tetap dan struktur Kristal beraturan. Di alam ini terdapat lebih dari 2000 jenis mineral yang telah
diketahui. Tetapi, hanya beberapa mineral saja yang dijumpai sebagai mineral pembentuk
batuan. Mineral-mineral tersebut dapat diidentifikasi berdasarkan sifat fisisnya secara khusus,
antara lain :
1.3.1 Kilap
Kilap sering juga disebut kilapan merupakan kenampakan suatu mineral yang ditunjukan dari
pantulan cahaya yang dikenakan padanya. Kilap secara garis besar biasanya dibagi menjadi 2
jenis :
a. Kilap Logam (metallic luster) : bila mineral tersebut memiliki kilap seperti logam.
b. Kilap Non-Logam (non-metallic luster), dibagi atas :
Kilap intan (adamantin luster) ; cemerlang seperti intan.
Kilap kaca (vitreous luster) ; contohnya kuarsa dan kalsit.
Kliat sutera (silky luster) ; umumnya terdapat pada mineral yang memiliki serat,
seperti asbes dan gips.
Kilap damar/resin (resinous luster) ; kilap seperti getah damar/resin, misalnya
mineral sphalerit
Kilap mutiara (pearly luster) ; kilap seperti lemak atau sabun, misalnya serpentin,
opal dan nepelin.
Kilap tanah, kilap seperti tanah lempung, misal kaolin, bauxit, dan limonit.
1.3.2 Warna
Warna mineral merupakan kenampakan langsung yang dapat dilihat, akan tetapi tidak
dapat diandalkan dalam identifikasi mineral karena suatu mineral dapat memiliki lebih dari satu
warna.
1.3.3 Kekerasan
Kekerasan merupakan ketahanan mineral terhadap suatu goresan. Kekerasan nisbi suatu
mineral dapat ditetapkan dengan membandingkan suatu mineral dengan dengan mineral tertentu.
Skala kekerasan yang biasa digunakan ialah skala mohs yang dibuat oleh Friedrich Mohs dari
Jerman atau yang lebih dikenal dengan skala mohs.
1.3.4 Cerat
Cerat merupakan warna mineral dalam bentuk hancuran (serbuk). Hal ini dapat diperoleh
apabila mineral digoreskan pada bagian yang kasar suatu keping porselen atau dapat dilakukan
dengan membubuk mineral kemudian dilihat warna bubuk tersebut. Cerat dapat berupa warna
asli mineral, dapat pula berbeda.
1.3.5 Belahan
Belahan merupakan kecenderungan mineral tertentu untuk membelah diri pada satu atau
lebih pada arah tertentu. Belahan merupakan salah satu sifat fisik mineral yang disebabkan oleh
tekanan dari luar atau pemukulan dengan palu. Yang dimaksud belah adalah bila mineral kita
pukul tidak akan hancur, tetapi terbelah melalui bidang belahan yang licin. Sehingga dapat
digunakan juga istilah ada bidang belah atau tanpa bidang belah. Macam-macam belahan yang
perlu kita ketahui yaitu :
a. Belahan Sempurna ( Perfect )
Yaitu apabila mineral mudah terbelah melalui arah belahannya yang merupakan bidang yang rata
dan sukar pecah selain melalui bidang belahannya.
b. Belahan Baik ( Good )
Yaitu apabila mineral mudah terbelah melalui bidang belahannya yang rata, tetapi dapat juga
terbelah tidak melalui bidang belahannya .
c. Belahan Jelas ( Distinct )
Yaitu apabila bidang belahan mineral dapat terlihat jelas, tetapi mineral tersebut sukar membelah
melalui bidang belahannya dan tidak rata.
d. Belahan Tidak Jelas ( Indistinct )
Yaitu apabila arah belahan mineral masih terlihat, tetapi kemungkinan untuk membentuk belahan
dan pecahan sama besar.
e. Belahan Tidak sempurna ( Imperfect )
Yaitu apabila mineral sudah tidak terlihat arah belahannya, dan mineral akan pecah dengan
permukaan yang tidak rata.

1.3.6 Pecahan
Bila dalam belahan mineral akan pecah dalam arah yang teratur, sedangkan pada pecahan
mineral akan pecah secara tidak teratur. Perbedaannya bidang belah pada belah akan nampak
memantulkan sinar seperti pada cermin datar, sedangkan pada pecahan akan memantulkan sinar
ke segala arah dengan tidak teratur. Beberapa jenis pecahan mineral adalah sebagai berikut :
Concoidal : bila memperlihatkan gelombang yang melengkung, seperti pada pecahan botol.
Fibrous : bila menunjukkan gejala pecahan seperti serat, contohnya asbes.
Even : bila pecahan tersebut menunjukkan bidang pecahan yang halus, contohnya mineral
lempung.
Uneven : bila pecahan tersebut menunjukkan bidang pecahan yang kasar, contohnya mineral
magnetit atau mineral besi.
Hackly : bila pecahan tersebut menunjukkan bidang pecahan yang kasar tidak teratur dan runcing,
contohnya mineral perak atau emas

1.3.7 Bentuk (Form)
Mineral ada yang memiliki bentuk struktur kristal, ada pula yang tidak memiliki bentuk atau
struktur kristal. Mineral yang memiliki bentuk Kristal disebut mineral kristalin, sedangkan yang
tidak memiliki bentuk kristal disebut amorf. ( penunutun praktikum geologi dasar, 2013 ).
Geologi merupakan bagian dari ilmu geologi yang mempelajari tentang bentuk (arsitektur)
batuan sebagai hasil dari proses deformasi. Proses deformasi adalah perubahan bentuk dan
ukuran pada batuan akibat dari gaya yang terjadi dalam bumi. Didalam pengertian umum,
Geologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang bentuk batuan sebagai bagian dari kerak
bumi serta menjelaskan proses terbentuknya.
Beberapa ahli menganggap bahwa geologi lebih ditekankan pada studi mengenai struktur
geologi misalnya perlipatan, rekahan, sesar dan sebagainya. Batuan merupakan agregasi
(kumpulan) dari beberapa macam mineral ataupun mineral sejenisnya. Andesit sering juga
disebut batu candi tersusun atas mineral-mineral plagioklas, piroksin, hornblende dan sedikit
kuarsa. Sedangkan marmer termaksud batuan metamorf oleh mineral kalsit yang mengalami
perubahan (Asikin, Sukendar. 1978).
Kekerasan suatu benda diukur berdasarkan skala tertentu. Saat ini, skala yang paling umum
digunakan ialah Skala Kekerasan Mohs (Mohs Hardness Scale). Prinsip dasarnya ialah dengan
menggoreskan benda yang akan diukur kekerasannya dengan benda lain yang lebih keras. Skala
pengukurannya mulai dari 1 hingga 10 dengan intan sebagai benda terkeras dan talk sebagai
yang terlunak. (Badgley, P.C. 1959).
Tekstur batuan mempunyai arti penting dalam mengedintifikasi mineral karena
mencerminkan proses yang telah dialamin batuan tersebut terutama proses transportasi dan
pengendapannya, tekstur juga dapat digunakan untuk menginterpetasi lingkungan pengendapan
batuan. (Doddy, 1987).
Mineral dapat kita jumpai dimana-mana disekitar kita, dapat berwujud sebagai batuan,
tanah, atau pasir yang diendapkan pada dasar sungai. Beberapa daripada mineral tersebut dapat
mempunyai nilai ekonomis karena didapatkan dalam jumlah yang besar, sehingga
memungkinkan untuk ditambang seperti emas dan perak. Mineral, kecuali beberapa jenis,
memiliki sifat, bentuk tertentu dalam keadaan padatnya, sebagai perwujudan dari susunan yang
teratur didalamnya.
Apabila kondisinya memungkinkan, mereka akan dibatasi oleh bidang-bidang rata, dan
diasumsikan sebagai bentuk-bentuk yang teratur yang dikenal sebagai kristal. Dengan
demikian, kristal secara umum dapat di-definisikan sebagai bahan padat yang homogen yang
memiliki pola internal susunan tiga dimensi yang teratur. Studi yang khusus mempelajari sifat-
sifat, bentuk susunan dan cara-cara terjadinya bahan padat tersebut dinamakan kristalografi.
(Noor, D. 2008)




1.4 ALAT DAN BAHAN
Adapun alat dan bahan yang di gunakan pada praktikum identifikasi mineral dapat dilihat pada
tabel 1.1
Tabel 1.1 Alat dan bahan
Alat dan Bahan Kegunaan
Kuku Jari Tangan
Sebagai pembanding untuk mengetahui kekerasan
suatu mineral dengan kisaran 2,5
Uang Logam
Sebagai pembanding untuk mengetahui kekerasan
suatu mineral dengan kisaran 3,0
Pecahan Kaca
Sebagai pembanding untuk mengetahui kekerasan
suatu mineral dengan kisaran 4,5
Pisau/Paku Baja
Sebagai pembanding untuk mengetahui kekerasan
suatu mineral dengan kisaran 5,5
Kikir Baja
Sebagai pembanding untuk mengetahui kekerasan
suatu mineral dengan kisaran 6,5
Pecahan Porselin
Sebagai tempat menggosokkan mineral guna
mengetahui ceratnya
Batuan& Mineral Sebagai referensi penentuan mineral

1.5 PROSEDUR PERCOBAAN
Prosedur yang dilakukan pada praktikum ini adalah :
1. Menyiapkan alat dan bahan yang di perlukan.
2. Melakukan identifikasi mineral secara megaskopis/kasat mata berdasarkan sifat-sifat fisisnya,
yaitu :
Warna
Bentuk
Kekerasan
Tenacity
Derajat transparan
Belahan
Pecahan
Cerat
Kilap
3. Menentukan nama mineralnya.
4. Mengisi data pada lembar jawaban.

