Anda di halaman 1dari 35

LAPORAN PENDAHULUAN DAN

ASUHAN KEPERAWATAN
Tujuan pembuatan blog ini untuk mempermudah bagi mahasiswa siswa/siswi
dalam mendapatkan tugas2 yg dibutuhkannya. SATU UNTUK SEMUA (T_T)
KEPERAWATAN S1,Ners

PEMILIK
KAMIS, 24 JANUARI 2013
ASUHAN KEPERAWATAN EPILEPSI
I. PENDAHULUAN
Epilepsi atau penyakit ayan dikenal
sebagai satu penyakit tertua di dunia (2000
tahun SM). Penyakit ini cukup sering dijumpai
dan bersifat menahun. Penderita akan menderita
selama bertahun-tahun. Sekitar 0,5 1 % dari
penduduk adalah penderita epilepsy
(Lumbantobing, 1998).

II. DEFINISI
Epilepsi adalah suatu gejala atau
manifestasi lepasnya muatan listrik yang
berlebihan di sel neuron saraf pusat yang dapat
menimbulkan hilangnya kesadaran, gerakan
involunter, fenomena sensorik abnormal,
kenaikan aktivitas otonom dan berbagai
gangguan fisik.
Bangkitan epilepsy adalah manifestasi
gangguan otak dengan berbagai gejala klinis,
disebabkan oleh lepasnya muatan listrik dari
neuron-neuron otak secara berlebihan dan
berkala tetapi reversible dengan berbagai
etiologi (Tjahjadi, dkk, 1996). Pengkajian
kondisi/kesan umum
Epilepsy adalah kompleks gejala dari
beberapa kelainan fungsi otak yang ditandai
dengan terjadinya kejang secara berulang. Dapat
berkaitan dengan kehilangan kesadaran, gerakan
yang berlebihan, atau kehilangan tonus atau
gerakan otot, dan gangguan prilaku suasana hati,
sensasi dan persepsi (Brunner dan suddarth,
2000).
Kejang adalah terbebasnya sekelompok
neuron secara tiba-tiba yang mengakibatkan
suatu kerusakan kesadaran, gerak, sensasi atau
memori yang besifat sementara. Istilah epilepsy
biasanya merupakan suatu kelaianan yang
bersifat kronik yang timbul sebagai suatu bentuk
kejang berulang (Hudak dan Gallo, 1996).

III. ETIOLOGI
1. Idiopatik.
2. Acquerit : kerusakan otak, keracunan obat,
metabolik, bakteri.
- Trauma Lahir
- Trauma Kepala (5-50%)
- Tumor Otak
- Stroke
- Cerebral Edema (bekuan darah pada otak)
- Hypoxia
- Keracunan
- Gangguan Metabolik
- Infeksi. (Meningitis)

