Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Telah lama tumbuh dan berakar dalam masyarakat suatu pandangan bahwa martabat wanita
kurang beruntung. Dari peristiwa sehari-hari maupun media massa, kita mendengar adanya
ketidakadilan gender. Ketidakadilan gender dapat bermakna macam-macam misalnya menurut
Deklarasi Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan, pasal 2 disebutkan bahwa jenis-jenis
kekerasan terhadap perempuan mencakup, namun tidak terbatas pada :
1. Kekerasan secara fisik, seksual dan psikologis yang terjadi dalam ranah keluarga
termasuk pemukulan, penyalahgunaan seksual atas perempuan kanak-kanak dalam rumah
tangga, kekerasan yang berhubungan dengan mas kawin, perkosaan dalam perkawinan,
pengrusakan alat kelamin perempuan dan praktek-praktek kekejaman tradisional lain
terhadap perempuan. Kekerasan di luar hubungan suami istri dan kekerasan yang
berhubungan dengan eksploitasi
2. Kekerasan secara fisik, seksual dan psikologis yang terjadi dalam masyarakat luas
termasuk perkosaan, penyalahgunaan seksual, pelecehan dan ancaman seksual di tempat
kerja dalam lembaga-lembaga pendidikan dan sebagainya, perdagangan perempuan dan
pelacuran paksa
3. Kekerasan secara fisik, seksual dan psikologis yang dilakukan atau dibenarkan oleh
negara, dimanapun terjadinya.
Seorang peneliti gender, Kristi E. Purwandari, mengemukakan beberapa bentuk kekerasan
sebagai berikut:
1. Kekerasan fisik , seperti : memukul, menampar, mencekik. Contoh : dipukul dengan
tangan, dipukul dengan sendok, ditentang, dicekik, dijambak dicukur paksa, kepala
dibenturkan ke tembok dan sebagainya.
2. Kekerasan psikologis, seperti: berteriak, menyumpah, mengancam melecehkan diancam,
disumpah, pendapat korban tidak pernah dihagai dilarang bergaul, tidak pernah diajak
dalam pertimbangan pendapat serta direndahkan dengan mengucapkan kata-kata yang
sifatnya merendahkan posisi perempuan dan sebagainya.
3. Kekerasan seksual, seperti : melakukan tindakan yang mengarah keajakan/desakan
seksual seperti menyentuh, mencium, memaksa berhubungan seks tanpa persetujuan
korban dan lain sebagainya.

4. Kekerasan finansial, seperti : mengambil barang korban, menahan atau tidak memberikan
pemenuhan kebutuhan finansial membebankan biaya rumah tangga sepenuhnya kepada
istri (istri yang bekerja secara formal) atau tidak memberikan pemenuhan finansial kepada
istri.
5. Kekerasan spiritual, seperti : merendahkan keyakinan dan kepercayaan korban, memaksa
korban mempraktekan ritual dan keyakinan tertentu
Sejak tahun 2004 Indonesia memiliki undang-undang yang mengatur mengenai perlindungan
terhadap kekerasan dalam rumah tangga. UU No 23 tahun 2004 tentang perlindungan terhadap
KDRT menyatakan bahwa:
1. Kekerasan fisik terhadap perempuan menyebabkan dan melestarikan subordinasi
fenomena yang merata dan tidak mengenal batas wilayah
2. Biasanya merupakan beban kesehatan yang tersembunyi dan dilakukan atas nama
harmoni dari area publik
3. Kekerasan domestik adalah masalah privat sehingga tidak diatur dalam area publik tidak
cukup penting untuk diatur melalui hukum.
Data Komnas Perempuan tahun 2010 menunjukkan bahwa dari tahun ke tahun kasus
kekerasan terhadap perempuan semakin meningkat.


Hal ini menunjukkan bahwa ketidakadilan gender masih terjadi di negeri ini.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. PERENDAHAN MARTABAT KAUM PEREMPUAN
Perendahan martabat kaum perempuan sudah berlangsung sejak sejarah awal umat
manusia. Kaum perempuan senantiasa di posisikan lebih rendah. Para tokoh sepanjang perjalanan
sejarah berpendapat sebagai berikut:
a. Plato : perempuan adalah degradasi laki-laki. Seorang laki-laki pengecut pada
kelahirannya yang berikut akan menjadi perempuan."
b. Aristoteles: andai kata wanita punya jiwa, maka jiwa yang di milikinya tidak sepenuhnya
di miliki laki-laki."
c. Pasdhon, Schopenhauer, dan nietsche : wanita adalah bentuk pengurangan laki-
laki.dalam hubungannya reproduksi, mereka menyatakan bahwa kaum laki-laki tidak
dapat bereproduksi, justru karena ialah makluk yang trasenden. Dan di sinilah letak
kehormatan dan kemuliaannya. Wanita di anggap lebih rendah atau hina justru karena
mereka makluk yang bereproduksi."
d. Ferdinand marcos: saya tidak takut siapapun, juga terhadap wanita. Tempat seorang
wanita adalah tempat tidur."
Posisi lebih rendah dari kaum wanita inilah yang menjadi sumber dari perlakuan tidak adil
karena posisi tersebut mengkondisikan ketidak berdayaan wanita.peranata social yang berdasar
pada pandangan relasi timpang ini akan menciptakan berbagai macam diskriminasi yang akhirnya
muncul dalam berbagai bentuk ketidak adilan gender.
Situasi yang paling mengerikan terjadi jika kaum perempuan sudah mati rasa sehingga
mereka tidak mampu lagi untuk menyadari bahwa mereka menjadi korban ketidak adilan.
2.2. SEBAB-SEBABNYA
Ada banyak sebab martabat kaum perempuan di lecehkan. Disini akan di ajukan 2 alasan,
yakni budaya patriarkhi dan stereotip yang diciptakan oleh media khususnya iklan-iklan.
a. Budaya patriarkhi mengajarkan bahwa garis keturunan anak ditentukan oleh garis dari
ayah, maka semua pranata social tentang kehidupan dilatarbelakangi oleh pandangan
patriarkhi. Ayah menjadi penentu keturunan, maka dalam proses kehidupan kaum laki-
laki menjadi kelmpok masyrakat yang berkuasa. Akibatnya, kekuasaan kaum laki-laki
menjadi system yang kuat dan dianggap benar. Kekuasaaan ini dibangun atas dasar
pandangan pasangan (biner) laki-laki dan subordinat bagi perempuan. Untuk menutup
supaya kekuasaan tidak terancam oleh perlawana terhadap kekuasaan, maka agama
dijadikan alat sembunyi yang paling aman bagi penguasa.
b. Sementara itu, dizaman media ini wanita sering di sterotip dan di eksploitasi untuk suatu
kepentingan yang bersifat ekonomis atau entertainment (kesenangan).
Kondisi yang sangat menyudutkan wanita dapat dilihat dalam hal-hal yang berikut:
a. Wanita tidak mempunyai kesempatan yang sama dengan kaum laki-laki berkenaan
dengan pendidikan, lapangan kerja, atau promosi.
b. Wanita berperan ganda karena pembagian kerja menurut jenis kelamin. Jadi, wanita yang
bekerja tetap dituntut tanggung jawab atas kesejahteraan keluarga dan tugas di rumah.
c. Apa yang dikatakan oleh pria dinilai lebih tinggi dari pada yang dikatakan oleh wanita
karena kedudukan maratab laki-laki lebih besar.
d. Wanita lebih berperan sebagai pelaksan daripada pengambil keptusan, penuntut program,
atau struktur organisasi didalam lembaga, perusahaan atau kelompok.
2.3. PERSOALAN GENDER ADALAH KETIDAKADILAN
Persoalan gender yang paling utama adalah ketidakadilan antara laki-laki dan perempuan
di dalam kedudukan, peran serta akses dalam berbagai idang kehidupan. Ketidakadilan gender
juga terlihat dalam substansi produk hokum yang cenderung menempatkan perempuan dibawah
kekuasaan laki-laki.
Ketidakadilan gender terlihat dalam sikap diskrimatip permepuan terhadap laki-laki.
Bentuk-bentuk perlakuan diskriminatip adalah sebagai berikut:
1. Mariginalisasi hak perempuan
2. Subordinasi perempuan terhadap laki-laki
3. Exploitasi perempuan
4. Dependensi perempuan terhadap laki-laki
5. Domestifikasi kaum perempuan
2.4. KETIDAKADILAN GENDER DALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
Banyak peraturan perudang-undangan yang masih bias gender. Menurut catatan Komnas
perempuan, sejak tahun 2009-2011 terdapat 207 peraturan daerah yang dindikasi bias
gender/diskiminatif. Keadaan ini menjadi satu sumber kecemasan/ kegalauan di dalam hidup
berbangasa dan bernegara ketika ada sebagian masyarakatnya yang mengalami ketidakadilan
dalam kedudukan dan peran serta diperlakukan diskriminatif.