1.6 HASIL PENGAMATAN
Hasil pengamatan Identifikasi mineral adalah sebagai berikut :
1. No. Urut peraga : 1
Kilap : Kilap tanah
Warna segar : Kelabu
Warna lapuk : Abu-abu
Kekerasan : > 2,5
Cerat : Abu-abu
Belahan : Tidak sempurna
Pecahan : Britle
Tenacity :
Nama mineral : Monthomorillonite


Sketsa mineral :






Gambar 1.1. Mineral 1

2. No. Urut peraga : 2
Kilap : Kilap sutra
Warna segar : Hijau
Warna lapuk : Cokelat
Kekerasan : > 3
Cerat : Putih
Belahan : Tidak sempurna
Pecahan : Uneven
Tenacity : Brittle
Nama mineral : Malachite

Sketsa Mineral :






Gambar 1.2. Mineral 2

3. No. Urut peraga : 3
Kilap : kilap tanah
Warna segar : Kwarsa
Warna lapuk : Putih
Kekerasan : > 2,5
Cerat : Putih
Belahan : Tidak ada
Pecahan : Uneven
Tenacity : Brittle
Nama mineral : Calcite


Sketsa Mineral :




Gambar 1.3. Mineral 3

4. No. Urut peraga : 4
Kilap : Kilap kaca
Warna segar : Putih
Warna lapuk : Putih kecoklatan
Kekerasan : < 6,5
Cerat : Putih
Belahan : Tidak ada bidang belah
Pecahan : Concoidal
Tenacity : Ductile
Nama mineral : Quartz



Sketsa Mineral :





Gambar 1.4. Mineral 4

1.7 PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini kami akan membahas mengenai identifikasi mineral. Dengan tujuan
untuk mengidentifikasi suatu mineral, untuk mengetahui dan mendeskripsikan jenis-jenis
mineral.
Identifikasi mineral merupakan suatu kegiatan membuat deskripsi suatu mineral tertentu.
Mengidentifikasi mineral dapat dilakukan dengan memperhatikan sejumlah sifat kimia dan sifat
fisisnya. Untuk menentukan beberapa sifat unik mineral diperlukan alat-alat khusus dengan
teknik-teknik tertentu. Akan tetapi kebanyakan mineral penyusun batuan dapat dibedakan satu
sama lain hanya dengan pengamatan sederhana terhadap sifat-sifat fisiknya. Sifat-sifat fisik yang
biasanya diperhatikan adalah kilap, warna, kekerasan, tenacity, cerat, belahan, pecahan, bentuk,
berat jenis, sifat dalam, kemagnetan, kelistrikan, daya lebur, dan derajat transparan. Setelah
identifikasi dilakukan, maka kita dapat dengan jelas memberi nama mineral tersebut.
Mineral adalah bahan anorganik yang terbentuk secara alamiah, memiliki komposisi kimia
yang tetap dan struktur Kristal beraturan. Umumnya mineral berasal dari magma yaitu batuan
cair dibawah permukaan bumi. Ketika magma mendingin, kristal mineral terbentuk bagaimana
dan dimana magma mendingin menentukan ukuran dari kristal mineral. Kristal juga dapat
terberntuk dari senyawa terlarut dalam cairan, seperti air. Bila cairan menguap atau perubahan ke
gas, akan meninggalkan mineral seperti kristal. Garam karang atau garam batu merupakan
bentuk dengan cara penguapan.
Umumnya mineral berasal dari magma yaitu batuan cair dibawah permukaan bumi. Ketika
magma mendingin, kristal mineral terbentuk bagaimana dan dimana magma mendingin
menentukan ukuran dari kristal mineral. Kristal juga dapat terberntuk dari senyawa terlarut
dalam cairan, seperti air. Bila cairan menguap atau perubahan ke gas, akan meninggalkan
mineral seperti kristal. Garam karang atau garam batu merupakan bentuk dengan cara
penguapan.
Dan pada praktikum ini, yang kami amati adalah nama mineral, dan sifat fisis yang yang
kami identifikasi pada praktikum ini adalah bentuk, warna, kekerasan, tenacity, belahan,
pecahan, cerat, dan kilap.
Pada pengamatan pertama, kami melakukan identifikasi pada mineral dengan nomor urut
peraga 1 dengan sifat fisik yang dimiliki yaitu : warnanya yaitu warna segarnya berwana kelabu
dan warna lapuknya berwarna abu-abu, Kekerasannya diperoleh dengan menggores kuku jari dan
diperoleh nilai < 2,5, tenacity mineral ini adalah brittle karena mineralnya mudah hancur,
belahannya tidak sempurna karena tidak terlihat bidang belahnya tetapi mineral akan pecah
dengan permukaan rata, pecahannya termasuk jenis even karena menunjukan bidang pecahan
yang halus, ceratnya berwarna abu-abu karena saat mineral digoreskan pada pecahan porselen
warnyanya abu-abu, dan kilapnya termasuk kilap tanah. Dari hasil identifikasi sifat fisik mineral
tersebut dapat ditentukan nama dari mineralnya yaitu monthomorillonite.
Pada pengamatan kedua, kami melakukan identifikasi pada mineral dengan nomor urut
peraga 2 dengan sifat fisik yang dimiliki yaitu : warna segarnya berwarna hijau dan warna
lapuknya berwarna coklat, mineral ini memiliki tingkat kekerasan > 3 ini dibuktikan dengan pada
mineral tersebut cukup sukar untuk digores dengan menggunakan kuku jari karena mineral ini
memiliki struktur yang cukup keras, tenacitynya adalah brittle karena mineral ini mudah hancur,
belahannya tidak sempurna karena tidak terlihat arah belahnya, pecahannya termasuk jenis
uneven karena pecahan tersebut menunjukan bidang pecahan yang kasar, ceratnya berwarna
putih, dan kilapnya termasuk jenis kilap sutera karena memiliki serat. Untuk keterangan
tambahan dari mineral ini adalah yaitu terletak pada lingkungan mineral sekunder di zona
teroksidasi deposit tembaga. Asal namanya berasal dari bahasa yunani. Berdasarkan sifat fisik
mineral tersebut dapat ditentukan nama mineralmya yaitu malachite.
Pada pengamatan ketiga, kami melakukan identifikasi pada mineral dengan nomor urut
peraga 3 dengan sifat fisik yang dimiliki yaitu : warna segarnya berwarna kwarsa karena warna
dalam mineral tersebut berwarna putih susu, warna lapuknya berwarna putih, mineral ini
memiliki kekerasan> 2,5 ini buktikan dengan menggoreskan pada kuku jari, tenacitynya adalah
brittle, mineralini tidak memiliki bidang belah, pecahannya termasuk jenis uneven karena
pecahan tersebut menunjukan bidang pecahan yang kasar, ceratnya berwarna putih, dan kilapnya
jenis kilap tanah. Untuk keterangan tambahannya itu : Klasifikasi kimianya adalah karbonat,
komposisi kimianya adalah Kalsium karbonat (CaCO3), berat jenisnya 2,7. Menunjukan
karakteristik yang tidak biasa disebut kelarutan surut dimana ia menjadi kurang larut dalam air
dengan naiknya suhu. Dari hasil identifikasi sifat fisik mineral tersebut dapat ditentukan nama
mineralnya yaitu calchite.
Pada pengamatan keempat, identifikasi dilakukan pada mineral dengan nomor urut peraga 4
dengan sifat yang dimiliki oleh mineral ini yaitu warna segarnya berwarna putih sedangkan
warna lapuknya berwarna putih kecoklatan, mineral ini memiliki tingkat kekerasan < 6,5 ini
dibuktikan dengan pada permukaan mineral tersebut sangat sukar digores dengan menggunakan
kuku jari, kuku jari ataupun pecahan kaca karena mineral ini memiliki struktur yang cukup keras,
tenacity dari mineral ini adalah ductile, mineral ini tidak memiliki bidang belah, pecahannya
termasuk jenis concoidal karena memperlihatkan gelombang yang melengkung, ceratnya
berwarna putih, dan kilapnya termasuk jenis kilap kaca karena pada saat diberi cahaya terlihat
seperti kaca. Untuk keterangan tambahan dari mineral ini adalah umum ditemukan di permukaan
bumi, komponen penting dari batuan beku, metamorf dan sedimen, bentuk alami dari silikon
dioksida ditemukan dalam berbagai varietas mengesankan dan warna. Ada banyak nama untuk
varietas yang berbeda: cryptocrystalline varietas kuarsa terdaftar secara terpisah di bawah
kalsedon, dan termasuk batu akik. Dari hasil identifikasi sifat fisik mineral tersebut dapat
ditentukan nama mineralnya yaitu quartz.















1.8 PENUTUP
1.8.1 KESIMPULAN
Kesimpulan dari praktikum identifikasi mineral ini adalah :
1. Mengidentifikasi mineral merupakan kegiatan membuat suatu deskripsi tentang suatu mineral
tertentu. Dalam mengidentifikasi mineral kita harus melihat berdasarkan sifat fisiknya secara
khusus antara lain :
Bentuk yang menyatakan nama mineral berdasarkan struktur kristal.
Warna segar yang menyatakan warna sesungguhnya pada mineral.
Warna lapuk yang menyatakan warna pelapukan pada mineral.
Kekerasan yang menyatakan ketahanan mineral tehadap suatu goresan.
Tenacity yang menyatakan ketahanan suatu mineral terhadap suatu pemecahan dan
penghancuran.
Belahan merupakan sifat fisik ineral yang menyatakan pembelahan pada suatu bidang
belahan mineral yang licin.
Pecahan merupakan sifat fisik mineral yang dapat menyatakan tentang bidang pecahan
yang tidak teratur dan pada pecahan akan memantulkan sinar kesegala arah dengan tidak
teratur.
Cerat menyatakan goresan pada bagian keras mineral.

2. Dari hasil identifikasi sifat fisik mineral pada praktikum identifikasi mineral dapat ditentukan
nama mineral yaitu : Pada nomor peraga 1 nama mineralnya yaitu monthomorillonite. Pada
nomor peraga 2 nama mineralnya yaitu malachite. Pada nomor peraga 3 nama mineralnya
yaitu calchite. Dan pada nomor peraga 4 nama mineralnya quartz.

1.8.2 SARAN
Adapun saran yang saya dapat berikan pada praktikum ini adalah agar praktikum yang
dilaksanakan tepat waktu sesuai jadwal.






DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2013. Modul Praktikum Geologi Dasar. Universitas haluoleo.Kendari.
Asikin, Sukendar. 1978. Dasar-dasar Geologi Struktur. Departemen Teknik Geologi ITB.
Bandung.
Badgley, P.C. 1959. Structural Methot For The Exploration Geologist. Oxford Book Company.
New Delhi.
Noor, D. 2008. Pengantar Geologi. Bogor : Universitas Pakuan
Graha, Doddy Setya. 1987. Batuan dan Mineral. Bandung.























ACARA 1 IDENTIFIKASI MINERAL

ACARA 1
IDENTIFIKASI MINERAL

1.1 Tujuan
Tujuan dari praktikum acara identifikasi mineral yaitu :
1. Untuk mengindenfikasi suatu mineral.
2. Untuk mengetahui dan mampu mendeskripsikan jenis-jenis mineral.