PATOFISIOLOGI
Mekanisme terjadinya serangan epilepsi ialah :
- Adanya focus yang bersifat hipersensitif
(focus epilesi) dan timbulnya keadaan
depolarisasi parsial di jaringan otak
- Meningkatnya permeabilitas membran.
- Meningkatnya senstitif terhadap
asetilkolin, L-glutamate dan GABA (gama-
amino-butiric-acid) bersifat inhibitif terhadap
penyaluran aktivitas listrik saraf dalam sinaps
Fokus epilepsy dapat menjalar ke tempat
lain dengan lepasnya muatan listrik sehingga
terjadi ekstasi, perubahan medan listrik dan
penurunan ambang rangasang yang kemudian
menimbulkan letupan listrik masal. Bila focus
tidak menjalar kesekitarnya atau hanya menjalar
sampai jarak tertentu atau tidak melibatkan
seluruh otak, maka akan terjadi bangkitan
epilepsy lokal (parsial).
Menurut para penyelidik bahwa sebagian
besar bangkitan epilepsi berasal dari
sekumpulan sel neuron yang abnormal di otak,
yang melepas muatan secara berlebihan dan
hypersinkron. Kelompok sel neuron yang
abnormal ini, yang disebut juga sebagai fokus
epileptik mendasari semua jenis epilepsi, baik
yang umum maupun yang lokal (parsial). Lepas
muatan listrik ini kemudian dapat menyebar
melalui jalur-jalur fisiologis-anatomis dan
melibatkan daerah disekitarnya atau daerah
yang lebih jauh letaknya di otak.
Tidak semua sel neuron di susunan saraf pusat
dapat mencetuskan bangkitan epilepsi klinik,
walaupun ia melepas muatan listrik berlebihan.
Sel neuron diserebellum di bagian bawah batang
otak dan di medulla spinalis, walaupun mereka
dapat melepaskan muatan listrik berlebihan,
namun posisi mereka menyebabkan tidak
mampu mencetuskan bangkitan epilepsi.
Sampai saat ini belum terungkap dengan pasti
mekanisme apa yang mencetuskan sel-sel
neuron untuk melepas muatan secara sinkron
dan berlebihan (mekanisme terjadinya epilepsi).
Mekanisme yang pasti dari aktivitas
kejang pada otak tidak semuanya dapat
dipahami. Beberapa pemicu menyebabkan
letupan abnormal mendadak stimulasi listrik,
menganggu konduksi syaraf normal otak. Pada
otak yang tidak rentan terhadap kejang, terdapat
keseimbangan antar sinaptik eksitatori dan
inhibitori yang mempengaruhi neuron
postsinaptik. Pada otak yang rentan terhadap
kejang, keseimbangan ini mengalami gangguan,
menyebabkan pola ketidakseimbangan konduksi
listrik yang disebut perpindahan depolarisasi
paroksismal. Perpindahan ini dapat terlihat baik
ketika terdapat pengaruh eksitatori yang
berlebihan atau pengaruh inhibitori yang tidak
mencukupi (Hudak dan Gallo, 1996).
Ketidakseimbangan asetilkolin dan
GABA. Asetilkolin dalam jumlah yang
berlebihan menimbulkan bangkitan kejang,
sedangkan GABA menurunkan eksitabilitas dan
menekan timbulnya kejang.

IV. KLASIFIKASI INTERNASIONAL
TENTANG KEJANG EPILEPSI
(dikutip dari Hudak dan Gallo, 1996)

I. Kejang Parsial
1. Parsial
sederhana (kesadaran klien baik)
1.
Motorik
2.
Sensorik
3.
Otonomi
4.
Fisik
2. Parsial
kompleks (kerusakan kesadaran)
1.
Parsial sederhana diikuti penurunan kesadaran
2.
Kerusakan kesadaran saat awitan
3. Kejang parsial
generalisasi sekunder
II. Kejang Umum
1. Non kejang
2. Tonik-klonik
umum
3. Tonik
4. Klonik
5. Mioklonik
6. Atonik
III. Kejang Tidak terklasifikasi
Ditinjau dari penyebabnya, epilepsy dibagi
menjadi 2, yaitu :
1. Epilepsi Primer (Idiopatik)
Epilepsi primer hingga kini tidak ditemukan
penyebabnya, tidak ditemukan kelainan pada
jaringan otak. Diduga bahwa terdapat kelainan
atau gangguan keseimbangan zat kimiawi dan
sel-sel saraf pada area jaringan otak yang
abnormal.
2. Epilepsi Sekunder (Simtomatik)
Epilepsi yang diketahui penyebabnya atau
akibat adanya kelainan pada jaringan
otak. Kelainan ini dapat disebabkan karena
dibawah sejak lahir atau adanya jaringan parut
sebagai akibat kerusakan otak pada waktu lahir
atau pada masa perkembangan anak, cedera
kepala (termasuk cedera selama atau sebelum
kelahiran), gangguan metabolisme dan nutrisi
(misalnya hipoglikemi, fenilketonuria (PKU),
defisiensi vitamin B6), faktor-faktor toksik
(putus alkohol, uremia), ensefalitis, anoksia,
gangguan sirkulasi, dan neoplasma.
V. MANIFESTASI KLINIK
Kejang Parsial Sederhana
Hanya jari atau tangan yang bergetar; atau
mulut yang bergergerak tak terkontrol; bicara
tidak dapat dimengerti; mungkin pening; dapat
mengalami perubahan penglihatan, suara, bau
atau pengecapan yang tak lazim atau tak
menyenangkan.
Kejang Parsial Kompleks
Masih dalam keadaan sedikit bergerak atau
gerakan secara otomatis tetapi tidak bertujuan;
dapat mengalami perubahan emosi, ketakutan,
marah, kegirangan, atau peka rangsang yang
berlebihan; tidak mengingat periode tersebut
ketika sudah berlalu.
Kejang Umum (kejang grand Mal)
Mengenai kedua hemisfer otak, kekuatan yang
kuat dari seluruh tubuh diikuti dengan
perubahan kedutan dari relaksasi otot dan
kontraksi (kontraksi tonik klonik umum)