Semua produk hukum di Indonesia harus merujuk pada ideology pancasila sebagai dasar
filosofis. Hak dan kewajiban setiap warga Negara Indonesia yang diatur dalam peraturan
perundang-undangan harus berlaku seimbang dan sejajar. Secara filosofis, hal tersebut termasuk
jelas dalam di dalam sila ke-2 dan sila ke-5 Pancasila. Sila ke-2 Pancasila Kemanusiaan Yang
Adil dan Beradab menegaskan bahwa kemanusiaan / martabat manusia tidak ditentukan karena
jenis kelamin. Laki-laki dan perempuan memiliki martabat yang sam dan berhak mendapatkan
perlakuan yang adil. Selanjutnya di dalam sila ke-5 Pancasila Keadilan Sosial Bagi Seluruh
Rakyat Indonesia, menegaskan perlakuan yang adil dan sama antara laki laki dan perempuan
dalam kedudukan dan status peran.
Didalam teori pembuatan perundang-undangan di Indonesia, Pancasila merupakan sumber
nilai sekaligus menjadi landasan idiil dari sebuah konstitusi Negara. Pancasila sebagai landasan
idiil mulai mendapat bentuk yang konkret di dalam UUD 1945 sebagai Konstitusi Dasar Tertulis
(Grand Norma). Logika hukumnya bahwa semua produk hokum dibawah Undang-Undang Dasar
1945 harus taat asas ketentuan konstitusi dasar tersebut.
Dalam perjalanan hidup berbangsa dan bernegara, banyak produk yang mengabaikan
prinsip-prinsip dan nilai-nilai kehidupan yang menjadi muatan dasar di dalam Pancasila dan
UUD 1945. Beberapa produk hukum yang memperlihatkan ketidakadilan gender adalah sebagai
berikut:
1. Hukum Perkawinan Indonesia
Hukum perkawinan di Indonesia merujuk pada ketentuan Undang-Undang no.1 Tahun
1974 serta perinciannya dalam Peraturan Pemerintah no.9 Tahun 1975 serta peraturan lain yang
relevan.
Di dalam UU no.1 Tahun 1974 pasal 4 ayat 2 menyebutkan bahwa: ijin kepada seorang
suami yang akan beristri lebih dari seseorang apabila:
1. Istri tidak dapat menjalakan kewajibannya sebagai istri
2. Istri mendapat cacat badan atau penyakit yang tak dapat disembuhkan
3. Istri tidak dapat melahirkan keturunan
Ketentuan ini sangat memperlihatkan bahwa istri (wanita) hanya dipahami sebagai
pendamping-pelengkap dan terkesan bahwa martabat wanita direduksi sebagai benda (benda
rusak dan tak dapat dipakai lagi bisa dibuang). Pasal ini memperlihatkan bentuk diskriminasi
perempuan dalam konteks eksploitasi hak perempuan.
Hal yang lain juga terdapat dalam pasal 31 yang menyebutkan bahwa Suami adalah
Kepala Keluarga sementara istri adalah ibu rumah tangga. Rumusan ini sangat memberi kesan
bahwa istri adalah subordinat suami dan suami menjadi penguasa Tunggal di dalam kehidupan
keluarga.
Kekerasan terhadap anak perempuan juga terlihat di dalam undang undang ini, yakni
termasuk dala pasal 7. Pasal 7 menyebutkan bahwa usia menikah minimal 16 tahun dan sebelum
mencapai usia 21 tahun harus mendapatkan ijin orangtua/ wali. Penetapan usia minimal menikah
bagi perempuan persis bertentangan dengan Konvensi International Hak Anak.
2. Bias Gender dalam KUHP
Di dalam pasal 285 KUHP Indonesia disebutkan bahwa perkosaan adalah sebuah tundak
pidana jika terjadi pemaksaaan persetubuhan terhadap perempuan bukan istrinya. Pasal ini bias
gender karena De Facto pemerkosaan bisa terjadi suami maupun terhadap istri. Apapun yang
namanya perkosaan merupakan sebuah tindakan yang merugikan orang lain sekaligus merupakan
suatu tindak pidana.
3. Bias gender dalam Hukum Perdata Perbankan
Di dalam hukum perbankan disebutkan bahwa seorang istri tidak bisa mengakses kredit
perbankan apabila tidak / belum ada persetujuan suami. Undang-undang ini memperlihatkan
bahwa wanita adalah subordinasi dari laki-laki sekaligus hak perempuan sangat bergantung pada
laki-laki.
4. UU Tenaga Kerja
Di dalam undang-undang tenaga kerja disebutkan bahwa pekerja perempuan yang sudah
berkeluarga dianggap sebagai lajang karena itu tidak mendapat tunjangan keluarga. Undang-
undang ini memperlihatkan sikap marginalisasi perempuan terhadap laki-laki dalam memenuhi
haknya sebagai seorang pekerja.

2.5. INDIKATOR KEADILAN GENDER DI DALAM PRODUK
Sekarang ini pembuat kebijakan mulai memiliki kesadan baru untuk melahirkan kebijakan
atau peraturan perundang-undangan yang respon gender. Sikap politik pemerintah juga mulai
memperlihatkan sikap yang adil terhadap hak perempuan dan laki-laki. Beberapa produk hukum
yang respon gender saat ini:
1) UU KDRT
2) UU Kewarganegaraan
3) UU Perlindungan Saksi dan Korban
4) UU Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang
5) UU Partai Politik
Kita selalu berharap bahwa peraturan perundang-undangan yang masih mempertahankan
bias gender tetap di evaluasi. Kita membutuhkan sikap politik yang tegas supaya semua produk
politik tetap menjunjung tinggi keadilan hak perempuan dan laki-laki dalam semua dimensi
kehidupan.
Undang-undang yang respon gender membutuhkan keterlibatan semua masyarakat dan
kerja yang sistematis semua pihak. Ada beberapa indikator penting yang menjadi kriteria apakah
perundang-undangan itu bias gender atau respon gender. Indikator ini menjadi alat ukur keadilan
gender di dalam sebuah produk hukum. Indicator-indikator itu adalah sebagai berikut: (1) akses;
(2) partisipasi; (3) control; (4) manfaat

2.6. LANGKAH STRATEGIS PENYUSUNAN KEBIJAKAN YANG RESPON GENDER
Langkah praktis dan strategis unutk pengintergrasian konsep gender dalam perumusan
dan penyusunan peraturan perundang-undangan:
1. Membangun kesadaran pada setiap perempuan bahwa perempuan memiliki martabat dan
kodrat yang sama dengan laki-laki.
2. Membangun kesadaran masyarakat bahwa perbedaan jenis kelamin tidak menentukan
kodrat dan martabat tetapi sebaliknya mempunyai hak yang sama dengan laki-laki dalam
peran dan kedudukan di hadapan masyarakat atau peraturan perundang-undang
3. Mendorong kaum perempuan untuk terlihat aktif di dalm kegiatan social dan politik
supaya memliki akses di dalam lembaga pembuat atau penyusunan peraturan perundang-
undangan
2.7. Pandangan Agama Mengenai Gender
1. Pandangan islam tentang gender
Satu-satunya ayat al-Quran yang seringkali dijadikan dasar legetimasi keabsahan kekerasan
terhadap perempuan adalah ayat tentang pemukulan suami terhadap isteri karena nusyuz
(membangkang). Ayat tersebut menyatakan: perempuan-perempuan yang kamu takutkan
nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka dari tempat tidur mereka dan
pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan
untuk menyusahkannya. Sesungguh Allah Maha Tinggi Maha Besar (Q.S. al Nisa [4]; 34).
Ayat ini berkaitan dengan kasus isteri yang nusyuz. Nusyuz sesungguhnya berlaku bagi isteri dan
suami. Pada asalnya nusyuz berarti merasa diri tinggi.
Dalam kamus al Mishbah al Munir, nusyuz secara bahasa berarti durhaka kepada suami atau
menolak kemauan suami, membangkang. Sementara al Syarbini dalam Mughni al Muhtaj
menjelaskan bahwa nusyuz ialah isteri yang keluar rumah tanpa izin suami. Dia melakukan hal
itu bukan dalam rangka sesuatu yang penting, misalnya mengadukan hak-haknya kepada
pengadilan, tidak untuk mencari nafkah disebabkan kemiskinan suaminya dan tidak untuk belajar
hukum-hukum agama yang wajib bagi dirinya disebabkan kebodohan suaminya5 . Jadi jika dia
keluar rumah tanpa izin suami dilakukan untuk kepentingan-kepentingan ini, maka tindakan
tersebut tidak disebut nusyuz.