1.2 Landasan Teori
Mineral adalah bahan anorganik yang terbentuk secara alamiah, memiliki komposisi kimia yang
tetap dan sruktur kristal yang beraturan. Mineral terjadi pada saat komposisi mineralogy batuan
(dalam keadaan padat) karena pengaruh Suhu dan Tekanan yang tinggi dan tidak dalam kondisi
isokimia (Firdaus, 2012 : hal 1).
Untuk mengetahui stuktur mineral dan jenis-jenis mineral diperlukan pengidentifikasian mineral.
Identifikasi mineral merupakan suatu kegiatan membuat deskriptif tentang suatu mineral
tertentu. Mineral-mineral tersebut dapat diidentifikasi berdasarkan sifat fisisnya secara khusus,
antara lain: kilap (luster), warna (colour), kekerasan (hardness), tenacity, cerat/goresan (streak),
belahan (cleavage), pecahan (fracture), bentuk(form), berat jenis (specific gravity), sifat dalam,
kemagnetan, kelisikan, daya lebur, dan derajat transparan (anonim, 2012).
Namun pada praktikum mengidentifikasi mineral kali ini, kita hanya membahas yang bisa dilihat
dengan kasat mata yaitu:
1. Kilap
Kilap merupakan kenampakan suatu mineral yang dtunjukan dari pantulan cahaya yang
dikenakan padanya. Kilap kacagaris besar dibagi menjadi 2, yaitu:
a. Kilap logam (metallic luster) yaitu bila mineral tersebut memiliki kilap seperti logam.
b. Kilap non-logam (non-metallic luster) dibagi atas:
Kilap intan (adamantin luster) yaitu cemerlang seperti intan.
Kilap kaca (vitreous luster) contohnyaseperti kuarsa dan kalsit.
Kilap sutera (silky luster) umumnya terdapat pada mineral yang memiliki serat, seprti asbes dan
gips.
Kilap dammar/resin (resinous luster) kilap seperti getah dammar/resin, misalnya mineral
sphalerit.
Kilap mutiara (pearli luster) kilap seperti lemak atua sabun, misalnya serpenting, opal dan
nepelin.
Kilap tanah, kilap seperti lempung, missal kaolin, buaxit, dan limonit.
2. Warna
Warna mineral merupakan kenampakan langsung yang dapat dilihat, namun tidak dapat
diandalkan dalam identifikasi mineral karena suatu mineral dapat memiliki lebih dari satu warna.
Beberapa contoh warna mineral:
Kwarsa: berwarna putih jernih, putih susu dabn tidak memiliki belahan.
Mika: apa bila berwarna putih diberi nama muskovit, bila berwarna hitam diberi nama biotit,
keduanya dicirikan adanya belahan seperti lembaran-lembaran.
Feldspar: apabila berwarna merah daging diberi nama ortoklas (bidang belahan tegak
lurus/90%), bila berwarna putih abu-abu diberi nama plagioklas (belahan Kristal kembar).
Olivine: hijau (butiran/glanural), atau biasanya berwarna kuning kehijauan seperti gula pasir.
Piroksen: hijau kehitaman berbentuk prismatic pendek.
Amfibol: hitam mengkilat berbentuk prismatic panjang.
Lempung: bila berwarna putih berkilap tanah disebut kaolin yang merupakan hasil pelapukan
feldspar, dan bila berwarna kelabu disebut illit yang merupakan hasil pelapukan muskofit.
Azurite: bila berwarna biru.
Jaspe: bila berwarna merah.
3. Kekerasan
Kekerasan merupakan ketahanan mineral terhadap suatu goresan. Untuk mengetahui kekerasan
suatu mineral maka menggunakan skala Mohs yaitu dari skala 1 sampai dengan skala 10, dari
yang terlunak sampai mineral terkeras, antara lain:
Kekerasan Mineral
1 Talc
2 Gypsun
3 Calcite
4 Flourite
5 Apatite
6 Orthoclase
7 Quarts
8 Topaz
9 Corundum
10 Diamon

Sebagai perbandingan dari skala tersebut maka dapat diberikan skala kekerasan untuk :
Kuku jari tangan : 2,5
Uang logam : 3,0
Pecahan kaca : 4,5
Pisau/paku baja : 5,5
Kikir baja : 6,5
Lempeng baja : 7,0
4. Tenacity
Tenacity merupakan ketahana suatu mineral terhadap pemecahan, penghancuran,
pembengkokan, ataupun pemotongan. Macam-macam tenacity yaitu:
- Britle diartikan sebagai mineral yang mudah hancur menjadi tepung, contohnya; mineral clay.
- Sectile diartikan sebagai mineral yang mudah hancur mangunakan pisau tanpa meninggalkan
serbuk.
- Ductile merupakan mineral yang apabila ditarik maka tidak dapat kembali kebentuk semula,
contohnya: silver.
- Malleablemerupakan mineral yang apabila dipukul atau ditempa maka akan menjadi lempeng-
lempeng yang tipis, contohnya: emas (Au).
- Flexible merupakan mineral yang dapat dilengkungkan kesegala arah dengan mudah,
contohnya: mika.
- Elastic merupakan mineral yang merenggang bila ditarik dan kembali kebentuk semula bila
dilepaskan.
5. Cerat
Cerat merupakan warna mineral dalam bentuk hancuran (serbuk). Hal ini
dapat diperoleh apabila mineral digoreskan pada bagian yang kasar suatu keping porselen atau
dapat dilakukan dengan membubuk mineral kemudian dilihat warna bubuk mineral tersebut.
Cerat dapat berupa warna asli mineral dan dapat juga berbeda.
6. Belahan
Belahan merupakan kecenderungan mineral untuk membelah dirih pada satu atau lebih pada arah
tertentu. Yang dimaksud belahan adalah bila mineral dipukul tidak akan hancur, tetapi terbelah
melalui bidang belahan yang licin. Contohnya kalsit mimiliki tiga arah belahan tetapi kuarsa
tidak memiliki bidang belahan.
7. Pecahan
Bila dalam belahan mineral akan pecah dalam arah yang teratur, tapi pada pecahan mineral akan
pecah secara tidak teratur. Pada belahan akan nampak memantulkan sinar seperti pada cermin,
sedangkan pada pecahan akan memantulkan sinar kesegala arah dengan tidak teratur. Jenis-jenis
pecahan mineral antara lain:
Concoidal: bila memperlihatkan gelombang yang melengkung, seperti pada pecahan kaca.
Fibrous: bila menunjukan gejala pecahan seperti serat, contohnya asbes.
Even: bila pecahan tersebut menunjukan bidang pecahan yang halus, contohnya mineral
lempung.
Uneven: bila pacahan tersebut menunjukan bidang pecahan yang kasar, contohnya mineral
magnetic atau mineral besi.
Hackly: bila pecahan tersebut menunjukan bidang pecahan yang kasar
tidak teratur dan runcing, contohnya mineral perak atau emas.
8. Bentuk
Mineral ada yang memiliki bentuk struktur kristal, dan ada pula yang tidak memiliki bentuk atau
struktur kristal. Mineral yang memiliki bentuk kristal disebutmineral kristalin, sedangkan yang
tidak memilikibentuk kristaldisebut amorf (Firdaus, 2012: hal 2 s/d 6).
Tekstur batuan mempunyai arti penting dalam mengidentifikasi mineral karena mencerminkan
proses yang telah dialami batuan tersebut terutama proses tranportasi dan pengendapannya
(doddy, 1987).
1.3 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu :
No Nama Alat Fungsi Keterangan
1. Kuku jari jangan Untuk mengindentifikasi kekerasan mineral 2,5 skala mohs
2. Uang lugam Untuk mengindentifikasi kekerasan mineral 3,0 skala mohs
3. Pecahan kaca Untuk mengindentifikasi kekerasan mineral
4. Pisau/Paku baja Untuk mengindentifikasi kekerasan mineral 5,5 skala mohs
5. Kikir baja mineral Untuk mengindentifikasi kekerasan 6,5 skala mohs
6. Porselen Untuk mengetahui warna cerat mineral
7. Kamera Untuk mengambil gambar sampel mineral Kamera Hp
8. Kaca pembesar Untuk menlihat mineral yang ukuran kecil Perbesaran 10X

Bahan yang digunakan pada pengidentifikasian mineral adalah beberapa sampel mineral.
1.4 Prosedur Penelitian
Adapun prosedur penelitian pada pengidentifikasian mineral yaitu :
1. alat dan bahan yang diperlukan.
2. Melakukan identifikasi mineral secara megaskopis/kasat mata berdasarkan sifat-sifat fisisnya :
Warna
Kekerasan
Tenacity
Belahan
Pecahan
Cerat
Kilap
3. Mengisi data pada lembar pengamatan.
4. Menentukan nama mineralnya


1.5 Pengamatan
Sampel 1
Nama mineral: Talc

No Sifa fisiknya Hasil pengamatan
1. Warna segar Putih
2. Warna lapuk Kuning
3. Kekerasan 2,5
4. Tenacity Britle
5. Belahan Tidak ada
6. Pecahan Even
7. Goresan/Cerat Putih
8. Kilap Kilap mutiara (non logam)


Sampel 2
Nama minearal: Molibdhenit

No Sifat fisiknya Hasil pengamatan
1. Warna segar Abu-abu
2. Warna lapuk Abu-abu
3. Kekerasan 2,5
4. Tenacity Britle
5. Belahan Tidak ada
6. Pecahan Even
7. Goresan/coret Abu-abu
8. Kilap Kilap tanah (non logam)

Sampel 3
Nama mineral: Kuarsa

No Sifat fisiknya Hasil pengamatan
1. Warna segar Putih susu
2. Warna lapuk Putih kecoklatan
3. Kekerasan 6,5
4. Tenacity Ductile
5. Belahan Tidak ada
6. Pecahan Concoidal
7. Gores/ cerat Putih
8. Kilap Kilap kaca


Sampel 4
Nama mineral: Melacite

No Sifat fisiknya Hasil pengamatan
1. Warna segar Hijau
2. Warna lapuk Putih dan hitam
3. Kekerasan 3,0
4. Tenacity Melleable
5. Belahan Ada/sempurna
6. Pecahan Fibrus
7. Goresan/serat Hijau keputihan
8. Kilap Kilap sultra


Sampel 5
Nama mineral: Pyrite

No Sifat fisiknya Hasil pengamatan
1. Warna segar Kuning keemasan
2. Warna lapuk Hitam keabu-abuan
3. Kekerasan 5,5
4. Tenacity Britle
5. Belahan Tidak ada
6. Pecahan Hackly
7. Goresan/cerat Hitam
8. Kilap Kilap kaca



1.6 Pembahasan
Mineral adalah zat non-organik padat yang terbentuk secara alamiah, terdiri atas unsur atau
senyawa unsur-unsur; mempunyai susunan/komposisi kimia tertentu dan struktur internal kristal
beraturan.
Istilah mineral dapat mempunyai bermacam-macam makna; sukar untuk mendefinisikan mineral
dan oleh karena itu kebanyakan orang mengatakan, bahwa mineral ialah satu frasa yang terdapat
dalam alam. Sebagaimana kita ketahui ada mineral yang berbentuk : lempeng, tiang, limas,,
kubus.
Batu permata kalau ditelaah adalah merupakan campuran dari unsur-unsur mineral.Setiap
mineral yang dapat membesar tanpa gangguan akan memperkembangkan bentuk kristalnya yang
khas, yaitu suatu wajah lahiriah yang dihasilkan struktur kristalen (bentuk kristal). Ada mineral
dalam keadaan Amorf, yang artinya tak mempunyai bangunan dan susunan kristal sendiri (mis
kaca & opal). Tiap-tiap pengkristalan akan makin bagus hasilnya jika berlangsungnya proses itu
makin tenang dan lambat.
Dari percobaan praktikum pengidentifikasian mineral, dimana dilakukan lima kali percobaan
yaitu percobaan pertama dimana alat yang digunakan untuk mengidentifikasi mineral yaintu:
pisau, baku baja, kamera, loop, porselen, pecahan kaca, kuku jari tangan, kkir baja, uang logam.
Sehingga dapat diketahui nama mineralnya.
Pada mineral yang pertama, untuk mengetahui nama mineralnya sehingga kita menggunakan alat
kuku jari tangan untuk menetahui kekerasannaya, menngunakan mata telanjang untuk
mengetahui warna lapuk, warna segar, pecahan, tenacity, belahan, kilap, dan menggunakan
perselin untuk mentahui goresannya. Sehinnga dari pnelitian menurut sifat fisiknya maka
dapatdketahui bahwa nama mineralnaya adalah talc.
Pada mineral yang kedua, ketiga, keempat, dan kelima menggunakan alat yang sama. Nama
mineral untuk kedua, ketiga, keempat, dan kelima adalah molibdhenit, kuarsa,melacite, dan
pyrite.
Namun pada praktikum kali ini kita butuh ketelitian karena ada beberapa hal yaitu pengaruh
waktu sehingga mineralnya tidak sperti aslinya namun suda warna campuran.