VI. FASE SERANGAN KEJANG
1. Fase Prodromal
Beberapa jam/hari sebelum serangan kejang.
Berupa perubahan alam rasa (mood), tingkah
laku
2. Fase Aura
Merupakan fase awal munculnya serangan.
Berupa gangguan perasaan, pendengaran,
penglihatan, halusinasi, reaksi emosi afektif
yang tidak menentu.
3. Fase Iktal
Merupakan fase serangan kejang, disertai
gangguan muskuloskletal.
Tanda lain : hipertensi, nadi meningkat,
cyanosis, tekanan vu meningkat, tonus spinkter
ani meningkat, tubuh rigid-tegang-kaku, dilatasi
pupil, stridor, hipersalivasi, lidah resiko tergigit,
kesadaran menurun.
4. Fase Post Iktal
Merupakan fase setelah serangan. Ditandai
dengan : confuse lama, lemah, sakit kepala,
nyeri otot, tidur lama, amnesia retrograd, mual,
isolasi diri.

STATUS EPILEPTIKUS
Serangan kejang yang terjadi berulang,
merupakan keadaan darurat. Berakibat
kerusakan otak permanen, dapat disebabkan
karena : peningkatan suhu yang tinggi,
penghentian obat epileptik, kurang tidur,
intoksikasi obat, trauma otak, infeksi otak.





VII. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Elektroensefalografi (EEG) membantu
dalam mengklasifikasikan tipe kejang.
2. CT Scan untuk mendeteksi lesi,
abnormalitas fokal, abnormalitas vaskuler
cerebral, dan perubahan degeneratif serebral.

VIII. PENATALAKSANAAN
Penatalaksaan epilepsy direncanakan sesuai
dengan program jangka panjang dan dibuat
untuk memenuhi kebutuhan khusus masing-
masing klien.
Tujuan dari pengobatan adalah untuk
menghentikan kejang sesegera mungkin, untuk
menjamin oksigenasi serebral yang adekuat, dan
untuk mempertahankan klien dalam status bebas
kejang.
Pengobatan Farmakologis
1. Pengobatan biasanya dimulai dengan dosis
tunggal.
2. Pengobatan anti konvulsan utama termasuk
karbamazepin, primidon, fenitoin, fenobarbital,
etosuksimidin, dan valproate.
3. Lakukan pemeriksaan fisik secara periodic
dan pemeriksaan laboratorium untuk klien yang
mendapatkan obat yang diketahui mempunyai
efek samping toksik.
4. Cegah terjadinya hiperplasi gingival dengan
hygiene oral yang menyeluruh, perawatan gigi
teratur, dan masase gusi teratur untuk klien yang
mendapatkan fenitoin (Dilantin).
5. Pembedahan
1. Diindikasikan bila epilepsy diakibatkan oleh
tumor intrakranial, abses, kista, atau anomaly
vaskuler.
2. Pengangkatan secara pembedahan pada
focus epileptogenik dilakukan untuk kejang
yang berasal dari area otak yang terkelilingi
dengan baik yang dapat dieksisi tanpa
menghasilkan kelainan neurologis yang
signifikan.





IX. PROSES KEPERAWATAN
I. PENGKAJIAN
1. Pengkajian kondisi/kesan umum
Kondisi umum Klien nampak sakit berat
2. Pengkajian kesadaran
Setelah melakukan pengkajian kesan umum,
kaji status mental pasien dengan berbicara
padanya. Kenalkan diri, dan tanya nama pasien.
Perhatikan respon pasien. Bila terjadi penurunan
kesadaran, lakukan pengkajian selanjutnya.
Pengkajian kesadaran dengan metode AVPU
meliputi :
a. Alert (A) : Klien tidak
berespon terhadap lingkungan sekelilingnya.
b. Respon velbal (V) : klien tidak
berespon terhadap pertanyaan perawat.
c. Respon nyeri (P) : klien tidak
berespon terhadap respon nyeri.
d. Tidak berespon (U) : klien tidak
berespon terhadap stimulus verbal dan nyeri
ketika dicubit dan ditepuk wajahnya
3. Pengkajian Primer
Pengkajian primer adalah pengkajian cepat
(30 detik) untuk mengidentifikasi dengan segera
masalah aktual dari kondisi life treatening
(mengancam kehidupan). Pengkajian
berpedoman pada inspeksi, palpasi, perkusi dan
auskultasi jika hal memugkinkan.
Prioritas penilaian dilakukan berdasarkan :
1. Airway (jalan nafas) dengan kontrol servikal
2. Breathing dan ventilasi
3. Circulation dengan kontrol perdarahan
4. Disability




