Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pengelolaan anestesi pada pasien diawali dengan persiapan preoperatif psikologis,
dan bila perlu, pengobatan preoperatif. Beberapa macam obat dapat diberikan sebelum
dimulainya operasi. Obat-obatan tersebut disesuaikan pada setiap pasien. Seorang ahli
anestesi harus menyadari pentingnya mental dan kondisi fisik selama visite preoperatif.
Sebab hal tersebut akan berpengaruh pada obat-obatan preanestesi, tehnik yang
digunakan, dan keahlian seorang ahli anestesi. Persiapan yang buruk akan berakibat pada
berbagai permasalahan dan ketidaksesuaian setelah operasi.
Tidak ada suatu kesepakatan yang muncul untuk obat-obatan yang digunakan
sebelum operasi,sebagian besar digunakan hanya sebagai tradisi yang telah dimodifikasi
akhir-akhir ini seturut dengan kemauan tehnik dan obat anestesi. Salah satu alasan
mengapa obat-obatan tersebut hanya berdasar tradisi ialah gabungan beberapa obat
anestesi akan mencapai tuuan yang sama. !amun satu hal yang elas ialah, seorang
penderita yang hendak masuk ke kamar operasi harus terbebas dari rasa cemas dan
beberapa tuuan khusus telah tercapai dengan pemberian obat-obatan preoperatif.
1.2. Batasan Masalah
Pembahasan tulisan ini dibatasi pada preoperatif anestesi
1.3. Tujuan Penulisan
Tulisan ini bertuuan untuk menambah pengetahuan pembaca umumnya dan
penulis khususnya mengenai preoperatif anestesi
1.4. Met!e Penulisan
Tulisan ini merupakan tinauan kepustakaan yang meruuk kepada berbagai
literatur.
BAB II
TIN"AUAN PU#TA$A
2.1 Persia%an &isik
Persiapan fisik pada pasien meliputi kunungan preoperatif dan wawancara dengan
pasien dan anggota keluarganya. Seorang ahli anestesi harus menelaskan apa yang akan
teradi dan tuuan tindakan anestesi sebagai upaya untuk mengurangi rasa cemas.
Sebagian besar penderita beranggapan hari operasi mereka adalah hari terbesar dalam
hidup mereka. Pasien tidak ingin diperlakukan tidak baik selama di ruang operasi.
"unungan preoperasi harus dilakukan secara efisien, tetapi harus bersifat memberikan
informasi, rasa aman, dan menawab segala pertanyaan. Sebagian ahli anestesi
berinteraksi dengan pasien dalam keadaan tidak sadar atau tertidur, oleh sebab itu seorang
ahli anestesi hendaknya berinteraksi dengan pasien sebelum operasi untuk mendapatkan
rasa percaya dan meningkatkan rasa percaya diri pasien.
Sebagian besar pasien datang ke kamar operasi dalam keadaan cemas sebelum
pembedahan, sebuah studi menunukan dari analisa terhadap #$$ pasien bedah dewasa,
didapat pasien wanita lebih merasa cemas dibandingkan padien laki-laki sebelum operasi.
%ebih lanut dielaskan bahwa pasien dengan berat badan lebih dari &$ kg lebih mudah
merasa cemas.Sebuah studi oleh egbert dan rekan-rekan dengan pemberian ' mg(kgBB
pentobarbital yang diberikan secara im ) am sebelum operasi dan mendapatkan
penelasan mengenai tindakan yang akan dilakukan lebih tenang saat masuk ke dalam
kamar operasi. Penelitian "ogh menyatakan bahwa pasien dewasa yang mendapatkan
kunungan sebelum operasi menunukan level kecemasan yang lebih rendah
dibandingkan apabila tidak mendapatkan kunungan sama sekali. %ebih lanut dikatakan
bahwa kunungan sebelum operasi lebih bermakna bagi pasien dibandingkan bila pasien
mendapatkan informasi hanya dari buku saa. Persiapan psikologis tidak menyelesaikan
segalanya dan tidak meninggalkan seluruh kecemasan.
*i samping persiapan psikologis ada beberapa tuuan lain dari pengobatan
preoperatif. Pengendalian rasa sakit, dan level yang memuaskan dari sedasi tidak dicapai
dengan kunungan preoperasi semata.Sebagai tambahan, situasi emergensi mungkin
menyediakan sedikit atau tidak ada sama sekali kunungan preoperatif.
*alam persiapan tindakan anestesi beberapa pertanyaan diaukan kepada pasien guna
lancarnya tindakan anestesi dan meminimalisir atau menghilangkan resiko-resiko yang
dapat teradi dalam tindakan anestesi.
a. !ama + untuk identitas, agar tidak tertukar dengan pasien lain.
b. ,mur + untuk memperkirakan risiko yang mungkin teradi serta menentukan enis dan
teknik anestesi yang akan dipakai.
c. Pekeraan + untuk mengetahui perkiraan besar penghasilan pasien.
d. *iagnosa pra bedah + untuk mengetahui alasan pasien dioperasi dan memperkirakan
semua hasil, efek samping, dan komplikasi operasinya.
e. -enis pembedahan + untuk menentukan enis anestesi yang akan dipakai.
f. "eadaan umum +
- .i/i kurang ika BB01$2 BB idaman atau B340)5,#
- .emuk ika BB6)'$2 BB idaman atau B3467$
- 8nemia ika 9b dewasa 0)7 gr2 atau 9b anak 0)),#
g. :ital sign +
- Tekanan darah dan batas-batas normal hiper dan hipotensi
"arena pada saat induksi dan intubasi dapat teradi kenaikan tekanan darah
berlebihan sehingga menimbulkan komplikasi pada target organ
- !adi
3elihat apakah ada gangguan dari antung, Takikardi bila denyut nadi 6)$$;(mnt dan
bradikardi bila denyut nadi 0<$;(mnt.
- Pernapasan
=at-/at anestetik menekan pernapasan dan menurunkan respon terhadap >O' intubasi
akan merangsang pembentukan mukus.
h. "epentingan pemeriksaan darah
- 9b + operasi akan menyebabkan kehilangan darah sehingga sebelum operasi,
penderita diharapkan memiliki 9b normal, selain itu 9b uga menentukan prognosa
post operasi.
- %eukosit + melihat tanda infeksi sistemik
- Trombosit + bila trombositopenia akan memudahkan teradinya perdarahan.
- *iuresis + memperkirakan fungsi dari ginal.
- ?lektrolit + menentukan apakah ada kelainan @hipo atau hiperA elektrolit yang dapat
mempersulit intra operasi dan post operasi.
i. "epentingan menanyakan pengobatan terakhir untuk mengetahui apakah obat-obat
yang akan digunakan ada yang berinteraksi dengan obat-obat anestesi, misalnya Ca
Channel Blocker, "ortikosteroid, Beserpin, %evodopa, Propanolol dll.
. "epentingan ditanyakan penyulit lain untuk menentukan enis teknik anestesi yang
akan dipakai dan resiko yang akan teradi.
A#A 'A(eri)an #)iet* & Anaesthesilgist+ adalah klasifikasi yang la/im digunakan
untuk menilai status fisik pasien pra-anestesi. "lasifikasi ini berasal dari The American
Society of Anesthesiologist yang terdiri dari+
- 8S8 4 + Pasien dalam keadaan sehat organik, fisik, fisiologis, biokimia, psikologis.
- 8S8 44 + Pasien dengan kelainan sistemik ringan sampai sedang, baik karena penyakit
bedah maupun penyakit lainnya.
- 8S8 444 + Pasien dengan gangguan atau penyakit sistemik berat yang diakibatkan
karena berbagai penyebab, sehingga aktivitas rutin terhambat.
- 8S8 4: + Pasien dengan keluhan sistemik berat, tak dapat melakukan aktivitas rutin
dan dapat mengancam kehidupannya.
- 8S8 : + Pasien yang sekarat, diperkirakan dengan atau tanpa pembedahan hidupnya
tidak akan lebih dari 'C am.
2.2 Persia%an &ar(aklgi
*alam memilih obat-obatan yang sesuai untuk pengobatan preoperatif kondisi
psikologis pasien dengan status fisik tetap menadi pertimbangan.Seorang ahli anestesi
harus mengetahui berat badan pasien, dan respon terhadap obat-obatan depresan,
termasuk efek samping yang tidak diinginkan, dan alergi. Tuuan yang hendak dicapai
pada setiap pasien dengan pengobatan preopertif disesuaikan pada setiap pasien. Tuuan
melepaskan rasa cemas,dan membentuk sedasi, dapat diterapkan pada setiap pasien.
Pengobatan profilaksis terhadap alergik merupakan beberapa penyesuaian. Pencegahan
reflek otonom yang dimediasi oleh saraf vagus dan efek antiemetik lebih diutamakan
pada saat pengobatan preoperatif.
Sebagian besar pengobatan preoperatif tidak mengurangi keseluruhan anestesi,
tetapi pengobatan preoperatif mencegah peningkatan konsentrasi plasma dari D-
endorphin, yang secara normal mengikuti respon terhadap stress.Pada beberapa pasien
sebaiknya tidak menerima antidepresan sebelum pembedahan. Pasien dengan usia lanut,
atau trauma kepala atau hipovolemia akan lebih merasakan sakit dibandingkan dengan
yang telahmenerimaterapi premedikasi. Pada pembedahan yang bersifat elektif, seorang
ahlin anestesi akan menginingkan pasiennya masuk ke kamar operasi terbebas dari rasa
cemas dan tersedasi.
,arius gals &r %re%erati& (e!i)ine
). Belief of an;iety.
'. Sedation
7. 8mnesia
C. 8nalgesia
#. *rying of airway secretions
<. Prevention of autonomic refle; responses
&. Beduction of gastric fluid volume and increased ph
5. 8ntiemetic effects
1. Beduction of anesthetic reEuirements
)$. Facilitation of smooth induction of anesthesia
)). Prophyla;sis againts allergic reactions

1. #e!asi- hi%nsis !an %enenang
Ben.!ia.e%in
Ben/odia/epin adalah salah satu obat yang paling populer yang digunakan dalam
pengobatan preoperatif. Obat ini digunakan untuk menghilangkan rasa cemas, sedasi,
dan membuat amnesia penderita. ?fek antikonvulsan dan pelemas otot dari
ben/odia/epin tidak begitu penting ketika obat ini diberikan. 9al ini disebabkan
tempat kera dari ben/odia/epin berada pada susunan saraf pusat yang berefek sedikit
mendepresi pernafasan atau kardiovaskular pada dosis premedikasi. Ben/odia/epin
memiliki efek terapi yang lebar dan insidensi rendah teradinya keracunan.Secara
spesifik mual dan muntah biasanya tidak berkaitan dengan pemberian ben/odia/epin
pada pemberian preoperatif. Obat-obatan ini biasanya digunakan uga sebelum
operasi untuk mengurangi mimpi buruk dan delirium yang muncul setelah pemberian
ketamin.
Terdapat beberapa efek samping yang tidak diinginkan dan meracuni dari
ben/odia/epin. *epresi ssp yang bersifat panang dan menyeluruh, terutama bila
digunakan bersama lora/epam. Pada pemberian dia/epam secara intramuskuler atau
intraven, dapat teradi rasa sakit pada tempat penyuntikan , sebagaimana mungkin
teradi pula suatu phlebitis. Obat-obatan ini bukanlah suatu pereda nyeri.
Ben/odia/epin tidak selalu bersifat menenangkan, tapi mungkin mengakibatkan
agitasi dan uga delirium. ?fek sedasi dari ben/odia/epin berasal dari penguatan atau
penghambatan neurotransmiter yang dimediasi oleh G aminobutyric acid.
Dia.e%a(
?fek sedasi, amnesia, dan penenang dari dia/epam, membuat obat ini menadi
pilihan paling populer sebagai obat premedikasi. Obat ini merupakan obat standar
terhadap ben/odia/epin.lainnya. karena dia/epam tidak larut dalam air dan harus
berdisosiasi pada pelarut organik @propylene, glycol, sodium ben/oatA, rasa sakit
mungkin muncul pada pemberian intramuskuler ataupun pada pemberian intravena.
Phlebitis sering merupakan geala sisa dari ineksi intravena. Pemberian dia/epam
secara oral dengan )#$cc air lebih disukai daripada pemberian ineksi intramuskuler.
%ebih dari 1$ persen dosis oral dia/epam ceoat diserap. ?fek puncak dapat teradi
setelah pemberian oral dalam waktu $,# -) am pada orang dewasa dan )#-7$ menit
pada anak-anak. *ia/epam tidak melewati membran pasenta,dengan level konsentrasi
pada bayi yang setara atau melewati level ibu. "arena dia/epam terikat kuat dengan
protein, maka pasien dengan albumin yang rendah, seperti pada sirosis hepatis atau
gagal ginal kronis, mengakibatkan peningkatan efek dari obat. *ia/epam
dimetabolisme reaksi oksidatif ! dimethylasi menadi metabolit yang lebih lemah.
*imethyldia/epam dan o;a/epam adalah metabolit primer. Seumlah kecil obat
dimetabolisir menadi tema/epam. Haktu paruh dari dia/epam adalah ')-7& am pada
orang normal. Pada pasien usia lanut dan sirosis pemberian dia/epam secara peroral
lebih disukai.
Terdapat sedikit efek dari dia/epam di luar ssp. *epresi normal dari saluran
pernafasan, sirkulasi atau fungsi hepar dan renal dapat teradi. %ebih lanut, depresi
ventilator dapat terdiri atas obat-obatan depresi lain, terutama opioid dan alcohol.ada
sedikit depresi kardiovaskular terlihat setelah penggunaan dia/epam untuk medikasi
preoperative. Tentunya, dosis intravena lebih tinggi menghasilkan depresi sirkulasi
lebih kecil. @)<A tidak banyak efek klinis pada neuromuscular unction setelah
pemberian dia/epam untuk medikasi preoperative. Telah ada berbagai usaha untuk
menurunkan myalgia dan fasciculation akibat dari succinylcholine dengan dia/epam.
?fek fasciculations bervariasi, tetapi myalgia menurun pada suatu percobaan. @)1A
Premedikasi dengan dia/epam tidak dapat dipercaya mencegah kenaikan tekanan
intraokuler setelah intibasi trakea. @'$A
Pada binatang, dia/epam telah menurunkan ambang keang untuk lidokain,
namun efek ini belum dapat dibuktikan pada manusia. @')A
Beberapa kontroversi ada karena interaksi dia/epam dengan obat-obat lain.
Simetidin menghambat hepatic clearance dari dia/epam. @''A Tuuan dari mekanisme
ini yaitu inhibisi en/im mikrosomal dari simetidin. 8da beberapa pertanyaan yaitu
apakah hal ini secara klinis signifikan ketika dia/epam digunakan sebagai dosis
tunggal sebelum operasi. *ia/epam $,' mg(kg telah menunukkan penurunan
konsentrasi alveolar minimum untuk halothane. @'7A Puncak reduksi dari kebutuhan
anestesi dari dosis premedikasi dapat atau tidak dapat penting untuk anesthesiologist.
Lra.e%a(
%ora/epam memiliki struktur serupa dengan o;a/epam dan #-)$ kali lebih baik
dari dia/epam. %ora/epam dapat menghasilkan amnesia, meredakan kecemasan, dan
sedasi. @.ambar ')-CA. @'CA "etika lora/epam dibandingkan dengan dia/epam,
efeknya mirip sekali. 3eskipun lora/epam tidak larut dalam air dan membutuhkan
pelarut seperti polyethylene glycol atau propylene glycol, masuknya lora/epam, tidak
seperti dia/epam, tidak berhubungan dengan nyeri saat ineksi atau phlebitis. Sedasi
berkepanangan biasa teradi pada penggunaan dia/epam. 3eskipun eliminasi waktu
paruh dia/epam lebih lama daripada lora/epam @'$-C$ am dibandingkan )$-'$ amA,
efek dia/epam dapat memendek karena lebih tidak berhungan dengan reseptor
ben/odia/epine. @'#A
%ora/epam dipercaya diabsorsi secara oral dan intramuskuler. ?fek maksimal
muncul 7$-C$ menit setelah ineksi intravena. @'<A Bradshaw et al
mendemonstrasikan efek klinis 7$-<$ menit setelah masuknya dia/epam oral. @'&A
sebuah penelitian oleh Blitt et al menunukkan ketiadaan ingatan tidak dihasilkan
sampai ' am setelah ineksi intramuskuler. @'5A "onsentrasi puncak plasma dapat
tidak muncul sampai '-C am setelah masuknya obat-obatan oral. Oleh sebab itu,
lora/epam harus dipertimbangkan dengan baik sebelum operasi sehingga obat
tersebut memiliki waktu untuk efektif sebelum pasien masuk ke kamar operasi.
%ora/epam uga dapat diberikan secara sublingual. @'1A Sebagaimana yang telah
dielaskan sebelumnya, eliminasi waktu paruh yaitu )$-'$ am.
*osis biasa antara '#-#$ g(kg. *osis untuk dewasa tidak boleh melebihi C,$ mg.
@'C,'#,7$A dengan dosis rekomendasi, amnesia antegrad dapat dihasilkan selama C-<
am tanpa sedasi berlebihan. *osis lebih tinggi menghasilkan sedasi berkepanangan
dan berlebihan tanpa lebih banyak amnesia. "erena onset yang lama dan panang
kera, lora/epam tidak berguna dengan cepat dimana diinginkan bangun cepat, seperti
pada anestesi pasien bukan rawat inap. Tidak ada metabolit aktif dari lora/epamI dan
karena metabolismenya tidak tergantung dari en/im mikrosomal, ada pengaruh yang
kurang pada efeknya dari usia atau penyakit hati. @7)A *ibandingkan dengan
dia/epam, sedikit depresi kardiovaskular muncul dengan lora/epam. !amun, ada
bahaya depresi respirasi yang tidak diinginkan pada dosis pada penyakit paru. @7'A
Mi!a.la(
3ida/olam telah mendominasi menggantikan dia/epam pada penggunaannya
sebagai medikasi preoperative dan sedasi sadar. Bahan-bahan psikokimia dari obat itu
berguna untuk kelarutannya dalam air dan metabolisme cepat. Sedangkan dengan
ben/odia/epin lain, mida/olam menghasilkan an;iolysis, sedasi, dan amnesia. 4ni '
sampai 7 kali lebih poten daripada dia/epam karena peningkatannya pada reseptor
ben/odia/epun. *osis biasa intramuskuler adalah $,$#-$,) mg(kg dan titrasi ),$-',#
mg pada intravena. Tidak ada iritasi atau phlebitis dengan ineksi mida/olam.
4nsidensi efek samping setelah masuknya obat rendah, meskipun depresi ventilasi dan
sedasi dapat lebih dari yang diharapkan, terutama pada pasien tua atau ketika obat
dikombinasikan dengan depresan system saraf pusat lain. 8da onset yang cepat pada
kera dan absobrsi yang diperkirakan setelah ineksi intramuskular mida/olam
daripada dia/epam. Haktu onset setelah ineksi intramuskuler #-)$ menit, dengan
efek puncak muncul setelah 7$-<$ menit. Onset setelah masuknya intravena sebesar #
mg diperkirakan muncul setelah )-' menit. *itambahkan onset yang lebih cepat,
penyembuhan lebih cepat muncul setelah masuknya mida/olam dibandingkan dengan
dia/epam.