1.7 Kesimpulan
Dari pengamatan yang telah kami lakukan, maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Suatu mineral dapat diidentifikasi dengan cara berdasarkan sifat fisiknya, antara lain: warna
segar, warna lapuk, kekerasan, tenacity, belahan, pecahan, gores/cerat, dan kilap dengan
menggunakan alat dan bahan yang mudah dicari yaitu: kuu jari tangan, uang logam, pecahan
kaca, pisau/paku baja, kikir baja, perselen, kamera, dan loop.
2. Setelah pengidentifikasian yang dilakukan dengan teliti maka dapat diketahui jenis-jenis
mineralnya, seperti talc, molibdhenit, kuarsa, melacite, dan pyrite.
1.8 Saran
Saran saya setelah mengikuti praktikum ini adalah agar alat-alat praktikumdilaboratorium yang
akan digunakan agar dilengkapi supaya tidak memberatkan siswa, karena banyak teman-
teman yang tidak masuk praktikum haya karna tidak mempunyai alat.







DAFTAR PUSTAKA
Doddy Setya, 1987. Batuan dan Mineral, Bandung.
Firdaus, Laode Asrafil, Rio Candrajaya, 2012, Modul Praktikum Geologi Dasar

dan Geologi 1, Laboratorium Jurusan Fakultas Mipa Unhalu.
Http://id.shvoong.com/exact-sciences/earth-sciences/1928347-batuan/
Http://kuningtelorasin.wordpress.com/batuan-macam-dan-pembentukannya/


laporan Geologi Dasar_Identifikasi Mineral

LAPORAN
PRAKTIKUM GEOLOGI DASAR
ACARA 1
IDENTIFIKASI MINERAL




NAMA : HASRUL ABIDIN
STAMBUK : F1H1 12 O13
PRODI : TEKNIK GEOFISIKA
FAKULTAS : MIPA
KELOMPOK : III
1. HASRUL ABIDIN
2. MIJAWATI
3. WA ODE ZAMRIANAS
4. WIDYA MEITA CHRISTIN
5. NILUH FRISTYA
6. JEFRI ADITOMO
ASISTEN : LISNA HERMAWATI


LABORATORIUM KEBUMIAN
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2013





ACARA I
IDENTIFIKASI MINERAL
1.1. Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum acara Identifikasi Mineral adalah :
1. Praktikan mampu mengidentifikasi suatu mineral.
2. Praktikan mampu mengetahui dan mendeskripsikan jenis-jenis mineral.
1.2. Landasan Teori
Identifikasi mineral merupakan suatu kegiatan membuat deskripsi tentang suatu mineral
tertentu. Setelah identifikasi dilakukan, maka kita dapat dengan jelas memberi nama mineral
tersebut. Mineral adalah bahan anorganik yang terbentuk secara alamiah, memiliki komposisi
kimia yang tetap dan stuktur kristal yang beraturan. Di alam ini terdapat lebih dari 2000 jenis
mineral yang telah diketahui. Tetapi hanya beberapa mineral saja yang dijumpai sebagai mineral
pembentuk batuan. Mineral-mineral tersebut dapat diidentifikasi berdasarkan sifat fisisnya secara
khusus antara lain :
1. Kilat (luster)
2. Warna (colour)
3. Kekerasan (hardness)
4. Ketahanan (tenaciti)
5. Cerat (streak)
6. Belahan (cleavage)
7. Pecahan (frakture)
8. Bentuk (form)
9. Berat jenis (specific gravity)
10. Sifat dalam
11. Kemagnetan
12. Kelistrikan
13. Daya lebur
14. Derajat transparan

Pada praktikum ini hanya diwajibkan untuk mengidentifikasi mineral hanya yang nampak oleh
mata dan dibantu kaca pembesar saja. Sedangkan untuk sifat-sifat dari nomor 8-14 diperlukan
kajian lebih lanjut secara khusus.
a. Kilap
Kilap sering juga disebut kilapan, merupakan kenampakan suatu mineral yang ditunjukkan
dari pantulan cahaya yang dikenakan padanya. Kilap secara garis besar biasanya dibagi menjadi
2 jenis :
a. Kilap logam (metalic luster) : bila mineral tersebut memiliki kilap seperti logam.
b. Kilap non-logam (non-metalic luster), dibagi atas :
Kilap intan (adamantin luster) ; cemerlang seperti intan.
Kilap kaca (vitreous luster) ; contohnya kuarsa dan kalsit.
Kilap sutera (silky luster) ; umumnya terdapat pada mineral yang memiliki serat,
seperti asbes dan gips.
Kilap damar/resin (resinous luster) ; kilap seperti getah damar/resin, misalnya
mineral sphalerit.
Kilap mutiara (pearly luster) ; kilap seperti lemak atau sabun, misalnya serpentin, opal,
dan nepelin.
Kilap tanah ; kilap seperti tanah lempung, misal kaolin,bauxit, dan limonit.

c. Warna

Mineral merupakan kenampakan langsung yang dapat dilihat, akan tetapi tidak dapat
diandalkan dalam identifikasi mineral karena suatu mineral dapat memiliki lebih dari satu warna.
Misalnya, kwarsa dapat berwarna putih susu, ungu, cokelat kehitaman atau tidak
berwarna(bening).


Beberapa contoh warna mineral :
Kwarsa : berwarna putih jernih, putih susu dan tidak memiliki belahan.
Mika : apabila berwarna putih diberi nama muskovite, bila berwarna hitam diberi
nama biotite, keduanya dicirikan adanya belahan seperti lembaran-lembaran.
Feldspar : apabila berwarna merah daging diberi nama orthoclase (bidang belah
tegak lurus/90
o
), bila berwarna putih abu-abu diberi nama plagioclase (belahan kristal
kembar).
Karbonat : biasanya mineral ini diberi nama kalsit dan dolomit, ciri utama mineral
karbonat ini adalah bereaksi dengan HCL.
Olivin : hijau (butiran/granular), atau biasanya berwarna kuning kehijaun seperti gula
pasir.
Piroksen : hijau kehitaman berbentuk prismatik pendek.
Amfibol : hitam mengkilat berbentuk pprismatik panjang.
Oksida besi : kuning-cokelat kemerahan.
Lempung : bila berwarna putih berkilap tanah disebut kaolin yang merupakan hasil
pelapukan feldspar, dan bila berwarna kelabu illit yang merupakan hasil pelapukan
muskovit.
Azurit : bila berwarna biru.
Jasper : bila berwarna merah.

d. Kekerasan
Kekerasan merupakan ketahan mineral terhadap suatu goresan. Kekerasan nisbi suatu
mineral dapat ditetapkan dengan membandingkan suatu mineral dengan mineral tertentu. Skala
kekerasan yang biasa digunakan adalah skala yang dibuat oleh Friedrich Mohs dari Jerman atau
yang lebih dikenal dengan skala Mohs. Skala Mohs dimulai dari skala 1 sampai 10, dengan skala
satu mulai dari mineral terlunak dan skala 10 adalah mineral terkeras. Skala yang lebih kecil
akan memiliki bekas goresan apabila dikenakan pada yang skala lebih besar.

Skala Mohs

Kekerasan
(Hardness)
Mineral Rumus Kimia
1 Talc Mg
3
Si
4
O
10
(OH)
2

2 Gypsum CaSO
4
2H
2
O
3 Calcite CaCO
3

4 Fluorite CaF
2

5 Apatite Ca
5
(PO
4
)
3
(OH,Cl,F)
6 Orthoclase KAlSi
3
O
8

7 Quartz SiO
2

8 Topaz Al
2
SiO
4
(OH,F)
2

9 Corundum Al
2
O
3

10 Diamond C

Sebagai perbandingan dari skala tersebut di atas, maka dapat diberikan skala kekerasan
yaitu :
Kuku jari : 2.5
Uang logam tembaga : 3
Pisau/paku baja : 5.5
Pecahan kaca jendela : 4.5
Kikir baja : 6.5

e. Cerat

Cerat merupakan warna mineral dalam bentuk hancuran (serbuk). Hal ini dapat diperoleh
apabila mineral digoreskan pada bagian yang kasar suatu keping porselen atau dpat dilakukan
dengan membubuk mineral kemudian diberi warna bubuk tersebut. Cerat dapat berupa warna asli
mineral, dapat pula berbeda.

