Anda di halaman 1dari 37

BAB I

PENDAHULAUN

A. Latar Belakang
Suatu benda dapat melakukan gerak melingkar jika pada benda tersebut bekerja sebuah
momen gaya. Akibat momen gaya inilah timbul gerak rotasi dari gerak rotasi terjadi percepatan
sudut, kecepatan sudut dan momen inersia serta momen gaya (torka).
Momen gaya adalah ukuran resistensi atau kelembapan suatu benda terhadap perubahan
dalam gerak rotasi. Sedangkan momen inersia adalah gaya yang diberikan oleh benda untuk
mempertahankan kecepatan awalnya.
Adapun rumus dari momen inersia adalah I =mr
2
. Momen inersia diberikan lambang I
dengan demikian momen inersia dari sebuah partikel bermassa m didefinisikan sebagai hasil kali
massa (m) dengan kuadrat jaraknya (r).
Hubungan momen inersia dengan farmasi adalah pada proses pembuatan tablet, dengan
megetahui momen inersianya maka bisa diperkirakan baik dan tidaknya bentuk-bentuk tablet
obat yang akan dihasilkan oleh mesin pencetak obat atau biasa disebut dengan proses granulasi
yaitu pembuatan partikel-partikel gabunagn senyawa atau dengan yang lainnya.


B. Maksud dan Tujuan
1. Maksud percobaan
Mengetahui dan memahami cara menentukan momen inersia pada suatu benda.
2. Tujuan percobaan
a. Menyelidiki hubungan antara percepatan sudut dengan momen inersia pada gerak rotasi
b. Menentukan efek dari momen inersia pada percepatan benda bulat yang menggelinding pada
bidang miring
c. Menyelidiki hubungan momen inersia dengan periode pada system rotasi yang melakukan gerak
harmonik sederhana
d. Menentukan besar momen inersia bandul fisis dari periodenya.
C. Maksud dan Tujuan
Penentuan momen inersia pada benda, hubungan percepatan sudut dengan momen inersia,
hubungan momen inersia dengan periode pada sistem rotasi, dan penentuan efek dari momen
inersia pada benda bulat yang menggelinding dibidang miring dengan dua ketinggian yang
berbeda-beda yaitu 19 cm dan 28,8 cm. Benda yang digunakan adalah kelereng dan silinder
berongga.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori Umum
Jika gaya-gaya yang didistribusikan terus menerus di atas permukaan tempat gaya-gaya
tersebut bekerja, maka sering diperlukan untuk menghitung momen gaya-gaya ini terhadap suatu
sumbu yang terletak pada atau tegak lurus terhadap bidang permukaan. Intensitas gaya (tegangan
atau regangan) sering sebanding dengan jarak gaya dan sumbu momen. Gaya elementer yang
bekerja pada elemen luas dengan demikian sebanding dengan jarak dikalikan luas diferensial dan
elemen momen sebanding dengan kuadrat jarak dikalikan luas diferensial. Karena itu kita lihat
bahwa momen total mencakup suatu integral berbentuk (jarak) d (luas).Integral ine dikenal
sebagai momen inersia (moment of inertia) atau momen kedua (second momen) dari luas
(permukaan). Integral merupakan fungsi dari geometri permukaan dan sering ditemui dalam
penerapan mekanika sehingga bermanfaat untuk mengembangkan sifat-sifatnya secara rinci dan
untuk menjadikannya siap pakai bila ditemukan keperluan akan pekerjaan integral. (Kraige, 359)
Kata momen berarti bahwa I tergantung pada bagaimana massa benda didistribusikan
didalam ruang; ini tidak ada hubungannya dengan momen dari waktu. Untuk sebuah benda
yang sumbu rotasinya dan massa totalnya kita ketahui, semakin besar jarak sumbu terhadap
partikel yang menyusun benda, semakin besar momen inersianya. Pada benda tegar, jarak r
i

semua konstan dn I tidak tergantung pada bagaimana benda berotasi mengelilingi sumbu. Satuan
SI unutk momen inersiaadalah kilogram-meter
2
(kg.m
2
). (Freedman;274)
Momen inersia berbagai benda yang diputar terhadap sumbu yang melalui pusat massanya.
Benda Momen inersia Keterangan
Batang


