Anda di halaman 1dari 11

Skenario E Blok 27 Tahun 2014

A woman attends a routine antenatal appointment at 31 weeks gestation. She is 38 years old and this is
her sixth pregnancy. She has uncontrolled hypertension since six years ago. She has five children, all
spontaneous vaginal deliveries at term. Her youngest child is 18 months old and the delivery was
complicated by a superimposed preeclampsia on chronic hypertension. She is reffered by midwife to
doctor (public health centre) because of this bad obstetrical history and breech presentation. The mother
complains of tension headache, blurry vision, malaise and dizzy. Due to her economic condition, she
admits that during her pregnancy she only eats some food thats she can afford to buy. She feels generally
tired and attributes this to caring for her five young children. She reports good fetal movements (more
than 10 per day).
In the examination findings:
Height = 150 cm; Weight 80 kg; Blood pressure = 176/113 mmHg; Pulse = 92 x/m; RR = 22 x/m.
Palpebral conjunctival was normal
Outer examination: hard parts are palpable in the right side of mothers abdomen.
Haemoglobin 10.8 g/dL
Mean cell volume 78 fL
Mean corpuscular hemoglobin concentration 32 g/dL
White cell count 11.200/L
Platelets 137.000/L
LDH 800/L
SGOT/PT 88/94 g/dL
Urinalysis proteinuria 4+
Blood group: A negative
No atypical antibodies detected.

You act as the doctor in public health centre and be pleased to analyse this case.





1. Apa saja pemeriksaan rutin antenatal care?

1. Anamnesis
Pada wanita dengan haid terlambat dan diduga hamil. Ditanyakan hari pertama haid terakhir
(HPHT). Taksiran partus dapat ditentukan bila HPHT diketahui dan siklus haidnya teratur + 28 hari
dengan menggunakan rumus Naegele.
Bila ibu lupa HPHT, tanyakan tentang hal lain seperti gerakan janin. Untuk primigravida gerakan
janin terasa pada kehamilan 18 minggu, sedangkan multigravida 16 minggu. Nausea biasanya hilang pada
kehamilannya 12-14 mingggu.
Tanyakan riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas sebelumnya serta berat bayi yang pernah
dilahirkan. Demikian pula riwayat penyakit yang pernah diderita seperti penyakit jantung, paru, ginjal,
diabetes melitus. Selain itu ditanyakan riwayat menstruasi, kesehatan, keluarga, sosial, obstetri,
kontrasepsi, dan faktor risiko yang mungkin ada pada ibu.

2. Pemeriksaan Umum
Pada ibu hamil yang datang pertama kali lakukan penilaian keadaan umum, status gizi dan tanda
vital. Pada mata dinilai ada tidaknya konjungtiva pucat, sklera ikterik, edema kelopak mata, dan kloasma
gravidarum. Periksa gigi untuk melihat adanya infeksi lokal. Periksa pula jantung, paru, mammae,
abdomen, anggota gerak secara lengkap.

3. Pemeriksaan Obstetri
Terdiri dari pemeriksaan luar dan pemeriksaan dalam. Sebelum pemeriksaan kosongkan kandung
kemih. Kemudian ibu diminta berbaring terlentang dan pemeriksaan dilakukan di sisi kanan ibu.