1. Airway (jalan nafas) dengan kontrol
servikal.
Ditujukan untuk mengkaji sumbatan total atau
sebagian dan gangguan servikal :
- Ada/tidaknya sumbatan jalan nafas
- Distres pernafasan
- Adanya kemungkinan fraktur cervical
Pada fase iktal, biasanya ditemukan klien
mengatupkan giginya sehingga menghalangi
jalan napas, klien menggigit lidah, mulut
berbusa, dan pada fase posiktal, biasanya
ditemukan perlukaan pada lidah dan gusi akibat
gigitan tersebut
2. Breathing
Pada fase iktal, pernapasan klien
menurun/cepat, peningkatan sekresi mukus, dan
kulit tampak pucat bahkan sianosis. Pada fase
post iktal, klien mengalami apneu
3. Circulation
Pada fase iktal terjadi peningkatan nadi dan
sianosis, klien biasanya dalam keadaan tidak
sadar.
4. Disability
Klien bisa sadar atau tidak tergantung pada jenis
serangan atau karakteristik dari epilepsi yang
diderita. Biasanya pasien merasa bingung, dan
tidak teringat kejadian saat kejang
5. Exposure
Pakaian klien di buka untuk melakukan
pemeriksaan thoraks, apakah ada cedera
tambahan akibat kejang

4. Pengkajian sekunder
a. Identitas klien meliputi : nama, umur, jenis
kelamin, agama, suku bangsa,alamat, tanggal
masuk rumah sakit, nomor register, tanggal
pengkajian dan diagnosa medis.

b. Keluhan utama:
Klien masuk dengan kejang, dan disertai
penurunan kesadaran
c. Riwayat penyakit:
Klien yang berhubungan dengan faktor resiko
bio-psiko-spiritual. Kapan klien mulai serangan,
pada usia berapa. Frekuansi serangan, ada faktor
presipitasi seperti suhu tinggi, kurang tidur, dan
emosi yang labil. Apakah pernah menderita
sakit berat yang disertai hilangnya kesadaran,
kejang, cedera otak operasi otak. Apakah klien
terbiasa menggunakan obat-obat penenang atau
obat terlarang, atau mengkonsumsi alcohol.
Klien mengalami gangguan interaksi dengan
orang lain / keluarga karena malu ,merasa
rendah diri, ketidak berdayaan, tidak
mempunyai harapan dan selalu waspada/berhati-
hati dalam hubungan dengan orang lain.
- Riwayat kesehatan
- Riwayat keluarga dengan kejang
- Riwayat kejang demam
- Tumor intrakranial
- Trauma kepala terbuka, stroke
d. Riwayat kejang :
- Bagaimana frekwensi kejang.
- Gambaran kejang seperti apa
- Apakah sebelum kejang ada tanda-tanda
awal.
- Apakah ada kehilangan kesadaran atau
pingsan
- Apakah ada kehilangan kesadaran sesaat
atau lena.
- Apakah pasien menangis, hilang
kesadaran, jatuh ke lantai.

e. Pemeriksaan fisik
- Kepala dan leher
Sakit kepala, leher terasa kaku
- Thoraks
Pada klien dengan sesak, biasanya
menggunakan otot bantu napas
- Ekstermitas
Keletihan,, kelemahan umum, keterbatasan
dalam beraktivitas, perubahan tonus otot,
gerakan involunter/kontraksi otot
- Eliminasi
Peningkatan tekanan kandung kemih dan tonus
sfingter. Pada post iktal terjadi inkontinensia
(urine/fekal) akibat otot relaksasi
- Sistem pencernaan
Sensitivitas terhadap makanan, mual/muntah
yang berhubungan dengan aktivitas kejang,
kerusakan jaringan lunak

II. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul
pada klien dengan epilepsi adalah:
1. Pola napas tidak efektif berhubungan
dengan kerusakan neuromuskuler, peningkatan
sekresi mucus
2. Resiko tinggi injuri b.d perubahann
kesadaran , kerusakan kognitif,selama kejang
atau kerusakan perlindungan diri.
3. Gangguan harga diri/identitas pribadi
berhubungan dengan stigma berkenaan dengan
kondisi, persepsi tidak terkontrol ditandai
dengan pengungkapan tentang perubahan gaya
hidup, takut penolakan; perasaan negative
tentang tubuh
4. Kurang pengetahuan keluarga tentang proses
perjalanan penyakit berhubungan dengan
kurangnya informasi


