Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM PELAYANAN KEFARMASIAN

Dosen Pembimbing:
Mika Tri Kumala Swandari, M.Sc.,Apt

Nama Kelompok A1:
1. Tanti Yuniawati (107112001)
2. Rizky Amalia Abdullah (107112003)
3. Rayi Wulan Febi Rahmadani (107112016)
4. Oviana Putri Kurniasih (107112028)
5. Nirmayanti (107112042)
Tanggal Praktikum: 13 Oktober 2014


STIKES AL-IRSYAD AL-ISLAMIYYAH
CILACAP
2014

PERCOBAAN VII

RESEP 1


















URAIAN
I. Kelengkapan Resep
a. Tidak terdapat tanggal resep.
b. Tidak terdapat alamat pasien.
c. Tidak terdapat paraf dokter.
II. Komponen Resep Standar
-
III. Undang-Undang
a. Paracetamol merupakan golongan obat Bebas sesuai dengan peraturan pada
Perda Tingkat II Tangerang no 12 tahun 1994 tentang izin pedagang eceran
obat (Memuat pengertian obat bebas) dan SK Menkes RI no
dr. Jemaris Nacita
SIP No. 22/DINKES/DU-11-25
Praktek: Jl. Dewangga No. 19 Telp. 695104
Rumah: Jl. Kauman No. 20 Telp. 693158

Cilacap, ..................

R/ Paracetamol mg 500
CTM mg 4
Dexamethasone tab I
m. f. pulv. dtd. No IX
s 3 d d I

.................
Pro : Alvaro (26 th)

Obat ini tidak boleh diganti tanpa izin dokter

obat ini tidak boleh diganti tanpa izin dokter
2380/A/SK/VI/1983 tentang tanda khusus untuk obat bebas dan obat bebas
terbatas.
b. CTM merupakan golongan obat Bebas Terbatas yang diatur dalam Kepmenkes
No. 2380 tahun1983.
c. Dexamethasone termasuk dalam golongan obat keras seperti yang diatur dalam
Permenkes RI No 949/MENKES/PER/VI/2000.
IV. Usul
Penggantian pembuatan sediaan pulveres menjadi sediaan kapsul karena untuk
pasien dewasa.
V. Alat & Bahan
a. Alat:
Mortir dan Stamper
Sudip
Klip Plastik
Kertas Perkamen
Cangkang kapsul
b. Bahan:
Paracetamol 500 mg
CTM 4 mg
Dexamethasone 0,5 mg
VI. Data Dosis
Nama Obat
Kandungan / Zat
Aktif
DM/DL/DP
Literatur
1 x pakai Sehari
Paracetamol
Paracetamol 500
mg
DL = 500 mg DL = 500 mg-2 gr
Kapita Selekta
hal. 110
CTM
Klorfeniramin
maleat 4 mg
DL = 2 mg - 4
mg
DM = 40 mg
DL = 6 mg 16
mg
Kapita Selekta
hal. 115
Dexamethasone
Dexamethasone
0,5 mg
-
DL = 0,5 mg 2
mg
Kapita Selekta
hal. 118



VII. Perhitungan Dosis
a. Paracetamol
DL untuk dewasa 1 x pakai = 500 mg
DL untuk dewasa sehari = 500 mg 2 gr
Dosis pemakaian (DP) sekali menurut resep = 500 mg = DL (500 mg)
Dosis pemakaian (DP) sehari menurut resep = 3x500 mg = 1.500 mg < 2 gr
b. CTM
DM untuk dewasa 1 x pakai = -
DM untuk dewasa sehari = 40 mg
Dosis pemakaian (DP) sekali menurut resep = 4 mg = DL (4 mg)
Dosis pemakaian (DP) sehari menurut resep = 3 x 4 mg = 12 mg < 40 mg
c. Dexamethasone
DL untuk dewasa 1 x pakai = -
DL untuk dewasa sehari = 0,5 mg 2 mg
Dosis pemakaian (DP) sekali menurut resep = -
Dosis pemakaian (DP) sehari menurut resep = 3 x 0,5 mg = 1,5 mg < 2 mg
Kesimpulan : Resep bisa dibuat
VIII. Tabel Penimbangan / Pengambilan Bahan
No. Nama Bahan Perhitungan Jumlah Pengambilan
1 Paracetamol 500 mg x 9 = 4500 mg 9 tablet @ 500 mg
2 CTM 4 mg x 9 = 36 mg 9 tablet @ 4 mg
3 Dexamethasone 1 tablet x 9 9 tablet @ 0,5 mg

