Anda di halaman 1dari 30

2.

Sejarah berdirinya Muhammadiyah


Bulan Dzulhijjah (8 Dzulhijjah 1330 H) atau November (18 November 1912 M)
merupakan momentum penting lahirnya Muhammadiyah. Itulah kelahiran sebuah gerakan
Islam modernis terbesar di Indonesia, yang melakukan perintisan atau kepeloporan
pemurnian sekaligus pembaruan Islam di negeri berpenduduk terbesar muslim di dunia.
Sebuah gerakan yang didirikan oleh seorang kyai alim, cerdas, dan berjiwa pembaru, yakni
Kyai Haji Ahmad Dahlan atau Muhammad Darwis dari kota santri Kauman Yogyakarta.
Kata Muhammadiyah secara bahasa berarti pengikut Nabi Muhammad.
Penggunaan kata Muhammadiyah dimaksudkan untuk menisbahkan (menghubungkan)
dengan ajaran dan jejak perjuangan Nabi Muhammad. Penisbahan nama tersebut menurut H.
Djarnawi Hadikusuma mengandung pengertian sebagai berikut: Dengan nama itu dia
bermaksud untuk menjelaskan bahwa pendukung organisasi itu ialah umat Muhammad, dan
asasnya adalah ajaran Nabi Muhammad saw, yaitu Islam. Dan tujuannya ialah memahami
dan melaksanakan agama Islam sebagai yang memang ajaran yang serta dicontohkan oleh
Nabi Muhammad saw, agar supaya dapat menjalani kehidupan dunia sepanjang kemauan
agama Islam. Dengan demikian ajaran Islam yang suci dan benar itu dapat memberi nafas
bagi kemajuan umat Islam dan bangsa Indonesia pada umumnya.
Kelahiran dan keberadaan Muhammadiyah pada awal berdirinya tidak lepas dan
merupakan menifestasi dari gagasan pemikiran dan amal perjuangan Kyai Haji Ahmad
Dahlan (Muhammad Darwis) yang menjadi pendirinya. Setelah menunaikan ibadah haji ke
Tanah Suci dan bermukim yang kedua kalinya pada tahun 1903, Kyai Dahlan mulai
menyemaikan benih pembaruan di Tanah Air. Gagasan pembaruan itu diperoleh Kyai Dahlan
setelah berguru kepada ulama-ulama Indonesia yang bermukim di Mekkah seperti Syeikh
Ahmad Khatib dari Minangkabau, Kyai Nawawi dari Banten, Kyai Mas Abdullah dari
Surabaya, dan Kyai Fakih dari Maskumambang; juga setelah membaca pemikiran-pemikiran
para pembaru Islam seperti Ibn Taimiyah, Muhammad bin Abdil Wahhab, Jamaluddin Al-
Afghani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha. Dengan modal kecerdasan dirinya serta
interaksi selama bermukim di Ssudi Arabia dan bacaan atas karya-karya para pembaru
pemikiran Islam itu telah menanamkan benih ide-ide pembaruan dalam diri Kyai Dahlan. Jadi
sekembalinya dari Arab Saudi, Kyai Dahlan justru membawa ide dan gerakan pembaruan,
bukan malah menjadi konservatif.
Embrio kelahiran Muhammadiyah sebagai sebuah organisasi untuk mengaktualisasikan
gagasan-gagasannya merupakan hasil interaksi Kyai Dahlan dengan kawan-kawan dari Boedi
Oetomo yang tertarik dengan masalah agama yang diajarkan Kyai Dahlan, yakni R.
Budihardjo dan R. Sosrosugondo. Gagasan itu juga merupakan saran dari salah seorang siswa
Kyai Dahlan di Kweekscholl Jetis di mana Kyai mengajar agama pada sekolah tersebut
secara ekstrakulikuler, yang sering datang ke rumah Kyai dan menyarankan agar kegiatan
pendidikan yang dirintis Kyai Dahlan tidak diurus oleh Kyai sendiri tetapi oleh suatu
organisasi agar terdapat kesinambungan setelah Kyai wafat. Dalam catatan Adaby Darban,
ahli sejarah dari UGM kelahiran Kauman, nama Muhammadiyah pada mulanya diusulkan
oleh kerabat dan sekaligus sahabat Kyai Ahmad Dahlan yang bernama Muhammad Sangidu,
seorang Ketib Anom Kraton Yogyakarta dan tokoh pembaruan yang kemudian menjadi
penghulu Kraton Yogyakarta, yang kemudian diputuskan Kyai Dahlan setelah melalui shalat
istikharah (Darban, 2000: 34). Artinya, pilihan untuk mendirikan Muhammadiyah memiliki
dimensi spiritualitas yang tinggi sebagaimana tradisi kyai atau dunia pesantren.
Gagasan untuk mendirikan organisasi Muhammadiyah tersebut selain untuk
mengaktualisasikan pikiran-pikiran pembaruan Kyai Dahlan, menurut Adaby Darban
(2000:13) secara praktis-organisatoris untuk mewadahi dan memayungi sekolah Madrasah
Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah, yang didirikannya pada 1 Desember 1911. Sekolah tersebut
merupakan rintisan lanjutan dari sekolah (kegiatan Kyai Dahlan dalam menjelaskan ajaran
Islam) yang dikembangkan Kyai Dahlan secara informal dalam memberikan pelajaran yang
mengandung ilmu agama Islam dan pengetahuan umum di beranda rumahnya. Dalam tulisan
Djarnawi Hadikusuma yang didirikan pada tahun 1911 di kampung Kauman Yogyakarta
tersebut, merupakan Sekolah Muhammadiyah, yakni sebuah sekolah agama, yang tidak
diselenggarakan di surau seperti pada umumnya kegiatan umat Islam waktu itu, tetapi
bertempat di dalam sebuah gedung milik ayah Kyai Dahlan, dengan menggunakan meja dan
papan tulis, yang mengajarkan agama dengan dengan cara baru, juga diajarkan ilmu-ilmu
umum.
Maka pada tanggal 18 November 1912 Miladiyah bertepatan dengan 8 Dzulhijah 1330
Hijriyah di Yogyakarta akhirnya didirikanlah sebuah organisasi yang bernama
MUHAMMADIYAH. Organisasi baru ini diajukan pengesahannya pada tanggal 20
Desember 1912 dengan mengirim Statuten Muhammadiyah (Anggaran Dasar
Muhammadiyah yang pertama, tahun 1912), yang kemudian baru disahkan oleh Gubernur
Jenderal Belanda pada 22 Agustus 1914. Dalam Statuten Muhammadiyah yang pertama
itu, tanggal resmi yang diajukan ialah tanggal Miladiyah yaitu 18 November 1912, tidak
mencantumkan tanggal Hijriyah. Dalam artikel 1 dinyatakan, Perhimpunan itu ditentukan
buat 29 tahun lamanya, mulai 18 November 1912. Namanya Muhammadiyah dan
tempatnya di Yogyakarta. Sedangkan maksudnya (Artikel 2), ialah: a. menyebarkan
pengajaran Igama Kangjeng Nabi Muhammad Shallalahu Alaihi Wassalam kepada
penduduk Bumiputra di dalam residensi Yogyakarta, dan b. memajukan hal Igama kepada
anggauta-anggautanya.
Terdapat hal menarik, bahwa kata memajukan (dan sejak tahun 1914 ditambah
dengan kata menggembirakan) dalam pasal maksud dan tujuan Muhammadiyah merupakan
kata-kunci yang selalu dicantumkan dalam Statuten Muhammadiyah pada periode Kyai
Dahlan hingga tahun 1946 (yakni: Statuten Muhammadiyah Tahun 1912, Tahun 1914, Tahun
1921, Tahun 1931, Tahun 1931, dan Tahun 1941). Sebutlah Statuten tahun 1914, Maksud
Persyarikatan ini yaitu :
Memajukan dan menggembirakan pengajaran dan pelajaran Igama di Hindia
Nederland,
dan Memajukan dan menggembirakan kehidupan (cara hidup) sepanjang kemauan
agama Islam kepada lid-lidnya.
Dalam pandangan Djarnawi Hadikusuma, kata-kata yang sederhana tersebut
mengandung arti yang sangat dalam dan luas. Yaitu, ketika umat Islam sedang dalam
kelemahan dan kemunduran akibat tidak mengerti kepada ajaran Islam yang sesungguhnya,
maka Muhammadiyah mengungkap dan mengetengahkan ajaran Islam yang murni itu serta
menganjurkan kepada umat Islam pada umumnya untuk mempelajarinya, dan kepada para
ulama untuk mengajarkannya, dalam suasana yang maju dan menggembirakan.
Pada AD Tahun 1946 itulah pencantuman tanggal Hijriyah (8 Dzulhijjah 1330) mulai
diperkenalkan. Perubahan penting juga terdapat pada AD Muhammadiyah tahun 1959, yakni
dengan untuk pertama kalinya Muhammadiyah mencantumkan Asas Islam dalam pasal 2
Bab II., dengan kalimat, Persyarikatan berasaskan Islam. Jika didaftar, maka hingga tahun
2005 setelah Muktamar ke-45 di Malang, telah tersusun 15 kali Statuten/Anggaran Dasar
Muhammadiyah, yakni berturut-turut tahun 1912, 1914, 1921, 1934, 1941, 1943, 1946, 1950
(dua kali pengesahan), 1959, 1966, 1968, 1985, 2000, dan 2005. Asas Islam pernah
dihilangkan dan formulasi tujuan Muhammadiyah juga mengalami perubahan pada tahun
1985 karena paksaan dari Pemerintah Orde Baru dengan keluarnya UU Keormasan tahun
1985. Asas Islam diganti dengan asas Pancasila, dan tujuan Muhammadiyah berubah menjadi
Maksud dan tujuan Persyarikatan ialah menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam
sehingga terwujud masyarakat utama, adil dan makmur yang diridlai Allah Subhanahu
wataala. Asas Islam dan tujuan dikembalikan lagi ke masyarakat Islam yang sebenar-
benarnya dalam AD Muhammadiyah hasil Muktamar ke-44 tahun 2000 di Jakarta.
Kelahiran Muhammadiyah sebagaimana digambarkan itu melekat dengan sikap,
pemikiran, dan langkah Kyai Dahlan sebagai pendirinya, yang mampu memadukan paham
Islam yang ingin kembali pada Al-Quran dan Sunnah Nabi dengan orientasi tajdid yang
membuka pintu ijtihad untuk kemajuan, sehingga memberi karakter yang khas dari kelahiran
dan perkembangan Muhammadiyah di kemudian hari. Kyai Dahlan, sebagaimana para
pembaru Islam lainnya, tetapi dengan tipikal yang khas, memiliki cita-cita membebaskan
umat Islam dari keterbelakangan dan membangun kehidupan yang berkemajuan melalui
tajdid (pembaruan) yang meliputi aspek-aspek tauhid (aqidah), ibadah, muamalah, dan
pemahaman terhadap ajaran Islam dan kehidupan umat Islam, dengan mengembalikan
kepada sumbernya yang aseli yakni Al-Quran dan Sunnah Nabi yang Shakhih, dengan
membuka ijtihad.
Mengenai langkah pembaruan Kyai Dahlan, yang merintis lahirnya Muhammadiyah di
Kampung Kauman, Adaby Darban (2000: 31) menyimpulkan hasil temuan penelitiannya
sebagai berikut:Dalam bidang tauhid, K.H A. Dahlan ingin membersihkan aqidah Islam dari
segala macam syirik, dalam bidang ibadah, membersihkan cara-cara ibadah dari bidah,
dalam bidang mumalah, membersihkan kepercayaan dari khurafat, serta dalam bidang
pemahaman terhadap ajaran Islam, ia merombak taklid untuk kemudian memberikan
kebebasan dalam ber-ijtihad..
Adapun langkah pembaruan yang bersifat reformasi ialah dalam merintis pendidikan
modern yang memadukan pelajaran agama dan umum. Menurut Kuntowijoyo, gagasan
pendidikan yang dipelopori Kyai Dahlan, merupakan pembaruan karena mampu
mengintegrasikan aspek iman dan kemajuan, sehingga dihasilkan sosok generasi muslim
terpelajar yang mampu hidup di zaman modern tanpa terpecah kepribadiannya (Kuntowijoyo,
1985: 36). Lembaga pendidikan Islam modern bahkan menjadi ciri utama kelahiran dan
perkembangan Muhammadiyah, yang membedakannya dari lembaga pondok pesantren kala
itu. Pendidikan Islam modern itulah yang di belakang hari diadopsi dan menjadi lembaga
pendidikan umat Islam secara umum.
Langkah ini pada masa lalu merupakan gerak pembaruan yang sukses, yang mampu
melahirkan generasi terpelajar Muslim, yang jika diukur dengan keberhasilan umat Islam saat
ini tentu saja akan lain, karena konteksnya berbeda.
Pembaruan Islam yang cukup orisinal dari Kyai Dahlan dapat dirujuk pada pemahaman
dan pengamalan Surat Al-Maun. Gagasan dan pelajaran tentang Surat Al-Maun, merupakan
contoh lain yang paling monumental dari pembaruan yang berorientasi pada amal sosial-
kesejahteraan, yang kemudian melahirkan lembaga Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKU).
Langkah momumental ini dalam wacana Islam kontemporer disebut dengan teologi
transformatif, karena Islam tidak sekadar menjadi seperangkat ajaran ritual-ibadah dan
hablu min Allah (hubungan dengan Allah) semata, tetapi justru peduli dan terlibat dalam
memecahkan masalah-masalah konkret yang dihadapi manusia. Inilah teologi amal yang
tipikal (khas) dari Kyai Dahlan dan awal kehadiran Muhammadiyah, sebagai bentuk dari
gagasan dan amal pembaruan lainnya di negeri ini.
Kyai Dahlan juga peduli dalam memblok umat Islam agar tidak menjadi korban misi
Zending Kristen, tetapi dengan cara yang cerdas dan elegan. Kyai mengajak diskusi dan
debat secara langsung dan terbuka dengan sejumlah pendeta di sekitar Yogyakarta. Dengan
pemahaman adanya kemiripan selain perbedaan antara Al-Quran sebagai Kutab Suci umat
Islam dengan kitab-kitab suci sebelumnya, Kyai Dahlan menganjurkan atau mendorong
umat Islam untuk mengkaji semua agama secara rasional untuk menemukan kebenaran yang
inheren dalam ajaran-ajarannya, sehingga Kyai pendiri Muhammadiyah ini misalnya
beranggapan bahwadiskusi-diskusi tentang Kristen boleh dilakukan di masjid (Jainuri, 2002:
78).
Kepeloporan pembaruan Kyai Dahlan yang menjadi tonggak berdirinya
Muhammadiyah juga ditunjukkan dengan merintis gerakan perempuan Aisyiyah tahun 1917,
yang ide dasarnya dari pandangan Kyai agar perempuan muslim tidak hanya berada di dalam
rumah, tetapi harus giat di masyarakat dan secara khusus menanamkan ajaran Islam serta
memajukan kehidupan kaum perempuan. Langkah pembaruan ini yang membedakan Kyai
Dahlan dari pembaru Islam lain, yang tidak dilakukan oleh Afghani, Abduh, Ahmad Khan,
