Anda di halaman 1dari 25

REFERAT

DYSFUNCTIONAL UTERINE
BLEEDING
Penyusun : Karlina Lestari
NPM : 1102010142
PembimbIng : dr. Ronny. Sp.OG
DEFINISI
Dysfunctional uterine bleeding (DUB) atau Perdarahan uterus
disfungsional (PUD) yang terjadi tanpa kelainan anatomi pada
saluran reproduksi, penyakit medis tertentu atau kehamilan
(Himpunan Endokrinologi-Reproduksi dan Fertilitas Indonesia dan Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi
Indonesia, 2007).
Secara epidemiologi, di Amerika Serikat PUD adalah salah satu masalah
ginekologi tersering. Diperkirakan setiap tahun nya, 5% perempuan berusia 30-
49 tahun akan berkonsultasi ke dokter untuk pengobatan menorrhagia. Sekitar
30% dari semua wanita melaporkan telah terdiagnosis menorrhagia.



Di Indonesia belum ada angka yang menyebutkan angka perdarahan uterus
disfungsional ini secara menyeluruh. Kebanyakan penulis memperkirakan
kekerapannya sama dengan diluar negeri, yaitu 10% dari kunjungan
ginekologik.
Klasifikasi

Ovulasi
PUD ovulatorik

PUD anovulatorik
Siklus
Metromenoragi
Polimenore
Oligomenore
Amenore
Jumlah
Perdarahan
Menoragia
Perdarahan Bercak Pra Haid
Perdarahan Bercak Pasca Haid
Anemia
PUD Ringan
PUD Sedang
PUD Berat
Patofisiologi
Siklus Ovulasi
Adalah perdarahan teratur dan banyak terutama pada tiga hari
pertama siklus haid. Penyebab perdarahan adalah
terganggunya mekanisme hemostasis lokal di endometrium.
Siklus Anovulasi
Adalah perdarahan tidak teratur dan siklus haid memanjang
disebabkan oleh gangguan pada poros hipothalamus-hipofisis-
ovarium.
Efek samping penggunaan kontrasepsi
Dimaksudkan dosis estrogen yang rendah dalam kandungan
pil kontrasepsi kombinasi (PKK) menyebabkan integritas
endometrium tidak mampu dipertahankan. Progestin
menyebabkan endometrium mengalami atrofi. Kedua kondisi
ini dapat menyebabkan perdarahan bercak. Sedangkan pada
pengguna alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) kebanyakan
perdarahan terjadi karena endometritis
Perdarahan pada masa menarche, biasanya keadaan
ini dihubungkan dengan belum matangnya fungsi
hipotalamus dan hipofisis.
Perdarahan pada masa reproduksi sering disebabkan
karena gangguan di hipotalamus sehingga terjadi
lonjakan kadar LH sehingga tidak terjadi ovulasi.
Perdarahan yang terjadi pada masa premenopause
sering disebabkan karena kegagalan ovarium dalam
menerima rangsangan hormon gonadotropin
SIKLUS
ANOVULATOAR
PROLIFERASI ENDOMETRIUM >>>
Normalnya, LH meningkat ketika ovulasi.

Karena ada kelainan pada hipotalamus LH
nya sudah meningkat duluan tidak terjadi
ovulasi
Perdarahan Pada Pertengahan Siklus
Perdarahan yang terjadi biasanya sedikit, singkat dan dijumpai pada pertengahan
siklus. Penyebabnya adalah rendahnya kadar estrogen sebelum ovulasi disebut
dengan estrogen withdrawal bleeding endometrium belum berproliferasi
sempurna Perdarahan.

Perdarahan Akibat Gangguan Pelepasan Endometrium.
Perdarahan yang terjadi biasanya banyak dan memanjang. Keadaan ini
disebabkan oleh adanya korpus luteum persisten dan kadar estrogen rendah
sedangkan progesteron terus terbentuk.

Perdarahan Bercak (Spotting) Pra Haid Dan Pasca Haid.
Perdarahan ini disebabkan oleh insufisiensi korpus luteum, sedangkan pada masa
pasca haid disebabkan oleh defisiensi estrogen, sehingga regenerasi endometrium
terganggu.