Nusyuz seorang perempuan bisa terekspresikan dalam banyak hal. Adakalanya dalam bentuk
ucapan. Contohnya; dia tidak mau menjawab pembicaraan suami seperti biasanya, atau dia bicara
dengan bahasa yang kasar. Adakalanya dalam bentuk tindakan, misalnya dia menolak ajakan
berhubungan intim. Atau dia datang dengan wajah cemberut atau dengan sikap ogah-ogahan.
Isteri yang nusyuz menurut al-Quran boleh diberikan sanksi. Sanksi yang dikenakan terhadap
isteri yang nusyuz, menurut makna tekstual ayat di atas adalah dinasehati, dibiarkan sendirian di
tempat tidumya dan dipukul. Tiga cara ini dilakukan secara bertahap sesuai urutannya.
Berdasarkan ayat al-Quran di atas, para ahli tafsir kemudian mengemukakan pandangan
yang beragam. Pernyataan paling menggelisahkan perempuan tentang soal ini dikemukakan oleh
ahli tafsir terkemuka; Abu Hayyan al Andalusi dalam tafsirnya Al Bahr al Muhith. Ia mengatakan
: (Dalam menghadapi isteri yang nusyuz) suami pertama kali menasehatinya dengan lembut, jika
tidak efektif boleh dengan kata-kata yang kasar, dan (jika tidak efektif) membiarkannya sendirian
tanpa digauli, kemudian (jika tidak juga efektif) memukulnya dengan ringan atau dengan cara
lain yang membuatnya merasa tidak berharga, bisa juga dengan cambuk atau sejenisnya yang
membuatnya jera akibat sakit, asal tidak mematahkan tulang dan berdarah. Dan jika cara-cara
tersebut masih juga tidak efektif menghentikan ketidaktaatannya, maka suami boleh mengikat
tangan isteri dan memaksanya berhubungan seksual, karena itu hak suami. (Abu Hayyan al
Andalusi, Tafsir al Bahr al Muhith, Dar al Kutub al Ilmiyyah, Beirut, Juz III, hlm. 252).
Imam Al Syafii dan para pengikutnya (Syafiiyah) mempunyai tafsir yang berbeda. Ia
berpendapat bahwa suami boleh memukul isterinya, setelah terbukti dia benar-benar nusyuz.
Tetapi segera ditambahkannya, bahwa meskipun boleh tetapi hendaknya anda tidak memukul
dengan pukulan yang melukai atau mengeluarkan darah, jangan berulang-ulang dan hindarkan
pemukulan pada wajah. Pada tempat lain dikatakan : seyogyanya pemukulan itu dilakukan
dengan sapu tangan, dengan tangan dan jangan dengan cambuk atau tongkat. (Nawawi, Al
Majmu, XV/325). Imam Al Syafii juga mengatakan : Aku lebih suka tidak memukulnya,
karena ada hadits Nabi saw : lan yadhriba khiyarukum (orang yang baik di antara kalian tidak
akan memukul isteri. Dalam kesempatan lain sesudah Nabi saw. mendengar ada tujuh puluh
orang perempuan yang mengadukan perlakuan kasar suami mereka, beliau mengatakan :wa ma
tajiduna ula-ika bikhiyarikum/kalian perlu ketahui bahwa mereka (para suami yang berlaku kasar
terhadap isteri) bukan orang-orang yang baik di antara kalian.(Nawawi, Ibid).
Ibnu al Arabi dalam tafsirya, Ahkam al-Quran, menyampaikan keterangan sebagai berikut :
Atha berpendapat, terhadap isteri yang nusyuz, suami tidak boleh memukulnya. Jika suami
menyuruh isterinya untuk mengerjakan sesuatu atau melarang melakukan sesuatu, lalu dia tidak
mengindahkannya, maka cukup menegur saja. Mengenai pendapat ini Qadhi Baidhawi
memberikan komentarnya : ltulah pendapat Atha. Dia sangat memahami (maksud) syariah
(hukum Islam) dan mengetahui cara-cara ijtihad (cara menyimpulkan hukum), dia pasti tahu
bahwa perintah memukul dalam ayat ini menunjukkan arti ibahah (pilihan).
Bahkan menurut dia tindakan itu adalah makruh (tidak disukai). Dari hadits Abdullah bin
Zamah diketahui bahwa Nabi saw. pernah bersabda. Aku membenci (tidak menyukai) laki-laki
yang memukul hamba perempuannya ketika marah. Padahal, boleh jadi dia masih ingin
menidurinya lagi hari itu. Nafi meriwayatkan hadits dari Imam Malik dari Yahya bin Said
bahwa (suatu ketika) Nabi saw. dimintai mengizinkan seorang ssuami memukul perempuan
(isterinya). Beliau mengatakan : silakan kalian memukulnya, tetapi ingatlah bahwa orang yang
baik di antara kalian tidak akan memukulnya. Ini berarti bahwa meskipun Nabi pada mulanya
membolehkannya tetapi kemudian menyerukan agar tidak melakukannya. Sebab sanksi
mengabaikan isteri di tempat tidur saja sebenarnya sudah merupakan cara memperingatkan atau
mendidik paling etis.(Ibnu al Arabi, Ahkam al-Quran, juz I/420).
Pandangan paling menarik dikemukakan ahli tafsir kontemporer; Muhammad Thahir bin
Asyur. Dia mengatakan bahwa : Sebenarnya keabsahan pemukulan terhadap isteri bersumber
dari tradisi Arabia pra Islam. Oleh karena itu kita tidak bisa menjadikannya sebagai dasar
legitimasi pada konteks yang lain. (Baca; Maqashid al Syariah, hlm. 207). Pada tempat lain dia
mendukung adanya intervensi pemerintah untuk menghentikan tindak kekerasan suami terhadap
isterinya sekaligus menghukumnya, manakala dia dinyatakan berbuat salah dengan tindakannya
itu. (Baca: Ismail Hasani, Nazhariyat al Mashlahah inda Ibnu Asyur, hlm. 210).
Membicarakan isu pemukulan terhadap isteri, khususnya dan kekerasan terhadap perempuan
pada umumnya, secara lebih substantif dan kontekstual, pertama-tama kita perlu mengkaji
dengan cermat dari aspek sejarah sosialnya. Ketentuan al-Quran yang membolehkan pemukulan
suami terhadap isteri, pada dasarnya merupakan bentuk toleransi atas konteks tradisi dan budaya
Arab waktu itu yang masih mempraktekkan cara-cara tersebut, bahkan dengan kecenderungan
berlebihan, kasar atau keras. Sebagaimana sudah dikemukakan Ibnu Asyur. Maka hal ini tentu
saja tidak bisa dimapankan. Al-Quran sebagaimana biasanya tidak akan melakukan tindakan
radikal dengan serta merta persuasif dan gradual. Al-Quran berusaha menghapuskannya secara
bertahap, dengan menempatkan pemukulan sebagai cara yang terakhir. Pendekatan ini
seharusnya dapat membawa kita pada kesimpulan bahwa sejatinya al-Quran hendak
menghapuskan cara-cara kekerasan tersebut.
Dewasa ini terdapat kecenderungan baru untuk mencari cara-cara baru yang lebih moralistik
dan beradab dalam aspek hubungan-hubungan kemanusiaan. Ini juga menjadi tuntutan mendasar
dari Islam. Cara-cara baru yang bermoral dan beradab adalah cara-cara tindakan yang dapat
menghindari kekerasan sekecil apapun. Sebab tindakan kekerasan, walaupun kecil (ringan),
sesungguhnya tidak dikehendaki oleh prinsip-prinsip kemanusiaan universal dan al akhlaq al
karimah.
Dalam konteks kehidupan sekarang cara-cara mendidik orang juga sudah berubah sejalan
dengan perubahan kebudayaan yang terus berkembang. Apabila pada masa lalu seorang guru
dipandang wajar menghukum muridnya yang tidak memperhatikan pelajaran dengan memukul
tangannya dengan penggaris misalnya, maka sekarang ini sudah diganti dengan cara lain yang
lebih bermanfaat, misalnya menyapu kelas atau meringkas pelajaran. Cara-cara seperti ini juga
bisa digunakan untuk mendidik isteri yang nusyuz.