IX. Cara Pembuatan








Siapkan alat dan bahan
Ambil Paracetamol 500 mg sebanyak 9 tablet , CTM 4 mg sebanyak 9
tablet, dan Dexamethason 0,5 mg sebanyak 9 tablet
Digerus hingga halus dan homogen
Dikeluarkan dari mortir dan dibagi dalam 9 bagian kertas perkamen dan
dimasukkan ke dalam cangkang kapsul




X. Hasil Sediaan
Bentuk : kapsul
Etiket : Etiket Putih







Wadah : Plastik Klip
Label : -
XI. Pembahasan
Pada praktikum kali ini, praktikan mendapat resep dari dr. Jeramis Nacita.
Resep diberikan kepada Alvaro (26 tahun) dengan ketentuan obat dibuat dalam
sediaan pulveres (pulv) atau puyer. Namun, karena pasien sudah dewasa sehingga
diusulkan untuk penggantian pembuatan sediaan menjadi sediaan kapsul.
Dalam FARMAKOPE INDONESIA edisi III tahun 1979, kapsul adalah
bentuk sediaan obat terbungkus dalam suatu cangkang kapsul keras dan lunak.
Sedangkan dalam FARMAKOPE INDONESIA EDISI IV tahun 1995, kapsul
adalah sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras dan lunak yang
dapat larut. Cangkang umumnya terbuat dari gelatin, tetapi dapat juga di buat dari
pati atau bahan lain yang sesuai. Syarat-syarat sediaan kapsul menurut Farmakope
Indonesia edisi III adalah sebagai berikut:
1. Keseragaman
2. Waktu hancur
3. Penyimpanan
APOTEK AL IRSYAD
Jalan Cerme no. 20 Cilacap
Apoteker : Eka Puji, S.Farm., Apt
SIPA: 19821011/SIPA_33.02/2011/2050
No : 1 Tgl. 13-10-2014
Nama : Alvaro (26 Th)
3 x sehari 1 kapsul
Sebelum/Sesudah makan



Dimasukkan ke dalam klip plastik, diberi etiket putih dan diberi
keterangan aturan pakai 3x sehari 1 kapsul
Resep yang diberikan pada tanggal 13 Oktober 2014 ini berisi Paracetamol,
CTM, dan Dexamethason. Indikasi dari masing-masing obat pada resep ini yaitu
sebagai berikut:
Paracetamol : obat analgesik dan antipiretik yang popular dan digunakan
untuk melegakan sakit kepala, sengal-sengal dan sakit ringan,
serta demam
CTM : Rinitis dan sinusitis alergika, batuk-pilek
Dexamethason : Syok, edema serebral, insufisiensi adrenal akut atau kronis,
artritus, reumatik jantung, nefrotik sindrom, penyakit kolagen,
asma bronchial, rhinitis alergika, radang mata atau telinga,
alergi kulit
Pengerjaan resep dalam hal ini pembuatan kapsul dilakukan dengan
menggunakan mortir dan stemper untuk menggerus tablet. Setiap obat dimasukkan
satu persatu agar derajat kehalusannya sama, dimulai dari paracetamol, lalu CTM,
kemudian dexamethason. Setelah halus dan yakin bahwa obat tercampur homogen,
obat siap untuk dibungkus dengan kertas perkamen. Homogenitas sangat penting
dalam pembuatan puyer karena akan berpengaruh pada dosis obat. Apabila obat
tidak homogen maka ketika dibagi menjadi beberapa kapsul dosisnya akan
berlainan dan dapat mengganggu proses terapi.
Obat diberi etiket warna putih, yaitu menandakan bahwa obat harus
digunakan per-oral atau melalui saluran pencernaan. Saat pemberian harus disertai
dengan KIE yaitu Komunikasi, Informasi, dan Edukasi. KIE yang diberikan antara
lain:
1. Obat diminum tiga kali sehari, apabila bisa tepat setiap 8 jam.
2. Pasien harus banyak istirahat dan tidak dianjurkan untuk mengemudi terlebih
dahulu karena obat ini mengandung CTM yang memiliki efek samping obat
menyebabkan kantuk.
XII. Kesimpulan
Indikasi obat secara keseluruhan yaitu untuk pasien dengan gejala flu disertai
dengan demam.