4. Pemeriksaan Luar
Lihat apakah uterus berkontraksi atau tidak. Bila berkontraksi, harus ditunggu sampai dinding
perut lemas agar dapat diperiksa dengan teliti. Agar tidak terjadi kontraksi dinding perut akibat perbedaan
suhu dengan tangan pemeriksa, sebelum palpasi kedua tangan pemeriksa digosokkan dahulu.
Cara pemeriksaan yang umum digunakan cara Leopold yang dibagi dalam 4 tahap. Pada
pemeriksaan Leopold I, II, dan III pemeriksa menghadap ke arah muka ibu, sedangkan pada Leopold IV
ke arah kaki. Pemeriksaan Leopold I untuk menentukan tinggi fundus uteri, sehingga usia kehamilan
dapat diketahui. Selain secara anatomi, tinggi fundus uteri dapat ditentukan dengan pita pengukur.
Bandingkan usia kehamilan yang didapat dengan hari pertama haid terakhir. Selain itu, tentukan pula
bagian janin pada fundus uteri: Kepala teraba sebagai benda keras dan bulat, sedangkan bokong lunak dan
tidak bulat.
Dengan pemeriksaan Leopold II ditentukan batas samping uterus dan posisi punggung pada bayi
letak memanjang. Pada letak lintang ditentukan kepala. Pemeriksaan Leopold III menentukan bagian
janin yang berada di bawah.
Leopold IV selain menentukan bagian janin yang berada di bawah, juga bagian kepala yang telah
masuk pintu atas panggul (PAP). Bila kepala belum masuk PAP teraba balotemen kepala.
Dengarkan DJJ pada daerah punggung janin dengan stetoskop monoaural atau doppler. Dengan
stetoskop monoaural BJJ terdengar pada kehamilan 18-20 minggu, sedangkan dengan Doppler terdengar
pada kehamilan 12 minggu.
Dari pemeriksaan luar diperoleh data berupa usia kehamilan, letak janin, persentase janin, kondisi
janin, serta taksiran berat janin.
Taksiran berat janin ditentukan berdasarkan rumus Johnson Toshack. Perhitungan penting
sebagai pertimbangan memutuskan rencana persalinan pervaginam secara spontan. Rumus tersebut:
Taksiran Berat Janin (TBJ) = (Tinggi fundus uteri (dalam cm) N) X 155.
1. N = 13 bila kepala belum melewati PAP
2. N = 12 bila kepala masih berada di atas spina iskiadika
3. N = 11 bila kepala masih berada di bawah spina iskiadika.

5. Pemeriksaan Dalam
Siapkan ibu dalam posisi-litotomi lalu bersihkan daerah vulva dan perineum dengan larutan
antiseptik. Inspeksi vulva dan vagina apakah terdapat luka, varises, radang, atau tumor. Selanjutnya
lakukan pemeriksaan inspekulo. Lihat ukuran dan warna porsio, dinding, dan sekret vagina. Lakukan
pemeriksaan colok vagina dengan memasukan telunjuk dan jari tengah. Raba adanya tumor atau
pembesaran kelenjar di liang vagina. Periksa adanya massa di adneksa dan parametrium. Perhatikan letak,
bentuk, dan ukuran uterus serta periksa konsistensi, arah, panjang, porsio, dan pembukaan servik.
Pemeriksaan dalam ini harus dilakukan dengan cara palpasi bimanual.
Ukuran uterus wanita yang tidak hamil kira-kira sebesar telur ayam. Pada kehamilan 8 minggu
sebesar telur bebek, 12 minggu sebesar telur angsa, dan 16 minggu sebesar kepala bayi atau tinju orang
dewasa.


6. Pemeriksaan Panggul
Lakukan penilaian akomodasi panggul bila usia kehamilan 36 minggu karena jaringan dalam
rongga panggul lebih lunak, sehingga tidak menimbulkan rasa sakit. Masukkan telunjuk dan jari tengah
ke dalam liang vagina. Arahkan ujung kedua jari ke promontorium, coba untuk merabanya. Bila teraba,
tentukan panjang konjugata diagonalis. Dengan ujung jari menelusuri linea inominata kiri dan kanan
sejauh mungkin, tentukan bagian yang teraba. Raba lengkung sakrum dan tentukan apakah spina iskiadika
kiri dan kanan menonjol ke dalam. Raba dinding pelvik, apakah luruh atau konvergen ke bawah dan
tentukan panjang distansia interspinarum. Arahkan bagian palmar jari-jari tangan ke dalam simfisis dan
tentukan besar sudut yang dibentuk antara os pubis kiri dan kanan.