f. Belahan
Belahan merupakan kecenderungan mineral tertentu untuk membelah diri pada satu atau
lebih pada arah tertentu. Belahan merupakan salah satu sifat fisik mineral yang disebabkan oleh
tekanan dari luar atau pemukulan dengan palu. Yang dimaksud belah adalah bila mineral kita
pukul tidak akan hancur, tetapi terbelah melalui bidang belahan yang licin. Sehingga dapat
digunakan juga istilah ada bidang belah atau tanpa bidang belah.
Belahan merupakan sifat dari setiap atom yang mengakibatkan pecahan mineral yang
teratur yang mengikuti atau tidak mengikuti struktur kristalnya. Macam-macam belahan yang
perlu kita ketahui yaitu :
a. Belahan sempurna (perfect)
Yaitu suatu mineral mudah terbelah melalui arah belahnya. Bidang-bidang yang terbelah
akan membentuk bidang yang datar dan licin. Contohnya : Muscovite, Calcite, Galena.
b. Belahan baik (good)
Yaitu apabila suatu mineral mudah membelah pada bidang belahnya akan tetapi kadang-
kadang akan terdapat belahan yang memotong bidang belahnya atau pembelahan yang
tidak pada bidang belahnya. Contohnya : Feldspar dan Hyperstone
c. Belahan jelas (distinct)
Yaitu apabila arah belahnya dapat terlihat jelas tetapi mineral tersebut sukar untuk
membelah melalui bidang belahnya itu sendiri. Contohya : Hornblende dan Staurolite
d. Belahan tidak jelas (indistinct)
Yaitu apabila arah belahnya, mineral masih dapat dilihat tapi kemungkinan terbelah
melalui arah belahnya dengan kemungkinan pecah memotong arah belahnya sama.
Contohnya : Magnetit, dan Corundum
e. Belahan tidak sempurna (imperfect)
Yaitu apabila suatu mineral sudah tidak terlihat arah belahnya tetapi mineral akan pecah
dengan permukaan rata. Permukaan yang rata ini kemungkinan melalui bidang belahnya
tetapi kemungkinan juga akan memotong bidang belahnya. Contonya : Apatite dan
Calsiterite

g. Pecahan

Bila dalam belahan mineral akan pecah dalam arah yang teratur, sedangkan pada pecahan
mineral akan pecah secar tidak teratur. Perbedaannya bidang belah akan nampak memantulkan
sinar seperti pada cermin datar, sedangkan pada pecahan akan memantulkan sinar ke segala arah
dengan tidak teratur. Beberapa jenis pecahan mineral adalah sebagai berikut :
Concoidal : bila memperlihatkan gelombang yang melengkung, seperti pada
pecahan botol.
Fibrous : bila menunjukkan gejala pecahan seperti serat,contohnya asbes.
Even : bila pecahan tersebut menunjukkan bidang pecahan yang halus,
contohnya mineral lempung.
Uneven : bila pecahan tersebut menunjukkan bidang pecahan yang kasar,
contohnya mineral magnetik atau mineral besi.
Hackly : bila pecahan tersebut menunjukkan bidang pecahan yang kasar, tidak
teratur dan runcing, contohnya mineral perak atau emas.



h. Bentuk (Form)

Mineral ada yang memiliki bentuk struktur kristal, ada pula yang tidak memiliki bentuk
atau struktur kristal. Mineral yang memiliki bentuk kristal disebut mineral kristalin, sedangkan
yang tidak memiliki bentuk kristal disebut amorf (Anonim,2013:1-6)
Agar dapat diklasifikasikan sebagai mineral sejati, senyawa tersebut haruslah berupa
padatan dan memiliki struktur kristal. Namun bahan padat yang tidak memiliki struktur dalam
(amorf) tidak dapat dikatakan sebagai mineral, meskipun beberapa kriterianya terpenuhi.
Material alamiah yang tidak memenuhi sebagian atau seluruh kriteria mineral dikelompokkan
dalam kelompok mineraloid. Menurut The International Mineralogical Association (1955),
mineral suatu unsur atau senyawa yang dalam keadaan normalnya memiliki unsur kristal dan
terbentuk dari hasil proses geologi. Ada juga yang menyebutkan definisi mineral adalah suatu zat
yang terdapat dalam alam dengan komposisi kimia yang khas dan biasanya memiliki struktur
kristal yang jelas, yang terkadang dapat berubah dalam bentuk geometris tertentu. Istilah mineral
sendiri dapat mempunyai bermacam-macam makna, sukar untuk mendefinisikan mineral, oleh
karena itu kebanyakan mengatakan bahwa mineral adalah satu frase yang terdapat dalam alam.
(http://deweisgeologist.blogspot.com)
Mineral adalah bahan anorganik yang terbentuk secara alamiah, memiliki komposisi yang
tetap dan struktur keristal yang beraturan. Di alam ini terdapat lebih dari 2000 jenis mineral yang
diketahui . Tetapi, hanya beberapa mineral saja yang dijumpai sebagai mineral pembentuk
batuan. Mineral-mineral tersebut dapat diidentifikasikan berdasarkan sifat fisisnya secara khusus
, antara lain : Kilat, warna, kekerasan, tenacity, cerat, belahan, pecahan, bentuk, berat jenis, sifat
dalam, kemagnetan, kelistrikan, daya lebur, derajat transparan (Anonym,2010:2)
Mineral adalah kumpulan unsur-unsur anorganik yang terbentuk secara alami dan
stukturnya berupa kristal yang teratur serta memiliki komposisi yang teratur, oh ya satu lagi,
mineral itu berwujud padatan atau batuan.contoh mineral antara lain : zeolit, intan, grafot, dll.
Satu mineral berbeda dari mineral lainnya, hal ini dikarenakan setiap mineral memiliki
unsur penyusun yang berbeda-beda dan khas, dimana setiap unsur memiliki kekhasan sifat dan
kenampakan masing-masing.
Dalam identifikasi mineral kita dapat melakukan 2 jenis identifikaasi yaitu identifikasi
secara fisika dan secara kimia.

a. Identifikasi Fisik
Identifikasi ini meliputi identifikasi warna mineral, kilau mineral, kekerasan mineral, cerat,
belahan, sifat kemagnetan, dan kristalografi
b. Identifikasi Kimia
Identifikasi didahului dengan membersihkan mineral dari pengotornya seperti tanah,
lumut, dll dengan cara dicuci, lalu dikeringkan untuk menghilangkan air, kemuudian mineral
digerus dan ukurannya disesuaikan dengan ukuran mess yang diinginkan. Setelah itu mineral
didekstruksi dengan menggunakan aquaregia, dan sampel siap untuk dianalisis secara kimia
dengan metode titrasi, gravimetri, ataupun kolorimetri. (http://jujufo.blogspot.com/2011/01/hari-
terakir-uas.html).
We live in a world of minerals-they are everywhere around us. Gems and jewelry are
minerals. Gravel and sand are minerals. Mud is a mixture of microscopic minerals. Ice is a
mineral, and even dust in the air we breathe is made up of tiny mineral grains. Minerals substain
our lives and provide continuously for society.The houses in which we live, the automobiles we
drive, as well as the roads and other structures of our society, and almost everything we touch
are made of minerals or material derived from minerals.
Artinya : kiita hidup di dunia ini tidak terlepas dari mineral mineral yang tersebar di
sekitar kita. Permata dan perhiasan tersusun atas mineral. Kerikil dan pasir juga tersusun atas
mineral-mineral. Lumpur adalah campuran dari mineral mikroskopis. Es adalah mineral, dan
bahkan debu di udara yang kita hirup terdiri dari butiran mineral kecil. Sumber Daya Alam yang
tertanam di bumi yang menjaga kelangsungan hidup kita dan terus menerus memberikan
persediaan kebutuhan hidup termaksu di dalamnya bahan utama pembuatan bangunan/tempat di
mana kita hidup, mobil yang kita gunakan untuk berkendara, serta jalan dan struktur lain dari
masyarakat kita, dan hampir segala sesuatu yang kita sentuh terbuat dari mineral atau bahan
yang berasal dari mineral (Hamblin, 2004 : 52).
2.3. Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam acara Identifikasi Mineral ini, dapat dilihat pada
tabel 1. berikut :
Tabel 1. Nama Alat dan Bahan yang Digunakan dalam Praktikum Identifikasi Mineral.

No. Alat dan Bahan Fungsi
Keterangan
(skala
kekerasan)
1. Uang logam Alat penguji kekerasan mineral 3.0
2. Paku baja Alat penguji kekerasan mineral 5.5
3. Kikir baja Alat penguji kekerasan mineral 6.5
4. Potongan kaca Alat penguji kekerasan mineral 4.5
5.
Potongan
porcelen
Alat penguji kekerasan mineral 4.5-6.0
6.
Pisau lipat
(cuter)
Alat penguji kekerasan mineral 5.5
7. Lup
Memperbesar kenampakan sifat
fisis dari sampel mineral yang
digunakan
-
8.
Beberapa sampel
mineral
Bahan praktikum acara
Identifikasi Mineral
-
9.
Buku Rock and
Mineral
Referensi pembanding antara
teori dan hasil pengamatan
-

2.4. Prosedur Kerja
Langkah-langkah kerja praktikum acara Identifikasi Mineral adalah sebagai berikut :
1. Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan.
2. Menutupi sampel mineral lubang preparat, sehingga mendapatkan hasil yang konsisten.
3. Melakukan identifikasi mineral secara megaskopik/kasat mata berdasarkan sifat-sifat
fisisnya yaitu :
Warna (colour)
Bentuk (form)
Kekerasan (hardness)
Ketahanan (tenacity)
Belahan (cleavage)
Pecahan (fracture)
Cerat (streak)
Bentuk kristal
4. Selanjutnya menentukan nama mineralnya.
5. Menuliskan hasil identifikasi pada lembar pengamatan.

1.5. Hasil Pengamatan
Hasil pengamatan acara Identifikasi Mineral adalah sebagai berikut :
Tabel 1.




No. Urut 1
No. Peraga 3
Kilap Kaca
Warna - Segar : putih jernih
- Lapuk : putih kekunungan
Kekerasan 4.5
Cerat Putih
Belahan Tidak ada
Pecahan Uneven
Bentuk kristal Amorf
Ketahanan Ductile
Nama Kuarsa

Tabel 2.

No. Urut 2
No. Peraga 4
Kilap Sutera
Warna - Segar : putih susu
- Lapuk : cokelat/kekuningan
Kekerasan 2.5
Cerat Putih
Belahan Tidak ada/tidak nampak
Pecahan Even
Bentuk kristal Amorf
Ketahanan Britle
Nama Talc

Tabel 3.

No. Urut 3
No. Peraga 1
Kilap Kaca
Warna - Segar : hijau
- Lapuk : hijau keputihan
Kekerasan 6.5-7.0
Cerat Putih
Belahan Ada
Pecahan Concoidal
Bentuk kristal Kristalin
Ketahanan Britle
Nama Kuarsa
Tabel 4.

No. Urut 4
No. Peraga 2
Kilap Kaca
Warna - Segar : cokelat kemerahan
- Lapuk : cokelat keputihan
Kekerasan 3.0-4.5
Cerat Cokelat
Belahan Ada
Pecahan Hackly
Bentuk kristal Kristalin
Ketahanan Britle
Nama Kalsit

1.6. Pembahasan
Pada percobaan kali ini, kami mencoba untuk mengidentifikasi beberapa sampel
mineral yang belum diketahui namanya dengan tujuan untuk mengidentifikasi suatu mineral dan
mampu mendeskripsikan jenis-jenis mineral. Adapun metode yang coba kami kembangkan pada
percobaan kali ini adalah pengidentifikasian dengan pengamatan langsung (nature visual) atau
yang lebih tepatnya secara megaskopik berdasarkan kenampakan sifat fisisnya. Namun, sebelum
kita membahas hal tersebut, terlebih dahulu perlu diketahui tentang definisi dari mineral itu
sendiri.

