Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH

KEPERAWATAN KOMUNITAS II
Strategi Promosi Kesehatan







Oleh

Kelompok 1 :

Atikah Nurul Huda DV
Auliani Annisa Febri
Diky Laksono Segoro
Fauzia Amama Fitra
Gina Zulfia Arni
Junnatul Waffiq
Muhammad Iqbal

Neko Riansyah Putra
Novita Zulvi Putri
Rahmi Yusra
Rahmita Tri Havizcha
Ririn Khairina
Winda Afrian
Wandra Yardi D



Dosen Pembimbing : Ns.Yaslina,M.Kep.Sp.Kom


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
STIKES PERINTIS BUKITTINGGI
T.A 2014/ 2015



BAB I
PENDAHULUAN
1. LATAR BELKANG
Inkontinensia urin merupakan salah satu masalah besar di bidang gerontik yang perlu mendapat
perhatian serius. Masalah itu tampaknya akan menjadi salah satu masalah kesehatan dan psikososial
yang sering dijumpai di masa mendatang seiring dengan makin banyaknya jumlah usia lanjut di
Indonesia.
Data di luar negeri menyebutkan bahwa 15 30 % usia lanjut yang tinggal di masyarakat dan 50
% usia lanjut yang di rawat menderita inkontinensia urun. Pada tahun 1999, dari semua pasien yang
di rawat di RSUPN Cipto Mangunkusumo di dapatkan angka kejadian inkontinensia urin sebesar 10%,
dan pada tahun 2000, angka kejadian inkontinensia urin meningkat menjadi 12%.
Inkontinensia urin seringkali menyebabkan pasien dan atau keluarganya frustasi, bahkan
depresi. Bau yang tidak sedap, perasaan kotor, tidak suci untuk beribadah tentu menimbulkan
masalah sosial dan psikologis. Selain itu, adanya inkontinensia urin juga akan mengganggu aktivitas
fisik, seksual, dan pekerjaan. Secara tidak langsung masalah itu juga dapat menyebabkan dehidrasi
karena umumnya pasien akan mengurangi minumnya karena khawatir mengompol. Dekubitus,
infeksai saluran kemih berulang, jatuh, dan tidak kalah pentingnya adalah biaya perawatan yang
tinggi untuk pembelian pampers, kateter adalah masalah yang juga dapat timbul akibat
inkontinensia urin.
2. TUJUAN
Mahasiswa mengetahui bagaimana konsep teori serta asuhan keperawatan yang tepat
untuk klien inkontinensia urine pada lansia. Dan dapat menerapkannya dalam praktek pemberian
asuhan keperawatan kepada pasien.





BAB II
PERUBAHAN ANATOMI DAN FISIOLOGI PADA SISTEM PERKEMIHAN LANSIA
Sistem urinaria pada manusia terdiri dari ginjal yang di dalamnya terdapat nefron yangakan
melakukan fungsi utama ginjal yaitu melakukan filtrasi, ureter yang akan mengalirkan urindari ginjal
ke kandung kemih atauBlader . Bladeradalah tempat penyimpanan urin sementarasebelum di
keluarkan melalui uretra, uretra adalah saluran yang akan mengalirkan urin dari blader ke
lingkungan di luar tubuh.
Ada beberapa perubahan yang terjadi pada lansia terkait dengan sistem urinaria. Padaorang
dewasa awal terdapat 2 juta nefron fungsional, sedangkan pada ginjal dewasa akhir telahhilang
setengahnya dan beberapa dari nefron tersebut tidak bekerja dengan baik. Dalam nefronlansia,
terjadi beberapa perubahan pada bagian glumelurus dan sistem tubular. Dalam glumelurusterjadi
penebalan pada membrane basalis, di temukan adanya sklerosis pada area fekal,
dan penurunan jumlah permukaan glumelurus, dari perubahan ini akan berpengaruh pada
penurunanefisiensi filtrasi yang di lakukan nefron.
Kemudian pada sistem tubular lansia, terjadi penurunan panjang dan volume
tubulus proksimal, kemudiaan adanya divertikula pada tubulus kontortus distal yang
akan menyebabkanterjadinya akumulasi debris. Akibat dari perubahan perubahan ini akan
menyebabkan penurunandaerah permukaan yang akan melakukan fungsi reabsorpsi oleh tubulus.
Kemudian perubahan inidi perparah oleh perubahan pada sistem vaskuler yakni penurunan curah
jantung, penyempitandan di temukannya sklerosis pada pembuluh darah akan menurunkan aliran
darah ke renal. Efekgabungan yang terjadi adalah sedikit darah yang bisa di bersihkan tiap menitnya
dan prosesabsorpsi akan menjadi kurang efektif dan efisien.
Perubahan selanjutnya pada mekanisme kompensasi terhadap cairan pada
lansia.Kemampuan nefron dalam memekatkan urin mengalami gangguan, respon terhadap
sekresihormone ADH tidak efektif, dan sensasi haus akan mengalami penurunan bahkan sampai
tidakada sensasi haus sama sekali. Oleh karena itu, kondisi yang memicu kehilangan cairan
dan perubahan homeostasis akan menjadi masalah serius.
Kemampaun ginjal untuk menahan natrium berkurang apabila di bandingkan dengandewasa
awal, hal ini di sebabkan oleh kehilangan nefron atau terjadi gangguan pada sekresialdosteron.
Penurunan natrium atau hiponatremia akan menyebabkan akumulsi kalium atauhiperkalemia.
Kondisi hipernatremia jarang di temukan pada lansia dengan konsumsinatriumyang berlebih apabila
tidak di imbangi oleh air yang cukup, tetapi apabila di imbangi dengan airyang cukup akan
menyebabkan hipervolemia.
Selanjutnya adalah perubahan pada sistem penyimpanan dan pengeluaran urin. Padalansia,
jumlah urin yang di tampung tidak semunya di keluarkan (residu) sekitar 50 ml, atau bisadikatakan
sebagai penurunan keadekuatan haluran urin. Apabila jumlahnya melebihi 100 mlmaka terjadi
penyimpanan urin yang signifikan.
Perubahan secara umum pada lansia adalah penurunan kapasitas kandung kemih
untukmenyimpan urin, terjadi peningkatan volume residu, dan kontraksi kandung kemih yang tidak
disadari. Pada wanita, penurunan hormone estrogen akan menyababkan atrofi jaringan uretra
danefek pada saat melahirkan dapat dilihat dari melemahnya otot-otot panggul. Pada lansia
pria,terjadi hipertropi kelenjar prostat yang akan menekan leher kandung kemih dan uretra.
Perubahan yang terjadi pada lansia terkait sistem urinaria dapat dilihat pada table berikut ini :
Perubahan Implikasi
Penebalan membrane basal
Penurunan area permukaan glumelurus
Penurunan panjang dan volume
tubulus proksimal
Filtrasi darah kurang efisien
Penurunan masa otot yang tidak berlemak
Peningkatan total lemak tubuh
Penurunan cairan intrasel
Penurunan sensasi haus
Penurunan kemampuan untuk retensi urin
Penurunan total cairan tubuhResiko
dehidrasi