7. Pemeriksaan Laboratorium
Pada kunjungan pertama diperiksa kadar hemoglobin darah, hematokrit, dan hitung leukosit. Dari
urin diperiksa beta-hCG, protein, dan glukosa.

2. Apa hubungan riwayat melahirkan sebelumnya dengan keluhan sekarang?
Wanita yang menggunakan rahimnya terus-menerus akan menyebabkan jaringan penyangga
uterus longgar dan kontraksi uterus lemah. Dengan adanya kelemahan tersebut berpotensi
terjadinya pendarahan, syok pendarahan, anemia dan kemungkinan bayi malpresentasi &
malposisi lebih tinggi.

3. Bagaimana jarak kehamilan yang normal?
Penelitian memang menemukan bahwa pengembalian keadaan rahim seperti sebelum hamil
memerlukan waktu 6 bulan, sehingga seorang wanita yang melahirkan normal sebaiknya
memberi jarak minimal 6 bulan sebelum kehamilan berikutnya. Sedangkan pada wanita yang
pernah menjalani operasi sesar, sebaiknya menunggu minimal 18 bulan sebelum melahirkan lagi.
Idealnya, jarak kehamilan pertama dengan kehamilan berikutnya adalah 18 hingga 60 bulan.
Artikel kesehatan di : http://www.tanyadok.com/kesehatan/pentingnya-pengaturan-jarak-
kehamilan-dan-kelahiran

4. Bagaimana mekanisme blurry vision?
Dapat dijumpai adanya edema retina dan spasme pembuluh darah. Selain itu dapat terjadi ablasio
retina yang disebabkan oleh edema intra-okuler dan merupakan salah satu indikasi untuk
melakukan terminasi kehamilan. Gejala lain yang menunjukan tanda preeklampsia berat yang
mengarah pada eklampsia adalah adanya skotoma, diplopia, dan ambliopia. Hal ini disebabkan
oleh adanya perubahan preedaran darah dalam pusat penglihatan di korteks serebri atau
di dalam retina.
http://preeklamsia.blogspot.com/2013/07/makalah-preeklamsia.html

5. Bagaimana hubungan gejala tension headache, blurry vision, malaise dan dizzy dengan
kasus?
Preeklampsia merupakan sindroma penurunan perfusi darah organ akibat dari vasospasme dan
aktivasi endotelial yang spesifik ditemukan pada masa kehamilan. Gambaran patologis pada
fungsi beberapa organ dan sistem, yang kemungkinan disebabkan oleh vasospasme dan iskemia,
telah ditemukan pada kasus-kasus preeklampsia dan eklampsia berat. Vasospasme bisa
merupakan akibat dari kegagalan invasi trofoblas ke dalam lapisan otot polos pembuluh darah,
reaksi imunologi, maupun radikal bebas. Semua ini akan menyebabkan terjadinya kerusakan/jejas
endotel yang kemudian akan mengakibatkan gangguan keseimbangan antara kadar
vasokonstriktor (endotelin, tromboksan, angiotensin, dan lain-lain) dengan vasodilatator
(nitritoksida, prostasiklin, dan lain-lain). Selain itu, jejas endotel juga menyebabkan gangguan
pada sistem pembekuan darah akibat kebocoran endotelial berupa konstituen darah termasuk
platelet dan fibrinogen.
Vasokontriksi yang meluas akan menyebabkan terjadinya gangguan pada fungsi normal berbagai
macam organ dan sistem. Gangguan ini dibedakan atas efek terhadap ibu dan janin, namun pada
dasarnya keduanya berlangsung secara simultan. Gangguan ibu secara garis besar didasarkan
pada analisis terhadap perubahan pada sistem kardiovaskular, hematologi, endokrin dan
metabolisme, serta aliran darah regional. Sedangkan gangguan pada janin terjadi karena
penurunan perfusi uteroplasenta.