dan lain-lain (mukti Ali, 2000: 349-353). Perintisan ini menunjukkan sikap dan visi Islam
yang luas dari Kyai Dahlan mengenai posisi dan peran perempuan, yang lahir dari
pemahamannya yang cerdas dan bersemangat tajdid, padahal Kyai dari Kauman ini tidak
bersentuhan dengan ide atau gerakan feminisme seperti berkembang sekarang ini. Artinya,
betapa majunya pemikiran Kyai Dahlan yang kemudian melahirkan Muhammadiyah sebagai
gerakan Islam murni yang berkemajuan.
Kyai Dahlan dengan Muhammadiyah yang didirikannya, menurut Djarnawi
Hadikusuma telah menampilkan Islam sebagai sistem kehidupan mansia dalam segala
seginya. Artinya, secara Muhammadiyah bukan hanya memandang ajaran Islam sebagai
aqidah dan ibadah semata, tetapi merupakan suatu keseluruhan yang menyangut akhlak dan
muamalat dunyawiyah. Selain itu, aspek aqidah dan ibadah pun harus teraktualisasi dalam
akhlak dan muamalah, sehingga Islam benar-benar mewujud dalam kenyataan hidup para
pemeluknya. Karena itu, Muhammadiyah memulai gerakannya dengan meluruskan dan
memperluas paham Islam untuk diamalkan dalam sistem kehidupan yang nyata.
Kyai Dahlan dalam mengajarkan Islam sungguh sangat mendalam, luas, kritis, dan
cerdas. Menurut Kyai Dahlan, orang Islam itu harus mencari kebenaran yang sejati, berpikir
mana yang benar dan yang salah, tidak taklid dan fanatik buta dalam kebenaran sendiri,
menimbang-nimbang dan menggunakan akal pikirannya tentang hakikat kehiduupan, dan
mau berpikir teoritik dan sekaligus beripiki praktik (K.R. H. Hadjid, 2005). Kyai Dahlan
tidak ingin umat Islam taklid dalam beragama, juga tertinggal dalam kemajuan hidup. Karena
itu memahami Islam haruslah sampai ke akarnya, ke hal-hal yang sejati atau hakiki dengan
mengerahkan seluruh kekuatan akal piran dan ijtihad.
Dalam memahami Al-Quran, dengan kasus mengajarkan Surat Al-Maun, Kyai Dahlan
mendidik untuk mempelajari ayat Al-Quran satu persatu ayat, dua atau tiga ayat, kemudian
dibaca dan simak dengan tartil serta tadabbur (dipikirkan): bagaimanakah artinya?
bagaimanakah tafsir keterangannya? bagaimana maksudnya? apakah ini larangan dan apakah
kamu sudah meninggalkan larangan ini? apakah ini perintah yang wajib dikerjakan?
sudahkah kita menjalankannya? (Ibid: 65). Menurut penuturan Mukti Ali, bahwa model
pemahaman yang demikian dikembangkan pula belakangan oleh KH.Mas Mansur, tokoh
Muhammadiyah yang dikenal luas dan mendalam ilmu agamanya, lulusan Al-Azhar Cairo,
cerdas pemikirannya sekaligus luas pandangannya dalam berbagai masalah kehidupan.
Kelahiran Muhammadiyah dengan gagasan-gagasan cerdas dan pembaruan dari
pendirinya, Kyai Haji Ahmad Dahlan, didorong oleh dan atas pergumulannya dalam
menghadapi kenyataan hidup umat Islam dan masyarakat Indonesia kala itu, yang juga
menjadi tantangan untuk dihadapi dan dipecahkan. Adapun faktor-faktor yang menjadi
pendorong lahirnya Muhammadiyah ialah antara lain :
1) Umat Islam tidak memegang teguh tuntunan Al-Quran dan Sunnah Nabi, sehingga
menyebabkan merajalelanya syirik, bidah, dan khurafat, yang mengakibatkan umat Islam
tidak merupakan golongan yang terhormat dalam masyarakat, demikian pula agama Islam
tidak memancarkan sinar kemurniannya lagi;
2) Ketiadaan persatuan dan kesatuan di antara umat Islam, akibat dari tidak tegaknya
ukhuwah Islamiyah serta ketiadaan suatu organisasi yang kuat;
3) Kegagalan dari sebagian lembaga-lembaga pendidikan Islam dalam memprodusir kader-
kader Islam, karena tidak lagi dapat memenuhi tuntutan zaman;
4) Umat Islam kebanyakan hidup dalam alam fanatisme yang sempit, bertaklid buta serta
berpikir secara dogmatis, berada dalam konservatisme, formalisme, dan tradisionalisme;
5) dan Karena keinsyafan akan bahaya yang mengancam kehidupan dan pengaruh agama
Islam, serta berhubung dengan kegiatan misi dan zending Kristen di Indonesia yang
semakin menanamkan pengaruhnya di kalangan rakyat
(Junus Salam, 1968:33).
Karena itu, jika disimpulkan, bahwa berdirinya Muhammadiyah adalah karena alasan-
alasan dan tujuan-tujuan sebagai berikut: (1) Membersihkan Islam di Indonesia dari pengaruh
dan kebiasaan yang bukan Islam; (2) Reformulasi doktrin Islam dengan pandangan alam
pikiran modern; (3) Reformulasi ajaran dan pendidikan Islam; dan (4) Mempertahankan
Islam dari pengaruh dan serangan luar (H.A. Mukti Ali, dalam Sujarwanto & Haedar Nashir,
1990:332).
Kendati menurut sementara pihak Kyai Dahlan tidak melahirkan gagasan-gagasan
pembaruan yang tertulis lengkap dan tajdid Muhammadiyah bersifat ad-hoc, namun
penilaian yang terlampau akademik tersebut tidak harus mengabaikan gagasan-gagasan
cerdas dan kepeloporan Kyai Dahlan dengan Muhammadiyah yang didirikannya, yang untuk
ukuran kala itu dalam konteks amannya sungguh merupakan suatu pembaruan yang
momunemntal. Ukuran saat ini tentu tidak dapat dijadikan standar dengan gerak kepeloporan
masa lalu dan hal yang mahal dalam gerakan pembaruan justru pada inisiatif kepeloporannya.
Kyai Dahlan dengn Muhammadiyah yang didirikannya terpanggil untuk mengubah
keadaan dengan melakukan gerakan pembaruan. Untuk memberikan gambaran lebih lengkap
mengenai latarbelakang dan dampak dari kelahiran gerakan Muhammadiyah di Indonesia,
berikut pandangan James Peacock (1986: 26), seorang antropolog dari Amerika Serikat yang
merintis penelitian mengenai Muhammadiyah tahun 1970-an, bahwa: Dalam setengah abad
sejak berkembangnya pembaharuan di Asia Tenggara, pergerakan itu tumbuh dengan cara
yang berbeda di bermacam macam daerah. Hanya di Indonesia saja gerakan pembaharuan
Muslimin itu menjadi kekuatan yang besar dan teratur. Pada permulaan abad ke-20 terdapat
sejumlah pergerakan kecil kecil, pembaharuan di Indonesia bergabung menjadi beberapa
gerakan kedaerahan dan sebuah pergerakan nasional yang tangguh, Muhammadiyah. Dengan
beratus-ratus cabang di seluruh kepulauan dan berjuta-juta anggota yang tersebar di seluruh
negeri, Muhammadiyah memang merupakan pergerakan Islam yang terkuat yang pernah ada
di Asia Tenggara. Sebagai pergerakan yang memajukan ajaran Islam yang murni,
Muhammadiyah juga telah memberikan sumbangan yang besar di bidang kemasyarakatan
dan pendidikan. Klinik-klinik perawatan kesehatan, rumah-rumah piatu, panti asuhan, di
samping beberapa ribu sekolah menjadikan Muhammadiyah sebagai lembaga non-Kristen
dalam bidang kemasyarakatan, pendidikan dan keagamaan swasta yang utama di Indonesia.
Aisyiah, organisasi wanitanya, mungkin merupakan pergerakan wanita Islam yang terbesar
di dunia. Pendek kata Muhammadiyah merupakan suatu organisasi yang utama dan terkuat di
negara terbesar kelima di dunia.
Kelahiran Muhammadiyah secara teologis memang melekat dan memiliki inspirasi
pada Islam yang bersifat tajdid, namun secara sosiologis sekaligus memiliki konteks dengan
keadaan hidup umat Islam dan masyarakat Indonesia yang berada dalam keterbelakangan.
Kyai Dahlan melalui Muhammadiyah sungguh telah memelopori kehadiran Islam yang
otentik (murni) dan berorientasi pada kemajuan dalam pembaruannya, yang mengarahkan
hidup umat Islam untuk beragama secara benar dan melahirkan rahmat bagi kehidupan. Islam
tidak hanya ditampilkan secara otentik dengan jalan kembali kepada sumber ajaran yang aseli
yakni Al-Quran dan Sunnah Nabi yang sahih, tetapi juga menjadi kekuatan untuk mengubah
kehidupan manusia dari serba ketertinggalan menuju pada dunia kemajuan.
Fenomena baru yang juga tampak menonjol dari kehadiran Muhammadiyah ialah,
bahwa gerakan Islam yang murni dan berkemajuan itu dihadirkan bukan lewat jalur
perorangan, tetapi melalui sebuah sistem organisasi. Menghadirkan gerakan Islam melalui
organisasi merupakan terobosan waktu itu, ketika umat Islam masih dibingkai oleh kultur
tradisional yang lebih mengandalkan kelompok-kelompok lokal seperti lembaga pesantren
dengan peran kyai yang sangat dominan selaku pemimpin informal. Organisasi jelas
merupakan fenomena modern abad ke-20, yang secara cerdas dan adaptif telah diambil oleh
Kyai Dahlan sebagai washilah (alat, instrumen) untuk mewujudkan cita-cita Islam.
Mem-format gerakan Islam melalui organisasi dalam konteks kelahiran
Muhammadiyah, juga bukan semata-mata teknis tetapi juga didasarkan pada rujukan
keagmaan yang selama ini melekat dalam alam pikiran para ulama mengenai qaidah m l
yatimm al-wjib ill bihi fa huw wjib, bahwa jika suatu urusan tidak akan sempurna
manakala tanpa alat, maka alat itu menjadi wajib adanya. Lebih mendasar lagi, kelahiran
Muhammadiyah sebagai gerakan Islam melalui sistem organisasi, juga memperoleh rujukan
teologis sebagaimana tercermin dalam pemaknaan/penafsiran Surat Ali Imran ayat ke-104,
yang memerintahkan adanya sekelompok orang untuk mengajak kepada Islam, menyuruh
pada yang maruf, dan mencegah dari yang munkar. Ayat Al-Quran tersebut di kemudian
hari bahkan dikenal sebagai ayat Muhammadiyah.
Muhammadiyah dengan inspirasi Al-Quran Surat Ali Imran 104 tersebut ingin
menghadirkan Islam bukan sekadar sebagai ajaran transendensi yang mengajak pada
kesadaran iman dalam bingkai tauhid semata. Bukan sekadar Islam yang murni, tetapi tidak
hirau terhadap kehidup. Apalagi Islam yang murni itu sekadar dipahami secara parsial.
Namun, lebih jauh lagi Islam ditampilkan sebagai kekuatan dinamis untuk transformasi sosial
dalam dunia nyata kemanusiaan melalui gerakan humanisasi (mengajak pada serba
kebaikan) dan emanisipasi atau liberasi (pembebasan dari segala kemunkaran), sehingga
Islam diaktualisasikan sebagai agama Langit yang Membumi, yang menandai terbitnya fajar
baru Reformisme atau Modernisme Islam di Indonesia.
Sumber :
http://www.muhammadiyah.or.id/id/content-178-det-sejarah-singkat.html
Pengertian Muhammadiyah
Muhammadiyah adalah sebuah organisasi Islam yang besar di Indonesia. Nama
organisasi ini diambil dari nama Nabi Muhammad SAW. sehingga Muhammadiyah juga
dapat dikenal sebagai orang-orang yang menjadi pengikut Nabi Muhammad SAW. Latar
belakang KH Ahmad Dahlan memilih nama Muhammadiyah yang pada masa itu sangat
asing bagi telinga masyarakat umum adalah untuk memancing rasa ingin tahu dari
masyarakat, sehingga ada celah untuk memberikan penjelasan dan keterangan seluas-luasnya
tentang agama Islam sebagaimana yang telah diajarkan Rasulullah SAW.
Persyarikatan Muhammadiyah didirikan untuk mendukung usaha KH Ahmad Dahlan
untuk memurnikan ajaran Islam yang dianggap banyak dipengaruhi hal-hal mistik. Kegiatan
ini pada awalnya juga memiliki basis dakwah untuk wanita dan kaum muda berupa pengajian
Sidratul Muntaha. Selain itu peran dalam pendidikan diwujudkan dalam pendirian sekolah
dasar dan sekolah lanjutan, yang dikenal sebagai Hooge School Muhammadiyah dan
selanjutnya berganti nama menjadi Kweek School Muhammadiyah (sekarang dikenal dengan
Madrasah Muallimin _khusus laki-laki, yang bertempat di Patangpuluhan kecamatan
Wirobrajan dan Muallimaat Muhammadiyah_khusus Perempuan, di Suronatan Yogyakarta).
Muhammadiyah secara etimologis berarti pengikut nabi Muhammad, karena berasal
dari kata Muhammad, kemudian mendapatkan ya nisbiyah, sedangkan secara terminologi
berarti gerakan Islam, dakwah amar maruf nahi mungkar dan tajdid, bersumber pada al-
Quran dan as-Sunnah. Berkaitan dengan latar belakang berdirinya Muhammadiyah secara
garis besar faktor penyebabnya adalah pertama, faktor subyektif adalah hasil pendalaman
KH. Ahmad Dahlan terhadap al-Quran dalam menelaah, membahas dan mengkaji
kandungan isinya. Kedua, faktor obyektif di mana dapat dilihat secara internal dan eksternal.
Secara internal ketidakmurnian amalan Islam akibat tidak dijadikannya al-Quran dan as-
Sunnah sebagai satu-satunya rujukan oleh sebagiab besar umat Islam Indonesia.
Muhammadiyah adalah Gerakan Islam yang melaksanakan dawah amar maruf nahi
munkar dengan maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam
sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Muhammadiyah berpandangan
bahwa Agama Islam menyangkut seluruh aspek kehidupan meliputi aqidah, ibadah, akhlaq,
dan muamalat dunyawiyah yang merupakan satu kesatuan yang utuh dan harus dilaksanakan
dalam kehidupan perseorangan maupun kolektif. Dengan mengemban misi gerakan tersebut
Muhammadiyah dapat mewujudkan atau mengaktualisasikan Agama Islam menjadi rahmatan
lil-alamin dalam kehidupan di muka bumi ini.
Sumber :
http://www.muhammadiyah.or.id/content-44-det-tentang-muhammadiyah.html
Faktor Pendorong Internal dan Eksternal