Penurunan hormone yang penting untuk
absorpsi kalsium dari saluran gastrointestinal
Peningkatan resiko osteoporosis
Penurunan kapasitas kandung kemih
Peningkatan volume residu
Peningkatan kontraksi kandung kemih yang
tidak sadari
Atropi kandung kemih
Peningkatan resiko inkontensia


KONSEP TEORI
INKOTINENSIA URINE
A. PENGERTIAN
Inkontinensia urine merupakan eliminasi urine dari kandung kemih yang tidak terkendali atau
terjadi diluar keinginan (Brunner and Suddarth, 2002).
Inkontinensia urine didefinisikan sebagai keluarnya urine yang tidak terkendali pada waktu yang
tidak dikehendaki tanpa memperhatikan frekuensi dan jumlahnya,yang mengakibatkan masalah
social dan higienis pendeitanya (FKUI, 2006).
Menurut International Continence Sosiety, inkontinensia urine adalah kondisi keluarnya urin tak
terkendali yg dpt didemonstrasikan secara obyektif dan menimbulkan gangguan hygiene dan social.
Inkontinensia urine adalah pelepasan urine secara tidak terkontrol dalam jumlah yang cukup
banyak. Sehingga dapat dianggap masalah bagi seseorang.Inkontinensia urine adalah
ketidakmampuan menahan air kencing. Inkontinensia urine merupakan salah satu manifestasi
penyakit yang sering ditemukan pada pasien geriatri.Inkontinensia urine adalah ketidakampuan
mengendalikan evakuasi urine. (kamus keperawatan).
Diperkirakan prevalensi inkontinensia urin berkisar antara 15 30% usialanjut di masyarakat dan
20-30% pasien geriatri yang dirawat di rumah sakit mengalami inkontinensia urin, dan kemungkinan
bertambah berat inkontinensia urinnya 25-30% saa tberumur 65-74 tahun. Masalah inkontinensia
urin ini angka kejadiannya meningkat dua kali lebih tinggi pada wanita dibandingkan pria.
Perubahan-perubahan akibat proses menua mempengaruhi saluran kemih bagian bawah. Perubahan
tersebut merupakan predisposisi bagi lansia untuk mengalami inkontinensia, tetapi tidak
menyebabkan inkontinensia. Jadi inkontinensia bukan bagian normal proses menua.
B. ETIOLOGI
Persalinan pervaginan
Proses persalinan juga dapat membuat otot-otot dasar panggul rusak akibat regangan otot dan
jaringan penunjang serta robekan jalan lahir, sehingga dapat meningkatkan risiko terjadinya
inkontinensia urine.


