Anda di halaman 1dari 4

PANTI ASUHAN DAN PANTI WERDA

I. LATAR BELAKANG
Semakin berkembangnya suatu kota tidak lepas dari berbagai macam masalah sosial. Dan
kota Manado sebagai salah satu kota berkembang di Indonesia Timur tidak luput dari
berbagai macam masalah sosial yang timbul. Salah satunya adalah anak terlantar.
Menurut hasil survey Dinas Sosial Kota Manado menyatakan bahwa munculnya anak-
anak terlantar di jalanan karena ditinggalkan oleh kedua orang tuanya, baik itu
dikarenakan kematian(yatim piatu), ataupun karena ketidakmampuan ekonomi orang tua
untuk membiayai hidup sang anak. Kedua yakni karena anak tersebut merupakan anak
dari keluarga broken home, sehingga lebih memilih untuk hidup di jalanan dari pada
hidup dengan salah satu orang tua ataupun hidup dengan kerabat dekatnya. Sedangkan
dari hasil survey ke beberapa panti asuhan selain dikarenakan karena anak tersebut
menjadi anak yatim, kebanyakan anak-anak yang berada di panti asuhan dikarenakan
orang tua yang meninggalkan sang anak karena tidak mampu untuk membiayai
kehidupan sang anak. Namun, ada yang dikarenakan sang anak merupakan anak yang dari
seorang wanita korban perkosaan, sehingga orang tua yang takut untuk menerima
penilaian dari masyarakat maka sang anak ditinggalkan di panti asuhan. Selain anak-anak
yang terlantar di jalanan beberapa permasalahan yang perlu dicermati adalah masalah
ekspolitasi anak. Yakni masalah anak-anak di jadikan pengemis, pekerja bahkan tindak
kekerasan, kendati anak-anak merupakan tulang punggung dan generasi dari bangsa yang
nanti akan melanjutkan kehidupan suatu bangsa dalam hal ini bangsa Indonesia.
Sosok anak merupakan karunia dari Tuhan yang lemah dan belum dapat melindungi
dirinya sendiri secara fisik maupun psikologis. Selain itu dalam lingkup negara Indonesia,
negara menghormati dan menjamin hak anak tanpa diskriminasi dalam wilayah Republik
Indonesia. Hal ini terdapat dalam UUD 1945 pasal 34. Sedangkan kekerasan terhadap
anak yang merupakan pelanggaran hak asasi manusia dan hak anak diatur dalam
Konvensi Hak-Hak Anak yang diratifikasi oleh pemerintah Indonesia melalui Keppres
No. 39/1990.Sehingga untuk menjamin kebutuhan anak menggantikan peran orang tua
maka dibutuhkan suatu wadah yang representatif menjamin perkembangan sang anak
dalam lingkungan sosial.
Selain dari pada anak yang membutuhkan perlindungan, orang tua pun membutuhkan
perlindungan. Lebih tepatnya orang tua yang telah lanjut usia. Lanjut usia atau yang
disingkat lansia dikonotasikan sebagai orang yang secara fisik telah mengalami berbagai
penurunan kemampuan seiring dengan pertambahan usianya, sehingga juga
mempengaruhi psikologinya. Menurut Stanley (2002) di negara maju, masyarakat lanjut
usia memiliki posisi yang tinggi, sedangkan di negara yang belum maju, masa lanjut usia
merupakan waktu pengasingan dan rasa tidak aman. Menurut sumber www.depsos.go.id
lansia dalam masyarakat Indonesia memiliki kedudukan yang tinggi.
Permasalahan tentang kedudukan lanjut usia akan timbul ketika masyarakat seperti di
Indonesia perlahan-lahan ataupun secara cepat menuju perkembangan seperti negara
maju. Dinyatakan oleh Hawari (2007), di negara maju lanjut usia memiliki permasalahan
seperti depresi hingga bunuh diri disebabkan keterasingan, isolasi sosial dan kesepian.
Demikian juga dengan panti-panti werdha di negara maju menjadi semakin dibutuhkan.
Sehingga timbul arti penting bagi negara mempersiapkan wadah untuk memberikan
peluang bagi para lansia tetap sejahtera tinggal di dalamnya. Ini didukung dengan adanya
UU Nomor 13 tahun 1998, tentang Kesejahteraan Lanjut Usia. Kategori lansia menurut
UU Nomor 13 tahun 1998 pasal 1 ayat 2, lanjut usia atau yang dikenal dengan singkatan
lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia enam puluh tahun ke atas. Melalui
ketersediaan wadah yang memadai maka kenyamanan para lanjut usia selama beraktifitas
akan lebih terjamin.