9al ini mungkin sebagai hasil kelarutan mida/olam pada lemak dan distribusi
yang cepat pada aringan perifer dan biotransformasi metabolic. 8tas alasan ini,
mida/olam biasanya diberikan dalam waktu ) am induksi. @77A 3ida/olam
dimetabolisme dengan en/im mikrosomal hepatic untuk mencapai metabolisme
hidroksilasi yang inaktif. Beseptor 9' antagonis tidak mempengaruhi metabolisme.
@7CA ?liminasi waktu paruh mida/olam kira-kira )-C am dan dapat memanang pada
orang tua. @7#A Percobaan menunukkan fungsi mental biasanya kembali ke normal
dalam C am masuknya obat. @77A Setelah masuknya # mg, amnesia berakhir dari '$-
7' menit. @7<A 3asuknya obat intramuskuler dapat menghasilkan periode amnesia
lebih panang. 9ilangnya ingatan dapat diakibatkan oleh masuknya skolpolamin
berkelanutan. Obat-obatan mida/olam membuat hal ini ideal untuk prosedur yang
pendek.
Ben.!ia.e%in lain
O;a/epam, ben/odia/epin lain telah digunakan untuk medikasi preoperative,
merupakan salah satu metabolisme aktif farmakologi dari dia/epam. 4ni diabsorbsi
lambat setelah masuknya obat oral dan memiliki eliminasi waktu paruh #-)# am.
Tema/epam telah diberikan pada dosis oral '$-7$ mg sebelum operasi. 4ni harus
diberikan dengan benar sebelum operasi karena tingkat plasma puncak tidak muncul
sampai kira-kira '-',# am setelah masuknya obat. Tria/olam merupakan
ben/odia/epin kera pendek. *osis obat oral pada dewasa yaitu $,'#-$,# mg.
"onsentrasi plasma puncak timbul kira-kira ) am dan eliminsi waktu paruh yaitu
),&-#,' am. Obat dapat menadi kera panang pada orang tua. Sama dengan,
penelitian oleh Pinnock et al tidak menunukkan tria/olam menadi durasi pendek
ketika dibandingkan dengan dia/epam untuk premedikasi pada operasi minor
ginekologi. @7&A 8lpra/olam @)mgA diberikan pada dewasa telah menunukkan
prosedur reduksi yang sederhana pada kecemasan sebelum operasi. @75A
Bar/iturat
Penggunaan barbiturat untuk medikasi preoperative adalah waktu percobaan
dengan angka keamanan yang panang. Obat-obatan ini digunakan secara primer
untuk efek sedatifnya. Sementara masuknya barbiturat untuk persiapan farmakologi
sebelum operasi telah digantikan pada berbagai hal dengan penggunaan
ben/odia/epin, ini berguna dalam hal-hal tertentu. Sedikit deprsei kardiorespirasi
dihubungkan dengn dosis preoperative biasa. Barbiturat dapat diberikan oral uga
parenteral, dan obat-obatan relatif tidak mahal. Barbiturat, bagaimanapun, tidak
menghasilkan sedasi pada nyeri. Sebetulnya, disorientasi dan eksitasi paradoksik
dapat muncul. *osis rendah barbiturat telah dikatakan merendahkan ambang nyeri
dan menadi antianalgesik. 8gen kekurangan spesifisitas aksi pada system saraf pusat
dan mempunyai indeks terapeutik yang lebih rendah daripada ben/odia/epin.
Barbiturat sebaiknya tidak digunakan pada pasien dengan beberapa macam porphyria
tertentu. Secobarbital. Secobarbital biasanya digunakan pada dewasa dalam dosis
oral #$-'$$ mg ketika untuk medikasi preoperative. Onset biasanya muncul <$-1$
menit setelah masuknya obat, dan efek sedatif bertahan C am atau lebih. Tentunya,
meskipun secobarbital dulu telah dipertimbangkan sebagai kera pendek barbiturat,
ini dapat menunukkan kera selama )$-'' am. @71A
Pentobarbital. Pentobarbital biasanya digunakan secara oral atau parenteral. *osis
oral digunakan untuk dewasa biasanya #$-'$$ mg. Pentobarbital memiliki
biotransformasi waktu paruh sekitar #$ am. "arena itu, penggunaannya tidak sering
cocok untuk prosedur singkat.
But*r%hennes
*osis intravena atau intramuskular ',#-&,# mg droperidol menghasilkan keadaan
sedasi pada pasien sebelum operasi. Penenang dan tranEuilitas telah diobservasi,
namun pasien biasanya menyatakan merasa disforia dan tidak bisa beristirahat dan
bahkan mengalami ketakutan akan mati. Perasaan disforia pasien mengakibatkan
penolakan terhadap tindakan operasi. "arena droperidol merupakan antagonis
dopamine, tanda-tanda ekstrapiramidal dapat muncul setalah masuknya obat. @C$A ini
telah dilaporkan muncul sekitar )2 pasien.
Butyrophenone uga menyebabkan efek -bloking yang ringan. Butyrophenone
lain, haloperidol, uga obat anti-psikotik kera panang yang arang digunakan untuk
medikasi preoperative.
Sekarang, droperidol biasanya digunakan untuk efek antiemesis daripada bahan
sedatif @lihat 8ntiemesisA. *osis klinis rendah @sampai ',# mgA droperidol telah
digunakan sebelum operasi atau hanya sebelum emergensi dari anestesi untuk
mencegah mual dan muntah pada kamar pemulihan.
Sebagai reseptor bloker dopaminergik, droperidol mencapai efek inhibisi
dopamine pada badan karotis dan respon ventilator pada hipoksia. "onsekuensinya,
ini memberikan respons badan karotis pada hipoksia. ,ntuk alasan ini, dikatakan
droperidol memberikan dapat menadi premedikasi yang baik untuk pasien yang
tergantung pada alat ventilator hipoksia @.ambar ').#A. @C)A
0/at1/at #e!ati& Lain
Hydroxyzine
9ydro;y/ine merupakan obat penenang nonphenothia/ine. Biasanya diberikan
untuk tuuan efek tambahan pada opioid dan tidak menyebabkan peningkatan dalam efek
samping. 9ydro;y/ine memiliki aksi sedatif dan bahan an;iolitik. 4ni memiliki batas
bahan analgesik dan tidak menghasilkan amnesia. 4ni merupakan antihistamin dan
antiemetik.
Diphenhydramine
*iphenhydramine merupakan rseptor histamin antagonis dengan aktifitas sedatif
dan antikolonergik. -uga merupakan antiemetik. *osis #$ mg akan bertahan 7-< am pada
dewasa. *iphenhydramine telah sering digunakan akhir-akhir ini dalam kombinasi
dengan simetidin, steroid, dan obat-obat lain untuk profiklasis pada pasien dengan atopi
kronis dan untuk profilaksis sebelum khemonukleolisis dan penelitian yang berkaitan.
@C'A *iphenhydramine menghambat reseptor histamin untuk mencegah efek histamin
perifer.
Phenothiazine
Prometha/ine, proma/ine, dan perphena/ine biasanya digunakan dalam
kombinasi dengan opioid. Phenothia/ine memiliki bahan sedatif, antikolinergik, dan
antiemetik. ?fek-efek ini, ditambahkan efek analgesik opiod, telah digunakan untuk
medikasi preopratif.
2. Analgetik
0%ii!
3orfin dan meperidine dahulu merupakan enis opioid yang sering digunakan
untuk medikasi preoperatif intramuskular. 8khir-akhir ini, penggunaan fentanyl
intravena sebelum operasi telah popular. Opioid digunakan ketika analgesi
dibutuhkan sebelum operasi. Telah dikatakan pada kalimat yang elas bahwa Jikalau
ada nyeri, tidak dibutuhkan narkose dalam medikasi preanestesiK. @C7A ,ntuk pasien
yang mengalami myeri sebelum operasi, opioid dapat memberikan analgesia yang
baik dan bahkan euphoria. Opioid telah digunakan untuk pasien sebelum operasi
untuk mengurangi ketidaknyamanan yang dapat muncul selama anestesi regional atau
insersi invasive kateter monitor atau alur intravena yang besar. *osis opioid dapat
dikurangi pada pasien retardasi mental atau orang tua. Pasien orang tua seringkali
mengalami pengurangan sensitivitas nyeri. %ebih lanut, pasien orang tua dapat
memiliki respon analgesik yang meningkat pada opioid. Opioid uga telah digunakan
sebelum operasi dalam pasien tergantung opioid.
Sensitivitas hipoksia @perubahan dalam ventilasi untuk tiap kenaikan )2 dalan
saturasi oksigenA meningkat setelah masuknya droperidol intravena, ',# mg. Symbol
solid melambangkan percobaan ulangan pada subek yang sama seperti yang telah
diperlihatkan oleh symbol terbuka. @*ikutip dari Hard *S + Stimulation of hypoxic
ventilatory drive by droperidol. 8nesth 8nalg <7+)$<, )15CA.
3asuknya preoperative opioid dalam hal yang lain telah controversial. 4ni telah
diberikan sebelum operasi mendahului anestesi opioid nitro-oksi. 9al ini dilakukan
sebagai usaha untuk memperoleh kadar basal anestesi yang tepat ketika pasien sampai
di kamar operasi dan untuk mendapatkan pendahuluan respons pasien terhadap
opioid. Opiod telah diberikan pada pasien sebelum operasi untuk menyediakan
analgesi pada saat meraka sadar dalam kamar pemulihan. Pendekatan lainnya adalah
untuk mentitrasi opioid intravena selama emergensi atau saat pasien tiba di kamar
pemulihan. 3asuknya preoperative opioid dapat merendahkan kebutuhan anestesi.