Proses menua
Dengan menurunnya kAadar hormon estrogen pada wanita di usia menopause (50 tahun ke atas),
akan terjadi penurunan tonus otot vagina dan otot pintu saluran kemih (uretra), sehingga
menyebabkan terjadinya inkontinensia urine. Semakin tua seseorang semakin besar kemungkinan
mengalami inkontinensia urine, karena terjadi perubahan struktur kandung kemih dan otot dasar
panggul.
Gangguan urologi (peningkatan pada produksi urine (DM))
Infeksi saluran kemih
Gangguan saluran kemih bagian bawah bisa karena infeksi. Jika terjadi infeksi saluran kemih bisa
menyebabkan inkontinensia urine
C. PATOFISIOLOGI
Proses berkemih normal merupakan proses dinamis yang memerlukan rangkaian koordinasi
proses fisiologik berurutan yang pada dasarnya dibagi menjadi 2 fase. Pada keadaan normal selama
fase pengisian tidak terjadi kebocoran urine, walaupun kandung kemih penuh atau tekanan intra-
abdomen meningkat seperti sewaktu batuk, meloncat-loncat atau kencing dan peningkatan isi
kandung kemih memperbesar keinginan ini. Pada keadaan normal, dalam hal demikian pun tidak
terjadi kebocoran di luar kesadaran. Pada fase pengosongan, isi seluruh kandung kemih dikosongkan
sama sekali. Orang dewasa dapat mempercepat atau memperlambat miksi menurut kehendaknya
secara sadar, tanpa dipengaruhi kuatnya rasa ingin kencing. Cara kerja kandung kemih yaitu sewaktu
fase pengisian otot kandung kemih tetap kendor sehingga meskipun volume kandung kemih
meningkat, tekanan di dalam kandung kemih tetap rendah. Sebaliknya otot-otot yang merupakan
mekanisme penutupan selalu dalam keadaan tegang. Dengan demikian maka uretra tetap tertutup.
Sewaktu miksi, tekanan di dalam kandung kemih meningkat karena kontraksi aktif otot-ototnya,
sementara terjadi pengendoran mekanisme penutup di dalam uretra. Uretra membuka dan urine
memancar keluar. Ada semacam kerjasama antara otot-otot kandung kemih dan uretra, baik semasa
fase pengisian maupun sewaktu fase pengeluaran. Pada kedua fase itu urine tidak boleh mengalir
balik ke dalam ureter (refluks).
Proses berkemih normal melibatkan mekanisme dikendalikan dan tanpa kendali. Sfingter uretra
eksternal dan otot dasar panggul berada dibawah control volunter dan disuplai oleh saraf pudenda,
sedangkan otot detrusor kandung kemih dan sfingter uretra internal berada di bawah kontrol sistem
safar otonom,yang mungkin dimodulasi oleh korteks otak. Kandung kemih terdiri atas 4 lapisan,
yakni lapisan serosa, lapisan otot detrusor, lapisan submukosa dan lapisanmukosa. Ketika otot
detrusor berelaksasi, pengisian kandung kemih terjadi dan bila otot kandung kemih berkontraksi
pengosongan kandung kemih atau proses berkemih berlangsung. otot detrusor adalah otot
kontraktil yang terdiri atas beberapa lapisan kandung kemih. Mekanisme detrusor meliputi otot
detrusor,saraf pelvis, medula spinalis dan pusat saraf yang mengontrol berkemih. Ketikakandung
kemih seseorang mulai terisi oleh urin, rangsangan saraf diteruskan melalui saraf pelvis dan medula
spinalis ke pusar saraf kortikal dan subkortikal. Pusat subkortikal (pada ganglia basal dan serebelum)
menyebabkan kandung kemih berelaksasi sehingga dapat mengisi tanpa menyebabkan seseorang
mengalami desakan untuk berkemih. Ketika pengisian kandung kemih berlanjut,rasa penggebungan
kandung kemih disadari, dan pusat kortikal (pada lobusfrontal), bekerja menghambat pengeluaran
urin. Gangguan pada pusat kortikaldan subkortikal karena obat atau penyakit dapat mengurangi
kemampuan menunda pengeluaran urin. Komponen penting dalam mekanisme sfingter adalah
hubungan urethra dengan kandung kemih dan rongga perut. Mekanisme sfingter berkemih
memerlukan agulasi yang tepat antara urethra dan kandung kemih.Fungsi sfingter urethra normal
juga tergantung pada posisi yang tepat dari urethra sehiingga dapat meningkatkan tekanan intra-
abdomen secara efektif ditrasmisikan ke uretre. Bila uretra pada posisi yang tepat, urin tidak akan
keluar pada saat tekanan atau batuk yang meningkatkan tekanan intra-abdomen. Mekanisme dasar
proses berkemih diatur oleh refleks-refleks yang berpusat dimedula spinalis segmen sakral yang
dikenal sebagai pusat berkemih. Pada fase pengisian kandung kemih, terjadi peningkatan aktivitas
saraf otonom simpatis yang mengakibatkan penutupan leher kandung kemih, relaksasi dinding
kandung kemih serta penghambatan aktivitas parasimpatis dan mempertahankan inversisomatik
pada otot dasar panggul. Pada fase pengosongan, aktivitas simpatis dan somatik menurun,
sedangkan parasimpatis meningkat sehingga terjadi kontraksi otot detrusor dan pembukaan leher
kandung kemih. Proses reflek ini dipengaruhi oleh sistem saraf yang lebih tinggi yaitu batang otak,
korteks serebri dan serebelum. Pada usia lanjut biasanya ada beberapa jenis inkontinensia urin yaitu
ada inkontinensia urin tipe stress, inkontinensia tipe urgensi, tipe fungsional dan tipe overflow..
Inkontinensia urine dapat terjadi dengan berbagai manifestasi, antara lain:
Fungsi sfingter yang terganggu menyebabkan kandung kemih bocor bila batuk atau bersin. Terjadi
hambatan pengeluaran urine dengan pelebaran kandung kemih, urine banyak dalam kandung kemih
sampai kapasitas berlebihan. Seiring dengan bertambahnya usia, ada beberapa perubahan pada
anatomi dan fungsi organ kemih, antara lain : melemahnya otot dasar panggul akibat kehamilan
berkali-kali, kebiasaan mengejan yang salah, atau batuk kronis. Ini mengakibatkan seseorang tidak
dapat menahan air seni. Selain itu, adanya kontraksi (gerakan) abnormal dari dinding kandung
kemih, sehingga walaupun kandung kemih baru terisi sedikit, sudah menimbulkan rasa ingin
berkemih. Penyebab Inkontinensia Urine (IU) antara lain terkait dengan gangguan di saluran kemih
bagian bawah, efek obat-obatan, produksi urin meningkat atau adanya gangguan
kemampuan/keinginan ke toilet. Gangguan saluran kemih bagian bawah bisa karena infeksi.
Inkontinensia Urine juga bisa terjadi karena produksi urine berlebih karena berbagai sebab. Misalnya
gangguan metabolik, seperti diabetes melitus, yang harus terus dipantau
Selain hal-hal yang disebutkan diatas inkontinensia urine juga terjadi akibat kelemahan otot
dasar panggul, karena kehamilan, pasca melahirkan, kegemukan (obesitas), menopause, usia lanjut,
kurang aktivitas dan operasi vagina. Penambahan berat dan tekanan selama kehamilan dapat
menyebabkan melemahnya otot dasar panggul karena ditekan selama sembilan bulan. Proses
persalinan juga dapat membuat otot-otot dasar panggul rusak akibat regangan otot dan jaringan
penunjang serta robekan jalan lahir, sehingga dapat meningkatkan risiko terjadinya inkontinensia
urine. Dengan menurunnya kadar hormon estrogen pada wanita di usia menopause (50 tahun ke
atas), akan terjadi penurunan tonus otot vagina dan otot pintu saluran kemih (uretra), sehingga
menyebabkan terjadinya inkontinensia urine. Faktor risiko yang lain adalah obesitas atau
kegemukan, riwayat operasi kandungan dan lainnya juga berisiko mengakibatkan inkontinensia.
Semakin tua seseorang semakin besar kemungkinan mengalami inkontinensia urine, karena terjadi
perubahan struktur kandung kemih dan otot dasar panggul.
D. MANIFESTASI KLINIS
Desakan berkemih, di sertai ketidakmampuan mencapai kamar mandi karena telah
berkemih
Frekuensi, dan nokturia.
Inkontinensia stres, dicirikan dengan keluarnya sejumlah kecil urin ketika tertawa, bersin,
melompat, batuk atau membungkuk.
Inkontinensia overflow, dicirikan dengan aliran urin buruk atau melambat dan merasa
menunda atau mengedan.
Inkontinensia fungsional, dicirikan dengan volume dan aliran urin yang adekuat
Higiene buruk atau tanda- tanda infeksi