Pendekatan lain yang mungkin bisa dilakukan bagi usaha reinterpretasi adalah tafsir atas
bahasa (linguistik). Para ulama tafsir menyatakan bahwa tafsir atas sebuah kata dapat dibenarkan
sepanjang tidak menyalahi kaedah-kaedah yang berlaku dalam percakapan dalam masyarakat.
Makna teks bahasa di samping memiliki makna ganda (musytarak), juga bisa bermakna majaz
(alegoris atau metaforis). Bahasa juga mengalami proses perkembangan makna.
Kalimat wadhribuhunna di atas, misalnya, tidak hanya memiliki makna pukullah mereka
dengan tangan, karena dharaba tidak hanya memiliki satu makna. Ar Raghib al Isfihani dalam
Mujam Mufradat Alfaz al-Quran mengungkapkan sejumlah makna dharaba yang terdapat
dalam al-Quran. Beberapa di antaranya adalah bermakna menempuh perjalanan (surah al
Nisa,[4]; 101 dan Thaha[20]; 77), membuat, seperti membuat contoh/perumpamaan (Q.S. al
Tahrim[66]; 10, Yasin[36]; 13, al Baqarah [2]; 26, Ibrahim [14]; 25), atau menutupi, seperti
menutupi wajahnya dengan kerudung (Q.S. al Nur [24]; 31), ditimpakan/diliputi, misalnya :
Mereka ditimpakan kehinaan. (Q.S. al Baqarah,[2]; 61).
Al Quran juga menggunakan kata dharaba untuk makna menutup, misalnya : Maka, Kami
tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu (Q.S. al Kahfi [18]; 11). Ibnu Qutaibah
menerjemahkan (menafsirkan) ayat ini dengan Kami menidurkan mereka. Katanya : Jika anda
memaknai (ayat ini) secara harfiyah, anda tidak akan dapat memahaminya. (Ibnu Qutaibah
:Takwil Musykil al-Quran, hlm. 21). Al Mudharabah, derivasi dari kata dharaba, digunakan
dalam transaksi ekonomi Islam untuk menunjukkan bentuk kerjasama bagi hasil. Dalam bahasa
Arab yang berkembang dewasa ini dharaba juga berarti bertindak tegas, misalnya dikatakan :
dharabat al daulah ala al mutalaibin bi al Asar (negara menindak tegas pihak-pihak yang
mempermainkan harga-harga). Belakangan ini juga populer digunakan kata al idhrab, ditujukan
untuk makna pemogokan.
Ahmad Ali, seorang modernis penerjemah al-Qur-an, menurut Asghar Ali Engineer,
menolak pandangan para penafsir klasik tentang pemukulan terhadap isteri, sambil menegaskan
bahwa al-Qur-an sesungguhnya tidak pernah mengizinkan pemukulan terhadap perempuan.
Dengan merujuk pada al Raghib al Isfihani dalam Al Mufradat, ia mengatakan bahwa makna
kalimat wadhribuhunna adalah pergilah ke tempat tidur dengan mereka. (Ali Asghar, Hak-
hak Perempuan Dalam Islam, hlm. 75-76).
Pandangan ini tentu saja dalam pendapat banyak penafsir mungkin sangat aneh, karena tidak
didukung oleh latarbelakang kasus di mana ayat ini diturunkan, sebagaimana sudah
dikemukakan. Dengan kata lain pendekatan linguistik ini meskipun sangat menarik, menurut saya
ahistoris. Masih berbeda dengan pandangan para penafsir pada umumnya, tetapi lebih masuk
akal, Muhammad Sahrur mengemukakan pandangan baru atas tafsir ayat ini. Ia mengatakan
bahwa kalimat dharaba dalam ayat ini berarti bertindak tegas terhadap mereka.(Sahrur; Al-
Quran wa al Kitab, Qiraah Musashirah, hlm. 622). Tindakan tegas, menurut Sahrur dapat
diambil melalui mekanisme arbitrase.
Mekanisme ini sama dengan yang berlaku bagi suami yang nusyuz, sebagaimana
dikemukakan dalam ayat 128 surah al Nisa : Dan jika seorang perempuan khawatir akan nusyuz
atau sikap acuh (mengabaikan) dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan
perdamaian yang sebenarnya. Tetapi sama dengan Ahmad Ali, Sahrur juga mengabaikan sebab
nuzul dari ayat tersebut. Kajiannya dilakukan melalui pendekatan linguistik.
Pemaknaan wadhruhunna dengan bersikap tegaslah terhadap mereka oleh Sahrur,
tampaknya, dipandang lebih sejalan dengan konteks kontemporer yang lebih menghargai cara-
cara tanpa kekerasan, pada satu sisi, dan lebih relevan dengan wacana kesetaraan dan keadilan
gender, pada sisi yang lain. Meskipun pendekatan kebahasaan dalam kasus ini tidak menarik
perhatian saya, tetapi bagaimanapun itulah upaya-upaya para ahli mencari tafsir baru untuk
membebaskan tindakan kekerasan terhadap perempuan



2. Pandangan gereja katolik tentang gender
Menafsir kisah awal penciptaan (kej 1:26-31)
Konsep tentang manusia dalam Kitab Kejadian terungkap secara indah dan mendalam pad
kisah penciptaan manusia. Allah menciptakan manusia pada hari terakhir proses kerjaNya.ini
menunjukkan keluhuran martabat manusia sebagai puncak dari ciptaan sekaligus
menggarisbawahi tanggung jawabnya yang besar sebagai pengelola ciptaan. Keluhuran martabat
dan tanggung jawab itu terangkum dalam dalam ungkapan: Imago Dei. Manusia diciptakan
sesuai dengan gambar dan diri Allah: Allah yang mencipta adalah Allah yang merawat dan
melindungi. Manusia: mengambil bagian dalam karya penciptaan, perawatan dan perlindungan.
Kisah penciptaan menunjukkan kesetaraan sekaligus kesatuan manusia laki-laki dan perempuan.
Keduanya setara, sebab yang satu tidak lebih mulia dan lebih rendah daripada yang lain.
Keduanya saling membentuk satu kesatuan dan dalam kesatuan itulah menjadi gambar atau citra
Allah. Kesetaraan merujuk pada kesamaan derajat, sementara kesatuan menunjukkan
kesalingbergantungan yang hakikki. Manusia laki-laki dan perempuan bukan hanya setara,
melainkan juga saling melengkapi.
Kesetaraan tidak menghapuskan perbedaan sebab justru di dalam dan karena perbedaan
itu maka ada kemungkinan untuk saling melengkapi. Prinsip kesetaraan dan
kesalingkebergantungan menggarisbawahi intensi dasar Kitab Suci, bahwa yang dikehendaki
adalah sebuah communio,bukan sebuah pemisahan perempuan dari laki-laki dan sebaliknya
dengannya masing-masing kelompok itu hendak membahagiakan diri dan mewujudkan
kemanusiaannya tanpa yang lain.
Laki-laki dan perempuan harus salng melindungi
Perlindungan berarti penciptaan kondisi yang maksimal bagi perkembangan diri
seseorang. Di dalam relasi saling melindungi ini laki-laki dan perempuan menghayati
kesetaraannya. Tujuan sekaligus kriteria penilaian bagi sebuah perlindungan adalah
perkembangan diri sebagai individu yang terbuka bagi yang lain. Di sini tercipta sebuah relasi
saling melindungi dan karena itu akan bebas dari penggunaan kekerasan, menolak menggunakan
kekerasan. Persoalanya adalah: Apakah perbedaan melekat pada individualitas setiap pribadi
manusia, atau pada kolektivitas gender sebagai laki-laki dan perempuan? Apakah communio itu
dianggap memperkaya karena dibangun di atas dasar perbedaan antara dua pribadi manusia yang
khas, yang kebetulan juga berbeda dengan jenis kelaminnya, atau diletakkan di atas basis
perbedaan dua jenis kelamin? Pembicaraan tentang perbedaan hanya dapat dibenarkan, sejauh itu
berangkat dari kesamaan status sebagai manusia. Kekhasan adalah milik setiap individu manusia,
dan inilah yang menjadi dasar dari tuntutan hak asasi manusia. Kebersamaan yang dibangun
diatas dasar apapun, mesti diakui sebagai bagian dari hak individu yang khas dan harus
dihormati. Individualitaslah yang harus dilindungi dan dihormati. Bukan keperempuanan atau
sifat-sifat perempuan, melainkan manusia perempuan dan sebaliknya.