1) Faktor Internal
Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri umat islam sendiri yang
tercermin dalam dua hal, yaitu sikap beragama dan sistem pendidikan islam. Sikap beragama
umat islam saat itu pada umumnya belum dapat dikatakan sebagai sikap beragama yang
rasional. Sirik, taklid, dan bidah masih menyelubungai kehidupan umat islam, terutama
dalam lingkungan kraton, dimana kebudayaan hindu telah jauh tertanam. Sikap beragama
yang demikian bukanlah terbentuk secara tiba-tiba pada awal abad ke 20 itu, tetapi
merupakan warisan yang berakar jauh pada masa terjadinya proses islamisasi beberapa abad
sebelumnya. Seperti diketahui proses islamisasi di indonesia sangat di pengaruhi oleh dua
hal, yaitu Tasawuf/Tarekat dan mazhab fikih, dan dalam proses tersebut para pedagang dan
kaum sifi memegang peranan yag sangat penting. Melalui merekalah islam dapat menjangkau
daerah-daerah hampir diseluruh nusantara ini.
2) Faktor eksernal
Faktor lain yang melatarbelakangi lahirnya pemikiran Muhammadiah adalah faktor
yang bersifat eksternal yang disebabkan oleh politik penjajahan kolonial belanda. Faktor
tersebut antara lain tanpak dalam system pendidikan kolonial serta usaha kearah westrnisasi
dan kristenisasi.
Pendidikan kolonial dikelola oleh pemerintah kolonial untuk anak-anak bumi putra,
ataupun yang diserahkan kepada misi and zending Kristen dengan bantuan financial dari
pemerintah belanda. Pendidikan demikian pada awal abad ke 20 telah meyebar dibeberapa
kota, sejak dari pendidikan dasar sampai atas, yang terdiri dari lembaga pendidikan guru dan
sekolah kejuruan. Adanya lembaga pendidikan colonial terdapatlah dua macam pendidikan
diawal abad 20, yaitu pendidikan islam tradisional dan pendideikan colonial. Kedua jenis
pendidikan ini dibedakan, bukan hanya dari segi tujuan yang ingin dicapai, tetapi juga dari
kurikulumnya.
Pendidikan kolonial melarang masuknya pelajaran agama dalam sekolah-sekolah
colonial, dan dalan artian ini orang menilai pendidikan colonial sebagai pendidikan yang
bersifat sekuler, disamping sebagai peyebar kebudayaan barat. Dengan corak pendidikan
yang demikian pemerintah colonial tidak hanya menginginkan lahirnya golongan pribumi
yang terdidik, tetapi juga berkebudayaan barat. Hal ini merupakan salah satu sisi politik etis
yang disebut politik asisiasi yang pada hakekatnya tidak lain dari usaha westernisasi yang
bertujuan menarik penduduk asli Indonesia kedalam orbit kebudayaan barat. Dari lembaga
pendidikan ini lahirlah golongan intlektual yang biasanya memuja barat dan menyudutkan
tradisi nenek-moyang serta kurang menghargai islam, agama yang dianutnya. Hal ini agaknya
wajar, karena mereka lebih dikenalkan dengan ilmu-ilmu dan kebudayaan barat yang sekuler
anpa mengimbanginya dengan pendidiakan agama konsumsi moral dan jiwanya. Sikap umat
yang demikianlah yang dimaksud sebagai ancaman dan tantangan bagi islam diawal abad ke
20.
Sumber :
http://www.muhammadiyah.or.id/content-44-det-tentang-muhammadiyah.html

3. Mukaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah dan Rumusan Isinya
Muqoddimah Anggarah Dasar Muhammadiyah, yaitu Dengan nama Allah Yang Maha
Pemurah dan Penyayang. Segala puji bagi Allah yang mengasuh semua alam; yang Maha
Pemurah dan Penyayang; yang memegang pengadilan pada hari kemudian; Hanya kepada
Kau hamba menyembah dan hanya kepada Kau hamba mohon pertolongan; Berilah petunjuk
kepada hamba jalan yang lempang; Jalan orang-orang yang telah Kau beri kenikmatan, yang
tidak dimurkai dan tidak tersesat lagi. (al-Quran surat alFatihah).
Saya ridha, bertuhan kepada Allah, beragama kepada Islam dan bernabi kepada Muhammad
Rasulullah Shallal ahu alaihi wasallam.
1) Amma badu, Bahwa sesungguhnya ke-Tuhanan itu adalah hak Allah semata-mata.
Bertuhan dan beribadah serta tunduk dan taat kepada Allah adalah satu-satunya
ketentuan yang wajib atas tiap-tiap makhluk, terutama manusia.
2) Hidup bermasyarakat itu adalah sunnah (hukum qudrat-iradat) Allah atass kehidupan
manusia.
3) Masyarakat yang sejahtera, aman, damai, makmur dan bahagia hanyalah dapat diujudkan
di atas dasar keadilan, kejujuran, persaudaraan dan gotong-royong bertolong-tolongan
dengan bersendikan hukum Allah yang sebenar-benarnya, lepas dari pada pengaruh
syaitan dan hawa nafau. Agama Allah yang dibawa dan diajarkan oleh sekalian Nabi yang
bijaksana dan berjiwa suci, adalah satu-satunya Pdcok hukum dalam masyarakat yang
utama dan sebaik-baiknya.
4) Menjunjung tinggi hukum Allah lebih dari pada hukum yang manapun juga, adalah
kawajiban mutlak bagi tiap-tiap orang yang mengaku ber-Tuhan kepada Allah. Agama
Islam adalah agama Allah yang dibawa oleh sekalian Nabi, sejak Nabi Adam sampai Nabi
Muhammad saw. dan diajarkan kepada unmatnya masing-masing untuk mendapatkan
hidup bahagia dunia dan akhirat.
5) Syahdan, untuk menciptakan masyarakat yang bahagia dan sentosa sebagai yang tersebut
di atas itu, tiap-tiap orang, terutama ummat Islam, ummat yang percaya akan Allah dan
Hari Kemudian, wajiblah mengikuti jejak sekalian Nabi yang suci itu; beribadah kepada
Allah dan berusaha segiat-giatnya mengumpulkan segala kekuatan dan
mempergunakannya untuk menjelmakan masyarakat itu di dunia ini, dengan niat yang
kurni-tulus dan ikhlas karena Allah semata-mata dan hanya mengharapkan karunia Allah
dan ridla-Nya belaka serta mempunyai rasa tanggung-jawab di hadlirat Allah atas segala
perbuatannya; lagi pula harus sabar dan tawakkal bertabah hati menghadapi segala
kesukaran atau kesulitan yang menimpa dirinya, atau rintangan yang menghalangi
pekerjaannya dengan penuh pengharapan akan perlindungan dan pertolongan Allah Yang
Maha Kuasa.
6) Untuk melaksanakan terwujudnya masyarakat yang demikian itu, maka dengan berkat dan
rahmat Allah dan didirong oleh firman Allah dalam al-Quran : Adakanlah dari kamu
sekalian golongan yang mengajak kepada keIslaman, menyuruh kepada kebaikan dan
mencegah dari pada keburukan. Mereka itulah-golongan yang beruntung berbahagia. (al-
Quran surat Ali Imran ayat 104)
Pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 Hijriyah atau 18 Nopember 1912 Miladiyah oleh
Almarhum K.H.A. Dahlan didirikanlah suatu Persyarikatan sebagai GERAKAN ISLAM
dengan nama MUHAMMADIYAH yang disusun dengan majlis-majlis (Bagian-
bahgian)nya, mengikuti peredaran zaman serta berdasarkan syura yang dipimpin oleh
hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan atau Muktamar.
7) Kesemuanya itu perlu untuk menunaikan kewa,jiban mengamalkan perintah-perintah
Allah dan mengikuti Sunnah Rasul-Nya, Nabi Muhamnad saw, guna mendapatkan
karunia dan ridla-Nya, di dunia dan akhirat, dan untuk mencapai masyarakat yang
sentosa dan bahagia, disertai nikmat dan rahmat Allah yang melimpah-limpah, sehingga
merupakan : Suatu negara yang indah, bersih, suci dan makmur di bawah perlindungan
Tuhan Yang Maha Pengampun.
Maka dengan Muhammadiyah ini mudah-mudahan umnat Islam dapatlah diantarkan ke
pintu gerbang Syurga Jannatun Naimi dengan keridlaan Allah Yang Rahman dan Rahim.
o Tujuh Pokok Pikiran dari Mukaddimah, yaitu :
Hidup manusia harus mentauhidkan Allah; ber-Tuhan, beribadah serta tunduk dan taat
hanya kepada Allah
Hidup manusia adalah bermasyarakat\
Hanya hukum Allah satu-satunya hukum Yang dapat dijadikan sendi pembentuk pribadi
utama, dan mengatur tertib hidup bersama menuju kehidupan berbahagia-sejahtera Yang
hakiki dunia dan akhirat
Berjuang menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam untuk mewujudkan masyarakat
Islam yang sebenar-benarnya adalah wajib sebagai ibadah kepada Allah dan berbuat
ihsan kepada sesama manusia
Perjuangan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam untuk mewujudkan
masyarakat Islam yang sebenar-benarnya hanya akan berhasil bila mengikuti jejak
perjuangan Nabi Muhammad saw
Perjuangan mewujudkan maksud dan tujuan di atas hanya dapat dicapai apabila
dilaksanakan dengan cara berorganisasi
Seluruh perjuangan memadu ke satu titik tujuan Muhammadiyah, yakni Terwujudnya
masyarakat Utama, adil dan makmur yang diridlai Allah Subhanahu wataala

o Keterangan pokok pikiran pertama :
Hidup manusia harus mentauhidkan Allah; ber-Tuhan, beribadah serta tunduk dan taat
hanya kepada Allah.
Manusia adalah salah satu makhluk Allah yang diberi kedudukan tertinggi di antara
makhluk-makhluk lainnya, dan ia dititahkan dengan disertai satu tujuan tertentu. Oleh karena
itu sudah seharusnyalah kalau manusia menyesuaikan hidup dan kehidupannya sejalan
dengan maksud dan tujuan Allah menciptakannya dengan cara mendasarkan seluruh
hidupnya di atas dasar Tauhid, dalam arti hidup ber-Tuhan, beribadah serta tunduk dan taat
hanya kepada Allah semata.
Manusia harus percaya dan yakin dengan sesungguh-sungguhnya, bahwa tidak ada
sesuatu apapun yang wajib disembah, tak ada sesuatu apapun yang pantas ditakuti, tidak ada
sesuatu apapun yang pantas dicintai, dan tidak ada sesuatu apaun yang wajib ditaati serta
diagung-agungkan kecuali hanya kepada Allah semata-mata. Kalaupun di dalam hidupnya
seseorang mesti mencurahkan rasa cinta ataupun kesadaran mentaati sesuatu, maka
keseluruhannya dilaksanakan dalam kerangka dasar mencintai dan mentaati kepada Allah
juga.
Dalam surat Muhammad ayat 19 Allah berfirman : Maka ketahuilah bahwa
sesungguhnya tiada ada Tuhan kecuali Allah. Ayat ini selain berisi penegasan tentang
keberadaan Allah Yang Esa, juga memberikan rangsangan kepada akal fikiran manusia agar
dipergunakan sebaik-baiknya untuk menalar. Kalimat ketahuilah mengandung makna
bahwa manusia diperintahkan Allah untuklmenggunakan fikiran dan kemampuan lainnya
guna merenungkan dan memikirkan berbagai kejathan (mahluk) yang tergelar di alam
semesta ini. Manusia diperintahkan untuk membaca dan mengetahui berbagai rahasia alam
beserta segala isinya. Demikian juga ia diperintahkan untuk merenungkan terhadap dirinya
sendiri secermat-cermatnya. Renungan manusia yang didukung oleh akal fikiran yang kritis
disertai dengan pengamatan intuisi yang halus dan tajam pasti akan membuahkan hasi
semakin bertambah kuat keyakinannya bahwa sesungguhnya seluruh jagat raya beserta
gala isinya ini adalah mahluk Allah, diciptakan dengan perencanaan dan bertujuan.
Manusia yang telah mencapai tintkat kryakinan atau iman yang didapatkan lewat
perpaduan antara aiaran wahyu denga penemuan akalnya (rayu) akan melahirkan kehidupan
yang damai, tenang dan pasrah $ePenuhnya ke haribaan Allah swt. Dan hidup serupa inilah
Yang dapat dinyatakan sebagai hidup yang telah selaras dengan kehendak Ilahi, seperti
diterangkan dalam surat adz-Dzariyat ayat 56 : Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan
manusia kecuali agar supaya mereka beribadah kepadaKu.
Pengabdian diri semata-mata hanya kepada Allah, yang pangkalnya digerakkan dan
disinari oleh iman yang kokoh, akan melahirkan amal ibadah yang ikhlas, dan bersih, serta
dilaksanakan penuh ketaatan semata-mata hanya mengharapkan ridlaNya. Surat al-
Bayyinah ayat 4-5 menerangkan bahwa .tidaklah mereka diperintahkan (sesuatu apapun)
kecuali agar supaya mereka menghambakan diri kepada Allah, dengan menRikhlaskan agama
semata-mata untuk Allah juga.
o Keterangan pokok pikiran kedua :
Hidup manusia adalah bermasyarakat.
Hidup bermasyarakat bagi manusia adalah sunnatullah seperti ditegaskan oleh Allah
dalam surat al-Hujurat ayat 13 Sesungguhnya Kami menjadikan engkau semua dalam
bentuk berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling kenal-mengenal.
Secara pengalaman telah diakui oleh para cerdik-cendekiawan, bahwa kehidupan
manusia selalu bergerombol. Hal seperti itu karena manusia didorong berbagai dorongan,
seperti dorongan spirituil, dorongan intelektuil, dorongan biologis, ataupun dorongan
harga diri. Karena kenyataan serupa itu Aristoteles memandang manusia sebagai makhluk
bermasyarakat (Zoon politikon ).
Islam mengakui manusia sebagai makhluk yang mandiri dan berpribadi. Sekalipun
demikian ia tidak akan dapat melepaskan diri dari hubungan sesama manusia, bahkan dengan
mempelajari sifat dan susunan hidup manusia maka bagaimanapun juga tinggi nilai
pribadinya akan totapi ia tidak akan mFSnpunyai nilai bila sifat kehidupannya hanya semata-
mata berguna bagi dirinya sendiri. Nilai seseorang akan ditentukan oleh ukuran seberapa
jauh ia memberikan pengorbanan dan darma baktinya dalam upaya membina kelestarian
hidup bersama. Jadi hanya dengan hidup bermasyarakat terletak arti dan nilai kehidupan
manusia.
Hubungan pengertian antara pokok pikiran pertama dengan pokok pikiran kedua
adalah erat sekali karena adanya manusia berpribadi yang dilandasi dengan jiwa tauhid
merupakan unsur pokok dalam membentuk dan mewujudkan suatu masyarakat yang baik,
teratur lagi tertib.
o Keterangan pokok pikiran ketiga.
Hanya hukum Allah satu-satunya hukum yang dapat dijadikan sendi pembentukan pribadi
utama dan pengatur tertib hidup bersama menuju kehidupan bahagia sejahtera yang hakiki
dunia dan akhirat.
Pendirian pokok pikiran ketiga ini lahir dan kemudian menjadi keyaninan yang kokoh
dan kuat adalah sebagai hasil penelaahan dan pecnahaman terhadap ajaran Islam dalam arti
dan sifat yang sebenar-benarnya. Oleh karena itu pokokpikiran ini merupakan bekal
keyakinan dan pendangan hidup.
Agama Islam merupakan ajaran-ajaran yang sangat sempurna serta mutlak nilai
kebenarannya. la merupakan petunjuk jiwa dan sebagai rahmat serta taufiq Allah kepada
manusiakuntuk meraih kebahagiaan hakiki dunia dan akhirat. Surat Ali Imran ayat 19 dan 85
menegaskan Sesungguhnya agama yang ada di sisi Allah hanyalah agama Islam, dan
siapapun yang mencari agama selain agama Islain, tidak akan diterima dan ia diakhirat
termasuk golongan orang-orang yang rugi.
Surat al-Maidah ayat 3 menerangkan tentang kesempurnaan Islam: Pada hari ini telah
Aku sernpurnakan agama untukmu dan telah Aku cukupkan pula nikmatKu padamu, dan
Aku merelakan Islam sebagai agamamu.
o Keterangan pokok pikiran keempat :
Berjuang menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam untuk mewujudkan masyarakat
Islam lyang sebenar-benarnya adalah wajib, sebagai ibadah kepada Allah dan berbuat ihsan
dan ishlah kepada sesama manusia.
Berjuang menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam dengan mencari keridhaan
Allah termasuk sabilillah yang artinya : Jalan yang dapat menyam-paikan kepada yang
diridhai Allah atas semua amal yang diizinkanya.
Pokok pikiran keempat, sebagai konsekuensi atas keyakinan dan pandangan hidup
sebagaimana disinmpulkan dalam pokok pikiran ketiga. Adanya pandangan dan keyakinan
hidup bahwa hanya ajaran Islam satu-satunya yang dapat dijadikan sendi mengatur ketertiban
hidup manusia menuju kebahagiaan dan kesejahteraan dunia dan akhirat, akhirnya
menumbuhkan kesadaran wajib berjuang, menegakkan ajaran Islam.
Oleh karena itu antara pokok pikiran ketiga dan keempat terjadi hubungan yang erat
sekali, sebab satu cita-cita dan keyakinan baru dipandang positif apabila keyakinan tersebut
diperjuangkan. Bahkan manusia dinyatakan hidup yang sebenarnya bilamana ia mempunyai
suatu keyakinan hidup dan diperjuangkan dengan sepenuh pengerbanan hidupnya.
Bagi setiap muslim harus mempunyai kesadaran wajib berjuang menegakkan ajaran
Islam dengan sepenuh-penuhnya di manapun sebagai tanda dan bukti akan kebenaran iman
dan keislamannya.
Allah menggambarkan sifat seorang mukmin yang sebenar-benarnya sebagai berikut :
Orang-orang mukmin itu hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya,
kemudian mereka tidak ragu-ragu serta berjuang dengan harta dan dirinya di jalan Allah
(sabilillah). Orang-orang itulah orang-orang yang benar. (al-Hujurat:15)
Pendirian, kesadaran dan sikap seperti di atas merupakan kerangka dan sifat perjuangan
Muhammadiyah secara keseluruhan. Dengan demikian setiap kegiatan dan amalan
Muhammadiyah diarahkan dan disesuaikan denan sikap serta pedirian yang ada. Dan
sebaliknya tidak dapat dibenarkan sama sekali adanya suatu kegiatan yang berlawanan dan
yang menyimpang dari padanya.
o Keterangan pokok pikiran kelima :
Perjuangan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam untuk mewujudkan
masyarakat Islam yang sebenar-benarnya hanya akan berhasil bila mengikuti jejak
perjuangan para Nabi, terutama Perjuagan Nabi Muhammad saw..
Apabila pokok pikiran keempat membicarakan tentang konsekuensi terhadap
pandangan hidup yang telah diyakini kebenarannya, maka pokok pikiran kelima
memperssoalkan tentang bagaimana cara dan akhlak berjuang menegakkan keyakinan hidup
tersebut.
Bagi tiap pejuang muslim tidak ada cara dan contoh yang patut dijadikan teladan
kecuali harus mengikuti car-cara perjuangan para nabi tertama Nabi Muhammad saw. Sebab
pada diri Rasulullah tergambar rentangan contoh teladan paling bagus dan mulia, seperti yang
telah ditegaskan Allah dalam surat al Ahzab ayat 21 : Sesungguhnya pada diri kasulullah
ada suatu contoh yang baik bagi kamu sekalian, ialah bagi orang yang mengharapkan
keridhaan Allah dan keselamatan hari akhir serta ingat, sebanyak-banyak kepada Allah.
Surat Ali Imran ayat 31 memberikan petunjuk kepada orang yang berusaha mencintai
Allah harus menempuh jalan Rasulullah : Katakanlah, apabila engkau benar-benar mencintai
Allah, maka ikutilah aku niscaya engkau akan dicintai Allah, serta diampuni dosa-dosamu.
ban Allah flaha Nengampun lagi Maha Penyayang.
Kehidupan para nabi, terutama nabi Muhammad saw. adalah merupakan kehidupan
yang seluruhnya diperuntukkan dalam perjuangan menegakkan cita-cita agung yakni :
Kejayaan agama Allah di seluruh permukaan bumi. Kehidupan Rasulullah yang sangat
menga-gumkan adalah merupakan gambaran yang hidup, Yang konkrit dan rril serta
merupakan wujud Yang nyata dari ide yang terkandung dalam Al-Quran. t1anuaia muslim
tidak dapat membuat keadilan yang lebih besar terhadap Al-Quran kecuali dengan cara
mengikuti Rasulullah. Sebab sesungguhnya Rasulullah adalah orang yang ditunjuk Allah
menjadi alat penyampai wahyu.
Tegasnya seseorang muslim mengikuti jejak beliau karena didasari suatu keyakinan
bahwa tidak ada juru tafsir yang lebih baik dari ajaran A1-Quran daripada melaui orang di
mana firman Allah diwahyukan untuk umat Islam. Oleh sebab itu mempelajari sejarah
perjuangan Rasulullah hingga dapat mengetahui rahasia-rahasia kemenangannya yang
gilang-gemilang adalah merupakan syarat mutlak bagi setiap pejuang Muslim yang bercita-
cita menegakkan agama Islam.
Sifat-sifat perjuangan Rasulullah yang wajib diikuti ialah selain merupakan ibadah
kepada Allah, adalah dilakukan dengan segala kesungguhan atau jihad, ikhlas, penuh rasa
tanggung jawab, sabar dan tawakkal.
Dan karana itu pula persyarikatan yang didirikan oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan
dinamakan Muhammadiyah, dengan maksud untuk bertafaul atau berharapan baik. semoga
persyarikatan beserta para pendukung cita-citanya dapat mencontoh pcrjuangan dan diri
pribadi Nabi Muhammad saw.
o Keterangan pokok pikiran keenam :
Perjuangan mewujudkan maksud dan tujuan di atas hanya akan dapat tercapai apabila
dilaksanakan dengan berorganisas
Pokok pikiran keenam membicarakan tentang alat perjuangan sebagai rangkaian logis
pokok pikiran-pokok pikiran yang sebelumnya, ialah: Munculnya keyakinan dan pandangan
hidup menumbuhkan konsekuensi untuk memperjuangkannya dengan suatu metode dan
akhlak tertentu serta dilaksanakan dengan menggunakan alat perjuangan demi efisiensi
pelaksanaannya.
Perjuagan menegakkan ajaran Islam hanya akan dapat berhasil secara efektif & efisien
apabila diperjuangkan dengan mempergunakan suatu alat beru-pa organisasi. Dan sudah
semestinya organisasi yang dijadikan alat untuk meraih satu tujuan yang sangat tinggi dan
agung, memerlukan berbagai syarat yang berat juga, yang harus sepadan dan sebanding
dengan nilai yang hendak dicapai. Ajaran Islam menekankan kepada umatnya agar dalam
berusaha menegakkan ajaran Islam hendaknya dilakukan dengan cara berorganisasi
sebagaimana yang dinyatakan dalam surat ash-Shaf ayat 4: Sesungguhnya Allah senang
kepada orang-orang yang yang berjuang di atas jalan-Nya secara tersusun rapi ibarat suatu
bangunan yang kokoh dan kuat.
Muhammadiyah sadar bahwa mengingat ayat tersebut maka berorganisasi untuk
melaksakanan kewajiban menegakkan ajaran Islam, hukumnya adalah wajib. Hal ini
dikukuhkan oleh qaidah umum ushul fikih yang menyatakan bahwa :Apabila suatu
kewajiban tidak selesai kecuali dengan adanya sesuatu yang lain, maka adanya sesuatu yang
lain tersebut hukumnya wajib juga.
o Keterangan pokdc pikiran ketujuh :
Seluruh perjuangan mengarah ke satu tujuan Muhammadiyah, yakni terwujudnya
masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Pokok pikiran ketujuh membicarakan tentang tujuan perjuangan. Di mana
Muhammadiyah selaku organisasi menetapkan bahwa segala amal perjuangan yang telah
dan yang akan dirintisnya tidak boleh lepas dari tujuan yang dicita-citakan sejak semula,
yakni terwujudnya masyarakat utama, adil dan makmur yang diridlai Allah Subhanahu
wataala.
Adapun wujud dari masyarakat utama, adil dan makmur yang diridlai Allah SWT dapat
diberi ciri sebagai berikut : masyarakat yang sejahtera, aman, damai, makmur dan bahagia
yang diwujudkan atas dasar keadilan, kejujuran, persaudaraan dan gotong royong, saling
tolong menolong dengan bersendikan hukum Allah yang sebenar-benarnya, lepas dari
pengaruh syaitan dan hawa nafsu.
Masyarakat utama, adil dan makmur yang diridlai Allah SWT selain merupakan
kebahagiaan di dunia bagi seluruh umat manusia, ia juga akan menjadi jenjang bagi umat
Islam untuk memasuki pintu gerbang syurga JANNATUN NAIM untuk menerima
keridhaan Allah yang kekal abadi.
Sumber :
http://pimpinancabangmuarapadang.wordpress.com/about/sekilas-pcm-muara-padang-
1/mukadimah-anggaran-dasar-muhammadiyah/
4. Visi dan Misi Muhammadiyah