Dalam geologi, mineral adalah senyawa yang terbentuk oleh proses alam melalui proses
geologis, biasanya bersifat padat, mempunyai komposisi kimiawi tertentu serta mempunyai sifat
fisik tertentu pula. Pada umumnya mineral bersifat padat, akan tetapi dapat juga berwujud cair
atau gas.
Pendekatan lain yang serupa yaitu, mineral adalah bahan padat anorganik yang terdapat secara
alamiah, yang terdiri dari unsur-unsur kimiawi dalam perbandingan tertentu, dimana atom-atom
didalamnya tersusun mengikuti suatu pola yang sistematis.
Oleh karena percobaan kali ini hanya berorientasi pada pengamatan sifat fisis mineral
secara megaskopik (kasat mata), maka perlu kiranya kita mengetahui beberapa sifat-sifat fisis
suatu mineral. Adapun sifat-sifat mineral fisis yang dimaksud yaitu : kilap, warna, kekerasan,
cerat, belahan, pecahan, bentuk kristal, dan ketahanan.
Pada percobaan yang pertama, kami mencoba mengidentifikasi sampel mineral yang
diberi tanda nomor peraga 3. Hasil yang kami dapatkan melalui pengamatan secara kasat mata
yaitu, kilap (kemampuan untuk memantulkan cahaya) yang dimiliki sampel termaksud ke dalam
kilap kaca (vitreous luster). Hal ini dibuktikan dengan kualitas pantulan cahaya yang dihasilkan
yang serupa dengan kaca walaupun dengan kondisi permukaan sampel yang tidak rata. Sifat fisis
selanjutnya yaitu warna mineral. Warna mineral yang menjadi fokus perhatian kita adalah warna
segar dan warna lapuk. Warna segar adalah warna asli yang dimiliki suatu mineral yang belum
terkontaminasi oleh material-material lingkungan sekitarnya, sedangkan warna lapuk yaitu warna
yang nampak di bagian permukaan sampel mineral atau warna mineral yang telah terkontaminasi
oleh material-material lingkungan sekitarnya. Berdasarkan asumsi tersebut, maka warna segar
yang dimiliki oleh sampel mineral dengan nomor peraga 3 ini adalah putih jernih, sedangkan
warna lapuknya adalah putih kekuningan sebagai akibat dari interaksi dengan media tempat
sampel ditemukan (tanah). Sifat fisis selanjutnya yaitu kekerasan. Dalam identifikasi sifat
kekerasan yang dimiliki sampel, hasil yang kami dapatkan yaitu sampel yang kita gunakan
memiliki skala kekerasan 4,5. Hasil ini, setelah kami sesuaikan dengan teori yang ada memiliki
kesalahan, dimana skala kekerasan yang semestinya yaitu 7.0. Penyimpangan ini dapat
disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya berasal dari kesalahan praktikan selaku peneliti
ataupun faktor keadaan sampel yang sudah lapuk yang dapat disebabkan oleh pengaruh
temperatur ataupun tekanan dari gaya luar. Selanjutnya yaitu sifat fisis cerat mineral. Untuk sifat
yang satu ini, kami menggunakan punggung pecahan porcelen yang sifatnya kasar. Warna cerat
(bubuk/hancuran) mineral yang nampak adalah putih. Sifat selanjutnya yaitu kenampakan
belahan sampel mineral, yang mana untuk sifat yang satu ini tidak kami temukan adanya belahan
pada mineral yang kami gunakan. Pengidentifikasian yang kami lakukan berlanjut pada sifat fisis
pecahan dari suatu mineral. Dalam perlakuan kali ini, kami sepakat bahwa jenis pecahan yang
dimiliki sampel yaitu uneven yang mana sesuai teori dikatakan bahwa suatu mineral memiliki
jenis pecahan uneven bila pecahan tersebut menunjukkan bidang pecahan yang kasar. Pada
perlakuan selanjutnya mengenai bentuk kristal suatu mineral, hasil yang kami dapatkan yaitu
sampel yang kami gunakan bersifat amorf karena tidak memiliki bentuk kristal. Sifat fisis
mineral yang terakhir yang kami identifikasi yaitu ketahanan terhadap benturan/gaya luar.
Berdasarkan fakta-fakta yang kami temukan pada saat percobaan dimana sampel yang kami
gunakan akan hancur apabila di beri gaya luat, maka dapat disimpulkan bahwa sifat ketahanan
yang dimiliki sampel berjenis ductile. Dari semua hasil pengidentifikasian yang kami lakukan di
atas, yang selanjutnya dari hasil-hasil tersebut kami sesuaikan dengan teori yang ada maka dapat
kami simpulkan bahwa nama sampel mineral dengan nomor peraga 3 ini adalah kuarsa.
Percobaan selanjutnya yang kami lakukan yaitu pengidentifikasian terhadap sampel
mineral yang ke dua dengan nomor peraga 4. Dengan cara dan metode yang sama terhadap
pecobaan pertama, maka hasil yang kami dapatkan yaitu, jenis kilap yang dimiliki sampel yang
ke dua ini yaitu kilap sutera yang umumnya terdapat pada mineral yang memiliki serat.
Pengamatan selanjutnya terhadap kenampakan warna mineral didapatkan hasil yaitu, warna
segar yang ditunjukkan sampel adalah putih susu, sedangkan warna lapuknya yaitu cokelat
kekuningan. Untuk sifat kekerasan, hasil yang kami dapatkan pada sampel yaitu 2.5 dengan cerat
berwarna putih serta kenampakan belahan yang tidak ada. Untuk sifat pecahan mineral, hasil
yang kami dapatkan yang paling sesuai dengan teori adalah even karena hasil pecahan sampel
menunjukkan bidang pecahan yang halus. Oleh karena sampel mineral yang kami identifikasi
tidak memiliki bidang belahan, maka bentuk kristal yang paling mendukung yaitu amorf, dengan
sifat ketahanan berjenis britle karena mineral yang kami gunakan akan berbentuk serbuk bila
diberi gaya luar/tekanan. Berdasarkan hasil pengidentifikasian yang kami dapatkan di
laboratorium dengan pendekatan teori yang dapat dibuktikan kebenarannya, maka dapat
disimpulkan bahwa sampel mineral dengan nomor peraga 4 bernama Talc.
Selanjutnya, pada percobaan ke tiga yang kami lakukan terhadap sampel mineral
dengan nomor urut peraga 1, cara-cara dan metode yang kami terapkan juga sama dengan dua
percobaan sebelumnya. Jenis kilap yang dimiliki oleh sampel ini yaitu kilap kaca, karena kualitas
pemantulan cahaya yang dihasilkan juga terbilang baik setara dengan yang dimiliki oleh kaca.
Kenampakan warna yang ditunjukan sampel terdiri dari warna segar yaitu hijau dan warna lapuk
setelah terkontaminasi oleh material lingkungan sekitarnya yaitu hijau keputihan, dengan skala
kekerasan yang dimiliki sampel yaitu 6.5 7.0 serta warna cerat yang dihasilkan setelah
digesekan pada punggung potongan porcelen yaitu putih. Berbeda dengan dua sampel
sebelumnya, mineral dengan nomor peraga 1 ini memiliki belahan dengan jenis pecahan mineral
yaitu concoidal karena memperlihatkan gelombang yang melengkung seperti pada pecahan
botol. Oleh karena sampel kali ini memiliki bidang belahan, maka bentuk kristal yang memenuhi
yaitu kristalin, dengan ketahanan yang bersifat britle. Berdasarkan hasil pengidentifikasian yang
kami dapatkan di laboratorium dengan pendekatan teori yang dapat dibuktikan kebenarannya,
maka dapat disimpulkan bahwa sampel mineral dengan nomor peraga 1 ini bernama kuarsa.
Selanjutnya, pengidentifikasian berlangsung pada sampel yang terakhir yaitu mineral
dengan nomor peraga 2, tentunya dengan langkah-langkah dan cara-cara yang sepenuhnya sama
dengan tiga sampel sebelumnya. Berdasarkan hal tersebut, maka untuk sampel yang terakhir ini
jenis kilap yang dimilikinya yaitu kilap kaca, karena pendekatan terhadap pantulan cahaya
matahari yang juga tidak jauh berbeda dengan apa yang dimiliki oleh kaca, dalam hal ini kilap
(pantulan cahaya). Warna segar yang dimiliki sampel terakhir ini adalah cokelat kemerahan,
sedangkan warna lapuk yang nampak melalui pengamatan visual yaitu cokelat keputihan, dengan
skala kekerasan 3.0 4.5 karena sampel baru bisa tergores ketika digesekan terhadap potongan
kaca jendela. Untuk warna mineral dalam bentuk serbuk (cerat), hasil yang diperoleh yaitu
serbuk berwarna cokelat, dengan bidang belahan yang secara langsung dapat dilihat dengan mata
telanjang, serta pecahan dengan jenis hackly karena menunjukkan bidang yang kasar, tidak
teratur, dan runcing. Oleh karena pada sampel tampak bidang belahan, maka sesuai teori dapat
dikatakan bahwa bentuk kristal yang dimiliki sampel berjenis kristalin dengan ketahanan jenis
britle yaitu sampel mineral apabila diberi gaya luar maka akan berubah menjadi butiran
halus/serbuk. Berdasarkan data hasil identifikasi yang dilakukan yang selanjutnya tetap harus
berpedoman pada teori yang ada, maka kami dapat simpulkan bahwa sampel mineral dengan
nomor peraga 2 mempunyai nama kalsit.

1.7. Kesimpulan
Identifikasi mineral merupakan suatu kegiatan membuat deskripsi tentang suatu mineral
tertentu. Setelah identifikasi dilakukan, maka kita dapat dengan jelas memberi nama minerl
tersebut. Mineral adalah bahan anorganik yang terbentuk secara alamiah, memiliki komposisi
kimia yang tetap dan struktur kristal yang beraturan. Di alam ini, terdapat lebih dari 2000 jenis
mineral yang telah diketahui. Akan tetapi, hanya beberapa mineral saja yang dijumpai sebagai
mineral pembentuk batuan. Mineral-mineral tersebut dapat diidentifikasi berdasarkan sifat
fisisnya secara khusus. Adapun sifat-sifat fisis mineral yang dapat diidentifikasi secara
megaskopik (kasat mata) yaitu : kilap (luster), warna (colour), kekerasan (hardness), ketahanan
(tenaciti), cerat (sterak), belahan (cleavage), dan pecahan (fracture).