E. WOC


F. KLASIFIKASI
1. Inkontinensia Urin Akut Reversibel
Pasien delirium mungkin tidak sadar saat mengompol atau tak dapat pergi ke toilet sehingga
berkemih tidak pada tempatnya. Bila delirium teratasi maka inkontinensia urin umumnya juga akan
teratasi. Setiap kondisi yang menghambat mobilisasi pasien dapat memicu timbulnya inkontinensia
urin fungsional atau memburuknya inkontinensia persisten, seperti fraktur tulang pinggul, stroke,
arthritis dan sebagainya. Resistensi urin karena obat-obatan, atau obstruksi anatomis dapat pula
menyebabkan inkontinensia urin. Keadaan inflamasi pada vagina dan urethra (vaginitis dan
urethritis) mungkin akan memicu inkontinensia urin. Konstipasi juga sering menyebabkan
inkontinensia akut. Berbagai kondisi yang menyebabkan poliuria dapat memicu terjadinya
inkontinensia urin, seperti glukosuria atau kalsiuria. Gagal jantung dan insufisiensi vena dapat
menyebabkan edema dan nokturia yang kemudian mencetuskan terjadinya inkontinensia urin
nokturnal. Berbagai macam obat juga dapat mencetuskan terjadinya inkontinensia urin seperti
Calcium Channel Blocker, agonist adrenergic alfa, analgesicnarcotic, psikotropik, antikolinergik dan
diuretic. Untuk mempermudah mengingat penyebab inkontinensia urin akut reversible dapat dilihat
akronim di bawah ini :
Delirium
Restriksi mobilitas, retensi urin
Infeksi, inflamasi, Impaksi
Poliuria, pharmasi
2. Inkontinensia Urin Persisten
Inkontinensia urin persisten dapat diklasifikasikan dalam berbagai cara, meliputi anatomi,
patofisiologi dan klinis. Untuk kepentingan praktek klinis, klasifikasi klinis lebih bermanfaat karena
dapat membantu evaluasi dan intervensi klinis. Kategori klinis meliputi :
Inkontinensia akibat stress
Merupakan eliminasi urine diluar keinginan melalui uretra sebagai akibat dari peningkatan
mendadak pada tekanan intra-abdomen. seperti pada saat batuk, bersin atau berolah raga.
Umumnya disebabkan oleh melemahnya otot dasar panggul, merupakan penyebab tersering
inkontinensia urin pada lansia dibawah 75 tahun. Lebih sering terjadi pada wanita tetapi mungkin
terjadi pada laki-laki akibat kerusakan pada sfingter urethra setelah pembedahan trans urethral dan
radiasi. Pasien mengeluh mengeluarkan urin pada saat tertawa, batuk, atau berdiri. Jumlah urin yang
keluar dapat sedikit atau banyak.
Urge Incontinence
Terjadi bila pasien merasakan drongan atau keinginan untuk urinasi tetapi tidak mampu
menahannya cukup lama sebelum mecapai toilet. Inkontinensia urin jenis ini umumnya dikaitkan
dengan kontraksi detrusor tak terkendali (detrusor overactivity). Masalah-masalah neurologis sering
dikaitkan dengan inkontinensia urin urgensi ini, meliputi stroke, penyakit Parkinson, demensia dan
cedera medula spinalis. Pasien mengeluh tak cukup waktu untuk sampai di toilet setelah timbul
keinginan untuk berkemih sehingga timbul peristiwa inkontinensia urin. Inkontinensia tipe urgensi
ini merupakan penyebab tersering inkontinensia pada lansia di atas 75 tahun. Satu variasi
inkontinensia urgensi adalah hiper aktifitas detrusor dengan kontraktilitas yang terganggu. Pasien
mengalami kontraksi involunter tetapi tidak dapat mengosongkan kandung kemih sama sekali.
Mereka memiliki gejala seperti inkontinensia urin stress, overflow dan obstruksi. Oleh karena itu
perlu untuk mengenali kondisi tersebut karena dapat menyerupai inkontinensia urine tipe lain
sehingga penanganannya tidak tepat.
Overflow Incontinence
Ditandai oleh eliminasi urine yang sering dan kadang-kadang terjadi hampir terus-menerus
terjadi. Tidak terkendalinya pengeluaran urin dikaitkan dengan kansdung kemih tidak dapat
mengosongkan isinya secara normal dan megalami distensi yang berlebihan. Meskipun eliminasi
urine sering terjadi, kandug kemih tidak pernah kosong. Hal ini disebabkan oleh obstruksi anatomis,