I = panjang batang
Segitiga sama kaki


a = panjang sisi
segitiga
Segi empat beraturan


a = panjang sisi
segi empat
Segi enam beratuan


a = panjang sisi
segi enam
Silinder pejal

R = jari-jari
silinder
Bola tipis


R = jari-jari bola
Bola pejal


R = jari-jari bola

Telah ditunjukkan diatas bahwa kita dapat memperoleh momen inersia dari beberapa benda yang
bentuknya beraturan tanpa menggunakan kalkulus.Perhitungan hanya dengan memanfaatkan
analisa dimensi untuk mencari hubungan antara momen inersia dengan variabel yang mencirikan
benda itu (seperti massa, panjang atau jari-jari) serta dengan memanfaatkan teorema sumbu
sejajar dan tentu saja sifat simetri benda. (Surya;2 dan 13)
Menentukan momen inersia massa
Perhatika suatu body yang dapat berputar terhadap sumbu O O, seperti terlihat pada
gambar dibawah ini.
Apabila dm adalah elemen massa pada rigid
body yang berjarak r dari sumbu putar j maka momen inersia body terhadap sumbu O O,
adalah : I
o
= r
2
.dm
O
w r
dm




O
Body yang berputar terhadap sumbu O O

Apabila g g adalah sumbu (garis) yang dibuat melalui pusat berat G sejjar sumbu O O,
seperti terlihat pada gambar dibawah ini, maka berlaku:
I
o
= I
G
. a
2
. m
Dimana :
I
o
= momen inersia massa body terhadap sumbu O O
I
G
= momen inersia massa body terhadap sumbu lewat pusat massa G, sejajar sumbu O O
a = jarak antara sumbu O O dengan sumbu g g
m = massa body
o
g m
G


o g
a
body yang berputar terhadap sumbu g g
Cara lain menentukan momen inersia adalah dengan percobaan, seperti pada gambar
dibawah ini.
Missal kita akan menentukan momen inersia massa melalu suatu connecting rod, yang beratnya
mg dan berat pusatnya dititik G. Connecting rod tersebut kita tumpu di o dan diayunkan dengan
simpangan sudut yang kecil.
Dengan pengamatan kita dapat menentukan waktu untuk satu ayakan penuh, missal T
detik. Menurut hukum Newton II, hubungan antara percepatan sudut dan momen terhadap titik o,
adalah
-m .g .r . = I
o
.
Dimana :
r = jarak dari pusat massa body
sampai engsel o




O G



mg



(http://elearning.gunadarma.ac.id,pdf, 10-12-2011;257-259)
Momen inersia kutub
J = poros pejal
J = poros berlubang
(http://web.ipb.ac.id,pdf,10-12-2011;108)
Momen inersia polar
Integral yang sangat penting dalam persoalan yang menyangkut perputaran poros silinder dan
dalam persoalan yang menyangkut perputaran lempengan adalah
J
o
=
dengan r menyatakan jarak dari elemen luasan dA ke kutub O
y
dA
v
x
O
A
Momen inersia polar
Momen inersia polr dari suatu bidang dapat di hitung dari momen inersia Cartesian I
x
dan
I
y
dari bidang itu jika integral ini telah diketahui. Dengan memperhatika bahwa r
2
= x
2
+ y
2
,
dapat ditulis ;
J
o
= = +
J
o
= I
x
+ I
y

(darmai; 49)






B. Prosedur Kerja (Tim Asisten Fisika Dasar UIN Alauddin : 16)
1. Mengukur jarak antara dua garis pada bidang miring
2. Mengatur posisi pada ujung balok penunjang agar tinggi h=(terukur diposisi garis atas.
Perhatikanlah baik-baik-baik h=H-ho)
3. Meletakkan benda A tepat diatas garis, ditahan dengan sebuah balok kecil. Ukurlah untuk benda
sampai pada garis bawah. Coba lakukan beberapa kali sampai mendapat beberapa hasil dengan
variasi 0,2 detik. Lakukanlah pengukuran waktu sebnyak 8 kali
4. Mengubah tinggi h. ulanglah nomor 2 dan 3 di atas
5. Mencatat bentuk geometri dari benda A dan B, ukurlah diameternya. (untuk pipa diameter luar
dan dalam)
6. Dengan memakai benda B. Ulangi langkah 2 4
C. Uraian Bahan
1. Kelereng
Bahan : kaca
Bentuk : bulat
Warna : hijau, bening
2. Pipa (silinder berongga)
Bahan : palstik
Bentuk : silinder berongga
Warna : silver
Diameter : inci