II. PROSPEK DAN FISIBILITAS
a. PROSPEK
Prospek dari pengembangan Panti Asuhan dan Panti Werda adalah:
Diharapkan mampu meredam banyaknya anak terlantar dan anak yatim berada
di jalanan.
Mengurangi tingkat eksploitasi terhadap anak.
Sebagai shelter kaum marjinal terutama para orang tua lanjut usia yang
kemampuannya kognitif sudah menurun.
b. FISIBILITAS
Pengembangan panti asuhan dan panti werda nantinya mampu untuk
menunjang program pemerintah dalam memenuhi kewajiban negara terhadap
UU Pasal 34 ayat 1.

III. ASOSIASI LOGIS OBJEK DAN TEMA
A. PEMAHAMAN OBJEK PANTI ASUHAN DAN PANTI WERDA
a. PANTI
Menurut Kamus besar bahasa Indonesia adalah rumah; tempat (kediaman).
b. PANTI ASUHAN
Menurut Kamus besar bahasa Indonesia adalah rumah tempat memelihara dan
merawat anak yatim atau yatim piatu dsb.
c. PANTI WERDA
Menurut Kamus besar bahasa Indonesia adalah rumah tempat mengurus dan
merawat orang jompo/ tua sekali dan sudah lemah fisiknya; tua renta; uzur.
B. PEMAHAMAN TEMA THE DOUBLE-FUNCTIONING ELEMENT ROBERT
VENTURI
Tema yang diambil merupakan salah satu dari pemikiran posmodernisme arsitektur
Venturi. The double functioning-element (elemen dengan fungsi ganda), saling
berkaitan dengan konsep both and. Tapi terdapat perbedaan diantara keduanya. Both
and berkaitan dengan bagian terhadap keseluruhan (part of whole), sedangkan
double function element berkaitan dengan kegunaan elemen tertentu dan struktur.
Elemen fungsi ganda yang jarang sekali digunakan dalam arsitektur modern. Dimana
arsitektur modern mendorong pemisahan dan pengkhususan dalam semua skala, baik
material, struktur, program, dan juga ruang.
Arsitektur modern tidak menyukai pernyataan yang implisit, tidak pasti dan ambigu
antara bentuk dan fungsi, demikian pula terhadap bentuk dan struktur. Dimana
arsitektur modern menganjurkan pemisahan antara frame (rangka) dan curtain wall
(dinding penutup), atau antara struktur dan shelter (pelingkup).
Contoh penggunaan elemen fungsi ganda adalah Brise-Soleil pada Unite dhabitation
di Marseilles, yang merupakan struktur sekaligus sun screen. Contoh lainnya, balok-
balok terbuka (open beams) pada Richard Medical Centre karya Kahn, selain
berfungsi sebagai struktur, juga memberikan ruang tambahan. Prinsip form follow
function digantikan follows structural function.

Unite dhabitation di Marseilles


Balok terbuka (open beams) pada Richard Medical Centre

C. ASOSIASI LOGIS
Panti asuhan dan panti werda ini direncanakan dengan maksud mampu menyelaraskan
sebuah elemen panti dengan dua fungsi yang pertama asuhan(untuk anak-anak) dan
kedua, werda(untuk orang dewasa). Sesuai dengan tema yang digunakan yakni;
Penerapan Konsep The Double-Functioning Element Robert Venturi Sebagai
Strategi Transformasi. Selain itu dalam perancangan ruang nantinya akan dibuat suatu
ruangan yang mampu mewadahi aktifitas dari 2 jenis karakter(anak-anak dan dewasa)
penggunanya. Dan dalam perancangan penempatan tema nantinya contoh; struktur,
selain sebagai penopang bangunan struktur juga mampu untuk berfungsi sebagai
pemberi ruang tambahan ataupun sebagai pencipta bayangan sebagai peneduh dari
sinar matahari.


IV. TINJAUAN PUSTAKA
1. Complexity And Contradiction In Architecture, Robert Venturi, Times Mirror
Company, 1977.
2. Menggali Pemikiran Posmodernisme dalam Arsitektur, Ikhwanuddin, Gadjah Mada
University Press, 2005.
3. Sejahtera di Usia Senja Dimensi Psikoreligi pada Lanjut Usia (Lansia), Dadang
Hawari, Balai Penerbit FKUI. 2007
4. Buku Ajar Keperawatan Gerontik Ed. 2, Mickey Stanley dan Patricia Gauntlett Beare,
Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2002