Dengan memaparkan awal penciptaan laki-laki dan perempuan, Kitab Suci sebenarnya
menegaskan dasar pembentukan manusia. Manusia didasarkan pada prinsip kesetaraan dan saling
membutuhkan. Berdasarkan prinsip kesetaraan maka peran-peran yang dibutuhkan di dalam
masyarakat harus sejauh mungkin ditawarkan pada semua anggota masyarakat. Prinsip saling
membutuhkan dapat mencegah kecenderungan penyeragaman dalam masyarakat sekaligus
tendensi untuk menggunakan kekerasan. Lebih daripada itu, paham kesetaraan gender dalam
Kitab Kejadian menunjukkan bahwa semua manusia baik laki-laki maupun perempuan memiliki
martabat dan derajat yang sama karena diciptakan oleh karena diciptakan oleh Allah dan dalam
rupa Allah sendiri.
Menghargai dan merespek perempuan
Kaum perempuan diseluruh dunia, baik tua maupun muda, mengalami kekerasan dan
diskriminasi. Pertimbangkan beberapa fakta ini. Di Asia, kebanyakan orang hanya menginginkan
anak laki-laki dari pada anak perempuan. Laporan perserikatan bangsa-bangsa tahun 2011
memperkirakan bahwa di bagian dunia itu, hamper 134 juta perempuan kehilangan nyawanya
akibat digugurkan, dibunuh sewaktu kecil, dan ditelantarkan dua pertiga dari orang-orang di
seluruh dunia yang mendapat pendidikan kurang dari empat tahun adalah perempuan. Lebih dari
2,6 miliar wanita tinggal di negeri-negeri dimana pemerkosaan oleh suami sendiri tidak dianggap
kejahatan.
Di negeri-negeri berkembang, kira-kira tiap 2 menit, seorang wanita mati akibat
kurangnya perwatan medis selama kehamilan atau karena komplikasi persalinan. Walaupun
perempuan menggarap lebih dari setengah perladangan dunia, dikebanyakan negeri, mereka tidak
mendapat hak untuk memiliki atau mewarisi tanah, dan tak kalah hebohnya cerita tentang derita
perempuan tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia di negeri Malaysia yang bernama ceriyati asal
brebes, jawa tengah yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga, nekat turun melalui jendela
lantai 15 aparteman tempatnya bekerja dengan menggunakan potonga-potongan baju yang
disimpuml menjadi tali akibat tidak tahan menerima perlakuan kasar dan siksaan majikannya.
Memandang potret nasib perempuan saat ini kita akan menjumpai betapa perempuan saat ini
masih jauh dari kemuliaan dan kesejahteraan. Tak sedikit fakta perempuan hari ini yang masih
berada di kubangan keterpurukan. Kemiskinan, kebodohan, kekurangan sandang-pangan-papan,
derajat kesehatan buruk masih menghiasi wajah perempuan.
Mengapa perempuan tidak mendapat hak-hak yang mendasar tadi? Beberapa kebudayaan
melestarikan kepercayaan dan kebiasaan agama yang mendukung atau bahkan membenarkan
penganiayaaan dan kekerasab pada perempuan. Apakah menurut anda, kitab suci menganggap
remeh perempuan seperti banyak buku keagamaan lainya? Bagi beberapa orang, ayat-ayat kitab
suci mungkin memberikan kesan seperti itu. Tetapi, bagaimana sebenarnya pandangan ALLAH
terhadap perempuan? Walaupun pembahasan ini bias melibatkan emosi yang terdalam,
jawabannya bias ditemukan apabila kita dengan teliti dan tulus memeriksa apa yang kitab suci
katakana.
Pandangan allah terhadap perempuan disalah gambarkan
Di bawah hukuman Musa, perempuan menikmati status yang terhormat, dan hak-hak
mereka juga dilindungi. Tetapi, sejak abad ke 4 SM, yudaisme mulai dipengaruhi oleh
kebudayaan yunani, yang menganggao wanita lebih rendah. Sejak abad pertama Masehi, penulis-
penulis seperti Filo dari aleksandria mulai menggunakan filsafat yunani untukmenafsirkan ulan
catatan kejadian. Bagi Filo, hawa bersalah karena dosa seksual hingga dikutuk untuk hidup tanpa
kebebasan dan ditaklukan dibawah dominasi pria yang menjadi pasanganya. Dalam midras raba,
teks yahudi abad kedua, seorang rabi menjelaskan alasanya mengapa perempuan harus
mengenakan cadar,Teolog Tertulianus, yang tulisanya sangat berpengaruh bahkan sejak abad ke
2 Masehi, mengajarkan bahwa perempuan harus berjalan seperti Hawa yang berkabung dan
menyesal ajaran seperti itu, yang seringkali secara keliru berasal dari kitab suci, telah
menyebabkan banyak diskriminasi terhadap perempuan. Misalnya, seorang penyair yunani
hesiodus(abad ke 8 SM), menuduh wanita sebagai penyebab semua kesusahan manusia. Dengan
menyalahgambarkan pandangan ALLAH, para pemimpin agama yahudi mengajar banyak pria
untuk memandang hina wanita. Sewaktu berada di bumi, yesus memperhatikan adanya prasangka
tersebut, yang terbakar kuat dalam tradisi ( matius. 15:6,9; 26:7-11). Apakah semua itu
mempengaruhi semua cara ia berususan dengan perempuan? Apa yang bias kita pelajari dari
sikap dan tingkah lakun-NYA?
ALLAH Merespek dan Memedulikan Perempuan
Pada saat berada di bumi, yesus dengan sempurna mencerminkan sifat-sifat Bapanya dan
cara ia berurusan. Yesus mengatakan aku tidak berbuat apa-apa dari dirikusendiri, tetapi aku
berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepadaku ,, aku senantiasa berbuat apa
yang berkenan kepadanya ( Yoh. 8:28-29; kol. 1:5). Maka, dengan memerhatikan cara yesus
berinteraksi dengan perempuan dan sikapnya kepada mereka, kita juga bias mengerti pandangan
allah terhadap perempuan dan apa yang dia harapkan dari mereka. Berdasarkan catatan injil,
beberapa pakar mengakui bahwa pandangan yesus terhadap perempuan sangat revolusioner
Cara Yesus Memperlakukan Perempuan.
Yesus tidak menganggap mereka sebagai objek seksual belaka. Menurut pandangan
beberapa pemimpin yahudi, interaksi dengan lawan jenis hanya akan mengakibatkan nafsu.
Karena wanita ditakuti sebagai sumber godaan. Mereka tidak diizinkan berbicara dengan pria di
tempat umum atau keluar rumah tanpa cadar. Di pihak lain, yesus menasihati para pria untuk
mengendalikan nafsu dan melakukan wanita dengan bermartabat, bukanya melarang mereka
untuk bersosialisasi (Mat. 5:28). Yesus juga mengatakan, barang siapa menceraikan istrinya
Llu Kwin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan istrinya itu (Mrk. 10:11-12).
Maka, yesu menolak ajaran yang popular dari para rabi yang memperbolehkan suami
menceraikan istri atas dasar apapun(Mat. 19: 3,9).
Yesus Menyediakan Waktu Untuk Mengajar Perempuan
Para Rabi umumnya membiarkan wanitatidak bependidikan. Sebaliknya, Yesus
mengajarkan mereka dan menganjurkan mereka untuk menyatakan diri. Dengan mengajar
Maria, Yesus menunjukan bahwa tempat perempuan bukan hanya di dapur (Luk. 10:38-42).
Marta, saudara perempuan Maria, juga memperoleh manfaat dari ajaranya, dan itu terlihat dari
jawaban cerdas yang ia berikan kepada Yesus setelah kematian Lazarus(Yoh. 11:21-27). Yesus
berminat dengan apa yang ia lakukan pada wanita. Pada waktu itu, kebanyakan wanita yahudi
percaya bahwa kunci kebahagiaan adalah memiliki anak yang berhasil, kalu bias menjadi
seorang nabi. Ketika seorang wanita berseru berbahagialah ibu yang telah mengandung
Engkau Yesus menggunakan kesempatan itu untuk memberitahukan suatu yang lebih baik
(Luk. 11:27-28). Dengan menunjukan kerohanian lebih penting, Yesus memberitahu dia
sesuatu yang lebih daripada peranan tradisional kaum wanita.