@CCA hal ini dapat atau tidak dapat secara klinis signifikan untuk pasien secara spesifik
menerima teknik anestesi khusus. Beberapa anesthesiologist menggunakan opioid
dalam kombinasi dengan obat lain sebelum operasi untuk menyediakan anestesi
induksi dengan masker. 9al ini popular terutama pada pasien dimana alur intravena
untuk induksi obat tidak dapat digunakan. Lang harus diingat bahwa opioid
menurunkan ventilasi selama nafas spontan dan karenanya menurunkan masuknya
obat-obat inhalasi. -ika dibutuhkan, anesthesiologists dapat menginginkan untuk
menggunakan ventilasi bantuan atau terkontrol dari paru-paru untuk menghasilkan
efek depresi respirasi dari opioid. 8khirnya, opioid bukan merupakan obat terbaik
untuk meredakan apprehensi, menghasilkan sedasi, atau mencegah ingatan kembali.
3asuknya opioid telah memberikan potensi untuk menyebabkan beberapa efek
samping. Biasanya menghambat bukan efek myocardial kecuali pada kasus dari
meperidine dosis tinggi. !amun, opioid mempengaruhi konstriksi kompensasi dari
otot halus dari pembuluh darah perifer. 9al ini menyebabkan hipotensi orthostatic.
Pelepasan histamin setelah ineksi morfin dapat terdiri dari efek-efek sirkulasi ini.
*engan medikasi preoperative yang sering, merupakan hal teraman untuk pasien
tetap tirah baring setelah premedikasi opioid. Bahan analgesi dan efek depresi
respirasi opioid berlangsung selang-seling. Penurunan karbondioksida pada pusat
respirasi meduler dapat diperpanang. %ebih lanut, ada penurunan respon pada
hipoksia pada badan karotis hanya setelah ineksi opioid dosis rendah. @C#A
8nesthesiologists dapat menginginkan untuk pemikiran oksigen suplemen pada
pasien yang mendapat premedikasi opioid. *alam hal umum, opioid agonis-antigonis
menghasilkan depresi respirasi lebih rendah, namun uga menghasilkan disforia.
"etika efek samping ini muncul, biasanya terlihat pada pasien yang tidak
mengalami nyeri sebelum operasi dan telah menerima premedikasi opioid. 3ual dan
muntah dapat merupakan hasil dari masuknya opioid. ?fek opioid pada apparatus
vestibuler menyebabkan aksi kesakitan atau stimulasi dari khemoreseptor meduler
/ona pemacu yang dikatakan sebagai penyebab mual dan muntah. Spasme sfingter
choledochoduodenal @sfingter OddiA telah sering diperhatikan tidak sering teradi
pada ineksi opioid. Opioid menghasilkan konstriksi otot halus, yang menyebabkan
nyeri kuadaran kanan atas. @C<A pereda nyeri dapat dicapai dengan nalo;one atau
glikagon yang memungkinkan. Biasanya, nyeri dari spamne traktur biliaris sulit untuk
dibedakan dari nyeri angina pectoris. 3asuknya nitrogliserin harus meredakan angina
pectoris dan nyeri dari spasme traktus biliarisI antagonis opioid harus meredakan
hanya nyeri akibat spasme traktus biliaris. Beberapa pertanyaan pada penggunaan
premedikasi opioid dalam pasien dengan penyakit traktus biliaris. Semua opioid telah
berpotensi untuk menyebabkan spasme sfingter choledochoduodenal. 3eperidine
kurang lebih seperti morfin untuk menghasilkan efek samping ini. Opioid dapat
menyebabkan pruritus. 3orfin, mungkin lewat pelepasan histamin, sering
menghasilkan gatal-gatal, terutama sekitar hidung. Opioid uga dapat menyebabkan
kemerahan, pusing, dan miosis.
Obat-obat lain biasanya dikombinasikan dengan opioid untuk efek tambahannya
atau untuk menyembuhkan kerugian efek samping opioid. 9ipnotik-sedatif dan
skopolamin biasanya digunakan dengan opioid untuk menghasilkan sedasi,
an;iolysis, dan amnesia dalam tambahan analgesia. Pada pasien tertentu, kombinasi
dari morfin dan ben/odia/epin atau skopolamin dapat berguna untuk bahan
farmakologi preoperative.
Mr&in
3orfin diabsorbsi dengan baik setelah ineksi intramuskuler. Onset efeknya
muncul dalam )#-7$ menit. ?fek puncak muncul dalam C#-1$ menit dan bertahan
selama C am. Setelah masuknya intravena, efek puncak biasanya muncul dalam '$
menit. 3orfin tidak dipercaya diabsorbsi setelah masuknya obat oral. *engan opioid
lain, depresi ventilasi dan hypotensi orthostatic dapat muncul setelah ineksi morfin.
?fek morfin pada /ona pemacu khemoreseptif dapat mengahsilkan mual dan muntah.
3ual dan muntah dapat uga muncul sebagai komponen vestibuler. 9al ini telah
dikatakan karena pasien supinasi kurang lebih mengeluh mual dan muntah. Setelah
masuknya morfin, motilitas traktus gastrointestinal menurun. -uga sekresi
gastrointestinal meningkat.
Me%eri!ine
"ekuatan meperidine kira-kira sepersepuluh dari pada morfin. 3eperidine dapat
diberikan secara oral maupun parenteral. *osis tunggal meperidine dapat
berlangsung selama '-C am. Onset kera setelah ineksi intramuskular tidak dapat
diprediksi, dan terdapat variabilitas yang besar dalam mencapai puncak efektivitas.
3eperidine terutama dimetabolisme di hati. Peningkatan denyut antung maupun
hipotensi ortostatik dapat teradi setelah pemberian meperidine.
2entan*l
Fentanyl merupakan opioid agonis sintetik yang secara struktural serupa dengan
meperidine. Fentanyl mempunyai kekuatan analgesik &#-)'# kali lebih kuat daripada
morfin. "elarutan fentanyl dalam lemak lebih besar daripada morfin, sehingga onset
keranya lebih cepat. "onsentrasi puncak dalam plasma teradi dalam <-& menit
setelah pemberian intravena dan waktu paruh eliminasinya adalah 7-< am. *urasi
kera obat ini pendek karena teradi redistribusi ke aringan-aringan inaktif, seperti
paru-paru, lemak, dan otot lurik. 3etabolisme terutama teradi oleh !-demetilasi
yang mengubahnya menadi norfentanil, yang potensi analgesiknya kurang kuat. Pada
orang tua eliminasi obat ini menadi lebih lama karena teradi penurunan rasio klirens
fentanyl.
Pemberian )-' Mg.kg
-)
fentanyl intravena, dapat digunakan sebagai analgetik pre
operatif. Terdapat sediaan fentanyl oral transmukosa, yang dapat diberikan dengan
dosis #-'$ Mg.kg
-)
. Sediaan ini telah di teliti sebagai premedikasi untuk mengurangi
kecemasan dan nyeri baik pada dewasa maupun anak-anak. "arena insidensi mual
dan muntah setelah pemberian pre operatif tinggi @pada dosis lebih dari )# Mg.kg
-)
A,
pemberian fentanyl oral transmukosa tidak dianurkan pada anak-anak kurang dari <
tahun.
Fentanyal dapat menyebabkan depresi miokard maupun pelepasan histamin,
tetapi mungkin disebabkan oleh depresi ventilasi dan bradikardia yang berat. Fentanyl
mempunyai efek sinergis ika diberikan bersamaan dengan ben/odia/epin sehingga
memerlukan observasi ketat ika kombinasi ini diberikan pada pre operatif.
Agnis1antagnis %ii!
Opioid agonis-antagonis merupakan pengobatan preoperatif terpilih untuk
mengurangi efek samping ventilasi yang bisa teradi karena pemberian agonis opioid
murni. 8kan tetapi terdapat keterbatasan efek analgetik. ?fek samping agonis-antagonis
opioid mirip dengan opioid murni. Sebagai tambahan, disforia lebih sering teradi setelah
pemberian agonis-antagonis opioid.
9al lain yang harus diingat, obat agonis-antagonis dapat mengurangi efektifitas
opioid agonis murni dalam mengontrol nyeri post operatif. Opioid agonis-antagonis yang
sering digunakan yaitu penta/ocine, butorphanol, dan nalbuphine.
%H !an ,lu(e 3airan 4aster
Banyak pasien yang masuk kamar operasi mempunyai risiko teradi aspirasi
pneumonitis. >ontoh klasik yaitu pasien dengan akut abdomen yang harus segera
dioperasi. Hanita hamil, pasien dengan obesitas, diabetes, hiatus hernia atau refluks
gastroesofageal, seluruhnya berada dalam risiko aspirasi isi gaster dan selanutnya
mengalami chemical pneumonitis. Halaupun tidak pasti, pada orang dewasa diyakini
bahwa bila teradi aspirasi cairan gaster lebih dari '# ml dengan p9 dibawah ',# akan
menyebabkan pneumonia. 9al ini belum, dan mungkin tidak akan pernah, dibuktikan
pada manusia.
8kan tetapi, dengan dasar ini, beberapa ahli memperkirakan bahwa C$-5$ 2
pasien yang diadwalkan operasi elektif berada dalam risiko. 8kan tetapi, secara klinis
aspirasi cairan gaster ke paru-paru yang signifikan, sangat arang teradi pada pasien yang
menalani operasi elektif, dan hanya sedikit ahli anestesi yang menganurkan profilaksis
rutin.
Perkiraan sebelumnya mengenai volume cairan gaster yang lebih besar dan p9
yang lebih rendah pada pasien rawat alan dibandingkan pasien rawat inap belum
dikonfirmasi lagi.