6. Bagaimana interpretasi dan mekanisme abnormal dari pemeriksaan fisik?
Pemeriksaan Nilai Normal Interpretasi
TB: 150 cm

BB: 80 kg
TB ideal ibu hamil: > 145
cm
BB ideal ibu saat mulai
kehamilan: > 50 kg
Normal


TD: 176/113 mmHg N 120/80 mmHg Hipertensi
HR: 92x/min 60-100 x/min Normal
RR: 22x/min 16-24 x/min Normal
Konjunctiva palpebra
normal
Normal
Pemeriksaan luar
Bagian keras teraba pada
sisi kanan abdomen ibu
Adanya teraba fundus
dengan bagian keras dan
bulat (kepala)

7. Apa hubungan kehamilan 31 minggu dengan presentasi bokong?

Etiologi breech presentation antara lain adalah:
Semua kemungkinan penyebab yang menhambat penurunan kepala ke bagian
panggul, antara lain panggul yang sempit, placenta previa, tumor pada sekitar ORI,
dan myoma uteri.
Polyhidramnion dan oligohydramnion.
Keadaan-keadaan yang menyebabkan aksis vertikal uterus sebanding dengan aksis
horizontalnya, seperti uterus bikornu.

Faktor risiko breech presentation antara lain adalah:
Multiparitas atau multigravida
Abnormalitas anatomis janin
Kehamilan kembar
Riwayat breech presentation pada kehamilan sebelumnya
Letak janin dalam uterus bergantung pada proses adaptasi janin terhadap ruangan didalam
uterus. Pada kehamilan sampai kurang lebih 32 minggu, jumlah air ketuban relative lebih banyak,
sehingga memungkinkan janin bergerak dengan leluasa. Dengan demikian janin dapat
menempatkan diri dalam presentasi kepala, letak sungsang, ataupun letak lintang. Pada kehamilan
triwulan terakhir janin tumbuh dengan cepat dan jumlah air ketuban relative berkurang. Karena bokong
dengan kedua tungkai yang terlipat lebih besar daripada kepala, maka bokong dipaksa menempati ruang
yang lebih luas di fundus uteri, sedangkan kepala berada dalam ruangan yang lebih kecil di segmen
bawah uterus. Dengan demikian dapat dimengerti
mengapa pada kehamilan belum cukup bulan, frekuensi letak sungsang lebih tinggi, sedangkan pada
kehamilan cukup bulan, janin sebagian besar ditemukan dalam presentasi kepala. Faktor-faktor lain yang
memegang peranan dalam terjadinya letak sungsang diantaranya adalah multiparitas, hamil kembar,
hidramnion, hidrosefalus, plasenta previa, dan panggul sempit.
Kadang-kadang letak sungsang disebabkan karena kelainan uterus dan kelainan bentuk uterus. Plasenta
yang terletak di daerah kornu fundus uteri dapat pula menyebabkan letak sungsang karena plasenta
mengurangi luas ruangan di daerah fundus (Prawirohardjo, 2008, p.611).

8. WD
Wanita 38th dengan G6P5A0 menderita preeklamsia dengan hipertensi kronik disertai kehamilan
presentasi bokong, parsial hellp sindrom, dan kurang gizi.

9. Komplikasi
Sintesis Learning Issue Preeclampsia

Learning Issue
Preeclampsia
1. Defenisi
Pre eklamsia adalah keadaan dimana tekanan darah meninggi disertai dengan adanya protein dalam
urine (proteinuria) dan adanya sembab (edema) pada kehamilan setelah 20 minggu atau segera setelah
persalinan. Pre eklamsia dapat dibagi menjadi pre eklamsia ringan dan berat. Umumnya terjadi pada
triwulan ketiga kehamilan, tetapi dapat terjadi sebelumnya, misalnya pada mola hidatidosa.
Disebut pre eklamsia ringan apabila terjadi peningkatan tekanan darah sistolik > 140 160 mmHg dan
diastolik > 90 110 mmHg, sedangkan preeklamsia berat apabila tekanan darah sistolik > 160 mmHg dan
diastolik > 110 mmHg pada kehamilan 20 minggu atau lebih.2 (Catatatan: Misalnya tekananan darah kita
120/80 maka sistoliknya 120, diastoliknya 80) (Infomedika, Maret 2003).