Rencana
keperawatan

No
Dx.
Keperawatan Tujuan
Perencanaan
Intervensi Rasional
1 Pola napas
tidak efektif
berhubungan
dengan
kerusakan
Mempertahankan
pola pernapasan
efektif dengan
jalan napas paten
- Anjurkan klien
untuk mengosongkan
mulut dari benda/zat
tertentu/gigi palsu atau
alat lainnya jika fase
Menurunkan
resiko aspirasi
atau masuknya
benda asing ke
faring
neuromuskuler,
peningkatan
sekresi mucus
aura terjadi dan untuk
menghindari rahang
mengatup jika kejang
terjadi tanpa ditandai
gejala awal

- Letakkan klien pada
posisi miring,
permukaan datar,
miringkan kepala
selama serangan kejang


- Tanggalkan
pakaian pada daerah
leher, dada, dan
abdomen


- Masukkan spatel
lidah/ jalan napas
buatan atau gulungan
benda lunak sesuai
indikasi
Meningkatkan
aliran (drainase)
secret, mencegah
lidah jatuh
sehingga
menyumbat
jalan napas

Untuk
memfasilitasi
usaha bernapas


Mencegah
tergigitnya lidah
dan
memfasilitasi
saat melakukan
penghisapan
lender. Jalan
napas buatan
mungkin
diindikasikan
setelah
meredanya
aktivitas kejang
jika pasien
tersebut tidak
sadar dan tidak
dapat
mempertahankan
posisi lidah yang
aman



Menurunkan
resiko aspirasi
atau asfiksia


Dapat
menurunkan
hipoksia serebral
sebagai akobat
dari sirkulasi
yang menurun
atau oksigen
sekunder
terhadap spasme
vaskuler selama
serangan kejang

- Lakukan
penghisapan sesuai
indikasi


Munculnya
apneu yang
berkepanjangan
pada fase
posiktal
membutuhkan
dukungan
ventilator
mekanik
- Berikan
tambahan oksigen/
ventilasi manual sesuai
kebutuhan pada fase
posiktal






- Siapkan/bantu
melakukan intubasi jika
ada indikasi

2 Resiko tinggi
injuri b.d
perubahann
Mengurangi
resiko injuri
pada pasien
- Kaji karakteristik
kejang
Untuk
mngetahui
seberapa besar
kesadaran ,
kerusakan
kognitif,selama
kejang atau
kerusakan
perlindungan
diri.
tingkatan kejang
yang dialami
pasien sehingga
pemberian
intervensi
berjalan lebih
baik



Benda tajam
dapat melukai
dan mencederai
fisik pasien


Dengan
meletakkan
spatel lidah
diantara rahang
atas dan rahang
bawah, maka
resiko pasien
menggigit
lidahnya tidak
terjadi dan jalan
nafas pasien
menjadi lebih
lancer

- Jauhkan pasien
dari benda benda tajam /
membahayakan bagi
pasien


Obat anti
kejang dapat
mengurangi
derajat kejang
yang dialami
pasien, sehingga
resiko untuk
cidera pun
berkurang
- Masukkan spatel
lidah/jalan napas buatan
atau gulungan benda
lunak sesuai indikasi






- Kolaborasi dalam
pemberian obat anti
kejang

3 Gangguan
harga
diri/identitas
pribadi
berhubungan
dengan stigma
berkenaan
dengan
kondisi,
persepsi
tentang tidak
terkontrol
ditandai
dengan
pengungkapan
tentang
perubahan
gaya hidup,
takut
Mengidentifikasi
perasaan dan
metode untuk
koping dengan
persepsi negative
pada diri sendiri
- Diskusikan
perasaan pasien
mengenai diagnostic,
persepsi diri terrhadap
penanganan yang
dilakukannya.
Reaksi yang
ada bervariasi
diantara individu
dan
pengetahuan/
pengalaman
awal dengan
keadaan
penyakitnya
akan
mempengaruhi
penerimaan