seperti pembesaran prostat, faktor neurogenik pada diabetes melitus atau sclerosis multiple, yang
menyebabkan berkurang atau tidak berkontraksinya kandung kemih, dan faktor-faktor obat-obatan.
Pasien umumnya mengeluh keluarnya sedikit urin tanpa adanya sensasi bahwa kandung kemih
sudah penuh.
Inkontinensia urin fungsional
Merupakan inkontinensia dengan fungsi saluran kemih bagian bawah yang utuh tetapi ada
factor lain, seperti angguan kognitif berat yang membuat pasien sulit untk mengidentifkasi perlunya
miksi (demensia alzhimer) atau gangguan fisik yang menyebabkan pasien sulit atau tidak mungkin
menjangkau toilet untuk melakukan urinasi. Memerlukan identifikasi semua komponen tidak
terkendalinya pengeluaran urine akibat faktor-faktor di luar saluran kemih. Penyebab tersering
adalah demensia berat, masalah muskuloskeletal berat, faktor lingkungan yang menyebabkan
kesulitan unutk pergi ke kamar mandi, dan faktor psikologis. Seringkali inkontinensia urin pada lansia
muncul dengan berbagai gejala dangan membran urodinamik lebih dari satu tipe inkontinensia urin.
Penatalaksanaan yang tepat memerlukan identifikasi semua komponen.
G. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Tes diagnostik pada inkontinensia urin
(Menurut Ouslander), tes diagnostik pada inkontinensia perlu dilakukan untuk mengidentifikasi
faktor yang potensial mengakibatkan inkontinensia, mengidentifikasi kebutuhan klien dan
menentukan tipe inkontinensia. Mengukur sisa urine setelah berkemih, dilakukan dengan cara :
Setelah buang air kecil, pasang kateter, urin yang keluar melalui kateter diukur atau
menggunakan pemeriksaan ultrasonik pelvis, bila sisa urin > 100 cc berarti pengosongan kandung
kemih tidak adekuat. Urinalisis, dilakukan terhadap spesimen urine yang bersih untuk mendeteksi
adanya factor yang berperan terhadap terjadinya inkontinensia urin seperti hematuri, piouri,
bakteriuri, glukosuria, dan proteinuria. Tes diagnostik lanjutan perlu dilanjutkan bila evaluasi awal
didiagnosis belum jelas. Tes lanjutan tersebut adalah :
Tes laboratorium tambahan seperti kultur urin, blood urea nitrogen, creatinin, kalsium
glukosa sitologi.
Tes urodinamik adalah untuk mengetahui anatomi dan fungsi saluran kemih bagian bawah
Tes tekanan urethra adalah mengukur tekanan di dalam urethra saat istirahat dan saat
dinamis
Imaging adalah tes terhadap saluran perkemihan bagian atas dan bawah.
Pemeriksaan penunjang Uji urodinamik sederhana dapat dilakukan tanpa menggunakan
alat-alat mahal. Sisa-sisa urine pasca berkemih perlu diperkirakan pada pemeriksaan fisis.
Pengukuran yang spesifik dapat dilakukan dengan ultrasound atau kateterisasi urine.
Merembesnya urin pada saatdilakukan penekanan dapat juga dilakukan. Evaluasi tersebut
juga harus dikerjakan ketika kandung kemih penuh dan ada desakan keinginan untuk
berkemih. Diminta untuk batuk ketika sedang diperiksa dalam posisi litotomi atau berdiri.
Merembesnya urin sering kali dapat dilihat. Informasi yang dapat diperoleh antara lain saat
pertama ada keinginan berkemih, ada atau tidak adanya kontraksi kandung kemih tak
terkendali, dan kapasitas kandung kemih.

Laboratorium Elektrolit, ureum, creatinin, glukosa, dan kalsium serum dikaji untuk
menentukan fungsi ginjal dan kondisi yang menyebabkan poliuri.
Catatan berkemih (voiding record) Catatan berkemih dilakukan untuk mengetahui
pola berkemih. Catatan ini digunakan untuk mencatat waktu dan jumlah urin saat
mengalami inkontinensia urin dan tidak inkontinensia urin, dan gejala berkaitan
dengan inkontinensia urin. Pencatatan pola berkemih tersebut dilakukan selama 1-
3 hari. Catatan tersebut dapat digunakan untuk memantau respon terapi dan juga
dapat dipakai sebagai intervensi terapeutik karena dapat menyadarkan pasien
faktor-faktor yang memicu terjadinya inkontinensia urin pada dirinya.

H. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan inkontinensia urin menurut Muller adalah mengurangi faktor resiko,
mempertahankan homeostasis, mengontrol inkontinensia urin, modifikasi lingkungan, medikasi,
latihan otot pelvis dan pembedahan. Dari beberapa hal tersebut di atas, dapat dilakukan sebagai
berikut :
Pemanfaatan kartu catatan berkemih
Yang dicatat pada kartu tersebut misalnya waktu berkemih dan jumlah urin yang keluar, baik
yang keluar secara normal, maupun yang keluar karena tak tertahan, selain itu catat waktu, jumlah
dan jenis minuman yang diminum.
Terapi non farmakologi
Dilakukan dengan mengoreksi penyebab yang mendasari timbulnya inkontinensia urine,
seperti hiperplasia prostat, infeksi saluran kemih, diuretik, gula darah tinggi, dan lain-lain. Adapun
terapi yang dapat dilakukan adalah :
Melakukan latihan menahan kemih (memperpanjang interval waktu berkemih) dengan
teknik relaksasi dan distraksi sehingga frekwensi berkemih 6-7 x/hari.
Lansia diharapkan dapat menahan keinginan untuk berkemih bila belum waktunya.
Lansia dianjurkan untuk berkemih pada interval waktu tertentu, mula-mula setiap jam,
selanjutnya diperpanjang secara bertahap sampai lansia ingin berkemih setiap 2-3 jam.
Membiasakan berkemih pada waktu-waktu yang telah ditentukan sesuai dengan kebiasaan
lansia.
Promted voiding dilakukan dengan cara mengajari lansia mengenal kondisi berkemih
mereka serta dapat memberitahukan petugas atau pengasuhnya bila ingin berkemih.
Teknik ini dilakukan pada lansia dengan gangguan fungsi kognitif (berpikir).
Melakukan latihan otot dasar panggul dengan mengkontraksikan otot dasar panggul
secara berulang-ulang.

Terapi farmakologi
Obat-obat yang dapat diberikan pada inkontinensia urine adalah:
antikolinergik seperti Oxybutinin, Propantteine, Dicylomine
Pada inkontinensia stress diberikan alfa adrenergic agonis, yaitu :
pseudoephedrine untuk meningkatkan retensi urethra.
Pada sfingter relax diberikan kolinergik agonis seperti :
Bethanechol atau alfakolinergik antagonis seperti prazosin untuk stimulasi kontraksi, dan
terapidiberikan secara singkat.

Terapi pembedahan
Terapi ini dapat dipertimbangkan pada inkontinensia tipe stress dan urgensi, bila terapi non
farmakologis dan farmakologis tidak berhasil. Inkontinensia tipe overflow umumnya memerlukan
tindakan pembedahan untuk menghilangkan retensi urin. Terapi ini dilakukan terhadap tumor, batu,
divertikulum, hiperplasia prostat, dan prolaps pelvic (pada wanita).
Penatalaksanaan pembedahan
Ada berbagai macam tindakan bedah yang dapat dilakukan : perbaikan vagina, suspensi
kandung kemih pada abdomen dan elevasi kolum vesika urinaria. Sfingter artificial yang dimodifikasi
dengan megunakan balon karet-silikon sebagai mekanisme penekanan swa-regulasi dpat digunakan
untuk menutup uretra. Metode lain untuk mengontrol inkontinensia stress adalah aplikasi stimulasi
elektronik pada dasar panggul dengan bantuan pulsa generator miniature yang dilengakapi
electrode yang dipasang pada sumbat intra-anal.


Modalitas lain
Sambil melakukan terapi dan mengobati masalah medik yang menyebabkan inkontinensia
urin, dapat pula digunakan beberapa alat bantu bagi lansia yang mengalami inkontinensia urin,
diantaranya adalah pampers, kateter, dan alat bantu toilet sepertiurinal, komod dan bedpan
Kateter
Kateter menetap tidak dianjurkan untuk digunakan secara rutin karenadapat menyebabkan
infeksi saluran kemih, dan juga terjadi pembentukanbatu. Selain kateter menetap, terdapat kateter
sementara yang merupakanalat yang secara rutin digunakan untuk mengosongkan kandung
kemih.Teknik ini digunakan pada pasien yang tidak dapat mengosongkankandung kemih. Namun
teknik ini juga beresiko menimbulkan infeksi padasaluran kemih.
Alat bantu toilet
Seperti urinal, komod dan bedpan yang digunakan oleh orang usia lanjutyang tidak mampu
bergerak dan menjalani tirah baring. Alat bantu tersebutakan menolong lansia terhindar dari jatuh
serta membantu memberikankemandirian pada lansia dalam menggunakan toilet.
Latihan Otot Dasar Panggul
Posisi tidur telentang dengan kedua kaki ditekuk sehingga otot panggul sejajar dengan
lantai.
Tahan otot panggul seperti menahan kencing selama sepuluh hitungan atau sesanggupnya.
Lepaskan dan relaks selama sepuluh hitungan.
Lakukan lagi dan lepaskan lagi lebih kurang 5x latihan.
Lakukan sebanyak 3x sehari (pagi, siang dan malam)







ASKEP TEORI
A. Pengkajian
1. Identitas klien
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, alamat, pekerjaan, alamat, suku bangsa,
tanggal, jam MRS, nomor registrasi, dan diagnosa medis.
2. Riwayat kesehatan
Riwayat kesehatan sekarang
Berapakah frekuensi inkonteninsianya, apakah ada sesuatu yang mendahului inkonteninsia
(stres, ketakutan, tertawa, gerakan), masukan cairan, usia/kondisi fisik, kekuatan dorongan/aliran
jumlah cairan berkenaan dengan waktu miksi. Apakah ada penggunaan diuretik, terasa ingin
berkemih sebelum terjadi inkontenin, apakah terjadi ketidakmampuan.
Riwayat kesehatan dahulu
Apakah klien pernah mengalami penyakit serupa sebelumnya, riwayat urinasi dan catatan
eliminasi klien, apakah pernah terjadi trauma/cedera genitourinarius, pembedahan ginjal, infeksi
saluran kemih dan apakah dirawat dirumah sakit.
Riwayat kesehatan keluarga
Tanyakan apakah ada anggota keluarga lain yang menderita penyakit serupa dengan klien dan
apakah ada riwayat penyakit bawaan atau keturunan, penyakit ginjal bawaan/bukan bawaan.
3. Pemeriksaan fisik
Keadaan umum
Klien tampak lemas dan tanda tanda vital terjadi peningkatan karena respon dari terjadinya
inkontinensia
4. Pemeriksaan Sistem :
B1 (breathing)
Kaji pernapasan adanya gangguan pada pola nafas, sianosis karena suplai oksigen menurun. kaji
ekspansi dada, adakah kelainan pada perkusi.

B2 (blood)
Peningkatan tekanan darah, biasanya pasien bingung dan gelisah
B3 (brain)
Kesadaran biasanya sadar penuh
B4 (bladder)
Inspeksi : periksa warna, bau, banyaknya urine biasanya bau menyengat karena adanya
aktivitas mikroorganisme (bakteri) dalam kandung kemih serta disertai keluarnya darah apabila ada
lesi pada bladder, pembesaran daerah suprapubik lesi pada meatus uretra, banyak kencing dan nyeri
saat berkemih menandakan disuria akibat dari infeksi, apakah klien terpasang kateter sebelumnya.
Palpasi : Rasa nyeri di dapat pada daerah supra pubik / pelvis, seperti rasa terbakar di urera
luar sewaktu kencing / dapat juga di luar waktu kencing.
B5 (bowel)
Bising usus adakah peningkatan atau penurunan, Adanya nyeri tekan abdomen, adanya
ketidaknormalan perkusi, adanya ketidaknormalan palpasi pada ginjal.
B6 (bone)
Pemeriksaan kekuatan otot dan membandingkannya dengan ekstremitas yang lain, adakah
nyeri pada persendian.
5. Pengkajian Psikososial
Bersedih
Murung
Mudah tersinggung
Mudah marah
Isolasi social
Perubahan peran



B. Diagnosa keperawatan Yang Mungkin Muncul

1. Gangguan rasa nyaman nyeri b/d penyebaran infeksi dari uretra
2. Kekurangan Volum cairan b/d diuresis osmotic
3. Resiko tinggi infeksi b/d glukosa darah yang tinggi (hiperglikemia)
4. Kelelahan b/d kelemahan otot
5. Isolasi Sosial berhubungan dengan keadaan yang memalukan akibat mengompol dan bau
urine

C. NCP
NO Diagnosa keperawatan Tujuan kriteria hasil Intervensi Rasional
1. Gangguan rasa nyaman
nyeri b/d penyebaran
infeksi dari uretra
Setelah
dilakukan
tindakan
kepeawatan
selama 2x24
jam
diharapakan
nyeri dapat
teratasi atau
berkurang
-Nyeri
terkntrol
atau hilang
- Klien dapat
kembali
tenang dan
rileks
- Klien
mampu
beristirahat
seperti
biasanya
Mandiri :
- Kaji nyeri,
perhatikan lokasi,
intensitas atau
skala nyeri dan
lamanya nyeri


- Catat lamanya
intensitas (skala 0-
10) dan penyebaran


- Berikan tindakan
keyamanan.

-Memberi kan informasi
untuk membantu dalam
menentukan pilihan dan
keefektifan intervensi
- Membantu mengevaluasi
tempat obstruksi dan
kemajuan gerakan kalkulus
- Meningkat-kan relaksasi,
memfokus-kan kembali
perhatian dan dapat
meningkat-kan kembali
kemampuan koping




Contoh :
Membantu pasie
memberikan posisi
yang nyaman,
mendorong
penggunaan
relaksasi atau
latihan nafas dalam
Kolaborasi
- Berikan obat
sesuai indikasi.
Contoh: analgesik
- Berikan
pemanasan local
sesuai indikasi


- Meng-hilangkan nyeri,
menentukan obat yang
tepat untuk mencegah
fluktuasi nyeri ber-
hubungan dengan
tegangan
- Digunakan untuk me-
ningkatkan relaksasi, dan
sirkulasi
2. Kekurangan Volum
cairan b/d diuresis
osmotic

Klien
menunjukkan
hidrasi yang
adekuat/
kekurangan
cairan dapat
diatasi
- TTV stabil
- Membrane
mukosa
bibir lembab
- Turgor kulit
elastic
- Intake dan
output
seimbang
Mandiri :
- Dapatkan riwayat
pasien/ orang
terdekat
sehubungan
dengan lamanya
gejala seperti
muntah dan
pengeluaran urine
yang berlebihan
- Pantau TTV, catat
adanya perubahan
TD
- Untuk memperoleh data
tentang penyakit pasien,
agar dapat melakukan
tindakan sesuai yang
dibutuhkan
- Indicator hidrasi/volum
sirkulasi dan kebutuhan
intervensi.
- Membandingkan keluaran
actual dan yang diantisipasi
membantu dalam evaluasi
adanya/ derajat stasis/
kerusakan ginjal
warna kulit dan
kelembaban-nya
- Pantau masukan
dan pengeluaran
urine








- Timbang BB
setiap hari
- Pertahankan
untuk memberikan
cairan paling sedikit
2500 ml/hari dalam
batas yang dapat
ditoleransi jantung

Kolaborasi:
- Berikan terapi
cairan sesuai
indikasi
- Peningkatan BB yang cepat
mungkin berhubungan
dengan retensi
- Memper-tahankan
keseimbangan cairan





- Memenuhi kebutuhan
cairan tubuh
Mempertahankan volum
sirkulasi, meningkatkan
fungsi ginjal
- Berikan cairan IV
3. Resiko tinggi infeksi b/d
glukosa darah yang tinggi
(hiperglikemia)

Mandiri:
- Berikan
perawatan perineal
dengan air sabun
setiap shift. Jika
pasien
inkontinensia, cuci
daerah perineal
sesegera mungkin.
- Jika di pasang
kateter indwelling,
berikan perawatan
kateter 2x sehari
(merupakan bagian
dari waktu mandi
pagi dan pada
waktu akan tidur)
dan setelah buang
air besar
- Kecuali
dikontraindikasikan,
ubah posisi pasien
setiap 2jam dan
anjurkan masukan
sekurang-
kurangnya 2400 ml
/ hari. Bantu
melakukan
ambulasi sesuai
dengan kebutuhan.

- Untuk mencegah
kontaminasi uretra.









- Kateter memberikan jalan
pada bakteri untuk
memasuki kandung kemih
dan naik ke saluran
perkemihan





- Untuk mencegah stasis
urine.

Berikan terapi
antibiotoik

- Mungkin diberikan secara
profilaktik sehubungan
dengan peningkatn resiko
infeksi

D. Imlementasi
Dilaksanakan sesuai dengan rencana tindakan, menjelaskan setiap tindakan yang akan
dilakukan sesuai dengan pedoman atau prosedur tekhnis yang telah ditentukan.

E. Evaluasi
Pengukuran efektifitas intervensi askep yang telah disusun dan tujuan yang ingin dicapai ada
3 kemungkinan:
1) Tujuan tercapai
2) Tujuan tercapai sebagian
3) Tujuan tidak tercapai









BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Inkontinensia urin merupakan keluhan yang banyak dijumpai pada lanjut usia.
Prevalensinya meningkat dengan bertambannya umur, lebih banyak didapatkan pada wanita
dan pada penderita-Penderita lanjut usia yang dirawat di bangsal akut.
Inkontinensia urin mempunyai kemungkinan besar untuk disembuhkan, terutama
pada penderita dengan mobilitas dan status mental yang cukup baik. Perawatan
inkontinensia urin harus dilaksanakan dengan cara bladder training/ senam kegel dengan
kolaborasi. Bahkan bila tida diobati sempurna, inkontinensia selalu dapat diupayakan lebih
baik, sehingga kualitas hidup penderita meningkat dan meringankan beban yang merawat.
Pengelolaan di inkontinensialurin dimulai antara lain dengan membedakan apakah secara
garis besar penyebabnya dari segi urologik atau masalah neurologik. Kemudian penting
untuk diketahui apakah inkontinensia terjadi secara akut/kronik/ persisten. Inkontinensia
akut biasanya reversible, berhubungan dengan penyakit akut yang sedang diderita, dan akan
balk lagi bila penyakit-penyakit akut tersebut sudah disembubkan. Sedang pengobatan yang
optimal dari inkontinensia yang persisten tergantung pada tipe inkontinensia yang diderita.
B. Saran

Masalah inkontinensia urine sering terjadi pada lansia. Oleh karena itu, perawat juga
harus memahami proses menua balk secara iisiologik maupun psikologik untuk dapat
membantu dan merawat lansia dengan inkontinensia urine dengan maksimal.
Menganjurkan pada lansia agar tetap melaksanakan senam kegel secara teratur.
Bagi keluarga/ pengasuh harus dapat memotivasi pasien agar dapat selalu melakukan senam
kegel secara teratur.



DAFTAR PUSTAKA
Asmadi. 2008. Teknik Prosedural Keperawatan: Konsep dan Aplikasi. Jakarta : Salemba Medika.
Darmojo B. 2009. Geriatri ilmu kesehatan usia lanjut. Edisi keempat. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Hariyati, Tutik S. (2000). Hubungan antara bladder retraining dengan proses pemulihan inkontinensia
urin pada pasien stoke. Diakses dari
http://www.digilib.ui.ac.id/opac/themes/libri2/detail.jsp?id=76387&lokasi=lokal pada tanggal 20
Oktober 2014
Hidayat, A. Alimul. (2006). Pengantar kebutuhan dasar manusia: aplikasi konsep dan proses
keperawatan. Jakarta: Salemba Medika