2. Etiologi
Penyebab terjadinya pre eklamsia sampai sekarang masih belum diketahui secara pasti. Teori dewasa
ini yang banyak dikemukakan sebagai sebab preeklamsia adalah iskemia plasenta, tetapi teori ini tidak
dapat menerangkan hal yang bertalian dengan penyakit itu. Ada beberapa teori mencoba menjelaskan
perkiraan penyebab kelainan ini, sehingga kelainan ini sering dikenal sebagai The Diseases Of Theory.
Adapun teori tersebut antara lain:
a. Peran Prostasiklin Dan Tromboksan
Pada Pre-eklampsia didapatkan adanya kerusakan endotel vaskular sehingga terjadi penurunan produksi
prostasiklin (PGI2) yang pada kehamilan normal meningkat, aktifitas penggumpalan dan fibrinolisis yang
kemudian akan diganti dengan trombin dan plasmin. Trombin akan mengkosumsi antitrombin III,
sehingga terjadi deposit fibrin. Aktivitas trombosit menyebabkan pelepasan tromboksan (TA2) dan
Serotonin, sehingga terjadi vasospasme dan kerusakan endotel.3
b. Peran Faktor Imunologis (kekebalan tubuh)
Pre-eklampsia sering terjadi pada kehamilan pertama dan kadang tidak timbul lagi pada kehamilan
berikutnya. Fierlie FM (1982) mendapatkan beberapa data yang mendukung adanya sistem imun pada
serum.
1. Beberapa wanita dengan pre-eklampsia mempunyai kompleks imun pada serum.
2. Beberapa studi juga mendapatkan adanya aktivasi sistem komplemen pada pre-eklampsia diikuti dengan
proiteinuri.
Stirat (1986) menyimpulkan meskipun ada beberapa pendapat menyebutkan bahwa sistim imun humoral
dan aktivasi komplemen terjadi pada pre-eklampsia, tetapi tidak ada bukti bahwa sistim imunologis bisa
meyebabkan pre-eklampsia.
c. Peran Faktor Genetik/ Familial (keturunan)
Beberapa bukti yang menunjukan peran faktor genetik pada kejadian preeklamsia antara lain:
Preeklamsia hanya terjadi pada manusia
Keturunan Ibu penderita preeklamsia mempunyai resiko yang lebih tinggi untuk menderita
preeklamsia.

3. Patofisiologi
Perubahan aliran darah pada uterus dan plasenta adalah patofiologi yang terpenting pada pre-
eklampsia dan merupakan penentu hasil akhir kehamilan.
Perubahan pada plasenta dan uterus. Terjadi iskemik uteroplasenter mengakibatkan ketidak seimbangan
antara massa plasenta yang meningkat dengan aliran perfusi darah sirkulasi yang berkurang. Hipoperfusi
uterus menjadi rangsangan produksi renin di uteroplasenta, yang mengakibatkan vasokontriksi yang lain,
sehingga dapat terjadi tonus pembuluh darah yang lebih tinggi. Oleh karena adanya gangguan sirkulasi
uteroplasenta ini, terjadi penurunan suplai darah yang mengandung suplai oksigen dan nutrisi ke janin.
Akibatnya bervariasi dari gangguan pertumbuhan janin sampai hipoksia dan kematian janin dalam
kandungan kerena kurang oksigenasi. Dapat juga terjadi kenaikan tonus uterus menyebabkan mudah
terjadi partus prematurus.
Perubahan pada ginjal. Aliran darah ke ginjal menurun menyebabkan filtrasi glomerulus berkurang. Hal
ini menyebabkan diuresis turun, terjadi proteinuria, oliguria bahkan anuria. Penurunan filtrasi glomerulus
akibat spasmus arteriolus ginjal menyebabkan filtrasi natrium terganggu sedangkan penyerapan oleh
tubulus tetap, sehingga terjadi retensi garam dan air.
Perubahan pada retina. Spasmus arteri retina menyebabkan perubahan aliran darah dalam pusat
penglihatan di korteks serebri atau dalam retina sehingga terjadi skotoma, diplopia, dan ambliopia. Jarang
terjadi ablasio retina yang disertai buat sekonyong-konyong. Pelepasan retina disebabkan oleh edema
intraokuler dan 2 hari sampai 2 bulan setelah persalinan retina melekat lagi.
Perubahan pada paru-paru. Dekompensasi kordis kiri menyebabkan edema paru.
Perubahan pada otak. Aliran darah ke otak dan pemakaian oksigen pada pre-eklampsia tetap dalam batas
normal, dan menurun pada eklampsia.
Metabolisme air dan elektrolit. Terjadi pergeseran cairan dari ruang intravaskuler ke ruang intersisial
diikuti kenaikan hematokrit, peningkatan protein serum, dan bertambahnya edema. Ini menyebabkan
volume darah berkurang, viskositet darah meningkat, waktu peredaran darah tepi lebih lama.
Menyebabkan aliran darah ke bagian tubuh berkurang dan terjadi hipoksia.

4. Manifestasi Klinis
Diagnosis pre-eklamsia ditegakkan berdasarkan adanya dua dari tiga gejala, yaitu penambahan
berat badan yang berlebihan, edema, hipertensi, dan proteinuria (terdapatnya protein dalam urine).
Penambahan berat badan yang berlebihan bila terjadi kenaikan 1 kg seminggu beberapa kali. Edema
terlihat sebagai peningkatan berat badan, pembengkakkan kaki, jari tangan, dan muka. Edema pretibial
ringan yang sering pada kehamilan biasa, belum menunjukkan preeklamsia. Tekanan darah > 140/90
mmHg atau tekanan sistolik meningkat > 30 mmHg atau tekanan diastolik > 15 mmHg yang diukur
setelah pasien beristirahat selama 30 menit. Tekanan diastolik pada trimester kedua yang lebih dari 85
mmHg patut dicurigai sebagai bakat preeklampsia. Proteinuria bila terdapat protein sebanyak 0,3 g/l
dalam air kencing 24 jam atau pemeriksaan kualitatif menunujukan + 1 atau + 2; atau kadar protein > 1
g/1 dalam urine yang dikeluarkan dengan kateter atau urin porsi tengah, diambil minimal 2 kali dengan
jarak waktu 6 jam. Disebut pre-eklampsia berat bila ditemukan gejala berikut:
Tekanan darah sistolik > 160 mmHg atau diastolik > 110 mmHg.
Proteinuria + > 5 g/24 jam atau > 3 pada tes celup
Oliguria (< 400 ml dalam 24 jam).
Sakit kepala hebat, gangguan penglihatan atau perdarahan retina
Nyeri epigastrium dan ikterus
Edema paru atau sianosis.
Trombositopenia
Edema pulmonal
Pertumbuhan janin terhambat
Kaku duduk (+) 1.
Koma
Mual muntah

5. Pemeriksaan Fisik
Pertambahan berat badan yang berlebihan, yaitu 1 kg atau lebih tiap minggu beberapa kali.
Terjadi edema, bukan edema pretibial ringan
Hipertensi, peningkatan tekanan sistolik >30 mmHg dan diastolik >15 mmHg
Sakit kepala di daerah frontal
Skotoma, diplopia, penglihatan kabur
Nyeri di epigastrium
Ikterus
Mual, muntah-muntah
Oliguria (urin <400 ml dalam 24 jam)
SianosisAA
Kaku kuduk (+1)
6. Pemeriksaan Penunjang
Uji laboratorium dasar :
Evaluasi hematologik (hematokrit, jumlah trombosit : trombositopeni (<100.000/mm
3
), morfologi
eritrosit pada sediaan hapusan darah tepi)
Pemeriksaan fungsi hati (bilirubin, protein serum, aspartat aminotransferase)
Pemeriksaan urin : proteinuria + > 5 g/24 jam atau > 3 pada tes celup
Pemeriksaan fungsi ginjal (ureum dan kreatinin)
Uji untuk meramalkan hipertensi :
Roll-over test
Pemberian infuse angiotensin II
7. Terapi
Pengobatan pre-eklampsia yang tepat ialah pengakhiran kehamilan karena tindakan tersebut
menghilangkan sebabnya dan mencegah terjadinya eklampsia dengan bayi yang masih premature.
Penundaan pengakhiran kehamilan dapat menyebabkan eklampsia atau kematian janin. Indikasi
pengakhiran kehamilan ialah (10 pre-eklampsia ringan dengan kehamilan lebih dari cukup bulan, (2) pre-
eklampsia dengan hipertensi dan/atau proteinuria menetap selama 10-14 hari, dan janin cukup matur, (3)
pre-eklampsia berat, (4) eklampsia.
Penanganan pre-eklampsia ringan
Istirahat di tempat tidur, berbaring pada sisi tubuh menyebabkan aliran darah ke plasenta meningkat,
aliran darah ke ginjal lebih banyak, tekanan vena ekstremitas bawah turundan reabsorbsi cairan dari
daerah tersebut bertambah sehingga edema berkurang.
Pemberian fenobarbital 3x30 mg, untuk menenangkan dan menurunkan tekanan darah.

Penanganan pre-eklampsia berat
Pemberian sedative kuat untuk mencegah kejang, seperti :
Larutan sulfas magnesikus 40% sebanyak 10 ml (4 gram) disuntikkan intramuskulus bokong kiri atau
kanan sebagai permulaan, diulang 4 gram tiap 6 jam menurut keadaan.
Klorpromazin 50 mg intramuskulus
Diazepam 20 mg intramuskulus
Penggunaan obat hipotensif untuk menurunkan tekanan darah
Apabila terjadi oliguria, berikan glukosa 20% intravena
Jika tidak ada perbaikan, lakukan pengakhiran kehamilan.
8. Komplikasi
Komplikasi pre-eklamsia berat Komplikasi yang terberat adalah kematian ibu dan janin. Komplikasi
lainnya adalah : solusio plasenta. biasanya terjadi pada ibu yang menderita hipertensi akut.
Hipofibrinogenemia. maka dianjurkan pemeriksaan kadar fibrinogen secara berkala. Hemolisis.
penderita PEB kadang-kadang menunjukkan gejala klinik hemolisis yang dikenal dengan ikterus. Belum
diketahui dengan pasti apakah ini merupakan kerusakan sel-sel hati atau destruksi sel darah merah.
Nekrosis periportal hati yang sering ditemukan pada autopsi penderita eklampsia dapat menerangkan
ikterus tersebut. perdarahan otak. merupakan penyebab utama kematian maternal penderita eklampsia.
kelainan mata. kehilangan penglihatan untuk sementara, yang berlangsung sampai seminggu dapat terjadi.
Perdarahan kadang-kadang terjadi pada retina, hal ini merupakan tanda gawat akan terjadinya apopleksia
serebri. edema paru-paru. hal ini disebabkan karena payah jantung. nekrosis hati. nekrosis periportal
hati merupakan akibat vasospasmus arteriol umum. Kerusakan sel-sel hati dapat diketahui dengan
pemeriksaan faal hati, terutama penentuan enzim-enzimnya. sindroma HELLP. yaitu hemolisis, elevated
liver enzymes dan low platelet. kelainan ginjal. kelainan ini berupa endoteliosis glomerulus yaitu
pembengkakan sitoplasma sel endothelial tubulus ginjal tanpa kelainan struktur lainnya. Kelainan lain
yang dapat timbul ialah anuria sampai gagal ginjal. komplikasi lain. lidah tergigit, trauma dan fraktura
karena jatuh akibat kejang-kejang pneumonia aspirasi dan DIC (disseminated intravascular coagulation).
prematuritas, dismaturitas dan kematian janin intra-uterin.