Adanya
keluhan merasa
takut, marah dan
sangat
memperhatikan
tentang
implikasinya di
penolakan;
perasaan
negative
tentang tubuh
masaa yang akan
datang dapat
mempengaruhi
pasien untuk
menerima
keadaanya

- Anjurkan untuk
mengungkapkan/
mengekspresikan
perasaannya


Memberikan
kesempatan
untuk berespon
pada proses
pemecahan
masalah dan
memberikan
tindakan control
terhadap situasi
yang dihadapi



Memfokuskan
pada aspek yang
positif dapat
membantu untuk
menghilangkan
perasaan dari
kegagalan atau
kesadaran
terhadap diri
sendiri dan
membentuk
pasien mulai
menerima
penangan
terhadap
penyakitnya



Pandangan
negative dari
orang terdekat
dapat
berpengaruh
terhadap
perasaan
kemampuan/
harga diri klien
dan mengurangi
dukungan yang
diterima dari
orang terdekat
tersebut yang
mempunyai
resiko
membatasi
penanganan
yang optimal
-
Identifikasi/antisipasi
kemungkinan reaksi
orang pada keadaan
penyakitnya. Anjurkan
klien untuk tidak
merahasiakan
masalahnya


Ansietas dari
pemberi asuhan
adalah menjalar
dan bila sampai
pada pasien
dapat
meningkatkan
persepsi
negative
terhadap
keadaan
lingkungan/diri
sendiri


- Gali bersama
pasien mengenai
keberhasilan yang telah
diperoleh atau yang
akan dicapai selanjutnya
dan kekuatan yang
dimilikinya







- Tentukan
sikap/kecakapan orang
terdekat. Bantu
menyadari perasaan
tersebut adalah normal,
sedangkan merasa
bersalah dan
menyalahkan diri
sendiri tidak ada
gunanya





- Tekankan
pentingnya orang
terdekat untuk tetap
dalam keadaan tenang
selama kejang

4 Kurang
pengetahuan
keluarga tentan
proses
perjalanan
pengetahuan
keluarga
meningkat,
keluarga
mengerti dengan
- Kaji tingkat
pendidikan keluarga
klien.
pendidikan
merupakan salah
satu faktor
penentu tingkat
pengetahuan
penyakit
berhubungan
dengan
kurangnya
informasi
proses penyakit
epilepsy,
keluarga klien
tidak bertanya
lagi tentang
penyakit,
perawatan dan
kondisi klien.
seseorang


untuk
mengetahui
seberapa jauh
informasi yang
telah mereka
ketahui,sehingga
pengetahuan
yang nantinya
akan diberikan
dapat sesuai
dengan
kebutuhan
keluarga
- Kaji tingkat
pengetahuan keluarga
klien.


untuk
meningkatkan
pengetahuan



untuk
mengetahui
seberapa jauh
informasi yang
sudah dipahami

- Jelaskan pada
keluarga klien tentang
penyakit kejang demam
melalui penyuluhan.
agar keluarga
dapat
memberikan
penanngan yang
tepat jika suatu-
waktu klien
mengalami
kejang
berikutnnya.

- Beri kesempatan
pada keluarga untuk
menanyakan hal yang
belum dimengerti.


- Libatkan keluarga
dalam setiap tindakan
pada klien.


. Evaluasi
Evaluasi merupakan bagian akhir dari
proses keperawatan. Evaluasi dilakukan untuk
mengetahui tingkat keberhasilan tindakan yang
telah dilakukan. Disamping itu evaluasi dapat
dijadikan sebagai bahan pengkajian untuk
proses berikutnya.
Pada kasus epilepsi evaluasi dilakukan atas
tindakan yang dilakukan sesuai dengan diagnosa
dan tujuan yang sudah ditetapkan.

Diposkan oleh ABDUL MUFTI UBAIDILLAH di 22.59
Reaksi:
Tidak ada komentar:
Poskan Komentar
Link ke posting ini
Buat sebuah Link
Posting Lebih BaruBeranda
Langganan: Poskan Komentar (Atom)
MENGENAI SAYA

ABDUL MUFTI UBAIDILLAH
saya adalah seorang pelajar yang mencari pendidikan sejauhmungkin dan mengembangkan bakat
dalam segala jenis bidang karna saya tidak mengunggulkan dalam satu bidang kenginan saya semua
bidang harus saya kuasai bukan hanya materi tetapi juga praktek dalam kehidupan sehari2.
Lihat profil lengkapku
AMU. Template Picture Window. Diberdayakan oleh Blogger.