SIKLUS OVULATOAR
GEJALA
KLINIS
Menilai:
o Indeks massa tubuh (IMT > 27 termasuk obesitas)
o Tanda-tanda hiperandrogen
o Pembesaran kelenjar tiroid atau manifestasi hipo /
hipertiroid
o Galaktorea (kelainan hiperprolaktinemia)
o Gangguan lapang pandang (karena adenoma hipofisis)
Menyingkirkan:
o Kehamilan, kehamilan ektopik, abortus, penyakit trofoblas
o Servisitis, endometritis
o Polip dan mioma uteri
o Keganasan serviks dan uterus
o Hiperplasia endometrium
o Gangguan pembekuan darah
DIAGNOSA
1. Anamnesis
usia menarche
Siklus haid setelah menarche
lama dan jumlah darah haid
latar belakang kehidupan keluarga
latar belakang kepribadian

2. Pemeriksaan
a. Pemeriksaan fisik
b. Pemeriksaan ginekalogik

c. Pemeriksaan penunjang


Pada dasarnya tujuan penatalaksanaan perdarahan uterus
disfungsional adalah:

Memperbaiki keadaan umum
Menghentikan perdarahan
Mengembalikan fungsi hormon reproduksi.
Menghilangkan ancaman keganasan

Penatalaksanaan PUD

1. Hormonal
a. PUD Siklus Ovulasi
1. Perdarahan setengah siklus
Estrogen hari ke 10 - 15 siklus ( 5 hari )
2. Perdarahan bercak prahaid
Progesteron 5 -10 mg hari ke 17 - 26 siklus
3. Perdarahan pasca haid
Estrogen hari ke 2 - 7 ( 5 hari )
4. Polimenorea
Progesteron 10 mg hari ke 18 - 25 siklus
b. PUD siklus anovulasi
1. Menghentikan pendarahan
Kombinasi 3X1 selama 7 hari, dilanjutkan 1X1
selama 21 hari Progesterone 10 - 20 mg selama 7 - 10
hari
2. Mengatur siklus setelah haid perdarahan berhenti
Kombinasi 1X2 selama 3 siklus ( E+P ) diharapkan
setelah 3 bulan akan terjadi siklus ovulasi
3. Pengobatan sesuai dengan kelainan
Anovulasi --- stimulasi klomifen
Hiperprolaktinemea --------- bromokriptin
polikistik Ovari -------------kortikosteroid
dilanjutkan stimulasi klomifen

c. PUD pada folikel persisten
1. Dilatasi dan kuretase merupakan pilihan
2. Histerektomi atas indikasi kegagalan kuretase
terapeutik dan keganasan
3. Progesteron, dapat menghentikan proses terjadi
hyperplasia

d. PUD berat
1. Menghentikan pendarahan
2. Mengatur siklus haid setelah perdarahan berhenti
Kombinasi 1X1 selama 3 siklus


2. Operatif
a. Dilatasi dan kuretase
1. Sudah menikah
2. "Live saving" utk yang belum nikah
b. Histerektomi
Atas indikasi kegagalan kuretase terapetik
maupun keganasan

3. Pengobatan lain
a. Senyawa anti fibrinolitik
1. Asam traneksamat 4 gram per hari dalam 4 kali
pemberian
b. Senyawa anti-prostaglandin
1. Asam mefenamat 3 X 500 mg 5 - 7 hari


Prognosis PUD pada kelompok usia
pertengahan reproduksi cukup baik walaupun
belum ada bukti-bukti yang akurat.

Di beberapa negara banyak wanita dalam usia
ini menjalani tindakan histerektomi. D

ari data yang dilaporkan tampak bahwa
prognosis jangka panjang PUD anovulatoar
pada masa akhir reproduksi kurang baik/buruk
sebagai akibat sering terjadinya rekurensi
DAFTAR PUSTAKA

Brenner PF. 1996; Differential diagnosis of abnormal uterine bleeding. Am J Obstetry
Gynecol; 175;766-69.
Casablanca, Y. (2008). Management of dysfunctional uterine bleeding. Obstetrics and
gynecology clinics of North America, 35(2), pp.219--234.
Chen, B. and Giudice, L. (1998). Dysfunctional uterine bleeding. Western journal of
medicine, 169(5), p.280.
Creatsas, M. and Creatsas, G. (2014). Dysfunctional uterine bleeding during
adolescence.Springer, pp.9--14.
Johnson, M.D., Ph.D, B. (2001). DYSFUNCTIONAL UTERINE BLEEDING. [online]
University Student Health Services. Available at:
http://www.eric.vcu.edu/home/resources/whh/VIIIbDYSFUNCTIONAL_UTERINE_BLE
EDING.pdf
Mochtar, Rustam.1998. Sinopsis Obstetri Jilid II. Jakarta: EGC.
Prawirohardjo, Sarwono : Ilmu kandungan edisi 2. Jakarta: Yayasan Bina pustaka Sarwono
Prawirohardjo.
yers, D., Lappin, J. and Liptok, L. (2004). Abnormal vs. dysfunctional uterine bleeding:
What's the difference?. Nursing2013, 34, pp.11--14.
Wiweko. SpOG, d. and Hestiantoro, SpOG, d. (2007). Panduan Tata Laksana Perdarahan
Uterus Disfungsional (PUD). 1st ed. Bandung: Himpunan Endokrinologi-Reproduksi dan
Fertilitas Indonesia Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia.