Anda di halaman 1dari 9

Pengkajian Sistem Respirasi dan

Kardiovaskuler
Nama Kelompok :
1. Alan Budi Prasetyo
2. Alif Mutaqin
3. Al Badri
4. Anastasia Tawa Doa
5. Andy Jatmiko Pratama
6. Aria Nissa Edliana
7. Asti
8. Bambang Handoko
9. Bernyka Setiyowati
10. Claudia Rahmawati Hartono
11. Dea Azizah

Pengkajian Sistem Respirasi
Sistem pernafasan dibagi menjadi dua yaitu bagian konduksi dan
bagian respirasi. Bagian konduksi adalah bagian dari sistem
pernafasan yang berfungsi sebagai penghantar udara (jalan nafas)
sedangkan bagian respirasi adalah sistem pernafasan yang
berfungsi sebagai tempat pertukaran gas. Sistem konduksi meliputi
cavum nasi (rongga hidung sampai bronchiolus terminalis
sedangkan sistem respirasi meliputi bronchiolus respiratory, ductus
alveolaris, saccus alveolaris , dan alveolus.
Kelainan atau menurunnya sistem penafasan dapat mengganggu
proses bernafas. Untuk mengetahui sistem pernafasan apa yang
terganggu maka perawat harus mampu melakukan pemeriksaan
fisik kepada pasien. Pemeriksaan fisik yang berkaitan dengan sistem
pernafasan meliputi kulit dan kuku,mata, hidung, mulut, leher, dan
dada (paru-paru)

PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan umum
Keadaan umum pasien adalah kondisi yang tampak ketika perawat
melihat pasien seperti pucat, pasien tampak le
2. Tanda-tanda vital (TTV) : TTV me
mah, dsb.
liputi tekanan darah (hipertensi, normal, hipotensi), denyut nadi,
respirasi rate, dan suhu badan
3. Pemeriksaan kuku dan kulit :
Inspeksi :
Inspeksi kulit dan kuku bertujuan untuk mengetahui dan
vaskularisasi superficial (peredaran darah permukaan). Bila
kuku berwarna keunguan atau cyaonis maka pasien
mengalami penurunan hemoglobin atau anemia dan
cyanosis bisa juga terlihat di ujung jari bila hemoglobin sangat
jauh di bawah normal. Kemudian lihat apakah kuku pasien
mengalami clubbing finger atau jari tabuh. Clubbing finger
terjadi bila seseorang mengalami hipoksia kronik (lebih dari
enam bulan), infeksi paru, dan keganasan paru (kanker paru)

4. Pemerikasaan mata, hidung, dan mulut.
Inspeksi :
Amati konjungtiva pasien dengan cara menarik ke bawah
kelopak mata bagian bawah dan suruh pasien melirik ke
atas. Normalnya konjungtiva berwarna merah muda. Bila
pasien sesak sehingga menyebabkan anemia maka
konjungtiva akan tampak pucat.
Kemudian amati allae nasi (cuping hidung) pasien. Biasanya
pada pasien yang sangat sesak cuping hidung pasien
kembang kempis ketika bernafas. Kondisi ini dinamakan
pernafasan cuping hidung. Amati adanya cyanosis pada
bibir pasen.
5. Pemeriksaan faring, laring, dan trakea.
Inspeksi :
Yang diamati pada faring adalah warna, oembesaran tonsil,
adanya udema atau ulserasi, dan mucopolurent. Kemudian
inspeksi laring dengan laringoscope. Amati kesimetrisan
leher dan trakea, amati adanya massa, udema (
pembengkakan), dan memar.


6. Pemeriksaan Thoraks.
Inspeksi :
Pertama-tama yang harus kita amati adalah kemungkinan adanya kelainan
bentuk dada pasien, seperti Barrel chess ( bentuk dada mengembung),
Funnel chess (bentuk dada cekung, terutama pada daerah sternum),
pigeon chest ( bentuk dada seperti burung dara). Kemudian amati juga
bentuk vertebrae (tulang belakang pasien) dan kaji kemungkian adanya
kelainan seperti lordosis (melengkung ke belakang), kifosis
(membungkuk), dan skoliosis (vertebrae miring ke samping). Selanjutnya
kaji ritme pernafasan pasien. Jenis ritme pernafasan meliputi :
a) Eupnea (normal; 60-100 x/mnt)
b) Takipnea (Melebihi normal; > 100x/menit)
c) Bradipnea (Kurang dari normal; < 60 x/mnt)
d) Apnea ( Tidak ada pernafasan)
e) Hiperventilasi (Pernafasan dalam namun kecepatan normal)
f) Cheyne stokes (Secara bertahap semakin cepat kemudian dalam periode
tertentu melambat dan diselingi oleh apnea)
g) Biot (Cepat dan dalam dengan berhenti tiba-tiba diantaranya)
h) Kussmaul (cepat dan dalam tanpa berhenti)
i) Apneuis (inspirasi tersenggal-senggal dan lama sedangkan ekspirasi
sangat pendek).
Amati juga adanya retraksi dada intercostal dan suprastreal.

Palpasi :
Palpasi pada thoraks digunakan untuk mengkaji keadaan kulit pasien,
adanya nyeri tekan, massa, kesimetrisan ekspansi dada, taktil fremitus
/ vokal premitus.
a) Palpasi kesimetrisan dinding dada.
Letakkan kedua telapak tangan pada dinding dada. Anjurkan pasien
nafas dalam. Rasakan gerakan dinding dada dan bandingkan antara
dada kanan dan kiri. Kemudia kaji pula pada daerah punggung
dengan cara yang sama. Biasanya pada pasien yang mengalami
nyeri pada costae dan sternum, baik karena adanya krepitasi
maupun farktura, pergerakan dinding dada tidak akan sama antara
kanan dan kiri.
b) Palpasi taktil fremitus.
Letakkan kedua telapak tangan pada kedua lapang paru. Kemudian
minta pasien mengucapkan tujuh puluh tujuh atau sembilan
puluh sembilan (angka ini bila diucapkan akan menimbulkan vibrasi
yang kuat). Kemudian letakkan kedua telapak tangan pada dinding
dada yang sama tetapi secara bersilang. Kegiatan ini dilakukan di
semua lapang paru. Palpasi ini dilakukan untuk memeriksa getaran
udara pada dinding paru. Normalnya getaran suara terasa sama
pada kedua lapang paru. Abnormalitas terjadi bila salah satu sisi
atau keduanya vibrasinya lemah.
Perkusi :
Perkusi dilakukan dengan cara mengetuk jari tengah tangan
yang tidak dominan oleh jari tengah tangan dominan. Perkusi
pada dinding thoraks dilakukan pada intercostal space
(ICS)/celah antara tulang rusuk. Perkusi dinding thoraks tidak
boleh dilakukan pada sternum karena akan menimbulkan
nyeri dan mudah fraktur.
Penilaian suara perkusi thoraks :
a. Sonor / resonan : suara paru normal
b. Redup : Terjadi konsolidasi paru
c. Pekak : terjadi bila paru terisi cairan, suara ini normal bila
terdengar pada ICS 3-5 midsternal sinistra karena terdapat
jantung.
d. Hipersonor/hiperresonan : Terjadi bila ada timbunan udara
yang berlebihan.
Auskultasi :
Suara normal pada auskultasi pada paru.

Bunyi Nafas Inspirasi = Ekspirasi Bunyi Ekspitasi Lokasi
Vesikuler Inspirasi > ekspirasi Lembut Sebagian area paru
Bronkovesikuler Inspirasi = ekspirasi Sedang ICS 1 dan 2 sternal line sinistra
dan dextra
Trakeal Inspirasi = ekspirasi Sangat keras Di atas trakea pada leher
Bronkial Inspirasi < ekspirasi Keras Di bawah manubrium sterni
Suara abnormal auskultasi paru.
a. Rales/ Crackels : dihasilkan oleh eksudat
lengket saat saluran-saluran halus pernafasan
mengembang pada inspirasi
b. Ronchi : terjadi akubat terkumpulnya cairan
mucus pada trakea atau bronkus-bronkus besar
(bernada rendah dan sangat kasar)
c. Wheezing : terjadi karena ada eksudat tengket
yang tertiup aliran udara (terdengar ngiiik
pada fase ekspirasi)
d. Pleural Friction-Rub : terjadi karena
peradangan pleura (terdengar kering seperti
suara gosokan amplas pada kayu)