Yesus Memedulikan Perempuan
Pada zaman kitab suci, anak perempuan dianggap kuarang berharga dibandingkan anak laki-
laki. Talmud mencerminkan pandangan ini, dengan mengatakan berbahagialah orang yang
memiliki anak laki-laki, dan celakalah orang yang memiliki anak perempuan. Beberapa orang
tua menganggap anak perempuan sebagi beban yang lebih berat, mereka harus mencarikan
pasangan dan memberikan mas kawinm, dan mereka tidak bias mengandalkanya pada hari tua
mereka. Yesus menunjukan bahwa kehidupan anak perempuan sama pentingnya dengan anak
laki-laki. Ia membangkitkan putrid yairus dan juga putra janda dari nain( Mrk. 5:35,41,42;
Luk. 7:7-15). Setelah menyembuhkan wanita yang diganggu oleh roh kelemahan selama
delapan belas tahun yesus menyebutnya sebagai Keturunan Abraham, sebuah ungkapan
yang hampir tidak dikenal dalam tulisan Yahudi(Luk. 13:10-16). Dengan menggunakan
ungkapan yang penuh respek dan baik hati itu, Yesus tidak hanya menganggap ia sebagai
anggota masyarakat sepenuhnya, tetapi juga mengakui imannya yang sangat besar kepada
Allah. Periabahasa Asia mengatakan bahwa membesarkan anak perempuan adalah seperti
menyirami kebun tetangga . orang tua seharusnya tidak terpengaruh oleh sikap-sikap yang
seperti itu, tetapi hendaknya mengurus semua anak-anak mereka, ,laki-laki maupu perempuan.
Orang tua memastikan bahwa semua anaknya mendapatkan pendidikan dan perawatan
kesehatan yang baik.
Yesus Mempercayai Wanita.
Di pengadilan yahudi, kesaksian seorang wanita disamakan dengan kesaksia seorang budak.
Sejarawan yahudi abad pertama Yosefus Flavius menasihati bahwa janganlah menerima bukti
dari seorang wanita, karena mereka tidak serius dan ceroboh. Sebaliknya, Yesus memilih
wanita untuk melaporkan kebangkitanya (Mat. 28:1,8-10). Walaupun para wanita ini telah
menyaksikan sendiri Yesus dibunuh dan dikubur., para rasul sulit mempercayai perkataan
mereka . tetapi, terlebih dahulu menampakan diri kepada wanita, Yesus menunjukan bahwa
mereka patut dipercayai sama seperti muridnya yang lain. Pria dan wanita hendaknya
menyadari bahwa sebagai manusia yang berdosa dan tidak sempurna, mereka termasuk dalam
ciptaan allah. Sebagaimana telah ditegaskan dalam surat Apostolik paus Yohanes paulus ke II,
pada tanggal 15 agustus 1988, tentang martabat kaum wanita yang menyatakan bahwa fakta
menjadi seorang wanita maupun pria tidak menyangkut pembatasan, sama seperti tindakan Roh
Kudus yang telah menyelamatkan dan menguduskan tidak dibatasi oleh kenyataan apakah
mereka seorang yahudi, yunani,hamba atau orang merdeka. Menurut kata-kata yang terkenal
dari santo paulus karena kamu semua adalah satu dalam kristus . dengan mendekat kepada
allah yang pengasih mereka memiliki harapan untuk dimerdekakan dari keadaan sebagai budak
kefanaan dan menikmati kemerdekaan yang mulia sebagai anak-anak allah.
Mengintegrasikan pastoral gender kedalam pastoral keluarga memuat prinsip-prinsip
dan tujuan-tujuan berikut ini:
Pertama, bagi gereja pemberdayaan kaum perempuan yang mengalami penindasan
patriarki bukanlah hendak bermuara pada kebebasan otonom kaum perempuan yang
mengabaikan nilai-nilai normal kristiani(sebagaimana dipaparkan di atas, yang salah satuh ujung
ekstrimnya adalah gerakan pro-choice. prinsip pro-choice bertentangan dengan gereja yang
mendukung prinsip pro-life: mendukung dan mencintai kehidupan).
kedua, didasarkan bahwa keluarga merupakan lembaga yang paling efektif untuk
mensosialisasikan, menginternalisasikan,dan melanggengkan nilai-nilai patriarkis yang bias
gender. Maka posisi keluarga sangat strategis dan menentukan. Gereja mengakui bahwa keluarga
sel terkecil dalam masyarakat, karena disana seluruh jaringan hubungan social dibangun. Melalui
kehadiran dan peran anggota-anggotanya keluarga menjadi tempat asal dan upaya efektif
membangun masyarakat yang manusiawi dan rukun. Maka dalam konteks pengembangan
kesetaraan dan keadilan gender(KKG) untuk melakukan pembalikan, yakni membuat budaya
tandingan yang setara gender, keluarga menjadi lokus pertama dan utama untuk mengembangkan
gender yang baru, yang setara dan adil. Karena keluarga adalah sel-sel pembentuk masyarakat,
dapat dikatakan bahwa masyarakat yang adil gender dapat terbentuk dengan adanya keluarga-
keluarga yang adil gender.
Ketiga, sejalan dengan upaya menanggapi masalah pokok Pendidikan dinilai dalam
keluarga semakin kurang (masalh pokok No.9 dalam renstra pastoral keuskupan Sibolga),
pengembangan kesetaraan gender merupakan satu agenda penting dalam pendidikan keluarga.
Keluarga adalah sekolah nilai-nilai kemanusiaan dan iman katolik (GE3, FC36), nilai-nilai KKG
harus menjadi satu Mata pelajaran mendasar dalam sekolah keluarga. Pastoral gender
bertanggung jawab untuk menfasilitasi keuskupan sibolga, memikirkan, merancang dan
menjalankan pendidikan nilai-nilai gender dirumah, dan hal ini tentunya terintegrasi dalam
agenda pendidikan nilai lainnya yakni pendidikan iman dan budi pekerti
Keempat, pastoral gender, dalam arti pengembangan kesadaran akan kesetaraan dan
keadilan gender bagi laki-laki dan perempuan harus di jadikan pintu masuk untuk penguatan
keluarga. Sebab dengan wawasan dan tuntutan etis KKG para lelaki dan perempuan terpanggil
untuk merumuskan ulang pemahaman serta sikap mereka tentang bagaimana seharusnya menjadi
laki-laki dan perempuan, bagaimana membangun relasi cinta yang setara dan saling melengkapi
dalam relasi suami istri yang tidak patriarkis. Kemudian, sebagai orang tua merekapun harus
merumuskan sikap bagaimana mendidik anak-anak mereka berlaku sebagai laki-laki dan
perempuan yang menghidupi kestaraan gender.
2.8. Pendidikan Nilai Untuk Kesetaraan Gender
Pendidikan nilai atau pendidikan karakter adalah pendidikan utama yang pertama di
jalankan oleh keluarga. Pendidikan nilai bukan pendidikan yang dilakukan secara formal dengan
mata pelajaran yang dapat diuji sepeti di sekolah. Pendidikan berlngsung secara ilmiah dalam
kehidupan sehari-hari. Yang berlangsung sepontan namun bukan berarti tidak perlu dirancang,
dievaluasi, diperbaiki.
Pendidkian nilai merupakan upaya menanamkan, menumbuhkan dan mengembangkan
nilai-nilai luhur kristiani dan manusiawi (termasuk didalam nya nilai-nilai KKG) dalam diri anak-
anak dan anggota keluarga :
Kata-kata (Kebiasaan bertutur, nasihat, ajaran, pujian, larangan, bujukan, percakapan atau
diskusi)
Perbuatan (sentuhan, sikap, kebiasaan pribadi, kebiasaan keluarga, disiplin dirumah,
hukuman, pembagian kerja diantara laki-laki dan perempuan,teladan sikap orang yang
lebih tua, keputusan keluarga).
Kegiatan yang dirancang khusus oleh orang tua atau musyawarah keluarga untuk
membangn disiplin dan sikap tertentu.
Poin pertama dan kedua berlangsung secara spontan dalam hidup keluarga sehari-hari,
poin ketiga adalah sebuah kegiatan yang lahir dari kesepakatan anggota-anggota kleluarga
dengan tujuan khusus. Misalnya, ayah dan ibu sepakat membiasakan soa bersama keluarga setiap
selesai makan malam. Ayah dan ibu sepakat untuk melatih anak laki-laki mengerjakan pekerjaan
rumah yang biasakan diurus perempuan dan sebaliknya melatih anak perempuan mengerjakan
pekerjaan yang biasa dikerjakan laki-laki. Contoh lain, ayah, ibu dan anak-anak sepakat bila ada
anggotra keluarga yang berulang tahun, dia diberi sebutir telur rebus dan ada doa bersama.