Visi Muhammadiyah adalah sebagai gerakan Islam yang berlandaskan al-Quran dan
as-Sunnah dengan watak tajdid yang dimilikinya senantiasa istiqamah dan aktif dalam
melaksanakan dakwah Islam amar maruf nahi mungkar di segala bidang, sehingga menjadi
rahmatan li al-alamin bagi umat, bangsa dan dunia kemanusiaan menuju terciptanya
masyarakat Islam yang sebenar-benarnya yang diridhai Allah swt dalam kehidupan di dunia
ini. Misi Muhammadiyah adalah :
Menegakkan keyakinan tauhid yang murni sesuai dengan ajaran Allah swt yang dibawa
oleh Rasulullah yang disyariatkan sejak Nabi Nuh hingga Nabi Muhammad saw.
Memahami agama dengan menggunakan akal pikiran sesuai dengan jiwa ajaran Islam
untuk menjawab dan menyelesaikan persoalan-persoalan kehidupan yang bersifat
duniawi.
Menyebarluaskan ajaran Islam yang bersumber pada al-Quran sebagai kitab Allah
yang terakhir untuk umat manusia sebagai penjelasannya.
Mewujudkan amalan-amalan Islam dalam kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat.
Wujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, dimana kesejahteraan, kebaikan
dan kebahagiaan luas-merata, Muhammadiyah mendasarkan segala gerak dan amal usahanya
atas prinsip-prinsip yang tersimpul dalam Muqaddimah Anggaran Dasar, yaitu :
Hidup manusia harus berdasar tauhid, ibadah, dan taat kepada Allah.
Hidup manusia bermasyarakat.
Mematuhi ajaran-ajaran agama Islam dengan berkeyakinan bahwa ajaran Islam itu satu-
satunya landasan kepribadian dan ketertiban bersama untuk kebahagiaan dunia akhirat.
Menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam dalam masyarakat adalah kewajiban
sebagai ibadah kepada Allah dan ikhsan kepada kemanusiaan.
Ittiba' kepada langkah dan perjuangan Nabi Muhammad SAW.
Melancarkan amal usaha dan perjuangannya dengan ketertiban organisasi.
Sumber :
http://www.muhammadiyah.or.id/content-44-det-tentang-muhammadiyah.html
5. Matan keyakinan dan Cita-Cita Muhammadiyah
Muhammadiyah adalah Gerakan Islam dan Dakwah Amar Ma'ruf Nahi Munkar, beraqidah
Islam dan bersumber pada Al-Qur'an dan Sunnah, bercita-cita dan bekerja untuk
terwujudnya masyarakat utama, adil, makmur yang diridhai Allah SWT, untuk
malaksanakan fungsi dan misi manusia sebagai hamba dan khalifah Allah di muka bumi.
Muhammdiyah berkeyakinan bahwa Islam adalah Agama Allah yang diwahyukan kepada
Rasul-Nya, sejak Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan seterusnya sampai kepada
Nabi penutup Muhammad SAW, sebagai hidayah dan rahmat Allah kepada umat manusia
sepanjang masa, dan menjamin kesejahteraan hidup materil dan spritual, duniawi dan
ukhrawi.
Muhammadiyah dalam mengamalkan Islam berdasarkan :
o Al-Qur'an: Kitab Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW;
o Sunnah Rasul: Penjelasan dan palaksanaan ajaran-ajaran Al-Qur'an yang diberikan oleh
Nabi Muhammad SAW dengan menggunakan akal fikiran sesuai dengan jiwa ajaran
Islam.
Muhammadiyah bekerja untuk terlaksananya ajaran-ajaran Islam yang meliputi bidang-
bidang:
o 'Aqidah
Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya aqidah Islam yang murni, bersih dari gejala-
gejala kemusyrikan, bid'ah dan khufarat, tanpa mengabaikan prinsip toleransi menurut
ajaran Islam.
o Akhlak
Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya nilai-nilai akhlak mulia dengan berpedoman
kepada ajaran-ajaran Al-Qur'an dan Sunnah rasul, tidak bersendi kepada nilai-nilai
ciptaan manusia
o Ibadah
Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya ibadah yang dituntunkan oleh Rasulullah
SAW, tanpa tambahan dan perubahan dari manusia.
o Muamalah Duniawiyah
Muhammadiyah bekerja untuk terlaksananya mu'amalat duniawiyah (pengolahan dunia
dan pembinaan masyarakat) dengan berdasarkan ajaran Agama serta menjadi semua
kegiatan dalam bidang ini sebagai ibadah kepada Allah SWT.

Muhammadiyah mengajak segenap lapisan bangsa Indonesia yang telah mendapat karunia
Allah berupa tanah air yang mempunyai sumber-sumber kekayaan, kemerdekaan bangsa
dan Negara Republik Indonesia yang berdasar pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar
1945, untuk berusaha bersama-sama menjadikan suatu negara yang adil dan makmur dan
diridhoi Allah SWT:
"BALDATUN THAYYIBATUB WA ROBBUN GHOFUR"
Sumber :
http://www.muhammadiyah.or.id/id/content-175-det-matan-keyakinan-dan-citacita-
hidup.html
6. Khittah Perjuangan Muhammadiyah (pengertian dan isinya)
Khittah perjuangan Muhammadiyah merupakan strategi yang ditetapkan dalam
Muktamar untuk mencapai maksud dan tujuan persyarikatan. Khittah merupakan langkah-
langkah yang terperinci dan berjenjang serta berkesinambungan yang memberikan jalan dan
arah bagi amal usaha Muhammadiyah , sehingga khittah dapat berubah setiap saat. Oleh
karena diputuskan dalam Muktamar, maka perubahanya pun harus disyahkan dalam
Muktamar.
Dengan melihat sejarah pertumbuhan dan perkembangan persyarikatan Muhammadiyah
sejak kelahirannya, memperhatikan faktor-faktor yang melatarbelakangi berdirinya, aspirasi,
motif, dan cita-citanya serta amal usaha dan gerakannya, nyata sekali bahwa didalammya
terdapat ciri-ciri khusus yang menjadi identitas dari hakikat atau jati diri Persyarikatan
Muhammadiyah. Secara jelas dapat diamati dengan mudah oleh siapapun yang secara
sepintas mau memperhatikan ciri-ciri perjuangan Muhammdiyah itu adalah sebagai berikut.
Muhammdiyah sebagai Gerakan Islam
Telah diuraikan dalam bab terdahulu bahwa Persyarikatan Muhammadiyah dibangun
oleh KH Ahmad Dahlan sebagi hasil kongkrit dari telaah dan pendalaman (tadabbur)
terhadap Alquranul Karim. Faktor inilah yang sebenarnya paling utama yang mendorong
berdirinya Muhammadiyah, sedang faktor-faktor lainnya dapat dikatakan sebagai faktor
penunjang atau faktor perangsang semata. Dengan ketelitiannya yang sangat memadai pada
setiap mengkaji ayat-ayat Alquran, khususnya ketika menelaah surat Ali Imran, ayat:104,
maka akhirnya dilahirkan amalan kongkret, yaitu lahirnya Persyarikatan Muhammadiyah.
Kajian serupa ini telah dikembangkan sehingga dari hasil kajian ayat-ayat tersebut oleh KHR
Hadjid dinamakan Ajaran KH Ahmad Dahlan dengan kelompok 17, kelompok ayat-ayat
Alquran, yang didalammya tergambar secara jelas asal-usul ruh, jiwa, nafas, semangat
Muhammadiyah dalam pengabdiyannya kepada Allah SWT.
Dari latar belakang berdirinya Muhammadiyah seperti di atas jelaslah bahwa
sesungguhnya kelahiran Muhammadiyah itu tidak lain karena diilhami, dimotivasi, dan
disemangati oleh ajaran-ajaran Al-Quran karena itupula seluruh gerakannya tidak ada motif
lain kecuali semata-mata untuk merealisasikan prinsip-prinsip ajaran Islam. Segala yang
dilakukan Muhammadiyah, baik dalam bidang pendidikan dan pengajaran, kemasyarakatan,
kerumahtanggaan, perekonomian, dan sebagainya tidak dapat dilepaskan dari usaha untuk
mewujudkan dan melaksankan ajaran Islam. Tegasnya gerakan Muhammadiyah hendak
berusaha untuk menampilkan wajah Islam dalam wujud yang riil, kongkret, dan nyata, yang
dapat dihayati, dirasakan, dan dinikmati oleh umat sebagai rahmatan lilalamin.
Muhammadiyah sebagai Gerakan Dakwah Islam
Ciri kedua dari gerakan Muhammadiyah dikenal sebagai gerakan dakwah Islamiyah.
Ciri yang kedua ini muncul sejak dari kelahirannya dan tetap melekat tidak terpisahkan dalam
jati diri Muahammadiyah. Sebagaimana telah diuraikan dalam bab terdahulu bahwa faktor
utama yang mendorong berdirinya Persyarikatan Muhammadiyah berasal dari pendalaman
KHA Dahlan terdapat ayat-ayat Alquran Alkarim, terutama sekali surat Ali Imran, Ayat:104.
Berdasarkan Surat Ali Imran, ayat : 104 inilah Muhammadiyah meletakkan khittah atau
strategi dasar perjuangannya, yaitu dakwah (menyeru, mengajak) Islam, amar maruf nahi
munkar dengan masyarakat sebagai medan juangnya. Gerakan Muhammadiyah berkiprah di
tengah-tengah masyarakat bangsa Indonesia dengan membangun berbagai ragam amal usaha
yang benar-benar dapat menyentuh hajat orang banyak seperti berbagai ragam lembaga
pendidikan sejak taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi, membangun sekian banyak
rumah sakit, panti-panti asuhan dan sebagainya. Semua amal usaha Muhammadiyah seperti
itu tidak lain merupakan suatu manifestasi dakwah islamiyah. Semua amal usaha diadakan
dengan niat dan tujuan tunggal, yaitu untuk dijadikan sarana dan wahana dakwah Islamiyah.
Muhammadiyah sebagi Gerakan Tajdid
Ciri ke tiga yang melekat pada Persyarikatan Muhammadiyah adalah sebagai Gerakan
Tajdid atau Gerakan Reformasi. Muhammadiyah sejak semula menempatkan diri sebagai
salah satu organisasi yang berkhidmat menyebarluaskan ajaran Agama Islam sebagaimana
yang tercantum dalam Alquran dan Assunah, sekaligus memebersihkan berbagai amalan
umat yang terang-trangan menyimpang dari ajaran Islam, baik berupa khurafat, syirik,
maupun bidah lewat gerakan dakwah. Muhammadiyah sebagai salah satu mata rantai dari
gerakan tajdid yang diawali oleh ulama besar Ibnu Taimiyah sudah barang tentu ada
kesamaaan nafas, yaitu memerangi secara total berbagai penyimpangan ajaran Islam seperti
syirik, khurafat, bidah dan tajdid, sbab semua itu merupakan benalu yang dapat merusak
akidah dan ibadah seseorang.
Sifat Tajdid yang dikenakan pada gerakan Muhammadiyah sebenarnya tidak hanya
sebatas pengertian upaya memurnikan ajaran Islam dari berbagai kotoran yang menempel
pada tubuhnya, melainkan juga termasuk upaya Muhammadiyah melakukan berbagai
pembaharuan cara-cara pelaksanaan Islam dalam kehidupan bermasyarakat, semacam
memperbaharui cara penyelenggaraan pendidikan, cara penyantunan terhadap fakir miskin
dan anak yatim, cara pengelolaan zakat fitrah dan zakat harta benda, cara pengelolaan rumah
sakit, pelaksanaan sholat Id dan pelaksanaan kurba dan sebagainya.
Untuk membedakan antara keduanya maka tajdid dalam pengertian pemurnian dapat
disebut purifikasi (purification) dan tajdid dalam pembaharuan dapat disebut reformasi
(reformation). Dalam hubungan dengan salah satu ciri Muhammadiyah sebagai gerakan
tajdid, maka Muhammadiyah dapat dinyatakan sebagai Gerakan Purifikasi dan Gerakan
Reformasi.
Contoh Khittah Perjuangan Muhammadiyah

1) Khittah Surabaya 1978 (penyempurnaan dari khittah ponorogo 1969)
o Muhammadiyah adalah Gerakan Dawah Islam yang beramal dalam segala bidang
kehidupan manusia dan masyarakat, tidak mempunyai hubungan organisatoris dengan
dan tidak merupakan afiliasi dari sesuatu partai politik atau organisasi apapun.
o Setiap anggota Muhammadiyah sesuai dengan hak asasinya dapat tidak memasuki atau
memasuki organisasi lain, sepanjang tidak menyimpang dari Anggaran Dasar,
Anggaran Rumah Tangga, dan ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam Persyarikatan
Muham-madiyah.

2) Khittah Denpasar 2002
Dalam Posisi yang demikian maka sebagaimana khittah Denpasar, muhammadiyah
dengan tetap berada dalam kerangka gerakan dakwah dan tajdid yang menjadi fokus dan
orientasi utama gerakannya dapat mengembangkan fungsi kelompok kepentingan atau
sebagai gerakan social civil-society dalam memainkan peran berbangsa dan bernegara.
Sumber :
http://www.muhammadiyah.or.id/id/content-176-det-ciri-perjuangan.html
https://www.academia.edu/5651882/KHITTAH_PERJUANGAN_MUHAMMADIYAH
7. Amal Usaha Muhammadiyah dalam Bidang Dawah dan Pendidikan

Bidang Dawah

Program gerakan
o Menamkan keyakinan, memperdalam dan memperluas pemahaman, meningkatkan
pengamalan serta menyebarluaskan ajaran Islam dalam berbagai aspek kehidupan
o Memperdalam dan mengembangkan pengkajian ajaran Islam dalam berbagai aspek
kehidupan untuk mendapatkan kemurnian dan kebenarannya

Wujud aksi amal usahanya yaitu memurnaikan ajaran tauhid dalam keseharian dengan
cara, sebagai berikut :
o Meniadakan kebiasaan/tradisi upacara selamatan-selamatan (mitoni orang hamil,
selamatan kematian dll)\
o Memberantas tradisi keagamaan yang dianggap sebagai ajaran Islam
Memurnikan dan meluruskan amaliah ibadah
o Meluruskan arah qiblat
o Melaksanakan shalat tarawih 11 rakaat dan diawali dengan shalat iftitah dua rakaat
ringan
o Memnyelenggarakan shalat hari raya di tanah lapang
o Pengumpulan dan penyaluran zakat maal dan fitrah kepada yang berhak menerimanya
o Penyederhanaan upacara dalam rangka kelahiran, khitanan, pernikahan dan kematian
o Menghilangkan kebiasaan berziarah ke makam-makam para wali yang dikeramatkan
Membentuk Majelis-majelis yang mengelola bidang keagamaan Islam, yaitu : Majelis
Tarjih dan Tajdid, Majelis Tabligh, Majelis Wakaf dan Kehartabendaan.
Majelis Tarjih dan Tajid bertugas
o Menghidupan tarjih, tajdid dan pemikiran Islam di kalangan Muhammadiyah sebagai
gerakan pembaruan yang kritis dan dinamis di dalam masyarakat
o Memberikan jawaban terhadap problem dan tantangan perkembangan sosial budaya
dan kehidupan umat Islam pada umumnya

Majelis Tabligh bertugas
Memimpin pelaksanaan dakwah di bidang tabligh secara terecana dan terprogram
dengan jelas yang meliputi seluruh aspek kegiatan dakwah (pengajian rutin umat,
pengajian rutin angoota dan pengajian pimpinan dan sebagainya)

Majelis Wakaf bertugas
Mengelola bidang perwakafan, pertanahan dan kekayaan yang dimiliki persyarikatan.
Bidang Pendidikan
Pendidikan yang dirintis Muhammadiyah adalah pendidikan yang berorientasi
kepada dua hal, yaitu perpaduan antara sistem sekolah umum dan madrasah/pesantren
Untuk mewujudkan rintisan pendidikannya itu, maka Muhammadiyah mendirikan amal
usaha berupa :
Sekolah-sekolah umum modern yang mengajarkan keagamaan\
Mendirikan madrasah/pesantren yang mengajrakan ilmu pengetahuan umum/modern
Mendirikan perguruan tinggi
Untuk menjalankan dan mengelola amal usaha tersebut, maka dibentuk :
Majelis Pendidikan Sekolah, Madrasah dan pesantren
Majelis Pendidikan Tinggi
Lembaga Penelitian dan Pengembangan
Majelis Pendidikan kader
Sumber :
https://www.academia.edu/5481656/Amal_Usaha_Muhammadiyah_Kedudukan_dan_Fungsi
nya
8. Amal Usaha Muhammadiyah dalam Bidang Sosial dan Kesehatan
Sejak awal berdirinya Muhammadiyah menaruh perhatian besar terhadap kesejahteraan
masyarakat, khususnya masyarakat kelas dhuafa.
Penyaluran dan pembagian zakat fitrah dan maal kepada fakir miskin dan asnaf yang lain
Pendirian panti asuhan, panti miskin, panti jompo
Pendirian, Balai kesehatan, poliklinik, Rumah sakit Ibu dan Anak dan Rumah Sakit Umum
Pendampingan terhadap masyarakat kelas dhuafa agar dapat mandiri
Untuk mengelola amal-amal usaha tersebut, dibentuk majelis dan lembaga :
Majelis Pelayanan Kesehatan masyarakat
Majelis Pelayanan Sosial
Majelis Pemberdayaan Masyarakat
Majelis Lingkungan Hidup
Lembaga Penangulangan Bencana
Sumber :
https://www.academia.edu/5481656/Amal_Usaha_Muhammadiyah_Kedudukan_dan_Fungsi
nya
9. Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah
Misi utama yang dibawa oleh Muhammadiyah adalah pembaharuan (tajdid)
pemahaman agama. Adapun yang dimaksudkan dengan pembaharuan oleh Muhammadiyah
ialah yang seperti yang dikemukakan M. Djindar Tamimy : Maksud dari kata-kata tajdid
(bahasa Arab) yang artinya pembaharuan adalah mengenai dua segi menurut sasarannya,
yaitu :
Pertama, berarti pembaharuan dalam arti mengembalikan kepada
keasliannya/kemurniannya, ialah bila tajdid itu sasarannya mengenai soal-soal prinsip
perjuangan yang sifatnya tetap/tidak berubah-ubah.
Kedua, berarti pembaharuan dalam arti modernisasi, ialah bila tajdid itu sasarannya
mengenai masalah seperti: metode, sistem, teknik, strategi, taktik perjuangan, dan lain-lain
yang sebangsa itu, yang sifatnya berubah-ubah, disesuaikan dengan situasi dan kondisi/ruang
dan waktu.
Tajdid itu sesungguhnya merupakan watak daripada ajaran Islam itu sendiri dalam
perjuangannya, sehingga dapat disimpulkan bahwa pembaharuan itu tidaklah selamanya
berarti memodernkan, akan tetapi juga memurnikan, membersihkan yang bukan ajaran.
Muhammadiyah adalah gerakan keagamaan yang bertujuan menegakkan agama Islam
ditengah-tengah masyarakat, sehingga terwujud masyarakat Islam sebenar-benarnya. Islam
sebagai agama terakhir, tidaklah memisahkan masalah rohani dan persoalan dunia, tetapi
mencakup kedua segi ini. Sehingga Islam yang memancar ke dalam berbagai aspek
kehidupan tetaplah merupakan satu kesatuan suatu keutuhan. Pembaharuan Islam sebagai
satu kesatuan inilah yang ditampilkan Muhammadiyah itu sendiri. Sehingga dalam
perkembangan sekarang ini Muhammadiyah menampakkan diri sebagai pengembangan dari
pemikiran perluasan gerakan-gerakan yang dilahirkan oleh KH. Ahmad Dahlan sebagai karya
amal shaleh.
Tarjih, secara teknis tarjih adalah proses analisis untuk menetapkan hukum dengan
menetapkan dalil yang lebih kuat (rajih), lebih tepat analogi dan lebih kuat maslahatnya.
Sedangkan secara institusional majlis tarjih adalah lembaga ijtihad jama'i (organisatoris) di
lingkungan Muhammadiyah yang anggotanya terdiri dari orang-orang yang meiliki
kompetensi ushuliyah dan ilmiah dalam bidangnya masing-masing.

10. Masalah Hisab dan Ruyat
Di lingkungan Muhammadiyah digunakan apa yang disebut dengan hisab wujudul hilal.
Hisab wujudul hilal adalah metode menetapkan awal bulan baru yang menegaskan bahwa
bulan kamariah baru dimulai apabila telah terpenuhi tiga para meter (kriteria), yaitu :
telah terjadi konjungsi atau ijtimak,
konjungsi (ijtimak) itu terjadi sebelum matahari terbenam,
pada saat matahari terbenam Bulan berada di atas ufuk
Penggunaan metode hisab oleh Muhammadiyah didasarkan atas berbagai alasan, baik
syari maupun astronomis, yang antara lain sebagai berikut :
1) Semangat al-Quran adalah penggunaan hisab. Dalam surat ar-Rahman ayat 5 Allah
berfirman,


Artinya : Matahari dan Bulan beredar menurut perhitungan [55:5]
Ayat ini menegaskan bahwa matahari dan Bulan beredar dengan hukum yang pasti dan
oleh karenanya dapat dihitung dan diprediksi. Ayat ini tidak sekedar memberi informasi,
tetapi juga mengandung dorongan untuk melakukan perhitungan gerak matahari dan Bulan
karena banyak kegunaannya. Di antara kegunaan perhitungan gerak Bulan dan matahari itu,
sebagaimana dijelaskan dalam ayat 5 dari surat Yunus, adalah untuk mengetahui bilangan
tahun dan perhitungan waktu. Ayat 5 surat Yunus dimaksud berbunyi,


Artinya: Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan Bulan bercahaya dan ditetapkan-
Nya bagi Bulan itu manzilah-manzilah, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan
perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia
menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui [Q. 10: 5].
2) Hadis-hadis yang secara harfiah mengharuskan rukyat atau istikmal dalam memulai dan
mengakhiri puasa Ramadhan tidak berlaku permanen, karena hadis-hadis tersebut
mengandung illat. Ini ditegaskan oleh Nabi saw dalam hadis riwayat al-Bukhari dan
Muslim sebagai berikut,


[ ].
Artinya: Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi; kami tidak bisa menulis dan tidak bisa
melakukan hisab. Bulan itu adalah demikian-demikian. Maksudnya adalah kadang-kadang
dua puluh sembilan hari, dan kadang-kadang tiga puluh hari [diriwayatkan oleh al-Bukhari
dan Muslim].
Hadis ini menunjukkan bahwa penggunaan rukyat pada zaman Nabi saw. itu karena
keadaan umat masih ummi, yaitu sebagian terbesar tidak mengenal baca tulis dan tidak dapat
melakukan hisab.
3) Secara astronomis, penggunaan rukyat sebagai metode penetapan awal bulan kamariah
menimbulkan masalah yang tak terhindarkan, antara lain:
Tidak dapat digunakan untuk menyusun kalender, karena masuknya bulan baru
diketahui paling cepat H-1.
Rukyat tidak dapat menyatukan penanggalan kamariah secara global, karena rukyat
tidak bisa mengkaver seluruh permukaan bumi pada waktu yang bersamaan.
Jangkauan rukyat terbatas sehingga tidak dapat diberlakukan ke seluruh dunia, bahkan
ada kawasan tertentu di muka bumi tidak dapat merukyat sama sekali karena tempatnya
tidak normal.

11. Struktur Organisasi Muhammadiyah Keorganisasian Muhammadiyah
Organisasi Muhammadiyah, sebagai berikut :
1) Jaringan Kelembagaan Muhammadiyah:
Pimpinan Pusat
Pimpinan Wilayah
Pimpinan Daerah
Pimpinan Cabang
Pimpinan Ranting
Jama'ah Muhammadiyah

2) Pembantu Pimpinan Persyarikatan
Majelis
Majelis Tarjih dan Tajdid
Majelis Tabligh
Majelis Pendidikan Tinggi
Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah
Majelis Pendidikan Kader
Majelis Pelayanan Sosial
Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan
Majelis Pemberdayaan Masyarakat
Majelis Pembina Kesehatan Umum
Majelis Pustaka dan Informasi
Majelis Lingkungan Hidup
Majelis Hukum Dan Hak Asasi Manusia
Majelis Wakaf dan Kehartabendaan
3) Lembaga
Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting
Lembaga Pembina dan Pengawasan Keuangan
Lembaga Penelitian dan Pengembangan
Lembaga Penanganan Bencana
Lembaga Zakat Infaq dan Shodaqqoh
Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik
Lembaga Seni Budaya dan Olahraga
Lembaga Hubungan dan Kerjasama International

4) Organisasi Otonom
Aisyiyah
Pemuda Muhammadiyah
Nasyiyatul Aisyiyah
Ikatan Pelajar Muhammadiyah
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
Hizbul Wathan
Tapak Suci