XIII. Pustaka
Anonim.1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta: Departemen Kesehatan
Republik Indonesia,.
Anonim. 2007. Kapita Selekta Dispensing I. Yogyakarta: Fakultas Farmasi UGM
Anonim. 2011. MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi . Jakarta: Medidata
Theodorus.1996. Penuntun Praktis Peresepan Obat. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.

RESEP 2




















URAIAN
I. Kelengkapan Resep
Tidak ada tanggal penulisan resep
Tidak ada paraf dokter
Tidak ada alamat pasien
II. Komponen Resep Standar
Tidak terdapat komponen resep standar
III. Undang-Undang
Biogesic Tablet dan Vitamin B1 merupakan golongan obat Bebas sesuai
dengan peraturan pada Perda Tingkat II Tangerang no 12 tahun 1994 tentang
izin pedagang eceran obat (Memuat pengertian obat bebas) dan SK Menkes RI
dr. Jemaris Nacita
SIP No. 22/DINKES/DU-11-25
Praktek: Jl. Dewangga No. 19 Telp. 695104
Rumah: Jl. Kauman No. 20 Telp. 693158

Cilacap, .........................
R/ Biogesic tab
Phenobarbital mg 30
Vit B1 tab 1
SL q.s
m. f. pulv. dtd. No IX
da in caps
s t d d I

..........
Pro : Fatimah (15 th)

obat ini tidak boleh diganti tanpa izin dokter
no 2380/A/SK/VI/1983 tentang tanda khusus untuk obat bebas dan obat bebas
terbatas.
Phenobarbital merupakan golongan obat Psikotropika sesuai dengan peraturan
pada Undang-Undang No. 5 tahun 1997 tentang Psikotropika.
IV. Usul
Penghilangan Sacharum Lactis, karena sedian berupa kapsul sehingga tidak
diperlukannya bahan pemanis.
V. Alat & Bahan
a. Alat:
Mortir dan Stemper
Sudip
Klip Plastik
Kertas Perkamen
b. Bahan:
Biogesic tablet 500mg
Luminal tablet 30mg
Vitamin B1
VI. Data Dosis
Nama Obat
Kandungan / Zat
Aktif
DM/DL/DP
Literatur
1 x pakai Sehari
Biogesic
Paracetamol 500
mg
DL = 500 mg DL = 500 mg-2 gr
Kapita Selekta
hal. 110
Phenobarbital
Phenobarbital 30
mg
DM= 300 mg
DL= 50 mg -
100 mg
DM= 600 mg
DL= 150 mg -
300 mg
Kapita Selekta
hal. 138
Vitamin B1
Vitamin B1 50
mg
DL = 100 mg -
200 mg
DL = 600 mg ISO

VII. Perhitungan Dosis
a. Biogesic
DL 1 x pakai = 500 mg
DL sehari = 500 mg 2 gr
Dosis Pemakaian (DP) Sekali pakai menurut resep = x 500 mg = 250 mg <
500 mg
Dosis Pemakaian (DP) Sehari menurut resep = 3 x 250 mg = 750 mg < 2 gr
b. Phenobarbital
DM 1x pakai = 300 mg
DM Sehari = 600 mg
Dosis pemakaian (DP) sekali pakai menurut resep = 30 mg < 300 mg
Dosis Pemakaian (DP) Sehari menurut resep = 30 mg x 3 = 90 mg < 600 mg
c. Vitamin B1
DL 1 x pakai = 100 mg - 200 mg
DL sehari = 600 mg
Dosis pemakaian (DP) sekali pakai menurut resep = 50 mg < 100 mg
Dosis Pemakaian (DP) Sehari menurut resep = 3 x 50 mg = 600
Kesimpulan : Resep bisa dibuat.
VIII. Tabel Penimbangan / Pengambilan Bahan
No. Nama Bahan Perhitungan Jumlah Pengambilan
1 Biogesic 500 mg x x 9 = 2.250 mg 4,5 tablet @ 500 mg
2 Phenobarbital 30 mg x 9 = 270 mg 9 tablet @ 30 mg
3 Vitamin B1 1 tablet x 9 9 tablet @ 50 mg

IX. Cara Pembuatan











Siapkan alat dan bahan
Ambil Biogesic 500 mg sebanyak 4,5 tablet; Phenobarbital 30 mg
sebanyak 9 tablet; dan Vit. B1 sebanyak 9 tablet
Digerus hingga halus dan homogen
Dikeluarkan dari mortir dan dibagi dalam 9 bagian kertas perkamen dan
dimasukkan dalam kapsul.



X. Hasil Sediaan
Bentuk : kapsul
Etiket : Etiket Putih







Wadah : Plastik Klip
Label : -
XI. Pembahasan
Pada praktikum kali ini, praktikan mendapat resep dari dr. Jemaris Nacita.
Resep diberikan kepada Fatimah (15 tahun) dengan ketentuan obat dibuat dalam
sediaan kapsul. Dalam FARMAKOPE INDONESIA edisi III tahun 1979, kapsul
adalah bentuk sediaan obat terbungkus dalam suatu cangkang kapsul keras dan
lunak. Sedangkan dalam FARMAKOPE INDONESIA EDISI IV tahun 1995,
kapsul adalah sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras dan lunak
yang dapat larut. Cangkang umumnya terbuat dari gelatin, tetapi dapat juga di buat
dari pati atau bahan lain yang sesuai. Syarat-syarat sediaan kapsul menurut
Farmakope Indonesia edisi III adalah sebagai berikut:
1. Keseragaman
2. Waktu hancur
3. Penyimpanan
Resep ini berisi Biogesic (sediaan patent yang berisi Paracetamol),
Phenobarbital, dan Vit B1. Khasiat dari masing-masing obat dalam resep yaitu:
Biogesic yang berisi Parasetamol atau asetaminofen adalah obat analgesik dan
antipiretik digunakan untuk melegakan sakit kepala, sengal-sengal dan sakit
Dimasukkan ke dalam klip plastik, diberi etiket putih dan diberi
keterangan aturan pakai 3x sehari 1 kapsul
APOTEK AL IRSYAD
Jalan Cerme no. 20 Cilacap
Apoteker : Eka Puji, S.Farm., Apt
SIPA: 19821011/SIPA_33.02/2011/2050
No : 1 Tgl. 13-10-2014
Nama : Fatimah (15 Th)
3 x sehari 1 kapsul
Sebelum/Sesudah makan



ringan, serta demam. Digunakan dalam sebagian besar resep obat analgesik,
selesma dan flu.
Phenobarbital adalah antikonvulsan turunan barbiturat yang efektif dalam
mengatasi epilepsi pada dosis subhipnotis. Indikasi dari fenobarbital adalah
kejang umum tonik-klonik; kejang parsial; kejang pada neonatus; kejang
demam; status epileptikus, pengelolaan insomnia jangka pendek, meredakan
kecemasan dan ketegangan, meredakan gejala epilepsi.
Vitamin B1 dengan nama lain Thiamin HCl adalah vitamin yang terlarut dalam
air. Tiamina berperan sangat vital agar otak dapat bekerja dengan normal.
Sebelum melayani resep, harus diperhatikan resep dengan saksama dan benar.
Resep ini mengandung obat psikotropik yaitu Phenobarbital sehingga perlu digaris
bawahi dengan tinta berwarna biru agar mempermudah dalam pemisahan
penyimpanan dan mencegah adanya pengulangan resep tanpa resep dokter.
Pengerjaan resep dalam hal ini pembuatan kapsul dilakukan dengan
menggunakan mortir dan stamper untuk menggerus tablet. Setiap obat dimasukkan
satu persatu agar derajat kehalusannya sama, dimulai dari biogesic, Phenobarbital,
kemudian Vit B1. Setelah halus dan yakin bahwa obat tercampur homogen, obat
siap untuk dimasukkan ke dalam kapsul. Homogenitas sangat penting dalam
pembuatan kapsul karena akan berpengaruh pada pembagian dosis obat sebelum
dimasukkan dalam masing-masing kapsul. Apabila obat tidak homogen maka
ketika dibagi menjadi beberapa bagian dosisnya akan berlainan dan dapat
mengganggu proses terapi.
Obat diberi etiket warna putih, yaitu menandakan bahwa obat harus
digunakan per-oral atau melalui saluran pencernaan. Sebelum diberikan pada
pasien, obat harus diperiksa kembali supaya terhindar dari kesalahan.
XII. Kesimpulan
Indikasi obat secara keseluruhan yaitu untuk pasien panas demam yang disertai
kejang.
XIII. Daftar Pustaka
Anonim.1979.Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta: Departemen Kesehatan
Republik Indonesia
Anonim. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan
Republik Indonesia
Anonim. 2007. Kapita Selekta Dispensing I. Yogyakarta: Fakultas Farmasi UGM

RESEP 3

















URAIAN
I. Kelengkapan Resep
a. Tidak terdapat kota dan tanggal penulisan resep.
b. Tidak terdapat alamat pasien.
c. Tidak terdapat paraf dokter.
II. Komponen Resep Standar
Unguentum Ichtammoli (Salep Ichtiol) (Kapita Selekta Hal. 42)
R/ Ichtammolum 10 g
Adeps lanae 45 g
Vaselinum 45 g
III. Undang-Undang
Ichtammol termasuk dalam golongan obat keras seperti yang diatur dalam Undang-
Undang Obat Keras (St. No. 419 tgl. 22 Desember 1949).

dr. Jemaris Nacita
SIP No. 22/DINKES/DU-11-25
Praktek: Jl. Dewangga No. 19 Telp. 695104
Rumah: Jl. Kauman No. 20 Telp. 693158


R/ Ungt. Ichtammol 10 g
M.f.ungt
da in pot
s u e
.........
Pro : Hana (24 thn)


obat ini tidak boleh diganti tanpa izin dokter
IV. Usul
-
V. Alat & Bahan
a. Alat
Mortir
Stamper
Sudip
Pot
Plastik klip
Kaca arloji
b. Bahan
Ichtammol
Lemak bulu
Vaselin kuning
VI. Data Dosis
-
VII. Perhitungan Dosis
-
VIII. Tabel Penimbangan / Pengambilan Bahan
No. Nama Bahan Perhitungan Jumlah Pengambilan
1 Ichtammol


x 10 g
1 gram
2 Adeps lanae


x 10 g
4,5 gram
3 Vaselin


x 10 g
4,5 gram

IX. Cara Pembuatan






Siapkan Alat dan Bahan
4,5 gram Adeps lanae dan 4,5 gram vaselin dimasukkan ke dalam
mortir
Diaduk sampai homogen











X. Hasil Sediaan
a. Bentuk : Salep
b. Etiket : Etiket Biru







c. Wadah : Pot salep
d. Label : -
XI. Pembahasan
Pada resep ini dibuat ke dalam sediaan semi padat yaitu salep. Menurut
Farmakope Indonesia Edisi III: Salep adalah sediaan setengah padat berupa massa
lunak yang mudah dioleskan dan digunaka untuk pemakaian luar.
Fungsi salep adalah :
a. Sebagai bahan pembawa substansi obat untuk pengobatan kulit
b. Sebagai bahan pelumas pada kulit
c. Sebagai pelindung untuk kulit yaitu mencegah kontak permukaan kulit dengan
larutan berair dan rangsang kulit ( Anief, 2005).
Ditambahkan 1 gram Ichtammol
Diaduk hingga homogen
Dimasukkan ke dalam pot salep
Diberi etiket warna biru, ditandai oleskan tipis-tipis pada bagian
yang sakit
APOTEK AL IRSYAD
Jalan Cerme no. 20 Cilacap
Apoteker : Eka Puji, S.Farm., Apt
SIPA: 19821011/SIPA_33.02/2011/2050
No : 1 Tgl. 13-10-2014
Nama : Hana (24 Th)
Dioleskan tipis-tipis pada bagian yang sakit
OBAT LUAR



Persyaratan salep menurut FI ed III
a. Pemerian tidak boleh berbau tengik.
b. Kadar, kecuali dinyatakan lain dan untuk salep yang mengandung obat keras
atau narkotik, kadar bahan obat adalah 10 %.
c. Dasar salep
d. Homogenitas, Jika salep dioleskan pada sekeping kaca atau bahan transparan
lain yang cocok, harus menunjukkan susunan yang homogen.
e. Penandaan,pada etiket harus tertera obat luar (Syamsuni, 2005).
Resep ketiga ini berisi Ichtamol, Lemak bulu dan Vaselin kuning. Dengan
indikasi masing-masing obat sebagai berikut:
1. Ichtamol memiliki khasiat antiseptikum ekstern.
2. Lemak Bulu (Adeps Lanae) memiliki khasiat sebagai dasar salep.
3. Vaselin Kuning memiliki khasiat sebagai dasar salep.
Ichtamol terkenal sebagai salep bisul karena mengandung serpihan sulfat
dan lilin lebah atau parafin. Salep ini ampuh hilangkan tumpukan kotoran di
permukaan kulit seperti jamur atau bakteri. Bisul merupakan benjolan yang muncul
di permukaan kulit akibat infeksi bakteri di folikel rambut. Meskipun tergolong
sebagai penyakit kulit yang tak berbahaya, bisul terasa nyeri dan mengandung
nanah.
Pemberian KIE kepada pasien yaitu:
a. Salep ini jangan langsung dioleskan di permukaan kulit yang terinfeksi bisul.
Bersihkan area bisul terlebih dahulu dengan air hangat dan sabun.
b. Cara pemakaian salep ini dioleskan tipis-tipis pada bagian yang sakit
c. Setelah selesai mengoleskan salep ke bisul, cuci tangan untuk mencegah
kemungkinan terinfeksi ke area kulit lainnya. Ulangi proses ini setiap hari,
pantau gejala-gejala untuk pastikan bisul mulai menyusut. Jika telah memakai
salep bisul tapi tak ada perubahan sama sekali, segera konsultasikan ke dokter.
d. Cara penyimpanan salep disimpan di tempat yang sejuk, terhindar dari cahaya
langsung.
XII. Kesimpulan
Indikasi secara keseluruhan dari resep ini adalah sebagai salep bisul.

XIII. Daftar Pustaka
Anonim.1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta: Departemen Kesehatan
Republik Indonesia,.
Anonim. 2007. Kapita Selekta Dispensing I. Yogyakarta: Fakultas Farmasi UGM
Anonim. 2011. MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi . Jakarta: Medidata