Sosialisasi nila KKG harus dengan standar dirancang dan dijalankan oleh orang tua
didalam keluarga. Juga perlu dievaluasi dalm percakapan keluarga. Kita adalah anggota
masyarakat patriarkis yang sudah terlanjur mewarisi dan menginternalisasikan nila-nilai bias
gender. Maka tidak dapat diandaikan begitu saja bahwa perubahan akan terjadi dalam keluarga
kita bil;a kita tidak mengarahkanya dengan sadar dan sengaja.
Dewasa ini telah menjadi kesadaran umum betapa keutuhan dan ketahanan keluarga-
keluarga mengalami krisis serius, yang makin parah dari waktu ke waktu. Perceraian makin
tinggi, termasuk kalangan umat katolik. Lelaki dan perempuan menikah tanpa didasari
pemahaman nila-nilai keluarga dan komitmen yang kuat, orang tua tidak tau dan tidak mampu
manjalankan pendidikan nilai yang memadai, anak-anak berkembang pesat menjadi anak-anak
zaman yang sangat didikte oleh budaya masa yang serba dangkal, instan dan miskin makna, para
orang tua makin bingung dan tidak berdaya mendampingi anak-anak yang mengalami perubahan-
perubahan pesat akibat kemajuan zaman.
Menyadari situasi ini maka gereja memang perlu sejak awal menempatkan perjuangan kesetaraan
kesetaraan gender dalam kerangka penguatan keluarga. Agar jangan sampai terjadi disorientasi
bahwa perempuan dan laki-laki yang berdaya dan bebas menganggap keluarga tidak lagi relavan
baginya. Sebaliknya justru mereka mampu menjadi orang tua yang mendidik manusia-manusia
merdeka, perempuan dan laki-laki merdeka.
2.9. Catatan Tahunan Komnas HAM Tahun 2013
Pada tanggal 7 maret 2014 Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan
(Komnas Perempuan) melaporkan mengenai Catatan Tahunan (CATAHU) tahun 2013 pada
acara koferensi pers yang digelar di kantor Komnas Perempuan di Jakarta.
CATAHU Komnas Perempuan dimaksudkan untuk memaparkan gambaran umum
tentang besaran dan bentuk kekerasan yang dialami oleh perempuan di Indonesia dan
memaparkan kapasitas lembaga pengada layanan bagi perempuan korban kekerasan. Data yang
disajikan adalah CATAHU Komnas Perempuan adalah kompilasi data rill yang ditangani oleh
lembaga layanan bagi perempuan korban kekerasan,baik yang dikelola oleh Negara maupun atas
inisiatif masyarakat termasuk di dalamnya lembaga penegak hokum.
Temuan Komnas Perempuan selama tahun 2013 mencatat 279.760 kasus kekerasan
terhadap perempuan. Dari jumlah ini,263.285 atau 94% kasus diperoleh dari ENGADILAN
Agama (PA) dan 16.403 atau 6% kasus diperoleh dari 195 lembaga mitra pengada layanan dari
31 provinsi. Data dari PA merupakan kasus perceraian dengan berbagai penyebab. Namun
berdasarkan definisi kekerasan terhadap perempuan menurut Deklarasi Perserikatan Bangsa-
Bangsa (PBB), Komnas Perempuan mengakategorikannya sebagai kekerasan psikis-poligami
tidak sehat,krisis akhlak, cemburu, kawin paksa, kawin dibawah umur, kekejaman mental,
dihukum, politis, gangguan pihak ketiga dan ketidakharmonisan, kekerasan ekonomi-masalah
ekonomi dan tidak ada tanggung jawab, dan kekerasan fisik-kekejaman jasmani dan cacat
biologis.
Definisi kekerasan terhadap perempuan menurut Deklarasi PBB adalah setiap tindakan
berdasarkan perbedaan jenis kelamin yang berakibat atau mungkin berakibat kesengsaraan atau
penderitaan perempuan secara fisik, seksual atau psikologis, termasuk ancaman tindakan-
tindakan semacam itu, pemaksaan atau perampasan kemerdakaan secara sewenang-wenang, baik
yang terjadi di depan umum atau dalam kehidupan pribadi.
Berdasarkan temuan dari lembaga mitra pengada layanan, pada tahun 2013 terdapat
11.719 atau 71% kasus kekerasan terhadap perempuan terjadi di ranah personal, 4.679 atau 29%
di ranah komunitas, dan lima atau kurang dari 1% di ranah Negara. laporan pengaduan di ranah
rumah tangga/relasi personal mencapai 8.315 kasus 66%.
Dari data temuan yang disampaikan dalam CATAHU 2013 terlihat jelas adanya
keberulangan kasus kekerasan seksual yang terjadi sepanjang tahun 2013 yang dikategorikan
sebagai kondisi darurat yang harus segera ditangani secara tepat,adil, komperehensif dan holistic
karena kasus ini terjadi di semua ranah yakni personal, komunitas dan Negara dan menimpa
korban usia balita hingga usia lanjut.
Komnas perempuan merekomendasikan agar kebijakan komprehensi yang mengatur
mengenai penanggulangan kekerasan seksual yang mencakup system pencegahan, penghukuman
bagi pelaku dan rehabilitasi bagi korban termasuk mekanisme pencegahan di lembaga-lembaga
Negara dan lembaga public lainnya wajib memiliki system rekruitmen, promosi dan pengawasan
yang berperspektif hak asasi manusia dan gender.
Kenyataan yang terjadi dewasa ini adalah perempuan masih banyak mengalami
diskriminasi hokum. Perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan kekerasan
seksual mengalami reviktimisasi (korban berulang) akibat proses hukum yang hanya
mengutamakan tata cara procedural semata dan belum menghadirkan keadilan bagi korban.
Kegentingan kekekrasan seksual ini, Komnas Perempuan mengharapkan adanya Undang-Undang
Anti Kerkerasan Seksual segera diselesaikan.
Komnas Perempuan sejak tahun 2001 telah melakukan pendokumentasian data kekerasan
terhadap perempuan di Indonesia melalui Catatan Tahunan (CATAHU) sejak 2001 untuk
memperingati Hari PEREMPUAN Internasional yang setiap tahun dirayakan pada tanggal 8
Maret.
2.10. KASUS-KASUS PERENDAHAN MARTABAT KAUM WANITA
1. TKI Wanita Kembali Menjadi Korban Kekerasan di Malaysia
Kembali kita mendengar berita kekerasan yang menimpa TKI wanita kita di Malaysia.
Seperti yang diberitakan oleh http://news.detik.com/ , seorang tenaga kerja wanita Indonesia
yang bekerja di negeri jiran tersebut mengalami tindakan kekerasan seksual oleh 3 oknum
polisi setempat.
Sinar Harian, Sabtu 10 November 2012 memberitakan tentang pemerkosaan yang
dilakukan terhadap seorang TKI perempuan yang berusia 25 tahun diperkosa 3 polisi berusia
sekitar 20-30 tahun di kantor polisi di Bukit Mertajam, Penang, Malaysia. Polisi Diraja
Malaysia sendiri telah memastikan akan menyelidiki kasus tersebut. Mereka bahkan sudah
membentuk satu tim khusus untuk menyelidiki kasus tersebut. Saat ini ketiga polisi tersebut
sudah ditahan. Ketiganya akan dikenakan UU Kekerasan Pasal 376 dan 377 A dengan
ancaman hukuman 5 sampai 20 tahun.
Meski Minister Counsellor Pensosbud KBRI Kuala Lumpur, Suryana Sastradiredja,
mengatakan bahwa pihak Malaysia sudah bekerja secepat mungkin untuk melindungi korban
dan memberikan bantuan hukum. Namun, keluarnya berita tersebut pasti memunculkan
gejolak di Indonesia.
Guru Besar Hukum Internasional dari Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana,
mengatakan pemerintah Indonesia harus bisa memastikan agar masyarakat Malaysia tidak
lagi merendahkan martabat WNI yang bekerja di sana. Hikmahanto juga mengatakan bila
perlu pemerintah bisa berinisiatif untuk mengundang pemerintah Malaysia agar kasus seperti
ini tidak terulang kembali di masa mendatang. Masalah utama yang perlu dibahas adalah
bagaimana WN Malaysia termasuk petugas dan pejabatnya tidak melakukan perendahan
martabat terhadap WNI saat mereka berada di Malaysia.
Menurutnya, perendahan martabat oleh warga setempat terjadi karena banyak WNI yang
melakukan pekerjaan kasar dan pembantu rumah tangga. Masalah ini harus segera ditangani
untuk mencegah kemarahan publik Indonesia meningkat menjadi konflik antar kedua negara.
Selain itu, Hikmahanto juga mengatakan jika kasus ini tidak segera tertangani, maka cita-cita
untuk membentuk masyarakat ASEAN akan sirna.