12. Isme dan Aliran Sesat yang Berkembang di Masyarakat dan Prinsip Ajarannya yang
Dikategorikan Sesat
Aliran-aliran sesat di kalangan umat Islam, ada dua golongan yang timbul akibat
pemahaman yang berbeda bidang pembahasannya yaitu :
1) Faham yang timbul dari sumber pemahaman yang berhubungan dengan masalah aqidah.
Perbedaan faham yang ditimbulkan dari sumber yang berhubungan dengan aqidah
Islamiyah terkenal dengan istilah FIRQOH, seperti Syiah, Khawarij, Oodariyah,
Jabariyah, Mu'tazilah, Ahlus-Sunnah wal Jama'ah.
2) Faham yang timbul dari sumber pemahaman yang berhubungan dengan masalah furu'iyah
atau 'ubudiyah. Perbedaan faham yang ditimbulkan dari sumber yang berhubungan dengan
masalah fu.ru'iyah terkenal dengan istilah: MADZHAB, seperti Madzhab Hanafi,
Madzhab Hambali, Madzhab Maiiki, Madzhab Syafe'i, Madzhab Dlahiri dan lain
sebagainya.
Aliran yang berhubungan dengan masalah aqidah (Firqah)
1) Firqah Syi'ah.
Sesudah Rasulullah wafat, timbul perselisihan pendapat di kalangan masyarakat Islam
kota Madinah dan sekitarnya mengenai: KHILAFAH, yaitu mengenai kekhalifahan (kepala
pemerintahan) yang pernah dipegang Rasulullah.
Sementara kerabat Nabi dalam keadaan berkabung, muncul seorang Yahudi yang
secara lahirnya telah mengaku beragama Islam yaitu Abdullah bin Saba', dengan segala
kelicikan dan kelihaiannya menghembus-hembuskan isu bahwa sesungguhnya hak
kekhalifahan berada di tangan Ali bin Abi Tholib, putera paman Rasulullah sekaligus
menantunya. Suara tersebut pertama kali tidak ditanggapi secara serius; akan tetapi karena
tidak henti-hentinya diulang maka lama kelamaan orang-orang awam menerimanya juga
sebagai kebenaran.
Abdullah bin Saba' selalu menampakkan kecintaannya yang teramat mendalam kepada
shahabat Ali bin Thalib, serta mengajarkan berbagai hal yang sangat berlebih-lebihan tentang
diri pribadi shahabat Ali.
Setelah dilihat situasi masyarakat sudah cukup matang, maka Abdullah bin Saba' mulai
melancarkan fitnah ke tengah-tengah masyarakat. Bahwa Abu Bakar, Umar bin Khatab serta
Usman bin Affan telah berbuat dosa besar, karen ketiga tokoh tersebui telah merebut hak
orang Jain, yaitu merebut kekhalifahan milik sayyidina Ali bin Abi Thalib. Para pengikut
faham dan ajaran Abdullah bin Saba' ini akhirnya mengelompok dalam satu aliran yang
terkenal dengan sebutan kaum Syi'ah.
2) Firqah Khawarij.
Ketika Ali bin Abi Thalib memegang kekhalifahan yang keempat sebagai pengganti
khalifah Usman bin Affan maka beberapa kerabat dekat Usman bin Affan menuduh Ali bin
Abi Thalib, bahwa kematian Usman bin Affan didalangi dan dilaksanakan oleh Ali dan para
pengikutnya, dengan maksud jabatan khalifah segera dapat diambil olehnya. Oleh karena itu
beberapa pengnasa daerah yang dahuiu diangkat oleh khalifah Usman dan kebetulan masih
kera-batnya mengadakan aksi pembangkangan terhadap pemerintahan Ali bin Abi Thalib, Di
antara mereka adalah Muawiyah Gubernur Basrah (Siria) dan Amru bin 'Ash Gubernur
Mesir, Sudah barang teniu aksi mereka tidak dibenarkan oleh. Ali. Berlarut-larutnya
ketegangan antara penguasa daerah dengan penguasa pusat menimbulkan peperangan. Di satu
pihak khalifah Ali beserta pengikut-pengikutnya di lain fihak Muawiyah dengan pengikut-
pengikutnya yang dibantu oleh Gubernur Amru bin 'Ash.
Peperangan tersebut pada akhirnya menunjukkan tanda-tanda kemenangan di fihak Ali.
Maka dengan penuh tipu daya Muawiyah mengajukan ajakan perdamaian yang diterima juga
oleh Ali. Terkenallah perdamaian itu dengan nama "Tahkim". Ternyata keputusan Tahkim
memperlihatkan kemenaringan di fihak Muawiyah, atas jasa Amru bin 'Ash yang ditunjuk
selaku wakil Muawiyah. Kiranya keputusan tersebut membuat sementara golongan ekstrim
pendukung Ali merasa tidak puas dan tidak mau menerimanya, sehingga mereka memisahkan
diri dari kelompok Ali, dan kelak mereka itu dikenal sebagi golongan Khawarij. Golongan
Khawarij ini mempunyai pendirian bahwa golongan Ali serta pendukungnya yang menyetujui
Tahkim, golongan Muawi-yah dan Amru bin 'Ash serta kawan-kawannya telah keluar dari
batas-batas Islam. Dengan Tahkim berarti mereka telah menyerahkan hukum tidak kepada
Allah, sedang mereka berpendirian tidak ada hukum kecuali hukum Allah sendiri". Karena
kenyataan seperti itu akhirnya mereka merencanakan pembunuhan kepada semua orang yang
terlibat dalam peristiwa Tahkim.
3) Mutazilah
Pada permulaan abad kedua Hijrah timbul perselisihan pendapat di perguruan Basroh
antara Hasan Basri dengan muridnya, Wasil bin 'Atha (80-131H) tentang masalah :
"Bagaimanakah hukumnya seseorang muslim yang telah berbuat dosa besar, apakah ia tetap
mukmin ataukah ia telah kafir?" Menurut Wasil bin Atha orang tersebut hukumnya tidak
mukmin dan tidak pula kafir, akan tetapi ia fasik yaitu antara mukmin dan kafir. Baginya
bertempat tidak di surga dan tidak pula di neraka. Pendapat tersebut menyimpang dari hukum
yang diyakini sebagian besar umat Islam, di mana orang yang berbuat demiklan dinyatakan
hukumnya tetap Islam. Dan gara-gara pendapatnya seperti itu mengakibatkan Wasil bin 'Atha
diasingkan dari kalangan Basroh. Dari benih yang ditanamkan Wasil ini, maka lahirlah firqoh
baru yang terkenal dengan sebutan Mutazilah. Di samping itu Mu'tazilah berpendirian
bahwa manusia dengan akalnya, bebas atas segala perbuatan dan tindakannya; ia dapat me-
nentukan tentahg baik dan buruk sekalipun tanpa tuntunan agama. Pendapat yang seperti ini
akhirnya memberikan ctri yang khas dari Mu'tazilah di mana mereka sangat menonjolkan
peranan akal, dan justru karena itu mereka terkenal pula dengan julukan: Golongan
Rasionalisme dalam Islam.
4) Firqoh Qodariyah
Sekelompok umat Islam berpendapat bahwa qadar atau taqdir itu tidak ada. Manusia
diberi kebebasan untuk menentukan pilihan dan melakukan perbuatannya. Allah telah
menyerahkan sepenuhnya nasib manusia di dalam tangannya sendiri Pendapat seperti ini
sesungguhnya timbul dari itikad yang baik juga, sebab mereka bermaksud nntuk mensucikan
Allah agar jangan sampai ada seseorang yang beranggapan bahwa perbuatannya yang buruk
dan yang jahat itu dinyatakan sebagai ketentuan Allah, dan baginya tidak ada kemampuan
menolaknya. Golongan yaag sangat mengagungkan kekuasan dan ikhtiar pada diri manusia
sendiri dikenal sebagai Firqoh Qadariyah.
5) Firqoh Jabariyah
Sebaliknya dari Qadariyah, ada golongan yang berusaha juga mensucikan Allah dengan
cara yang berbeda titik tolaknya. Mereka berpendapat bahwa Allah berkuasa atas segala-
galanya; kehendak dan kekuasan Allah tidak terbatas seperti yang dikatakan oleh sementara
orang. Oleh karena itu taqdir Allah sangai menentukan aias diri Manusia semisal bulu yang
diterbangkan angin, kemana angin bertiup ke sana pula ia ikut terbang. Golongan ini di
kalangan umat islam dikenal sebagai: Firqoh Jabariyah.
6) Ahmadiyah:
Sekalipun Ahmadiyah bukan mata rantai yang bertalian dengan firqah-firqah di atas,
dan munculnya baru pada abad ke 19 M, namun karena sering terbaur dengan nama
Muhammadiyah hingga orang awam di luar Muhammadiyah suiit membedakan
Muhammadiyah dengan Ahmadiyah, maka dipandang perlu di sini dijelaskan secara singkat
mengenai Ahmadiyah Apalagi gerakan ini sebagian mempunyai pengertian tersendiri dalam
memahami keyakinan-keyakinan pokok syariat Islam. Sejarah kelahirannya kira-kira mulai
tahun 1888 M didusun Qadian daerah Punjab India. Karena pendiri gerakan ini adalah Mirza
Ghulam Ahmad maka ada yang mengatakan gerakan ini dinisbatkan kepada pendirinya,
yakni AHMADIYAH. Sementara itu ada suatu pendapat bahwa nama yang dipakai bukan
dinisbatkan pada pendirinya, melainkan dinisbatkan pada diri Rasulullah yang salah satu
namanya, adalah Ahmad (surat As-Shaf ayat: 6).
Gerakan Ahmadiyah sekalipun masih dalam ruang lingkup Islam, akan tetapi karena
ajarannya banyak yang menyimpang dari paham umum di kalangan umat Islam maka
nampaknya agak terasing.
Aliran-aliran dalam Ahmadiyah:
Setelah gerakan Ahmadiyah berdiri beberapa waktu lamanya, dan pendiriannya meninggal
dunia, maka timbul pcrselisihan di antara para murid dan pendukung-pendukungnya. Puncak
perselisihan mereka berakhir dengan timbulnya dua golongan dalam Ahmadiyah, yaitu:
a. Jamaat Ahmadiyah
Kelompok ini terkenal dengan sebutan Ahmadiyah Qadian. Golongan ini berkeyakinan
bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah AI Masih yang dijanjikan (mau'ud) yaitu "Masih" kedua
yang dijanjikan. "Masih" kedua ini berkedudukan sebagai nabi. Berarti Mirza Ghulam
Ahmad adalah nabi, sekalipun tidak membawa syari'at baru.
la menggambarkan dirinya dengan nabi Muhammad saw. serupa nabi Harun dengan nabi
Musa, dan semua orang Islam yaag tidak bai'at kepadanya adalah kafir. Pengikut aliran ini
berpegang teguh atas ucapan Mirza Ghulam Ahmad sebagai berikut: "Pintu Nubuwwah
(Kenabian) masih tetap terbuka, dan nabi Muhammad bukahlah nabi terakhir". "Aku (Mirza)
bukan nabi baru, ralusan nabi-nabi telah datang se-belumku". Ahmad. "Aku adalah nabi juga,
dan umati juga". Ahir cath Ahbar'aam. "Aku adalah Al Masih yang dijanjikan dan aku adalah
dia itu, oleh Rasulullah dinamakan nabi Allah". Nuzul Al Masih. "Sesuai dengan perintah
Tuhan5 aku adalah nabi, kalau ku ingkari aku berdosa". Akhircath.
Aliran Ahmadiyah di atas karena jelas menyimpang dari aqidah Islamiyah yang murni maka
telah disepakati oleh sebagian besar umat Islam sebagai suatu gerakan di luar Islam, bahkan
Ahmadiyah Lahore pun menuduhnya sebagai gerakan yang sesat.
b. Gerakan Ahmadiyah: terkenal dengah sebutan Ahmadiyah Lahore.
Gerakan ini muncul dan memisahkan diri dari Ahmadiyah Qadian pada tahun 1914 dan
merigambil kota Lahore sebagai pusat kegiatannya, dengan pemimpinnya Maulana
Muhammad Ali dan Kwaja Kamaluddin. Menurut aliran ini, Mirza Ghulam Ahmad bukan
nabi tetapi hanya Mujaddid atau pembaharu atau Muhaddats, yaitu seorang yang diajak
berbicara doleh Tuhan. Sebab dengan pengakuan akan kenabian berarti merendahkan derajat
kenabian Muhammad yang sempurna itu. Pengikut aliran ini berpegang pada ucapan Mirza
Ghulam Ahmad: "saya menganggap kepada barang siapa yang da'wah kenabian, bahwa orang
itu pendusta yang kafir". Istihar. "Saya mempunyai iman yang teguh, bahwa nabi kita saw,
nabi yang terakhir dan sesudah beliau tidak akan lahir nabi baru maupun nabi lama .
melainkan Muhaddats lah yang akan datang itu". Hammamatul Busyra. "Ini adatah
kebohongan sejati yang dikenakan kepada kami, ialah kami mengaku menjadi nabi". Anjam
Atham. Tidaklah ada pengakuan menjadi nabi, tetapi kami ftiengaku menjadi Muhaddats ini
atas perintah Allah". Izalati Auham. "Mereka itu menuduh kami tidak dengan kenyataan,
ialah bahwa kami mengaku menjadi nabi". Kitabul Bariyyah. Aliran ini dalam sebagian besar
keyakinannya hampir sama dengan aliran Islam lainnya. Kecuali yang memberikan ciri
tertentu dan membuatnya berbeda adalah adanya keyakinan bahwa pendiri Ahmadiyah adalah
seorang Muhaddats, serta da'wahnya sebagai Muhaddats tersebut atas perintah Tuhan. Apa
yang sering terdengar dari ucapan Mirza bahwa difinya adalah nabi, maka ucapan tersebut
bukannya mengandung pengertian nabi yang sesungguhnya melainkan nabi dalam arti majazi
(kiasan).
Ciri-ciri aliran Ahmadiyah.
Di samping sifai-sifat ajaranrtya yang menonjol di antara Jama'at Ahmadiyah dengan
Gerakan Ahmadiyah, Ahmadiyah Qadian dengan Ahmadiyah Lahore mempunyai i'tikad
yang berbeda, namun ada titik-titik persamaannya, antara lain:
1. Penolakan terhadap afaiah jihad, sebagai salah satu prinsip dalam Islam. Hal ini menjadi
berlawanan dengan firqah Khawarij yang memasukkan jihad sebagai rukun iman yang ke
enam. Sedang menurut keyakinan umat Islam pada umumnya masalah jihad adalah
diibaratkan semisal "taring". Islam tanpa jihad seperti harimau tanpa taring.
2. Kedua aliran Ahmadiyah tersebut juga tidak mau semena-mena atau saling kawin dengan
umat Islam lainnya. Tidak bersedia melakukan shalat berjarama'ah bersama dengan umat
Islam lainnya, baik mereka jadi imam ataupun menjadi makm