BAB III
METODE KERJA

A. Alat dan Bahan
a. Alat yang digunakan
1) Jangka sorong
Sebagai Alat untuk mengukur panjang,tebal dan diameter benda
2) Mikrometer sekrup
Sebagai alat untuk mengukur ketebalan suatu benda
3) Mistar geser
Sebagai alat untuk mengukur panjang dan tinggi suatu benda
4) Neraca analitik
Sebagai alat untuk menimbang massa benda (mengukur berat benda) dengan ketelian yang tinggi
5) Papan / bidang miring
Permukaan rata yang menghubungkan 2 tempat
6) Stopwatch
Untuk menghitung waktu yang dibutuhkan benda untuk meluncur





b. Bahan yang digunakan
Bahan yang digunakan :
1. Kelereng
Sebagai sampel
2. Pipa (silinder berongga)
Sebagai sampel
B. Cara kerja
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Di timbang massa silinder berongga dan kelerng menggunakan neraca analitik
3. Ditentukan ketinggian papan penyangga yaitu 28,8 cm dan 19 cm
4. Ditaruh kelereng pada ujung bidang dan diluncurkan sepanjang bidang miring (dilakukan
sebanyak 3kali pada masing-masing ketinggian)
5. Ketika kelereng dilepas, diukur waktunya. Begitu pula untuk pipa (silinder berongga)
diluncurkan sepanjang bidang miring dan diukur waktunya (dilakukan sebanyak 3kali pada
masing-masing ketinggian)
6. Dibuat data dalam bentuk tabel





BAB IV
HASIL PERCOBAAN
A. Data Pengamatan
a. Waktu benda meluncur
Tinggi
(cm)
Kelereng Pipa(silinder berongga)
t
1
t
2
t
3


t
1
t
2
t
3



19 cm

0,51

0,56

0,49

0,52

0,85

0,66

0,78

0,76

28.8 cm

0,48

0,41

0,42

0,43

0,63

0,73

0,59

0,65

b. Diameter benda
Kelereng
1. 16,43 mm
2. 16,34 mm
3. 16,35 mm
= 16,37 mm
r = 8,85 cm
= 0,08185 m
Pipa (silinder berongga)
Diameter luar = 2,24 mm, r = 1,12 mm
Diameter dalam = 2 mm, r = 1 mm


c. Massa benda
Pipa (silinder berongga) = 14,533 g
Kelereng = 5,412 g
B. Pengolahan Data
1. Menghitung momen inersia
a. Kelereng
I =
=
=
=
=
= 0,00145 x 10
-4
kgm
2

b. Pipa (silinder berongga)
I =
=
=
=
=
=
= 180,2092 x 10
-8
kgm
2

= 9,01 x 10
-7
kgm
2

2. Percepatan sudut ( )
Untuk h = 19 cm
a. Kelereng
a =
=
=
= m/s
2








b. Pipa (silinder berongga)
a =
=
= m/s
2

= 2,09 m/s
2

Untuk h = 28,8 cm
a. Kelereng
a =
=
=
= 4,716 m/s
2












b. Pipa (silinder berongga)

a =

=

=
= 3 m/s
2

3. Sudut
o

Untuk h = 19 cm
a. Kelereng
Sin =
=

=
Sin = 0,44
= sin 0,44
= 7,67 x 10
-3




b. Pipa (silinder berongga)
Sin

=
=
=
Sin = 0,3135
= sin 0,3135
= 5,47 x 10
-3

Untuk h = 28,8 cm
a. Kelereng
Sin =
=
=
Sin = 0,66024
= sin 0,66024
= 0,011




b. Pipa (silinder berongga)
Sin
2
=
=
=
Sin = 0,45
= sin 0,45
= 7,85 x 10
-3















BAB V
PEMBAHASAN

Kata momen berarti bahwa I tergantung pada bagaimana massa benda didistribusikan
didalam ruang; ini tidak ada hubungannya dengan momen dari waktu. Untuk sebuah benda
yang sumbu rotasinya dan massa totalnya kita ketahui, semakin besar jarak sumbu terhadap
partikel yang menyusun benda, semakin besar momen inersianya. Pada benda tegar, jarak r
i