Hikmahanto juga membenarkan respon Pemerintah Indonesia dengan mengutus Kementerian
Luar Negeri, Kementerian Tenaga Kerja dan perwakilan Indonesia di Malaysia untuk
membantu menyelesaikan kasus ini.
Kemlu dan Perwakilan Indonesia di Malaysia sudah menyatakan akan melakukan
pengawalan atas proses hukum yang dilakukan oleh otoritas Malaysia terhadap para pelaku
yang diduga melakukan pemerkosaan. Mengingat kejadian ini terjadi di Malaysia maka
secara hukum internasional, otoritas Indonesia tidak dapat melakukan proses hukum.
Pemerintah Indonesia harus menghormati kedaulatan Malaysia. Selain itu, pengawalan juga
dilakukan mengingat korban adalah WNI dan pemerintah perlu memastikan agar pelaku
dilakukan benar-benar diproses hukum.
Terulangnya kembali kekerasan terhadap TKI wanita di Malaysia tentu memunculkan
amarah besar dari para rakyat Indonesia. Oleh sebab itu, jalan cepat untuk menyelesaikan
kasus tersebut sangat diperlukan. Saya sendiri sebagai warga Indonesia sangat mengapresiasi
perwakilan Kementerian Luar Negeri, Kementerian Tenaga Kerja dan perwakilan Indonesia
di Malaysia yang dengan sigap membantu penyelesaian serta pengawalan terhadap kasus
tersebut agar korban mendapatkan sandaran untuk menyelelesaikan kasus tersebut. Selain
itu juga untuk memastikan para tersangka agar dijerat dengan hukum yang setimpal
2. Kejam! Suami Gunting Lidah Istri Gara-gara Ditegur


Kejam benar kelakuan Gumalang Beatus Tamba alias Beatus ini. Gara-gara tidak diterima
ditegur karena membuang puntung dan abu rokok, Beatus tega menggunting lidah istrinya,
Debora Darmauli br Situmorang. Kejadian itu dipaparkan oleh Jaksa Penuntut Umum dalam
(JPU) sidang perdana yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Simalungun, Sumatera Utara, Rabu
2 Februari 2014. Dalam surat dakwaan itu, Beatus yang juga penduduk Jalan Bona-Bona Nagori
Dolok Marlawan itu menggunting lidah Debora pada 6 November 2013. Jaksa Julius Michael
menguraikan pada waktu itu Debora menegur Beatus yang membuang puntung rokok dan abu di
dalam kamar secara sembarangan. Tidak terima dengan teguran itu, Beatus marah sehingga
terjadi pertengkaran. Pertengkaran itu berujung pada penganiayaan. Beatus memegang mulut
Debora. Saat lidah Debora keluar, Beatus mengguntingnya hingga berdarah. "Terdakwa kita
kenakan Undang-undang Kekerasan Dalam Rumah Tangga Nomor 23 Tahun 2004 Pasal 44 ayat
20 dan 1," kata Julius. Sedangkan, Debora yang menjadi saksi bersedia berdamai dengan Beatus.
Namun tidak mau rujuk kembali karena perbuatan Beatus yang selalu memukulnya sejak mereka
menikah 3 tahun lalu.
3. Kami Butuh Pendidikan, Bukan Tes Keperawanan

Tes keperawanan yang terjadi di salah satu sekolah di Aceh menimbulkan kontroversi.
Berbagai reaksi penolakan pun muncul sesaat setelah isu itu berkembang. Salah satunya yang
dilakukan para remaja perempuan di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Kamis (15/9/2013) pagi.
Para remaja yang tergabung dalam Komite Aksi Perempuan ini berorasi menolak tes
keperawanan di tengah kerumunan warga yang sedang menikmati car free day (CFD) atau hari
bebas kendaraan bermotor.
"Kami butuh pendidikan, bukan tes keperawanan. Wanita bukan barang untuk dicoba-coba,"
ujar salah seorang orator. Seruan ini disambut dengan suara lantang puluhan pelajar yang ikut
dalam aksi solidaritas ini. Pada kesempatan yang sama, koordinator aksi Ara Koswara
mengatakan, aksi ini juga merupakan wadah bagi masyarakat yang belum berani atau belum
paham menyuarakan penolakan tes keperawanan untuk ikut menolak. "Ingin masyarakat atau
warga yang belum pahan belum menyuarakan, untuk sama-sama peduli, terhadap remaja
perempan khususnya dengan menolak tes keperawanan," katanya. Ara melihat, tindakan yang
dilakukan pemerintah dalam merespon tes keperawanan sangat normatif. Ini terbukti dengan
tetap munculnya isu tes keperawanan. "Pergerakannya flat, isu tolak tes keperawanan kan sudah
lama, tapi masih muncul. "
"Ketika para aktivis bergerak, menteri baru jalan. Tanpa ada kebijakan khusus bagi
perempuan, atau imbauan untuk tidak saling melecehkan, perlakuan terbaik bagi perempuan
nggak akan terjadi. Sikap perilaku tegas dari pemerintah sangat dibutuhkan," lanjutnya.
Ia melanjutkan, pendidikan kesehatan reproduksi memang dibutuhkan, tapi bukan dengan cara tes
keperawanan. Sebab, tes keperawanan tidak bisa menentukan kecerdasan pelajar.




















BAB III
PENUTUP
3.1. KESIMPULAN
Untuk menutup makalah ini, saya akan memberikan tanggapan akhir mengenai perjuangan
universal mengatasi perendahan martabat kaum perempuan dan penghargaan terhadap peranan
perempuan dalam agama. Secara umum, agama dapat dijadikan pembenaran sekaligus pendorong
perjuangan penegakan kesetaraan martabat perempuan. Yang paling menentukan dari semuanya
itu ialah penafsiran ajaran kitab suci. Jika kitab suci dipakai untuk merendahkan perempuan,
berarti yang bersalah adalah penafsirannya. Penafsiran dari para pemimpin agama amat
mempengaruhi kebijakan seputar penghargaan kepada perempuan.
Dunia tidak hanya dibangun oleh kaum lelaki. Tak jarang tokoh-tokoh yang berjasa besar
bagi kemanusiaan berasal dari kaum perempuan, misalnya: Putri Diana dari Inggris, Helen
Keller, Marie Curie, R.A Kartini. Jasa mereka dalam bidang kemanusiaan diakui baik oleh lelaki
maupun perempuan. Dunia menjadi berkembang akibat sumbangan pemikiran, usaha, dan
kepedulian mereka. Dalam bidang agama, sejarah membuktikan bahwa hidup beragama secara
sejati tidak hanya didominasi oleh kaum lelaki, tetapi juga oleh kaum perempuan, misalnya Ibu
Teresa dari Kalkuta.
Melihat bahwa sampai saat ini perendahan terhadap wanita masih sering dilakukan dalam
agama, maka penghargaan perempuan masih harus selalu diperjuangkan. Munculnya gerakan
untuk memperjuangkan kesetaraan martabat perempuan merupakan tanda pertobatan dan
pembebasan. Artinya, suara kebenaran Allah juga mulai didengarkan oleh umat manusia. Inilah
yang dikehendaki oleh Allah bagi manusia sebagaimana tertuang dalam kitab-kitab suci.









DAFTAR PUSTAKA

Poerwandari, Kristi, 2002, Peta Kekerasan: Pengalaman Perempuan Indonesia Jakarta: Komnas
Perempuan.
Konferensi Wali Gereja Indonesia,2013, Sekretariat Gender dan Pemberdayaan perempuan,
edisi 62/ tahun XVIII / April Juni, Yogyakarta, Kanisius
Konferensi Wali Gereja Indonesia,2013, Sekretariat Gender dan Pemberdayaan perempuan,
edisi 63/ tahun XVIII / Juli September Yogyakarta, Kanisius
Konferensi Wali Gereja Indonesia,2013, Sekretariat Gender dan Pemberdayaan perempuan,
edisi 64/ tahun XVIII / Oktober Desember Yogyakarta, Kanisius
Konferensi Wali Gereja Indonesia,2014, Sekretariat Gender dan Pemberdayaan perempuan edisi
65/ tahun XIX / Januari Maret, Yogyakarta, Kanisius
Kanisius, 2007, Perutusan Murid-Murid Yesus, Yogyakarta, Kanisius
Abdul Halim Abu Syuqqah,1997, Kebebasan Wanita jilid 2, Jakarta, Gema Insani Pres

Anda mungkin juga menyukai