1.8. Saran
Adapun saran yang dapat saya ajukan dalam laporan ini adalah sebaikmya dalam setiap
kegiatan praktikum, semua asisten yang telah diberikan kepercayaan penuh untuk membimbing
kami selaku praktikan agar keterlambatannya dapat diminimalisir. Sehingga dengan keadaan
seperti itu, akan timbul perasaan takut pada praktikan apabila terlambat untuk mengikuti
jalannya praktikum. Sedangkan untuk setiap praktikan yang terlambat dalam mengikuti suatu
kegiatan praktikum supaya diberikan sanksi yang tegas sebagai konsekuensi dari keterlambatan
mereka agar dapat menumbuhkan efek jera, sehingga dalam pelaksanaan kegiatan praktikum
selanjutnya dapat berjalan kondusif sesuai dengan apa yang kita harapkan bersama.




















DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2010. Modul Praktikum Geologi Dasar, Universitas Haluoleo, Kendari.
Anonim, 2011. Kimia Mineral, http://jujufo.blogspot.com/2011/01/hari-terakir-uas.html.
Diakses pada tanggal 05 April 2013.
Anonim, 2013. Modul Praktikum Geologi Dasar, Universitas Haluoleo, Kendari.
Hamblin, 2004. The Earths Dyna



IDENTIFIKASI MINERAL

Identifikasi mineral merupakan suatu kegiatan membuat deskripsi tentang suatu mineral
tertentu. Setelah identifikasi dilakukan, maka kita dapat dengan jelas memberi nama
mineral tersebut.
Mineral adalah bahan anorganik yang terbentuk secara alamiah, memiliki komposisi kimia
yang tetap dan struktur kristal yan beraturan.
Di alam ini terdapat lebih dari 2000 jenis mineral yang telah diketahui. Tetapi, hanya
beberapa mineral saja yang dijumpai sebagai mineral pembentuk batuan. Mineral-mineral
tersebut dapat diidentifikasi berdasarkan sifat fisisnya secara khusus, antara lain :
1. Kilat (luster)
2. Warna (colour)
3. Kekerasan (hardness)
4. Cerat (streak)
5. Belahan (cleavage)
6. Pecahan (fracture)
7. Bentuk (form)
8. Berat jenis (specific gravity)
9. Sifat dalam
10. Kemagnetan
11. Kelistrikan
12. Daya lebur

Pada praktikum ini hanya diwajibkan untuk mengidentifikasi mineral hanya yang nampak
oleh mata dan dibantu kaca pembesar saja. Sedangkan untuk sifat-sifat dari nomor 8 12
diperlukan kajian lebih lanjut secara khusus.

1. Kilat
Kilat sering juga disebut kilapan merupakan kenampakan suatu mineral yang
ditunjukkan dari pantulan cahaya yang dikenakan padanya. Kilat secara garis besar
biasanya dibagi menjadi 2 jenis :
a. Kilat Logam (metallic luster) : bila mineral tersebut memiliki kilat seperti logam.
b. Kilat Non-Logam (non-metallic luster), dibagi atas :
Kilat intan (adamantin luster) ; cemerlang seperti intan.
Kilat kaca (vitreous luster); contohnya kuarsa dan kalsit.
Kliat sutera (silky luster); umumnya terdapat pada mineral yang memiliki
serat, seperti asbes dan gips.
Kilat damar/resin (resinous luster); kilat seperti getah damar/resin, misalnya
mineral sphalerit
Kilat mutiara (pearly luster); kilat seperti lemak atau sabun, misalnya
serpentin, opal dan nepelin.
Kilat tanah, kilat seperti tanah lempung, misal kaolin, bauxit, dan limonit.

2. Warna
Warna mineral merupakan kenampakan langsung yang dapat dilihat, akan tetapi
tidak dapat diandalkan dalam identifikasi mineral karena suatu mineral dapat memiliki
lebih dari satu warna. Misalnya, kwarsa dapat berwarna putih susu, ungu, coklat kehitaman
atau tidak berwarna (bening).
Beberapa contoh warna mineral :
- kwarsa : berwarna putih jernih, putih susu dan tidak memiliki belahan.
- mika : apabila berwarna putih diberi nama muskovit, bila berwarna
hitam diberi nama biotit, keduanya dicirikan adanya belahan
seperti lembaran-lembaran.
- feldspar : apabila berwarna merah daging diberi nama ortoklas
(bidang belah tegak lurus/ 90), bila berwarna putih abu-
abu diberi nama plagioklas (belahan kristal kembar).
- karbonat : biasanya mineral ini diberi nama kalsit dan dolomit, ciri utama
mineral karbonat ini adalah bereaksi dengan HCl.
- olivin : hijau (butiran/granular), atau biasanya berwarna kuning
kehijauan seperti gula pasir.
- piroksen : hijau kehitaman berbentuk prismatik pendek.
- amfibol : hitam mengkilat berbentuk prismatik panjang
- oksida besi : kuning- coklat kemerahan
- lempung : bila berwarna putih berkilap tanah disebut kaolin yang
merupakan hasil pelapukan feldspar, dan bila berwarna kelabu
disebut illit yang merupakan hasil pelapukan muskovit.
- azurit : bila berwarna biru
- jasper : bila berwarna merah

3. Kekerasan
Kekerasan merupakan ketahanan mineral terhadap suatu goresan. Kekerasan nisbi
suatu mineral dapat ditetapkan dengan membandingkan suatu mineral dengan mineral
tertentu. Skala kekerasan yang biasa digunakan ialah skala yang dibuat oleh Friedrich Mohs
dari Jerman atau yang lebih dikenal dengan skala Mohs. Skala Mohs dimulai dari skala 1
sampai 10, dengan skala 1 mulai dari mineral terlunak dan skala 10 adalah mineral terkeras.
Skala yang lebih kecil akan memiliki bekas goresan apabila dikenakan pada yang skala
lebih besar.

Skala Mohs
Sebagai perbandingan dari skala tersebut di atas, maka dapat diberikan skala kekerasan
untuk :
- Kuku jari : 2,5
- Uang logam tembaga : 3
- Pisau/paku baja : 5,5
- Pecahan kaca jendela : 5,5 6

4. Cerat
Cerat merupakan warna mineral dalam bentuk hancuran (serbuk). Hal ini dapat
diperoleh apabila mineral digoreskan pada bagian yang kasar suatu keping porselen atau
dapat dilakukan dengan membubuk mineral kemudian dilihat warna bubuk tersebut. Cerat
dapat berupa warna asli mineral, dapat pula berbeda.

5. Belahan
Belahan merupakan kecenderungan mineral tertentu untuk membelah diri pada
satu atau lebih pada arah tertentu. Belahan merupakan salah satu sifat fisik mineral yang
disebabkan oleh tekanan dari luar atau pemukulan dengan palu. Yang dimaksud belah
adalah bila mineral kita pukul tidak akan hancur, tetapi terbelah melalui bidang belahan
yang licin.
Sehingga dapat digunakan juga istilah ada bidang belah atau tanpa bidang belah.
Contohnya : kalsit memiliki tiga arah belahan, tetapi kwarsa tidak memiliki belahan.

6. Pecahan
Bila dalam belahan mineral akan pecah dalam arah yang teratur, sedangkan pada
pecahan mineral akan pecah secara tidak teratur. Perbedaannya bidang belah pada belah
akan nampak memantulkan sinar seperti pada cermin datar, sedangkan pada pecahan
akan memantulkan sinar ke segala arah dengan tidak teratur. Beberapa jenis pecahan
mineral adalah sebagai berikut :
Concoidal : bila memperlihatkan gelombang yang melengkung, seperti
pada pecahan botol.
Fibrous : bila menunjukkan gejala pecahan seperti serat, contohnya
asbes.
Even : bila pecahan tersebut menunjukkan bidang pecahan yang
halus, contohnya mineral lempung.
Uneven : bila pecahan tersebut menunjukkan bidang pecahan yang
kasar, contohnya mineral magnetit atau miberal besi.
Hackly : bila pecahan tersebut menunjukkan bidang pecahan yang
kasar tidak teratur dan runcing, contohnya mineral perak
atau emas.

7. Bentuk
Mineral ada yang memiliki bentuk struktur kristal, ada pula yang tidak memiliki
bentuk atau struktur kristal. Mineral yang memiliki bentuk kristal disebut mineral kristalin,
sedangkan yang tidak memiliki bentuk kristal disebut amorf.
PRAKTIKUM GEOLOGI DASAR
IDENTIFIKASI MINERAL
HARI/TANGGAL : ...............................................
No.
Urut
No.
Peraga
Kilat Warna Kekerasan Cerat Belahan Pecahan Bentuk Nama



















Nama Mahasiswa :
laporan praktikum geologi dasar
PRAKTIKUM GEOLOGI DASAR
PRAKTIKUM I
IDENTIFIKASI MINERAL



OLEH
HERLANI SADIDU
F1B1 10 011


LABORATORIUM KEBUMIAN
JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2011




1.1 JUDUL
Identifikasi mineral

1.2 TUJUAN
Tujuan yang ingin di capai pada praktikum ini adalah :
1. Untuk mengidentifikasi suatu mineral.
2. Untuk mengetahui dan untuk mendeskripsikan jenis-jenis mineral.

1.3 ALAT DAN BAHAN
Alat dan bahan yang di gunakan pada praktikum ini adalah :
Alat dan
Ba
ha
n
Kegunaan
Lubang
Pr
ep
ara
t
Sebagai pembatas untuk mengamati batuan agar tidak
semua bagian mineral teramati
Kuku Jari
Ta
ng
an
Sebagai pembanding untuk mengetahui kekerasan suatu
mineral dengan kisaran 2,5
Uang
Lo
ga
Sebagai pembanding untuk mengetahui kekerasan suatu
mineral dengan kisaran 3,0
m
Pecahan
Ka
ca
Sebagai pembanding untuk mengetahui kekerasan suatu
mineral dengan kisaran 4,5
Pisau/Paku
Baj
a
Sebagai pembanding untuk mengetahui kekerasan suatu
mineral dengan kisaran 5,5
Kikir Baja Sebagai pembanding untuk mengetahui kekerasan suatu
mineral dengan kisaran 6,5
Porselin Sebagai tempat menggosokkan mineral guna mengetahui
ceratnya
Rock &
Mi
ne
ral
Sebagai objek pengamatan

1.4 TEORI
Identifikasi mineral merupakan suatu kegiatan membuat deskripsi tentang suatu
mineral tertentu. Setelah identifikasi di lakukan, maka kita dapat dengan jelas memberi
nama mineal tersebut. Mineral dalah bahan anorganik yang terbentuk secara alamiah,
memiliki komposisi mineral yang tetap dan struktur kristal yang beraturan (Drs. Firdaus,
M.Si, 2011).
Geologi merupakan bagian dari ilmu geologi yang mempelajari tentang
bentuk(arsitektur) batuan sebagai hasil dari proses deformasi. Proses deformasi adalah
perubahan bentuk dan ukuran pada batuan akibat dari gaya yang terjadi dalam bumi.
Didalam pengertian umum, Geologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang bentuk
batuan sebagai bagian dari kerak bumi serta menjelaskan proses terbentuknya.
Beberapa ahli menganggap bahwa geologi lebih ditekankan pada studi mengenai
struktur geologi misalnya perlipatan, rekahan, sesar dan sebagainya. Batuan merupakan
agregasi(kumpulan) dari beberapa macam mineral ataupun mineral sejenisnya. Andesit
sering juga disebut batu candi tersusun atas mineral-mineral plagioklas, piroksin,
hornblende dan sedikit kuarsa. Sedangkan marmer termaksud batuan metamorf oleh
mineral kalsit yang mengalami perubahan (Asikin, Sukendar. 1978).
Kekerasan suatu benda diukur berdasarkan skala tertentu. Saat ini, skala yang
paling umum digunakan ialah Skala Kekerasan Mohs (Mohs Hardness Scale). Prinsip
dasarnya ialah dengan menggoreskan benda yang akan diukur kekerasannya dengan
benda lain yang lebih keras. Skala pengukurannya mulai dari 1 hingga 10 dengan intan
sebagai benda terkeras dan talk sebagai yang terlunak (Badgley, P.C. 1959).
Tekstur batuan mempunyai arti penting dalam mengedintifikasi mineral karena
mencerminkan proses yang telah dialamin batuan tersebut terutama proses
transportasi dan pengendapannya, tekstur juga dapat digunakan untuk menginterpetasi
lingkungan pengendapan batuan(Doddy, 1987).