"epentingan puasa dulu sebelum induksi anestesi untuk operasi elektif
mengalami pertentangan. Beberapa institusi mengi/inkan minum air putih sampai 7 atau
bahkan ' am sebelum operasi untuk pasien-pasien tertentu. Penelitian yang sama oleh
Shevde dan Trivedi menggambarkan pemberian 'C$ ml air, kopi, atau us eruk pada
sukarelawan sehat. Seluruhnya mempunyai volume gaster kurang dari '# ml dengan
sedikit penurunan p9 dalam ' am setelah pemberian salah satu cairan tersebut. Terdapat
perhatian khusus terhadap kenyamanan, hipovolemi, dan hipoglikemi peri operatif pada
usia anak-anak setelah puasa lama. Penelitian Splinter dkk pada anak-anak usia '-)'
tahun menyimpulkan bahwa pemberian air putih sampai 7 am sebelum adwal operasi
tidak mempunyai efek yang dapat diukur terhadap volume dan p9 gaster.
Penelitian lain pada bayi, anak-anak, dan dewasa yang diadwalkan operasi elektif uga
didapatkan hasil serupa.
"arena itu, ketakutan pemberian cairan oral pada pagi hari sebelum pembedahan
akan menyebabkan peningkatan volume cairan gaster tidak ditemukan. 8kan tetapi perlu
dihargai uga karena data di atas didapatkan dari pasien sehat yang tidak dalam risiko
teradi aspirasi dan hanya dengan pemberian air putih.
Banyak obat-obatan yang telah digunakan untuk mengubah dan meningkatkan p9
cairan gaster. 8ntikolinergik, antagonis reseptor 9', antasid, dan golongan gastrokinetik
telah digunakan untuk mengurangi kemungkinan teradinya aspirasi pneumonitis.
3. Antiklinergik
Baik atropin maupun glycopyrrolate sangat efektif dalam meningkatkan p9 atau
menurunkan volume cairan gaster. Penelitian oleh Stoelting menunukkan bahwa dengan
pemberian secara intramuskular )-),# am sebelum operasi, baik atropin @$,C mgA
maupun glycopyrrolate @$,' mgA dapat mengubah p9 atau volume cairan gaster dengan
sukses. Penelitian yang sama dilaporkan bahwa pemberian glycopyrrolate @C-# Mg.kg
-)
A
sebelum operasi tidak menurunkan persentase pasien yang dalam risiko aspirasi
pneumonitis.
"arena, terdapat umlah pasien yang signifikan dengan p9 cairan gaster tetap di
bawah ',# dan volume cairan gaster lebih dari $,C ml.kg
-)
. Pemberian dosis tinggi
glycopyrrolate uga tidak lebih efektif. %ebih auh lagi, dosis intravena antikolinergik
dapat menyebabkan relaksasi gastroesophageal unction. Secara teoritis, hal ini dapat uga
teradi setelah pemberian dosis intaramuskular. "arena itu, risiko aspirasi pneumonitis
dapat meningkat, tetapi efek spesifik pemberian antikolinergik intramuskular untuk pre
operatif belum terbukti.
Antagnis 5ese%tr Hista(in
8ntagonis reseptor 9', cimetidine, ranitidine, famotidine, dan ni/atidine
mengurangi sekresi asam lambung. 3ereka menghamabat kemampuan histamin untuk
menginduksi sekresi asam lambung dengan konsentrasi ion hidrogen tinggi. "arena itu,
antagonis reseptor 9' meningkatkan p9 cairan lambung. 8ntagonis reseptor 9' bekera
secara selektif dan kompetitif. Penting untuk diingat bahwa obat-obat ini tidak dapat
diharapkan dapat mempengaruhi volume cairan lambung atau waktu pengosongan
lambung. *ibandingkan dengan obat-obatan pre medikasi lain, golongan ini mempunya
efek samping yang relatif sedikit. "arena efek sampingnya sedikit dan banyak pasien
elektif berada dalam risiko aspirasi pneumonitis, beberapa ahli anestesi menganurkan
pemberian antagonis reseptor 9' pre operatif. Pemberian dosis berulang mungkin lebih
efektif dalam meningkatkan p9 lambung daripada dosis tunggal sebelum hari operasi.
8ntagonis 9' uga dapat digunakan pada pasien yang alergi atau untuk persiapan bila
pasien akan terpapar /at-/at yang dapat memicu respon alergi, seperti chymopapain.
Cimetidine. >imetidine biasanya diberikan dengan dosis )#$-7$$ mg secara oral
maupun parenteral. Pemberian 7$$ mg cimetidine oral )-),# am sebelum operasi telah
menunukkan peningkatan p9 cairanlambung diatas ',# pada 5$ 2 pasien. Tidakada efek
pada volume cairan lambung. 8kan tetapi, penelitian oleh 3aliniak dkk menunukkan
bahwa cimetidine @7$$ mgA yang diberikan secara intravena ' am sebelum operasi
meningkatkan p9 cairan lambung dan menurunkan volume cairan lambung. >imetidine
dapat diberikan intravena untuk pasien yang tidak dapat menggunkan pengobatan oral.
,ntuk pasien obesitas mungkin perlu untuk meningkatkan dosisnya. >imetidine dapat
menembus plasenta, tetapi efek pada fetus terbukti. Pada satu multicenter, )'< pasien
yang telah menalani seksio sesarea dengan anestesi umum diteliti. Pasien-pasien ini
mendapatkan baik 7$ ml antasid )-7 am sebelum operasi atau 7$$ mg cimetidine oral
pada waktu tidur dan intramuskular )-7 am sebelum operasi. Terdapat peningkatan p9
cairan lambung dan penurunan volume cairan lambung pada kelompok yang
mendapatkan cimetidine.
Lang paling penting dari diskusi ini, tidak terdapat perbedaan neurovehavioral
pada neonatus antara kedua kelompok tersebut. ?fek ke lambung dari cimetidine
berlangsung selama 7 atau C am, dan oleh karena itu obat ini sesuai untuk operasi dan
selama operasi berlangsung. >imetidine mempunyai sedikit efek samping, tetapi terdapat
beberapa hal yang harus dicatat. >imetidine menghambat sistem en/im oksidase heparI
karena itu, dapat memperpanang waktu paruh banyak obat, termasuk dia/epam,
chlordia/epo;ide, theophyline, propanolol, dan lidocaine. ?fek samping klinis setelah
satu atau dua dosis pre operatif cimetidine tidak dapat dipastikan. Terdapat uga beberapa
hal yang perlu dipertanyakan mengenai penurunan aliran darah hepar oleh cimetidine dan
pemanangan efek obat pada pasien gagal ginal. >ardiac dysrythmia, hipotensi, cardiac
arrest, dan depresi susunan saraf pusat telah dilaporkan setelah pemberian cimetidine.
?fek samping ini cenderung teradi pada pasien-pasien kritis setelah pemberian intravena.
Tahanan alan nafas dapat meningkat pada pasien asma karena cimetidine dapat
menghasilkan mediator reseptor 9' yang menyebabkan konstriksi bronkus. Seperti telah
dielaskan sebelumnya, cimetidine tidak mempengaruhi cairan lambung yang sudah ada.
Ranitidine. Banitidine merupakan obat yang lebih kuat, spesifik, dan mempunyai
durasi kera yang lebih lama daripada cimetidine. *osis oral yang biasa digunakan adalah
#$-'$$ mg. Banitidine, #$-)$$ mg, yang diberikan parenteral akan menurunkan p9
cairan lambung dalam ) am. Banitidine mempunyai efektifitas yang sama dengan
cimetidine dalam menurunkan umlah pasien yang dalam risiko aspirasi gaster dan
menghasilkan lebih sedikit efek samping kardiovaskular atau sistem saraf pusat. ?fek
ranitidine berlangsung sampai 1 am. "arena itu, ranitidine lebih superior daripada
cimetidine dalam mengurangi risiko aspirasi pneumonitis selama anestesi dan ekstubasi
trakhea.
Antagonis Reseptor Lain.
Famotidine merupakan antagonis reseptor 9' ketiga yang dapat diberikan pre
operatif untuk meningkatkan p9 cairan lambung. Farmakokinetiknya sama dengan
cimetidine dan ranitidine, dengan perkecualian famotidine mempunyai waktu paruh
eliminasi lebih lama dari pada dua obat lainnya. Famotidine dengan dosis C$ mg oral ),#-
7 am pre operatif telah menunukkan efektifitas dalam meningkatkan p9 lambung.
!i/atidine )#$-7$$ mg secara oral yang diberikan ' am sebelum operasi akan
menurunkan asam lambung.
Antasi!
8ntasid digunakan untuk menetralkan asam lambung. *osis tunggal antasid yang
diberikan )#-7$ menit sebelum induksi anestesi hampir )$$ 2 efektif dalam
meningkatkan p9 cairan lambung diatas ',#. 8ntasid non partikulat, $,7 3 sodium sitrat,
umumnya diberikan sebelum operasi ika ingin meningkatkan p9 cairan lambung.
8ntasid nonpartikulat tidak menyebabkan kerusakan paru-paru ika teradi aspirasi cairan
lambung yang mengandung antasid ini. Suspensi koloid antasid mungkin lebih efektif
daripada antasid non partikulat dalam meningkatkan p9 cairan lambung. 8kan tetapi,
aspirasi cairan lambung yang mengandung antasid partikulat dapat menyebabkan
kerusakan paru-paru yang signifikan dan persisten, disamping peningkatan p9 cairan
lambung. SeEuelae kelainan paru bermanifestasi dalam bentuk edema paru dan
hipoksemia arteri.
8ntasid bekera pada saat diberikan. Tidak ada Jlag timeK, seperti antagonis
reseptor 9'. 8ntasid efektif pada cairan yang sudah ada di lambung. 9al ini yang
membuat menarik dalam situasi emergensi untuk pasien-pasien yang dapat menggunakan
pengobatan oral. 8kan tetapi, antasid meningkatkan volume cairan lambung, tidak seperti
antagonis reseptor 9'. Bisiko aspirasi tergantung pada p9 dan volume lambung.
Peningkatan volume cairan lambung dari pemberian antasid dapat timbul setelah
pemberian dosis berulang, seperti sesudah persalinan, selama pemberian opioid uga
dapat memperlambat pengosongan lambung.
Tidak memberikan antasid karena khawatir dengan peningkatan volume lambung
tidak dianurkan, mengingat dari penelitian pada hewan menunukkan peningkatan
mortalitas setelah aspirasi cairan asam lambung volume rendah @$,7 ml.kg
-)
, p9 )A
dibandingkan dengan aspirasi cairan lambung dengan volume besar @)-' ml.kg
-)
, p9 ),5A.
8ntasid dapat memperlambat pengosongan lambung, dan tercampurnya dengan seluruh
isi lambung dapat dipertanyakan pada pasien yang imobil. ?fek antasid dengan partikel
makanan pada lambung tidak diketahui.
N0(e%ra.le
Omepra/ole menghambat sekresi asam lambung sesuai dengan dosisnya dengan
mengikat pompa proton pada sel parietal. ,ntuk pasien dewasa, dosis intravena C$ mg,
7$ menit sebelum induksi telah digunakan. *osis oral C$-5$ mg harus diberikan '-C am
sebelum operasi untuk menadi efektif. ?fek pada p9 lambung dapat berlangsung selama
'C am. Seperti kebanyakan antagonis reseptor 9' lainnya, peneliti telah menemukan
peningkatan pada p9 lambung dan inkonsisten efek pada volume lambung dengan
pemberian omepra/ole.
4lngan 4astrkinetik
.olongan gastrokinetik berguna karena efektifitasnya dalam menurunkan volume
cairan lambung. 3etoclopramide merupakan contoh dari golongan gastrokinetik yang
dapat diberikan sebelum operasi

Metoclopramide.
3etoclopramide merupakan antagonis dopamin yang menstimulasi motilitas
gastrointestinal atas, meningkatkan tonus sphincter gastroesophageal, dan merelaksasikan
pylorus dan duodenum, dan uga mempunyai efek antiemetik. 3etoclopramide
mempercepat pengosongan lambung tetapi belum diketahui efeknya pada sekresi asam
dan p9 cairan lambung. 3etoclopramide dapat dibeikan secara oral atau parenteral.
*osis parenteral #-'$ mg biasanya diberikan )#-7$ menit sebelum induksi. -ika
obat tersebut diberikan intravena dalam 7-# menit, dapat mencegah cramp abdomen yang
biasanya teradi bila pemberiannya lebih cepat. *osis oral )$ mg mencapai onset dalam
7$-<$ menit. Haktu paruh eliminasi metocloperamide kira-kira '-C am.
"egunaan klinis golongan gastrokinetik didapatkan pada pasien-pasien yang
mempunyai kecenderungan volume asam lambung besar, seperti pada parturient, pasien
yang diadwalkan operasi emergensi yang baru saa makan, pasien obesitas, pasien
dengan trauma, pasien rawat alan, dan pasien dengan gastroparesis sekunder karena
diabetes mellitus.
8kan tetapi, pemberian metocloperamide tidak menamin pengosongan lambung.
:olume cairan lambung signifikan dapat masih ada walaupun telah diberikan
metocloperamide. ?fek metoclopramide pada traktus gastrointestinal dapat dihambat
dengan pemberian atropine atau sebelumnya mendapatkan ineksi opioid.
3etoclopramide tidak langsung menurunkan volume lambung pada pasien yang akan
menalani operasi elektif dengan volume lambung sebelumnya kecil. 3etoclopramide
dapat tidak efektif setelah pemberian sodium sitrat. Sebaliknya, metoclopramide dapat
menadi sangat efektif dalam mengurangi risiko aspirasi pneumonitis ika
dikombinasikan dengan antagonis reseptor 9' @e;+ ranitidineA sebelum operasi elektif.
Seperti telah disebutkan sebelumnya, obat-obat yang biasa digunakan untuk
mengubah p9 dan volume cairan lambung relatif bebas dari efek samping. Basio untung
rugi untuk obat-obat ini dalam mengurangi risiko aspirasi paru-paru sering sangat
bervariasi. Tentu saa, obat-obat ini pasti menurunkan umlah pasien yang dalam risiko.
8kan tetapi, tidak satu pun obat-obat atau kombinasi dari obat-obat ini yang secara
absolut pasti dalam mencegah risiko aspirasi pneumonitis pada seluruh pasien. "arena
itu, kegunaannya tidak menghapuskan pentingnya teknik anestesi yang baik untuk
melindungi alan nafas selama induksi, pemeliharaan, dan emergensi anestesi.
4. Antie(etik
8da beberapa kelompok pasien diamana efek antiemetik dari obat dapat
menolong dalam mengurangi mual dan muntah. Laitu pada pasien-pasien yang
diadwalakan untuk operasi mata, pasien dengan riwayat mual dan muntah, pasien yang
diadwalkan untuk laparoskopi atau akan menalani prosedur ginekologis, dan pasien
dengan obesitas. Faktor risiko yang diprediksikan teradi mual dan muntah post operasi
setelah anestesi inhalasi yaitu+ wanita, riwayat motion sickness atau mual post operatif,
tidak merokok, dan penggunaan opioid post operatif. Para peneliti menduga terapi
antiemetik profilaktik ika terdapat dua atau lebih faktor risikoika menggunakan anestesi
volatile. Banyak ahli anestesi cenderung untuk tidak memberikan antiemetik sebagai
bagian dari regimen pre operatif, tapi percaya bahwa anti emetik sebaiknya diberikan
intravena bila diperlukan saat operasi selesai.
Dr%eri!l
*roperidol telah diberikan, biasanya intravena, pada dosis klinis rendah untuk
mencegah mual dan muntah post operatif. Penelitian oleh "orttila dkk menunukkan
bahwa ),'# mg droperidol yang diberikan intravena # menit sebelum operasi selesai
mengurangi insidensi mual dan muntah setelah operasi. 3ereka mendapatkan efek
antiemetik droperidol lebih baik daripada metoclopramide atau domperidone. Penelitian
lain oleh Santos dan *atta menunukkan efektifitas droperidol sebagai anti emetik pada
pasien yang menalani seksio sesarea dengan anestesi spinal. 8kan tetapi, dosis rendah
droperidol tidak selalu efektif dalam mencegah mual dan muntah. *osis tinggi pada akhir
operasi dapat menimbulkan sedasi berlebihan di ruang recovery.
Met)l%ra(i!e
Seperti telah disebutkan pada bagian golongan gastrokinetik, metoclopramide
mempunyai efek anti emetik. ?fek setelah pemberian pre operatif masih kontroversial
dan inkonsisten, seperti ditunukkan dan dibahas pada penelitian oleh >ohen dkk. 9al ini
mungkin sebagian disebabkan dari durasi kera yang singkat dari metoclopramide.
0n!ansentrn
Ondansentron merupakan antagonis reseptor serotonin subtipe-7. *iberikan
dengan dosis C-5 mg intravena pada dewasa sebelum induksi, ondansentron telah
menunukkan efektifitas tinggi dalam mencegah mual dan muntah post operatif.
Antie(etik lain
Beberapa phenothia/ine, terutama prochlorpera/ine, mempunyai efek anti emetik.
9ydro;y/ine dan diphenidol merupakan dua obat lain dengan efek anti emetik. Halaupun
mempunyai efek antiemetik, domperidone belum terbukti efektif dalam mengurangi mual
dan muntah post operatif.
4. Antiklinergik
Sebelumnya, obat-obat antikolinergik digunakan secara luas ika anestesi inhalasi
menimbulkan sekresi traktus respiratorius dan bradikardia intraoperatif merupakan
bahaya yang sering teradi. *atangnya agen inhalasi baru telah menyebabkan
ditinggalkannya rutinitas penggunaan obat antikolinergik sebagai pengobatan pre
medikasi. 4ndikasi spesifik pemberian antikolinergik sebelum operasi yaitu @)A efek
antisialogogi dan @'A sedasi dan amnesia.
E&ek Antiklinergik
8ntikolinergik diberikan bila kita ingin mendapatkan alan nafas yang kering.
Sebagai contoh, ika akan dilakukan intubasi endotracheal, ahli anestesi ingin mengurangi
sekresi. Pada penelitian oleh Falick dan Smiler, kondisi yang lebih memuaskan didapat
setelah intubasi endotracheal ika obat antikolinergik diberikan sebelumnya. ?fek
antisialogogi penting untuk operasi intraoral dan instrumentasi alan nafas seperti
bronchoscopy. Pemberian antikolinergik mungkin diinginkan sebelum penggunaan
anestesi topikal pada alan nafas untuk mencegah efek dilusi dari sekresi dan
menyebabkan teradinya kontak antara anestesi lokal dengan mukosa.
Scopolamine merupakan obat pengering yang lebih kuat daripada atropine.
Scopolamine kurang meningkatkan denyut antung dan lebih cenderung menimbulkan
sedasi dan amnesia. .lycopyrrolate lebih kuat dan efek antisialogoginya lebih lama
daripada atropin, dengan kemungkinan lebih sedikit teradinya peningkatan denyut
antung. "arena glycopyrrolate merupakan Euaternaryamine, glycopyrrolate tidak mudah
menembus sawar darah-otak dan tidak menimbulkan efek sedasi. 8ntikolinergik bukan
merupakan obat satu-satunya sebagai pengering sekret. Seperti ditunukkan pada
penelitian oleh Forrest dkk, beberapa obat lain dan placebo uga dapat mengurangi sekret
pada mulut sebelum operasi.
#e!asi !an A(nesia
-ika menginginkan efek sedasi dan amnesia sebelum operasi, scopolamine
merupakan antikolinergik terpilih, terutama ika dikombinasikan dengan morfin. Baik
scopolamine maupun atropine, keduanya dapat menembus sawar darah-otak.
Scopolamine mempunyai efek sedatif dan amnestik lebih kuat daripada atropin. *ari
penelitian pada pasien yang mendapatkan pengobatan pre operatif, kombinasi morfin dan
scopolamine lebih kuat dibandingkan morfin dan atropin. Scopolamine tidak
menimbulkan efek amnesia pada seluruh pasien. Scopolamine mempunyai efek amnestik
bila dikombinasikan dengan ben/odia/epin. Penelitian oleh Frumin dkk menunukkan
bahwa kombinasi dia/epam dan scopolamin lebih sering menimbulkan efek amnesia
daripada dia/epam tunggal.
E&ek ,aglitik
?fek vagolitik obat-obat antikolinergik diperoleh melalui penghambatan efek
asetilkolin pada nodus sinoatrial. 8tropin yang diberikan intra vena lebih kuat daripada
glycopyrrolate dan scopolamine dalam meningkatkan denyut antung. "era vagolitik dari
obat-obat antikolinergik berguna dalam mencegah refleks bradikardia selama
pembedahan. Bradikardia bisa teradi pada traksi otot-otot ekstra okular atau viscera
abdomen, stimulasi sinus karotis, atau setelah pemberian dosis berulang suksinil kolin
intra vena. Pencegahan refleks bradikardia dengan dosis antikolinergik intramuskular
tidak dapat dilakukan, waktu pemberian obat dan dosisnya tergantung pada pemberian
obat pre operatif di suatu unit. "ebanyakan ahli anestesi memberikan atropine atau
glycopyrrolate intra vena segera sebelum operasi dan sebagai antisipasi teradinya
stimulus bradikardi. Pemberian atropine dan glycopyrrolate intra vena segera sebelum
operasi efektif dalam mencegah bradikardi yang disebabkan pemberian dosis suksinil
kolin berulang.
Peningkatan %H )airan la(/ung
*osis tinggi antikolinergik sering diperlukan untuk mengubah p9 cairan
lambung. 8kan tetapi pada pemberian pre operatif, anti kolinergik tidak bisa terus
menerus menurunkan sekresi ion hidrogen lambung. Fungsi ini telah digantikan oleh
antagonis reseptro 9'.
E&ek #a(%ing 0/at10/at Anti $linergik
Scopolamine dan atropine dapat menyebabkan toksisitas susunan saraf pusat yang
disebut uga Jcentral anticholinergic syndromeK. ?fek samping ini teradi setelah
pemberian scopolamine. Tetapi dapat uga terlihat setelah pemberian dosis tinggi
atropine. .eala-geala toksisitas susunan saraf pusat yang disebabkan karena obat-obat
anti kolinergik bisa berupa delirium, gelisah, maupun kebingungan. Pasien yang lebih tua
dan pasien yang kesakitan lebih sering mengalami efek samping ini. ?fek toksik susunan
saraf pusat dari anti kolinergik diperkuat oleh anestesi inhalasi. Beberapa klinisi telah
sukses menangani sindrom ini dengan )-' mg physostigmine intravena.
8ntikolinergik merelaksasikan sphincter esofagus bawah. Secara teoritis, setelah
pemberian antikolinergik parenteral, risiko aspirasi paru dari isi lambung meningkat.
3idriasis dan sikloplegia dari obat-obat anti kolinergik sangat tidak diinginkan
pada pasien dengan glaukoma karena menimbulkan peningkatan tekanan intra okular. 9al
ini arang teradi dengan dosis yang digunakan untuk pengobatan pre operatif. 8tropine
dan glycopyrrolate lebih arang menimbulkan pengingkatan tekanan intra okular daripada
scopolamine. Pada pasien dengan glalukoma, kebanyakan ahli anestesi akan merasa aman
dengan meneruskan pengobatan glaukoma terlebih dulu sampai waktu operasi tiba dan
menggunakan atropine atau glycopyrrolate ika diperlukan.
"arena obat-obat anti kolinergik menghambat aktifitas vagal, teradi relaksasi
otot-otot polos bronkus dan peningkatan Odead spaceP pernafasan. Peningkatan Odead
spaceP pernafasan tergantung pada tonus bronchomotor sebelumnya, tetapi peningkatan
sebesar '#-77 2 telah dilaporkan. Obat-obat anti kolinergik menyebabkan pengeringan
dan penebalan sekresi. 3enurut teori, pemberian dosis antikolinergik sebelum operasi
dapat menimbulkan penebalan sekresi dan peningkatan tahanan alan nafas. 9al ini dapat
berkembang lebih dari sekedar teori pada pasien dengan penyakit seperti cystic fibrosis.
"elenar keringat tubuh dipersarafi oleh sistem saraf simpatis dan menggunakan
transmisi kolinergik, karena itu pemberian golongan anti kolinergik mempengaruhi
mekanisme berkeringat, yang dapat menyebabkan peningkatan suhu tubuh. ?fek samping
anti kolinergik harus dipertimbangkan dengan hati-hati pada anak-anak dengan demam.
8tropine lebih sering menyebabkan peningkatan denyut antung daripada
glycopyrrolate atau scopolamine. Peningkatan denyut antung yang tidak diinginkan ini
lebih sering teradi setelah pemberian intra vena daripada intra muskular. Pada
kenyataannya, denyut antung dapat turun perlahan setelah pemberian intra muskular
sebagai akibat dari efek agonis perifer golongan anti kolinergik.
Agnis 621A!renergik
8gonis Q'-8drenergik telah digunakan sebagai pre medikasi. "lonidin dengan
',#-# Mg.kg
-)
diberikan pre operatif untuk menimbulkan efek sedasi, mengurangi
konsentrasi maksimum yang dapat diterima, dan mencegah hipertensi dan takikardi yang
ditimbulkan oleh intubasi endotracheal dan stimulasi pembedahan. "lonidin bahkan telah
digunakan sebagai teknik anestesi untuk menimbulkan hipotensi buatan.
*e;medetomidine merupakan agonis Q'-8drenergik lain yang telah dipelaari untuk
kegunaan pre operatif untuk mengurangi respon simpatoadrenal intra operatif. Setelah
pemberian klonidin pre operatif, terdapat episode hipotensi dan bradikardi selama
anestesi ika periode stimulasi bedah sedikit.
0/at10/at Lain *ang Di/erikan Bersa(a Me!ikasi Pre 0%erati&
Halaupun bukan medikasi pre operatif, obat-obat lain sering diberikan pada
waktu medikasi pre operatif. >ontohnya adalah insulin, steroid, antibiotik, dan metadon
untuk pasien yang adiktif terhadap opioid. Obat-obat ini mungkin diberikan oleh ahli
anestesi atau ahli bedah untuk diberikan segera sebelum operasi. "era obat-obat ini bisa
mempengaruhi anestesi dan ahli anestesi harus tahu mengenai cara pemberian dan
keranya.
Anti/itik
8ntibiotik sering diberikan segera sebelum operasi, untuk luka-luka operasi yang
terkontaminasi, mudah terkontaminasi, atau kotor. 8ntibiotik profilaksis dianurkan untuk
prosedur operasi JbersihK ika terdapat ancaman teradinya infeksi. >ontoh lain
penggunaan antibiotik profilaksis termasuk pasien-pasien imunosupresi, usia tua, atau
yang mengkonsumsi steroid. 8ntibiotik yang diberikan segera sebelum operasi uga
berguna untuk mencegah endokarditis. Pasien dengan penyakit katup antung, katup
prostetik, prolaps katup mitral, atu kelainan antung lainnya berbahaya bila mengalami
bekteriemi yang ditimbulkan selama pembedahan.
"ira-kira <$-&$ 2 pasien bedah menerima antibiotik segera sebelum atau selama
operasi. Lang paling sering adalah golongan cephalosporin. 8kan tetapi, tidak ada obat
atau kombinasi obat yang dapat melindungi dari seluruh patogen pada bermacam operasi.
Seperti pengobatan lainnya, ahli anestesi harus mengetahui eek samping dan komplikasi
antibiotik yang diberikan. Beberapa antibiotik dapat menimbulkan reaksi alergi,
hipotensi, dan bronkhospasme @contoh+ penisilin dan vankomisinA. Beaksi alergi karena
pemberian cephalosporin teradi kira-kira pada # 2 pasien. Beaksi silang cephalosporin
pada pasien yang mengetahui alergi penisilin teradi pada #-'$ 2 pasien. 8minoglikosid,
vancomycin, dan polymy;in mempunyai efek nefrotoksisk. Sebagai tambahan,
ototoksisitas didapatkan dari pemberian aminoglikosid dan vancomycin. >oitis
pseudomembran diketahui sebagai kompolikasi dari klindamisin.
#teri!
Pemberian steroid mungkin diperlukan segera sebelum operasi pada pasien
hipoadrenocorticisme atau pada pasien dengan supresi aksis pituitary-adrenal yang
sedang atau sebelumnya mendapatkan terapi kortikosteroid. Tidak mungkin menentukan
durasi spesifik terapi atau dosis steroid yang dapat menimbulkan supresi adrenal.
Pehatikan variasi masing-masing pasien. Lang pasti, lebih berat supresi, lebih besar dosis
dan lebih panang durasi terapi. Perkiraan kasar yaitu pertimbangkan terapi pada pasien
yang telah mendapatkan terapi kortikosteroid selama <-)' bulan terakhir.
"arena kelainan aksis pituitary-adrenal atau karena supresi dari terapi steroid,
pasien mungkin tidak dapat merespon terhadap stres karena pembedahan. *osis dan
durasi pemberian steroid tambahan tergantung pada perkiraan stres dari prosedur operasi
selama masa operasi. Satu regimen diberikan '# mg kortisol pre operatif kemudian infus
intra vena )$$ mg kortisol dalam )'-'C am berikutnya untuk pasien dewasa. 3etode lain
yaiu dengan memberikan )$$ mg hydrocortisone intra vena sebelum, selama, dan setelah
operasi. *alam memutuskan apakah akan memberika steroid atau steroid dosis tinggi,
ahli anestesi harus diingat bahwa rasio untung Rruginya biasanya kecil.
Insulin
8nestesi dan pembedahan sering mengganggu adwal makan reguler dan adwal
pemberian insulin pada pasien diabetes. Stress peri operatif dapat meningkatkan
konsentrasi glukosa serum. Bencana pemberian insulin dan glukosa peri operatif harus
disetuui oleh ahli anestesi, ahli bedah, dan ahli endokrin yang merawat pasien tersebut.
Terdapat beberapa metode dalam melakukannya. Salah satunya yaitu dengan memberikan
insulin kera sedang )(C-)(' dari dosis harian biasanya pada masa pre operatif di pagi hari
waktu operasi dan mulai infus cairan yang mengandung glukosa. >ara kedua yaitu
dengan tidak memberikan insulin atau glukosa pre operatif dan mengukur kadar glukosa
serum selama anestesi. 4nsulin atau glukosa kemudian diberikan intra operatif dan post
operatif sesuai kebutuhan. 3etode ketiga yaitu dengan memberikan infus insulin dan
glukosa segera pre operatifi dan mengkukur kadar glukosa serum secara berkala.
$etergantungan 0%ii!
?fek lepas obat yang disebabkan oleh paparan obat menadi isu pada pasien yang
mengkonsumsi metadon atau golongan lain pengganti metadon. 8hli anestesi harus
berhati-hati dalam menggunakan obat agonis-antagonis untuk pasien pada waktu pre
operatif untuk mencegah timbulnya efek lepas obat.
PE5BEDAAN MEDI$A#I P5E 0PE5ATI2 ANTA5A PA#IEN DE7A#A DAN
ANA$1ANA$
Perbedaan antara dewasa dan anak-anak dalam hubungannya dengan medikasi pre
operatif meliputi aspek persiapan psikologis, medikasi oral, dan lebih sering penggunaan
antikolinergik untuk aktifitas vagolitik.
2aktr Psiklgis %a!a Pasien1Pasien Pe!iatrik
3asuk rumah sakit dan menalani operasi besar dapat menimbulkan efek
psikologis yang berlangsung lama pada beberapa anak. Tinggal di rumah sakit itu
menimbulkan stress dan penuh dengan ketakutan pada hampir seluruh anak-anak. Stress
psikologis dan kecemasan cenderung tidak teradi pada operasi kecil dan perawatan
singkat di rumah sakit. ,saha komunikasi dari ahli anestesi dapat membuat perbedaan
pada anak-anak sehingga siap untuk masuk ke kamar operasi, dilakukan anestesi, dan
menalankan pembedahan.
,sia mungkin merupakan aspek yang paling penting pada persiapan psikologis
pada anak-anak. Bayi yang berusia kurang dari < bulan secara emosional tidak akan
merasa kesal bila dipisahkan dari ibunya. 4bunya bisa digantikan dengan mudah oleh
orang lain dari tim perawat. Persiapan pre operasi pada usia ini sering langsung pada
tuuannya. 8kan tetapi anak-anak pre sekolah akan merasa kesal ika dipisahkan dari
ibunya dan merasa takut berada di kamar operasi. Pada usia tersebut hal-hal yang
berhubungan dengan rumah sakit merupakan hal yang paling mengesalkan. Sangat sulit
untuk menelaskan apa yang akan dilakukan pada anak-anak di usia ini. %ebih mudah
untuk mengkomunikasikan dengan pasien usia # tahun ke atas.
8hli anestesi dapat menelaskan mengenai hal-hal yang berhubungan dengan
perpisahan dari orang tuan rumah, mengenai kamar operasi, dan perasaan takut dalam
menghadapi operasi dan anestesi.
Pasien remaa dapat uga merasa cemas. 3ereka mungkin akan merasa khawatir
mengenai hilangnya kesadaran, takut mati, atau khawatir mengenai apa yang akan
mereka lakukan atau ketakutan setelah sedasi pre operatif atau selama anestesia.
"etakutan anak-anak mungkin sulit untuk diidentifikasi. Biasanya anak-anak yang
terlihat pendiam selama wawancara pre operatif sulit untuk diketahui rasa takutnya. Pada
anak-anak ini biasanya perlu persiapan farmakologis lebih.
2.8 Persia%an Psiklgis
"arena alasan di atas maka persiapan psikologis lebih penting pada anak-anak
daripada dewasa. 9al ini merupakan seni yang harus dimiliki seorang ahli anestesi.
"unungan pre operasi adalah waktu untuk memastikan kembali dan untuk menelaskan
kepada pasien, saatnya untuk mendapatkan kepercayaan dari anak. Biasanya orang tua
dilibatkan sehingga sang anak dapat melihat orang tuanya menerima apa yang dielaskan
oleh ahli anestesi. Beberapa rumah sakit mempunyai brosur, gambar, slide untuk
membantu mempersiapkan pasien anak dioperasi. Sang anak biasanya membawa benda
kesayangannya misalnya boneka atau selimut agar merasa aman. *engan adanya
dukungan dari orang tua untuk menemani anak ke ruang opersi akan sangat membantu.
Beberapa rumah sakit mengiinkan orang tua masuk ke ruang operasi sampai proses
induksi lengkap.
Per/e!aan Persia%an 2ar(aklgis
Persiapan farmakologis untuk pasien anak lebih ke persiapan psikologis, ruang
operasi yang menyenangkan, dan persiapan efisiensi waktu induksi.
Hi%ntik1#e!ati&
Seperti pada dewasa, hipnotik-sedatif digunakan untuk mengurangi rasa takut
serta menyebabkan sedasi dan amnesia. -uga digunakan untuk memfasilitasi induksi agar
beralan mulus bila digunakan metoda inhalasi. Penggunaan obat-obatan pre operatif
pada pasien anak masih kontroversi. Belum dapat dibuktikan untuk menurunkan efek
psikologis setelah anestesi dalam operasi. 8nak usia < bulan-) tahun tidak perlu diberi
obat-obatan sebelum operasi.
4neksi intra muskular sebaiknya dihindari pada pasien anak. Pada anak yang lebih
tua biasanya diberikan per oral, usia pra sekolah bisa pula diberikan per rektal.
3ida/olam dapat diberikan intra muskular @$,' mg(kg bbA.
Bagaimanapun uga rute yang paling efektif dan dapat diterima untuk mida/olam
adalah per oral, dengan cara mencampur $,#-$,&# mg(kg BB dengan sirup, us apel atau
cola karena rasanya yang pahit. ?fektif menimbulkan sedasi tapi tidak sampai tertidur,
lebih kurang )# menit dan berlangsung selama 7$-<$ menit. "etamin oral #-)$ mg
diberikan '$-7$ menit sebelum induksi. Sekresi oral dan delirium pre(post operasi bisa
adi masalah. "etamine @7-5 mg(kg BBA dan mida/olam $,' mg(kg BBA keduanya dapat
diberikan menggunakan Onasal otomi/erK, tapi akan terasa pahit. "etamin @# mg(kg BBA
dan mida/olam @$,7-) mg(kg BBA uga diberikan per rektal sebelum induksi anestesi.
Pilihan lain uga bisa diberikan methohe;ital pe rektal @'$-7$ mg(kg BBA diberikan
segera sebelum operasi, ketika anak masih bersama orang tuanya. Pemberian intra
muskular uga memungkinkan.
0%ii!
Tidak selalu diberikan. 3etadon diberikan per oral, $,)-$,' mg(kg BB. 3orphine,
meperidine intra muskular uga dapat digunakan, sering dikombinasikan dengan obat
lain. 3orphine intra muskular biasanya untuk persiapan farmakologis untuk anak dengan
penyakit antung kongenital. *i beberapa rumah sakit opioid dikombinasikan dengan
hipnotik-sedatif dan anti kolinergik untuk dibuat OcocktailP lalu diberikan per oral sebagai
medikasi pre operasi.
Pemberian fentanyl @#-'$ Mg(kg BBA dan sufentanyl @7 Mg(kg BBA yang diberikan
intranasal uga dapat digunakan untuk menenangkan pasien anak pre operasi.
Antiklinergik
Oleh karena mudahnya menyebabkan refleks vagal maka anti kolinergik sangat
penting diperhatikan terutam untuk anak-anak. Bradikardi bisa disebabkan oleh karena
manipulasi alan nafas, manipulasi operasi, atau obat-obat anestesi seperti halothane atau
suksinilkolin. Bila tidak ada kontra indikasi, kebanyakan pasien anak diberikan atropin
intra vena segera setelah induksi anestesi dan pemasangan kateter intra vena.
Scopolamine uga dapat digunakan untuk pasien anak untuk menghasilkan sedasi dan
amnesia. Pemberian pada anak yang demam tidak dianurkan. Pasien down syndrome
sensitif terhadap atropine, akan berefek terhadap denyut antung dan menyebabkan
midriasis.
DA2TA5 PU#TA$A
). 3uhirman 3, Thaib 3B, Sunatrio S, *ahlan B, editor. 8nestesiologi. -akarta+
Bagian 8nestesiologi dan Terapi 4ntensif Fakultas "edokteran ,niversitas
4ndonesia, )151
'. 3organ .?, 3ikhail 3S. >linical 8nesthesiology. Stamford+ 8ppleton S %ange,
)11<
7. 8yem ?, Bewes P>, Bion -F, et al. Primary 8nesthesia. O;ford+ O;ford
,niversity press, )15<