semua konstan dn I tidak tergantung pada bagaimana benda berotasi mengelilingi sumbu. Satuan
SI unutk momen inersiaadalah kilogram-meter
2
(kg.m
2
). (Freedman;274)
Dalam percobaan momen inersia kita harus menyiapkan beberapa alat dan bahan agar
pelaksaan praktikum berjalan lancar. Alat dan bahannya antara lain : dua benda (pipa dan bola),
jangka sorong, mikrometer sekrup, mistar geser, neraca analitik, papan, dan stopwatch.
Selain alat dan bahan yang diperhatikan, cara kerjapun menjadi yang utama dalam
percoban ini, adapun cara kerjanya adalah pertama-tama alat dan bahan yang akan digunakan
disiapkan, ketinggian penyangga ditentukan dan diukur, letakkan penyangga pada ketinggian
yang diukur tadi (2 ketinggian) yaitu 19 cm dan 28,8 cm. Kelereng dan pipa (silinder berongga)
diluncurkan dari atas bidang miring dan hitung waktunya menggunakan stopwatch, lalu catat.
Untuk masing masing sampel dilakukan peluncuran sebanyak 3kali.
Percobaan dilakukan sebanyak 3kali untuk mendapatkan data yang teliti dan untuk
menghindari faktor human error yang biasa terjadi ketika melakukan praktikum (percobaan).
Adapun hasil dari percobaan ini antara lain pada ketinggian 19cm waktu yang dibutuhkan
oleh kelereng untuk meluncur adalah 0,52 detik dan pipa 0,76 detik sedangkan ada ketinggian
28,8 cm kelereng meluncur selama 0,44 detik dan pipa selama 0,65 detik. Lalu ditempat lain
diameter klereng dan pipa diukur. Kelereng diameter rata ratanya adalah 16,37 mm dan
diameter dalam pipa adalah 2,24 mm, sedangkan diameter luar pipa adalah 2 mm. kemudian
pengukuran massa kelereng dan pipa (silinder berongga) dengan menggunakan neraca analitik
hasilnya adaah pipa massanya 14,533g dan kelereng massanya 5,412g.
Hubungan farmasi dengan percobaan ini adalah ketika pembuatan tablet obat momen
inersia sangat dibutuhkan sekali karena dengan mengetahui momen inersianya maka bisa
diperkirakan baik dan tidaknya bentuk bentuk tablet obat yang akan dihasilkan oleh mesin
pencetak obat atau biasa disebut dengan metode granulasi yaitu pembuatan partikel partikel
gabungan senyawa satu dengan yang lainnya.
Faktor yang menyebabkan adanya kesalahan dalam melakukan percobaan antara lain :
1. Kurang telitinya pengamat / praktikan dalam menentukan ukuran / tinggi dari bidang miring
2. Kurang terampilnya praktikan dalam melakukan percobaan
3. Kurangnya alat alat yang tersedia dalam lab
4. Kereleng atau pipa yang tidak bulat sempurna.
Grafik antara I dengan r

I
9,01x10
-7

1,45 x 10
-7

0,08185 0,0112 r(m)
Grafik antara a dengan r
Untuk h = 19 cm
a(m/s
2
)

3,16

2,09
0,08185 0,0112 r (m)


Untuk h = 28,8 cm
a(m/s
2
)
4,716

3

0,08185 0,0112 r(m)











BAB VI
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari percobaan yang dilakukan diperoleh data :
1) Momen inersia
Kelereng
145 x 10
-7
kgm
2

Pipa
9,01 x 10
-7
kgm
2

2) Percepatan sudut untuk h = 19 cm
Kelereng
3,16 m/s
2

Pipa
6,618 m/s
2

3) Percepatan sudut untuk h = 28,8 cm
Kelereng
4,76 m/s
2

Pipa
3 m/s
2





4) Sudut untuk h = 19 cm
Kelereng
7,67 x 10
-3

Pipa
5,47 x 10
-3

5) Sudut untuk h = 28,8 cm
Kelereng
0,011
Pipa
7,85 x 10
-3

B. Saran
Untuk laboratorium
Tolong alat alat labnya di ditambah jumlahnya (seperti jangka sorong dan mikrometer
sekrup) supaya ketika melakukan praktikum atau percobaan tidak ada acara pinjam meminjam
kekelompok lain karena itu aka menyebabkan terjadinya kesalahan dalam melakukan percobaan
dan waktu yang dibutuhkanpun tidak efisien
Untuk asisten
Kinerjanya sebagai asisten sudah cukup bagus, interaksinya juga dengan praktikan baik,
pembawaan yang humoris membuat praktikan tidak merasa bosan sehingga dalam melakukan
percobaan/praktikum praktikan tetap merasa enjoy dan paham. Semoga bisa dipertahankan dan
ditingkatkan lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Darmadi. Djarot B, diktat statistika struktur I.Malang : pdf, Agustus 2003.
Http://elearning.gunadarma,ac.id/docmodul/dinamikateknik/bab14_menentukanmomeninersia.massa.
pdf,tanggal akses : 10-12-2011.
Http://web.ipb.ac.id/~IBP/kulon/diktat/8.pdf,10-12-2011.
Meriam.J.L. dan L.G. Kraige.Mekanika Teknik Edisi Kedua Statika Jilid I Versi SI.Jakarta : 2007.
Surya.Yohanes,www.yohanessurya.com/download/pemlu/Asyikfisika08.pdf,tanggal akses : 10-12-
2011.
Young & Freedman.Fisika Universitas.Jakarta : Erlangga,2000.



SKEMA KERJA

































LAMPIRAN
1. Papan






Digunakan sebagai bidang miring
2. Neraca analitik
1 2
3
4





5 6
Keterangan :






1. Tempat objek yang akan di timbang 5. Kaki
2. Kaca penutup 6. Tarer
3. Tombol on/off
4. Skala
Fungsi dari neraca analitik adalah unutk menimbang benda atau zat dengan ketelitian yang tinggi
3. Micrometer sekrup













Micrometer sekrup merupaka alat ukur panjang yang memiliki ketelitian 0,01 mm. Mikrometer
sekrup terdiri dari 3 jenis :
a. Mikrometer luar digunakan unutk mengukur dimeter kawat, tebal plat dan tebal batang
b. Mikrometer dalam digunakan unutk mengukur diameter dari suatu lubang
c. Mikrometer kedalaman digunakan unutk mengukur kedalaman dari suatu lubang

4. Jangka sorong






Jangka sorong adalah lata ukur yang ketelitiannya dapat mencapai seperseratus
millimeter.Terdiri dari 2 bagian yaitu bagian diam dan bagian bergerak. Fungsi dari jangka
sorong antara lain :
a. Untuk mengukur suatu benda dari sisi luar dengan cara di apit.
b. Untuk mengukur sisi dalam suatu bend yang biasanya berupa lubang (contohnya pipa) dengan
cara diulurkan
c. Untuk mengukur kedalaman celah/lubang pada suatu benda dengan cara menancapkan bagian
pengukur
5. Kelereng






Sebagai sampel

6. Pipa (silinder berongga)













Sebagai sampel
7. Mistar




Digunakan unutk mengukur ketinggian bidang miring
8. Stopwatch








Digunakan untuk mengukur waktu yang diperlukan kelereng dan pipa (silinder berongga) untuk
melucur pada bidang miring

























A. MOMEN INERSIA SILINDER PEJAL
1. Tujuan Percobaan:
Menentukan besarnya momen inersia benda-benda homogeny yang mempunyai bangun geometris yang
teratur yakni silinder pejal dan bola pejal melalui percobaan.
2. Alat dan Bahan:
a. Silinder pejal 2 buah (massa dan jari-
jarinya berbeda)
b. Jangka sorong
c. Rol meter/mistar 1 meter
d. Stopwatch
e. Papan yang dapat di atur
kemiringan dan posisinya
3. Landasan Teori:
Untuk menentukan momen inersia benda yang menggelinding tersebut dapat menggunakan hokum
kekekalan energi. Ketika menggelinding menuruni bidang miring, silinder kehilangan tenaga potensial
sebesar mgh. Dengan h adalah ketinggian bidang miring tersebut . Tenaga kinetic yang diperolehnya
adalah sebesar,

Dengan v adalah laju linear dari pusat massa dan w adalah laju sudut mengelilingi pusat massa pada
dasar bidang miring. Sehingga diperoleh hubungan (hokum kekekalan energy),

Karena pusat massa silinder bergerak dengan percepatan linear tetap dan benda (pusat massa) mulai dari
keadaan diam maka terdapat hubungan:

Jika persamaan disubtitusi kedalam persamaan hokum kekekalan energy didapat rumus momen inersia
dalam persamaan h, s, dan t yakni:

4. Langkah Kerja:

1. Siapkan alat-alat tersebut diatas, kemudian susunlah alat seperti pada gambar.
2. Lakukan percobaan, dengan mengikuti langkah berikut:
2.1. Lepaskan silinder pejal dari posisi tertentu (h=menyatakan tinggi benda diukur dari dasar) maka silinder
akan menggelinding sepanjang bidang miring (=s).
2.2. Tepat pada saat silinder pejal dilepas, stopwatch dihidupkan dan ketika silinder sampai diujung dasar
bidang miring stopwatch dimatikan. Maka akan diperoleh waktu yang diperlukan bola untuk menuruni
sepanjang bidang miring . Lakukan pencatatan waktu masing-masing 5 kali untuk mendapatkan waktu
rata-rata. Catat data percobaan ini pada table pengamatan dan hitung besar momen inersianya.

5. Hasil Pengamatan:
SILINDER
PEJAL
S (m) h(m) t(detik) r(m) Momen inersia (kgm)

1.Silinder
Besar
1 0,13 1.63 1,62x10
-2
1,72 x10
-5
0,72
1,5 0,186 1.87 1,62x10
-2
1,06 x10
-5
0,44
2.Silinder
kecil
1 0,13 1.83 0,75x10
-2
1,18 x10
-6
1,18
1,5 0,186 2,09 0,75x10
-2
8,01 x10
-7
0,80

6. Pertanyaan dan Jawaban:
Mengingat rumus apakah yang kamu dapat simpulkan tentang harga
untuk silinder pejal dan bola pejal ?
Jawab:
- Harga I untuk silinder pejal besar sedikit berbeda
- Harga momen inersia selalu sama. Tidak berubah berapapun panjang lintasannya

7. Kesimpulan:
Momen inersia silinder pejal besarnya dipengaruhi oleh panjang jari-jari, dan percepatan beban jatuh.
Besar momen akan sebanding dengan besar jari-jari ( R ) dan berbanding terbalik terhadap besar
percepatan.



B. MOMEN INERSIA BOLA PEJAL
1. Tujuan Percobaan:
Menentukan besarnya momen inersia benda-benda homogeny yang mempunyai bangun geometris yang
teratur yakni bola pejal melalui percobaan.
2. Alat dan Bahan:
a. Bola pejal 2 buah (massa dan jari-
jarinya berbeda)
b. Jangka sorong
c. Rol meter/mistar 1 meter
d. Stopwatch
e. Papan yang dapat di atur
kemiringan dan posisinya
3. Landasan Teori:
Untuk menentukan momen inersia benda yang menggelinding tersebut dapat menggunakan hokum
kekekalan energi. Ketika menggelinding menuruni bidang miring, silinder kehilangan tenaga potensial
sebesar mgh. Dengan h adalah ketinggian bidang miring tersebut . Tenaga kinetic yang diperolehnya
adalah sebesar,

Dengan v adalah laju linear dari pusat massa dan w adalah laju sudut mengelilingi pusat massa pada
dasar bidang miring. Sehingga diperoleh hubungan (hokum kekekalan energy),

Karena pusat massa silinder bergerak dengan percepatan linear tetap dan benda (pusat massa) mulai dari
keadaan diam maka terdapat hubungan:

Jika persamaan disubtitusi kedalam persamaan hokum kekekalan energy didapat rumus momen inersia
dalam persamaan h, s, dan t yakni:

4. Langkah Kerja:

1. Siapkan alat-alat tersebut diatas, kemudian susunlah alat seperti pada gambar.
2. Lakukan percobaan, dengan mengikuti langkah berikut:
2.1. Lepaskan bola pejal dari posisi tertentu (h=menyatakan tinggi benda diukur dari dasar) maka bola akan
menggelinding sepanjang bidang miring (=s).
2.2. Tepat pada saat bola pejal dilepas, stopwatch dihidupkan dan ketika bola sampai diujung dasar bidang
miring stopwatch dimatikan. Maka akan diperoleh waktu yang diperlukan bola untuk menuruni sepanjang
bidang miring . Lakukan pencatatan waktu masing-masing 5 kali untuk mendapatkan waktu rata-rata. Catat
data percobaan ini pada table pengamatan dan hitung besar momen inersianya.

5. Hasil Pengamatan:
BOLA
PEJAL
S (m) h(m) t(detik) r(m) Momen inersia (kgm)

1.Bola
besar
1 0,13 1.62 1,22x10
-2
2,09 x10
-6
0,70
1,5 0,186 1.80 1,22x10
-2
1,01 x10
-6
0,34
2.Bola kecil 1 0,13 1.43 0,8x10
-2
1,31 x10
-7
0,33
1,5 0,186 1,69 0,8x10
-2
2,30 x10
-7
0,58

6. Pertanyaan dan Jawaban:
Dari pencatatan waktu menggelinding untuk bola 1 dan 2 apakah yang kamu dapatkan simpulan
mengingat rumus
Menurut hasil percobaan, yang mempengaruhi pada rumus diatas adalah h (m) S (m).