1.5 PROSEDUR PRAKTIKUM
1. Menyiapkan alat dan bahan yang di perlukan.
2. Melakukan identifikasi mineral secara megaskopis/kasat mata berdasarkan sifat-sifat
fisisnya:

Warna
Bentuk
Kekerasan
Tenacity
Derajat transparan
Belahan
Pecahan
Cerat
Kilap

3. Menentukan nama mineralnya.
4. Mengisi data pada lembar jawaban.


1.6 DATA/HASIL PENGAMATAN

No. Urut
Mineral
: 1
Sifat Fisis

Bentuk : Orthorombik
Warna
Segar
: Hijau
Warna
Lapuk
: Kecoklatan

Kekeras
an
: 3,0 - 4,5
Tenacity : Britle
Belahan : Sempurna
Pecahan : Choncoidal
Cerat /
Gores
: Putih kehijauan
Kilap : Non-logam (sutera)
Nama Mineral : Malacite
Keterangan
Tambah
an
: Terletak pada lingkungan mineral
sekunder di zona teroksidasi
deposit tembaga. Asal
namanya berasal dari bahasa
yunani.



No. Urut Mineral : 2
Sifat Fisis

Bentuk : Hexagonal
Warna
Segar
: Abu-abu
Warna
Lapuk
: Abu-abu kehitaman
Kekerasan : 1 2,5
Tenacity : Britle
Belahan : Tidak sempurna
Pecahan : Even
Cerat /
Gores
: Abu-abu
Kilap ; Logam
Nama Mineral : Molipdhenit
Keterangan
Tambaha
n
: Mempunyai rumus kimia MoS2,
berat jenisnya 4,73
memiliki belahan yang tipis
serta kristalnnya fleksibel
tetapi tidak elastis.



No. Urut Mineral

:

3
Sifat Fisis

Bentuk : Hexagonal
Warna
Segar
: Putih bersih
Warna
Lapuk
: Kuning kecoklatan
Kekerasan : 1 2,5
Tenacity : Britle
Belahan : Tifak sempurna
Pecahan : Uneven
Cerat /
Gores
: Putih
Kilap : Non-logam (tanah)
Nama Mineral : Calcite
Keterangan
Tambaha
n
: Klasifikasi kimianya adalah
karbonat, komposisi
kimianya adalah Kalsium
karbonat (CaCO3), berat
jenisnya 2,7. Menunjukan
karakteristik yang tidak
biasa disebut kelarutan
surut dimana ia menjadi
kurang larut dalam air
dengan naiknya suhu.


1.7 PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini kami akan membahas mengenai identifikasi
mineral. Dengan tujuan untuk mengidentifikasi suatu mineral, untuk
mengetahui dan mendeskripsikan jenis-jenis mineral.
Mengidentifikasi mineral dapat dilakukan dengan memperhatikan
sejumlah sifat kimia dan sifat fisisnya. Untuk menentukan beberapa sifat
unik mineral diperlukan alat-alat khusus dengan teknik-teknik tertentu.
Akan tetapi kebanyakan mineral penyusun batuan dapat dibedakan satu
sama lain hanya dengan pengamatan sederhana terhadap sifat-sifat
fisiknya. Sifat-sifat fisik yang biasanya diperhatikan adalah kilap, warna,
kekerasan, tenacity, cerat, belahan, pecahan, bentuk, berat jenis, sifat
dalam, kemagnetan, kelistrikan, daya lebur, dan derajat transparan.
Umumnya mineral berasal dari magma yaitu batuan cair dibawah
permukaan bumi. Ketika magma mendingin, kristal mineral terbentuk
bagaimana dan dimana magma mendingin menentukan ukuran dari kristal
mineral. Kristal juga dapat terberntuk dari senyawa terlarut dalam cairan,
seperti air. Bila cairan menguap atau perubahan ke gas, akan meninggalkan
mineral seperti kristal. Garam karang atau garam batu merupakan bentuk
dengan cara penguapan.
Dan pada praktikum ini, yang kami amati adalah nama mineral, sifat
fisis, dan sifat fisis yang yang kami identifikasi pada praktikum ini adalah
bentuk, warna, kekerasan, tenacity, belahan, pecahan, cerat, dan kilap.
Pada pengamatan pertama, kami melakukan pengamatan pada
mineral dengan nomor urut 2. Di mana nama mineral tersebut adalah
Molipdhenit, dengan sifat fisis yang di miliki yaitu: bentuknya hexagonal,
warnanya yaitu warna segarnya berwarna abu-abu dan warna lapuknya
berwarna abu-abu kehitaman, kekerasannya 12,5, tenacitynya adalah
britle, belahan dan pecahannya yaitu belahan tidak sempurna dan
pecahannya termasuk jenis even, cerat/goresannya berwarna abu-abu, dan
kilapnya termasuk dalam kilap logam. Untuk keterangan tambahannya yaitu
mempunyai rumus kimia MoS2, berat jenisnya 4,73 memiliki belahan yang
tipis serta kristalnnya fleksibel tetapi tidak elastis.
Pada pengamatan kedua, kami melakukan pengamatan pada mineral
dengan nomor urut 3. Di mana nama mineralnya adalah calcite, dengan
sifat fisis yang di miliki yaitu: bentuknya hexagonal, warnanya yaitu warna
segarnya berwarna putih bersih dan warna lapuknya berwarna kuning
kecoklatan, kekerasannya 1-2,5, tenacitynya adalah britle, belahan dan
pecahannya yaitu belahan tidak sempurna dan pecahannya termasuk jenis
uneven, cerat/goresannya berwarna putih, dan kilapnya termasuk dalam
kilap non-logam (kilap tanah). Untuk keterarangan tambahannya yaitu
klasifikasi kimianya adalah karbonat, komposisi kimianya adalah Kalsium
karbonat (CaCO3), berat jenisnya 2,7. Menunjukan karakteristik yang tidak
biasa disebut kelarutan surut dimana ia menjadi kurang larut dalam air
dengan naiknya suhu.
Pada pengamatan ketiga, kami melakukan pengamatan pada mineral
dengan nomor urut 4. Di mana nama mineralnya adalah Kwarsa, dengan
sifat fisis yang di miliki yaitu: bentuknya trigonal, warnanya yaitu warna
segarnya berwarna putih bening dan warna lapuknya berwarna putih
kekuning, kekerasannya 7, tenacitynya adalah britle, belahan dan
pecahannya yaitu belahan tidak sempurna dan pecahannya termasuk jenis
hacky, cerat/goresannya berwarna putih, dan kilapnya termasuk dalam kilap
non-logam (kilap kaca). Untuk keterarangan tambahannya yaitu kuarsa
adalah mineral yang paling umum ditemukan di permukaan bumi,
komponen penting dari batuan beku, metamorf dan sedimen, bentuk alami
dari silikon dioksida ditemukan dalam berbagai varietas mengesankan dan
warna. Ada banyak nama untuk varietas yang berbeda: cryptocrystalline
varietas kuarsa terdaftar secara terpisah di bawah kalsedon, dan termasuk
batu akik.
Pada pengamatan keempat atau pengamatan terakhir, kami
melakukan pengamatan pada mineral dengan nomor urut 1. Di mana nama
mineralnya adalah Malacite, dengan sifat fisis yang di miliki yaitu:
bentuknya orthorombik, warnanya yaitu warna segarnya berwarna hijau
dan warna lapuknya berwarna putih kecoklatan, kekerasannya 3,0 - 4,5,
tenacitynya adalah britle, belahan dan pecahannya yaitu belahan sempurna
dan pecahannya termasuk jenis choncoidal, cerat/goresannya berwarna
putih kehijauan, dan kilapnya termasuk dalam kilap non-logam (kilap
sutera). Untuk keterarangan tambahannya yaitu terletak pada lingkungan
mineral sekunder di zona teroksidasi deposit tembaga. Asal namanya
berasal dari bahasa yunani.

1.8 PENUTUP
1.8.1 KESIMPULAN
Pada praktikum ini dapat di tarik kesimpulan yaitu:
1. Mineral adalah bahan anorganik yang terbentuk secara alamiah, memiliki
komposisi kimia yang tetap dan struktur kristal yang beraturan.
2. Mengidentifikasi mineral merupakan kegiatan membuat suatu deskripsi
tentang suatu mineral tertentu, dengan melakukan kegiatan ini dapat
dengan jelas memberi nama pada mineral yang diidentifikasi.
3. Mineral-mineral tersebut dapat diidentifikasi berdasarkan sifat fisinya
secara khusus, yakni : Kilat (luster); Warna (colour); Kekerasan (hardness);
Tenacity; Cerat (streak) ; Belahan (cleavage); Pecahan (fracture); Bentuk
(form); Berat jenis (specifik gravity); Density: Sifat dalam; Kemagnetan;
Kelistrikan; Daya lebur; Derajat transparan.

1.8.2 SARAN
Adapun saran yang ingin saya sampaikan pada praktikum kali ini yaitu,
agar kipas anginnya di tambah berhubungan jumlah praktikan yang cukup
banyak.





DAFTAR PUSTAKA
Asikin, Sukendar. 1978. Dasar-dasar Geologi Struktur. Departemen Teknik Geologi ITB.
Bandung.
Badgley, P.C. 1959. Structural Methot For The Exploration Geologist. Oxford Book
Company. New Delhi.
Drs. Firdaus, M.Si. 2011. Modul Praktikum Geologi Dasar. Universitas haluoleo.
Kendari.
Graha, Doddy Setya. 1987. Batuan dan Mineral. Bandung.